Monday, August 15, 2011

1401 Tahun yang Silam


Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Tadi malam, ketika menyaksikan penyerahan Ahmad Bakrie Award 2011 (di TVOne), kepada para peraih hadiah tersebut, entah kenapa kepala penulis tiba-tiba menunduk dan benak melayang ke Gua Hira’, Makkah Al-Mukarramah. Kepala menunduk karena teringat kembali sejarah turunnya wahyu kepada Rasul Saw. Yang terbayangkan dalam benak penulis: betapa beda sekali suasana 1401 tahun silam, ketika Rasul Saw. pertama kali menerima wahyu, dengan suasana penerimaan award tersebut yang mewah, meriah, dan gemerlap itu. Tentu dapat dibayangkan, kala di puncak Jabal Nur, beliau kala itu sendirian, sementara suasana sekeliling sangat sunyi, langit sangat cerah (kala itu bulan September), dan hawa di sekitar Makkah mulai segar. Dengan suasana demikian, tentu pula dapat dibayangkan betapa beliau sangat kaget ketika tiba-tiba Jibril muncul di hadapan beliau. Bagaimanakah lembaran sejarah menorehkan kejadian luar biasa di puncak Jabal Nur pada 1401 tahun yang silam?

Bulan itu adalah bulan Ramadhan tahun kelima selepas pemugaran Ka‘bah dan kelahiran Fathimah Al-Zahra’. Seperti tahun-tahun sebelumnya, Rasul Saw. kembali meninggalkan rumahnya menuju Gua Hira’ seperti yang biasa beliau lakukan setiap tahun. Beliau berjalan sendiri melintasi pinggiran Kota Makkah seraya berpikir tentang keagungan Allah, kekuasaan-Nya, dan keindahan ciptaan-Nya. Jiwanya saat itu kian matang.

Ketika itu Rasul Saw. kian yakin, masyarakatnya telah menyimpang jauh dari jalan yang lurus dan kehidupan ruhaniah mereka telah rusak karena tunduk pada khayalan berhala-berhala dan pelbagai kepercayaan semacamnya yang tidak kurang pula sesatnya. Semua ajaran yang telah pernah dikemukakan oleh masyarakat Yahudi dan umat Nasrani tak dapat menolong mereka dari kesesatan itu. Apa yang mereka sampaikan masih mengandung aneka ragam takhayul dan pelbagai ragam kemusyrikan yang tak mungkin seiring dengan kebenaran sejatinya, kebenaran mutlak sederhana yang tidak mengenal segala bentuk spekulasi dan perdebatan kosong yang menjadi pusat perhatian kedua golongan Ahli Kitab itu. Kebenaran itu adalah Allah, Sang Pencipta semesta alam, tiada Tuhan selain Dia. Kebenaran itu adalah Allah Pemelihara semesta alam. Dialah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim. Kebenaran itu adalah bahwa manusia dinilai berdasarkan perbuatannya, “Barang siapa melakukan kebajikan seberat zarah pun, ia akan melihatnya! Dan, barang siapa melakukan kejahatan seberat zarah pun, ia akan melihatnya.” (QS Al-Zalzalah [99]: 7-8).

Jauh dari orang lain dan berhadapan langsung dengan alam, Rasul Saw. kala itu memang senantiasa berusaha mencari makna dan kedamaian. Beliau tidak pernah mengikuti ibadah penyembahan berhala, tidak meyakini kepercayaan dan ritual suku-suku di wilayahnya, dan menjauhi segala bentuk takhayul dan buruk sangka. Beliau terlindung dari tuhan-tuhan palsu. Baik dalam bentuk penyembahan terhadap berhala maupun penghambaan terhadap kekuasaan dan kekayaan. Beberapa kali beliau bercerita kepada istrinya, Khadijah, perihal mimpi yang ternyata benar, yang membuat beliau terganggu karena meninggalkan kesan yang sangat kuat selepas beliau terbangun. Itulah pencarian-kebenaran sejati: tidak puas dengan jawaban orang-orang di sekelilingnya, dan terdorong oleh keyakinan mendalam bahwa beliau harus mencari jawaban lebih lanjut.

Usia Rasul Saw. kala itu telah mendekati empat puluh tahun. Kala itu sendiri, beliau telah mencapai titik perkembangan ruhaniah yang menuntut introspeksi mendalam untuk mencapai titik berikutnya. Sendirian di dalam Gua Hira’, beliau merenungkan makna kehidupannya, kehadirannya di dunia, dan pelbagai penanda yang telah mengiringinya sepanjang hidupnya. Bentangan cakrawala di sekelilingnya mungkin mengingatkannya pada suasana masa kecilnya. Bedanya, kini kedewasaan telah memenuhinya dengan pelbagai pertanyaan eksistensial mendasar.

Rasul Saw. kala itu sedang mencari. Dan, pencarian ruhaniah ini secara alamiah menuntunnya menuju sebuah panggilan yang secara tidak langsung, namun pasti telah ditunjukkan oleh penanda-penanda yang beliau saksikan sepanjang hidupnya. Beragam penanda yang telah melindungi dan menenangkan hatinya, visi yang pertama kali muncul dalam mimpi-mimpinya, yang kemudian menjelma dalam hidupnya, dan pelbagai pertanyaan yang melintasi hati dan pikirannya yang bertautan dengan cakrawala yang terbentang di alam, telah mengantarkannya pada inisiasi tertinggi menuju makna, pada perjumpaan dengan Pendidiknya, Allah Yang Maha Esa. Saat berusia empat puluh tahun, siklus pertama kehidupannya berakhir.

Lantas hari itu, tepatnya pada Ramadhan 610 M (hari Senin, 17 Ramadhan, menurut Muhammad bin Sa‘d), Rasul Saw. sedang khusyuk bertafakur di Gua Hira’. Tiba-tiba beliau mendengar suara yang menggema sangat kuat di seluruh dinding gua memanggilnya. Suara itu seakan datang dari atas. Lalu, tampak di hadapannya sesosok tubuh besar seakan memenuhi gua. Sosok yang diselubungi cahaya berpendar menyilaukan itu lantas berucap tegas, “Wahai Muhammad! Engkaulah utusan Allah.”

Rasul Saw. pun berlutut. Perasaan takut menyergap kuat dirinya. Sosok itu kemudian berucap lagi, “Wahai Muhammad! Aku adalah Jibril dan engkau adalah utusan Allah!” Lalu, sosok itu memperlihatkan kepada beliau sebuah lembaran yang terlipat dalam kain sutra dan memerintahkan kepadanya, “Bacalah!” “Aku tidak kuasa membaca,” jawab beliau terbata-bata dan kebingungan. Mendengar jawaban beliau yang demikian, Jibril lantas memeluknya kuat. Lalu, Jibril melepaskannya seraya berucap keras, “Bacalah!” “Aku tidak kuasa membaca,” jawab beliau kian kebingungan. Jibril memeluknya sekali lagi. Kuat sekali. Hingga beliau hampir tak kuasa bernapas. Lalu, Jibril kembali berucap keras, “Bacalah!” Karena khawatir Jibril akan memeluknya dengan sangat kuat lagi, beliau pun menjawab, “Apa yang harus kubaca?”

Ternyata, Jibril tetap memeluknya. Sekuat pelukan sebelumnya. Lalu, Jibril membacakan, “Bacalah! Dengan nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar dengan perantaraan pena. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Rasul Saw. kemudian mengejanya, dituntun Jibril yang kemudian segera meninggalkannya dengan tiada hentinya berpesan kepadanya, “Wahai Muhammad! Engkaulah utusan Allah.”

Pengalaman pertama kali menerima wahyu ini sungguh luar biasa, hingga menggetarkan hati dan pikiran Rasul Saw. Wahyu itu juga disertai dengan kepastian bahwa pengantar wahyu itu adalah malaikat dan bukan kekuatan psikis atau jinn. Wahyu yang turun itu menggema ke seluruh semesta alam dan mengubah suasana di sekitar beliau. Gema itu menimpa beliau seakan suatu pukulan, dan beliau mendengar kegaduhan keras dan bertalu laksana beribu suara genta. Selama dua puluh tiga tahun selepas kejadian di Gua Hira’ itu, kapan saja menerima wahyu, beliau senantiasa merasakan tekanan hebat. Beliau akan berkeringat dan manakala beliau sedang naik unta atau kuda, hewan-hewan itu pun terbungkuk di bawah tekanan titah yang turun dari Allah Swt.

Di sini timbul pertanyaan, mengapa Rasul Saw. yang menerima titah Allah Swt. justru tak kuasa membaca (ummiy)?

Seyyed Hossein Nasr, dalam karyanya Muhammad Man of Allah, menjawab pertanyaan yang demikian, menulis, “Untuk memahami doktrin fundamental ini, perlu sekali diingat bahwa wahyu bukan sebuah produk pikiran Nabi Muhammad Saw. Tapi, wahyu diturunkan dari langit kepada beliau. Al-Quran bukan kata-kata beliau, tapi titah Allah. Beliau hanyalah salurannya. Watak tidak kuasa membaca beliau berarti bahwa sebelum firman Allah dapat diterimakan, maka wadah manusianya haruslah murni dan bening. Allah tak begitu saja menulis di atas sembarang lembaran. Untuk itu disyaratkan hati yang murni, ruh dan pikiran yang tak ternoda oleh ajaran manusia, agar mampu berfungsi sebagai lembaran yang menerima titah Allah. Jika seseorang memahami arti wahyu dan kesempurnaan transendensi ketuhanan di atas segala-galanya yang serba manusiawi dan kesempurnaan tindakan Allah serta manusia penerimanya, maka orang itu akan memahami mengapa Nabi Muhammad Saw. tak dapat lain kecuali tidak kuasa membaca. Betapa pun pedas kritik para cendekiawan Barat modern mengenai sisi ini, tidaklah itu apa-apa, karena mereka menolak menerima kenyataan wahyu dan perbedaan kualitas antara titah Allah dengan manusia yang menjadi wadahnya.”

Selepas turunnya wahyu itu, Rasul Saw. (saat itu ia berusia 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun Bulan/Qamariyyah atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun Matahari/ Syamsiyyah) segera pulang menuju rumah beliau di kegelapan dini hari, dalam keadaan takut, pucat, dan sendi-sendinya gemetar. Dan, ketika sampai di kamar istri beliau, Khadijah binti Khuwailid, beliau merasa berada di tempat yang aman. Kemudian beliau menceritakan kepada istrinya, dengan suara gemetar, segala sesuatu yang telah terjadi. Beliau curahkan kepada istrinya segala hal yang membuatnya ketakutan dan meminta agar dirinya diselimuti.

Khadijah binti Khuwalid, sang istri teladan, pun merangkul dan mendekap sang suami tercinta di dadanya. Roman mukanya membangkitkan sifat keibuan yang telah berakar kuat di hatinya. Ia kemudian berucap dengan suara lirih dengan segenap keteguhan dan keyakinan, “Kiranya Allah memelihara kita, wahai Abu Al-Qasim! Bergembiralah wahai putra pamanku. Tenanglah. Demi Zat yang menguasai diri Khadijah, aku berharap engkau akan menjadi nabi umat ini. Demi Allah, sungguh Allah tak akan menghinakanmu selamanya. Bukankah engkau suka bersilaturahmi, senantiasa berkata jujur, suka menolong orang yang kesusahan, senantiasa menghormati tamu, dan senantiasa membantu orang yang tertimpa musibah.”

Rona kegembiraan pun mewarnai wajah Muhammad Saw. yang kini telah diangkat sebagai Nabi Allah (Nabiy Allâh). Sedikit demi sedikit rasa takutnya sirna. Suara sang istri yang merdu lagi penuh kasih sayang pun menyelinap seiring dengan berpendarnya cahaya fajar ke dalam relung hati beliau, menebarkan keyakinan, rasa aman, dan tenang dalam diri beliau. Kala sang istri teladan menuntun Nabi Saw. ke tempat tidur. Ia menidurkan beliau seperti yang dilakukan seorang ibu terhadap anak yang disayanginya. Ia pun menghibur beliau dengan suaranya yang merdu, seolah ia menebarkan mimpi yang indah di pembaringan beliau. Dan, kemudian, ia sangat merasa puas melihat suaminya tercinta tertidur pulas. Ia pun memperhatikan suaminya dengan penuh rasa cinta, kasih sayang, dan kekaguman.

Kejadian itu sendiri, di sisi lain, kian mengukuhkan keistimewaan Khadijah binti Khuwailid: betapa ia begitu tenang dalam menghadapi situasi dan kondisi yang sangat kritis. Begitu pula jawabannya kepada suaminya tercinta berkenaan dengan suatu masalah yang bahkan akan menggetarkan para lelaki perkasa dan tentu akan menghadirkan rasa takut pada diri perempuan mana pun. Suatu jawaban yang keluar dari kepribadian seorang istri teladan yang sangat matang dan yakin bahwa suami yang dicintainya adalah orang yang kelak akan mendapatkan kabar gembira berupa kenabian dan wahyu dari langit. (arofiusmani.blogspot.com/)

Saturday, August 13, 2011

Pergulatan Ruhaniah Leopold Weiss


Menulis dan membaca, itulah dua kegiatan yang senantiasa “melekat” dengan diri penulis, alhamdulillah. Juga, di bulan Ramadhan 1432 H ini. Nah, kemarin, selepas capai menulis, tiba-tiba mata penulis terarah ke sebuah buku memikat yang disusun seorang Imam asal Indonesia di New York, Amerika Serikat: Imam M. Shamsi Ali. Segera, buku itu penulis ambil dan simak dengan cermat. Dalam buku yang berjudul Dai Muda di New York City itu ditampilkan proses keislaman beberapa saudara seiman kita dari negara adikuasa tersebut.

Entah kenapa, ketika membaca buku tersebut, tiba-tiba penulis teringat pergulatan ruhaniah Leopold Weiss menuju Islam. Lembaran sejarah menorehkan, selepas memeluk Islam, Leopold Weiss memilih nama: Muhammad Asad. Tokoh yang satu ini, kemudian terkenal sebagai seorang pemikir dan tokoh Muslim terkemuka yang pernah menjabat wakil tetap Pakistan di PBB. Tokoh yang satu ini lahir di Lvov (orang Jerman menyebutnya Lemberg), Polandia pada Senin, 4 Rabi‘ Al-Awwal 1318 H/2 Juli 1900 M. Ketika ia berusia 14 tahun, keluarganya pindah ke Wina, Austria. Lantas, ketika menjadi mahasiswa di Universitas Wina, anak keturunan keluarga para rabi ini menjadi reporter sejumlah harian berbahasa Inggris dan Jerman. Kemudian, ia dikirim Franfurter Allgemeine Zeitung, salah satu koran paling bergengsi di Jerman dan Eropa saat itu, ke Palestina, Suriah, Irak, Iran, Afghanistan, dan Arab Saudi. Pada 1345 H/1926 M sahabat karib Raja ‘Abdul ‘Aziz Al Sa‘ud ini memeluk Islam.

Bagaimanakah “kisah dan perjalanan” Muhammad Asad menuju Islam?

“Suatu hari-tepatnya pada September 1926-Elsa dan saya sedang menikmati perjalanan naik kereta bawah tanah di Berlin,” ucap Muhammad Asad, seperti diceritakan kembali oleh Ismail Ibrahim Nawab dalam tulisannya “From Berlin to Makkah” (Saudi Aramco World, Januari/Februari 2002). “Kami naik di kompartemen untuk kelas menengah atas. Tiba-tiba pandangan saya terarah kepada seorang pria di depan saya. Pria itu mengenakan busana rapi. Tampaknya, ia adalah seorang pengusaha kaya...Saat itu, entah kenapa dalam benak saya timbul pikiran iseng: orang di depan saya itu benar-benar merupakan gambaran tepat kemakmuran yang saat itu dapat ditemukan di mana saja di Eropa Tengah...Sebagian besar orang saat itu mengenakan busana indah dan menikmati makanan yang melimpah. Termasuk orang di depan saya itu.

Namun, ketika saya menatap wajah orang itu, saya merasa wajahnya nampak tidak memancarkan kebahagiaan. Kedua matanya kosong dan memandang ke arah jauh, sedangkan kedua sudut bibirnya tertarik seakan ia sedang kesakitan. Padahal, tubuhnya tampak sehat. Tak ingin dipandang sebagai orang yang berperilaku kasar, saya pun memalingkan pandangan ke samping orang itu. Ternyata, di sampingnya duduk seorang perempuan yang berpenampilan anggun. Ternyata, wajah perempuan itu pun memancarkan ketidakbahagiaan. Tampaknya, ia sedang merenungkan atau mengalami sesuatu yang membuat ia kesakitan. Selepas itu, saya pun mulai mencermati satu demi satu wajah orang-orang yang berada dalam kompartemen itu: wajah orang-orang yang mengenakan busana indah dan menikmati makanan melimpah. Ternyata, nyaris wajah setiap orang memancarkan rasa sakit tersembunyi. Rasa sakit tersembunyi yang tak disadari sang pemilik wajah. Kesan yang saya dapatkan itu demikian kuat. Sehingga, hal itu kemudian saya ceritakan kepada Elsa. Ia pun mulai memandang ke sekeliling, dengan pandangan seorang pelukis yang sangat cermat dalam mengamati sosok manusia. Kemudian, ia berpaling ke arah saya dengan perasaan heran dan berucap, ‘Betul engkau. Mereka nampak seakan sedang merasakan siksaan neraka...Saya bingung, apakah mereka tahu apa yang sedang terjadi pada diri mereka sendiri?’

Saya tahu, mereka tak menyadari keadaan yang sedang “menyergap” diri mereka. Tentu, mereka tak akan kuasa membersihkan kehidupan mereka tanpa memiliki keyakinan apa pun yang teguh, tanpa tujuan hidup apa pun di luar keinginan untuk meningkatkan “standar kehidupan”, tanpa harapan apa pun selain memiliki lebih banyak kekayaan material, lebih banyak peralatan, dan barang kali juga lebih banyak kekuasaan...

Ketika tiba di rumah, tanpa sengaja pandangan saya terarah pada sebuah kitab Al-Quran yang sebelumnya pernah saya baca. Tanpa sadar, kitab suci itu saya ambil. Begitu saya buka lembaran kitab suci itu, kedua mata saya pun terarah pada halaman yang terbuka di hadapan saya. Dan, saya pun membaca, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, hingga kalian masuk ke dalam kubur. Jangan begitu! (Karena) kelak kalian akan mengetahui (akibat perbuatan kalian). Jangan begitu! (Karena) kelak kalian akan mengetahui. Jangan begitu! Jika kalian mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kalian benar-benar akan melihat neraka Jahim, dan sungguh kalian benar-benar akan melihatnya dengan sebenar-benarnya. Kemudian, pada hari itu, kalian pasti akan ditanya tentang kenikmatan (yang kalian megah-megahkan di dunia).” (QS Al-Takâtsur [102]: 1-8)

Sejenak, saya tak kuasa berkata. Sepatah kata pun tak kuasa. Saya rasakan, kitab suci itu bergetar di tangan saya. Kemudian, kitab itu saya serahkan kepada Elsa seraya berucap, ‘Bacalah ayat-ayat ini. Bukankah ayat-ayat ini merupakan jawaban atas hal-hal yang kita saksikan di kereta api bawah tanah tadi? Ayat-ayat ini merupakan jawaban pasti, sehingga semua keraguan kita kini tiba-tiba akhirnya sirna.’

Kini, saya tahu, di balik keraguan sebelumnya, kitab yang diwahyukan Tuhan yang kini berada di tangan saya ini jelas-jelas telah mengantisipasi sesuatu yang benar-benar terjadi hanya di masa kita yang begitu kompleks, bercorak mekanis, dan sarat dengan gejolak ini, walau kitab ini diturunkan lebih dari tiga belas abad yang silam. Memang, sepanjang masa manusia dikenal rakus. Namun, sebelumnya, kerakusan hanya berbentuk keinginan kuat untuk merengkuh sesuatu. Sedangkan kini, kerakusan telah menjadi obsesi yang mewarnai pandangan terhadap segala sesuatu: keinginan untuk memiliki sesuatu yang tak tertahankan, untuk melakukan sesuatu, dan mengangan-angankan lebih dan lebih-hari ini lebih daripada kemarin dan hari esok lebih ketimbang hari ini. Dan, kelaparan tersebut merupakan kelaparan yang tak pernah terpuaskan terhadap segala tujuan yang membara dalam jiwa manusia, “Bermegah-megahan telah melalaikan kalian, hingga kalian masuk ke dalam kubur…

Menurut saya, ayat-ayat itu tak mungkin merupakan kata bijak seorang pria dari Semenanjung Arab di masa silam itu. Sebijak apa pun ia, pria itu tak mungkin meramalkan nestapa aneh yang menimpa abad ke-20 ini. Sesuatu yang dikemukakan Al-Quran jauh lebih agung dari pada ucapan Muhammad...”

Semenjak itu, Leopold Weiss pun berhasrat menjadi seorang Muslim. Kemudian, ia menyatakan keislamannya di hadapan seorang tokoh masyarakat Muslim kecil di Berlin. Ia pun mengubah namanya menjadi Muhammad, sebagai penghormatan kepada Nabi Saw., dan Asad, yang berarti “Singa”, sebagai pengingat nama kecilnya “Leopold”. “Islam,” menurutnya, “masuk ke dalam relung kalbu saya laksana seorang pencuri yang memasuki sebuah rumah di tengah malam. Namun, Islam masuk untuk terus menetap selamanya. Tidak seperti seorang pencuri yang masuk rumah seseorang untuk kemudian dengan tergesa-gesa keluar lagi.”

Kemudian, selepas menikah dengan Elsa Scheimann, Muhammad Asad pun naik haji. Ternyata, ketika berada di Tanah Suci, ia “menghadapi ujian”: selepas sembilan hari berada di Tanah Suci, sang istri tercinta yang mantan model itu, Elsa, berpulang dan dikebumikan di Makkah. Walau mendapatkan ujian demikian, ia tetap “tidak berbalik langkah”. Selepas itu, ia tetap mengabdikan dirinya untuk Islam hingga berpulang di Spanyol pada Senin, 19 Ramadhan 1412 H/23 Februari 1992 M. Jenazah tokoh yang meninggalkan sejumlah karya tulis, antara lain Unromantisches Morgenland (The Unromantic East), Islam at the Crossroads, The Road to Mecca, The Principles of State and Government in Islam; Sahih Al-Bukhari: The Early Years of Islam, The Message of the Qur’an, dan This Law of Ours itu dikebumikan di Kota Granada, Spanyol.

“Betapa menawan “pergulatan ruhaniah” Muhammad Asad itu,” ucap pelan penulis seraya merenung. Sejatinya, “pergulatan ruhaniah” Muhammad Asad tersebut dapat dikatakan merupakan salah satu contoh menarik tentang suatu fenomena yang kerap terjadi di masa modern kini: kisah kegelisahan dan peralihan agama sederet tokoh dan intelektual Barat ke dalam pelukan Islam, selepas mereka melintasi “pergulatan ruhaniah” lama yang menawan. Di antara mereka, antara lain, adalah Lord Stanley of Alderley, salah seorang paman Bertrand Russell, Baron ke-11 Headley, Muhammad Marmaduke Pickthall, Martin Lings, Charles Le Gai Eaton, René Guénon, Classius Clay, Vincent Mansour Monteil, Malcolm X, Roger Garaudy, Maurice Bucaille, Murad Wilfried Hofmann, Baron Umar von Ehrenfels, Abdul Karim Germanus, Frithjof Schuon, Thomas Irving, Margaret Marcus, Cyril Glassé, Jeffrey Lang, Michael Wolfe dan lain-lain.(arofiusmani.blogspot.com/)

Friday, August 12, 2011

Mengapa Rasul Saw. Bertahannuts di Gua Hira'?


Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u
Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u
A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu
Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u
Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahî
Wa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u


Telah lahir Sang Nabi, pembawa petunjuk nan cemerlang
Semesta alam pun berpendar sangat benderang
Mulut zaman tiada henti dan senantiasa menggemakan
Senyuman, pujian, serta sanjungan

Jibril dan para malaikat pun mengitarinya senantiasa
Karena berita gembira ‘tuk agama dan dunia sertai kelahirannya
‘Arasy bangga dan surga tak kalah ceria
Sidrah Al-Muntaha dan Mutiara Putih pun berdendang ria

(Ahmad Syauqi)

Tadi malam, selepas melaksanakan shalat tarawih, entah kenapa benak penulis tiba-tiba “melayang-layang” menuju ke Gua Hira’, sebuah gua yang terletak sekitar lima kilometer dari Masjid Al-Haram. Tentu kita semua tahu, di gua itulah Rasul Saw., sebelum diangkat sebagai Utusan Allah Swt., menyingkir dari keriuhrendahan kehidupan ramai di Kota Makkah kala itu. Kadang, beliau tinggal di sana selama satu bulan. Lebih-lebih di bulan Ramadhan. Hal yang demikian itu beliau lakukan selama sekitar tujuh tahun. Enam bulan terakhir beliau meningkatkan frekuensi kunjungannya ke gua itu. Peristiwa ini sendiri menandai dimulainya suatu karya kenabian, dengan diterimanya wahyu pertama dari Allah Swt. di hari Senin, 17 Ramadhan/6 Agustus 610 M (menurut Ibn Sa‘d dalam karyanya Al-Thabaqât Al-Kubrâ), kala beliau sedang khusuk bertafakkur, “Bacalah, dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS Al-‘Alaq [96]: 1-5).

Itulah saat penobatan Muhammad bin ‘Abdullah sebagai Nabi Allah. Saat menerima pengangkatan menjadi Nabi ini, usia beliau mencapai 40 tahun 6 bulan 8 hari menurut tahun Bulan (Qamariyyah) atau 39 tahun 3 bulan 8 hari menurun tahun Matahari (Syamsiyyah). Di sini timbul pertanyaan: mengapa Rasulullah Saw. bertahannuts (menyendiri, merenung, dan beribadah) di Gua Hira’?

Tugas utama kenabian yang dipikul Rasul Saw. adalah untuk mengantarkan masyarakat menuju cita ideal yang dikehendaki Allah Swt. Tindakan menyendiri ke tempat yang sepi dan terpisah dari riuh rendah kehidupan masyarakat ramai tersebut sejatinya adalah sebagai persiapan untuk menerima dan melaksanakan tugas besar tersebut. Sebab, setiap tindakan besar yang hendak mengubah dan membentuk dunia sulit terjadi jika tidak ada seorang “agen” atau pribadi yang sadar dengan dua kemampuan sekaligus. Pertama, kemampuan untuk melakukan penjarakan terhadap kenyataan yang kongkrit (detachment). Dengan mengambil jarak atas kenyataan itu, seorang “agen” akan mampu melihat dunia dengan seluruh kekurangan, kelebihan, dan kemungkinan-kemungkinannya. Dunia tak bisa diubah dan diantarkan menuju kemungkinan yang lebih baik, jika seorang “agen” tenggelam sepenuhnya dalam kepenuhan dunia itu sendiri. Kedua, kemampuan untuk terlibat kembali selepas momen penjarakan dilakukan beberapa saat (reattachment). Saat pengambilan jarak, atau dalam kasus Rasulullah Saw. disebut tahannuts, hanyalah situasi sementara agar seorang “agen” bisa berada di “luar” dunia. Saat terpenting justru berada kembali di “dalam” dunia untuk mengubah dan mentransformasikannya sesuai “gambar” yang dikehendaki seorang agen.

Sementara Al-Ghazali, dalam karyanya Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn, dalam komentarnya tentang jalan yang ditempuh Rasulullah Saw. ketika bertahannuts di Gua Hira’, menulis, “Manfaat pertama (dari bertahannuts) adalah pemusatan diri dalam beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi. Inilah yang disebut kekosongan. Padahal, tiada kekosongan dalam bergaul serta mengisolasi diri. Mengisolasi diri jelas lebih baik. Malah, Rasulullah Saw., di permulaan kenabian beliau, hidup menyendiri di Gua Hira’ serta mengisolasi diri, sehingga cahaya kenabian dalam diri beliau menjadi kuat. Ketika itu para makhluk tidak kan kuasa menghalangi beliau dari Allah. Sebab, meski tubuh beliau beserta para makhluk, namun kalbu beliau senantiasa menghadap Allah.”

Pertanyaan lain yang mungkin timbul: mengapa Rasulullah Saw. memilih Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts, bukan tempat-tempat lain?

Gua Hira’, seperti diketahui, adalah sebuah gua yang terletak di sebelah timur Masjid Al-Haram dan di puncak Jabal Nur. Tingginya dari permukaan laut sekitar 621 meter dan sekitar 281 meter dari permukaan tanah. Untuk mendaki sampai ke gua itu diperlukan waktu kurang lebih satu jam. Gua itu sendiri tidak terlalu besar dan pintunya menghadap ke arah utara. Panjang gua tersebut hanya tiga meter, sedangkan lebarnya sekitar 1.30 meter, dengan ketinggian sekitar dua meter. Dengan kata lain, luas gua yang satu ini hanya cukup untuk shalat dua orang, sedangkan di bagian kanan Gua terdapat teras dari batu yang hanya cukup untuk digunakan shalat untuk shalat dalam keadaan duduk.

Kondisi Gua Hira’ yang demikian itu jelas merupakan tempat yang ideal di Makkah bagi Rasulullah Saw. untuk bertahannuts. Suasana yang tenang, jauh dari keriuhan Kota Makkah kala itu, dengan jumlah warganya sekitar lima ribu orang, pandangan yang terbuka ke tempat-tempat di bawahnya, terutama pandangan ke arah Masjid Al-Haram, dan pandangan ke padang pasir luas dan langit nan seakan tanpa batas, dapat dibayangkan dapat memberikan kesempatan bagi beliau untuk “beribadah, berpikir, mengakrabkan diri dalam munajat dengan Allah, dengan menghindari hubungan dengan sesama manusia, serta menyibukkan diri untuk menyingkapkan rahasia-rahasia Allah tentang persoalan dunia dan akhirat maupun kerajaan langit dan bumi” seperti dikemukakan Al-Ghazali.

Rasulullah Saw. sendiri, yang kala itu merupakan warga Kampung Qusyasyiyyah, tentu telah mempertimbangkan matang pemilihan Gua Hira’ sebagai tempat bertahannuts. Beliau tentu telah memperbincangkan tempat itu dengan istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid. Malah istri teladan beliau tersebut, di malam yang pekat, pernah beberapa kali mengunjungi Rasul Saw. ketika beliau sedang berada di gua yang tak semua orang kuasa melakukannya itu, dengan menyusuri batu cadas dan kerikil, dengan tujuan agar dapat melayani sang suami tercinta dengan baik. Luar biasa.

Di sisi lain ada yang menyatakan, Gua Hira’ adalah masjid yang tegak sebelum Islam. Prof. Dr. Husain Mu’nis, seorang pakar terkemuka sejarah Islam asal Mesir, misalnya dalam karyanya Al-Masâjid menulis, “Pada umumnya para penulis memulai sejarah masjid dari Masjid Al-Haram, yaitu Rumah Allah pertama yang didirikan untuk umat manusia. Selain itu, masjid tersebut juga sebagai kiblat Ibrahim a.s., Bapak Para Nabi yang menganut agama yang hanîf, dan masjid di mana untuk pertama kalinya Rasulullah Saw. melaksanakan shalat. Namun, semestinya kita merujukkan masjid ke Gua Hira’. Gua itulah sejatinya, tak pelak lagi, masjid yang pertama-tama dalam Islam. Di gua itu pulalah Rasul Saw. melaksanakan shalat, bertahannuts, dan menyembah Allah sebelum beliau menerima wahyu. Demikian halnya di gua itu pulalah ayat-ayat pertama Al-Quran, lima ayat pertama dari Surah Al-‘Alaq, turun. Selain itu, Gua Hira’ juga semestinya dipandang sebagai masjid, walau kehadirannya mendahului masa masjid-masjid. Andaikan tak tepat untuk dikatakan bahwa Rasul Saw. telah bersujud di gua tersebut, selayaknya gua tersebut dapat dikatakan sebagai tempat sembahyang. Seperti diketahui, masjid dapat disebut sebagai tempat sembahyang, seperti halnya pula dapat disebut sebagai tempat ruku‘. Namun, istilah masjidlah yang lebih acap dipakai.” (arofiusmani.blogspot.com/)

Thursday, August 4, 2011

Keistimewaan Bulan Ramadhan


Pada akhir bulan Juni 2011 yang lalu, ketika Allah Swt. mengizinkan penulis berziarah ke Madinah, penulis pun menyempatkan diri ke Raudhah dan Makam Nabi Saw. Alhamdulillah, saat itu Raudhah tidak terlalu penuh dengan para jamaah umrah. Selepas melaksanakan shalat di situ, kedua mata penulis tidak bosan-bosannya mencermati segala sesuatu yang ada di seputar Raudhah dan makam itu. Satu demi satu. Kemudian, ketika kedua mata penulis menatap Mimbar Nabi yang menjadi pembatas Raudhah, tiba-tiba tanpa sadar penulis bergumam, “Bukankah di mimbar itulah beliau, manakala tidak sedang melakukan perjalanan keluar kota, setiap Kamis selepas shalat Subuh (bila Ramadhan selepas shalat Ashar), beliau memberikan pesan dan arahan kepada para sahabat?”

Nah, apakah pesan Rasul Saw. tentang keistimewan Bulan Ramadhan yang beliau sampaikan di mimbar kayu berlantai tiga itu? Berikut pesan dan arahan beliau itu:

Suatu ketika Rasulullah Saw., seperti yang kerap beliau lakukan, berbincang-bincang dengan para sahabat. Selepas berbagi sapa dengan mereka, beliau pun berkata, “Wahai sahabat-sahabatku! Pada setiap malam di bulan Ramadhan, Allah Swt. berfirman kepada malaikat penyeru untuk mengumumkan tiga kali, ‘Adakah orang yang memohon? Jika ada, Aku akan memenuhi permohonannya. Adakah orang yang bertaubat? Jika ada, Aku akan menerima taubatnya. Adakah orang yang memohon ampunan? Jika ada, Aku akan mengampuninya. Dan, siapa yang akan memberi pinjaman kepada Yang Mahakaya yang tak pernah kekurangan dan Yang Maha Memenuhi segala janji-Nya tanpa menguranginya sama sekali?”

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berkata. Beberapa saat kemudian beliau melanjutkan perkataannya, “Wahai sahabat-sahabatku! Pada setiap hari di bulan Ramadhan, Allah Swt. membebaskan dari neraka sejuta ruh yang dipastikan masuk surga. Dan pada hari terakhir bulan Ramadhan, Allah Swt. membebaskan ruh sebanyak-banyaknya sebagaimana Dia membebaskannya dari awal hingga akhir Ramadhan.

Kemudian, jika Lailatul-Qadar tiba, Allah Swt. memerintahkan Malaikat Jibril untuk turun ke bumi bersama serombongan malaikat yang membawa bendera hijau dan menancapkan bendera itu di puncak Ka‘bah. Jibril memiliki seratus sayap, dua sayap di antaranya tidak pernah dibentangkan kecuali pada malam itu. Lalu, Jibril membentangkan kedua sayapnya sehingga menutupi timur dan barat. Malaikat-malaikat akan berjabat tangan dengan rombongan Jibril dan mengamini doa mereka hingga fajar terbit. Ketika fajar telah terbit, Jibril menyeru malaikat-malaikat itu, ‘Wahai para malaikat! Berpencarlah!’ Mereka pun bertanya, ‘Wahai Jibril! Apa yang akan dilakukan Allah Swt. berkenaan dengan pelbagai keperluan ummat Muhammad Saw. yang beriman?”
“Jibril menjawab, ‘Pada malam ini, Allah Swt. memandangi mereka dan memaafkan mereka, kecuali empat kelompok manusia.’”

Sejenak Rasulullah Saw. berhenti berbicara. Melihat hal itu, seorang sahabat bertanya kepada beliau, “Wahai Rasul, siapakah empat kelompok itu?”
“Mereka adalah pecandu minuman keras, orang yang durhaka kepada kedua orang tuanya, orang yang memutus silaturahmi, dan orang yang saling bermusuhan!” jawab beliau.
“Wahai Rasul,” tanya sahabat itu lebih lanjut, “siapakah orang yang saling bermusuhan itu?”
“Orang yang saling membenci!” jawab beliau.

Selepas menjawab demikian, Rasulullah Saw. lantas berkata, “Jika malam Hari Idul Fitri tiba, malam itu menjadi Malam Penyerahan Hadiah. Kemudian keesokan harinya, pada Hari Idul Fitri, Allah Swt. mengutus malaikat-malaikat untuk turun ke bumi. Mereka mendatangi setiap penjuru bumi dan menyeru dengan suara yang bisa didengar oleh semua makhluk kecuali jin dan manusia, ‘Wahai ummat Muhammad! Keluarlah menghadap Tuhan kalian Yang Mahamulia. Dia akan mengaruniakan hadiah dan mengampuni dosa-dosa besar kalian!” Apabila mereka datang ke tempat shalat mereka, Allah Swt. pun berfirman kepada malaikat-malaikat tersebut, ‘Apakah balasan bagi pekerja yang telah menyelesaikan pekerjaannya?’ Para malaikat menjawab, ‘Wahai Tuhan kami, balasannya adalah upah penuh.’

“Maka, Allah pun berfirman, ‘Wahai malaikat-malaikat-Ku! Aku menjadikan kalian sebagai para saksi bahwa Aku telah memberikan balasan kepada mereka, karena puasa mereka pada bulan Ramadhan dan karena shalat (sunnah) malam mereka, dengan ridha dan ampunan-Ku! Wahai hamba-hamba-Ku! Mohonlah kepada-Ku! Demi kemuliaan dan kebesaran-Ku, tidaklah kalian menginginkan sesuatu kepada-Ku di pertemuan ini, untuk akhiratmu, kecuali Aku akan memberimu. Dan, tidaklah kalian menginginkan keperluan duniawimu kecuali Aku akan memandangi kalian. Demi kemuliaan-Ku, sungguh kesalahan-kesalahan kalian akan Kututupi selama kalian takut kepada-Ku. Demi kemuliaan dan keagungan-Ku, Aku tak kan menghinakan kalian dan aib-aib tidak akan Kuperlihatkan di hadapan orang-orang yang melewati batas. Bertebaranlah kalian membawa ampunan…. Sungguh, kalian telah ridha kepada-Ku dan Aku pun telah ridha kepada kalian!’

“Malaikat-malaikat pun merasa gembira dan bersukacita, karena Allah memberi karunia kepada ummat ini kala mereka sedang berhari raya selepas melaksanakan puasa Ramadhan!

Wednesday, August 3, 2011

Al-Quran dan Perjalanan Ruhaniah Cat Stevens


Bring tea for the Tillerman
Steak for the sun
Wine for the women who made the rain come
Seagulls sing your hearts away
’Cause while the sinners sin, the children play
Oh Lord, how they play and play
For that happy day, for that happy day.

(Cat Stevens, Tea for the Tillerman)

Kemarin pagi, selepas shalat Subuh, ketika sedang menyimak pembacaan Al-Quran secara tartil dan dengan suara nan indah oleh seorang qari’ terkemuka Kuwait, Mishari Rashid Al-‘Afashi, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Inggris. Entah kenapa, tiba-tiba penulis teringat kembali kisah proses keislaman Cat Stevens, seorang penyanyi kondang Inggris yang terkenal antara lain dengan lagu-lagunya: Morning Has Broken, Peace Train, Moonshadow, Wild World, Father and Son, Matthew and Son, Oh Very Young, dan lagu dengan lirik di atas, Tea for the Tillerman. Penulis teringat penyanyi yang lahir di London pada Rabu, 14 Ramadhan 1367 H/21 Juli 1948 M dengan nama kecil Stephen Demetre Georgiou itu, mungkin, karena keislamannya erat kaitannya dengan Al-Quran.

Bagaimanakah kisah keislaman penyanyi kondang yang kini lebih terkenal dengan nama Yusuf Islam itu? Nah, marilah kini kita ikuti kisah perjalanan menuju Islam Cat Stevens sebagaimana ia tuturkan sendiri:

“Ibunda saya (Ingrid Wickman) adalah seorang Swedia yang dibaptis. Sedangkan ayahanda saya (Stavros Georgiou) adalah seorang Yunani berasal dari Siprus. Saya dididik sebagai pemeluk Agama Kristen dan mereka mengajari saya untuk percaya kepada Tuhan. Saya menerima keyakinan itu karena mereka itulah orang tua saya dan saya pandang mereka lebih tahu ketimbang saya. Saya dimasukkan ke sebuah sekolah Katolik Roma yang terletak di pusat Kota London. Dapat dikatakan, sekolah dasar itu sangat berpengaruh terhadap diri saya. Sekolah ini begitu ketat. Sehingga, Jesus begitu memengaruhi saya. Namun, ketika saya belajar lebih lanjut di sekolah yang lebih longgar tata aturannya, saya mulai agak jauh dari gereja. Sejatinya, kala itu pengaruh Jesus masih saya rasakan, walau saya tak mengerti makna Trinitas.

Di sisi lain, dunia luar begitu menarik buat saya. Ketika saya mengenal musik, itulah saatnya saya menjadi pemeluk Kristen nominal, meski ada perasaan bersalah. Namun, secara rasional, ada hal-hal yang menjauhkan saya dari gereja. Saya kemudian sangat tertarik pada musik dan ayahanda membelikan sebuah gitar. Pada usia sekitar 15 tahun saya mulai menulis lagu. Saya pilih nama Cat Stevens dan pada usia 18 tahun saya mulai masuk dapur rekaman. Setahun kemudian saya meraih sukses. Nama saya pun sangat tenar dan rekaman saya laku keras di Eropa. Tapi, pertunjukan panggung ternyata tak cocok buat saya.”

Ternyata, sukses itu membuat Cat Stevens lupa diri. Ia pun menjadi peminum dan perokok berat. Tak lama kemudian, ia terserang tuberculosis dan mesti dirawat lama sekali di rumah sakit. Apa boleh buat, kariernya terhenti. Kala itu, usianya baru sekitar 20 tahun. Saat dirawat itulah ia mulai tertarik pada filsafat Timur. “Gaya hidup yang lagi popular kala itu kan hippies,” kenang Yusuf Islam tentang gejolak ruhaniah yang menerpa dirinya kala itu. “Terutama bagi kalangan anak-anak muda segenerasi saya. Saya lantas memelajari Agama Budha. Ada kepuasan lebih ketimbang dogma kaku gereja. Buku pertama yang mengenalkan saya dengan ranah kejiwaan berjudul The Secret Way. Hal itu mendorong saya untuk terus mencari. Saya lantas menjadi seorang vegetarian, beryoga, dan melakukan meditasi. Ini memang sebuah pilihan lain dari konsep gereja tentang agama. Namun, ternyata pilihan itu tak praktis.”

Bagaimanakah perjalanan ruhaniah selanjutnya tokoh yang pernah menerima World Social Award, Man for Peace Award, doktor honoris causa dari Universitas Gloucestershire dan Universitas Exeter, dan The Mediterranean Prize for Peace itu, hingga akhirnya ia menemukan Islam?

“Lantas, saya pun menelusuri asal usul keluarga saya di Yunani. Saya kemudian memelajari gagasan-gagasan lama dan saya menyukai Pythagoras. Namun, ternyata gagasan-gagasan itu juga tak praktis. Sebab, dalam gagasan-gagasan itu tiada penjelasan tentang bagaimana cara hidup. Akhirnya saya berpikir, tak satu pun agama bisa membantu saya. Kemudian, pada 1975 kakak saya, David, pergi ke Jerusalem. Ia mengunjungi Masjid Al-Aqsha. Sebelumnya, ia tak pernah masuk ke dalam masjid. Ternyata, dalam masjid itu, ia merasakan suasana yang berbeda dengan ketika ia masuk ke dalam gereja maupun sinagog. Sehingga, ia pun bertanya kepada dirinya sendiri, ‘Mengapa agama ini (Islam) bagaikan rahasia besar?’

Ia benar-benar terkejut melihat masyarakat Muslim dan kebahagiaan yang mereka rasakan. Langsung saja ia balik ke Inggris dan kemudian membeli Al-Quran. Kitab itu lantas ia berikan kepada saya. Itulah perkenalan pertama saya dengan Islam. Sebelumnya, saya lebih mengenal Islam sebagai kebudayaan asing daripada sebagai sebuah agama. Lebih dari itu, agama itu bukan milik zaman kita. Namun, ketika membaca Al-Quran, saya tersadar bahwa hanya ada satu Tuhan. Karena itu, hanya ada satu agama.

Selama satu setengah tahun saya memelajari Al-Quran dan mulai mengikuti petunjuknya. Saya kemudian mulai menulis lagu lagi yang merupakan ungkapan kebangkitan ruhaniah saya. Liriknya mirip biografi saya. Albumnya berjudul Tea for the Tillerman. Lewat lagu itu, saya menikmati sukses tingkat dunia. Album itu bagaikan dokumen yang berisi petikan-petikan kisah perjalanan saya menuju Tuhan. Kata-kata dalam Al-Quran yang tadinya nampak asing kini menjadi jelas dan simpel, meski ada yang masih merupakan misteri bagi saya kala itu. Saya percaya, ada Perancang Agung yang menciptakan ini semua. Tapi, siapakah Seniman yang tak kasat mata itu? Saya telah mencoba banyak jalan. Namun, tiada yang memuaskan. Ketika akhirnya saya membaca Al-Quran, saya merasakan kitab suci itu bagaikan diciptakan untuk saya.

Suatu hari saya menemui seseorang. Ia kemudian memberitahu saya, ada sebuah masjid baru yang belum lama dibuka. ‘Inilah saatnya!’ Lantas, pada hari Jumat musim semi 1977, saya pun melangkah ke masjid itu. Usai shalat Jumat, saya menemui Imam dan memberitahukan keinginan saya untuk memeluk Islam. Selepas itu, bukan perkara sulit bagi saya untuk menghentikan kebiasaan buruk di masa sebelumnya, seperti menenggak minuman keras, merokok, dan lain-lain sebagainya. Sebab, saya tahu betul tindakan saya (dalam memeluk Islam) adalah benar. Namun, yang berat adalah mengenai sahabat-sahabat saya. Tidak semuanya memahami pesan Islam. Meski demikian, saya tetap memelihara persahabatan dengan mereka, walau saya harus memutuskan untuk menarik garis yang jelas antara masa silam saya dengan Islam. Dan, saya kini berkarya untuk Allah dan ingin menjadi alat Allah untuk memantapkan Islam di bumi Inggris sejauh kemampuan saya.”

Betapa indah Al-Quran. Sehingga, kandungannya pun kuasa “menaklukkan” hati tokoh yang pada 1428 H/2007 M menerima “Special Award for Life Achievements as Musician and Ambassador between Cultures” itu! (arofiusmani.blogspot.com/)