Wednesday, June 22, 2011

Ketika Duka Itu Tiba


Entah kenapa, tadi pagi, ketika sedang menyiapkan diri untuk melakukan perjalanan ke Timur Tengah pada akhir minggu ini, tiba-tiba benak dan hati saya tersentak. Kemudian, tiba-tiba tidak terasa air mata menetes pelan, teringat Rasul Saw. Ya, teringat beliau yang berpulang di awal bulan Juni. Tepatnya pada 8 Juni 632 M. Air mata menetes karena menyesal, mengapa pada hari beliau berpulang saya tak teringat sama sekali kepada beliau dan baru hari ini ingat kalau beliau berpulang pada bulan Juni seraya bergumam, “Wahai Rasul, maafkan umatmu yang satu ini. Ternyata, kesibukan duniawi lebih menyilaukan dirinya, hingga ia melupakan engkau di hari ketika engkau bertemu dengan Kekasihmu.”

Rasulullah Saw. berpulang di bulan Juni? Bagaimanakah kisah hari-hari terakhir beliau di dunia yang fana ini?

Dua bulan selepas menunaikan ibadah Haji Perpisahan (Wadâ‘), Rasulullah Saw. jatuh sakit. Tapi, beliau tetap melaksanakan tugas seperti biasa. Beliau juga pergi ke Uhud dan mendoakan syuhada yang dimakamkan di sana. Ternyata, selepas hari demi hari berlalu, kondisi kesehatan beliau tidak kian membaik. Walau demikian, beliau terus melaksanakan shalat berjamaah hingga beliau menjadi begitu lemah dan tak kuasa bergerak. Beliau perintahkan Abu Bakar Al-Shiddiq untuk menjadi imam. Abu Bakar melaksanakannya selama beberapa hari. Empat hari sebelum wafat, di waktu subuh, beliau agak sembuh dan dalam keadaan tenang. Panas demam yang menimpa tubuh beliau sudah mulai turun. Sehingga, seolah karena obat yang diberikan keluarganya telah mulai bekerja dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu beliau dapat pula keluar rumah pergi ke masjid dengan berikat kepala dan bertopang pada ‘Ali bin Abu Thalib, menantu dan saudara sepupu tercinta beliau, dan dan Al-Fadhl bin Al-‘Abbas, sepupu beliau.

Abu Bakar Al-Shiddiq kala itu sedang mengimami orang-orang bersembahyang. Begitu kaum Muslim yang sedang melaksanakan shalat itu melihat Rasulullah Saw. datang, karena rasa gembira yang luar biasa, hampir-hampir mereka terpengaruh dalam sembahyang itu. Tapi, beliau memberi isyarat agar mereka meneruskan shalatnya. Bukan main gembira beliau gembira melihat semua itu.

Abu Bakar Al-Shiddiq merasa apa yang telah mereka lakukan itu, dan yakinlah ia bahwa mereka tak akan berlaku demikian itu kecuali untuk Rasulullah Saw. Ia pun surut dari tempat sembahyangnya untuk memberikan tempat kepada beliau. Tapi, beliau mendorongnya dari belakang agar ia tetap menjadi imam. Beliau sendiri kemudian duduk di samping Abu Bakar dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya.

Usai shalat, Rasulullah Saw. kemudian menghadap kepada khalayak ramai, dan kemudian berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar sampai keluar masjid, “Allah memberi karunia kepada hamba-Nya satu pilihan, antara dunia dan akhirat. Dia memilih yang terakhir.”

Rasulullah Saw. lantas diam dan orang-orang juga diam tak bergerak. Tapi, Abu Bakar Al-Shiddiq segera mengerti, yang dimaksud beliau dengan kata-kata terakhir itu adalah dirinya. Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya persahabatannya dengan beliau, ia tak dapat menahan air mata dan menangis sambil berkata, “Tidak. Malah, engkau akan kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami!”

Khawatir rasa terharu Abu Bakar Al-Shiddiq akan menular kepada yang lain, Rasulullah Saw. lantas memberi isyarat kepadanya, “Sabarlah, Abu Bakar!”

Kemudian Rasulullah Saw. berucap lagi, “Aku peringatkan kepada saudara sekalian, wahai kaum Muslim, agar berbuat baik kepada kaum Anshar. Mereka benar-benar telah melaksanakan tugas dengan baik. Kaum Muslim secara umum akan bertambah jumlahnya, Tapi kaum Anshar akan berkurang. Dan, jadilah mereka garam dalam makanan. Kesengsaraan telah menimpa bangsa-bangsa sebelum kalian, yang menyembah kuburan para Nabi dan orang-orang suci mereka. Aku larang kalian melakukan hal itu. Aku banyak berutang budi kepada Abu Bakar. Bila aku memanggil seseorang sebagai kawanku, maka dialah Abu Bakar. Tapi, persahabatan dan persaudaraan ini dalam iman, sampai tiba saatnya Allah mempertemukan kita di sisi-Nya. Wahai anak putriku tercinta, Fathimah, dan wahai bibiku tercinta, Shafiyyah, kerjakanlah sesuatu untuk akhirat, karena aku tak dapat membantumu terhadap kehendak Allah.”

Ini merupakan pidato terakhir Rasulullah Saw. Dan, melihat tanda-tanda kesehatan beliau yang kian membaik, bukan main gembiranya kaum Muslim, sampai-sampai Abu Bakar datang menghadap beliau dengan mengatakan, “Wahai Rasul! Aku lihat engkau kini dengan karunia dan nikmat Tuhan sudah sehat kembali. Hari ini adalah giliran Habibah binti Kharijah. Bolehkah aku mengunjunginya?”

Rasulullah Saw. pun mengizinkan. Abu Bakar Al-Shiddiq pun berangkat ke Sunh-di luar kota Madinah-tempat tinggal istrinya, Habibah binti Kharijah. Abu Bakar, seperti diketahui, setibanya di Madinah, kemudian dipersaudarakan dengan Kharijah bin Zaid, dari Bani Al-Harits dari suku Khazraj. Akhirnya, ia menikah dengan Habibah, putri Kharijah. Dan, dari perkawinan ini kemudian lahir Ummu Kultsum, yang ditinggalkan wafat oleh Abu Bakar ketika ia sedang dalam kandungan Habibah. Sedangkan keluarga Abu Bakar yang lain tak tinggal bersamanya di rumah Kharijah bin Zaid di Sunh. Ummu Ruman binti ‘Amir dan putrinya, ‘A’isyah, serta keluarga Abu Bakar yang lain tinggal di dalam Kota Madinah, di sebuah rumah berdekatan dengan rumah Abu Ayyub Al-Anshari, tempat Rasulullah Saw. tinggal.

Namun, ternyata sakit Rasulullah Saw. semakin berat. Pada pagi hari Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 11 H/8 Juni 632 M, beliau merasa agak baik. Ketika waktu dhuha semakin beranjak, beliau menerima kedatangan putri tercintanya, Fathimah Al-Zahra’. Begitu melihat sang putri, yang lahir di Makkah, wajah beliau berbinar-binar. Segera pula beliau mempersilakan ibunda dua putra: Al-Hasan dan Al-Husain, dan dua putri: Ummu Kultsum dan Zainab itu duduk di samping beliau seraya berkata, “Selamat datang, putriku!”

Selepas berbagi sapa, Rasulullah Saw. kemudian membisikkan sesuatu kepada sang putri. Usai mendengar bisikan sang ayah, tiba-tiba putri keempat Rasulullah Saw. yang berhijrah ke Madinah bersama ‘Ali bin Abu Thalib atau Zaid bin Haritsah itu menangis tersedu. Ketika beliau melihat kesedihan sang putri, beliau lalu membisikkan sesuatu lagi kepadanya sehingga ia tersenyum-senyum.

Usai berbincang-bincang dengan sang putri, Rasulullah Saw. beristirahat. Melihat beliau beristirahat, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, istri beliau yang sangat penasaran melihat “peristiwa aneh” di depan mata kepalanya itu, segera mendekati Fathimah Al-Zahra’ dan bertanya kepadanya, “Fathimah! Sejatinya apa yang dibisikkan oleh Rasulullah Saw. kepadamu, sehingga engkau tiba-tiba menangis dan setelah beliau membisikkan sesuatu lagi kepadamu tiba-tiba pula engkau tersenyum-senyum?”

“Aku tak kan menyebarkan rahasia yang dibisikkan oleh Rasulullah Saw.,” jawab Fâthimah Al-Zahra’ seraya berlalu. (Sampai setelah Rasulullah Saw. wafat pada hari itu dan dikebumikan, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq tetap memendam rasa penasarannya tersebut. Maka, karena rasa penasaran tersebut tak tertahankan lagi, suatu saat ia pun bertanya kepada Fathimah Al-Zahra’ mengenai “peristiwa aneh” tersebut, “Fathimah! Aku ingin menanyakan kembali kepadamu tentang apa yang diberitahukan oleh Rasulullah Saw. kepadamu yang dulu engkau tak mau menjelaskannya kepadaku!”

“Baiklah, kalau sekarang bolehlah. Saat itu, ketika Rasulullah Saw. membisikkan sesuatu kepadaku yang pertama kali, beliau memberitahuku bahwa Jibril a.s. dan beliau biasanya bertadarus Al-Quran satu kali atau kali setahun, sementara saat itu Jibril a.s. dan beliau bertadarus dua kali. Selanjutnya beliau membisikkan bahwa hal itu sebagai pertanda ajal beliau telah dekat, karena itu beliau memintaku untuk tetap bertakwa kepada Allah dan bersabar. Mendengar bisikan demikian, maka aku pun menangis tersedu seperti yang engkau saksikan dulu, karena tahu beliau akan segera berpulang. Dan, ketika Rasulullah Saw. melihat kesedihanku yang demikian itu, beliau membisikkan kepadaku, ‘Fathimah! Mengapa engkau tak ridha? Padahal, engkau akan menjadi pemimpin kaum perempuan di surga kelak?’ Mendengar bisikan demikian, aku pun tersenyum-senyum seperti yang engkau saksikan dulu,” jawab istri ‘Ali bin Abu Thalib yang berpulang beberapa bulan selepas Rasulullah Saw. wafat.

Pada sore harinya kesehatan beliau memburuk kembali. Beliau pingsan beberapa kali. Walau menghadapi sakaratulmaut, beliau tak pernah lupa kepada Tuhannya. Beliau terus-menerus mengucapkan istighfâr, “Ampunilah aku, ya Allah.”

Hingga menjelang malam, pernapasan Rasulullah Saw. masih bergerak-gerak. Bibir beliau bergerak-gerak dan terdengar suara perlahan oleh orang-orang yang duduk di sekitar beliau, “Tegakkanlah shalat. Perlakukanlah para hamba sahaya dengan baik.”

Di dekat beliau ada baskom penuh berisi air. Berkali-kali beliau membasahi tangan. Lalu beliau mengusapkannya ke muka beliau. Beliau, yang berada di pelukan istri tercintai beliau, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq, kemudian mengangkat tangan dan menunjuk dengan jari beliau seraya berkata tiga kali, “Ya Allah, perkenankanlah aku bertemu dengan Kekasih Yang Maha Tinggi .”

Ruh Rasulullah Saw. pun kembali kepada Yang Memilikinya. Beliau kembali kepada Yang Mengutusnya. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn.

Monday, June 13, 2011

Dua Kado Indah untuk Istri Tercinta



Entah kenapa, pada minggu ini Allah Swt. menganugerahkan “kado” luar biasa kepada penulis. Di minggu ketika istri penulis memasuki tahun baru, ke-53 tahun, dua karya baru penulis mulai hadir di antara para pembaca budiman. Karena itu, dua karya itu secara khusus penulis hadiahkan kepada istri tercinta, seorang dokter penyakit dalam yang telah mendampingi penulis dalam menapaki dunia yang fana selama sekitar 27 tahun. Karya yang pertama berjudul “Makkah-Madinah, Menapaki Jejak Kota Nabi dan Kota Diturunkannya Al-Quran”. Sedangkan karya kedua berjudul “Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar”.

Dalam karya yang pertama, “Makkah-Madinah, Menapaki Jejak Kota Nabi dan Kota Diturunkannya Al-Quran”, penulis menyajikan catatan dan kisah perjalanan ke Arab Saudi ketika penulis melaksanakan ibadah umrah pada Rabi‘ Al-Akhir 1431 H/Maret 2010 M. Walau perjalanan yang disajikan dalam karya ini merupakan kisah perjalanan selama beberapa hari ke negeri tersebut, namun lewat perjalanan selama beberapa hari itu penulis mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat perjalanan itu. Tapi, dalam karya ini, penulis menghadirkan pelbagai aspek yang berkaitan erat dengan negara tersebut. Dengan demikian, harapan penulis, pembaca dapat mengenal lebih jauh negeri tersebut walau belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga disajikan tentang sejarah Makkah, Madinah, dan Jeddah, misalnya saja.

Selain itu, dalam karya ini penulis juga menyajikan pelbagai pusaka historis (historical heritages) yang mewarnai Arab Saudi dan pelbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan negeri itu. Dengan kata lain, harapan penulis, karya ini tak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Tapi, merupakan sebuah karya tentang negeri tersebut dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. Di sisi lain, penulis berharap kiranya catatan dan kisah perjalanan yang disajikan dalam karya ini dapat menampilkan gambaran yang cukup gamblang tentang “kehidupan” serta hal-hal lain yang erat kaitannya dengan negeri itu. Tentu saja, dalam karya ini penulis juga menghadirkan pelbagai hal yang erat kaitannya dengan ibadah umrah maupun ibadah haji.

Sementara karya yang kedua menyajikan kisah perjalanan penulis ke Mesir dan Turki. Mesir, sebuah negara yang terletak di antara Asia dan Afrika, dan Turki, sebuah negara yang terletak di antara Asia dan Eropa, tentu bukan negara-negara yang asing bagi para pembaca budiman. Dua negara yang mayoritas warganya memeluk Islam itu, memang, bukan negara-negara yang asing bagi sebagian besar kaum Muslim. Mesir, yang menjadi lokasi sebuah universitas Islam yang berusia lebih dari seribu tahun, Universitas Al-Azhar, terkenal sebagai negara yang memiliki sejarah panjang: lebih dari lima ribu tahun. Tak aneh bila negeri itu sarat dengan pelbagai peninggalan dan warisan historis. Sedangkan Turki terkenal pernah menjadi sebuah imperium yang wilayah kekuasaannya membentang di tiga benua: Asia, Afrika, dan Eropa.

Alhamdulillah, selepas Arab Saudi, ternyata Allah Swt. menjadikan Mesir sebagai negara kedua yang penulis kunjungi. Perjalanan penulis ke negara itu ternyata menorehkan kesan yang tak pernah terlupakan dalam diri penulis. Sedangkan kunjungan penulis pertama kali ke Turki baru terjadi pada 1430 H/2009 M. Ternyata, kunjungan itu juga memiliki kesan yang dalam pada diri penulis. Karena itu, ketika Allah Swt. memberikan kesempatan kembali mengunjungi dua negeri itu, pada tahun Rabi‘ Al-Akhir 1431 H/Maret 2010 M, timbul suatu dorongan kuat untuk menuangkan perjalanan tersebut dalam sebuah karya yang kini hadir di antara para pembaca budiman.

Karya kedua yang berjudul “Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar” tersebut sejatinya merupakan kisah lanjutan catatan dan kisah perjalanan Arab Saudi, yaitu catatan perjalanan ke Mesir dan Turki. Walau perjalanan yang disajikan dalam karya ini merupakan kisah perjalanan selama beberapa hari ke dua negeri tersebut, namun lewat perjalanan selama beberapa hari itu penulis kembali mencoba menghadirkan catatan dan potret perjalanan yang tak semata tentang segala sesuatu yang terjadi pada saat perjalanan itu. Tapi, dalam karya ini, penulis mencoba menghadirkan pelbagai aspek yang berkaitan erat dengan ketiga negara tersebut. Dengan demikian, harapan penulis, pembaca dapat mengenal lebih jauh negeri-negari tersebut walau belum pernah berkunjung ke sana. Karena itu, dalam karya ini juga disajikan tentang sejarah Kairo, Alexandria, dan Istanbul, misalnya saja.

Selain itu, dalam karya ini penulis juga akan menyajikan pelbagai pusaka historis (historical heritages) yang mewarnai dua negeri tersebut dan pelbagai aspek lain yang erat kaitannya dengan dua negeri itu. Dengan kata lain, harapan penulis, karya ini tak sekadar sebagai sebuah karya dan catatan perjalanan. Tapi, merupakan sebuah karya tentang kedua negeri tersebut dengan bahasa yang enak dibaca dan mudah dicerna. Di sisi lain, penulis berharap kiranya catatan dan kisah perjalanan yang disajikan dalam karya ini dapat menampilkan gambaran yang cukup gamblang tentang “kehidupan” serta hal-hal lain yang erat kaitannya dengan dua negeri itu.

Anda bermaksud melaksanakan ibadah umrah/haji serta melakukan perjalanan ke Mesir dan/atau Turki, tak lengkap lengkap rasanya tanpa membaca dua karya ini. Selamat menikmati “Makkah-Madinah” dan “Dari Istana Topkapi Hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar”.

Tuesday, June 7, 2011

Shaquille O'Neal dan Proses Iman


“Shaquille O’Neal has become a Muslim.”

Demikian tulis Imam Shamsi Ali, seorang Imam asal Indonesia di New York, Amerika Serikat tadi pagi di fbnya. Dan, mengenai keislaman pemain basketball kondang yang terkenal dengan panggilan Shaq itu, Imam Shamsi Ali memberikan komentar, “Islam itu indah dan magnetik. Semakin ditekan, semakin meninggi. Ini realitas pengalaman, bukan teori.”

Entah mengapa, membaca berita keislaman pemain basketball dengan tinggi 2,16 meter dan terkenal pula dengan sebutan “the Diesel”, “the Big Aristotle”, “MDE (Most Dominat Ever)”, “Superman”, dan juga “Doctor Shaq” tersebut, lama saya termenung dan kemudian benak saya melayang-layang serta teringat kisah keimanan ‘Umar bin Al-Khaththab. Proses keimanan khalifah kedua dalam sejarah Islam tersebut, juga proses keimanan “Doctor Shaq”, menunjukkan pertama-tama: Allah Swt. sangat kuasa atas kalbu manusia: pagi hari seseorang berlaku sebagai musuh besar Islam, tapi siang nanti ia dapat berubah menjadi seorang pendukung agama itu. Begitu pula sebaliknya.

Nah, untuk dapat memahami “proses keimanan” seseorang, marilah sejenak kita kembali pada kisah indah keimanan ‘Umar bin Al-Khaththab dan hikmah yang terkandung dalam kisah tersebut:

Setibanya ‘Amr bin Al-‘Ash dan ‘Abdullah bin Abu Rabi‘ah di Makkah, dari Habasyah, kegagalan misinya untuk membawa pulang kaum Muslim yang berhijrah ke sana, dengan cepat tersebar di kota itu. Kaum Muslim, tentu, bergembira mendengar kabar tersebut. Sebaliknya, hal itu kian membakar amarah para tokoh kaum musyrik Makkah. Mereka khawatir, peristiwa itu akan menyebabkan kian meningkatnya perlawanan kaum Muslim di Makkah dan kian banyaknya anak-anak muda Quraisy yang memeluk Islam. Yang paling marah, gelisah, dan resah dengan perkembangan batu itu adalah Abu Jahal dan kemenakannya, yaitu seorang anak muda dari kabilah ‘Adiy bernama ‘Umar bin Al-Khaththab.

‘Umar adalah putra Al-Khaththab, penyembah berhala yang amat setia dan pernah mengusir saudara tirinya sendiri, Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi, yang menjadi seorang hanîf, keluar Kota Makkah ketika ia melecehkan agama kuno mereka. ‘Umar merupakan anak yang mewarisi watak orang tuanya yang penuh emosi dan cepat naik darah. Kesenangannya berfoya-foya dan menenggak minuman keras. Tapi, terhadap keluarga ia bersikap bijak dan santun. Anak muda yang baru berusia sekitar dua puluh tujuh tahun itu kemudian menyatakan kepada mereka, “Muhammad harus diakhiri! Aku yang akan menangani masalah ini! Sekarang juga!”

‘Umar bin Al-Khaththab yang sangat berang itu kemudian mengikatkan pedangnya dan pergi ke Bukit Shafa, menuju ke sebuah rumah yang biasa digunakan sebagai tempat pertemuan oleh kaum Muslim. Kala itu, di rumah itu, Rasullullah Saw. sedang bertemu dengan sejumlah sahabat, termasuk Hamzah bin ‘Abdul Muththalib, ‘Ali bin Abu Thalib, dan Abu Bakar bin Abu Quhafah. Di tengah jalan, ‘Umar bin Al-Khaththab berjumpa dengan salah seorang anggota keluarganya yang telah memeluk Islam, Nu‘aim bin ‘Abdullah. Memperhatikan kerut gelap di wajah ‘Umar, Nu‘aim menanyakan kepadanya apa yang terjadi. ‘Umar menjawab, ia akan membunuh Rasul Saw. Mendengar jawaban yang demikian itu, Nu‘aim segera berpikir keras untuk mengalihkan niat ‘Umar itu: ia menasihati ‘Umar, “‘Umar! Engkau hendaklah pertama-tama melihat ke rumahmu sendiri. Saudara perempuanmu dan saudara iparmu pun telah memeluk Islam.”

Mendengar kabar yang demikian itu, ‘Umar bin Al-Khaththab menjadi demikian berang. Sehingga, ia segera berbalik ke rumah saudara perempuannya, Fathimah binti Al-Khaththab, yang kala itu sedang membaca Al-Quran. Mendengar ‘Umar masuk, Fathimah menghentikan bacaannya. Namun, ‘Umar telah mendengar suaranya dan menanyakan apa artinya. Sang adik menjawab bahwa hal itu tiada apa-apanya. “Fathimah! Jangan engkau mencoba menyembunyikan apa pun dariku!” hardik ‘Umar bin Al-Khaththab dengan nada suara sangat gusar. “Aku tahu segala sesuatunya. Aku telah mendengar, kalian berdua telah ingkar agama!”

Usai berkata demikian, ‘Umar bin Al-Khaththab lantas memegang leher saudara iparnya, Sa‘id bin Zaid bin ‘Amr bin Nufail Al-‘Adawi Al-Qurasyi, dan memukulnya kuat-kuat. Melihat hal yang demikian, Fathimah mencoba campur tangan. Tapi, ia malah juga dipukuli hingga tubuhnya berlumuran darah. Dalam keadaan demikian, ia berseru, “‘Umar! Tega nian engkau engkau berbuat seperti ini kepadaku. Lakukanlah apa yang engkau kehendaki. Islam tak akan pernah lepas dari hati kami.”

Ucapan itu membangkitkan suatu dampak yang aneh dalam pikiran ‘Umar bin Al-Khaththab. Ia pun memandang adiknya dengan pandangan penuh kasih sayang. Apalagi selepas melihat darah yang mengalir keluar dari luka-luka yang ditimbulkannya. Hatinya benar-benar terharu. Akhirnya, ia berucap lirih, “Fathimah, tunjukkanlah kepadaku, apa yang tadi engkau baca.”

Fathimah binti Al-Khaththab pun membawa kertas-kertas kulit petikan Al-Quran yang disembunyikannya dan meletakkannya di depan kakaknya. ‘Umar bin Al-Khaththab pun mengambilnya dan menjumpai ayat-ayat, “Thâhâ. Kami tak menurunkan Al-Quran ini kepadamu agar engkau merasa berat. Tapi, sebagai peringatan bagi orang-orang yang takut. Diturunkan dari Allah yang menciptakan bumi dan langit tinggi. Tuhan Yang Mahapemurah, yang bersemayam di atas ‘Arasy. Kepunyaan-Nyalah semua yang ada di langit, semua yang ada di bumi, dan semua yang ada di antara keduanya, serta semua yang terpendam di bawah tanah. Dan jika engkau mengeraskan ucapanmu, sungguh Dia mengetahui rahasia dan semua yang lebih tersembunyi. Dialah Allah, tiada Tuhan selain Dia, Dia yang mempunyai nama-nama sempurna.” (QS Thâhâ [20]: 1-8).

‘Umar bin Al-Khaththab pun membaca bagian itu dengan sepenuh hati. Nampaknya, setiap kata mengilhami hatinya dengan rasa segan dan hormat. Sehingga, akhirnya, ia berseru, “Betapa luar biasa dan mendalamnya kalam itu! Ya, semua itu benar. Aku seharusnya memeluk agamamu. Aku akan pergi menemui Muhammad untuk menyatakan keimananku kepada Allah. Di hadapannya.”

‘Umar bin Al-Khaththab pun segera meninggalkan rumah adiknya, berlari melintasi jalan-jalan Kota Makkah, menuju Bukit Shafa, tepatnya menuju rumah Abu ‘Abdullah Al-Arqam bin Abu Al-Arqam, tempat Rasulullah Saw. sedang menyampaikan pengarahan kepada para sahabat. Setibanya di rumah itu, ‘Umar segera mengetuk pintu. Mengetahui yang datang adalah ‘Umar, para sahabat menjadi gentar dan ketakutan, kecuali Hamzah bin ‘Abdul Muththalib. Rasul Saw. menyuruh membuka pintu dan mempersilakan ‘Umar masuk. Melihat sikap beliau yang sangat santun dan bijak, ‘Umar merasa kecil di hadapan beliau. Ia pun segera menyatakan niatnya menjadi seorang Muslim, “Wahai Rasul! Aku datang kepadamu untuk beriman kepada Allah dan Rasul-Nya serta pesan yang dibawanya.” Rasul Saw. pun berseru, “Allâhu Akbar!”

Keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab segera diikuti oleh putra sulungnya yang kelak menjadi seorang pakar manasik haji, ‘Abdullah, dan istrinya, Zainab binti Mazh‘un, saudara perempuan ‘Utsman bin Mazh‘un yang sedang berhijrah ke Habasyah. Selain itu, keislamannya melempangkan jalan bagi tokoh-tokoh Arab lainnya kala itu untuk memeluk Islam. Semenjak itu, berbondong-bondonglah orang masuk Islam. Sehingga, dalam waktu yang singkat, pengikut Islam bertambah dengan pesatnya. Apalagi selepas mereka melihat ‘Umar menyatakan keislamannya secara terbuka, mendatangi Abu Jahal untuk menyampaikan kabar tersebut, dan menyarankan kepada Rasulullah Saw. agar mengajak kaum Muslim shalat di lingkungan Ka‘bah secara terang-terangan. di tahun keenam dakwah Islam. Karena hal itulah, ia mendapat gelar Al-Fâruq. Dengan kata lain, keislamannya merupakan pembatas antara seruan Islam secara sembunyi-sembunyi dan terang-terangan. Mengenai hal ini, ‘A’isyah binti Abu Bakar Al-Shiddiq berucap, “Allah menjadikan kebenaran pada ucapan dan kalbu ‘Umar. Ia adalah Al-Faruq yang menjadi pembatas antara kebenaran dan kebatilan.”

Di sisi lain, keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab yang terjadi pada tahun keenam kenabian itu memberikan hikmah dan pelajaran yang berharga tentang proses keislaman seseorang. Tentang hal itu Tarik Ramadan, dalam karyanya In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad, menulis, “Nabi tahu, dirinya tak berkuasa atas hati manusia. Dalam menghadapi penganiayaan dan kesulitan besar, beliau berpaling kepada Allah, seraya berharap Dia akan memberi petunjuk kepada salah satu dari dua tokoh Quraisy yang beliau ketahui memiliki kualitas dan kekuatan yang diperlukan untuk membalikkan keadaan. Tentu saja Nabi tahu, hanya Allah yang berkuasa menuntun hati manusia. Bagi sebagian orang, perpindahan agama merupakan sebuah proses panjang yang membutuhkan masa penuh pertanyaan, keraguan, dan langkah maju-mundur. Sedangkan bagi yang lain, perpindahan agama berlangsung singkat, segera selepas membaca teks, atau memerhatikan gerak tubuh atau perilaku.”

“Hal yang demikian itu tak dapat dijelaskan. Peralihan agama yang memakan waktu paling lama tak berarti melahirkan keimanan yang kukuh, dan kebalikannya juga tak sepenuhnya benar: jika bicara urusan peralihan agama, kecenderungan hati, keimanan dan cinta, tiada lagi logika; yang berlaku adalah kekuasaan Allah yang luar biasa. ‘Umar keluar rumah dengan niat kuat untuk membunuh Nabi, dibutakan oleh pengingkarannya terhadap Allah Yang Maha Esa. Namun, beberapa jam kemudian, ia berubah dan mengalami sebuah transformasi sebagai hasil perubahan keyakinan akibat sentuhan sebuah Al-Quran dan maknanya. Malah, ia kemudian menjadi salah seorang sahabat setia dari orang yang ia ingikan kematiannya. Tak seorang pun di antara para pengikut Nabi yang dapat membayangkan bahwa ‘Umar akan mengikuti pesan agama Islam, mengingat ia dengan sangat jelas telah mengungkapkan kebenciannya terhadap Islam. Revolusi hati ini merupakan sebuah pertanda, dan ia mengajarkan dua hal: tiada yang mustahil bagi Allah, dan kita tak boleh memberikan penilaian mutlak terhadap sesuatu atau seseorang!”

Saturday, May 28, 2011

Memburu Matahari di Atas Ka'bah


Dua hari terakhir, setiap sore hari pada 26 dan 27 Mei 211, saya berusaha “memburu” Matahari. Tapi, perburuan tersebut ternyata merupakan perburuan yang sia-sia. Selama dua hari, tempat saya bermukim, Baleendah, Kab. Bandung, diguyur hujan yang sangat deras. Mengapa “memburu” Matahari? Hal itu, tak lain, karena saya ingin mengetahui secara tepat arah kiblat rumah yang kami tempati.

Sejatinya, mengetahui arah kiblat dengan mudah dapat dilakukan dengan “penunjuk arah kiblat” made in Taiwan yang saya miliki. Tapi, usai membaca sebuah tulisan M Zaid Wahyudi di koran Kompas, 26 Mei 2011, dengan judul “Matahari di Atas Mekkah, Saatnya Meluruskan Arah Kiblat”, rasa penasaran pun muncul untuk membuktikan kebenaran “hasil kerja” penunjuk arah kiblat yang saya miliki. Namun, gara-gara hujan yang deras, usaha saya untuk meluruskan arah kiblat lewat posisi Matahari tersebut gagal total.
Nah, barang kali di antara Anda belum membaca tulisan tersebut, pada sajian ini saya tampilkan dengan lengkap tulisan M Zaid Wahyudi tersebut:

Matahari akan berada di atas Mekkah, Arab Saudi, Sabtu, 28 Mei 2011 pukul 12.18 waktu setempat atau pukul 16.18 Waktu Indonesia Barat. Hal itu berarti Matahari berada tepat di atas Kabah, kiblat umat Islam. Saat itu, bayangan di seluruh dunia yang masih bisa melihat Matahari mengarah ke Kabah. Bayangan ke arah Kabah yang dapat dijadikan patokan arah kiblat itu dapat diperoleh dari benda yang berdiri tegak lurus di tempat datar. Cara itu dapat digunakan di sejumlah wilayah yang tak bisa melihat Kabah secara langsung.

”Ini cara paling sederhana dan paling mudah dengan akurasi tinggi dalam menentukan arah kiblat,” kata Deputi Bidang Sains, Pengkajian dan Informasi Kedirgantaraan, Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional yang juga anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Kementerian Agama, Thomas Djamaluddin, Senin (23/5) di Jakarta. Meski demikian, penentuan kiblat tidak perlu terpaku pada hari dan jam saat Matahari benar-benar tepat di atas Mekkah. Pergeseran Matahari yang lambat membuat Matahari berada di atas Mekkah selama dua hari sebelum dan sesudah 28 Mei serta dalam rentang waktu lima menit sebelum dan sesudah pukul 16.18 WIB. Artinya, pelurusan arah kiblat dapat dilakukan pada 26-30 Mei pukul 16.13-16.23 WIB. Jika saat Matahari tepat di atas Mekkah justru di daerah kita tertutup awan atau hujan, rentang waktu itu dapat digunakan untuk meluruskan kiblat.Mereka yang berada di wilayah waktu lain, yaitu Waktu Indonesia Tengah dan Waktu Indonesia Timur, tinggal menyesuaikan waktunya.

Pergerakan Matahari
Teknik pelurusan arah kiblat berdasarkan posisi Matahari di atas Mekkah ini dilakukan berdasarkan pengamatan dan perhitungan perubahan gerak semu Matahari akibat kemiringan sumbu rotasi Bumi. Dalam satu tahun, Matahari dua kali melintas di atas Mekkah. Perlintasan pertama terjadi pada 27 Mei atau 28 Mei pukul 16.18 WIB. Saat itu, Matahari seolah bergerak dari selatan ke utara, yaitu dari arah garis khatulistiwa menuju titik balik utara di 23,5 derajat lintang utara.

Adapun perlintasan kedua berlangsung saat Matahari seolah bergerak dari titik balik utara ke khatulistiwa. Peristiwa ini terjadi pada 15 Juli atau 16 Juli pukul 16.27 WIB yang juga dapat dimanfaatkan untuk meluruskan kiblat. Menurut Djamaluddin, penentuan kiblat dengan bayangan Matahari tidak serumit jika menggunakan bantuan peralatan penunjuk arah, seperti kompas, alat penentu posisi global (GPS), maupun berbagai peranti lunak komputer.

Jika menggunakan kompas untuk menentukan kiblat, terlebih dahulu kita harus mengetahui posisi kiblat di daerah kita masing-masing. Arah kiblat ini ditentukan berdasarkan arah utara sebenarnya atau arah kutub utara Bumi (KUB). Untuk kota-kota di Jawa Barat, arah kiblatnya sekitar 25 derajat dari arah barat ke utara.
Namun, kutub utara kompas menunjuk ke kutub utara magnet Bumi (KUMB) yang tidak berimpitan dengan KUB. Karena itu, pengguna kompas juga harus mengetahui berapa simpangan KUB terhadap KUMB di daerahnya. Sebagai gambaran, simpangan KUMB di Jabar dengan KUB hanya sekitar 0,5 derajat, sedangkan di Papua simpangan KUMB mencapai 4 derajat dari KUB. Selain itu, penggunaan kompas memiliki keterbatasan jika digunakan di gedung-gedung dengan rangka besi. Tarikan logam bisa membuat arah yang ditunjukkan kompas menjadi tak akurat dan berbeda untuk setiap tempat dalam satu lantai gedung, tergantung besar kecilnya tarikan besi di setiap titik.

Meluruskan kiblat
Anggota BHR Kabupaten Kebumen yang juga Ketua Tim Pengkajian dan Pengembangan Rukyatul Hilal Indonesia, M Ma’rufin Sudibyo, mengatakan, langkah awal yang perlu dilakukan untuk meluruskan kiblat adalah menyamakan jam yang kita miliki agar sesuai standar waktu yang benar. Masyarakat bisa menelepon 103 yang dikelola Telkom atau Radio Republik Indonesia di setiap daerah. Selanjutnya, bayangan yang menunjuk kiblat dapat dibuat dengan menggunakan bandul bertali yang digantung. Pemberat bandul dapat berupa apa pun, yang mampu menjaga tali tetap tegak ketika tertiup angin. Bandul ini otomatis tegak lurus dengan permukaan Bumi sehingga bayangan yang tercipta dari tali bandul adalah arah kiblat. Cara lain adalah dengan mendirikan tonggak atau tongkat tegak lurus dengan tanah. Selain itu, bayangan dapat pula ditentukan dengan bayangan tiang masjid atau tiang jendela masjid selama tiang tersebut tegak lurus.
Bayangan tonggak atau tiang yang tercipta pada rentang Matahari di atas Kabah merupakan arah kiblat sebenarnya.

Sejumlah pesantren ataupun masjid memiliki tonggak yang digunakan sebagai penunjuk arah kiblat sekaligus penentu waktu shalat. Tonggak yang dilengkapi dengan garis penanda waktu dan panjang bayangan ini dikenal dengan nama bencet.
”Berdasarkan pengukuran yang dilakukan terhadap lebih dari 500 masjid di Yogyakarta, Rembang, dan Kebumen sejak 2007-2010, 70 persen lebih arah kiblat masjid menyimpang dari kiblat sesungguhnya,” kata Ma’rufin.

Jika ditemukan kesalahan arah kiblat sesuai arah bayangan Matahari saat Matahari berada di atas Mekkah, yang perlu dilakukan adalah menata ulang saf atau garis barisan shalat, tidak perlu membongkar masjid. ”Lurusnya arah kiblat merupakan syarat sahnya shalat yang dilakukan,” katanya.

Wednesday, May 25, 2011

Cinta Indonesia ala Betti Alisjahbana


Betti Alisjahbana, Anda mengetahui dan mengenalnya? Kemunngkinan besar iya. Entah kenapa, kemarin siang, 24 Mei 2011, ketika saya membuka facebook salah seorang sahabat, di situ ditampilkan sambutan (graduation speech) yang ditampilkan mantan Presiden Direktur PT IBM Indonesia selama delapan tahun, 2000-2007, dalam acara Syukuran dan Pelepasan Wisudawan program Sarjana dan Paska Sarjana Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, pada Jumat, 4 Februari 2011. Tema sambutan perempuan yang kini mendirikan dan memimpin PT Quantum Business International yang bergerak di industri kreatif: QB Leadership Center, QB Architects, QB Furniture dan QB IT Services itu tentang “Tiga Tantangan Profesi Teknologi Informasi”.

Entah kenapa pula, sambutan itu begitu memikat pandangan saya. Lama, saya mencermati dan menikmati sambutan perempuan yang kini menjadi: Anggota Komite Inovasi Nasional, Wakil Ketua Dewan Riset Nasional, Anggota Majelis Wali Amanah ITB, Komisaris PT Sigma Cipta Caraka, Duta Open Source Indonesia, dan Ketua Umum Asosiasi Open Source Indonesia itu. Suatu sambutan yang, sejatinya, mengungkapkan cinta luar biasa Betti Alisjahbana kepada negerinya: Indonesia.

Nah, daripada berpanjang kalam, dalam sajian kali ini, saya akan menghadirkan sambutan lengkap perempuan pertama di IBM Kawasan Asia Pasifik yang dipercaya untuk memimpin operasi IBM di suatu negara tersebut:

Besok Anda akan memasuki bab baru dalam hidup Anda. Dan kesempatannya sangat luas. Sebagian dari Anda ada yang akan bekerja pada suatu organisasi, sebagian lagi mungkin akan memulai bisnis sendiri. Satu hal yang pasti, Anda telah memilih bidang yang sangat menarik dan strategis. Begitu strategisnya bidang ini, sehingga saya yang dulu kuliah di bidang Arsitektur pun berpindah rel untuk berkarir di bidang Teknologi Informasi.

Saya baru saja membaca prediksi dari IDC, sebuah lembaga riset yang fokus pada Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK). IDC menyatakan bahwa negara-negara di Asia akan menikmati pertumbuhan TIK yang luar biasa, yang dimotori oleh China, India, Indonesia, Vietnam, dan Filipina. Kesempatan kerja dan berkarir terbuka lebar bagi Anda semua. Bahkan perebutan dan saling bajak tenaga kerja dibidang TIK sangat terasa.

Tanpa terasa, saya sudah berkecimpung di dunia TIK selama lebih dari 25 tahun. Beberapa pelajaran telah saya petik dan ingin saya bagikan kepada Anda semua. Namun demikian, sebelumnya saya ingin menyampaikan beberapa hal di dunia TIK, dan tantangan saya bagi Anda.

TIK dan Karya Anak Bangsa
TIK berkembang sangat pesat dan sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hidup kita. Pengguna Internet di Indonesia telah mencapai 45 juta tahun lalu, berdasarkan data dari Kementrian Kominfo, sementara telepon selular pun tumbuh sangat pesat dan saat ini mencapai 180 juta pelanggan atau 80% penduduk Indonesia.

Di bidang social media, pengguna Facebook di Indonesia mencapai 33 juta, dan menempati peringkat nomor 2 di dunia setelah Amerika. Sementara itu, pengguna Twitter di Indonesia sebanyak 6,24 juta, berdasarkan data pada September 2010.

Pertanyaan yang harus kita jawab adalah, apakah kita telah memanfaatkan teknologi tersebut untuk hal-hal yang produktif, yang memajukan dan mensejahterakan bangsa kita? Ataukah teknologi itu hanya menjadi sarana hiburan dan menjalin silaturahmi online saja? Lalu, apakah kita hanya bertindak sebagai pengguna saja, atau ikut memproduksi—baik itu perangkat keras, perangkat lunak, serta kontennya?

Kita sering dibuat sedih karena sementara pertumbuhan makro ekonomi di Indonesia baik, tetapi pertumbuhan tersebut lebih didorong oleh konsumsi saja. Hal ini membuat kita lebih menjadi penikmat keringat orang luar negeri. Akibatnya, penciptaan lapangan kerja di Indonesia masih terbatas dan angka kemiskinan pun masih tinggi. Di bidang TIK pun, hal ini terjadi—produk yang kita nikmati kebanyakan adalah produk impor.

Kabar baiknya, kini lebih banyak kesempatan bagi kita untuk tidak sekadar menjadi pengguna tetapi juga menjadi pencipta. Di bidang konten misalnya, Fahma Waluya Rosmansyah adalah pembuat aplikasi Nokia Ovi Store yang termuda. Berusia 12 tahun, Fahma berhasil menjuarai APICTA (Asia Pacific ICT Award) untuk kategori Secondary Student Project. Karyanya yang berupa game edukasi kini dipasarkan di seluruh dunia melalui Nokia Ovi Store. Kalau anak berumur 12 tahun saja bisa, masa Anda tidak?

Jadi, tantangan pertama yang saya berikan kepada Anda para wisudawan adalah untuk bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK. Anda bisa berperan sebagai produsen itu sendiri, maupun sebagai fasilitator bagi tumbuh dan berkembangnya karya-karya anak bangsa.

Bagaimana cara menjadi fasilitator? Caranya adalah dengan menggunakan produk karya Indonesia bila ada. Jadi, setiap kali akan membeli produk TIK, kita perlu bertanya, apakah sudah ada produk serupa yang merupakan karya anak bangsa? Jika ada, coba kita pertimbangkan untuk menggunakannya. Dan bila tidak ada, itu adalah peluang bagi kita untuk membuatnya.

Saya yakin kesempatannya banyak. Pada jaman di mana perubahan terjadi dengan sangat cepat seperti sekarang ini, yang dibutuhkan adalah keinginan untuk mencari peluang untuk melakukan inovasi. Selagi Anda masih muda, cobalah hal-hal baru yang berbeda, yang inovatif.

Itu tadi tantangan pertama. Gunakan produk Indonesia kalau sudah ada. Kalau belum ada, Anda bisa membuatnya.

TIK sebagai Katalisator Kemajuan Bangsa
TIK telah dan akan memberikan kontribusi yang signifikan untuk meningkatkan produktivitas, kreativitas, serta daya saing individu, organisasi, dan bangsa. Penelitian Bank Dunia atas 120 negara dengan basis data tahun 1980-2006, yang disajikan dalam laporan InfoDev 2009, menunjukkan bahwa penetrasi broadband sebesar 10% di negara sedang berkembang akan meningkatkan GDP sebesar 1,38%.

Sebagai praktisi TIK, kita wajib mendorong pemanfaatan TIK untuk memecahkan berbagai masalah bangsa. Salah satu masalah terbesar yang dihadapi bangsa kita adalah maraknya korupsi. Dibutuhkan peran serta berbagai pihak untuk memecahkannya.

Sistem informasi yang baik dapat mendukung transparansi dan tata kelola yang baik (good governance). Ketika e-government diterapkan dengan baik, bagi masyarakat ini berarti layanan yang lebih mudah diakses. Bagi komunitas bisnis, hal itu akan mengurangi beban pengurusan administrasi dengan memanfaatkan internet. Sementara bagi kantor-kantor pemerintah, itu berarti efisiensi dan efektivitas kerja yang menurunkan biaya, pelaporan yang lebih mudah, dan pengukuran kinerja yang lebih jelas.

Misalnya saja, 77% kasus korupsi yang ditangani KPK adalah menyangkut pengadaan. Daerah-daerah yang telah berhasil menerapkan e-procurement dapat mencegah korupsi karena adanya peluang kontak langsung antara penyedia jasa dengan petugas pengadaan menjadi lebih kecil. Proses pun menjadi lebih transparan dan lebih mudah diaudit.

Studi yang dilakukan oleh KPK menunjukan penerapan e-procurement telah menghasilkan penghematan anggaran sebesar 23.5% dan penghematan HPS (Harga Penetapan Sendiri) sebesar 20%. Penghematan waktu pelaksanaan pun terjadi, dari rata-rata 36 hari menjadi 20 hari.

Jadi tantangan kedua adalah, sebagai praktisi dan calon praktisi TIK, kita semua harus mendorong penerapan TIK untuk meningkatkan transparansi dan tata kelola yang baik. Dengan demikian kita berharap korupsi dapat ditekan. Jadi kita tidak lagi disuguhi tontonan Gayus di televisi setiap hari, tetapi melihat tokoh-tokoh TIK menjadi pejuang antikorupsi melalui penerapan TIK yang baik.

Kuasai Softskills
Sepanjang lebih dari 25 tahun berkecimpung di bidang TIK, saya telah merekrut ratusan praktisi TIK. Dari situ saya menemukan pola bahwa mereka yang sukses adalah mereka yang tidak saja mahir berbicara dengan komputer, tetapi juga mahir berkomunikasi dan berkolaborasi dengan bahasa manusia. Implementasi TIK hanya bisa berhasil bila kita bisa membuatnya dimengerti oleh orang awam.

Jadi, jangan berusaha untuk terlihat pandai dengan menggunakan bahasa-bahasa yang memusingkan, tetapi kuasailah seni berkomunikasi yang mampu membuat orang tertarik untuk memanfaatkan TIK secara maksimal. Demikian pula perkembangan TIK yang demikian cepat telah membuat kolaborasi antarnegara dan antarorganisasi yang difasilitasi oleh internet dan TIK menjadi bagian dari kegiatan sehari-hari.

Perusahaan kini bisa menjalankan operasinya secara terintegrasi di berbagai negara. Misalnya tim TIK ada di India dan Indonesia, pengadaan dilakukan China, call center di Filipina, sementara pusat administrasi pelanggan dilakukan di Malaysia. Tenaga kerja masa kini harus mampu bekerja dalam TEAM dan menyelesaikan suatu pekerjaan dengan kolaborasi antarorganisasi dan antarnegara. Syaratnya, selain hard skills, kita pun perlu menguasai softskills.

Apa saja yang termasuk softskills? Di antaranya kemampuan untuk berkomunikasi, beradaptasi pada situasi yang berbeda-beda, bernegosiasi, mengatur waktu, memecahkan masalah, bekerja dalam tim dan memimpin suatu tim. Gaya kepemimpinan masa kini adalah gaya kepemimpinan yang memberdayakan, membangun kolaborasi, dan memupuk segenap potensi yang ada.

Lalu, bagaimana mengasah softskills? Pelajari teorinya lalu praktekan. Niscaya, semakin lama kita akan semakin mahir.

Itu tadi tiga tantangan saya untuk para wisudawan, yakni:
Bersama-sama membangun kemampuan menjadi produsen TIK,
Menjadikan TIK sebagai katalisator kemajuan bangsa,
Menguasai softskills.

Lima Ide untuk Mencapai Lebih dalam Hidup
Saya akan menutup sambutan saya dengan menyampaikan lima kiat untuk membuat Anda lebih sukses dalam hidup. Jadi bagi Anda yang tadi belum menyimak, sekarang waktunya untuk menyimak.

#1 Ciptakan Mimpi Besarmu
Cita-cita memberikan arah dan momentum dalam hidup. Sukses dalam kehidupan dibangun dari capaian demi capaian menuju suatu cita-cita. Ketika kita dihadapkan pada situasi sulit, cita-cita kitalah yang membuat kita terus bersemangat.

#2 5..4..3..2..1 ACTION!
“Banyak orang punya ide yang hebat, tetapi ide itu tidak kunjung dilaksanakan. Padahal ide saja tidak akan membawa kita kemana-mana.” Katanya, kata Motivation berasal dari kata motive dan action. Dengan kata lain motivation hanya ada bila kita punya tujuan (motive) dan ada tindakan. Jadi, bila kita merasa kehilangan motivasi dalam hidup ini, kemungkinan besar kita tidak punya motive dan kurang action.

Banyak orang memiliki ide, tetapi tidak dilaksanakan hanya karena takut membuat kesalahan. Hal ini sebenarnya bisa diatasi jika kita dapat melihat kesalahan sebagai hal yang positif. Kita belajar ketika kita membuat kesalahan.

Bukankah kita belajar paling banyak ketika kita membuat kesalahan? Berapa banyak kesalahan dibuat oleh seorang anak ketika mereka pertama belajar merangkak, lalu berjalan, hingga akhirnya berlari? Mereka belajar sambil berbuat dan memperbaiki apa yang salah. Mereka belajar secara alamiah. Tetapi, ketika menjadi dewasa, kita seringkali lupa bahwa kesalahan adalah bagian dari proses belajar. Kesalahan hanya terjadi ketika kita mengambil tindakan.

Tindakan adalah dasar dari keberhasilan dalam hidup. Jadi sederhananya, pertama kita punya tujuan, lalu ambil tindakan, barulah keberhasilan akan datang. Ingatlah, “a journey of a thousand miles begin with a simple step”. What will your first step be?

#3 Semuanya Tergantung Saya, Bukan Orang Lain: If it is to be, it’s up to me
Salah satu tantangan terbesar yang kita hadapi dalam hidup adalah berani menerima kenyataan bahwa kita bertanggung jawab atas apa yang kita alami dalam hidup kita.

Kita punya kecenderungan untuk menyalahkan semua orang kecuali diri kita sendiri dari waktu ke waktu. Kenyataannya, dengan menyalahkan orang lain, kita sebetulnya telah menyerahkan kontrol terhadap hidup kita dan menghilangkan kesempatan untuk belajar dari kesalahan yang kita buat. Saat di mana kita berhenti mencari-cari kesalahan orang lain atas kesalahan yang kita buat, adalah saat di mana kita mulai menemukan kekuatan untuk berprestasi.

#4 Ciptakan Peluang Kita
Peluang tidak datang begitu saja, peluang kita ciptakan. Kita tidak begitu saja bertemu dengan peluang, melainkan kita mempersiapkan diri kita dengan pertama-tama membuka wawasan bagi munculnya ide baru dan masukan-masukan. Semuanya berawal dari keputusan untuk ingin membawa hal baru dalam hidup kita.

Belajarlah untuk bertanya. Apa yang saya ingin lakukan dalam hidup saya? Apa yang saya bisa lakukan untuk mengubah hidup saya? Atau, di mana saya bisa mendapat informasi yang akan membantu saya untuk mencapai tujuan saya dengan lebih cepat? Belajarlah untuk menentukan tujuan dan mengambil tindakan. Karena tindakanlah yang akan mempersiapkan diri kita untuk bisa mengenali dan memanfaatkan peluang-peluang dalam hidup kita.

Ada banyak peluang di sekitar kita. Bila kita mencarinya, kita akan menemukannya. Ingatlah bahwa peluang jarang mengetuk pintu. Kitalah yang harus mengetuk pintu peluang, bila kita ingin masuk ke dalamnya.

#5 Investasi Pada Diri Sendiri
Kita tidak perlu kaya dulu untuk menjadi seorang investor. Tetapi sebaliknya, kita harus menjadi investor bila kita ingin kaya. Dan ingatlah bahwa dari semua investasi yang bisa kita buat, investasi pada diri sendiri adalah investasi yang akan memberikan hasil yang terbesar dan paling penting yang bisa kita harapkan.

Inti dari berinvestasi pada diri sendiri adalah secara sadar mengontrol hidup kita dan memutuskan untuk mengalokasikan sebagian dari sumber daya yang terbatas yang kita miliki untuk pengembangan diri. Suatu pengembangan keterampilan dari dalam keluar. Keterampilan hidup yang akan mempengaruhi semangat, sikap, kebiasaan, dan tingkah laku—yang pada akhirnya akan membuat membentuk nasib kita. Berinvestasi pada diri sendiri berarti bukan hanya belajar ,tetapi juga melatih ketrampilan-keterampilan baru. Itu berarti mengalokasikan sebagian waktu kita, uang kita, dan energi kita. Itu berarti berkorban sekarang untuk sesuatu yang penting di masa depan.

Kesimpulan
Itu tadi adalah lima kiat agar kita bisa mencapai lebih banyak dan lebih baik dalam hidup kita:
Ciptakan mimpimu
5..4..3..2..1 ACTION
Semuanya terserah kita
Ciptakan kesempatan
Investasi pada diri sendiri
Sekali lagi, selamat atas wisuda ini dan selamat atas semua yang telah Anda capai. Saya berdoa agar Anda mencapai yang terbaik di tahun-tahun mendatang. Anda telah dibekali pendidikan terbaik dari salah satu perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Dan saya berharap, Anda akan membawa nama harum UI dan Indonesia di kancah dunia.

Salam hangat penuh semangat
Betti Alisjahbana


Terima kasih, Ibu Betti! Sambutan yang benar-benar indah!