Tuesday, October 2, 2007

Cinta Ilahi di Mata Seorang Presiden

“Ketika masih muda, di bulan Ramadhan, saya sering membaca puisi Goethe yang menyingkapkan doanya, yang begitu dalam, kepada Tuhan,” tulis seorang mantan Sekretaris Jenderal Organisasi Konferensi Islam yang juga mantan presiden. “Dalam puisi tersebut, Goethe tak pernah lupa bahwa ia hidup di Bumi, sedangkan ruhnya membubung tinggi di alam ketuhanan. Bukan luar biasa bila doanya begitu indah dan memancarkan cintanya yang begitu dalam kepada Tuhannya dan keterbuaiannya di dalam-Nya. Ucap Goethe:

Karuniailah aku kekuatan berpikir, duhai Tuhan
Biar kuhidup laksana singa
Karuniailah aku kehidupan nan sederhana dan damai, duhai Tuhan
Biar kudekati Engkau sepenuh cinta

Doa nan indah itu tidak mungkin timbul kecuali dari relung kalbu yang diwarnai iman. Kalbu yang begitu mencitarasai cinta ilahi. Juga merasa, tanpa cinta tersebut kehidupan tanpa makna. Kehidupan yang menyadari keimanan kepada Tuhan sebagai peringkat pengenalan (ma‘rifah) kepada-Nya yang paling dalam. Keimanan yang didasarkan pada cinta timbal balik, bukan didasarkan pada rasa gentar manusia terhadap kewibawaan Tuhan. Ketika cinta ilahi ini mewarnai kalbu seseorang, kekelaman yang ada pun menjadi sirna. Bagaikan meredupnya kegelapan di hadapan cahaya.

Merenungi cinta membuat saya teringat suatu peristiwa yang pernah saya alami ketika masih menjadi Pemimpin Redaksi koran Al-Jumhuriyyah. Suatu hari saya menulis sebuah tajuk dengan judul “Wawasan”. Dalam tajuk itu saya tulis, saya tidak pernah ingat kepada Allah kecuali dalam kedudukan-Nya sebagai Sahabat yang saya cintai dan tidak saya takuti. Sebab, pikiran yang sederhana pun akan menyatakan, adanya rasa cinta berlawanan sepenuhnya dengan adanya rasa takut. Jadi, bagaimana saya dapat mencintai Allah, sedangkan saya takut kepada-Nya?”

Siapakah presiden yang menggoreskan penanya untuk mengungkapkan tulisan di atas? Tak lain adalah Presiden Anwar Sadat, seorang presiden Mesir. Seperti diketahui, suami Jehan Sadat ini lahir pada Rabu, 21 Rabi‘ Al-Awwal 1337 H/25 Desember 1918 M, di Desa Mit Abu Al-Kum, di Provinsi Minufiyyah. Selepas lulus dari Akademi Militer ‘Abbasiyyah, Kairo, putra seorang pegawai negeri ini menjadi teman kental Nasser dan sejumlah perwira muda Mesir waktu itu kala ia ditempatkan di Manqabad, Mesir Selatan. Pada akhir tahun-tahun 1940-an, selama beberapa tahun, ia mendekam di penjara akibat kegiatannya yang anti pemerintah Mesir kala itu yang berada di bawah kendali Raja Faruq.

Di 1370 H/1950 M, sekeluarnya dari penjara, nama Sadat direhabilitasi. Sekitar dua tahun kemudian, tepatnya Rabu, 1 Dzul Qa‘dah 1371 H/23 Juli 1952 M, ia bersama “Kelompok Perwira Bebas” terlibat dalam kudeta terhadap Raja Faruq. Kariernya pun mulai menanjak, antara lain sebagai Menteri Negara, Ketua Majelis Nasional, editor koran Al-Jumhûriyyah, dan Wakil Presiden Mesir. Pada Senin, 27 Rajab 1390 H/28 September 1970 M ia diangkat sebagai Presiden Mesir, menggantikan Presiden Nasser yang meninggal dunia karena sakit jantung.

Selain sebagai presiden, Anwar Sadat ternyata juga seorang penulis. Karya tulisnya, antara lain, adalah Al-Bahts ‘an Al-Dzât, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dengan judul In Search of Excellence. Dan, beberapa lama selepas berpulang, sebuah bukunya berjudul Washiyyatî (Pesanku) terbit. Selain menyatakan kekagumannya terhadap Jalaluddin Al-Rumi, Rabi‘ah Adawiyyah, Ibn ‘Arabi, Ibn Al-Faridh, dan Goethe, dalam karyanya tersebut ia juga mengemukakan pandangannya tentang cinta, persahabatan, dan hal-hal lainnya. Kini, marilah sejenak kita ikuti tulisan lanjut Anwar Sadat tersebut seperti diungkapkan dalam karya tersebut di atas sebagai berikut:

“Selepas terbitnya tajuk tersebut, timbul polemik keras tentang cinta kepada Allah. Ada yang mengatakan, rasa gentar merupakan bagian penting dari iman. Tapi, pengalaman saya tentang rasa takut menunjukkan, Allah tidak mungkin menjadi musuh yang menakutkan dan menggentarkan. Kecuali terhadap orang-orang yang mengingkari keberadaan dan kehadiran-Nya.

Betapa indah menjadikan Allah sebagai Sahabat dan Kekasih. Bila kita telah mencitarasai cinta ilahi ini dalam kehidupan kita, tiada sesuatu pun dalam alam ini bakal menghadang kita. Malah, kehidupan kita bakal berubah menjadi kebahagiaan yang hakiki. Allah telah menjadikan kebahagiaan di tangan kita sendiri, dipicu oleh cinta agung-Nya kepada kita. Tapi, manusia harus meraih kebahagiaan dengan tangannya sendiri. Dengan kata lain, segala sesuatu yang ada di sekitar kita tidak akan memberi kita kebahagiaan. Kita sendiri yang harus mengusahakannya. Dari sini dapat dikatakan, segala sesuatu dapat memberikan kebahagiaan kepada manusia, selama sesuatu itu berada di tangannya. Dan, kehidupan di Bumi kita ini sejatinya merupakan kebahagiaan tanpa akhir. Bumi ini merupakan bagian semesta alam yang senantiasa menyampaikan puja dan puji kepada Allah. Di seluruh sisi kehidupan sejatinya terdapat kebahagiaan, baik pada kesehatan, keluarga, teman, kehidupan keluarga, kerja, renungan terhadap Allah, dan segala sesuatu lainnya.

Memahami semua itu, masih perlukah kita pada bukti lain tentang kecintaan Allah terhadap semesta alam ini? Jadi, wajar bila seseorang lebih mencintai Allah ketimbang yang selain-Nya, malah melebihi dirinya sendiri. Sebab, bila manusia merupakan bagian dari semesta alam, wajar bila sesuatu bagian dari keseluruhan tidak mungkin mencintai dirinya secara benar. Kecuali bila ia mencintai dirinya sebagai bagian dari keseluruhan tersebut. Dan, bukannya memandang diri sendiri sebagai pribadi yang terpisah dari keseluruhan dan mandiri. Manusia dalam kedudukannya sebagai makhluk yang berhutang kepada Allah dalam segala hal yang dimilikinya, tidak boleh tidak harus lebih mencintai Allah ketimbang dirinya sendiri. Dan, ia belum lagi mencintai-Nya selama ia belum merasa berasal dari-Nya.

Watak cinta yang matang dan dalam ialah cinta yang timbal balik dan tidak bertepuk sebelah tangan. Juga, pemicu cinta tersebut ialah keinginan untuk kembali kepada Allah. Cinta dalam pengertian ini membuat seluruh semesta alam sebagai ungkapan hidup cinta ilahi. Di sini, hubungan antara Khalik dan makhluk merupakan keharusan, demi kelangsungan pengertian alam yang sejatinya. Yaitu hubungan antara keseluruhan dengan bagian atau kesempurnaan Yang Mutlak dengan semesta alam yang kurang sempurna. Jadi, manusia belum lagi sempurna kemanusiaan dan keberadaannya kecuali bila menyadari cinta ilahi yang mewarnai dirinya dan seluruh semesta alam.

Pengertian cinta ilahi seperti itu, antara lain, dapat disingkapkan dari kisah Rabi‘ah Al-‘Adawiyyah, seorang sufi perempuan asal Bashrah yang hidup di abad ke-2 Hijriah. Suatu hari ia menaruh salah tangannya ke dalam api, dan tangannya yang satu lagi ke dalam air. Ketika ia ditanya mengapa melakukan tindakan demikian, ia menjawab, “Api ini akan kulemparkan ke dalam surga. Sedangkan air ini akan kutuangkan ke dalam neraka. Sehingga, api dan air itu pun menjadi tiada, dan tersingkaplah kemudian, bagi para peniti jalan sufi, jalan menuju Allah dan tampak pulalah tujuan yang mereka titi. Mereka menjadi menyaksikan Allah tanpa rasa harap dan juga tanpa rasa gentar. Apakah bila rasa harap terhadap surga dan rasa gentar terhadap neraka tiada, tak akan ada seorang pun memuja-Nya?”

Maksud Rabi‘ah adalah cinta ilahi harus bebas dari pamrih dan keinginan diri. Ini lebih tampak lagi dalam munajatnya, “Tuhanku! Bila aku menyembah-Mu karena takut neraka-Mu, biarkanlah diriku terbakar api neraka. Dan bila aku menyembah-Mu karena mengharap surga-Mu, jauhkanlah aku darinya. Tapi, bila aku menyembah-Mu hanya semata karena cinta kepada-Mu, Tuhanku, janganlah Kau-halangi melihat keindahan-Mu yang abadi.”

Itulah cinta yang hakiki. Menurut saya, seluruh kebaikan, kebenaran, dan keindahan di dunia tumbuh dari cinta tersebut.”

Demikianlah tulis presiden Mesir yang selama sebelas tahun menjadi orang nomor satu banyak peristiwa yang mewarnai masa pemerintahannya. Antara lain, pengusiran para penasehat militer Uni Soviet (1972), Perang 6 Oktober 1973, kunjungannya ke Israel (November 1977), dan Penjanjian Camp David (September 1978). Tiga tahun setelah ditandatanganinya perjanjian itu, tepatnya pada Selasa, 7 Dzul Hijjah 1401 H/6 Oktober 1981 M, ia tewas dalam peristiwa pembunuhan ketika sedang menghadiri parade militer dalam rangka memperingati Perang 6 Oktober.

Tuesday, September 25, 2007

Sebuah Buku Lagi untuk Anda: Wangi Akhlak Nabi

Malcolm X, tentu Anda mengenalnya. Tokoh yang satu ini, seperti diketahui, adalah seorang tokoh Muslim Amerika Serikat (AS) yang namanya masih acap dikenang banyak orang hingga dewasa ini. Betapa perjalanan hidup tokoh yang satu ini, seperti halnya ditulis dan disunting oleh Alex Haley dengan sangat memikat dalam karyanya, The Authobiography of Malcolm X, sarat dengan pengalaman, pergolakan, dan perenungan. Seperti diketahui pula, tokoh yang berkulit hitam itu lahir di Omaha, Nebraska, pada Senin, 15 Syawwal 1342 Hijriah/19 Mei 1924 M dari pasangan Pendeta Earl Little dan Louise Little, dengan nama Malcolm Little. Pasangan suami-istri itu sendiri mempunyai enam anak: Wilfred, Hilda, Philbert, Malcolm, Yvonne, dan Reginald. Sebelum menikah dengan Louise, Earl Little yang berasal dari Reynold, Georgia telah mempunyai tiga anak dari istri pertamanya: Ella, Earl, dan Mary. Karena mendukung gerakan Marcus Garvey, yang menyerukan semua orang hitam Amerika agar kembali ke Afrika, keluarga Earl Little pun diteror oleh kelompok Ku Klux Klan. Untuk menghindari teror itu, mereka pun pindah ke Lansing, Michigan. Tapi, hal itu tidak banyak manfaatnya. Kepala keluarga itu akhirnya tewas oleh kelompok rasis kulit putih.

Malcolm sendiri meniti dunia pendidikan hingga kelas delapan, dengan hidup menumpang di sejumlah keluarga. Namun, ketika seorang guru menghalangi cita-citanya untuk menjadi seorang pengacara, ia pun keluar sekolah dan pergi menemui saudara perempuan tirinya, Ella, yang menetap di Boston. Di kota itu ia bekerja sebagai tukang sepatu. Namun, segera ia terjerembab dalam kelompok pengedar narkotika dengan nama panggilan Detroit Red. Akibatnya, pada Rabi‘ Al-Awwal 1365 H/Februari 1946 M, ia dijebloskan ke dalam bui dan dijatuhi hukuman selama tujuh tahun.

Selama meniti hidup di bui Colony di Norfolk, Massachusetts, Malcolm atas anjuran dua saudaranya, Philbert dan Reginald, menjadi pengikut Elijah Muhammad dengan gerakan Nation of Islamnya. Maka, ia pun mengimbuhi nama dengan “X”, yang menurutnya merupakan simbol: “Ex-smoker, Ex-drinker, Ex-Christian, Ex-slave”. Sehingga, namanya berubah menjadi Malcolm X. Selepas dari penjara, ia menjadi pengikut yang aktif gerakan itu. Namanya pun segera berkibar. Pada Rajab 1377 H/Januari 1958 M, ia menikah dengan Betty X, yang juga seorang pengikut gerakan itu. Lantas, pada 1384 H/1964 M, ia menunaikan ibadah haji. Betapa indah pengalaman yang ialaminya dalam langkah-langkahnya menuju ke Tanah Suci itu. Marilah sejenak kita ikuti penggalan kisah naik haji Malcolm X seperti diungkapkan dalam karya tersebut di atas sebagai berikut:

“.... Dari lantai tempat aku berada, ketika matahari telah terbit, aku dapat memandang ke seluruh kawasan bandara. Sebentar-sebentar pesawat terbang mendarat dan tinggal landas. Ribuan jamaah dari pelbagai belahan dunia membentuk pola gerakan yang indah. Aku melihat jamaah yang pergi ke Makkah, naik bus, truk, atau kendaraan lainnya. Tiba-tiba tumbuh perasaan khawatir, bagaimanakah bila aku ditolak sebagai jamaah haji?

Seharian, aku bolak-balik dari dan keluar ruanganku. Selepas melaksanakan shalat magrib barulah aku merebahkan diriku, dengan perasaan galau dan sendirian. Tiba-tiba dalam benakku muncul sebuah pikiran. Ketika aku berjalan-jalan di seputar tempat penginapanku, aku melihat empat petugas sedang duduk di seputar meja dengan sebuah telpon di atasnya. Teringat telpon, pikiranku pun melayang ke nomor telpon Dr. Omar Azzam yang diberikan Dr. Mahmud Yusuf Shawarbi kepadaku. Bukankah ia tinggal di kota ini?

Dalam beberapa menit saja aku telah berada di lantai bawah dan mencari tempat para petugas tadi. Salah seorang di antara mereka ternyata lancar berbahasa Inggris. Aku pun mengeluarkan surat Dr. Shawarbi. Usai membaca surat itu, ia pun berseru kepada teman-temannya, “Muslim Amerika!” Aku pun memintanya menghubungi Dr. Omar Azzam. Dengan senang hati ia pun menelpon Dr. Omar Azzam. Alhamdulillah ia sedang berada di tempat. Dan, tidak berapa lama kemudian, Dr. Omar Azzam muncul. “Mengapa tidak menelpon saya sebelumnya?” tanyanya ramah sambil menjabat hangat tanganku. Dia kemudian meminjam telpon dan berbicara dengan petugas di bandara, “Datang cepat ke sini,” ucapnya. Sekitar setengah jam kemudian ia telah membebaskanku, barang bawaanku, dan pasporku.

Dengan naik mobilnya, Dr. Omar Azzam membawaku menuju Kota Jeddah. Di tengah perjalanan aku tidak banyak bicara. Pagi telah menampilkan senyumnya ketika kami tiba di rumahnya. Ayahnya, saudara ayahnya, seorang ilmuwan lain, dan seorang temannya lagi menyambutku. Mereka memelukku bagaikan seorang anak yang lama hilang. Aku tidak pernah bertemu dengan mereka. Tapi, mereka begitu baik terhadap diriku.

Dr. Abdurrahman Azzam, bila sedang berada di negerinya, tinggal di sebuah suite Jeddah Palace Hotel. Tapi kini, dengan kedatanganku, ia tinggal di rumah putranya dan mempersilakan aku tinggal di suitenya hingga aku berangkat ke Makkah. Sejatinya aku menolak untuk merepotkannya. Tapi, sia-sia belaka. Karena itu, begitu aku memasuki suite yang terdiri dari tiga kamar itu dan meninggalkanku sendirian, aku pun bersujud syukur: tak pernah dalam hidupku sebagai seorang kulit hitam AS menerima layanan istimewa apa pun. Naluriku segera mencoba menguak apa alasan dan motif tindakan seseorang terhadap orang lain yang semestinya bisa saja tak perlu dilakukannya. Sebelumnya, selama hidupku, aku memandang tindakan semacam itu, bila dilakukan oleh orang kulit putih, memiliki motif pribadi. Tapi, pagi itu, seorang berkulit putih-setidaknya di AS ia akan dipandang sebagai orang yang ber”kulit putih”-yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan penguasa negeri ini, malah juga sebagai penasihatnya, menyerahkan suitenya kepadaku untuk menyenangkan diriku. Padahal, ia tak meraih keuntungan apa pun. Dia juga tidak memerlukan aku. Dia memiliki segalanya. Malah, ia lebih banyak kehilangan daripada meraih keuntungan dengan tindakannya itu. Dia juga mengikuti pemberitaan media massa tentang diriku. Jelas, ia mengetahui tentang diriku yang “rasis” dan “anti orang kulit putih”. Jelas pula ia mengetahui aku tak punya uang, dan malah untuk pergi ke negerinya aku terpaksa pinjam uang dari Ella.

Di pagi hari itulah aku kembali menghormati “orang kulit putih”. Di pagi hari itulah mulai terjadi perubahan mendasar dalam pandanganku tentang orang “kulit putih”. Aku bersujud syukur kepada Allah atas karunia ini. Aku juga tidak lupa mendoakan istriku dan anak-anakku di AS. Selama beberapa jam kemudian aku tidur pulas, hingga suara telpon berdering membangunkan aku. Dr. Omar Azzam menelponku. Dia memberitahuku, ia akan menjemputku untuk menikmati makan malam di rumahnya. Aku hanya dapat mengucapkan terima kasih saja. Dalam jamuan malam di rumah Dr. Omar Azzam aku menjadi tahu, persoalanku telah dibahas oleh Mahkamah Komisi Haji. Esok hari aku harus datang di sana. Keesokan harinya aku pun datang ke sana. Pagi itu persidangan dipimpin oleh Syeikh Muhammad Harkon (mungkin maksudnya Syeikh Muhammad ‘Ali Al-Harakan, mantan Sekretaris Jenderal Rabithah Al-‘Alam Al-Islami-penulis). Segera ia memutuskan, aku benar-benar seorang Muslim. Seusai dari persidangan itu aku kemudian balik ke Jeddah Palace Hotel, untuk menikmati makan siang di sana. Lalu tidur lagi selama beberapa jam sampai dering telpon membangunkanku. Muhammad Abdul Aziz, Deputi Kepala Protokol Raja Faisal memberitaku, “Sebuah mobil khusus akan menjemput dan membawa Anda ke Makkah, tepat selepas Anda usai makan malam.”

Dalam perjalanan menuju Makkah aku ditemani dua anak muda, dengan pengawalan pasukan khusus. Tiba di Makkah, mobil yang kami naiki diparkir di depan Masjid Al-Haram. Ketika berada di Rumah Allah itu, untuk melakukan tawaf dan sai, sulit aku kemukakan bagaimana perasaanku kala itu. Semalaman, dalam waktu yang terpisah, aku mengunjungi Rumah Allah tiga kali.

Hari berikutnya kami berangkat menuju Arafah untuk melakukan wukuf. Dari sana kemudian menuju Mina, untuk melempar jumrah. Ihram pun usai. Sebagian jamaah mencukur rambut dan janggut mereka. Aku sendiri memutuskan untuk membiarkan janggutku. Aku tidak tahu, bagaimana komentar istri dan anak-anakku bila mereka melihat janggutku nanti jika aku kembali ke New York...”

Demikianlah kisah perjalanan Malcolm X menuju Tanah Suci Makkah Al-Mukarramah. Betapa indah kisah perjalanan naik haji Malcolm X tersebut. Sebuah perjalanan ibadah yang benar-benar mampu mengubah pandangan Malcolm X yang semula menolak integrasi kaum kulit hitam Amerika dengan masyarakat lainnya dan menjadi berpandangan bahwa kaum kulit hitam dan kulit putih dapat hidup dalam suasana persaudaraan. Manusia, menurut pandangannya selepas naik haji tersebut, tak pernah meminta agar dilahirkan sebagai kulit hitam, kulit putih, atau pun kulit berwarna. Kelahiran adalah takdir Allah atas manusia. Karena itu, manusia tidak mungkin dipilah berdasarkan ras dan warna kulit, karena asal manusia satu: Adam. Masing-masing manusia duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi. “Itulah semangat persaudaraan Islam,” ucapnya selepas merenungkan perjalanannya ke Tanah Suci tersebut.

Selepas menunaikan ibadah haji itu sendiri, Malcolm X mengubah namanya menjadi El-Hajj Malik El-Shabazz. Dan, perjalanan hidup di dunia pendiri organisasi Afro-American Unity ini usai pada Ahad, 19 Syawwal 1377 H/21 Februari 1965 M, pukul 3 sore, karena tewas ditembak, ketika sedang berpidato di Audobon Ballroom, Harlem yang terletak di antara Broadway dan St. Nicholas Avenue di Kota New York.

Ya, itulah penggalan dari prakata buku Wangi Akhlak Rasul yang diterbitkan oleh Penerbit Mizania, Bandung. Selamat menikmati!

Monday, September 24, 2007

"Nak, Masih Hafal Al-Qurankah Engkau?"

Tahun ini, entah kenapa Allah Swt. memberi kesempatan saya acap melakukan perjalanan ke pelbagai negara dan kota. Kadang, perjalanan itu telah saya rencanakan jauh hari. Tapi, kadang tiba-tiba saja saya diberi kesempatan Allah bertolak ke suatu negara atau kota. Nah, pada Sabtu, 15 September 2007 yang lalu, saya tiba-tiba hanya dalam sehari berada di Kota Surabaya. Pagi hari tiba di Kota Buaya itu dan sore harinya balik lagi ke Bandung. Perjalanan yang sangat pendek bagi saya: karena di Surabaya sejatinya saya memiliki banyak saudara dan sahabat. Sehingga hari itu saya tidak sempat bersilaturahmi ke banyak tempat.

Sore hari itu, ketika dalam perjalanan menuju Bandara Juanda, yang kini tampil cantik dan berkilau, untuk balik ke Jakarta dan kemudian menuju Bandung, dengan diantar sebuah keluarga muda yang perwira marinir, dan ketika melewati sebuah rumah sakit islam di Wonokromo, entah kenapa tiba-tiba saya teringat seorang senior saya ketika saya masih menjadi mahasiswa di Kairo pada tahun-tahun 1980-an. Senior saya tersebut, seorang pemegang gelar PhD di bidang tasawuf dari Universitas Al-Azhar, Mesir, adalah putra seorang kiai besar dan menantu seorang kiai besar yang rumahnya di belakang rumah sakit tersebut. Selain itu, ia juga terkenal sebagai seorang sastrawan yang salah satu karyanya berjudul Arafah. Ketika masih menjadi mahasiswa di Kairo, saya sering mampir ke flat senior saya tersebut yang terletak di Distrik Garden City, tidak jauh dari Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo yang terletak di Aisha Taimouriyya St.

Tentang senior saya yang berwajah menyejukkan hati dan berakhlak indah ini, ada suatu hal yang sangat menyentuh hati saya: yaitu hubungan dirinya dengan ayahandanya yang seorang kiai terkemuka asal Pulau Madura. Kala itu, perjalanan panjang kehidupan telah dilintasi sang ayahanda: dari hanya sebagai seorang kiai di Pulau Madura hingga menjadi seorang direktur jenderal di sebuah departemen. Namun, jabatan tinggi yang akhirnya dijabatnya itu tidak mengubah kekiaiannya. Kesederhanaan, keramahan, kelapangdadaan, dan keteguhan sikap tetap memancar dari pribadinya. Bila Ramadhan tiba, di tengah kesibukannya, ada suatu pertanyaan yang senantiasa mengusik benaknya, “Masihkah hafalan Al-Quran anakku terpelihara baik? Bukankah bila lupa hafalannya, aku yang pertama bertanggungjawab di hadapan Sang Pemilik Kitab itu?”

Ya, karena kecintaannya pada Al-Quran, sejak kecil sang putra ia arahkan untuk menghafalnya. Akhirnya, seluruh ayat-ayat kitab suci itu berhasil dihafal sang putra. Malah, karena merasa bertanggungjawab atas hafalan sang putra, pendidikan sang putra ia alihkan haluannya. Selepas sang putra merampungkan pendidikannya di sekolah menengah umum, sang putra ia perintahkan untuk berangkat ke sebuah negeri yang jauh. Ke mana lagi kalau bukan untuk belajar di sebuah universitas yang menjadikan hafalan Al-Quran sebagai kewajiban. Benar, akhirnya sang putra memasuki universitas yang usianya lebih dari seribu tahun di Negeri Piramid itu.

Ketika sang putra telah berada jauh di negeri orang, dan bila bulan Ramadhan tiba, pertanyaan yang mengusik benaknya itu senantiasa muncul. Malah, ketika sang putra telah menjadi “orang” dan sastrawan di negeri ini, pertanyaan itu tetap mengusik benaknya. Maka bila bulan Ramadhan tiba, beberapa tahun sekali, ia sempatkan untuk mengunjungi sang putra di Kairo itu. Ribuan kilometer ia tempuh walau tubuh telah rapuh. Ia melakukannya hanya dengan satu tujuan utama, yakni untuk mengetahui “hafalan Al-Quran sang putra”. Bukan untuk menikmati pendar Kota Kairo di malam hari. Walau flat sang putra terletak hanya beberapa ratus meter dari pusat keindahan itu. Bukan pula untuk menikmati keindahan gedung-gedung di kitar flat sang putra yang terletak di kawasan elit kota itu: Garden City. Bukan, kewajibannya dan tanggung jawab atas terpeliharanya hafalan Al-Quran putranya melebihi semua itu.

Selama kunjungannya yang singkat di kota yang didirikan Jauhar Al-Shiqilli pada 972 M itu, sebagian besar waktunya ia gunakan untuk menyimak hafalan Al-Quran sang putra. Bila perlu, tegoran ia lontarkan. Sang putra, walau telah menjadi “orang”, dengan patuh memenuhi keinginan sang ayahanda. Setiap kali sang ayahanda mengunjunginya, dengan penuh hormat ia duduk bersimpuh di depan ayahandanya: menghafal Al-Quran dari awal hingga akhir surah Al-Quran. Baginya, betapa nikmat dan indahnya saat-saat yang demikian. Apalagi saat mendapat teguran sang ayahanda. Ia merasa, kedatangan ayahandanya jauh-jauh dari tanah air demi niat yang ikhlas dan tak ternilai: “perasaan tanggung jawab atas kemurnian dan keterpeliharaan Al-Quran”.

Tak terasa kini lebih dari 1400 tahun telah berlalu sejak Al-Quran pertama kali diturunkan. Walau perjalanan panjang telah dilintasi Al-Quran di Bumi ini, namun keasliannya tetap terpelihara dan murni. Lepas dari janji Allah yang akan memelihara kitab-Nya, ada pelbagai faktor yang membuat Al-Quran tetap terpelihara kemurniannya. Salah satu faktor itu adalah peran para penghafal Al-Quran (huffazh). Peran mereka tidak kecil dalam memelihara kemurnian dan keterpeliharaan Al-Quran.

Seperti diketahui, untuk menjadi seorang penghafal Al-Quran tidak mudah dan ringan. Ada pelbagai syarat yang harus dipenuhi. Kesiapan mental dan moral salah satu di antaranya. Selain itu, juga kesabaran dan keajegan dalam menghafal. Yang paling penting adalah tanggung jawab dalam menjaga hafalan. Tampaknya ini ringan, tapi kenyataannya tidak demikian. Rasa tanggung jawab ini pulalah yang mendorong kiai kita menempuh jarak ribuan kilometer walau tubuh telah rapuh.

Kini, bulan Ramadhan, bulan Al-Quran, datang kembali. Namun, kiai kita sudah tidak lagi akan mengecek hafalan Al-Quran sang putra lagi. Ia telah kembali kepada Sang Pemilik Al-Quran. Tapi, barangkali, semangatnya dalam memelihara Al-Quran bisa menjadi teladan. Di bulan suci ini, akankah kita meneliti kembali hafalan Al-Quran kita?

Thursday, September 20, 2007

Mari Kita Bersama Melihat Bagian Dalam Ka'bah!

Seminggu yang lalu, ketika saya sedang menyiapkan materi “Selintas tentang Tempat-Tempat Historis di Seputar Makkah & Madinah” untuk jamaah Khalifah Tour, Bandung, entah kenapa tiba-tiba dalam benak saya muncul dorongan kuat rasa ingin tahu keadaan sebenarnya bagian dalam Ka‘bah, sebuah bangunan berbentuk kubus di tengah-tengah Masjid Al-Haram, Makkah. Seperti diketahui, Ka‘bah ini merupakan kiblat shalat kaum Muslim. Tinggi bangunan itu sendiri, yang kini selalu diselimuti permadani halus yang disebut kiswah, lebih kurang 12,9 meter dan panjang sisi-sisinya: antara Rukun Syami-Rukun Yamani: 11, 93 meter, antara Rukun Yamani-Hajar Aswad: 10, 13 meter, antara Hajar Aswad-Rukun Iraqi: 11, 58 meter, dan antara Rukun Iraqi-Rukun Syami: 10, 22 meter. Di dalam Al-Quran dikemukakan bahwa Ibrahim a.s. lah bersama putranya, Isma‘il a.s., yang membangun Ka‘bah atas perintah Allah. Seusai membangun Ka‘bah, Ibrahim a.s. lantas diperintahkan Allah menyeru ummat manusia untuk menunaikan ibadah haji, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj [22]: 26).

Di sisi lain, Ka‘bah sebagai bangunan, sepanjang perjalanan sejarahnya, telah mengalami sederet perbaikan dan pemugaran. Ka‘bah dalam bentuknya yang sekarang ini sejatinya merupakan hasil pemugaran pada masa pemerintahan Sultan Murad IV, seorang penguasa Dinasti Usmaniyyah dari Turki (memerintah antara 1033-1050 H/1623-1640 M). Pada 1040 H/1630 M Makkah dilanda banjir besar yang berakibat Masjid Al-Haram terendam dan dinding Ka‘bah ada yang runtuh. Maka, walikota kota suci itu kala itu, Syarif Mas‘ud bin Idris, dengan persetujuan Sultan Murad Khan, kemudian melakukan perbaikan atas Ka‘bah yang rusak itu.

Saya sendiri sejatinya heran, mengapa selama ini saya tidak punya rasa ingin tahu yang demikian. Mungkin, karena saya bukan orang yang pantas memasukinya, maka selama ini rasa ingin tahu itu tak pernah muncul. Rasa ingin tahu yang demikian itu kemudian mendorong saya melakukan perburuan di internet. Alhamdulillah, akhirnya saya mendapatkan foto seperti yang saya tampilkan di sudut kiri atas tulisan saya kali ini.

Marilah sejenak foto itu kita cermati. Ternyata, di bagian dalam Ka‘bah terdapat tiang penyangga utama yang terbuat dari kayu. Setiap tiang memiliki diameter 44 cm, dengan jarak antar tiang 2,35 m. Dari lurus pintu masuk, yang dijaga para pengawal itu, sejatinya terdapat mihrab. Di situlah Nabi Muhammad Saw. pernah melaksanakan shalat di dalam Ka‘bah. Setiap beliau berada di dalam Ka‘bah, menurut sebuah sumber, beliau senantiasa berjalan lurus dengan muka menghadap dinding, hingga pintu Ka‘bah berada di belakang punggung beliau, sampai jarak antara beliau dengan dinding Ka‘bah di depannya sekitar tiga kaki. Lalu, beliau shalat di situ. Namun, hal ini tidak berarti hanya di tempat itu sajalah yang boleh dijadikan tempat shalat. Sebab, bila Anda diizinkan Allah Swt. masuk ke dalam Ka‘bah, Anda boleh shalat di bagian manapun di dalam Ka‘bah kok!

Selain itu, di sebelah kanan dalam Ka‘bah terdapat tangga menuju atap. Tangga tersebut mempunyai pintu. Nah, pintu itulah yang disebut “Pintu Tobat” (Bab Al-Taubah). Pintu Tobat dan Pintu Ka‘bah yang ada dewasa ini dilapisi emas murni. Struktur kerangka kedua pintu tersebut dibuat dari kayu setebal 10 cm, lalu dihiasi dengan ornamen-ornamen dari emas murni. Konon, emas yang dipakai melapisi kedua pintu itu lebih dari 280 kg. Ohoi, berat nian kedua pintu berlapis emas itu!

Semula, Ka‘bah yang dibangun Ibrahim a.s. tidak beratap. Atap baru dibuat ketika kaum Quraisy memugarnya. Dewasa ini, Ka‘bah memiliki dua atap: atap bawah dan atap atas. Permukaan atap atas dilapisi marmer putih dan dikelilingi pagar tembok, yang menyatu dengan dinding Ka‘bah, setinggi sekitar 80 cm. Di pagar tersebut terdapat kayu-kayu untuk mengikatkan tali kiswah. Di permukaan atap atas itu juga terdapat pintu yang tutupnya terbuat dari baja. Lewat pintu itulah para petugas naik ke atap atas ketika menyuci dan membersihkan Ka‘bah serta mengganti kiswah.

Dan, ketika sedang asyik mencermati bagian dalam bangnunan Ka‘bah itu, entah kenapa tiba-tiba ingatan saya melayang-layang ke sebuah buku yang disusun seorang pemikir Iran, Dr. Ali Shariati, berjudul Hajj. Tentang bangunan Ka‘bah ini, ia menulis sangat indah, “Ketika menyaksikan Ka‘bah, Anda pasti tercenung dan termangu. Tiada sesuatu pun untuk dilihat! Yang ada hanyalah sebuah ruang persegi yang kosong. Itukah semuanya? Itukah pusat agama, shalat, cinta, hidup, dan kematian kita?

Di dalam benak Anda mungkin timbul pertanyaan dan keraguan. Di manakah aku? Apakah ini? Yang Anda saksikan adalah antitesa dari imajinasi Anda tentang Ka‘bah sebelumnya. Mungkin, sekali Anda pernah membayangkannya sebagai karya arsitektur nan indah (laksana sebuah istana) dengan langit-langit yang menyelimuti keheningan ruhaniah. Mungkin pula Anda pernah membayangkannya sebagai sebuah mausoleum (makam) yang tinggi menjulang di mana terkubur seorang tokoh manusia penting-seorang pahlawan, genius, imam, atau nabi! Tidak! Yang Anda saksikan hanyalah sebuah ruangan persegi yang kosong. Di dalam Ka‘bah tidak terdapat keahlian arsitektural, keindahan, seni, prasasti, ataupun kualitas yang dapat kita saksikan. Selain itu, di dalam bangunan itu pun ternyata tidak terdapat kuburan. Tidak ada sesuatu pun, dan tiada pula seorang manusia kepada siapa kita dapat mencurahkan perhatian, perasaan, dan kenangan.

Anda akan menyadari, di dalam Ka‘bah tiada sesuatu pun atau manusia pun yang akan mengganggu perasaan dan pikiran kita mengenai Allah. Langit-langit Ka‘bah yang ingin Anda tembus untuk dapat berhubungan dengan yang “mutlak” dan “abadi” merupakan atap bagi perasaan Anda. Dalam dunia Anda yang sarat dengan fragmentasi dan relativitas ada hal-hal yang tidak dapat Anda capai. Sebelumnya, Anda hanya dapat membuat rekaan filosofis. Tapi, kini, ke mana pun Anda berpaling, Anda dapat menyaksikan “yang mutlak”, yang tidak memiliki arah: Allah!

Betapa indahnya Ka‘bah yang kosong ini! Kekosongan ini mengingatkan Anda bahwa kehadiran Anda di sini adalah untuk menunaikan ibadah haji yang sama sekali bukan tujuan terakhir. Selanjutnya, kekosongan ini adalah sebagai penunjuk arah. Ka‘bah hanyalah sebagai tonggak penunjuk jalan!”

Friday, September 14, 2007

Bulan Penyadaran

Beberapa hari yang lalu, seorang sahabat menelpon saya. Dengan suara masih agak bergetar, ia menceritakan bahwa ia baru saja mengalami musibah: ketika ia dan sopirnya yang sedang mengantri di pintu gerbang tol, tiba-tiba sebuah mobil yang melaju kencang remnya blong dan menghajar beberapa mobil di depannya. Mobil sahabat saya tersebut termasuk dalam rangkaian mobil-mobil tersebut. Akibatnya, bagian belakang dan depan mobilnya rusak berat. Namun, alhamdulillah, sahabat saya dan sopirnya selamat. Tidak lama selepas kejadian itu, ia menelpon saya dan mengemukakan bahwa malam kejadian itu ia akan mengadakan tasyakkuran atas keterhindaran dia dan sopir dari musibah. Ia juga bertanya, bolehkah ia melakukan tasyakurran atas keterhindaran dia dari musibah tersebut. Saya pun sepakat dengan tindakannya. Dan, di sisi lain, musibah itu sendiri tiba-tiba mengingatkan saya sebuah kejadian berikut.

Pada suatu hari, di bulan Desember, sebuah pesawat terbang Royal Air Maroc tinggal landas dari Jeddah International Airport. Dengan cepat dan gagahnya pesawat Boeing 727 itu menguak relung langit biru. Sementara bila memandang Bumi, tampak tergelar pemandangan Laut Merah yang kemerah-merahan membentang di antara dan membelah benua Asia-Afrika. Di sebelah barat Laut Merah itu tampak pelabuhan laut Yanbu‘, dan kadang muncul kilang-kilang minyak. Tampak pula jalur jalan-jalan panjang merobek padang pasir yang lengang. Sedang di sebelah timur Laut Merah itu berhamparan gurun sahara. Sejauh memandang hanya padang pasir belaka. Di dalam pesawat yang sedang menuju Kota Kairo itu para penumpang kelihatan senang dan cerita menikmati perjalanan. Apalagi, pelayanan para pramugara dan pramugi Royal Air Maroc cukup memuaskan.

Selepas beberapa lama mengangkasa, pesawat terbang dari Maroko itu telah berada di angkasa. Pemandangan yang tampak kini hanyalah langit biru, awan, dan Bumi di kejauhan. Kadang, pemandangan pekat belaka yang kelihatan, bila pesawat sedang awan tebal. Ketika pesawat itu telah melintasi memasuki wilayah Mesir dan mendekati Kota Kairo, tiba-tiba pengumuman fasten seat belt (pasang sabuk pengaman di tempat duduk) menyala. Pramugara dan pramugari pun sigap membantu para penumpang memasang sabuk pengaman.

Tiba-tiba telinga terasa tuli, perut mual sekali, dan kepala berkunang-kunang. Para penumpang yang sebelumnya tampak gembira, kini menampakkan wajah yang berbeda. Ada yang berdoa, ada yang yang terpaku diam, dan ada yang berwajah pucat pasi. Terasa sekali ketika itu Tuhan hadir di dalam pesawat terbang. Saat itu pesawat terbang terasa meluncur cepat sekali. Mungkin, pesawat itu terjerembab dalam ruang hampa udara. Belum lagi selesai meluncur, tiba-tiba pesawat terhempas keras sekali. Cuaca mendekati Kota Kairo benar-benar tak bersahabat. Musim dingin dengan badai sedang menghantui.

Hampir setengah jam lamanya pesawat terbang tersebut bermain akrobat. Bagaikan sabut di lautan diguncang prahara. Sebentar terhempas ke sana, sebentar terbanting ke sini. Pemandangan menarik Kota Kairo, dengan piramid-piramid dan sphinx menghiasi salah satu sudutnya serta Bukit Muqaththam dengan perbentengan yang didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi di sudut lain, menjadi tidak menarik lagi. Yang membersit dalam benak dan kalbu hanyalah doa kiranya Allah Swt. melindungi.

Akhirnya, pesawat itu berhasil menguak mendung tebal dan mendapat lampu hijau untuk mendarat di Cairo International Airport. Begitu pesawat menjejakkan roda-rodanya di landasan dan kemudian berhenti, para penumpang pun berpelukan gembira. Ketika telah berada di dalam gedung bandara, tampak wajah mereka berseri kembali. Kejadian di angkasa yang belum lama mereka alami tinggal kenangan belaka.

Tak terasa bulan Ramadhan kini tiba kembali. Inilah bulan penuh berkah, bulan penempaan dan bulan penyadaran diri. Penempaan dan penyadaran tentang siapa kita dan untuk apa kita hidup. Bila direnungkan, bukankah betapa sering dalam hidup ini kita acap menghadapi keadaan seperti kejadian yang dialami sahabat saya dan kejadian dalam pesawat terbang tersebut. Tiba-tiba di hadapan kita muncul keadaan yang pada saat itu batas kehidupan kita di dunia tinggal selapis tipis sekali. Dalam keadaan itu, biasanya baru muncul kesadaran diri. Dan, biasanya pula, bila keadaan gawat itu berlalu, dengan segera kesadaran diri itu pun ikut tersapu.

Memang, itu manusiawi. Dengan kata lain, keadaan seperti itu acap menimpa banyak di antara kita. Karena itu, dalam Islam, proses penyadaran itu selalu ditumbuhkan lewat pengulangan ibadah. Setiap hari penyadaran itu ditumbuhkan lewat shalat lima waktu. Setiap minggu dibangkitkan melalui shalat jumat. Dan setiap tahun digelorakan lewat puasa, seperti yang sedang kita jalani.

Kini bulan Ramadhan menemui kita kembali. Kiranya hikmahnya membekas kuat pada diri kita.