Wednesday, January 7, 2009

Ketika Seorang Calon Ulama Terkemuka Jatuh Cinta

Bila Anda mengunjungi Cordoba, Spanyol, di depan Pintu Gerbang Sevilla kota tersebut yang di masa silam menuju ke arah Balath Mughits, akan Anda jumpai patung seorang lelaki tegak dengan gagahnya. Lelaki gagah mengenakan jubah itu seakan sedang menapakkan kedua kakinya menuju Masjid Cordoba, tempat ia menjadi mahasiswa dan guru besar serta menunaikan shalat setiap harinya. Patung itu didirikan atas prakarsa masyarakat dan pemerintah Kota Cordoba pada 1963, sebagai penghargaan atas jasa-jasa tokoh yang dipatungkan itu. Lelaki itu, tak salah lagi, adalah Ibn Hazm Al-Andalusi, yang fotonya penulis tampilkan di samping kiri tulisan ini. Ulama yang satu ini ternyata pernah mengalami kisah cinta tragis: cinta bertepuk sebelah tangan. Dan, menariknya, kisah cinta yang gagal itu ditampilkan dengan indahnya dalam karyanya, Thauq Al-Hamamah, yang sebentar lagi edisi Indonesianya akan hadir dengan judul Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta. Bagaimana kisah cinta bertepuk sebelah tangan sang ulama ketika masih muda usia, berikut kisahnya: 

“Ketika saya masih remaja, saya jatuh cinta kepada seorang hamba sahaya perempuan nan amat jelita milik keluarga saya yang tinggal serumah dengan kami,” tutur Ibn Hazm Al-Andalusi. “Hamba sahaya itu masih gadis, berusia enam belas tahun. Wajahnya elok nan sangat memesona. Kecerdasan dan kesucian dirinya menawan hati. Ia begitu pintar memelihara kehormatan dan harga dirinya. Ia tinggalkan segala perbuatan yang kurang ajar dan tak senonoh. Ia pun berpakaian rapi dan tertutup rapat senantiasa. Juga, ia sedikit bicara, tak suka mencela, pandangannya senantiasa terjaga, memelihara jarak dengan lawan jenis, dan senantiasa bersikap hati-hati. Sungguh, ia benar-benar amat memesona. 

Selain itu,  ia begitu pandai berkelit dan piawai dalam menyatakan penolakan. Ia begitu tenang dan santun kala duduk. Ia lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Ia senantiasa menghindar bila ada orang yang ingin berbuat macam-macam dengannya. Karena itu, orang pun segan kepadanya. Ia bukan tipe perempuan gampangan, di mana setiap laki-laki dapat menyinggahinya. Kepribadiannya memikat hati setiap orang yang mengenalnya. Kesantunan tabiatnya mengusir orang yang hendak menjahilinya. Ia dermawan dan ringan tangan. Ia sungguh cekatan dalam pekerjaan. Ia tak senang canda yang tiada manfaatnya. Dan, ia sangat pandai membalas budi dan memendam rasa. Duhai, ia benar-benar gadis sangat memikat nan memesona.” 

Demikian kenang tokoh yang sarat pengalaman itu perihal gadis yang dicintainya. Selepas bertutur demikian, ahli hukum  Islam  yang  menganut Aliran  Zhahiriyyah,  menolak ra‘y  (rasio),  dan  mengambil lahiriah teks-teks Al-Quran itu kemudian menuturkan kembali kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu, “Saya sangat mencintainya. Sungguh, sangat mencintainya. Selama dua tahun saya terus berusaha keras untuk dapat mendengar satu kata khusus saja yang terucap dari mulutnya untuk saya. Ya, kata khusus di luar pembicaraan yang sifatnya umum. Namun, sekeras apa pun usaha saya, tetap tak menghasilkan harapan yang saya damba. Ia tak pernah mau berucap kepada saya. Walau itu sepatah saja. Lantas, suatu hari, ada pesta kecil di rumah kami. Seluruh anggora keluarga dan handai tolan saya berkumpul. Beberapa ibu, anak gadis, dan beberapa tetangga yang selama ini membantu keluarga saya juga ikut berkumpul. Di siang hari mereka semua berkumpul di ruang tengah. Dan selepas acara usai, mereka semua menuju balkon rumah yang langsung tersambung dengan taman. Dari balkon, seluruh lekuk-lekuk dan pernik-pernik Kota Cordoba terlihat begitu jelasnya. Sungai-sungainya, bukit-bukitnya, dan pegunungan hijau yang menghampar dan mengelilinginya. Mereka berkumpul di balkon seraya menikmati pemandangan indah Kota Cordoba.” 

Saya pun ikut berkumpul di sana. Masih terekam jelas di benak, saat itu saya berjalan menuju pintu tempat perempuan nan jelita yang saya damba itu berada. Saya sengaja mendekatinya. Kami berdiri berdekatan. Dekat sekali. Namun, begitu ia tahu saya berdiri di sampingnya, ia segera beranjak meninggalkan saya. Ia beranjak ke pintu lain dengan langkah nan lamban dan menawan. Saya tak dapat tinggal diam. Saya ikuti dia. Dan, begitu saya berada di sampingnya, ia segera beralih ke pintu sebelumnya. Begitu seterusnya. 

Sepertinya ia telah tahu dengan rahasia hati saya yang saya pendam dalam. Sementara itu, segenap hadirin dan kaum perempuan di sana tiada yang mengetahui apa sejatinya yang terjadi di antara kami berdua. Hal itu lantaran saking banyaknya orang yang hadir. Sehingga, kami pun luput dari perhatian mereka. Lagi pula mereka juga disibukkan oleh keasyikan mereka sendiri. Yaitu hilir mudik ke sana kemari, dari satu pintu ke pintu yang lainnya, untuk menyaksikan pemandangan Kota Cordoba yang mengundang decak kagum. Mereka juga terlalu asyik masyuk menikmati keindahan taman. 

Seraya menikmati keindahan Kota Cordoba, segenap hadirin, terutama dari kaum hawa dan ibu-ibu meminta tuan rumah (yakni keluarga kami) untuk menghibur mereka dengan senandung lagu-lagu memesona. Dan ibu saya, yang tak lain adalah sang nyonya rumah, segera menyuruh perempuan nan jelita yang saya cinta itu untuk menyenandungkan lagu-lagu penuh pesona. Saya lihat ia begitu malu-malu menyanggupi permintaan itu. Saya belum pernah melihat ada perempuan yang memperlihatkan rasa malu dengan begitu anggun seperti dirinya. Duhai, begitu eloknya ia ketika dalam keadaan seperti itu. Rasa malu yang ia tunjukkan justru mempercantik wajah jelitanya. Sejenak kemudian, ia menyanyikan beberapa bait lagu karya Al-‘Abbas bin Al-Ahnaf.: 

Kala matahari mulai tenggelam, kusapalah ia

Cahayanya indah bagai pesona istana para raja

Ia telah menjelma di wajah gadis belia

Duhai, betapa keelokannya sungguh memesona

 Andai saja ia tak menginjak mayapada

Tentu ia bukan seorang manusia

Andai saja ia tak beraga

Malaikat ia selayaknya

Wajahnya bersinar bak permata, tubuhnya pualam pendarkan cahaya

Angin sepoi meniupkan tubuhnya

Duh wanginya bak minyak anbar saja, seolah dari cahaya ia tercipta

Jalannya, wahai laksana di atas perak dan kaca 

Duh, mendengar dendang lagu itu, hati saya seolah baru saja ditampar-tampar. Saya tak akan pernah dapat melupakan peristiwa itu. Tak akan pernah! Malah, hingga pun kematian menjemput saya. Sebab, itulah kesempatan terlama kala saya dapat melihat wajahnya dan mendengar suaranya. 

Dari rumah baru, yang terletak di sebelah timur Cordoba, tepatnya di Rabadh Al-Zahirah, ayahanda saya pindah ke rumah lama kami di sebelah barat Cordoba, tepatnya di komplek Balath Mughits. Kami pindah di hari ketiga semenjak Amirul Mukminin Muhammad Al-Mahdi menjadi khalifah. Tepatnya pada Jumada Al-Tsaniyyah 399 H/Februari 1009 M. Saya ikut pindah bersama mereka. Namun, karena alasan tertentu, perempuan nan jelita  yang saya cintai tak turut serta. 

Kami disibukkan oleh aneka ragam kesulitan, selepas kekuasaan khilafah berada di tangan Amirul Mukminin Hisyam Al-Mu’ayyad. Para pejabat pemerintahan Hisyam Al-Mu’ayyad acap mengintimidasi keluarga kami. Kami dicekal serupa tahanan kota. Segala gerak kami diawasi dengan ketat. Akhirnya, konflik horizontal pun meledak. Tak hanya melibatkan keluarga kami. Tapi, juga masyarakat luas. Saat itu, kala keadaan lagi genting-gentingnya, Ayahanda saya meningga1 dunia. Ia wafat di hari Sabtu selepas shalat asar, dua malam sebelum Dzulqa‘dah 402 H (22 Juni 1012).” 

Ibn Hazm kemudian sejenak berhenti berkisah. Dan, beberapa saat kemudian, ia menuturkan kembali kisah cintanya, “Nampaknya, cerita tentang kisah-kasih saya dengan hamba sahaya perempuan yang saya cintai harus saya lanjutkan: suatu hari ada anggota keluarga kami yang berpulang. Jenazahnya masih disemayamkan di rumah kami. Saya melihat hamba sahaya perempuan itu berada di antara kaum perempuan yang mengelilingi jenazah sambil menangisinya. Ia juga ikut menangis bersama mereka. Kejadian itu tentu saja membangkitkan cinta saya yang beberapa lamanya terpendam. Membangunkan perasaan hati saya yang lama tertidur. Saya jadi teringat dengan masa lalu saya. Masa di mana kisah cinta pernah menyinggahi saya, bulan-bulan telah berlalu, dan hari-hari telah pergi meninggalkan saya sendiri. 

Semua itu hanyalah menambah kesedihan saya. Karena saya tahu, malah sangat tahu, cinta saya bertepuk sebelah tangan. Belum lagi saya juga tertimpa oleh beragam kesedihan yang belakangan menimpa keluarga saya. Saat itu awan kesedihan, keperihan, dan kedukaan yang menaungi saya terasa lebih tebal dari sebelumnya. Pelbagai kepedihan dan cobaan masih mendera keluarga kami. Kemudian, ketika bangsa Berber yang biadab memorakporandakan Cordoba, kami pun terpaksa harus pergi meninggalkan rumah kami. Kami laiknya tawanan perang yang terusir dari tanahnya sendiri. Peristiwa itu terjadi pada awal Muharram 404 H/13 Juli 1013 M. Dan enam tahun sejak peristiwa itu-ketika terakhir kali saya melihatnya di tempat rumah duka keluarga saya-saya tidak pernah lagi melihat hamba sahaya perempuan yang sangat saya cintai itu. Saya baru melihatnya lagi ketika datang ke Cordoba. Tepatnya pada Syawwal 409 H/Februari 1019 M. Mula-mula saya tak mengenalinya lagi. Namun, begitu ada seorang kawan yang memberitahu saya bahwa dia adalah perempuan yang dulu saya puja, saya baru mengenalnya. 

Kini, ia sudah sangat berubah. Ia sama sekali berbeda dengan ia yang dulu. Nyaris seluruh pendar kecantikannya pudar sudah. Wajah nan jelitanya sirna. Cahayanya tak lagi memancar memesona. Keanggunannya lenyap tak berbekas. Kebeningan wajahnya, yang dulu nampak bak kilatan mata pedang dan cermin India, kini keruh dan lusuh. Kilauan pesona yang dulu menjadi pusat perhatian semua orang, kini redup dan sirna. Segala nama keindahan dan keelokan yang dulu dimilikinya, kini tiada tersisa. Kecuali hanya sedikit ciri yang menjadi pengenal saja yang tersisa. Duh, kasihan dia. Perubahan yang sangat besar itu terjadi lantaran ia kurang-malah bisa jadi sama sekali tidak-dapat memelihara keelokan dirinya. Keadaannya dirinya berbeda sekali dengan masa ketika kami masih tinggal bersama. Selepas tidak lagi bersama kami, konon, ia acap keluar rumah untuk mencari biaya hidup sehari-hari. Padahal, ketika dulu masih bersama keluarga kami, ia tak pernah disuruh melakukan hal-hal seperti itu sama sekali. 

Perempuan itu ibarat pohon yang wangi bunganya. Bila pohon itu tak dirawat dengan baik, maka keindahan dan wanginya akan meluruh. Malah, dapat sirna sama sekali. Perempuan itu laksana bangunan. Bila bangunan tak dipelihara, seiring bertambahnya usia, ia akan binasa. Malah, sirna. ‘Andai saja dulu ia mau menerima cinta saya, atau mau berbicara dengan saya, walau barang sebentar saja, saat itu bisa jadi saya menjadi gila karena saking gembiranya, atau malah saya bisa mati lantaran terlalu bahagia. Untung, ia tak mau menerima cinta saya. Untung, ia berpaling dari saya. Sehingga, saya bisa bersabar dan akhirnya bisa melupakannya,’ gumam saya dalam hati.” 

Membaca kisah itu, entah mengapa dalam benak saya muncul bersitan pikiran: beranikah KH Sahal Mahfuzh, KH Abdullah Syukri Zarkasyi, KH Mustofa Bisri, Gus Dur atau kiai-kaian lainnya menuangkan kisah cinta mereka, kala mereka masih muda usia, seperti halnya yang telah dilakukan Ibn Hazm? Wallahu a‘lam bi al-shawab.

 

 

Tuesday, January 6, 2009

Karya Besar Seorang Ulama Terkemuka Perihal Cinta

Pembaca budiman, tak terasa hampir lima bulan, sejak bulan Agustus 2008, penulis tidak hadir untuk menyapa Anda sekalian. Kiranya Anda sekalian berkenan memaafkan hamba Allah yang dhaif ini. Sejatinya, selama bulan-bulan itu, banyak ide-ide yang hendak penulis sajikan. Namun, konsentrasi penuh untuk menyelesaikan beberapa buku membuat ide-ide yang akan penulis sajikan “menguap”. Alhamdulillah, entah mengapa, Allah Swt. hari ini memberikan kekuatan untuk menyajikan sebuah tulisan di blog ini. Kali ini, penulis ingin berkisah tentang ulama besar yang terkenal dengan karya besarnya perihal cinta, Thauq Al-Hamamah yang penulis terjemahkan dan insya Allah akan diterbitkan oleh Penerbit Mizan, Bandung di akhir bulan ini. Ulama itu tak lain adalah Ibn Hazm Al-Andalusi. Siapakah ulama yang satu itu dan bagaimana kisah karya besarnya yang dipandang sebagai salah satu masterpiece di bidang cinta? 

Tokoh yang bernama lengkap Abu Muhammad ‘Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm Al-Andalusi dan berwajah Hispanik itu lahir  di Cordoba  pada Rabu, 30 Ramadhan 384 H/7 November 994  M,  dalam lingkungan  keluarga  yang bermukim di Montlisam (kini disebut Montijar, di kawasan Huelva, Andalusia bagian  barat daya) yang terletak  dalam  wilayah  Niebla,  ilmuwan  dan  ulama  berdarah tak jelas ini (menurut Dr. Al-Thahir Ahmad Makki, dalam karyanya Dirâsat ‘an Ibn Hazm wa Kitâbih Thauq Al-Hamâmah, Ibn Hazm kemungkinan besar berdarah Spanyol) tumbuh  dewasa sebagai putra  seorang  menteri di bawah pemerintahan Al-Manshur  bin  Abu ‘Amir, di sebuah istana indah  nan  megah. Sang  ayahandalah, seperti kebiasaan kala itu,  yang  menjadi  guru pertamanya. Ketika sang ayahanda berpulang, pada akhir Dzulqa‘dah 402  H/Juni  1013  M, ia pun meninggalkan Cordoba  yang  kala  itu sedang  diguncang prahara perang saudara dan menetap  di  Almeria dan Jativa. 

Lima  tahun  kemudian,  ketika Ibn Hazm kembali  ke  Cordoba,  ia diangkat  sebagai  menteri oleh ‘Abdurrahman  IV  Al-Murtadha.  Segera, dunia kekuasaan dan politik menjadi tak  asing baginya.  Beberapa  kali ia terlibat dalam konflik  politik  yang keras, utamanya selepas pembunuhan ‘Abdurrahman V Al-Mustazhhir pada  424  H/1023  M, yang membuatnya dijebloskan ke dalam bui.  Selepas  merasakan  pahit  getirnya  dunia politik,  ia  kemudian  memalingkan  diri  ke  arah  dunia   ilmu pengetahuan. Lahirlah sederet karya-karyanya yang terkenal hingga  kini. Di  bidang  fikih, misalnya, karyanya yang berjudul  Al-Muhallâ  merupakan salah satu sumber acuan. Di bidang ilmu kalam, karyanya  yang berjudul Al-Fashl fi  Al-Milal  wa  Al-Ahwâ’  wa Al -Nihal  tidak  kalah   nilainya dibandingkan  dengan  karyanya  di bidang fikih  itu.  Di  bidang akhlak, ia menyusun karya besarnya dengan judul Al-Akhlâq wa Al-Sair fi Mudâwah Al-Nufûs. Tak mengherankan bila ia mendapat gelar Al-Imâm (Sang Imam). 

Selain itu, Ibn  Hazm  juga dikenal sebagai ahli hukum  Islam  yang  menganut Aliran  Zhahiriyyah,  yang menolak ra‘y  (rasio),  dan  mengambil lahiriah teks-teks Al-Quran. Tak aneh bila ia berpendapat bahwa barang siapa yang memberi fatwa dengan berdasarkan ra‘y, maka  ia memberi  fatwa tanpa ilmu. Menurutnya, seseorang tidak  dipandang berilmu  tentang Islam, kecuali apabila ia  mendalami  Al-Quran dan Al-Sunnah. Ilmuwan  yang  berpulang ke hadirat Allah di Montlisam  pada Sabtu, 28 Sya‘ban 456 H/14 Agustus 1064 M ini juga terkenal sebagai seorang ilmuwan yang produktif.  Konon, karya-karya  sekitar 400 buku. Antara lain Al-Fashl fi  Milal  wa Al-Nihal,  Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, Jamharah Ansâb Al-‘Arab, Fadhâ’il Ahl Andalus, Al-Talkhîs li Wujûh Al-Talkhîs, Ahl-Ahkam li  Ushul  Al-Ahkam, Nuqâth Al-‘Arûs fi Tawârikh Al-Khulafâ’ dan Jawâmi‘  Al-Sîrah Al-Nabawiyyah. 

Ternyata, sang imam juga menyusun sebuah karya besar tentang cinta berjudul Thauq Al-Hamâmah. Karya yang mulai disusun Ibn Hazm pada 428 H/1027 M, kala ia bermukim di Jativa, ketika  ditemukan  kembali pada awal abad ke-19 M, membuat geger dunia ilmiah di bidang Kajian Ketimuran, terutama Kajian Andalusia, seperti karya-karyanya yang lain. Karya itu pun lantas diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing. Pada 1931  di Paris terbit, misalnya, terbit terjemahan pertama kali itu dalam bahasa Inggris  oleh L. Nykl. Sepuluh tahun kemudian, M. Weisweiler menerjemahkan karya ini ke dalam bahasa Jerman. Sembilan tahun selepas itu, tepatnya pada 1949, F. Garibaldi menerjemahkannya ke dalam bahasa Italia. Di tahun yang sama, Leon Bercher menerjemahkan ulang karya yang acap dipandang sebagai karya paling menarik tentang cinta dari masa pertengahan ini, di dunia Islam maupun Kristen, ke dalam bahasa Prancis. Kemudian, pada 1952, terbit terjemahan pertama karya ini dalam bahasa Spanyol oleh Emilio Garcia Gomez. Tahun berikutnya, seorang orientalis terkemuka Inggris, Anthony J. Arberry, menerjemahkan kembali karya yang menyajikan pandangan dan pikiran Ibn Hazm tentang cinta ini ke dalam bahasa Inggris dengan judul The Ring of the Dove. Dan, penerjemahan pertama kali ke dalam bahasa Indonesia (berdasarkan naskah dalam bahasa Arab versi Abu Mundzir Sa‘d Karim Al-Faqy) dilakukan oleh Anif Sirsaeba dan diterbitkan pertama kali pada 2006 dengan judul Di Bawah Naungan Cinta. 

Adapun karya yang  segera hadir di  di antara ppara pembaca budiman juga merupakan terjemahan karya Ibn Hazm Al-Andalusi tersebut. Terjemahan ini sendiri  penulis dasarkan pada sebuah naskah Thauq Al-Hamâmah dalam bahasa Arab yang lain. Naskah yang diterbitkan  oleh sebuah penerbit terkemuka di Mesir, Dar Al-Ma‘arif, tersebut disunting dan diberi catatan akhir oleh seorang guru besar Universitas Kairo yang pakar di bidang Kajian Andalusia, Dr. Al-Thahir Ahmad Makki. Ada beberapa alasan mengapa naskah tersebut yang penulis pilih untuk diterjemahkan. Antara lain karena versi tersebut merupakan versi Thauq Al-Hamâmah yang paling lengkap dan akurat. Di samping itu, dalam proses penerjemahan karya yang satu ini, penulis juga mengacu pada karya terjemahan A.J. Arberry, The Ring of the Dove yang diterbitkan pada 1994 oleh sebuah penerbit Inggris, Luzac Oriental, dan memerhatikan karya terjemahan Anif Sirsaeba tersebut di atas. 

Di sisi lain, usaha menerjemahkan secara cermat karya besar Ibn Hazm tentang cinta ini mengharuskan penulis sedikit banyak memahami sejarah dan kebudayaan Andalusia di bawah pemerintahan dinasti-dinasti Muslim. Tentang hal ini, karya-karya Prof. Dr. Ahmad Husain Haikal, Al-Adâb Al-Andalusî dan Al-Muwasysyahât, karya Prof. Dr. Ahmad Shalaby, Mausû‘ah Al-Târikh Al-Islâmî wa Al-Hadhârah Al-Islâmiyyah, karya Prof. Dr. Al-Thahir Ahmad Makki, Dirâsât ‘an Ibn Hazm wa Kitâbih Thauq Al-Hamâmah, karya Dr. Muhammad Hasan ‘Abdullah, Al-Hub fi Al-Turâts Al-‘Arabî, dan karya Mahmud ‘Awadh, Mutamarridûn li Wajh Allâh sangat membantu. 

Selamat membaca dan menikmati karya besar perihal cinta itu!

 

Monday, August 11, 2008

Wow, Ini Makkah atau Dubai?

Ketika berumrah di akhir bulan Juni 2008 yang lalu, dan begitu penulis sedang menuju Masjid Al-Haram, ada suatu pemandangan yang cukup menarik bagi saya: bangunan-bangunan yang terletak dari Suq Al-Lail (orang Indonesia lebih megenalnya dengan sebutan Pasar Seng) hingga Jabal ‘Umar telah bertumbangan. Ada yang bilang, sekitar 900 bangunan telah diruntuhkan.

Saat itu sendiri, di sana-sini terlihat truk-truk yang membawa puing-puing bangunan hilir mudik di sekitar lokasi itu. Tak ayal lagi, Kota Makkah di musim panas itu kian “membara” dan “berdebu”. Tak aneh, bila seorang pembimbing jamaah umrah yang telah berusia sekitar 60 tahun, begitu pulang dari berumrah langsung jatuh sakit dan ternyata terkena bronchitis. Memang, dalam kondisi dan situasi Kota Makkah yang sedang mulai membangun itu, membuat kota itu terasa tak nyaman. Belum lagi jumlah hotel-hotel pun kian menciut. Akibatnya, tentu dapat diperkirakan. Pasokan hotel pun di Makkah pun kian menciut. Belum lagi suasana kekhusukan beribadah juga terganggu.

Itu suasana di musim panas di akhir bulan Juni yang lalu. Untuk musim haji nanti, tentu situasi dan kondisinya akan kian seru lagi. Bagaimana tidak? Dengan “sikon” Kota Makkah yang demikian, diperkirakan para jamaah haji regular Indonesia akan menempati pemukiman-pemukiman dengan jarak paling dekat sekitar dua kilometer dari Masjid Al-Haram. Di satu sisi, “sikon” itu tentu semakin memberatkan para jamaah. Di sisi lain, beban yang ditanggung Masjid Al-Haram pun kian berat. Mengapa? Karena dengan jarak demikian, tentu para jamaah akan semakin lama “ngendon” di Masjid itu, untuk menghemat energi pulang-balik ke pemukiman yang jaraknya jauh. Dengan “sikon” yang demikian, Masjid Al-Haram pun semakian padat sepanjang waktu.

“Sikon” yang demikian itu diperkirakan akan berlangsung sekitar 3 hingga 5 tahun ke depan. Karena itu, jamaah yang berumrah maupun berhaji pada tahun-tahun itu hendaknya mempersiapkan diri menghadapi “sikon” yang kurang nyaman itu. Terutama bagi jamaah haji yang telah lanjut usia. Penyakit akibat debu yang gentayangan itu harus diantisipasi dengan baik.

Bagaimanakah rancangan Kota Makkah ke depan dengan adanya penghancuran bangunan-bangunan itu? Nah, di foto di samping dapat Anda saksikan gambar “KOTA MAKKAH MASA DEPAN” seperti yang ditampilkan oleh beberapa pihak. Ketika melihat gambar itu, seorang teman sampai berteriak, “Wow, ini Makkah atau Dubai?” Wallahu a’lam bi al-shawab.

Friday, August 1, 2008

Tidak Inginkah Anda Ikut Berbagi Kebaikan dan Ilmu Pengetahuan?

“Kataba!”, “madiha!, “alima!”, “nafisa!” dan banyak kosakata Arab lain kemarin sore diucapkan dengan penuh semangat oleh sekitar 35 anak-anak yang sedang belajar Al-Qur’an di rumah kami. Ya, itulah kegiatan saya dan istri sejak sekitar dua setengah bulan lalu: memantau para ustadz dan ustadzah yang sedang mengajarkan Al-Qur’an dengan Metode Qira’ati. Ada kebahagiaan yang sulit diungkapkan ketika setiap sore, antara pukul 15.30-17-15 melihat dan mengawasi anak-anak yang sedang mengikuti pendidikan di Taman Pendidikan Al-Qur’an NUN LEARNING CENTER yang kami dirikan di Baleendah, Kabupaten Bandung.


Ketika melihat anak-anak sedang mengaji dengan penuh semangat, entah mengapa bayang-bayang masa kecil dan muda acap menyeruak kembali. Melihat mereka, kenangan ketika saya sedang mengaji di bawah bimbingan ayahanda, K.H. A.Z. Dahlan. kemudian di bawah bimbingan seorang paman di Cepu, dan kemudian kenangan ketika sedang mengaji di bawah bimbingan K.H. Abu Ammar (alm.), Kudus, dan K.H. Ali Maksum (alm.), Yogyakarta muncul kembali. Kadang, muncul pula kenangan ketika tinggal di Pesantren Krapyak, Yogyakarta, dan tinggal segotakan bersama Gus Adib (alm.), adik Gus Mus, dan seorang paman yang sejak 1986 hingga kini menetap di Syracuse, Amerika Serikat, juga kenangan ketika sedang menimba ilmu di Mesir.

Memang, sejak tiga bulan yang lalu, kami lebih banyak tinggal di daerah, meninggalkan rumah yang telah kami tinggali sejak 1990 di Sukajadi, Kodya Bandung. Perpindahan ini tak lepas dari keinginan dari istri yang ingin mengisi masa tua dengan kegiatan yang lebih banyak bercorak ukhrawi. Dan, kegiatan yang kami pilih adalah membuka Taman Pendidikan Al-Qur’an. Saya sendiri merasa, ini adalah pilihan yang paling tepat. Sebagai cucu seorang kiai yang hafizh Al-Qur’an dan membuka pesantren yang mengajarkan Al-Quran, di samping pernah mengaji di sebuah pesantren yang juga mengajarkan Al-Qur’an dan tafsirnya: Pesantren Krapyak, Yogyakarta, kegiatan itu sejatinya tak jauh dari kegiatan yang pernah saya ikuti ketika kecil dan muda. Dan, alhamdulillah, pada 30 Juli 2008 M, yang bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 1429 M, bertepatan dengan Peristiwa Isra’ dan Mi’raj, lembaga yang kami dirikan, yaitu NUN LEARNING CENTER, diresmikan.

Selain Taman Pendidikan Al-Qur’an yang kini telah memiliki murid sekitar 50 anak, alhamdulillah pada hari itu pula lembaga itu kami lengkapi dengan sebuah Taman Bacaan untuk anak-anak dari usia sekitar 4 tahun hingga 14 tahun. Harapan kami, dengan dilengkapinya Taman Pendidikan Al-Qur’an itu dengan sebuah taman bacaan yang menyediakan pelbagai buku agama, ilmu pengetahuan, dan pelbagai buku penambah wawasan yang bersifat popular, harapan kami akan tumbuh sebuah generasi yang cerdas, berwawasan luas, dan berakhlak mulia. Mungkin, ini dambaan yang terlalu muluk. Tapi, bila hal itu tidak kita mulai, kapan akan lahir generasi yang demikian?

Harapan kami, lewat tulisan di blog ini, para pembaca budiman juga ikut serta bersama kami berbagi kebaikan dan ilmu pengetahuan kepada mereka. Tentu kami akan sangat bahagia, bila ajakan ini mendapat sambutan dari para pembaca. Yang kami harapkan hanyalah: kirimkanlah buku-buku yang bermanfaat untuk anak-anak dengan usia tersebut kepada kami: Ahmad Rofi’ Usmani, Jl Sukagalih 109, Sukajadi, Bandung, 40162, atau Taman Bacaan NUN LEARNING CENTER, Jl. Rd. T. Endung Surya I, RT 01 RW 16, Baleendah, Kabupaten Bandung, Telp. 022-5946489. Kiranya Allah Swt. membalas amal Anda dalam berbagi kebaikan dan ilmu pengetahuan tersebut. Jazâkumullâh Ahsanal Jazâ’. Amîn.

Thursday, July 10, 2008

Muhammad Sang Kekasih

Madinah, dini hari Rabu, 2 Juli 2008. Dengan hati yang sangat bahagia, penulis meninggalkan lobi Movenpick Hotel, Madinah. Perasaan campur aduk memenuhi relung hati dan benak penulis. Dengan perasaan sangat bersyukur kepada Allah Swt., yang lagi-lagi telah memberi kesempatan kembali kepada penulis untuk berziarahah ke Kota Nabi, penulis melintasi pelataran belakang Masjid Nabawi. Penulis tak tahu, skenario apa yang sedang digoreskan Sang Khalik, hingga Dia menganugerahkan karunia tak ternilai ini.
Anugerah tak ternilai? Ya, selepas tiba kembali di Tanah Air dari naik haji pada Desember 2007, seperti penulis kemukakan dalam sebuah tulisan dalam blog ini, seluruh energi penulis curahkan untuk menyusun sebuah karya tentang biografi Rasulullah Saw. Rasanya, penulis tak pernah merasa begitu bersemangat seperti halnya ketika menulis karya yang satu ini. Siang dan malam energi penulis tersedot untuk merampungkan penulisan karya itu. Alhamdulillah, penulisan karya itu akhirnya usai pada pertengahan April 2008. Namun, seusai merampungkan penulisan karya itu, energi penulis untuk menulis seakan sirna sama sekali. Sehingga, menulis sebuah tulisan untuk blog ini pun tak kuasa.
Penulis sendiri tak tahu, skenario apa yang sedang digoreskan Allah Swt., Kang Rustam Sumarna, Direktur KhalifahTour, sebuah biro perjalanan umrah dan haji di Bandung, tiba-tiba menawarkan kepada penulis untuk berangkat menunaikan ibadah umrah dan pergi ke Mesir selama 12 hari, dari 26 Juni hingga 7 Juli 2008. Subhânallâh, Allah kuasa atas segala sesuatu.
Begitu memasuki Raudhah, penulis ungkapkan rasa syukur tak terhingga kepada-Nya. Betapa besar anugerah yang Dia karuniakan kepada penulis yang dhaif ini. Kemudian, selepas menunaikan ibadah shalat subuh, segera penulis melintasi lorong di depan makam Rasulullah Saw. Gembira, bahagia, puas, dan khawatir (melakukan banyak kesalahan dan kealpaan dalam menyusun karya tentang biografi beliau yang akan terbit sekitar akhir Juli 2008 itu) berpadu menjadi satu. Ketika tepat berada di depan makam beliau, penulis pun bergumam, “Shalawat dan salam untukmu, wahai Rasul. Hanya inilah yang dapat kulakukan dalam menyusun biografimu. Ampunan dari Allah dan maaf darimu kuharapkan, bila dalam menulis karya itu banyak terdapat kesalahan, keteledoran, kealpaan, dan kekeliruan. Kiranya karya itu bermanfaat bagi umatmu. Amiin.”