Friday, August 12, 2011

Mengapa Rasul Saw. Bertahannuts di Gua Hira'?


Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u
Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u
A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu
Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u
Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahî
Wa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u


Telah lahir Sang Nabi, pembawa petunjuk nan cemerlang
Semesta alam pun berpendar sangat benderang
Mulut zaman tiada henti dan senantiasa menggemakan
Senyuman, pujian, serta sanjungan

Jibril dan para malaikat pun mengitarinya senantiasa
Karena berita gembira ‘tuk agama dan dunia sertai kelahirannya
‘Arasy bangga dan surga tak kalah ceria
Sidrah Al-Muntaha dan Mutiara Putih pun berdendang ria

(Ahmad Syauqi)

Tadi malam, selepas melaksanakan shalat tarawih, entah kenapa benak penulis tiba-tiba “melayang-layang” menuju ke Gua Hira’, sebuah gua yang terletak sekitar lima kilometer dari Masjid Al-Haram. Tentu kita semua tahu, di gua itulah Rasul Saw., sebelum diangkat sebagai Utusan Allah Swt., menyingkir dari keriuhrendahan kehidupan ramai di Kota Makkah kala itu. Kadang, beliau tinggal di sana selama satu bulan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan. Hal yang demikian itu beliau lakukan selama sekitar tujuh tahun. Enam bulan terakhir beliau meningkatkan frekuensi kunjungannya ke gua itu. Peristiwa ini sendiri menandai dimulainya suatu karya kenabian, dengan diterimanya wahyu pertama dari Allah Swt. di hari Senin, 17 Ramadhan/6 Agustus 610 M (menurut Ibn Sa‘d dalam karyanya Al-Thabaqât Al-Kubrâ), kala beliau sedang khusuk bertafakkur, “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Itulah saat penobatan Muhammad bin ‘Abdullah sebagai Nabi Allah. Saat menerima pengangkatan menjadi Nabi ini, usia beliau mencapai 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun Bulan (Qamariyyah) atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun Matahari (Syamsiyyah). Di sini timbul pertanyaan: mengapa Rasulullah Saw. bertahannuts (menyendiri, merenung, dan beribadah) di Gua Hira’?

Tugas utama kenabian yang dipikul Rasul Saw. adalah untuk mengantarkan masyarakat menuju cita ideal yang dikehendaki Allah Swt. Tindakan menyendiri ke tempat yang sepi dan terpisah dari riuh rendah kehidupan masyarakat ramai tersebut sejatinya adalah sebagai persiapan untuk menerima dan melaksanakan tugas besar tersebut. Sebab, setiap tindakan besar yang hendak mengubah dan membentuk dunia sulit terjadi jika tidak ada seorang “agen” atau pribadi yang sadar dengan dua kemampuan sekaligus. Pertama, kemampuan untuk melakukan penjarakan terhadap kenyataan yang kongkrit (detachment). Dengan mengambil jarak atas kenyataan itu, seorang “agen” akan mampu melihat dunia dengan seluruh kekurangan, kelebihan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Dunia tak bisa diubah dan diantarkan menuju kemungkinan yang lebih baik, jika seorang “agen” tenggelam sepenuhnya dalam kepenuhan dunia itu sendiri. Kedua, kemampuan untuk terlibat kembali selepas momen penjarakan dilakukan beberapa saat (reattachment). Saat pengambilan jarak, atau dalam kasus Rasulullah Saw. disebut tahannuts, hanyalah situasi sementara agar seorang “agen” bisa berada di “luar” dunia. Saat terpenting justru berada kembali di “dalam” dunia untuk mengubah dan mentransformasikannya sesuai “gambar” yang dikehendaki seorang agen.

Sementara Al-Ghazali, dalam karyanya Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, dalam komentarnya tentang jalan yang ditempuh Rasulullah Saw. ketika bertahannuts di Gua Hira’, menulis, “Manfaat pertama (dari bertahannuts) adalah pemusatan diri dalam beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi. Inilah yang disebut kekosongan. Padahal, tiada kekosongan dalam bergaul serta mengisolasi diri. Mengisolasi diri jelas lebih baik. Malah, Rasulullah Saw., di permulaan kenabian beliau, hidup menyendiri di Gua Hira’ serta mengisolasi diri, sehingga cahaya kenabian dalam diri beliau menjadi kuat. Ketika itu para makhluk tidak kan kuasa menghalangi beliau dari Allah. Sebab, meski tubuh beliau beserta para makhluk, namun kalbu beliau senantiasa menghadap Allah.”

Pertanyaan lain yang mungkin timbul: mengapa Rasulullah Saw. memilih Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts, bukan tempat-tempat lain?

Gua Hira’, seperti diketahui, adalah sebuah gua yang terletak di sebelah timur Masjid Al-Haram dan di puncak Jabal Nur. Tingginya dari permukaan laut sekitar 621 meter dan sekitar 281 meter dari permukaan tanah. Untuk mendaki sampai ke gua itu diperlukan waktu kurang lebih satu jam. Gua itu sendiri tidak terlalu besar dan pintunya menghadap ke arah utara. Panjang gua tersebut hanya tiga meter, sedangkan lebarnya sekitar 1.30 meter, dengan ketinggian sekitar dua meter. Dengan kata lain, luas gua yang satu ini hanya cukup untuk shalat dua orang, sedangkan di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup untuk digunakan shalat untuk shalat dalam keadaan duduk.

Kondisi Gua Hira’ yang demikian itu jelas merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Rasulullah Saw. untuk bertahannuts. Suasana yang tenang, jauh dari keriuhan Kota Makkah kala itu, dengan jumlah warganya sekitar lima ribu orang, pandangan yang terbuka ke tempat-tempat di bawahnya, terutama pandangan ke arah Masjid Al-Haram, dan pandangan ke padang pasir luas dan langit nan seakan tanpa batas, dapat dibayangkan dapat memberikan kesempatan bagi beliau untuk “beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi” seperti dikemukakan Al-Ghazali.

Rasulullah Saw. sendiri, yang kala itu merupakan warga Kampung Qusyasyiyyah, tentu telah mempertimbangkan matang pemilihan Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts. Beliau tentu telah memperbincangkan tempat itu dengan istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid. Malah istri teladan beliau tersebut, di malam yang pekat, pernah beberapa kali mengunjungi Rasul Saw. ketika beliau sedang berada di gua yang tak semua orang kuasa melakukannya itu, dengan menyusuri batu cadas dan kerikil, dengan tujuan agar dapat melayani sang suami tercinta dengan baik. Luar biasa.

Di sisi lain ada yang menyatakan, Gua Hira’ adalah masjid yang tegak sebelum Islam. Prof. Dr. Husain Mu’nis, seorang pakar terkemuka sejarah Islam asal Mesir, misalnya dalam karyanya Al-Masâjid menulis, “Pada umumnya para penulis memulai sejarah masjid dari Masjid Al-Haram, yaitu Rumah Allah pertama yang didirikan untuk umat manusia. Selain itu, masjid tersebut juga sebagai kiblat Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi yang menganut agama yang hanîf, dan masjid di mana untuk pertama kalinya Rasulullah Saw. melaksanakan shalat. Namun, semestinya kita merujukkan masjid ke Gua Hira’. Gua itulah sejatinya, tak pelak lagi, masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu pulalah Rasul Saw. melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu. Demikian halnya di gua itu pulalah ayat-ayat pertama Al-Quran, lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq, turun. Selain itu, Gua Hira’ juga semestinya dipandang sebagai masjid, walau kehadirannya mendahului masa masjid-masjid. Andaikan tak tepat untuk dikatakan bahwa Rasul Saw. telah bersujud di gua tersebut, selayaknya gua tersebut dapat dikatakan sebagai tempat sembahyang. Seperti diketahui, masjid dapat disebut sebagai tempat sembahyang, seperti halnya pula dapat disebut sebagai tempat ruku‘. Namun, istilah masjidlah yang lebih acap dipakai.” (arofiusmani.blogspot.com/)

Thursday, August 4, 2011

Keistimewaan Bulan Ramadhan


Pada akhir bulan Juni 2011 yang lalu, ketika Allah Swt. mengizinkan penulis berziarah ke Madinah, penulis pun menyempatkan diri ke Raudhah dan Makam Nabi Saw. Alhamdulillah, saat itu Raudhah tidak terlalu penuh dengan para jamaah umrah. Selepas melaksanakan shalat di situ, kedua mata penulis tidak bosan-bosannya mencermati segala sesuatu yang ada di seputar Raudhah dan makam itu. Satu demi satu. Kemudian, ketika kedua mata penulis menatap Mimbar Nabi yang menjadi pembatas Raudhah, tiba-tiba tanpa sadar penulis bergumam, “Bukankah di mimbar itulah beliau, manakala tidak sedang melakukan perjalanan keluar kota, setiap Kamis selepas shalat Subuh (bila Ramadhan selepas shalat Ashar), beliau memberikan pesan dan arahan kepada para sahabat?”

Nah, apakah pesan Rasul Saw. tentang keistimewan Bulan Ramadhan yang beliau sampaikan di mimbar kayu berlantai tiga itu? Berikut pesan dan arahan beliau itu:

Suatu ketika Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau pun berkata, “Wahai sahabat-sahabatku! Pada setiap malam di bulan Ramadhan, Allah Swt. berfirman kepada malaikat penyeru untuk mengumumkan tiga kali, ‘Adakah orang yang memohon? Jika ada, Aku akan memenuhi permohonannya. Adakah orang yang bertaubat? Jika ada, Aku akan menerima taubatnya. Adakah orang yang memohon ampunan? Jika ada, Aku akan mengampuninya. Dan, siapa yang akan memberi pinjaman kepada Yang Mahakaya yang tak pernah kekurangan dan Yang Maha Memenuhi segala janji-Nya tanpa menguranginya sama sekali?”

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berkata. Beberapa saat kemudian beliau melanjutkan perkataannya, “Wahai sahabat-sahabatku! Pada setiap hari di bulan Ramadhan, Allah Swt. membebaskan dari neraka sejuta ruh yang dipastikan masuk surga. Dan pada hari terakhir bulan Ramadhan, Allah Swt. membebaskan ruh sebanyak-banyaknya sebagaimana Dia membebaskannya dari awal hingga akhir Ramadhan.

Kemudian, jika Lailatul-Qadar tiba, Allah Swt. memerintahkan Malaikat Jibril untuk turun ke bumi bersama serombongan malaikat yang membawa bendera hijau dan menancapkan bendera itu di puncak Ka‘bah. Jibril memiliki seratus sayap, dua sayap di antaranya tidak pernah dibentangkan kecuali pada malam itu. Lalu, Jibril membentangkan kedua sayapnya sehingga menutupi timur dan barat. Malaikat-malaikat akan berjabat tangan dengan rombongan Jibril dan mengamini doa mereka hingga fajar terbit. Ketika fajar telah terbit, Jibril menyeru malaikat-malaikat itu, ‘Wahai para malaikat! Berpencarlah!’ Mereka pun bertanya, ‘Wahai Jibril! Apa yang akan dilakukan Allah Swt. berkenaan dengan pelbagai keperluan ummat Muhammad Saw. yang beriman?”
“Jibril menjawab, ‘Pada malam ini, Allah Swt. memandangi mereka dan memaafkan mereka, kecuali empat kelompok manusia.’”

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berbicara. Melihat hal itu, seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasul, siapakah empat kelompok itu?”
“Mereka adalah pecandu minuman keras, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang memutus silaturahmi, dan orang yang saling bermusuhan!” jawab beliau.
“Wahai Rasul,” tanya sahabat itu lebih lanjut, “siapakah orang yang saling bermusuhan itu?”
“Orang yang saling membenci!” jawab beliau.

Selepas menjawab demikian, Rasulullah Saw. lantas berkata, “Jika malam Hari Idul Fitri tiba, malam itu menjadi Malam Penyerahan Hadiah. Kemudian keesokan harinya, pada Hari Idul Fitri, Allah Swt. mengutus malaikat-malaikat untuk turun ke bumi. Mereka mendatangi setiap penjuru bumi dan menyeru dengan suara yang bisa didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia, ‘Wahai ummat Muhammad! Keluarlah menghadap Tuhan kalian Yang Mahamulia. Dia akan mengaruniakan hadiah dan mengampuni dosa-dosa besar kalian!” Apabila mereka datang ke tempat shalat mereka, Allah Swt. pun berfirman kepada malaikat-malaikat tersebut, ‘Apakah balasan bagi pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaannya?’ Para malaikat menjawab, ‘Wahai Tuhan kami, balasannya adalah upah penuh.’

“Maka, Allah pun berfirman, ‘Wahai malaikat-malaikat-Ku! Aku menjadikan kalian sebagai para saksi bahwa Aku telah memberikan balasan kepada mereka, karena puasa mereka pada bulan Ramadhan dan karena shalat (sunnah) malam mereka, dengan ridha dan ampunan-Ku! Wahai hamba-hamba-Ku! Mohonlah kepada-Ku! Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidaklah kalian menginginkan sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini, untuk akhiratmu, kecuali Aku akan memberimu. Dan, tidaklah kalian menginginkan keperluan duniawimu kecuali Aku akan memandangi kalian. Demi kemuliaan-Ku, sungguh kesalahan-kesalahan kalian akan Kututupi selama kalian takut kepada-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tak kan menghinakan kalian dan aib-aib tidak akan Kuperlihatkan di hadapan orang-orang yang melewati batas. Bertebaranlah kalian membawa ampunan…. Sungguh, kalian telah ridha kepada-Ku dan Aku pun telah ridha kepada kalian!’

“Malaikat-malaikat pun merasa gembira dan bersukacita, karena Allah memberi karunia kepada ummat ini kala mereka sedang berhari raya selepas melaksanakan puasa Ramadhan!

Wednesday, August 3, 2011

Al-Quran dan Perjalanan Ruhaniah Cat Stevens


Bring tea for the Tillerman
Steak for the sun
Wine for the women who made the rain come
Seagulls sing your hearts away
’Cause while the sinners sin, the children play
Oh Lord, how they play and play
For that happy day, for that happy day.

(Cat Stevens, Tea for the Tillerman)

Kemarin pagi, selepas shalat Subuh, ketika sedang menyimak pembacaan Al-Quran secara tartil dan dengan suara nan indah oleh seorang qari’ terkemuka Kuwait, Mishari Rashid Al-‘Afashi, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Inggris. Entah kenapa, tiba-tiba penulis teringat kembali kisah proses keislaman Cat Stevens, seorang penyanyi kondang Inggris yang terkenal antara lain dengan lagu-lagunya: Morning Has Broken, Peace Train, Moonshadow, Wild World, Father and Son, Matthew and Son, Oh Very Young, dan lagu dengan lirik di atas, Tea for the Tillerman. Penulis teringat penyanyi yang lahir di London pada Rabu, 14 Ramadhan 1367 H/21 Juli 1948 M dengan nama kecil Stephen Demetre Georgiou itu, mungkin, karena keislamannya erat kaitannya dengan Al-Quran.

Bagaimanakah kisah keislaman penyanyi kondang yang kini lebih terkenal dengan nama Yusuf Islam itu? Nah, marilah kini kita ikuti kisah perjalanan menuju Islam Cat Stevens sebagaimana ia tuturkan sendiri:

“Ibunda saya (Ingrid Wickman) adalah seorang Swedia yang dibaptis. Sedangkan ayahanda saya (Stavros Georgiou) adalah seorang Yunani berasal dari Siprus. Saya dididik sebagai pemeluk Agama Kristen dan mereka mengajari saya untuk percaya kepada Tuhan. Saya menerima keyakinan itu karena mereka itulah orang tua saya dan saya pandang mereka lebih tahu ketimbang saya. Saya dimasukkan ke sebuah sekolah Katolik Roma yang terletak di pusat Kota London. Dapat dikatakan, sekolah dasar itu sangat berpengaruh terhadap diri saya. Sekolah ini begitu ketat. Sehingga, Jesus begitu memengaruhi saya. Namun, ketika saya belajar lebih lanjut di sekolah yang lebih longgar tata aturannya, saya mulai agak jauh dari gereja. Sejatinya, kala itu pengaruh Jesus masih saya rasakan, walau saya tak mengerti makna Trinitas.

Di sisi lain, dunia luar begitu menarik buat saya. Ketika saya mengenal musik, itulah saatnya saya menjadi pemeluk Kristen nominal, meski ada perasaan bersalah. Namun, secara rasional, ada hal-hal yang menjauhkan saya dari gereja. Saya kemudian sangat tertarik pada musik dan ayahanda membelikan sebuah gitar. Pada usia sekitar 15 tahun saya mulai menulis lagu. Saya pilih nama Cat Stevens dan pada usia 18 tahun saya mulai masuk dapur rekaman. Setahun kemudian saya meraih sukses. Nama saya pun sangat tenar dan rekaman saya laku keras di Eropa. Tapi, pertunjukan panggung ternyata tak cocok buat saya.”

Ternyata, sukses itu membuat Cat Stevens lupa diri. Ia pun menjadi peminum dan perokok berat. Tak lama kemudian, ia terserang tuberculosis dan mesti dirawat lama sekali di rumah sakit. Apa boleh buat, kariernya terhenti. Kala itu, usianya baru sekitar 20 tahun. Saat dirawat itulah ia mulai tertarik pada filsafat Timur. “Gaya hidup yang lagi popular kala itu kan hippies,” kenang Yusuf Islam tentang gejolak ruhaniah yang menerpa dirinya kala itu. “Terutama bagi kalangan anak-anak muda segenerasi saya. Saya lantas memelajari Agama Budha. Ada kepuasan lebih ketimbang dogma kaku gereja. Buku pertama yang mengenalkan saya dengan ranah kejiwaan berjudul The Secret Way. Hal itu mendorong saya untuk terus mencari. Saya lantas menjadi seorang vegetarian, beryoga, dan melakukan meditasi. Ini memang sebuah pilihan lain dari konsep gereja tentang agama. Namun, ternyata pilihan itu tak praktis.”

Bagaimanakah perjalanan ruhaniah selanjutnya tokoh yang pernah menerima World Social Award, Man for Peace Award, doktor honoris causa dari Universitas Gloucestershire dan Universitas Exeter, dan The Mediterranean Prize for Peace itu, hingga akhirnya ia menemukan Islam?

“Lantas, saya pun menelusuri asal usul keluarga saya di Yunani. Saya kemudian memelajari gagasan-gagasan lama dan saya menyukai Pythagoras. Namun, ternyata gagasan-gagasan itu juga tak praktis. Sebab, dalam gagasan-gagasan itu tiada penjelasan tentang bagaimana cara hidup. Akhirnya saya berpikir, tak satu pun agama bisa membantu saya. Kemudian, pada 1975 kakak saya, David, pergi ke Jerusalem. Ia mengunjungi Masjid Al-Aqsha. Sebelumnya, ia tak pernah masuk ke dalam masjid. Ternyata, dalam masjid itu, ia merasakan suasana yang berbeda dengan ketika ia masuk ke dalam gereja maupun sinagog. Sehingga, ia pun bertanya kepada dirinya sendiri, ‘Mengapa agama ini (Islam) bagaikan rahasia besar?’

Ia benar-benar terkejut melihat masyarakat Muslim dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Langsung saja ia balik ke Inggris dan kemudian membeli Al-Quran. Kitab itu lantas ia berikan kepada saya. Itulah perkenalan pertama saya dengan Islam. Sebelumnya, saya lebih mengenal Islam sebagai kebudayaan asing daripada sebagai sebuah agama. Lebih dari itu, agama itu bukan milik zaman kita. Namun, ketika membaca Al-Quran, saya tersadar bahwa hanya ada satu Tuhan. Karena itu, hanya ada satu agama.

Selama satu setengah tahun saya memelajari Al-Quran dan mulai mengikuti petunjuknya. Saya kemudian mulai menulis lagu lagi yang merupakan ungkapan kebangkitan ruhaniah saya. Liriknya mirip biografi saya. Albumnya berjudul Tea for the Tillerman. Lewat lagu itu, saya menikmati sukses tingkat dunia. Album itu bagaikan dokumen yang berisi petikan-petikan kisah perjalanan saya menuju Tuhan. Kata-kata dalam Al-Quran yang tadinya nampak asing kini menjadi jelas dan simpel, meski ada yang masih merupakan misteri bagi saya kala itu. Saya percaya, ada Perancang Agung yang menciptakan ini semua. Tapi, siapakah Seniman yang tak kasat mata itu? Saya telah mencoba banyak jalan. Namun, tiada yang memuaskan. Ketika akhirnya saya membaca Al-Quran, saya merasakan kitab suci itu bagaikan diciptakan untuk saya.

Suatu hari saya menemui seseorang. Ia kemudian memberitahu saya, ada sebuah masjid baru yang belum lama dibuka. ‘Inilah saatnya!’ Lantas, pada hari Jumat musim semi 1977, saya pun melangkah ke masjid itu. Usai shalat Jumat, saya menemui Imam dan memberitahukan keinginan saya untuk memeluk Islam. Selepas itu, bukan perkara sulit bagi saya untuk menghentikan kebiasaan buruk di masa sebelumnya, seperti menenggak minuman keras, merokok, dan lain-lain sebagainya. Sebab, saya tahu betul tindakan saya (dalam memeluk Islam) adalah benar. Namun, yang berat adalah mengenai sahabat-sahabat saya. Tidak semuanya memahami pesan Islam. Meski demikian, saya tetap memelihara persahabatan dengan mereka, walau saya harus memutuskan untuk menarik garis yang jelas antara masa silam saya dengan Islam. Dan, saya kini berkarya untuk Allah dan ingin menjadi alat Allah untuk memantapkan Islam di bumi Inggris sejauh kemampuan saya.”

Betapa indah Al-Quran. Sehingga, kandungannya pun kuasa “menaklukkan” hati tokoh yang pada 1428 H/2007 M menerima “Special Award for Life Achievements as Musician and Ambassador between Cultures” itu! (arofiusmani.blogspot.com/)

Tuesday, August 2, 2011

Untuk Apa Semua Ibadah Itu?


Di bulan Ramadhan ini, masihkah menulis menjadi “ritual” yang senantiasa penulis lakukan? Tentu. Menulis selepas shalat Subuh, entah kenapa, menjadi saat yang paling favorit bagi penulis. Saat tersebut, otak terasa masih sangat segar. Jemari tangan pun sangat bersemangat diajak “menari” di atas keyboard. Apalagi, bila kegiatan itu diiringi bacaan tartil Al-Quran atau lagu-lagu indah.

Nah, kemarin pagi, selepas shalat Subuh dan ketika jemari penulis sedang asyik “menari” di atas keyboard, tiba-tiba jemari penulis terhenti. Terhenti? Ya, terhenti karena mendengar sebuah lagu Bimbo berjudul, “Ada Anak Bertanya Pada Bapaknya”:

Ada anak bertanya pada bapaknya
Buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
Tadarus tarawih apalah gunanya

Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

Lihatlah langit keampunan yang indah
Membuka luas dan angin pun semerbak
Nafsu angkara terbelenggu dan lemah
Bunga ibadah dalam ikhlas sedekah


Entah kenapa, mendengar lagu itu, penulis lama termenung dan tercenung serta bergumam, “Betapa indah pertanyaan itu! Ya, untuk apa semua ibadah itu?” Tak lama kemudian, benak penulis melayang-layang ke Madinah, karena teringat kisah berikut yang memberikan jawaban atas pertanyaan menarik tersebut:

Suatu ketika Rasulullah Saw. berbincang-bincang dengan beberapa sahabat beliau. Salah seorang di antara mereka ialah Abu Dzar Al-Ghifari, sahabat beliau yang terlahir dengan nama lengkap Abu Dzar Jundab bin Junadah bin Sufyan Al-Ghifari. Sahabat yang satu ini semula mewarisi karier ayahnya selaku pimpinan besar perampok kafilah yang melewati jalur perdagangan Makkah-Suriah yang dikuasai suku Ghifar. Meski kerap melakukan perbuatan jahat, hati kecil Abu Dzar sejatinya menolaknya. Akhirnya, dia melepaskan semua jabatan dan kekayaan yang dimilikinya. Kaumnya pun diserunya untuk berhenti merampok. Namun, kaumnya marah dan memusuhinya. Dia pun pindah ke Nejd bersama ibunya dan saudara laki-lakinya, Unais.

Di tempat yang baru, dia menghadapi penduduk Nejd yang suka berbuat onar. Dia juga berusaha mengajak mereka kepada kebaikan. Namun, penduduk Nejd malah mengusirnya, dan dia pun pindah ke sebuah perkampungan dekat Makkah. Di tempat itulah dia mendengar tentang Nabi Muhammad Saw. dan ajaran Islam. Akhirnya, dia menyatakan keislamannya di depan Ka‘bah, Makkah. Sejak itu, sahabat yang hidup sangat sederhana ini membaktikan hari-harinya untuk Islam. Tugas pertama yang diembankan Muhammad Saw. di pundaknya ialah mengajarkan Islam di kalangan sukunya.

Nah, selepas membincangkan pelbagai hal, Rasulullah Saw. tiba-tiba berpaling ke arah Abu Dzar, sahabat beliau yang senantiasa menentang segala bentuk penumpukan harta itu, dan bertanya kepadanya, “Abu Dzar! Jika engkau bermaksud melakukan perjalanan, bukankah engkau melakukan persiapan?”
“Tentu, wahai Rasul,” jawab Abu Dzar, meski dia belum sepenuhnya tahu ke mana arah pertanyaan Rasulullah Saw. tersebut.
“Lalu, bagaimanakah jika engkau berjalan menuju ke arah Hari Kiamat? Tidak inginkah engkau kuberi tahu, wahai Abu Dzar, persiapan apa yang bermanfaat bagimu untuk menyambut hari itu?” tanya beliau.
“Tentu, ingin sekali, wahai Rasul. Demi ayah dan ibuku!” jawab Abu Dzar dengan antusias.
“Abu Dzar!” tegas beliau menjelaskan. “Berpuasalah pada hari yang sangat terik sebagai bekal pada Hari Kebangkitan! Lakukanlah dua rakaat di dalam kekelaman malam sebagai bekal bagi kepekatan kubur! Tunaikanlah ibadah haji sekali sebagai bekal untuk menghadapi urusan-urusan besar! Bersedekahlah dengan sesuatu kepada orang miskin, atau dengan perkataan benar yang engkau ucapkan, atau dengan perkataan buruk yang engkau tahan untuk tidak engkau ucapkan!”

Monday, August 1, 2011

Pidato Rasul Saw. Menyambut Ramadhan


“Ya Allah, Tuhan kami! Terimalah shaum, rukuk, sujud, bacaan Al-Quran, dan doa kami…, amin.”

Tidak terasa bibir menggumamkan doa tersebut, begitu usai melaksanakan shalat tarawih tadi malam. Entah kenapa, kemudian, kebahagiaan tiba-tiba menyergap seluruh diri. Mungkin, karena Allah Swt. masih memberikan kesempatan kepada penulis untuk meniti bulan Ramadhan tahun ini. Segera, benak penulis pun melayang-layang ke Madinah, seraya menyimak kembali sejarah diwajibkannya ibadah yang satu ini.

Catatan sejarah Islam menorehkan, kewajiban puasa di bulan tersebut diwajibkan setelah turunnya ayat-ayat al-Quran yang memerintahkan berpuasa di bulan itu (QS al-Baqarah [2]: 183-185). Ayat-ayat yang mewajibkan shaum di bulan Ramadhan tersebut turun di Madinah pada Sya‘ban 2 H/623 M atau lebih kurang selepas 18 bulan Rasulullah Saw. menetap di Madinah. Menjelang diwajibkannya ibadah shaum, suatu saat Rasulullah Saw. melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada 10 Muharram (‘Asyura‘), sebagai peringatan terlepasnya Nabi Musa a.s. dan sebagian Bani Israil pada zaman dahulu dari bahaya kekejaman Fir‘aun. Karena merasa bahwa kaum Muslim memiliki hubungan batin yang erat dengan ajaran-ajaran Musa a.s, beliau pun memerintahkan kaum Muslim untuk juga berpuasa pada hari ‘Asyura‘ tersebut. Tidak lama kemudian, turun ayat yang mewajibkan shaum Ramadhan tersebut.

Nah, menyambut kehadiran bulan mulia tersebut, kaum Muslim di Madinah pun sangat bersukacita. Melihat semangat membara warga Madinah tersebut, Rasulullah Saw. pun meminta mereka berkumpul. Selepas mereka hadir, beliau pun berpidato,

“Wahai manusia! Kini telah dekat kepada kalian satu bulan agung, bulan yang sarat dengan berkah. Juga, bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik ketimbang seribu bulan. Inilah bulan yang Allah telah menetapkan puasa pada siang harinya sebagai kewajiban dan shalat (sunnah) di malam harinya sebagai shalat sunnah. Barang siapa ingin mendekatkan diri kepada Allah di bulan ini dengan suatu amal sunnah, maka pahalanya seolah dia melakuan amal yang wajib pada bulan-bulan lain. Dan, barang siapa melakukan amal wajib di bulan ini, dia akan dibalas dengan pahala seolah dia telah melakukan tujuh puluh amal wajib pada bulan-bulan lain.

Inilah bulan kesabaran dan imbalan atas kesabaran adalah surga. Inilah bulan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rezeki orang-orang yang beriman ditingkatkan. Barang siapa memberi makan (untuk berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, maka ia mendapatkan balasan keampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari Neraka Jahannam. Selain itu, ia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana ganjaran yang dikaruniakan atas orang yang berpuasa tersebut; tanpa sedikit pun mengurangi pahala yang orang yang berpuasa itu!”

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berpidato. Tiba-tiba seseorang di antara mereka mengeluh kepada beliau, “Wahai Rasul! Tidak semua di antara kami memiliki sesuatu yang bisa diberikan kepada orang yang sedang berpuasa untuk berbuka!”

“Allah akan mengaruniakan balasan ini kepada seseorang yang memberi buka walau hanya dengan sebiji kurma, atau seteguk air, atau seisap susu. Inilah bulan yang pada sepuluh pertamanya Allah menurunkan rahmat, sepuluh hari pertengahannya Allah memberikan ampunan, dan sepuluh hari yang terakhir Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari neraka Jahannam. Barang siapa meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, Allah Swt. akan mengampuninya dan membebaskannya dari neraka.

Perbanyaklah di bulan ini dengan empat hal. Dua hal bisa mendatangkan keridhaan Tuhan kalian, dan yang dua lagi kalian pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah ialah hendaknya kalian mengucapkan syahadat (persaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah) dan istighfâr (permohonan ampun kepada-Nya) sebanyak-banyaknya. Sedangkan dua hal yang kalian pasti memerlukannya ialah hendaknya kalian memohon kepada-Nya untuk masuk surga dan berlindung kepadanya dari neraka Jahannam. Dan, barang siapa memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), Allah akan memberinya minuman dari telagaku yang dengan sekali teguk saja ia tak kan pernah kehausan lagi hingga ia memasuki surga!”

Pidato Rasulullah Saw. itu menunjukkan, dalam shaum Ramadhan terkandung pesan moral yang amat kuat. Sedemikian kuatnya, hingga rukun Islam ketiga ini bukan saja menyeru pada panggilan kewajiban ibadah semata. Tapi, lebih jauh lagi, seruan moral itu menyeruak masuk ke wilayah-wilayah pribadi yang bersifat individual dan psikologis. Malah, ke wilayah sosial, politik, ekonomi, dan kultural. Dan, tujuan seruan itu pun amat mulia dan asli serta diajarkan lewat media yang paling efektif. Yaitu, kesabaran, persaudaraan, dan solidaritas terhadap sesama manusia yang diajarkan secara langsung lewat laku “penderitaan” fisik pada diri setiap Muslim. Di ujung pelajaran itu diharapkan terjadi pencerahan bahwa pengendalian diri adalah “sebaik-baik perhiasan” dalam menghadapi segala keruwetan dan kesumpekan hidup sehari-hari.