<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><rss xmlns:atom='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' version='2.0'><channel><atom:id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686</atom:id><lastBuildDate>Wed, 23 Dec 2009 06:50:40 +0000</lastBuildDate><title>AHMAD ROFI' USMANI's INSIGHT!</title><description>An Inspiring, Motivating and Enlightening eDiary of an Indonesian Muslim</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/</link><managingEditor>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</managingEditor><generator>Blogger</generator><openSearch:totalResults>89</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8413224177092590998</guid><pubDate>Fri, 18 Dec 2009 09:55:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-18T17:06:50.917+07:00</atom:updated><title>Shalat Jumat Perdana Nabi Saw.</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SytS9sc_2zI/AAAAAAAAAeU/MizsWR3Tn2w/s1600-h/umrah%2Bkairojuli09+038.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SytS9sc_2zI/AAAAAAAAAeU/MizsWR3Tn2w/s400/umrah%2Bkairojuli09+038.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416514196701436722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang, ketika penulis sedang mendengarkan khutbah Jumat seorang khatib, entah kenapa yang terbayang saat itu Rasulullah Saw. sedang melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Seperti tercatat dalam torehan sejarah Islam, shalat Jumat perdana Nabi Saw. itu ternyata beliau lakukan ketika beliau memasuki Yatsrib. Kala itu sendiri hari Jumat. Bagaimanakah kisah shalat Jumat perdana Nabi itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 H, kala terik matahari di musim panas di penggal terakhir (tanggal 23) bulan September 622 M tengah menyengat dengan ganasnya, Rasulullah Saw. dan sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, menapakkan kaki memasuki Desa Quba’. Kala itu, orang-orang yang menantikan kedatangan Rasulullah Saw. dengan harap-harap cemas itu telah kembali ke rumah masing-masing dengan rasa putus asa. Tak mungkin hari ini orang yang mereka nantikan kedatangannya itu tiba di Yatsrib. Tapi, tiba-tiba seorang Yahudi berteriak-teriak nyaring, “Wahai Bani Qa’ilah! Itu orang yang kalian nantikan kedatangannya telah tiba!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang menghambur dari rumah-rumah mereka. Rasul Saw. dan Abu Bakar Al-Shiddiq ternyata sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon kurma. Orang-orang pun berkerumun di sekeliling beliau. Sebagian besar di antara mereka tak dapat membedakan mana Rasul Saw. dan mana Abu Bakar. Tapi, di saat bayangan pohon kurma bergeser, Abu Bakar memayungkan jubahnya di atas kepala beliau. Kini, tahulah mereka yang mana Nabi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Quba’ itu, Rasul Saw. kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang selama itu dijadikan pangkalan oleh kaum Muslim Makkah yang baru tiba di Yatsrib, antara lain Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan Zaid bin Haritsah, yakni rumah Kultsum bin Hadm. Bani ‘Amr, kabilah Kultsum, adalah suku Aus. Sedangkan Abu Bakar Al-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid (yang kemudian menjadi mertua Abu Bakar), seorang Khazraj di Sunh, sebuah desa yang agak dekat dengan Yatsrib. Selepas satu atau dua hari, ‘Ali bin Abu Thalib tiba dari Makkah, dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasul Saw. Untuk mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya bagi para pemiliknya, ia memerlukan waktu selama tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, semenjak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam, dan beliau sendirilah yang meletakkan batu pertama di kiblatnya, yang kemudian diikuti oleh Abu Bakar Al-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Jumat pagi, Rasul Saw. meninggalkan Quba’. Di siang hari, beliau dan para sahabat berhenti di Lembah Ranuna, di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf dari suku Khazraj, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Sebelum melaksanakan shalat bersama sekitar seratus jamaah, seusai mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., beliau berkhutbah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amma ba‘du. Wahai kaum Muslim, hendaklah kalian berbuat kebajikan demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu mengetahui, setiap orang di antara kalian pasti akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannyya. Tuhan akan bertanya kepadanya, langsung tanpa perantara dan tiada tirai apa pun yang akan memisahkannya, ‘Apakah Utusan-Ku tak datang kepadamu untuk menyampaikan amanah-Ku? Bukankah kepadamu telah kuanugerahkan harta dan pelbagai nikmat?’Kebaikan apakah yang telah  engkau lakukan demi keselamatan dirimu sendiri?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi, ia tak melihat sesuatu. Ia kemudian melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari api neraka, walau hanya dengan sebutir buah kurma, lakukanlah! Bila tiada sesuatu apa pun yang dapat diberikan, cukuplah dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memperoleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Wassalamu‘alaikum wa ‘ala Rasulillah.&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah khutbah sarat makna yang singkat, padat, dan sangat memikat! Inti khutbah itu ialah sejatinya manusia senantiasa kuasa berbuat kebaikan, dengan bersedekah dan memberi, walau ia seorang miskin. Beliau menyampaikan, seseorang kuasa menghindarkan diri dari neraka dan masuk surga walau hanya dengan sebutir buah kurma. Demikian halnya kata-kata yang baik pun juga dapat menghindarkan seseorang dari neraka dan masuk surga dalam timbangan Allah Swt. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dengan kata lain, kemampuan berbuat kebaikan dan memberi sejatinya terdapat pada diri setiap  orang. Bagaimana pun kondisinya!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melaksanakan shalat Jumat pertama kali dalam sejarah Islam, Rasul Saw. melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Yatsrib. Bani Al-Najjar, suku terkenal di kota itu dan merupakan kerabat beliau dari pihak Ibunda beliau, Aminah binti Wahb, datang dengan memanggul senjata untuk menyambut kedatangan beliau. Dan, ketika memasuki kota, beliau mendapat sambutan yang sangat meriah. Banyak orang berusaha menghentikan beliau dan mengajak beliau tinggal bersama mereka. Bagi beliau, tentu sulit untuk memutuskan. Karena itu, beliau membiarkan untanya melanjutkan perjalanan, dan mengatakan kepada khalayak ramai bahwa beliau akan tinggal di tempat berhentinya unta. Ketika tiba di dekat lahan milik Abu Ayyub Al-Anshari, unta beliau berlutut tepat di depan rumah Abu Ayyub di atas lahan kosong milik dua anak yatim, Sahl dan Suhail, tempat tegaknya Masjid Nabawi dewasa ini. Unta itu lantas diurus oleh As‘ad bin Zurarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ayyub Al-Anshari, tentu, sangat gembira, suka cita, dan bahagia.  Untuk menghormati Rasul Saw., ia mempersilakan beliau tinggal di lantai atas rumahnya yang bertingkat dua. Tapi, beliau memilih tinggal di lantai bawah, untuk memudahkan para tamu menemui beliau. Abu Ayyub menyediakan segala keperluan beliau yang tinggal di rumahnya selama sekitar tujuh bulan. Selepas itu, beliau pindah ke rumah beliau sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas Rasul Saw. tinggal di Yatsrib, kota itu diganti namanya menjadi “Kota Nabi” (Madînah Al-Nabiy), atau “Kota nan Cemerlang” (Al-Madînah Al-Munawwarah), Thaibah, dan Thabah .&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8413224177092590998?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/12/shalat-jumat-perdana-nabi-saw.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SytS9sc_2zI/AAAAAAAAAeU/MizsWR3Tn2w/s72-c/umrah%2Bkairojuli09+038.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8752874795819071584</guid><pubDate>Thu, 17 Dec 2009 05:13:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-17T12:19:23.661+07:00</atom:updated><title>Sekali Lagi tentang Tahun Hijriah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sym_CxFCmMI/AAAAAAAAAeM/wv59JcPGb6o/s1600-h/umrah%2Bkairojuli09+034.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sym_CxFCmMI/AAAAAAAAAeM/wv59JcPGb6o/s400/umrah%2Bkairojuli09+034.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5416070081144854722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa, mulai esok hari kita akan menapaki tahun baru kaum Muslim, yaitu Tahun Hijriah. Menurut torehan sejarah Islam, penanggalan dalam Islam yang menjadikan  tahun peristiwa  hijrah Nabi Muhammad Saw. ke Madinah  sebagai  tahun pertama  ini mulai diberlakukan pada masa pemerintahan  ‘Umar  bin Al-Khaththab, khalifah ke-2 dalam sejarah Islam. Kala itu, kawasan Islam  kian membentang luas. Akibatnya, urusan administrasi kenegaraan pun kian memerlukan penanganan yang lebih   teratur.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa   tahun   selepas   menerima   amanah kekhalifahan itu,  ‘Umar bin Al-Khaththab pun mengadakan  permusyawaratan dengan  sejeumlah sahabat terkemuka, untuk membicarakan penentuan  awal  hitungan tahun Islam. Dalam pertemuan itu (yang terjadi  pada  17 H/628 M. Ada juga yang menyatakan, peristiwa itu terjadi pada tahun ke-16 H atau 18 H) akhirnya mereka menerima usul  ‘Ali  bin Abu Thalib yang mengambil  peristiwa  hijrah Nabi  Saw.  sebagai  awal hitungan  penanggalan Islam (tahunnya saja, bukan bulan dan tahunnya). Menurut catatan sejarah, di antara para pakar tiada kesepakatan tentang tanggal  yang pasti  tentang kedatangan beliau ke Madinah. Namun, yang  banyak  diikuti adalah yang menyatakan bahwa kedatangan beliau ke kota itu pada Jumat, 12  Rabi‘ Al-Awwal 1 H. Hari Senin sebelumnya, 8  Rabi‘ Al-Awwal, beliau  tiba  di  Quba’ dan mendirikan sebuah  masjid  di  sana. Tanggal  12 Rabi‘ Al-Awwal itu bertepatan dengan 24 September  622 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, di sini timbul pertanyaan: mengapa peristiwa Hijrah Rasul Saw. itu yang dipilih sebagai patokan? Ini karena  peristiwa  itu merupakan titik terang perkembangan Islam. Lagi pula, dalam peristiwa itu terkandung banyak nilai yang diperlukan kaum Muslim dalam menapaki kehidupan  dunia  dan akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini mungkin timbul pertanyaan lain: akuratkah Tahun Hijriah yang didasarkan pada peredaran Bulan mengelingi Bumi (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qamariyyah&lt;/span&gt;)? Menurut Prof. Dr. Thomas Jamaluddin (seorang profesor peneliti di LAPAN, Indonesia), dalam sebuah tulisannya yang menarik, memang benar perhitungan  Tahun Hijriah didasarkan pada  peredaran  bulan mengelilingi bumi. Dalam hal ini perlu diketahui, yang digunakan adalah kala  edar sinodis yang lamanya 29,53059 hari. Sehingga, dalam satu bulan ada 29 atau 30 hari. Selain itu juga disepakati, bulan-bulan ganjil sebagai berikut: 1 (Muharram),  3 (Rabi‘ Al-Awwal), 5 (Jumada Al-Ula), 7 (Rajab),  9  (Ramadhan), dan  11  (Dzulqa‘dah) mempunyai 30 hari.  Sedangkan  bulan-bulan genap:  2  (Shafar),  4 (Rabi‘ Al-Akhir),  6  (Jumada Al-Tsaniyyah),  8 (Sya‘ban),  10  (Syawwal), dan 12 (Dzulhijjah)  mempunyai  29 hari.  Hal ini berarti dalam  12 bulan  terdapat 354 hari. Dengan kata lain,  lebih pendek 11 hari daripada Tahun Matahari (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Syamsiyyah&lt;/span&gt;). Tetapi, sebenarnya setelah 354  hari  bulan  kembali ke fase bulan baru.  Dua  belas  lunasi (kedatangan  bulan  baru) sebenarnya terdiri dari  354,36708  hari.  Kelebihan 0,36708  hari  itu bila dijumlahkan dalam 30 tahun  kira-kira  menjadi 11 hari.  Karena itu, agar  hitungan tahun dan lunasi sebenarnya  sesuai,  perlu ditambahkan 11 hari dalam 30 tahun itu. Ini berarti harus ada  11 tahun  kabisat  yang mempunyai 355 hari. Satu hari  tambahan  ini diberikan  pada bulan terakhir, Dzulhijjah, sehingga  mengandung 30 hari. Aturan untuk menentukan tahun kabisat ditentukan  dengan membagi  angka Tahun Hijriah dengan 30. Tahun kabisat bila  sisa pembagian itu: 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26, dan 29. Dengan  aturan-aturan  seperti  itu, dalam  30  tahun  mengandung 10.631  hari.  Sedangkan lunasi sebenarnya selama 30  tahun  (360 lunasi)  adalah  10.631,0124 hari. Jadi,  perbedaannya  dalam  30 tahun  hanya  0,0124  hari. Ini  berarti  lunasi  sebenarnya  dan hitungan Tahun Hijriah akan berbeda 1 hari setelah 2419 tahun (= 1/0,0124 x 30 tahun). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan kata lain, kalender Hijriah memiliki tingkat akurasi yang tinggi. Dan, dengan datangnya tahun baru 1431 H, penulis mengucapkan, “Selamat Tahun Baru Hijriah, kiranya Allah Swt. senantiasa memberkahi dan meridhai langkah-langkah kita dalam menapaki tahun 1431 H. Amiin”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8752874795819071584?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/12/sekali-lagi-tentang-tahun-hijriah.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sym_CxFCmMI/AAAAAAAAAeM/wv59JcPGb6o/s72-c/umrah%2Bkairojuli09+034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-591121529090637019</guid><pubDate>Tue, 15 Dec 2009 11:35:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-15T18:41:18.912+07:00</atom:updated><title>"Bintang dari Timur"</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Syd1uSCOnHI/AAAAAAAAAeE/MenE8BP44ts/s1600-h/um_kalthum.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 343px; height: 288px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Syd1uSCOnHI/AAAAAAAAAeE/MenE8BP44ts/s400/um_kalthum.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5415426514911927410" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thala’al badru ‘alainâ&lt;br /&gt;Min Tsaniyyatil Wadâ’&lt;br /&gt;Wajabasy-syukru ‘alainâ&lt;br /&gt;Mâ da’â lillahi dâ’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mas, itu suara Ummu Kultsum, ya?” tanya istri penulis tadi pagi, selepas melaksanakan shalat subuh, ketika mendengar lagu indah dari album “Al-Tsulatsiyyah Al-Muqaddasah” dari laptop penulis yang penulis sambungkan ke sebuah tape compo.&lt;br /&gt;“Ya, kenapa?” jawab penulis. Penasaran.&lt;br /&gt;“Lagu itu kok menggetarkan hati saya…” jawab istri penulis. “Lagu itu indah sekali. Apalagi diiringi orkestra. Bolehkah lagu itu saya pakai untuk mengiringi sebuah acara yang akan digelar 1 Muharram nanti?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah…”, gumam pelan penulis karena mendengar ucapan dia yang demikian. Tidak biasanya dia menyenangi lagu-lagu yang disenandungkan oleh Ummu Kultsum. Karena itu, tentu saja, penulis segera mengizinkan. Selain mengizinkan, penulis merasa lega. Mengapa? Ini karena biasanya dia begitu antipati terhadap lagu-lagu Ummu Kultsum, seorang penyanyi tenar asal Mesir yang penulis gandrungi. Dia pun  sejatinya sangat hapal, setiap hari selepas melaksanakan shalat subuh hingga malam hari, penulis senantiasa menulis  dengan diiringi oleh bacaan al-Qur’an murattal oleh seorang qari’ kesohor asal Kuwait, Mishari bin Rashid Al-‘Afashi, atau lagu-lagu yang disenandungkan oleh Ummu Kultsum, atau lagu-lagu yang disenandungkan oleh Ebeit G. Ade. Walau acap mendengarkan lagu-lagu Ummu Kultsum, entah kenapa, hingga kini dia tetap antipati terhadap lagu-lagu yang disenandungkan oleh Ummu Kultsum, kecuali dua lagu: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wulid Al-Hudâ&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Tsulâtsiyyah Al-Muqaddasah &lt;/span&gt;(yang berisi lagu yang dia dengarkan tadi pagi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, merupakan kebiasaan penulis, ketika sedang menulis atau membaca buku, senantiasa diiringi bacaan Al-Qur’an atau lagu-lagu. Kebiasaan itu telah tumbuh semenjak penulis menimba ilmu di Yogyakarta antara 1972-1977. Kemudian, ketika penulis menimba ilmu di Mesir antara 1978-1984, kegemaran mendengarkan bacaan Al-Qur’an kian membuncah. Kala itu, pemerintah Mesir (lewat Radio Mesir, Shaut Al-Qahirah) menyediakan satu channel khusus selama 24 jam untuk program Al-Qur’an. Selain mendengarkan bacaan Al-Qur’an, kesenangan penulis mendengarkan lagu-lagu kian membara karena hampir setiap hari senantiasa mendengarkan lagu-lagu yang disiarkan oleh Shaut Al-Qahirah sepanjang 24 jam. Sejak itulah, penulis mulai menggandrungi lagu-lagu yang disenandungkan oleh Ummu Kultsum. Kegandrungan itu, ternyata, tidak pernah sirna hingga dewasa.  Siapakah Ummu Kultsum? Bagaimanakah perjalanan hidupnya? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut catatan yang ada, penyanyi, penulis lagu, dan aktris tenar asal Mesir ini lahir pada Rabu, 18 Shafar 1322 H/4 Mei 1904 M di Soumale, dekat Tammay Al-Zahayra, Sembellawein, Daqahliyyah, Mesir. Tanggal kelahiran putri pasangan suami-istri Syaikh Ibrahim Al-Sayyid Al-Baltaji dan Fatma Ibrahim Al-Baltaji ini ada beberapa versi. Pemerintah Mesir pun memberikan dua tanggal lahir: Sabtu, 17 Rajab 1316 H/31 Desember 1898 M dan Sabtu, 23 Syawwal 1322 H/31 Desember 1904 M. Sejak kecil, penyanyi yang mendapatkan sebutan “Kaukab Al-Syarq” (Bintang dari Timur) ini telah menunjukkan bakat menyanyinya yang menonjol. Segera, bakat itu “tercium “ oleh seorang pemetik ‘ûd (kecapi Arab) tenar di Kairo kala itu, Zakariyya Ahmad, yang bermaksud mengundang Ummu Kultsum ke Kairo. Tapi, undangan ke Kairo itu baru diterima Ummu Kultsum pada 1341 H/1923 M. Itu pun dari seorang pemetik ‘ûd lain, yaitu Amin Beik Al-Mahdi. Pemetik ‘ûd terakhir itulah yang mengenalkan Ummu Kultsum ke lingkungan budaya di Kairo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Segera, penyanyi yang suaranya dikagumi pula oleh Maria Callas, Jean-Paul Sartre, Marie Laforêt, Salvador Dalí, Nico Bono, dan Led Zeppelin ini berkenalan dengan Ahmad Rami, seorang penyair terkemuka Mesir yang kelak akan menggubah 137 lagu untuk sang penyanyi. Tidak hanya itu. Ahmad Rami juga “mengenalkan’ kepadanya sastra Perancis (yang pernah ia kaji selama menjadi mahasiswa di Universitas Sorbonne, Paris) dan sastra Arab. Selain itu, ia juga dikenalkan dengan seorang virtuoso dan komposer, Muhammad Al-Qasabji. Sang komposer itulah yang mengenalkan Ummu Kultsum dengan Istana Teater Arab. Begitu penampilan pertamanya di istana itu berhasil, pada 1351 H/1932 M dan atas dukungan Al-Qasabji, namanya pun menjadi tenar. Sehingga, tak lama kemudian pelbagai undangan untuk tampil datang dari pelbagai kota di Dunia Arab: Damaskus, Baghdad, Beirut, dan Tripoli.  Kemudian, pada 1371 H/1952 M, ketika di negerinya terjadi perubahan rezim pemerintahan dan Gamal Abdel Nasser naik ke pentas kekuasaan, penyanyi yang banyak di antara lagu-lagunya digubah oleh Zakariyya Ahmad, Bairam Al-Tunsi, Riyadh Al-Sunbathi, dan Ahmad Syauqi ini pernah sempat dilarang tampil. Tapi, segera larangan itu dicabut, karena rezim itu menyadari pengaruh penyanyi yang memiliki ciri khas: dua atau tiga lagu ia senandungkan selama sekitar enam jam (selepas memasuki masa lanjut usia, lama lagu-lagunya diperpendek menjadi selama sekitar dua atau tiga jam). &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejak 1387 H/1967 M, istri Dr. Hassan Al-Hafnawi, seorang dokter penyakit kulit, ini menderita radang ginjal (nephritis). Penyanyi yang, meminjam ungkapan Virginia Danielson dalam Harvard Magazine, “memiliki keindahan suara seperti suara Joan Sutherland atau Ella Fitzgerald, daya pikat terhadap publik seperti daya pikat yang dimiliki Eleanor Rosevelt, dan para penggemar seperti para penggemar Elvis Presley” ini berpulang di Kairo pada Senin, 21 Muharram 1395 H/3 Februari 1975 M. Lagu-lagunya, antara lain, adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Aghadan Alqâk, Alf Lailah wa Lailah, Arûh li Min, Al-Athlâl, Amal Hayâti, Ba‘îd ‘Annak, Al-Hub Kulluh, Inta Al-Hub, Inta ‘Umrî, Hâdzihi Lailatî, Hadîts Al-Rûh&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wulid Al-Hudâ&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penulis sendiri tidak tahu, kenapa menggandrungi lagu-lagu Ummu Kultsum. Terutama dua lagunya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wulid Al-Hudâ&lt;/span&gt; dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Tsulâtsiyyah Al-Muqaddasah&lt;/span&gt;. Karena hati penulis begitu tergetar ketika mendengarkan lagu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wulid Al-Hudâ&lt;/span&gt;, yang digubah oleh seorang penyair terkemuka Mesir, Ahmad Syauqi (1287-1351 H/1870-1932 M), lagu itu pun penulis jadikan sebagai kutipan pembuka sebuah karya penulis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhammad Sang Kekasih&lt;/span&gt;, yang diterbitkan oleh Penerbit Mizania, Bandung. Kutipan pembuka indah itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u&lt;br /&gt;Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u&lt;br /&gt;A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu&lt;br /&gt;Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u&lt;br /&gt;Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahî&lt;br /&gt;Wa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Telah lahir Sang Nabi, pembawa petunjuk nan cemerlang &lt;br /&gt;Semesta alam pun berpendar sangat benderang &lt;br /&gt;Mulut zaman tiada henti dan senantiasa menggemakan&lt;br /&gt;Senyuman, pujian, serta sanjungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibril dan para malaikat pun mengitarinya senantiasa&lt;br /&gt;Karena berita gembira ‘tuk agama dan dunia sertai kelahirannya&lt;br /&gt;‘Arasy bangga dan surga tak kalah ceria&lt;br /&gt;Sidrah Al-Muntaha dan Mutiara Putih pun berdendang ria&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-591121529090637019?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/12/bintang-dari-timur.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Syd1uSCOnHI/AAAAAAAAAeE/MenE8BP44ts/s72-c/um_kalthum.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2880128798218201519</guid><pubDate>Tue, 01 Dec 2009 06:45:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-12-01T15:31:28.800+07:00</atom:updated><title>Sang Sultan pun Dia Lawan</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SxS8BzzEG1I/AAAAAAAAAd8/ymN3Ox7YDbw/s1600/mutiara+rs.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 160px; height: 226px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SxS8BzzEG1I/AAAAAAAAAd8/ymN3Ox7YDbw/s400/mutiara+rs.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5410155791649086290" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menulis, menulis, dan menulis ternyata kadang membuat seseorang lupa akan sesuatu yang pernah ia tulis. Itulah yang terjadi pada diri penulis: beberapa hari lalu penulis mencoba men”search” nama diri sendiri. Tiba-tiba di antara deretan informasi yang muncul, ternyata sebuah buku yang pernah penulis tulis telah terbit. Yaitu buku Mutiara Riyâdhush Shâlihîn, sebuah karya besar Imam Al-Nawawi. Ternyata, kitab itu telah diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung. Seperti diketahui, karya yang satu ini merupakan sebuah kitab yang menyajikan intisari dari hadis-hadis yang terdapat dalam kitab-kitab hadis terkemuka, seperti halnya Shahîh Al-Bukhârî dan Shahîh Muslim, dan beberapa kitab hadis lainnya. Ada sebuah kepuasan tersendiri ketika saya menerjemahkan dan mengikhtisarkan kitab yang satu. Mengapa? Selain karena karya ini merupakan sebuah karya besar dan utama, juga karena penulis sendiri pernah tiga kali mengikuti pengajian kitab tersebut yang diberikan oleh K.H. Ali Maksum (alm.), sewaktu penulis masih menjadi santri di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta pada tahun-tahun 1972-1975.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;     Di sisi lain, seperti pernah penulis kemukakan dalam salah satu tulisan di blog ini, setiap kali merenungkan kitab-kitab hadis yang pernah penulis pelajari, penulis kian menyadari bahwa karya-karya tersebut, selain kesahihannya dapat dipertanggungjawabkan, mampu memberikan pencerahan dan kemanfataan kepada umat selama beratus-ratus tahun tidak lepas dari kebeningan dan keikhlasan niat para pengarang kitab-kitab tersebut, di samping integritas akhlak mereka yang luar biasa. Imam Al-Bukhari, misalnya, setiap kali akan menorehkan penanya dalam menulis sebuah hadis, senantiasa mendahuluinya dengan berwudhu terlebih dahulu. Tampaknya hal itu sederhana. Tapi, sejatinya, hal itu mengungkapkan niat yang bersih dan ikhlas dan integritas yang luar biasa. Tidaklah mudah bagi siapa pun untuk berwudhu setiap kali akan menulis sesuatu. Apalagi kala itu dapat dibayangkan air tidak mudah didapat dan listrik belum ada. Imam Al-Ghazali pun, ketika menyusun Kitab Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn selama sembilan tahun, dia menanggalkan jabatan guru besar dengan segala fasilitas luar biasa yang diberikan oleh Nizham Al-Mulk dan menyendiri di lingkungan yang sunyi di Masjid Umawi, Damaskus, dengan hanya memakai lentera kecil. Hal yang sama juga dilakukan oleh Imam Al-Nawawi. Tokoh terakhir yang satu ini pun memiliki integritas yang luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Siapakah Imam Al-Nawawi yang penyusun karya besar yang satu ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Ulama terkemuka pada abad ke-7 H/13  M  ini  bernama lengkap  Muhyiddin  Abu Zakariyya  Yahya  bin Syaraf bin Murri bin Al-Hasan  bin  Al-Husain  bin Hizam  bin  Muhammad bin Jum‘ah Al-Nawawi Al-Syafi‘i.  Ia  lahir pada  Ahad, 10 Muharram 631 H yang bertepatan dengan 16  Oktober 1233 M di Nawa, Jawlan di selatan Damaskus, Suriah. Pada  649 H/1251 M, setelah memperdalam berbagai ilmu  keislaman, Al-Nawawi  muda pun menapakkan kakinya menuju Damaskus.  Di  kota yang pernah menjadi ibukota Dinasti Umawiah  ini, karena keluasan ilmu dan wawasannya,  ia  diangkat sebagai  staf  pengajar Perguruan  Dar  Al-Hadits  Al-Asyrafiyah.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Beberapa tahun selepas itu, terjadi sebuah peristiwa yang menarik yang melibatkan diri ulama yang satu ini. Kejadiannya adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Saat itu pertengahan tahun-tahun 1250-an M. Kala itu, gerak maju pasukan Mongol di bawah pimpinan Jenderal Hulagu Khan, dalam upaya menguasai dunia Islam, seakan tak terbendung lagi. Satu  demi satu pelbagai wilayah dunia Islam kala itu jatuh tak berdaya sama sekali dalam cengkeraman pasukan yang terkenal sangat ganas dan brutal di bawah pimpinan  putra Tului Khan dan cucu Jengis Khan itu, yang mendapat perintah dari Mangu, saudaranya yang menjabat Khan Besar, untuk melibas dunia Islam. Pada  Januari  1256 M pasukan Mongol di bawah komando sang jenderal  mulai menyeberangi  Sungai Oxus  (Amu-Darya).  Setelah  merontokkan  Benteng  Alamut,  yang menjadi pusat pertahanan sangat tangguh kelompok Hasysyâsyûn (dalam khazanah ilmiah barat disebut kelompok Assasins) yang sangat ditakuti kala itu, pada awal 1258  M pasukan yang terkenal sangat garang dan kejam itu mulai mengepung Baghdad Dar Al-Salam. Akhirnya, kota yang dibangun Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa kedua Dinasti Abbasiyyah, itu pun diluluhlantakkan pada Ahad, 4 Shafar 656 H/10 Februari 1258 M dan penguasa  Dinasti  Abbasiyyah kala itu,  Al-Mu‘tashim,  dibunuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Kejatuhan Baghdad Dar Al-Salam dengan korban kaum Muslim yang sangat besar, membuat seorang panglima militer Dinasti  Saljuq (kelak akan menjadi seorang sultan), termangu dan sangat masygul. Panglima yang satu ini lahir pada 620  H/1223  M, sebagai seorang mamlûk (yang berarti budak, tapi kemudian menjadi nama  dinasti),  asal Kipchak, Kaukasus,  wilayah  pegunungan  di perbatasan  Rusia dan Turki. Kala masih kecil, ia dijual  dengan harga  murah  bersama para budak  dan direkrut  Al-Malik  Al-Shalih  (karena itu mendapat sebutan Al-Shalihi)  dari  Dinasti Ayyubiah   di  Mesir,  untuk  diberi  pendidikan  militer   dan dijadikan sebagai pengawal sultan karena mereka dikenal gagah dan kuat.   Mereka   diberi  kedudukan  sehingga   kedudukan   mereka meningkat.  Akhirnya, mereka memberontak dan  mendirikan  Dinasti Mamluk. Sang mamluk yang satu itu  sendiri,  yang  menjadi  salah  seorang  saksi  tegaknya Dinasti   Mamluk  pertama,  atau  Dinasti  Mamluk  Bahriah,   mulai kariernya   dari  bawah.  Kala  Al-Malik   Al-Muzhaffar   Quthuz berkuasa, ia diangkat sebagai atabeg para serdadu. Namanya mulai berpendar  dalam Perang Salib, karena ia berhasil menangkap  Raja Louis  IX dari Prancis. Selain itu, ia ikut bertanggung jawab  dalam  peristiwa terbunuhnya Turan Syah, penguasa dari Dinasti Ayyubiyyah.&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;     Selepas merenung, merenung, dan merenung, sang panglima akhirnya menyadari, tidaklah mudah untuk menghadang gerak maju pasukan Mongol di bawah pimpinan Jenderal Hulagu Khan itu. Maka, selepas mendapat masukan-masukan dari pelbagai pihak, tokoh militer yang juga terkenal sebagai seorang  yang saleh  dan  dikenal sangat ketat menjaga  syariah itu mengundang seorang ulama di Damaskus. Sang panglima mengharapkan, kiranya sang ulama berkenan menggunakan seluruh pengaruhnya terhadap masyarakat luas untuk mendanai sang panglima dalam upayanya menghadang gerak maju pasukan Mongol yang mulai mengarahkan geraknya menuju Suriah dalam perjalanan untuk menaklukkan Mesir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;     Menerima permintaan demikian,  ulama dengan kepribadian yang  penuh  integritas itu  memberi nasihat seperti adanya  kepada  sang panglima, “Wahai panglima! Dulu, Anda budak belian.  Sekarang, Anda  panglima.  Kini, Anda memiliki tidak kurang dari  1.000  budak,  yang masing-masing  Anda lengkapi dengan pelbagai  pakaian  kebesaran, untuk  kemegahan Anda, penuh bertabur emas. Anda  juga  mempunyai 100  dayang. Sekujur badan mereka penuh pula dengan  hiasan  emas dan permata. Kalau Anda bersedia menanggalkan pakaian emas  1.000 budak dan 100 dayang itu, menggantinya dengan baju biasa,  selama perang  ini, saya akan mempergunakan pengaruh saya kepada  rakyat supaya mereka berkorban!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;     Akibatnya,  sang  panglima yang sangat menyukai olah raga polo itu murka dan mengusir  sang  ulama  dari Damaskus. Dan, selepas pertemuan antara sang ulama dengan sang panglima tersebut, baliklah sang ulama yang satu ini ke desa kelahirannya dan menetap di  sana sampai berpulang ke hadirat Allah pada Rabu malam, 24 Rajab 676 H/22 Desember 1277 M dalam usia sekitar 45 tahun, dengan meninggalkan sederet karya tulis. Antara lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Raudhah Al-Thâlibîn, Al-Minhâj, Daqâ’iq Al-Minhâj, Al-Manâsik Al-Sughrâ,  Al-Isyârât  li Bayân Asmâ’ Al-Mubhimât,  Al-Tibyân,  Al-Adzkâr, Al-Fatâwâ,  Tahdzîb Al-Asmâ’ wa Al-Lughah, Syarh  Shahîh Muslim,  Al-Arba‘ûn Hadîtsan&lt;/span&gt;,  di  samping  karya terkenalnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Riyâdh Al-Shâlihîn&lt;/span&gt;. Jenazah ulama yang terkenal sangat teliti dan cermat serta tidak meninggalkan keturunan ini  dimakamkan di rumah ayahandanya dan kuburnya masih terpelihara hingga kini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2880128798218201519?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/12/sang-sultan-pun-dia-lawan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SxS8BzzEG1I/AAAAAAAAAd8/ymN3Ox7YDbw/s72-c/mutiara+rs.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-7510229242173264028</guid><pubDate>Wed, 25 Nov 2009 04:26:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-11-25T11:36:36.874+07:00</atom:updated><title>Doa untuk Negara Kita</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Swy0SGk_trI/AAAAAAAAAds/w9jcEdsaEwQ/s1600/aceh-medanjuli09+194.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Swy0SGk_trI/AAAAAAAAAds/w9jcEdsaEwQ/s400/aceh-medanjuli09+194.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5407895475661551282" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;“Mas, menulislah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;lagi di blog. &lt;i&gt;Bener&lt;/i&gt;, lo!” ucap seorang sahabat yang acap “berkunjung” ke blog penulis dan tahu telah berbulan-bulan tulisan baru saya tak kunjung hadir di blog. Memang, telah berbulan-bulan lamanya satu tulisan pun dari penulis tak jua muncul di blog ini. Menyelesaikan penulisan &lt;span lang="FR" style="mso-ansi-language:FR"&gt;sebuah buku setebal sekitar 600 halaman benar-benar membuat penulis terlena : lupa menyajikan tulisan baru di blog. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;“Kayaknya saya lagi kehabisan ide. Menulis tentang apa ya?” sergah saya. “Bukankah banyak tulisan bagus yang dapat Anda nikmati di blog-blog lain.”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;“Mas, menulislah tentang doa!”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;“Lo, kok tentang doa?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;“Doa untuk negara kita! Saya sejatinya senantiasa mendoakan negeri kita agar menjadi sebuah &lt;i&gt;baldatun thayyibah wa rabb ghafur&lt;/i&gt;. Tapi, kok, melihat kondisi negara kita saat ini, hati saya kok kian tersayat. Negara kita ini tak kunjung menjadi seperti yang kita harapkan semua. Apa doa kita tidak dikabulkan Allah Swt. Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;Mendengar ucapan sahabat yang demikian, sejenak saya tercenung dan termenung. Benarkah doa kita untuk negeri kita benar-benar tidak diterima Allah Swt. Lama saya kebingungan mencari jawaban: mengapa doa kita untuk negeri kita “mandul”. Entah mengapa, berkenaan dengan doa yang “mandul” itu, pagi hari ini saya tersadarkan oleh sebuah kisah berikut:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;Hari itu Ibrahim bin Adham, seorang sufi terkemuka, sedang berada di Pasar Basrah, Irak. Ketika orang-orang yang ada di pasar itu mengetahui kehadiran sang sufi, mereka pun segera menemuinya. Selepas berbagi sapa sejenak dengan sang sufi, mereka kemudian bertanya kepadanya, “Wahai Guru! Kami sejatinya telah memanjatkan doa. Tapi, mengapa doa kami tak kunjung dikabulkan Allah Swt.?”&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;&lt;span lang="FR" style="mso-ansi-language:FR"&gt;“Wahai saudara-saudaraku,” jawab sang sufi pelan. “Hal itu terjadi karena sepuluh hal: kalian mengenal Allah, tapi kalian tidak menunaikan hak-Nya; kalian mengaku mencintai Rasul-Nya, tapi kalian meninggalkan sunnah; kalian membaca Al-Quran, tapi kalian tidak mengamalkan isinya; kalian banyak dianugerahi nikmat karunia, tapi kalian tidak mensyukurinya ; kalian menyatakan bahwa setan adalah musuh, tapi kalian meneladani jejak langkahnya ; kalian mengaku bahwa surga adalah benar adanya, tapi kalian tidak melakukan amal yang mengantarkan ke sana ; kalian mengaku bahwa neraka benar adanya, tapi kalian tidak lari dari panas siksanya ; kalian mengaku bahwa kematian benar adanya, tapi kalian tidak mempersiapkan diri ke sana ; kalian sibuk mengurusi kekurangan orang lain, tapi kalian lupa akan kekurangan diri kalian sendiri ; dan kalian menguburkan jenazah, tapi kalian tidak memetik pelajaran dari peristiwa kematian.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNoSpacing" style="text-align:justify;text-indent:21.3pt"&gt;“Duh, &lt;i&gt;bener&lt;/i&gt; juga ucapan sang sufi itu…”, gumam saya. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-7510229242173264028?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/11/mas-menulislah-lagi-di-blog.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Swy0SGk_trI/AAAAAAAAAds/w9jcEdsaEwQ/s72-c/aceh-medanjuli09+194.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1466611285598966804</guid><pubDate>Sat, 28 Mar 2009 10:47:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-29T09:09:53.443+07:00</atom:updated><title>Buah Cinta Zulaikha</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sc4AZ-Hc2hI/AAAAAAAAAc0/lS0VsKGj5P8/s1600-h/yusufrembrandt.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 313px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sc4AZ-Hc2hI/AAAAAAAAAc0/lS0VsKGj5P8/s400/yusufrembrandt.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5318188656142113298" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;K&lt;/span&gt;ecewakah Yusuf a.s. begitu menerima penolakan tawarannya untuk menikah oleh Zulaikha? Ternyata, menurut Al-Ghazali dalam karyanya &lt;i&gt;Ihya’ ‘Ulum Ad-Din&lt;/i&gt; (vol. 13), Yusuf a.s. tidak kecewa. Putra Nabi Ya’qub a.s. itu malah &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;kian gembira mendengar jawaban Zulaikha (tentu sosoknya tidak seperti yang dilukis Rembrandt seperti ditampilkan dalam gambar di samping: Zulaikha sedang dimarahi Potiphar selepas skandal cintanya terhadap Yusuf a.s. terbongkar) yang indah tersebut. Juga, dia tak patah arang. Malah, dengan pelbagai pendekatan yang meyakinkan, akhirnya Yusuf a.s. berhasil menyunting Zulaikha dan menempatkannya di istananya sebagai istri yang terhormat. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Pendar keelokan fisik Zulaikha (dalam Torat disebut Zelikah) pun segera pulih. Malah, kini, pendar keelokannya kian bercahaya dan berkilau. Baik lahir maupun batinnya. Dan, berbeda dengan ketika masih menjadi istri Potiphar, Zulaikha kini berubah sepenuhnya menjadi seorang perempuan bangsawan yang senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Setiap saat, ia tak pernah melewatkan waktunya untuk kian mendekatkan diri kepada-Nya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Nah, menurut Al-Ghazali dalam karyanya tersebut, suatu siang hari, Yusuf a.s. yang lagi menikmati rehat, pulang ke istananya. Sebagai seorang suami, siang itu ia berhasrat sekali bercengkerama dengan istri tercintanya nan elok itu. Tapi, Zulaikha dengan halus menolak permintaan suaminya yang sangat tampan itu. Dia meminta, agar Yusuf a.s. menunda hasrat dan keinginannya yang menggebu itu hingga &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;malam hari&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt; tiba&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. Yusuf a.s. pun&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;, dengan agak kecewa,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; menerima penolakan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt; itu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. Kemudian, di malam harinya, ketika Yusuf a.s. memanggilnya, Zulaikha sekali lagi meminta agar hasrat Yusuf a.s. itu ditunda hingga siang hari tiba seraya berucap, “Wahai Yusuf, suamiku tercinta! Aku mencintaimu sebelum aku mengenal Allah Swt. Karena itu, begitu aku mengenal Dia, &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;bukankah sepantasnya tak kusisakan lagi cinta untuk selain&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt; Dia&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; dan aku menghendaki pengganti Dia&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;?&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Yusuf a&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;s&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span lang="IN"&gt;pun sejenak &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;tercenung dan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;termenung mendengar ucapan Zulaikha yang demikian itu. Dan, tak lama kemudian, ia berucap &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;lirih &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kepada Zulaikha, “&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Wahai Zulaikha, istriku tercinta! Sejatinya, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Allah Yang Mahaagunglah yang menyuruh aku melakukan hal yang demikian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt; itu denganmu&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;. &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Dia&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; me&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;ngabar&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;kan kepada&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;ku&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; bahwa&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt; Dia&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;akan &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;meng&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;aruniakan dua putra lewat&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;dirimu. &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;D&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;ia akan mengangkat&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; kedua &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;putra&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;itu&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;sebagai N&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;abi.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Wahai Yusuf,” jawab Zulaikha dengan wajah berbinar-binar. “&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Bila memang Allah S&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;wt.&lt;/span&gt; &lt;span lang="IN"&gt;memerintahkan engkau untuk &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;bercengkerama denganku &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;dan menjadikan aku sebagai sarana terlaksananya perintah-Nya itu, tentu perintah Allah SWT itu akan kutaati&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;arena dengan keta&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;at&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;an itu, kalbuku menjadi tenang.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1466611285598966804?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/03/buah-cinta-zulaikha.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sc4AZ-Hc2hI/AAAAAAAAAc0/lS0VsKGj5P8/s72-c/yusufrembrandt.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-6204015257037751028</guid><pubDate>Wed, 25 Mar 2009 07:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-25T14:49:30.374+07:00</atom:updated><title>Puncak Cinta Zulaikha</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/ScnfUXMv9BI/AAAAAAAAAcs/kqP5U4NJ7LI/s1600-h/yusufnzulaikha-01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 240px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/ScnfUXMv9BI/AAAAAAAAAcs/kqP5U4NJ7LI/s400/yusufnzulaikha-01.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5317026376005448722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;“&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;M&lt;/span&gt;as, siapa itu nama perempuan yang jatuh cinta kepada Nabi Yusuf a.s.?” tanya seorang sahabat yang direktur sebuah penerbitan, selepas lama berbincang dengan penulis tentang pelbagai hal, kepada penulis beberapa waktu yang lalu. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;“Zulaikha, itulah nama yang biasanya disebut,” jawab penulis yang gak tahu ke mana arah pertanyaan sahabat yang pencinta buku dan film itu. “Bang, sejatinya nama itu sendiri tidak dikemukakan dalam Al-Quran loh. Tentang perempuan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Quran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;antara lain&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengemukakan,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i&gt;‘Dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perempuan (Zulaikha)&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Yusuf&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;untuk menundukkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dirinya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(kepadanya)&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menutup&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pintu-pintu seraya berucap, ‘Marilah ke sini.’ Jawab Yusuf, ‘Aku berlindung kepada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Allah!&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Sungguh,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tuanku telah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memperlakukan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;aku&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dengan baik.’ Sungguh, orang-orang yang zalim tidak akan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;beruntung. Sesungguhnya perempuan itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Yusuf,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan Yusuf pun bermaksud (melakukan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pula)&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dengan perempuan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;itu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;andaikata dia tidak melihat tanda&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(dari)&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Tuhannya. Demikianlah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;agar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kami&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memalingkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;darinya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kemungkaran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf termasuk hamba-hamba Kami terpilih.’&lt;/i&gt; (QS. Yusuf, 12: 23-24). Nama&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Zulaikha&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sendiri berasal dari kaum Muslim&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;semula&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memeluk agama&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Yahudi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan Nasrani. Ada yang menyatakan,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;suami&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Zulaikha bernama Potiphar. Ia seorang penguasa kawasan San, Mesir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Selatan. Ada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pula yang menyatakan, Potiphar adalah seorang kepala&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;polisi.” &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;“Ya, benar, Zulaikha! Zulaikha, Zulaikha, Zulaikha!”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;“Kenapa &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; Abang bertanya perihal Zulaikha. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Apa Abang sedang terlibat dalam sebuah kisah cinta seperti kisah Yusuf dan Zulaikha?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;“Ha, ha,ha…! Enggaklah! Penasaran saja,” jawab sahabat penulis yang berasal dari Sumatera Utara itu. “Saya sungguh penasaran,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bagaimanakah &lt;i&gt;sih&lt;/i&gt; sejatinya akhir kisah cinta antara Yusuf dan Zulaikha?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Wallahu a’lam bi al-shawab&lt;/i&gt;. Terus terang, saat ini saya tak kuasa menjawab pertanyaan Abang,” jawab penulis. Apa adanya.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Entah mengapa, sejak itu pertanyaan perihal cinta Zulaikha itu senantiasa menggelayuti benak penulis, dan penulis senantiasa berusaha mencarikan jawabannya. &lt;i&gt;Alhamdulillah&lt;/i&gt;, beberapa hari yang lalu, penulis membeli buku berjudul &lt;i&gt;Cinta Bagai Anggur&lt;/i&gt;. Dan, alhamdulillah, dalam buku itu penulis menemukan jawaban pertanyaan sahabat penulis yang jebolan Institut Teknologi Bandung itu:&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Salah satu contoh yang luar biasa dari cinta adalah kisah antara Nabi Yusuf dan Zulaikha, istri Potiphar. Konon, Yusuf adalah Nabi yang lebih bercahaya dan lebih tampan dibanding para Nabi sebelum beliau. Zulaikha langsung jatuh cinta sejak pertama kali ia melihat Yusuf. Demi cintanya kepada Yusuf, Zulaikha mengorbankan segala-galanya-harta, reputasi, maupun kedudukan. Dia begitu tergila-gila kepada Yusuf, hingga ia rela menyerahkan permata terbaik miliknya kepada siapa pun yang melaporkan hasil pengamatannya terhadap Yusuf dan menceritakan apa saja yang sedang dilakukan sosok tercintanya itu. Dia pun menjadi buah bibir di kalangan bangsawan Mesir-seorang perempuan bersuami tanpa malu-malu jatuh cinta kepada seorang budak milik suaminya. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Ketika mendengar seluruh perempuan bangsawan suka menggunjingnya, Zulaikha pun membalas mereka. Dia undang teman-temannya itu untuk datang bersantap&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;siang. Sebagai hidangan penutup, ia hidangkan buah-buahan segar, lengkap dengan pisau tajam untuk mengupas dan memotong buah-buah itu. Kemudian, ia memanggil Yusuf. Seketika, semua perempuan di ruangan itu disergap oleh pesona ketampanan Yusuf. Begitu terpukaunya, hingga mereka benar-benar lupa dengan buah-buah yang dipotong di tangan mereka. Sehingga, mereka tidak menyadari ketika pisau-pisau itu malah mengiris tangan mereka sendiri. Zulaikha pun berkomentar, “Lihat! Sekarang, apa kalian masih menyalahkan aku?”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Bertahun-tahun kemudian, kedudukan mereka berbalik. Yusuf a.s. telah menjadi sahabat dan perdana menteri Fir’aun Mesir saat itu. Sedangkan Zulaikha, selepas dicampakkan suaminya karena skandal cintanya itu, kini meniti hidup sengsara dengan meminta-minta dan menjadi buruh kasar. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Suatu hari, Yusuf melihat Zulaikha di jalan. Yusuf saat itu mengenakan busana nan indah dari sutra, mengendarai kuda jantan nan gagah, dan dikitari para penasihat serta tentara yang bertugas sebagai pengawal pribadinya. Sedangkan Zulaikha hanya mengenakan sampiran kain lusuh. Kecantikannya telah sirna, hilang dalam tempaan kehidupan yang telah dilintasinya bertahun-tahun. Ucap Yusuf, “Zulaikha! Dulu, ketika engkau ingin menikah denganku, aku terpaksa menolakmu. Kala itu engkau adalah istri tuanku. Kini, engkau telah bebas dan aku pun bukan lagi seorang budak. Kalau engkau mau, aku akan menikahimu.”&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Zulaikha balik menatap Yusuf a.s. Namun, kali ini, kedua matanya penuh cahaya. Ucapnya, “Tidak, Yusuf. Cintaku yang begitu besar kepadamu, dulu, tak lain hanyalah sebuah tirai yang ada di antara aku dan Sang Kekasih. Kini, aku telah merobek tirai itu dan mencampakkannya. Kini, aku telah menemukan Kekasihku yang sejati. Sehingga, aku tak lagi memerlukan cinta darimu!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-6204015257037751028?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/03/puncak-cinta-zulaikha.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/ScnfUXMv9BI/AAAAAAAAAcs/kqP5U4NJ7LI/s72-c/yusufnzulaikha-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-7526650080561803829</guid><pubDate>Tue, 17 Mar 2009 02:51:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-18T08:35:13.183+07:00</atom:updated><title>Mantu a la Gus Mus</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sb8V_KhLmCI/AAAAAAAAAck/yYiMO2I3z-w/s1600-h/gus+mus+mantu13maret09+034.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sb8V_KhLmCI/AAAAAAAAAck/yYiMO2I3z-w/s400/gus+mus+mantu13maret09+034.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313990260219942946" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:large;"&gt;B&lt;/span&gt;eberapa minggu yang lalu, ketika penulis sedang berada di rumah, tiba-tiba telpon rumah berdering. Penulis pun segera mengangkat perangkat telpon itu. Eh, ternyata terdengar suara seorang cewek berucap, “Assalamu’alaikum wr.wb. Apakah ini rumahPakRofi’?""Wa’alaikumussalam wr.wb. Ya, benar. Mbak siapa dan ada apa?” “Saya Almas, putri Gus Mus. Abah minta alamat Pak Rofi’.” “Ada apa, Mbak?”“Gus Mus mau mantu.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Mendengar kabar gembira yang demikian, tentu saja penulis segera memberikan alamat rumah penulis. Siapakah yang tidak merasa gembira mendengar Gus Mus akan mantu (putrinya yang terakhir, yaitu cewek yang menelpon tersebut: Almas) dan menerima undangan tersebut. Benar saja, beberapa hari kemudian datang sebuah undangan pernikahan antara Almas dan Rizal Wijaya (seorang arek Surabaya), yang tertulis dalam tulisan Latin dan Jawa Pegon (bahasa Jawa yang ditulis dengan huruf-huruf Arab). Walau disain undangan itu tampak sederhana, tapi entah kenapa tampak indah. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Kemudian, Jumat 13 Maret 2009 yang lalu, penulis pun berangkat bersama istri (yang juga akan menghadiri undangan pernikahan di Semarang), menuju Rembang. Sebelum berangkat, penulis telah menyiapkan dua perangkat baju: sarung, baju koko putih, kopiah, dan jas (inilah baju yang biasanya dipakai oleh para kiai Jawa Tengah ketika mantu); dan baju batik. Setibanya di rumah seorang sahabat di Rembang, penulis pun bertanya kepada sang sahabat baju apa yang sebaiknya penulis pakai. Ternyata, dia menyarankan agar penulis mengenakan baju batik saja. Karena itulah baju yang biasa dikenakan dalam acara pernikahan di Rembang. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Tepat jam 10 pagi, 14 Maret 2009, acara pernikahan Almas dan Rizal segera dimulai. Penulis lihat, Gus Mus tidak hadir di tempat akad pernikahan akan dilangsungkan. Yang terlihat para kiai, keluarga (termasuk Menteri Agama: Maftuh Basyuni, dan HM Muzammil Basyuni, duta besar Indonesia di Damaskus, Suriah. Kedua tokoh ini adalah saudara laki-laki istri Gus Mus:&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Siti Fatma Basyuni), dan para sahabat Gus Mus. Ternyata, akad nikah tidak dilakukan sendiri oleh Gus Mus, tapi diwakilkan. Lalu, di mana Gus Mus? Eh, ternyata kiai, budayawan, penulis, dan juga pelukis yang lahir di Rembang, 10 Agustus 1944 (yang tetap mengenakan busana kebesarannya yang sederhana: sarung, baju koko, dan serban putih yang senantiasa beliau kenakan sehari-hari) itu sedang asyik menerima tamu-tamu putra yang kian memenuhi tempat undangan. Segera, akad pernikahan pun dilaksanakan dan ditutup dengan doa oleh beberapa kiai dan Menteri Agama.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Selepas itu, pengantin putra dan putri dipertemukan dan didudukkan di pelaminan. Ternyata, hanya mereka berdua saja yang ada di pelaminan. Tanpa didampingi orang tua kedua pengantin. Penulis lihat Gus Mus asyik mendatangi satu per satu tamu-tamu putra (yang dipisahkan dari para tamu putri). Sambutan keluarga pengantin putri disampaikan oleh KH Yahya Tsaquf. Dalam sambutannya, yang segar dan dalam bahasa Jawa kromo inggil, putra KH Cholil Bisri itu dengan tersenyum meminta maaf, Gus Mus “terpaksa” mengenakan busana kebesarannya seperti itu karena “kehabisan baju batik”. Selain itu, mantan jubir Gus Dur ketika jadi presiden itu mengemukakan, di malam harinya, Gus Mus akan mengadakan hiburan, yaitu “kampanye” pemilu, dengan mengundang semua caleg dari semua partai, termasuk caleg dari icmi. Ternyata, yang dimaksud icmi oleh kiai yang masih muda usia itu, adalah ikatan caleg melarat indonesia. Ada-ada saja, Gus!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Yang menarik, dalam tas &lt;i&gt;angsul-angsul&lt;/i&gt; (bingkisan) untuk setiap tamu, ada sebuah buku indah yang berisi foto “lukisan-lukisan amplop” atau “lukisan-lukisan klelet” karya Gus Mus. Benar-benar bingkisan yang sangat bernilai dan indah. Apalagi, di samping setiap lukisan disertai kata-kata indah yang digoreskan oleh Gus Mus. Antara lain: “Keindahan ada di mana-mana, asal… kau tahu tempatnya”; “Indah dan buruk, jorok dan suci, ada di kepalamu”, “Ketika engkau tak menyadari keindahanmu, tiba-tiba engkau menjadi semakin indah”; “Warna-warni adalah bagian anugerah Allah bagi mereka yang tidak buta warna atau buta sama sekali”, “Pandanglah keindahanku, lalu pejamkan matamu, biar keindahanku pindah ke hatimu”, “Keindahan itu sudah ada di mana-mana, aku tinggal merangkainya untuk aku nikmati sebisaku”; “Pandang terus hingga kau temukan keindahan, atau pejamkan saja matamu!”;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;“Aku ingin menjadikan yang sepele menjadi sesuatu yang tidak disepelekan”; “Bukan tanganku yang menuntun kepada keindahan yang kulukis”; “Kau bisa melihat keindahan hati dari keindahan perilaku”; “Keindahan ciptaan-Nya menunjukkan keindahan-Nya, keindahan semua ciptaan-Nya menunjukkan bahwa Ia menyukai keindahan”; “Kalau kau tak bisa menikmati keindahan, janganlah merusaknya!”;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;“Cahaya kasih Tuhan menyinari hati dan memunculkan keindahan perilaku”; “Tak perlu mencari, keindahan ada di depan matamu!”; “Kalbumu yang menuntun matamu kepada keindahan…”; “Ya Allah, aku tidak berdaya di hadapan keindahan-Mu…”; “Manusia diciptakan indah, kebodohannya yang memperburuknya”; “Keindahan cinta lahir dari kelembutan hati… Hati yang penuh kebencian melahirkan kekerasan dan kekejaman”; “Allah menciptakanmu indah, jagalah keindahanmu!”; dan “Allah itu Indah, Maha Indah, dan hanya menerima yang indah…”.&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style="Georgia Ref&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;Gus Mus, terima kasih atas undangannya. Dan, kiranya Allah Swt. senantiasa meridhai dan memberkahi pernikahan Almas dan Rizal. Amiin. &lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-7526650080561803829?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/03/mantu-la-gus-mus.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/Sb8V_KhLmCI/AAAAAAAAAck/yYiMO2I3z-w/s72-c/gus+mus+mantu13maret09+034.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>2</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1923621862920582672</guid><pubDate>Thu, 12 Mar 2009 02:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-12T09:18:32.186+07:00</atom:updated><title>Mengapa Gelar Dr HC Dianugerahkan?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SbhwxHKzwBI/AAAAAAAAAcU/Xni19laH8U4/s1600-h/drhc.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 269px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SbhwxHKzwBI/AAAAAAAAAcU/Xni19laH8U4/s400/drhc.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5312119749523783698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: large;"&gt;D&lt;/span&gt;ua hari yang lalu, 9 Maret 2009, ketika penulis sedang membuka &lt;i&gt;Yahoo Messenger&lt;/i&gt;, tiba-tiba penulis tersambung dengan seorang sahabat yang saat ini menjadi dekan di sebuah universitas. Sahabat penulis itu menuturkan, universitasnya sedang menilai seorang tokoh untuk dianugerahi gelar &lt;i&gt;doctor honoris causa&lt;/i&gt;. Mendengar penuturannya yang demikian, entah mengapa ingatan penulis segera teringat pada penganugerahan gelar kehormatan itu, oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia, kepada beberapa tokoh negeri ini belum lama ini. Dan, tiba-tiba pula penulis tergerak untuk melakukan &lt;i&gt;searching&lt;/i&gt; perihal penganugerahan gelar kehormatan itu. Eh, ternyata penulis menemukan tulisan Winarso Drajad Widodo, PhD, seorang dosen IPB, Bogor, yang dimuat koran &lt;i&gt;Media Indonesia&lt;/i&gt;, Edisi Rabu, 2 Oktober 2002, yang membahas masalah penganugerahan gelar kehormatan yang demikian itu. Melihat tulisan itu menarik untuk dimuat kembali, berikut penulis sajikan tulisan itu lengkap:&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="apple-style-span"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt;Pada Februari 2002 yang lalu, dunia pendidikan tinggi dihebohkan&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;pertentangan antara Direktorat Jenderal (Ditjen) Dikti dan beberapa&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;  &lt;/span&gt;perguruan tinggi terkenal tentang penyelenggaraan Program MM Kelas Jauh(PMKJ). Namun demikian, penyelenggaraan PMKJ tetap lancar-lancar saja hingga sekarang, sementara ‘ancaman’ dari Ditjen Dikti terhadap perguruan tinggi&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;induk penyelenggara PMKJ belum terdengar dilaksanakan. Sementara wacana PMKJ menghangat, permasalahan lain yang lebih penting untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;ditindak-setidaknya oleh Ditjen Dikti-yaitu tentang beberapa lembaga penjual gelar akademik dari berbagai PT asing. Kemudian menyusul berita&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;tuntutan DPRD Ponorogo agar bupati daerah itu mengembalikan gelar profesor&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;yang diperolehnya dari Northern California Global University (NCGU). Hingga&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;kini, kelihatannya gelar-gelar kehormatan yang ‘diobral’ dan difasilitasi oleh beberapa lembaga penjual gelar itu banyak peminatnya dan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;sulit ditangani oleh Ditjen Dikti.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;            &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Salah satu bukti banyaknya peminat adalah berita yang menyatakan penyanyi&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;dangdut Cici Paramida dan penyanyi kroncong disko Rama Aiphama telah menerima gelar kehormatan &lt;i&gt;doctor honoris causa&lt;/i&gt; dari American International&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;University (AIU). &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Lembaga pengaju kedua penyanyi itu untuk dianugerahi gelar&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Dr HC adalah International Management Indonesia (IMI). Alasan penganugerahan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;gelar kehormatan itu-sesuai yang diceritakan Cici-cukup menarik bahwa AIU&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;telah mengikuti kegiatan Cici sebagai pengabdi seni tanpa henti selama dua&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;tahun. Yang sangat memprihatinkan, yang bersangkutan benar-benar menghargai gelar kehormatan itu sebagai anugerah (&lt;i&gt;Kompas&lt;/i&gt;, Minggu 18/8/2002).&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Mengingat di Indonesia masih berlaku Undang-Undang Sistem Pendidikan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Nasional (UU 2/1989) yang mengatur dengan jelas tentang Gelar Kehormatan,&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;maka penganugerahan gelar kehormatan kepada Bupati Ponorogo, Cici Paramida,&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Rama Aiphama, dan mungkin banyak tokoh lain sebelumnya sangat melanggar&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;hukum. Paling tidak sangat mengherankan bahwa belum tampak adanya tindakan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;atau penertiban dari pihak pembuat kebijakan pendidikan, khususnya Ditjen&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Dikti.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;          &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Dalam UU 2/1989 Pasal 18 ayat (5) tertulis ‘Institut dan universitas yang&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;memenuhi persyaratan berhak untuk memberikan gelar doktor kehormatan (&lt;i&gt;doctor honoris causa&lt;/i&gt;) kepada tokoh-tokoh yang dianggap perlu memperoleh penghargaan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;amat tinggi berkenaan dengan jasa-jasa yang luar biasa dalam bidang ilmu pengetahuan, teknologi, kemasyarakatan, ataupun kebudayaan. Aturan itu juga&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;tercantum dalam naskah RUU Sisdiknas-yang sedang digodok di DPR-pada Pasal&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;13 ayat (8), dengan menambahkan unsur ‘kesenian’. Bolehlah dianggap memang&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Cici dan Rama berjasa sangat luar biasa dalam bidang kesenian, sehingga&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;pantas dianugerahi gelar &lt;i&gt;doctor honoris causa&lt;/i&gt;. Namun, marilah kita tinjau&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;dari segi hukumnya.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Menurut aturan dalam UU 2/1989, jelas bahwa yang berhak memberikan gelar&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;kehormatan adalah universitas atau institut yang memenuhi persyaratan. Yang&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;terjadi pada Cici dan Rama adalah bahwa lembaga pemberi anugerah memang&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;mengaku sebagai universitas, bahkan universitas asing. Namun, pihak yang mengajukan Cici dan Rama bukan masyarakat seni atau kebudayaan, atau para&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;guru besar dan ahli dari AIU sendiri, melainkan suatu lembaga yang belum&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;jelas benar apakah lembaga pendidikan tinggi atau bukan, yaitu IMI. Aneh,&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;karena seseorang diajukan menerima gelar doktor kehormatan kepada universitas asing, oleh lembaga lokal.&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Gelar kehormatan Cici dan Rama masih mendingan karena di Indonesia gelar kehormatan yang ada hanya &lt;i&gt;doctor honoris causa&lt;/i&gt;. Yang lebih konyol adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;gelar profesor kehormatan untuk Bupati Ponorogo. Sudah gelarnya diterima&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;dari universitas asing, yang diminta untuk mengiklankan adalah universitas&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;swasta di wilayah kerja sang bupati sendiri.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Berkenaan dengan pemberian gelar kehormatan ini, penulis sempat dua kali&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;menerima undangan penganugerahan gelar kehormatan, dari lembaga yang sama, yaitu Lembaga Informasi Fasilitas Indonesia (LIFI). Undangan pertama 7&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Januari 2002 untuk wisuda 27 Januari 2002 di Bali Room Hotel Indonesia. Pada undangan pertama ini LIFI mengaku sebagai sekretariat NCGU, pemberi gelar&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;profesor kepada Bupati Ponorogo. Surat undangan kedua tertanggal 23 Agustus 2002 untuk wisuda 29 September 2002 di Pulau Bidadari Room Hotel Horison.&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Anehnya pada undangan ini LIFI mengaku sebagai sekretariat Chicago&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;International University (CIU). Undangan kedua ini dilengkapi dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;fotokopi upacara wisuda yang diselenggarakan pada 26 Mei 2002 di Garuda Wisnu Kencana Cultural Park, Bali.&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Dilihat dari kedudukan LIFI yang berubah-ubah menjadi sekretariat beberapa&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;universitas asing-yang kesemuanya berasal dari Amerika-sebenarnya sudah&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;menggelikan. Lebih menggelikan dan konyolnya bahwa diundangnya penulis untuk&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;menerima gelar kehormatan itu berdasarkan hasil Tim Pengamat CIU. Sayangnya,&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;terdapat kesalahan gelar akademik asli yang telah penulis sandang.&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Satu-satunya informasi yang salah itu adalah catatan nama penulis sebagai&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;pelanggan di PT Telkom. Dengan demikian, jelas bahwa Tim Pengamat CIU hanya&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;melihat buku telepon.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;     &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Georgia&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-family:&amp;quot;;color:black;"&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Lebih lucu lagi, undangan kedua dilengkapi dengan proposal. Dalam&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;proposal dituliskan, &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;tujuan pemberian gelar kehormatan itu adalah&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;‘Menampilkan kembali para tokoh terpilih untuk dijadikan panutan bagi&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;generasi muda dan memacu mereka dalam pembentukan sumber daya manusia yang handal dan berkualitas’. Sayangnya, persyaratan administrasi yang harus&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;dipenuhi salah satunya adalah menyerahkan/membuat judul skripsi, tesis, disertasi (sesuai dengan program yang diambil). Ini jelas tindak pemalsuan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;akademik kelas berat. Jadi, jelas LIFI hanyalah ‘calo’ gelar akademi multistrata palsu. Pemalsuan itu adalah transkrip nilai dari CIU, AWU, NCGU,&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;dan lain-lain universitas yang pernah ditawarkannya dan diberikan kepada para wisudawan. Apalagi, gelar kehormatan boleh dipilih sesuai dengan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;keinginan dan tingkat pendidikan terakhir para undangan wisuda.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;        &lt;/span&gt;Permasalahannya adalah kepada siapa kita harus mengadu dengan adanya praktik&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;‘obral gelar kehormatan’ ini? Kemudian bagaimana menegakkan hukum&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;        &lt;/span&gt;kependidikan nasional? Terakhir, mengingat hampir selalu&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;universitas-universitas yang bermurah hati dengan berbagai gelar kehormatan&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;itu adalah dari Amerika Serikat, belum wajarkah kita mengajukan ‘protes&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;keras’ kepada Atase Pendidikan dan Kebudayaan Kedubes Amerika Serikat? Ini adalah masalah kehormatan dari gelar kehormatan, bukan barang dagangan.&lt;/span&gt; &lt;span class="apple-style-span"&gt;Dampak luasnya adalah semakin mempermalukan bangsa ini.&lt;span style="mso-tab-count:1"&gt;        &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1923621862920582672?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/03/mengapa-gelar-dr-hc-dianugerahkan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SbhwxHKzwBI/AAAAAAAAAcU/Xni19laH8U4/s72-c/drhc.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-9196894530037665891</guid><pubDate>Thu, 05 Mar 2009 23:46:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-03-06T16:56:46.660+07:00</atom:updated><title>Menikmati Kereta Api antara Makkah-Madinah</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SbBk4mrGIDI/AAAAAAAAAb8/Zftpk408Vd0/s1600-h/kamakkah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SbBk4mrGIDI/AAAAAAAAAb8/Zftpk408Vd0/s400/kamakkah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5309854884286570546" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" line-height: 18px; font-family:'Times New Roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Andai Anda pada akhir 2012 nanti masih diizinkan Allah untuk berziarah ke Makkah atau Madinah, baik apakah untuk&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;melaksanakan ibadah umrah, naik haji, atau berziarah, dan kemudian melakukan perjalanan antara Makkah-Madinah, Anda tidak lagi akan berlama-lama lagi di tengah perjalanan. Insya Allah, di tahun itu, Anda dapat menikmati perjalanan sepanjang sekitar 450 kilometer antara Makkah-Madinah dengan naik kereta api. Nyaman dan tidak &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;lelet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;. Nanti, Anda tak perlu lagi berlama-lama di tengah perjalanan yang membosankan antara kedua kota suci itu, yang biasanya memerlukan waktu 6 jam (di luar musim haji) atau sekitar 10 jam (di musim haji), dengan pemandangan yang kering kerontang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kereta api yang akan menghubungkan antara Makkah-Madinah, Jeddah-Madinah, dan Jeddah-Makkah tersebut adalah kereta api listrik modern dengan kecepatan per jam sekitar 320 kilometer. Mirip TGV (kereta api super  cepat di Perancis) atau Shinkansen (kereta api super cepat di Jepang). Nah, jarak antara Makkah-Madinah direncanakan akan tertempuh sekitar 2 jam. Sedangkan antara Jeddah-Makkah akan ditempuh sekitar setengah jam. Proyek yang disebut Haramain Railway (dengan biaya sekitar 7 miliar riyal Arab Saudi) dan telah disetujui Raja Abdullah bin Abdul Aziz itu akan didanai oleh sebuah konsorsium: 63,75% oleh Al-Rajhi Investments Groups dan sisanya oleh sebuah perusahaan asal China.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Bagaimana kira-kira rancangan kereta api itu? Silakan Anda mencermati foto di samping. Mudah-mudah kita bisa menikmati kereta api tersebut. Amiin.&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-9196894530037665891?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/03/menikmati-kereta-api-antara-makkah.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SbBk4mrGIDI/AAAAAAAAAb8/Zftpk408Vd0/s72-c/kamakkah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-7170702609075266975</guid><pubDate>Thu, 19 Feb 2009 09:17:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-19T16:25:17.266+07:00</atom:updated><title>Inikah Masjid Nabawi dan Kota Madinah Masa Depan?</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZ0lWPKkfZI/AAAAAAAAAbg/mDqnjJrl2kM/s1600-h/Madinah+(2).jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 266px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZ0lWPKkfZI/AAAAAAAAAbg/mDqnjJrl2kM/s400/Madinah+(2).jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304437000070528402" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;“Duh, cantiknya!” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Itulah ungkapan yang acap terucap dari orang-orang &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;yang pernah berziarah ke Madinah Al-Munawwarah dan menyaksikan Masjid Nabawi. Memang, dewasa ini, masjid yang kini memiliki luas sebesar Kota Nabi di masa Rasulullah Saw. itu tegak dengan indah dan eloknya serta menjadi &lt;i&gt;landmark&lt;/i&gt; utama kota itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Seperti diketahui, menurut torehan sejarah Islam, masjid yang pertama kali dibangun di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kota Madinah, Arab Saudi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini ketika pertama kali berdiri hanya memiliki&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;luas sekitar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;4.200&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;hasta. Masjid yang pembangunannya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dimulai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pada Rabi' Al-Awwal&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;1 H/September 622 M ini didirikan di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;atas&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;lahan yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dibeli dari dua anak yatim, Sahl dan Suhail. Pada 7&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/628-629&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Nabi Muhammad Saw. memperluas masjid ini&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menjadi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;10.000 hasta.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Perluasan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;selanjutnya pada 17 H/638&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dilakukan Khalifah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;‘Umar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bin Al-Khaththab, membuat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;masjid&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menjadi seluas 11.400 hasta. Pada 29 H/649 M masjid ini kembali diperluas untuk keempat kalinya oleh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Sehingga, luas masjid ini mendapat tambahan 496 meter persegi. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Di tahun-tahun 88-91 H/706-709 M Al-Walid bin ‘Abdul Malik, penguasa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;ke-6&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;Dinasti&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;Umawiyyah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;Damaskus,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;    &lt;/span&gt;Suriah memerintahkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perluasan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pemugaran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;masjid&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bawah pengawasan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Gubernur Madinah kala&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;itu. Pada masa inilah masjid ini mulai dihiasi dengan mosaik, pualam, dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;emas. Kemudian pada 160 H/778 M, di masa pemerintahan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Mahdi,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;penguasa ke-3 Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak, sayap&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;utara masjid ini mengalami perluasan sampai 2.450 meter persegi.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Untuk perluasan ini terpaksa dilakukan penggusuran sejumlah rumah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;para sahabat Nabi Saw. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Akibat musibah kebakaran yang menimpa masjid ini pada 654 H/1256 M,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Sultan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Zhahir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Baibars&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;I&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Bunduqdari&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dari&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Dinasti Mamluk&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Mesir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(memerintah antara&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;659-676&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M/1260-1277&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M) memerintahkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pemugaran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;masjid&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Musibah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;serupa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;menimpa dan terjadi lagi pada abad 9 H/15 M. Pemugaran kali ini dilakukan Sultan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Asyraf&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Saifudin Qa‘it Bay,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;penguasa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Mesir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dari Dinasti&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Mamluk Burji (memerintah antara 873-902 H/1468-1496&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M). Di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;samping dipugar, luas masjid ini ditambah 120 meter&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;persegi. Dan,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;1263&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/1846&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M, masjid&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dipugar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;diperluas sebanyak 1293 meter persegi, atas perintah Sultan ‘Abdul Majid I, penguasa ke-32 Dinasti Usmaniyyah di Turki (memerintah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;antara 1255-1278 H/1839-1861 M). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Penguasa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dari&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;keluarga Sa‘ud juga tidak mau&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ketinggalan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dalam ikut&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memperluas dan memugar masjid ini. Pertama,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perluasan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan pemugaran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dilakukan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Raja&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;‘Abdul ‘Aziz.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Selanjutnya, perluasan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pemugaran yang dilakukan di &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;masa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pemerintahan Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz, dengan biaya sekitar 7 miliar dolar Amerika&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Serikat,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;membuat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Masjid Nabawi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kini&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dilengkapi dengan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;10 menara dan 27 kubah yang bisa bergerak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;membuka&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan menutup secara otomatis sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengatur sirkulasi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;udara alami ini menjadi seluas 165.000&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;meter&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;persegi dengan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kapasitas 257.000 jamaah. Dengan kata lain,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;masjid&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang kini memiliki tujuh pintu gerbang utama yang dibuat dengan hiasan kaligrafi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang diukir dari emas di Utara, Timur, dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Barat,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di samping&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dua&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pintu gerbang di Selatan ini&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menjadi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;seluas&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kota Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="EN-GB"&gt;Nah, bagaimanakah masa depan Masjid Nabawi dan Kota Madinah di masa depan? Menurut sebuah foto yang ditampilkan di website &lt;i&gt;haramainrecordings.com&lt;/i&gt;, masa depan Masjid Nabawi dan Kota Madinah adalah seperti yang tampak di foto sebelah. Bagaimana komentar Anda? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-7170702609075266975?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/02/inikah-masjid-nabawi-dan-kota-madinah.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZ0lWPKkfZI/AAAAAAAAAbg/mDqnjJrl2kM/s72-c/Madinah+(2).jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-5781426399699623850</guid><pubDate>Thu, 19 Feb 2009 01:59:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-19T09:06:37.231+07:00</atom:updated><title>Mari Sekali Lagi Melihat Bagian Dalam Ka'bah!</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZy9tD-1iFI/AAAAAAAAAbQ/6m602GrP5z8/s1600-h/inside+ka%27bah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZy9tD-1iFI/AAAAAAAAAbQ/6m602GrP5z8/s400/inside+ka%27bah.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5304323042996226130" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;Pembaca budiman, dalam blog ini (September 2007), penulis pernah menampilkan uraian dan foto (lihat foto di samping) perihal bagian dalam Ka’bah. Seperti penulis kemukakan dalam tulisan kala itu, Ka’bah adalah sebuah bangunan berbentuk kubus di tengah-tengah Masjid Al-Haram, Makkah. Seperti diketahui, Ka‘bah ini merupakan kiblat shalat kaum Muslim. Tinggi bangunan itu sendiri, yang kini selalu diselimuti permadani halus yang disebut kiswah, lebih kurang 12,9 meter dan panjang sisi-sisinya: antara Rukun Syami-Rukun Yamani: 11, 93 meter, antara Rukun Yamani-Hajar Aswad: 10, 13 meter, antara Hajar Aswad-Rukun Iraqi: 11, 58 meter, dan antara Rukun Iraqi-Rukun Syami: 10, 22 meter. Di dalam Al-Quran dikemukakan bahwa Ibrahim a.s. lah bersama putranya, Isma‘il a.s., yang membangun Ka‘bah atas perintah Allah. Seusai membangun Ka‘bah, Ibrahim a.s. lantas diperintahkan Allah menyeru ummat manusia untuk menunaikan ibadah haji, “&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;.” (QS Al-Hajj [22]: 26).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; Di sisi lain, Ka‘bah sebagai bangunan, sepanjang perjalanan sejarahnya, telah mengalami sederet perbaikan dan pemugaran. Ka‘bah dalam bentuknya yang sekarang ini sejatinya merupakan hasil pemugaran pada masa pemerintahan Sultan Murad IV, seorang penguasa Dinasti Usmaniyyah dari Turki (memerintah antara 1033-1050 H/1623-1640 M). Pada 1040 H/1630 M Makkah dilanda banjir besar yang berakibat Masjid Al-Haram terendam dan dinding Ka‘bah ada yang runtuh. Maka, walikota kota suci itu kala itu, Syarif Mas‘ud bin Idris, dengan persetujuan Sultan Murad Khan, kemudian melakukan perbaikan atas Ka‘bah yang rusak itu.Ternyata, di bagian dalam Ka‘bah terdapat tiang penyangga utama yang terbuat dari kayu. Setiap tiang memiliki diameter 44 cm, dengan jarak antar tiang 2,35 m. Dari lurus pintu masuk, yang dijaga para pengawal itu, sejatinya terdapat mihrab. Di situlah Nabi Muhammad Saw. pernah melaksanakan shalat di dalam Ka‘bah. Setiap beliau berada di dalam Ka‘bah, menurut sebuah sumber, beliau senantiasa berjalan lurus dengan muka menghadap dinding, hingga pintu Ka‘bah berada di belakang punggung beliau, sampai jarak antara beliau dengan dinding Ka‘bah di depannya sekitar tiga kaki. Lalu, beliau shalat di situ. Namun, hal ini tidak berarti hanya di tempat itu sajalah yang boleh dijadikan tempat shalat. Sebab, bila Anda diizinkan Allah Swt. masuk ke dalam Ka‘bah, Anda boleh shalat di bagian manapun di dalam Ka‘bah kok. Selain itu, di sebelah kanan dalam Ka‘bah terdapat tangga menuju atap. Tangga tersebut mempunyai pintu. Nah, pintu itulah yang disebut “Pintu Tobat” (&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Bab Al-Taubah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;). Pintu Tobat dan Pintu Ka‘bah yang ada dewasa ini dilapisi emas murni. Struktur kerangka kedua pintu tersebut dibuat dari kayu setebal 10 cm, lalu dihiasi dengan ornamen-ornamen dari emas murni. Konon, emas yang dipakai melapisi kedua pintu itu lebih dari 280 kg. Ohoi, berat nian kedua pintu berlapis emas itu.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt; Semula, Ka‘bah yang dibangun Ibrahim a.s. tidak beratap. Atap baru dibuat ketika kaum Quraisy memugarnya. Dewasa ini, Ka‘bah memiliki dua atap: atap bawah dan atap atas. Permukaan atap atas dilapisi marmer putih dan dikelilingi pagar tembok, yang menyatu dengan dinding Ka‘bah, setinggi sekitar 80 cm. Di pagar tersebut terdapat kayu-kayu untuk mengikatkan tali kiswah. Di permukaan atap atas itu juga terdapat pintu yang tutupnya terbuat dari baja. Lewat pintu itulah para petugas naik ke atap atas ketika menyuci dan membersihkan Ka‘bah serta mengganti kiswah.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom:0cm;margin-bottom:.0001pt;text-align: justify;line-height:normal"&gt;&lt;span style=" ;color:black;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: small;"&gt;Nah, Anda ingin melihat lebih cermat bagian dalam Ka’bah? Silakan Anda buka alamat website berikut: haramainrecordings.com. Di alamat itu, Anda (lewat rekaman video dengan judul “Inside Ka’bah”) dapat menyaksikan rekaman video detail bagian dalam Ka’bah dan seorang syeikh sedang shalat di tempat Rasulullah Saw. shalat setiap kali beliau memasuki Ka’bah! Selamat melihat bagian dalam Ka’bah  sekali lagi! &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-5781426399699623850?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/02/mari-sekali-lagi-melihat-bagian-dalam.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZy9tD-1iFI/AAAAAAAAAbQ/6m602GrP5z8/s72-c/inside+ka%27bah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-915847856180900505</guid><pubDate>Fri, 13 Feb 2009 07:32:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-13T14:48:45.529+07:00</atom:updated><title>Surat Indah Seorang Ibu kepada Dua Putrinya</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZUjFTfGeKI/AAAAAAAAAbI/lNAZxt6cmiM/s1600-h/%5B2008.04.25-05.05%5D+Traveling+Dubai+-+Iran+041.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZUjFTfGeKI/AAAAAAAAAbI/lNAZxt6cmiM/s400/%5B2008.04.25-05.05%5D+Traveling+Dubai+-+Iran+041.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302182710335666338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style=" line-height: 18px; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;T&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;adi pagi, ketika istri penulis sedang dalam perjalanan ke Jakarta, dan kemudian bertolak menuju Hong Kong, untuk menghadiri&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-size: medium;"&gt;sebuah kongres medis selama beberapa hari di sana, penulis kemudian membereskan kertas-kertas bertebaran yang ada di dekat sebuah tas milik istri penulis yang lama tak dijamah. Ketika satu demi satu kertas-kertas itu penulis bereskan dan cermati, sebuah kertas berwarna pink dengan border merah indah segera memikat pandangan penulis. Oh, kertas itu ternyata sepucuk surat yang ditulis istri penulis, seorang dokter spesialis penyakit dalam, pada 27 Desember 2008.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Entah kenapa, istri penulis tidak pernah bercerita perihal surat itu. Padahal, begitu usai membaca surat itu, ternyata isi surat itu sangat indah, walau ringkas. Karena itu, dalam kesempatan kali ini, izinkanlah penulis menyajikan sepucuk surat yang ditujukan kepada dua putri penulis (Mona Luthfina, seorang sarjana Teknik Industri ITB dan kini bekerja di sebuah biro konsultan, dan Naila Fithria, seorang mahasiswa Teknik Informatika ITB), walau sejatinya surat itu hanya ditujukan kepada dua putri penulis:&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Ananda Mona dan Naila tersayang.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Saat ini, Ibu baru saja selesai mengikuti sebuah training. Saat ini Ibu merasakan, betapa Ibu merasa banyak berdosa kepada kalian, karena kesibukan Ibu selama ini. Tapi, di sisa usia Ibu, Ibu akan berusaha mengejar dan memperbaiki kekurangan Ibu selama ini. Dari dulu, Ibu mencintai kalian apa adanya.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Bagi Ibu, saat-saat yang membahagiakan &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;adalah saat melihat Ananda dekat dengan Allah, menyayangi Ibu dan Bapak, memahami apa yang selalu Ibu lakukan, terutama untuk kepentingan orang banyak, dan memaafkan Ibu dengan segala kekurangan Ibu. Ibu kini akan bersabar, terutama kepada Naila, sampai Naila tumbuh lebih baik, terutama di hadapan Allah. Sedangkan saat-saat yang kadang Ibu sesalkan adalah saat kalian tak menjalankan perintah Allah dengan baik. Tapi, Ibu akan memaafkan dengan sepenuh hati bila kalian berbuat kesalahan atau tidak memahami kedua orang tua kalian. Ibu dan Bapak sangat mencintai kalian berdua.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Ibu berjanji, wahai Ananda tersayang, akan selalu memahami dan memperhatikan kalian berdua. Maafkan Ibu dan Bapak. Semoga kita berempat (Ibu, Bapak, Mona, dan Naila), kelak bisa berkumpul di surga. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Semoga Allah memberi rahmat dan ridha-Nya untuk kita&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Peluk cium sayang,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style=" line-height:115%;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;mso-ascii-theme-font: major-bidi;mso-hansi-theme-font:major-bidi;mso-bidi-theme-font:major-bidi"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: 'times new roman';"&gt;Ummie Wasitoh&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-915847856180900505?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/02/surat-indah-seorang-ibu-kepada-dua.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZUjFTfGeKI/AAAAAAAAAbI/lNAZxt6cmiM/s72-c/%5B2008.04.25-05.05%5D+Traveling+Dubai+-+Iran+041.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4357446724323927131</guid><pubDate>Fri, 13 Feb 2009 00:05:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-13T11:18:53.071+07:00</atom:updated><title>Khutbah Jumat Pertama Rasulullah Saw.</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZS7CxE8MVI/AAAAAAAAAbA/KgY3GlfsR6I/s1600-h/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+155.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZS7CxE8MVI/AAAAAAAAAbA/KgY3GlfsR6I/s400/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+155.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5302068317530108242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Entah kenapa, pagi ini, Jumat, 13 Februari 2009, ketika penulis sedang membantu istri tercinta yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Hong Kong, untuk menghadiri sebuah kongres di bidang medis, tiba-tiba penulis tersadarkan jika hari ini adalah hari Jumat. Dan, tiba-tiba pula, entah kenapa pula, terbayangkan pula oleh penulis, Rasulullah Saw. sedang berkhutbah Jumat untuk pertama kalinya di Lembah Ranuna, Madinah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Bagaimanakah sejatinya kisah awal mula khutbah Jumat? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Hari itu, Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 H&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;.&lt;/span&gt; &lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;K&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ala &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;itu, &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;terik matahari di musim panas di penggal terakhir (tanggal 23) bulan September 622 M tengah menyengat dengan ganasnya, Rasulullah Saw. dan sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, menapakkan kaki memasuki Desa Quba’. Kala itu, orang-orang yang menantikan kedatangan Rasulullah Saw. dengan harap-harap cemas itu telah kembali ke rumah masing-masing dengan rasa putus asa. Tak mungkin hari ini orang yang mereka nantikan kedatangannya itu tiba di Yatsrib. Tapi, tiba-tiba seorang Yahudi berteriak-teriak nyaring, “Wahai Bani Qa’ilah! Itu orang yang kalian nantikan kedatangannya telah tiba!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Semua orang menghambur dari rumah-rumah mereka. Rasulullah Saw. dan Abu Bakar Al-Shiddiq ternyata sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon kurma. Orang-orang pun berkerumun di sekeliling beliau. Sebagian besar di antara mereka tak dapat membedakan mana Rasul Saw. dan mana Abu Bakar. Tapi, di saat bayangan pohon kurma bergeser, Abu Bakar memayungkan jubahnya di atas kepala beliau. Kini, tahulah mereka yang mana Nabi mereka. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di Desa Quba’ itu, Rasulullah Saw. kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang selama itu dijadikan pangkalan oleh kaum Muslim Makkah yang baru tiba di Yatsrib, antara lain &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amzah bin ‘Abdul Muththalib dan Zaid bin &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;aritsah, yakni rumah Kultsum bin Hadm. Bani ‘Amr, kabilah Kultsum, adalah suku Aus. Sedangkan Abu Bakar Al-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid (yang kemudian menjadi mertua Abu Bakar), seorang Khazraj di Sun&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;, sebuah desa yang agak dekat dengan Yatsrib. Selepas satu atau dua hari, ‘Ali bin Abu Thalib tiba dari Makkah, dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasul Saw. Untuk mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya bagi para pemiliknya, ia memerlukan waktu selama tiga hari. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Rasulullah Saw. berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, semenjak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam, dan beliau sendirilah yang meletakkan batu pertama di kiblatnya, yang kemudian diikuti oleh Abu Bakar Al-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Pada Jumat pagi, Rasulullah Saw. meninggalkan Quba’. Di siang hari, beliau dan para sahabat berhenti di Lembah Ranuna, di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf dari suku Khazraj, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Sebelum melaksanakan shalat bersama sekitar seratus jamaah, seusai mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., beliau berkhutbah,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Amma ba‘du&lt;/i&gt;. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wahai kaum Muslim, hendaklah kalian berbuat kebajikan demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu mengetahui, setiap orang di antara kalian pasti akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannyya. Tuhan akan bertanya kepadanya, langsung tanpa perantara dan tiada tirai apa pun yang akan memisahkannya, ‘Apakah Utusan-Ku tak datang kepadamu untuk menyampaikan amanah-Ku? Bukankah kepadamu telah kuanugerahkan harta dan pelbagai nikmat?’Kebaikan apakah yang telah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;engkau lakukan demi keselamatan dirimu sendiri?’ &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi, ia tak melihat sesuatu. Ia kemudian melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari api neraka, walau hanya dengan sebutir buah kurma, lakukanlah! Bila tiada sesuatu apa pun yang dapat diberikan, cukuplah dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memperoleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Wassalamu‘alaikum wa ‘ala Rasulillah.” &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sebuah khutbah sarat makna yang singkat, padat, dan sangat memikat! Inti khutbah itu ialah sejatinya manusia senantiasa kuasa berbuat kebaikan, dengan bersedekah dan memberi, walau ia seorang miskin. Beliau menyampaikan, seseorang kuasa menghindarkan diri dari neraka dan masuk surga walau hanya dengan sebutir buah kurma. Demikian halnya kata-kata yang baik pun juga dapat menghindarkan seseorang dari neraka dan masuk surga dalam timbangan Allah Swt. Dengan kata lain, kemampuan berbuat kebaikan dan memberi sejatinya terdapat pada diri setiap&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;orang. Bagaimana pun kondisinya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;! &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4357446724323927131?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/02/khutbah-jumat-pertama-rasulullah-saw.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SZS7CxE8MVI/AAAAAAAAAbA/KgY3GlfsR6I/s72-c/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+155.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-5047602838862174085</guid><pubDate>Tue, 03 Feb 2009 09:36:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-02-04T05:17:13.889+07:00</atom:updated><title>Baliho Pemilu dan Nasruddin Hoja</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SYgQwSIEp_I/AAAAAAAAAa4/i-LyCurgv7g/s1600-h/nasruddin-01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SYgQwSIEp_I/AAAAAAAAAa4/i-LyCurgv7g/s400/nasruddin-01.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5298503383286851570" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style=" ;font-family:Verdana;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Minggu lalu, tepatnya pada 24-26 Januari 2009, ketika mengikuti acara &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;family gathering&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; yang diselenggarakan oleh Khalifah Tour, Bandung, di Pangandaran, penulis melihat baliho-baliho para calon anggota dewan perwakilan (baik pusat maupun daerah) bertebaran tanpa henti sepanjang jalan antara Bandung dan Pangandaran. Melihat baliho-baliho dengan aneka ragam janji, ucapan, dan kata-kata manis, entah mengapa sosok Nasruddin Hoja (lihat foto di samping: Nasruddin sedang naik keledai dengan menghadap ke belakang) yang hidup pada sepertiga terakhir abad ke-14 M dan sepertiga pertama abad ke-15 M (menurut pendapat terkuat) menggelayuti dan memenuhi benak penulis. Menurut kisah-kisah yang beredar, tokoh yang satu ini adalah seorang sufi jenaka yang kadang bertindak “kurang waras”.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Namun, menurut Dr Muhammad Rajab Al-Najjar, dalam karyanya &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Juha Al-‘Arabi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;, sosok Nasruddin Hoja sejatinya bukan sosok yang “kurang waras” atau sangat bego. Tapi, ia adalah sosok yang berusaha mendekati segala persoalan yang ia hadapi dari aspek-aspek yang paling dekat dengan kebenaran dan kenyataan. Karena itu, bagi orang-orang lain yang tidak menyukai kebenaran, sosok Nasruddin Hoja merupakan sosok yang kontradiktif. Selain itu, Nasruddin Hoja juga terkenal sebagai sosok yang suka “ceplas-ceplos” dalam mengungkapkan dirinya sendiri, tanpa memedulikan kerangka sosial yang acapkali memaksa orang-orang diam seribu bahasa dan mengemukakan segala sesuatu yang bergejolak dalam hati dan benak mereka lewat simbol-simbol. Perilakunya yang demikian seiring dengan contoh-contoh yang ia berikan. Sebab, ia senantiasa tunduk pada keinginannya di saat keinginan itu muncul. Filsafat hidupnya yang demikian itulah yang membuat ia tampak lebih kuat dibandingkan orang-orang lain. Malah, filsafat hidupnya itu pulalah yang membuat sosoknya seperti orang yang terbebaskan dari beban sosial atau “orang yang tak waras”.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Perlu dikemukakan, aspek sosial yang paling acap mendapat sindiran dan sentilan dari Nasruddin Hoja adalah kelalaian dan kebegoan masyarakat. Juga, sikap-sikap lain yang membuat mereka menerima pelbagai peristiwa dan kejadian dengan sikap pasrah sepenuhnya tanpa mau berpikir atau bersikap kritis. Malah, mereka kemudian bersikap membebek. Akibatnya, mereka pun menjadi bahan sindiran dan sentilan si Nasruddin. Karena itu, tak aneh jika sikap yang demikian itu acap diungkapkan dalam kisah-kisah jenakanya. Maksud dari kisah-kisah tersebut adalah untuk menyingkapkan kelalaian dan kebegoan yang menghinggapi sebagian anggota masyarakat, termasuk para penguasa, dan membukakan pikiran yang tertutup tentang pelbagai realitas kehidupan. Salah satunya adalah kisah berikut: &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Hari itu Nasruddin Hoja sedang menghadap Timur Lenk. Penguasa yang&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;juga&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dikenal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;sebutan Shakhrisyabz ini lahir di Uzbekistan (terletak sekitar 75 kilometer&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;sebelah selatan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Samarkand) pada Selasa, 26 Sya'ban 736 H/9 April&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;1336 M,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dalam sebuah keluarga dari suku Barlas, sebuah&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;suku&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;berasal dari&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Mongolia&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;yang telah memeluk Islam&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;berbahasa&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Turki. Sejak 771 H/1370 M, selepas naik ke pentas kekuasaan sebagai Raja Samarkand,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;anak&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;keturunan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Jengis&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Khan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ini&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;mulai&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;melakukan serangkaian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;penaklukan panjang, sekitar 35 tahun&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;lamanya,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;yang berlangsung&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;sampai ia meninggal dunia. Pertama-tama, dari&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;pusat kekuasaannya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Samarkand,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;gerakannya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;menembus&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;jantung&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Asia Tengah, lalu menerobos Persia (781 H/1379 M) dan Irak.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Gerakan selanjutnya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;menuju&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Utara,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;memasuki&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Isfahan,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Shiraz,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dan mencapai&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Moskow.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ini&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;terjadi pada 797&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;H/1394&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;M.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;tahun kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;putra&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Taragai ini menghajar&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;India&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;menguasai Delhi. Tidak&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;lama&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;penguasa yang&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;terkenal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ganas,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;tapi&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;juga pencinta ilmu, seni, dan budaya ini bergerak menuju Timur Tengah, menghajar Irak dan Suriah. Lantas, pada 804 H/1402 M ia,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dengan mengerahkan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;20.000&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;serdadu dan pasukan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;gajah,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;terlibat&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dalam peperangan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dengan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sultan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ildurum Bayazid&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;II,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;yang&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;akhirnya berhasil&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ia&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;tawan bersama istrinya yang&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;berasal&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dari&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Serbia, Maria&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Despina.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Tiga&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;tahun&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;kemudian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;penguasa&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;yang&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;mengagumi kecerdasan Ibn Khaldun, seorang sejarawan Muslim semasanya,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ini kembali&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ke&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;markas&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;besarnya,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Samarkand.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Namun,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;tengah perjalanan,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;di Otrar, Syr-darya, sekitar 375&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;kilometer&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;sebelah utara&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Samarkand,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;ia&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;jatuh sakit&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;karena&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;demam&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;dan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;berpulang menghadap&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sang&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Maha&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Pencipta pada Rabu, 18&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sya'ban&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;807&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;H/18 Februari 1405 M. Ia dimakamkan di pemakaman Gur Amir,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Samarkand. Penggantinya, secara berurutan, adalah kedua putranya: Miran Syah dan Syah Rukh. &lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Ketika Nasruddin Hoja sedang berada di majelis sang penguasa, seorang serdadu yang sedang mabuk karena menenggak minuman keras dibawa menghadap ke majelis. Akibat kelakuannya itu, Timur Lenk kemudian menjatuhkan hukuman cambuk delapan puluh kali atas diri si serdadu. Mendengar keputusan demikian, Nasruddin yang kala itu hadir di majelis sang penguasa, hanya tersenyum sinis. Sebab ia tahu, hukuman itu hanya dijatuhkan atas diri orang-orang kecil dan lemah saja. Melihat senyum sinis si Nasruddin, amarah Timur Lenk pun meledak. Ia kemudian memerintahkan kepada seorang serdadu, “Pukul lelaki brengsek itu dengan tongkat sebanyak lima ratus kali!”&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Mendengar perintah Timur Lenk yang demikian, Nasruddin Hoja tak kuasa lagi menahan tawanya. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal. Melihat kelakuan Nasruddin yang demikian, amarah Timur Lenk semakin membara. Penguasa itu kemudian memerintahkan, “Serdadu! Jatuhi lelaki keparat itu hukuman pukulan dengan tongkat sebanyak delapan ratus kali!”&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Mendengar perintah sang penguasa, Nasruddin semakin tak kuasa menahan tawanya hingga meneteskan air mata. Karena tak kuasa lagi menahan amarahnya, Timur Lenk pun berdiri dan menghardik Nasruddin, “Hai pengkhianat hukum agama! Mengapa hukum agama yang kutegakkan engkau remehkan? Padahal kau tahu, aku ini seorang raja yang membuat gentar seluruh penghuni bumi!”&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;“Wahai Paduka,” jawab Nasruddin seraya tersenyum. “Saya memang tahu semua hal itu. Tapi, saya bingung, apakah Paduka tidak tahu hitungan, ataukah Paduka bukan manusia seperti kami. Mengucapkan perintah memang mudah. Tapi, melaksanakannya sulit. Wahai Paduka, siapakah yang kuat menanggung hukuman pukul dengan tongkat sebanyak delapan ratus kali?”&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Kisah itu, yang dikemas dalam bentuk sindiran dan sentilan, sejatinya merupakan bentuk penentangan dan perlawanan terhadap penindasan dan kelaliman penguasa. Dan, entah mengapa, kisah itu seakan mengingatkan penulis agar dalam pemilu nanti tidak asal pilih dan tidak memilih para penguasa (siapa pun mereka, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif) yang tidak berpihak kepada masyarakat luas. &lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="Verdana&amp;quot;,&amp;quot;sans-serif&amp;quot;font-family:&amp;quot;;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-5047602838862174085?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/02/baliho-pemilu-dan-nasruddin-hoja.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SYgQwSIEp_I/AAAAAAAAAa4/i-LyCurgv7g/s72-c/nasruddin-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8485996119480000066</guid><pubDate>Tue, 20 Jan 2009 10:53:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-22T11:47:29.115+07:00</atom:updated><title>"Sang Kekasih" Itu Akhirnya Hadir</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SXWt69VmceI/AAAAAAAAAWQ/W9d0vtZiqTg/s1600-h/Copy+of+MuhammadSangKekasih_FULL.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 265px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SXWt69VmceI/AAAAAAAAAWQ/W9d0vtZiqTg/s400/Copy+of+MuhammadSangKekasih_FULL.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293328165453066722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Hari ini, bagi penulis, benar-benar merupakan hari yang sangat membahagiakan. Sebuah karya, yang covernya pernah penulis kemukakan sejak Juli 2008, kini akhirnya benar-benar telah hadir di antara para pembaca budiman. Sejatinya, selama enam bulan terakhir, penulis merasa gelisah: benarkah karya ini akan sampai ke tangan para pembaca? Sebab, setelah penulis menyajikan &lt;i&gt;cover &lt;/i&gt;tersebut dalam blog ini, Mas Dr. Haidar Bagir dari Penerbit Mizan menginginkan agar baik &lt;i&gt;cover&lt;/i&gt; maupun tampilan buku itu diubah total menjadi sebuah buku dengan tampilan yang sangat mewah. Namun, krisis tiba-tiba datang menerpa. Akhirnya, karya itu terbit dengan &lt;i&gt;cover&lt;/i&gt; dan tampilan semula. Alhamdulillah. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Bagaimanakah kisah karya ini, yang penulis harapkan menjadi karya &lt;i&gt;masterpiece&lt;/i&gt; penulis, lahir? Mengapa karya ini penulis susun? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menyusun sebuah buku tentang perjalanan hidup Rasulullah Saw.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; itulah sejatinya “pesan” yang memenuhi dan menggelayuti seluruh sisi benak penulis sejak Penerbit Mizania, atas inspirasi Dr. Haidar Bagir, meminta penulis untuk menyusunnya sebagai kesatuan dari buku-buku &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Teladan Indah Rasulullah Saw. dalam Ibadah,&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Mutiara Akhlak Rasulullah Saw.,&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Rumah Cinta Rasulullah&lt;/i&gt;, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wangi Akhlak Nabi &lt;/i&gt;yang penulis susun dan diterbitkan oleh penerbit tersebut. Menerima permintaan demikian, yang dikemukakan Mas Ahmad Baiquni dari Penerbit Mizania, beberapa lama sebelum penulis bertolak ke Tanah Suci untuk melaksanakan ibadah haji, benar-benar membuat penulis gamang dan tak kuasa menyusunnya. Mengapa demikian? Penulis sepenuhnya sadar, penulisan perjalanan hidup Rasulullah Saw. telah berlangsung lebih dari empat belas abad dan telah dilakukan oleh banyak penulis yang terkenal pakar di bidang tersebut. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti diketahui, perjalanan hidup Rasulullah Saw. telah di“abadikan” dalam karya-karya yang kemudian lebih terkenal dengan sebutan “Sîrah”. Karya-karya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengenai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perjalanan hidup Rasulullah Saw.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini, di permulaan perkembangannya, merupakan bagian dari hadis. Di antara&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;para ahli&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;hadis&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengkhususkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;diri&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mencatat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;sejarah perjalanan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;hidup&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;beliau.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Mereka&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;akhirnya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;lebih&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;terkenal sebagai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;penulis&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perjalanan hidup beliau daripada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sebagai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ahli sejarah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;atau&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;hadis.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Lantas, pada abad kedua H/8 M dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ketiga&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/9&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di pelbagai kawasan dunia Islam bermunculan para penulis &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sîrah&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Rasulullah Saw.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Misalnya,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;‘Urwah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bin Al-Zubair, Musa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;‘Uqbah,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Ibn Is&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;aq,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;dan &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Ibn&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Sa‘d.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Kebanyakan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;antara&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mereka&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;telah membebaskan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;diri dari tata-aturan yang disusun para ahli&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;hadis dalam menuturkan suatu riwayat. Sedangkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;abad keempat H/10 M dapat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dikatakan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;muncul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;sîrah&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;patut&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mendapat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;perhatian. &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Baru&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;abad-abad berikutnya terbit karya-karya baru tentang perjalanan hidup&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Rasulullah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Saw. yang patut dikemukakan. Misalnya, karya Ibn&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Faris, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Aujâz&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Sair li Khair Al-Basyar&lt;/i&gt;, Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Jawâmi‘&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Sîrah&lt;/i&gt;, dan Ibn ‘Abdul Bar Al-Qurthubi, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Durar fi Ikhtishâr Al-Maghâzi wa Al-Sair&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di samping dalam bentuk biografi murni, karya-karya tentang perjalanan hidup Rasulullah Saw. banyak dituangkan dalam salah satu bagian sebuah karya sejarah atau biografi sejumlah tokoh. Walau demikian, tulisan seperti itu tak kalah dalam dan memikat. Di sisi lain, karya-karya di masa itu relatif hampir sewarna, karena karya-karya itu mendasarkan diri pada sumber acuan yang hampir sama. Hampir tak ditemukan adanya analisis atau kritik terhadap peristiwa yang disajikan. Karya-karya itu memang lebih bercorak deskriptif. Berbeda dengan biografi-biografi Rasul Saw. yang disusun di zaman modern. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoPlainText" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Di zaman modern, perjalanan hidup Rasulullah Saw. tak&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;hanya mendapat&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;perhatian&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;dari kalangan kaum&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muslim&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;saja.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Misalnya, karya &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mu&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;ammad &lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;usain Haekal, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;ayâh Mu&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;ammad&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Maulana Muhammad Ali, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The Prophet Muhammad&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Al-Haj Mohammad ‘Ali Salmin, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The Holy Prophet Mohammad&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Athar Husain,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Prophet&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad and His Mission&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Hafiz&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Gulam&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sarwar, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The Holy Prophet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Majid Ali Khan, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad, The&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Final Messenger&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Martin Lings, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad, His Life Based on the Earliest Sources&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;MA Salahi, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad, Man and Prophet,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Bint Al-Syathi’, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Ma‘a Al-Mustafâ&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mustafa Al-Siba‘i, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Al-Sîrah Al-Nabawiyyah: Durûs wa ‘Ibar&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad Hamidullah, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad Rasulullah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;‘Imad Al-Din Khalil, &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Dirâsah fî Al-Sîrah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Abu Al-&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;asan ‘Ali Al-&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;H&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;asani Al-Nadwi, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Al-Nabiy Al-Khatim&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Al-Shafiyyur-Rahman Al-Mubarakfury, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Al-Ra&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;îq Al-Makhtûm, Ba&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;ts fî Al-&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-style:italic"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Sîrah Al-Nabawiyyah&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Afzalur Rahman, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad as Military Leader&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;‘A’id Al-Qarni, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Qishshah Al-Risâlah, Rawâ’i‘ min Al-Sîrah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Seyyed Hossein Nasr, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad: Man of Allah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Ismail Raji Al-Faruqi, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The Hijrah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad Al-Ghazali, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Fiqh U-Seerah: Understanding the Life of Prophet Muhammad&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Ali Shariati, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mu&lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;ammad Saw. Khâtim Al-Nabiyyîn: min Al-Hijrah &lt;/span&gt;&lt;u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;h&lt;/span&gt;&lt;/u&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;attâ Al-Wafah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Zakaria Bashir, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Meccan Crucible, Sun Shine from Madina&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, dan &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Significant of Hijrah&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Akram Dia Al-Umri, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Madinan Society at the Time of the Prophet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"  style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Tarik Ramadan, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;atau Mahdi Rizqullah Ahmad, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;A Biography of the Prophet of Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;. Tapi,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;juga dari&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;pihak&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;di&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;luar&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;mereka.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Khususnya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;dari&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;kalangan&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;   &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;kaum orientalis.&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Misalnya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;karya&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;John Davenport, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;An Apology for Mohammed and the Koran&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Emile Dermenghem, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mahomet et la tradition islamique&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Washington Irving, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Life of Muhammad&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Tor Andrae, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad, Sein Leben and Sein Glaubi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Sir&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;William&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muir,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Life&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;of Mahomet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, A. Sprenger dalam &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Das Leben und die Lehre des Mohammade&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, D.S&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Margoliouth dalam &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mohammad and the Rise of&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;William Muir dalam triloginya, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad at Mecca, Muhammad at Medina, dan Muhammad&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Prophet&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;and Statesman&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Francesco Gabrieli, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad and the Conquest of Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Betty Kelen,&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The Messenger of God&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Roger Caratini, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mahomet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Gilles Kepel, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;The Prophet and Pharaoh&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Maxime Rodinson, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mohammed&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Philippe Aziz, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mahomet, le glaive, l’amour, la foi&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Pierre Geadah, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Mohammad, le Prophete de l’Islam&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Virgil Gheorghiu, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Vie de Mahomet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Annemarie Schimmel, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;And Muhammad Is His Messenger&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, Karen Amstrong, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad: A Biography of the Prophet&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;, dan Jean Prieur, &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Muhammad,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;Prophete d’Orient et d’Occident&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style=" ;font-family:'Times New Roman', serif;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt;.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: normal; "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:medium;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Terbitnya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;karya tentang perjalanan hidup Rasulullah Saw.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang disusun&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pihak di luar Islam itu acapkali merupakan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;salah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;satu pemicu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bagi para pemikir dan penulis Muslim untuk&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengkaji&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan menyusun&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kembali perjalanan hidup beliau. Karya-karya ini&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tak hanya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berbentuk&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;prosa,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tapi juga&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berbentuk&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;puisi.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Tampaknya karya-karya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;terakhir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini tak lepas&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dari&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dampak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;karya-karya klasik&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;para&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;penulis Muslim yang juga berbentuk&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;puisi,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;seperti&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Al-Burdah&lt;/i&gt;, sebuah karya Abu ‘Abdullah Syaraf Al-Din Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad bin Sa‘id&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Shanhaji Al-Dalashi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Bushiri, seorang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;penyair yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;wafat pada 681 H/1279 M di Mesir, yang berisi pujian, kisah kelahiran, mi‘raj, perjuangan, dan doa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bagi Rasulullah Saw.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Karya dengan judul&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;asli&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Kawâkib Al-Duriyah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;fi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Mad&lt;u&gt;h&lt;/u&gt; &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;Khair&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Bariyyah&lt;/i&gt; yan terdiri dari 162 bait ini, seperti diketahui, telah diterjemahkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ke&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dalam berbagai bahasa asing,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;antara&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;lain&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ke dalam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bahasa Latin (1175 H/1761 M), bahasa Inggris oleh&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;J.W.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Redhouse (1299 H/1881 M), bahasa Prancis oleh de Sacy (1238 H /1822 M), bahasa Italia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;oleh Giuseppe&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Gabrieli (1319 H/1901 M), dan bahasa Jerman oleh&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Vincenz&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;von Rosenzweig-Schawanau&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(1240&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/1824&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M),&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;samping&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ke&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;dalam pelbagai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bahasa di dunia Islam. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Melihat deretan panjang karya-karya tentang perjalanan hidup Rasulullah Saw. itu, penulis benar-benar merasa gamang:&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kuasakah penulis menyusun sebuah biografi beliau yang tak hanya merupakan pengulangan karya-karya yang telah terbit sebelumnya. Akibatnya, selama sembilan hari berada di Madinah Al-Munawwarah di musim haji 1428 H/2007 M itu, penulis senantiasa merasa gelisah setiap kali memasuki Masjid Nabawi,(12) karena merasa “pesan” untuk menulis biografi Rasul Saw. itu masih di luar kuasa penulis yang dhaif. Entah kenapa, penulis senantiasa ingat pesan Ziauddin Sardar dalam karyanya &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Islamic Futures: The Shape of Ideas to Come, &lt;/i&gt;“...Jika para cendekiawan Muslim dewasa ini ingin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menyusun &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sîrah&lt;/i&gt; yang relevan dengan masa kini dan masa depan, mereka tak memiliki pilihan lain kecuali menjawab pertanyaan-pertanyaan tambahan: bagaimana beliau melakukannya? Dan, mengapa beliau melakukannya?” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Kedua pertanyaan ini menuntut agar &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sîrah&lt;/i&gt; dianalisis untuk menemukan penjelasan di balik fakta-fakta.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Dan, itu memerlukan bukan hanya sumber-sumber tradisional yang selama ini mendominasi &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sîrah&lt;/i&gt;. Kehidupan Nabi Muhammad harus ditulis sebagai sejarah yang hidup. Bukan sebagai suatu biografi sejarah masa lalu. Sebagai sejarah analitis, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;sîrah&lt;/i&gt; merupakan pemahaman terhadap kehidupan Nabi Muhammad, karena dia membentuk dan memotivasi pribadi dan masyarakat Muslim. &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sîrah&lt;/i&gt; analitis bertujuan untuk menemukan dan memadukan prinsip-prinsip dari pelbagai situasi sejarah prinsip-prinsip dengan relevansi masa kini yang kuat dan akan memungkinkan masyarakat Muslim modern untuk membuat penilaian moral dalam menghadap realitas yang pelik.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Akhirnya, dengan senantiasa berdoa kepada Allah Swt. dan memohon maaf kepada Rasulullah Saw., baik ketika berada di Madinah, Mina, ‘Arafat, maupun Makkah, kegamangan dan kegelisahan penulis itu sirna. Dan, tumbuh kemudian semangat membara untuk menulis sebuah karya yang kini berada di tangan budiman. Kiranya karya ini seperti yang diharapkan Ziauddin Sardar tersebut.&lt;/span&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;span lang="IN"  style="font-size:15.0pt;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Harapan penulis, kiranya karya ini dapat “menyajikan gambaran menyeluruh mengenai kehidupan Rasulullah Saw.” dalam kualitasnya sebagai seorang Rasul dan Nabi terakhir yang pembangun akhlak dan jiwa yang mulia seperti difirmankan Allah Swt. dalam Al-Quran, “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Dan, sungguh, engkau benar-benar berbudi pekerti luhur!&lt;/i&gt;” (QS Al-Qalam [68]: 4).&lt;span class="Apple-style-span"  style=" font-weight: bold; font-size:20px;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seperti halnya karya-karya yang penulis susun sebelumnya, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Teladan Indah Rasulullah Saw. dalam Ibadah,&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mutiara Akhlak Rasulullah Saw.,&lt;/i&gt; &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Rumah Cinta Rasulullah&lt;/i&gt;, dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Wangi Akhlak Nabi&lt;/i&gt; yang diangkat dari beberapa buku hadis yang diperkaya dengan pelbagai sumber lain, karya ini pun diangkat dari pelbagai sumber, baik dari beberapa buku hadis maupun karya-karya lainnya. Penulis berharap, kiranya pembaca budiman mendapati darinya teladan dan hikmah yang sangat menawan dan bermanfaat bagi usaha kita untuk memahami dan menghayati segala hal yang berkaitan dengan kehidupan Rasul Saw. Juga, walau&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;karya ini tak terlalu lengkap, penulis berharap kiranya karya yang disusun dengan pendekatan “kesetiaan dan cinta tulus kepada sang pengasih umat manusia” ini dapat “menyajikan gambaran menyeluruh mengenai kehidupan Rasul Saw.” sebagai teladan kita, selaras dengan firman Allah Swt., “&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Sungguh, pada (diri) Rasul terdapat teladan yang baik bagi kalian, (yaitu) bagi orang yang mengharapkan (rahmat) Allah dan (datangnya) hari kiamat dan ia acap mengingat Allah&lt;/i&gt;.” (QS Al-A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;zâb [33]: 21). Walau demikian, dalam menyajikan karya ini, meminjam ungkapan Ali Shariati dalam karyanya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad Saw., Khâtim Al-Nabiyyîn&lt;/i&gt;, penulis juga senantiasa berusaha “memilih realitas pasti dalam pelacakan terhadap sejarah, yang rentangannya mencakup semua orang-betapa pun berbedanya kubu pemikiran mereka, dan sepanjang yang diperoleh mereka adalah fakta-fakta yang bersih dari segala bentuk kefanatikan dan ekstremisme”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam hal ini penulis seiring pendapat dengan Abdul Hameed Siddiqui, seperti dikemukakan Hawe Setiawan dalam tulisannya berjudul “Nabi Menurut Siddiqui” (&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Republika&lt;/i&gt;, Ahad, 30 Desember 2007), bahwa “hal paling menakjubkan dari kehidupan Muhammad Saw. adalah imannya yang teguh terhadap Allah dan upaya beliau yang tiada henti untuk senantiasa dekat dengan Dia. Tuhan merupakan pijar utama dari nyala keimanannya. Begitu dekat hubungan Nabi Saw. dengan Sang Khalik, sehingga tiada seorang pun yang dapat memahami kehidupannya yang suci jika tidak menyelami kesadaran di dalam dirinya akan Kemuliaan dan Lindungan-Nya yang tiada tara. Inilah iman yang luhur dan tak tergoyahkan terhadap Lindungan Tuhan yang dapat disebut sebagai intisari watak Nabi Saw.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Di sisi lain, sekali lagi, penulis sepenuhnya menyadari, karya yang terdiri dari empat belas bagian ini bukan sebuah karya yang sempurna. Karena itu, apabila dalam karya ini terdapat kekurangan dan kelemahan, sekali lagi penulis sampaikan, semua itu sepenuhnya dari penulis dan merupakan tanggung jawabnya. Karena itu pula, kritik dan saran dari pembaca tentu senantiasa penulis harapkan demi perbaikan ke depan. Meskipun demikian, penulis senantiasa berharap kiranya karya ini dapat menjadi setetes ilmu yang menebarkan manfaat bagi para pembaca sekalian dan sebagai amal jariah penulis yang diterima oleh Allah Swt. Dan, sebagai ungkapan rasa syukur atas terselesaikannya penulisan karya ini, dengan meminjam ungkapan Tarik Ramadan dalam karyanya &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad&lt;/i&gt;, “doa saya haturkan kepada Yang Maha Esa, Yang Mahadekat, kiranya Dia menerima dan meridhai karya tentang Nabi Saw. ini, kiranya Dia memaafkan saya atas segala kesalahan dan kekeliruan, dan kiranya Dia menempatkannya sebagai tonggak kecil upaya manusia dalam mencapai pemahaman dan perdamaian: dengan diri sendiri dan dengan orang lain, di bawah naungan cinta-Nya”. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Dalam kesempatan ini penulis tak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;lupa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengucapkan rasa terima kasih, dari relung hati terdalam, kepada Dr. Haidar Bagir yang telah memberi inspirasi kepada penulis untuk menyusun sebuah karya yang sebelumnya tak terbayangkan akan dapat disajikan oleh penulis. Sebuah inspirasi yang kemudian membuat penulis selama berbulan-bulan “menyertai” Rasulullah Saw. tercinta, disertai rasa khawatir dan takut tak kuasa menghadirkan sebuah karya yang benar-benar mampu “memotret” dan “memaknai” seluruh sisi kehidupan beliau tanpa kesalahan, kealpaan, kekurangan, maupun keteledoran. Ucapan terima kasih serupa juga penulis sampaikan kepada Gus Mus (K.H.A. Mustofa Bisri, seorang kiai, budayawan, dan cendekiawan Muslim asal Rembang, Jawa Tengah) yang telah memberikan dorongan dan semangat kepada penulis untuk merampungkan penulisan karya sederhana ini. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tak lupa ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada Prof. Dr. H. Sohirin Mohammad Solihin, seorang guru besar di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;International Islamic University Malaysia, Kuala Lumpur, Malaysia yang telah memberikan sederet daftar buku-buku yang selayaknya penulis telaah, Prof. Dr. H. Thoha Hamim, seorang guru besar di Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya, yang telah memberikan masukan yang berharga atas karya ini, Prof. Dr. H. Syihabuddin Qalyubi, seorang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;guru besar di Universitas&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Islam Negeri Sunan Kalijaga, Yogyakarta, yang telah membawakan “oleh-oleh” kepada penulis berupa sejumlah buku dari Mesir, dan H.M. Syakirin Al-Ghozali MA.,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;seorang dosen Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta dan kandidat doktor di University of Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia yang telah memberikan informasi tentang buku-buku seputar biografi Rasulullah Saw. yang tersedia di ibukota Malaysia itu dan membelikannya. Ucapan terima kasih juga penulis sampaikan kepada H. Rustam Sumarna, seorang direktur biro perjalanan umrah dan haji di Bandung, yang telah menyediakan fasilitas kepada penulis untuk menunaikan ibadah umrah di bulan Juli 2007 dan ibadah haji di musim haji 1428 H/2007 M. Sehingga, di samping menunaikan ibadah-ibadah itu, penulis berkesempatan mengumpulkan buku-buku terbaru tentang biografi Rasulullah Saw., baik dalam bahasa Arab maupun bahasa Inggris, dan mengamati kembali secara cermat pelbagai tempat historis yang berkaitan erat dengan perjalanan hidup beliau. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Tentu, dalam kesempatan ini, tak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;lupa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pula penulis yang dhaif ini kembali mengucapkan terima kasih kepada Penerbit Mizania, utamanya Mas Ahmad Baiquni, Mas Yadi Saeful Hidayat,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Mbak Windu Darlina, Mas Andi Yudha Asfandiyar, Mbak Pangestuningsih, Mas Andityas Prabantoro, Mbak Ine Ufiyatiputri, Mas Andreas Kusumahadi, Mas Yudiarto Iskandar, Mas Dodi Rosadi, Mas Eja Asssagaf, dan tim,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang telah bekerja keras untuk menerbitkan karya ini dan karya-karya penulis sebelumnya dengan suntingan, tampilan, dan sebaran yang terbaik dan tercantik. Dan, terakhir, rasa terima kasih juga penulis sampaikan kepada istri tercinta, dr. Hj. Ummie Wasitoh SpPD, dan dua putri penulis, Hj. Mona Luthfina ST dan Naila Fithria, atas waktu yang senantiasa mereka relakan yang semestinya menjadi hak mereka. Kiranya Allah Swt. membalas amal kebajikan mereka. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8485996119480000066?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/01/sang-kekasih-itu-akhirnya-hadir.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SXWt69VmceI/AAAAAAAAAWQ/W9d0vtZiqTg/s72-c/Copy+of+MuhammadSangKekasih_FULL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2885387138479629823</guid><pubDate>Sat, 17 Jan 2009 07:23:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-17T14:39:31.093+07:00</atom:updated><title>Mengapa Terjadi Derita Gaza: Pandangan dari Dalam</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SXGH--cKdfI/AAAAAAAAAWA/0YCXI0-a6CM/s1600-h/gaza-02.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SXGH--cKdfI/AAAAAAAAAWA/0YCXI0-a6CM/s400/gaza-02.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5292160553119806962" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span class="Apple-style-span" style="color: rgb(51, 51, 51);   "&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Sejatinya, sejak awal, blog ini memang penulis rancang tidak akan membahas hal-hal yang berkait dengan masalah politik. Khususnya politik di tingkat internasional. Namun, derita yang dialami warga Palestina di Gaza benar-benar sangat luar biasa. Karena itu, untuk kali ini, penulis menyalahi “aturan main” yang telah penulis gariskan sendiri. Dan, untuk memahami mengapa terjadi pembantaian yang dilakukan pasukan Israel atas warga Palestina, ada baiknya kita memahaminya lewat pandangan dari dalam Palestina sendiri. Pandangan tersebut ditulis oleh Mustafa Barghouti, Sekretaris Jenderal The Palestinian National Initiative, di &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Al-Ahram Weekly On-line&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt; (Edisi 1-6 Januari 2009):&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;The Israeli campaign of "death from above" began around 11am on Saturday morning and continues as I write these words.The bloodiest single day in Palestine since the war of 1967 is far from over following Israel's promise that this is "only the beginning" of their campaign of state terror. Approximately 400 people have been murdered thus far, but the body count continues to rise at a dramatic pace as more mutilated bodies are pulled from the rubble, prior victims succumb to their wounds, and new casualties are created by the minute. What is occurring is nothing short of a war crime, yet the Israeli public relations machine is in full swing, churning out lies by the minute.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;Once and for all it is time to expose the myths that they have created:&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel claimed to have ended the occupation of the Gaza Strip in 2005. While Israel has indeed abandoned its settlements in the tiny coastal Strip, it has in no way ended the occupation. It remained in control of Gaza's borders, airspace and waterways, and has carried out frequent raids and targeted assassinations since its "disengagement". Furthermore, since 2006 Israel has imposed a comprehensive siege on the Strip. For over two years, Gazans have lived on the edge of starvation and without the most basic necessities of human life, such as cooking or heating oil and basic medications. This siege has already caused a humanitarian catastrophe that has only been exacerbated by the dramatic increase in Israeli military aggression.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel claims that Hamas violated the ceasefire and abandoned it unilaterally. Hamas indeed respected their side of the ceasefire, except on those occasions early on when Israel carried out major offensives in the West Bank. In the last two months, the ceasefire broke down with Israelis killing several Palestinians and resulting in the response of Hamas. In other words, Hamas has not carried out an unprovoked attack throughout the period of the ceasefire. Israel, however, did not live up to any of its obligations of ending the siege and allowing vital humanitarian aid to resume in Gaza. Rather than the average of 450 trucks per day being allowed across the border, on the best days, only 80 have been allowed in, with the border remaining hermetically sealed 70 per cent of the time. Throughout the supposed "ceasefire" Gazans have been forced to live like animals, with 262 dying due to the inaccessibility of proper medical care. Now after hundreds dead and counting, it is Israel that refuses to re-enter talks over a ceasefire. They are not intent on securing peace as they claim; it is more and more clear that they are seeking regime change, whatever the cost.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel claims to be pursuing peace with "peaceful Palestinians". Before the ongoing massacre in the Gaza Strip, and throughout the entirety of the Annapolis peace process, Israel has continued and even intensified its occupation of the West Bank. In 2008, settlement expansion increased by a factor of 38, a further 4,950 Palestinians were arrested (mostly from the West Bank), and checkpoints rose in number from 521 to 699. Furthermore, since the onset of peace talks, Israel has killed 546 Palestinians, among them 76 children. These gruesome statistics are set to rise dramatically now, but previous Israeli transgressions should not be forgotten amidst this most recent horror. This week Israel shot and killed a young peaceful protester in the West Bank village of Nihlin and has injured dozens more. It is certain that they will continue to employ deadly force at non-violent demonstrations and we expect a sizeable body count in the West Bank as a result. If Israel is in fact pursuing peace with "good Palestinians", whom are they talking about?&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel is acting in self-defence. It is difficult to claim self-defence in a confrontation that they themselves have sparked, but they are doing it anyway. Self- defence is reactionary, while the actions of Israel over the past few days have been clearly premeditated. Not only did the Israeli press widely report the ongoing public relations campaign being undertaken by Israel to prepare Israeli and international public opinion for the attack, but Israel has also reportedly tried to convince the Palestinians that an attack was not coming by briefly opening crossings and reporting future meetings on the topic. They did so to insure that casualties would be maximised and that the citizens of Gaza would be unprepared for their impending slaughter. It is also misleading to claim self-defence in a conflict with such an overwhelming asymmetry of power. Israel is the largest military force in the region, and the fifth largest in the world. Furthermore, they are the fourth largest exporter of arms and have a military industrial complex rivaling that of the United States. In other words, Israel has always had a comprehensive monopoly over the use of force, and much like its superpower ally, Israel uses war as an advertising showcase of its many instruments of death.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel claims to have struck military targets only. Even while image after image of dead and mutilated women and children flash across our televisions, Israel brazenly claims that their munitions expertly struck only military installations. We know this to be false, as many other civilian sites have been hit by air strikes, including a hospital and a mosque. In the most densely populated area on the planet, tons upon tons of explosives have been dropped. The first estimates of injured are in the thousands. Israel will claim that these are merely "collateral damage" or accidental deaths. The sheer ridiculousness and inhumanity of such a claim should sicken the world community.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel claims that it is attacking Hamas and not the Palestinian people. First and foremost, missiles do not differentiate people by their political affiliation; they simply kill everyone in their path. Israel knows this, and so do the Palestinians. What Israel also knows, but is not saying publicly, is how much their recent actions will actually strengthen Hamas, whose message of resistance and revenge is being echoed by the angry and the grieving. The targets of the strike, police and not Hamas militants, give us some clue as to Israel's mistaken intention. They are hoping to create anarchy in the Strip by removing the pillar of law and order.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;- Israel claims that Palestinians are the source of violence. Let us be clear and unequivocal. The occupation of Palestine since the war of 1967 has been and remains the root of violence between Israelis and Palestinians. Violence can be ended with the end of the occupation and the granting of Palestine's national and human rights. Hamas does not control the West Bank and yet we remain occupied, our rights violated and our children killed. With these myths understood, let us ponder the real reasons behind these air strikes; what we find may be even more disgusting than the act itself. The leaders of Israel are holding press conferences, dressed in black, with sleeves rolled up. "It's time to fight," they say, "but it won't be easy." To prove just how hard it is, Livni, Olmert and Barak did not even wear makeup to the press conference, and Barak has ended his presidential campaign to focus on the Gaza campaign. What heroes... what leaders. We all know the truth: the suspension of electioneering is exactly that -- electioneering. Like John McCain's suspension of his presidential campaign to return to Washington to "deal with" the financial crisis, this act is little more than a publicity stunt. The candidates have to appear "tough enough to lead", and there is seemingly no better way of doing that than bathing in Palestinian blood.&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;"Look at me," Livni said in her black suit and unkempt hair, "I am a warrior. I am strong enough to pull the trigger. Don't you feel more confident about voting for me, now that you know I am as ruthless as Bibi Netanyahu?"&lt;/span&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="mso-margin-top-alt:auto;margin-right:1.5pt; mso-margin-bottom-alt:auto;margin-left:1.5pt;text-align:justify;line-height: normal"&gt;&lt;span style=";color:#333333;"&gt;&lt;span class="Apple-style-span"  style="font-size:small;"&gt;I do not know which is more disturbing, her and Barak, or the constituency they are trying to please. In the end, this will in no way improve the security of the average Israeli; in fact it can be expected to get much worse in the coming days as the massacre could presumably provoke a new generation of suicide bombers. It will not undermine Hamas either, and it will not result in the three fools, Barak, Livni and Olmert, looking "tough". Their misguided political venture will likely blow up in their faces as did the brutally similar 2006 invasion of Lebanon. In closing, there is another reason -- beyond the internal politics of Israel -- why this attack has been allowed to occur: the complicity and silence of the international community. Israel cannot and would not act against the will of its economic allies in Europe or its military allies in the US. Israel may be pulling the trigger and ending hundreds, perhaps even thousands of lives this week, but it is the apathy of the world and the inhumane tolerance of Palestinian suffering that allows this to occur: "Evil only exists because the good remain silent".&lt;/span&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2885387138479629823?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/01/mengapa-terjadi-derita-gaza-pandangan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SXGH--cKdfI/AAAAAAAAAWA/0YCXI0-a6CM/s72-c/gaza-02.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4293871622034485180</guid><pubDate>Thu, 15 Jan 2009 10:44:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-16T07:18:22.775+07:00</atom:updated><title>"Hadiah" untuk Mu'awiyah bin Abu Sufyan dan George W. Bush</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SW8UWsav7aI/AAAAAAAAAV4/59JR_jKEe78/s1600-h/bush-03.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 267px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SW8UWsav7aI/AAAAAAAAAV4/59JR_jKEe78/s400/bush-03.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5291470467296652706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align: justify;"&gt;Ketika kemarin penulis membuka koran mingguan &lt;i&gt;Al-Ahram Weekly Online&lt;/i&gt;, Kairo, dan membaca kisah Muntazhar al-Zaidi yang tiba-tiba mencopot sepatunya dan melemparkannya ke arah George W. Bush yang sedang berpidato, entah mengapa dalam benak penulis timbul pertanyaan: benarkah tindakan melemparkan atau menamparkan sesuatu ke muka seseorang di kawasan Timur Tengah dipandang sebagai penghinaan dan rasa tidak senang terhadap orang yang dilempar atau ditampar itu? Adakah penguasa di kawasan itu yang pernah mengalami kejadian yang serupa atau mirip? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US;mso-bidi-font-weight:bold"&gt;Ternyata, ada seorang penguasa yang pernah mengalami kejadian yang serupa: mukanya ditampar rakyat yang ia pimpin. Penguasa itu tak lain adalah &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mu‘awiyah bin Abu Sufyan,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pendiri&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dinasti&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pertama&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dalam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sejarah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Islam, Dinasti Umawiyyah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dengan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ibukota&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di Damaskus, Suriah.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;     &lt;/span&gt;Lahir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di Makkah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sekitar&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;602&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M, putra Abu Sufyan bin &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;arb ini memeluk&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Islam pada saat Penaklukan Makkah pada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;8&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/629 M. Selepas bermukim di Madinah, ia diangkat sebagai salah seorang penulis&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Rasulullah Saw.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Ketika&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Abu Bakar Al-Shiddiq menjabat khalifah,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ikut bertempur&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menghadapi pasukan Romawi di Syam di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bawah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pimpinan kakaknya,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Yazid&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Abu Sufyan. Malah,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kemudian&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;diangkat sebagai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Gubernur&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Syam, menggantikan sang kakak dalam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;usia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dua puluh enam tahun. Selepas ‘Ali bin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Abu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Thalib tewas, ia menabalkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dirinya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sebagai&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;penguasa pertama&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Dinasti Umawiyah dan menjadikan Damaskus, Suriah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sebagai ibukota&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dinasti&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ini.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Peristiwa ini terjadi pada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;41&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/661&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M.&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: EN-US"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Bagaimana kisah penamparan atas muka Mu‘awiyah bin Abu Sufyan? &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-outline-level:1"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Kala itu Mu‘awiyah bin Abu Sufyan sedang memasuki Kota Madinah Al-Munawwarah,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;seusai melaksanakan ibadah haji &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;di Makkah. Begitu ia &lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;menatapkan pandangannya ke arah Kota &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;Nabi&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; dari kejauhan, penguasa yang satu itu tak kuasa menahan lelehan air matanya. Kenangan indah ketika masih bermukim di Kota Nabi, bersama Rasulullah Saw., segera memenuhi benaknya. Segera saja muncul kenangan hari-hari ketika ia diminta beliau menjadi salah seorang penulis wahyu. Karena itu, dalam hati ia berjanji, tak lama selepas menapakkan kaki di kota ia akan berbuat kebaikan, dengan memberikan hadiah kepada warga Kota Nabi itu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-outline-level:1"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Benar saja, tak lama selepas menapakkan kakinya di Kota Nabi, Mu‘awiyah bin Abu Sufyan memerintahkan sejumlah petugas untuk membagi-bagikan hadiah kepada para warga kota itu. Dan ketika tahu di antara para warga itu ada seorang Anshar yang pernah ikut Perang Badar, ia pun memerintahkan seorang utusan untuk menyerahkan hadiah uang dua ribu dinar dan sepuluh pakaian lengkap kepada orang Anshar tersebut. Namun, tak seperti diduga Mu‘awiyah bin Sufyan, orang Anshar itu ternyata marah besar begitu mengetahui maksud kedatangan utusan itu. Ucap orang Anshar itu kepada si utusan, “Apakah Mu‘awiyah juga memberikan hadiah yang sama kepada warga-warga lain? Tanyakan kepadanya!”“Maafkan saya. Saya tak kuasa menyampaikan pesanmu itu,” sahut si utusan.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Mendengar jawaban yang demikian, amarah orang Anshar itu kian membara. Dan, tak lama selepas itu, ia memanggil seorang putranya dan berucap kepadanya, “Putraku! Demi hakku atas dirimu, temuilah Mu‘awiyah dan kembalikan hadiah ini kepadanya. Lantas, tamparkan hadiah ini ke &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;muka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; penguasa itu!” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Menerima permintaan sang ayahanda yang demikian, walau dengan berat hati, sang putra pun menemui Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Selepas mengucap salam dan berbagi sapa sejenak dengan sang penguasa, anak muda dari kalangan Anshar itu lantas berucap, “Wahai Amir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Mukminin! Ayahanda menyampaikan salam kepadamu. Selain itu, ia meminta saya menanyakan kepadamu, apakah hadiah uang dua ribu dinar dan sepuluh pakaian lengkap yang diberikan kepada Ayahanda itu juga diberikan kepada warga-warga lain di kota ini?”“Siapakah utusan yang menemui ayahandamu?” sahut Mu‘awiyah bin Abu Sufyan yang segera tanggap atas amarah orang Anshar itu.“Si Fulan, wahai Amir Al-Mukminin.”“Kiranya Allah segera mengambil nyawa utusan itu. Dia telah melakukan kesalahan. Bukan hadiah itu yang semestinya diserahkan kepada ayahandamu. Hadiah yang semestinya diserahkan kepadanya adalah uang sepuluh ribu dirham dan tiga puluh pakaian lengkap.” &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Seusai berucap demikian, Mu‘awiyah bin Abu Sufyan lantas memerintahkan seorang petugas untuk menyiapkan hadiah yang ia katakan. Selepas hadiah itu tersedia, penguasa berkuasa selama sekitar dua puluh tahun, sampai berpulang pada Rajab 60 H/April 680 M dalam usia sekitar tujuh puluh delapan tahun, itu lantas berucap kepada putra orang Anshar itu, “Wahai saudaraku! Ambillah hadiah ini. Juga, sampaikanlah permintaan maafku kepada ayahandamu atas kesalahan utusanku.”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin,” sahut anak muda dari kalangan Anshar itu. “Tentu engkau tahu, seorang ayah memiliki hak atas putranya dan merupakan kewajiban sang putra untuk mematuhi perintahnya. Ayahanda memerintahkan sesuatu kepada saya.”“Apa itu?”&lt;span lang="IN"&gt;“Ketika menyerahkan hadiah tadi kepada saya, Ayahanda meminta saya untuk menamparkan hadiah itu ke &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;muka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;mu.” &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Sejenak Mu‘awiyah bin Abu Sufyaan terkejut dan terbisu mendengar permintaan yang demikian. “Kurang ajar orang Anshar itu!” gumamnya dalam hati. Namun, ia tetap menahan amarahnya. Dan, beberapa lama kemudian, ia berucap, “Wahai saudaraku! Patuhlah kepada ayahandamu dan belas kasihlah terhadap pamanmu ini. Silakan tampar &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;muka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt;ku ini.”&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN"&gt;Anak muda dari kalangan Anshar itu lantas menamparkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pelan hadiah itu ke &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;muka&lt;/span&gt;&lt;span lang="IN"&gt; sang pengua&lt;/span&gt;&lt;span style="mso-ansi-language:EN-US"&gt;sa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span style="mso-ansi-language: EN-US"&gt;Kisah itu menunjukkan bahwa penamparan atau pelemparan ke muka seseorang, di kawasan Timur Tengah, memang merupakan ungkapan rasa tidak senang dan jengkel si pelaku terhadap orang yang ditampar atau dilempar. Apa pun halnya, “nasib” Mu‘awiyah bin Abu Sufyan yang mukanya ditampar pelan masih mending ketimbang “nasib” George W. Bush yang dikasih “hadiah” lemparan sepatu. Barang kali ini karena dosa dan kesalahan Mu‘awiyah bin Abu Sufyan jauh lebih ringan ketimbang dosa dan kesalahan George W. Bush. &lt;i&gt;Wallahu a‘lam bi al-shawab&lt;/i&gt;!&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4293871622034485180?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/01/hadiah-untuk-mu-awiyah-bin-abu-sufyan.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SW8UWsav7aI/AAAAAAAAAV4/59JR_jKEe78/s72-c/bush-03.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-6997481818053395488</guid><pubDate>Wed, 07 Jan 2009 08:39:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-07T15:44:48.545+07:00</atom:updated><title>Ketika Seorang Calon Ulama Terkemuka Jatuh Cinta</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SWRrKZoTxJI/AAAAAAAAAVw/1ONW2rt8w8E/s1600-h/2118934950083508039IdMFNQ_ph.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 266px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SWRrKZoTxJI/AAAAAAAAAVw/1ONW2rt8w8E/s400/2118934950083508039IdMFNQ_ph.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288469688862622866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Bila Anda mengunjungi Cordoba, Spanyol, di depan Pintu Gerbang Sevilla kota tersebut yang di masa silam menuju ke arah Balath Mughits, akan Anda jumpai patung seorang lelaki tegak dengan gagahnya. Lelaki gagah mengenakan jubah itu seakan sedang menapakkan kedua kakinya menuju Masjid Cordoba, tempat ia menjadi mahasiswa dan guru besar serta menunaikan shalat setiap harinya. Patung itu didirikan atas prakarsa masyarakat dan pemerintah Kota Cordoba pada 1963, sebagai penghargaan atas jasa-jasa tokoh yang dipatungkan itu. Lelaki itu, tak salah lagi, adalah Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm Al-Andalusi,&lt;/span&gt; yang fotonya penulis tampilkan di samping kiri tulisan ini. Ulama yang satu ini ternyata pernah mengalami kisah cinta tragis: cinta bertepuk sebelah tangan. Dan, menariknya, kisah cinta yang gagal itu ditampilkan dengan indahnya dalam karyanya, &lt;i&gt;Thauq Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amamah&lt;/i&gt;, yang sebentar lagi edisi Indonesianya akan hadir dengan judul &lt;i&gt;Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta&lt;/i&gt;. Bagaimana kisah cinta bertepuk sebelah tangan sang ulama ketika masih muda usia, berikut kisahnya: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;“Ketika saya masih remaja, saya jatuh cinta kepada seorang hamba sahaya perempuan nan amat jelita milik keluarga saya yang tinggal serumah dengan kami,” tutur Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm Al-Andalusi. “Hamba sahaya itu masih gadis, berusia enam belas tahun. Wajahnya elok nan sangat memesona. Kecerdasan dan kesucian dirinya menawan hati. Ia begitu pintar memelihara kehormatan dan harga dirinya. Ia tinggalkan segala perbuatan yang kurang ajar dan tak senonoh. Ia pun berpakaian rapi dan tertutup rapat senantiasa. Juga, ia sedikit bicara, tak suka mencela, pandangannya senantiasa terjaga, memelihara jarak dengan lawan jenis, dan senantiasa bersikap hati-hati. Sungguh, ia benar-benar amat memesona. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Selain itu,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ia begitu pandai berkelit dan piawai dalam menyatakan penolakan. Ia begitu tenang dan santun kala duduk. Ia lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Ia senantiasa menghindar bila ada orang yang ingin berbuat macam-macam dengannya. Karena itu, orang pun segan kepadanya. Ia bukan tipe perempuan gampangan, di mana setiap laki-laki dapat menyinggahinya. Kepribadiannya memikat hati setiap orang yang mengenalnya. Kesantunan tabiatnya mengusir orang yang hendak menjahilinya. Ia dermawan dan ringan tangan. Ia sungguh cekatan dalam pekerjaan. Ia tak senang canda yang tiada manfaatnya. Dan, ia sangat pandai membalas budi dan memendam rasa. Duhai, ia benar-benar gadis sangat memikat nan memesona.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Demikian kenang tokoh yang sarat pengalaman itu perihal gadis yang dicintainya. Selepas bertutur demikian, ahli hukum&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Islam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menganut Aliran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Zhahiriyyah,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menolak &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ra‘y&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(rasio),&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengambil lahiriah teks-teks Al-Quran itu kemudian menuturkan kembali kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu, “Saya sangat mencintainya. Sungguh, sangat mencintainya. Selama dua tahun saya terus berusaha keras untuk dapat mendengar satu kata khusus saja yang terucap dari mulutnya untuk saya. Ya, kata khusus di luar pembicaraan yang sifatnya umum. Namun, sekeras apa pun usaha saya, tetap tak menghasilkan harapan yang saya damba. Ia tak pernah mau berucap kepada saya. Walau itu sepatah saja. Lantas, suatu hari, ada pesta kecil di rumah kami. Seluruh anggora keluarga dan handai tolan saya berkumpul. Beberapa ibu, anak gadis, dan beberapa tetangga yang selama ini membantu keluarga saya juga ikut berkumpul. Di siang hari mereka semua berkumpul di ruang tengah. Dan selepas acara usai, mereka semua menuju balkon rumah yang langsung tersambung dengan taman. Dari balkon, seluruh lekuk-lekuk dan pernik-pernik Kota Cordoba terlihat begitu jelasnya. Sungai-sungainya, bukit-bukitnya, dan pegunungan hijau yang menghampar dan mengelilinginya. Mereka berkumpul di balkon seraya menikmati pemandangan indah Kota Cordoba.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Saya pun ikut berkumpul di sana. Masih terekam jelas di benak, saat itu saya berjalan menuju pintu tempat perempuan nan jelita yang saya damba itu berada. Saya sengaja mendekatinya. Kami berdiri berdekatan. Dekat sekali. Namun, begitu ia tahu saya berdiri di sampingnya, ia segera beranjak meninggalkan saya. Ia beranjak ke pintu lain dengan langkah nan lamban dan menawan. Saya tak dapat tinggal diam. Saya ikuti dia. Dan, begitu saya berada di sampingnya, ia segera beralih ke pintu sebelumnya. Begitu seterusnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Sepertinya ia telah tahu dengan rahasia hati saya yang saya pendam dalam. Sementara itu, segenap hadirin dan kaum perempuan di sana tiada yang mengetahui apa sejatinya yang terjadi di antara kami berdua. Hal itu lantaran saking banyaknya orang yang hadir. Sehingga, kami pun luput dari perhatian mereka. Lagi pula mereka juga disibukkan oleh keasyikan mereka sendiri. Yaitu hilir mudik ke sana kemari, dari satu pintu ke pintu yang lainnya, untuk menyaksikan pemandangan Kota Cordoba yang mengundang decak kagum. Mereka juga terlalu asyik masyuk menikmati keindahan taman. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Seraya menikmati keindahan Kota Cordoba, segenap hadirin, terutama dari kaum hawa dan ibu-ibu meminta tuan rumah (yakni keluarga kami) untuk menghibur mereka dengan senandung lagu-lagu memesona. Dan ibu saya, yang tak lain adalah sang nyonya rumah, segera menyuruh perempuan nan jelita yang saya cinta itu untuk menyenandungkan lagu-lagu penuh pesona. Saya lihat ia begitu malu-malu menyanggupi permintaan itu. Saya belum pernah melihat ada perempuan yang memperlihatkan rasa malu dengan begitu anggun seperti dirinya. Duhai, begitu eloknya ia ketika dalam keadaan seperti itu. Rasa malu yang ia tunjukkan justru mempercantik wajah jelitanya. Sejenak kemudian, ia menyanyikan beberapa bait lagu karya Al-‘Abbas bin Al-A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;naf.: &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Kala matahari mulai &lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-fareast-;font-family:HiddenHorzOCR;"&gt;tenggelam,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-fareast-;font-family:HiddenHorzOCR;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;i&gt;kusapalah ia&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Cahayanya indah bagai pesona istana para raja&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Ia telah menjelma di wajah gadis belia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Duhai, betapa &lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-fareast-;font-family:HiddenHorzOCR;"&gt;keelokannya &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-style:italic"&gt;sungguh &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;&lt;span style="mso-fareast-;font-family:HiddenHorzOCR;"&gt;memesona&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;span style="mso-fareast-;font-family:HiddenHorzOCR;"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;span class="Apple-style-span" style="font-family: Georgia; font-style: italic; "&gt;Andai saja ia tak menginjak mayapada&lt;/span&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Tentu ia bukan seorang manusia&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;tab-stops:176.0pt; mso-layout-grid-align:none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Andai saja ia tak beraga&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Malaikat ia selayaknya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;&lt;o:p&gt;Wajahnya bersinar bak permata, tubuhnya pualam pendarkan cahaya&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Angin sepoi meniupkan tubuhnya&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Duh wanginya bak minyak anbar saja, seolah dari cahaya ia tercipta&lt;o:p&gt;&lt;/o:p&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:18.0pt;mso-layout-grid-align: none;text-autospace:none"&gt;&lt;i&gt;Jalannya, wahai laksana di atas perak dan kaca &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Duh, mendengar dendang lagu itu, hati saya seolah baru saja ditampar-tampar. Saya tak akan pernah dapat melupakan peristiwa itu. Tak akan pernah! Malah, hingga pun kematian menjemput saya. Sebab, itulah kesempatan terlama kala saya dapat melihat wajahnya dan mendengar suaranya.&lt;span class="Apple-style-span" style="font-style: italic; "&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Dari rumah baru, yang terletak di sebelah timur Cordoba, tepatnya di Rabadh Al-Zahirah, ayahanda saya pindah ke rumah lama kami di sebelah barat Cordoba, tepatnya di komplek Balath Mughits. Kami pindah di hari ketiga semenjak &lt;span style="mso-fareast-;font-family:HiddenHorzOCR;"&gt;Amirul &lt;/span&gt;&lt;span style="mso-bidi-font-style:italic"&gt;Mukminin&lt;/span&gt; Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad Al-Mahdi menjadi khalifah. Tepatnya pada Jumada Al-Tsaniyyah 399 H/Februari 1009 M. Saya ikut pindah bersama mereka. Namun, karena alasan tertentu, perempuan nan jelita&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang saya cintai tak turut serta. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Kami disibukkan oleh aneka ragam kesulitan, selepas kekuasaan khilafah berada di tangan &lt;span style="mso-bidi-font-style:italic"&gt;Amirul Mukminin&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/span&gt;Hisyam Al-Mu’ayyad. Para pejabat pemerintahan Hisyam Al-Mu’ayyad acap mengintimidasi keluarga kami. Kami dicekal serupa tahanan kota. Segala gerak kami diawasi dengan ketat. Akhirnya, konflik horizontal pun meledak. Tak hanya melibatkan keluarga kami. Tapi, juga masyarakat luas. Saat itu, kala keadaan lagi genting-gentingnya, Ayahanda saya meningga1 dunia. Ia wafat di hari Sabtu selepas shalat asar, dua malam sebelum Dzulqa‘dah 402 H (22 Juni 1012).” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm kemudian sejenak berhenti berkisah. Dan, beberapa saat kemudian, ia menuturkan kembali kisah cintanya, “Nampaknya, cerita tentang kisah-kasih saya dengan hamba sahaya perempuan yang saya cintai harus saya lanjutkan: suatu hari ada anggota keluarga kami yang berpulang. Jenazahnya masih disemayamkan di rumah kami. Saya melihat hamba sahaya perempuan itu berada di antara kaum perempuan yang mengelilingi jenazah sambil menangisinya. Ia juga ikut menangis bersama mereka. Kejadian itu tentu saja membangkitkan cinta saya yang beberapa lamanya terpendam. Membangunkan perasaan hati saya yang lama tertidur. Saya jadi teringat dengan masa lalu saya. Masa di mana kisah cinta pernah menyinggahi saya, bulan-bulan telah berlalu, dan hari-hari telah pergi meninggalkan saya sendiri. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Semua itu hanyalah menambah kesedihan saya. Karena saya tahu, malah sangat tahu, cinta saya bertepuk sebelah tangan. Belum lagi saya juga tertimpa oleh beragam kesedihan yang belakangan menimpa keluarga saya. Saat itu awan kesedihan, keperihan, dan kedukaan yang menaungi saya terasa lebih tebal dari sebelumnya. Pelbagai kepedihan dan cobaan masih mendera keluarga kami. Kemudian, ketika bangsa Berber yang biadab memorakporandakan Cordoba, kami pun terpaksa harus pergi meninggalkan rumah kami. Kami laiknya tawanan perang yang terusir dari tanahnya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada awal Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;arram 404 H/13 Juli 1013 M. Dan enam tahun sejak peristiwa itu-ketika terakhir kali saya melihatnya di tempat rumah duka keluarga saya-saya tidak pernah lagi melihat hamba sahaya perempuan yang sangat saya cintai itu. Saya baru melihatnya lagi ketika datang ke Cordoba. Tepatnya pada Syawwal 409 H/Februari 1019 M. Mula-mula saya tak mengenalinya lagi. Namun, begitu ada seorang kawan yang memberitahu saya bahwa dia adalah perempuan yang dulu saya puja, saya baru mengenalnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Kini, ia sudah sangat berubah. Ia sama sekali berbeda dengan ia yang dulu. Nyaris seluruh pendar kecantikannya pudar sudah. Wajah nan jelitanya sirna. Cahayanya tak lagi memancar memesona. Keanggunannya lenyap tak berbekas. Kebeningan wajahnya, yang dulu nampak bak kilatan mata pedang dan cermin India, kini keruh dan lusuh. Kilauan pesona yang dulu menjadi pusat perhatian semua orang, kini redup dan sirna. Segala nama keindahan dan keelokan yang dulu dimilikinya, kini tiada tersisa. Kecuali hanya sedikit ciri yang menjadi pengenal saja yang tersisa. Duh, kasihan dia. Perubahan yang sangat besar itu terjadi lantaran ia kurang-malah bisa jadi sama sekali tidak-dapat memelihara keelokan dirinya. Keadaannya dirinya berbeda sekali dengan masa ketika kami masih tinggal bersama. Selepas tidak lagi bersama kami, konon, ia acap keluar rumah untuk mencari biaya hidup sehari-hari. Padahal, ketika dulu masih bersama keluarga kami, ia tak pernah disuruh melakukan hal-hal seperti itu sama sekali. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Perempuan itu ibarat pohon yang wangi bunganya. Bila pohon itu tak dirawat dengan baik, maka keindahan dan wanginya akan meluruh. Malah, dapat sirna sama sekali. Perempuan itu laksana bangunan. Bila bangunan tak dipelihara, seiring bertambahnya usia, ia akan binasa. Malah, sirna. ‘Andai saja dulu ia mau menerima cinta saya, atau mau berbicara dengan saya, walau barang sebentar saja, saat itu bisa jadi saya menjadi gila karena saking gembiranya, atau malah saya bisa mati lantaran terlalu bahagia. Untung, ia tak mau menerima cinta saya. Untung, ia berpaling dari saya. Sehingga, saya bisa bersabar dan akhirnya bisa melupakannya,’ gumam saya dalam hati.” &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-layout-grid-align:none; text-autospace:none"&gt;Membaca kisah itu, entah mengapa dalam benak saya muncul bersitan pikiran: beranikah KH Sahal Mahfuzh, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Mustofa Bisri, Gus Dur atau kiai-kaian lainnya menuangkan kisah cinta mereka, kala mereka masih muda usia, seperti halnya yang telah dilakukan Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm? &lt;i&gt;Wallahu a‘lam bi al-shawab&lt;/i&gt;.&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" align="center" style="text-align:center"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-6997481818053395488?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/01/ketika-seorang-calon-ulama-terkemuka.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SWRrKZoTxJI/AAAAAAAAAVw/1ONW2rt8w8E/s72-c/2118934950083508039IdMFNQ_ph.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1714697335418081640</guid><pubDate>Tue, 06 Jan 2009 03:28:00 +0000</pubDate><atom:updated>2009-01-06T10:35:02.032+07:00</atom:updated><title>Karya Besar Seorang Ulama Terkemuka Perihal Cinta</title><description>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SWLRPVOiN9I/AAAAAAAAAVo/T4wS0vtOGyw/s1600-h/risalahhh.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 291px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SWLRPVOiN9I/AAAAAAAAAVo/T4wS0vtOGyw/s400/risalahhh.jpg" border="0" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5288018973812733906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Pembaca budiman, tak terasa hampir lima bulan, sejak bulan Agustus 2008, penulis tidak hadir untuk menyapa Anda sekalian. Kiranya Anda sekalian berkenan memaafkan hamba Allah yang dhaif ini. Sejatinya, selama bulan-bulan itu, banyak ide-ide yang hendak penulis sajikan. Namun, konsentrasi penuh untuk menyelesaikan beberapa buku membuat ide-ide yang akan penulis sajikan “menguap”. Alhamdulillah, entah mengapa, Allah Swt. hari ini memberikan kekuatan untuk menyajikan sebuah tulisan di blog ini. Kali ini, penulis ingin berkisah tentang ulama besar yang terkenal dengan karya besarnya perihal cinta, &lt;i&gt;Thauq Al-Hamamah&lt;/i&gt; yang penulis terjemahkan dan insya Allah akan diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung di akhir bulan ini. Ulama itu tak lain adalah Ibn Hazm Al-Andalusi. Siapakah ulama yang satu itu dan bagaimana kisah karya besarnya yang dipandang sebagai salah satu &lt;i&gt;masterpiece &lt;/i&gt;di bidang cinta? &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Tokoh yang &lt;/span&gt;bernama lengkap &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Abu Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad ‘Ali bin A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad bin Sa‘id bin &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm Al-Andalusi&lt;/span&gt; dan &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;berwajah Hispanik itu &lt;/span&gt;l&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;ahir&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di Cordoba&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pada Rabu, 30 Ramadhan 384 H/7 November 994&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dalam lingkungan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;keluarga&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang bermukim di Montlisam (kini disebut Montijar, di kawasan Huelva, Andalusia bagian&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;barat daya) yang terletak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dalam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;wilayah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Niebla,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ilmuwan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ulama&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berdarah tak jelas ini (menurut Dr. Al-Thahir A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad Makki, dalam karyanya &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Dirâsat ‘an Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm wa Kitâbih Thauq Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amâmah&lt;/i&gt;, Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm kemungkinan besar berdarah Spanyol) tumbuh&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dewasa sebagai putra&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;seorang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menteri di bawah pemerintahan Al-Manshur&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bin&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Abu ‘Amir, di sebuah istana indah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;nan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;megah. Sang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ayahandalah, seperti kebiasaan kala itu,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menjadi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;guru pertamanya. Ketika sang ayahanda berpulang, pada akhir Dzul&lt;/span&gt;q&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;a‘dah 402&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/Juni&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;1013&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M, ia pun meninggalkan Cordoba&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kala&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;itu sedang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;diguncang prahara perang saudara dan menetap&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Almeria dan Jativa. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify;mso-outline-level:1"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;Lima&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tahun&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kemudian,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ketika Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm kembali&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ke&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Cordoba,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ia diangkat&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sebagai &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;menteri oleh ‘Abdurra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;man&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;IV&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Murtadha.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Segera, dunia kekuasaan dan politik menjadi tak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;asing baginya.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Beberapa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kali ia terlibat dalam konflik&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;politik&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang keras, utamanya selepas pembunuhan ‘Abdurra&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;man V Al-Mustazhhir pada&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;424&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;H/1023&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;M, yang membuatnya dijebloskan ke dalam bui.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Selepas&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;merasakan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pahit&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;getirnya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dunia politik,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kemudian&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;memalingkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;diri&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ke&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;arah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dunia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;ilmu pengetahuan. Lahirlah sederet karya-karyanya yang terkenal hingga&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kini. Di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bidang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;fikih, misalnya, karyanya yang berjudul&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;allâ&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;merupakan salah satu sumber acuan. Di bidang ilmu kalam, karyanya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang berjudul &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Fashl fi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Milal&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;wa&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Ahwâ’&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;wa Al -Ni&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;al&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tidak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kalah&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;   &lt;/span&gt;nilainya dibandingkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dengan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;karyanya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di bidang fikih&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;itu.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Di&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;bidang akhlak, ia menyusun karya besarnya dengan judul &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Akhlâq wa Al-Sair fi Mudâwah Al-Nufûs&lt;/i&gt;. Tak mengherankan bila ia mendapat gelar &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Imâm&lt;/i&gt; (Sang Imam). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Selain itu, Ibn&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;juga dikenal sebagai ahli hukum&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Islam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;menganut Aliran&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Zhahiriyyah,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang menolak &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ra‘y&lt;/i&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;(rasio),&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mengambil lahiriah teks-teks Al-Quran. Tak aneh bila ia berpendapat bahwa barang siapa yang memberi fatwa dengan berdasarkan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;ra‘y&lt;/i&gt;, maka&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ia memberi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;fatwa tanpa ilmu. Menurutnya, seseorang tidak&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;dipandang berilmu&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;tentang Islam, kecuali apabila ia&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;mendalami&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Quran dan Al-Sunnah. Ilmuwan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;yang&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;berpulang ke hadirat Allah di Montlisam&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;pada Sabtu, 28 Sya‘ban 456 H/14 Agustus 1064 M ini juga terkenal sebagai seorang ilmuwan yang produktif.&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Konon, karya-karya&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;sekitar 400 buku. Antara lain &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Fashl fi&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Milal&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;wa Al-Ni&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;al,&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, Jamharah Ansâb Al-‘Arab, Fadhâ’il Ahl Andalus, Al-Talkhîs li Wujûh Al-Talkhîs, Ahl-A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kam li&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Ushul&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;kam, Nuqâth Al-‘Arûs fi Tawârikh Al-Khulafâ&lt;/i&gt;’ dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Jawâmi‘&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;Al-Sîrah Al-Nabawiyyah&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Ternyata, sang imam juga menyusun sebuah karya &lt;/span&gt;besar &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;tentang cinta berjudul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Thauq Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amâmah&lt;/i&gt;. Karya yang mulai disusun Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm pada 428 H/1027 M, kala ia bermukim di Jativa, ketika&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;ditemukan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;kembali pada awal abad ke-19 M, membuat geger dunia ilmiah di bidang Kajian Ketimuran, terutama Kajian Andalusia, seperti karya-karyanya yang lain. Karya itu pun lantas diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Pada 1931&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;di Paris terbit, misalnya, terbit terjemahan pertama kali itu dalam bahasa Inggris&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;oleh L. Nykl. Sepuluh tahun kemudian, M. Weisweiler menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa Jerman. Sembilan tahun selepas itu, tepatnya pada 1949, F. Garibaldi menerjemahkannya ke dalam bahasa Italia. Di tahun yang sama, Leon Bercher menerjemahkan ulang karya yang acap dipandang sebagai karya paling menarik tentang cinta dari masa pertengahan ini, di dunia Islam maupun Kristen, ke dalam bahasa Prancis. Kemudian, pada 1952, terbit terjemahan pertama karya ini dalam bahasa Spanyol oleh Emilio Garcia Gomez. Tahun berikutnya, seorang orientalis terkemuka Inggris, Anthony J. Arberry, menerjemahkan kembali karya yang menyajikan pandangan dan pikiran Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm tentang cinta ini ke dalam bahasa Inggris dengan judul &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;The Ring of the Dove&lt;/i&gt;. Dan, penerjemahan pertama kali ke dalam bahasa Indonesia (berdasarkan naskah dalam bahasa Arab versi Abu Mundzir Sa‘d Karim Al-Faqy) dilakukan oleh Anif Sirsaeba dan diterbitkan pertama kali pada 2006 dengan judul &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Di Bawah Naungan Cinta&lt;/i&gt;. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Adapun karya yang &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;segera hadir di &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;di &lt;/span&gt;antara ppara &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;pembaca budiman juga merupakan terjemahan karya Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm Al-Andalusi tersebut. Terjemahan ini sendiri &lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;penulis &lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;dasarkan pada sebuah naskah &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Thauq Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amâmah&lt;/i&gt; dalam bahasa Arab yang lain. Naskah yang diterbitkan&lt;span style="mso-spacerun:yes"&gt;  &lt;/span&gt;oleh sebuah penerbit terkemuka di Mesir, Dar Al-Ma‘arif, tersebut disunting dan diberi catatan akhir oleh seorang guru besar Universitas Kairo yang pakar di bidang Kajian Andalusia, Dr. Al-Thahir A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad Makki. Ada beberapa alasan mengapa naskah tersebut yang pen&lt;/span&gt;ulis&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt; pilih&lt;/span&gt; untuk diterjemahkan&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;. Antara lain karena versi tersebut merupakan versi &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Thauq Al-Hamâmah&lt;/i&gt; yang paling lengkap dan akurat. Di samping itu, dalam proses penerjemahan karya yang satu ini, pen&lt;/span&gt;ulis&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt; juga mengacu pada karya terjemahan A.J. Arberry, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;The Ring of the Dove&lt;/i&gt; yang diterbitkan pada 1994 oleh sebuah penerbit Inggris, Luzac Oriental, dan memerhatikan karya terjemahan Anif Sirsaeba tersebut di atas. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt;Di sisi lain, usaha menerjemahkan secara cermat karya besar Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm tentang cinta ini mengharuskan pen&lt;/span&gt;ulis&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language: IN"&gt; sedikit banyak memahami sejarah dan kebudayaan Andalusia di bawah pemerintahan dinasti-dinasti Muslim. Tentang hal ini, karya-karya Prof. Dr. A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;usain Haikal, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Adâb Al-Andalusî&lt;/i&gt; dan &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-Muwasysyahât&lt;/i&gt;, karya Prof. Dr. A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad Shalaby, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Mausû‘ah Al-Târikh Al-Islâmî wa Al-Hadhârah Al-Islâmiyyah&lt;/i&gt;, karya Prof. Dr. Al-Thahir A&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mad Makki, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Dirâsât ‘an Ibn &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;azm wa Kitâbih Thauq Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;amâmah&lt;/i&gt;, karya Dr. Mu&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;ammad &lt;u&gt;H&lt;/u&gt;asan ‘Abdullah, &lt;i style="mso-bidi-font-style:normal"&gt;Al-&lt;u&gt;H&lt;/u&gt;ub fi Al-Turâts Al-‘Arabî&lt;/i&gt;, dan karya Ma&lt;u&gt;h&lt;/u&gt;mud ‘Awadh, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal"&gt;Mutamarridûn li Wajh Allâh&lt;/i&gt; sangat membantu. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align:justify"&gt;Selamat membaca dan menikmati karya besar perihal cinta itu!&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt;&lt;span lang="IN" style="mso-ansi-language:IN"&gt;&lt;o:p&gt; &lt;/o:p&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1714697335418081640?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2009/01/karya-besar-seorang-ulama-terkemuka.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SWLRPVOiN9I/AAAAAAAAAVo/T4wS0vtOGyw/s72-c/risalahhh.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1404256214878013963</guid><pubDate>Mon, 11 Aug 2008 02:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-11T09:44:51.651+07:00</atom:updated><title>Wow, Ini Makkah atau Dubai?</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SJ-nWjDbFpI/AAAAAAAAAPA/xaFig5ZiGsk/s1600-h/ka%27bah+2010.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5233085297836365458" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SJ-nWjDbFpI/AAAAAAAAAPA/xaFig5ZiGsk/s400/ka%27bah+2010.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Ketika berumrah di akhir bulan Juni 2008 yang lalu, dan begitu penulis sedang menuju Masjid Al-Haram, ada suatu pemandangan yang cukup menarik bagi saya: bangunan-bangunan yang terletak dari Suq Al-Lail (orang Indonesia lebih megenalnya dengan sebutan Pasar Seng) hingga Jabal ‘Umar telah bertumbangan. Ada yang bilang, sekitar 900 bangunan telah diruntuhkan. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Saat itu sendiri, di sana-sini terlihat truk-truk yang membawa puing-puing bangunan hilir mudik di sekitar lokasi itu. Tak ayal lagi, Kota Makkah di musim panas itu kian “membara” dan “berdebu”. Tak aneh, bila seorang pembimbing jamaah umrah yang telah berusia sekitar 60 tahun, begitu pulang dari berumrah langsung jatuh sakit dan ternyata terkena bronchitis. Memang, dalam kondisi dan situasi Kota Makkah yang sedang mulai membangun itu, membuat kota itu terasa tak nyaman. Belum lagi jumlah hotel-hotel pun kian menciut. Akibatnya, tentu dapat diperkirakan. Pasokan hotel pun di Makkah pun kian menciut. Belum lagi suasana kekhusukan beribadah juga terganggu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Itu suasana di musim panas di akhir bulan Juni yang lalu. Untuk musim haji nanti, tentu situasi dan kondisinya akan kian seru lagi. Bagaimana tidak? Dengan “sikon” Kota Makkah yang demikian, diperkirakan para jamaah haji regular Indonesia akan menempati pemukiman-pemukiman dengan jarak paling dekat sekitar dua kilometer dari Masjid Al-Haram. Di satu sisi, “sikon” itu tentu semakin memberatkan para jamaah. Di sisi lain, beban yang ditanggung Masjid Al-Haram pun kian berat. Mengapa? Karena dengan jarak demikian, tentu para jamaah akan semakin lama “ngendon” di Masjid itu, untuk menghemat energi pulang-balik ke pemukiman yang jaraknya jauh. Dengan “sikon” yang demikian, Masjid Al-Haram pun semakian padat sepanjang waktu. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;“Sikon” yang demikian itu diperkirakan akan berlangsung sekitar 3 hingga 5 tahun ke depan. Karena itu, jamaah yang berumrah maupun berhaji pada tahun-tahun itu hendaknya mempersiapkan diri menghadapi “sikon” yang kurang nyaman itu. Terutama bagi jamaah haji yang telah lanjut usia. Penyakit akibat debu yang gentayangan itu harus diantisipasi dengan baik. &lt;/div&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah rancangan Kota Makkah ke depan dengan adanya penghancuran bangunan-bangunan itu? Nah, di foto di samping dapat Anda saksikan gambar “KOTA MAKKAH MASA DEPAN” seperti yang ditampilkan oleh beberapa pihak. Ketika melihat gambar itu, seorang teman sampai berteriak, “Wow, ini Makkah atau Dubai?” &lt;em&gt;Wallahu a’lam bi al-shawab.&lt;/em&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1404256214878013963?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2008/08/wow-ini-makkah-atau-dubai.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/SJ-nWjDbFpI/AAAAAAAAAPA/xaFig5ZiGsk/s72-c/ka%27bah+2010.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-5357394703093369905</guid><pubDate>Fri, 01 Aug 2008 06:41:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-08-01T13:54:32.411+07:00</atom:updated><title>Tidak Inginkah Anda Ikut Berbagi Kebaikan dan Ilmu Pengetahuan?</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SJKxRCkGBRI/AAAAAAAAAOw/P-zvDE5XypA/s1600-h/100_9650.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229437023634720018" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SJKxRCkGBRI/AAAAAAAAAOw/P-zvDE5XypA/s320/100_9650.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;“Kataba!”, “madiha!, “alima!”, “nafisa!” dan banyak kosakata Arab lain kemarin sore diucapkan dengan penuh semangat oleh sekitar 35 anak-anak yang sedang belajar Al-Qur’an di rumah kami. Ya, itulah kegiatan saya dan istri sejak sekitar dua setengah bulan lalu: memantau para ustadz dan ustadzah yang sedang mengajarkan Al-Qur’an dengan Metode Qira’ati. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan ketika setiap sore, antara pukul 15.30-17-15 melihat dan mengawasi anak-anak yang sedang mengikuti pendidikan di Taman Pendidikan Al-Qur’an NUN LEARNING CENTER yang kami dirikan di Baleendah, Kabupaten Bandung. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;Ketika melihat anak-anak sedang mengaji dengan penuh semangat, entah mengapa bayang-bayang masa kecil dan muda acap menyeruak kembali. Melihat mereka, kenangan ketika saya sedang mengaji di bawah bimbingan ayahanda, K.H. A.Z. Dahlan. kemudian di bawah bimbingan seorang paman di Cepu, dan kemudian kenangan ketika sedang mengaji di bawah bimbingan K.H. Abu Ammar (alm.), Kudus, dan K.H. Ali Maksum (alm.), Yogyakarta muncul kembali. Kadang, muncul pula kenangan ketika tinggal di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, dan tinggal segotakan bersama Gus Adib (alm.), adik Gus Mus, dan seorang paman yang sejak 1986 hingga kini menetap di Syracuse, Amerika Serikat, juga kenangan ketika sedang menimba ilmu di Mesir. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp2.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SJKxv-crnNI/AAAAAAAAAO4/vzn7ZLwMoUk/s1600-h/100_9698.JPG"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229437555105832146" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp2.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SJKxv-crnNI/AAAAAAAAAO4/vzn7ZLwMoUk/s320/100_9698.JPG" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Memang, sejak tiga bulan yang lalu, kami lebih banyak tinggal di daerah, meninggalkan rumah yang telah kami tinggali sejak 1990 di Sukajadi, Kodya Bandung. Perpindahan ini tak lepas dari keinginan dari istri yang ingin mengisi masa tua dengan kegiatan yang lebih banyak bercorak ukhrawi. Dan, kegiatan yang kami pilih adalah membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an. Saya sendiri merasa, ini adalah pilihan yang paling tepat. Sebagai cucu seorang kiai yang hafizh Al-Qur’an dan membuka pesantren yang mengajarkan Al-Quran, di samping pernah mengaji di sebuah pesantren yang juga mengajarkan Al-Qur’an dan tafsirnya: Pesantren Krapyak, Yogyakarta, kegiatan itu sejatinya tak jauh dari kegiatan yang pernah saya ikuti ketika kecil dan muda. Dan, alhamdulillah, pada 30 Juli 2008 M, yang bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1429 M, bertepatan dengan Peristiwa Isra’ dan Mi’raj, lembaga yang kami dirikan, yaitu NUN LEARNING CENTER, diresmikan. &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Selain Taman Pendidikan Al-Qur’an yang kini telah memiliki murid sekitar 50 anak, alhamdulillah pada hari itu pula lembaga itu kami lengkapi dengan sebuah Taman Bacaan untuk anak-anak dari usia sekitar 4 tahun hingga 14 tahun. Harapan kami, dengan dilengkapinya Taman Pendidikan Al-Qur’an itu dengan sebuah taman bacaan yang menyediakan pelbagai buku agama, ilmu pengetahuan, dan pelbagai buku penambah wawasan yang bersifat popular, harapan kami akan tumbuh sebuah generasi yang cerdas, berwawasan luas, dan berakhlak mulia. Mungkin, ini dambaan yang terlalu muluk. Tapi, bila hal itu tidak kita mulai, kapan akan lahir generasi yang demikian? &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;Harapan kami, lewat tulisan di blog ini, para pembaca budiman juga ikut serta bersama kami berbagi kebaikan dan ilmu pengetahuan kepada mereka. Tentu kami akan sangat bahagia, bila ajakan ini mendapat sambutan dari para pembaca. Yang kami harapkan hanyalah: kirimkanlah buku-buku yang bermanfaat untuk anak-anak dengan usia tersebut kepada kami: Ahmad Rofi’ Usmani, Jl Sukagalih 109, Sukajadi, Bandung, 40162, atau Taman Bacaan NUN LEARNING CENTER, Jl. Rd. T. Endung Surya I, RT 01 RW 16, Baleendah, Kabupaten Bandung, Telp. 022-5946489. Kiranya Allah Swt. membalas  amal Anda dalam berbagi kebaikan dan ilmu pengetahuan tersebut. &lt;em&gt;Jazâkumullâh Ahsanal Jazâ’. Amîn&lt;/em&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-5357394703093369905?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2008/08/tidak-inginkah-anda-ikut-berbagi.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp2.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SJKxRCkGBRI/AAAAAAAAAOw/P-zvDE5XypA/s72-c/100_9650.JPG' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-7146545551357700494</guid><pubDate>Thu, 10 Jul 2008 13:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-07-10T20:19:36.497+07:00</atom:updated><title>Muhammad Sang Kekasih</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://bp3.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SHYMRPT7eYI/AAAAAAAAAOg/3_quz6_letE/s1600-h/MuhammadSangKekasih_FULL.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5221374308290099586" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://bp3.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SHYMRPT7eYI/AAAAAAAAAOg/3_quz6_letE/s400/MuhammadSangKekasih_FULL.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Madinah, dini hari Rabu, 2 Juli 2008. Dengan hati yang sangat bahagia, penulis meninggalkan lobi Movenpick Hotel, Madinah. Perasaan campur aduk memenuhi relung hati dan benak penulis. Dengan perasaan sangat bersyukur kepada Allah Swt., yang lagi-lagi telah memberi kesempatan kembali kepada penulis untuk berziarahah ke Kota Nabi, penulis melintasi pelataran belakang Masjid Nabawi. Penulis tak tahu, skenario apa yang sedang digoreskan Sang Khalik, hingga Dia menganugerahkan karunia tak ternilai ini.&lt;br /&gt;Anugerah tak ternilai? Ya, selepas tiba kembali di Tanah Air dari naik haji pada Desember 2007, seperti penulis kemukakan dalam sebuah tulisan dalam blog ini, seluruh energi penulis curahkan untuk menyusun sebuah karya tentang biografi Rasulullah Saw. Rasanya, penulis tak pernah merasa begitu bersemangat seperti halnya ketika menulis karya yang satu ini. Siang dan malam energi penulis tersedot untuk merampungkan penulisan karya itu. Alhamdulillah, penulisan karya itu akhirnya usai pada pertengahan April 2008. Namun, seusai merampungkan penulisan karya itu, energi penulis untuk menulis seakan sirna sama sekali. Sehingga, menulis sebuah tulisan untuk blog ini pun tak kuasa.&lt;br /&gt;Penulis sendiri tak tahu, skenario apa yang sedang digoreskan Allah Swt., Kang Rustam Sumarna, Direktur KhalifahTour, sebuah biro perjalanan umrah dan haji di Bandung, tiba-tiba menawarkan kepada penulis untuk berangkat menunaikan ibadah umrah dan pergi ke Mesir selama 12 hari, dari 26 Juni hingga 7 Juli 2008. Subhânallâh, Allah kuasa atas segala sesuatu.&lt;br /&gt;Begitu memasuki Raudhah, penulis ungkapkan rasa syukur tak terhingga kepada-Nya. Betapa besar anugerah yang Dia karuniakan kepada penulis yang dhaif ini. Kemudian, selepas menunaikan ibadah shalat subuh, segera penulis melintasi lorong di depan makam Rasulullah Saw. Gembira, bahagia, puas, dan khawatir (melakukan banyak kesalahan dan kealpaan dalam menyusun karya tentang biografi beliau yang akan terbit sekitar akhir Juli 2008 itu) berpadu menjadi satu. Ketika tepat berada di depan makam beliau, penulis pun bergumam, “Shalawat dan salam untukmu, wahai Rasul. Hanya inilah yang dapat kulakukan dalam menyusun biografimu. Ampunan dari Allah dan maaf darimu kuharapkan, bila dalam menulis karya itu banyak terdapat kesalahan, keteledoran, kealpaan, dan kekeliruan. Kiranya karya itu bermanfaat bagi umatmu. Amiin.”&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-7146545551357700494?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2008/07/muhammad-sang-kekasih.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://bp3.blogger.com/_9Z_8EblFA6w/SHYMRPT7eYI/AAAAAAAAAOg/3_quz6_letE/s72-c/MuhammadSangKekasih_FULL.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-5498285410588731068</guid><pubDate>Wed, 12 Mar 2008 05:54:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-03-12T13:01:22.517+07:00</atom:updated><title>Menapak Tilas Hijrah Rasul Saw.</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/R9dxjAI-c8I/AAAAAAAAAOY/WDVBnOfR41I/s1600-h/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+105.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5176731142832681922" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/R9dxjAI-c8I/AAAAAAAAAOY/WDVBnOfR41I/s320/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+105.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua hari selepas mengunjungi Gua Hira’, tepatnya pada Jumat, 28 Dzulqa‘dah 1428 H/7 Desember 2007 M, penulis melanjutkan perjalanan menuju Madinah Al-Munawwarah. Ketika bus yang penulis naiki bergerak pelan meninggalkan sebuah hotel yang terletak di depan Pintu Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz, dan kemudian menelusuri pelbagai sudut Kota Makkah serta kemudian melesat menuju Madinah yang berjarak sekitar 450 kilometer dari kota kelahiran Rasul Saw., tiba-tiba pikiran penulis melayang-layang ke masa silam, lima belas abad silam: ketika Rasulullah Saw. berhijrah ke Bumi Thaibah bersama Abu Bakar Al-Shiddiq.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti diketahui Rasulullah Saw., ketika menjelang berhijrah, tak tahan melihat penderitaan para pengikutnya di Makkah. Beliau lantas menyuruh mereka mengungsi ke Habasyah, lalu ke Yatsrib. Sedangkan beliau tetap bertahan di Makkah. Ternyata, kaum Muslim Makkah diterima dengan baik di Yatsrib (Madinah) dan Islam berkembang pesat di sana. Selepas itu, beliau menerima perintah Allah Swt. untuk menyusul para pengikutnya di sana. Maka, berakhirlah fase pertama sejarah penyampaian risalah beliau, setelah tidak kurang dari tiga belas tahun lamanya meretas perjuangan berat untuk menegakkan agama Allah di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Islam mencatat, beberapa hari menjelang Peristiwa Hijrah, tepatnya pada Kamis, 26 Shafar tahun ke-13 kenabian/12 September 622 M beberapa tokoh dan pemuka kaum musyrik Makkah mengadakan pertemuan di Dâr Al-Nadwah. Mereka akhirnya sepakat akan menghabisi nyawa Rasulullah Saw. secara bersama. Begitu mengetahui rencana mereka-melalui wahyu Allah Swt.-beliau kemudian meninggalkan Kota Suci itu bersama Abu Bakar Al-Shiddiq dan bersembunyi di Gua Tsaur. Sejatinya, beliau berat meninggalkan kota kelahirannya. Sebab, meski beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan kesucian yang tak tertandingi, tapi beliau tetap mencintai kota kelahirannya. Hijrah tersebut terpaksa beliau lakukan, karena mayoritas masyarakat Makkah kala itu tidak mau menerima ajaran Allah yang disampaikan beliau. Mereka menolak karena tidak mengerti atau karena membenci beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di hari keempat, selepas meninggalkan Makkah, mereka berdua keluar dari Gua Tsaur dan membayar seseorang yang dapat dipercaya, ‘Abdullah bin Uraiqath, sebagai penunjuk jalan menuju Madinah. Mereka hanya berjalan pada malam hari dan istirahat pada siang hari serta menghindari jalan umum ke Madinah. Meski sudah sangat berhati-hati, jejak mereka akhirnya tetap berhasil tertangkap oleh Suraqah bin Malik, seorang anak muda bertubuh kekar dan kuat yang sangat tergiur untuk mendapatkan hadiah besar seratus unta. Ketika ia mendekati Rasulullah Saw., tiba-tiba kudanya tersandung, sehingga ia terjatuh. Namun, ia meloncat lagi ke punggung kudanya, meneruskan pengejaran. Tetapi, kuda yang dinaikinya kembali terantuk batu. Meski begitu, ia tidak putus asa. Malah, ia memasang busur dan anak panah, hendak membidik Rasulullah Saw. Tiba-tiba, kudanya kembali tersandung untuk ketiga kalinya. Bahkan, kaki kudanya tenggelam ke dalam pasir, sehingga ia terlempar jauh. Kata hatinya memaksa dirinya menghentikan niat buruknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suraqah bin Malik lantas membuang panahnya dan mendekati Rasulullah Saw. untuk memohon maaf. Nabi yang penuh kasih itu pun segera memaafkannya seraya tersenyum dan mendoakan selamat atas sang pemburu hadiah besar tersebut. Suraqah kemudian menuturkan kepada beliau apa saja yang dilakukan kaum musyrik Quraisy. Selain itu, ia juga menawarkan perbekalan dan harta kepada beliau. Namun, beliau tidak mempedulikan tawaran itu. Beliau tidak minta apa-apa kepadanya selain hanya memintanya untuk merahasiakan perjalanan beliau. Selepas itu, beliau melanjutkan perjalanannya menuju Yatsrib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika berhijrah ini sendiri, Rasulullah Saw. tidak melintasi jalur Makkah-Madinah. Tetapi, beliau mengambil jalur melingkari tepi Pantai Laut Merah atau jalur Jeddah-Madinah (Kota Makkah-Gua Tsur-Hudaibiyyah-‘Usfan-Amaj-Qudaid-Rabigh Al-Raml-Al-Jadadid-Al-‘Arj-Bi’r Aris-Quba’-Madinah) dan lebih banyak berjalan di malam hari. Hal ini dilakukan untuk menghindar dari kejaran kaum musyrik Quraisy. Perjalanan antara Makkah-Madinah ketika itu beliau tempuh selama sepuluh malam. Terbayang oleh penulis betapa berat dan membosankan perjalanan itu: perjalanan selama sepuluh malam kelam tanpa bertemu siapa-siapa di gurun pasir gersang nan kerontang, sementara hati penuh kekhawatiran tertangkap lawan! Apalagi perjalanan itu dilakukan pada September, masih musim panas, yang tentu pada siang harinya terik matahari amat membakar mereka. Tak mengherankan jika tak lama setibanya di Yatsrib, Abu Bakar Al-Shiddiq, seorang sahabat yang menyertai beliau dalam perjalanan itu, jatuh sakit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas melakukan perjalanan selama sepuluh malam, tepatnya pada Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 Hijriah. kala terik matahari di musim panas di penggal terakhir bulan September 622 M tengah menghajar dengan ganasnya serta ketika para tuan rumah dari kalangan Anshar itu hampir putus harapan dan menapakkan kaki menuju rumah mereka masing-masing, Rasulullah Saw. tiba di Desa Quba’, kala itu sebuah desa kecil di luar Yatsrib. Di desa itu beliau sempat mendirikan sebuah masjid. Masjid itu terletak di kaki bukit dengan telaga yang mengalirkan air bening yang menyuburkan pepohonan dan kebun-kebun di sekitarnya. Bentuk masjid itu, kala itu, masih sangat sederhana, terdiri dari satu ruangan bersegi empat, memiliki atap di bagian mihrab, di sekelilingnya berdinding, dan di tengah-tengahnya terdapat lapangan terbuka yang kelak disebut shahn.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari kemudian, tepatnya pada Jumat, 16 Rabi‘ Al-Awwal 1 Hijriah, Rasulullah Saw. dan sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, menapakkan kaki memasuki Yatsrib. Kedatangan beliau tersebut pun disambut dengan gema takbir penuh takzim dan senandung penuh pujian yang mengumandang di seluruh penjuru kota itu. Hari itu Yatsrib, yang kemudian disebut Madinah, benar-benar dalam suasana pesta gembira, walau kala itu sebagian besar warga kota itu sejatinya belum pernah melihat beliau secara langsung. Dan, di siang hari itu, beliau Rasul memerintahkan rombongan yang menyertainya berhenti di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya, dan akhirnya ketika tiba di dekat lahan milik Abu Ayyub Al-Anshari, unta beliau berlutut tepat di depan rumah Abu Ayyub di atas lahan kosong milik dua anak yatim, Sahl dan Suhail, tempat tegaknya Masjid Nabawi dewasa ini. Abu Ayyub tentu sangat gembira, suka cita, dan bahagia. Untuk menghormati beliau, ia mempersilakan beliau tinggal di lantai atas rumahnya yang bertingkat dua. Tetapi, beliau memilih tinggal di lantai bawah, untuk memudahkan para tamu menemui beliau. Abu Ayyub menyediakan segala keperluan beliau yang tinggal di rumahnya selama sekitar satu bulan. Selepas itu, beliau pindah ke rumah beliau sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan hijrah Rasulullah Saw. ini, menurut Tarik Ramadan dalam karyanya In &lt;em&gt;the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad&lt;/em&gt;, memberikan pengajaran dan pelajaran yang menarik. Pertama, sikap berserah diri kepada Allah Swt. yang menuntut keterlepasan dari ketergantungan terhadap manusia tanpa kesombongan dan juga pengakuan yang tulus akan ketergantungan mutlak kepada-Nya. Kedua, hijrah pada dasarnya merupakan realitas yang harus dihadapi orang-orang beriman yang tidak memiliki kebebasan untuk mempraktikkan keyakinan mereka dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan secara baik demi keyakinan mereka. Ketiga, hijrah merupakan pengalaman tentang pembebasan, baik secara historis maupun spiritual. Keempat, hijrah merupakan pengasingan kesadaran dan hati manusia dari tuhan-tuhan palsu, dari keterasingan segala sesuatu, dari kejahatan dan dosa. &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-5498285410588731068?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2008/03/menapak-tilas-hijrah-rasul-saw.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/R9dxjAI-c8I/AAAAAAAAAOY/WDVBnOfR41I/s72-c/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+105.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item><item><guid isPermaLink='false'>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8953842760811790783</guid><pubDate>Mon, 25 Feb 2008 00:14:00 +0000</pubDate><atom:updated>2008-02-25T07:19:21.972+07:00</atom:updated><title>Bersama Rasul Saw. di Gua Hira'</title><description>&lt;div align="justify"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/R8IJa66nNlI/AAAAAAAAAOA/25NQXWyDXzs/s1600-h/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+085.jpg"&gt;&lt;img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5170705680271095378" style="FLOAT: left; MARGIN: 0px 10px 10px 0px; CURSOR: hand" alt="" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/R8IJa66nNlI/AAAAAAAAAOA/25NQXWyDXzs/s320/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+085.jpg" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Dua hari selepas mengunjungi Maulid Al-Nabiy, penulis berkesempatan berziarah ke Gua Hira’. Gua yang terletak di Bukit Hira’ yang juga disebut Gunung Cahaya (Jabal Nûr) ini, seperti diketahui, terletak sekitar lima kilometer dari Masjid Al-Haram. Di gua inilah Rasulullah Saw., sebelum diangkat sebagai utusan Allah Swt., menyingkir dari keriuhrendahan kehidupan ramai di Kota Makkah kala itu. Kadang, beliau tinggal di sana selama satu bulan, lebih-lebih pada bulan Ramadhan. Hal yang demikian itu beliau lakukan selama sekitar tujuh tahun. Enam bulan terakhir beliau meningkatkan frekuensi kunjungannya ke gua itu. Peristiwa ini sendiri menandai dimulainya suatu karya kenabian, dengan diterimanya wahyu pertama dari Allah Swt. pada hari Senin, 17 Ramadhan yang bertepatan dengan 6 Agustus 610 M (menurut Ibn Sa‘d dalam karyanya Al-Thabaqât Al-Kubrâ), kala beliau sedang khusuk bertafakkur, “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah saat penobatan Muhammad bin ‘Abdullah sebagai Nabi Allah. Saat menerima pengangkatan menjadi Nabi ini, usia beliau mencapai 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun Bulan (Qamariyyah) atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun Matahari (Syamsiyyah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sini timbul pertanyaan: mengapa Rasulullah Saw. bertahannuts (menyendiri, merenung, dan beribadah) di Gua Hira’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas utama kenabian yang dipikul Rasulullah Saw., seperti diketahui, adalah untuk mengantarkan masyarakat menuju cita ideal yang dikehendaki Allah Swt. Tindakan menyendiri ke tempat yang sepi dan terpisah dari riuh rendah kehidupan masyarakat ramai tersebut sejatinya adalah sebagai persiapan untuk menerima dan melaksanakan tugas besar tersebut. Sebab, setiap tindakan besar yang hendak mengubah dan membentuk dunia sulit terjadi jika tidak ada seorang “agen” atau pribadi yang sadar dengan dua kemampuan sekaligus. Pertama, kemampuan untuk melakukan penjarakan terhadap kenyataan yang kongkrit (detachment). Dengan mengambil jarak atas kenyataan itu, seorang “agen” akan mampu melihat dunia dengan seluruh kekurangan, kelebihan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Dunia tidak bisa diubah dan diantarkan menuju kemungkinan yang lebih baik, jika seorang “agen” tenggelam sepenuhnya dalam kepenuhan dunia itu sendiri. Kedua, kemampuan untuk terlibat kembali selepas momen penjarakan dilakukan beberapa saat (reattachment). Saat pengambilan jarak, atau dalam kasus Rasulullah Saw. disebut tahannuts, hanyalah situasi sementara agar seorang “agen” bisa berada di “luar” dunia. Saat terpenting justru berada kembali di “dalam” dunia untuk mengubah dan mentransformasikannya sesuai “gambar” yang dikehendaki seorang agen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Ghazali, dalam karyanya Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, dalam komentarnya tentang jalan yang ditempuh Rasulullah Saw. ketika bertahannuts di Gua Hira’, menulis, “Manfaat pertama (dari bertahannuts) adalah pemusatan diri dalam beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi. Inilah yang disebut kekosongan. Padahal, tiada kekosongan dalam bergaul serta mengisolasi diri. Mengisolasi diri jelas lebih baik. Malah, Rasulullah Saw., pada permulaan kenabian beliau, hidup menyendiri di Gua Hira’ serta mengisolasi diri, sehingga cahaya kenabian dalam diri beliau menjadi kuat. Ketika itu para makhluk tak kan kuasa menghalangi beliau dari Allah. Sebab, meski tubuh beliau beserta para makhluk, namun kalbu beliau senantiasa menghadap Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lain yang mungkin timbul: mengapa Rasulullah Saw. memilih Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts, bukan tempat-tempat lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Hira’, seperti diketahui, adalah sebuah gua yang terletak di sebelah timur Masjid Al-Haram dan di puncak Jabal Nur. Tingginya dari permukaan laut sekitar 621 meter dan sekitar 281 meter dari permukaan tanah. Untuk mendaki sampai ke gua itu diperlukan waktu kurang lebih satu jam. Gua itu sendiri tidak terlalu besar dan pintunya menghadap ke arah utara. Panjang gua tersebut hanya tiga meter, sedangkan lebarnya sekitar 1.30 meter, dengan ketinggian sekitar dua meter. Dengan kata lain, luas gua yang satu ini hanya cukup untuk shalat dua orang, sedangkan di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup untuk digunakan shalat untuk shalat dalam keadaan duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Gua Hira’ yang demikian itu jelas merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Rasulullah Saw. untuk bertahannuts. Suasana yang tenang, jauh dari keriuhan Kota Makkah kala itu, dengan jumlah warganya sekitar 5.000 orang, pandangan yang terbuka ke tempat-tempat di bawahnya, terutama pandangan ke arah Masjid Al-Haram, dan pandangan ke padang pasir luas dan langit nan seakan tanpa batas, dapat dibayangkan dapat memberikan kesempatan bagi beliau untuk “beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi” seperti dikemukakan Al-Ghazali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. sendiri, yang kala itu merupakan warga Kampung Qusyairiyyah, tentu telah mempertimbangkan matang pemilihan Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts. Beliau tentu telah memperbincangkan tempat itu dengan istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid. Malah istri teladan beliau tersebut, di malam yang pekat, pernah beberapa kali mengunjungi Rasul Saw. ketika beliau sedang berada di Gua yang tak semua orang kuasa melakukannya itu, dengan menyusuri batu cadas dan kerikil, dengan tujuan agar dapat melayani sang suami tercinta dengan baik. Luar biasa. Istri yang pengusaha besar mana yang dengan tulus dan ikhlas mau melakukan seperti yang dilakukan Khadijah binti Khuwailid itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain ada yang menyatakan, Gua Hira’ adalah sebuah masjid sebelum Islam. Prof. Dr. Husain Mu’nis, seorang pakar terkemuka sejarah Islam asal Mesir, misalnya dalam karyanya Al-Masâjid menulis, “Pada umumnya para penulis memulai sejarah masjid dari Masjid Al-Haram, yaitu Rumah Allah pertama yang didirikan untuk umat manusia. Selain itu, masjid tersebut juga sebagai kiblat Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi yang menganut agama yang hanîf, dan masjid di mana untuk pertama kalinya Rasulullah Saw. melaksanakan shalat. Namun, semestinya kita merujukkan masjid ke Gua Hira’. Gua itulah sejatinya, tak pelak lagi, masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di Gua itu pulalah Rasul Saw. melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu. Demikian halnya di Gua itu pulalah ayat-ayat pertama Al-Quran, lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq, turun. Selain itu, Gua Hira’ juga semestinya dipandang sebagai masjid, meski kehadirannya mendahului masa masjid-masjid. Andaikan tidak tepat untuk dikatakan bahwa Rasul Saw. telah bersujud di Gua tersebut, selayaknya Gua tersebut dapat dikatakan sebagai tempat sembahyang. Seperti diketahui, masjid dapat disebut sebagai tempat sembahyang, seperti halnya pula dapat disebut sebagai tempat ruku‘. Namun, istilah masjidlah yang lebih acap dipakai.” &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8953842760811790783?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</description><link>http://arofiusmani.blogspot.com/2008/02/bersama-rasul-saw-di-gua-hira.html</link><author>noreply@blogger.com (Ahmad Rofi' Usmani)</author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/R8IJa66nNlI/AAAAAAAAAOA/25NQXWyDXzs/s72-c/Hajj+1428+H+(2+-+24+Desember+2007)+085.jpg' height='72' width='72'/><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></item></channel></rss>