<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686</id><updated>2011-12-14T18:14:42.958+07:00</updated><category term='Tokoh'/><category term='Refleksi'/><title type='text'>AHMAD ROFI' USMANI's INSIGHT!</title><subtitle type='html'>An Inspiring, Motivating and Enlightening eDiary of an Indonesian Muslim</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>142</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2748262998835552065</id><published>2011-12-14T05:58:00.002+07:00</published><updated>2011-12-14T06:02:45.919+07:00</updated><title type='text'>Catatan Perjalanan Hidup: 33 Tahun yang Silam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-PbGfmOqhfJI/TufZZveB4gI/AAAAAAAAApg/HJWsCA9wkdc/s1600/umrah%252Bkairojuli09%2B239.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-PbGfmOqhfJI/TufZZveB4gI/AAAAAAAAApg/HJWsCA9wkdc/s400/umrah%252Bkairojuli09%2B239.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5685752090840916482" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari Ahad yang lalu, 11 Desember 2011, ketika sedang menerima sekitar 110 para ustadz dan ustadzah yang akan mendalami sebuah metode yang baik dalam mengajarkan Al-Quran, entah kenapa tiba-tiba dalam benak saya membersit pikiran, “Oh, pada hari ini, 33 tahun yang silam, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Kairo, Mesir, untuk menimba ilmu. Betapa fase kehidupan itu sangat bermakna atas perjalanan kehidupan saya selepas itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah kisah perjalanan pertama kali saya ke Kairo?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Senin, 10 Muharram 1399 H/11 Desember 1978 M, itulah hari pertama kali saya meninggalkan Kota Jeddah, selepas menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya. Juga, itulah pertama kalinya pula saya menjejakkan kaki di Kota Kairo, selepas naik pesawat terbang Royal  Air Maroc selama sekitar dua jam dari Kota Jeddah. Tanpa mengenal siapa pun. Juga, belum mengenal sama sekali tentang ibukota Mesir itu. Yang saya ketahui, Mesir adalah sebuah “ladang perburuan” ilmu. Itu saja dan tak lebih. Saya pun tidak tahu, setiba di Kairo mau menemui siapa, tinggal di mana, dan meneruskan studi di mana. Yang saya kenal hanyalah nama seseorang yang tercantum dalam sepucuk surat yang diberikan seorang paman saya. Orang itu   adalah Mas Marzuki Ali Sibromalisi (alm.), seorang putra kiai terkemuka Jakarta yang tinggal di Asrama Putra Universitas Al-Azhar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Madînah Al-Bu‘ûts Al-Islâmiyyah&lt;/span&gt;). Itu saja. Karena itu, saya pun tak pernah membayangkan akan ada seseorang yang akan menjemput saya di Cairo International Airport. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, menjelang tiba di Kota Kairo, ternyata pesawat terbang yang saya naiki  saat itu mengalami kejadian yang tidak pernah saya lupakan hingga kini. Bagaimana kisah kejadian itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak lama selepas pesawat terbang Royal Air Maroc yang saya naiki itu tinggal landas dari King ‘Abdul ‘Aziz International Airport, Jeddah pesawat terbang Boeing 727 itu dengan cepat dan gagah itu menguak relung langit biru. Sementara bila memandang bumi, tampak tergelar pemandangan Laut Merah yang kemerah-merahan membentang di antara dan membelah benua Asia-Afrika. Di sebelah barat Laut Merah itu tampak Pelabuhan Yanbu‘, dan kadang muncul kilang-kilang minyak. Tampak pula jalur jalan-jalan panjang menyobek padang pasir yang lengang. Sedangkan di sebelah timur Laut Merah itu berhamparan gurun sahara. Di dalam pesawat terbang yang sedang menuju Kota Kairo itu para penumpang kelihatan senang dan ceria dalam menikmati perjalanan. Apalagi, pelayanan para pramugara dan pramugari Royal Air Maroc cukup memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas beberapa lama mengangkasa, pesawat terbang dari Maroko itu telah berada di angkasa tinggi. Pemandangan yang tampak kini hanyalah langit biru, awan, dan bumi di kejauhan. Kadang, pemandangan pekat belaka yang kelihatan, bila pesawat sedang melintasi awan tebal. Selepas menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dan ketika pesawat terbang itu telah melintasi  dan memasuki wilayah Mesir serta menjelang mendekati Kota Kairo, tiba-tiba pengumuman fasten seat belt (pasang sabuk pengaman di tempat duduk) menyala. Pramugara dan pramugari pun sigap membantu para penumpang memasang sabuk pengaman. Tiba-tiba telinga terasa tuli, perut mual sekali, dan kepala berkunang-kunang. Para penumpang yang sebelumnya tampak gembira, kini menampakkan wajah yang berbeda. Ada yang berdoa, ada yang terpaku diam, dan ada yang berwajah pucat pasi. Terasa sekali ketika itu Tuhan hadir dalam pesawat terbang. Kala itu, pesawat terbang terasa meluncur cepat sekali. Mungkin, pesawat itu terjerembab dalam ruang hampa udara. Belum lagi selesai meluncur, tiba-tiba pesawat terhempas keras sekali. Cuaca mendekati Kota Kairo kala itu benar-benar tak bersahabat. Musim dingin di bulan Desember dengan badai sedang menghantui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hampir setengah jam lamanya pesawat terbang tersebut bermain akrobat. Laksana sabut di lautan diguncang prahara. Sebentar terhempas ke sana, sebentar terbanting ke sini. Pemandangan menarik Kota Kairo, dengan piramid-piramid dan sphinx menghiasi salah satu sudutnya serta Bukit Muqaththam dengan perbentengan yang didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi di sudut lain menjadi tak menarik lagi. Yang membersit dalam benak dan kalbu saya hanyalah doa kiranya Allah Swt. melindungi. Akhirnya, pesawat itu berhasil menguak mendung tebal dan mendapat lampu hijau untuk mendarat di Cairo International Airport. Begitu pesawat menjejakkan roda-rodanya di landasan dan kemudian berhenti, para penumpang pun berpelukan gembira. Ketika telah berada di dalam gedung bandar udara, tampak wajah mereka berseri kembali. Kejadian di angkasa yang belum lama mereka alami tinggal kenangan belaka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah “sambutan meriah” yang diberikan kepada saya menjelang kedatangan saya pertama kali ke Kota Seribu Menara itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, selepas melewati pemeriksaan imigrasi dan menyelesaikan urusan bagasi, beberapa lama saya kebingungan. Ini karena, kala itu, saya tidak mengenal siapa pun di Kota Seribu Menara itu. Selepas lama merenung dan bingung, saya akhirnya mencari sebuah taksi dan meminta si sopir untuk mengantarkan saya menuju ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang terletak di 13 Aisha El Taymouria St., Garden City, yang terletak tak jauh dari pusat Kota Kairo yang ditandainya dengan Mîdân Tahrîr. Saya sendiri tidak tahu, di mana kawasan Garden City itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taksi pun segera meluncur menuju kawasan Garden City, melintasi pelbagai jalan dan bangunan yang pertama kali saya kenal, sementara hujan rintik-rintik di musim dingin di pertengahan bulan Desember sedang menyergap seluruh penjuru kota yang didirikan oleh Jauhar Al-Shiqilli itu. Tak terbayangkan oleh saya kala itu, selepas tiba di KBRI, saya mau bertemu siapa dan selepas itu mau ke mana. Semua saya serahkan kepada Allah Swt., seperti halnya ketika saya pertama kali memasuki Yogyakarta pertama kali pada 1391 H/1972 M, sebagai anak daerah, untuk menimba ilmu di Kota Gudeg itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekitar satu jam selepas menelusuri Kota Kairo dari airport, taksi tua berwarna hitam yang saya naiki itu berhenti di depan sebuah gedung megah yang bentuknya mirip istana. Begitu turun dari taksi yang segera berlalu, dengan menjinjing tas satu-satunya yang saya bawa, saya menerobos hujan rintik menuju ke pos penjagaan. Yang ada di pos penjagaan itu hanyalah dua security Mesir berkulit hitam legam berseragam hitam dan menjinjing senjata bersangkur terhunus. Suasana perang kala itu masih sangat mewarnai Kairo. Kala itu, Perjanjian Camp David belum lagi dilangsungkan. Di depan setiap bangunan, kala itu, masih di“hiasi” bunker. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan bahasa Arab baku (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;fushhah&lt;/span&gt;) dan sedikit bahasa harian (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘âmiyyah&lt;/span&gt;) ala Arab Saudi (karena belum menguasai bahasa harian Mesir), saya mencoba berkomunikasi dengan dua security Mesir tersebut. Sementara suasana di sekitar kian temaram dengan cepat, karena kala itu musim dingin sedang datang menyergap dan mendung sedang memayungi Kota Kairo. Hati pun kian gelisah dan galau, karena komunikasi dengan dua security dari Mesir Selatan itu tak berjalan lancar. Apalagi saya tak tahu, malam itu akan menginap di mana, sedangkan tubuh mulai menggigil kedinginan. Kala itu saya tak pernah berpikir untuk membawa jaket, karena sebelum itu saya belum pernah pergi ke kawasan yang mengenal empat musim. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kepasrahan kepada Allah Swt. dan kenekadan, itulah bekal saya ketika pertama kali menapakkan kaki di Kota Kairo. Saya memang datang ke kota  yang sedang disergap musim dingin ini sebagai “penerjun bebas”, sebuah istilah yang dikenakan bagi mahasiswa Indonesia yang datang ke Kairo tanpa beasiswa. Saya datang ke kota ini karena merasa tidak berhasrat menimba ilmu di Arab  Saudi. Apalagi, sejak berangkat dari Tanah Air memang saya tidak berniat akan “memburu” ilmu di Timur Tengah. Yang terpikir oleh saya kala itu, selepas naik haji saya akan kembali ke Tanah Air dan kemudian mencari pekerjaan. Karena itu, saya “melarikan diri” ke Mesir hanya dengan sebuah tekad, saya harus dapat menaklukkan kota yang satu ini dengan segala kesulitannya, kepahitannya, keindahannya, keceriaannya, dan khazanah ilmiahnya yang kaya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya, Allah Swt. masih mencintai saya yang saat itu benar-benar galau dan gelisah. Tidak lama kemudian, seorang pria bercelana hitam dan berbaju putih dengan tubuh jangkung, hidung mancung, dan wajah dihiasi senyum serta berpayung mendekat. Begitu dekat, orang itu segera menyapa saya dengan ramah dan santun, “Anda siapa dan dari mana? Kenapa sore dan hujan begini masih ada di sini?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Subhânallâh&lt;/span&gt;, betapa gembira dan damai hati saya begitu tahu orang itu tak lain adalah Prof. Dr. Fuad Hassan (alm.), seorang guru besar di bidang psikologi Universitas Indonesia yang kala itu sedang menjabat Duta Besar Indonesia di Kairo. Wajah dubes kelahiran Semarang pada Rabu, 18 Muharram 1348 H/26 Juni 1929 M itu sebelumnya telah saya kenal dari beberapa buku beliau yang pernah saya baca. Segera saja kami pun terlibat dalam perbincangan lama di pos keamanan. Karena kemudian tahu saya berasal dari Jawa Tengah, kemudian dubes yang gemar menggesek biola dan bermain biliar itu menelpon seseorang dan memerintahkan seorang sopir KBRI untuk mengantarkan saya ke flat seorang pegawai lokal KBRI yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Segera sebuah mobil KBRI membawa saya menuju ke ‘Abdullah Sharqawi St., Manial Raudhah, Kairo, untuk “menitipkan” saya kepada keluarga Mas Ahmad Zabidi (alm). Dan, selepas itu, ternyata selama enam tahun kemudian saya tidak pernah pindah dari distrik tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian demi kejadian yang saya alami itu kian menanamkan keyakinan dalam diri saya, manusia hanya kuasa berikhtiar dan Allah Swt. kuasa atas segala sesuatu. Di samping itu, dalam hidup kadang diperlukan kenekadan dan keberanian mengambil keputusan yang berisiko tinggi. Yang tak kalah penting, menurut saya, adalah doa orang tua. Mengapa? Mungkin, karena doa dan keinginan Ibunda saya yang sangat kuat agar saya menimba ilmu kembali, tak lebih dari sebulan setiba di Kairo, saya telah diterima sebagai mahasiswa di dua universitas sekaligus: Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo. Ya, dua universitas sekaligus. Ini karena saya mengajukan dua ijazah: untuk Universitas Al-Azhar saya mengajukan ijazah sarjana muda dan untuk Universitas Kairo saya mengajukan ijazah sarjana penuh. Ternyata, pengajuan saya diterima oleh kedua universitas tersebut.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2748262998835552065?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2748262998835552065/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2748262998835552065&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2748262998835552065'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2748262998835552065'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/12/catatan-perjalanan-hidup-33-tahun-yang.html' title='Catatan Perjalanan Hidup: 33 Tahun yang Silam'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PbGfmOqhfJI/TufZZveB4gI/AAAAAAAAApg/HJWsCA9wkdc/s72-c/umrah%252Bkairojuli09%2B239.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8273699385750791786</id><published>2011-11-26T07:52:00.003+07:00</published><updated>2011-11-26T07:57:43.015+07:00</updated><title type='text'>1433 Tahun yang Lalu</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-6nQU1kRH0xM/TtA5PdETUlI/AAAAAAAAApU/6-9hejcQXvc/s1600/umrah-turkijuni2011%2B283.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-6nQU1kRH0xM/TtA5PdETUlI/AAAAAAAAApU/6-9hejcQXvc/s400/umrah-turkijuni2011%2B283.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5679102067777688146" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u&lt;br /&gt;A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu&lt;br /&gt;Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u&lt;br /&gt;Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahî&lt;br /&gt;Wa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lahir Sang Nabi, pembawa petunjuk nan cemerlang &lt;br /&gt;Semesta alam pun berpendar sangat benderang &lt;br /&gt;Mulut zaman tiada henti dan senantiasa menggemakan&lt;br /&gt;Senyuman, pujian, serta sanjungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibril dan para malaikat pun mengitarinya senantiasa&lt;br /&gt;Karena berita gembira ‘tuk agama dan dunia sertai kelahirannya&lt;br /&gt;‘Arasy bangga dan surga tak kalah ceria&lt;br /&gt;Sidrah Al-Muntaha dan Mutiara Putih pun berdendang ria&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ahmad Syauqi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang penyair terkemuka Mesir (1287-1351 H/1870-1932 M)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 H, kala terik matahari di musim panas di penggal terakhir (tanggal 23) bulan September 622 M tengah menyengat dengan ganasnya, Rasulullah Saw. dan sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, menapakkan kaki memasuki Desa Quba’. Kala itu, orang-orang yang menantikan kedatangan Rasulullah Saw. dengan harap-harap cemas itu telah kembali ke rumah masing-masing dengan rasa putus asa. Tidak mungkin hari ini orang yang mereka nantikan kedatangannya itu tiba di Yatsrib. Tetapi, tiba-tiba seorang Yahudi berteriak-teriak nyaring, “Wahai Bani Qa’ilah! Itu orang yang kalian nantikan kedatangannya telah tiba!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua orang menghambur dari rumah-rumah mereka. Rasulullah Saw. dan Abu Bakar Al-Shiddiq ternyata sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon kurma. Orang-orang pun berkerumun di sekeliling beliau. Sebagian besar di antara mereka tidak dapat membedakan mana Rasul Saw. dan mana Abu Bakar. Tetapi, di saat bayangan pohon kurma bergeser, Abu Bakar memayungkan jubahnya di atas kepala beliau. Kini, tahulah mereka yang mana Nabi mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Desa Quba’ itu, Rasulullah Saw. kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang selama itu dijadikan pangkalan oleh kaum Muslim Makkah yang baru tiba di Yatsrib, antara lain Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan Zaid bin Haritsah, yakni rumah Kultsum bin Hadm. Bani ‘Amr, kabilah Kultsum, adalah suku Aus. Sedangkan Abu Bakar Al-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid (yang kemudian menjadi mertua Abu Bakar), seorang Khazraj di Sunh, sebuah desa yang agak dekat dengan Yatsrib. Selepas satu atau dua hari, ‘Ali bin Abu Thalib tiba dari Makkah, dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasul Saw. Untuk mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya bagi para pemiliknya, ia memerlukan waktu selama tiga hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, semenjak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam, dan beliau sendirilah yang meletakkan batu pertama di kiblatnya, yang kemudian diikuti Abu Bakar Al-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada Jumat pagi, Rasulullah Saw. meninggalkan Quba’. Di siang hari, beliau dan para sahabat berhenti di Lembah Ranuna, di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf dari suku Khazraj, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Sebelum melaksanakan shalat bersama sekitar seratus jamaah, seusai mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., beliau berkhutbah,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amma ba‘du. Wahai kaum Muslim, hendaklah kalian berbuat kebajikan demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu mengetahui, setiap orang di antara kalian pasti akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannyya. Tuhan akan bertanya kepadanya, langsung tanpa perantara dan tiada tirai apa pun yang akan memisahkannya, ‘Apakah Utusan-Ku tak datang kepadamu untuk menyampaikan amanah-Ku? Bukankah kepadamu telah kuanugerahkan harta dan pelbagai nikmat?’Kebaikan apakah yang telah  engkau lakukan demi keselamatan dirimu sendiri?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi, ia tak melihat sesuatu. Ia kemudian melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari api neraka, walau hanya dengan sebutir buah kurma, lakukanlah! Bila tiada sesuatu apa pun yang dapat diberikan, cukuplah dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memperoleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Wassalamu‘alaikum wa ‘ala Rasulillah&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah khutbah sarat makna yang singkat, padat, dan sangat memikat! Inti khutbah itu ialah sejatinya manusia senantiasa kuasa berbuat kebaikan, dengan bersedekah dan memberi, walau ia seorang miskin. Beliau menyampaikan, seseorang kuasa menghindarkan diri dari neraka dan masuk surga walau hanya dengan sebutir buah kurma. Demikian halnya kata-kata yang baik pun juga dapat menghindarkan seseorang dari neraka dan masuk surga dalam timbangan Allah Swt. Dengan kata lain, kemampuan berbuat kebaikan dan memberi sejatinya terdapat pada diri setiap  orang. Bagaimana pun kondisinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melaksanakan shalat Jumat pertama kali dalam sejarah Islam, Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Yatsrib. Bani Al-Najjar, suku terkenal di kota itu dan merupakan kerabat beliau dari pihak Ibunda beliau, Aminah binti Wahb, datang dengan memanggul senjata untuk menyambut kedatangan beliau. Dan, ketika memasuki kota, beliau mendapat sambutan yang sangat meriah. Banyak orang berusaha menghentikan beliau dan mengajak beliau tinggal bersama mereka. Bagi beliau, tentu sulit untuk memutuskan. Karena itu, beliau membiarkan untanya melanjutkan perjalanan, dan mengatakan kepada khalayak ramai bahwa beliau akan tinggal di tempat berhentinya unta. Ketika tiba di dekat lahan milik Abu Ayyub Al-Anshari, unta beliau berlutut tepat di depan rumah Abu Ayyub di atas lahan kosong milik dua anak yatim, Sahl dan Suhail, tempat tegaknya Masjid Nabawi dewasa ini. Unta itu lantas diurus oleh As‘ad bin Zurarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ayyub Al-Anshari, tentu, sangat gembira, suka cita, dan bahagia.  Untuk menghormati beliau, ia mempersilakan beliau tinggal di lantai atas rumahnya yang bertingkat dua. Tapi, beliau memilih tinggal di lantai bawah, untuk memudahkan para tamu menemui beliau. Abu Ayyub menyediakan segala keperluan beliau yang tinggal di rumahnya selama sekitar tujuh bulan. Selepas itu, beliau pindah ke rumah beliau sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas tinggal di Yatsrib, kota itu diganti namanya menjadi “Kota Nabi” (Madînah Al-Nabiy), atau “Kota nan Cemerlang” (Al-Madînah Al-Munawwarah), Thaibah, dan Thabah.(arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8273699385750791786?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/8273699385750791786/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=8273699385750791786&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8273699385750791786'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8273699385750791786'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/11/1433-tahun-yang-lalu.html' title='1433 Tahun yang Lalu'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-6nQU1kRH0xM/TtA5PdETUlI/AAAAAAAAApU/6-9hejcQXvc/s72-c/umrah-turkijuni2011%2B283.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-9163450003045147398</id><published>2011-11-24T13:34:00.005+07:00</published><updated>2011-11-24T13:45:53.168+07:00</updated><title type='text'>Antara Cinta dan Sekat Politik</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-dc0dWN42zRU/Ts3mG23TVcI/AAAAAAAAApI/88DFapi2o64/s1600/WEDDING.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 374px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-dc0dWN42zRU/Ts3mG23TVcI/AAAAAAAAApI/88DFapi2o64/s400/WEDDING.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5678447710665135554" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa siang tadi, 24 November 2011, ketika menyimak perhelatan pernikahan antara putra dan putri dua penggede Indonesia di tivi, tiba-tiba bibir saya bergumam, “Cinta, sejak dahulu, memang kerap tidak mengenal sekat politik.” Dan, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” dan teringat kisah cinta antar dua sejoli dari latar belakang politik yang berbeda: pernikahan antara Khalid bin Yazid dengan Ramlah binti Al-Zubair. Nah, berikut kisah indah dua sejoli dari dua keluarga besar yang pernah terlibat dalam konflik politik keras dan berdarah. Selamat menikmati!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira dan  bahagia hati Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah kala itu. Orang nomor satu Dinasti Umawiyyah kala itu, ‘Abdul Malik bin Marwan, mengajaknya ikut serta naik haji bersama sejumlah besar jamaah haji dari Syam. Dan, kegembiraan dan kebahagiaannya kian sempurna manakala ia menapakkan kedua kakinya di lingkungan Masjid Al-Haram, di Makkah Al-Mukarramah, untuk menunaikan ibadah umrah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kala putra Yazid bin Mu‘awiyah bin Abu Sufyan, penguasa kedua dinasti itu, sedang bertawaf, tiba-tiba matanya beradu pandang tanpa sengaja dengan mata seorang perempuan jelita nan sangat memikat. Entah mengapa, Khalid tiba-tiba tak kuasa lagi mengendalikan gelegak hatinya. Juga, ia  tak kuasa melupakan perempuan nan rupawan itu. Namun, selepas bertawaf dan mencari tahu tentang jati diri perempuan itu, betapa kaget Khalid. Perempuan bernama Ramlah itu, ternyata, adalah saudara perempuan seorang tokoh yang sangat anti terhadap ayahandanya dan Dinasti Umawiyyah: ‘Abdullah bin Al-Zubair, dan putri pasangan suami-istri seorang sahabat terkemuka: Al-Zubair bin Al-‘Awwam dan Al-Rabbab binti Alif bin ‘Ubaid Al-Kalbi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengetahui semua itu, ternyata tak membuat gelegak cinta Khalid bin Yazid kepada Ramlah binti Al-Zubair kian mereda. Alih-alih, cintanya kian membara dan nyaris tak terkendali. Mengetahui kisah cinta Khalid tersebut, Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi, panglima Dinasti Umawiyyah kala itu,  benar-benar tak dapat menerimanya. Ia pun segera mengirim ‘Ubaidullah bin Mauhib, untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Khalid. Dalam surat itu Al-Hajjaj, antara lain, menulis, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menurut saya, tak sepatutnya engkau meminang anggota keluarga Al-Zubair bin Al-‘Awwam sebelum engkau meminta pertimbangan kepadaku. Bagaimana engkau berani meminang sebuah keluarga yang tak sepadan dengan keluargamu. Begitulah yang pernah dikatakan kakekmu, Mu‘awiyah. Mereka adalah orang-orang yang pernah menyerang kekuasaan ayahandamu, menuduhnya dengan pelbagai tindak kejahatan, dan memandang ayahanda dan kakekmu sebagai orang sesat!&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima surat demikian, Khalid bin Yazid dengan geram pun berucap kepada ‘Ubaidullah bin Mauhib, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Andai engkau bukan kurir yang memang tak boleh dijatuhi hukuman, tentu akan kupotong satu demi satu anggota tubuhmu, lantas kulempar di depan pintu rumah temanmu itu. Katakan kepada Al-Hajjaj, tak semua urusan harus diserahkan kepadanya dan dimintakan pertimbangannya. Perihal keluarga Al-Zubair yang menurutnya pernah menyerang kekuasaan ayahandaku, dan menuduhnya dengan segala kejahatan,  kukira hal itu biasa berlaku di kalangan orang-orang Quraisy. Dan, bila Allah Swt. telah menetapkan suatu kebenaran, memboikot dan menandingi mereka tergantung pada cita-cita dan keutamaan mereka. Perihal keluarga Al-Zubair yang menurutnya tak sepadan, kiranya Allah mencelakakan Al-Hajjaj. Betapa picik pengetahuannya perihal garis keturunan kaum Quraisy. Bukankah Al-Zubair bin Al-‘Awwam sepadan dengan ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, karena pernikahannya dengan Shafiyyah, dan juga karena pernikahan Rasul Saw. dengan Khadijah binti Khuwailid. Apakah ia tak melihat bahwa mereka sepadan dengan Abu Sufyan?&lt;/span&gt;” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, seusai naik haji, ketika ‘Abdul Malik bin Marwan dan jamaah yang dipimpinnya sedang bersiap-siap untuk kembali ke Damaskus, Khalid pun menemui ‘Abdul Malik bin Marwan, dengan tujuan meminta izin untuk menunda kepulangannya. Tentu saja ‘Abdul Malik bin Marwan merasa penasaran dan ingin tahu alasan Khalid yang sebenarnya. Karena itu, ia pun meminta Khalid datang untuk menemuinya dan menjelaskan maksudnya tinggal beberapa lama di Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin,” ucap Khalid bin Yazid yang tak kuasa mengelak untuk menjawab pertanyaan orang nomor satu Dinasti Umawiyyah itu. “Ketika kita tiba di Kota Suci ini dan kemudian bertawaf, entah mengapa tiba-tiba mata saya tanpa sengaja beradu pandang dengan mata seorang perempuan nan  jelita. Ternyata, perempuan itu adalah Ramlah binti Al-Zubair bin Al-‘Awwam.”&lt;br /&gt;“Oh, Ramlah binti Al-Zubair?” sahut ‘Abdul Malik bin Marwan terkejut seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukankah perempuan itu adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Al-Zubair? Bukankah saudara laki-lakinya adalah lawan politik berat ayahandamu dan kita?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai Amir Al-Mukminin,” jawab putra Yazid bin Mu‘awiyah (yang memerintahkan pasukannya untuk melibas ‘Abdullah bin Al-Zubair yang menentangnya) dengan suara pelan dan merundukkan kepala. “Perempuan jelita itu memang adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Al-Zubair. Walau demikian, kecantikan dan kepribadiannya yang menawan benar-benar membuat pikiran saya kacau tak karuan. Demi Allah, semenjak semula sejatinya saya berniat tak akan menuturkan hal ini kepada Paduka. Tapi, ternyata kesabaran saya pun ada batasnya. Mata saya telah saya paksa untuk melupakannya, tapi ia menolak dan tak mau menerimanya. Saya pun telah mencoba dengan segala cara untuk menghibur hati saya, tapi ia juga menolak.”&lt;br /&gt;“Wahai Khalid bin Yazid,” ucap sang khalifah, yang merasa heran mendengarkan penjelasan cucu pendiri Dinasti Umawiyyah yang demikian itu, seraya menarik napas panjang. “Saya tak mengira, cinta dapat menguasai diri seseorang semisal engkau ini.”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin,” jawab Khalid bin Yazid seraya merundukkan kepala. “Saya sendiri sejatinya lebih heran ketimbang Paduka. Sebab, sejak semula saya berpendapat, cinta hanya dapat menguasai dua jenis orang: para penyair dan orang-orang Badui. Adapun para penyair, ini karena pikiran mereka hanya tertuju kepada perempuan, menggambarkan keindahannya, dan merayunya. Akibatnya, watak mereka menyukai perempuan dan dengan sendirinya hati mereka gampang meyerah di hadapan sergapan cinta. Sedangkan orang-orang Badui, ketika salah seorang di antara mereka tinggal hanya berduaan dengan istrinya, tiada yang menguasai perasaannya selain hanya cintanya kepada istrinya. Juga, tiada kesibukan apa pun yang kuasa memalingkan cintanya itu. Akibatnya, hatinya tak kuasa untuk menolak cinta. Sehingga, cinta pun menguasai dirinya. Tapi, saya merasa heran, saya belum pernah melihat satu pun pandangan yang dapat menghalang-halangi diri saya dari kebulatan tekad saya dan membuat diri saya terasa mudah melakukan perbuatan dosa selain pandangan saya kali ini.”&lt;br /&gt;“Wahai Khalid,” sergah sang khalifah seraya menatap tajam cucu Mu‘awiyah bin Abu Sufyan itu. “Apakah sudah sedemikian parahnya cinta menguasai dirimu?” &lt;br /&gt;“Demi Allah, wahai Amir Al-Mukminin,” jawab Khalid bin Yazid seraya mendongakkan kepalanya dan salah tingkah, “Sebelum ini, saya tak pernah mengalami kekacauan dalam berpikir sebagaimana yang terjadi saat ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memahami “penyakit” yang sedang menyergap Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah tersebut, ‘Abdul Malik bin Marwan akhirnya memutuskan untuk meminang Ramlah binti Al-Zubair sebelum bertolak ke Damaskus. Mengetahui gelegak cinta Khalid kepadanya, Ramlah pun dengan tinggi hati menjawab, “Tidak! Demi Allah, saya tak mau menerima lamarannya sebelum Khalid bin Yazid menceraikan semua istrinya!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalid bin Yazid pun menceraikan semua istrinya. Dan, selepas melangsungkan acara pernikahan dengan Ramlah binti Al-Zubair di Makkah, ia kemudian memboyong istri nan jelita yang sangat dicintainya itu ke Damaskus, Suriah.(arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-9163450003045147398?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/9163450003045147398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=9163450003045147398&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/9163450003045147398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/9163450003045147398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/11/antara-cinta-dan-sekat-politik.html' title='Antara Cinta dan Sekat Politik'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-dc0dWN42zRU/Ts3mG23TVcI/AAAAAAAAApI/88DFapi2o64/s72-c/WEDDING.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2666697989491484228</id><published>2011-11-13T05:19:00.007+07:00</published><updated>2011-11-13T05:40:34.878+07:00</updated><title type='text'>"Turunkan Saja Dia dari Jabatannya!"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-7qWMQn--dxY/Tr7xaBBKllI/AAAAAAAAAo8/_xeRt8QAppc/s1600/CORDOBA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-7qWMQn--dxY/Tr7xaBBKllI/AAAAAAAAAo8/_xeRt8QAppc/s400/CORDOBA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5674238009785620050" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Banyak pejabat negara yang sangat perlente, hidup mewah, dan berideologi pragmatis dan hedonis,” demikian kritik seorang ketua komisi pemberantasan korupsi di Indonesia beberapa hari yang lalu. Menurut tokoh tersebut, ideologi pragmatis dan hedonis adalah akar korupsi di negeri ini. Kritik yang menarik. Ternyata, banyak pihak yang tidak senang dengan kritik yang “menyengat” tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika membaca kritik tersebut, saya teringat dengan kritik yang dikemukakan seorang hakim agung terkemuka Andalusia, Al-Mundzir bin Sa‘id Al-Baluthi, kepada seorang penguasa terkemuka kala itu, ‘Abdurrahman III Al-Nashir li Dinillah. Penguasa yang satu itu, kala itu, terkenal sebagai seorang penguasa yang lagi suka hidup bermewah-mewah dan menghambur-hamburkan kekayaan kerajaan yang dipimpinnya. Bagaimanakah sikap sang penguasa dalam menghadapi kritik yang membuat “telinganya merah” itu? Nah, berikut adalah kisah sang penguasa dalam menghadapi kritik tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membangun Kota Al-Zahra’, itulah yang dilakukan ‘Abdurrahman III Al-Nashir li Dinillah, penguasa ke-8 Dinasti Umawiyyah di Cordoba, selepas berhasil memancangkan kekuasaannya. Kota istana yang dimaksudkan sebagai tanda cinta kepada istri tercintanya, Al-Zahra’, itu terletak di sebelah  barat  Cordoba. Kota  yang setelah jatuh  kembali  ke  tangan pasukan Spanyol disebut “Cordoba la Vieja” ini dirancang di  dekat Sungai Guadalquivir dan di atas  Bukit  Siera Morina. Pembangunan kota di bawah pengawasan Al-Hakam II ini dimulai pada permulaan  Muharram  325 H/Desember 936  M,  dengan  mengerahkan tenaga  kerja  sebanyak sekitar sepuluh ribu orang  setiap  hari, berlangsung terus menerus selama dua puluh lima tahun. Lebih dari tiga ribu  hewan  dikerahkan  untuk mengangkut  pelbagai  ragam  bahan bangunan dari berbagai belahan dunia. Misalnya, marmer hijau  dan ungu  yang  didatangkan  dari  Carthago dan marmer putih  dari Almeria. Sedangkan beberapa bahan lainnya yang terbuat dari  emas dan perak didatangkan dari Suriah dan Constantinople.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota yang juga disebut dengan nama “Mahkota Pengantin  Putri” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tâj  Al-‘Arûs&lt;/span&gt;)  dan terdiri dari tiga blok ini  demikian  megah. Blok  pertama  diperuntukkan bagi istana-istana,  perumahan,  dan pasar.  Blok  kedua dikhususkan untuk taman  dan  tempat pesiar. Sedangkan blok ketiga untuk toko-toko, pemandian umum, dan tempat satuan   pengamanan.  Karena  demikian  megahnya,  tak  aneh   bila pembangunannya  tiap tahunnya menghabiskan biaya sekitar  tiga ratus ribu dinar.  Tak  mengherankan  pula  ketika  kota  ini   rampung dibangun, kota ini mampu menyediakan akomodasi ratusan kamar  dan apartemen,  di samping bangunan-bangunan lainnya, seperti  masjid dan  memungkinkan  pula ribuan pasukan pengawal tinggal  di  kota ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pembangunan kota itu ternyata membuat penguasa yang lahir di Cordoba pada Ramadhan  277  H/Desember 890 M itu pernah meninggalkan shalat Jumat di masjid sebanyak tiga kali berturut-turut. Mengetahui hal itu, Al-Mundzir bin Sa‘id Al-Baluthi, hakim agung (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;qâdhi al-qudhah&lt;/span&gt;) terkemuka Andalusia kala itu, bermaksud memberikan nasihat kepada penguasa yang lalai itu. Karena itu, suatu hari, ketika sedang menyampaikan khutbah shalat Jumat yang dihadiri ‘Abdurrahman III Al-Nashir, ia antara lain mengutip firman Allah Swt., “A&lt;span style="font-style:italic;"&gt;pakah kalian mendirikan pada setiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kalian mendirikan benteng-benteng dengan maksud agar kalian kekal (di dunia)? Dan, manakala kalian menyiksa, kalian menyiksa sebagaimana orang-orang yang kejam dan bengis. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Juga, bertakwalah kepada Allah yang telah menganugrahkan kepada kalian sesuatu yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian hewan-hewan ternak, anak-anak, dan kebun-kebun serta mata air. Sungguh, aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar&lt;/span&gt;.” (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 128-135).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai mengutip ayat-ayat Al-Quran tersebut, Al-Mundzir bin Sa‘id kemudian melengkapi khutbahnya yang pedas dengan uraian perihal larangan berlaku boros dan menghambur-hamburkan harta kekayaan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar khutbah tersebut,  penguasa yang berhasil menjadikan Andalusia  sebuah  negara  adikuasa yang makmur dan kaum Muslim  sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Eropa itu tak kuasa menahan lelehan air matanya dan menyesali tindakannya. Kemudian, selepas kembali ke istana, ia berucap kepada putranya, Al-Hakam, “Sungguh, Al-Mundzir begitu keterlaluan dalam mengecam dan menyinggung diriku. Demi Allah, aku selamanya tak akan lagi melaksanakan shalat Jumat di belakangnya!”&lt;br /&gt;“Apa yang membuat Ayahanda tak mencopot dan memberhentikan dia sebagai hakim agung? Turunkan saja dia dari jabatannya!” sahut sang putra.&lt;br /&gt;“Celaka engkau,” sergah sang Ayahanda yang menyadari kembali kekeliruan dirinya. “Apakah tokoh setinggi Al-Mundzir dalam hal kesalihan, keilmuan, dan keutamaannya harus dicopot demi membela hawa nafsu yang senantiasa menyimpang dari kebenaran, menampakkan kemewahan, dan menempuh tujuan yang tak benar? Ini tak boleh terjadi. Sungguh, aku akan malu di hadapan Allah Swt. bila aku tak kuasa menjadikan orang seperti Al-Mundzir bin Sa‘id sebagai penolongku di Hari Kiamat kelak.” (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2666697989491484228?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2666697989491484228/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2666697989491484228&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2666697989491484228'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2666697989491484228'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/11/turunkan-saja-dia-dari-jabatannya.html' title='&quot;Turunkan Saja Dia dari Jabatannya!&quot;'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-7qWMQn--dxY/Tr7xaBBKllI/AAAAAAAAAo8/_xeRt8QAppc/s72-c/CORDOBA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1912403520356059021</id><published>2011-11-06T04:59:00.007+07:00</published><updated>2011-11-06T08:09:23.442+07:00</updated><title type='text'>Kisah Lengkap Perjalanan Haji Rasulullah Saw.</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-xxdZ7xguJ24/TrWyzuBb17I/AAAAAAAAAoY/y2WCyA_zwEU/s1600/KA%2527BAH100.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 376px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-xxdZ7xguJ24/TrWyzuBb17I/AAAAAAAAAoY/y2WCyA_zwEU/s400/KA%2527BAH100.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5671635907340130226" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Selepas ditandatanganinya Perjanjian Hudaibiyyah pada 6 H/628 M, kaum Muslim di bawah pimpinan Rasulullah Saw. kian bersemangat menebarkan dakwahnya ke pelbagai wilayah. Sehingga, segera seluruh kawasan Hijaz pun berada di bawah naungan Islam. Karena itu, ketika musim haji tahun kesembilan Hijriah tiba, beliau yang sibuk menerima berbagai utusan dari berbagai wilayah, memerintahkan Abu Bakar Al-Shiddiq untuk memimpin sekitar tiga ratus jamaah dari Madinah untuk bertolak ke Makkah. Abu Bakar dan rombongannya pun berangkat Makkah.&lt;br /&gt;Kala itu, ibadah haji masih dilakukan pula oleh bukan para pemeluk Islam. Merasa telah waktunya untuk menyatakan bahwa ibadah haji khusus hanya untuk kaum Muslim, Rasulullah Saw. pun mengutus ‘Ali bin Abu Thalib untuk menyusul Abu Bakar, dengan tugas menyampaikan pesan beliau di Mina tentang pengakhiran kebolehan ibadah haji bagi bukan pemeluk Islam. Ketika jamaah haji telah berada di Mina, untuk melaksanakan upacara haji, ‘Ali berdiri di samping Abu Hurairah dan menyampaikan pesan beliau (dengan mengutip ayat-ayat Al-Quran berikut),&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Inilah pernyataan) pemutusan hubungan dari Allah dan Rasul-Nya kepada orang-orang musyrik yang telah kalian ikat dengan suatu perjanjian. Oleh karena itu, kalian boleh berjalan di muka bumi ini selama empat bulan dan ketahuilah bahwa kalian tak akan dapat melemahkan Tuhan dan Tuhan akan menghinakan orang-orang kafir. Dan inilah sebuah maklumat dari Allah dan Rasul kepada umat manusia pada Hari Haji Akbar bahwa Allah dan Rasul-Nya berlepas diri dari orang-orang musyrik. Tapi, jika kalian (kaum musyrik) mau bertobat, itu lebih baik bagi kalian. Kalau kalian mengelak juga, ketahuilah, kalian tak akan dapat melemahkann Tuhan. Beritahukanlah kepada orang-orang kafir itu tentang siksa yang pedih. Kecuali orang-orang musyrik yang telah kalian adakan perjanjian, dan mereka tak mengurangi sesuatu pun (dari perjanjian itu) dan tidak pula membantu seseorang yang memusuhi kalian, maka terhadap mereka itu, penuhilah janjinya sampai batas waktunya. Allah menyukai orang-orang yang teguh dalam kebenaran. &lt;br /&gt;Apabila bulan-bulan suci sudah berlalu, orang-orang musyrik itu boleh saja diperangi di mana saja kalian jumpai mereka, tangkap dan kepunglah mereka pada setiap tempat penjagaan. Tapi, apabila mereka telah bertobat, telah melaksanakan shalat dan mengeluarkan zakat, biarkanlah mereka bebas berjalan. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun dan Penyayang. Dan apabila ada seseorang dari pihak musyrik itu meminta perlindungan kepada kalian, lindungilah ia supaya ia sempat mendengar Firman Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman. Demikianlah, sebab mereka orang-orang yang tak mengetahui.&lt;br /&gt;Bagaimana mungkin di hadapan Allah dan Rasul-Nya akan ada suatu perjanjian dengan orang-orang musyrik; kecuali yang telah kalian adakan dengan mereka di dekat Masjid Al-Haram. Maka, selama mereka berlaku lurus kepada kalian, hendaklah kalian berlaku lurus juga kepada mereka. Sebab, Allah menyukai orang-orang yang teguh dalam kebenaran. Bagaimana mungkin (ada perjanjian demikian itu), padahal bilamana mereka dapat menguasai kalian, mereka tak akan menghormati kalian, baik dalam tali kekeluargaan maupun dalam perjanjian. Mereka menyenangkan kalian dengan mulut (manis), tapi hati mereka sebaliknya. Dan kebanyakan mereka adalah orang-orang fasik. &lt;br /&gt;Ayat-ayat Tuhan mereka jual dengan harga sedikit dan mereka mau menghalangi orang dari jalan Allah. Memang, buruk sekali perbuatan mereka itu. Mereka tak lagi menghormati orang beriman, baik dalam kekeluargaan maupun dalam perjanjian. Mereka itulah orang-orang yang melanggar batas. Akan tetapi, bila mereka bertobat, menjalankan sembahyang, dan mengeluarkan zakat, maka mereka itu saudara-saudaramu seagama. Ayat-ayat itu Kami uraikan kepada mereka yang mau mengerti. Tapi, bilamana mereka telah melanggar sumpah mereka sendiri setelah perjanjian mereka itu, dan mereka memaki agamamu, maka perangilah pemuka-pemuka orang kafir itu; mereka orang-orang yang tak dapat menahan diri.&lt;br /&gt;Kalian tak mau melawan golongan yang telah melanggar sumpahnya sendiri. Padahal, mereka telah berkomplot hendak mengusir Rasul, dan mereka itulah yang pertama kali mulai memerangi kalian. Takutkah kalian kepada mereka? Padahal, Allah yang harus lebih ditakuti, kalau kalian orang-orang yang beriman. Lawanlah mereka itu! Tuhan akan menyiksa mereka melalui tangan kalian. Allah akan menista mereka dan akan menolong kalian melawan mereka, akan melegakan hati orang-orang beriman. Tuhan akan menghapuskan kemarahan hati mereka, akan menerima tobat siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. Adakah kalian mengira bahwa kalian akan dibiarkan begitu saja? Padahal, Allah belum membuktikan kalian yang benar berjuang dan tidak pula mengambil teman akrabnya selain Allah, Rasul, dan orang-orang beriman. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian perbuat. &lt;br /&gt;Bukanlah orang-orang musyrik itu yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah, karena mereka telah mengakui sendiri kekufuran mereka. Perbuatan mereka itu rendah sekali, dan mereka akan kekal dalam api neraka. Tapi, yang akan memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang yang sudah beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, serta menjalankan sembahyang, mengeluarkan zakat, dan tak takut kepada siapa pun selain kepada Allah. Mereka inilah yang diharapkan akan mendapat petunjuk. &lt;br /&gt;Apakah pemberian minuman kepada jamaah haji dan mengurus Masjid Al-Haram kalian samakan dengan orang yang beriman kepada Allah dan Hari Kemudian serta berjuang di jalan Allah? Dalam pandangan Tuhan, mereka tak sama. Allah tak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. Orang-orang yang beriman, yang berhijrah, dan berjuang di jalan Allah dengan harta dan jiwa raga mereka dalam pandangan Allah lebih tinggi derajatnya; dan mereka itulah orang-orang yang meraih kemenangan. Tuhan memberikan kabar gembira kepada mereka dengan rahmat, keridhaan, dan surga dari-Nya buat mereka. Di sanalah tempat kesenangan yang abadi. Mereka kekal selalu di sana. Dan pahala yang besar ada pada Tuhan. &lt;br /&gt;Hai orang-orang beriman! Janganlah kalian menjadikan bapak-bapak dan saudara-saudara kalian sebagai wakil-wakil kalian kalau mereka lebih mengutamakan kekufuran daripada iman; dan barang siapa mengambil mereka sebagai wakil, mereka itulah orang-orang yang zalim. Katakanlah: Kalau bapak-bapak kalian, anak-anak kalian, saudara-saudara dan istri-istri kalian serta keluarga kalian, harta kekayaan yang kalian usahakan, perniagaan yang kalian khawatirkan akan menjadi rugi, tempat-tempat tinggal yang kalian senangi, semua itu lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta daripada berjuang di jalan Allah, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan. Allah tak memberikan bimbingan kepada orang fasik.&lt;br /&gt;Allah telah menolong kalian pada beberapa tempat dan pada Peristiwa Hunain, tatkala kalian merasa bangga sekali karena jumlah kalian yang besar. Tapi, ternyata jumlah yang besar itu sedikit pun tak menolong kalian. Dan bumi yang seluas ini pun terasa amat sempit oleh kalian. Lalu, kalian berbalik mundur. Sesudah itu, Allah menurunkan perasaan tenang ke dalam hati Rasul dan orang-orang beriman serta diturunkan-Nya pula balatentara yang tak kalian lihat, dan Allah Menimpakan bencana kepada orang-orang kafir itu, dan itulah balasan buat orang-orang kafir. Sesudah itu, kemudian Allah menerima tobat siapa saja yang dikehendaki-Nya. Allah Maha Pengampun dan Penyayang.&lt;br /&gt;Hai orang-orang beriman! Ingatlah, orang-orang musyrik itu kotor. Sebab itu, sesudah ini, janganlah mereka memasuki Masjid Al-Haram, dan kalau kamu khawatir akan menjadi miskin, maka Tuhan dengan karunia-Nya akan memberikan kekayaan kepada kamu. Jika dikehendaki, sungguh Tuhan Mahatahu dan Mahabijaksana. Perangilah orang-orang yang tak beriman kepada Allah dan Hari Kemudian, dan tak mengharamkan apa yang telah diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya, dan tidak pula beragama menurut agama yang benar, yaitu orang-orang yang telah mendapat Al-Kitab, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh dalam keadaan tunduk. &lt;br /&gt;Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah.” Demikianlah kata-kata mereka, menurut mulut mereka. Mereka meniru-niru perkataan orang-orang kafir masa lalu. Tuhan mengutuk mereka. Bagaimana mereka sampai dipalingkan? Mereka menjadikan pendeta-pendeta dan rahib-rahib mereka tuhan selain Allah, dan Al-Masih putra Maryam (juga mereka pertuhankan). Padahal, mereka diperintahkan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa. Tiada tuhan selain Dia. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan. Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Ilahi dengan mulut mereka. Tapi, kehendak Tuhan hanya akan menyelesaikan pancaran cahaya-Nya itu, meski orang-orang kafir tak menyukai. Dialah Yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk Al-Quran dan agama yang benar untuk dimenangkan-Nya atas semua agama, meski orang-orang musyrik tak menyukai.&lt;br /&gt;Hai orang-orang beriman! Banyak sekali pendeta dan rahib memakan harta orang dengan jalan yang batil dan mereka merintangi orang dari jalan Allah. Dan mereka yang menimbun emas dan perak dan tak menafkahkannya di jalan Allah, beritahukanlah kepada mereka adanya siksa yang pedih. Tatkala semuanya (emas dan perak) dipanaskan dalam api jahanam, lalu dengan itu, dahi mereka, lambung mereka, dan punggung mereka dibakar, (dikatakan kepada mereka), inilah harta benda kalian yang kalian timbun untuk diri kalian sendiri. Sebab itu, rasakan sekarang akibat apa yang kalian timbun itu.&lt;br /&gt;Sesungguhnya bilangan bulan dalam pandangan Tuhan ialah duabelas bulan. Demikian ditentukan Allah tatkala Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan suci. Itulah ketentuan agama yang lurus. Oleh karena itu, janganlah kalian menganiaya diri kalian dalam bulan-bulan itu. Lawanlah orang-orang musyrik itu semua, seperti mereka juga memerangi kalian semua. Ketahuilah, Allah beserta orang-orang yang teguh bertakwa.” (QS Al-Taubah [9]: 1-36).&lt;br /&gt;Seusai menyampaikan ayat-ayat Al-Quran tersebut, ‘Ali bin Abu Thalib berhenti sejenak. Kemudian, serunya lagi kepada khalayak ramai, “Saudara-saudara! Orang kafir tak akan masuk surga. Selepas tahun ini, orang musyrik tak boleh lagi naik haji, tak boleh lagi bertawaf di Ka‘bah dengan telanjang. Barang siapa terikat oleh suatu perjanjian dengan Rasul, hal itu tetap berlaku sampai pada waktunya&lt;/span&gt;!”&lt;br /&gt;‘Ali bin Abu Thalib menyampaikan perintah itu di tengah-tengah khalayak ramai. Kemudian, kepada mereka diberi waktu empat bulan supaya masing-masing golongan sempat pulang ke daerah dan negerinya masing-masing. Semenjak saat itu, tiada seorang musyrik pun naik haji dan tiada lagi orang telanjang bertawaf di Ka‘bah.&lt;br /&gt;Tahun berikutnya, melihat Islam kian kuat dan berkembang luas, Rasulullah Saw. merasa    tugasnya hampir usai.  Beliau  menandainya  dengan melaksanakan  ibadah haji wada‘ (perpisahan) ke Makkah pada  10 H/632 M. Maka, pada Syawwal 10 H/Januari 632 M, di bulan puncak musim dingin tahun itu, diumumkan di seluruh Kota Suci itu bahwa beliau sendiri yang akan memimpin jamaah haji tahun itu, “Barang siapa ingin menunaikan ibadah haji bersamaku, hendaknya ia datang ke Madinah, untuk bersama berangkat menuju Ka‘bah.”&lt;br /&gt;Berita itu disebarkan ke pelbagai suku di padang pasir. Orang-orang pun datang berbondong-bondong ke oasis itu dari pelbagai penjuru ke Madinah. Dalam setiap langkahnya, mereka bergembira mendapat kesempatan menyertai Rasululalh Saw. melakukan perjalanan ke Makkah dan sekaligus inilah ibadah haji terakhir yang dilaksanakan oleh beliau. Ibadah haji kali berbeda dengan yang dilakukan beratus-ratus tahun silam: seluruh jamaah akan menyembah hanya kepada satu Tuhan, dan tiada lagi para penyembah berhala yang akan mencemari Baitullah dengan mengadakan ritus-ritus kemusyrikan. &lt;br /&gt;Lima hari sebelum akhir bulan Dzulqa‘dah, tepatnya pada 25 Dzulqa‘dah 10 H/23 Februari 632 M, Rasulullah Saw. keluar dari Madinah memimpin tiga puluh ribu pria dan perempuan. Selain diikuti oleh banyak kaum Muslim tersebut, beliau juga disertai oleh semua istri beliau. Di antara mereka adalah ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, istri satu-satunya beliau yang masih gadis ketika menikah dengan beliau, Saudah binti Zam‘ah, Shafiyyah binti Huyay, dan Ummu Salamah. Mereka menginap semalam di Dzulhulaifah. &lt;br /&gt;Menjelang waktu shalat subuh tiba, Rasulullah Saw. mandi untuk niat berihram. Kemudian, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq memercikkan wewangian ke tubuh dan kepala beliau, hingga tetesan wewangian itu terlihat meleleh di anak-anak rambut dan jenggot beliau. Tetesan wewangian itu dibiarkan begitu saja dan tak dibasuhnya. Selepas itu, beliau mengenakan kain ihram. Selepas melaksanakan shalat sunnah dua rakaat, beliau kemudian membaca talbiyah untuk haji dan umrah di tempat itu, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Labbaika Allâhumma labbaik... Labbbaika lâ syarîka laka, labbaik&lt;/span&gt;, aku datang memenuhi panggilan-Mu, Allâhumma, ya Allah, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu. Labbaik, aku datang memenuhi panggilan-Mu. Segala puji, kenikmatan, dan kemaharajaan hanyalah semati bagi-Mu. Tiada sekutu bagi-Mu... &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Labbaik&lt;/span&gt;, aku datang memenuhi panggilan-Mu.”&lt;br /&gt;Sebelum iring-iringan jamaah haji tersebut akan bertolak dari Madinah, Rasulullah  Saw. memerintahkan para calon jamaah haji yang tak bergabung dari Kota Suci itu untuk menempuh jalur tepi pantai, dengan harapan mereka bisa bertemu di tengah perjalanan. Benar, rombongan yang tak bertolak dari Kota Madinah itu akhirnya bertemu dengan rombongan yang berangkat bersama beliau. Setelah kedua rombongan itu bertemu, mereka semua kemudian berihram kecuali Abu Qatadah. &lt;br /&gt;“Langit hari itu,” tulis Ali Shariati dalam karyanya Muhammad Saw., &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Khâtim Al-Nabiyyîn&lt;/span&gt;, “belum pernah menyaksikan pemandangan di muka bumi seperti yang ada kala itu. Lebih dari seratus ribu orang, laki-laki dan perempuan-di bawah sengatan matahari yang amat terik dan di padang pasir yang sebelumnya tak pernah dikenal orang-bergerak menuju satu arah. Tiada tanda-tanda apa pun yang mereka kenakan dan yang membedakan seseorang dari orang lainnya, satu bangsa dari bangsa lainnya yang bergabung dalam rombongan besar itu. Warna yang dimiliki semua orang sama: putih. Dan, potongannya pun sama pula: satu kain dibelitkan di bagian bawah tubuh, dan sehelai lainnya dibelitkan di pundak.”&lt;br /&gt;“Medan ini merupakan lukisan paling indah dari satu warna yang menghiasi  kehidupan umat manusia. Ia merupakan lukisan tentang persamaan seorang anak manusia dengan yang lain yang lainnya. Tiada perbedaan antara mereka. Busana yang mereka kenakan tak boleh dijahit yang bisa menutupi pengungkapan ciri pribadi. Semua orang yang berhimpun di sana adalah “manusia”. Bukan yang lain. Segala tanda-tanda yang membedakan seseorang dari yang lain telah ditinggalkan di Dzulhulaifah.”&lt;br /&gt;“Muhammad melanjutkan perjalanannya diikuti oleh seratus ribu lebih manusia, dengan busana yang sama dan warna yang sama pula. Sementara itu, dunia dan sejarah menatap dengan kagum.” &lt;br /&gt;“Aneh sekali. Pasukan apa ini? Komandannya berjalan kaki kelelahan. Demikian pula pengikut-pengikutnya. Nabi memang berjalan kaki semenjak dari Dzulhulaifah di belakang umatnya. Sejarah memang mendengar bahwa “penguasa” itu berada di tengah-tengah pasukan itu. Tapi, ketika dicari-carinya, ia tak juga kuasa menemukannya.”&lt;br /&gt;Ketika rombongan jamaah haji yang dipimpin oleh Rasulullah Saw. tiba di Makkah, mereka segera bersiap-siap untuk melaksanakan umrah di Baitullah. Ummu Salamah, yang juga ingin segera melaksanakan umrah, segera menemui Rasulullah Saw., yang sedang melaksanakan shalat di sisi Ka‘bah, untuk mengadukan dirinya yang sedang sakit. Ucap Ummu Salamah, “Wahai Rasul! Aku ingin segera melaksanakan umrah bersama mereka! Tapi, aku sedang sakit!”&lt;br /&gt;“Lakukanlah dengan naik unta di belakang mereka,” jawab Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Maka, perempuan bangsawan Quraisy-yang oleh Ibn Hajar Al-‘Asqallani, dalam karyanya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Ishâbah fî Tamyîz Al-Shahâbah&lt;/span&gt;, dilukiskan sebagai “perempuan yang memiliki kecantikan luar biasa, suara nan merdu, kekuatan berpikir cepat, dan kemampuan untuk memberikan pendapat yang tepat”-itu pun melaksanakan umrah dengan naik unta, sesuai dengan arahan sang suami tercinta.&lt;br /&gt;Seusai melaksanakan shalat shubuh dan mandi, pada pagi hari Senin, 4 Dzulhijjah 10 H/2 Maret 632 M, begitu memasuki Baitullah, Rasulullah Saw. lantas memulai ibadah dengan mencium atau mengusap, dan memberi isyarat ke arah Hajar Aswad. Beliau melakukan tawaf dengan berlari kecil pada tiga putaran pertama dan berjalan biasa pada empat kali putaran terakhir.&lt;br /&gt;Usai melakukan tawaf, Rasulullah Saw. dan rombongan lantas menuju Maqam Ibrahim a.s. seraya membaca ayat, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jadikanlah Maqam Ibrahim sebagai tempat shalat&lt;/span&gt;.” (QS Al-Baqarah [2]: 125). Di tempat itu, beliau melaksanakan shalat dua rakaat. &lt;br /&gt;“Muhammad datang kepada Tuhannya-di hari-hari akhir kehidupannya-di Maqam Ibrahim, Bapak agama-agama langit dalam sejarah umat manusia,” tulis lagi Ali Shariati dalam karyanya Muhammad Saw., Khâtim Al-Nabiyyîn, “untuk menyodorkan hasil jerih payah perjuangannya yang sarat semangat. Dan, di hadapan-Nya pula, beliau meminta kesaksian umat manusia bahwa beliau tak pernah berhenti bekerja dan tak pula kenal lelah dalam berjuang menunaikan risalahnya.”&lt;br /&gt;“Beliau juga ingin memperlihatkan kepada Ibrahim, bahwa karya besar yang dimulainya dalam kehidupan manusia kini telah diantarkannya hingga batas tersebut, dan telah digerakkannya selaras dengan pedoman yang digariskannya.”&lt;br /&gt;Selepas itu, Rasulullah Saw. kembali lagi ke Hajar Aswad untuk mencium atau mengusapnya. Dari situ, beliau kemudian melangkahkan kaki menuju Bukit Shafa untuk melaksanakan sa‘i. Ketika telah dekat dengan Shafa, beliau membaca ayat, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sungguh, sa‘i antara Shafa dan Marwah merupakan sebagian dari pelbagai tanda kebesaran Allah&lt;/span&gt;.” (QS Al-Baqarah [2]: 158). &lt;br /&gt;Rasulullah Saw. memulai sa‘i dari Bukit Shafa. Beliau pertama-tama naik ke Bukit Shafa sehingga bisa melihat Baitullah. Lantas, beliau menghadap ke arah kiblat dengan mengucapkan kalimat yang mengesakan dan mengagungkan Allah, “Tiada Tuhan selain Allah. Dialah satu-satunya Tuhan, tiada sekutu bagi-Nya. Kekuasaan dan segala puji milik-Nya dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tiada tuhan selain Allah. Dialah satu-satunya Tuhan. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan musuh-musuh-Nya dengan sendiri-Nya.”&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, Rasulullah Saw. lantas berdoa. Doa tersebut diulanginya sampai tiga kali. Lalu, beliau berjalan menuju Bukit Marwah. Sesampainya di lembah, beliau berlari kecil, lantas berjalan biasa sampai beliau tiba di Bukit Marwah. Di situ, beliau melakukan seperti apa yang beliau lakukan di Bukit Shafa. Ketika beliau mengakhiri sa‘i di Bukit Marwah, beliau berpesan, “Andaikan aku belum melakukan apa yang telah kulakukan, tentu aku tak membawa hewan kurban (hadyu) dan ibadahku tadi kujadikan sebagai umrah saja. Karena itu, barang siapa yang tak membawa hewan kurban, hendaknya ia bertahallul dan menjadikan ibadahnya tadi sebagai umrah!”&lt;br /&gt;Mendengar pernyataan Rasulullah Saw. yang demikian, Suraqah bin Malik bin Ju’tsum berdiri dan bertanya kepada beliau, “Wahai Rasul! Apakah hal itu untuk tahun ini saja ataukah juga untuk seterusnya?”&lt;br /&gt;“Umrah untuk haji? Tak hanya untuk tahun ini saja. Tapi, juga untuk seterusnya!” jawab Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Keberangkatan Rasulullah Saw. untuk beribadah haji itu, selain diikuti oleh banyak kaum Muslim dan para istri beliau, juga disertai oleh putri sangat tercinta beliau: Fathimah Al-Zahra’. Putri keempat dan termuda pasangan suami-istri Rasulullah Saw. dan Khadijah binti Khuwailid ini lahir pada Selasa, 20 Jumada Al-Tsaniyyah tahun pertama kenabian/13 Juli 605 M, di Makkah. Ibunda Al-Hasan bin ‘Ali dan Al-Husain bin ‘Ali ini dikatakan sebagai “pemimpin kaum perempuan di surga”. Perempuan yang menurunkan anak keturunan beliau ini berhijrah ke Madinah bersama ‘Ali bin Abu Thalib atau Zaid bin Haritsah. Ia menikah dengan khalifah keempat dalam sejarah Islam itu seusai Perang Badar. Ketika ‘Ali bin Abu Thalib meminangnya, Rasulullah Saw. langsung menanyakannya kepada putrinya. Ternyata, ia diam seribu bahasa. Diamnya wanita, menurut hukum Islam, adalah tanda setuju. ‘Ali ketika itu tak mempunyai apa-apa selain baju perang, sepotong kulit domba, dan sepotong pakaian. Lantas, ‘Ali bin Abu Thalib menjual baju perangnya, dan uangnya ia berikan kepada Fathimah sebagai mahar. Upacara pernikahan mereka sangat sederhana, tanpa kebesaran, pertunjukan, dan upacara.&lt;br /&gt;Pada saat itu, ‘Ali bin Abu Thalib sedang berada di perjalanan pulang dari Yaman. Ia berada di sana semenjak bulan Ramadhan, bersama tiga ratus orang prajurit berkuda, untuk mengajak warga negeri itu memeluk Islam. Ia baru balik dari sana pada akhir bulan Dzulqa‘dah dan langsung menuju Makkah untuk bergabung dengan Rasulullah Saw. dan kaum Muslim yang akan menunaikan ibadah haji. Setibanya di Kota Suci itu, ia segera menemui sang istri yang sedang berihram dengan mengenakan busana berwarna-warni dan bercelak mata. Melihat hal itu, ia berupaya melarang sang istri melakukan hal yang demikian.&lt;br /&gt;“Ayahkulah yang menyuruhku begini!” jawab Fathimah Al-Zahra’ membela diri.&lt;br /&gt;Merasa kurang yakin dengan jawaban sang istri, ‘Ali bin Abu Thalib pun menemui Rasulullah Saw. dan mengeluhkan tentang busana berwarna-warni yang dikenakan sang istri. Menerima keluhan sang menantu, beliau pun menjawab, “Fathimah benar! Fathimah benar!”&lt;br /&gt;Kemudian, ketika hari Tarwiyah (8 Dzulhijjah) tiba, Rasulullah Saw. bermaksud meninggalkan Makkah menuju Mina dan kemudian ke Dataran ‘Arafat. Sebelum bertolak, beliau masuk ke tempat seorang putri pasangan suami-istri Abu Bakar Al-Shiddiq dan Ummu Ruman binti ‘Amir bin Uwaimir Al-Kinaniyyah: ‘A’isyah. Ternyata, istri beliau yang kala itu baru berusia tujuh belas tahun itu sedang menangis. Melihat sang istri menangis, beliau pun bertanya, “Ada apa denganmu?”&lt;br /&gt;“Aku sedang haid, wahai Rasul! Orang-orang lain telah bertahalul. Sedangkan aku sendiri saat ini belum bertahalul dan belum melakukan tawaf di Baitullah. Dan, kini, orang-orang telah bersiap-siap untuk memulai ibadah haji!” jawab putri Abu Bakar Al-Shiddiq-yang terkenal sebagai penutur hadits yang berwawasan luas, terutama yang berkaitan dengan hukum-hukum Islam-itu seraya menahan tangisnya. &lt;br /&gt;“Ini adalah ketetapan Allah terhadap kaum perempuan. Mandilah, lalu berihramlah untuk haji!” ucap Rasulullah Saw. menenangkan hati sang istri tercinta.&lt;br /&gt;‘A’isyah, yang kala bertolak dari Madinah berniat memilih haji tamattu‘ (beribadah umrah sebelum beribadah haji) tanpa membawa hewan kurban, kemudian melaksanakan perintah Rasulullah Saw. tersebut, lalu bertolak bersama beliau untuk melaksanakan wukuf di ‘Arafat dan rangkaian ibadah haji lainnya. Setelah suci, ia kemudian melaksanakan tawaf di Baitullah dan sa‘i antara Shafa dan Marwah serta bertahallul. &lt;br /&gt;Melihat ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq telah bertahalul, Rasulullah Saw. pun berkata kepada sang istri, “Engkau telah bertahallul dari hajimu dan umrahmu bersama-sama!”&lt;br /&gt;“Wahai Rasul!” sergah sang istri dengan nada manja. “Tapi aku kan tak melakukan tawaf di Baitullah kecuali setelah aku menunaikan ibadah haji?”&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian Rasulullah Saw. menyuruh ‘Abdurrahman bin Abu Bakar Al-Shiddiq agar menemani ‘A’isyah, saudara kandung perempuannya, untuk berumrah dari Tan‘im, sebagai ganti umrah sebelumnya yang gagal karena dialihkan menjadi ibadah haji, padahal ‘A’isyah saat itu belum bertahalul, tanpa harus memberikan hewan kurban, tanpa puasa, dan tanpa sedekah. &lt;br /&gt;Rasulullah Saw. pun pergi ke Mina dan melaksanakan shalat zuhur, asar, magrib, ‘isya’, dan subuh di sana. Seusai menanti beberapa saat hingga matahari terbit, beliau lantas melanjutkan perjalanan hingga tiba di Arafah. Tenda-tenda waktu itu telah didirikan di sana. Beliau pun masuk tenda yang disiapkan bagi beliau. Setelah matahari tergelincir, beliau meminta agar Al-Al-Qashwa’, unta beliau, didatangkan. Beliau kemudian menungganginya hingga tiba di tengah Dataran ‘Arafat. Melihat ribuan jamaah yang memenuhi panggilan Allah dan menaati perintah-Nya, beliau merasa lega karena umatnya telah menegakkan kebenaran Islam dengan ikhlas. Saat itu beliau berniat menanamkan inti ajaran Islam di dalam hati mereka dengan memanfaatkan pertemuan mulia itu sebagai kesempatan itu untuk mengucapkan khutbah guna mengikis habis sisa-sisa kejahiliahan yang masih mengendap dalam jiwa kaum Muslim. Beliau juga hendak menekankan soal-soal akhlak, hukum, dan hubungan antar sesama kaum Muslim, termasuk hubungan antara suami-istri.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. kemudian berdiri di hadapan sekitar seratus dua puluh empat ribu atau seratus empat puluh ribu kaum Muslim untuk menyampaikan khutbah haji terakhir beliau, yang diulang dengan ucapan yang lebih keras oleh Rabi‘ah bin Umayyah bin Khalaf, yang lebih dikenal dengan sebutan haji wada‘,&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai manusia! Dengarkanlah nasihatku baik-baik, karena barangkali aku tak dapat lagi bertemu muka dengan kamu semua di tempat ini. Tahukah kalian semua, hari apakah ini? (Beliau menjawab sendiri) Inilah Hari Nahr, hari kurban yang suci. Tahukah kalian bulan apakah ini? Inilah bulan suci. Tahukah kalian tempat apakah ini? Inilah kota yang suci. Karena itu, aku permaklumkan kepada kalian semua bahwa darah dan nyawa kalian, harta benda kalian dan kehormatan yang satu terhadap yang lainnya haram atas kalian sampai kalian bertemu dengan Tuhan kalian kelak. Semua harus kalian sucikan sebagaimana sucinya hari ini, sebagaimana sucinya bulan ini, dan sebagaimana sucinya kota ini. Hendaklah berita ini disampaikan kepada orang-orang yang tak hadir di tempat ini oleh kamu sekalian! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!&lt;br /&gt;Hari ini hendaklah dihapuskan segala macam bentuk riba. Barang siapa memegang amanah di tangannya, hendaklah ia bayarkan kepada yang empunya. Dan, sungguh, riba jahiliah adalah batil. Dan awal riba yang pertama sekali kuberantas adalah riba yang dilakukan pamanku sendiri, Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib.&lt;br /&gt;Hari ini haruslah dihapuskan semua bentuk pembalasan dendam pembunuhan jahiliah, dan penuntutan darah cara jahiliah. Yang pertama kali kuhapuskan adalah tuntutan darah ‘Amir bin Al-Harits.&lt;br /&gt;Wahai manusia! Hari ini setan telah putus asa untuk dapat disembah pada bumi kalian  yang suci ini. Tapi, ia bangga bila kalian dapat menaatinya walau dalam perkara yang kelihatannya kecil sekalipun. Karena itu, waspadalah kalian atasnya! Wahai manusia! Sungguh, zaman itu beredar semenjak Allah menjadikan langit dan bumi.&lt;br /&gt;Wahai manusia! Sungguh, bagi kaum perempuan (istri kalian) itu ada hak-hak yang harus kalian penuhi, dan bagi kalian juga ada hak-hak yang harus dipenuhi istri itu. Yaitu, mereka tak boleh sekali-kali membawa orang lain ke tempat tidur selain kalian sendiri, dan mereka tak boleh membawa orang lain yang tak kalian sukai ke rumah kalian, kecuali setelah mendapat izin dari kalian terlebih dahulu. Karena itu, sekiranya kaum perempuan itu melanggar ketentuan-ketentuan demikian, sungguh Allah telah mengizinkan kalian untuk meninggalkan mereka, dan kalian boleh melecut ringan terhadap diri mereka yang berdosa itu. Tapi, bila mereka berhenti dan tunduk kepada kalian, menjadi kewajiban kalianlah untuk memberi nafkah dan pakaian mereka dengan sebaik-baiknya. Ingatlah, kaum hawa adalah makhluk yang lemah di samping kalian. Mereka tak berkuasa. Kalian telah mengambil mereka sebagai amanah dari Allah dan kalian telah halalkan kehormatan mereka dengan kalimat Allah. Karena itu, bertakwalah kepada Allah tentang urusan perempuan dan terimalah wasiat ini untuk memperlakukan mereka dengan baik. Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!&lt;br /&gt;Wahai manusia! Sesungguhnya aku meninggalkan kepada kalian sesuatu, yang bila kalian memeganginya erat-erat, niscaya kalian tak akan sesat selamanya. Yaitu: Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya. Wahai manusia! Dengarkanlah baik-baik apa yang kuucapkan kepada kalian, niscaya kalian bahagia untuk selamanya dalam hidup kalian!!&lt;br /&gt;Wahai manusia! Kalian hendaklah mengerti bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Karena itu, bagi masing-masing pribadi di antara kalian terlarang keras mengambil harta saudaranya, kecuali dengan izin hati yang ikhlas. Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!&lt;br /&gt;Janganlah kalian, setelah aku meninggal nanti, kembali kepada kekafiran, yang sebagian kalian mempermainkan senjata untuk menebas batang leher kawannya yang lain. Sebab, bukankah telah kutinggalkan untuk kalian pedoman yang benar, yang bila kalian mengambilnya sebagai pegangan dan lentera kehidupan kalian, tentu kalian tak akan sesat, yakni Kitab Allah (Al-Quran). Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah!&lt;br /&gt;Wahai manusia! Sesungguhnya Tuhan kalian itu satu, dan sesungguhnya kalian berasal dari satu bapak. Kalian semua dari Adam dan Adam terjadi dari tanah. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian semua di sisi Tuhan adalah orang yang paling takwa. Tidak sedikit pun ada kelebihan bangsa Arab dari yang bukan Arab, kecuali dengan takwa. Wahai umatku! Bukankah aku telah menyampaikan? Ya Tuhan, saksikanlah! Karena itu, siapa saja yang hadir di antara kalian di tempat ini berkewajiban untuk menyampaikan wasiat ini kepada mereka yang tak hadir&lt;/span&gt;!’”&lt;br /&gt;Kemudian, begitu usai melaksanakan wukuf di ‘Arafat, ketika matahari telah terbenam dan mega kuning mulai sirna, Rasulullah Saw. lantas meneruskan perjalanan hajinya dengan menaiki unta bersama Usamah bin Zaid, putra Zaid bin Haritsah. Setelah tiba di Muzdalifah, beliau melaksanakan shalat magrib dan isya dengan sekali azan dan dua kali iqamat, tanpa shalat sunnah apa pun di antara kedua shalat itu. Selepas itu, beliau berbaring sampai shubuh. Lalu, beliau melaksanakan shalat shubuh dengan sekali azan dan sekali iqamat. Usai shalat, beliau lantas naik unta beliau dan meneruskan perjalanan hingga tiba di Masy‘ar Al-Haram. Ketika tiba di sana, beliau lantas menghadap ke aras kiblat, kemudian berdoa, bertakbir, bertahlil, dan mengucapkan kalimat tauhid. Beliau tetap berada di sana hingga langit kekuning-kuningan. Beliau kemudian melanjutkan perjalanan beliau sebelum matahari terbit dengan naik hewan tunggangan beliau, kali ini bersama Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, saudara sepupunya dan putra sulung Al-‘Abbas bin ‘Abdul-Muththalib, yang memiliki rambut yang bagus dan wajah yang tampan.&lt;br /&gt;Ketika Al-Fadhl bin Al-‘Abbas mulai menggerakkan unta yang ditungganginya bersama Rasulullah Saw., ada sejumlah perempuan lewat di dekat beliau. Melihat Al-Fahdl menatap mereka berlama-lama, beliau pun menutupkan tangannya pada wajah Al-Fadhl dan memalingkan wajahnya dari mereka. Tiba-tiba salah seorang di antara perempuan itu mendekati beliau dan bertanya, “Wahai Rasul! Sesungguhnya ibadah haji yang diwajibkan Allah kepada hamba-hamba-Nya berlaku atas ayahku yang telah berusia lanjut. Namun, ia tak kuat lagi berada di atas hewan tunggangan lama-lama. Bolehkah saya beribadah haji atas nama ayah saya?”&lt;br /&gt;“Ya, boleh,” jawab Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;Usai memberikan jawaban demikian, Rasulullah Saw. lantas melanjutkan perjalanan beliau. Ketika beliau sampai di tengah Lembah Muhassir, beliau mempercepat langkah-langkah unta yang dinaikinya bersama Al-Fadhl, lantas menempuh jalan tengah yang langsung menuju Jamrah ‘Aqabah. Begitu tiba di dekat jamrah tersebut, beliau lantas menambatkan untanya di sebuah pohon. Selepas itu, beliau melempar jamrah tersebut dengan tujuh buah kerikil dengan bertakbir pada setiap kali lemparan. Beliau melempar dari tengah lembah. Setelah itu, beliau menuju ke tempat penyembelihan hewan dan menyembelih enam puluh tiga hewan kurban, sesuai dengan usia beliau kala itu, dengan tangan beliau sendiri. Sisanya beliau serahkan kepada ‘Ali bin Abu Thalib, menantu tercinta beliau. &lt;br /&gt;Di sisi lain, selain diikuti oleh banyak kaum Muslim, seperti telah dikemukakan di muka, Rasulullah Saw. juga disertai oleh para istri beliau. Di antara mereka adalah ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, satu-satunya istri beliau yang masih gadis ketika menikah dengan beliau. Dan, tak lama selepas penyembelihan hewan-hewan kurban tersebut, seseorang membawa sebagian daging hewan kurban tersebut ke hadapan para istri beliau. Melihat hal itu, ‘A’isyah pun bertanya, “Apa ini?”&lt;br /&gt;“Wahai Ibunda Orang-Orang Beriman! Ini adalah daging hewan kurban yang disembelih Rasulullah Saw. atas nama istri-istri beliau,” jawab orang yang membawa daging tersebut. &lt;br /&gt;Kemudian, ketika hari Idul Adha tiba dan di saat dhuha, selepas Rasulullah Saw. dan kaum Muslim usai melaksanakan wukuf di ‘Arafat dan melempar jamrah di Mina, beliau pun menyampaikan pidato kepada kaum Muslim, ada yang berdiri dan ada yang duduk, dari atas punggung bagal. Pidato tersebut ditirukan ‘Ali bin Abu Thalib dengan suara yang nyaring, “Sesungguhnya masa beredar laksana bentuknya saat langit dan bumi diciptakan. Satu tahun terdiri dari dua belas bulan, di antaranya empat bulan suci, tiga bulan berturut-turut, yaitu Dzulqa‘dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab yang terletak di antara Jumada Al-Tsaniyyah dan Sya‘ban.”&lt;br /&gt;Selepas berucap demikian, Rasulullah Saw. sejenak diam. Dan, beberapa saat kemudian beliau bertanya, “Bulan apakah sekarang ini?”&lt;br /&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. kemudian diam sejenak. Sehingga, mereka yang hadir kala itu mengira beliau akan memberi nama yang lain. Dan, beberapa saat kemudian, beliau berucap, “Bukankah sekarang ini bulan Dzulhijjah?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir.&lt;br /&gt;“Negeri apakah ini?” tanya Rasulullah Saw. lebih lanjut.&lt;br /&gt;“Allah dan Rasul-Nya lebih tahu, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. kemudian diam sejenak seperti sebelumnya. Sehingga, mereka yang hadir kala itu mengira beliau akan memberi nama lain. Dan, beberapa saat kemudian, beliau berucap, “Bukankah ini negeri Haram, negeri kalian?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir, tak tahu ke mana arah ucapan Rasulullah Saw. itu.&lt;br /&gt;“Hari apakah sekarang ini?” tanya Rasulullah Saw. lebih jauh.&lt;br /&gt;“Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir. &lt;br /&gt;Rasulullah Saw. kemudian diam sejenak seperti sebelumnya. Sehingga, mereka yang hadir kala itu mengira beliau akan memberi nama lain. Dan, beberapa saat kemudian, beliau berucap, “Bukankah hari ini adalah hari nahar (hari penyembelihan hewan kurban)?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir, kian tak tahu ke mana arah ucapan Rasulullah Saw. itu.&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. kemudian berucap, “Sungguh, darah, harta, dan kehormatan diri kalian adalah suci atas kalian, laksana kesucian hari ini, di negeri kalian ini, dan di bulan kalian ini. Kalian akan menghadap Tuhan. Lalu, Dia akan menyakan amal-amal kalian. Karena itu, janganlah kalian menjadi sesat sepeninggalku, hingga sebagian di antara kalian memenggal leher sebagian yang lain. Apakah aku sudah menyampaikan pesan ini?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai Rasul,” jawab mereka yang hadir kala itu.&lt;br /&gt;“Ya Allah, saksikanlah! Ingat, hendaklah yang hadir saat ini mengabarkan kepada yang tak hadir. Betapa banyak orang yang diberitahu lebih sadar daripada orang yang mendengarnya langsung dariku,” ucap Rasulullah Saw. &lt;br /&gt;“Nabi,” komentar Tariq Ramadan dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad &lt;/span&gt;perihal khutbah Rasulullah Saw. itu, “benar-benar menjadi saksi bagi masyarakat spiritual Muslim. Dalam berhubungan dengan mereka, di titik pusat ibadah haji-di mana ibadah itu sendiri menuntut kesederhanaan dan keharmonisan manusia di hadapan Pencipta mereka-Rasul mengingatkan butir penting dalam pesan Tuhan: tanpa melihat ras, kelas sosial, atau jender, karena satu-satunya yang membedakan mereka adalah apa yang mereka perbuat terhadap diri, intelijensia, kualitas, dan, di atas segalanya, hati mereka. Dari mana pun asal mereka, orang Arab atau bukan; apa pun warna kulit mereka, hitam, putih atau lainnya, manusia menjadi unggul karena perhatian mereka terhadap hati, pendidikan spiritual, pengendalian diri, dan kemekaran iman, kebaikan, kemulian jiwa, dan untuk kepentingan persatuan, komitmen terhadap sesama manusia atas dasar prinsip-prinsip mereka. Di hadapan ribuan jamaah dari semua tempat dan kedudukan, budak dan pemuka suku, laki-laki dan perempuan, Nabi bersaksi bahwa beliau telah menunaikan risalahnya. Dan, semua kaum Muslim serentak bersaksi bahwa mereka telah menerima dan memahami makna dan kandungannya.”&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, beberapa jam kemudian, selepas Rasulullah Saw. menyampaikan khutbah tersebut, turunlah firman Allah, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pada hari ini telah Kusempurnakan bagi kalian agama kalian dan telah Kucukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan Islam telah Kuridhai menjadi agama bagi kalian&lt;/span&gt;.” (QS Al-Mâ’idah [5]: 3).&lt;br /&gt;Mendengar firman Allah tersebut, ‘Umar bin Al-Khaththab pun tak kuasa menahan air matanya. Melihat hal itu, ia pun ditanya, “‘Umar! Mengapa engkau menangis? Bukankah engkau ini jarang sekali menangis?”&lt;br /&gt;“Karena aku tahu, selepas kesempurnaan hanya ada kekurangan!” jawab mertua Rasulullah Saw. itu. Ia merasa, beliau akan segera kembali ke tempat pilihan beliau, rumah beliau di balik kehidupan dunia ini. Di sisi Tuhan beliau.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1912403520356059021?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1912403520356059021/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1912403520356059021&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1912403520356059021'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1912403520356059021'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/11/kisah-lengkap-perjalanan-haji.html' title='Kisah Lengkap Perjalanan Haji Rasulullah Saw.'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-xxdZ7xguJ24/TrWyzuBb17I/AAAAAAAAAoY/y2WCyA_zwEU/s72-c/KA%2527BAH100.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-982455342777481118</id><published>2011-09-29T21:16:00.004+07:00</published><updated>2011-09-29T21:26:53.804+07:00</updated><title type='text'>Sekali Lagi: Pesan Al-Ghazali kepada Para Calon Jamaah Haji</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Ry7NDoR9gv4/ToR_Tx9ivAI/AAAAAAAAAoQ/nAmmh0-hY9c/s1600/Hajj_1_by_Deeeemz.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 265px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Ry7NDoR9gv4/ToR_Tx9ivAI/AAAAAAAAAoQ/nAmmh0-hY9c/s400/Hajj_1_by_Deeeemz.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5657787009689893890" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, betapa masa-Mu bergerak begitu cepat! Tidak lama lagi, para calon tamu-Mu akan segera berdatangan kembali ke Tanah Suci. Sudahkah mereka benar-benar melakukan persiapan ruhaniah, sehingga mereka benar-benar layak Engkau muliakan sebagai para tamu-Mu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa ucapan yang demikian itu membara dalam hati dan pikiran saya, tidak lama selepas seorang sahabat mengabarkan dan mengingatkan keterlibatan saya dalam pengarahan kepada para calon tamu Allah Swt. yang segera akan bertolak ke Tanah Suci Makkah dan Madinah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu kita semua tahu, berbeda dengan perjalanan wisata atau perjalanan dinas ke negara-negara lain, perjalanan untuk melaksanakan ibadah umrah atau ibadah haji memiliki nuansa tersendiri. Sebab, dalam perjalanan menuju Tanah Suci diperlukan persiapan ruhaniah yang mantap, di samping persiapan jasmaniah. Ini karena berbeda dengan kebanyakan ibadah lain, ibadah umrah maupun ibadah haji adalah ibadah ruhaniah yang sekaligus ibadah jasmaniah. Menyadari kabar dan pesan tersebut, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pemaparan seorang tokoh berdarah Iran: Abu Hamid Al-Ghazali, perihal pentingnya persiapan ruhaniah bagi para calon tamu Allah Swt. di Tanah Suci. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa Al-Ghazali?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran sejarah menorehkan, tokoh yang  pertama adalah seorang ulama dan pemikir terkemuka yang terkenal dengan karya besarnya, Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn itu lahir di  Thus,  Khurasan, pada  450  H/1058  M. Perjalanan hidupnya, dengan krisis ruhaniah yang pernah menimpa dirinya, hingga akhirnya bertolak ke Tanah Suci, menurut saya, menarik sebagai bekal bagi siapa pun yang akan melaksanakan ibadah umrah maupun ibadah haji. Pada masa kecilnya,  ia  menimba ilmu  di  bawah bimbingan Ahmad Al-Radzkani. Selepas itu, ia lantas pergi ke Jurjan dan  menimba ilmu kepada Imam Abu Nashr Al-Isamili.  Dari Jurjan, ia kemudian kembali ke Thus, lalu  merantau ke Nishapur. Di kota terakhir itu, ia belajar kepada  Abu  Al-Ma‘ali Al-Juwaini, yang mendapat gelar Imâm  Al-Haramain.  Ia tetap  mendampingi  gurunya itu hingga sang guru berpulang  pada  478 H/1085 M. Selepas itu, ia lantas melanjutkan kelana ilmiahnya ke Al-‘Askar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam  tahun kemudian, tokoh yang acap dilukiskan dengan kepala botak, berjenggot panjang, dan bermata tajam itu menapakkan kaki dan memasuki Baghdad untuk  mengajar di Perguruan  Nizhamiyyah. Ya, Perguruan Nizhamiyyah, sebuah perguruan terkemuka  di  Bagdad pada masa  pertengahan. Perguruan yang satu ini dididirikan  Nizham  Al-Mulk, seorang perdana menteri tersohor dalam pemerintahan Dinasti Saljuq,  pada 440  H/1048  M. Empat tahun lamanya  Al-Ghazali  mengajar  di lembaga pendidikan kenamaan yang menjadi model perguruan tinggi  di  kemudian hari  dan melahirkan banyak cendekiawan dalam berbagai  disiplin ilmu itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui jabatannya  sebagai mahaguru, nama  Al-Ghazali pun berkibar: sebagai   seorang pemikir  yang disegani dan ahli hukum yang dikagumi. Tidak saja di lingkungan lembaga itu. Namun, juga di kalangan pemerintahan  di Bagdad. Lantas, pada  488  H/1095  M, ia  meninggalkan  Bagdad,   dengan memberikan  kesan akan pergi ke Makkah untuk  menunaikan  ibadah haji.  Tapi,  sejatinya, kala itu ia sedang  mengalami  krisis berat dalam kehidupan ruhaniahnya. Ya, krisis ruhaniah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang krisis ruhaniah yang menghajar dirinya kala itu, Al-Ghazali mengungkapkannya dengan indah sebagai berikut, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kondisi diriku pun lantas kurenungkan. Ternyata, aku terlalu tersibukkan dengan pelbagai ikatan duniawi yang menyergap diriku dari segala penjuru. Amal-amalku pun lantas kurenungkan. Khususnya, amalku yang terbaik, yaitu mengajar. Ternyata, aku hanya menerima ilmu yang remeh dan tak berguna. Aku pun lantas merenungkan niatku dalam mengajar. Ternyata, niatku pun tak ikhlas. Malah, hanya karena terdorong keinginan untuk memburu jabatan dan menjadi tokoh tersohor. Aku pun menjadi yakin, aku nyaris mengalami kehancuran dan benar-benar tak akan terselamatkan dari neraka, andaikan aku tak meninggalkan semua hal yang remeh temeh itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk beberapa lama, aku tak henti-hentinya merenungkan semua hal itu. Kala itu, aku masih jauh lagi dari mengambil keputusan. Terkadang, aku begitu ingin melarikan diri dari Bagdad dan meninggalkan kondisi yang ada. Namun, keinginan itu lantas mereda kembali. Lalu, kucoba untuk melangkah lagi. Tapi, aku lantas balik surut. Manakala pagi menampakkan semburatnya, aku sangat berkeinginan untuk menggapai kehidupan akhirat. Namun, begitu sang senja mulai menampakkan diri, pasukan hawa nafsu pun menghancurkan keinginan itu. Akibatnya, manakala pesona duniawi begitu kuat menahan diriku agar tetap tinggal, di kala yang sama seruan keimanan menyeru diriku agar pergi. Ya, pergi, karena usia tinggal tersisa sedikit lagi, sedangkan perjalanan masih sangat panjang membentang. Padahal, semua ilmu maupun amalku hanya untuk menonjolkan diri dan merupakan ilusi semata. Setan pun kembali muncul dan menggodaku, ‘Ah, bukankah keadaanmu yang demikian ini hanya selintas saja. Kau tentu kuasa menundukkannya. Bukankah hal itu gampang sirna?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku tetap dalam keadaan ragu. Terombang-ambing di antara tarikan pesona duniawi dan seruan akhirat. Keadaanku berlangsung selama enam bulan. Akhirnya, keadaanku ini memaksaku untuk mengambil keputusan. Sebab, Allah telah mengunci kalbuku hingga tak kuasa mengajar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, dengan semangat penuh, aku berusaha menyenangkan berbagai pihak. Ternyata, sepatah kata pun tak terucapkan olehku. Aku sama sekali tak kuasa mengucapkannya. Keadaan yang menimpa diriku itu lantas menimbulkan derita dalam kalbu. Hancurlah, bersamanya, kemampuanku untuk mencerna. Juga, sirna bersamanya nafsu makan maupun minum. Kala itu, setetes minuman atau sesuap makanan tak terasakan. Keadaan ini berlanjut dengan melemahnya semua daya dan kekuatan. Sehingga, para dokter pun merasa tak kuasa menyembuhkannya. Ucap mereka, ‘Keadaan ini pertama-tama menimpa kalbu. Lantas, dari situ, menjalar ke seluruh tubuh. Akibatnya, kini tiada jalan untuk menyembuhkannya, kecuali dengan perginya rahasia terpendam dalam pikiran yang menderita.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika aku menyadari ketidakmampuanku, dan seluruh kesanggupanku untuk memutuskan sirna, aku pun kembali kepada Allah laksana kembalinya orang yang tersudut dan tanpa daya&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mengatasi krisis ruhaniah itu, Al-Ghazali  akhirnya meninggalkan segala  pencapaian  ilmiahnya  dan  ketenaran  namanya,  yang  telah ia bangun  dengan  kedudukannya sebagai  mahaguru  yang  tenar dan tersohor,  dan memasuki  hidup  berkontemplasi. Kemudian, dari  bilik-bilik  tertutup  di masjid-masjid  Damaskus, Suriah  dan Bait  Al-Maqdis, Palestina serta  dari  keheningan dan kebeningan tafakur,  ia tatap  dengan  kritis arus  pemikiran  agama  dominan  yang,  dengan meninggalkan dunia ramai,  kini  secara lahiriah  telah ia tinggalkan pula. Tentang bagaimanana ia akhirnya berhasil mengatasi krisis itu, ia mencatat sebagai berikut, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Penyakit itu pun kian merajalela. Hampir selama dua bulan, terpepet oleh kondisi yang ada dan bukannya berdasarkan logika yang sehat, aku meniti jalur kaum sofis. Kondisi itu berlangsung hingga Allah menyembuhkan sakitku itu, hingga jiwaku pun kembali sehat dan normal kembali. Hasil daya pikir pun kembali dapat diterima dan dipercaya penuh rasa aman serta yakin. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua itu bukan karena adanya dalil yang teratur rapi. Juga, bukan karena adanya kata yang tersusun benar. Tapi, karena adanya cahaya yang diturunkan Allah ke dalam kalbu. Yaitu, cahaya yang menjadi kunci kebanyakan pengetahuan. Jelasnya, siapa pun mengira bahwa iluminasi (kasyf) hanya tergantung pada dalil-dalil semata, sejatinya ia telah mempersempit karunia Allah yang demikian luas&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas itu, barulah  Al-Ghazali naik haji. Seusai melaksanakan ibadah tersebut, dari Makkah Al-Mukarramah, pada 489 H/1096 M ia merantau  ke Suriah  dan tinggal di Kota Damaskus. Selama menetap di kota  terakhir itulah ia menyusun karya puncaknya, Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn. Dan, kini, bagaimanakah pesan Al-Ghazali kepada seseorang yang bermaksud melaksanakan ibadah umrah atau ibadah haji?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn&lt;/span&gt;, tokoh yang  seorang ulama dan pemikir terkemuka itu dengan begitu indah mengemukakan catatan dan pesannya kepada orang yang berniat melaksanakan melaksanakan ibadah haji atau umrah ke Makkah Al-Mukarramah. Tentang persiapan ruhaniah yang perlu disiapkan seseorang yang bermaksud menunaikan kedua ibadah tersebut, dalam karya besarnya itu ia antara lain berpesan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wajar, bila seseorang yang akan menapakkan kaki menuju Baitullah tak menyia-nyiakan kunjungannya. Juga, kiranya ia berharap, maksud kunjungannya adalah untuk mendapatkan anugerah pada Hari Kembali yang ditentukan atas dirinya. Yaitu, memandang wajah Allah Yang Maha Mulia di tempat ketetapan pada saat mata yang picik tak siap menerima pandangan terhadap wajah Allah Swt. Juga, tak kuasa menanggungnya serta tak bersedia berhiaskan dengannya, karena kepicikan pandangannya. Di negeri akhirat, manakala pandangan itu ditopang oleh kekekalan dan dibersihkan dari seluruh penyebab perubahan dan kebinasaan, tentu ia menjadi sedia untuk memandang dan melihat wajah-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, dengan bermaksud mengunjungi Baitullah dan memandanginya, tentu ia berhak bertemu dengan Yang Memiliki Baitullah, berdasarkan hukum perjanjian yang mulia. Karena itu, tak mustahil kerinduan untuk  bertemu dengan Allah Swt. juga merupakan kerinduan terhadap pelbagai penyebab pertemuan itu. Di samping itu, juga karena mencintai sesuatu akan membangkitkan kerinduan terhadap segala sesuatu yang dinisbatkan pada sesuatu yang ia cintai. Baitullah, yang dinisbatkan kepada Allah Swt., wajar bila dirindukan semata karena adanya penisbatan itu. Lebih-lebih bila untuk meraih pahala banyak yang dijanjikan&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentang tekad untuk melaksanakan ibadah di Tanah Suci, baik ibadah umrah maupun ibadah haji, tokoh yang pernah menapakkan kaki dan memasuki Bagdad untuk  mengajar di Perguruan  Nizhamiyyah, sebuah perguruan terkemuka  di  Bagdad pada  Masa  Pertengahan itu  mengemukakan, manakala seseorang telah memancangkan tekad untuk bertolak ke Tanah Suci, hal itu berarti ia telah berniat bulat akan berpisah dengan keluarga dan tempat tinggal. Juga, ia telah berniat akan meninggalkan hawa nafsu dan kesenangan serta mengarahkan diri sepenuhnya menuju Baitullah. Tokoh itu juga menyarankan, hendaknya dalam kalbu calon peziarah Tanah Suci tumbuh sikap mengagungkan kedudukan Baitullah dan kedudukan Yang Memiliki Baitullah. Demikian halnya hendaknya ia mengetahui bahwa ia telah bertekad menuju sesuatu yang tinggi kedudukannya dan penting keadaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sejatinya, barang siapa mendambakan sesuatu yang agung, niscaya keagungan tersebut akan mekar dalam kalbunya,” demikian ucap Al-Ghazali.  “Karena itu, hendaknya ia menjadikan tekadnya ikhlas sepenuhnya. Demi Allah Swt. semata dan lepas sepenuhnya dari paduan dengan sikap menonjolkan diri dan keinginan disanjung orang. Juga, hendaknya ia meyakini bahwa orang yang bermaksud beramal  tak akan diterima selain dengan ikhlas karena-Nya semata. Sejatinya, sebagian dari kekejian yang paling buruk adalah pergi menuju Baitullah dan Tanah Haram, tapi maksudnya yang sejatinya adalah lain. Karena itu, hendaknya ia meluruskan tekad dalam dirinya dan membetulkannya dengan kalbu yang ikhlas. Keikhlasan bakal timbul dengan menjauhkan diri dari sikap ingin menonjolkan diri dan perasaan bangga yang membara dalam diri. Untuk itu, hendaknya ia waspada agar tak menggantikan sesuatu yang baik dengan sesuatu yang buruk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara maksud memutuskan seluruh hubungan ialah mengembalikan seluruh hak orang lain yang diperoleh dengan secara tak sah dan bertobat dari seluruh perbuatan maksiat dengan sebenar-benarnya kepada Allah Swt. Sebab, setiap tindakan aniaya sejatinya senantiasa memiliki kaitan. Setiap kaitan laksana orang yang berutang yang hadir yang digantungi kain yang diikatkan di lehernya. Lalu, ia dipanggil dan ditanya, “Hendak pergi ke mana Anda? Apakah Anda bermaksud menemui Sang Maharaja? Bukankah Anda telah menyia-nyiakan perintah-Nya di tempat Anda ini, melecehkannya, dan mengabaikannya? Apakah Anda tak malu datang menghadap kepada-Nya laksana seorang hamba yang durhaka, lantas Dia menolak kedatangan Anda dan tak menerima Anda? Bila Anda menghendaki agar kunjungan Anda diterima, kembalikanlah seluruh hak orang lain dan bertobatlah kepada-Nya dari seluruh perbuatan maksiat! Lantas, putuskanlah hubungan Anda, sehingga Anda tak lagi berpaling ke belakang! Ini agar Anda dapat berhadapan dengan-Nya sepenuh hati Anda, seperti halnya ketika Anda berhadapan dengan Rumah-Nya dengan lahiriah tubuh Anda. Bila Anda tak melaksanakan hal yang demikian, pertama-tama tiada yang Anda dapatkan dari perjalanan Anda selain kepenatan dan kesengsaraan, sedangkan pada akhirnya Anda akan diusir dan ditolak&lt;/span&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lebih jauh Al-Ghazali berpesan,  hendaknya orang yang akan bertolak ke Tanah Suci memutuskan hubungan dengan tempat asal, bagaikan tindakan seseorang yang memutuskan diri dari-Nya. Juga, hendaknya ia mengandaikan tak akan kembali lagi. Karena itu, hendaknya ia menuliskan wasiat kepada anak-anak dan keluarganya. Sebab, orang yang meniti perjalanan jauh sejatinya hartanya dalam bahaya, kecuali orang yang dipelihara Allah Swt. Ketika ia telah memutuskan seluruh hubungan karena perjalanan ke Tanah Suci, hendaknya ia ingat bahwa pemutusan seluruh hubungan ia lakukan karena ia hendak melakukan perjalanan ke akhirat. Ini karena perjalanan yang demikian itu tak akan lama lagi akan berada di hadapannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bagaimanakah sebaiknya tentang bekal bagi seseorang yang akan bertolak ke Tanah Suci? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hendaknya bekal itu didapat dari hal-hal yang halal&lt;/span&gt;,” demikian pesan Al-Ghazali. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Manakala seseorang merasa dirinya masih berupaya memperbanyak bekalnya, masih memburu bekal yang masih tersisa selama di tengah perjalanan, sedangkan sikap dan tindakannya yang demikian tak berubah dan sirna sebelum meraih sesuatu yang dimaksudkan, hendaknya ia ingat bahwa perjalanan di akhirat lebih panjang daripada perjalanan ini dan perbekalannya adalah takwa. Selain itu, sesuatu yang dikira bekal sejatinya akan ditinggalkan ketika mati dan juga akan mengkhianatinya. Karena itu, bekal itu tak akan senantiasa menyertainya, bagaikan makanan basah yang busuk pada permulaan tempat persinggahan selama di tengah perjalanan. Akibatnya, ketika saat diperlukan tiba, ia kebingungan dan memerlukan sesuatu yang menjadi berada di luar jangkauannya. Di samping itu, hendaknya ia waspada atas seluruh amal perbuatannya yang akan menjadi bekalnya ke akhirat yang tak jadi menyertainya selepas mati. Malah, dirusak oleh sikap ingin menonjolkan diri dan kekotoran kelengahan&lt;/span&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, tentang mengapa seseorang harus mengenakan pakaian ihram ketika ia sedang melaksanakan ibadah umrah atau ibadah haji, Al-Ghazali mengemukakan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hendaknya dengan hal itu mengingatkan pemakainya pada kain kafan dan ia akan dibalut dengan kain itu. Sejatinya, ketika mendekati Baitullah, ia akan terbalut dengan dua helai kain ihram itu. Tapi, perjalanannya itu bisa saja tak sempurna dan tak mustahil pula ia akan bertemu Allah Swt. dalam keadaan terbalut kain kafan itu. Karena itu, seperti halnya ia tak menjumpai Baitullah kecuali dalam keadaan yang di luar kebiasaannya, begitu pula ia hendaknya tidak akan menjumpai Allah Swt. selepas mati kecuali dalam pakaian yang berbeda dengan pakaian yang ia kenakan selama di dunia. Dan, pakaian ihram mirip pakaian kafan, karena pakaian ihram tanpa jahitan seperti halnya kain kafan&lt;/span&gt;…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Selanjutnya&lt;/span&gt;,” demikian tokoh yang  melewatkan   usia senjanya  di  tempat kelahirannya hingga ia  menghadap  Yang Maha Pencipta pada Senin, 14 Jumada Al-Tsaniyyah 505 H/19 Desember 1111 M, dengan meninggalkan banyak karya,  antara lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ihyâ’  ‘Ulûm  Al-Dîn,  Al-Iqtishâd fî Al-I‘tiqâd, Ayyuhâ Al-Walad,  Al-Munqidz  min Al-Dhalâl, Maqâshid Al-Falâsifah&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tahâfut Al-Falâsifah&lt;/span&gt;, itu mengakhiri pesan indahnya, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ketika  meninggalkan kampung halaman, hendaknya ia mengetahui bahwa ia kini berpisah dengan keluarga dan tempat asalnya serta menghadapkan diri kepada Allah Swt. dalam suatu perjalanan yang tiada persamaannya dengan pelbagai perjalanan di dunia. Karena itu, hendaknya ia memancangkan dalam kalbunya, dalam kaitannya dengan sesuatu yang ia kehendaki, ke mana arah yang ia akan tuju dan siapa yang akan ia ziarahi: kini ia menghadap Sang Maharaja bersama duyunan para peziarah yang mengunjungi-Nya. Mereka mendapat panggilan dan memenuhi panggilan itu, dirindukan lalu merindukan, diminta bangkit lalu bangkit dan memutuskan seluruh ikatan serta berpisah dengan seluruh manusia. Lalu, mereka menghadapkan diri ke Rumah Allah yang agung perintah-Nya, yang mahabesar keadaan-Nya, dan mahatinggi kedudukan-Nya, merasa gembira bertemu dengan Baitullah sebagai ganti bertemu dengan Yang Memilikinya hingga mereka berhasil meraih puncak cita-cita mereka dan merasa berbahagia memandang Yang Maha Menguasai mereka&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indah pesan-pesan Al-Ghazali!(arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-982455342777481118?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/982455342777481118/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=982455342777481118&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/982455342777481118'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/982455342777481118'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/09/sekali-lagi-pesan-al-ghazali-kepada.html' title='Sekali Lagi: Pesan Al-Ghazali kepada Para Calon Jamaah Haji'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Ry7NDoR9gv4/ToR_Tx9ivAI/AAAAAAAAAoQ/nAmmh0-hY9c/s72-c/Hajj_1_by_Deeeemz.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-276261097769982099</id><published>2011-09-25T10:04:00.004+07:00</published><updated>2011-09-25T12:53:46.306+07:00</updated><title type='text'>Pengemis dan "Burung Merak Para Ulama"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-Gcb8ZJxFBEQ/Tn6azxiw9uI/AAAAAAAAAoA/etqhsqVVxsg/s1600/beggar_3327_l.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 294px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-Gcb8ZJxFBEQ/Tn6azxiw9uI/AAAAAAAAAoA/etqhsqVVxsg/s400/beggar_3327_l.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5656128396287080162" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Apakah semua pengemis memang berniat mengemis? Tiadakah di antara mereka pengemis yang berhati mulia seperti seorang pengemis yang pernah membuat Al-Junaid merasa bersalah?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, pertanyaan yang demikian tiba-tiba “mencuat” dalam benak saya, tadi pagi 25 Sepetember 2011, seusai membaca sebuah tulisan tentang mafia pengemis di sebuah media elektronik. “Ah, tentu saja pengemis yang pernah membuat Al-Junaid segera melakukan introspeksi itu tidak akan pernah ada lagi,” jawab saya segera ketika menyadari pertanyaan yang muncul mendadak tersebut. &lt;br /&gt;Siapakah Al-Junaid yang pernah dibikin TKO (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;technical knockout&lt;/span&gt;) oleh pengemis itu? Juga, bagaimanakah kisah antara dirinya dan si pengemis itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Junaid, tokoh yang satu ini, tentu kini tidak banyak lagi yang mengenalnya. Mengapa? Ini karena tokoh yang mendapat gelar “Burung Merak Para Ulama”, alias &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Thawus Al-‘Ulama’&lt;/span&gt; ini hidup pada abad ke-3 Hijriah/9 Masehi. Dengan kata lain, tokoh yang satu ini muncul sebelum kemunculan Abu Hamid Al-Ghazali, seorang sufi, pemikir, dan tokoh yang terkenal dengan karya besarnya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ihya’ ‘Ulum Al-Din&lt;/span&gt;. Nah, Al-Junaid yang satu ini bernama lengkap  Abu Al-Qasim  Al-Junaid bin Muhammad Al-Khazzaz  Al-Nihawandi.  Putra seorang  pedagang  pecah belah yang berdarah Iran  ini  lahir  di Baghdad tanpa diketahui secara pasti tahun kelahirannya.  Ibundanya adalah saudara perempuan Sari Al-Saqathi, seorang sufi terkemuka pada  masa itu yang kemudian menjadi gurunya. Di samping  itu,  ia juga  menimba ilmu kepada Al-Harits bin Asad  Al-Muhasibi,  juga seorang  sufi  terkemuka kala itu. Dan, ia memerdalam  ilmu  fikih  atas mazhab Abu Tsaur, seorang sahabat Al-Syafi‘i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam  tasawuf, Al-Junaid mewakili aliran moderat.  Dengan  kata lain, ia mewakili tasawuf para fuqahâ’ yang mendasarkan diri pada Al-Quran dan Sunnah. Di samping itu, ia juga dipandang  sebagai seorang tokoh penting dalam sejarah tasawuf. Ini karena pendapat-pendapatnya  yang kaya, sikapnya yang memadukan  antara  syariah dan  hakikat,  dan  termasuk  kelompok  sufi  yang  tidak   suka menyatakan   ungkapan-ungkapan  yang  ganjil.  Malah,  ia   lebih mendahulukan kesadaran ketimbang kondisi ketidaksadaran  (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;trance&lt;/span&gt;) dan  lebih  mendahulukan kebakaan  ketimbang  kefanaan.  Demikian halnya  ia seorang guru yang terkenal dan mempunyai banyak  murid yang   ia  ajari  tasawuf  serta  ia  tunjuki   wawasan   tentang kesempurnaan  ilmu ataupun amal. Dan, ia juga  mendirikan  sebuah aliran  yang terkenal dalam tasawuf yang metodanya kelak  diikuti Al-Ghazali,  pemikir  yang sufi  terkemuka,  dan  Al-Syadzili, pengasas Tarikat Syadziliyyah.&lt;br /&gt;Menurut sufi yang berpulang kepada Sang Pencipta di Baghdad  pada 298  H/909  M ini, amaliah seorang sufi harus  melaksanakan  tiga rukun amal. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, melaksanakan secara konsisten dzikir  tanpa pernah  berhenti  dan disertai  tekad  serta  kesadaran  penuh.  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, memertahankan  tingkat  kegairahan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;wajd&lt;/span&gt;) yang  tinggi.  &lt;span style="font-&lt;br /&gt;style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, senantiasa melaksanakan syariah secara tepat dan ketat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Nah, pada suatu hari, Al-Junaid diberi kesempatan untuk memberikan pengarahan kepada khalayak ramai di sebuah masjid di Baghdad Darussalam. Ketika ia sedang asyik berpidato dengan penuh semangat, tiba-tiba salah seorang di antara hadirin berdiri dan mulai mengemis di antara mereka. “Orang itu kok kelihatannya cukup sehat,” ucap Al-Junaid dalam hati seraya menghentikan pidatonya sejenak. “Bukankah dengan tubuh sehat demikian, ia dapat mencari nafkah. Tapi, mengapa ia mengemis dan menghinakan diri seperti itu?”&lt;br /&gt;Malam harinya, ketika tidur, Al-Junaid bermimpi, di depannya tersaji makanan yang tertutup tudung. “Makanlah, Al-Junaid!” sebuah suara memerintah Al-Junaid. Ketika Al-Junaid mengangkat tudung itu, terlihat olehnya si pengemis terkapar di atas piring.&lt;br /&gt;“Aku tidak mau makan daging manusia,” Al-Junaid menolak seraya menundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;“Lo, bukankah itu yang kau lakukan kemarin, ketika kau berpidato di hadapan khalayak ramai?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Junaid segera menyadari, ia bersalah karena telah berbuat fitnah dalam hatinya. Karena itu, ia pantas dihukum. “Aku pun tersentak bangun dalam keadaan takut,” tutur Al-Junaid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera, Al-Junaid bersuci dan melakukan shalat sunnah dua rakaat. Selepas itu, ia pergi mencari si pengemis. Ia dapatkan si pengemis sedang berdiri di tepi Sungai Tigris. Ia sedang memungut sisa-sisa sayuran yang dicuci di situ dan memakannya. Melihat Al-Junaid mendatanginya, si pengemis lantas mengangkat kepalanya dan berucap kepada Al-Junaid, “Al-Junaid! Sudahkah kau bertobat karena telah berburuk sangka terhadap aku?”&lt;br /&gt;“Sudah, saudaraku, ” jawab Al-Junaid dengan suara lirih. Malu.&lt;br /&gt;“Jika demikian, pergilah dari sini. Dia-lah Yang Menerima tobat hamba-hamba-Nya. Dan, jagalah hati dan pikiranmu,” ujar si pengemis. &lt;br /&gt;Sebuah pelajaran indah dari si pengemis untuk kita semua, “Jagalah hati dan pikiran kita. Kepada siapa pun!” (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-276261097769982099?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/276261097769982099/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=276261097769982099&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/276261097769982099'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/276261097769982099'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/09/pengemis-dan-burung-merak-para-ulama.html' title='Pengemis dan &quot;Burung Merak Para Ulama&quot;'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-Gcb8ZJxFBEQ/Tn6azxiw9uI/AAAAAAAAAoA/etqhsqVVxsg/s72-c/beggar_3327_l.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-5525268103782219763</id><published>2011-09-22T09:42:00.008+07:00</published><updated>2011-09-22T16:36:30.453+07:00</updated><title type='text'>Sang Marsekal dan Sang Kolonel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-s0SmavajvbA/TnqhI9HeimI/AAAAAAAAAn4/8DUGkMGHFN0/s1600/paris.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-s0SmavajvbA/TnqhI9HeimI/AAAAAAAAAn4/8DUGkMGHFN0/s400/paris.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5655009457334028898" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sungguh, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri&lt;/span&gt;.” (QS Al-Ra’d [13]: 11).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dilema besar bagi Barack Obama,” demikian komentar Imam Shamsi Ali dalam facebooknya tadi pagi, 22 September 2011, tentang sikap presiden Amerika Serikat perihal masalah kemerdekaan Palestina. “Kata hatinya berbisik, 'kemerdekaan' adalah hak setiap manusia dan karenanya memiliki hak penuh untuk merdeka. Pidatonya yang mengutip berkali-kali Piagam PBB menjadi bukti 'bisikan nurani' itu. Namun, sebagai politisi dia sadar bahwa masa depan politiknya juga ditentukan 'realitas' di lapangan. Dan, idealisme ternyata tertelan pahit oleh kepentingan politik. Sekaligus menjadi kenyataan bahwa mendukung kemerdekaan Palestina, mesti melalui 'grass root movement' dengan mengubah peta kekuatan politik AS. Selama kekuatan politik masih terkendalikan oleh kelompok tertentu, selama itu pula jangan harapkan sikap politisi akan berubah terhadap isu klasik ini.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika membaca komentar Imam Shamsi Ali (seorang Imam muda asal Indonesia di New York, Amerika Serikat) tersebut, beberapa lama saya termenung. Termenung, karena tersadarkan, betapa persoalan “konflik antara idealisme dan realitas” tersebut begitu kerap terjadi dalam kehidupan kita. Tidak hanya dalam kehidupan politik saja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dan, ternyata, tidak mudah “menaklukkan” realitas: tidak semudah membalikkan tangan. Diperlukan sikap teguh dan tidak mudah putus asa untuk dapat membuat realitas dapat diarahkan dan dikendalikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa pula, ketika merenung demikian, saya teringat kisah antara “sang Marsekal dan sang Kolonel”. Kisah itu mengajarkan kepada kita, betapa tidak mudah “menundukkan” realitas, karena itu diperlukan daya juang yang tidak mudah patah arang. Tidak seperti sikap sang Marsekal yang gampang tunduk pada realitas, sikap sang Kolonel jelas: tidak mau dipecundangi realitas dan terus berjuang, sehingga akhirnya ia berhasil meraih kemenangan. Nah, berikut adalah kisah antara “sang Marsekal dan sang Kolonel” tersebut: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;“Saya datang untuk memeriksa pasukan ini,” ucap seorang perwira tinggi kepada seorang sahabatnya. “Saya tahu, sebenarnya kedatangan saya ini tidak Anda harapkan. Tetapi, apa yang dapat saya lakukan? Saya menerima perintah untuk memeriksa pasukan ini. Perintah itu saya patuhi, karena selama ini saya selalu patuh. Dengan cara demikian, saya berhasil meraih pangkat Marsekal.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabatnya tidak memberikan komentar apa pun. Semua orang tahu, sang Marsekal adalah orang yang selalu patuh. Tidak hanya terhadap atasannya saja, tapi juga terhadap realitas di hadapannya. Dan, tidak berapa lama kemudian, sang Marsekal diangkat sebagai Menteri Pertahanan. Kini, sang Marsekal bertanggungjawab atas keamanan militer negerinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada suatu hari datang sebuah laporan, “Di Jerman kini muncul seorang tokoh baru bernama Adolf Hitler. Ia ingin membalas dendam kekalahan negerinya oleh negara kita dalam Perang Dunia I.” Menerima laporan demikian, sang Marsekal hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Jangan pedulikan omongan Hitler. Ucapannya hanya untuk konsumsi dalam negeri saja.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa minggu kemudian datang lagi sebuah laporan: Hitler sedang menyusun kekuatan Angkatan Bersenjata Jerman dan melengkapinya dengan sederet pesawat tempur dan tank. Mendengar laporan itu, sang Marsekal tetap tidak tertarik dan berkomentar, “Pesawat terbang akan selalu jatuh ke Bumi. Sedangkan tank tidak menimbulkan bahaya apa-apa di medan pertempuran.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat sikap sang Marsekal yang demikian, seorang bawahannya yang berpangkat Kolonel tidak tahan lagi menahan perasaan sebalnya. Ucap sang Kolonel dengan menahan perasaan jengkel, “Marsekal! Pesawat tempur dan tank akan menjadi senjata andal dalam perang mendatang!” Jawab sang Marsekal, “Siapa bilang akan terjadi perang lagi? Kau tidak mengerti sedikit pun tentang perang. Kau anak yang baru lahir kemarin sore!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anak yang dikatakan “baru lahir kemarin sore” itu berusia 50 tahun dan bernama Charles de Gaulle. Sedangkan sang Marsekal bernama Henri Philippe Petain. Karena kepatuhan bagi sang Marsekal berarti segala-galanya, maka ia pun mengeluarkan memo supaya sang Kolonel tidak dinaikkan pangkatnya. Ternyata, Perang Dunia II kemudian benar-benar meletus. Serdadu-serdadu Hitler pun mulai memasuki kawasan Perancis. Pemerintah negara itu pun memanggil Menteri Pertahanan untuk dimintai pendapat. Nasihatnya jelas, “Kita harus tunduk kepada Hitler. Realitas lebih kuat daripada kita!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat itu tidak aneh, karena keluar dari mulut seseorang yang selama hidupnya selalu tunduk dan patuh. Bila sebelumnya ia menyerahkan kepatuhannya kepada pribadi-pribadi, kini ia menyerahkannya pada realitas. Tiba-tiba sang Kolonel Charles de Gaulle muncul. Sejak semula ia menolak sikap menyerah terhadap realitas dan menolak patuh kepada sang Menteri Pertahanan. Ia tidak mau melaksanakan perintah atasannya itu. Dengan meninggalkan keluarganya, rumahnya, pangkatnya yang lumayan tinggi, dan kehidupannya yang cukup mapan, ia pergi ke Inggris dengan membawa kehormatan negerinya. Sedangkan sang Marsekal tetap tinggal di negerinya menghadapi realitas negerinya sedang dijarah serdadu-serdadu Hitler. Di Inggris, sang Kolonel menyatakan pemberontakannya terhadap realitas. Dari negeri itu, ia memulai perlawanan Perancis terhadap pendudukan Jerman. Sedangkan sang Marsekal, yang telah membentuk sebuah pemerintahan, segera menyatakan menyerah kepada pasukan pendudukan. Di negerinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perancis pun terbelah di antara dua tokoh. Salah satunya tokoh yang memuja kepatuhan terhadap realitas. Sedangkan yang seorang lagi pembelot terhadap realitas. Yang pertama melihat apa yang ada di hadapannya sebagai realitas yang harus diterima. Yang kedua melihat perubahan atas realitas harus dimulai dengan melakukan pembelotan. Yang pertama berpandangan, nilai manusia (juga masyarakat) tidak melebihi harganya yang dinyatakan di pasar. Sementara yang kedua berpendapat, nilai manusia (juga masyarakat) dimulai dari kehendaknya, semangatnya, keyakinannya terhadap masyarakatnya, dan keteguhannya dalam memegang prinsip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, menanglah prinsip atas realitas. Beberapa tahun kemudian, sang Kolonel memasuki Perancis dengan bendera kemenangan. Sedangkan kisah sang Marsekal berakhir bersama penyerahan pasukan pendudukan Jerman. Dan, lembaran sejarah menorehkan, betapa sering suatu masyarakat memerlukan sejumlah anggotanya yang mampu memukul lonceng peringatan. Yakni, peringatan terhadap bahaya sikap menerima dan menyerah terhadap realitas. Juga, terhadap sikap menolak kemungkinan dilakukannya perubahan terhadap realitas yang ada. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana dengan sikap Anda dalam menghadapi realitas yang sedang Anda hadapi dan berlawanan dengan idealisme Anda? Silakan memilih: mau menjadi “pengikut” Sang Marsekal atau mau menjadi “pendukung kuat” Sang Kolonel!(arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-5525268103782219763?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/5525268103782219763/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=5525268103782219763&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/5525268103782219763'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/5525268103782219763'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/09/sang-marsekal-dan-sang-kolonel.html' title='Sang Marsekal dan Sang Kolonel'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-s0SmavajvbA/TnqhI9HeimI/AAAAAAAAAn4/8DUGkMGHFN0/s72-c/paris.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4249069376300909921</id><published>2011-09-16T13:57:00.005+07:00</published><updated>2011-09-22T10:20:59.758+07:00</updated><title type='text'>Kado untuk Seorang Maestro</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-kLWge1C0KHc/TnL1jGJLRfI/AAAAAAAAAnw/SndxrOb2gdQ/s1600/Achmad%2BNoeman.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-kLWge1C0KHc/TnL1jGJLRfI/AAAAAAAAAnw/SndxrOb2gdQ/s400/Achmad%2BNoeman.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5652850465596720626" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa kemarin, Kamis 15 September 2011, selepas jemari tangan tidak lagi mau diajak “menari-nari” di atas keyboard, pandangan saya terarah ke tumpukan paling bawah majalah-majalah “tempo doeloe” di bawah meja kerja saya.  “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wow&lt;/span&gt;, majalah-majalah Kiblat awal tahun-tahun 1990-an”, begitu pandangan saya bertumbukan dengan tumpukan majalah-majalah yang sangat saya kenal.&lt;br /&gt;Melihat majalah-majalah lusuh awal  tahun-tahun 1990-an itu, segera saja kedua tangan saya ber”hijrah” dari keyboard menuju tumpukan majalah-majalah itu. Satu demi satu majalah-majalah lama itu saya buka kembali. Segera pula, dalam benak saya, muncul deretan sosok para sahabat yang pernah berkontribusi bersama dalam mengelola Majalah Kiblat itu. Kini, mereka bertebaran di pelbagai bidang: ada yang menjadi direktur utama sebuah perusahaan pembangkit tenaga listrik, dokter spesialis jantung, direktur utama sebuah perusahaan IT, ahli geologi, mantan anggota DPR, editor senior, arsitek, penulis, ahli ekonomi yang doktor jebolan Jepang, direktur sebuah rumah batik, direktur usaha agri-food, dosen, dan seniman yang pelukis. &lt;br /&gt;Selepas mencermati satu demi satu majalah-majalah tersebut, entah kenapa mata saya kemudian tidak mau beranjak dari sebuah wawancara menarik dan panjang dengan seorang maestro masjid Indonesia: Achmad Noe’man. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wow&lt;/span&gt;, ini wawancara lama, tapi indah!” Wawancara (yang tidak tercatat dilakukan siapa, tapi seingat saya oleh Dian R. Basuki dan M. Syamsuddin Dahlan, dua insinyur muda lulusan Institut Teknologi Bandung) panjang itu yang dilakukan pada  akhir 1988 itu demikian memikat dan indah. Betapa banyak pelajaran indah yang dapat saya ambil dari wawancara itu. Karena itu, pada kesempatan ini, izinkan saya menghadirkan kembali wawancara itu lengkap, sebagai kado ulang tahun dan penghormatan saya kepada seorang maestro masjid Indonesia  yang bulan depan akan berulang tahun yang ke-87:&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Paruh kedua abad ke-19. Sekelompok penduduk beriringan meninggalkan Kudus, kota yang terkenal dengan jenangnya itu. Mereka menuju Garut, sebuah kota kecil di Bumi Parahyangan. Dan, akhirnya, mereka menetap di sana. Haji Mas Djamhari, salah seorang di antaranya, menikah dengan mojang setempat. Lahirlah 13 orang putra. Di tengah kesibukannya berdagang batik, mengurusi kebun jeruk, dan bergumul dengan mesin cetak, ia tekun mendidik Noe’man kecil. Kini, ia dikenal sebagai seorang arsitek.&lt;br /&gt;Kantor Birano, lepas zuhur. Usai shalat  Jumat di Masjid Salman ITB, arsitek senior ini menyempatkan diri coret-coret di atas kertas. Bukan merancang bangunan, tapi menulis kaligrafi. Memang, itulah salah satu hobinya. Lalu, pria kelahiran Garut, 10 Oktober 1924, itu pun membuka percakapan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Di zaman Belanda dulu, di Garut banyak hotel, pariwisatanya maju. Saya sekolah di HIS dan MULO, juga di kota ini. Sorenya, belajar di madrasah. Kemudian dilanjutkan di wustha, kalau sekarang ya setingkat dengan Madrasah Tsanawiyyah. Waktu itu umur saya baru 7-9 tahun. Agak susah juga, habis lagi senang-senangnya main bola. Di antara saudara saya, saya memang lain sendiri. Saya sering hilang dari rumah, ikut camping, tour, dan main bola. &lt;br /&gt;Lepas dari MULO, saya tidak meneruskan ke AMS. Soalnya, di Garut gak ada AMS. Akhirnya, saya ikut kakak (Ahmad Sadali alm., seorang pelukis kondang) di Yogyakarta. Itu lho, di SMA Muhammadiyah Ketanggungan. Tahun 1945, zaman revolusi, saya masuk Divisi Siliwangi dan ditugaskan di Jakarta sambil sekolah di SMA Republik.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mulai kapan Pak Noe’man meminati arsitektur? Sejak kecil?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya,ya, dari kecil. Memang, sebetulnya dari kecil saya sudah punya keinginan membuat rencana-rencana rumah. Ayah sendiri senang membangun. Beliau juga menaruh perhatian terhadap perkembangan ummat, seperti mendirikan madrasah, mushalla, dan masjid. Jadi, dari dulu saya ikut menggambar masjid. Apalagi arsitektur itu kan dekat dengan seni. Saya senang, kan lingkungan seni itu ada keluarga saya. Nenek, ibu, dan ayah sendiri saudagar, bisnisnya batik. Barang kali itu banyak memengaruhi saya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kapan masuk ITB?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1948. Sebenarnya belum ITB. Waktu itu namanya Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Dulu belum ada Jurusan Arsitektur. Yang ada Civil Afdeling, bagian bangunan. Tapi, saya tidak senang. Bayangkan, kita diajari macam-macam, dapat elektro, dapat motoren…apa itu…ya urusan rel kereta api. Arsitekturnya sedikit. Nah, kebetulan terjadi Clash II. Waktu itu Belanda menyerbu Yogya. Saya dipanggil lagi, juga teman-teman yang lain. Saya ikut daripada sekolah tapi gak senang. Saya diminta masuk CPM, Coprs Polisi Militer.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sampai kapan di militer?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sampai tahun 1952. Karier militer itu saya sukai. Soalnya banyak decision making dan challenge, barang kali. Juga, karena sering di lapangan, di alam, begitu. Memang, saya suka sesuatu yang menantang dan agak keras. Tapi, mudah-mudahan sikap suka kekerasan itu sudah gak ada lagi, he-he-he.&lt;br /&gt;Terus, tahun 1952 juga, teman-teman mengatakan di di Sipil akan dibuka Bagian Arsitektur. Nah, saya lalu mengundurkan diri dari militer. Alasan saya mau  melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Boleh saja, kata komandan saya. Pangkat saya Letnan Dua. Waktu itu, pangkat kan milih sendiri, he-he-he. Mau kapten, mau mayor, atau apa, asal sesuai dengan kemampuan masing-masing. Saya dulu di CPM Bandung, di bawah Mayor Rusli, yang kemudian menjadi Direktur Arafah Lloyd.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kapan selesai studi di Arsitektur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya lulus tahun 1958. Jadi, angkatan pertama. Teman-teman belajar saya cuma lima orang. Jadi, betul-betul diperhatikan oleh profesornya. Teman-teman saya itu Melani Abu Thalib, Sukartono Susilo, yang sekarang mengajar di Unpar, Rimi Dengdeng, dan Kweng Huan, sekarang di Belanda. Kami masih berhubungan sampai sekarang.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesudah lulus terus ke mana?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begitu selesai, saya diminta meneruskan sekolah di Kentucky (Amerika Serikat), mengambil program master. Dulu kan banyak teman sebaya yang dikirim belajar. Soalnya, banyak guru dari Belanda yang pulang, sekitar 1953-1958. Teman-teman tersebar di Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak Noe’man jadi mengambil program master?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nggak. Waktu itu banyak pilihan, antara lain jadi guru. Tapi, saya bertanya-tanya, bakat gak ya jadi guru? Pikir-pikir gak pas begitu. Tapi, toh sampai sekarang tidak lepas dari mengajar dan belajar. Umpamanya, sekarang  mengajar, tidak di Arsitektur, tapi di Seni Rupa. Ingat kan hadis Rasulullah yang terkenal itu, ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang kubur&lt;/span&gt;.’ Itu kan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;life-long education&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu keterusan di bidang itu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena saya milih, saya senang sekali bidang arsitektur itu. Kan di situ ada nilai-nilai yang cocok untuk beramal saleh. Jadi, hidup itu bisa duduk dengan kertas saja. Modalnya ya hanya potlot dan kertas. Dimulai dengan Bismillah, sesudah itu berkarya. &lt;br /&gt;Sayyidina ‘Ali kan mengatakan bahwa kita mesti tahu diri. Saya itu bidang bicara kan tidak berbakat. Apalagi, di zaman sekarang tabligh kan bisa bermacam-macam caranya. Nah, dengan pensil dan kertas itu saya bisa berdakwah. Itu bagi saya. Dakwah itu kan, menurut keyakinan saya, fardhu ‘ain, karena itu kan mengubah keadaan yang jelek menjadi baik. Membersihkan selokan itu dakwah juga. Hanya saja, yang satu barang kali &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bi lisan al-maqal&lt;/span&gt;, yang lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;bi lisan al-hal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Juga Surah Luqman ayat 20 misalnya, “T&lt;span style="font-style:italic;"&gt;idakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin&lt;/span&gt;.” Menurut saya, ini ayat teknologi untuk abad ke-20. Di situ juga disebutkan, akan disempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin. Tetapi, nikmat itu nggak bakal tercapai kalau tanpa ilmu pengetahuan, petunjuk, dan Kitab-Nya yang memberi penerangan. Ya, kalau nikmat materi atau lahir, mungkin.  Tapi, bagaimana dengan nikmat batin? Itu tak akan tercapai tanpa ilmu, tanpa petunjuk-Nya. Nah, bagi saya, ayatnya ya kayu, ya kerikil…&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kapan Birano didirikan?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1958. Waktu arsitek belum banyak dikenal. Bahkan, arsitek dikenal sebagai anemer saja. Padahal, pengertiannya kan beda. Nama itu saya ambil dari nama saya: Biro Arsitek Achmad Noe’man. Biar jelas. Kalau bangunannya berhasil, ya alhamdulillah nama saya ada. Kalau gagal, nama saya juga ada. Jadi, saya nggak sembunyi di balik nama, kan. Itu barang kali untuk dorongan juga. Jadi, bukan untuk, ah… na’udzu billah min dzalik, misalnya ingin terkenal. Sama sekali tidak. Kalau berhasil ya syukur, kalau gagal ya bisa mengoreksi diri.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pernah gagal?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Gagal itu misalnya ambruk? Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada yang salah hitung.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kapan Pak Noe’man menikah?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya menikah tingkat tiga, waktu masih belajar di Bagian Arsitektur.  Saya kan tinggal di Rumah B asrama ITB. Ceuceu (panggilan Ibu Noe’man) kan tinggal di sini (Jl. Ganesa No. 3, kantor Birano). Kebetulan saya senang basket, Ceuceu juga. Lalu, ada pekan olah raga nasional dan bertemulah di situ. Ceuceu sekolah di Fakultas Hukum. Nah, saya jadi ingat hadis Rasulullah, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Belumlah menjadi ummatku yang sempurna kalau belum menikah&lt;/span&gt;.” He, he. Jadi, apa boleh buat, tingkat tiga menikahlah saya. Anak saya yang tertua, si Irvan itu, jadi anak mahasiswa, bukan anak insinyur. Tapi, alhamdulillah, nggak ada hambatan, studi lancar. Waktu itu saya sudah mencari nafkah sendiri, jadi tukang kayu. Saya kan senang juga sama furniture. Tahun 1958 saya wisuda.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Birano didirikan 16 Juli 1960. Mengambil di sayap kiri rumah kediaman rumah mertuanya, Pak Noe’man memulai kariernya dengan karya pertama pelabuhan penumpang, Pelabuhan II Tanjung Priok, Masjid Muhammadiyah di Garut, dan galangan kapal di Ujung Pandang. Semuanya diselesaikan tahun 1960-1961.&lt;br /&gt;Hingga saat ini (1989), Pak Noe’man masih menjadi anggota Majelis Arsitek IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), anggota Dewan Kehormatan INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia), anggota PII (Persatuan Insinyur Indonesia), dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam UNISBA Bandung. Pria yang menguasai bahasa Belanda dan Inggris ini memang sudah menempuh perjalanan karier yang panjang. Puluhan karya arsitektur telah lahir dari tangannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana seharusnya sikap seorang arsitek?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Seorang arsitek itu, menurut saya, pertama, harus memiliki kepribadian yang jujur. Yang kedua, dia harus independen. Dan yang ketiga, dia harus kompeten. Seorang profesional harus begitu. Identitas ada, kompeten, dan independen. Banyak kan hadis Rasul yang mengarah pada kejujuran, integritas. Tapi, arti profesional sekarang kan merepotkan, he, he, he. Misalnya itu, ah nggak usahlah. Pokoknya kita itu harus integralis, kalau meminjam istilahnya Pak Armahedi (Armahedi Mahzar, penulis buku &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Integralis, Sebuah Buku Rekonstruksi Filsafat Islam&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lebih jelasnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begini, etika itu kan mungkin relatif, tapi bisa saja kan universal, artinya siapa pun bisa menerimanya. Seperti itu tadi, kompetensi. Kompetensi itu ya tidak akan mengatakan aku serba bisa, tetapi kita sanggup dan mampu. Nah, kalau itu bukan keahlian kita, kita mesti berani mengatakan saya nggak bisa. Saya rasa itu jelas. Kemudian independen. Sebetulnya kita ini independen kok, kecuali dalam kaitannya dengan Allah. Lainnya kita harus punya sikap, identitas. Saya rasa dalam konsep-konsep seni, kalau kita itu menjiplak, itu plagiat namanya. Kalau dikaitkan dengan Islam, menjiplak itu tidak ada. Itu tak sesuai dengan “fastabiqul khaurat”, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di situlah pengertian kreatif, suatu tindakan kebajikan atau khair. Untuk kemanusiaan.&lt;br /&gt;Arsitek juga begitu. Saya kategorikan pekerjaan arsitek itu memang menantang untuk ber”fastabiqul khairat”. Tiap saat ada kok etik tidak boleh menjiplak. Ini artinya kan kejujuran, integritas. Iya toh?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana konsep arsitektur Pak Noe’man?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau yang ini nggak lepas dari background saya sebagai Muslim. Ada satu ayat menarik.  Sudah saya tanyakan kepada salah seorang ulama, tapi beliau tak setuju dengan tafsiran saya. Itu lho, Surah Al-Baqarah ayat 170. &lt;br /&gt;Yang diturunkan Allah itu kan ilmu, di antaranya. Tapi, yang kita timba mungkin saja tidak semuanya yang diturunkan Allah. Jadi, mungkin saja kan kita salah. Karena itu, Allah memberi peringatan. Kamu jangan sok benar. Yang kamu anggap benar itu belum tentu benar, begitu kan hardikan Allah kepada orang yang keras kepala. Barang kali yang dicemoohkan itu yang lebih benar. (Lalu Pak Noe’man mengambil Al-Quran berukuran besar). Ini ayatnya, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapatkan dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui suatu apa dan tidak mendapat petunjuk?&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu hubungannya dengan kegiatan Pak Noe’man?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu kan, kita sebagai arsitek, lebih-lebih saya, diperingatkan oleh ayat ini. Misalnya begini, nenek moyang kita kan memakai joglo. Itu memang cocok dengan bentangan rumah dengan ukuran selebar itu, dan saya interesan. Untuk rumah Jawa yang tanpa tiang, itu indah sekali. Apalagi untuk iklim tropis. Juga tanpa plafon, tanpa sirip, jadi udara mengalir langsung. Itu cocok untuk iklim tropis. Lalu, apa itu… kayunya, teksturnya, warnanya. Memang indah sekali. Tapi, kalau bentangannya sudah dua kali rumah tradisional itu, kita harus mempertahankan joglo itu, apa bisa?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bagaimana dengan masjid?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang masjid yang harus dengan kubah itu tidak ada aturannya. Bukannya saya anti-kubah. Sama sekali bukan. Tapi, kalau kubah j&lt;span style="font-style:italic;"&gt;ust for the symbol&lt;/span&gt;, agak dipaksakan jadinya. Padahal, sebenarnya masih ada ilmu lain yang lebih struktural, yang lebih murah, lebih kuat. Jadi, dengan ayat tadi, bismillah gitu ya, kita merombak. Semuanya itu kan berubah. Yang abadi kan cuma Allah. Apalagi buatan manusia, tiap waktu kan harus diperbaiki, harus direvisi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tentang Masjid Salman?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tahun 1959, saya merancang Masjid Salman. Waktu itu sudah lulus. Yang namanya arsitek bisa dihitung dengan jari. Ada peristiwa menarik, nih. Sekarang ini, mahasiswa yang tidak shalat justru aneh. Kalau dulu, justru yang shalat dianggap aneh. Teman-teman itu ya bilang, wah… salam ya pada Tuhan. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;My greetings to God&lt;/span&gt;. Ya, kita acuh saja. Bayangin saja, ya. Yang namanya kampus, di ITB lagi, harus membuat masjid. Akhirnya saya bongkar-bongkar literatur arsitektur. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya saya sempat  naik haji. Mampir ke Regent Park di London, waktu itu belum jadi. Lalu ke Bonn, Muenchen, ke Hagia Sophia. Saya mencari acuan. Ketemu Surah At-Taubah ayat 108. Jangan kita membuat masjid yang mengakibatkan riya’, gitu kan. Saya justru mencari nilai-nilai yang universal, yang transendental. Jadi, saya hilangkan itu bentuk kubah. Memang, berat juga waktu menghilangkan kubah dari rancangan saya. Itu kan ciri kita, katanya.&lt;br /&gt;Kalau saya pulang dari Jakarta ke Bandung, di gunung hijau itu kan ada kubah. Itu harus saya hilangkan, itu berat kan. Tapi, masalahnya saya tahu, itu nggak ada fungsinya. Kalau ada kesempatan membuat masjid, gitu ya, sebenarnya saya ingin juga memakai kubah. Itu kalau &lt;span style="font-style:italic;"&gt;structurally honest&lt;/span&gt;, jadi bukan… Kubah itu kan ditiru dari kubah zaman abad ke-12, bangsanya Taj Mahal. Di Turki kan banyak. Ekspresi kubah di sini kan umpamanya makai seng, alumunium. Itu nggak jujur, secara struktural, nggak jujur. Itu hanya memenuhi bentuk saja. Bahkan tidak awet. Lebih baik pakai genteng, seperti Masjid Kudus.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Lalu bagaimana alternatifnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yah, sebenarnya ada ungkapan yang lebih islami, seperti kecil itu indah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;form follows function&lt;/span&gt;, atau bentuk mengikuti fungsi, gitu ya. Nah, itu barang kali hasil renungan tersendiri, kata-kata hikmah itu pasti ada dasarnya. Orang kan mungkin saja sampai ke nilai transendental. Einstein kan sampai juga tuh. Ya, Tuhan menciptakan kita untuk menjadi khalifah. Khalifah kan bukan kita saja. Pada setiap manusia kan ditiupkan ruh. Akhirnya saya mikir, pengalaman semacam itu menggugah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Di usianya yang hampir 62 tahun (kini 87 tahun), Pak Noe’man masih tampak gagah dan kelihatan awet muda. Dengan tinggi 170 cm, bobot badannya yang 80 kg itu memang agak berlebihan. Pak Noe’man pun senantiasa tampil dalam kesederhanaannya.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak Noe’man punya hobi olahraga?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yah, sport, saya senang sekali. Apalagi waktu muda. Macam-macamlah. Lebih-lebih sepak bola, basket, baseball, dan volley. Dulu, kalau main bola di luar kota saja lebih baik nggak ikut ujian. Nggak apa-apa, ujian bisa lain waktu. Tapi saya jarang menjamah tenis. Untuk waktu itu sudah terlalu mahal, kan. Apalagi golf… he, he, he, nggak pernah, sampai sekarang. Bukan nggak senang, tapi nggak bisa, gitu ya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekarang olahraga apa?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Yang pasti jalan kaki, pagi setelah shalat Subuh, tiap hari. Paling tidak empat kali seminggu. Kalau di rumah sama anak-anak saya sediakan meja ping-pong. Kadang main ping-pong. Yang lainnya sih nggak sempat lagi.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suka musik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kalau musik mah, segala macam saya suka.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Termasuk memainkannya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Memainkan alat musik ya… Begini, yang dikuasai betul nggak, tapi saya senang biola, flute, gitar. Bisa gembreng-gembreng gitu saja. Bagi saya, musik itu alat mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Memang ada yang berkata musik itu haram, tapi kan tidak seluruh musik begitu. Contohnya begini, Paganini memainkan biolanya. Biola itu kan alat yang sederhana. Maksud saya, bahannya dari kayu, dawainya dari iron ware, bijih besi, mineral kan. Nah, itu bisa mengeluarkan bunyi yang indah. Itu kan harus disyukuri. &lt;br /&gt;Saya jadi ingat dengan Surah Ali ‘Imrah ayat 190, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab…” Jadi, jelaslah Allah tidak sia-sia menciptakan daun, kayu, iron ware. Iron ware itu kan bijih besi, lalu bisa diolah menjadi baja, besi beton, dan macam-macam. Jadi, musik itu alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak Noe’man juga menekuni kaligrafi, kan. Bagaimana ceritanya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Tentang kaligrafi ya, saya rasa artinya itu khatt. Itu sebetulnya menulis indah. Kita tahu kaligrafi itu bermacam-macam, katakanlah mazhabnya. Ada naskhi, thuluts, diwani, kufi, jali tsuluts, farisi… banyak sekali. Ada 12 macam, saya nggak hafal. Yang saya sukai naskhi dan tsuluts, kufi juga senang. Kufi itu kan geometris, kalau naskhi itu betul-betul mengikuti ujung pena yang dipotong ujungnya. Kalau dulu dari kayu, dari bambu, jadi kalau dimiringkan (sambil memperagakan) hingga datar, karakternya juga akan datar. Betapa disiplinnya kita kalau menulis kaligrafi. Tsuluts itu kan anatominya wau, sin, dhad, alif, proporsional begitu dengan huruf yang lain. Itu eksak lho. Jadi, bukan sekadar menulis saja. Itulah, saya senang, karena indah dan disiplin.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Mungkin karena dekat juga dengan arsitektur?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya, betul… Lebih-lebih kalau kufi. Itu lebih geometris, seperti arabesk. Saya coba, saya senang. Ada orang mengatakan bahwa itu menyimpang dari keharusan menulis. Menurut saya sih, nggak ada itu yang namanya keharusan menulis, menyimpang atau apa. Kita harus membedakan antara tulisan yang akan dibaca dengan lukisan yang dinikmati keindahannya. Ini karya seni, bukan karya tulis dalam arti untuk dibaca saja. Masa kita menyampaikan pesan tapi tulisannya nggak bisa dibaca, itu kan lucu. Kalau kita membuat kaligrafi, itu kan sudah masuk ke world of arts, karya seni. Di situ ada keterkaitan antara harmoni, keseimbangan. Begitu, kan?&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tak ada Pak Noe’man tanpa sikap optimis. Sikap positif ini tumbuh berkat keyakinannya yang dalam terhadap Tuhan. Inilah ungkapan ceritanya tentang dialognya dengan Tuhan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Shalat itu penting sekali. Dialog-dialog kita, kalau kita perhatikan, menyebabkan kita merasa kecil. Mula-mula takbir, lalu iftitah, dan seterusnya. Setiap hari kita mengatakan, “Alhamdulillah rabb al-‘alamin. “ Allah menjawab, “Kamulah yang memuji-Ku.” Itu kan dialog, shalat itu kan bukan meditasi. Harus sadar. Ingatkan yang dicontohkan Nabi. Memejamkan mata saja tidak boleh, harus melihat ke tempat sujud.&lt;br /&gt;Buat orang setingkatan saya, nggak tahu untuk tingkatan lainnya, saya selalu meringankan bahwa shalat itu bukan ekstase. Ringan sekali. Ya itu tadi, dialog dan sadar. &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak Noe’man merasakan dampaknya terhadap kegiatan bisnis?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ya. Itu kan kita bawa juga ke dalam bisnis. Artinya, insya Allah, saya tidak usah gentar mencari rezeki. Itu kan ada di Surah Ali ‘Imran ayat 134-135, kan.&lt;br /&gt;Kalau kita membuat sesuatu dengan penuh kecintaan, itu akan mendorong karier kita. Jelas kita mau mencari keridhaan Allah, tapi kan dinilai orang juga tuh. Ingat kan dengan hadis, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bila seseorang meninggal dunia, yang dapat dibawa hanyalah tiga perkara: amal jariah, anak yang shaleh, dan ilmu yang bermanfaat&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;Nah, kalau kita mengutak-atik alat elektronika, itu juga dalam rangka ibadah tho. Jadi, bukan hanya wirid saja yang termasuk ibadah. Makanya buat yang muda, nggak usah khawatirlah, Anda kan sudah disiapkan begitu lama. Pokoknya, kerjakan apa yang bisa dipegang, sekecil apa pun. Jangan pingin langsung saja.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Arsitek senior berdarah Jawa-Sunda ini menikah dengan seorang mojang Priangan, Aceu Kurniasih Natapermana. Mereka dikaruniai empat anak: Irvan, Nazar, Fauzan, dan Ilma.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barang kali bisa bercerita, siapa yang banyak berpengaruh terhadap perjalanan hidup Pak Noe’man?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Begini, saya selalu menasihati anak-anak saya tentang yang satu ini. Agar nggak kecewa, kita kembalikan uswah itu kepada yang satu, jadi pelajari itu kehidupan Nabi Muhammad Saw. Anda bisa terapkan ke profesi apa pun. Dari ketangguhannya, dari kejujurannya. Sebelum membuka bukunya Robinson Crusoe atau siapa saja, dia mesti hapal dulu betapa beliau itu menerima cobaan, betapa menderitanya beliau waktu di Thaif dan dilempari batu, betapa beliau memiliki perasaan menahan marah dan akhirnya mencapai tingkat muttaqin. Itu kan cita-cita kita semua. Tercapai atau tidak, itu soal lain. Tapi, latihan untuk mencapai itu kan mesti ada. Jadi, bagi saya yang ideal itu ya cuma satu, Nabi Muhammad Saw. Di dalam sains dan teknologi kita bisa saja menilai karya-karya orang, tapi kan tidak utama.&lt;br /&gt;Sudahlah, kita jangan punya idola, jangan deh… Nanti bakal kecewa. Biasa-biasa sajalah. Akhirnya kan bisa timbul konflik batin. Orang yang dikagumi kok ternyata begitu. Jadi, satu-satunya uswah hasanah ya itu tadi: Rasulullah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pak Noe’man termasuk arsitek yang produktif. Ada resepnya?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana ya?  Tiap manusia itu kan diberi Allah kemampuan untuk bisa kreatif. Di bidang kita masing-masing sebenarnya banyak yang bisa digarap. Nah, itu jangan dilewatkan begitu saja. Itu kan jenjang hari depan, juga jenjang kreativitas.&lt;br /&gt;Kita memang harus berkreasi, menciptakan sesuatu yang bermanfaat ya untuk dirinya maupun lingkungannya, untuk kemanusiaan. Lebih-lebih latar belakang kita kan Agama. Agama itu menyuruh sekali, sangat menganjurkan kita kreatif. Misalnya, Surah Al-Baqarah ayat 148 itu, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;…Maka, berlomba-lombalah kalian (dalam membuat) kebaikan&lt;/span&gt;.” Itu mestinya dipupuk sejak kecil.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Terus?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Nah, semuanya itu kan butuh proses. Semua Muslim mesti menggunakan segenap kemampuannya, dari ilmu yang kita timba. Akhirnya kembali juga ke hadis, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang kubur”. Kaitannya antara belajar sepanjang hayat dengan proses kreatif itu dekat sekali. Makin banyak ilmu seharusnya makin kreatif. Lebih-lebih jika dilengkapi dengan iman dan amal saleh. Amal saleh itu boleh dikatakan kreativitas gitu ya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Punya pengalaman menarik?&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Oh, banyak, tapi ada satu yang mengesankan. Saya sudah cerita ya? Begini, anak saya itu kan kena musibah. Anaknya tinggi besar, lebih tinggi daripada saya. Saya tidak tahu kenapa mesti diberi cobaan seperti ini.&lt;br /&gt;Dia itu kan kena glaucoma, yang biasanya menyerang orang tua dan bayi, bukan remaja seusia dia. Waktu itu umurnya baru 17 tahun. Kebetulan ada anak saya yang sekolah di Boston. Katanya, di Boston ada rumah sakit mata terkenal. Enam bulan sebelumnya saya pesan tempat. Lalu, berangkatlah saya, ibu, dan anak saya ke sana. Rumah sakitnya besar, ya soalnya penyakit mata kan macam-macam, ada katarak, ada trachoma… Sebelumnya sempat juga berobat ke Belanda. &lt;br /&gt;Waktu menunggu, kita duduk di samping seorang ibu, orang Amerika. Sudah tua. Lalu, dia tanya, “Anda dari mana?” Kalau dari Indonesia nggak tahu, katanya. Akhirnya saya jawab, Bali. Nah, si ibu baru mengerti. Kenapa berobat jauh-jauh ke sini? Kebetulan kami ingin yang terbaik, jawab saya. Kami datang karena ingin berusaha memeroleh kesembuhan. Tahu-tahu dia pergi gitu, keliling. Terus nggak lama kemudian, dia balik lagi. Dia masukkan tangannya ke sini (Pak Noe’man menunjuk saku). Ternyata, dia itu keliling minta uang. Dia masukkan ke saku anak saya. Anak saya menolak, saya juga. “Nggak, saya tidak memberi tuan,” katanya. “Saya memberi anak tuan. Ini kan jauh dari negeri Anda.”&lt;br /&gt;Nah, habis kejadian itu, saya mikir, betapa ya yang namanya mustahiq zakat itu kan ada delapan. Di antaranya musafir. Saya kan musafir, begitu toh? Kalau si ibu itu belajar agama kita, barang kali bisa cepat begitu ya, karena nalurinya sudah ada. Makanya, kita sebenarnya tidak boloeh mencemoohkan kafir segala macam. Saya merasakan betapa indahnya kejadian itu. Indah sekali.&lt;br /&gt;H&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ari menjelang sore ketika kami pamit. Beliau hantarkan kami sampai ke pintu. Sementara di luar sudah menunggu dua orang rekanan Pak Noe’man. Sembari menyusuri Jalan Ganesa, dan sesekali menatap Masjid Salman ITB, terkesanlah keramahan Pak Noe’man&lt;/span&gt;. (Sumber: Majalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiblat&lt;/span&gt;, “Achmad Noe’man: Bagi Saya Ayatnya ya Kayu, ya Kerikil…”, Edisi No. 02, Thn. XXXVI, Jakarta, 13-26 Januari 1989).(arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4249069376300909921?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4249069376300909921/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4249069376300909921&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4249069376300909921'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4249069376300909921'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/09/kado-untuk-seorang-maestro.html' title='Kado untuk Seorang Maestro'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-kLWge1C0KHc/TnL1jGJLRfI/AAAAAAAAAnw/SndxrOb2gdQ/s72-c/Achmad%2BNoeman.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-559899165194451426</id><published>2011-08-28T08:54:00.007+07:00</published><updated>2011-08-28T14:15:08.587+07:00</updated><title type='text'>Munajat Akhir Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-FsEm5Od2o64/Tlmg1MpyDlI/AAAAAAAAAno/NLfEH4LOpqE/s1600/eid-greeting-card.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-FsEm5Od2o64/Tlmg1MpyDlI/AAAAAAAAAno/NLfEH4LOpqE/s400/eid-greeting-card.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645720443675610706" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, doa apakah yang selayaknya kupanjatkan kepada-Mu di akhir bulan-Mu yang mulia ini? Sebelum ini, setiap siang dan malam, pelbagai doa telah kumohonkan kepada-Mu, sesuai dengan perintah-Mu, ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berdoalah kalian, niscaya akan Aku penuhi doa kalian&lt;/span&gt;.' Walau sejatinya Engkau sejak awal telah tahu dan tetapkan segala sesuatu yang paling tepat dan layak untuk setiap hamba-Mu,” gumam penulis tadi, di dini hari di rumah yang sangat sunyi. Sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, dalam kesunyian yang benar-benar sangat sunyi tersebut, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Madinah. Kali ini, entah kenapa pula, yang membara dalam benak adalah sosok seorang sahabat yang santun dan berperilaku sangat lurus: Abu Bakar Al-Shiddiq. Lembaran sejarah Islam menorehkan, khalifah pertama  dalam  sejarah  Islam (berkuasa  antara  11-13 H/632-634 M) ini  bernama  lengkap  ‘Abdullah  ibn Abu Quhafah ‘Utsman ibn ‘Amir ibn ‘Umar ibn  Ka‘b  ibn Sa‘d ibn Taim ibn Murrah ibn Ka‘b ibn Lu’ayyi ibn Thalib ibn Fihr ibn  Nadr  ibn Malik at-Taimi al-Qurasyi, dengan  nama  ‘Abdul Ka‘bah.  Sedangkan ibundanya, Ummu Khair Salma ibnti Sakhr,  seorang wanita  dari  suku  Quraisy. Ia lahir dua  tahun  setelah  Tahun Gajah.  Dengan kata lain, ia lebih muda dua tahun dari Rasul Saw.,  yakni lahir pada  573  M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah  yang berasal dari Bani Tamim ini telah menjadi  sahabat karib Rasul Saw. sebelum beliau menjadi Nabi. Malah, beliaulah  yang mengubah  namanya  menjadi bernama ‘Abdullah.  Kemudian,  ketika beliau  diutus  sebagai  nabi, pedagang yang  berbudi  dan  hidup berkecukupan  ini  menjadi  pria  dewasa  pertama  yang  mengakui kedudukan  beliau sebagai nabi. Keislamannya  mendorong  sejumlah tokoh Quraisy mengikuti jejak langkahnya. Di antara mereka adalah ‘Utsman  ibn  ‘Affan, Al-Zubair ibn Al-‘Awwam,  Sa‘d  ibn  Abu Waqqash, dan ‘Abddurrahman ibn ‘Auf. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ketika  Rasul Saw. meninggalkan Makkah, pada malam  hari 12 Rabi‘ Al-Awwal tahun pertama Hijrah yang bertepatan dengan 28 Juni  622 M, dan berhijrah ke Madinah, Abu Bakar  dipilih  beliau untuk menyertai beliau. Kemudian, ketika Rasul Saw. wafat, ia diangkat   sebagai  khalifah.  Jabatan  itu  ia  duduki   melalui pemilihan  dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari  kedua setelah   Rasulullah  saw  wafat  dan  sebelum   jenazah   beliau dimakamkan.  Itulah antara lain yang menyulut kemarahan  keluarga Nabi Muhammad saw, khususnya Fathimah Al-Zahra’: mengapa  mereka demikian terburu-buru mengambil keputusan tentang pengganti  Rasul Saw.  sebelum pemakaman dan tidak mengikutsertakan keluarga  dekat beliau.   Tetapi,   penyelenggaraan  pertemuan   di Tsaqifah Bani Sa‘idah tersebut  sejatinya tidak direncanakan  terlebih dahulu. Sebaliknya, pertemuan itu berlangsung  karena terdorong keadaan yang sangat genting. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas  Rasul Saw. dimakamkan di  rumah  ‘A’isyah,  pada Selasa  petang,  menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid  Nabawi,  Abu Bakar Al-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang  pertama di hadapan kaum Muhajirun dan kaum Anshar yang membentuk  tiang agung  kekuatan Islam kala itu. Dan, selama  Abu  Bakr  menduduki  jabatan  khalifah,  Islam   kian mengepakkan  sayapnya. Agama ini pun mulai memasuki kawasan  yang berada  di  bawah kekuasaan Imperium Romawi dan  Persia.  Namun, karena masa pemerintahannya yang pendek, perluasan ke arah  kedua kawasan   itu   baru  benar-benar  terpancang  kuat   pada   masa pemerintahan ‘Umar ibn Al-Khaththab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tokoh  yang  mendapat  gelar  “Al-Shiddiq”,  karena  membenarkan perjalanan  Isra’ dan Mi‘raj yang dilakukan Rasul  Saw., berpulang pada Senin, 22 Jumadil Akhir 13 H/22 Agustus 634 M, dengan meninggalkan  enam  putra-putri: ‘Abdullah (meninggal dunia pada tahun pertama kekhilafahan  sang ayah),  Asma’  (istri  Al-Zubair ibn  Al-‘Awwam),  ‘Abdurrahman, ‘A’isyah  (istri  Rasul Saw.), Muhammad  (gubernur  Mesir pada  masa pemerintahan ‘Ali ibn Abu Thalib), dan  Ummu  Kaltsum (lahir  selepas Abu Bakar berpulang).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menjelang Abu Bakar Al-Shiddiq berpulang, sejumlah sahabat mendatangi sang khalifah  yang kala itu sedang sakit. Selepas berbagi sapa sejenak dengan mertua tercinta Rasul Saw. itu, mereka kemudian berucap kepadanya, “Wahai khalifah Rasulullah saw. Bekalilah kami. Sesungguhnya kami melihat kemuliaan ada pada dirimu.” &lt;br /&gt;“Wahai saudara-saudaraku,” jawab Abu Bakar Al-Shiddiq seraya menahan sakit. “Perlu kalian ketahui, barang siapa mengucapkan doa  berikut dan kemudian ia mati,  ruhnya akan berada di ufuk yang nyata.” &lt;br /&gt;“Apakah ufuk yang nyata itu?” tanya mereka penuh rasa ingin tahu dan penasaran.&lt;br /&gt;“Kawasan nyaman lagi menawan di depan ’Arsy. Di situ terdapat  taman-taman Allah, sungai-sungai, dan pohon-pohon yang setiap hari dilimpahi seratus rahmat. Barang siapa mengucapkan doa berikut yang termaktub dalam kandungan pelbagai ayat-ayat Al-Quran ini, Allah Swt. akan menjadikan ruhnya di tempat itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, sungguh, Engkaulah yang memulai penciptaan tan¬pa keperluan bagi-Mu kepada mereka. Kemudian, Engkau ciptakan mereka menjadi dua kelompok, satu kelompok untuk surga dan satu kelompok untuk neraka. Karena itu, jadikanlah aku untuk surga dan janganlah Engkau jadikan aku untuk neraka. &lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh, Engkau ciptakan makhluk menjadi beberapa kelompok dan Engkau pilah-pilah mereka sebelum Engkau menciptakan mereka. Lalu, Engkau jadikan di antara mereka orang yang celaka, orang yang bahagia, orang yang sesat, dan orang yang memeroleh petunjuk. Karena itu, ya Allah, janganlah Engkau celakakan aku dengan pelbagai perbuatan maksiat kepada-Mu. Sungguh, Engkau mengetahui segala sesuatu yang di¬lakukan setiap jiwa sebelum Engkau menciptakannya. Karena tiada tempat lari  dari segala sesuatu yang Engkau ketahui, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau tetapkan sebagai orang senantiasa taat kepada-Mu. &lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh, tiada seorang pun menghendaki sesuatu hingga Engkau kehendaki. Karena itu, sesuai dengan kehendak-Mu, jadikanlah  aku menghendaki segala sesuatu yang dapat mendekatkan diriku kepada-Mu. Sung¬guh, Engkaulah yang menentukan setiap gerak hamba-hamba-Mu. Sehingga, tidaklah bergerak sesuatu pun kecuali dengan izin-Mu. Karena itu, jadikanlah segala ¬gerakku dalam takwa kepada-Mu. &lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh, Engkaulah yang menciptakan kebaikan dan kejelekan. Juga, Engkau jadikan bagi masing-masing dari keduanya orang-orang yang melakukannya. Karena itu, jadikanlah aku termasuk yang terbaik di antara dua bagian itu.&lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh, Engkau telah menciptakan surga dan neraka. Juga, Engkau jadikan penghuninya bagi masing-masing dari keduanya. Karena itu, jadikanlah aku termasuk penghuni surga-Mu, ya Allah! Sungguh¬, manakala Engkau menghendaki suatu kaum menuju kesesatan, maka Engkau sempitkan dada mereka karenanya. Karena itu, ya Allah, bukalah dadaku untuk menerima iman dan hiaskanlah iman dalam kalbuku. &lt;br /&gt;Ya Allah, sungguh, Engkau mengatur segala sesuatu dan menjadikan tempat kembali mereka kepada-Mu. Karena itu, hidupkanlah aku selepas mati dengan kehidupan yang baik dan dekatkanlah aku kepada-Mu sedekat-dekatnya. Dan, walau ada orang-orang yang kala pagi maupun senja hari  kepercayaannya dan ha¬rapannya adalah kepada selain Engkau, namun Engkaulah kepercayaan dan harapanku. Tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan-Mu, Amin&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat doa Abu Bakar Al-Shiddiq tersebut, penulis menjadikan doa tersebut sebagai munajat di dini hari tadi. Kiranya Allah Swt. menerima doa yang indah tersebut, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Amin ya Mujib Al-Sa’ilin&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan, sebagai penutup tulisan di bulan Ramadhan ini, sebagai manusia yang tidak luput dari kekurangan, kesalahan, kekhilafan, kealpaan, dan tindakan, sikap, dan ungkapan kata yang tidak menyenangkan dan menyakitkan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya dan “&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahumma Taqqabbal Shiyamana wa Ij‘alna min al-‘Aidin wa al-Faizin wa al-Maqbulin, Kullu Sanah wa Antum bi Khair, Selamat Id Mubarak&lt;/span&gt;”. (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-559899165194451426?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/559899165194451426/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=559899165194451426&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/559899165194451426'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/559899165194451426'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/munajat-akhir-ramadhan.html' title='Munajat Akhir Ramadhan'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-FsEm5Od2o64/Tlmg1MpyDlI/AAAAAAAAAno/NLfEH4LOpqE/s72-c/eid-greeting-card.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-7397145132574399159</id><published>2011-08-27T08:37:00.002+07:00</published><updated>2011-08-27T08:40:43.179+07:00</updated><title type='text'>Dicari: Orang yang Memiliki Sikap Berbeda</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-0KtYKuUOtpY/TlhLEpanuuI/AAAAAAAAAng/UaVdbS7F6Eo/s1600/HARUN.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 370px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0KtYKuUOtpY/TlhLEpanuuI/AAAAAAAAAng/UaVdbS7F6Eo/s400/HARUN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5645344676117986018" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, selepas melaksanakan shalat tarawih, entah kenapa tiba-tiba dalam benak penulis membara hasrat untuk menulis. Tetapi, sayangnya, walau tangan masih cekatan “menari”, kedua mata penulis ternyata enggan diajak “menari” bersama. Karena itu, segera laptop pun penulis matikan. Nah, begitu laptop mati, ternyata ganti kedua mata  itu yang begitu bersemangat “menari-nari” di antara deretan buku yang ada di rak buku. Selepas beberapa lama “menari-nari” di antara deretan buku, entah kenapa kedua mata itu tiba-tiba berhenti bergerak dan kemudian menatap tajam ke sebuah buku dengan judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasihat Al-Muluk, Nasihat kepada Raja-raja&lt;/span&gt;. Buku itu merupakan hasil goresan tangan seorang ulama, pemikir, dan sufi kondang di Masa Pertengahan, Abu Hamid Al-Ghazali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera, benak penulis pun “melayang-layang”. Segera pula penulis teringat, buku itu merupakan hadiah dari seorang sahabat, seorang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta dan kandidat doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Buku yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia tersebut, menurut Dr. Jelani Harun dalam kata pengantar karya itu, masuk dalam genre “Mirror for Princess”. Lebih jauh Dr. Jelani Harun menyatakan, dari sisi sejarah genre “Mirrors for Princes” telah lama hadir dalam tradisi keilmuan Islam. Antara lain lewat karya seperti &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitâb Al-Sulthân&lt;/span&gt;, oleh Ibn Qutaibah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitâb Al-Tâj&lt;/span&gt;, oleh Al-Jahizh, dan beberapa karya lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara menurut C.E. Bosworth, dalam tulisannya “An Early Arabic Mirrors of Princess: Tahir Dhul-Yaminain’s Epistle  to His Son Abdallah (206 H/821 M)”, penulisan genre “Mirrors for Princes” dalam kesusastraan Arab telah bermula semenjak awal tahun 205 H/820 M, melalui karya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitâb Al-Baghdâd &lt;/span&gt;oleh Ibn Thaifur. Pada 516 H/1122 M, karya “Mirrors for Princess” dalam tradisi Arab terus berkembang dengan kelahiran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sirâj Al-Mulûk&lt;/span&gt; oleh Al-Turthusi. Perkembangan genre “Mirrors for Princess” mencapai puncaknya sekitar abad ke-10 dan ke-11 M, melalui tiga karya Persia yang cukup terkenal, yaitu &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Siyasatnama/Siyâr Al-Mulûk&lt;/span&gt; (409-485 H/1018-1092 M) oleh Nizham Al-Muluk, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Qabusnama &lt;/span&gt;(475 H/1082 M) oleh Kay Kaus bin Iskandar, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nasîhâh Al-Mulûk&lt;/span&gt; oleh Al-Ghazali (450-504 H/1058-1111 M). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, berikut adalah salah satu contoh genre “Mirror for Princess” tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Resah dan gelisah, itulah kondisi  batin Harun Al-Rasyid tidak lama selepas menjabat khalifah, atau orang nomor satu, Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak. Kala itu, selama berhari-hari, betapa ia senantiasa resah karena satu masalah yang mengganjal dalam hatinya: seorang ulama terkemuka dan mulia yang ia segani tidak kunjung menyampaikan ucapan selamat kepadanya, seperti halnya ulama-ulama yang lain. Alih-alih datang ke istananya. Padahal, sebelum menjabat khalifah, ia sangat akrab dan dekat dengan ulama yang satu itu. Tapi, kini, selepas ia menjadi penguasa, ulama yang bermukim di Kufah itu hilang seakan ditelan bumi dan tidak pernah bertandang kepadanya lagi. Ulama itu tidak lain adalah Sufyan Al-Tsauri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama yang sangat disegani Harun Al-Rasyid itu adalah seorang  tabi‘in  yang  ahli  hukum   Islam dan sufi terkemuka pada abad ke-2 H/8 M.  Lahir  di Kufah  pada  97 H/715 M, ia bernama lengkap  Abu  ‘Abdullah Sufyan  bin  Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri Al-Kufi.  Sesuai  dengan tradisi  yang  berkembang  kala itu, ia  mula-mula  menimba  ilmu kepada  ayahandanya. Usai mendapat “pembinaan” dari sang ayahanda,  tokoh yang pernah menyatakan bahwa “barang siapa kikir dengan ilmu yang dimilikinya, sejatinya ia mengharapkan tiga petaka: lupa akan  ilmunya, mati tanpa sempat  memanfaatkan  ilmunya, atau  kehilangan  buku-bukunya”  ini   lantas memperdalam  ilmu kepada sejumlah ulama, antara lain kepada  Al-Hasan Al-Bashri. Usai  memperdalam  ilmu kepada sejumlah  ulama,  namanya  segera mencuat sebagai ahli hukum Islam yang berwawasan luas  dan mandiri.  Tidak  aneh  bila di bidang ini,  nama  ahli  hukum  yang menopang  penghidupannya dengan berdagang ini dapat  disejajarkan dengan  para  mujtahid terkemuka. Namun, ia tidak  hanya seorang pakar  di  bidang hukum Islam semata. Ia  juga  terkenal  sebagai seorang  pakar hadis yang menuturkan banyak hadis.  Tidak  aneh, karena  kepakarannya  di bidang terakhir ini, ulama  yang  sangat berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah ini mendapat  julukan “Amir Al-Mu’minin”  di bidang hadis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atas saran pelbagai pihak, Harun Al-Rasyid akhirnya menulis sepucuk surat kepada Sufyan Al-Tsauri:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillâhirrahmanirrahim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hamba Allah, Harun Al-Rasyid, Amir Al-Mukminin, kepada saudaranya, Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai saudaraku! Engkau tentu tahu, Allah Swt. telah mempersaudarakan di antara orang-orang beriman. Dia menjadikan hal yang demikian itu di jalan-Nya dan karena-Nya. Perlu engkau ketahui, aku telah mempersaudarkan diriku denganmu dengan tali persaudaran yang tidak akan kuputuskan selamanya dan kasih sayang yang timbul darinya tidak akan kupotong apa pun halnya. Kesenanganku berkumpul denganmu lebih tinggi daripada kesenangan dan keinginan terbaik. Andai tiada belenggu (jabatan) ini, yang dibebankan Allah Swt., tentu akan kudatangi tempatmu, karena rasa cinta yang terpancang kuat dalam hatiku kepadamu. Walau dengan merangkak sekali pun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Abu ‘Abdullah! Ketahuilah, tiada seorang pun di antara teman-temanku dan teman-temanmu yang belum bertandang kepadaku untuk mengucapkan selamat kepadaku, karena jabatan yang kini kupangku. Aku telah membuka sejumlah bait al-mâl. Aku pun telah memberikan pelbagai hadiah kepada mereka. Semua itu begitu menggembirakan hatiku dan menyedapkan mataku. Sungguh, aku menanti kedatanganmu yang amat terlambat. Tapi, hingga pun kini, ternyata engkau tidak kunjung bertandang juga. Karena itu, kutulis surat ini kepadamu. Hatiku begitu rindu kepadamu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Abu ‘Abdullah! Engkau tentu tahu ajaran agama perihal keutamaan orang beriman, kunjungannya, dan silaturahmi. Karena itu, manakala surat ini telah sampai kepadamu, segeralah bertandang kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalâmu ‘alaikum wa Rahmatullâh wa Barakâtuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menerima surat itu, dan mengetahui isinya, Sufyan Al-Tsauri, yang tidak mau menyentuh sama sekali surat itu, lantas berucap kepada orang yang membacakan surat itu, “Baliklah surat itu! Tulis jawabannya kepada orang zalim itu di baliknya!”&lt;br /&gt;“Wahai Abu ‘Abdullah,” ucap seseorang yang hadir kala itu mencoba meredakan rasa tidak senang Sufyan Al-Tsauri kepada Harun Al-Rasyid selepas menjadi khalifah. “Ia seorang khalifah, lo. Bagaimana kalau jawaban itu ditulis di selembar kertas bersih yang belum ada tulisannya?”&lt;br /&gt;“Tulislah jawaban kepada orang zalim itu di balik surat itu!” sahut ulama yang  berpulang  ke hadirat   Allah  di  Makkah  pada  161  H/778 M itu dengan suara melengking. “Bila kertas itu didapatkan dari harta halal, tentu amalnya akan dibalas Allah Swt. Sedangkan bila kertas itu didapatkannya dari harta haram, tentu ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Dan, tiada sesuatu pun yang disentuh orang zalim dan diserahkan kepada kita melainkan akan merusakkan agama kita!”&lt;br /&gt;“Apakah yang kami tulis?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sufyan Al-Tsauri lantas mendiktekan sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bismillâhirrahmanirrahîm.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hamba Allah yang berdosa, Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri, kepada seorang hamba Allah yang banyak berangan-angan dan mencabut manisnya iman seseorang, Harun Al-Rasyid. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ammâ ba‘d. Sungguh, lewat tulisan ini kuberitahukan kepadamu, sejatinya silaturahmi denganmu telah kuputuskan. Juga, kecintaan kepadamu telah kupotong. Aku sangat tidak suka terhadap jabatan yang kini kaupangku. Engkau pun telah menjadikan aku sebagai saksi atas dirimu, dengan pengakuanmu atas dirimu dalam suratmu, dengan seranganmu terhadap bait al-mâl kaum Muslim. Engkau telah membelanjakannya di jalur yang bukan yang semestinya dan telah menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak selaras dengan ketentuannya. Kemudian, engkau merasa tidak senang dengan yang kulakukan, sedangkan engkau jauh dariku, hingga engkau torehkan surat kepadaku. Engkau jadikan aku saksi atas dirimu. Sungguh, aku telah bersaksi atas dirimu dan teman-temanku yang menyaksikan pembacaan suratmu. Kesaksian itu akan kami tunaikan atas dirimu. Kelak di hadapan Allah Swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Harun! Engkau telah menyerang bait al-mâl kaum Muslim tanpa kerelaan mereka. Akan relakah, akibat tindakanmu itu, para muallaf, para pejuang di jalan Allah, dan para musafir? Akan relakah, akibat tindakanmu itu, para pendukung Al-Quran, para ulama, perempuan-perempuan janda, dan anak-anak yatim? Akan relakah, akibat tindakanmu itu, khalayak ramai dari kalangan rakyatmu? Karena itu, wahai Harun, ikatlah kainmu! Sediakanlah jawaban untuk setiap pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Harun! Ketahuilah, engkau akan berdiri di hadapan Hakim Yang Mahaadil. Sungguh, engkau telah menanam bahaya terhadap dirimu sendiri. Ini, karena engkau telah meniadakan manisnya ilmu, kezahidan, kelezatan Al-Quran, dan pergaulan dengan orang-orang pilihan. Engkau relakan dirimu sendiri menjadi orang zalim dan panutan orang-orang zalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Harun! Kini, engkau duduk di atas kursi kebesaran. Engkau kenakan kain sutra. Engkau pasang tirai di pintumu. Engkau serupakan dirimu dengan Tuhan semesta alam dengan penjaga-penjaga yang mengawalmu. Kemudian, engkau tempatkan tentara-tentaramu yang zalim di pintu dan tiraimu. Walau mereka acap berbuat kezaliman kepada khalayak ramai, tapi mereka tidak kunjung insaf. Mereka memukul orang-orang yang menenggak minuman keras, padahal mereka sendiri juga menenggak minuman itu. Mereka menghukum orang yang berzina, padahal mereka sendiri juga para pezina. Mereka memotong tangan orang yang mencuri, padahal merela sendiri juga para pencuri. Apakah hukuman-hukuman itu tidak lebih layak ditimpakan atas dirimu dan diri mereka, sebelum engkau menghukum orang lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Harun! Karena itu, bagaimanakah engkau kelak, manakala dipanggil di hadapan Allah Swt,  “Kumpulkanlah orang-orang zalim dan istri mereka! Manakah orang-orang zalim itu dan para penolongnya?” Lantas, pemanggil itu membawa dirimu di hadapan Allah Swt., sedangkan kedua tanganmu dibelenggu di lehermu. Tiada yang kuasa melepaskan belenggu itu selain keadilan dan keinsafanmu. Orang-orang zalim itu sendiri berada di seputarmu. Engkaulah yang mendahului mereka dan menjadi panutan mereka menuju neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Harun! Seakan antara aku denganmu telah engkau tempatkan pencekik leher dan pelbagai halangan. Engkau lihat kebaikanmu dalam timbangan orang lain dan keburukanmu dalam timbanganmu. Karena itu, perhatikanlah pesanku ini. Ambillah pelajaran dari arahan yang kukemukakan kepadamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, aku telah menasihati engkau dan tiada yang tersisa untuk tidak kukemukakan kepadamu. Takutlah kepada Allah, wahai Harun, dalam kaitannya dengan rakyatmu. Jagalah Muhammad Saw. dalam kaitannya dengan umatnya. Dan, baguskanlah kekhalifahan atas diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah pula, manakala tugas ini ditetapkan atas diri orang lain, tentu tugas itu tidak akan sampai kepadamu dan menjadi hak orang lain. Ini bagaikan dunia yang penghuninya berpindah, satu demi satu. Di antara mereka ada yang mencari perbekalan yang bermanfaat. Tapi, ada juga yang merugi, baik di dunia maupun akhirat. Menurutku, wahai Harun, engkau termasuk yang merugi. Baik di dunia maupun akhirat. Karena itu, jagalah dirimu. Juga, jagalah dirimu agar tidak menulis surat lagi kepadaku selepas ini, karena tidak akan kujawab nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassâlamu‘alaikum wa Rahmatullâh wa Barakâtuh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika surat itu diserahkan kepada Harun Al-Rasyid, penguasa itu segera membacanya penuh perhatian. Begitu membaca jawaban Sufyan Al-Tsauri itu, Al-Rasyid pun tidak kuasa menahan lelehan air matanya dan berkali-kali menarik napas panjang. Melihat hal itu, seorang pejabat yang hadir kala itu berucap kepadanya, “Wahai Amir Al-Mukminin! Betapa lancang Sufyan Al-Tsauri! Mungkin lebih baik engkau perintahkan agar ia menghadap kepadamu di sini. Lantas, setibanya di sini, belenggu dan jebloskan ia ke dalam bui yang sangat sempit. Biar menjadi pelajaran bagi orang-orang lain.”&lt;br /&gt;“Tinggalkan aku, hai budak-budak dunia yang gemar memerdayakan orang lain!” hardik Harun Al-Rasyid. “Kasihan sekali orang-orang yang telah kalian binasakan! Sungguh, Sufyan adalah satu-satunya orang yang memiliki sikap berbeda. Biarkan dia dengan sikap dan tindakannya yang demikian itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat itu kemudian senantiasa dibawa Harun Al-Rasyid dan dibacanya setiap kali usai melaksanakan shalat hingga ia berpulang. (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-7397145132574399159?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/7397145132574399159/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=7397145132574399159&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/7397145132574399159'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/7397145132574399159'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/dicari-orang-yang-memiliki-sikap.html' title='Dicari: Orang yang Memiliki Sikap Berbeda'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0KtYKuUOtpY/TlhLEpanuuI/AAAAAAAAAng/UaVdbS7F6Eo/s72-c/HARUN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4696007780673577493</id><published>2011-08-26T05:52:00.004+07:00</published><updated>2011-08-26T06:09:41.210+07:00</updated><title type='text'>Lo, Imam Al-Syafi'i Tidak Shalat Tahajjud?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-ubWTs-kFfT8/TlbS-UpxOtI/AAAAAAAAAnY/0e9GZFD53fg/s1600/MUSIK.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 311px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-ubWTs-kFfT8/TlbS-UpxOtI/AAAAAAAAAnY/0e9GZFD53fg/s400/MUSIK.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644931151093119698" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Alhamdulillah, buku-buku yang Anda kirimkan kepada saya telah sampai.” Demikian pesan penulis kemarin kepada seorang sahabat, seorang mahasiswa asal Cirebon yang sedang mengikuti program pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan sedang pulang ke Indonesia. Dua buku itu adalah dua buku menarik yang disusun dua ulama dan pemikir kondang dari Negeri Piramid: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Dr. Muhammad ‘Imarah. Dua ulama terkemuka itu memang terkenal sebagai pemikir-pemikir yang disegani di Dunia Islam. Buku pertama tentang “Lagu dan Musik Menurut Al-Quran dan Sunnah”. Sedangkan buku kedua tentang “Al-Bukhari dan Muslim, Dua Tokoh Hadits”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat dua karya penting tersebut, malam harinya penulis pun segera terasyikkan dalam menyimak dan mencermati kedua karya itu. Menyimak kedua karya itu, penulis kian tersadarkan, betapa Hukum Islam demikian luas. Dan, hukum itu tidak dapat dimengerti dan difahami dengan baik bila kita menggunakan “pandangan mata kuda”: pandangan picik yang melihat hukum itu dari aspek yang sempit. Mengenai lagu dan musik saja, hingga dikaji Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam 255 halaman, ternyata pembahasan para ulama dan pakar demikian mendalam dan luas. Dan, ternyata pula, para ulama dan pakar Hukum Islam telah semenjak lama telah membahas persoalan lagu dan musik. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika sedang asyik “menikmati” dua karya tersebut, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang”, teringat kisah memikat tentang dua raksasa di bidang Hukum Islam: Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Al-Syafi’i. Juga, pendekatan mereka dalam memahami dan memaknai kehidupan sehari-hari menurut ajaran Islam. Berikut kisahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira hati putri Ahmad bin Hanbal hari itu. Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadis, hukum Islam,  dan  ilmu kalam  yang  juga  salah seorang tokoh dari  empat  imam  mazhab fikih. Bernama lengkap Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad  bin Hanbal  bin  Hilal bin Asad Al-Syaibani Al-Bashri, ia  lahir  di Baghdad  pada  Rabi‘ Al-Akhir 164 H/Desember 780 M.  Lantas,  ketika  masih menyusu, ia dibawa ibundanya pindah ke Baghdad. Tokoh  yang telah hapal Al-Quran sejak dini ini gemar  merantau untuk  memperluas wawasan keilmuannya. Di  antara  gurunya kala  itu adalah Abu Yusuf, sejawat dan murid Abu  Hanifah  Al-Nu‘man. Guru-gurunya yang lain, antara lain, adalah Hasyim bin Basyir. Ia menjadi  murid  Hasyim bin Basyir hingga sang guru  berpulang  ke hadirat Allah Swt. pada 183 H/799 M. Selepas itu, ia belajar di  bawah bimbingan Abu Yusuf. Bertolak  dari  Baghdad,  pada  186  H/802  M,  Ahmad  muda   lantas menapakkan  kakinya  menuju Bashrah. Dari sana,  ia  lalu  menuju Kufah.  Selanjutnya  ia menuju Makkah dan kemudian  ke  San‘a, Yaman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak aneh bila Imam yang satu ini memiliki sederet guru,  antara lain ‘Abdullah bin Al-‘Abbas, Sufyan bin ‘Uyainah, Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan, Yazid bin Harun,  Abu Dawud Al-Thayalisi, Waki‘ bin Al-Jarrah,  Al-Hasan  bin Ziyad,  ‘Abdurrazzaq Al-Shan‘ani,  dan  Ibn Hammam. Selain itu, ia juga sempat bertemu dengan dan menimba ilmu dari  Al-Syafi‘i,  pengasas Mazhab Syafi‘i, di Makkah dan Baghdad.  Dan, sejak  204  H/817 M, ia menetap di Baghdad  sampai  berpulang  ke hadirat  Allah pada Jumat,  12 Rabi‘ Al-Awwal 241 H/31 Juli 855 M. Di  kota  itu pula  ia  meniti  kehidupannya   untuk menebarkan  ilmu, terutama ilmu hadis. Karena keluasan  ilmunya, ia  segera berhasil memikat banyak murid, antara lain  para  ahli terkemuka  seperti Al-Bukhari, Muslim bin Al-Hajjaj, dan Abu Dawud Al-Sijistani. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kegembiraan putri ulama yang kala berpulang meninggalkan sederet  karya tulis,  antara  lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Musnad&lt;/span&gt;, yang menghimpun  sekitar  tiga puluh ribu hadis, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, ‘Ilal Al-Hadîts wa Ma‘rifah  Al-Rijâl,  Al-Radd  ‘ala Al-Jahmiyyah wa Al-Zanâdiqah,  Fadhâ’il  Al-Shahâbah, Kitâb Al-Shalâh wa Mâ Yalzam Fîhâ, Kitâb Al-Sunnah&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitâb Al-Zuhd &lt;/span&gt;itu dipicu oleh kabar gembira dari sang ayahanda yang akan menerima kunjungan seorang guru yang acap ia bincangkan bersama sang putri. Sang putri tahu, ayahandanya acap menyanjung gurunya yang lahir di Gazza, Palestina itu, karena keluasan ilmu dan wawasannya. Karena itu, ia ingin tahu bagaimanakah sejatinya akhlak dan perilaku tokoh  yang  pernah menyatakan bahwa  “perhiasan  yang  paling indah yang  dikenakan  ulama adalah  kedamaian hati (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;qanâ‘ah&lt;/span&gt;), kepapaan, dan ridha” itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Benar saja, Al-Syafi‘i tak lama selepas itu datang berkunjung ke rumah Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ketika larut malam tiba, ulama yang berpulang Jumat, 30 Rajab 204 H/ 20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir meminta izin kepada tuan rumah untuk beristirahat. Selama Al-Syafi‘i beristirahat malam itu, putri Ahmad bin Hanbal sengaja begadang dan mengamati apa saja yang dilakukan tamu mulia ayahandanya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, pagi harinya, seusai melaksanakan shalat subuh, sang putri memberanikan diri bertanya kepada ayahandanya dengan suara lirih, “Wahai ayahanda! Benarkah dia Al-Syafi‘i yang acap ayahanda bincangkan tentang kebaikan dan ketakwaannya itu?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai putriku,” jawab sang ayahanda penasaran. “Dia memang adalah Al-Syafi‘i yang acap kubincangkan denganmu. Ada apa?”&lt;br /&gt;“Wahai ayahanda,” jawab sang putri tetap dengan suara pelan. “Semalam, saya sengaja tak memejamkan mata. Betapa saya ingin sekali tahu perihal perilaku guru ayahanda yang satu itu. Sejak guru dan tamu ayahanda itu datang, saya senantiasa mencermati seluruh gerak dan lakunya. Ternyata, selama itu, saya mengamati tiga hal yang saya sayangkan terhadap diri guru dan tamu ayahanda itu. Ketika saya menghidangkan makanan, duh, ternyata ia lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan. Ketika ia sedang beristirahat, ternyata ia sama sekali tak melakukan shalat malam dan tahajud. Dan, ketika ia menjadi Imam shalat subuh tadi, ternyata ia tak berwudhu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, sang ayahanda kaget sekali dan sangat penasaran mendapat penjelasan dari putrinya tentang Imam besar yang  dalam menetapkan hukum memadukan antara metoda  Hijaz  dan metoda Irak, yakni memadukan antara lahiriah teks-teks  landasan hukum  Islam dengan rasio, itu. Karena itu, selepas berbagi sapa beberapa lama, Imam yang salih dan hidup sederhana itu pun mengemukakan kepada Al-Syafi‘i perihal pengamatan putrinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan demikian, wajah Al-Syafi‘i tak menunjukkan rasa tak senang sama sekali. Malah, ia menjawab dengan wajah berbinar, “Wahai Imam Ahmad! Memang saya lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan tersebut. Ini karena saya tahu, makanan yang kalian sajikan adalah makanan yang halal dan baik. Engkau adalah seorang ulama mulia. Sedangkan makanan yang disajikan orang mulia dan halal adalah obat. Berbeda dengan makanan orang pelit yang malah dapat menjadi penyakit. Jadi, saya makan tidaklah untuk memuaskan selera makan saya. Tapi, saya makan untuk berobat dengan makanan yang disajikan semalam. Sedangkan berkenaan dengan malam yang saya lewatkan tanpa shalat malam atau tahajud, semalam seakan saya melihat Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. ada di depan mata saya. Sehingga, dengan merenungi keduanya, saya menemukan kesimpulan tujuh puluh dua masalah fikih yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Akibatnya, saya tak memiliki kesempatan untuk melaksanakan shalat malam. Dan, berkenaan dengan shalat subuh tanpa wudhu, sejatinya karena sepanjang malam saya tak tidur sama sekali dan tiada sesuatu pun yang membatalkan wudhu saya. Sehingga, saya shalat subuh dengan wudhu shalat isya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa lega Ahmad bin Hanbal mendengar jawaban Al-Syafi’i tersebut yang tak selaras dengan pengamatan putrinya. Demikian pula putrinya yang mendengarkan penjelasan guru ayahandanya itu dari balik tirai. Malah, Ahmad bin Hanbal kemudian menekankan kepada putrinya bahwa hasil perenungan Al-Syafi’i yang bermanfaat bagi kemaslahatan kaum Muslim itu jauh lebih utama nilainya dibandingkan dengan shalat malam yang dilakukannya. (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4696007780673577493?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4696007780673577493/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4696007780673577493&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4696007780673577493'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4696007780673577493'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/lo-imam-al-syafii-tidak-shalat-tahajjud.html' title='Lo, Imam Al-Syafi&apos;i Tidak Shalat Tahajjud?'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ubWTs-kFfT8/TlbS-UpxOtI/AAAAAAAAAnY/0e9GZFD53fg/s72-c/MUSIK.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4016487806990426018</id><published>2011-08-25T05:23:00.005+07:00</published><updated>2011-08-25T17:46:37.024+07:00</updated><title type='text'>Ramadhan dan Kisah Buah Apel</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-0pwuvbTzjas/TlV6PTzPguI/AAAAAAAAAnQ/zKqJFWT9-Do/s1600/ABU%2BHANIFAH.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 151px; height: 200px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-0pwuvbTzjas/TlV6PTzPguI/AAAAAAAAAnQ/zKqJFWT9-Do/s400/ABU%2BHANIFAH.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644552111410610914" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah, mengapa bulan Ramadhan begitu cepat melintas,” gumam pelan penulis sembari mencermati bintang-bintang yang bertebaran di langit cerah tadi dini hari dari balkon. Memang, selepas Ramadhan melintasi paruh pertamanya, entah kenapa penulis suka “mengintip” langit di dini hari. Sembari mencermati langit indah di dini hari, tiba-tiba penulis tersadarkan, di antara pelbagai hikmah Ramadhan yang penulis gapai pada tahun ini, dalam hubungan antarmanusia, hikmah kesabaranlah yang paling penulis dambakan. Mengapa kesabaran? Penulis merasa, kesabaran begitu besar maknanya baginya dalam menghadapi pelbagai godaan dan cobaan dalam kehidupan dewasa ini yang kian “menggoda”. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika sedang merenungkan hikmah Ramadhan tersebut, tiba-tiba penulis teringat kesabaran Tsabit bin Ibrahim, ayahanda Abu Hanifah Al-Nu‘man, pendiri Mazhab Hanafi,  dalam menghadapi godaan sebuah apel nan lezat. Ternyata, dengan kesabarannya dalam menghadapi godaan buah apel nan lezat tersebut, hikmah luar biasa ia raih. Bagaimana kisah Tsabit bin Ibrahim tersebut? Berikut kisahnya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Duh, betapa lezat buah-buah apel itu,” gumam Tsabit bin Ibrahim ketika melintasi sebuah kebun apel luas selepas menempuh perjalanan panjang untuk meraih ilmu. Apalagi hari itu bekalnya telah habis dan tubuhnya terasa sangat lelah tak terkira. Karena itu, ia lantas memasuki kebun yang sedang tak dijaga itu dan kemudian melihat buah-buah apel yang ada di dalamnya. Lama, ia menatap satu demi satu buah-buah apel ranum yang sangat membangkitkan seleranya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Tsabit bin Ibrahim kemudian menghentikan langkah-langkahnya dan kemudian duduk di dekat sebuah pohon apel yang ranum buah-buahnya. Akhirnya, selepas lama menatap satu buah apel di pohon itu, tangannya terjulur ke arah buah itu dan memetiknya. Dan, kemudian, ia pun menyantap separohnya dan minum air jernih sungai yang ada di sebelah kebun itu. Tapi, tiba-tiba hati nuraninya mengingatkannya bahwa ia telah berbuat kesalahan: kebun dan buah apel itu bukan miliknya. Ia pun bergumam dengan hati yang perih dan sedih, “Wahai Tsabit! Betapa hina engkau ini. Betapa beraninya engkau memakan buah milik orang lain, tanpa meminta izin kepadanya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu benar-benar membuat Tsabit bin Ibrahim menyesal. Ia pun bertekad tak akan meneruskan perjalanannya, hingga bertemu dengan pemilik kebun itu. Ia akan meminta maaf atas tindakannya yang telah menyantap separoh apel tanpa izin. Karena itu, ia lantas mencari rumah pemilik kebun itu. Selepas berhasil menemukan rumah pemilik kebun apel itu dan berbagi sapa sejenak dengannya, ia pun berucap, “Wahai Tuan! Mohon kiranya saya dimaafkan. Tadi, tanpa seizin Tuan, saya memasuki kebun apel milik Tuan. Lalu, karena lapar dan lalai, saya memetik satu buah apel dan memakan separoh buah itu. Kemudian saya sadar, buah apel itu bukan milik saya. Karena itu, saya mohon kiranya Tuan  berkenan memaafkan saya, juga mengikhlaskan separoh buah apel yang saya makan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak pemilik kebun tercenung dan kagum atas kejujuran anak muda yang ada di hadapannya itu. Lantas, ucapnya, “Wahai anak muda! Sungguh, saya tak kuasa merelakan tindakanmu. Betapa tak terpuji dan tak termaafkan tindakanmu itu. Kecuali bila engkau mau menerima satu syarat!”&lt;br /&gt;“Apa syarat yang Tuan minta?” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu dan tentu saja penasaran.&lt;br /&gt;“Anak muda,” jawab pemilik kebun itu seraya menatap tajam wajah anak muda yang sejatinya memikat kalbunya. “Syaratnya adalah engkau harus bersedia menikah dengan putriku. Tapi, perlu engkau ketahui, putriku itu adalah seorang gadis buta, dengan kata lain tak kuasa melihat. Juga, ia tuli, dengan kata lain tak kuasa mendengar. Dan ia juga bisu, dengan kata lain tak kuasa berbicara!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedih, bingung, dan tak tahu harus menjawab bagaimana, begitu Tsabit bin Ibrahim mendengar satu syarat “pembebasan” dirinya dari kealpaan, keteledoran, dan kesalahan yang telah dilakukannya itu. Menikah dengan seorang gadis buta, bisu, dan tuli? Duh, siapakah mau menerima gadis demikian hanya karena kesalahan menyantap separoh buah apel. Berat nian persyaratan yang diajukan pemilik kebun itu.&lt;br /&gt;“Duh, apakah akan kuterima syarat yang benar-benar tak ringan ini. Tapi, bagaimana kalau syarat itu kutolak?” gumam Tsabit bin Ibrahim lirih dengan hati perih dan sedih. Kemudian, selepas lama berpikir dan hati nuraninya mengingatkan kealpaan, keteledoran, dan kesalahan yang telah dilakukannya, akhirnya dengan hati yang mantap ia memutuskan menerima syarat yang diajukan pemilik kebun itu. Apa pun risikonya. Bukankah hidup di dunia yang fana ini tak lama. Juga, bukankah keridhaan Allah Swt. jauh lebih berharga dan lebih bermakna. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira pemilik kebun itu begitu tahu kesediaan Tsabit bin Ibrahim untuk menerima syarat yang diajukannya. Ia pun segera menyiapkan acara pernikahan anak muda itu dengan putrinya yang sangat disayanginya. Dan ketika hari pernikahan tiba, betapa galau dan resah anak muda itu. Andai waktu dapat diputar kembali ke belakang, sejatinya ia tak akan memakan buah apel itu. Sehingga, ia tak menikah dengan seorang gadis buta, tuli, dan bisu yang benar-benar tak diharapkannya itu. Tapi, kini, nasi telah menjadi bubur: hal itu telah terjadi. Akhirnya, ia hanya pasrah sepenuh hati kepada Allah Swt. Dan, pernikahan itu pun dilangsungkan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, betapa kaget Tsabit bin Ibrahim ketika bertemu dengan dengan gadis yang baru dinikahinya itu. Ternyata, gadis itu sangat cantik nan jelita, petah bicara, cepat tanggap terhadap setiap kata yang didengarnya, dan kuasa menjawab dengan cerdas setiap kata setiap orang yang menanyainya. Beda sekali dengan yang dikemukakan ayahandanya ketika mengemukakan satu syarat yang harus dipenuhinya. &lt;br /&gt;“Wahai istriku,” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu, juga penuh haru. “Sejatinya apa yang terjadi? Ternyata, engkau kuasa bicara, mendengar, dan melihat. Tidak sebagaimana dikemukakan ayahanda kita?”&lt;br /&gt;“Suamiku tercinta,” jawab gadis nan jelita itu dengan nada suara penuh takzim kepada suaminya yang baru menyuntingnya. “Ayahanda benar-benar tak berdusta kok.”&lt;br /&gt;“Tak berdusta bagaimana?” tanya lebih jauh Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu dan sangat penasaran.&lt;br /&gt;“Ayahanda memang mengatakan apa adanya. Aku buta, dengan pengertian aku tak pernah memandang laki-laki yang tak halal bagiku. Aku tuli, dengan pengertian aku tak pernah duduk di majelis yang sarat dengan gunjingan, iri, kedengkian, dan bincang-bincang yang tak bermakna. Dan aku bisu, dengan pengertian aku tak pernah mengatakan kata-kata yang tak senonoh dan tak pernah pula berbincang dengan laki-laki yang tak halal bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira Tsabit bin Ibrahim mendengar jawaban istrinya yang demikian itu. Seketika itu juga ia bersujud syukur kepada Allah Swt., atas karunia istri salihah yang tidak ia duga sebelumnya. Dan, kelak, dari pasangan suami-istri ini lahir seorang anak yang kelak menjadi seorang ulama terkemuka yang pendiri Mazhab Hanafi: Abu Hanifah Al-Nu‘man. (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4016487806990426018?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4016487806990426018/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4016487806990426018&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4016487806990426018'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4016487806990426018'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/ramadhan-dan-kisah-buah-apel.html' title='Ramadhan dan Kisah Buah Apel'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-0pwuvbTzjas/TlV6PTzPguI/AAAAAAAAAnQ/zKqJFWT9-Do/s72-c/ABU%2BHANIFAH.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8435164310475954887</id><published>2011-08-24T04:37:00.004+07:00</published><updated>2011-08-24T04:58:50.655+07:00</updated><title type='text'>"Surat Cinta" Al-Hasan Al-Bashri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-QQE5quExKQk/TlQeOgZe5XI/AAAAAAAAAnI/nXkxuhUTh_k/s1600/CROWN.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 285px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-QQE5quExKQk/TlQeOgZe5XI/AAAAAAAAAnI/nXkxuhUTh_k/s400/CROWN.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5644169467565892978" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, ketika penulis sedang mengikuti perkembangan pergolakan politik yang sedang terjadi di Libya, lewat channel tivi: Al-Jazeera, CNN, dan Euronews, tiba-tiba penulis tersadarkan: para penguasa di kawasan Timur Tengah yang telah berkuasa ketika penulis masih menimba ilmu di Mesir (1978-1984), dan berkuasa terlalu lama, kini telah berjatuhan. Tiba-tiba pula dalam benak penulis membara pertanyaan, “Mengapa mereka terlenakan oleh kekuasaan, sehingga kekuasaan itu mereka genggam terlalu lama. Akibatnya, kekuasaan itu pun berubah menjadi “bara” di akhir perjalanan kekuasaan mereka.” Tidakkah para pemegang kekuasaan itu sadar, selain oleh rakyat, mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Khalik kelak di akhirat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merenung demikian, entah kenapa, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Damaskus, Suriah, teringat kegelisahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, penguasa ke-8 Dinasti Umawiyyah ketika menjabat sebagai khalifah. Kala itu, selama berhari-hari, betapa ia acap sulit memejamkan mata, walau malam telah sangat larut. Amanah yang ia sangga, sebagai khalifah, ternyata terasa sangat berat baginya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penguasa yang satu itu, sebagaimana termaktub dalam torehan sejarah Islam, terkenal adil  dan  bijak.  Cicit ‘Umar  bin  Al-Khaththab ini  lahir di Madinah pada 61 H/681 M (ada yang mengatakan 63 H/684 M) dan tumbuh dewasa di Helwan, Mesir hingga bersampai usia sekitar dua puluh tahun. Ia kemudian dikirim ke Madinah Al-Munawwarah, untuk  menimba ilmu.  Lantas,  ketika  ayahandanya berpulang, ia  kembali  ke Damaskus  dan  menikah dengan sepupunya, seorang putri ‘Abdul Malik  bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash, penguasa kelima Dinasti Umawiyyah,  bernama Fathimah. Setahun selepas itu, pada 86 H/705 M, kala berusia dua puluh enam tahun, ia diangkat Al-Walid bin ‘Abdul Malik sebagai Gubernur Madinah, menggantikan Hisyam bin Isma‘il. Selanjutnya, putra ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash ini diangkat menjadi Gubernur   Makkah.  Selama menjabat gubernur, kedua wilayah itu menjadi kawasan yang stabil dan aman. Jabatan  itu ia pegang sampai 93 H/712 M. Selepas itu, ia  kembali ke  Damaskus  untuk  menjadi  menteri  utama di  masa   pemerintahan Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Jabatan  sebagai  orang nomor satu  Dinasti  Umawiyyah  dipegang ‘Umar  bin ‘Abdul ‘Aziz pada 99 H/717 M,  menggantikan  ipar yang juga saudara sepupunya: Sulaiman bin ‘Abdul Malik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak kuasa mengatasi kegelisahan dan keresahan hatinya, akhirnya suami Fathimah binti ‘Abdul Malik dan ayahanda tiga belas putra dan putri itu mengirim sepucuk surat kepada Al-Hasan Al-Bashri, untuk meminta nasihat dan arahan. Terkenal sebagai seorang ulama generasi tâbi‘în  dan  sufi terkemuka  abad 2 H/8 M, Al-Hasan Al-Bashri lahir di Madinah pada 21  H/642 M,  di masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab,  dengan  nama lengkap  Abu  Sa‘id Al-Hasan bin Yassar  Al-Bashri. Namun,  kemudian keluarganya pindah ke Bashrah, selepas  terjadi Perang  Shiffin pada 35 H/656 M. Sehingga, ia lebih terkenal  dengan sebutan  “Al-Bashri”  (yang asal Bashrah). Ia tumbuh dewasa di Kota Nabi  dalam  lingkungan yang  salih  dan  mendalam pengetahuan agamanya.  Dan, selama bermukim di Kota Suci  itu, ia bertemu tak kurang dari tujuh puluh sahabat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama selepas menerima surat dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Al-Hasan Al-Bashri pun segera membalasnya. Ia, antara lain, menulis, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ammâ ba‘d. Wahai Amir Al-Mukminin! Sungguh, dunia adalah tempat berkelana, bukan tempat bermukim selamanya. Adam a.s. diturunkan dari surga ke dunia tak lain karena sebagai hukuman atas dirinya. Karena itu, waspadalah terhadap dunia. Sungguh, bekal dari dunia ini adalah sikap menghindarinya. Kekayaan dari dunia adalah kemiskinannya. Di setiap saat, sejatinya dunia melakukan pembunuhan. Juga, dunia melecehkan orang yang memuliakannya dan memiskinkan orang yang menghimpunnya. Dan, dunia laksana racun yang menelan orang yang tak mencermatinya dan kemudian mematikannya. Karena itu, berbekal di dalamnya adalah dengan meninggalkan dunia dan kekayaan di dalamnya adalah dengan kefakiran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Hendaklah sikapmu terhadap dunia laksana sikap orang yang sedang mengobati luka dirinya. Ia menjaga diri sebentar, karena khawatir terhadap sesuatu yang tak disukainya dalam masa yang lama. Ia bersabar atas getirnya obat, karena takut atas derita yang berlama-lama. Sejatinya, orang mulia adalah orang yang berucap benar, menapakkan kaki dengan menundukkan kepala, hanya menyantap makanan yang baik dan halal, memejamkan mata dari hal-hal yang haram, penuh rasa khawatir, baik di kala di darat maupun di laut, dan senantiasa berdoa, baik dalam kesulitan maupun kelonggaran. Andai bukan karena ajal yang telah ditetapkan atas diri mereka, tentu mereka tak ingin nyawa mereka tetap berpadu dengan tubuh mereka. Ini, karena mereka takut hukuman-Nya dan mengharapkan balasan-Nya. Dalam hati mereka, Sang Khalik demikian agung. Sedangkan semua makhluk, di mata mereka, demikian tiada artinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Tafakur dapat membuahkan ajakan untuk melakukan kebaikan dan mengamalkannya. Sedangkan penyesalan atas keburukan mengajak pada sikap meninggalkannya. Dan, sesuatu yang bercorak fana dapat berpengaruh atas sesuatu yang bercorak abadi. Demikian halnya, bersusah payah yang membangkitkan kedamaian lebih baik ketimbang kesenangan sesaat yang mengakibatkan penyesalan dan kesengsaraan nan tiada henti. Waspadalah terhadap pesona duniawi yang dapat mengaparkan, merendahkan, dan mematikan siapa saja, karena mengaguminya lantas terlena. Bila demikian, yang kemudian terjadi adalah hari-hari yang telah melintas tak dapat dijadikan pelajaran atas hal-hal yang bakal terjadi di masa depan. Ini adalah akibat perbuatan di masa lalu, yang tak gentar terhadap kebenaran peringatan Allah yang dikemukakan, tak menyadarkannya. Yang ada dalam kalbu, dalam kaitannya dengan pesona duniawi, hanyalah cinta buta semata. Barang siapa kalbunya hanya tertuju pada kehidupan duniawi semata, hingga saat kematian menjemput pun ia akan senantiasa memburu pesona yang menurutnya merupakan sesuatu yang paling memikat baginya. Akibatnya, pada dirinya, berpadu dua derita. Yaitu, kepedihan sakratulmaut dan keperihan tak kuasa merengkuh pesona yang ia damba. Dengan demikian, ia meniti perjalanan panjang menuju ke hadirat Allah Swt. Tanpa bekal apa pun dan datang (ke akhirat)dan tanpa persiapan sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Karena itu, waspadalah sepenuhnya terhadap pesona duniawi. Sebab, pesona itu laksana ular. Manakala disentuh sedikit saja, ia kuasa membunuh dengan bisanya. Berpalinglah dari pesona yang engkau kagumi segala sesuatu yang ada di dalamnya, karena hanya sedikit darinya yang akan kuasa menyertaimu. Lepaskanlah hasratmu kepadanya, karena engkau yakin akan berpisah dengannya. Jadikanlah kepahitan berat yang ada padanya sebagai dambaan yang senantiasa engkau idamkan selepasnya. Waspadalah, karena setiap kali seseorang hamba dunia terbuai oleh kesenangan yang ada di dalamnya, akibat buruknya akan senantiasa menyertai dirinya. Manakala sesuatu yang ia gemari dapat direngkuhnya, sesuatu yang ia benci kelak akan menjadi penggantinya. Karena itu, sesuatu yang kini menyenangkan, kelak akan menjadi menyedihkan. Yang kini bermanfaat, kelak akan membahayakan. Kemakmuran di dalamnya kelak akan mengantarkan pada kepedihan. Kenikmatannya pun kelak akan dikembalikan menjadi kepahitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Pandanglah pesona duniawi dengan tatapan selamat jalan. Bukan dengan tatapan jatuh cinta. Ketahuilah, dunia memedayakan. Seolah, yang tinggal di dalamnya akan hidup abadi selamanya, juga menyajikan kesenangan bagi pemburu kesenangan di dalamnya. Sejatinya, kunci kesenangan dan kekayaan dunia pernah ditawarkan kepada Nabi Saw. Namun, beliau menolaknya. Tak lain karena beliau mengetahui bahwa sesuatu yang tak disukai Allah, beliau pun tak menyukainya, dan sesuatu yang dipandang kecil oleh Allah Swt., beliau pun memandangnya kecil. Andai beliau menerima tawaran itu, tentu hal itu menjadi penanda bahwa beliau mencintai pesona duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kiranya Allah Swt. berkenan melimpahkan rahmat kepada kami, dengan nasihat ini. Juga, kepada engkau,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wassalâmu‘alaikum wa Rahmâtullâh wa Barakâtuh&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menerima surat dari tokoh yang  ikut  serta dalam  pasukan  ‘Abdullah bin ‘Amir,  Gubernur  Bashrah,  dalam pelbagai ekspedisi militer hingga ke Kabul dan baru  kembali ke  Bashrah  pada 53 H/673 M serta menetap di kota  itu  hingga  berpulang  pada Kamis, 1 Rajab  110  H/ 10 Oktober 728 M. Nasihat Al-Hasan Al-Bashri itu kemudian banyak ia jadikan sebagai pedoman dan acuan dalam bertindak dan mengambil keputusan selama ia menjadi penguasa. (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8435164310475954887?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/8435164310475954887/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=8435164310475954887&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8435164310475954887'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8435164310475954887'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/surat-cinta-al-hasan-al-bashri.html' title='&quot;Surat Cinta&quot; Al-Hasan Al-Bashri'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-QQE5quExKQk/TlQeOgZe5XI/AAAAAAAAAnI/nXkxuhUTh_k/s72-c/CROWN.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-656828451443422637</id><published>2011-08-18T05:41:00.003+07:00</published><updated>2011-08-18T05:54:22.663+07:00</updated><title type='text'>"Kami pun Ingin Beri'tikaf, Tapi..."</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-vEkmrL7vv1Y/TkxEAwy08SI/AAAAAAAAAnA/Klw-PX-QVDQ/s1600/i%2527tikaf%2Bdi%2Bmasjid.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-vEkmrL7vv1Y/TkxEAwy08SI/AAAAAAAAAnA/Klw-PX-QVDQ/s400/i%2527tikaf%2Bdi%2Bmasjid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641959213077164322" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Mas, enak ya orang-orang lain di bulan Ramadhan seperti saat ini,” ucap seorang dokter spesialis, seraya menarik napas panjang, kepada penulis. &lt;br /&gt;“Maksud Anda apa?”&lt;br /&gt;“Coba bayangkan,” jawabnya lirih seraya menatap bintang-bintang dari balkon. “Di bulan Ramadhan yang suci ini, orang-orang lain sangat leluasa melakukan pelbagai ibadah. Sementara gerak kami dapat dikatakan terbatas sekali. Misalkan saja, orang-orang lain dapat beri‘tikaf begitu leluasa sepanjang malam di bulan suci ini. Sedangkan kami, khususnya kami para dokter spesialis, dari pagi hingga pagi berikutnya, harus senantiasa siap menangani para pasien. Malah, kadang, baru memejamkan mata sebentar, telpon demi telpon berdering dari rumah sakit  yang mengharuskan kami menerima konsul. Kemudian, ketika baru mau memejamkan mata lagi, kerap telpon demi telpon berdering lagi. Bagaimana kami dapat beri‘tikaf? Kalau begitu, di manakah keadilan Allah Swt. bagi orang-orang yang berprofesi seperti kami: enak bagi orang lain, tidak enak bagi kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima pertanyaan yang memikat itu, sejenak penulis menarik napas panjang. Dan, tak lama kemudian, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” menuju Madinah, teringat kisah ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Kisah yang merupakan jawaban pertanyaan yang memikat itu sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran bulan Ramadhan tak pernah sepi dari sambutan kaum Muslim. Demikian pula yang dilakukan ‘Abdullah ibn Al-‘Abbbas, seorang sahabat dan saudara sepupu Rasulullah Saw. yang terkenal sebagai seorang ahli tafsir dan bernama lengkap Abu Al-‘Abbas ‘Abdullah bin Al-‘Abbas ibn ‘Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn ‘Abd Manaf. Putra pasangan suami-istri Al-‘Abbas ibn ‘Abdul Muththalib dan Ummu Fadhil Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits ini lahir tiga tahun sebelum Hijrah di Makkah, kala Bani Hasyim sedang diboikot kaum Quraisy di Al-Syi‘b. Ia lebih dahulu memeluk Islam daripada ayahnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping cerdas, sahabat yang baru berusia 13 tahun kala Rasulullah Saw. wafat ini juga dikenal memiliki ingatan sangat kuat. Selain itu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur Basrah pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abu Thalib ini juga dikenal sebagai ilmuwan yang berwawasan luas dan “Bapak Ahli Tafsir (Al-Quran)”. Ini karena ia adalah sahabat Rasulullah Saw. yang pertama kali menyusun tafsir Al-Quran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari itu, ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas sedang beri‘tikaf di Masjid Nabawi, Madinah. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba seorang pria datang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya.&lt;br /&gt;“Wahai Saudaraku,” ucap ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas selepas menjawab ucapan salam tamunya itu. “Kulihat engkau begitu resah dan gelisah, ada apa?”&lt;br /&gt;“Benar, wahai putra Al-‘Abbas! Aku memiliki utang kepada seseorang. Demi penghuni makam itu (maksudnya Rasulullah Saw.), aku tak mampu melunasi utang itu!” jawab pria itu dengan perasaan sedih dan malu.&lt;br /&gt;“Saudaraku! Bolehkah aku berbicara kepada orang itu?” ucap cucu ‘Abdul-Muththalib yang kelak wafat di Thaif itu. &lt;br /&gt;“Tentu! Silakan, jika hal itu menurutmu pantas,” jawab pria itu sambil berterima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Abdullah ibn Al-‘Abbas pun keluar dari Masjid Nabawi dan mengenakan sandalnya. Melihat hal itu, seseorang menegurnya, “Wahai ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas! Kenapa engkau keluar dari masjid? Lupakah engkau bahwa engkau sedang beri‘tikaf?!”&lt;br /&gt;“Tidak, Saudaraku!” jawab tokoh yang mendapat sejumlah gelar, antara lain “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Bahr&lt;/span&gt;” (Samudera), “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Hibr&lt;/span&gt;” (Yang Tampan), dan “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tarjuman Al-Qur’an&lt;/span&gt;” (Juru bicara Al-Qur’an) itu. “Tetapi, aku pernah mendengar penghuni makam itu bersabda, ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barang siapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya dan berupaya sungguh-sungguh untuk memenuhi keperluan itu, maka hal itu lebih utama baginya ketimbang sepuluh tahun beri‘tikaf. Dan barang siapa yang beri‘tikaf satu hari karena mengharapkan ridha Allah, maka Allah Swt. akan menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tiga parit, yang jarak antara satu parit dengan parit lainnya lebih jauh ketimbang jarak antara langit dan bumi&lt;/span&gt;.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teringat kisah tersebut, penulis pun segera menyampaikannya kepada dokter tersebut seraya berucap, “Jangan lupa, niatkan seluruh langkah Anda demi Allah Swt. semata!” (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-656828451443422637?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/656828451443422637/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=656828451443422637&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/656828451443422637'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/656828451443422637'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/kami-pun-ingin-beritikaf-tapi.html' title='&quot;Kami pun Ingin Beri&apos;tikaf, Tapi...&quot;'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vEkmrL7vv1Y/TkxEAwy08SI/AAAAAAAAAnA/Klw-PX-QVDQ/s72-c/i%2527tikaf%2Bdi%2Bmasjid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-6601996289628720712</id><published>2011-08-17T11:20:00.001+07:00</published><updated>2011-08-17T11:22:36.743+07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-eM229-qLHDE/TktCA2oYyfI/AAAAAAAAAm4/jhu6PKypgoc/s1600/INDONESIA"&gt;&lt;img style="display:block; margin:0px auto 10px; text-align:center;cursor:pointer; cursor:hand;width: 180px; height: 144px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-eM229-qLHDE/TktCA2oYyfI/AAAAAAAAAm4/jhu6PKypgoc/s400/INDONESIA" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641675540644022770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;SYUKUR&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;oleh H. Mutahar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yakinku teguh&lt;br /&gt;Hati ikhlasku penuh&lt;br /&gt;Akan karunia-Mu&lt;br /&gt;Tanah air pusaka&lt;br /&gt;Indonesia merdeka&lt;br /&gt;Syukur aku sembahkan&lt;br /&gt;Kehadirat-Mu Tuhan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yakinku teguh&lt;br /&gt;Cinta ikhlasku penuh&lt;br /&gt;Akan jasa usaha&lt;br /&gt;Pahlawanku yang baka&lt;br /&gt;Indonesia merdeka&lt;br /&gt;Syukur aku hanjukkan&lt;br /&gt;Ke bawah duli tuan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari yakinku teguh&lt;br /&gt;Bakti ikhlasku penuh&lt;br /&gt;Akan azas rukunmu&lt;br /&gt;Pandu bangsa yang nyata&lt;br /&gt;Indonesia merdeka&lt;br /&gt;Syukur aku hanjukkan&lt;br /&gt;Ke hadapanmu tuan&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-6601996289628720712?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/6601996289628720712/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=6601996289628720712&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6601996289628720712'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6601996289628720712'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/syukur-oleh-h_17.html' title=''/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-eM229-qLHDE/TktCA2oYyfI/AAAAAAAAAm4/jhu6PKypgoc/s72-c/INDONESIA' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1351020886534690106</id><published>2011-08-16T06:51:00.003+07:00</published><updated>2011-08-16T06:56:32.502+07:00</updated><title type='text'>Sepenggal Doa di Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-GAniHOsEaL4/TkmxsmjQhYI/AAAAAAAAAmg/qd41StikwOg/s1600/The%2BProphets%2BMosque.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-GAniHOsEaL4/TkmxsmjQhYI/AAAAAAAAAmg/qd41StikwOg/s400/The%2BProphets%2BMosque.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5641235388079048066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“A&lt;span style="font-style:italic;"&gt;da tiga orang yang doa mereka tidak ditolak Allah: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang dizalimi&lt;/span&gt;.” (&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;HR Ahmad ibn Hanbal&lt;/span&gt;).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap ada kesempatan, selama bulan Ramadhan ini, selain menulis dan membaca, penulis mencoba menyimak ceramah para dai kondang di negeri tercinta ini. Dalam ceramah yang mereka sajikan, ternyata mereka kerap menyitir hadis di atas. Mendengar ceramah mereka, entah kenapa kemudian penulis tergerak untuk membuka dan menyimak sebuah karya indah Prof. Dr. Muhammad Mahmud Ahmad dan Prof. Dr. Musa Al-Khathib, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Du‘a Al-Anbiya’ wa Al-Rusul&lt;/span&gt;. Lembar demi lembar karya itu pun penulis cermati. Kisah demi kisah yang menjadi latar belakang pelbagai doa para Nabi dan Rasul pun penulis kaji. Duh, ternyata, doa-doa yang dihadirkan dalam karya itu demikian banyak. Dan, doa-doa itu demikian indah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika penulis sedang merenungkan doa-doa indah para Nabi dan Rasul tersebut, tiba-tiba benak-benak penulis “melayang-melayang” ke Madinah dan teringat kisah nan indah yang berkenaan dengan doa Nabi Daud a.s. sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa gembira hati seorang sahabat hari itu, karena ia masih memiliki kesempatan menghadiri pertemuan dengan Rasulullah Saw. di hari itu di Masjid Nabawi, Madinah, seperti yang acap beliau lakukan setiap minggu manakala beliau sedang tidak melakukan perjalanan keluar kota.  Sahabat yang satu itu tak lain adalah Abu Al-Darda’, seorang sahabat yang berasal dari suku Khazraj, Madinah dan bernama lengkap Abu Al-Darda’ ‘Uwaimir bin Zaid bin Qais bin ‘A’isyah bin Umayyah bin Malik bin ‘Adiy bin Ka‘b bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Sebelum memeluk Islam, Abu Al-Darda’ memiliki profesi sebagai seorang pedagang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam pertemuan pada hari itu Rasulullah Saw. memperbincangkan kisah Nabi Daud a.s. Seperti diketahui, Nabi Daud a.s. adalah seorang nabi yang namanya disebut 16 kali di  dalam Al-Quran. Nabi yang satu ini adalah anak keturunan Nabi Ibrahim a.s. generasi  ke-11. Ketika  kecil  ia hidup sebagai penggembala ternak seperti halnya Rasulullah Saw.  Suatu  saat, ketika ia telah remaja, Saul, raja Bani Israil, meminta  bantuan kepadanya untuk melawan Jalut. Ternyata, ia berhasil  mengalahkan raja  Palestina itu. Melihat kemenangan dan ketenaran nama  yang direngkuhnya, Saul pun berupaya membunuhnya. Daud  berhasil melarikan  diri. Setelah Saul mati, Daud lalu  mendirikan  sebuah kerajaan di Hebron. Tapi, kemudian kerajaannya ia pindahkan  ke Jerusalem. Selain  menjadi raja, Allah juga memberi wahyu kepada  Nabi Daud  a.s. karena ketaatannya kepada-Nya dan memberinya kekuatan, ilmu  yang tinggi,  dan  dapat membuat baju besi serta  menundukkan  gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya di kala pagi dan senja hari. Ketika menjelang  meninggal  dunia,  ia  mewariskan  kerajaannya  kepada putranya yang bijak, Nabi Sulaiman a.s. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw., dalam menuturkan kisah Nabi Daud a.s. tersebut, memaparkan pula kepada para sahabat bagaimana kecintaan Nabi Daud a.s. kepada Allah Swt. Beliau kemukakan kepada mereka bahwa dalam berdoa Nabi Daud a.s. senantiasa memohon agar mendapatkan karunia  cinta kepada-Nya. Selain itu, ia juga memohon agar cintanya lebih besar ketimbang cintanya kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Kemudian, tentang doa Nabi Daud a.s. tersebut, Rasulullah mengemukakan, “Wahai sahabat-sahabatku! Di antara doa yang dipanjatkan Nabi Daud a.s. adalah &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Allâhumma innî as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa al-‘amal al-ladzî yuballighunî hubbak. Allâhumma ij‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsî wa ahlî wa min al-mâ’ al-bârid&lt;/span&gt; (Ya Allah! Aku memohon kepada Engkau cinta kepada-Mu, cinta  orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal yang dapat membuat aku meraih cinta kepada-Mu. Ya Allah! Jadikanlah cinta kepada-Mu lebih kusukai daripada cinta kepada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang menyejukkan).” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indah doa Nabi Daud a.s. tersebut. Dan, semenjak bulan Ramadhan ini, penulis pun menjadikan doa itu sebagai salah satu doa pilihan penulis. Kiranya Allah Swt. menerima doa tersebut, amin! (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1351020886534690106?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1351020886534690106/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1351020886534690106&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1351020886534690106'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1351020886534690106'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/sepenggal-doa-di-bulan-ramadhan.html' title='Sepenggal Doa di Bulan Ramadhan'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-GAniHOsEaL4/TkmxsmjQhYI/AAAAAAAAAmg/qd41StikwOg/s72-c/The%2BProphets%2BMosque.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1034009028107104707</id><published>2011-08-15T05:15:00.003+07:00</published><updated>2011-08-15T05:22:45.577+07:00</updated><title type='text'>1401 Tahun yang Silam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-H_JoqygbDUY/TkhJop8hF2I/AAAAAAAAAmY/JXqTiFDH-us/s1600/JABAL%2BNUR.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 253px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-H_JoqygbDUY/TkhJop8hF2I/AAAAAAAAAmY/JXqTiFDH-us/s400/JABAL%2BNUR.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640839496084821858" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya&lt;/span&gt;.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, ketika menyaksikan penyerahan Ahmad Bakrie Award 2011 (di TVOne), kepada para peraih hadiah tersebut, entah kenapa kepala penulis tiba-tiba menunduk dan benak melayang ke Gua Hira’, Makkah Al-Mukarramah. Kepala menunduk karena teringat kembali sejarah turunnya wahyu kepada Rasul Saw. Yang terbayangkan dalam benak penulis: betapa beda sekali suasana 1401 tahun silam, ketika Rasul Saw. pertama kali menerima wahyu, dengan suasana penerimaan award tersebut yang mewah, meriah, dan gemerlap itu. Tentu dapat dibayangkan, kala di puncak Jabal Nur, beliau kala itu sendirian, sementara suasana sekeliling sangat sunyi, langit sangat cerah (kala itu bulan September), dan hawa di sekitar Makkah mulai segar. Dengan suasana demikian, tentu pula dapat dibayangkan betapa beliau sangat kaget ketika tiba-tiba Jibril muncul di hadapan beliau. Bagaimanakah lembaran sejarah menorehkan kejadian luar biasa di puncak Jabal Nur pada 1401 tahun yang silam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bulan itu adalah bulan Ramadhan tahun kelima selepas pemugaran Ka‘bah dan  kelahiran Fathimah Al-Zahra’. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rasul Saw. kembali meninggalkan rumahnya menuju Gua Hira’ seperti yang biasa beliau lakukan setiap tahun. Beliau berjalan sendiri melintasi pinggiran Kota Makkah seraya berpikir tentang keagungan Allah, kekuasaan-Nya, dan keindahan ciptaan-Nya. Jiwanya saat itu kian matang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika itu Rasul Saw. kian yakin, masyarakatnya telah menyimpang jauh dari jalan yang lurus dan kehidupan ruhaniah mereka telah rusak karena tunduk pada khayalan berhala-berhala dan pelbagai kepercayaan semacamnya yang tidak kurang pula sesatnya. Semua ajaran yang telah pernah dikemukakan oleh masyarakat Yahudi dan umat Nasrani tak dapat menolong mereka dari kesesatan itu. Apa yang mereka sampaikan masih mengandung aneka ragam takhayul dan pelbagai ragam kemusyrikan yang tak mungkin seiring dengan kebenaran sejatinya, kebenaran mutlak sederhana yang tidak mengenal segala bentuk spekulasi dan perdebatan kosong yang menjadi pusat perhatian kedua golongan Ahli Kitab itu. Kebenaran itu adalah Allah, Sang Pencipta semesta alam, tiada Tuhan selain Dia. Kebenaran itu adalah Allah Pemelihara semesta alam. Dialah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu adalah bahwa manusia dinilai berdasarkan perbuatannya, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barang siapa melakukan kebajikan seberat zarah pun, ia akan melihatnya! Dan, barang siapa melakukan kejahatan seberat zarah pun, ia akan melihatnya&lt;/span&gt;.” (QS Al-Zalzalah [99]: 7-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jauh dari orang lain dan berhadapan langsung dengan alam, Rasul Saw. kala itu memang senantiasa berusaha mencari makna dan kedamaian. Beliau tidak pernah mengikuti ibadah penyembahan berhala, tidak meyakini kepercayaan dan ritual suku-suku di wilayahnya, dan menjauhi  segala bentuk takhayul dan buruk sangka. Beliau terlindung dari tuhan-tuhan palsu. Baik dalam bentuk penyembahan terhadap berhala maupun penghambaan terhadap kekuasaan dan kekayaan. Beberapa kali beliau bercerita kepada istrinya, Khadijah, perihal mimpi yang ternyata benar, yang membuat beliau terganggu karena meninggalkan kesan yang sangat kuat selepas beliau terbangun. Itulah pencarian-kebenaran sejati: tidak puas dengan jawaban orang-orang di sekelilingnya, dan terdorong oleh keyakinan mendalam bahwa beliau harus mencari jawaban lebih lanjut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usia Rasul Saw. kala itu telah  mendekati empat puluh tahun. Kala itu sendiri, beliau telah mencapai titik perkembangan ruhaniah yang menuntut introspeksi mendalam untuk mencapai titik berikutnya. Sendirian di dalam Gua Hira’, beliau merenungkan makna kehidupannya, kehadirannya di dunia, dan pelbagai penanda yang telah mengiringinya sepanjang hidupnya. Bentangan cakrawala di sekelilingnya mungkin mengingatkannya pada suasana masa kecilnya. Bedanya, kini kedewasaan telah memenuhinya dengan pelbagai pertanyaan eksistensial mendasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul Saw. kala itu sedang mencari. Dan, pencarian ruhaniah ini secara alamiah menuntunnya menuju sebuah panggilan yang secara tidak langsung, namun pasti telah ditunjukkan oleh penanda-penanda yang beliau saksikan sepanjang hidupnya. Beragam penanda yang telah melindungi dan menenangkan hatinya, visi yang pertama kali muncul dalam mimpi-mimpinya, yang kemudian menjelma dalam hidupnya, dan pelbagai pertanyaan yang melintasi hati dan pikirannya yang bertautan dengan cakrawala yang terbentang di alam, telah mengantarkannya pada inisiasi tertinggi menuju makna, pada perjumpaan dengan Pendidiknya, Allah Yang Maha Esa. Saat berusia empat puluh tahun, siklus pertama kehidupannya berakhir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas hari itu, tepatnya pada Ramadhan 610 M (hari Senin, 17 Ramadhan, menurut Muhammad bin Sa‘d), Rasul Saw. sedang khusyuk bertafakur di Gua Hira’. Tiba-tiba beliau mendengar suara yang menggema sangat kuat di seluruh dinding gua memanggilnya. Suara itu seakan datang dari atas. Lalu, tampak di hadapannya sesosok tubuh besar seakan memenuhi gua. Sosok yang diselubungi cahaya berpendar menyilaukan itu lantas berucap tegas, “Wahai Muhammad! Engkaulah utusan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul Saw. pun berlutut. Perasaan takut menyergap kuat dirinya. Sosok itu kemudian berucap lagi, “Wahai Muhammad! Aku adalah Jibril dan engkau adalah utusan Allah!” Lalu, sosok itu memperlihatkan kepada beliau sebuah lembaran yang terlipat dalam kain sutra dan memerintahkan kepadanya, “Bacalah!” “Aku tidak kuasa membaca,” jawab beliau terbata-bata dan kebingungan. Mendengar jawaban beliau yang demikian, Jibril lantas memeluknya kuat. Lalu, Jibril melepaskannya seraya berucap keras, “Bacalah!” “Aku tidak kuasa membaca,” jawab beliau kian kebingungan. Jibril memeluknya sekali lagi. Kuat sekali. Hingga beliau hampir tak kuasa bernapas. Lalu, Jibril kembali berucap keras, “Bacalah!” Karena khawatir Jibril akan memeluknya dengan sangat kuat lagi, beliau pun menjawab, “Apa yang harus kubaca?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Jibril tetap memeluknya. Sekuat pelukan sebelumnya. Lalu, Jibril membacakan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya&lt;/span&gt;.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasul Saw. kemudian mengejanya, dituntun Jibril yang kemudian segera meninggalkannya dengan tiada hentinya berpesan kepadanya, “Wahai Muhammad! Engkaulah utusan Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman pertama kali menerima wahyu ini sungguh luar biasa, hingga menggetarkan hati dan pikiran Rasul Saw. Wahyu itu juga disertai dengan kepastian bahwa pengantar wahyu itu adalah malaikat dan bukan kekuatan psikis atau jinn. Wahyu yang turun itu menggema ke seluruh semesta alam dan mengubah suasana di sekitar beliau. Gema itu menimpa beliau seakan suatu pukulan, dan beliau mendengar kegaduhan keras dan bertalu laksana beribu suara genta. Selama dua puluh tiga tahun selepas kejadian di Gua Hira’ itu, kapan saja menerima wahyu, beliau senantiasa merasakan tekanan hebat. Beliau akan berkeringat dan manakala beliau sedang naik unta atau kuda, hewan-hewan itu pun terbungkuk di bawah tekanan titah yang turun dari Allah Swt. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Di sini timbul pertanyaan, mengapa Rasul Saw. yang menerima titah Allah Swt. justru tak kuasa membaca &lt;/span&gt;(ummiy)?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seyyed Hossein Nasr, dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Muhammad Man of Allah&lt;/span&gt;, menjawab pertanyaan yang demikian, menulis, “Untuk memahami doktrin fundamental ini, perlu sekali diingat bahwa wahyu bukan sebuah produk pikiran Nabi Muhammad Saw. Tapi, wahyu diturunkan dari langit kepada beliau. Al-Quran bukan kata-kata beliau, tapi titah Allah. Beliau hanyalah salurannya. Watak tidak kuasa membaca beliau berarti bahwa sebelum firman Allah dapat diterimakan, maka wadah manusianya haruslah murni dan bening. Allah tak begitu saja menulis di atas sembarang lembaran. Untuk itu disyaratkan hati yang murni, ruh dan pikiran yang tak ternoda oleh ajaran manusia, agar mampu berfungsi sebagai lembaran yang menerima titah Allah. Jika seseorang memahami  arti wahyu dan kesempurnaan transendensi ketuhanan di atas segala-galanya yang serba manusiawi dan kesempurnaan tindakan Allah serta manusia penerimanya, maka orang itu akan memahami mengapa Nabi Muhammad Saw. tak dapat lain kecuali tidak kuasa membaca. Betapa pun pedas kritik para cendekiawan Barat modern mengenai sisi ini, tidaklah itu apa-apa, karena mereka menolak menerima kenyataan wahyu dan perbedaan kualitas antara titah Allah dengan manusia yang menjadi wadahnya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas turunnya wahyu itu, Rasul Saw. (saat itu ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun  Bulan/Qamariyyah  atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun  Matahari/ Syamsiyyah) segera pulang menuju rumah beliau di kegelapan dini hari, dalam keadaan takut, pucat, dan sendi-sendinya gemetar.  Dan, ketika sampai di kamar istri beliau, Khadijah binti Khuwailid, beliau merasa berada di tempat yang aman. Kemudian beliau menceritakan kepada istrinya, dengan suara gemetar, segala sesuatu yang telah terjadi. Beliau curahkan kepada istrinya segala hal yang membuatnya ketakutan dan meminta agar dirinya diselimuti. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah binti Khuwalid, sang istri teladan, pun merangkul dan mendekap sang suami tercinta di dadanya. Roman mukanya membangkitkan sifat keibuan yang telah berakar kuat di hatinya. Ia kemudian berucap dengan suara lirih dengan segenap keteguhan dan keyakinan, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kiranya Allah memelihara kita, wahai Abu Al-Qasim! Bergembiralah wahai putra pamanku. Tenanglah. Demi Zat yang menguasai diri Khadijah, aku berharap engkau akan menjadi nabi umat ini. Demi Allah, sungguh Allah tak akan menghinakanmu selamanya. Bukankah engkau suka bersilaturahmi, senantiasa berkata jujur, suka menolong orang yang kesusahan, senantiasa menghormati tamu, dan senantiasa membantu orang yang tertimpa musibah&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rona kegembiraan pun mewarnai wajah Muhammad Saw. yang kini telah diangkat sebagai Nabi Allah (Nabiy Allâh). Sedikit demi sedikit rasa takutnya sirna. Suara sang istri yang merdu lagi penuh kasih sayang pun menyelinap seiring dengan berpendarnya cahaya fajar ke dalam relung hati beliau, menebarkan keyakinan, rasa aman, dan tenang dalam diri beliau. Kala sang istri teladan menuntun Nabi Saw. ke tempat tidur. Ia menidurkan beliau seperti yang dilakukan seorang ibu terhadap anak yang disayanginya. Ia pun menghibur beliau dengan suaranya yang merdu, seolah ia menebarkan mimpi yang indah di pembaringan beliau. Dan, kemudian, ia sangat merasa puas melihat suaminya tercinta tertidur pulas. Ia pun memperhatikan suaminya dengan penuh rasa cinta, kasih sayang, dan kekaguman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian itu sendiri, di sisi lain, kian mengukuhkan keistimewaan Khadijah binti Khuwailid: betapa ia begitu tenang dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sangat kritis. Begitu pula jawabannya kepada suaminya tercinta berkenaan dengan suatu masalah yang bahkan akan menggetarkan para lelaki perkasa dan tentu akan menghadirkan rasa takut pada diri perempuan mana pun. Suatu jawaban yang keluar dari kepribadian seorang istri teladan yang sangat matang dan yakin bahwa suami yang dicintainya adalah orang yang kelak akan mendapatkan kabar gembira berupa kenabian dan wahyu dari langit. (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1034009028107104707?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1034009028107104707/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1034009028107104707&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1034009028107104707'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1034009028107104707'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/1401-tahun-yang-silam.html' title='1401 Tahun yang Silam'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-H_JoqygbDUY/TkhJop8hF2I/AAAAAAAAAmY/JXqTiFDH-us/s72-c/JABAL%2BNUR.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2662653028360814334</id><published>2011-08-13T05:21:00.007+07:00</published><updated>2011-08-13T05:40:05.681+07:00</updated><title type='text'>Pergulatan Ruhaniah Leopold Weiss</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-PkRIZ54-kTM/TkWoMEd5_3I/AAAAAAAAAmQ/0yE0IQpkzfc/s1600/Muhammad-Asad-03%2B%25281%2529.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 225px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-PkRIZ54-kTM/TkWoMEd5_3I/AAAAAAAAAmQ/0yE0IQpkzfc/s400/Muhammad-Asad-03%2B%25281%2529.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5640099033662488434" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menulis dan membaca, itulah dua kegiatan yang senantiasa “melekat” dengan diri penulis, alhamdulillah. Juga, di bulan Ramadhan 1432 H ini. Nah, kemarin, selepas capai menulis, tiba-tiba mata penulis terarah ke sebuah buku memikat yang disusun seorang Imam asal Indonesia di New York, Amerika Serikat: Imam M. Shamsi Ali. Segera, buku itu penulis ambil dan simak dengan cermat. Dalam buku yang berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dai Muda di New York City &lt;/span&gt;itu ditampilkan proses keislaman beberapa saudara seiman kita dari negara adikuasa tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika membaca buku tersebut, tiba-tiba penulis teringat  pergulatan ruhaniah Leopold Weiss menuju Islam. Lembaran sejarah menorehkan, selepas memeluk Islam, Leopold Weiss memilih nama: Muhammad Asad. Tokoh yang satu ini, kemudian terkenal sebagai seorang  pemikir  dan tokoh  Muslim  terkemuka yang pernah menjabat wakil tetap  Pakistan  di  PBB.  Tokoh yang satu ini  lahir  di Lvov (orang Jerman menyebutnya Lemberg),  Polandia pada Senin, 4 Rabi‘ Al-Awwal 1318 H/2 Juli 1900 M. Ketika ia berusia 14 tahun, keluarganya pindah ke Wina, Austria. Lantas, ketika menjadi  mahasiswa di Universitas Wina, anak keturunan keluarga para rabi ini menjadi reporter sejumlah harian berbahasa Inggris dan Jerman. Kemudian, ia dikirim &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Franfurter Allgemeine Zeitung&lt;/span&gt;, salah satu koran paling bergengsi di Jerman dan Eropa saat itu, ke  Palestina, Suriah, Irak, Iran, Afghanistan, dan Arab Saudi. Pada 1345 H/1926 M sahabat karib Raja ‘Abdul ‘Aziz Al Sa‘ud ini  memeluk Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah “kisah dan perjalanan” Muhammad Asad menuju Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Suatu hari-tepatnya pada September 1926-Elsa dan saya sedang menikmati perjalanan naik kereta bawah tanah di Berlin,” ucap Muhammad Asad, seperti diceritakan kembali oleh Ismail Ibrahim Nawab dalam tulisannya “From Berlin to Makkah” (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saudi Aramco World&lt;/span&gt;, Januari/Februari 2002). “Kami naik di kompartemen untuk kelas menengah atas. Tiba-tiba pandangan saya terarah kepada seorang pria di depan saya. Pria itu mengenakan busana rapi. Tampaknya, ia adalah seorang pengusaha kaya...Saat itu, entah kenapa dalam benak saya timbul pikiran iseng:  orang di depan saya itu benar-benar merupakan gambaran tepat kemakmuran yang saat itu dapat ditemukan di mana saja di Eropa Tengah...Sebagian besar orang saat itu mengenakan busana indah dan menikmati makanan yang melimpah. Termasuk orang di depan saya itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ketika saya menatap wajah orang itu, saya merasa wajahnya nampak tidak memancarkan kebahagiaan. Kedua matanya kosong dan memandang ke arah jauh, sedangkan kedua sudut bibirnya tertarik seakan ia sedang kesakitan. Padahal, tubuhnya tampak sehat. Tak ingin dipandang sebagai orang yang berperilaku kasar, saya pun memalingkan pandangan ke samping orang itu. Ternyata, di sampingnya duduk seorang perempuan yang berpenampilan anggun. Ternyata, wajah perempuan itu pun memancarkan ketidakbahagiaan. Tampaknya, ia sedang merenungkan atau mengalami sesuatu yang membuat ia kesakitan. Selepas itu, saya pun mulai mencermati satu demi satu wajah orang-orang yang berada dalam kompartemen itu: wajah orang-orang yang mengenakan busana indah dan menikmati makanan melimpah. Ternyata, nyaris wajah setiap orang memancarkan rasa sakit tersembunyi. Rasa sakit tersembunyi yang tak disadari sang pemilik wajah. Kesan yang saya dapatkan itu demikian kuat. Sehingga, hal itu kemudian saya ceritakan kepada Elsa. Ia pun mulai memandang ke sekeliling, dengan pandangan seorang pelukis yang sangat cermat dalam mengamati sosok manusia. Kemudian, ia berpaling ke arah saya dengan perasaan heran dan berucap, ‘Betul engkau. Mereka nampak seakan sedang merasakan siksaan neraka...Saya bingung, apakah mereka tahu apa yang sedang terjadi pada diri mereka sendiri?’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tahu, mereka tak menyadari keadaan yang sedang “menyergap” diri mereka. Tentu, mereka tak akan kuasa membersihkan kehidupan mereka tanpa memiliki keyakinan apa pun yang teguh, tanpa tujuan hidup apa pun di luar keinginan untuk meningkatkan “standar kehidupan”, tanpa harapan apa pun selain memiliki lebih banyak kekayaan material, lebih banyak peralatan, dan barang kali juga lebih banyak kekuasaan...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika tiba di rumah, tanpa sengaja pandangan saya terarah pada sebuah kitab Al-Quran yang sebelumnya pernah saya baca. Tanpa sadar, kitab suci itu saya ambil. Begitu saya buka lembaran kitab suci itu, kedua mata saya pun terarah pada halaman yang terbuka di hadapan saya. Dan, saya pun membaca, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, hingga kalian  masuk ke dalam kubur. Jangan begitu! (Karena) kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian). Jangan begitu! (Karena) kelak kalian akan mengetahui. Jangan begitu! Jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sungguh kalian benar-benar akan melihatnya dengan sebenar-benarnya. Kemudian, pada hari itu, kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia)&lt;/span&gt;.” (QS Al-Takâtsur [102]: 1-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak, saya tak kuasa berkata. Sepatah kata pun tak kuasa. Saya rasakan, kitab suci itu bergetar di tangan saya. Kemudian, kitab itu saya serahkan kepada Elsa seraya berucap, ‘Bacalah ayat-ayat ini. Bukankah ayat-ayat ini merupakan jawaban atas hal-hal yang kita saksikan di kereta api bawah tanah tadi? Ayat-ayat ini merupakan jawaban pasti, sehingga semua keraguan kita kini tiba-tiba akhirnya sirna.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, saya tahu, di balik  keraguan sebelumnya, kitab yang diwahyukan Tuhan yang kini berada di tangan saya ini jelas-jelas telah mengantisipasi sesuatu yang benar-benar terjadi hanya di masa kita yang begitu kompleks, bercorak mekanis, dan sarat dengan gejolak ini, walau kitab ini diturunkan lebih dari tiga belas abad yang silam. Memang, sepanjang masa manusia dikenal rakus. Namun,  sebelumnya, kerakusan hanya berbentuk keinginan kuat untuk merengkuh sesuatu. Sedangkan kini, kerakusan telah menjadi obsesi yang mewarnai pandangan terhadap segala sesuatu: keinginan untuk memiliki sesuatu yang tak tertahankan, untuk melakukan sesuatu, dan mengangan-angankan lebih dan lebih-hari ini lebih daripada kemarin dan hari esok lebih ketimbang hari ini. Dan, kelaparan tersebut merupakan kelaparan yang tak pernah terpuaskan terhadap segala tujuan yang membara dalam jiwa manusia, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, hingga kalian  masuk ke dalam kubur…&lt;/span&gt;”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menurut saya, ayat-ayat itu tak mungkin merupakan kata bijak seorang pria dari Semenanjung Arab di masa silam itu. Sebijak apa pun ia, pria itu tak mungkin meramalkan nestapa aneh yang menimpa abad ke-20 ini. Sesuatu yang dikemukakan Al-Quran jauh lebih agung dari pada ucapan Muhammad...”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak itu, Leopold Weiss pun berhasrat menjadi seorang Muslim. Kemudian, ia menyatakan keislamannya di hadapan seorang tokoh masyarakat Muslim kecil di Berlin. Ia pun mengubah namanya menjadi Muhammad, sebagai penghormatan kepada Nabi Saw., dan Asad, yang berarti “Singa”, sebagai pengingat nama kecilnya “Leopold”. “Islam,” menurutnya, “masuk ke dalam relung kalbu saya laksana seorang pencuri yang memasuki sebuah rumah di tengah malam. Namun, Islam masuk untuk terus menetap selamanya. Tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah seseorang untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, selepas menikah dengan Elsa Scheimann, Muhammad Asad pun naik haji. Ternyata, ketika berada di Tanah Suci, ia “menghadapi ujian”: selepas sembilan hari berada di Tanah Suci, sang istri tercinta yang mantan model itu, Elsa, berpulang dan dikebumikan di Makkah. Walau mendapatkan ujian demikian, ia tetap “tidak berbalik langkah”. Selepas itu, ia tetap mengabdikan dirinya untuk Islam hingga berpulang di Spanyol pada Senin, 19 Ramadhan 1412 H/23 Februari 1992 M. Jenazah tokoh yang  meninggalkan sejumlah karya tulis, antara lain &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Unromantisches Morgenland (The Unromantic East), Islam at the Crossroads, The Road to Mecca, The Principles of State and Government in Islam; Sahih Al-Bukhari: The Early Years of Islam, The Message of the Qur’an&lt;/span&gt;,  dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;This Law of Ours&lt;/span&gt; itu dikebumikan di Kota Granada, Spanyol. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Betapa menawan “pergulatan ruhaniah” Muhammad Asad itu,” ucap pelan penulis seraya merenung. Sejatinya, “pergulatan ruhaniah” Muhammad Asad tersebut  dapat dikatakan merupakan salah satu contoh menarik tentang suatu fenomena yang kerap terjadi di masa modern kini: kisah kegelisahan dan peralihan agama sederet tokoh dan intelektual Barat ke dalam pelukan Islam, selepas mereka melintasi “pergulatan ruhaniah” lama yang menawan. Di antara mereka, antara lain, adalah Lord Stanley of Alderley, salah seorang paman Bertrand Russell, Baron ke-11 Headley, Muhammad Marmaduke Pickthall, Martin Lings, Charles Le Gai Eaton, René Guénon, Classius Clay, Vincent Mansour Monteil, Malcolm X, Roger Garaudy, Maurice Bucaille, Murad Wilfried Hofmann, Baron Umar von Ehrenfels, Abdul Karim Germanus, Frithjof Schuon, Thomas Irving, Margaret Marcus, Cyril Glassé, Jeffrey Lang, Michael Wolfe dan lain-lain.(arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2662653028360814334?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2662653028360814334/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2662653028360814334&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2662653028360814334'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2662653028360814334'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/pergulatan-ruhaniah-leopold-weiss.html' title='Pergulatan Ruhaniah Leopold Weiss'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-PkRIZ54-kTM/TkWoMEd5_3I/AAAAAAAAAmQ/0yE0IQpkzfc/s72-c/Muhammad-Asad-03%2B%25281%2529.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1111716459827924525</id><published>2011-08-12T04:37:00.003+07:00</published><updated>2011-08-12T05:05:39.122+07:00</updated><title type='text'>Mengapa Rasul Saw. Bertahannuts di Gua Hira'?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-5JAWU4qRziA/TkRMaXW2fgI/AAAAAAAAAmI/ZlJQ4UoOtxI/s1600/HIRA.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 261px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-5JAWU4qRziA/TkRMaXW2fgI/AAAAAAAAAmI/ZlJQ4UoOtxI/s400/HIRA.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5639716649204874754" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u&lt;br /&gt;Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u&lt;br /&gt;A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu&lt;br /&gt;Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u&lt;br /&gt;Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahî&lt;br /&gt;Wa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Telah lahir Sang Nabi, pembawa petunjuk nan cemerlang &lt;br /&gt;Semesta alam pun berpendar sangat benderang &lt;br /&gt;Mulut zaman tiada henti dan senantiasa menggemakan&lt;br /&gt;Senyuman, pujian, serta sanjungan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jibril dan para malaikat pun mengitarinya senantiasa&lt;br /&gt;Karena berita gembira ‘tuk agama dan dunia sertai kelahirannya&lt;br /&gt;‘Arasy bangga dan surga tak kalah ceria&lt;br /&gt;Sidrah Al-Muntaha dan Mutiara Putih pun berdendang ria&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Ahmad Syauqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi malam, selepas melaksanakan shalat tarawih, entah kenapa benak penulis tiba-tiba “melayang-layang” menuju ke Gua Hira’, sebuah gua yang terletak  sekitar lima  kilometer dari Masjid Al-Haram. Tentu kita semua tahu, di gua itulah Rasul Saw., sebelum  diangkat  sebagai  Utusan Allah Swt., menyingkir dari keriuhrendahan  kehidupan  ramai  di Kota Makkah kala itu. Kadang, beliau tinggal di sana selama satu  bulan. Lebih-lebih  di bulan Ramadhan. Hal yang demikian  itu  beliau lakukan  selama sekitar tujuh tahun. Enam bulan  terakhir  beliau meningkatkan  frekuensi  kunjungannya ke gua itu.  Peristiwa  ini sendiri   menandai  dimulainya  suatu  karya   kenabian,   dengan diterimanya  wahyu pertama dari Allah Swt. di hari Senin, 17 Ramadhan/6 Agustus 610 M (menurut  Ibn  Sa‘d dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Thabaqât Al-Kubrâ&lt;/span&gt;),  kala beliau  sedang khusuk bertafakkur, “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu  yang menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari segumpal  darah. Bacalah,  dan Tuhanmulah Yang Paling  Pemurah,  Yang  mengajar (manusia)  dengan  perantaraan  kalam.  Dia  mengajarkan   kepada manusia apa yang tidak diketahuinya&lt;/span&gt;.” (QS Al-‘Alaq  [96]: 1-5).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah saat penobatan Muhammad bin ‘Abdullah sebagai Nabi  Allah.  Saat menerima pengangkatan menjadi Nabi  ini, usia beliau mencapai 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun  Bulan (Qamariyyah)  atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun  Matahari (Syamsiyyah). Di sini timbul pertanyaan: mengapa Rasulullah Saw. bertahannuts (menyendiri, merenung, dan beribadah) di Gua Hira’?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tugas  utama  kenabian  yang  dipikul  Rasul Saw. adalah  untuk  mengantarkan masyarakat menuju  cita ideal yang dikehendaki Allah Swt. Tindakan  menyendiri ke tempat  yang  sepi  dan  terpisah  dari  riuh   rendah kehidupan masyarakat ramai tersebut sejatinya adalah sebagai persiapan untuk menerima dan melaksanakan tugas besar tersebut. Sebab, setiap tindakan besar yang hendak  mengubah  dan membentuk dunia sulit terjadi jika tidak ada seorang “agen”  atau pribadi yang  sadar  dengan  dua kemampuan   sekaligus.   Pertama, kemampuan  untuk  melakukan penjarakan  terhadap kenyataan  yang kongkrit (detachment). Dengan mengambil jarak  atas  kenyataan itu,  seorang  “agen”  akan mampu melihat  dunia  dengan  seluruh kekurangan,  kelebihan,  dan  kemungkinan-kemungkinannya.   Dunia tak  bisa diubah dan diantarkan menuju kemungkinan  yang lebih  baik,  jika  seorang  “agen”  tenggelam  sepenuhnya  dalam kepenuhan dunia itu sendiri. Kedua, kemampuan untuk terlibat  kembali  selepas  momen  penjarakan   dilakukan beberapa saat (reattachment). Saat pengambilan jarak, atau dalam kasus Rasulullah Saw. disebut  tahannuts,  hanyalah situasi  sementara  agar  seorang “agen” bisa berada di “luar” dunia. Saat terpenting justru berada kembali di “dalam” dunia untuk mengubah dan  mentransformasikannya sesuai “gambar” yang dikehendaki seorang agen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara Al-Ghazali, dalam karyanya  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ihyâ’ ‘Ulûm  Al-Dîn&lt;/span&gt;,  dalam komentarnya tentang jalan  yang ditempuh  Rasulullah Saw.  ketika bertahannuts di  Gua  Hira’,  menulis,  “Manfaat   pertama   (dari bertahannuts)  adalah  pemusatan  diri   dalam   beribadah, berpikir,  mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah,  dengan menghindari  hubungan dengan sesama manusia, serta  menyibukkan  diri untuk menyingkapkan  rahasia-rahasia  Allah  tentang  persoalan dunia  dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi. Inilah  yang disebut  kekosongan. Padahal, tiada kekosongan dalam  bergaul serta  mengisolasi diri. Mengisolasi diri jelas lebih  baik.   Malah,  Rasulullah  Saw.,  di   permulaan kenabian beliau, hidup menyendiri di Gua Hira’ serta  mengisolasi diri,  sehingga cahaya kenabian dalam diri beliau  menjadi  kuat. Ketika  itu  para makhluk tidak kan kuasa menghalangi  beliau dari Allah. Sebab, meski tubuh beliau beserta para makhluk, namun kalbu beliau senantiasa menghadap Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lain yang mungkin timbul: mengapa Rasulullah Saw. memilih Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts, bukan tempat-tempat lain?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gua Hira’, seperti diketahui, adalah sebuah gua yang terletak di sebelah  timur Masjid Al-Haram dan di puncak Jabal Nur. Tingginya dari permukaan laut sekitar 621 meter dan sekitar 281 meter dari permukaan tanah. Untuk mendaki sampai ke gua itu diperlukan waktu kurang lebih satu jam. Gua itu sendiri tidak terlalu besar dan pintunya menghadap ke arah utara. Panjang gua tersebut hanya tiga meter, sedangkan lebarnya sekitar 1.30 meter, dengan ketinggian sekitar dua meter. Dengan kata lain, luas gua yang satu ini hanya cukup untuk shalat dua orang, sedangkan di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup untuk digunakan shalat untuk shalat dalam keadaan duduk. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi Gua Hira’ yang demikian itu jelas merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Rasulullah Saw. untuk bertahannuts. Suasana yang tenang, jauh dari keriuhan Kota Makkah kala itu, dengan jumlah warganya sekitar lima ribu orang, pandangan yang terbuka ke tempat-tempat di bawahnya, terutama pandangan ke arah Masjid Al-Haram, dan pandangan ke padang pasir luas dan langit nan seakan tanpa batas, dapat dibayangkan dapat memberikan kesempatan bagi beliau untuk “beribadah, berpikir,  mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah,  dengan menghindari  hubungan dengan sesama manusia, serta  menyibukkan  diri untuk menyingkapkan  rahasia-rahasia  Allah  tentang  persoalan dunia  dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi” seperti dikemukakan Al-Ghazali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. sendiri, yang kala itu merupakan warga Kampung Qusyasyiyyah, tentu telah mempertimbangkan matang pemilihan Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts. Beliau tentu telah memperbincangkan tempat itu dengan istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid. Malah istri teladan beliau tersebut, di  malam yang pekat, pernah beberapa kali mengunjungi Rasul Saw. ketika beliau sedang berada di gua yang tak semua orang kuasa melakukannya itu, dengan menyusuri batu cadas dan kerikil, dengan tujuan agar dapat melayani sang suami tercinta dengan baik. Luar biasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain ada yang menyatakan, Gua Hira’ adalah masjid yang tegak sebelum Islam. Prof. Dr. Husain Mu’nis, seorang pakar terkemuka sejarah Islam asal Mesir, misalnya dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Masâjid&lt;/span&gt; menulis, “Pada umumnya para penulis memulai sejarah masjid dari Masjid Al-Haram, yaitu Rumah Allah pertama yang didirikan untuk umat manusia. Selain itu, masjid tersebut juga sebagai kiblat Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi yang menganut agama yang hanîf, dan masjid di mana untuk pertama kalinya Rasulullah Saw. melaksanakan shalat. Namun, semestinya kita merujukkan masjid ke Gua Hira’. Gua itulah sejatinya, tak pelak lagi, masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu pulalah Rasul Saw. melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu. Demikian halnya di gua itu pulalah ayat-ayat pertama Al-Quran, lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq, turun. Selain itu, Gua Hira’ juga semestinya dipandang sebagai masjid, walau kehadirannya mendahului masa masjid-masjid. Andaikan tak tepat untuk dikatakan bahwa Rasul Saw. telah bersujud di gua tersebut, selayaknya gua tersebut dapat dikatakan sebagai tempat sembahyang. Seperti diketahui, masjid dapat disebut sebagai tempat sembahyang, seperti halnya pula dapat disebut sebagai tempat ruku‘. Namun, istilah masjidlah yang lebih acap dipakai.” (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1111716459827924525?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1111716459827924525/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1111716459827924525&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1111716459827924525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1111716459827924525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/mengapa-rasul-saw-bertahannuts-di-gua.html' title='Mengapa Rasul Saw. Bertahannuts di Gua Hira&apos;?'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-5JAWU4qRziA/TkRMaXW2fgI/AAAAAAAAAmI/ZlJQ4UoOtxI/s72-c/HIRA.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1738101646055220398</id><published>2011-08-04T04:31:00.003+07:00</published><updated>2011-08-04T04:37:44.785+07:00</updated><title type='text'>Keistimewaan Bulan Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-shvYQoXOZmI/Tjm_nGayfsI/AAAAAAAAAmA/A5oC4DpBTV4/s1600/interior%2Bmimbar%2Bnabi.png"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 288px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-shvYQoXOZmI/Tjm_nGayfsI/AAAAAAAAAmA/A5oC4DpBTV4/s400/interior%2Bmimbar%2Bnabi.png" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636747087089663682" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Pada akhir bulan Juni 2011 yang lalu, ketika Allah Swt. mengizinkan penulis berziarah ke Madinah, penulis pun menyempatkan diri ke Raudhah dan Makam Nabi Saw. Alhamdulillah, saat itu Raudhah tidak terlalu penuh dengan para jamaah umrah. Selepas melaksanakan shalat di situ, kedua mata penulis tidak bosan-bosannya mencermati segala sesuatu yang ada di seputar Raudhah dan makam itu. Satu demi satu. Kemudian, ketika kedua mata penulis menatap Mimbar Nabi yang menjadi pembatas Raudhah, tiba-tiba tanpa sadar penulis bergumam, “Bukankah di mimbar itulah beliau, manakala tidak sedang melakukan perjalanan keluar kota, setiap Kamis selepas shalat Subuh (bila Ramadhan selepas shalat Ashar), beliau memberikan pesan dan arahan kepada para sahabat?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, apakah pesan Rasul Saw. tentang keistimewan Bulan Ramadhan yang beliau sampaikan  di mimbar  kayu berlantai tiga itu? Berikut pesan dan arahan beliau itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau pun berkata, “Wahai sahabat-sahabatku! Pada setiap malam di bulan Ramadhan, Allah Swt. berfirman kepada malaikat penyeru untuk mengumumkan tiga kali, ‘Adakah orang yang memohon? Jika ada, Aku akan memenuhi permohonannya. Adakah orang yang bertaubat? Jika ada, Aku akan menerima taubatnya. Adakah orang yang memohon ampunan? Jika ada, Aku akan mengampuninya. Dan, siapa yang akan memberi pinjaman kepada Yang Mahakaya yang tak pernah kekurangan dan Yang Maha Memenuhi segala janji-Nya tanpa menguranginya sama sekali?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berkata. Beberapa saat kemudian beliau melanjutkan perkataannya, “Wahai sahabat-sahabatku! Pada setiap hari di bulan Ramadhan, Allah Swt. membebaskan dari neraka sejuta ruh yang dipastikan masuk surga. Dan pada hari terakhir bulan Ramadhan, Allah Swt. membebaskan ruh sebanyak-banyaknya sebagaimana Dia membebaskannya dari awal hingga akhir Ramadhan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, jika Lailatul-Qadar tiba, Allah Swt. memerintahkan Malaikat Jibril untuk turun ke bumi bersama serombongan malaikat yang membawa bendera hijau dan menancapkan bendera itu di puncak Ka‘bah. Jibril memiliki seratus sayap, dua sayap di antaranya tidak pernah dibentangkan kecuali pada malam itu. Lalu, Jibril membentangkan kedua sayapnya sehingga menutupi timur dan barat. Malaikat-malaikat akan berjabat tangan dengan rombongan Jibril dan mengamini doa mereka hingga fajar terbit. Ketika fajar telah terbit, Jibril menyeru malaikat-malaikat itu, ‘Wahai para malaikat! Berpencarlah!’ Mereka pun bertanya, ‘Wahai Jibril! Apa yang akan dilakukan Allah Swt. berkenaan dengan pelbagai keperluan ummat Muhammad Saw. yang beriman?” &lt;br /&gt;“Jibril menjawab, ‘Pada malam ini, Allah Swt. memandangi mereka dan memaafkan mereka, kecuali empat kelompok manusia.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berbicara. Melihat hal itu, seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasul, siapakah empat kelompok itu?”&lt;br /&gt;“Mereka adalah pecandu minuman keras, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang memutus silaturahmi, dan orang yang saling bermusuhan!” jawab beliau.&lt;br /&gt;“Wahai Rasul,” tanya sahabat itu lebih lanjut, “siapakah orang yang saling bermusuhan itu?”&lt;br /&gt;“Orang yang saling membenci!” jawab beliau.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas menjawab demikian, Rasulullah Saw. lantas berkata, “Jika malam Hari Idul Fitri tiba, malam itu menjadi Malam Penyerahan Hadiah. Kemudian keesokan harinya, pada Hari Idul Fitri, Allah Swt. mengutus malaikat-malaikat untuk turun ke bumi. Mereka mendatangi setiap penjuru bumi dan menyeru dengan suara yang bisa didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia, ‘Wahai ummat Muhammad! Keluarlah menghadap Tuhan kalian Yang Mahamulia. Dia akan mengaruniakan hadiah dan mengampuni dosa-dosa besar kalian!” Apabila mereka datang ke tempat shalat mereka, Allah Swt. pun berfirman kepada malaikat-malaikat tersebut, ‘Apakah balasan bagi pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaannya?’ Para malaikat menjawab, ‘Wahai Tuhan kami, balasannya adalah upah penuh.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Maka, Allah pun berfirman, ‘Wahai malaikat-malaikat-Ku! Aku menjadikan kalian sebagai para saksi bahwa Aku telah memberikan balasan kepada mereka, karena puasa mereka pada bulan Ramadhan dan karena shalat (sunnah) malam mereka, dengan ridha dan ampunan-Ku! Wahai hamba-hamba-Ku! Mohonlah kepada-Ku! Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidaklah kalian menginginkan sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini, untuk akhiratmu, kecuali Aku akan memberimu. Dan, tidaklah kalian menginginkan keperluan duniawimu kecuali Aku akan memandangi kalian. Demi kemuliaan-Ku, sungguh kesalahan-kesalahan kalian akan Kututupi selama kalian takut kepada-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tak kan menghinakan kalian dan aib-aib tidak akan Kuperlihatkan di hadapan orang-orang yang melewati batas. Bertebaranlah kalian membawa ampunan…. Sungguh, kalian telah ridha kepada-Ku dan Aku pun telah ridha kepada kalian!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Malaikat-malaikat pun merasa gembira dan bersukacita, karena Allah memberi karunia kepada ummat ini kala mereka sedang berhari raya selepas melaksanakan puasa Ramadhan!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1738101646055220398?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1738101646055220398/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1738101646055220398&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1738101646055220398'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1738101646055220398'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/keistimewaan-bulan-ramadhan.html' title='Keistimewaan Bulan Ramadhan'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-shvYQoXOZmI/Tjm_nGayfsI/AAAAAAAAAmA/A5oC4DpBTV4/s72-c/interior%2Bmimbar%2Bnabi.png' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2096869381082187139</id><published>2011-08-03T04:20:00.003+07:00</published><updated>2011-08-03T04:26:04.490+07:00</updated><title type='text'>Al-Quran dan Perjalanan Ruhaniah Cat Stevens</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-Yc5pSX9wIo0/TjhqvBhC20I/AAAAAAAAAlw/mifFFeiUHz4/s1600/YUSUF%2BISLAM.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 253px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-Yc5pSX9wIo0/TjhqvBhC20I/AAAAAAAAAlw/mifFFeiUHz4/s400/YUSUF%2BISLAM.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636372289747606338" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bring tea for the Tillerman&lt;br /&gt;Steak for the sun&lt;br /&gt;Wine for the women who made the rain come&lt;br /&gt;Seagulls sing your hearts away&lt;br /&gt;’Cause while the sinners sin, the children play&lt;br /&gt;Oh Lord, how they play and play&lt;br /&gt;For that happy day, for that happy day.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Cat Stevens, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tea for the Tillerman&lt;/span&gt;)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemarin pagi, selepas shalat Subuh, ketika sedang menyimak pembacaan Al-Quran secara tartil dan dengan suara nan indah oleh seorang qari’ terkemuka Kuwait, Mishari Rashid Al-‘Afashi, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Inggris. Entah kenapa, tiba-tiba penulis teringat kembali kisah proses keislaman Cat Stevens, seorang penyanyi kondang Inggris yang terkenal antara lain dengan lagu-lagunya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Morning Has Broken, Peace Train, Moonshadow, Wild World, Father and Son, Matthew and Son, Oh Very Young&lt;/span&gt;, dan lagu dengan lirik di atas, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tea for the Tillerman&lt;/span&gt;. Penulis teringat penyanyi yang lahir di London pada Rabu, 14 Ramadhan 1367 H/21 Juli 1948 M dengan nama kecil Stephen Demetre Georgiou itu, mungkin, karena keislamannya erat kaitannya dengan Al-Quran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah kisah keislaman penyanyi kondang yang kini lebih terkenal dengan nama Yusuf Islam itu? Nah, marilah kini kita ikuti  kisah perjalanan menuju Islam Cat Stevens  sebagaimana ia tuturkan sendiri: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ibunda saya (Ingrid Wickman) adalah seorang Swedia yang dibaptis. Sedangkan ayahanda saya (Stavros  Georgiou) adalah seorang Yunani berasal dari Siprus. Saya dididik sebagai pemeluk Agama Kristen dan mereka mengajari saya untuk percaya kepada Tuhan. Saya menerima keyakinan itu karena mereka itulah orang tua saya dan saya pandang mereka lebih tahu ketimbang saya. Saya dimasukkan ke sebuah sekolah Katolik Roma yang terletak di pusat Kota London. Dapat dikatakan, sekolah dasar itu sangat berpengaruh terhadap diri saya. Sekolah ini begitu ketat. Sehingga, Jesus begitu memengaruhi saya. Namun, ketika saya belajar lebih lanjut di sekolah yang lebih longgar tata aturannya, saya mulai agak jauh dari gereja. Sejatinya, kala itu pengaruh Jesus masih saya rasakan, walau saya tak mengerti makna Trinitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, dunia luar begitu menarik buat saya. Ketika saya mengenal musik, itulah saatnya saya menjadi pemeluk Kristen nominal, meski ada perasaan bersalah. Namun, secara rasional, ada hal-hal yang menjauhkan saya dari gereja. Saya kemudian sangat tertarik pada musik dan ayahanda membelikan sebuah gitar. Pada usia sekitar 15 tahun saya mulai menulis lagu. Saya pilih nama Cat Stevens dan pada usia 18 tahun saya mulai masuk dapur rekaman. Setahun kemudian saya meraih sukses. Nama saya pun sangat tenar dan rekaman saya laku keras di Eropa. Tapi, pertunjukan panggung ternyata tak cocok buat saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, sukses itu membuat Cat Stevens lupa diri. Ia pun menjadi peminum dan perokok berat. Tak lama kemudian, ia terserang tuberculosis dan mesti dirawat lama sekali di rumah sakit. Apa boleh buat, kariernya terhenti. Kala itu, usianya baru sekitar 20 tahun. Saat dirawat itulah ia mulai tertarik pada filsafat Timur. “Gaya hidup yang lagi popular kala itu kan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;hippies&lt;/span&gt;,” kenang Yusuf Islam tentang gejolak ruhaniah yang menerpa dirinya kala itu. “Terutama bagi kalangan anak-anak muda segenerasi saya. Saya lantas memelajari Agama Budha. Ada kepuasan lebih ketimbang dogma kaku gereja. Buku pertama yang mengenalkan saya dengan ranah kejiwaan berjudul The Secret Way. Hal itu mendorong saya untuk terus mencari. Saya lantas menjadi seorang vegetarian, beryoga, dan melakukan meditasi. Ini memang sebuah pilihan lain dari konsep gereja tentang agama. Namun, ternyata pilihan itu tak praktis.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah perjalanan ruhaniah selanjutnya tokoh yang pernah menerima World Social Award, Man for Peace Award, doktor honoris causa dari Universitas Gloucestershire dan Universitas Exeter,  dan The Mediterranean Prize for Peace itu, hingga akhirnya ia menemukan Islam?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Lantas, saya pun menelusuri asal usul keluarga saya di Yunani. Saya kemudian memelajari gagasan-gagasan lama dan saya menyukai Pythagoras. Namun, ternyata gagasan-gagasan itu juga tak praktis. Sebab, dalam gagasan-gagasan itu tiada penjelasan tentang bagaimana cara hidup. Akhirnya saya berpikir, tak satu pun agama bisa membantu saya. Kemudian, pada 1975 kakak saya, David, pergi ke Jerusalem. Ia mengunjungi Masjid Al-Aqsha. Sebelumnya, ia tak pernah masuk ke dalam masjid. Ternyata, dalam masjid itu, ia merasakan suasana yang berbeda dengan ketika ia masuk ke dalam gereja maupun sinagog. Sehingga, ia pun bertanya kepada dirinya sendiri, ‘Mengapa agama ini (Islam) bagaikan rahasia besar?’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ia benar-benar terkejut melihat masyarakat Muslim dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Langsung saja ia balik ke Inggris dan kemudian membeli Al-Quran. Kitab itu lantas ia berikan kepada saya. Itulah perkenalan pertama saya dengan Islam. Sebelumnya, saya lebih mengenal Islam sebagai kebudayaan asing daripada sebagai sebuah agama. Lebih dari itu, agama itu bukan milik zaman kita. Namun, ketika membaca Al-Quran, saya tersadar bahwa hanya ada satu Tuhan. Karena itu, hanya ada satu agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama satu setengah tahun saya memelajari Al-Quran dan mulai mengikuti petunjuknya. Saya kemudian mulai menulis lagu lagi yang merupakan ungkapan kebangkitan ruhaniah saya. Liriknya mirip biografi saya. Albumnya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tea for the Tillerman&lt;/span&gt;. Lewat lagu itu, saya menikmati sukses tingkat dunia. Album itu bagaikan dokumen yang berisi petikan-petikan kisah perjalanan saya menuju Tuhan. Kata-kata dalam Al-Quran yang tadinya nampak asing kini menjadi jelas dan simpel, meski ada yang masih merupakan misteri bagi saya kala itu. Saya percaya, ada Perancang Agung yang menciptakan ini semua. Tapi, siapakah Seniman yang tak kasat mata itu? Saya telah mencoba banyak jalan. Namun, tiada yang memuaskan. Ketika akhirnya saya membaca Al-Quran, saya merasakan kitab suci itu bagaikan diciptakan untuk saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari saya menemui seseorang. Ia kemudian memberitahu saya, ada sebuah masjid baru yang belum lama dibuka. ‘Inilah saatnya!’ Lantas, pada hari Jumat musim semi 1977, saya pun melangkah ke masjid itu. Usai shalat Jumat, saya menemui Imam dan memberitahukan keinginan saya untuk memeluk Islam. Selepas itu, bukan perkara sulit bagi saya untuk menghentikan kebiasaan buruk di masa sebelumnya, seperti menenggak minuman keras, merokok, dan lain-lain sebagainya. Sebab, saya tahu betul tindakan saya (dalam memeluk Islam) adalah benar. Namun, yang berat adalah mengenai sahabat-sahabat saya. Tidak semuanya memahami pesan Islam. Meski demikian, saya tetap memelihara persahabatan dengan mereka, walau saya harus memutuskan untuk menarik garis yang jelas antara masa silam saya dengan Islam. Dan, saya kini berkarya untuk Allah dan ingin menjadi alat Allah untuk memantapkan Islam di bumi Inggris sejauh kemampuan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa indah Al-Quran. Sehingga, kandungannya pun kuasa “menaklukkan” hati tokoh yang pada 1428 H/2007 M menerima “Special Award for Life Achievements as Musician and Ambassador between Cultures” itu! (arofiusmani.blogspot.com/)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2096869381082187139?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2096869381082187139/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2096869381082187139&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2096869381082187139'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2096869381082187139'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/al-quran-dan-perjalanan-ruhaniah-cat.html' title='Al-Quran dan Perjalanan Ruhaniah Cat Stevens'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Yc5pSX9wIo0/TjhqvBhC20I/AAAAAAAAAlw/mifFFeiUHz4/s72-c/YUSUF%2BISLAM.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-6394753104295944831</id><published>2011-08-02T05:40:00.001+07:00</published><updated>2011-08-02T05:42:56.815+07:00</updated><title type='text'>Untuk Apa Semua Ibadah Itu?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-qMiSW7DWB0w/Tjcr546BKWI/AAAAAAAAAlo/Y36lUgKKDtQ/s1600/iftar%2Bdi%2Bmadinah-01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-qMiSW7DWB0w/Tjcr546BKWI/AAAAAAAAAlo/Y36lUgKKDtQ/s400/iftar%2Bdi%2Bmadinah-01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5636021732205734242" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Di bulan Ramadhan ini, masihkah menulis menjadi “ritual” yang senantiasa penulis lakukan? Tentu. Menulis selepas shalat Subuh, entah kenapa, menjadi saat yang paling favorit bagi penulis. Saat tersebut, otak terasa masih sangat segar. Jemari tangan pun sangat bersemangat diajak “menari” di atas keyboard. Apalagi, bila kegiatan itu diiringi bacaan tartil Al-Quran atau lagu-lagu indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kemarin pagi, selepas shalat Subuh dan ketika jemari penulis sedang asyik “menari” di atas keyboard, tiba-tiba jemari penulis terhenti. Terhenti? Ya, terhenti karena mendengar sebuah lagu Bimbo berjudul, “Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya”:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada anak bertanya pada bapaknya&lt;br /&gt;Buat apa berlapar-lapar puasa&lt;br /&gt;Ada anak bertanya pada bapaknya&lt;br /&gt;Tadarus tarawih apalah gunanya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lapar mengajarmu rendah hati selalu&lt;br /&gt;Tadarus artinya memahami kitab suci&lt;br /&gt;Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah langit keampunan yang indah&lt;br /&gt;Membuka luas dan angin pun semerbak&lt;br /&gt;Nafsu angkara terbelenggu dan lemah&lt;br /&gt;Bunga ibadah dalam ikhlas sedekah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, mendengar lagu itu, penulis lama termenung dan tercenung serta bergumam, “Betapa indah pertanyaan itu! Ya, untuk apa semua ibadah itu?” Tak lama kemudian, benak penulis melayang-layang ke Madinah, karena teringat kisah berikut yang memberikan jawaban atas pertanyaan menarik tersebut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika Rasulullah Saw. berbincang-bincang dengan beberapa sahabat beliau. Salah seorang di antara mereka ialah Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat beliau yang terlahir dengan nama lengkap Abu Dzar Jundab bin Junadah bin Sufyan Al-Ghifari. Sahabat yang satu ini semula mewarisi karier ayahnya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melewati jalur perdagangan Makkah-Suriah yang dikuasai suku Ghifar. Meski kerap melakukan perbuatan jahat, hati kecil Abu Dzar sejatinya menolaknya. Akhirnya, dia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Namun, kaumnya marah dan memusuhinya. Dia pun pindah ke Nejd bersama ibunya dan saudara laki-lakinya, Unais. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di tempat yang baru, dia menghadapi penduduk Nejd yang suka berbuat onar. Dia juga berusaha mengajak mereka kepada kebaikan. Namun, penduduk Nejd malah mengusirnya, dan dia pun pindah ke sebuah perkampungan dekat Makkah. Di tempat itulah dia mendengar tentang Nabi Muhammad Saw. dan ajaran Islam. Akhirnya, dia menyatakan keislamannya di depan Ka‘bah, Makkah. Sejak itu, sahabat yang hidup sangat sederhana ini membaktikan hari-harinya untuk Islam. Tugas pertama yang diembankan Muhammad Saw. di pundaknya ialah mengajarkan Islam di kalangan sukunya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selepas membincangkan pelbagai hal, Rasulullah Saw. tiba-tiba berpaling ke arah Abu Dzar, sahabat beliau yang senantiasa menentang segala bentuk penumpukan harta itu, dan bertanya kepadanya, “Abu Dzar! Jika engkau bermaksud melakukan perjalanan, bukankah engkau melakukan persiapan?”&lt;br /&gt;“Tentu, wahai Rasul,” jawab Abu Dzar, meski dia belum sepenuhnya tahu ke mana arah pertanyaan Rasulullah Saw. tersebut.&lt;br /&gt;“Lalu, bagaimanakah jika engkau berjalan menuju ke arah Hari Kiamat? Tidak inginkah engkau kuberi tahu, wahai Abu Dzar, persiapan apa yang bermanfaat bagimu untuk menyambut hari itu?” tanya beliau. &lt;br /&gt;“Tentu, ingin sekali, wahai Rasul. Demi ayah dan ibuku!” jawab Abu Dzar dengan antusias. &lt;br /&gt;“Abu Dzar!” tegas beliau menjelaskan. “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berpuasalah pada hari yang sangat terik sebagai bekal pada Hari Kebangkitan! Lakukanlah dua rakaat di dalam kekelaman malam sebagai bekal bagi kepekatan kubur! Tunaikanlah ibadah haji sekali sebagai bekal untuk menghadapi urusan-urusan besar! Bersedekahlah dengan sesuatu kepada orang miskin, atau dengan perkataan benar yang engkau ucapkan, atau dengan perkataan buruk yang engkau tahan untuk tidak engkau ucapkan&lt;/span&gt;!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-6394753104295944831?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/6394753104295944831/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=6394753104295944831&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6394753104295944831'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6394753104295944831'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/untuk-apa-semua-ibadah-itu.html' title='Untuk Apa Semua Ibadah Itu?'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-qMiSW7DWB0w/Tjcr546BKWI/AAAAAAAAAlo/Y36lUgKKDtQ/s72-c/iftar%2Bdi%2Bmadinah-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2522568987244304954</id><published>2011-08-01T04:36:00.002+07:00</published><updated>2011-08-01T05:07:35.745+07:00</updated><title type='text'>Pidato Rasul Saw. Menyambut Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-Dle-0IR6S18/TjXLY9Uo7fI/AAAAAAAAAlg/a-ykBlmsptY/s1600/ramadhan%2Bkarim.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 260px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-Dle-0IR6S18/TjXLY9Uo7fI/AAAAAAAAAlg/a-ykBlmsptY/s400/ramadhan%2Bkarim.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5635634138362473970" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Y&lt;span style="font-style:italic;"&gt;a Allah, Tuhan kami! Terimalah shaum, rukuk, sujud, bacaan Al-Quran, dan doa kami…, amin&lt;/span&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak terasa bibir menggumamkan doa tersebut, begitu usai melaksanakan shalat tarawih tadi malam. Entah kenapa, kemudian, kebahagiaan tiba-tiba menyergap seluruh diri. Mungkin, karena Allah Swt. masih memberikan kesempatan kepada penulis untuk meniti bulan Ramadhan tahun ini. Segera, benak penulis pun melayang-layang ke Madinah, seraya menyimak kembali sejarah diwajibkannya ibadah yang satu ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Catatan sejarah Islam menorehkan, kewajiban puasa di  bulan  tersebut diwajibkan   setelah   turunnya   ayat-ayat   al-Quran    yang memerintahkan berpuasa di bulan itu (QS al-Baqarah [2]: 183-185). Ayat-ayat yang mewajibkan shaum di bulan Ramadhan tersebut  turun di Madinah pada Sya‘ban 2 H/623 M atau lebih kurang selepas  18 bulan Rasulullah Saw. menetap di Madinah. Menjelang diwajibkannya ibadah shaum,  suatu saat  Rasulullah Saw.  melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram (‘Asyura‘),  sebagai peringatan  terlepasnya Nabi Musa a.s. dan sebagian Bani  Israil  pada zaman dahulu dari bahaya kekejaman Fir‘aun. Karena merasa  bahwa kaum  Muslim memiliki hubungan batin yang erat  dengan  ajaran-ajaran Musa a.s,  beliau pun memerintahkan kaum Muslim untuk juga  berpuasa pada hari ‘Asyura‘ tersebut. Tidak lama kemudian, turun  ayat yang mewajibkan shaum Ramadhan tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, menyambut kehadiran bulan mulia tersebut, kaum Muslim di Madinah pun sangat bersukacita. Melihat semangat membara warga Madinah tersebut, Rasulullah Saw. pun meminta mereka berkumpul. Selepas mereka hadir, beliau pun berpidato,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai manusia! Kini telah dekat kepada kalian satu bulan agung, bulan yang sarat dengan berkah. Juga, bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan. Inilah bulan yang Allah telah menetapkan puasa pada siang harinya sebagai kewajiban dan shalat (sunnah) di malam harinya sebagai shalat sunnah. Barang siapa ingin mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan suatu amal sunnah, maka pahalanya seolah dia melakuan amal yang wajib pada bulan-bulan lain. Dan, barang siapa melakukan amal wajib di bulan ini, dia akan dibalas dengan pahala seolah dia telah melakukan tujuh puluh amal wajib pada bulan-bulan lain. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah bulan kesabaran dan imbalan atas kesabaran adalah surga. Inilah bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang yang beriman ditingkatkan. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan balasan keampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari Neraka Jahannam. Selain itu, ia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana ganjaran yang dikaruniakan atas orang yang berpuasa tersebut; tanpa sedikit pun mengurangi pahala yang orang yang berpuasa itu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berpidato. Tiba-tiba seseorang di antara mereka mengeluh kepada beliau, “Wahai Rasul! Tidak semua di antara kami memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang sedang berpuasa untuk berbuka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walau hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh pertamanya Allah menurunkan rahmat, sepuluh hari pertengahannya Allah memberikan ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka Jahannam. Barang siapa meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, Allah Swt. akan mengampuninya dan membebaskannya dari neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbanyaklah di bulan ini dengan empat hal. Dua hal bisa mendatangkan keridhaan Tuhan kalian, dan yang dua lagi kalian pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah ialah hendaknya kalian mengucapkan syahadat (persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah) dan istighfâr (permohonan ampun kepada-Nya) sebanyak-banyaknya. Sedangkan dua hal yang kalian pasti memerlukannya ialah hendaknya kalian memohon kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepadanya dari neraka Jahannam. Dan, barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), Allah akan memberinya minuman dari telagaku yang dengan sekali teguk saja ia tak kan pernah kehausan lagi hingga ia memasuki surga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pidato Rasulullah Saw. itu menunjukkan, dalam shaum Ramadhan terkandung pesan moral yang amat  kuat. Sedemikian  kuatnya,  hingga rukun Islam ketiga  ini  bukan  saja menyeru pada panggilan kewajiban ibadah semata. Tapi, lebih jauh lagi, seruan moral itu menyeruak masuk ke wilayah-wilayah pribadi yang  bersifat  individual  dan  psikologis.  Malah,  ke  wilayah sosial,  politik, ekonomi, dan kultural. Dan, tujuan  seruan  itu pun  amat mulia dan asli serta diajarkan lewat media yang  paling efektif. Yaitu, kesabaran, persaudaraan, dan solidaritas terhadap sesama   manusia  yang  diajarkan   secara   langsung   lewat    laku “penderitaan”  fisik pada diri setiap Muslim. Di ujung  pelajaran itu diharapkan terjadi pencerahan bahwa pengendalian diri  adalah “sebaik-baik  perhiasan”  dalam menghadapi segala  keruwetan  dan kesumpekan hidup sehari-hari.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2522568987244304954?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2522568987244304954/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2522568987244304954&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2522568987244304954'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2522568987244304954'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/08/pidato-rasul-saw-menyambut-ramadhan.html' title='Pidato Rasul Saw. Menyambut Ramadhan'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-Dle-0IR6S18/TjXLY9Uo7fI/AAAAAAAAAlg/a-ykBlmsptY/s72-c/ramadhan%2Bkarim.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4492902766066905391</id><published>2011-07-25T17:16:00.003+07:00</published><updated>2011-07-25T17:26:05.238+07:00</updated><title type='text'>Shalahuddin Al-Ayyubi dan Lady Sibylla</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-3LFY__0aqjo/Ti1EQ58Qw2I/AAAAAAAAAlQ/x3mWGInFwoc/s1600/DSC00206.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-3LFY__0aqjo/Ti1EQ58Qw2I/AAAAAAAAAlQ/x3mWGInFwoc/s400/DSC00206.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5633233766132532066" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tadi siang, 25 Juli 2011, selepas menulis semenjak selepas subuh, jemari tangan saya pun terasa tidak mau lagi diajak “berlari” untuk menulis. Karena itu, saya pun keluar dari ruang kerja saya sambil menyimak kembali isi buku saya  yang baru terbit, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar&lt;/span&gt;. Entah kenapa, selepas membuka halaman demi halaman buku itu, pandangan saya tertambat pada halaman-halaman tentang kisah sebuah benteng gagah yang “menghiasi” Kota Kairo: Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi. Kemudian, ketika sedang asyik mencermati kisah benteng tersebut dan kisah ringkas pendirinya, tiba-tiba dalam benak saya menggeliat pertanyaan, “Shalahuddin Al-Ayyubi, siapakah sejatinya engkau? Benarkah engkau pernah jatuh cinta kepada Lady Sibylla?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera, saya pun mencari tahu kisah lebih lengkap tokoh yang satu itu. Tokoh Muslim dan penguasa  Mesir  yang  terkenal  karena  keberhasilannya dalam memukul  mundur Pasukan Salib dari bumi Palestina ini, ternyata,  lahir  di Tikrit, Irak (tempat kelahiran mantan Presiden Saddam Husein), pada 532 H/1138 M. Bernama  lengkap Al-Malik Al-Nashir Abu Al-Muzhaffar  Shalahuddin bin  Ayyub  bin  Syadzi,   ia berasal dari sebuah keluarga berdarah  Kurdi.  Pada  malam  kelahirannya,  ayahandanya  berangkat menuju  Aleppo, Suriah, untuk bekerja pada ‘Imaduddin  Zangi, penguasa  Turki di Suriah Utara kala itu. Karena itu, Shalahuddin  tumbuh dewasa di Ba‘albak (kini masuk wilayah Lebanon)  dan Damaskus.  Di kota terakhir yang kini menjadi ibukota Suriah  ini ia tinggal sekitar 25 tahun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selepas  merampungkan  pendidikannya,  Shalahuddin   Al-Ayyubi bekerja  di  bawah  pengarahan  pamandanya,  Asaduddin  Syirkuh, panglima  pasukan Nuruddin Zangi, putra ‘Imaduddin  Zangi. Oleh  sang  paman  ia,  kala  itu  berusia  27  tahun,   kemudian dilibatkan  dalam  ekspedisi  militer  ke  Mesir,  guna  membantu Menteri  Syawar  dalam menghadapi dan menggempur  Pasukan  Salib. Segera  bakat  militernya mencuat. Ketika Syirkuh  meninggal,  ia diangkat  sebagai  penggantinya.  Selain  itu,  ia  juga  diangkat sebagai menteri di Mesir. Segera, ia memancangkan kekuatannya  dan berhasil  meruntuhkan Dinasti Fathimiyyah yang kala itu di  bawah pimpinan  Khalifah Al-‘Adhid, pada 567 H/1171 M,  dan  mendirikan Dinasti  Ayyubiyyah.  Kekuasaannya  melebar  ke  kawasan   Suriah, Hijaz, dan Yaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, pada  Jumat,  27 Rajab 583 H/2 Oktober 1187 M  yang  bertepatan dengan hari peringatan Isra’ dan Mi‘raj, Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil  merebut  kembali Bait  Al-Maqdis,  selepas  sebelumnya selama  88 tahun berada di bawah kekuasaan Pasukan Salib.  Tetapi, menjelang penyerbuan, ia memberi kesempatan penguasa Kristen kota itu  untuk  menyiapkan diri agar bisa melawan  pasukannya  dengan terhormat.  Ketika pasukan Kristen akhirnya kalah juga,  yang dilakukan  Shalahuddin bukanlah  menjadikan  penduduk  Nasrani sebagai budak. Malah, ia membebaskan sebagian besar  mereka,  tanpa dendam, meski sebelumnya, pada 493 H/1099 M, ketika Pasukan Salib dari Eropa merebut Bait Al-Maqdis, 70 ribu kaum Muslim kota itu dibantai  dan  sisa-sisa orang Yahudi digiring ke sinagoga untuk dibakar.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seminggu selepas merebut kembali  Bait  Al-Maqdis, tepatnya  pada  Jumat,  5 Sya‘ban 583 H/9 Oktober  1187  M,  ia memasuki Masjid Al-Aqsha dan melaksanakan shalat di Qubbah Al-Shakhrah  selepas sebelumnya dibersihkan dan disiram  dengan  air mawar. Shalahuddin Al-Ayyubi berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa  di Damaskus, Suriah pada Kamis, 28 Shafar 589 H/4 Maret 1193 M  dalam perjalanan  kembali ke Mesir, dalam usia 57 tahun, selepas  jatuh sakit  selama  sekitar  sepuluh hari.  Jenazahnya  dimakamkan  di lingkungan Masjid Umawi di kota itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nama tokoh dan jenderal yang satu itu, ternyata, tak hanya bergaung di Dunia Islam. Tapi, juga di luar dunia itu. Mari sejenak kita ikuti paparan Elias Antar (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Saudi Aramco World&lt;/span&gt;, Mei/Juni 1970), dalam sebuah tulisan memikat berjudul “Saladin, Story of a Hero” tentang sultan yang mendirikan benteng di Kairo itu, “Bila Saladin biasanya dikenal seorang penguasa yang luar biasa, sejatinya ia juga seorang jenderal yang luar biasa, malah unik. Selain memiliki bakat sebagai seorang panglima, ahli strategi, dan perancang perang, Saladin juga seorang kesatria sejati. Itulah yang membuat namanya wangi semerbak di Barat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau ia bisa saja bersikap keras dan malah ganas ketika keadaan mengharuskan demikian, namun ia benar-benar tak mengharapkan penumpahan darah. Sejatinya, noda satu-satunya yang mewarnai catatan perjalanan hidupnya hanyalah eksekusi atas diri sekitar 300 ksatria dari dua ordo militer utama, Templar dan Hospitaler, di Tiberias beberapa bulan sebelum ia menaklukkan Jerusalem. Malah, bila tindakannya tersebut dikaitkan dengan situasi dan kondisi yang tak stabil kala itu, sejatinya tindakannya tersebut bukan merupakan tindak kejahatan. Ketika Pasukan Salib pertama kali menduduki Jerusalem, pada 1099, mereka membunuh ribuan orang, termasuk kaum perempuan dan anak-anak. Tapi, ketika Saladin menaklukkan kembali kota itu, kala itu tiada pembunuhan sama sekali maupun penghancuran tempat-tempat suci. Malah, para peziarah Kristiani diperkenankan mengunjungi tempat-tempat suci mereka dengan leluasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang sultan, yang jauh dari mabuk kekuasaan, tampaknya menyadari, tanggung jawab barunya menuntut agar dirinya lebih menahan diri. Dalam penyerangan mendadak atas Kota Acre beberapa tahun kemudian, Richard the Lion Heart, melanggar perjanjian dan membunuh 3.000 serdadu yang menjaga kota itu. Namun, Saladin kemudian memaafkan kejahatan Richard tersebut: ketika terjadi pertempuran kecil-kecilan di depan Jaffa, kuda Richard terbunuh di hadapannya dan Saladin kemudian memberinya seekor kuda pengganti dengan mengirimkan sebuah pesan, “Tak selayaknya bagi seorang ksatria yang sangat pemberani berjalan kaki.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saladin pun senantiasa mendahulukan negosiasi dan diplomasi ketimbang bertempur. Perang, baginya, hanya merupakan sarana darurat untuk menggapai tujuan tertentu-pilihan terakhir ketika genjatan senjata gagal dicapai. Tak aneh bila kemudahan yang ia berikan kepada lawan-lawannya dan sikapnya yang mudah menerima sumpah mereka dipandang sebagai kekeliruan yang ia lakukan. Ia pun kerap mendapatkan dirinya dalam pelbagai kesulitan, karena usahanya dalam menggalang perang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walau di Barat Saladin dipandang sebagai lonceng kematian Dunia Kristen dan lawan utama dunia itu, ia tampak menghadirkan dua pendekatan terhadap umat Kristiani. Ia tak pernah patah arang dalam usahanya yang sangat bersemangat untuk mengusir pasukan Frank dari Tanah Suci dan mengembalikan panji-panji Islam di Jerusalem. Namun, ketika ia berhadapan secara pribadi dengan para pemeluk Agama Kristen, ia menunjukkan penghormatan dan malah kekagumannya terhadap keyakinan mereka. Hal itu seperti yang ia tunjukkan ketika ia memutuskan untuk tidak menghancurkan Gereja Makam Kudus (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Church of the Holy Sepulchre&lt;/span&gt;). Malah, sebaliknya, ia memperkenankan para pendeta untuk beribadat di gereja itu dan menerima para peziarah dari seberang lautan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara tentang kualifikasi Shalahuddin Al-Ayyubi sebagai seorang panglima dan jenderal, papar Elias Antar lebih lanjut, “Saladin bersikap ksatria, terutama terhadap kaum perempuan dan anak-anak. Suatu saat ia melancarkan serangan terhadap sebuah kastil di dekat Aleppo, dan selepas berjuang keras dengan pelbagai usaha, ia akhirnya berhasil menguasainya. Kemudian, seorang anak perempuan kecil, saudara perempuan penguasa Aleppo, datang ke kamp militernya. Ternyata, Saladin menerimanya dengan penuh perhatian dan memberinya hadiah. Lantas, ketika dengan lugunya anak perempuan itu meminta satu hal lagi: kastil yang baru saja jatuh ke tangan Saladin, segera Saladin menyerahkan benteng yang untuk menaklukkannya memerlukan waktu 38 hari itu kepada anak perempuan kecil itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak hanya itu. Ketika Saladin sedang melancarkan serangan periodik terhadap Kastil Karak, dan kemudian mengetahui di dalam kastil sedang dilangsungkan pesta perkawinan, segera ia memerintahkan agar tempat perkawinan itu tidak diserang dan mengarahkan serangan ke bagian-bagian lain dari kastil. Dan, selepas penaklukan Jerusalem, janda lawannya yang paling licik, Reginald of Chatillon, memohon kepada Saladin agar membebaskan putranya yang ditawan. Ia pun sepakat, dengan syarat perempuan itu memerintahkan para serdadu Karak untuk menyerahkan kastil tersebut yang hampir ia kuasai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menunjukkan niat baiknya, Saladin pun membebaskan para tawanan dan mengembalikan putra Reginald of Chatillon kepada ibundanya. Tapi, ternyata, perempuan itu tak berhasil “menundukkan hati” para serdadu yang mempertahankan kastil. Karena itu, perempuan itu kemudian mengembalikan putranya kepada Saladin. Kemudian, ketika para serdadu Karak akhirnya menyerah, Saladin pun mengembalikan putra Reginald of Chatillon kepada ibundanya. Lebih dari itu, ia memberikan “hadiah luar biasa” para serdadu itu, karena mereka dengan gagah berani bertempur tanpa komandan: ia mengembalikan istri dan anak-anak mereka dari tangan orang-orang Badui yang menawan mereka karena menginginkan makanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah-kisah roman Perancis pada abad ke-14 menuturkan,  Saladin jatuh cinta kepada Lady Sibylla, istri Pangeran Antiochia, Bohemond III. Sejatinya, tiada bukti Saladin benar-benar pernah bertemu dengan Lady Sibylla. Memang, keduanya pernah menjalin hubungan tak langsung. Beberapa catatan mengemukakan, Lady Sibylla berperan sebagai mata-mata dalam kamp Pasukan Salib, untuk memberikan informasi berharga tentang persaingan dan perselisihan internal di antara para raja Frank dan baron. Motifnya masih kabur. Ia adalah putri asli kawasan itu dan reputasinya konon tak bercacat. Konon, Bohemond dipaksa menikah dengannya selepas menceraikan istri pertamanya. Mungkin, ia lebih bersimpati kepada kaum Muslim ketimbang kepada anak buah suaminya. ‘Imaduddin, sejarawan masa itu dan penasihat sang sultan, melaporkan bahwa Saladin memberikan pelbagai hadiah indah kepada Lady Sibylla atas informasi yang ia berikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemanfaatan perempuan berkedudukan tinggi sebagai mata-mata menunjukkan, Saladin adalah seorang jenderal yang piawai. Ada bukti lain yang mengukuhkan kepiawaiannya tersebut. Walau ia adalah seorang panglima perang tertinggi kaum Muslim, yang jumlahnya kala itu mencapai sekitar 70.000 orang, dalam majelis ia kerap menerima masukan dari para perwiranya dan tunduk pada keinginan mereka. Diskusi bebas yang demikian itulah yang membangkitkan inisiatif dan Saladin senantiasa terbuka terhadap masukan. Suatu hari, seorang tukang tembaga bersahaja dari Damaskus menemuinya dan menyatakan bahwa ia menemukan suatu senyawa kimiawi yang diperkirakan dapat menjadi senjata untuk menyerang menara-menara pertahanan orang-orang Frank di dekat Benteng Acre. Ternyata, Saladin mengizinkan anak muda itu melakukan uji coba atas penemuannya itu. Dan, terbukti kemudian, dengan penemuan itu kemudian menara-menara itu dapat ditundukkan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalahuddin Al-Ayyubi memang seorang tokoh dan jenderal yang luar biasa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4492902766066905391?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4492902766066905391/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4492902766066905391&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4492902766066905391'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4492902766066905391'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/07/shalahuddin-al-ayyubi-dan-lady-sibylla.html' title='Shalahuddin Al-Ayyubi dan Lady Sibylla'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3LFY__0aqjo/Ti1EQ58Qw2I/AAAAAAAAAlQ/x3mWGInFwoc/s72-c/DSC00206.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8181406482659038910</id><published>2011-06-22T13:49:00.003+07:00</published><updated>2011-06-22T13:56:15.585+07:00</updated><title type='text'>Ketika Duka Itu Tiba</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/-o9e-WNhEHXw/TgGRHGMr1PI/AAAAAAAAAlA/B5TiKXpdMjQ/s1600/ottomandrawingmedinamf5.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 297px;" src="http://3.bp.blogspot.com/-o9e-WNhEHXw/TgGRHGMr1PI/AAAAAAAAAlA/B5TiKXpdMjQ/s400/ottomandrawingmedinamf5.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5620933361044018418" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, tadi pagi, ketika sedang menyiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada akhir minggu ini, tiba-tiba benak dan hati saya tersentak. Kemudian, tiba-tiba tidak terasa air mata menetes pelan, teringat Rasul Saw. Ya, teringat beliau yang berpulang di awal bulan Juni. Tepatnya pada 8 Juni 632 M. Air mata menetes karena menyesal, mengapa pada hari beliau berpulang saya tak teringat sama sekali kepada beliau dan baru hari ini ingat kalau beliau berpulang pada bulan Juni seraya bergumam, “Wahai Rasul, maafkan umatmu yang satu ini. Ternyata, kesibukan duniawi lebih menyilaukan dirinya, hingga ia melupakan engkau di hari ketika engkau bertemu dengan Kekasihmu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. berpulang di bulan Juni? Bagaimanakah kisah hari-hari terakhir beliau di dunia yang fana ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua bulan selepas menunaikan ibadah Haji Perpisahan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wadâ‘&lt;/span&gt;), Rasulullah Saw. jatuh sakit. Tapi, beliau tetap melaksanakan tugas seperti biasa. Beliau juga pergi ke Uhud dan mendoakan syuhada yang dimakamkan di sana.  Ternyata, selepas hari demi hari berlalu, kondisi kesehatan beliau tidak kian membaik. Walau demikian, beliau terus melaksanakan shalat berjamaah hingga beliau menjadi begitu lemah dan tak kuasa bergerak. Beliau perintahkan Abu Bakar Al-Shiddiq untuk menjadi imam. Abu Bakar melaksanakannya selama beberapa hari.  Empat hari sebelum wafat, di waktu subuh, beliau agak sembuh dan dalam keadaan tenang. Panas demam yang menimpa tubuh beliau sudah mulai   turun.  Sehingga,  seolah  karena  obat   yang   diberikan keluarganya  telah  mulai bekerja dan dapat  melawan  penyakitnya. Sampai-sampai karena itu beliau dapat pula keluar rumah  pergi ke masjid dengan berikat kepala dan  bertopang  pada ‘Ali bin Abu Thalib, menantu dan saudara sepupu tercinta beliau, dan  dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, sepupu beliau. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Bakar Al-Shiddiq kala itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang.  Begitu  kaum Muslim yang  sedang  melaksanakan shalat  itu melihat Rasulullah Saw. datang, karena rasa gembira  yang  luar biasa,  hampir-hampir  mereka terpengaruh dalam  sembahyang  itu. Tapi, beliau memberi isyarat agar mereka meneruskan shalatnya. Bukan main gembira beliau gembira melihat semua itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu  Bakar  Al-Shiddiq merasa apa yang telah mereka lakukan  itu,  dan yakinlah ia bahwa mereka tak akan berlaku demikian itu kecuali untuk  Rasulullah Saw.  Ia  pun  surut  dari  tempat  sembahyangnya  untuk memberikan tempat kepada beliau. Tapi, beliau mendorongnya  dari belakang  agar ia tetap menjadi imam. Beliau sendiri  kemudian duduk  di  samping  Abu  Bakar dan  sembahyang  sambil  duduk  di sebelah kanannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai shalat, Rasulullah Saw. kemudian menghadap kepada khalayak  ramai, dan  kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga  terdengar sampai keluar masjid, “Allah  memberi  karunia kepada  hamba-Nya  satu  pilihan, antara  dunia  dan  akhirat.  Dia  memilih  yang  terakhir.”   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. lantas diam dan orang-orang juga diam tak bergerak. Tapi, Abu Bakar Al-Shiddiq segera mengerti, yang dimaksud beliau dengan kata-kata  terakhir itu adalah dirinya. Dengan  perasaannya  yang sangat  lembut dan besarnya persahabatannya dengan beliau, ia  tak dapat menahan air mata dan menangis sambil berkata, “Tidak. Malah, engkau akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khawatir  rasa terharu Abu Bakar Al-Shiddiq akan menular  kepada  yang lain, Rasulullah Saw. lantas memberi isyarat kepadanya, “Sabarlah, Abu Bakar!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian  Rasulullah Saw. berucap lagi, “Aku peringatkan  kepada saudara sekalian, wahai kaum  Muslim,  agar berbuat  baik  kepada  kaum  Anshar.  Mereka  benar-benar   telah melaksanakan  tugas dengan baik. Kaum Muslim secara  umum  akan bertambah  jumlahnya,  Tapi  kaum Anshar  akan  berkurang.  Dan, jadilah mereka garam dalam makanan. Kesengsaraan  telah menimpa bangsa-bangsa sebelum  kalian, yang menyembah kuburan para Nabi dan orang-orang suci mereka. Aku larang kalian melakukan hal itu. Aku banyak berutang budi kepada Abu  Bakar.  Bila aku memanggil seseorang  sebagai  kawanku,  maka dialah   Abu   Bakar.  Tapi, persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya.  Wahai anak putriku tercinta, Fathimah, dan  wahai bibiku  tercinta,  Shafiyyah, kerjakanlah sesuatu  untuk  akhirat, karena aku tak dapat membantumu terhadap kehendak Allah.”  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan pidato terakhir  Rasulullah Saw. Dan, melihat  tanda-tanda kesehatan beliau yang kian membaik, bukan  main  gembiranya kaum Muslim, sampai-sampai  Abu Bakar  datang  menghadap  beliau dengan mengatakan, “Wahai Rasul!  Aku lihat engkau kini dengan karunia  dan  nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah giliran Habibah binti Kharijah. Bolehkah aku mengunjunginya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah Saw. pun mengizinkan. Abu Bakar Al-Shiddiq pun berangkat ke Sunh-di luar kota Madinah-tempat tinggal istrinya, Habibah binti Kharijah. Abu Bakar, seperti diketahui, setibanya di Madinah, kemudian dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, dari Bani Al-Harits dari suku Khazraj. Akhirnya, ia menikah dengan Habibah, putri Kharijah. Dan, dari perkawinan ini kemudian lahir Ummu Kultsum, yang ditinggalkan wafat oleh Abu Bakar ketika ia sedang dalam kandungan Habibah. Sedangkan keluarga Abu Bakar yang lain tak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh. Ummu Ruman binti ‘Amir dan putrinya, ‘A’isyah, serta keluarga Abu Bakar yang lain tinggal di dalam Kota Madinah, di sebuah rumah berdekatan dengan rumah Abu Ayyub Al-Anshari, tempat Rasulullah Saw. tinggal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, ternyata sakit Rasulullah Saw. semakin berat. Pada pagi hari Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 11 H/8 Juni 632 M, beliau merasa agak baik. Ketika waktu dhuha semakin beranjak, beliau menerima kedatangan putri tercintanya, Fathimah Al-Zahra’. Begitu melihat sang putri, yang lahir  di  Makkah, wajah beliau berbinar-binar. Segera pula beliau mempersilakan ibunda dua putra: Al-Hasan dan Al-Husain,  dan  dua putri: Ummu Kultsum dan Zainab itu duduk di samping beliau seraya berkata, “Selamat datang, putriku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas berbagi sapa, Rasulullah Saw. kemudian membisikkan sesuatu kepada sang putri. Usai mendengar bisikan sang ayah, tiba-tiba putri keempat Rasulullah Saw. yang berhijrah  ke Madinah bersama ‘Ali bin Abu Thalib atau Zaid bin Haritsah itu menangis tersedu. Ketika beliau melihat kesedihan sang putri, beliau lalu membisikkan sesuatu lagi kepadanya sehingga ia tersenyum-senyum. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berbincang-bincang dengan sang putri, Rasulullah Saw. beristirahat. Melihat beliau beristirahat, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, istri beliau yang sangat penasaran melihat “peristiwa aneh” di depan mata kepalanya itu, segera mendekati Fathimah Al-Zahra’ dan bertanya kepadanya, “Fathimah! Sejatinya apa yang dibisikkan oleh Rasulullah Saw. kepadamu, sehingga engkau tiba-tiba menangis dan setelah beliau membisikkan sesuatu lagi kepadamu tiba-tiba pula engkau tersenyum-senyum?” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku tak kan menyebarkan rahasia yang dibisikkan oleh Rasulullah Saw.,” jawab Fâthimah Al-Zahra’ seraya berlalu. (Sampai setelah Rasulullah Saw. wafat pada hari itu dan dikebumikan, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq tetap memendam rasa penasarannya tersebut. Maka, karena rasa penasaran tersebut tak tertahankan lagi, suatu saat ia pun  bertanya kepada Fathimah Al-Zahra’ mengenai “peristiwa aneh” tersebut, “Fathimah! Aku ingin menanyakan kembali kepadamu tentang apa yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw. kepadamu yang dulu engkau tak mau menjelaskannya kepadaku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Baiklah, kalau sekarang bolehlah. Saat itu, ketika Rasulullah Saw. membisikkan sesuatu kepadaku yang pertama kali, beliau memberitahuku bahwa Jibril a.s. dan beliau biasanya bertadarus Al-Quran satu kali atau kali setahun, sementara saat itu Jibril a.s. dan beliau bertadarus dua kali. Selanjutnya beliau membisikkan bahwa hal itu sebagai pertanda ajal beliau telah dekat, karena itu beliau memintaku untuk tetap bertakwa kepada Allah dan bersabar. Mendengar bisikan demikian, maka aku pun menangis tersedu seperti yang engkau saksikan dulu, karena tahu beliau akan segera berpulang. Dan, ketika Rasulullah Saw. melihat kesedihanku yang demikian itu, beliau membisikkan kepadaku, ‘Fathimah! Mengapa engkau tak ridha? Padahal, engkau akan menjadi pemimpin kaum perempuan di surga kelak?’ Mendengar bisikan demikian, aku pun tersenyum-senyum seperti yang engkau saksikan dulu,” jawab istri ‘Ali bin Abu Thalib yang berpulang beberapa bulan  selepas Rasulullah Saw. wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada sore harinya kesehatan beliau memburuk kembali. Beliau pingsan beberapa kali. Walau menghadapi sakaratulmaut, beliau tak pernah lupa kepada Tuhannya. Beliau terus-menerus mengucapkan istighfâr, “Ampunilah aku, ya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga menjelang malam, pernapasan Rasulullah Saw. masih bergerak-gerak. Bibir beliau bergerak-gerak dan terdengar suara perlahan oleh orang-orang yang duduk di sekitar beliau, “Tegakkanlah shalat. Perlakukanlah para hamba sahaya dengan baik.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dekat beliau ada baskom penuh berisi air. Berkali-kali beliau membasahi tangan. Lalu beliau mengusapkannya ke muka beliau. Beliau, yang berada di pelukan istri tercintai beliau, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, kemudian mengangkat tangan dan menunjuk dengan jari beliau seraya berkata tiga kali, “Ya Allah,  perkenankanlah aku bertemu dengan Kekasih Yang Maha Tinggi .”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruh Rasulullah Saw. pun kembali kepada Yang Memilikinya. Beliau kembali kepada Yang Mengutusnya. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn&lt;/span&gt;.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8181406482659038910?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/8181406482659038910/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=8181406482659038910&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8181406482659038910'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8181406482659038910'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/06/ketika-duka-itu-tiba.html' title='Ketika Duka Itu Tiba'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-o9e-WNhEHXw/TgGRHGMr1PI/AAAAAAAAAlA/B5TiKXpdMjQ/s72-c/ottomandrawingmedinamf5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8521901025702637473</id><published>2011-06-13T16:02:00.006+07:00</published><updated>2011-06-14T05:27:37.687+07:00</updated><title type='text'>Dua Kado Indah untuk Istri Tercinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-3214bK847ig/TfXT2gQgHwI/AAAAAAAAAk4/y2gP3FRfDDg/s1600/turki-mesirbaru.jpg"&gt;&lt;img style="float:right; margin:0 0 10px 10px;cursor:pointer; cursor:hand;width: 255px; height: 385px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-3214bK847ig/TfXT2gQgHwI/AAAAAAAAAk4/y2gP3FRfDDg/s400/turki-mesirbaru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617629043540107010" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-uDdd0sJt6ys/TfXTkGz0usI/AAAAAAAAAkw/IA0YU6h7wns/s1600/kovermakkahbaru.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 258px; height: 397px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-uDdd0sJt6ys/TfXTkGz0usI/AAAAAAAAAkw/IA0YU6h7wns/s400/kovermakkahbaru.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5617628727471291074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, pada minggu ini Allah Swt. menganugerahkan “kado” luar biasa kepada penulis. Di minggu ketika istri penulis memasuki tahun baru, ke-53 tahun, dua karya baru penulis mulai hadir di antara para pembaca budiman. Karena itu, dua karya itu secara khusus penulis hadiahkan kepada istri tercinta, seorang dokter penyakit dalam yang telah mendampingi penulis dalam menapaki dunia yang fana selama sekitar 27 tahun. Karya yang pertama berjudul “Makkah-Madinah, Menapaki Jejak Kota Nabi dan Kota Diturunkannya Al-Quran”. Sedangkan karya kedua berjudul “Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam karya yang pertama, “Makkah-Madinah, Menapaki Jejak Kota Nabi dan Kota Diturunkannya Al-Quran”, penulis menyajikan catatan dan kisah perjalanan ke Arab Saudi ketika penulis melaksanakan ibadah umrah pada Rabi‘ Al-Akhir 1431 H/Maret 2010 M. Walau perjalanan yang disajikan dalam karya ini merupakan kisah perjalanan selama beberapa hari ke negeri tersebut, namun lewat perjalanan selama beberapa hari itu penulis mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat perjalanan itu. Tapi, dalam karya ini, penulis menghadirkan pelbagai aspek yang berkaitan erat dengan negara tersebut. Dengan demikian, harapan penulis, pembaca dapat mengenal lebih jauh negeri tersebut walau belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga disajikan tentang sejarah Makkah, Madinah, dan Jeddah, misalnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam karya ini penulis juga menyajikan pelbagai pusaka historis (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;historical heritages&lt;/span&gt;) yang mewarnai Arab Saudi dan pelbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan negeri itu. Dengan kata lain, harapan penulis, karya ini tak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Tapi, merupakan sebuah karya tentang negeri tersebut dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. Di sisi lain, penulis berharap kiranya catatan dan kisah perjalanan yang disajikan dalam karya ini dapat menampilkan gambaran yang cukup gamblang tentang “kehidupan” serta hal-hal lain yang erat kaitannya dengan negeri itu. Tentu saja, dalam karya ini penulis juga menghadirkan pelbagai hal yang erat kaitannya dengan ibadah umrah maupun ibadah haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara karya yang kedua menyajikan kisah perjalanan penulis ke Mesir dan Turki. Mesir, sebuah negara yang terletak di antara Asia dan Afrika, dan Turki, sebuah negara yang terletak di antara Asia dan Eropa, tentu bukan negara-negara yang asing bagi para pembaca budiman. Dua negara yang mayoritas warganya memeluk Islam itu, memang, bukan negara-negara yang asing bagi sebagian besar kaum Muslim. Mesir, yang menjadi lokasi sebuah universitas Islam yang berusia lebih dari seribu tahun, Universitas Al-Azhar, terkenal sebagai negara yang memiliki sejarah panjang: lebih dari lima ribu tahun. Tak aneh bila negeri itu sarat dengan pelbagai peninggalan dan warisan historis. Sedangkan Turki terkenal pernah menjadi sebuah imperium yang wilayah kekuasaannya membentang di tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, selepas Arab Saudi, ternyata Allah Swt. menjadikan Mesir sebagai negara kedua yang penulis kunjungi. Perjalanan penulis ke negara itu ternyata menorehkan kesan yang tak pernah terlupakan dalam diri penulis.  Sedangkan kunjungan penulis pertama kali ke Turki baru terjadi pada 1430 H/2009 M. Ternyata, kunjungan itu juga memiliki kesan yang dalam pada diri penulis. Karena itu, ketika Allah Swt. memberikan kesempatan kembali mengunjungi dua negeri itu, pada tahun Rabi‘ Al-Akhir 1431 H/Maret 2010 M, timbul suatu dorongan kuat untuk menuangkan perjalanan tersebut dalam sebuah karya yang kini hadir di antara para pembaca budiman. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karya kedua yang berjudul “Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar” tersebut sejatinya merupakan kisah lanjutan catatan dan kisah perjalanan Arab Saudi, yaitu catatan perjalanan ke Mesir dan Turki. Walau perjalanan yang disajikan dalam karya ini merupakan kisah perjalanan selama beberapa hari ke dua negeri tersebut, namun lewat perjalanan selama beberapa hari itu penulis kembali mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat perjalanan itu. Tapi, dalam karya ini, penulis mencoba menghadirkan pelbagai aspek yang berkaitan erat dengan ketiga negara tersebut. Dengan demikian, harapan penulis, pembaca dapat mengenal lebih jauh negeri-negari tersebut walau belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga disajikan tentang sejarah Kairo, Alexandria, dan Istanbul, misalnya saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, dalam karya ini penulis juga akan menyajikan pelbagai pusaka historis (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;historical heritages&lt;/span&gt;) yang mewarnai dua negeri tersebut dan pelbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua negeri itu. Dengan kata lain, harapan penulis, karya ini tak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Tapi, merupakan sebuah karya tentang kedua negeri tersebut dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. Di sisi lain, penulis berharap kiranya catatan dan kisah perjalanan yang disajikan dalam karya ini dapat menampilkan gambaran yang cukup gamblang tentang “kehidupan” serta hal-hal lain yang erat kaitannya dengan dua negeri itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda bermaksud melaksanakan ibadah umrah/haji serta melakukan perjalanan ke Mesir dan/atau Turki, tak lengkap lengkap rasanya tanpa membaca dua karya ini. Selamat menikmati “Makkah-Madinah” dan “Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar”.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8521901025702637473?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/8521901025702637473/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=8521901025702637473&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8521901025702637473'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8521901025702637473'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/06/dua-kado-indah-untuk-istri-tercinta.html' title='Dua Kado Indah untuk Istri Tercinta'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-3214bK847ig/TfXT2gQgHwI/AAAAAAAAAk4/y2gP3FRfDDg/s72-c/turki-mesirbaru.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4277897452838415299</id><published>2011-06-07T10:17:00.003+07:00</published><updated>2011-06-07T11:52:49.302+07:00</updated><title type='text'>Shaquille O'Neal dan Proses Iman</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/-2oF69jrxDtY/Te2YpTRF0EI/AAAAAAAAAkA/1aMSNS6nX2s/s1600/DOCTOR%2BSHAQ.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 240px; height: 180px;" src="http://2.bp.blogspot.com/-2oF69jrxDtY/Te2YpTRF0EI/AAAAAAAAAkA/1aMSNS6nX2s/s400/DOCTOR%2BSHAQ.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5615312145714892866" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Shaquille O’Neal has become a Muslim&lt;/span&gt;.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian tulis Imam Shamsi Ali, seorang Imam asal Indonesia di New York, Amerika Serikat tadi pagi di fbnya. Dan, mengenai keislaman pemain basketball kondang yang terkenal dengan panggilan Shaq itu, Imam Shamsi Ali memberikan komentar, “Islam itu indah dan magnetik. Semakin ditekan, semakin meninggi. Ini realitas pengalaman, bukan teori.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa, membaca berita keislaman pemain basketball dengan tinggi 2,16 meter dan terkenal pula dengan sebutan “the Diesel”, “the Big Aristotle”, “MDE (Most Dominat Ever)”, “Superman”, dan juga “Doctor Shaq” tersebut, lama saya termenung dan kemudian benak saya melayang-layang serta teringat kisah keimanan ‘Umar bin Al-Khaththab. Proses keimanan khalifah kedua dalam sejarah Islam tersebut, juga proses keimanan “Doctor Shaq”, menunjukkan pertama-tama: Allah Swt. sangat kuasa atas kalbu manusia: pagi hari seseorang berlaku sebagai musuh besar Islam, tapi siang nanti ia dapat berubah menjadi seorang pendukung agama itu. Begitu pula sebaliknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, untuk dapat memahami “proses keimanan” seseorang, marilah sejenak kita kembali pada kisah indah keimanan ‘Umar bin Al-Khaththab dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Abdullah bin Abu Rabi‘ah di Makkah, dari Habasyah, kegagalan misinya untuk membawa pulang kaum Muslim yang berhijrah ke sana, dengan cepat tersebar di kota itu. Kaum Muslim, tentu, bergembira mendengar kabar tersebut. Sebaliknya, hal itu kian membakar amarah para tokoh kaum musyrik Makkah.  Mereka khawatir, peristiwa itu akan menyebabkan kian meningkatnya perlawanan kaum Muslim di Makkah dan kian banyaknya anak-anak muda Quraisy yang memeluk Islam. Yang paling marah, gelisah, dan resah dengan perkembangan batu itu adalah Abu Jahal dan kemenakannya, yaitu seorang anak muda dari kabilah ‘Adiy bernama ‘Umar bin Al-Khaththab. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Umar adalah putra Al-Khaththab, penyembah berhala yang amat setia dan pernah mengusir saudara tirinya sendiri, Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi, yang menjadi seorang hanîf, keluar Kota Makkah ketika ia melecehkan agama kuno mereka. ‘Umar merupakan anak yang mewarisi watak orang tuanya yang penuh emosi dan cepat naik darah.  Kesenangannya berfoya-foya dan menenggak minuman keras. Tapi, terhadap keluarga ia bersikap bijak dan santun. Anak muda yang baru berusia  sekitar  dua puluh tujuh tahun itu kemudian menyatakan kepada mereka, “Muhammad harus diakhiri! Aku yang akan menangani masalah ini! Sekarang juga!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Umar bin Al-Khaththab yang sangat  berang  itu kemudian mengikatkan pedangnya dan pergi ke Bukit Shafa,  menuju ke sebuah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan oleh kaum Muslim. Kala itu, di rumah itu, Rasullullah Saw. sedang bertemu dengan sejumlah sahabat, termasuk Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar bin Abu Quhafah. Di  tengah jalan,  ‘Umar bin Al-Khaththab berjumpa dengan salah seorang anggota  keluarganya yang  telah  memeluk Islam, Nu‘aim bin  ‘Abdullah.  Memperhatikan kerut  gelap  di wajah ‘Umar, Nu‘aim menanyakan  kepadanya  apa yang  terjadi.  ‘Umar  menjawab,  ia  akan  membunuh  Rasul Saw. Mendengar jawaban yang demikian itu, Nu‘aim segera berpikir keras untuk mengalihkan niat ‘Umar itu: ia menasihati ‘Umar, “‘Umar!  Engkau hendaklah pertama-tama melihat ke  rumahmu sendiri. Saudara perempuanmu dan saudara iparmu pun telah memeluk Islam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar  kabar yang  demikian  itu,  ‘Umar   bin Al-Khaththab menjadi demikian  berang. Sehingga, ia segera berbalik ke  rumah  saudara perempuannya,  Fathimah binti Al-Khaththab, yang kala itu  sedang membaca  Al-Quran. Mendengar ‘Umar masuk, Fathimah  menghentikan bacaannya.  Namun, ‘Umar telah mendengar suaranya dan  menanyakan apa artinya. Sang adik menjawab bahwa hal itu tiada apa-apanya. “Fathimah! Jangan  engkau mencoba  menyembunyikan apa pun  dariku!”  hardik ‘Umar bin Al-Khaththab dengan nada suara sangat gusar.  “Aku  tahu  segala  sesuatunya.  Aku   telah mendengar,  kalian berdua telah ingkar agama!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berkata demikian, ‘Umar bin Al-Khaththab lantas memegang leher saudara  iparnya, Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi, dan  memukulnya  kuat-kuat.  Melihat hal yang demikian, Fathimah mencoba   campur tangan.   Tapi,  ia  malah  juga  dipukuli  hingga  tubuhnya berlumuran  darah.  Dalam keadaan demikian,  ia  berseru,  “‘Umar! Tega nian engkau engkau berbuat seperti ini kepadaku. Lakukanlah  apa  yang engkau kehendaki. Islam tak akan pernah lepas dari hati kami.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan  itu  membangkitkan suatu dampak  yang  aneh  dalam pikiran  ‘Umar bin Al-Khaththab.  Ia  pun memandang  adiknya  dengan  pandangan  penuh kasih sayang. Apalagi selepas melihat darah yang mengalir keluar dari luka-luka yang  ditimbulkannya. Hatinya benar-benar terharu.  Akhirnya,  ia berucap lirih, “Fathimah, tunjukkanlah kepadaku, apa yang tadi engkau baca.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fathimah binti Al-Khaththab pun membawa kertas-kertas kulit petikan Al-Quran yang disembunyikannya dan meletakkannya di depan kakaknya.  ‘Umar bin Al-Khaththab pun mengambilnya dan menjumpai ayat-ayat, “Thâhâ. Kami tak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar engkau merasa berat. Tapi, sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut. Diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit tinggi. Tuhan Yang Mahapemurah, yang bersemayam di atas ‘Arasy. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, dan semua yang ada di antara keduanya, serta semua yang terpendam di bawah tanah. Dan jika  engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh Dia mengetahui rahasia dan semua yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia yang mempunyai nama-nama sempurna.” (QS Thâhâ [20]: 1-8).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Umar bin Al-Khaththab pun  membaca  bagian  itu  dengan  sepenuh   hati. Nampaknya,  setiap kata mengilhami hatinya dengan rasa  segan  dan hormat.  Sehingga,  akhirnya, ia  berseru,  “Betapa luar biasa dan mendalamnya kalam itu! Ya, semua itu benar. Aku seharusnya memeluk agamamu. Aku akan pergi menemui Muhammad untuk menyatakan keimananku kepada Allah. Di hadapannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Umar bin Al-Khaththab pun segera meninggalkan rumah adiknya, berlari melintasi jalan-jalan Kota Makkah,  menuju Bukit Shafa, tepatnya menuju rumah Abu ‘Abdullah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, tempat Rasulullah Saw. sedang menyampaikan pengarahan kepada para sahabat. Setibanya di rumah itu, ‘Umar segera mengetuk pintu. Mengetahui yang datang adalah ‘Umar, para sahabat menjadi gentar dan ketakutan, kecuali Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasul Saw. menyuruh membuka pintu dan mempersilakan ‘Umar masuk. Melihat sikap beliau yang sangat santun dan bijak, ‘Umar merasa kecil di hadapan beliau. Ia pun segera menyatakan niatnya menjadi seorang Muslim, “Wahai Rasul! Aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pesan yang dibawanya.”  Rasul Saw. pun berseru, “Allâhu Akbar!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab segera diikuti oleh putra sulungnya yang kelak menjadi seorang pakar manasik haji, ‘Abdullah, dan istrinya, Zainab binti Mazh‘un, saudara perempuan ‘Utsman bin Mazh‘un yang sedang berhijrah ke Habasyah. Selain itu, keislamannya melempangkan jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya kala itu untuk memeluk Islam. Semenjak itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam. Sehingga, dalam waktu yang singkat, pengikut Islam bertambah dengan pesatnya. Apalagi selepas mereka melihat ‘Umar menyatakan keislamannya secara terbuka, mendatangi Abu Jahal untuk menyampaikan kabar tersebut, dan menyarankan kepada Rasulullah Saw. agar mengajak kaum Muslim shalat di lingkungan Ka‘bah secara terang-terangan. di tahun  keenam dakwah Islam. Karena hal itulah,   ia  mendapat  gelar  Al-Fâruq.  Dengan   kata   lain, keislamannya  merupakan  pembatas  antara  seruan  Islam   secara sembunyi-sembunyi  dan terang-terangan. Mengenai hal  ini, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq berucap, “Allah  menjadikan kebenaran  pada ucapan dan kalbu ‘Umar. Ia adalah  Al-Faruq yang menjadi pembatas antara kebenaran dan kebatilan.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab yang terjadi pada tahun keenam kenabian itu memberikan hikmah dan pelajaran yang berharga tentang proses keislaman seseorang. Tentang hal itu Tarik Ramadan, dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad&lt;/span&gt;, menulis, “Nabi tahu, dirinya tak berkuasa atas hati manusia. Dalam menghadapi penganiayaan dan kesulitan besar, beliau berpaling kepada Allah, seraya berharap Dia akan memberi petunjuk kepada salah satu dari dua tokoh Quraisy yang beliau ketahui memiliki kualitas dan kekuatan yang diperlukan untuk membalikkan keadaan. Tentu saja Nabi tahu, hanya Allah yang berkuasa menuntun hati  manusia. Bagi sebagian orang, perpindahan agama merupakan sebuah proses panjang yang membutuhkan masa penuh pertanyaan, keraguan, dan langkah maju-mundur. Sedangkan bagi yang lain, perpindahan agama berlangsung singkat, segera selepas membaca teks, atau memerhatikan gerak tubuh atau perilaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Hal yang demikian itu tak dapat dijelaskan. Peralihan agama yang memakan waktu paling lama tak berarti melahirkan keimanan yang kukuh, dan kebalikannya juga tak sepenuhnya benar: jika bicara urusan peralihan agama, kecenderungan hati, keimanan dan cinta, tiada lagi logika; yang berlaku adalah kekuasaan Allah yang luar biasa. ‘Umar keluar rumah dengan niat kuat untuk membunuh Nabi, dibutakan oleh pengingkarannya terhadap Allah Yang Maha Esa. Namun, beberapa jam kemudian, ia berubah dan mengalami sebuah transformasi sebagai hasil perubahan keyakinan akibat sentuhan sebuah Al-Quran dan maknanya. Malah, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat setia dari orang yang ia ingikan kematiannya. Tak seorang pun di antara para pengikut Nabi yang dapat membayangkan bahwa ‘Umar akan mengikuti pesan agama Islam, mengingat ia dengan sangat jelas telah mengungkapkan kebenciannya terhadap Islam. Revolusi hati ini merupakan sebuah pertanda, dan ia mengajarkan dua hal: tiada yang mustahil bagi Allah, dan kita tak boleh memberikan penilaian mutlak terhadap sesuatu atau seseorang!”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4277897452838415299?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4277897452838415299/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4277897452838415299&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4277897452838415299'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4277897452838415299'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/06/shaquille-oneal-dan-proses-iman.html' title='Shaquille O&apos;Neal dan Proses Iman'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-2oF69jrxDtY/Te2YpTRF0EI/AAAAAAAAAkA/1aMSNS6nX2s/s72-c/DOCTOR%2BSHAQ.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-627081191309803249</id><published>2011-05-28T11:31:00.002+07:00</published><updated>2011-05-28T11:35:10.190+07:00</updated><title type='text'>Memburu Matahari di Atas Ka'bah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/--IAU_70jOQ4/TeB7dSHld1I/AAAAAAAAAj0/imwiPl_Evuo/s1600/rashdul_qiblat.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 293px;" src="http://1.bp.blogspot.com/--IAU_70jOQ4/TeB7dSHld1I/AAAAAAAAAj0/imwiPl_Evuo/s400/rashdul_qiblat.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5611620878713714514" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Dua hari terakhir, setiap sore hari pada 26 dan 27 Mei 211, saya berusaha “memburu” Matahari. Tapi, perburuan tersebut ternyata merupakan perburuan yang sia-sia. Selama dua hari, tempat saya bermukim, Baleendah, Kab. Bandung, diguyur hujan yang sangat deras. Mengapa “memburu” Matahari? Hal itu, tak lain, karena saya ingin mengetahui secara tepat arah kiblat rumah yang kami tempati. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sejatinya, mengetahui arah kiblat dengan mudah dapat dilakukan dengan “penunjuk arah kiblat” made in Taiwan yang saya miliki. Tapi, usai membaca sebuah tulisan M Zaid Wahyudi di koran Kompas, 26 Mei 2011, dengan judul “Matahari di Atas Mekkah, Saatnya Meluruskan Arah Kiblat”, rasa penasaran pun muncul untuk membuktikan kebenaran “hasil kerja” penunjuk arah kiblat yang saya miliki. Namun, gara-gara hujan yang deras, usaha saya untuk meluruskan arah kiblat lewat posisi Matahari tersebut gagal total. &lt;br /&gt;Nah, barang kali di antara Anda belum membaca tulisan tersebut, pada sajian ini saya tampilkan dengan lengkap tulisan M Zaid Wahyudi tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Matahari akan berada di atas Mekkah, Arab Saudi, Sabtu, 28 Mei 2011 pukul 12.18 waktu setempat atau pukul 16.18 Waktu Indonesia Barat. Hal itu berarti Matahari berada tepat di atas Kabah, kiblat umat Islam. Saat itu, bayangan di seluruh dunia yang masih bisa melihat Matahari mengarah ke Kabah. Bayangan ke arah Kabah yang dapat dijadikan patokan arah kiblat itu dapat diperoleh dari benda yang berdiri tegak lurus di tempat datar. Cara itu dapat digunakan di sejumlah wilayah yang tak bisa melihat Kabah secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Ini cara paling sederhana dan paling mudah dengan akurasi tinggi dalam menentukan arah kiblat,” kata Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang juga anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama, Thomas Djamaluddin, Senin (23/5) di Jakarta. Meski demikian, penentuan kiblat tidak perlu terpaku pada hari dan jam saat Matahari benar-benar tepat di atas Mekkah. Pergeseran Matahari yang lambat membuat Matahari berada di atas Mekkah selama dua hari sebelum dan sesudah 28 Mei serta dalam rentang waktu lima menit sebelum dan sesudah pukul 16.18 WIB. Artinya, pelurusan arah kiblat dapat dilakukan pada 26-30 Mei pukul 16.13-16.23 WIB. Jika saat Matahari tepat di atas Mekkah justru di daerah kita tertutup awan atau hujan, rentang waktu itu dapat digunakan untuk meluruskan kiblat.Mereka yang berada di wilayah waktu lain, yaitu Waktu Indonesia Tengah dan Waktu Indonesia Timur, tinggal menyesuaikan waktunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pergerakan Matahari&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Teknik pelurusan arah kiblat berdasarkan posisi Matahari di atas Mekkah ini dilakukan berdasarkan pengamatan dan perhitungan perubahan gerak semu Matahari akibat kemiringan sumbu rotasi Bumi. Dalam satu tahun, Matahari dua kali melintas di atas Mekkah. Perlintasan pertama terjadi pada 27 Mei atau 28 Mei pukul 16.18 WIB. Saat itu, Matahari seolah bergerak dari selatan ke utara, yaitu dari arah garis khatulistiwa menuju titik balik utara di 23,5 derajat lintang utara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun perlintasan kedua berlangsung saat Matahari seolah bergerak dari titik balik utara ke khatulistiwa. Peristiwa ini terjadi pada 15 Juli atau 16 Juli pukul 16.27 WIB yang juga dapat dimanfaatkan untuk meluruskan kiblat. Menurut Djamaluddin, penentuan kiblat dengan bayangan Matahari tidak serumit jika menggunakan bantuan peralatan penunjuk arah, seperti kompas, alat penentu posisi global (GPS), maupun berbagai peranti lunak komputer.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika menggunakan kompas untuk menentukan kiblat, terlebih dahulu kita harus mengetahui posisi kiblat di daerah kita masing-masing. Arah kiblat ini ditentukan berdasarkan arah utara sebenarnya atau arah kutub utara Bumi (KUB). Untuk kota-kota di Jawa Barat, arah kiblatnya sekitar 25 derajat dari arah barat ke utara.&lt;br /&gt;Namun, kutub utara kompas menunjuk ke kutub utara magnet Bumi (KUMB) yang tidak berimpitan dengan KUB. Karena itu, pengguna kompas juga harus mengetahui berapa simpangan KUB terhadap KUMB di daerahnya. Sebagai gambaran, simpangan KUMB di Jabar dengan KUB hanya sekitar 0,5 derajat, sedangkan di Papua simpangan KUMB mencapai 4 derajat dari KUB. Selain itu, penggunaan kompas memiliki keterbatasan jika digunakan di gedung-gedung dengan rangka besi. Tarikan logam bisa membuat arah yang ditunjukkan kompas menjadi tak akurat dan berbeda untuk setiap tempat dalam satu lantai gedung, tergantung besar kecilnya tarikan besi di setiap titik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Meluruskan kiblat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Anggota BHR Kabupaten Kebumen yang juga Ketua Tim Pengkajian dan Pengembangan Rukyatul Hilal Indonesia, M Ma’rufin Sudibyo, mengatakan, langkah awal yang perlu dilakukan untuk meluruskan kiblat adalah menyamakan jam yang kita miliki agar sesuai standar waktu yang benar. Masyarakat bisa menelepon 103 yang dikelola Telkom atau Radio Republik Indonesia di setiap daerah. Selanjutnya, bayangan yang menunjuk kiblat dapat dibuat dengan menggunakan bandul bertali yang digantung. Pemberat bandul dapat berupa apa pun, yang mampu menjaga tali tetap tegak ketika tertiup angin. Bandul ini otomatis tegak lurus dengan permukaan Bumi sehingga bayangan yang tercipta dari tali bandul adalah arah kiblat. Cara lain adalah dengan mendirikan tonggak atau tongkat tegak lurus dengan tanah. Selain itu, bayangan dapat pula ditentukan dengan bayangan tiang masjid atau tiang jendela masjid selama tiang tersebut tegak lurus.&lt;br /&gt;Bayangan tonggak atau tiang yang tercipta pada rentang Matahari di atas Kabah merupakan arah kiblat sebenarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejumlah pesantren ataupun masjid memiliki tonggak yang digunakan sebagai penunjuk arah kiblat sekaligus penentu waktu shalat. Tonggak yang dilengkapi dengan garis penanda waktu dan panjang bayangan ini dikenal dengan nama bencet.&lt;br /&gt;”Berdasarkan pengukuran yang dilakukan terhadap lebih dari 500 masjid di Yogyakarta, Rembang, dan Kebumen sejak 2007-2010, 70 persen lebih arah kiblat masjid menyimpang dari kiblat sesungguhnya,” kata Ma’rufin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ditemukan kesalahan arah kiblat sesuai arah bayangan Matahari saat Matahari berada di atas Mekkah, yang perlu dilakukan adalah menata ulang saf atau garis barisan shalat, tidak perlu membongkar masjid. ”Lurusnya arah kiblat merupakan syarat sahnya shalat yang dilakukan,” katanya. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-627081191309803249?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/627081191309803249/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=627081191309803249&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/627081191309803249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/627081191309803249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/05/memburu-matahari-di-atas-kabah.html' title='Memburu Matahari di Atas Ka&apos;bah'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/--IAU_70jOQ4/TeB7dSHld1I/AAAAAAAAAj0/imwiPl_Evuo/s72-c/rashdul_qiblat.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-620216667253036964</id><published>2011-05-25T09:36:00.004+07:00</published><updated>2011-05-25T09:57:37.461+07:00</updated><title type='text'>Cinta Indonesia ala Betti Alisjahbana</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/-nPitWV5nm48/Tdxr-Mb1ceI/AAAAAAAAAjk/mZHGx5zlug4/s1600/bettialisjahbana.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 268px; height: 400px;" src="http://4.bp.blogspot.com/-nPitWV5nm48/Tdxr-Mb1ceI/AAAAAAAAAjk/mZHGx5zlug4/s400/bettialisjahbana.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5610477952030831074" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Betti Alisjahbana, Anda mengetahui dan mengenalnya? Kemunngkinan besar iya. Entah kenapa, kemarin siang, 24 Mei 2011, ketika saya membuka facebook salah seorang sahabat, di situ ditampilkan sambutan (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;graduation speech&lt;/span&gt;) yang ditampilkan mantan Presiden Direktur PT IBM Indonesia selama delapan tahun, 2000-2007, dalam acara Syukuran dan Pelepasan Wisudawan program Sarjana dan Paska Sarjana Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, pada Jumat, 4 Februari 2011. Tema sambutan perempuan yang kini mendirikan dan memimpin PT Quantum Business International yang bergerak di industri kreatif: QB Leadership Center, QB Architects, QB Furniture dan QB IT Services itu tentang “Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa pula, sambutan itu begitu memikat pandangan saya. Lama, saya mencermati dan menikmati sambutan perempuan yang kini menjadi: Anggota Komite Inovasi Nasional, Wakil Ketua Dewan Riset Nasional, Anggota Majelis Wali Amanah ITB, Komisaris PT Sigma Cipta Caraka, Duta Open Source Indonesia, dan Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia itu. Suatu sambutan yang, sejatinya, mengungkapkan cinta luar biasa Betti Alisjahbana kepada negerinya: Indonesia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, daripada berpanjang kalam, dalam sajian kali ini, saya akan menghadirkan sambutan lengkap perempuan pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu negara tersebut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Besok Anda akan memasuki bab baru dalam hidup Anda. Dan kesempatannya sangat luas. Sebagian dari Anda ada yang akan bekerja pada suatu organisasi, sebagian lagi mungkin akan memulai bisnis sendiri. Satu hal yang pasti, Anda telah memilih bidang yang sangat menarik dan strategis. Begitu strategisnya bidang ini, sehingga saya yang dulu kuliah di bidang Arsitektur pun berpindah rel untuk berkarir di bidang Teknologi Informasi.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya baru saja membaca prediksi dari IDC, sebuah lembaga riset yang fokus pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). IDC menyatakan bahwa negara-negara di Asia akan menikmati pertumbuhan TIK yang luar biasa, yang dimotori oleh China, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Kesempatan kerja dan berkarir terbuka lebar bagi Anda semua. Bahkan perebutan dan saling bajak tenaga kerja dibidang TIK sangat terasa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tanpa terasa, saya sudah berkecimpung di dunia TIK selama lebih dari 25 tahun. Beberapa pelajaran telah saya petik dan ingin saya bagikan kepada Anda semua. Namun demikian, sebelumnya saya ingin menyampaikan beberapa hal di dunia TIK, dan tantangan saya bagi Anda.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIK dan Karya Anak Bangsa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TIK berkembang sangat pesat dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 45 juta tahun lalu, berdasarkan data dari Kementrian Kominfo, sementara telepon selular pun tumbuh sangat pesat dan saat ini mencapai 180 juta pelanggan atau 80% penduduk Indonesia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di bidang social media, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 33 juta, dan menempati peringkat nomor 2 di dunia setelah Amerika. Sementara itu, pengguna Twitter di Indonesia sebanyak 6,24 juta, berdasarkan data pada September 2010.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pertanyaan yang harus kita jawab adalah, apakah kita telah memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal-hal yang produktif, yang memajukan dan mensejahterakan bangsa kita? Ataukah teknologi itu hanya menjadi sarana hiburan dan menjalin silaturahmi online saja? Lalu, apakah kita hanya bertindak sebagai pengguna saja, atau ikut memproduksi—baik itu perangkat keras, perangkat lunak, serta kontennya?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita sering dibuat sedih karena sementara pertumbuhan makro ekonomi di Indonesia baik, tetapi pertumbuhan tersebut lebih didorong oleh konsumsi saja. Hal ini membuat kita lebih menjadi penikmat keringat orang luar negeri. Akibatnya, penciptaan lapangan kerja di Indonesia masih terbatas dan angka kemiskinan pun masih tinggi. Di bidang TIK pun, hal ini terjadi—produk yang kita nikmati kebanyakan adalah produk impor.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kabar baiknya, kini lebih banyak kesempatan bagi kita untuk tidak sekadar menjadi pengguna tetapi juga menjadi pencipta. Di bidang konten misalnya, Fahma Waluya Rosmansyah adalah pembuat aplikasi Nokia Ovi Store yang termuda. Berusia 12 tahun, Fahma berhasil menjuarai APICTA (Asia Pacific ICT Award) untuk kategori Secondary Student Project. Karyanya yang berupa game edukasi kini dipasarkan di seluruh dunia melalui Nokia Ovi Store. Kalau anak berumur 12 tahun saja bisa, masa Anda tidak?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, tantangan pertama yang saya berikan kepada Anda para wisudawan adalah untuk bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK. Anda bisa berperan sebagai produsen itu sendiri, maupun sebagai fasilitator bagi tumbuh dan berkembangnya karya-karya anak bangsa.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bagaimana cara menjadi fasilitator? Caranya adalah dengan menggunakan produk karya Indonesia bila ada. Jadi, setiap kali akan membeli produk TIK, kita perlu bertanya, apakah sudah ada produk serupa yang merupakan karya anak bangsa? Jika ada, coba kita pertimbangkan untuk menggunakannya. Dan bila tidak ada, itu adalah peluang bagi kita untuk membuatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Saya yakin kesempatannya banyak. Pada jaman di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat seperti sekarang ini, yang dibutuhkan adalah keinginan untuk mencari peluang untuk melakukan inovasi. Selagi Anda masih muda, cobalah hal-hal baru yang berbeda, yang inovatif.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itu tadi tantangan pertama. Gunakan produk Indonesia kalau sudah ada. Kalau belum ada, Anda bisa membuatnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;TIK sebagai Katalisator Kemajuan Bangsa &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;TIK telah dan akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, serta daya saing individu, organisasi, dan bangsa. Penelitian Bank Dunia atas 120 negara dengan basis data tahun 1980-2006, yang disajikan dalam laporan InfoDev 2009, menunjukkan bahwa penetrasi broadband sebesar 10% di negara sedang berkembang akan meningkatkan GDP sebesar 1,38%.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai praktisi TIK, kita wajib mendorong pemanfaatan TIK untuk memecahkan berbagai masalah bangsa. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita adalah maraknya korupsi. Dibutuhkan peran serta berbagai pihak untuk memecahkannya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sistem informasi yang baik dapat mendukung transparansi dan tata kelola yang baik (good governance). Ketika e-government diterapkan dengan baik, bagi masyarakat ini berarti layanan yang lebih mudah diakses. Bagi komunitas bisnis, hal itu akan mengurangi beban pengurusan administrasi dengan memanfaatkan internet. Sementara bagi kantor-kantor pemerintah, itu berarti efisiensi dan efektivitas kerja yang menurunkan biaya, pelaporan yang lebih mudah, dan pengukuran kinerja yang lebih jelas.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Misalnya saja, 77% kasus korupsi yang ditangani KPK adalah menyangkut pengadaan. Daerah-daerah yang telah berhasil menerapkan e-procurement dapat mencegah korupsi karena adanya peluang kontak langsung antara penyedia jasa dengan petugas pengadaan menjadi lebih kecil. Proses pun menjadi lebih transparan dan lebih mudah diaudit.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Studi yang dilakukan oleh KPK menunjukan penerapan e-procurement telah menghasilkan penghematan anggaran sebesar 23.5% dan penghematan HPS (Harga Penetapan Sendiri) sebesar 20%. Penghematan waktu pelaksanaan pun terjadi, dari rata-rata 36 hari menjadi 20 hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi tantangan kedua adalah, sebagai praktisi dan calon praktisi TIK, kita semua harus mendorong penerapan TIK untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola yang baik. Dengan demikian kita berharap korupsi dapat ditekan. Jadi kita tidak lagi disuguhi tontonan Gayus di televisi setiap hari, tetapi melihat tokoh-tokoh TIK menjadi pejuang antikorupsi melalui penerapan TIK yang baik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kuasai Softskills &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Sepanjang lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang TIK, saya telah merekrut ratusan praktisi TIK. Dari situ saya menemukan pola bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang tidak saja mahir berbicara dengan komputer, tetapi juga mahir berkomunikasi dan berkolaborasi dengan bahasa manusia. Implementasi TIK hanya bisa berhasil bila kita bisa membuatnya dimengerti oleh orang awam.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Jadi, jangan berusaha untuk terlihat pandai dengan menggunakan bahasa-bahasa yang memusingkan, tetapi kuasailah seni berkomunikasi yang mampu membuat orang tertarik untuk memanfaatkan TIK secara maksimal. Demikian pula perkembangan TIK yang demikian cepat telah membuat kolaborasi antarnegara dan antarorganisasi yang difasilitasi oleh internet dan TIK  menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Perusahaan kini bisa menjalankan operasinya secara terintegrasi di berbagai negara. Misalnya tim TIK ada di India dan Indonesia, pengadaan dilakukan China, call center di Filipina, sementara pusat administrasi pelanggan dilakukan di Malaysia. Tenaga kerja masa kini harus mampu bekerja dalam TEAM dan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan kolaborasi antarorganisasi dan antarnegara. Syaratnya, selain hard skills, kita pun perlu menguasai softskills.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Apa saja yang termasuk softskills? Di antaranya kemampuan untuk berkomunikasi, beradaptasi pada situasi yang berbeda-beda, bernegosiasi, mengatur waktu, memecahkan masalah, bekerja dalam tim dan memimpin suatu tim. Gaya kepemimpinan masa kini adalah gaya kepemimpinan yang memberdayakan, membangun kolaborasi, dan memupuk segenap potensi yang ada.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lalu, bagaimana mengasah softskills? Pelajari teorinya lalu praktekan. Niscaya, semakin lama kita akan semakin mahir.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Itu tadi tiga tantangan saya untuk para wisudawan, yakni:&lt;br /&gt;Bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK,&lt;br /&gt;Menjadikan TIK sebagai katalisator kemajuan bangsa,&lt;br /&gt;Menguasai softskills.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Lima Ide untuk Mencapai Lebih dalam Hidup&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Saya akan menutup sambutan saya dengan menyampaikan lima  kiat untuk membuat Anda lebih sukses dalam hidup. Jadi bagi Anda yang tadi belum menyimak, sekarang waktunya untuk menyimak.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;#1 Ciptakan Mimpi Besarmu&lt;br /&gt;Cita-cita memberikan arah dan momentum dalam hidup. Sukses dalam kehidupan dibangun dari capaian demi capaian menuju suatu cita-cita. Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit, cita-cita kitalah yang membuat kita terus bersemangat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;#2 5..4..3..2..1 ACTION!&lt;br /&gt;“Banyak orang punya ide yang hebat, tetapi ide itu tidak kunjung dilaksanakan. Padahal ide saja tidak akan membawa kita kemana-mana.” Katanya, kata Motivation berasal dari kata motive dan action. Dengan kata lain motivation hanya ada bila kita punya tujuan (motive) dan ada tindakan. Jadi, bila kita merasa kehilangan motivasi dalam hidup ini, kemungkinan besar kita tidak punya motive dan kurang action.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Banyak orang memiliki ide, tetapi tidak dilaksanakan hanya karena takut membuat kesalahan. Hal ini sebenarnya bisa diatasi jika kita dapat melihat kesalahan sebagai hal yang positif. Kita belajar ketika kita membuat kesalahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bukankah kita belajar paling banyak ketika kita membuat kesalahan? Berapa banyak kesalahan dibuat oleh seorang anak ketika mereka pertama belajar merangkak, lalu berjalan, hingga akhirnya berlari? Mereka belajar sambil berbuat dan memperbaiki apa yang salah. Mereka belajar secara alamiah. Tetapi, ketika menjadi dewasa, kita seringkali lupa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kesalahan hanya terjadi ketika kita mengambil tindakan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Tindakan adalah dasar dari keberhasilan dalam hidup. Jadi sederhananya, pertama kita punya tujuan, lalu ambil tindakan, barulah keberhasilan akan datang. Ingatlah, “a journey of a thousand miles begin with a simple step”. What will your first step be?&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;#3 Semuanya Tergantung Saya, Bukan Orang Lain:  If it is to be, it’s up to me &lt;br /&gt;Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup adalah berani menerima kenyataan bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita alami dalam hidup kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kita punya kecenderungan untuk menyalahkan semua orang kecuali diri kita sendiri dari waktu ke waktu. Kenyataannya, dengan menyalahkan orang lain, kita sebetulnya telah menyerahkan kontrol terhadap hidup kita dan menghilangkan kesempatan untuk belajar dari kesalahan yang kita buat. Saat di mana kita berhenti mencari-cari kesalahan orang lain atas kesalahan yang kita buat, adalah saat di mana kita mulai menemukan kekuatan untuk berprestasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#4 Ciptakan Peluang Kita&lt;br /&gt;Peluang tidak datang begitu saja, peluang kita ciptakan. Kita tidak begitu saja bertemu dengan peluang, melainkan kita mempersiapkan diri kita dengan pertama-tama membuka wawasan bagi munculnya ide baru dan masukan-masukan. Semuanya berawal dari keputusan untuk ingin membawa hal baru dalam hidup kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belajarlah untuk bertanya. Apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya? Apa yang saya bisa lakukan untuk mengubah hidup saya? Atau, di mana saya bisa mendapat informasi yang akan membantu saya untuk mencapai tujuan saya dengan lebih cepat? Belajarlah untuk menentukan tujuan dan mengambil tindakan. Karena tindakanlah yang akan mempersiapkan diri kita untuk bisa mengenali dan memanfaatkan peluang-peluang dalam hidup kita.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada banyak peluang di sekitar kita. Bila kita mencarinya, kita akan menemukannya. Ingatlah bahwa peluang jarang mengetuk pintu. Kitalah yang harus mengetuk pintu peluang, bila kita ingin masuk ke dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;#5 Investasi Pada Diri Sendiri &lt;br /&gt;Kita tidak perlu kaya dulu untuk menjadi seorang investor. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadi investor bila kita ingin kaya. Dan ingatlah bahwa dari semua investasi yang bisa kita buat, investasi pada diri sendiri adalah investasi yang akan memberikan hasil yang terbesar dan paling penting yang bisa kita harapkan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Inti dari berinvestasi pada diri sendiri adalah secara sadar mengontrol hidup kita dan memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dari sumber daya yang terbatas yang kita miliki untuk pengembangan diri. Suatu pengembangan keterampilan dari dalam keluar. Keterampilan hidup yang akan mempengaruhi semangat, sikap, kebiasaan, dan tingkah laku—yang pada akhirnya akan membuat membentuk nasib kita. Berinvestasi pada diri sendiri berarti bukan hanya belajar ,tetapi juga melatih ketrampilan-keterampilan baru. Itu berarti mengalokasikan sebagian waktu kita, uang kita, dan energi kita. Itu berarti berkorban sekarang untuk sesuatu yang penting di masa depan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kesimpulan &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Itu tadi adalah lima kiat agar kita bisa mencapai lebih banyak dan lebih baik dalam hidup kita:&lt;br /&gt;Ciptakan mimpimu&lt;br /&gt;5..4..3..2..1 ACTION&lt;br /&gt;Semuanya terserah kita&lt;br /&gt;Ciptakan kesempatan&lt;br /&gt;Investasi pada diri sendiri&lt;br /&gt;Sekali lagi, selamat atas wisuda ini dan selamat atas semua yang telah Anda capai. Saya berdoa agar Anda mencapai yang terbaik di tahun-tahun mendatang. Anda telah dibekali pendidikan terbaik dari salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Dan saya berharap, Anda akan membawa nama harum UI dan Indonesia di kancah dunia.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Salam hangat penuh semangat&lt;br /&gt;Betti Alisjahbana  &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Terima kasih, Ibu Betti! Sambutan yang benar-benar indah!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-620216667253036964?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/620216667253036964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=620216667253036964&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/620216667253036964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/620216667253036964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/05/cinta-indonesia-ala-betti-alisjahbana.html' title='Cinta Indonesia ala Betti Alisjahbana'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-nPitWV5nm48/Tdxr-Mb1ceI/AAAAAAAAAjk/mZHGx5zlug4/s72-c/bettialisjahbana.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-7169545380974476769</id><published>2011-03-08T13:46:00.005+07:00</published><updated>2011-03-08T14:12:55.921+07:00</updated><title type='text'>"Flash of Creativity": Antara Al-Bushiri dan Einstein</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-NVPsQYV1FeE/TXXRg34e_LI/AAAAAAAAAjc/pS_s6pU729U/s1600/burdah.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 313px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-NVPsQYV1FeE/TXXRg34e_LI/AAAAAAAAAjc/pS_s6pU729U/s400/burdah.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5581597675882478770" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Menata dan meneliti buku-buku di rumah, itulah salah satu kebiasaan penulis. Nah, minggu lalu, ketika istri penulis sedang berada di Samarinda, Kalimantan Timur, saat itu penulis manfaatkan untuk menata dan meneliti buku-buku di rumah. Ketika sedang asyik meneliti buku-buku yang ada, tiba-tiba pandangan penulis “terantuk” sebuah buku menarik berjudul  &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Ibdâ‘ fi Al-Fann wa Al-‘Ilm&lt;/span&gt; (Kreativitas dalam Seni dan Sains).  Karya seorang guru besar asal Mesir itu, Prof. Dr. Hasan ‘Isa Ahmad,  menyajikan bahasan yang menawan tentang kreativitas di dua bidang tersebut: seni dan sains.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika menyimak kembali kandungan karya tersebut, tiba-tiba dalam benak “mencuat” dua sosok: Al-Bushiri dan Einstein. Perihal tokoh pertama,  namanya sangat kondang di Dunia Islam. Karya-karyanya pun telah banyak diterjemahkan ke dalam pelbagai bahasa dunia. Malah, di negeri kita salah satu karyanya pernah digelar seorang seniman kondang, WS Rendra. Selama hayatnya, warna kemiskinan begitu dominan dalam kehidupannya. Ia sendiri hidup antara 1211-1294 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat Al-Bushiri berhasrat  sekali menggubah madah untuk Rasulullah Saw. Ketika ia mulai menggubah karya itu, ia jatuh sakit dan kemudian kelumpuhan menimpa dirinya. Tapi, hal itu tidak menghalanginya untuk tetap melanjutkan usahanya itu, sembari berdoa kepada Allah Swt. kiranya Dia menyembuhkan kelumpuhan yang menimpa dirinya. Lantas, suatu ketika, suatu peristiwa aneh menimpa dirinya. Selama berbulan-bulan ia merasakan bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya. Bila makan, ia menjadi lebih suka menyendiri, untuk menantikan sesuatu yang bakal terjadi. Bila tidur, ia suka mencari kamar yang terpencil dan kemudian menantikan sesuatu yang menggelitik perasaannya itu. Tapi, bukan kematian yang ia nantikan. Perasaannya mengatakan, seorang Tamu Agung bakal mengunjunginya. Tamu Agung itu berasal dari negeri jauh dan membawa pesan khusus kepadanya. Kondisi ini membuat karyanya tak kunjung rampung&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari manakah datangnya perasaan serupa itu? Al-Bushiri sendiri tidak tahu. Tapi, ia senantiasa merasa, ia harus menanti dalam keadaan bersih. Lahir dan batin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, pada suatu malam, dalam mimpi, datanglah Tamu Agung yang ia nanti-nantikan. Tutur Al-Bushiri tentang peristiwa itu, “Dalam mimpi itu aku bertemu dengan Nabi Saw. Beliau kemudian mengusap-usapkan tangan beliau pada pinggangku dan menyerahkan seuntai baju (burdah) kepadaku. Dalam pertemuan itu, tiba-tiba aku seakan berhasil merampungkan gubahanku. Aku pun mendendangkannya di hadapan beliau. Kemudian aku terbangun. Tiba-tiba aku berdiri dan mampu berjalan lagi. Gubahanku itu kemudian kunamakan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Burdah&lt;/span&gt;.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini tiada madah kepada Rasulullah Saw. yang kuasa menandingi ketenaran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Burdah&lt;/span&gt; karya Al-Bushiri itu. Semenjak karya itu lahir hingga kini, berapa kerap karya itu didendangkan di pelbagai penjuru Dunia Islam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Al-Bushiri dalam proses penggubahan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Burdah&lt;/span&gt;, dalam bahasa kerennya, disebut “flash of creativity” (pancaran kreativitas). Dan, peristiwa yang dialami Al-Bushiri sejatinya tak beda jauh dengan kondisi Einstein ketika menemukan Teori Relativitas. Kini, sejenak marilah kita ikuti kisah proses penemuan teori yang mengguncang dunia itu seperti dituturkan istri Einstein:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Seperti biasanya, pagi itu Dr. Einstein dengan mengenakan baju tidur turun dari ruang kerjanya untuk menikmati makan pagi. Tapi, kala itu, ia enggan menyentuh hidangan yang ada. Tampak oleh saya ia sedang memikirkan sesuatu. Saya pun menanyakannya kepadanya. Jawab ia, “Sayangku! Aku punya ide luar biasa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas menikmati kopi, Einstein kemudian duduk di depan piano. Ia pun mulai memainkannya. Sebentar-sebentar ia berhenti main piano dan menulis beberapa catatan. Kemudian, tiba-tiba ia berseru, “Aku punya ide luar biasa! Aku punya ide luar biasa!” &lt;br /&gt;“Demi Tuhan,” ucap saya, “jangan kau biarkan aku gelisah. Katakanlah!”&lt;br /&gt;“Sulit sekali!” jawab ia. “Aku sedang berusaha mengikhtisarkannya!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Einstein terus memainkan piano dan membuat catatan selama kurang lebih setengah jam. Selepas itu, ia kemudian kembali pada pekerjaannya. Ia tak ingin diganggu siapa pun. Selama dua minggu ia mendekam di ruang kerjanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap hari ia saya antari makanan. Setiap sore, ia senantiasa turun dan berjalan-jalan sendirian. Kemudian, ia kembali pada pekerjaannya. Akhirnya, selepas dua minggu berlalu, ia turun dari ruang kerjanya dan menemui saya. Ia tampak kecapaian. Ia kemudian menaruh dua helai kertas di atas meja, lantas serunya dengan sangat gembira, “Ini dia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah kisah proses lahirnya Teori Relativitas yang hingga kini masih kerap diperbincangkan para pakar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengalaman Al-Bushiri maupun Einstein itu menunjukkan bahwa proses kreatif di bidang seni dan sains tiada bedanya. Dari proses lahirnya kedua karya itu tampak bahwa usaha yang teratur untuk menemukan atau mengkreasikan suatu karya dimulai dengan penguasaan diri sang pelaku. Keadaan yang demikian itu akan menimbulkan semacam ketegangan berupa “kecenderungan untuk menyempurnakannya”. Ketegangan tersebut akan tetap berlangsung dan tidak akan sirna kecuali dengan rampungnya kegiatan dan karya itu!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-7169545380974476769?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/7169545380974476769/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=7169545380974476769&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/7169545380974476769'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/7169545380974476769'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/03/flash-of-creativity-antara-al-bushiri.html' title='&quot;Flash of Creativity&quot;: Antara Al-Bushiri dan Einstein'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-NVPsQYV1FeE/TXXRg34e_LI/AAAAAAAAAjc/pS_s6pU729U/s72-c/burdah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4764677562714590772</id><published>2011-02-22T07:27:00.004+07:00</published><updated>2011-02-22T16:09:35.515+07:00</updated><title type='text'>"Ya Rasul, Perkenankanlah Aku Berkunjung Kepadamu."</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/-uAPBWWI6O-Q/TWMD8OVDByI/AAAAAAAAAjQ/lMLTwEr9k2Y/s1600/dubai-arab-mesir-turki-2010%2B064.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://1.bp.blogspot.com/-uAPBWWI6O-Q/TWMD8OVDByI/AAAAAAAAAjQ/lMLTwEr9k2Y/s400/dubai-arab-mesir-turki-2010%2B064.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5576305096788215586" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemarin siang, 21 Februari 2011, ketika penulis sedang asyik menyiapkan dan menyusun sebuah ensiklopedia di rumah di Baleendah, Bandung, tiba-tiba telepon genggam penulis bunyi. Tak lama kemudian, suara santun yang sangat penulis kenali menyapa, “Assalamu‘alaikum, Ustadz…”&lt;br /&gt;“Wa‘alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh. Apa kabar, Mbak Siti?”&lt;br /&gt;“Alhamdulillah sehat. Ustadz, bisa gak hari Rabu, atau paling lambat Jumat nanti, paspor Ustadz sudah di tangan saya. Insya Allah Maret nanti Ustadz berangkat ke Tanah Suci dan Turki. Karena itu, visa dua negara itu perlu segera diurus,” jawab Mbak Siti Khodijah dari Khalifah Tour.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ungkapan rasa syukur kepada Allah Swt. pun segera “mewarnai” hati, pikiran, dan bibir penulis. Dan, tak terasa, tiba-tiba bibir penulis bergumam, “Ya Rasul, perkenankanlah aku berkunjung kembali kepadamu…”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” menuju Kota Nabi dan terkenang perjalanan penulis ke kota itu pada bulan Maret tahun lalu, pada saat menapakkan kaki di Masjid Nabawi. Kala itu, selepas melintasi plaza utara Masjid Nabawi dengan langkah-langkah pelan, penulis lantas memasuki pelataran masjid seraya merenungkan makna jati diri dan perjalanan hidup penulis di dunia yang fana ini. Kian menyadari pelbagai kedhaifan, kekurangan, dan kekhilafan diri, tiba-tiba penulis gumam lirih, “Ya Allah! Apakah makna kehadiran seorang hamba-Mu yang dhaif ini di tengah “belantara” miliaran umat-Mu? Ya Allah! Karuniakanlah kasih dan cinta-Mu kepada hamba-Mu  ini, agar sisa-sisa hidupnya bermakna. Ya Allah! Sampaikan shalawat dan salam kepada Rasul-Mu!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu berada di dalam Masjid Nabawi, lewat Bâb Al-Salâm, para jamaah pria yang bersama penulis pun mengambil posisi mereka masing-masing di Raudhah yang penuh dengan jamaah. Penulis sendiri mengambil posisi sebuah tempat tak jauh dari mimbar Rasul Saw.  Selepas melaksanakan shalat tahiyyah al-masjid, tiba-tiba penulis kembali terkenang pesan Al-Ghazali kepada setiap Muslim ketika ia sedang berada di Masjid Nabawi. Betapa indah pesan itu. Bagaimanakah pesan Al-Ghazali itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bila Anda telah tiba di Masjid Nabawi,” demikian pesan Al-Ghazali dalam karya besarnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ihya’ ‘Ulûm Al-Dîn&lt;/span&gt;, “hendaknya Anda ingat, masjid itu adalah tempat lapang yang dipilih Allah Swt. bagi Nabi-Nya, kaum Muslim angkatan pertama, dan kelompok orang-orang istimewa. Juga, hendaknya Anda ingat, seluruh hal yang diwajibkan Allah Swt. pertama-tama ditegakkan di tempat yang lapang itu. Selain itu, tempat yang lapang itu menghimpun makhluk-makhluk Allah yang paling utama. Baik apakah semasa mereka masih hidup maupun selepas berpulang. Karena itu, hendaknya Anda benar-benar berharap, kiranya Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya kepada Anda, dengan masuknya Anda ke dalamnya.  Dan, kini, masuklah Anda ke dalam masjid dengan langkah dan sikap tenang dan mengagungkannya. Betapa layak tempat itu membangkitkan kedamaian dalam kalbu orang yang beriman.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai melaksanakan shalat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;tahiyyah al-masjid&lt;/span&gt; dan berdoa beberapa lama di Raudhah, kami kemudian keluar dari “Taman Surga” itu dan kemudian mengikuti barisan panjang yang melintasi Makam Rasulullah Saw. dan dua sahabat tercintanya, Abu Bakar Al-Shiddiq dan ‘Umar bin Al-Khaththab. Dengan langkah-langkah sangat pelan, kami pun kian dekat dengan makam itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika kian dekat dengan makam dan melihat aneka ragam perilaku kaum Muslim yang sedang bergerak pelan menuju makam itu dan di depannya, penulis pun kembali ingat pesan Al-Ghazali tentang tata krama berziarah ke makam Rasul Saw., “Ketika menziarahi Rasulullah Saw., hendaknya kita berdiri di hadapan beliau sebagaimana telah dikemukakan di muka. Dengan kata lain, hendaknya kita menziarahi beliau selepas berpulang seperti halnya menziarahi beliau ketika masih hidup. Juga, hendaknya kita memandang beliau dengan penuh hormat. Tak menyentuh dan tak memeluk tubuh beliau. Tapi, berdiri agak jauh dari beliau bagaikan berdiri di hadapan beliau.  Seperti itulah yang selayaknya kita lakukan. Menyentuh dan memeluk orang lain yang berada di depan seseorang merupakan kebiasaan kaum Nasrani dan Yahudi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diketahui, Rasulullah Saw. tahu, Anda datang, tegak, dan menziarahi beliau. Salam dan shalawat Anda pun sampai kepada beliau. Karena itu, bayangkanlah dalam benak Anda, sosok mulia beliau yang terletak dalam lubang makam di hadapan Anda dan hadirkanlah keagungan kedudukan beliau dalam kalbu Anda. Dituturkan dari beliau bahwa ‘Allah Swt. mewakilkan, di makam beliau, seorang malaikat yang menyampaikan kepada beliau salam seseorang dari umat beliau yang mengirimkan salam kepada beliau.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal itu bagi seseorang yang tidak sedang berziarah ke makam beliau. Karena itu, dapat dibayangkan, bagaimana halnya dengan seseorang yang berpisah dengan tempat asalnya dan melintasi pelbagai tempat dan negara, karena ingin menemui beliau serta merasa cukup dengan menyaksikan makam beliau yang mulia, karena tak mendapatkan kesempatan menyaksikan wajah beliau yang mulia. Nabi Saw. berpesan, ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barang siapa mengucapkan shalawat kepadaku sekali, niscaya Allah melimpahkan rahmat-Nya kepadanya sepuluh kali&lt;/span&gt;.’ Ini adalah balasan bagi seseorang yang mengucapkan shalawat kepada beliau. Bisa dibayangkan, bagaimana halnya bagi seseorang yang hadir dengan tubuhnya untuk menziarahi beliau?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pesan Al-Ghazali kepada kaum Muslim yang berziarah ke Makam Rasulullah Saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, seraya melangkah sangat pelan di antara antrian orang-orang yang menuju Makam Rasulullah Saw., kedua mata penulis pun “berlari”. Ke sana dan ke mari. Tak bosan-bosannya kedua mata penulis menatap dan mencermati segala sesuatu yang ada di area yang terletak di seputar Raudhah dan makam itu. Satu demi satu. Tiba-tiba,  kedua mata penulis menatap mimbar beliau yang menjadi salah satu pembatas Raudhah. “Bukankah di mimbar itulah beliau, manakala sedang tidak melakukan perjalanan ke luar kota, setiap Kamis selepas shalat subuh (bila di bulan Ramadhan selepas shalat asar) memberikan pesan dan arahan kepada para sahabat?” gumam penulis sangat pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat mimbar Rasulullah Saw. yang terdiri dari tiga tingkat dan dibuat dari kayu itu, penulis pun teringat catatan Prof. Dr. Husain Mu’nis tentang mimbar itu. Menurut mantan guru besar Universitas Kairo dan Universitas Kuwait yang merah gelar doktornya dari sebuah universitas terkemuka di Swiss itu, tatkala Rasulullah Saw. mendirikan Masjid Nabawi, pada mulanya mimbar beliau hanyalah tanah yang ditinggikan yang diletakkan di samping mihrab. Kemudian, seperti halnya dikemukakan Ibn Al-Atsir dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Asad Al-Ghâbah&lt;/span&gt;, pada 6 atau 7 atau 8 atau 9 H sebuah mimbar kayu dibuat untuk  beliau dan diletakkan di masjid beliau. Sedangkan Al-Diyarbakri dalam karyanya tentang biografi beliau, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Khamîs fî Sîrah Anfas Al-Nafîs&lt;/span&gt;, dan Burhanuddin Al-Halabi, dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Sîrah Al-Halabiyyah&lt;/span&gt;, mengemukakan bahwa yang membuat mimbar beliau adalah seorang Koptik atau Romawi bernama Bacum atau Bacul. Mimbar tersebut terdiri dari dua tangga dan sebuah tempat duduk beliau. Jelas, mimbar kayu ini  sebagai pengganti mimbar pertama beliau. Di sini, kita menyaksikan kelahiran mimbar kayu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mimbar tersebut tetap dalam keadaan demikian hingga masa pemerintahan Mu‘awiyah bin Abu Sufyan. Lantas, suatu ketika, penguasa pertama Dinasti Umawiyyah di Damaskus, Suriah itu membuat untuk dirinya sebuah mimbar bergerak dari kayu yang terdiri dari enam tangga dan sebuah tempat duduk. Selepas itu, tatkala ia pergi ke Makkah, ia membawa serta mimbar tersebut, seakan mimbar itu merupakan simbol kekuasaannya. Mimbar itu kemudian ia tinggalkan di Masjid Al-Haram dan tetap di sana hingga masa pemerintahan  Harun Al-Rasyid, penguasa ke-5 Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak. Jejak langkah yang dilakukan Mu‘awiyah bin Abu Sufyan tersebut kemudian diikuti beberapa penguasa Dinasti Umawiyyah, kala mereka sedang melakukan perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika kedua kaki penulis beringsut pelan ke depan dan kedua mata penulis asyik mencermati dan menatap lama Mimbar Nabi Saw., tiba-tiba penulis tersadarkan oleh sebuah pesan Rasulullah Saw. yang dikemukakan dalam sebuah lagu indah yang diciptakan Djaka Bimbo, Sam Bimbo, dan Taufiq Ismail serta disenandungkan Bimbo, “Hidup dan Pesan Nabi”:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hidup ini bagaikan garis lurus&lt;br /&gt;Tak pernah kembali ke titik terakhir&lt;br /&gt;Hidup bukan bulatan bola&lt;br /&gt;Yang tiada ujung yang tiada pangkal&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup ini melangkah terus&lt;br /&gt;Tak pernah kembali ke masa lalu&lt;br /&gt;Setiap langkah hilangkan jatah&lt;br /&gt;Menikmati hidup nikmati dunia&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Jangan takut mati karena pasti terjadi&lt;br /&gt;Setiap insan pasti mati&lt;br /&gt;Hanya soal waktu&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Nabi tentang mati&lt;br /&gt;Janganlah minta mati datang kepadamu&lt;br /&gt;Dan janganlah kau berbuat menyebabkan mati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga rahasia Ilahi&lt;br /&gt;Yang berkaitan dengan hidup manusia&lt;br /&gt;Kesatu tentang kelahiran, kedua pernikahan&lt;br /&gt;Ketiga kematian&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penuhi hidup dengan cinta&lt;br /&gt;Ingatkan diri saat untuk berpisah&lt;br /&gt;Tegakkan shalat lima waktu&lt;br /&gt;Dan ingatkan diri saat dishalatkan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pesan Nabi jangan takut mati&lt;br /&gt;Meski kau sembunyi dia menghampiri&lt;br /&gt;Takutlah pada kehidupan setelah kau mati&lt;br /&gt;Renungkanlah itu&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ketika telah berada di samping Makam Rasulullah Saw., yang dijaga tiga petugas (&lt;span style="font-style:italic;"&gt;‘askar&lt;/span&gt;), perasaan penulis pun menjadi sangat bercampur aduk. Antara sangat bahagia dan sangat malu. Sangat bahagia, karena penulis masih diberi kesempatan Allah Swt. berziarah kembali ke makam beliau. Merasa sangat malu, karena merasa betapa diri penulis masih acap melakukan dan sangat sarat dengan pelbagai kekurangan, kesalahan, kealpaan, noda, dan dosa. Sejenak kemudian, seraya melangkah sangat pelan, penulis pun mengucapkan salam dan shalawat dengan nada suara pelan kepada beliau, dan kemudian menyampaikan salam dan doa kepada dua sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq dan ‘Umar bin Al-Khaththab.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4764677562714590772?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4764677562714590772/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4764677562714590772&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4764677562714590772'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4764677562714590772'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/02/ya-rasul-perkenankanlah-aku-berkunjung.html' title='&quot;Ya Rasul, Perkenankanlah Aku Berkunjung Kepadamu.&quot;'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-uAPBWWI6O-Q/TWMD8OVDByI/AAAAAAAAAjQ/lMLTwEr9k2Y/s72-c/dubai-arab-mesir-turki-2010%2B064.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-6866489642355255093</id><published>2011-02-07T07:45:00.002+07:00</published><updated>2011-02-07T08:30:56.169+07:00</updated><title type='text'>"Putraku, Raihlah Kedudukan dengan Usaha Sendiri!"</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TU9LOxfoqOI/AAAAAAAAAjI/eGmkVBaQYSM/s1600/Abbasid_Provinces_during_the_caliphate_of_Harun_al-Rashid.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 287px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TU9LOxfoqOI/AAAAAAAAAjI/eGmkVBaQYSM/s400/Abbasid_Provinces_during_the_caliphate_of_Harun_al-Rashid.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5570753981256870114" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Kesalahan inti Presiden Mesir Hosni Mubarak adalah begitu lama terlena dengan kekuasaan. Hal ini ditambah dukungan konstan dari sekutu utama, Amerika Serikat, yang membuat Mubarak alpa memakmurkan warga. Yang lebih parah, Mubarak berniat mewariskan kekuasaan kepada putranya. Gamal Mubarak, putra Hosni Mubarak yang dipersiapkan sebagai pengganti, kini turut jatuh dari kehormatan. Semua itu menjadi akar keruntuhan pamor Mubarak. Proses politik di Mesir akhir-akhir ini memperjelas arah ke pembentukan dinasti politik Mubarak,” demikian tulis koran &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kompas&lt;/span&gt;  hari ini, Senin, 7 Februari 2011. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, tadi pagi ketika sedang menyimak dan mencermati tulisan tersebut, tiba-tiba penulis teringat kisah indah yang berkaitan dengan diri seorang penguasa Muslim di Baghdad yang dalam sejarah Islam juga terkenal sebagai “Bapak Ilmu Pengetahuan”, Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid. Kisah itu adalah sebagai berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa usianya kian beranjak cepat, selama berhari-hari kegelisahan tentang siapakah yang akan menggantikan dirinya sebagai  penguasa menyergap seluruh kesadarannya. Entah kenapa, selama berhari-hari pertanyaan, “Haruskah aku mengangkat kembali seorang putra mahkota?” seakan tak mau melepaskan diri dari benak penguasa yang wilayah kekuasaannya membentang di tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengangkat kembali seorang putra mahkota? Ya, sebelum itu Al-Ma’mun bin Harun Al-Rasyid memang pernah mengangkat seorang mahkota: ‘Ali bin Musa Al-Ridha. Namun, ternyata, pengangkatan putra mahkota yang satu menyulut pembangkangan dan penentangan di pelbagai wilayah yang di bawah kepemimpinannya. Tampaknya, perjalanan hidup panjangnya telah mengajarkan kepadanya untuk tidak mengangkat seorang putra mahkota lagi. Bukankah ia sendiri naik ke pentas kekuasaan dengan perjuangan yang tak ringan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lembaran sejarah menorehkan, penguasa ketujuh Dinasti  ‘Abbasiyyah di  Irak yang berkuasa pada 198-218 H/813-833 M ini  lahir  pada Kamis, 16 Rabi‘ Al-Awwal 170 H/14 September 786  M, enam bulan lebih tua daripada saudaranya seayah: Muhammad (kelak  bergelar al-Amin selepas menjadi  khalifah).  Putra pasangan  suami-istri  Harun  Al-Rasyid  dan  Marajil, seorang istrinya   yang  berdarah  Persia  dan  berpulang kala melahirkannya,  ini bernama lengkap Abu Al-‘Abbas ‘Abdullah  bin Harun  Al-Rasyid. Ia ditunjuk sebagai putra mahkota  setelah  Al-Amin. Kala Al-Amin naik ke pentas kekuasaan pada Sabtu, 4 Jumada Al-Tsaniyyah  193  H/24  Maret  809 M,  ia  dengan  dukungan  ibundanya: Zubaidah, berusahaa melemahkan posisi Al-Ma’mun dengan mengangkat putra  Al-Amin,  Musa, sebagai putra mahkota.  Akibatnya,  mereka berdua   terlibat  dalam  Perang  Saudara.  Akhirnya,   Al-Ma’mun  menjabat  khalifah  sebagai pengganti saudaranya,  Al-Amin,  yang terbunuh  dalam  suatu  pertempuran di Baghdad  Dar Al-Salam pada  Sabtu,  25 Muharram 198 H/24 September 813 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai  perang  itu, selama sekitar enam  tahun  Al-Ma’mun  tetap menjadikan  Merv,  Iran  sebagai  pusat  pemerintahan,  bukannya Baghdad. Lantas, pada 201/816 M, ketika ia mengangkat ‘Ali bin Musa  Al-Ridha,  sebagai   putra mahkota,  warga Baghdad pun membelot di bawah pimpinan  pamandanya, Ibrahim  bin  Al-Mahdi.  Segera  ia  membawa  pasukannya  menuju Baghdad.  Ketika di tengah perjalanan, menteri utamanya, Al-Fadhl bin  Sahl mati terbunuh, demikian halnya ‘Ali  Al-Ridha.  Melihat hal itu, pembelotan warga Baghdad mereda dan ia memasuki  Baghdad pada  204  H/819  M. Semenjak itu, ia menjadikan  kembali  kota  yang semula  berbentuk bundar ini sebagai pusat  pemerintahan  Dinasti ‘Abbasiyyah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, suatu hari, Al-Ma’mun pun memanggil penasihatnya, Yahya bin Aktsam. Ketika Yahya datang menghadap kepadanya, Al-Ma’mun pun segera mengemukakan persoalan yang sedang menyergap seluruh pikirannya itu.&lt;br /&gt;“Semua itu terserah Amir Al-Mukminin,” jawab Yahya bin Aktsam yang juga kebingungan menerima pertanyaan demikian. &lt;br /&gt;“Yahya, bila demikian panggilkan putraku!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian Ja‘far bin Al-Ma’mun menghadap. Selepas berbagi sapa sejenak dengan sang putra, penguasa yang acapkali  dipandang sebagai tokoh ilmu pengetahuan dalam sejarah Islam itu berucap kepada sang putra, “Wahai putraku! Belajarlah keluhuran martabat dari para menteri dan pembantu dekatku. Mereka, demi Allah, meraih kedudukan dengan usaha mereka sendiri. Bukan karena orang lain. Sungguh, manakala engkau hanya mencermati dan mengurusi masalah-masalah kecil, tentu pelecehan dan penghinaan yang bakal engkau terima. Karena itu, mendakilah dari kerendahan tekad untuk menggapai ketinggian kedudukan. Berusahalah dengan tekun dalam pelbagai persoalan besar dan berbekallah dengan tekad dan keyakinan yang kuat. Jadilah laksana binatang besar yang hanya mencari mangsa besar, tidak sibuk dengan burung-burung kecil atau hewan-hewan kecil. Ketahuilah, engkau maju bukan karena dimajukan. Pemimpinmu tak akan pernah membuat engkau maju, manakala engkau sendiri tak mau melakukannya. Pemimpinmu tak memerlukan kalian manakala engkau belum memberikan haknya atas dirimu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas memberikan banyak pesan dan petuah kepada sang putra, Al-Ma’mun memutuskan untuk tidak mengangkat kembali seorang putra mahkota. Dan, ketika berpulang secara  mendadak  pada  Selasa, 16 Rajab 218 H/5 Agustus  833  M  di  Tarsus, Anatolia, kala sedang memimpin ekspedisi militer untuk menghadapi pasukan  Bizantium,  ia  digantikan  saudaranya,  Abu  Ishaq  Muhammad bin Harun Al-Rasyid, yang bergelar Al-Mu‘tashim Billah selepas menjabat khalifah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-6866489642355255093?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/6866489642355255093/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=6866489642355255093&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6866489642355255093'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6866489642355255093'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/02/putraku-raihlah-kedudukan-dengan-usaha.html' title='&quot;Putraku, Raihlah Kedudukan dengan Usaha Sendiri!&quot;'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TU9LOxfoqOI/AAAAAAAAAjI/eGmkVBaQYSM/s72-c/Abbasid_Provinces_during_the_caliphate_of_Harun_al-Rashid.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1426585125145214804</id><published>2011-02-01T10:08:00.005+07:00</published><updated>2011-02-01T11:52:27.014+07:00</updated><title type='text'>Medan El Tahrir: Pusat Pergolakan di Mesir</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TUd6G3I69PI/AAAAAAAAAi8/QEWTXOoO20A/s1600/tahrir05.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 370px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TUd6G3I69PI/AAAAAAAAAi8/QEWTXOoO20A/s400/tahrir05.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5568553722566079730" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari akhir ini, nama Medan El Tahrir (dalam bahasa Arab disebut Maidan Al-Tahrir, alias Lapangan Pembebasan) mencuat cepat. Lapangan yang terletak di epicentrum Kota Kairo, Mesir ini kini menjadi pusat gerakan anti-pemerintahan Presiden Hosni Mubarak yang berkuasa semenjak 6 Oktober 1981 M (ketika penulis masih menimba ilmu di Negeri Piramid ini). Medan, atau lapangan, yang satu ini dapat disejajarkan dengan kawasan Monas di Jakarta, Champs Élysées di Paris, atau Times Square di New York. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah Medan El Tahrir sendiri bermula semenjak abad ke-13 M. Namun, bentuknya yang ada seperti dewasa ini mulai terbentuk pada abad ke-19 M: ketika seorang Mubarak lain, tepatnya ‘Ali Mubarak, seorang Menteri Pekerjaaan Umum kala itu (1860-1870 M), diperintahkan penguasa Mesir kala itu untuk merancang ulang Kota Kairo. Nama yang diberikan bagi medan atau lapangan ini adalah Medan Ismailiah. Nama Medan El Tahrir baru dipakai medan itu selepas terjadinya Revolusi Juli 1952.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, mari kita mengenal lebih jauh tentang kawasan di seputar Medan El Tahrir. Bangunan yang paling “berharga” di kawasan ini adalah sebuah museum yang menyimpan “harta karun” Mesir semenjak sekitar 5.000 tahun yang silam: Museum Mesir. Tak aneh, bila dalam pergolakan di Mesir saat ini, ada orang-orang yang tak bertanggung jawab yang berusaha “mengincar” harta karun yang tersimpan di museum yang satu itu. Bagaimana “kisah” Museum Mesir tersebut dan apa koleksi-koleksinya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah museum yang terletak di samping Mîdân Al-Tahrîr (Tahrir Square) itu bermula pada 1251 H/1835 M. Kala itu, museum menempati sebuah gedung di dekat Taman Ezbekiyah, ‘Atabah. Namun, segera gedung itu tak mampu menampung semua koleksi yang dimilikinya. Karena itu, lokasi museum pun, pada 1274 H/1858 M, di pindahkan ke Bulaq, menempati sebuah gedung yang dirancang seorang arsitek Perancis dan dibangun di tepi Sungai Nil. Namun, karena gedung itu kerap dihajar banjir, museum pun dipindahkan ke Istana Isma‘il Pasya di Giza. Baru pada 1320 H/1902 M, museum itu menempati sebuah gedung yang tegak dengan gagahnya di samping Medan El Tahrir dan bertahan hingga dewasa ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu museum terbesar di dunia ini sendiri menyimpan koleksi terbesar dan paling berharga berupa artefak-artefak dari zaman Mesir Kuno. Paling tidak ada sekitar 136.000 item yang telah dikatalogkan dan barang-barang lainnya yang diatur secara kronologis menjadi tujuh seksi. Nah, bila kita memasuki lantai pertama museum itu, dengan mengikuti putaran jam, pertama-tama Anda dapat menyaksikan pelbagai pusaka historis Mesir Kuno, dari “Old Kingdom”, “Middle Kingdom”, “New Kingdom” hingga Kekaisaran Romawi. Sementara di lantai dua museum disajikan sederet koleksi dari masa pra-sejarah dan dinasti-dinasti awal Mesir. Di lantai itu bisa didapatkan pula beberapa koleksi berupa makam. Termasuk makam Tutankhamun yang berlapis emas. Di makam itu sendiri terdapat lukisan kemilau yang menggambarkan mummi suami Ankhesenamun itu dijaga empat dewi: Nephthys, Isis, Selkis, dan Neith. Ankhesenamun sendiri adalah putri pasangan suami-istri Akhenaten dan Nefertiti. Di samping itu, di lantai dua museum ini, ada kereta-kereta perang, singgasana dan sarkofagus (keranda), patung-patung, perhiasan-perhiasan emas, topeng emas, senjata-senjata emas dan banyak lagi. Bila Anda ingin melihat mummi-mummi para fir‘aun, Anda bisa melihat mummi-mummi mereka di ruangan khusus untuk mummi (Royal Mummy Room). Di ruangan itu, sejumlah mummi dipamerkan dalam kotak-kotak bebas oksigen. Termasuk mummi Ramesses II. Dewasa ini, karena telah terlalu penuh dengan koleksi yang dimilikinya, museum ini direncanakan akan dipindah ke kompleks piramid-piramid Giza dan akan menempati sebuah gedung yang jauh lebih megah. Nama museum yang baru itu adalah Grand Egyptian Museum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, di depan Museum Mesir itulah Medan El Tahrir berada. Sedangkan di samping kanan medan itu berdiri dengan megahnya The Nile Ritz-Carlton Hotel. Di samping hotel itu sendiri tegak markas besar Liga Arab. Kemudian, di seberang Kasr El-Nile St.,  tegak El-Tahrir Palace yang menjadi markas besar Kementerian Luar Negeri Mesir, seperti gedung Pejambon di Jakarta. Tak jauh dari El-Tahrir Palace, tegak Masjid ‘Umar Makram yang dirancang seorang arsitek Italia, Mario Rossi, dan El-Mugamma‘ Administrative Complex. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping kanan gedung El-Mugamma‘ Administrative Complek, gedung American University in Cairo tegak. Gedung universitas yang satu itu semula adalah Istana Khairi Pasya yang didirikan pada 1276 H/1860 M. Universitas itu sendiri mulai beroperasi pada 1337 H/1919 M. Namun, sejak 1429 H/2008 M, program undergraduate dan graduate dialihkan ke sebuah pemukiman baru, New Cairo, yang terletak tak jauh dari Cairo International Airport, berdampingan dengan Distrik Nasr City. Tak jauh dari gedung universitas itu terdapat stasiun metro: stasiun Sadat. Tak jauh pula dari universitas itu, di sebelah timurnya, ada sebuah jalan: Bab El-Louq. Nah, pada tahun-tahun 1970-an dan 1980-an, di jalan di kawasan elite dan strategis itulah terdapat markas besar Persatuan Pelajar Indonesia, tempat mangkal para mahasiswa Indonesia di Kairo. Pada awal tahun-tahun 1980-an, seingat penulis, di seputar Medan El Tahrir terdapat sebuah jembatan membentang panjang untuk para pejalan kaki (kini, jembatan itu tiada lagi). Setiap hari, ribuan penduduk Kairo naik, turun, dan melintasi jembatan melingkar itu. Kala itu, di situ masih terdapat terminal bus dan trem tua (dengan trayek antara El Tahrir dan El Manial Raudhah), seperti halnya trem yang hingga kini masih “mewarnai” Kota Alexandria. Tak aneh bila kala itu, Medan El Tahrir sangat riuh sekali, karena kala itu Kota Kairo pun telah padat dengan penduduk. Sayang, trem tua Kota Kairo itu kini tak lagi hadir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kota Kairo memang merupakan salah satu kota di dunia yang mengalami peningkatan jumlah penduduk yang begitu cepat. Pada abad ke-18 M, penduduk kota itu hanya sekitar 245.000 orang. Kemudian, pada 1347 H/1929 M, jumlah penduduk kota itu mencapai 1.070.000 orang. Lantas, pada 1379 H/1960 M, jumlah penduduknya telah naik menjadi sekitar tiga setengah juta orang. Sepuluh tahun kemudian, jumlah itu telah mencapai sekitar lima juta orang. Dan kini, penduduk kota itu telah meroket menjadi sekitar delapan belas juta orang. Dengan jumlah penduduk yang demikian besar, tak aneh bila jalan-jalan di pelbagai penjuru Kota Kairo senantiasa disergap kemacetan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak jauh dari Medan El Tahrir, ke arah Medan ‘Atabah, di situlah downtown Kota Kairo yang sejak semula dirancang seperti halnya rancangan Kota Paris.  “Jantung” Kota Kairo modern dirancang mengikut rancangan Kota Paris, Perancis? Bagaimanakah kisahnya? Sekitar seribu tahun yang lalu, ketika Kota Kairo belum lama berdiri, posisi Sungai Nil lebih jauh ke timur ketimbang posisinya kini. Dari Benteng Babilonia di Mesir Lama (Old Cairo atau Misr Al-Qadîmah), sungai terpanjang kedua di dunia itu memotong diagonal ke arah utara. Karena itu, sekitar satu kilometer di sebelah barat Masjid Al-Azhar, bukan sekitar tiga kilometer seperti kini, pusat Kota Kairo kala itu masih merupakan kawasan yang penuh dengan genangan air. Kemudian, dengan berjalannya waktu, posisi Sungai Nil kian beralih ke arah barat. Kawasan yang semula penuh genangan air itu pun mengering. Walau begitu, kawasan itu masih tak berpenghuni. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, ketika Muhammad ‘Ali (1182-1265 H/1769-1849 M), penguasa Mesir  berdarah  Albania  yang perintis  pendidikan menurut sistem Barat di Mesir,  naik ke pentas kekuasaan, ia pada 1261 H/1845 M memerintahkan pengembangan Kota Kairo. Dalam pengembangan itu, Musky St. diperlebar dan diperpanjang ke arah timur hingga Khan Al-Khalili. Selain itu, ia juga membikin Qal‘ah St. yang menuju Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi dan sederet jalan yang berpusat di sebuah medan yang kini disebut Medan ‘Atabah (Mîdân ‘Atabah  atau ‘Atabah Square).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pengembangan pusat Kota Kairo, menurut Michael Haag dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Cairo Illustrated&lt;/span&gt;, kian “bergelora” ketika berada di bawah pemerintahan Khedive Isma‘il Pasya. Khedive yang satu itu menginginkan Kota Kairo laksana Kota Paris, Perancis, yang ia kunjungi pada 1284 H/1867 M. Dalam kunjungan itu, ia terpesona dengan keindahan Kota Cahaya yang dirancang Baron Georges-Eugène Haussmann antara 1852-1879 M: dihiasi boulevard-boulevard lebar, taman-taman indah, dan pusat-pusat belanja nyaman. Ingin membuat Kairo laiknya Paris, Khedive Isma‘il Pasya pun segera memerintahkan ‘Ali Mubarak, kala itu menjabat Menteri Pekerjaan Umum, untuk membangun pusat baru Kota Kairo di dekat dan sepanjang Sungai Nil.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua tahun selepas peresmian Terusan Suez pada 1286 H/1869 M, ‘Ali Mubarak telah usai membangun cikal bakal Kairo modern di seputar Ezbekiyah yang sebelumnya merupakan danau. Lokasi itu diubah sepenuhnya, oleh seorang  arsitek Perancis yang merancang Taman Bois de Boulogne di Perancis, menjadi sebuah taman indah. Di dekat taman itu dibangun pula sebuah gedung opera yang mengikuti model Gedung Opera “La Scala” di Milan, Italia, salah satu gedung opera paling terkenal di dunia kala itu. Selain itu, di antara Ezbekiyah dan Sungai Nil, dibangun pula sederet  medan (square): Medan Musthafa Kamel, Medan ‘Urabi, Medan Tala‘at Harb, Medan Lazughli, dan Medan Al-Tahrir.  Dan, segera, pada akhir abad ke-19 M, Kota Kairo terbelah menjadi dua kawasan, baru dan lama: berdampingan tapi berseberangan secara kultural maupun perkembangannya. Bagian timur Kota Seribu Menara itu tetap “memendam” pelbagai karakter budaya lamanya. Sedangkan di bagian barat kota kini muncul sebuah kota kosmopolitan yang dihuni penduduk dari pelbagai penjuru dunia: Yunani, Italia, Armenia, Inggris, Perancis, Swiss, Yahudi, Suriah-Lebanon, dan lain-lainnya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Kini, di manakah lokasi istana yang ditempati Presiden Hosni Mubarak? Di Distrik Mesir Baru, tak jauh dari Cairo International Airport, sekitar  15-20 kilometer dari Medan El Tahrir. Istana kepresidenan tersebut semula adalah Heliopolis Palace Hotel, sebuah hotel termegah di Timur Tengah pada awal pendiriannya. Lantas, pada Perang Dunia II, hotel itu dialihfungsikan menjadi rumah sakit pasukan Sekutu. Selama perang tersebut berkecamuk, Kairo menjadi pusat komando kedua, setelah London, pasukan Inggris dalam menghadapi pasukan gabungan Jerman-Italia yang menguasai pelbagai wilayah di Timur Tengah.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, selepas Mesir merdeka, istana itu digunakan untuk tujuan lain. Selanjutnya, ketika terbentuk negara gabungan Mesir-Suriah, gedung itu menjadi istana yang digunakan sebagai markas besar pemerintahan Republik Persatuan Arab. Ketika republik gabungan dua negara itu bubar, istana itu kemudian difungsikan sebagai gedung beberapa kementerian. Dan, baru pada tahun-tahun 1980-an Presiden Hosni Mubarak memugar istana itu dan menjadikannya sebagai istana kepresidenan. Dengan kata lain, istana yang ditempati Presiden Hosni Mubarak cukup jauh dari pusat pergolakan di Mesir saat ini.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1426585125145214804?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1426585125145214804/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1426585125145214804&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1426585125145214804'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1426585125145214804'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/02/medan-el-tahrir-pusat-pergolakan-di.html' title='Medan El Tahrir: Pusat Pergolakan di Mesir'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TUd6G3I69PI/AAAAAAAAAi8/QEWTXOoO20A/s72-c/tahrir05.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4420632232783651079</id><published>2011-01-26T06:29:00.003+07:00</published><updated>2011-02-27T11:27:14.135+07:00</updated><title type='text'>Tiga Serangkai</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TT9dT6VkBcI/AAAAAAAAAi0/M1WB4hP5HLk/s1600/ullynikah-9-1-11%2B152.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 368px; height: 400px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TT9dT6VkBcI/AAAAAAAAAi0/M1WB4hP5HLk/s400/ullynikah-9-1-11%2B152.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5566270261111817666" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ya Allah,  pada hari ini, masa 58 tahun telah Engkau karuniakan kepada hamba-Mu yang dhaif ini. Karuniakanlah pula, ya Allah, kepada hamba-Mu yang masih  sarat bercak dan noda dosa ini kemampuan dan kesempatan mengisi sisa usia yang telah Engkau tetapkan baginya dengan hal-hal yang senantiasa Engkau ridhai dan berkahi, hingga hamba-Mu ini kuasa meraih khusnul khatimah, amiin,” doa penulis dini hari tadi, 26 Januari 2011.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, ketika sedang menikmati indahnya pemandangan alam dini hari di luar jendela rumah di Baleendah, Bandung,  tiba-tiba dalam benak “mencuat” kesadaran bahwa dalam perjalanan hidup ini, selain kedua orang tua, ternyata ada “tiga serangkai”  yang sangat besar jasanya kepada penulis dalam meniti kehidupan yang fana ini. Ternyata, tiga serangkai  yang memiliki latar belakang  pendidikan yang berbeda itu memiliki karakter yang berbeda pula. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sosok yang pertama  memiliki latar belakang pendidikan di bidang medis. Karakter peraih gelar dokter spesialis penyakit dalam, dari Universitas Padjadjaran pada 1996 M, ini mengingatkan penulis pada karakter nenek penulis, seorang ibu nyai (istri seorang kiai) di Kota Cepu, Jawa Tengah: keras kepala, cerdas, teguh dalam bersikap, jujur, dan sulit di”arah”kan. Karakternya yang demikian membuat dokter kelahiran Semarang, Jawa Tengah ini kerap “bertabrakan” dengan pelbagai “kekuatan” yang menurut  ia melenceng. Namun, di sisi lain, “anak kolong” yang jebolan SMA Negeri 1-2 Semarang dan FKU Universitas Diponegoro ini  gemar berbuat kebaikan. Karunia melimpah yang dianugerahkan Allah Swt. kepadanya nyaris tak pernah bertahan lama dalam genggaman tangannya, demi pelbagai kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat. Pelbagai kegiatan yang bermanfaat untuk masyarakat memang senantiasa menjadi perhatiannya semenjak muda usia. Selain itu, dokter spesialis penyakit dalam yang pernah ditugaskan  di Kota Praya, Lombok Tengah dan pernah menerima penghargaan sebagai dokter teladan  ini juga sangat kreatif: ide-ide barunya setiap hati senantiasa bercuatan bagaikan kembang api di awal tahun baru dan seakan tak pernah padam. Mantan wakil direktur sebuah rumah sakit yang pernah mengunjungi empat Benua: Asia, Afrika, Eropa, dan Amerika ini tak lain adalah seorang perempuan yang  “dikirimkan” Allah Swt. kepada penulis untuk menjadi istri semenjak dua puluh tujuh tahun yang silam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, yang kedua, dari tiga serangkai itu, memiliki karakter  supel, ringan langkah dalam membantu siapa pun yang memerlukan bantuannya (tak aneh bila ia memiliki banyak sahabat dan teman), dan cerewet. Rumah menjadi sunyi manakala penggemar channel tv “Travel and Living” (yang di”komandani” Samantha Brown) yang sejak lahir hingga sarjana bermukim di Bandung ini sedang tak hadir. Selain itu, alumni SD “As-Salam” Bandung, SMU Negeri 2, Bandung, dan seorang sarjana di bidang teknik industri yang sedang mengambil program S-2 di bidang teknik perminyakan di Institut Teknologi Bandung ini gemar traveling dan membaca buku. Lewat kerja yang ia jalani, 21 provinsi di negeri yang sangat ia cintai dan beberapa negara telah ia kunjungi. Cita-citanya, seluruh provinsi di negerinya dapat ia kunjungi. Selain itu, lima Benua di Bumi ini pun ingin ia datangi. Sejatinya, selain traveling dan membaca buku, pencinta warna biru yang pekerja keras ini, seperti ibundanya,  juga memiliki kemampuan menulis. Sayang, kemampuannya tersebut belum ia kembangkan secara optimal dan maksimal. Kisah perjalanannya ke pelbagai penjuru Indonesia, misalnya, sejatinya merupakan kisah yang memikat andai ia tuangkan menjadi sebuah buku. Bila mau, sejatinya ia pun mampu menggoreskan tulisan-tulisan yang kaya warna. Di sisi lain, penggemar naik ojek dan angkot yang belum bisa naik sepeda ini begitu patuh dengan ibundanya. Sehingga, begitu merampungkan pendidikan S-1 di bidang teknik, dan ibundanya meminta ia mengaji tata baca Al-Quran yang baik selama beberapa bulan di Pesantren Krapyak Yogyakarta, di bawah bimbingan Ibu Nyai Hj. Nafisah Ali Maksum, ia pun dengan patuh melaksanakan keinginan ibundanya. Tak aneh bila ia senang berkunjung ke Kota Gudeg. Putri sulung penulis, itulah sosok  yang baik hati dan budi itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Lain lagi dengan sosok ketiga dan lahir di Bandung  yang tak lain adalah putri bungsu penulis. Pendiam, cerdas, tapi sejatinya keras kepala dan jujur seperti ibundanya. Berbeda dengan kakaknya, alumni SD dan SMP Salman Al-Farisi, Bandung, lulusan MAN Insan Cendekia, Serpong, dan seorang sarjana teknik informatika dari sebuah institut teknologi negeri di Kota Bandung, yang juga menjadi almamater kakaknya, ini memang tak banyak menabur kata. Karakternya yang demikian mengingatkan penulis pada ibunda penulis, seorang ibu nyai (istri seorang kiai) di Kota Blora, Jawa Tengah. Walau pendiam, sejatinya penggemar komik dan film Korea dan Jepang ini diam-diam adalah seorang pemberontak dan senantiasa tak mau kalah dengan apa yang dicapai kakaknya. Berbeda dengan ibunda dan kakaknya yang “tak tahan memegang lama uang”, penggemar naik ojek dan angkot, seperti kakaknya, yang juga menyenangi bahasa Jepang dan pernah pergi ke beberapa negara ini hemat. Seperti halnya ibundanya dan kakaknya, pencinta warna merah ini juga gemar traveling dan membaca serta memiliki kemampuan menulis yang masih “dipendamnya”.  Jelajah bacaannya lebih luas daripada jelajah bacaan ibundanya dan kakaknya. Namun, karakternya yang pendiam membuat ia tampak biasa-biasa saja. Padahal, sejatinya pelahap komik sejak kecil dan bershio naga (bagi yang memercayainya) ini memiliki kemampuan dan kepandaian di atas rata-rata. Walau kerap “bertabrakan” dengan ibundanya (dua-duanya memiliki karakter yang sama: keras kepala), sejatinya penggemar kisah Mahabharata ini  juga dekat dengan ibundanya, seperti kakaknya. Namun, “kedekatan” dan “pendekatan”nya berbeda: tanpa banyak kata dan lebih banyak menggunakan bahasa tubuh semata. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Betapa bahagia penulis menerima anugerah luar biasa “tiga serangkai” yang senantiasa menjadi sahabat-sahabat dekat dan akrab penulis. Apalagi, walau “tiga serangkai” itu memiliki latar pendidikan umum, namun mereka memahami dan menghayati kehidupan pesantren yang menjadi latar belakang penulis. Karena itu, penulis khususkan tulisan kali ini untuk mereka bertiga, sebagai ungkapan rasa terima kasih dari relung hati terdalam, disertai doa:  selain kiranya senantiasa menjadi hamba-hamba Allah yang salehah, kiranya mereka bertiga juga senantiasa menjadi hamba-hamba-Nya yang mendarmabaktikan hidup mereka bagi keluarga dan masyarakat luas di bawah naungan ridha dan berkah Allah Swt.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu, penulis pun tak lupa pula mendoakan para sahabat dan para pembaca, “kiranya Allah Swt. meridhai dan memberkahi segala niat dan langkah baik mereka semua.  Dan, ucapan terima kasih dari relung kalbu terdalam penulis sampaikan atas doa mereka semua. Kiranya Allah Swt. membalas amal kebaikan mereka semua. Amiin.”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4420632232783651079?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4420632232783651079/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4420632232783651079&amp;isPopup=true' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4420632232783651079'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4420632232783651079'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/01/tiga-serangkai.html' title='Tiga Serangkai'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TT9dT6VkBcI/AAAAAAAAAi0/M1WB4hP5HLk/s72-c/ullynikah-9-1-11%2B152.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2540336141228132031</id><published>2011-01-18T09:09:00.001+07:00</published><updated>2011-01-18T09:12:19.775+07:00</updated><title type='text'>Mengingatkan Sahabat yang Penguasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TTT27yhSFdI/AAAAAAAAAis/aERm9dYuHsY/s1600/20091224Peta%2Bkota%2Bbaghdad%2Blib.utexas.edu_bus_1961.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 349px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TTT27yhSFdI/AAAAAAAAAis/aERm9dYuHsY/s400/20091224Peta%2Bkota%2Bbaghdad%2Blib.utexas.edu_bus_1961.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5563342946743490002" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Tadi pagi, Selasa 18 Januari 2011, ketika membuka dan menyimak pelbagai berita di koran dan internet, tentang pertemuan antara presiden negeri tercinta dan sejumlah tokoh lintas agama, entah kenapa tiba-tiba penulis teringat kisah indah berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nasihat, nasihat, dan nasihat, itulah yang kini diharapkan Abu Ja‘far Al-Manshur selepas menjadi orang nomor satu Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak. Segera, sebuah nama membersit dalam benaknya. Betapa ia kini ingin bertemu dengan seorang sahabat akrabnya kala masih remaja itu. Sahabatnya yang pernah menimba ilmu bersamanya itu kini telah menjadi seorang ulama, ahli ilmu kalam, dan orator terkemuka Bashrah. Karena itu, penguasa kedua Dinasti ‘Abbasiyyah itu pun segera mengirim utusan untuk mengundang ulama terkemuka dan mufti Bashrah bernama lengkap ‘Amr bin ‘Ubaid bin Bab Al-Taimi ke Baghdad Dar Al-Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Apa sejatinya yang diinginkan penguasa itu?” gumam ulama berdarah Persia dan lahir pada 80 H/700 M itu kala menerima undangan itu. “Bukankah aku kini jauh darinya. Lagi pula, selepas ia memegang tampuk pemerintahan, aku kini tak ingin mengunjunginya. Memang, dahulu ia adalah seorang sahabat karibku. Allah Maha Mengetahui, selama ini aku senantiasa berusaha menjauhi para penguasa laksana seseorang yang senantiasa menjauhi penderita penyakit kudis. Memang, mendekati mereka juga memiliki dampak positif. Karena, lewat kunjungan itu, dosa-dosa mereka dapat diredam manakala mereka mau melaksanakan nasihat dan kritik yang dikemukakan kepada mereka.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya, ‘Amr bin ‘Ubaid memutuskan akan menemui Abu Ja‘far Al-Manshur. Menurut pengamatannya, sahabatnya yang satu itu kini telah berubah menjadi seorang penguasa otoriter, karena seluruh sikap dan tindakannya hanya untuk memantapkan dan melanggengkan kekuasaan yang kini dalam genggaman tangannya. Ia merasa berkewajiban mengingatkan sahabatnya itu dan tak memedulikan akibatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setibanya ‘Amr bin ‘Ubaid di istana nan megah dan mewah yang didirikan Abu Ja‘far Al-Manshur di Baghdad Dar Al-Salam, ia pun disambut dengan penuh keakraban dan penghormatan oleh sahabatnya itu. Dan, selepas berbagi sapa beberapa lama, sang penguasa pun berucap kepadanya, “Wahai Abu ‘Utsman! Berilah aku nasihat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Amr bin ‘Ubaid pun menatap lama  wajah sang penguasa, dengan tatapan yang mengungkapkan segenap penentangan dan pengingkaran yang bergelora dalam hatinya. Namun, perasaannya itu kemudian ia redam dengan ketenangan dan kesejukan yang berpendar dari wajahnya. Akhirnya, ia menjawab dengan ucapan basmalah dan firman Allah Swt., “&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah engkau tak memerhatikan bagaimana Tuhanmu bertindak terhadap kaum ‘Ad? (Yaitu) penduduk Iram yang memiliki bangunan-bangunan tinggi menjulang yang (kota di mana pun) belum pernah dibangun seperti itu di negeri-negeri lain. (Juga, terhadap) kaum Tsamud yang memotong batu-batu besar di lembah, dan kaum Fir‘aun yang sewenang-wenang di negerinya. Lalu, mereka berbuat banyak kerusakan di negeri itu. Karena itu, Tuhanmu pun menimpakan kepada mereka azab yang pedih. Sungguh, Tuhanmu benar-benar mengawasi&lt;/span&gt;.” (QS Al-Fajr [89]: 6-14)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Amr bin ‘Ubaid mengulang-ulang firman Allah Swt. itu, dengan tujuan mengingatkan sahabatnya yang kini suka bertindak sewenang-wenang itu. Mendengar firman Allah Swt. yang diulang-ulang itu, akhirnya Abu Ja‘far Al-Manshur memahami arah maksud sahabatnya yang ulama itu. Ia pun tak kuasa menahan lelehan air matanya. Melihat keadaan sang penguasa yang demikian itu, ‘Amr bin ‘Ubaid lantas berucap kepadanya. “Wahai Amir Al-Mukminin! Sungguh, Allah Swt. telah menganugerahkan dunia seluruhnya kepadamu. Karena itu, belilah dirimu dengan sebagian dunia itu. Ketahuilah, apa yang kini engkau raih itu dulunya milik orang lain. Lantas, ia diserahkan kepadamu. Demikian pula kelak ia akan berlalu darimu dan beralih kepada orang selepas dirimu. Aku ingatkan engkau, simaklah malam yang memunculkan pagi. Itulah pertanda kiamat!”&lt;br /&gt;“Wahai Abu ‘Utsman!” sergah seseorang yang hadir dalam pertemuan itu. “Ringankanlah beban Amir Al-Mukminin! Ucapanmu itu membuat kian berat beban yang disangganya!”&lt;br /&gt;“Siapa engkau?” sahut ‘Amr bin ‘Ubaid seraya menatap tajam wajah orang itu.&lt;br /&gt;“Apa engkau tak mengenalnya, wahai Abu ‘Utsman?” tanya Abu Ja‘far Al-Manshur.&lt;br /&gt;“Tidak! Aku tak peduli, apakah aku mengenalnya atau tidak!”&lt;br /&gt;“Ia adalah sahabatmu, Sulaiman bin Majalid!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nama itu disebut, ‘Amr bin ‘Ubaid pun berucap dengan nada ketus, “Celaka engkau, Sulaiman! Engkau merasa sedih mendengar nasihatku kepada Amir Al-Mukminin! Lantas, engkau berusaha menghalang-halangi antara dia dan orang yang menasihatinya. Wahai Amir Al-Mukminin! Orang seperti inilah yang menjadikan dirimu sebagai tangga untuk merengkuh nafsunya. Engkau tak ubah orang yang mengambil dua ekor domba bertanduk. Sedangkan orang-orang selainmu yang memeras susunya. Takutlah kepada Allah Swt.! Karena engkau akan menjadi mayat sendirian, dihisab sendirian, dan dibangkitkan dari alam kubur sendirian. Mereka sedikit pun tak kuasa memberikan pertolongan kepadamu di saat menghadap Allah Swt.!”&lt;br /&gt;“Wahai Abu ‘Utsman,” sergah Abu Ja‘far Al-Manshur. “Aku hanya mengangkat sahabat-sahabatmu saja sebagai para pembantuku. Aku ingin menolong mereka. Bukan yang lain.”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin!” sahut ‘Amr bin ‘Ubaid. “Tegakkan kebenaran, tentu engkau akan mendapatkan pengikut dari kalangan para pejuang kebenaran!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, ‘Amr bin ‘Ubaid kemudian melihat seorang anak muda yang mengenakan pelbagai atribut kebesaran dan kemewahan. Manakala ia mengetahui anak muda itu adalah Al-Mahdi, putra Abu Ja‘far Al-Manshur yang belum lama diangkat sebagai putra mahkota, ‘Amr pun berucap dengan nada suara sangat geram, “Wahai Amir Al-Mukminin! Demi Allah, engkau telah memberikan untuknya sebuah nama yang tak pantas dengan perbuatannya. Engkau telah mengenakan kepadanya sebuah busana yang tak pantas dikenakan oleh orang yang tak lurus seperti ia. Engkau telah membebankan atas dirinya suatu urusan pemerintahan yang menurutnya paling membahagiakan dalam hidupnya, sedangkan sejatinya paling berat disangganya.”&lt;br /&gt;“Apa engkau memiliki keperluan, wahai Abu ‘Utsman,” sergah sang khalifah yang berusaha mengalihkan perbincangannya dengan sahabatnya yang satu itu.&lt;br /&gt;“Ya!”&lt;br /&gt;“Apa keperluanmu?”&lt;br /&gt;“Bukankah aku datang ke sini atas undanganmu?”&lt;br /&gt;“Benar! Kalau engkau tak datang, tentu kita tak akan bertemu.”&lt;br /&gt;“Karena engkau menanyakan kepadaku perihal keperluanku, karena itu kujawab bahwa keperluanku kini adalah berlalu darimu!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, ‘Amr bin ‘Ubaid pun meninggalkan istana.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2540336141228132031?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2540336141228132031/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2540336141228132031&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2540336141228132031'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2540336141228132031'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/01/mengingatkan-sahabat-yang-penguasa.html' title='Mengingatkan Sahabat yang Penguasa'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TTT27yhSFdI/AAAAAAAAAis/aERm9dYuHsY/s72-c/20091224Peta%2Bkota%2Bbaghdad%2Blib.utexas.edu_bus_1961.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-1937015061572536091</id><published>2011-01-11T17:39:00.005+07:00</published><updated>2011-01-11T18:01:53.021+07:00</updated><title type='text'>Harun Al-Rasyid pun Menyesal Menjadi Penguasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TSwz36XwqLI/AAAAAAAAAik/CUKBR2vEKi4/s1600/harunrasyid.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 292px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TSwz36XwqLI/AAAAAAAAAik/CUKBR2vEKi4/s400/harunrasyid.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5560876675550455986" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Mas, kenapa sih kini kian banyak orang-orang yang ingin menjadi pejabat dan penguasa?” tanya seorang sahabat kepada penulis beberapa hari yang lalu dan sedang menikmati perjalanan di Jawa Tengah. “Apa mereka tidak ingat, sejatinya menjadi seorang penguasa sangat berat tanggung jawabnya. Baik di dunia maupun di akhirat kelak. Lihatlah jalan-jalan yang penuh lubang itu, apakah mereka mengira di akhirat kelak mereka tak akan dimintai pertanggungjawaban?”&lt;br /&gt;“Entahlah, mungkin bagi mereka menjadi pejabat atau penguasa bebas dari tanggung jawab dan mereka dapat bertindak sesuka hati mereka. Barangkali, bagi mereka, jabatan merupakan “kemewahan” yang semenjak lama mereka dambakan,” jawab penulis sembari “menikmati” pelbagai baliho dan spanduk besar yang bertebaran di pelbagai sudut Provinsi Jawa Tengah itu.  &lt;br /&gt;Usai memberikan jawaban demikian, entah kenapa tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Baghdad, Irak dan teringat kisah penyesalan Harun Al-Rasyid menjadi seorang khalifah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu malam Harun Al-Rasyid, penguasa ke-5 Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak, memanggil Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus, seorang menteri besar Dinasti ‘Abbasiyyah kala itu, dan berucap kepadanya, “Wahai Al-Rabi‘! Malam ini, bawalah aku kepada seseorang yang kuasa menunjukkan kepadaku siapakah sejatinya aku ini. Entah kenapa, kini aku merasa jemu dengan segala kebesaran dan kebanggaan yang telah kurengkuh dan kunikmati selama ini!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menerima perintah demikian, Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus lantas membawa Harun Al-Rasyid ke rumah Sufyan bin ‘Uyainah. Mendengar seseorang mengetuk pintu, Sufyan bin ‘Uyainah menyahut, “Siapakah di luar?”&lt;br /&gt;“Amir Al-Mukminin!” jawab Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus.&lt;br /&gt;“Mengapakah Amir Al-Mukminin menyusahkan diri? Mengapa tak dikabarkan saja kepada saya, sehingga saya datang sendiri untuk menghadap?”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan tersebut, Harun Al-Rasyid pun berucap, “Ia bukan orang yang kucari. Ia pun penjilat seperti yang lain-lainnya.”&lt;br /&gt;“Bila demikian, wahai Amir Al-Mukminin,” sergah Sufyan bin ‘Uyainah, “Al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah orang yang engkau cari. Marilah kita pergi menemuinya.”&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, Sufyan bin ‘Uyainah kemudian membaca ayat Al-Quran, “Apakah orang-orang yang berbuat aniaya menyangka bahwa kami akan mempersamakan mereka dengan orang-orang yang beriman serta melakukan perbuatan-perbuatan saleh?”&lt;br /&gt;Harun Al-Rasyid pun menimpali, “Andai aku menginginkan nasihat yang baik, tentu ayat itu mencukupi bagiku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka lantas menuju ke rumah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Ketika mereka tiba di rumah Al-Fudhail, mereka lantas mengetuk pintu. Mendengar ketukan di pintu rumahnya, Al-Fudhail bertanya dari dalam, “Siapakah di luar?”&lt;br /&gt;“Amir Al-Mukminin!” seru Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus dengan suara baritonnya yang menggelegar.&lt;br /&gt;“Apakah urusan dia dengan aku dan urusan aku dengan dia?” tanya Al-Fudhail. &lt;br /&gt;“Fudhail! Bukankah merupakan kewajiban setiap rakyat untuk mematuhi pemegang kekuasaan?” seru kembali Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus.&lt;br /&gt;“Janganlah kalian mengganggu aku!” jawab Al-Fudhail. Sangat ketus.&lt;br /&gt;“Haruskah aku mendobrak pintu dengan kekuasaan yang aku pegang atau dengan perintah Amir Al-Mukminin?” sahut Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus. &lt;br /&gt;“Tiada sesuatu pun yang disebut kekuasaan!” ucap Al-Fudhail. “Jika engkau dengan paksa mendobrak masuk, tahukah apa yang harus engkau lakukan?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa meminta izin, Harun Al-Rasyid kemudian masuk ke dalam rumah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Begitu melihat sang penguasa, Al-Fudhail lantas meniup lentera di depannya hingga padam agar ia tak dapat melihat wajah sang penguasa. Harun Al-Rasyid kemudian mengulurkan tangannya. Al-Fudhail pun menerima uluran tangan itu dan kemudian berucap, “Betapa lembut dan halus tangan ini! Kiranya tangan ini terhindar dari api neraka!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Guru! Berilah aku nasihat,” ucap Harun Al-Rasyid dengan suara pelan.&lt;br /&gt;“Harun!” ucap Al-Fudhail, “leluhurmu, pamanda Rasulullah Saw. (maksudnya Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib), pernah meminta kepada beliau agar ia dijadikan pemimpin bagi sebagian umat manusia. Apa jawaban beliau? Jawab beliau, ‘Paman, bukankah aku pernah mengangkat engkau untuk sesaat sebagai pemimpin dirimu sendiri?’ Dengan jawaban itu Rasul Saw. memaksudkan bahwa sesaat mematuhi Allah adalah lebih baik daripada seribu tahun dipatuhi umat manusia. Kemudian Rasul Saw. menambahkan, ‘&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kepemimpinan akan menjadi sumber penyesalan di hari kebangkitan kelak&lt;/span&gt;.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu,” pinta Harun Al-Rasyid. Tetap dengan suara pelan.&lt;br /&gt;“Ketika diangkat sebagai penguasa, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz lantas memanggil Abu ‘Umar Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab, Abu Al-Miqdam Raja’ bin Haiwah bin Jarwal Al-Kindi, dan Abu Hamzah Muhammad bin Ka‘b bin Salim bin Asad Al-Qurazhi. Ucap ‘Umar kepada mereka, ‘Hatiku sangat gundah dengan musibah ini. Apakah yang harus kulakukan? Aku tahu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;kedudukan yang tinggi ini merupakan musibah, walau orang-orang lain memandang kedudukan sebagai karunia&lt;/span&gt;.’ Sahut Abu Al-Miqdam Raja’ bin Haiwah, “Wahai Amir Al-Mukminin! Jika engkau ingin terlepas dari hukuman Allah di akhirat kelak, pandanglah setiap Muslim yang lanjut usia laksana ayahandamu sendiri, setiap Muslim yang muda usia laksana saudaramu sendiri, setiap Muslim yang masih kanak-kanak laksana putramu sendiri. Dan, perlakukanlah mereka sebagaimana seharusnya seseorang memperlakukan ayahanda, saudara, dan putranya.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu,” pinta lagi Harun Al-Rasyid.&lt;br /&gt;“Harun!” ucap Al-Fudhail. “Abu Al-Miqdam Raja’ bin Haiwah lebih lanjut berucap, ‘Wahai Amir Al-Mukminin! Anggaplah negeri yang engkau pimpin laksana rumahmu sendiri dan penduduknya laksana keluargamu sendiri. Jenguklah ayahandamu, hormatilah saudaramu, dan bersikap baiklah kepada putramu.’ Kusayangkan jika wajahmu yang tampan ini akan terbakar hangus di neraka. Takutlah kepada Allah dan taatilah perintah-perintah-Nya. Berhati-hatilah dan bersikaplah bijak, karena di hari kebangkitan kelak Allah akan meminta pertanggungjawabanmu seputar setiap Muslim yang engkau pimpin dan Dia akan memeriksa apakah engkau telah berlaku adil kepada setiap orang. Ingatlah, manakala ada seorang perempuan uzur yang tertidur dalam keadaan lapar, di hari kebangkitan kelak ia akan menarik-narik pakaianmu dan memberikan kesaksian yang akan memberatkan dirimu!” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu!”&lt;br /&gt;“Abu Hamzah Muhammad bin Ka‘b kemudian tampil memberikan nasihat,  “Wahai Amir Al-Mukminin! Engkau memiliki keberanian yang diwajibkan atas diri kita. Andai pada dirimu terdapat kekurangan dan kekhilafan, kita akan mengobatinya. Pegang teguhlah agama dan pikiran yang rasional, semua itu akan menopang dirimu dan menjadi kendali dirimu. Waspadalah terhadap orang yang mencintaimu karena ada pamrih terhadap dirimu. Karena manakala pamrih itu telah terpenuhi, cintanya akan sirna. Manakala engkau melakukan suatu kebaikan, peliharalah betul kebaikan itu. Dan, jadikanlah dunia sebagai tempatmu berpuasa dan akhirat sebagai tempatmu berbuka.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu!”&lt;br /&gt;“Abu ‘Umar Salim bin ‘Abdullah kemudian tampil memberikan nasihat, ‘Wahai Amir Al-Mukminin! Buatlah rakyat rela dengan sesuatu yang dirimu rela terhadap sesuatu itu. Juga, buatlah mereka tidak menyukai sesuatu yang dirimu tak menyukai sesuatu itu. Dengan demikian, engkau menyelamatkan mereka dan mereka menyelamatkan engkau.’”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar nasihat dan petuah demikian, Harun Al-Rasyid pun tak kuasa menahan lelehan air matanya dan termenung lama. Dan, ia pun sangat menyesali kedudukan dirinya sebagai penguasa!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-1937015061572536091?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/1937015061572536091/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=1937015061572536091&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1937015061572536091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/1937015061572536091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/01/harun-al-rasyid-pun-menyesal-menjadi.html' title='Harun Al-Rasyid pun Menyesal Menjadi Penguasa'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TSwz36XwqLI/AAAAAAAAAik/CUKBR2vEKi4/s72-c/harunrasyid.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-8609384327292413397</id><published>2011-01-04T09:49:00.003+07:00</published><updated>2011-01-04T10:03:00.126+07:00</updated><title type='text'>Ketika Cinta Dipandang Sebagai Godaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TSKMkKai7KI/AAAAAAAAAiU/FEL0ZdIycns/s1600/prettywoman-01.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 281px; height: 400px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TSKMkKai7KI/AAAAAAAAAiU/FEL0ZdIycns/s400/prettywoman-01.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5558159443027487906" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;"Betapa kaya khazanah kisah-kisah cinta dalam warisan kebudayaan Islam," gumam penulis ketika menikmati sebuah karya berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Al-Hub fi Al-Turats Al-'Arabi&lt;/span&gt;." Dan, ternyata, tidak hanya Ibn Hazm saja, di antara para pemikir terkemuka Muslim, yang menyusun karya tentang cinta. Nah, salah satu di antara kisah-kisah cinta dalam khazanah tersebut adalah kisah berikut:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tuan, di luar ada seorang anak muda ingin menitipkan sepucuk surat,” ucap seorang pelayan, suatu saat, kepada majikannya yang hartawan. “Anak muda itu menunggu di depan rumah.”&lt;br /&gt;“Suruh ia masuk ke dalam rumah dan ambillah suratnya,” sahut sang hartawan.&lt;br /&gt;Si pelayan pun segera menemui anak muda itu dan menerima surat itu. Selepas membaca surat itu yang tertulis dalam bait-bait syair, ia pun berucap, “Oh, ini tentu sepucuk surat dari seorang anak muda yang sedang diterpa cinta.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa tertarik dengan keluhan yang dikemukakan anak muda tersebut, yang menuturkan kekasihnya yang tersekap dalam “sangkar emas” majikannya, ia pun memerintahkan si pelayan untuk menyilakan si anak muda untuk menemuinya di dalam rumah. Ternyata, anak muda itu telah berlalu. Tentu saja hal itu menimbulkan tanda tanya di hati sang hartawan. Karena itu, ia kemudian memerintahkan semua pelayan perempuannya agar berkumpul. Selepas mereka semua berkumpul, ia pun menuturkan kejadian tersebut dan kemudian bertanya kepada mereka,”Mengapa ada surat cinta seperti ini sampai kepadaku?”&lt;br /&gt;“Wahai Tuan,” jawab mereka. “Kami pun tak tahu mengapa ada surat seperti itu datang kepada Tuan. Lantas, siapakah yang mengirim surat itu?”&lt;br /&gt;“Seorang anak muda dan ia telah pergi tanpa pamit,” sahut sang hartawan. “Aku mengumpulkan kalian tak lain karena menurut dugaanku ia jatuh cinta kepada salah seorang di antara kalian. Karena itu, barang siapa mengakui anak muda itu adalah kekasihnya, aku rela menyerahkannya kepada anak muda itu dan menikahkannya. Tapi, hendaklah ia membawa surat balasan untuknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, tak seorang pelayan pun mengaku. Karena itu, sang hartawan lantas menulis surat  kepada anak muda itu dan menyatakan rasa terima kasihnya kepada anak muda itu. Surat itu kemudian diletakkan di suatu tempat di dalam rumahnya. Namun, selepas beberapa hari berlalu, ternyata surat  itu masih tetap ada di tempatnya. Tiada seorang pun mengambilnya. Sang hartawan pun semakin kebingungan dan akhirnya bergumam, “Mungkin yang menulis surat itu adalah salah seorang pelayan laki-lakiku. Tapi, bukankah anak muda itu, dalam surat itu, mengemukakan bahwa dirinya adalah seorang yang menjauhi gebyar duniawi dan puas dengan memandang semata kekasihnya?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang hartawan kemudian membuat jebakan untuk memerangkap penulis surat cinta itu. Untuk itu, ia melarang para pelayan perempuan keluar dari dalam rumah. Ternyata, jebakannya berhasil. Hari berikutnya, seorang pelayan laki-laki menyerahkan sepucuk surat. Dalam surat itu, antara lain, si penulis, menggoreskan tintanya sebagai berikut, “Apakah yang dapat Tuan lakukan terhadap nyawa yang telah berada di kerongkongannya dan penyeru kematian senantiasa memicunya? Namun, saya akan tetap berusaha melawannya dengan sekuat daya, sehingga dapat memperlambat lajunya dan akhirnya beranjak dari kerongkongan saya. Sengaja diri ini saya sembunyikan manakala memandang gadis yang saya cintai, karena malu dan agak leluasa ketika terasyikkan oleh pandangan yang menyembuhkan kerinduan manakala melihatnya. Nafsu memang senantiasa menyeru seseorang, karena kebodohannya, untuk berbuat dosa. Tapi, kalbu saya tetap sehat dan tegar menghadapi gempurannya. Demi Allah, andai dikatakan kepada saya, ‘Kemarilah dan puaskanlah nafsumu, untuk mereguk segala kesenangan yang kumiliki!’, tentu akan saya jawab, ‘Tidak! Demi Tuhan yang sangat saya takuti hukuman-Nya, walau kesenangan itu berlipatganda, tetap tak akan saya lakukannya!’ Andai saya tak memiliki rasa malu, tentu akan saya kemukakan buah hati yang saya cintai dan saya ungkapkan pula sambutan cintanya kepada saya. Wassalam.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca surat dengan isi demikian, sang hartawan pun bergumam pelan, “Dengan apa lagi yang harus kulakukan untuk mengetahui jati diri anak muda ini.” Selepas itu, ia berucap kepada seorang pelayan laki-laki, “Bila ada seorang anak muda membawa surat kepadamu, tahanlah ia dan bawalah ia masuk ke dalam rumah!”&lt;br /&gt;Ternyata, selepas itu, anak muda itu tiada lagi kabar beritanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa lama kemudian sang hartawan naik haji. Dan, ketika ia sedang bertawaf, seorang anak muda bertubuh kerempeng dan berpenampilan kuyu menghampirinya serta lama mencermati dirinya. Selepas ia bertawaf, anak muda itu lantas mengikuti jejak langkahnya dan kemudian mendekatinya seraya berucap pelan kepadanya, “Wahai Tuan, apakah Tuan tak mengenal saya?”&lt;br /&gt;“Siapakah engkau, wahai anak muda?”&lt;br /&gt;“Saya adalah penulis kedua pucuk surat yang Tuan terima.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pengakuan yang demikian, sang hartawan pun tak kuasa menahan dirinya. Ia pun memeluk lama anak muda itu. Dan, kemudian, ucapnya, “Wahai anak muda! Demi ayah dan ibuku sebagai tebusanku, demi Allah engkau benar-benar membuatku kebingungan dan gelisah. Engkau begitu rapi menyembunyikan identitasmu. Kini, maukah engkau menerima apa yang selama ini kaupinta dariku?”&lt;br /&gt;“Wahai Tuan,” jawab anak muda itu dengan nada suara sopan dan santun. “Kiranya Allah memberkahi dan membahagiakan Tuan. Saya sengaja menemui Tuan tak lain hanyalah untuk meminta dihalalkan Tuan. Sebab, saya telah memandang seorang gadis milik Tuan dengan cara yang menyimpang dari tuntunan Al-Quran dan Sunnah. Cinta memang mengundang timbulnya godaan besar. Saya memohon ampun kepada Allah Yang Mahabesar.”&lt;br /&gt;“Wahai anak muda, aku ingin agar engkau mau bersamaku ke rumahku. Sehingga, aku terhibur olehmu dan silaturahmi di antara kita terjalin erat.”&lt;br /&gt;“Wahai Tuan, sayang tiada jalan untuk itu.”&lt;br /&gt;“Kiranya Allah mengampuni dosamu, anak muda. Sungguh, pelayan yang engkau cintai itu akan kuserahkan kepadamu, berikut dengan uang sebanyak uang sebanyak seratus dinar. Selain itu, setiap tahun engkau akan kukirim dana sebanyak itu.”&lt;br /&gt;“Kiranya Allah memberkahi Tuan. Andai tiada janji yang telah saya ikrarkan kepada-Nya dan pelbagai hal yang telah saya nazarkan untuk saya lakukannya, tentu tiada sesuatu pun di dunia ini yang saya sukai selain sesuatu yang Tuan tawarkan kepada saya ini. Tapi, kini tiada jalan untuk itu. Saya telah menjauhi hal-hal yang bercorak duniawi.”&lt;br /&gt;“Wahai anak muda. Bila engkau menolak pemberianku itu, maukah engkau menuturkan kepadaku, siapakah sejatinya gadis yang engkau cintai. Ini, agar aku dapat menghormatinya, demi engkau, selama hidupku?”&lt;br /&gt;“Wahai Tuan, saya tak akan menyebutkan jati dirinya kepada siapa pun.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, anak muda itu kemudian berdiri dan pergi meninggalkan sang hartawan. Sang hartawan pun hanya kuasa memandang anak muda itu berlalu dan akhirnya menghilang dari pandangannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-8609384327292413397?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/8609384327292413397/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=8609384327292413397&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8609384327292413397'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/8609384327292413397'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2011/01/ketika-cinta-dipandang-sebagai-godaan.html' title='Ketika Cinta Dipandang Sebagai Godaan'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TSKMkKai7KI/AAAAAAAAAiU/FEL0ZdIycns/s72-c/prettywoman-01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-624856759352607903</id><published>2010-12-28T07:53:00.006+07:00</published><updated>2010-12-29T15:20:03.884+07:00</updated><title type='text'>Kisah Petualangan Ibn Baththuthah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TRk1cELeWMI/AAAAAAAAAh8/WiK3MtpCOw0/s1600/batuta.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 300px; height: 218px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TRk1cELeWMI/AAAAAAAAAh8/WiK3MtpCOw0/s400/batuta.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5555530371612694722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;“Ibn Baththuthah, betapa jauh nian jarak yang engkau tempuh dalam petualanganmu,” gumam penulis ketika sedang membaca sebuah karya tentang pengelana yang satu itu. Entah kenapa, saat ini penulis sedang “menggemari” pelbagai karya yang berkaitan dengan tokoh asal Maroko itu. Satu demi satu, pelbagai karya tentang tokoh berdarah Berber itu mulai berada di tangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, bagaimanakah sejatinya kisah petualangan tokoh  yang satu ini: kisah perjalanan yang menyita sekitar seperempat abad dari usianya, suatu perjalanan luar biasa, hingga untuk ukuran dewasa ini sekalipun?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pada 750 H/1349 M,” demikian tutur Douglas Bullis dan Norman MacDonald dalam tulisannya “From Pilgrim to World Traveler” (Saudi Aramco World, Juli/Agustus, 2000), “seorang penunggang kuda berpakaian lusuh dan berusia tengah baya berjalan pelan menuju Kota Tangier, yang terletak di sebuah pantai Afrika Utara. Ketika ia meninggalkan kota kelahirannya, Tangier, 24 tahun sebelumnya (pada masa pemerintahan Dinasti Mariniyyah), ia tak pernah merancang akan melakukan perjalanan yang ternyata kemudian “memakan” masa mudanya hingga ia memasuki usia tengah baya baru kembali ke kota kelahirannya itu. Ya, seperempat abad hidupnya berlangsung dalam petualangan. Dan, selama itu, sekalipun ia tak pernah menengok bumi kelahirannya!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kedua mata pria tengah baya itu menatap kota kelahirannya, tokoh yang lahir pada Senin, 17 Rajab  703  H/ 24 Februari l304 M dengan nama lengkap Syamsuddin  Abu  ‘Abdullah Muhammad bin ‘Abdullah  bin  Muhammad  bin Ibrahim  bin Yusuf Al-Lawati Al-Thanji dan lebih terkenal dengan Ibn Baththuthah itu pun segera mencermati, satu demi satu, rumah-rumah yang menempati suatu lokasi melengkung sepanjang tepi Lautan Atlantik. Kala itu, ia mencoba “menampilkan kembali” seluruh rekaman kota yang telah ia tinggalkan semenjak sekitar seperempat abad sebelumnya. Segera, kenangannya ketika ia memulai kelana panjangnya pun muncul dalam benaknya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada 725 H/1325 M, kala baru berusia sekitar 21 tahun, anak muda berdarah Berber itu dengan perasaan enggan meninggalkan kedua orang tuanya, dengan bekal seekor kuda, uang, dan kain ihram, dengan tujuan untuk naik haji ke Makkah lewat jalan darat. Kota Suci itu berjarak sekitar 5.000 kilometer dari kota kelahirannya. Wajar, bila ia merasa gamang, karena merasa ia belum tentu bisa kembali lagi ke bumi kelahirannya. Berdasarkan penuturan jiran-jirannya yang pernah naik haji sebelumnya, perjalanan antara Tangier dan Makkah kala itu bukanlah perjalanan yang ringan dan aman. Apalagi, perjalanannya  ke Makkah itu merupakan awal perjalanannya menempuh jarak ribuan kilometer. Dimulai dari Tangier, Maroko, lantas menuju Damaskus, dan kemudian Madinah hingga ke Makkah. Medan yang ia lintasi kala itu pun cukup berbahaya dan rawan gangguan keamanan, seperti melintasi gurun sahara, pegunungan, dan Sungai Nil. &lt;br /&gt;Ternyata, rasa takut Ibn Baththuthah terbukti. Ketika sedang di tengah-tengah perjalanan di gurun pasir, ia pernah bersua dengan sekelompok perampok. Malah, ia sempat berkelahi dengan kawanan perampok itu. Akibatnya, anak Maroko itu nyaris dibunuh kawanan perampok itu. Untung, ia mendapatkan pertolongan dari salah seorang pimpinan perampok tersebut. Selamatlah ia!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perjalanan Ibn Baththuthah bersama para jamaah Tangier lainnya itu, menempuh keringnya hawa Laut Mediterranea dan di tengah teriknya daratan berpasir Afrika Utara, hanya dengan berjalan kaki. Selepas menempuh jarak sekitar 3.500 kilometer, Kota Alexandria menjadi kota pertama yang ia singgahi. Selepas itu, ia mampir di Kairo beberapa lama. Dari Kairo, ia kemudian melanjutkan perjalanannnya dengan melintasi rute yang melalui Kota Bait Al-Maqdis, Aleppo, dan Damaskus, bersama kafilah para jamaah haji yang menuju Makkah. Tetap dengan berjalan kaki. Rombongan itu berhasil mencapai Makkah dalam waktu 18 bulan, pada Dzulqa‘dah 726 H/Oktober 1326 M. Sebulan menjelang dimulainya ibadah haji tahun itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, selepas itu, jarak yang kemudian Ibn Baththutah lintasi tak hanya sekitar 5.000 kilometer saja. Tapi, lebih dari 100.000 kilometer! Hal itu berbeda sekali dengan langkah sebagian besar kaum Muslim kala itu yang selepas naik haji lantas kembali ke negeri mereka, karena kondisi kala itu tak memungkinkan mereka berlama-lama berada di tengah-tengah perjalanan. Tentu saja, karena keamanan dan sarana transportasi belum terjamin dan selancar dewasa ini. Ketika Ibn Baththuthah memulai kelananya, hal itu terjadi lebih dari 125 tahun sebelum Christopher Columbus, Vasco da Gama, dan Ferdinand Magellan melakukan kelananya. Tak aneh jika Ibn Baththuthah kerap disebut sebagai “pengelana masa pertengahan” dan “pengelana seluruh kawasan dunia Islam” di masanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, Ibn Baththuthah adalah seorang pengelana dan petualang sejati. Mengapa? &lt;br /&gt;Karena lewat petualangan dan kelana tersebut, ia berkesempatan mengunjungi  pelbagai kawasan dunia kala itu: Spanyol, Rusia, Turki, Persia, India, China, dan seluruh Semenanjung Arab. Tidak hanya itu. Catatannya tentang pelbagai kawasan yang ia kunjungi, baik apakah tentang aspek keagamaan, sosial, dan politik, mampu memberikan gambaran dan pencerahan tentang kebudayaan yang berkembang di kawasan yang ia kunjungi itu. Menurut para pakar, jarak yang dilintasi Ibn Baththuthah dalam perjalanannya itu tak tertandingi oleh siapa pun hingga ditemukannya kapal uap. Termasuk Marco Polo, Magellan, dan Columbus! Tokoh suku Limatah, Berber, dan putra seorang qâdhî ini memang suka berkelana dan berpetualang.  Dua puluh delapan  tahun  dari usianya, antara 725-754  H/1325-1353  M,  ia habiskan di tengah-tengah perjalanan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas   mengunjungi  Makkah untuk menunaikan ibadah haji,  Ibn  Baththuthah   lantas   menuju Madinah,  Damaskus (selama di kota ini ia menikah dan memiliki seorang putra yang tak pernah bertemu dengannya), Irak, Iran, lalu kembali ke Makkah. Di Kota Suci itu, untuk kedua kalinya, ia bermukim selama tiga tahun. Selama itu, pengelana yang haus ilmu ini kemudian menimba ilmu kepada sejumlah ulama dan ilmuwan.  Puas menimba ilmu, dari  Tanah Suci ia lantas mengayunkan langkah-langkahnya ke Yaman, lantas menyeberangi  Laut Merah  menuju  Afrika dan mengunjungi Ethiopia, Mogadishu, Mombassa, Zanzibar, dan Kilwa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Somalia  Ibn Baththuthah kemudian menapakkan kaki   menuju  Suriah. Selepas melintasi Suriah, ia kemudian memasuki wilayah Anatolia (kala itu berada di bawah kekuasaan Dinasti Saljuq), Turki, naik sebuah kapal Genoa. Dari Alanya, ia kemudian menuju Konya lewat jalan darat. Selepas itu, ia menuju Sinope yang terletak di tepi Laut Hitam. Perjalanannya selanjutnya mengantarkannya ke Caffa (kini Theodisia), Ozbeg, dan Astrakhan. Dari Astrakhan, ia kemudian balik ke Constantinople (kini Istanbul dan kala itu masih di bawah kekuasaan Kekaisaran Romawi Timur). Betapa ia sangat mengagumi kota terakhir itu. Di kota itu, menurut catatannya, ia melihat banyak pendeta dan biarawati. Di kota  itu pula, ia bertemu dengan Kaisar Andronicus III Palaelogus dan mengunjungi St. Hagia Sophia. Tapi, ia menolak masuk ke dalam gereja itu (kala itu belum lagi diubah menjadi masjid, karena masih di bawah kekuasaan Kekairan Romawi Timur). Alasannya, ia tak mau melintas di bawah palang salib. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas sekitar satu bulan berada di Constantinople, Ibn Baththuthah kemudian balik lagi ke Astrakhan. Dari Astrakhan, dengan melintasi Laut Kaspia dan Aral, ia kemudian menuju Bukhara dan Samarkand. Dari Bukhara dan Samarkand, ia kemudian mengarahkan perjalanan ke selatan, menuju Afghanistan. Selepas itu, India  menjadi kawasan berikutnya yang  ia  kunjungi. Kala itu, India berada di bawah kekuasaan Dinasti Tughluq dan di bawah pimpinan Ghiyatsuddin Muhammad Syah II  (726-752 H/1325-1351 M). Selama di Benua India itu, ia menikah kembali dan memiliki seorang putri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas selama sekitar delapan tahun bermukim di India, antara lain menjabat sebagai seorang qâdhî, Ibn Baththuthah lantas  menuju  China, sebagai duta Kesultanan Delhi kepada penguasa China kala itu. Rombongan diplomatik ini berangkat pada akhir musim panas pada tahun 741 H/1341 M menuju pelabuhan Cambay. Namun, di tengah perjalanan, mereka diserang pemberontak Hindu yang menguasai daerah pedesaan India. Ibn Baththuthah tertangkap. Tapi, kemudian ia berhasil melarikan diri dan bergabung dengan rombongan yang tersisa. Mereka pun meneruskan perjalanan menuju China yang kala itu di  bawah kekuasaan Dinasti Yuan. “Oh, ternyata tiada warga dunia mana pun yang lebih kaya ketimbang warga China,” tulisnya tentang negeri satu itu. Di China, ia antara lain berkunjung ke Hangchow dan Beijing. “Hangchow adalah kota terbesar di dunia yang pernah kulihat,” tulis lebih lanjut sang pengelana yang satu ini. &lt;br /&gt;Usai dari China, Ibn Baththuthah lantas mampir di Indonesia selama 15 hari dan tak kembali ke India.  Dari  Indonesia  ia lantas menuju  ke  kawasan  Teluk Persia dan berhenti beberapa lama di Kepulauan Maldive. Nah, di kepulauan itu, ia menikah kembali dan memiliki seorang putra. Tuturnya tentang perkawinan di kepulauan itu kala itu, “Di kepulauan ini, mudah sekali bagi seorang untuk melangsungkan pernikahan. Ini karena ia tak perlu membayar mahal mahar…Tak aneh, ketika sebuah kapal berlabuh di pula itu, para awak kapal pun segera menikahi perempuan-perempuan kepulauan itu. Kemudian, ketika akan berangkat lagi, mereka pun menceraikan istri-istri mereka. Ini semacam nikah temporer. Kaum perempuan kepulauan itu tidak pernah meninggalkan negeri mereka.” &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas beberapa lama di Kepulauan Maldive, Ibn Baththuthah lantas meneruskan perjalanannya menuju Damaskus, Suriah. Di kota terakhir ini, ia bermaksud bertemu dengan seorang putranya yang ia tinggalkan 20 tahun sebelumnya. Ternyata, sang putra telah berpulang 15 tahun sebelum kedatangannya kembali ke kota itu. Selepas beberapa lama di Damaskus, ia kemudian meneruskan perjalanannya menuju  Mesir. Tapi, segera ia meninggalkan Mesir, karena negeri itu kala itu sedang dihajar wabah kolera. Andalusia  (kini  Spanyol)  menjadi  tempat  kunjungannya   yang berikut, sesudah itu ia menuju kawasan Afrika Tengah. Terminal terakhir perjalanannya adalah Fez, Maroko. Ia tiba di kota tersebut pada 756 H/1357 M. Di kota itu pulalah, ia selepas sempat mengunjungi Andalusia, pada 770 H/1368-69 atau 779  H/1377  M,  ia berpulang.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah  petualangan Ibn Baththuthah  yang panjang  dan sangat menarik itu kemudian, atas permintaan penguasa Maroko kala itu, Abu ‘Inan Faris, ia tuangkan dalam karya  besarnya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tuhfah  Al-Nazhâr fî Gharâ’ib Al-Amshâr wa ‘Ajâib  Al-Asfâr &lt;/span&gt; yang juga dikenal dengan judul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Rihlah Ibn Baththûthah&lt;/span&gt;, sebuah karya yang baru ditemukan 300 tahun kemudian di Aljazair. Karya yang satu ini berisi catatan mengenai negara-negara yang ia kunjungi. Kini, naskah asli karya ini tersimpan di Perpustakaan Nasional  Perancis di Paris dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa  asing, antara  lain  ke  dalam bahasa Inggris (1245  H/1829  M),  bahasa Jerman  (1331 H/1912 M), dan berbagai bahasa Eropa lainnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah kisah perjalanan panjang Ibn Baththuthah. Kisah perjalanan yang membuat dirinya tertoreh sebagai “pengelana sejati” dan memberikan banyak inspirasi bagi para pengelana dan petualang selepas ia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-624856759352607903?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/624856759352607903/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=624856759352607903&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/624856759352607903'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/624856759352607903'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2010/12/kisah-petualangan-ibn-baththuthah.html' title='Kisah Petualangan Ibn Baththuthah'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TRk1cELeWMI/AAAAAAAAAh8/WiK3MtpCOw0/s72-c/batuta.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-4775015430768552995</id><published>2010-12-19T09:17:00.002+07:00</published><updated>2010-12-19T09:20:37.022+07:00</updated><title type='text'>Nasruddin Hoca dan 2 Perempuan Elok nan Jelita</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TQ1r7aWNdLI/AAAAAAAAAhg/p6u6L1zB7WA/s1600/hoja%2Bnasreddin.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 300px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TQ1r7aWNdLI/AAAAAAAAAhg/p6u6L1zB7WA/s400/hoja%2Bnasreddin.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5552212584046621874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Mulla Nasruddin Hoca, tentu Anda mengenal dia. Seperti telah dikemukakan dalam salah satu tulisan dalam blog ini, menurut kisah-kisah yang beredar, tokoh yang satu ini adalah seorang sufi jenaka yang kadang bertindak “kurang waras”.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Padahal,  menurut Dr. Muhammad Rajab Al-Najjar, dalam karyanya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Juha Al-‘Arabi&lt;/span&gt;, mulla yang satu ini sejatinya bukan sosok yang “kurang waras” alias sangat bego. Sebaliknya, ia adalah sosok yang berusaha mendekati segala persoalan yang ia hadapi dari aspek-aspek yang paling dekat dengan kebenaran dan kenyataan. Karena itu, bagi orang-orang lain yang tidak menyukai kebenaran, sosok Nasruddin Hoja merupakan sosok yang kontradiktif. Tak aneh, bila Sultan ‘Abdul Hamid II, seorang penguasa Turki, pernah melarang beredarnya “kisah-kisah tentang Nasruddin Hoca”. Sang penguasa khawatir, kisah-kisah itu dapat membangkitkan perlawanan rakyat Turki terhadap penguasa. Utamanya, penguasa yang otoriter dan salah dalam mengurus negara dan rakyat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu dikemukakan, aspek sosiallah yang paling acap mendapat sindiran dan sentilan dari Mulla Nasruddin Hoja. Salah satunya adalah kisah berikut yang mengungkapkan bahwa kala itu suap ternyata tak hanya berbentuk materi saja. Tapi, suap kadang juga berbentuk “hidangan” perempuan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu saat, ketika Mulla Nasruddin Hoca masih menjabat sebagai hakim, dua perempuan elok dan jelita menghadap kepadanya. Kemudian, salah seorang di antara dua perempuan itu berucap kepada Nasruddin, “Tuan Hakim Nasruddin! Sesuai persepakatan kerja di antara kami berdua, saya meminta perempuan itu membuatkan saya benang-benang besar seperti rambut saya ini. Tapi, ternyata, ia ingkar janji. Ia membuatkan saya benang-benang halus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, perempuan itu lantas melepas penutup mukanya yang bagaikan bulan purnama dan menunjukkan rambutnya yang keemasan bagaikan jalinan emas kepada Mulla Nasruddin Hoca seraya berbisik, “Nasruddin, menangkan saya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perempuan kedua, yang tak kalah elok dan jelita dari perempuan pertama, pun menjawab, “Tuan Hakim Nasruddin! Berdasarkan persepakatan di antara kami berdua, benang-benang yang ia pesan sebesar kelingking saya ini. Bukan sebesar betis saya ini!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, perempuan kedua tersebut lantas menyingkapkan kainnya yang membalut betisnya nan putih, mulus, dan membangkitkan birahi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat perilaku dua perempuan itu, Mulla Nasruddin Hoca nyaris tak kuasa menahan diri. Tapi, selepas detak jantungnya tenang kembali, ia pun berucap kepada perempuan kedua yang elok dan jelita itu, “Sudah! Sudah! Janganlah engkau membuat benang-benang besar atau kecil yang dapat membuat jantung seperti jantungku ini tak kuat berdetak lagi!"&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-4775015430768552995?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/4775015430768552995/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=4775015430768552995&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4775015430768552995'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/4775015430768552995'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2010/12/nasruddin-hoca-dan-2-perempuan-elok-nan.html' title='Nasruddin Hoca dan 2 Perempuan Elok nan Jelita'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TQ1r7aWNdLI/AAAAAAAAAhg/p6u6L1zB7WA/s72-c/hoja%2Bnasreddin.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-2895619993855113271</id><published>2010-12-06T08:07:00.005+07:00</published><updated>2010-12-06T08:22:22.564+07:00</updated><title type='text'>Kado Cinta untuk Muslimah</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TPw5P0_QFpI/AAAAAAAAAhA/0VwZbMCFsB0/s1600/kadocintamizan0ke.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 310px; height: 400px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TPw5P0_QFpI/AAAAAAAAAhA/0VwZbMCFsB0/s400/kadocintamizan0ke.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5547371785098368658" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sore hari itu, Jumat, 3 Desember 2010 M, usai mendampingi para ustadz dan ustadzah yang mengajarkan tata cara membaca Al-Quran kepada sekitar 70 anak yang sedang mengaji di rumah, seorang kurir datang menyerahkan sebuah bungkusan. Ternyata, bungkusan yang berasal dari Penerbit Mizania, Bandung itu berisi lima buku berjudul &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kado Cinta untuk Muslimah&lt;/span&gt;. Menerima buku-buku tersebut, sebersit kebahagiaan “menyelinap” dalam kalbu. Tentu, penulis manapun akan merasa setiap kali menyaksikan karyanya terbit. Sejatinya, karena terlalu asyik dengan kegiatan penulisan sebuah karya lain, beberapa lama saya lupa pernah menyusun &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kado Cinta untuk Muslimah&lt;/span&gt; itu.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Karya yang baru terbit itu sendiri saya susun untuk menyempurnakan karya-karya saya sebelumnya yang merupakan untaian kisah-kisah pilihan tentang: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Teladan Indah dalam Ibadah, Rumah Cinta Rasulullah, Mutiara Akhlak Rasulullah, Wangi Akhlak Rasulullah&lt;/span&gt;, dan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pesan Indah dari Makkah dan Madinah&lt;/span&gt;. Semua karya itu diterbitkan Penerbit Mizania, Bandung. Selaras dengan judulnya, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kado Cinta untuk Muslimah &lt;/span&gt;menyajikan 60 fragmen memikat dan menawan yang berkaitan dengan kehidupan para Muslimah yang berkenaan cinta, pernikahan, kebahagiaan, keibuan, nilai-nilai luhur, perjuangan untuk meniti jalan lurus, dan lain-lainnya. Nah, salah satu kisah yang disajikan dalam &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kado Cinta untuk Muslimah&lt;/span&gt; adalah kisah berikut: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah mengapa hari itu Sari Al-Saqathi ingin menapakkan kakinya ke sebuah rumah sakit. Sari Al-Saqathi, atau lebih lengkapnya Abu Al-Hasan Sari Al-Mughallis Al-Saqathi, adalah seorang sufi di Badghdad Dar Al-Salam. Kebanyakan para tokoh sufi semasanya di Irak adalah murid sufi yang semula berprofesi pedagang loakan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin, dengan mengunjungi rumah sakit, sufi yang berpulang pada 253 H/867 M di usia sembilan puluh delapan tahun itu dapat berkaca dari orang-orang yang sedang tertimpa musibah. Ketika tiba di rumah sakit, entah mengapa kegelisahan dan kegalauan yang menyergap kalbunya tiba-tiba sirna. Tak berapa lama berada di rumah sakit, tiba-tiba pandangannya terpaku kepada seorang gadis cantik, tinggi, dan semampai tapi lunglai tanpa daya. Busana yang dikenakannya menunjukkan ia berasal dari kalangan berkecukupan. Harum wewangian dari tubuhnya pun segera menyergap penciuman sang sufi, begitu sang sufi dekat dengan gadis itu. Anehnya, kedua kaki dan tangannya terikat, sehingga membuatnya tak berdaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika si gadis melihat sang sufi, tiba-tiba lelehan air mata membasahi kedua pipinya. Kemudian ucapnya pelan, “Janganlah melecehkan aku. Kedua tangan dan kakiku terikat bukan karena salahku. Tak pernah aku berkhianat. Apalagi menipu!”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan yang demikian, Sari Al-Saqathi pun bertanya kepada seorang perawat di rumah sakit itu, “Siapakah gadis itu?”&lt;br /&gt;“Ia adalah seorang budak yang sedang sakit jiwa. Majikannya lantas mengikatnya, barang kali dapat membuatnya sehat sebagaimana sedia kala,” jawab perawat itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian tampak, oleh Sari Al-Saqathi, lelehan air mata gadis itu kian tak terbendung begitu mendengar ucapan perawat itu. Kemudian, ucap gadis itu pelan, “Duh, manusia! Aku tidak gila. Sejatinya, aku sedang terbuai cinta. Tapi, kalbuku tetap sebagaimana sedia kala. Kalian mengikat kedua tanganku. Padahal, tiada salah apa pun yang kuperbuat, kecuali upayaku untuk mencintai-Nya. Aku sedang terbuai oleh cinta kepada Kekasihku. Kesembuhanku terletak pada sesuatu yang menurut kalian merusakkan diriku. Dan, kerusakanku terletak pada sesuatu yang menurut kalian membuat kesembuhanku.”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan gadis itu, tak terasa lelehan air mata menghiasi kedua pipi Sari Al-Saqathi. Melihat lelehan air mata di kedua pipi sang sufi, tiba-tiba gadis itu berucap kepadanya, “Wahai Sari Al-Saqathi! Apakah hanya karena keluhanku tadi engkau menangis? Bagaimanakah andai engkau benar-benar mengenal Kekasihku?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seusai berucap demikian, gadis itu langsung tak sadarkan diri. Dan, beberapa saat selepas tak sadarkan diri, gadis itu kemudian siuman kembali. Lalu ucapnya lirih, “Kalbuku merintih menyesali perilakuku di masa yang lalu. Sedangkan jiwa dalam tubuhku merupakan penyebab sakitku. Kini, hanya kerinduan, cinta, dan asmaraku kepada-Nyalah yang mewarnai kalbuku. Kepada-Nyalah, kini, aku mengetuk pintu maaf-Nya dan Dia tahu apa yang tertoreh di relung kalbuku.”&lt;br /&gt;Mendengar ucapan gadis tersebut, Sari Al-Saqathi tak kuasa menahan dirinya untuk bertanya kepadanya, “Saudariku.”&lt;br /&gt;“Ada apa, Sari Al-Saqathi?”&lt;br /&gt;“Dari mana engkau mengenalku?”&lt;br /&gt;“Sejak engkau tiba di sini, aku telah mengenalmu. Orang yang setara dalam keimanan akan segera saling mengenal.”&lt;br /&gt;“Kudengar engkau tadi menyebut kata-kata cinta. Kepada siapakah engkau sedang jatuh cinta?”&lt;br /&gt;“Kepada Yang menyadarkan kita akan karunia-Nya. Juga, Yang begitu dekat dengan kalbu kita.”&lt;br /&gt;“Siapakah yang membuatmu dalam keadaan terikat begini?”&lt;br /&gt;“Orang-orang yang iri dan dengki kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiba-tiba gadis itu kembali tak sadarkan diri. Tapi, tak berapa lama kemudian, ia siuman kembali. Lalu, ucapnya pelan, “Tuhanku! Seorang hamba-Mu telah berbuat dosa. Kini, kalbunya senantiasa menangis karena takut kepada-Mu. Jadikanlah lelehan air matanya pembuka jalan menuju ampunan-Mu.”&lt;br /&gt;Sari Al-Saqathi kemudian meminta kepada perawat rumah sakit untuk melepaskan tali yang mengikat kedua tangan dan kaki gadis itu. Lalu, ucapnya kepada gadis itu, “Kini, pergilah ke mana engkau kehendaki.”&lt;br /&gt;“Sari! Ke mana aku harus menapakkan kedua kaki? Aku ini tak punya tempat bernaung diri. Kekasih kalbuku membuatku dimiliki salah seorang hamba-Nya. Bila ia rela melepaskanku, aku akan pergi. Bila tidak, aku akan menahan diri untuk tak melangkahkan kaki.”&lt;br /&gt;Tak berapa lama kemudian majikan gadis itu muncul. Ia pun bertanya kepada si perawat, “Di manakah Tuhfah?”&lt;br /&gt;“Ia ada di dalam, bersama Tuan Sari Al-Saqathi,” jawab si perawat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahu Sari Al-Saqathi bersama gadis itu, orang itu lalu masuk ke dalam dan menyambutnya dengan perasaan gembira. Sari Al-Saqathi pun berucap kepadanya, “Gadis ini lebih layak engkau hormati ketimbang aku. Apa yang membuat engkau membencinya?”&lt;br /&gt;“Banyak hal,” jawab orang itu. “Ia tak mau makan dan minum serta acap menangis dan tak sadarkan diri. Ia juga tak mau tidur dan membuat kami tak bias tidur. Kami membelinya dengan harga mahal: dua puluh ribu dirham. Kami berharap mendapat keuntungan besar dengan membeli budak yang satu ini. Ia cantik dan cerdas. Lagi pula, sebelum dalam keadaan begini, ia punya pekerjaan yang membuat dirinya diminati para pembeli.”&lt;br /&gt;“Apa pekerjaannya sebelum ini?”&lt;br /&gt;“Biduan!”&lt;br /&gt;“Sejak kapan ia menderita keadaan seperti ini?”&lt;br /&gt;“Sekitar setahun yang lepas.”&lt;br /&gt;“Bagaimana asal mulanya ia menderita keadaan seperti ini?”&lt;br /&gt;“Suatu hari, ketika sedang menyanyi, tiba-tiba ia berdiri, menangis, dan membanting kecapinya. Lalu, ia menggumamkan kata-kata tak jelas. Tapi, dari kata-katanya, tampak ia sedang jatuh cinta. Kami menanyainya. Tapi, ia tak mengaku.”&lt;br /&gt;“Bila begitu, akan kubayar harganya. Malah, dengan harga yang jauh lebih mahal.”&lt;br /&gt;“Tuan Al-Saqathi! Dari mana engkau akan mendapatkan uang sebanyak itu? Bukankah engkau adalah seorang sufi miskin?”&lt;br /&gt;“Itu persoalan mudah. Untuk sementara ini, biarkanlah gadis ini tetap berada di rumah sakit ini. Hingga aku kuasa membayar harganya.”&lt;br /&gt;Sari Al-Saqathi kemudian meninggalkan rumah sakit itu dengan hati yang perih dan bingung bagaimana kuasa mendapatkan uang dalam jumlah yang tak sedikit itu. Malam harinya, tanpa mengenal henti, ia berdoa kepada Allah Swt., “Ya Allah! Engkau mengetahui segala hal-ihwal diriku. Baik yang nyata maupun yang tak kasat mata. Tuhanku! Hanya kepada-Mu aku memohon karunia!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Sari Al-Saqathi sedang merenung di tempat sembahyang, tiba-tiba pintu rumahnya ada yang mengetuknya. Ia pun  bertanya, “Siapa di luar?”&lt;br /&gt;“Seseorang yang mendapat perintah dari Pemiliknya untuk datang ke sini.”&lt;br /&gt;Ketika Sari Al-Saqathi pun membuka pintu, di hadapannya muncul seorang pria dan empat anak muda yang membawa kantung berisi sesuatu. Pria itu pun berkata, “Bolehkah saya masuk ke dalam?”&lt;br /&gt;“Siapakah engkau?”&lt;br /&gt;“Saya adalah Ahmad bin Al-Mutsanna. Zat yang tak pernah berlaku pelit telah memberi saya karunia harta yang tak terkira. Tadi, ketika sedang tidur, saya bermimpi mendapatkan perintah dari Yang memiliki harta ini untuk membawa lima kantung uang kepadamu. Saya juga mendapat pesan, bayarkanlah uang ini kepada majikan Tuhfah.”&lt;br /&gt;Sari Al-Saqathi langsung bersujud syukur atas karunia tak terkira tersebut. Selepas melaksanakan shalat subuh, ia pun keluar dengan mengajak serta Ahmad bin Al-Mutsanna pergi ke rumah sakit. Ketika tiba di sana, mereka langsung dipersilakan masuk. Melihat kedatangan mereka, kedua mata pun Tuhfah berkaca-kaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lama mereka duduk, muncullah majikan Tuhfah dengan wajah sedih. Sari Al-Saqathi pun berucap kepadanya, “Bergembiralah! Kami datang dengan memberi keuntungan lima ribu dirham bagimu!”&lt;br /&gt;“Demi Allah, tidak!”&lt;br /&gt;“Sepuluh ribu dirham!”&lt;br /&gt;“Demi Allah, tidak!”&lt;br /&gt;“Sepuluh ribu dirham lagi!”&lt;br /&gt;“Demi Allah, andai seluruh isi dunia ini engkau serahkan kepada saya, semua itu tak akan saya terima. Tuhfah kini merdeka. Demi Allah semata!”&lt;br /&gt;“Bagaimana ceritanya hingga engkau mengambil keputusan demikian ini?”&lt;br /&gt;“Semalam saya mengambil keputusan untuk menyedekahkan seluruh harta kekayaan saya di jalan Allah. Ya Allah! Engkaulah yang mencukupi segala keperluanku dan mengaruniakan rezeki kepadaku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sari Al-Saqathi kemudian berpaling kepada Ahmad bin Al-Mutsanna. Segera tampak oleh Sari Al-Saqathi, lelehan air mata membasahi kedua pipi Ahmad bin Al-Mutsanna. Sari Al-Saqathi pun berucap kepadanya, “Saudaraku! Mengapa engkau bersedih?”&lt;br /&gt;“Saya merasa, seakan Yang Benar tak menerima apa yang telah saya lakukan. Sungguh, demi Allah, seluruh harta kekayaan saya telah saya sedekahkan demi Allah semata.”&lt;br /&gt;“Betapa besar berkah Tuhfah bagi semua orang,” ucap Sari Al-Saqathi penuh kekaguman.&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Sari Al-Saqathi yang demikian, tiba-tiba Tuhfah berdiri dan melangkah pergi seraya menangis. Sari Al-Saqathi pun bertanya kepadanya, “Allah telah membebaskanmu. Mengapa engkau menangis?”&lt;br /&gt;“Aku lari darinya menuju kepada-Nya. Aku menangis karena tindakannya hanya untuk-Nya. Kini, hak-Nya terhadap diriku masih tetap di tangan-Nya, hingga aku meraih apa yang kuharapkan kepada-Nya,” jawab Tuhfah seraya melangkah pergi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmat &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kado Cinta untuk Muslimah &lt;/span&gt;serta mohon kritik dan masukan para pembaca budiman!&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-2895619993855113271?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/2895619993855113271/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=2895619993855113271&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2895619993855113271'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/2895619993855113271'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2010/12/kado-cinta-untuk-muslimah.html' title='Kado Cinta untuk Muslimah'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TPw5P0_QFpI/AAAAAAAAAhA/0VwZbMCFsB0/s72-c/kadocintamizan0ke.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-6493277292259723105</id><published>2010-11-21T14:59:00.003+07:00</published><updated>2010-11-21T15:01:40.175+07:00</updated><title type='text'>Nasihat Seorang Ulama Berhati Bening</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TOjRtJTz6KI/AAAAAAAAAg4/hCzpO1mZzxo/s1600/CopyofsepiaMadinah3.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 274px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TOjRtJTz6KI/AAAAAAAAAg4/hCzpO1mZzxo/s400/CopyofsepiaMadinah3.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5541909915002726562" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kemarin sore, Sabtu, 20 November 2010, tak lama setiba di rumah, dari Kota Bandung yang macet, saya pun membuka facebook.  Begitu melihat sebuah foto (lihat facebook “Simbah Kakung”) yang menampilkan adegan Gus Mus sedang berjabat tangan dengan seorang pejabat utama negeri ini, entah kenapa saya lama tercenung dan termenung. Lama saya mencoba mencermati dan “membaca” foto itu. Dari pelbagai sisi. Saya pun mencoba membayangkan, dialog di antara dua tokoh itu. Tapi, gagal. Tentu saja, karena yang tahu dialog yang berlangsung di antara dua tokoh itu adalah Gus Mus sendiri dan beberapa orang di sekitar kejadian itu. Dan, tak lama selepas itu, saya pun bergumam pelan, “Andai saja Gus Mus mau bercerita tentang apa yang terjadi ketika foto itu diambil. Andai saja, Gus.”&lt;br /&gt;Kemudian, ketika kian lama mencermati dan “membaca” foto itu, entah kenapa tiba-tiba dalam benak saya “menggeliat” kenangan tentang dialog yang terjadi antara Sulaiman bin ‘Abdul Malik dan Abu Hazim: dialog antara seorang penguasa dan seorang ulama berhati bening. Dialog itu adalah sebagai berikut: &lt;br /&gt;“Wahai Abu Hazim, mengapa begitu dingin sambutanmu kepadaku?” tanya Sulaiman bin ‘Abdul Malik, penguasa ke-7 Dinasti Umawiyyah di Damaskus, Suriah, ketika berada di tempat kediaman seorang ulama terkemuka Madinah Al-Munawwarah kala itu, Abu Hazim Salamah bin Abu Dinar. Kala itu sendiri, putra kedua ‘Abdul Malik bin Marwan itu sedang beristirahat di Kota Nabi, alias Madinah Al-Munawwarah, di tengah perjalanan menuju Makkah dengan tujuan untuk menunaikan ibadah haji.&lt;br /&gt;“Mengapa demikian, wahai Amir Al-Mukminin?” jawab ulama berambut pirang yang terkenal enggan menemui penguasa.&lt;br /&gt;“Masyarakat Kota Nabi ini begitu bersemangat menyambutku. Sedangkan engkau tak mau datang menemuiku. Engkau hanya mau menemuiku selepas aku mendatangimu!”&lt;br /&gt;“Saya berlindung kepada Allah Swt. Kiranya engkau tak menyatakan sesuatu yang tak engkau alami. Apa yang terjadi antara diriku dan dirimu tentu sepenuhnya telah engkau ketahui!”&lt;br /&gt;“Engkau benar, wahai Abu Hazim,” sahut sang penguasa seraya menganggukkan kepalanya. Dan, selepas berdiam diri beberapa lama, kemudian ia berucap, “Wahai Guru, mengapakah orang-orang tampak begitu betah di dunia, sedangkan pesona duniawi sejatinya hanya semu belaka?”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin,” sahut ulama berdarah Persia dan mantan budak Al-Aswad bin Sufyan Al-Makhzumi itu. “Itu karena mereka sibuk membangun dunia. Tapi, mereka lupa membangun akhirat. Itulah sebabnya, kami enggan mengikuti jejak langkahmu!”&lt;br /&gt;Mendengar jawaban demikian, penguasa yang lebih banyak  mencurahkan  waktunya untuk menghadapi  gempuran  pasukan Bizantium  dan  memburu  orang-orang  yang  pernah berusaha  menggeser kedudukannya  sebagai putra mahkota itu sejenak menarik napas panjang. Dan, beberapa saat kemudian, ia bertanya lagi, “Wahai Abu Hazim! Bagaimanakah gambaran orang yang ingin menghadap kepada Allah Swt.?”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin! Adapun orang yang senantiasa berbuat kebaikan, ia laksana orang yang usai menempuh perjalanan lama dan kembali kepada keluarganya (sangat bersemangat dan gembira). Sedangkan orang yang berbuat kejahatan, ia laksana budak yang melarikan diri dan kemudian kembali kepada majikannya (sangat ketakutan).”&lt;br /&gt;“Duh, bila demikian halnya, bagaimanakah kedudukan diri saya ini di hadapan Allah Swt., wahai Abu Hazim?” keluh sang penguasa seraya merundukkan kepalanya.&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin! Arahkanlah dirimu pada Kitab Allah Swt. Lantas, renungkanlah firman-Nya, ‘Sungguh, orang-orang yang senantiasa berbakti benar-benar berada dalam surga yang sarat kenikmatan. Dan, sungguh, orang-orang yang durhaka benar-benar dalam neraka.” (QS Al-Infithâr [82]: 13-14).”&lt;br /&gt;“Wahai Abu Hazim, di manakah rahmat Allah?”&lt;br /&gt;“Berada di dekat orang-orang yang berbuat kebaikan!”&lt;br /&gt;“Siapakah orang yang paling berakal?”&lt;br /&gt;“Orang yang mencermati hikmah dan mengajarkannya kepada khalayak ramai!”&lt;br /&gt;“Siapakah hamba Allah Swt. yang paling mulia?”&lt;br /&gt;“Orang yang berbuat kebaikan dan bertakwa!”&lt;br /&gt;“Perbuatan apakah yang paling utama?”&lt;br /&gt;“Menunaikan hal yang fardhu dan menjauhkan diri dari hal yang haram!”&lt;br /&gt;“Perkataan apakah yang paling didengar orang?”&lt;br /&gt;“Perkataan benar kepada orang yang engkau takuti dan harapkan!”&lt;br /&gt;“Siapakah orang beriman yang paling pintar?”&lt;br /&gt;“Orang yang berusaha mematuhi Allah dan mengajak manusia mendekatkan diri kepada-Nya!”&lt;br /&gt;“Siapakah orang beriman yang merugi?”&lt;br /&gt;“Orang yang melangkah demi memenuhi hawa nafsu saudaranya dan melakukan tindakan aniaya. Orang yang demikian itu adalah orang yang menjual akhiratnya dengan mengambil dunia orang lain!”&lt;br /&gt;“Wahai Abu Hazim, bagaimanakah pendapatmu tentang diri kami?”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin! Apakah engkau akan memaafkan saya manakala saya berucap apa adanya?”&lt;br /&gt;“Tentu, karena itu adalah nasihat yang engkau kemukakan kepadaku!”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin! Kakek-kakekmu gemar memaksa orang-orang lain dengan pedang dan merebut kekuasaan dengan kekerasan dan tanpa bermusyawarah dengan kaum Muslim serta tanpa kerelaan mereka. Akibatnya, sebagian mereka binasa dalam suatu peperangan yang dahsyat. Kini, mereka semua telah berpulang. Andai engkau merasakan apa yang mereka rasakan dan apa yang dikatakan orang tentang diri mereka!”&lt;br /&gt;“Betapa buruk apa yang engkau ucapkan itu, wahai Abu Hazim!” sergah seseorang yang hadir di majelis itu.&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin,” ucap selanjutnya ulama yang berdarah Persia dan mantan budak Al-Aswad bin Sufyan Al-Makhzumi itu tanpa perasaan gentar sama sekali menerima sergahan demikian. “Sungguh, Allah telah mengambil ikatan janji terhadap para ulama dan ilmuwan untuk mengemukakannya kepada khalayak ramai dan tak menyembunyikannya!”&lt;br /&gt;“Bagaimanakah sebaiknya cara kita memperbaiki kerusakan ini?” tanya penguasa yang konon “petah berbicara, sombong, dan rakus” serta  mendirikan  Kota  Ramallah,   Palestina itu. &lt;br /&gt;“Ambillah hal-hal yang halal dan kemudian letakkanlah pada hal-hal yang benar!”&lt;br /&gt;“Siapakah yang kuasa melakukan hal yang demikian itu, wahai Abu Hazim?”&lt;br /&gt;“Orang yang memburu surga dan menghindarkan diri dari neraka!”&lt;br /&gt;Mendengar jawaban demikian, sejenak penguasa yang berpulang selepas  tiga  tahun menjadi penguasa, tepatnya  pada  Shafar  99 H/Oktober  717  M, diam merenung lama. Dan, kemudian, ia berucap, “Berdoalah untukku, wahai Abu Hazim.”&lt;br /&gt;Maka, Abu Hazim pun berdoa, “Ya Allah, Tuhanku! Jikalau Sulaiman memang seorang penguasa sejati, mudahkanlah ia dalam meraih kebaikan dunia dan akhirat. Sedangkan jikalau ia adalah seorang penguasa yang menjadi musuh-Mu, hancurkanlah kepalanya sesuai dengan yang Engkau kehendaki dan ridhai.”&lt;br /&gt;Seusai Abu Hazim berdoa demikian, Sulaiman bin ‘Abdul Malik kemudian berucap, “Wahai Abu Hazim! Berilah aku nasihat dan masukan.”&lt;br /&gt;“Baiklah, saya akan memberikan nasihat yang ringkas kepadamu, wahai Amir Al-Mukminin: agungkanlah Tuhanmu dan sucikanlah Dia bahwa Dia melihatmu dalam kaitannya dengan sesuatu yang Dia larang untuk dilakukan dan tak melihatmu dalam kaitannya dengan sesuatu yang Dia perintahkan untuk dilaksanakan!”&lt;br /&gt;Seusai menerima nasihat demikian, Sulaiman bin ‘Abdul Malik kemudian meninggalkan tempat kediaman Abu Hazim.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-6493277292259723105?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/6493277292259723105/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=6493277292259723105&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6493277292259723105'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/6493277292259723105'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2010/11/ketika-nasihat-seorang-ulama-berhati.html' title='Nasihat Seorang Ulama Berhati Bening'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/TOjRtJTz6KI/AAAAAAAAAg4/hCzpO1mZzxo/s72-c/CopyofsepiaMadinah3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-9143143589667740186</id><published>2010-04-15T05:55:00.001+07:00</published><updated>2010-04-15T05:57:56.108+07:00</updated><title type='text'>Nasihat untuk Seorang Penguasa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S8ZIawmcCWI/AAAAAAAAAgc/9S8sCCiK8nY/s1600/old+bagdad.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 268px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S8ZIawmcCWI/AAAAAAAAAgc/9S8sCCiK8nY/s400/old+bagdad.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5460131222793226594" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, ketika menyimak pelbagai kejadian dan peristiwa yang terjadi di pentas  politik Indonesia akhir-akhir ini, hati terasa kian gundah dan gelisah. Dan, selepas melaksanakan shalat subuh tadi pagi, saya menemukan sebuah kisah yang menarik. Sebuah kisah yang berisikan nasihat seorang ulama kepada seorang penguasa terkemuka: Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak. Sang penguasa terkenal sebagai pembangun awal dinasti tersebut. Berikut kisah itu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kirim segera utusan kepada Abu ‘Amr! Sampaikan kepadanya, aku mengundangnya ke Baghdad Dar Al-Salam!” demikian perintah Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa kedua Dinasti ‘Abbasiyyah, suatu hari kepada seorang pejabat, seusai membangun Kota Baghdad Dar Al-Salam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera seorang utusan pun dikirim untuk menjemput Abu ‘Amr yang sedang berada di tempat tinggalnya, sebuah desa di tepi pantai Beirut, Lebanon (saat itu masih termasuk wilayah Syam). Abu ‘Amr yang dimaksud sang penguasa itu tak lain adalah Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin  ‘Amr  bin  Yuhmid Al-Auza‘i yang lebih terkenal dengan panggilan Al-Auza‘i.  Ulama  yang  nenek  moyangnya berasal dari Auza‘ah, sebuah pedusunan di Yaman (menurut  sebuah sumber  lain  sebuah desa di Damaskus, Suriah)  ini  lahir  dalam keadaan  yatim  di Baalbek, Lebanon pada 88  H/707  M.  Selepas dewasa,  ia pindah ke Beirut untuk menimba dan memperdalam  ilmu. Di  kota itu pulalah tokoh yang menjadi saksi tumbangnya  Dinasti Umawiyyah dan tegaknya Dinasti ‘Abbasiyyah ini berpulang pada 157 H/774 M, dan  dikebumikan  di sebuah  tempat  yang  kini dikenal dengan sebutan Mahallah Al-Auza‘i.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Auza‘i tiba Baghdad Dar Al-Salam agak terlambat. Tentu, karena perjalanan yang ia tempuh, antara Beirut dan Baghdad, cukup jauh. Kemudian, ketika ia tiba di istana, Abu Ja‘far Al-Manshur pun segera mempersilakan sang ulama duduk. Dan, selepas berbagi sapa sejenak dengan sang tamu, Al-Manshur bertanya kepadanya, “Wahai Abu ‘Amr! Mengapa engkau datang terlambat? &lt;br /&gt;“Tentu engkau tahu, berapa lama perjalanan antara bumi kelahiranku dan kota Baghdad ini. Apa sejatinya yang engkau inginkan dariku, wahai Amir Al-Mukminin?”&lt;br /&gt;“Aku ingin menimba ilmu dan hikmah kepadamu!”&lt;br /&gt;“Bila demikian halnya, acaplah merenung, wahai Amir Al-Mukminin! Agar sesuatu yang kukemukakan tak mudah engkau lupakan.”&lt;br /&gt;“Wahai Abu ‘Amr! Bagaimana sesuatu yang kutanyakan kepadamu akan kulalaikan? Bukankah karena hal itu pulalah kuhadapkan diriku kepadamu dan engkau kudatangkan ke sini.”&lt;br /&gt;“Wahai Amir Al-Mukminin! Aku khawatir, manakala engkau mendengar nasihat itu, engkau tak hendak melaksanakannya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar ucapan Al-Auza‘i yang demikian, seorang menteri utama (wazîr) yang hadir  saat itu, Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus, tiba-tiba menghunus pedangnya dan mendekati ulama fikih dan hadis yang tak mengenal rasa gentar itu. Melihat ulah sang menteri utama, Abu Ja‘far Al-Manshur pun membentak sang menteri, “Hai Al-Rabi‘! Ini adalah tempat mencari pahala. Bukan tempat menjatuhkan siksa!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas mengutip beberapa hadis, Al-Auza‘i kemudian berucap, “Wahai Amir Al-Mukminin! Barang siapa membenci kebenaran, sejatinya ia juga membenci Allah Swt. Allah adalah Mahabenar lagi cukup dalam memberikan penjelasan. Orang-orang sejatinya berusaha meredam gejolak umat terhadap dirimu, ketika engkau menangani urusan mereka, karena kekerabatan dirimu dengan Rasulullah Saw. Padahal, beliau amat santun dan kasih terhadap umat beliau. Beliau menolong mereka dengan diri beliau sendiri dan tangan beliau sendiri. Beliau terpuji dalam pandangan Allah Swt. dan manusia. Karena itu, semestinyalah engkau juga menegakkan kebenaran terhadap umat. Juga, semestinya engkau bersikap adil terhadap mereka, menutup aurat mereka, tak mengunci pintumu terhadap mereka, tak mendirikan tembok terhadap mereka, dan bergembira dengan kenikmatan yang mereka terima serta berduka cita dengan nasib buruk yang menimpa mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Sejatinya engkau terlalu sibuk dengan hal-hal yang berkaitan dengan dirimu sendiri dan melalaikan kepentingan rakyat. Padahal, kini, engkau sendirilah yang bertanggung jawab atas diri mereka. Baik yang berkulit putih maupun merah, Muslim maupun non-Muslim. Mereka semua memiliki bagian dari keadilan atas dirimu. Karena itu, bagaimanakah menurutmu, andai mereka saling mendukung untuk mengadukan kepada Allah Swt. perihal petaka yang engkau timpakan atas diri mereka atau kezaliman engkau yang lakukan atas diri mereka?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, Al-Auza‘i kemudian mengutip beberapa hadis. Selepas itu, ia berucap, “Wahai Amir Al-Mukminin! Aku pernah menerima kabar bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab suatu ketika berucap, ‘Tiada yang kuasa menegakkan urusan rakyat selain orang yang kuat akalnya dan kukuh jalinan pikirannya. Ia tak melihat kepada mereka sesuatu yang menjadi ikatan pikiran dan tak pula melihat pada mereka sesuatu yang menjadi auratnya. Ia tak takut terhadap kebebasan yang mereka miliki dan tak memedulikan cacian orang yang mencercanya dalam menegakkan agama Allah Swt.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Umar juga pernah berucap, ‘Ada empat penguasa. Pertama, penguasa kuat yang kuasa mengendalikan dirinya dan pegawai-pegawainya. Penguasa jenis ini adalah orang yang berjuang di jalan Allah Swt. Tangan (kekuasaan) Allah Swt. terlimpahkan atas dirinya dengan rahmat-Nya. Kedua, penguasa lemah yang kuasa mengendalikan dirinya, tapi membiarkan pegawai-pegawainya bertindak seenaknya karena kelemahannya. Penguasa jenis ini berada di tubir jurang kebinasaan, kecuali bila Allah Swt. melimpahkan rahmat-Nya kepadanya. Ketiga, penguasa yang kuasa mengendalikan pegawai-pegawainya dan membiarkan dirinya bertindak seenaknya. Penguasa jenis ini adalah bahaya yang menghancurkan. Ini seperti dikemukakan Nabi Saw., “Penggembala jahat adalah bahaya yang menghancurkan. Ia hina seorang diri.” Keempat, penguasa yang membiarkan dirinya dan pegawai-pegawainya bertindak seenaknya. Akibatnya, binasalah semuanya.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Aku pernah menerima kabar pula bahwa ‘Umar bin Al-Khaththab pernah berucap, ‘Andai ada seekor domba di tepi Sungai Tigris (Irak) mati karena tersesat, aku takut kelak akan ditanya perihalnya.’ Karena itu, bagaimana pula dengan orang yang tak berhasil meraih keadilan darimu, sedangkan ia menghadap di atas hamparan permadanimu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Aku juga pernah menerima kabar bahwa suatu ketika ‘Umar bin Al-Khaththab berdoa, ‘Ya Allah Tuhanku! Manakala Engkau tahu ketika ada dua orang yang berselisih di hadapanku dan aku memihak kepada orang yang menyimpang dari kebenaran, dekat maupun jauh, ingatkanlah aku. Saat itu juga!’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Amir Al-Mukminin! Sejatinya, hal yang paling berat adalah usaha menegakkan kebenaran karena Allah Swt. semata. Dan, sesuatu yang paling mulia di sisi Allah adalah takwa. Karena itu, barang siapa menginginkan kemuliaan dengan mematuhi Allah Swt., tentu derajatnya akan ditinggikan dan dimuliakan oleh-Nya. Sedangkan barang siapa menginginkan kemuliaan dengan melakukan perbuatan maksiat kepada-Nya, tentu ia akan dihinakan dan direndahkan oleh-Nya. Inilah nasihatku kepadamu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu usai berucap demikian, Imam warga Syam itu kemudian berdiri. Melihat hal itu, Abu Ja‘far Al-Manshur bertanya, “Engkau hendak ke mana, wahai Abu ‘Amr?”&lt;br /&gt;“Menemui putraku dan mendatangi bumi kelahiranku, dengan izin Amir Al-Mukminin, insya Allah.”&lt;br /&gt;“Kuizinkan engkau pergi, wahai Abu ‘Amr. Kuucapkan terima kasih atas nasihatmu dan kuterima nasihatmu itu. Kiranya Allah menganugerahkan pertolongan-Nya dalam usaha menuju kebaikan dan memberikan pertolongan di atas kebaikan. Kepada-Nya aku memohon pertolongan dan kepada-Nya pula aku berserah diri. Cukuplah Dia sebagai penolongku. Dan, wahai Abu ‘Amr, jangan engkau biarkan aku tanpa perhatianmu kepadaku seperti saat ini. Sungguh, nasihatmu kuterima dan aku tak akan merasa ragu terhadap dirimu ketika engkau memberikan nasihat.”&lt;br /&gt;“Akan kulakukan, insya Allah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Abu Ja‘far Al-Manshur lantas memerintahkan kepada seorang pejabat yang mendampinginya agar Al-Auza‘i diberi hadiah untuk biaya balik ke bumi kelahirannya. Tapi, penulis sejumlah karya tulis itu, antara lain Kitâb  Al-Masâ’il dan Al-Sunan, menolak menerima hadiah itu dan berucap, “Aku tak memerlukan hadiah. Aku tak menjual nasihatku dengan harta duniawi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usai berucap demikian, Abu ‘Amr ‘Abdurrahman bin  ‘Amr  bin  Yuhmid Al-Auza‘i pun berlalu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-9143143589667740186?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/9143143589667740186/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=9143143589667740186&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/9143143589667740186'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/9143143589667740186'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2010/04/nasihat-untuk-seorang-penguasa.html' title='Nasihat untuk Seorang Penguasa'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S8ZIawmcCWI/AAAAAAAAAgc/9S8sCCiK8nY/s72-c/old+bagdad.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-3916030209110025868</id><published>2010-04-06T08:38:00.002+07:00</published><updated>2010-04-06T08:41:30.040+07:00</updated><title type='text'>Perjalanan dan Perubahan Pikiran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S7qRD0nHj5I/AAAAAAAAAgU/kTA5tPtveRg/s1600/1340185-Cairo_panorama-Cairo.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 308px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S7qRD0nHj5I/AAAAAAAAAgU/kTA5tPtveRg/s400/1340185-Cairo_panorama-Cairo.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5456833393361129362" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Marseille, Perancis, Dzulhijjah 1241 H/Juli 1826 M. Pada suatu hari di bulan itu, sebuah kapal perang Perancis mendarat di Pelabuhan Marseille. Di antara para penumpang kapal perang itu terdapat 41 mahasiswa tugas belajar dari suatu negeri di Timur Tengah. Mereka adalah para mahasiswa angkatan pertama yang dikirim untuk belajar di negeri itu. Ketika mereka mendarat dan beristirahat di tempat penampungan, mereka segera bertaburan dan bertebaran ke pelbagai penjuru terbesar kedua di Perancis itu. Dengan penuh kekaguman, mereka melongok pelbagai sudut kota itu. Segera, mata mereka pun berubah menjadi kamera yang memotret negeri asing dan bangsa lain yang baru mereka lihat. Tapi, dari ke-41 mahasiswa itu, hanya ada seorang saja yang menyimpan gambar-gambar itu dan merekamnya dalam bentuk tulisan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas puas menikmati pemandangan Kota Marseille, mereka kemudian melanjutkan perjalanan ke Paris. Ketika mereka sampai di kota yang terkenal cantik itu, ternyata tetap hanya seorang yang mencatat kisah dan kesan dalam perjalanan itu. Ia mencatat kisah dan kesannya dengan cepat, spontan, dan penuh tanggung jawab. Sebuah catatan anak muda tentang segala sesuatu yang asing baginya dan tidak ia dapatkan di negerinya. Kesan pertamanya memang mirip kesan seorang turis yang baru pertama kali mengunjungi suatu negeri. Namun, segera, catatan-catatannya berubah ketika ia merekam hal-hal yang penting. Misalnya, tentang sistem politik dan kesehatan di “Kota Cahaya” itu, dan berbagai pengalaman menarik yang ia rasakan sangat berbeda dengan yang terjadi di negerinya. Dalam bulan-bulan pertama, catatannya masih merupakan renungan, perasaan tanda tanya yang sarat gejolak, perasaan kagum, dan kisah perlawatannya ke berbagai tempat yang menarik di kota itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejatinya, keberangkatan anak muda itu, ke negeri yang lumayan jauh dari negerinya, untuk menjadi imam bagi ke-40 mahasiswa yang juga teman-temannya. Meski sebagai imam, usianya masih muda: sekitar 25 tahun. Tidak aneh bila pikirannya kala itu masih mudah menerima ide-ide baru. Apalagi ia begitu haus ilmu pengetahuan. Dan, kini, ia berhadapan dengan suatu kebudayaan yang lain dengan kebudaaan negerinya. Kebudayaan suatu bangsa yang 28 tahun sebelumnya datang sebagai penjajah negerinya. Kejutan budaya yang dihadapi imam muda di negeri asing itu merupakan salah satu faktor yang membentuk kepribadiannya, sepanjang usianya. Kepribadian yang senantiasa memberontak terhadap kenyataan di negerinya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejak saat pertama ia naik ke kapal perang yang membawanya ke Perancis itu, ia telah berniat tidak hanya akan menjadi imam saja. Memang, di antara rombongan itu ada dua imam yang lain. Tapi, hanya dirinya yang bercita-cita untuk tak sekadar menjadi imam. Untuk itu, begitu tiba di Paris, ia menggaji seorang guru Perancis yang mengajarinya bahasa negeri itu. Karena itu, selama tiga tahun ia harus menyisihkan sebagian dari gajinya sebagai imam untuk menggaji sang guru. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesempatan emas selama di Paris ia gunakan dengan sebaik-baiknya untuk membaca dan menelaah buku-buku yang sangat menarik perhatiannya. Antara lain buku-buku sejarah, teknik, geografi, dan politik. Ia juga meluangkan waktunya untuk membaca karya-karya Montesquieu, Voltaire, dan Rousseau. Tampaknya, ia dengan sengaja membaca bidang-bidang yang begitu beragam dan tidak mencurahkan perhatiannya pada bidang tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selepas sekitar lima tahun berada di Perancis, pada akhir Jumada Al-Tsaniyyah 1247 H/1831 M ia kembali ke negerinya. Kesan dan catatannya tentang Perancis kemudian ia bukukan dan terbitkan dengan judul Takhlîsh Al-Abrîs fî Talkhîsh Bâris. Karyanya tentang Paris itu bukan hanya merupakan kisah perjalanannya semata. Tapi, dalam karyanya itu ia juga memaparkan seluk beluk kehidupan dan kemajuan negeri yang ia kunjungi itu. Selain itu, ia juga mengulas sistem pemerintahan Perancis, Revolusi 1789, kesehatan, dan pelbagai ilmu yang diajarkan di sekolah-sekolah di Paris, konstitusi Perancis, dan adat kebiasaan bangsa Perancis. Karya anak muda itu begitu penting. Sehingga, penguasa negerinya pun memerintahkan agar karyanya itu diterjemahkan ke dalam bahasa Turki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapakah anak muda itu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak salah, memang, anak muda itu adalah Rifa‘ah Rafi‘ Al-Thahthawi, seorang cendekiawan  Muslim  asal Mesir  yang terkenal sebagai salah seorang tokoh pembaharuan  di negerinya itu.  Lahir di Thahtha, Mesir selatan, pada Kamis, 7 Jumada Al-Tsaniyyah 1216 H/15 Oktober 1801 M, dengan nama lengkap  Rifa‘ah  bin Badawi bin ‘Ali bin Muhammad bin  ‘Ali  bin Rafi‘ Al-Thahthawi, pendidikannya di masa kecil dapat ia lintasi dengan baik atas topangan keluarga ibundanya. Ini karena harta milik orang tuanya diambil alih penguasa Mesir saat itu, Muhammad ‘Ali Pasya. Kemudian, ketika berusia  16 tahun,  tokoh yang anak keturunan Al-Husain bin ‘Ali  bin  Abu Thalib ini menapakkan kakinya ke Kairo untuk menimba ilmu di Al-Azhar.  Pendidikannya di universitas Islam tertua di dunia  ini, antara  lain,  di  bawah bimbingan  Syaikh  Al-Hasan  Al-‘Aththar, Syaikh  Al-Fudhali,  Syaikh  Al-Hasan  Al-Kuwaisini,  Syaikh  Al-Damanhuri,  dan Syaikh Al-Bajuri, ia rampungkan pada 1238  H/1822 M.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama   dua   tahun  berikutnya,   Rifa‘ah Rafi‘ Al-Thahthawi   mengajar   di almamaternya.  Lantas,  pada 1240 H/1824 M, ia  diangkat  sebagai imam tentara. Dua tahun kemudian, atas rekomendasi gurunya  yang Syaikh  Al-Azhar kala itu, Al-Hasan Al-‘Aththar,  tepatnya  pada Dzulhijjah  1241 H/Juli 1826 M, ia diangkat menjadi  imam  para mahasiswa Mesir yang dikirim ke Paris seperti telah dituturkan di muka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekembalinya ke Mesir, Rifa‘ah Rafi‘ Al-Thahthawi diangkat sebagai guru bahasa Perancis  dan  penerjemah berbagai karya ilmiah  ke  dalam  bahasa Arab.  Perjalanan hidupnya selanjutnya  mengantarkannya  menjadi Kepala Sekolah Bahasa-bahasa Asing di Kairo, Kepala Sekolah Dasar di  Sudan, dan Kepala Sekolah Militer. Selain itu, ia juga  diberi kepercayaan  menjadi pemimpin redaksi surat kabar Al-Waqâ’i‘ Al-Mishriyyah. Tokoh  yang berpulang pada 1299 H/1873 M  ini  meninggalkan sejumlah karya tulis. Antara lain adalah Manâhij  Al-Albâb Al-Mishriyyah fî  Mabâhij  Al-Adâb  Al-Mishriyyah, Al-Mursyîd Al-Amîn fî Tarbiyyah Al-Banât wa Al-Banîn, Nihâyah Al-Îjâz, Al-Tuhfah Al-Maktabiyyah li Taqrîb Al-Lughah Al-‘Arabiyyah, dan Anwâr Taufîq Al-Jalîl. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, sejarah mengajarkan, perubahan pikiran kerap timbul dari kisah perjalanan yang ditempuh seseorang. Demikian halnya, kisah pertukaran budaya pun kerap terjadi dari perjalanan yang dilakukan seseorang. Hal yang demikian itu dialami pula oleh banyak pemikir Muslim lainnya, tidak hanya dialami Rifa‘ah Rafi‘ Al-Thahthawi saja. Al-Syafi‘i, pendiri Mazhab Syafi‘i, misalnya, pemikirannya berubah selepas ia mengunjungi Mesir. Malah, perjalanannya ke Negeri Piramid itu membuat ia merevisi sebagian pandangan lamanya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/39399313628593686-3916030209110025868?l=arofiusmani.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://arofiusmani.blogspot.com/feeds/3916030209110025868/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=39399313628593686&amp;postID=3916030209110025868&amp;isPopup=true' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/3916030209110025868'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/39399313628593686/posts/default/3916030209110025868'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://arofiusmani.blogspot.com/2010/04/perjalanan-dan-perubahan-pikirab.html' title='Perjalanan dan Perubahan Pikiran'/><author><name>Ahmad Rofi' Usmani</name><uri>http://www.blogger.com/profile/14943121585779906189</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='21' src='http://farm2.static.flickr.com/1420/1050917308_fd0d3691ce.jpg?v=0'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S7qRD0nHj5I/AAAAAAAAAgU/kTA5tPtveRg/s72-c/1340185-Cairo_panorama-Cairo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-39399313628593686.post-5344535941050217161</id><published>2010-03-19T06:13:00.005+07:00</published><updated>2010-03-19T06:23:21.866+07:00</updated><title type='text'>Syaikh Al-Azhar dari Indonesia, Kenapa Tidak?</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S6K0ooz42TI/AAAAAAAAAgM/NPaj7g0xzTQ/s1600-h/Al+Azhar+mosque.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 400px; height: 262px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_9Z_8EblFA6w/S6K0ooz42TI/AAAAAAAAAgM/NPaj7g0xzTQ/s400/Al+Azhar+mosque.jpg" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5450117109314541874" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sekitar sepuluh hari yang lalu, tepatnya pada Rabu, 24 Rabi‘ Al-Awwal 1431 H/10 Maret 2010 M, sebuah email saya terima: Syaikh Al-Azhar, Prof. Dr. Syaikh Muhammad Sayyid Thanthawi, berpulang ke hadirat Allah di Riyadh, Arab Saudi karena serangan jantung. “Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji’un…,” gumam saya pelan dan kemudian disambung dengan doa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Segera saja, benak saya pun melayang-layang menuju Kairo, Mesir. Pertama-tama, benak saya melayang-layang menuju sebuah bangunan antik dengan bill-board di atasnya dengan tulisan “Idârah Al-Azhâr”  dan terletak di antara dua masjid: Masjid Al-Azhar dan Masjid Al-Husain bin ‘Ali. Selepas itu, benak saya melayang-melayang menuju sebuah bangunan baru di Darasah, Kairo, di samping Gedung Mufti Mesir. Di dua bangunan itulah para Syaikh Al-Azhar berkantor. Namun, bangunan pertama kini tidak lagi dipakai sebagai Gedung Syaikh Al-Azhar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Al-Azhar sendiri, sebagai sebuah lembaga pendidikan tertua di dunia  Islam,  mulai dipancangkan pertama  kali  pada Senin,  24  Jumada Awwal 359 H/4 April  970  M,  oleh  seorang panglima Dinasti  Fathimiyyah yang memimpin penaklukan Mesir, Jauhar  Al-Shiqilli.  Namun,  lembaga  ini baru dibuka  secara  resmi  pada Jumat,  7 Ramadhan 361 H/22 Juni 972 M. Pada hari itulah lembaga ini  mulai  dibuka sebagai masjid. Sedangkan  kedudukannya  sebagai lembaga  pendidikan baru bermula empat tahun  kemudian. Tepatnya,pada Ramadhan 365 H/Oktober 975 M. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  pengasuh pertama lembaga ini dipilih Abu  Al-Hasan  ‘Ali bin Al-Nu'man Al-Qairuwani yang kala itu menjabat Ketua  Mahkamah Agung.  Dari  namanya nampak, tokoh itu  berasal  dari  Qairuwan, Tunisia.   Memang,  penguasa  Mesir kala  itu,   dari   Dinasti Fathimiyyah  yang  beralirankan Syi‘ah, baru saja  pindahan  dari Tunis.  Mereka  juga  membawa serta para  ilmuwan  yang  sealiran dengan mereka. Kajian-kajian yang diberikan di lembaga pendidikan ini  kala  itu berkisar di seputar materi-materi  agama,  bahasa, logika,  dan astronomi. Para pengajarnya yang terdiri sekitar  30 orang.  Antara  lain Menteri Abu Al-Faraj Ya‘qub bin  Yusuf  bin Killis.  Menteri ini mengajar usul fikih versi  Aliran Syi‘ah, dengan berpedomankan &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kitab Al-Risalah Al-‘Aziziyyah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Corak  syi‘i yang mewarnai lembaga pendidikan ini baru  berakhir kala Mesir jatuh ke tangan Dinasti Ayyubiyyah yang didirikan oleh Shalahuddn  Al-Ayyubi. Di bawah dinasti  ini,  Al-Azhar  pun berganti  baju. Kini, lembaga ini menjadi bercorak sunni.  Segera, lembaga  ini  mekar dengan cepat.  Perkembangan  ini  mencapai puncaknya ketika Andalusia lepas dari pelukan kaum Muslim  dan Baghdad luluh lantak akibat gempuran serdadu-serdadu Mongol. Al-Azhar  menjadi  tempat pelarian para ilmuwan dari  kedua  kawasan itu.  Bukan  luar  biasa bila lembaga ini,  selepas  itu,  segera menjadi  pusat  ilmu pengetahuan dunia  Islam.  Perkembangan  ini ditopang   oleh  dukungan  para  penguasa  yang  mencintai   ilmu pengetahuan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selama itu, Al-Azhar belum lagi dipimpin seorang Syaikh Al-Azhar. Jabatan itu baru pertama kali diadakan pada 1101  H/1690  M.  Pemegang  pertama  jabatan  ini  adalah  Syaikh Muhammad  ‘Abdullah Al-Kharrasyi. Hingga tahun  1355  H/1936  M, jabatan ini dapat diwariskan. Kemudian sejak, 1366 H/1946 M  keluar aturan  yang  membolehkan  pemegang  jabatan  itu  berasal   dari lingkungan Al-Azhar. Pengangkatan pemegang jabatan ini ditetapkan oleh  Kepala Negara Mesir. Dalam perjalanan sejarah jabatan  ini, sebagian besar pemegangnya berasal dari Mazhab Syafi‘i. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemegang jabatan Syaikh Al-Azhar sendiri memimpin lima lembaga: Majelis Tinggi Al-Azhar,  Lembaga Riset Islam, Biro Kebudayaan  dan  Missi Islam,  Universitas  Al-Azhar, dan Lembaga  Pendidikan  Dasar  dan Menengah. Majelis Tinggi al-Azhar merupakan lembaga tertinggi yang menggariskan kebijaksanaan umum al-Azhar. Majelis ini terdiri dari Syaikh  Al-Azhar (sebagai Ketua), Wakil Syaikh  Al-Azhar,  Rektor Universitas  Al-Azhar, para dekan berbagai fakultas di  lingkungan Universitas Al-Azhar, empat  orang  dari Lembaga Riset Islam, seorang  wakil  dari berbagai  Kementerian  Mesir, Kepala Biro  Kebudayaan  dan  Missi Islam, Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah Al-Azhar, dan  tiga pakar pendidikan tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syaikh  Al-Azhar merupakan jabatan umat, semacam kepausan di kalangan para pengikut Agama Kristen Katolik. Kurang lebih begitu, tapi tak sama persis, karena di Dunia Islam yang beraliran sunni tidak mengenal sistem seperti itu. Di sisi lain, jabatan itu merupakan jabatan independen dan otonom yang memiliki otoritas penuh tanpa campur tangan pemerintah. Tapi, sejak Presiden Anwar Sadat berkuasa, pemerintah Mesir mulai menggoyang kedudukan Syaikh Al-Azhar untuk masuknya campur tangan pemerintah Mesir di dalamnya. Ini karena sebenarnya jabatan  Syaikh Al-Azhar setara kedudukannya dengan jabatan Perdana Menteri. Malah, konon, kekayaan wakaf Al-Azhar lebih banyak dari kekayaan pemerintah Mesir itu sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, usaha yang dilakukan oleh Presiden Anwar Sadat senantiasa kandas di tangan kewibawaan seorang Syaikh Al-Azhar yang kala itu dijabat oleh Prof. Dr. Syaikh ‘Abdul Halim Mahmud. Siapakah tokoh dan ulama kharismatik yang satu ini?     Syaikh Al-Azhar Mesir ke-40  yang  juga terkenal  sebagai  seorang pemikir Muslim terkemuka  dan  penulis yang  produktif  ini  lahir  di  Desa Abu Ahmad (sekarang disebut Desa  
