Thursday, August 25, 2011

Ramadhan dan Kisah Buah Apel


“Ya Allah, mengapa bulan Ramadhan begitu cepat melintas,” gumam pelan penulis sembari mencermati bintang-bintang yang bertebaran di langit cerah tadi dini hari dari balkon. Memang, selepas Ramadhan melintasi paruh pertamanya, entah kenapa penulis suka “mengintip” langit di dini hari. Sembari mencermati langit indah di dini hari, tiba-tiba penulis tersadarkan, di antara pelbagai hikmah Ramadhan yang penulis gapai pada tahun ini, dalam hubungan antarmanusia, hikmah kesabaranlah yang paling penulis dambakan. Mengapa kesabaran? Penulis merasa, kesabaran begitu besar maknanya baginya dalam menghadapi pelbagai godaan dan cobaan dalam kehidupan dewasa ini yang kian “menggoda”.

Entah kenapa, ketika sedang merenungkan hikmah Ramadhan tersebut, tiba-tiba penulis teringat kesabaran Tsabit bin Ibrahim, ayahanda Abu Hanifah Al-Nu‘man, pendiri Mazhab Hanafi, dalam menghadapi godaan sebuah apel nan lezat. Ternyata, dengan kesabarannya dalam menghadapi godaan buah apel nan lezat tersebut, hikmah luar biasa ia raih. Bagaimana kisah Tsabit bin Ibrahim tersebut? Berikut kisahnya:

“Duh, betapa lezat buah-buah apel itu,” gumam Tsabit bin Ibrahim ketika melintasi sebuah kebun apel luas selepas menempuh perjalanan panjang untuk meraih ilmu. Apalagi hari itu bekalnya telah habis dan tubuhnya terasa sangat lelah tak terkira. Karena itu, ia lantas memasuki kebun yang sedang tak dijaga itu dan kemudian melihat buah-buah apel yang ada di dalamnya. Lama, ia menatap satu demi satu buah-buah apel ranum yang sangat membangkitkan seleranya itu.

Sejenak Tsabit bin Ibrahim kemudian menghentikan langkah-langkahnya dan kemudian duduk di dekat sebuah pohon apel yang ranum buah-buahnya. Akhirnya, selepas lama menatap satu buah apel di pohon itu, tangannya terjulur ke arah buah itu dan memetiknya. Dan, kemudian, ia pun menyantap separohnya dan minum air jernih sungai yang ada di sebelah kebun itu. Tapi, tiba-tiba hati nuraninya mengingatkannya bahwa ia telah berbuat kesalahan: kebun dan buah apel itu bukan miliknya. Ia pun bergumam dengan hati yang perih dan sedih, “Wahai Tsabit! Betapa hina engkau ini. Betapa beraninya engkau memakan buah milik orang lain, tanpa meminta izin kepadanya?”

Kejadian itu benar-benar membuat Tsabit bin Ibrahim menyesal. Ia pun bertekad tak akan meneruskan perjalanannya, hingga bertemu dengan pemilik kebun itu. Ia akan meminta maaf atas tindakannya yang telah menyantap separoh apel tanpa izin. Karena itu, ia lantas mencari rumah pemilik kebun itu. Selepas berhasil menemukan rumah pemilik kebun apel itu dan berbagi sapa sejenak dengannya, ia pun berucap, “Wahai Tuan! Mohon kiranya saya dimaafkan. Tadi, tanpa seizin Tuan, saya memasuki kebun apel milik Tuan. Lalu, karena lapar dan lalai, saya memetik satu buah apel dan memakan separoh buah itu. Kemudian saya sadar, buah apel itu bukan milik saya. Karena itu, saya mohon kiranya Tuan berkenan memaafkan saya, juga mengikhlaskan separoh buah apel yang saya makan.”

Sejenak pemilik kebun tercenung dan kagum atas kejujuran anak muda yang ada di hadapannya itu. Lantas, ucapnya, “Wahai anak muda! Sungguh, saya tak kuasa merelakan tindakanmu. Betapa tak terpuji dan tak termaafkan tindakanmu itu. Kecuali bila engkau mau menerima satu syarat!”
“Apa syarat yang Tuan minta?” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu dan tentu saja penasaran.
“Anak muda,” jawab pemilik kebun itu seraya menatap tajam wajah anak muda yang sejatinya memikat kalbunya. “Syaratnya adalah engkau harus bersedia menikah dengan putriku. Tapi, perlu engkau ketahui, putriku itu adalah seorang gadis buta, dengan kata lain tak kuasa melihat. Juga, ia tuli, dengan kata lain tak kuasa mendengar. Dan ia juga bisu, dengan kata lain tak kuasa berbicara!”

Sedih, bingung, dan tak tahu harus menjawab bagaimana, begitu Tsabit bin Ibrahim mendengar satu syarat “pembebasan” dirinya dari kealpaan, keteledoran, dan kesalahan yang telah dilakukannya itu. Menikah dengan seorang gadis buta, bisu, dan tuli? Duh, siapakah mau menerima gadis demikian hanya karena kesalahan menyantap separoh buah apel. Berat nian persyaratan yang diajukan pemilik kebun itu.
“Duh, apakah akan kuterima syarat yang benar-benar tak ringan ini. Tapi, bagaimana kalau syarat itu kutolak?” gumam Tsabit bin Ibrahim lirih dengan hati perih dan sedih. Kemudian, selepas lama berpikir dan hati nuraninya mengingatkan kealpaan, keteledoran, dan kesalahan yang telah dilakukannya, akhirnya dengan hati yang mantap ia memutuskan menerima syarat yang diajukan pemilik kebun itu. Apa pun risikonya. Bukankah hidup di dunia yang fana ini tak lama. Juga, bukankah keridhaan Allah Swt. jauh lebih berharga dan lebih bermakna.

Betapa gembira pemilik kebun itu begitu tahu kesediaan Tsabit bin Ibrahim untuk menerima syarat yang diajukannya. Ia pun segera menyiapkan acara pernikahan anak muda itu dengan putrinya yang sangat disayanginya. Dan ketika hari pernikahan tiba, betapa galau dan resah anak muda itu. Andai waktu dapat diputar kembali ke belakang, sejatinya ia tak akan memakan buah apel itu. Sehingga, ia tak menikah dengan seorang gadis buta, tuli, dan bisu yang benar-benar tak diharapkannya itu. Tapi, kini, nasi telah menjadi bubur: hal itu telah terjadi. Akhirnya, ia hanya pasrah sepenuh hati kepada Allah Swt. Dan, pernikahan itu pun dilangsungkan.

Namun, betapa kaget Tsabit bin Ibrahim ketika bertemu dengan dengan gadis yang baru dinikahinya itu. Ternyata, gadis itu sangat cantik nan jelita, petah bicara, cepat tanggap terhadap setiap kata yang didengarnya, dan kuasa menjawab dengan cerdas setiap kata setiap orang yang menanyainya. Beda sekali dengan yang dikemukakan ayahandanya ketika mengemukakan satu syarat yang harus dipenuhinya.
“Wahai istriku,” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu, juga penuh haru. “Sejatinya apa yang terjadi? Ternyata, engkau kuasa bicara, mendengar, dan melihat. Tidak sebagaimana dikemukakan ayahanda kita?”
“Suamiku tercinta,” jawab gadis nan jelita itu dengan nada suara penuh takzim kepada suaminya yang baru menyuntingnya. “Ayahanda benar-benar tak berdusta kok.”
“Tak berdusta bagaimana?” tanya lebih jauh Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu dan sangat penasaran.
“Ayahanda memang mengatakan apa adanya. Aku buta, dengan pengertian aku tak pernah memandang laki-laki yang tak halal bagiku. Aku tuli, dengan pengertian aku tak pernah duduk di majelis yang sarat dengan gunjingan, iri, kedengkian, dan bincang-bincang yang tak bermakna. Dan aku bisu, dengan pengertian aku tak pernah mengatakan kata-kata yang tak senonoh dan tak pernah pula berbincang dengan laki-laki yang tak halal bagiku.”

Betapa gembira Tsabit bin Ibrahim mendengar jawaban istrinya yang demikian itu. Seketika itu juga ia bersujud syukur kepada Allah Swt., atas karunia istri salihah yang tidak ia duga sebelumnya. Dan, kelak, dari pasangan suami-istri ini lahir seorang anak yang kelak menjadi seorang ulama terkemuka yang pendiri Mazhab Hanafi: Abu Hanifah Al-Nu‘man. (arofiusmani.blogspot.com/)

Wednesday, August 24, 2011

"Surat Cinta" Al-Hasan Al-Bashri


Kemarin sore, ketika penulis sedang mengikuti perkembangan pergolakan politik yang sedang terjadi di Libya, lewat channel tivi: Al-Jazeera, CNN, dan Euronews, tiba-tiba penulis tersadarkan: para penguasa di kawasan Timur Tengah yang telah berkuasa ketika penulis masih menimba ilmu di Mesir (1978-1984), dan berkuasa terlalu lama, kini telah berjatuhan. Tiba-tiba pula dalam benak penulis membara pertanyaan, “Mengapa mereka terlenakan oleh kekuasaan, sehingga kekuasaan itu mereka genggam terlalu lama. Akibatnya, kekuasaan itu pun berubah menjadi “bara” di akhir perjalanan kekuasaan mereka.” Tidakkah para pemegang kekuasaan itu sadar, selain oleh rakyat, mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Khalik kelak di akhirat?

Merenung demikian, entah kenapa, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Damaskus, Suriah, teringat kegelisahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, penguasa ke-8 Dinasti Umawiyyah ketika menjabat sebagai khalifah. Kala itu, selama berhari-hari, betapa ia acap sulit memejamkan mata, walau malam telah sangat larut. Amanah yang ia sangga, sebagai khalifah, ternyata terasa sangat berat baginya.

Penguasa yang satu itu, sebagaimana termaktub dalam torehan sejarah Islam, terkenal adil dan bijak. Cicit ‘Umar bin Al-Khaththab ini lahir di Madinah pada 61 H/681 M (ada yang mengatakan 63 H/684 M) dan tumbuh dewasa di Helwan, Mesir hingga bersampai usia sekitar dua puluh tahun. Ia kemudian dikirim ke Madinah Al-Munawwarah, untuk menimba ilmu. Lantas, ketika ayahandanya berpulang, ia kembali ke Damaskus dan menikah dengan sepupunya, seorang putri ‘Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash, penguasa kelima Dinasti Umawiyyah, bernama Fathimah. Setahun selepas itu, pada 86 H/705 M, kala berusia dua puluh enam tahun, ia diangkat Al-Walid bin ‘Abdul Malik sebagai Gubernur Madinah, menggantikan Hisyam bin Isma‘il. Selanjutnya, putra ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash ini diangkat menjadi Gubernur Makkah. Selama menjabat gubernur, kedua wilayah itu menjadi kawasan yang stabil dan aman. Jabatan itu ia pegang sampai 93 H/712 M. Selepas itu, ia kembali ke Damaskus untuk menjadi menteri utama di masa pemerintahan Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Jabatan sebagai orang nomor satu Dinasti Umawiyyah dipegang ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pada 99 H/717 M, menggantikan ipar yang juga saudara sepupunya: Sulaiman bin ‘Abdul Malik.

Tak kuasa mengatasi kegelisahan dan keresahan hatinya, akhirnya suami Fathimah binti ‘Abdul Malik dan ayahanda tiga belas putra dan putri itu mengirim sepucuk surat kepada Al-Hasan Al-Bashri, untuk meminta nasihat dan arahan. Terkenal sebagai seorang ulama generasi tâbi‘în dan sufi terkemuka abad 2 H/8 M, Al-Hasan Al-Bashri lahir di Madinah pada 21 H/642 M, di masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab, dengan nama lengkap Abu Sa‘id Al-Hasan bin Yassar Al-Bashri. Namun, kemudian keluarganya pindah ke Bashrah, selepas terjadi Perang Shiffin pada 35 H/656 M. Sehingga, ia lebih terkenal dengan sebutan “Al-Bashri” (yang asal Bashrah). Ia tumbuh dewasa di Kota Nabi dalam lingkungan yang salih dan mendalam pengetahuan agamanya. Dan, selama bermukim di Kota Suci itu, ia bertemu tak kurang dari tujuh puluh sahabat.

Tak lama selepas menerima surat dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Al-Hasan Al-Bashri pun segera membalasnya. Ia, antara lain, menulis, “Ammâ ba‘d. Wahai Amir Al-Mukminin! Sungguh, dunia adalah tempat berkelana, bukan tempat bermukim selamanya. Adam a.s. diturunkan dari surga ke dunia tak lain karena sebagai hukuman atas dirinya. Karena itu, waspadalah terhadap dunia. Sungguh, bekal dari dunia ini adalah sikap menghindarinya. Kekayaan dari dunia adalah kemiskinannya. Di setiap saat, sejatinya dunia melakukan pembunuhan. Juga, dunia melecehkan orang yang memuliakannya dan memiskinkan orang yang menghimpunnya. Dan, dunia laksana racun yang menelan orang yang tak mencermatinya dan kemudian mematikannya. Karena itu, berbekal di dalamnya adalah dengan meninggalkan dunia dan kekayaan di dalamnya adalah dengan kefakiran.

Wahai Amir Al-Mukminin! Hendaklah sikapmu terhadap dunia laksana sikap orang yang sedang mengobati luka dirinya. Ia menjaga diri sebentar, karena khawatir terhadap sesuatu yang tak disukainya dalam masa yang lama. Ia bersabar atas getirnya obat, karena takut atas derita yang berlama-lama. Sejatinya, orang mulia adalah orang yang berucap benar, menapakkan kaki dengan menundukkan kepala, hanya menyantap makanan yang baik dan halal, memejamkan mata dari hal-hal yang haram, penuh rasa khawatir, baik di kala di darat maupun di laut, dan senantiasa berdoa, baik dalam kesulitan maupun kelonggaran. Andai bukan karena ajal yang telah ditetapkan atas diri mereka, tentu mereka tak ingin nyawa mereka tetap berpadu dengan tubuh mereka. Ini, karena mereka takut hukuman-Nya dan mengharapkan balasan-Nya. Dalam hati mereka, Sang Khalik demikian agung. Sedangkan semua makhluk, di mata mereka, demikian tiada artinya.

Wahai Amir Al-Mukminin! Tafakur dapat membuahkan ajakan untuk melakukan kebaikan dan mengamalkannya. Sedangkan penyesalan atas keburukan mengajak pada sikap meninggalkannya. Dan, sesuatu yang bercorak fana dapat berpengaruh atas sesuatu yang bercorak abadi. Demikian halnya, bersusah payah yang membangkitkan kedamaian lebih baik ketimbang kesenangan sesaat yang mengakibatkan penyesalan dan kesengsaraan nan tiada henti. Waspadalah terhadap pesona duniawi yang dapat mengaparkan, merendahkan, dan mematikan siapa saja, karena mengaguminya lantas terlena. Bila demikian, yang kemudian terjadi adalah hari-hari yang telah melintas tak dapat dijadikan pelajaran atas hal-hal yang bakal terjadi di masa depan. Ini adalah akibat perbuatan di masa lalu, yang tak gentar terhadap kebenaran peringatan Allah yang dikemukakan, tak menyadarkannya. Yang ada dalam kalbu, dalam kaitannya dengan pesona duniawi, hanyalah cinta buta semata. Barang siapa kalbunya hanya tertuju pada kehidupan duniawi semata, hingga saat kematian menjemput pun ia akan senantiasa memburu pesona yang menurutnya merupakan sesuatu yang paling memikat baginya. Akibatnya, pada dirinya, berpadu dua derita. Yaitu, kepedihan sakratulmaut dan keperihan tak kuasa merengkuh pesona yang ia damba. Dengan demikian, ia meniti perjalanan panjang menuju ke hadirat Allah Swt. Tanpa bekal apa pun dan datang (ke akhirat)dan tanpa persiapan sama sekali.

Wahai Amir Al-Mukminin! Karena itu, waspadalah sepenuhnya terhadap pesona duniawi. Sebab, pesona itu laksana ular. Manakala disentuh sedikit saja, ia kuasa membunuh dengan bisanya. Berpalinglah dari pesona yang engkau kagumi segala sesuatu yang ada di dalamnya, karena hanya sedikit darinya yang akan kuasa menyertaimu. Lepaskanlah hasratmu kepadanya, karena engkau yakin akan berpisah dengannya. Jadikanlah kepahitan berat yang ada padanya sebagai dambaan yang senantiasa engkau idamkan selepasnya. Waspadalah, karena setiap kali seseorang hamba dunia terbuai oleh kesenangan yang ada di dalamnya, akibat buruknya akan senantiasa menyertai dirinya. Manakala sesuatu yang ia gemari dapat direngkuhnya, sesuatu yang ia benci kelak akan menjadi penggantinya. Karena itu, sesuatu yang kini menyenangkan, kelak akan menjadi menyedihkan. Yang kini bermanfaat, kelak akan membahayakan. Kemakmuran di dalamnya kelak akan mengantarkan pada kepedihan. Kenikmatannya pun kelak akan dikembalikan menjadi kepahitan.

Wahai Amir Al-Mukminin! Pandanglah pesona duniawi dengan tatapan selamat jalan. Bukan dengan tatapan jatuh cinta. Ketahuilah, dunia memedayakan. Seolah, yang tinggal di dalamnya akan hidup abadi selamanya, juga menyajikan kesenangan bagi pemburu kesenangan di dalamnya. Sejatinya, kunci kesenangan dan kekayaan dunia pernah ditawarkan kepada Nabi Saw. Namun, beliau menolaknya. Tak lain karena beliau mengetahui bahwa sesuatu yang tak disukai Allah, beliau pun tak menyukainya, dan sesuatu yang dipandang kecil oleh Allah Swt., beliau pun memandangnya kecil. Andai beliau menerima tawaran itu, tentu hal itu menjadi penanda bahwa beliau mencintai pesona duniawi.

Kiranya Allah Swt. berkenan melimpahkan rahmat kepada kami, dengan nasihat ini. Juga, kepada engkau,

Wassalâmu‘alaikum wa Rahmâtullâh wa Barakâtuh
.”

Betapa gembira ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menerima surat dari tokoh yang ikut serta dalam pasukan ‘Abdullah bin ‘Amir, Gubernur Bashrah, dalam pelbagai ekspedisi militer hingga ke Kabul dan baru kembali ke Bashrah pada 53 H/673 M serta menetap di kota itu hingga berpulang pada Kamis, 1 Rajab 110 H/ 10 Oktober 728 M. Nasihat Al-Hasan Al-Bashri itu kemudian banyak ia jadikan sebagai pedoman dan acuan dalam bertindak dan mengambil keputusan selama ia menjadi penguasa. (arofiusmani.blogspot.com/)

Thursday, August 18, 2011

"Kami pun Ingin Beri'tikaf, Tapi..."


“Mas, enak ya orang-orang lain di bulan Ramadhan seperti saat ini,” ucap seorang dokter spesialis, seraya menarik napas panjang, kepada penulis.
“Maksud Anda apa?”
“Coba bayangkan,” jawabnya lirih seraya menatap bintang-bintang dari balkon. “Di bulan Ramadhan yang suci ini, orang-orang lain sangat leluasa melakukan pelbagai ibadah. Sementara gerak kami dapat dikatakan terbatas sekali. Misalkan saja, orang-orang lain dapat beri‘tikaf begitu leluasa sepanjang malam di bulan suci ini. Sedangkan kami, khususnya kami para dokter spesialis, dari pagi hingga pagi berikutnya, harus senantiasa siap menangani para pasien. Malah, kadang, baru memejamkan mata sebentar, telpon demi telpon berdering dari rumah sakit yang mengharuskan kami menerima konsul. Kemudian, ketika baru mau memejamkan mata lagi, kerap telpon demi telpon berdering lagi. Bagaimana kami dapat beri‘tikaf? Kalau begitu, di manakah keadilan Allah Swt. bagi orang-orang yang berprofesi seperti kami: enak bagi orang lain, tidak enak bagi kami.”

Menerima pertanyaan yang memikat itu, sejenak penulis menarik napas panjang. Dan, tak lama kemudian, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” menuju Madinah, teringat kisah ‘Abdullah ibn ‘Abbas. Kisah yang merupakan jawaban pertanyaan yang memikat itu sebagai berikut:

Kehadiran bulan Ramadhan tak pernah sepi dari sambutan kaum Muslim. Demikian pula yang dilakukan ‘Abdullah ibn Al-‘Abbbas, seorang sahabat dan saudara sepupu Rasulullah Saw. yang terkenal sebagai seorang ahli tafsir dan bernama lengkap Abu Al-‘Abbas ‘Abdullah bin Al-‘Abbas ibn ‘Abdul Muththalib ibn Hasyim ibn ‘Abd Manaf. Putra pasangan suami-istri Al-‘Abbas ibn ‘Abdul Muththalib dan Ummu Fadhil Lubabah Al-Kubra binti Al-Harits ini lahir tiga tahun sebelum Hijrah di Makkah, kala Bani Hasyim sedang diboikot kaum Quraisy di Al-Syi‘b. Ia lebih dahulu memeluk Islam daripada ayahnya.

Di samping cerdas, sahabat yang baru berusia 13 tahun kala Rasulullah Saw. wafat ini juga dikenal memiliki ingatan sangat kuat. Selain itu, tokoh yang pernah menjabat sebagai Gubernur Basrah pada masa pemerintahan ‘Ali bin Abu Thalib ini juga dikenal sebagai ilmuwan yang berwawasan luas dan “Bapak Ahli Tafsir (Al-Quran)”. Ini karena ia adalah sahabat Rasulullah Saw. yang pertama kali menyusun tafsir Al-Quran.

Hari itu, ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas sedang beri‘tikaf di Masjid Nabawi, Madinah. Ketika ia dalam keadaan demikian, tiba-tiba seorang pria datang menemuinya dan mengucapkan salam kepadanya.
“Wahai Saudaraku,” ucap ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas selepas menjawab ucapan salam tamunya itu. “Kulihat engkau begitu resah dan gelisah, ada apa?”
“Benar, wahai putra Al-‘Abbas! Aku memiliki utang kepada seseorang. Demi penghuni makam itu (maksudnya Rasulullah Saw.), aku tak mampu melunasi utang itu!” jawab pria itu dengan perasaan sedih dan malu.
“Saudaraku! Bolehkah aku berbicara kepada orang itu?” ucap cucu ‘Abdul-Muththalib yang kelak wafat di Thaif itu.
“Tentu! Silakan, jika hal itu menurutmu pantas,” jawab pria itu sambil berterima kasih.

‘Abdullah ibn Al-‘Abbas pun keluar dari Masjid Nabawi dan mengenakan sandalnya. Melihat hal itu, seseorang menegurnya, “Wahai ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas! Kenapa engkau keluar dari masjid? Lupakah engkau bahwa engkau sedang beri‘tikaf?!”
“Tidak, Saudaraku!” jawab tokoh yang mendapat sejumlah gelar, antara lain “Al-Bahr” (Samudera), “Al-Hibr” (Yang Tampan), dan “Tarjuman Al-Qur’an” (Juru bicara Al-Qur’an) itu. “Tetapi, aku pernah mendengar penghuni makam itu bersabda, ‘Barang siapa berjalan untuk memenuhi keperluan saudaranya dan berupaya sungguh-sungguh untuk memenuhi keperluan itu, maka hal itu lebih utama baginya ketimbang sepuluh tahun beri‘tikaf. Dan barang siapa yang beri‘tikaf satu hari karena mengharapkan ridha Allah, maka Allah Swt. akan menjauhkan antara dirinya dan neraka sejauh tiga parit, yang jarak antara satu parit dengan parit lainnya lebih jauh ketimbang jarak antara langit dan bumi.’”

Teringat kisah tersebut, penulis pun segera menyampaikannya kepada dokter tersebut seraya berucap, “Jangan lupa, niatkan seluruh langkah Anda demi Allah Swt. semata!” (arofiusmani.blogspot.com/)

Wednesday, August 17, 2011


SYUKUR

oleh H. Mutahar

Dari yakinku teguh
Hati ikhlasku penuh
Akan karunia-Mu
Tanah air pusaka
Indonesia merdeka
Syukur aku sembahkan
Kehadirat-Mu Tuhan

Dari yakinku teguh
Cinta ikhlasku penuh
Akan jasa usaha
Pahlawanku yang baka
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke bawah duli tuan

Dari yakinku teguh
Bakti ikhlasku penuh
Akan azas rukunmu
Pandu bangsa yang nyata
Indonesia merdeka
Syukur aku hanjukkan
Ke hadapanmu tuan

Tuesday, August 16, 2011

Sepenggal Doa di Bulan Ramadhan


“Ada tiga orang yang doa mereka tidak ditolak Allah: orang yang berpuasa hingga ia berbuka, pemimpin yang adil, dan orang yang dizalimi.” (HR Ahmad ibn Hanbal).

Setiap ada kesempatan, selama bulan Ramadhan ini, selain menulis dan membaca, penulis mencoba menyimak ceramah para dai kondang di negeri tercinta ini. Dalam ceramah yang mereka sajikan, ternyata mereka kerap menyitir hadis di atas. Mendengar ceramah mereka, entah kenapa kemudian penulis tergerak untuk membuka dan menyimak sebuah karya indah Prof. Dr. Muhammad Mahmud Ahmad dan Prof. Dr. Musa Al-Khathib, Du‘a Al-Anbiya’ wa Al-Rusul. Lembar demi lembar karya itu pun penulis cermati. Kisah demi kisah yang menjadi latar belakang pelbagai doa para Nabi dan Rasul pun penulis kaji. Duh, ternyata, doa-doa yang dihadirkan dalam karya itu demikian banyak. Dan, doa-doa itu demikian indah.

Entah kenapa, ketika penulis sedang merenungkan doa-doa indah para Nabi dan Rasul tersebut, tiba-tiba benak-benak penulis “melayang-melayang” ke Madinah dan teringat kisah nan indah yang berkenaan dengan doa Nabi Daud a.s. sebagai berikut:

Betapa gembira hati seorang sahabat hari itu, karena ia masih memiliki kesempatan menghadiri pertemuan dengan Rasulullah Saw. di hari itu di Masjid Nabawi, Madinah, seperti yang acap beliau lakukan setiap minggu manakala beliau sedang tidak melakukan perjalanan keluar kota. Sahabat yang satu itu tak lain adalah Abu Al-Darda’, seorang sahabat yang berasal dari suku Khazraj, Madinah dan bernama lengkap Abu Al-Darda’ ‘Uwaimir bin Zaid bin Qais bin ‘A’isyah bin Umayyah bin Malik bin ‘Adiy bin Ka‘b bin Al-Khazraj bin Al-Harits. Sebelum memeluk Islam, Abu Al-Darda’ memiliki profesi sebagai seorang pedagang.

Dalam pertemuan pada hari itu Rasulullah Saw. memperbincangkan kisah Nabi Daud a.s. Seperti diketahui, Nabi Daud a.s. adalah seorang nabi yang namanya disebut 16 kali di dalam Al-Quran. Nabi yang satu ini adalah anak keturunan Nabi Ibrahim a.s. generasi ke-11. Ketika kecil ia hidup sebagai penggembala ternak seperti halnya Rasulullah Saw. Suatu saat, ketika ia telah remaja, Saul, raja Bani Israil, meminta bantuan kepadanya untuk melawan Jalut. Ternyata, ia berhasil mengalahkan raja Palestina itu. Melihat kemenangan dan ketenaran nama yang direngkuhnya, Saul pun berupaya membunuhnya. Daud berhasil melarikan diri. Setelah Saul mati, Daud lalu mendirikan sebuah kerajaan di Hebron. Tapi, kemudian kerajaannya ia pindahkan ke Jerusalem. Selain menjadi raja, Allah juga memberi wahyu kepada Nabi Daud a.s. karena ketaatannya kepada-Nya dan memberinya kekuatan, ilmu yang tinggi, dan dapat membuat baju besi serta menundukkan gunung-gunung untuk bertasbih bersamanya di kala pagi dan senja hari. Ketika menjelang meninggal dunia, ia mewariskan kerajaannya kepada putranya yang bijak, Nabi Sulaiman a.s.

Rasulullah Saw., dalam menuturkan kisah Nabi Daud a.s. tersebut, memaparkan pula kepada para sahabat bagaimana kecintaan Nabi Daud a.s. kepada Allah Swt. Beliau kemukakan kepada mereka bahwa dalam berdoa Nabi Daud a.s. senantiasa memohon agar mendapatkan karunia cinta kepada-Nya. Selain itu, ia juga memohon agar cintanya lebih besar ketimbang cintanya kepada dirinya sendiri dan keluarganya. Kemudian, tentang doa Nabi Daud a.s. tersebut, Rasulullah mengemukakan, “Wahai sahabat-sahabatku! Di antara doa yang dipanjatkan Nabi Daud a.s. adalah Allâhumma innî as’aluka hubbak, wa hubba man yuhibbuk, wa al-‘amal al-ladzî yuballighunî hubbak. Allâhumma ij‘al hubbaka ahabba ilayya min nafsî wa ahlî wa min al-mâ’ al-bârid (Ya Allah! Aku memohon kepada Engkau cinta kepada-Mu, cinta orang-orang yang mencintai-Mu, dan amal yang dapat membuat aku meraih cinta kepada-Mu. Ya Allah! Jadikanlah cinta kepada-Mu lebih kusukai daripada cinta kepada diriku sendiri, keluargaku, dan air yang menyejukkan).”

Betapa indah doa Nabi Daud a.s. tersebut. Dan, semenjak bulan Ramadhan ini, penulis pun menjadikan doa itu sebagai salah satu doa pilihan penulis. Kiranya Allah Swt. menerima doa tersebut, amin! (arofiusmani.blogspot.com/)