Thursday, September 22, 2011

Sang Marsekal dan Sang Kolonel


Sungguh, Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum hingga mereka mengubah nasib mereka sendiri.” (QS Al-Ra’d [13]: 11).

“Dilema besar bagi Barack Obama,” demikian komentar Imam Shamsi Ali dalam facebooknya tadi pagi, 22 September 2011, tentang sikap presiden Amerika Serikat perihal masalah kemerdekaan Palestina. “Kata hatinya berbisik, 'kemerdekaan' adalah hak setiap manusia dan karenanya memiliki hak penuh untuk merdeka. Pidatonya yang mengutip berkali-kali Piagam PBB menjadi bukti 'bisikan nurani' itu. Namun, sebagai politisi dia sadar bahwa masa depan politiknya juga ditentukan 'realitas' di lapangan. Dan, idealisme ternyata tertelan pahit oleh kepentingan politik. Sekaligus menjadi kenyataan bahwa mendukung kemerdekaan Palestina, mesti melalui 'grass root movement' dengan mengubah peta kekuatan politik AS. Selama kekuatan politik masih terkendalikan oleh kelompok tertentu, selama itu pula jangan harapkan sikap politisi akan berubah terhadap isu klasik ini.”

Entah kenapa, ketika membaca komentar Imam Shamsi Ali (seorang Imam muda asal Indonesia di New York, Amerika Serikat) tersebut, beberapa lama saya termenung. Termenung, karena tersadarkan, betapa persoalan “konflik antara idealisme dan realitas” tersebut begitu kerap terjadi dalam kehidupan kita. Tidak hanya dalam kehidupan politik saja, tapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Dan, ternyata, tidak mudah “menaklukkan” realitas: tidak semudah membalikkan tangan. Diperlukan sikap teguh dan tidak mudah putus asa untuk dapat membuat realitas dapat diarahkan dan dikendalikan.

Entah kenapa pula, ketika merenung demikian, saya teringat kisah antara “sang Marsekal dan sang Kolonel”. Kisah itu mengajarkan kepada kita, betapa tidak mudah “menundukkan” realitas, karena itu diperlukan daya juang yang tidak mudah patah arang. Tidak seperti sikap sang Marsekal yang gampang tunduk pada realitas, sikap sang Kolonel jelas: tidak mau dipecundangi realitas dan terus berjuang, sehingga akhirnya ia berhasil meraih kemenangan. Nah, berikut adalah kisah antara “sang Marsekal dan sang Kolonel” tersebut:

“Saya datang untuk memeriksa pasukan ini,” ucap seorang perwira tinggi kepada seorang sahabatnya. “Saya tahu, sebenarnya kedatangan saya ini tidak Anda harapkan. Tetapi, apa yang dapat saya lakukan? Saya menerima perintah untuk memeriksa pasukan ini. Perintah itu saya patuhi, karena selama ini saya selalu patuh. Dengan cara demikian, saya berhasil meraih pangkat Marsekal.”

Sahabatnya tidak memberikan komentar apa pun. Semua orang tahu, sang Marsekal adalah orang yang selalu patuh. Tidak hanya terhadap atasannya saja, tapi juga terhadap realitas di hadapannya. Dan, tidak berapa lama kemudian, sang Marsekal diangkat sebagai Menteri Pertahanan. Kini, sang Marsekal bertanggungjawab atas keamanan militer negerinya.

Pada suatu hari datang sebuah laporan, “Di Jerman kini muncul seorang tokoh baru bernama Adolf Hitler. Ia ingin membalas dendam kekalahan negerinya oleh negara kita dalam Perang Dunia I.” Menerima laporan demikian, sang Marsekal hanya menggelengkan kepala dan berkata, “Jangan pedulikan omongan Hitler. Ucapannya hanya untuk konsumsi dalam negeri saja.”

Beberapa minggu kemudian datang lagi sebuah laporan: Hitler sedang menyusun kekuatan Angkatan Bersenjata Jerman dan melengkapinya dengan sederet pesawat tempur dan tank. Mendengar laporan itu, sang Marsekal tetap tidak tertarik dan berkomentar, “Pesawat terbang akan selalu jatuh ke Bumi. Sedangkan tank tidak menimbulkan bahaya apa-apa di medan pertempuran.”

Melihat sikap sang Marsekal yang demikian, seorang bawahannya yang berpangkat Kolonel tidak tahan lagi menahan perasaan sebalnya. Ucap sang Kolonel dengan menahan perasaan jengkel, “Marsekal! Pesawat tempur dan tank akan menjadi senjata andal dalam perang mendatang!” Jawab sang Marsekal, “Siapa bilang akan terjadi perang lagi? Kau tidak mengerti sedikit pun tentang perang. Kau anak yang baru lahir kemarin sore!”

Anak yang dikatakan “baru lahir kemarin sore” itu berusia 50 tahun dan bernama Charles de Gaulle. Sedangkan sang Marsekal bernama Henri Philippe Petain. Karena kepatuhan bagi sang Marsekal berarti segala-galanya, maka ia pun mengeluarkan memo supaya sang Kolonel tidak dinaikkan pangkatnya. Ternyata, Perang Dunia II kemudian benar-benar meletus. Serdadu-serdadu Hitler pun mulai memasuki kawasan Perancis. Pemerintah negara itu pun memanggil Menteri Pertahanan untuk dimintai pendapat. Nasihatnya jelas, “Kita harus tunduk kepada Hitler. Realitas lebih kuat daripada kita!”

Nasihat itu tidak aneh, karena keluar dari mulut seseorang yang selama hidupnya selalu tunduk dan patuh. Bila sebelumnya ia menyerahkan kepatuhannya kepada pribadi-pribadi, kini ia menyerahkannya pada realitas. Tiba-tiba sang Kolonel Charles de Gaulle muncul. Sejak semula ia menolak sikap menyerah terhadap realitas dan menolak patuh kepada sang Menteri Pertahanan. Ia tidak mau melaksanakan perintah atasannya itu. Dengan meninggalkan keluarganya, rumahnya, pangkatnya yang lumayan tinggi, dan kehidupannya yang cukup mapan, ia pergi ke Inggris dengan membawa kehormatan negerinya. Sedangkan sang Marsekal tetap tinggal di negerinya menghadapi realitas negerinya sedang dijarah serdadu-serdadu Hitler. Di Inggris, sang Kolonel menyatakan pemberontakannya terhadap realitas. Dari negeri itu, ia memulai perlawanan Perancis terhadap pendudukan Jerman. Sedangkan sang Marsekal, yang telah membentuk sebuah pemerintahan, segera menyatakan menyerah kepada pasukan pendudukan. Di negerinya sendiri.

Perancis pun terbelah di antara dua tokoh. Salah satunya tokoh yang memuja kepatuhan terhadap realitas. Sedangkan yang seorang lagi pembelot terhadap realitas. Yang pertama melihat apa yang ada di hadapannya sebagai realitas yang harus diterima. Yang kedua melihat perubahan atas realitas harus dimulai dengan melakukan pembelotan. Yang pertama berpandangan, nilai manusia (juga masyarakat) tidak melebihi harganya yang dinyatakan di pasar. Sementara yang kedua berpendapat, nilai manusia (juga masyarakat) dimulai dari kehendaknya, semangatnya, keyakinannya terhadap masyarakatnya, dan keteguhannya dalam memegang prinsip.

Akhirnya, menanglah prinsip atas realitas. Beberapa tahun kemudian, sang Kolonel memasuki Perancis dengan bendera kemenangan. Sedangkan kisah sang Marsekal berakhir bersama penyerahan pasukan pendudukan Jerman. Dan, lembaran sejarah menorehkan, betapa sering suatu masyarakat memerlukan sejumlah anggotanya yang mampu memukul lonceng peringatan. Yakni, peringatan terhadap bahaya sikap menerima dan menyerah terhadap realitas. Juga, terhadap sikap menolak kemungkinan dilakukannya perubahan terhadap realitas yang ada.

Bagaimana dengan sikap Anda dalam menghadapi realitas yang sedang Anda hadapi dan berlawanan dengan idealisme Anda? Silakan memilih: mau menjadi “pengikut” Sang Marsekal atau mau menjadi “pendukung kuat” Sang Kolonel!(arofiusmani.blogspot.com/)

Friday, September 16, 2011

Kado untuk Seorang Maestro


Entah kenapa kemarin, Kamis 15 September 2011, selepas jemari tangan tidak lagi mau diajak “menari-nari” di atas keyboard, pandangan saya terarah ke tumpukan paling bawah majalah-majalah “tempo doeloe” di bawah meja kerja saya. “Wow, majalah-majalah Kiblat awal tahun-tahun 1990-an”, begitu pandangan saya bertumbukan dengan tumpukan majalah-majalah yang sangat saya kenal.
Melihat majalah-majalah lusuh awal tahun-tahun 1990-an itu, segera saja kedua tangan saya ber”hijrah” dari keyboard menuju tumpukan majalah-majalah itu. Satu demi satu majalah-majalah lama itu saya buka kembali. Segera pula, dalam benak saya, muncul deretan sosok para sahabat yang pernah berkontribusi bersama dalam mengelola Majalah Kiblat itu. Kini, mereka bertebaran di pelbagai bidang: ada yang menjadi direktur utama sebuah perusahaan pembangkit tenaga listrik, dokter spesialis jantung, direktur utama sebuah perusahaan IT, ahli geologi, mantan anggota DPR, editor senior, arsitek, penulis, ahli ekonomi yang doktor jebolan Jepang, direktur sebuah rumah batik, direktur usaha agri-food, dosen, dan seniman yang pelukis.
Selepas mencermati satu demi satu majalah-majalah tersebut, entah kenapa mata saya kemudian tidak mau beranjak dari sebuah wawancara menarik dan panjang dengan seorang maestro masjid Indonesia: Achmad Noe’man. “Wow, ini wawancara lama, tapi indah!” Wawancara (yang tidak tercatat dilakukan siapa, tapi seingat saya oleh Dian R. Basuki dan M. Syamsuddin Dahlan, dua insinyur muda lulusan Institut Teknologi Bandung) panjang itu yang dilakukan pada akhir 1988 itu demikian memikat dan indah. Betapa banyak pelajaran indah yang dapat saya ambil dari wawancara itu. Karena itu, pada kesempatan ini, izinkan saya menghadirkan kembali wawancara itu lengkap, sebagai kado ulang tahun dan penghormatan saya kepada seorang maestro masjid Indonesia yang bulan depan akan berulang tahun yang ke-87:
Paruh kedua abad ke-19. Sekelompok penduduk beriringan meninggalkan Kudus, kota yang terkenal dengan jenangnya itu. Mereka menuju Garut, sebuah kota kecil di Bumi Parahyangan. Dan, akhirnya, mereka menetap di sana. Haji Mas Djamhari, salah seorang di antaranya, menikah dengan mojang setempat. Lahirlah 13 orang putra. Di tengah kesibukannya berdagang batik, mengurusi kebun jeruk, dan bergumul dengan mesin cetak, ia tekun mendidik Noe’man kecil. Kini, ia dikenal sebagai seorang arsitek.
Kantor Birano, lepas zuhur. Usai shalat Jumat di Masjid Salman ITB, arsitek senior ini menyempatkan diri coret-coret di atas kertas. Bukan merancang bangunan, tapi menulis kaligrafi. Memang, itulah salah satu hobinya. Lalu, pria kelahiran Garut, 10 Oktober 1924, itu pun membuka percakapan.

Di zaman Belanda dulu, di Garut banyak hotel, pariwisatanya maju. Saya sekolah di HIS dan MULO, juga di kota ini. Sorenya, belajar di madrasah. Kemudian dilanjutkan di wustha, kalau sekarang ya setingkat dengan Madrasah Tsanawiyyah. Waktu itu umur saya baru 7-9 tahun. Agak susah juga, habis lagi senang-senangnya main bola. Di antara saudara saya, saya memang lain sendiri. Saya sering hilang dari rumah, ikut camping, tour, dan main bola.
Lepas dari MULO, saya tidak meneruskan ke AMS. Soalnya, di Garut gak ada AMS. Akhirnya, saya ikut kakak (Ahmad Sadali alm., seorang pelukis kondang) di Yogyakarta. Itu lho, di SMA Muhammadiyah Ketanggungan. Tahun 1945, zaman revolusi, saya masuk Divisi Siliwangi dan ditugaskan di Jakarta sambil sekolah di SMA Republik.
Mulai kapan Pak Noe’man meminati arsitektur? Sejak kecil?
Ya,ya, dari kecil. Memang, sebetulnya dari kecil saya sudah punya keinginan membuat rencana-rencana rumah. Ayah sendiri senang membangun. Beliau juga menaruh perhatian terhadap perkembangan ummat, seperti mendirikan madrasah, mushalla, dan masjid. Jadi, dari dulu saya ikut menggambar masjid. Apalagi arsitektur itu kan dekat dengan seni. Saya senang, kan lingkungan seni itu ada keluarga saya. Nenek, ibu, dan ayah sendiri saudagar, bisnisnya batik. Barang kali itu banyak memengaruhi saya.
Kapan masuk ITB?
Tahun 1948. Sebenarnya belum ITB. Waktu itu namanya Fakultas Teknik, Universitas Indonesia. Dulu belum ada Jurusan Arsitektur. Yang ada Civil Afdeling, bagian bangunan. Tapi, saya tidak senang. Bayangkan, kita diajari macam-macam, dapat elektro, dapat motoren…apa itu…ya urusan rel kereta api. Arsitekturnya sedikit. Nah, kebetulan terjadi Clash II. Waktu itu Belanda menyerbu Yogya. Saya dipanggil lagi, juga teman-teman yang lain. Saya ikut daripada sekolah tapi gak senang. Saya diminta masuk CPM, Coprs Polisi Militer.
Sampai kapan di militer?
Sampai tahun 1952. Karier militer itu saya sukai. Soalnya banyak decision making dan challenge, barang kali. Juga, karena sering di lapangan, di alam, begitu. Memang, saya suka sesuatu yang menantang dan agak keras. Tapi, mudah-mudahan sikap suka kekerasan itu sudah gak ada lagi, he-he-he.
Terus, tahun 1952 juga, teman-teman mengatakan di di Sipil akan dibuka Bagian Arsitektur. Nah, saya lalu mengundurkan diri dari militer. Alasan saya mau melanjutkan studi ke perguruan tinggi. Boleh saja, kata komandan saya. Pangkat saya Letnan Dua. Waktu itu, pangkat kan milih sendiri, he-he-he. Mau kapten, mau mayor, atau apa, asal sesuai dengan kemampuan masing-masing. Saya dulu di CPM Bandung, di bawah Mayor Rusli, yang kemudian menjadi Direktur Arafah Lloyd.
Kapan selesai studi di Arsitektur?
Saya lulus tahun 1958. Jadi, angkatan pertama. Teman-teman belajar saya cuma lima orang. Jadi, betul-betul diperhatikan oleh profesornya. Teman-teman saya itu Melani Abu Thalib, Sukartono Susilo, yang sekarang mengajar di Unpar, Rimi Dengdeng, dan Kweng Huan, sekarang di Belanda. Kami masih berhubungan sampai sekarang.
Sesudah lulus terus ke mana?
Begitu selesai, saya diminta meneruskan sekolah di Kentucky (Amerika Serikat), mengambil program master. Dulu kan banyak teman sebaya yang dikirim belajar. Soalnya, banyak guru dari Belanda yang pulang, sekitar 1953-1958. Teman-teman tersebar di Belanda, Jerman, dan Amerika Serikat.
Pak Noe’man jadi mengambil program master?
Nggak. Waktu itu banyak pilihan, antara lain jadi guru. Tapi, saya bertanya-tanya, bakat gak ya jadi guru? Pikir-pikir gak pas begitu. Tapi, toh sampai sekarang tidak lepas dari mengajar dan belajar. Umpamanya, sekarang mengajar, tidak di Arsitektur, tapi di Seni Rupa. Ingat kan hadis Rasulullah yang terkenal itu, ‘Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang kubur.’ Itu kan life-long education.
Lalu keterusan di bidang itu?
Karena saya milih, saya senang sekali bidang arsitektur itu. Kan di situ ada nilai-nilai yang cocok untuk beramal saleh. Jadi, hidup itu bisa duduk dengan kertas saja. Modalnya ya hanya potlot dan kertas. Dimulai dengan Bismillah, sesudah itu berkarya.
Sayyidina ‘Ali kan mengatakan bahwa kita mesti tahu diri. Saya itu bidang bicara kan tidak berbakat. Apalagi, di zaman sekarang tabligh kan bisa bermacam-macam caranya. Nah, dengan pensil dan kertas itu saya bisa berdakwah. Itu bagi saya. Dakwah itu kan, menurut keyakinan saya, fardhu ‘ain, karena itu kan mengubah keadaan yang jelek menjadi baik. Membersihkan selokan itu dakwah juga. Hanya saja, yang satu barang kali bi lisan al-maqal, yang lain bi lisan al-hal.
Lalu?
Juga Surah Luqman ayat 20 misalnya, “Tidakkah kamu perhatikan sesungguhnya Allah telah menundukkan untuk (kepentingan)mu apa yang di langit dan apa yang di bumi dan menyempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin.” Menurut saya, ini ayat teknologi untuk abad ke-20. Di situ juga disebutkan, akan disempurnakan nikmat-Nya lahir dan batin. Tetapi, nikmat itu nggak bakal tercapai kalau tanpa ilmu pengetahuan, petunjuk, dan Kitab-Nya yang memberi penerangan. Ya, kalau nikmat materi atau lahir, mungkin. Tapi, bagaimana dengan nikmat batin? Itu tak akan tercapai tanpa ilmu, tanpa petunjuk-Nya. Nah, bagi saya, ayatnya ya kayu, ya kerikil…
Kapan Birano didirikan?
Tahun 1958. Waktu arsitek belum banyak dikenal. Bahkan, arsitek dikenal sebagai anemer saja. Padahal, pengertiannya kan beda. Nama itu saya ambil dari nama saya: Biro Arsitek Achmad Noe’man. Biar jelas. Kalau bangunannya berhasil, ya alhamdulillah nama saya ada. Kalau gagal, nama saya juga ada. Jadi, saya nggak sembunyi di balik nama, kan. Itu barang kali untuk dorongan juga. Jadi, bukan untuk, ah… na’udzu billah min dzalik, misalnya ingin terkenal. Sama sekali tidak. Kalau berhasil ya syukur, kalau gagal ya bisa mengoreksi diri.
Pernah gagal?
Gagal itu misalnya ambruk? Alhamdulillah sampai sekarang tidak ada yang salah hitung.
Kapan Pak Noe’man menikah?
Saya menikah tingkat tiga, waktu masih belajar di Bagian Arsitektur. Saya kan tinggal di Rumah B asrama ITB. Ceuceu (panggilan Ibu Noe’man) kan tinggal di sini (Jl. Ganesa No. 3, kantor Birano). Kebetulan saya senang basket, Ceuceu juga. Lalu, ada pekan olah raga nasional dan bertemulah di situ. Ceuceu sekolah di Fakultas Hukum. Nah, saya jadi ingat hadis Rasulullah, “Belumlah menjadi ummatku yang sempurna kalau belum menikah.” He, he. Jadi, apa boleh buat, tingkat tiga menikahlah saya. Anak saya yang tertua, si Irvan itu, jadi anak mahasiswa, bukan anak insinyur. Tapi, alhamdulillah, nggak ada hambatan, studi lancar. Waktu itu saya sudah mencari nafkah sendiri, jadi tukang kayu. Saya kan senang juga sama furniture. Tahun 1958 saya wisuda.
Birano didirikan 16 Juli 1960. Mengambil di sayap kiri rumah kediaman rumah mertuanya, Pak Noe’man memulai kariernya dengan karya pertama pelabuhan penumpang, Pelabuhan II Tanjung Priok, Masjid Muhammadiyah di Garut, dan galangan kapal di Ujung Pandang. Semuanya diselesaikan tahun 1960-1961.
Hingga saat ini (1989), Pak Noe’man masih menjadi anggota Majelis Arsitek IAI (Ikatan Arsitek Indonesia), anggota Dewan Kehormatan INKINDO (Ikatan Nasional Konsultan Indonesia), anggota PII (Persatuan Insinyur Indonesia), dan Ketua Yayasan Pendidikan Islam UNISBA Bandung. Pria yang menguasai bahasa Belanda dan Inggris ini memang sudah menempuh perjalanan karier yang panjang. Puluhan karya arsitektur telah lahir dari tangannya.

Bagaimana seharusnya sikap seorang arsitek?
Seorang arsitek itu, menurut saya, pertama, harus memiliki kepribadian yang jujur. Yang kedua, dia harus independen. Dan yang ketiga, dia harus kompeten. Seorang profesional harus begitu. Identitas ada, kompeten, dan independen. Banyak kan hadis Rasul yang mengarah pada kejujuran, integritas. Tapi, arti profesional sekarang kan merepotkan, he, he, he. Misalnya itu, ah nggak usahlah. Pokoknya kita itu harus integralis, kalau meminjam istilahnya Pak Armahedi (Armahedi Mahzar, penulis buku Integralis, Sebuah Buku Rekonstruksi Filsafat Islam).
Lebih jelasnya?
Begini, etika itu kan mungkin relatif, tapi bisa saja kan universal, artinya siapa pun bisa menerimanya. Seperti itu tadi, kompetensi. Kompetensi itu ya tidak akan mengatakan aku serba bisa, tetapi kita sanggup dan mampu. Nah, kalau itu bukan keahlian kita, kita mesti berani mengatakan saya nggak bisa. Saya rasa itu jelas. Kemudian independen. Sebetulnya kita ini independen kok, kecuali dalam kaitannya dengan Allah. Lainnya kita harus punya sikap, identitas. Saya rasa dalam konsep-konsep seni, kalau kita itu menjiplak, itu plagiat namanya. Kalau dikaitkan dengan Islam, menjiplak itu tidak ada. Itu tak sesuai dengan “fastabiqul khaurat”, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di situlah pengertian kreatif, suatu tindakan kebajikan atau khair. Untuk kemanusiaan.
Arsitek juga begitu. Saya kategorikan pekerjaan arsitek itu memang menantang untuk ber”fastabiqul khairat”. Tiap saat ada kok etik tidak boleh menjiplak. Ini artinya kan kejujuran, integritas. Iya toh?
Bagaimana konsep arsitektur Pak Noe’man?
Kalau yang ini nggak lepas dari background saya sebagai Muslim. Ada satu ayat menarik. Sudah saya tanyakan kepada salah seorang ulama, tapi beliau tak setuju dengan tafsiran saya. Itu lho, Surah Al-Baqarah ayat 170.
Yang diturunkan Allah itu kan ilmu, di antaranya. Tapi, yang kita timba mungkin saja tidak semuanya yang diturunkan Allah. Jadi, mungkin saja kan kita salah. Karena itu, Allah memberi peringatan. Kamu jangan sok benar. Yang kamu anggap benar itu belum tentu benar, begitu kan hardikan Allah kepada orang yang keras kepala. Barang kali yang dicemoohkan itu yang lebih benar. (Lalu Pak Noe’man mengambil Al-Quran berukuran besar). Ini ayatnya, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,’ mereka menjawab, ‘(Tidak), kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapatkan dari (perbuatan) nenek moyang kami.’ (Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka tidak mengetahui suatu apa dan tidak mendapat petunjuk?
Lalu hubungannya dengan kegiatan Pak Noe’man?
Nah, itu kan, kita sebagai arsitek, lebih-lebih saya, diperingatkan oleh ayat ini. Misalnya begini, nenek moyang kita kan memakai joglo. Itu memang cocok dengan bentangan rumah dengan ukuran selebar itu, dan saya interesan. Untuk rumah Jawa yang tanpa tiang, itu indah sekali. Apalagi untuk iklim tropis. Juga tanpa plafon, tanpa sirip, jadi udara mengalir langsung. Itu cocok untuk iklim tropis. Lalu, apa itu… kayunya, teksturnya, warnanya. Memang indah sekali. Tapi, kalau bentangannya sudah dua kali rumah tradisional itu, kita harus mempertahankan joglo itu, apa bisa?
Bagaimana dengan masjid?
Tentang masjid yang harus dengan kubah itu tidak ada aturannya. Bukannya saya anti-kubah. Sama sekali bukan. Tapi, kalau kubah just for the symbol, agak dipaksakan jadinya. Padahal, sebenarnya masih ada ilmu lain yang lebih struktural, yang lebih murah, lebih kuat. Jadi, dengan ayat tadi, bismillah gitu ya, kita merombak. Semuanya itu kan berubah. Yang abadi kan cuma Allah. Apalagi buatan manusia, tiap waktu kan harus diperbaiki, harus direvisi.
Tentang Masjid Salman?
Tahun 1959, saya merancang Masjid Salman. Waktu itu sudah lulus. Yang namanya arsitek bisa dihitung dengan jari. Ada peristiwa menarik, nih. Sekarang ini, mahasiswa yang tidak shalat justru aneh. Kalau dulu, justru yang shalat dianggap aneh. Teman-teman itu ya bilang, wah… salam ya pada Tuhan. My greetings to God. Ya, kita acuh saja. Bayangin saja, ya. Yang namanya kampus, di ITB lagi, harus membuat masjid. Akhirnya saya bongkar-bongkar literatur arsitektur.
Terus?
Akhirnya saya sempat naik haji. Mampir ke Regent Park di London, waktu itu belum jadi. Lalu ke Bonn, Muenchen, ke Hagia Sophia. Saya mencari acuan. Ketemu Surah At-Taubah ayat 108. Jangan kita membuat masjid yang mengakibatkan riya’, gitu kan. Saya justru mencari nilai-nilai yang universal, yang transendental. Jadi, saya hilangkan itu bentuk kubah. Memang, berat juga waktu menghilangkan kubah dari rancangan saya. Itu kan ciri kita, katanya.
Kalau saya pulang dari Jakarta ke Bandung, di gunung hijau itu kan ada kubah. Itu harus saya hilangkan, itu berat kan. Tapi, masalahnya saya tahu, itu nggak ada fungsinya. Kalau ada kesempatan membuat masjid, gitu ya, sebenarnya saya ingin juga memakai kubah. Itu kalau structurally honest, jadi bukan… Kubah itu kan ditiru dari kubah zaman abad ke-12, bangsanya Taj Mahal. Di Turki kan banyak. Ekspresi kubah di sini kan umpamanya makai seng, alumunium. Itu nggak jujur, secara struktural, nggak jujur. Itu hanya memenuhi bentuk saja. Bahkan tidak awet. Lebih baik pakai genteng, seperti Masjid Kudus.
Lalu bagaimana alternatifnya?
Yah, sebenarnya ada ungkapan yang lebih islami, seperti kecil itu indah, form follows function, atau bentuk mengikuti fungsi, gitu ya. Nah, itu barang kali hasil renungan tersendiri, kata-kata hikmah itu pasti ada dasarnya. Orang kan mungkin saja sampai ke nilai transendental. Einstein kan sampai juga tuh. Ya, Tuhan menciptakan kita untuk menjadi khalifah. Khalifah kan bukan kita saja. Pada setiap manusia kan ditiupkan ruh. Akhirnya saya mikir, pengalaman semacam itu menggugah.
Di usianya yang hampir 62 tahun (kini 87 tahun), Pak Noe’man masih tampak gagah dan kelihatan awet muda. Dengan tinggi 170 cm, bobot badannya yang 80 kg itu memang agak berlebihan. Pak Noe’man pun senantiasa tampil dalam kesederhanaannya.
Pak Noe’man punya hobi olahraga?
Yah, sport, saya senang sekali. Apalagi waktu muda. Macam-macamlah. Lebih-lebih sepak bola, basket, baseball, dan volley. Dulu, kalau main bola di luar kota saja lebih baik nggak ikut ujian. Nggak apa-apa, ujian bisa lain waktu. Tapi saya jarang menjamah tenis. Untuk waktu itu sudah terlalu mahal, kan. Apalagi golf… he, he, he, nggak pernah, sampai sekarang. Bukan nggak senang, tapi nggak bisa, gitu ya.
Sekarang olahraga apa?
Yang pasti jalan kaki, pagi setelah shalat Subuh, tiap hari. Paling tidak empat kali seminggu. Kalau di rumah sama anak-anak saya sediakan meja ping-pong. Kadang main ping-pong. Yang lainnya sih nggak sempat lagi.
Suka musik?
Kalau musik mah, segala macam saya suka.
Termasuk memainkannya?
Memainkan alat musik ya… Begini, yang dikuasai betul nggak, tapi saya senang biola, flute, gitar. Bisa gembreng-gembreng gitu saja. Bagi saya, musik itu alat mendekatkan diri kepada Yang Maha Pencipta. Memang ada yang berkata musik itu haram, tapi kan tidak seluruh musik begitu. Contohnya begini, Paganini memainkan biolanya. Biola itu kan alat yang sederhana. Maksud saya, bahannya dari kayu, dawainya dari iron ware, bijih besi, mineral kan. Nah, itu bisa mengeluarkan bunyi yang indah. Itu kan harus disyukuri.
Saya jadi ingat dengan Surah Ali ‘Imrah ayat 190, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi ulil albab…” Jadi, jelaslah Allah tidak sia-sia menciptakan daun, kayu, iron ware. Iron ware itu kan bijih besi, lalu bisa diolah menjadi baja, besi beton, dan macam-macam. Jadi, musik itu alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
Pak Noe’man juga menekuni kaligrafi, kan. Bagaimana ceritanya?
Tentang kaligrafi ya, saya rasa artinya itu khatt. Itu sebetulnya menulis indah. Kita tahu kaligrafi itu bermacam-macam, katakanlah mazhabnya. Ada naskhi, thuluts, diwani, kufi, jali tsuluts, farisi… banyak sekali. Ada 12 macam, saya nggak hafal. Yang saya sukai naskhi dan tsuluts, kufi juga senang. Kufi itu kan geometris, kalau naskhi itu betul-betul mengikuti ujung pena yang dipotong ujungnya. Kalau dulu dari kayu, dari bambu, jadi kalau dimiringkan (sambil memperagakan) hingga datar, karakternya juga akan datar. Betapa disiplinnya kita kalau menulis kaligrafi. Tsuluts itu kan anatominya wau, sin, dhad, alif, proporsional begitu dengan huruf yang lain. Itu eksak lho. Jadi, bukan sekadar menulis saja. Itulah, saya senang, karena indah dan disiplin.
Mungkin karena dekat juga dengan arsitektur?
Ya, betul… Lebih-lebih kalau kufi. Itu lebih geometris, seperti arabesk. Saya coba, saya senang. Ada orang mengatakan bahwa itu menyimpang dari keharusan menulis. Menurut saya sih, nggak ada itu yang namanya keharusan menulis, menyimpang atau apa. Kita harus membedakan antara tulisan yang akan dibaca dengan lukisan yang dinikmati keindahannya. Ini karya seni, bukan karya tulis dalam arti untuk dibaca saja. Masa kita menyampaikan pesan tapi tulisannya nggak bisa dibaca, itu kan lucu. Kalau kita membuat kaligrafi, itu kan sudah masuk ke world of arts, karya seni. Di situ ada keterkaitan antara harmoni, keseimbangan. Begitu, kan?
Tak ada Pak Noe’man tanpa sikap optimis. Sikap positif ini tumbuh berkat keyakinannya yang dalam terhadap Tuhan. Inilah ungkapan ceritanya tentang dialognya dengan Tuhan.
Shalat itu penting sekali. Dialog-dialog kita, kalau kita perhatikan, menyebabkan kita merasa kecil. Mula-mula takbir, lalu iftitah, dan seterusnya. Setiap hari kita mengatakan, “Alhamdulillah rabb al-‘alamin. “ Allah menjawab, “Kamulah yang memuji-Ku.” Itu kan dialog, shalat itu kan bukan meditasi. Harus sadar. Ingatkan yang dicontohkan Nabi. Memejamkan mata saja tidak boleh, harus melihat ke tempat sujud.
Buat orang setingkatan saya, nggak tahu untuk tingkatan lainnya, saya selalu meringankan bahwa shalat itu bukan ekstase. Ringan sekali. Ya itu tadi, dialog dan sadar.
Pak Noe’man merasakan dampaknya terhadap kegiatan bisnis?
Ya. Itu kan kita bawa juga ke dalam bisnis. Artinya, insya Allah, saya tidak usah gentar mencari rezeki. Itu kan ada di Surah Ali ‘Imran ayat 134-135, kan.
Kalau kita membuat sesuatu dengan penuh kecintaan, itu akan mendorong karier kita. Jelas kita mau mencari keridhaan Allah, tapi kan dinilai orang juga tuh. Ingat kan dengan hadis, “Bila seseorang meninggal dunia, yang dapat dibawa hanyalah tiga perkara: amal jariah, anak yang shaleh, dan ilmu yang bermanfaat.”
Nah, kalau kita mengutak-atik alat elektronika, itu juga dalam rangka ibadah tho. Jadi, bukan hanya wirid saja yang termasuk ibadah. Makanya buat yang muda, nggak usah khawatirlah, Anda kan sudah disiapkan begitu lama. Pokoknya, kerjakan apa yang bisa dipegang, sekecil apa pun. Jangan pingin langsung saja.
Arsitek senior berdarah Jawa-Sunda ini menikah dengan seorang mojang Priangan, Aceu Kurniasih Natapermana. Mereka dikaruniai empat anak: Irvan, Nazar, Fauzan, dan Ilma.
Barang kali bisa bercerita, siapa yang banyak berpengaruh terhadap perjalanan hidup Pak Noe’man?
Begini, saya selalu menasihati anak-anak saya tentang yang satu ini. Agar nggak kecewa, kita kembalikan uswah itu kepada yang satu, jadi pelajari itu kehidupan Nabi Muhammad Saw. Anda bisa terapkan ke profesi apa pun. Dari ketangguhannya, dari kejujurannya. Sebelum membuka bukunya Robinson Crusoe atau siapa saja, dia mesti hapal dulu betapa beliau itu menerima cobaan, betapa menderitanya beliau waktu di Thaif dan dilempari batu, betapa beliau memiliki perasaan menahan marah dan akhirnya mencapai tingkat muttaqin. Itu kan cita-cita kita semua. Tercapai atau tidak, itu soal lain. Tapi, latihan untuk mencapai itu kan mesti ada. Jadi, bagi saya yang ideal itu ya cuma satu, Nabi Muhammad Saw. Di dalam sains dan teknologi kita bisa saja menilai karya-karya orang, tapi kan tidak utama.
Sudahlah, kita jangan punya idola, jangan deh… Nanti bakal kecewa. Biasa-biasa sajalah. Akhirnya kan bisa timbul konflik batin. Orang yang dikagumi kok ternyata begitu. Jadi, satu-satunya uswah hasanah ya itu tadi: Rasulullah.
Pak Noe’man termasuk arsitek yang produktif. Ada resepnya?
Bagaimana ya? Tiap manusia itu kan diberi Allah kemampuan untuk bisa kreatif. Di bidang kita masing-masing sebenarnya banyak yang bisa digarap. Nah, itu jangan dilewatkan begitu saja. Itu kan jenjang hari depan, juga jenjang kreativitas.
Kita memang harus berkreasi, menciptakan sesuatu yang bermanfaat ya untuk dirinya maupun lingkungannya, untuk kemanusiaan. Lebih-lebih latar belakang kita kan Agama. Agama itu menyuruh sekali, sangat menganjurkan kita kreatif. Misalnya, Surah Al-Baqarah ayat 148 itu, “…Maka, berlomba-lombalah kalian (dalam membuat) kebaikan.” Itu mestinya dipupuk sejak kecil.
Terus?
Nah, semuanya itu kan butuh proses. Semua Muslim mesti menggunakan segenap kemampuannya, dari ilmu yang kita timba. Akhirnya kembali juga ke hadis, “Tuntutlah ilmu sejak dari buaian hingga ke liang kubur”. Kaitannya antara belajar sepanjang hayat dengan proses kreatif itu dekat sekali. Makin banyak ilmu seharusnya makin kreatif. Lebih-lebih jika dilengkapi dengan iman dan amal saleh. Amal saleh itu boleh dikatakan kreativitas gitu ya.
Punya pengalaman menarik?
Oh, banyak, tapi ada satu yang mengesankan. Saya sudah cerita ya? Begini, anak saya itu kan kena musibah. Anaknya tinggi besar, lebih tinggi daripada saya. Saya tidak tahu kenapa mesti diberi cobaan seperti ini.
Dia itu kan kena glaucoma, yang biasanya menyerang orang tua dan bayi, bukan remaja seusia dia. Waktu itu umurnya baru 17 tahun. Kebetulan ada anak saya yang sekolah di Boston. Katanya, di Boston ada rumah sakit mata terkenal. Enam bulan sebelumnya saya pesan tempat. Lalu, berangkatlah saya, ibu, dan anak saya ke sana. Rumah sakitnya besar, ya soalnya penyakit mata kan macam-macam, ada katarak, ada trachoma… Sebelumnya sempat juga berobat ke Belanda.
Waktu menunggu, kita duduk di samping seorang ibu, orang Amerika. Sudah tua. Lalu, dia tanya, “Anda dari mana?” Kalau dari Indonesia nggak tahu, katanya. Akhirnya saya jawab, Bali. Nah, si ibu baru mengerti. Kenapa berobat jauh-jauh ke sini? Kebetulan kami ingin yang terbaik, jawab saya. Kami datang karena ingin berusaha memeroleh kesembuhan. Tahu-tahu dia pergi gitu, keliling. Terus nggak lama kemudian, dia balik lagi. Dia masukkan tangannya ke sini (Pak Noe’man menunjuk saku). Ternyata, dia itu keliling minta uang. Dia masukkan ke saku anak saya. Anak saya menolak, saya juga. “Nggak, saya tidak memberi tuan,” katanya. “Saya memberi anak tuan. Ini kan jauh dari negeri Anda.”
Nah, habis kejadian itu, saya mikir, betapa ya yang namanya mustahiq zakat itu kan ada delapan. Di antaranya musafir. Saya kan musafir, begitu toh? Kalau si ibu itu belajar agama kita, barang kali bisa cepat begitu ya, karena nalurinya sudah ada. Makanya, kita sebenarnya tidak boloeh mencemoohkan kafir segala macam. Saya merasakan betapa indahnya kejadian itu. Indah sekali.
Hari menjelang sore ketika kami pamit. Beliau hantarkan kami sampai ke pintu. Sementara di luar sudah menunggu dua orang rekanan Pak Noe’man. Sembari menyusuri Jalan Ganesa, dan sesekali menatap Masjid Salman ITB, terkesanlah keramahan Pak Noe’man. (Sumber: Majalah Kiblat, “Achmad Noe’man: Bagi Saya Ayatnya ya Kayu, ya Kerikil…”, Edisi No. 02, Thn. XXXVI, Jakarta, 13-26 Januari 1989).(arofiusmani.blogspot.com/)

Sunday, August 28, 2011

Munajat Akhir Ramadhan


“Ya Allah, doa apakah yang selayaknya kupanjatkan kepada-Mu di akhir bulan-Mu yang mulia ini? Sebelum ini, setiap siang dan malam, pelbagai doa telah kumohonkan kepada-Mu, sesuai dengan perintah-Mu, ‘Berdoalah kalian, niscaya akan Aku penuhi doa kalian.' Walau sejatinya Engkau sejak awal telah tahu dan tetapkan segala sesuatu yang paling tepat dan layak untuk setiap hamba-Mu,” gumam penulis tadi, di dini hari di rumah yang sangat sunyi. Sendiri.

Entah kenapa, dalam kesunyian yang benar-benar sangat sunyi tersebut, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Madinah. Kali ini, entah kenapa pula, yang membara dalam benak adalah sosok seorang sahabat yang santun dan berperilaku sangat lurus: Abu Bakar Al-Shiddiq. Lembaran sejarah Islam menorehkan, khalifah pertama dalam sejarah Islam (berkuasa antara 11-13 H/632-634 M) ini bernama lengkap ‘Abdullah ibn Abu Quhafah ‘Utsman ibn ‘Amir ibn ‘Umar ibn Ka‘b ibn Sa‘d ibn Taim ibn Murrah ibn Ka‘b ibn Lu’ayyi ibn Thalib ibn Fihr ibn Nadr ibn Malik at-Taimi al-Qurasyi, dengan nama ‘Abdul Ka‘bah. Sedangkan ibundanya, Ummu Khair Salma ibnti Sakhr, seorang wanita dari suku Quraisy. Ia lahir dua tahun setelah Tahun Gajah. Dengan kata lain, ia lebih muda dua tahun dari Rasul Saw., yakni lahir pada 573 M.

Khalifah yang berasal dari Bani Tamim ini telah menjadi sahabat karib Rasul Saw. sebelum beliau menjadi Nabi. Malah, beliaulah yang mengubah namanya menjadi bernama ‘Abdullah. Kemudian, ketika beliau diutus sebagai nabi, pedagang yang berbudi dan hidup berkecukupan ini menjadi pria dewasa pertama yang mengakui kedudukan beliau sebagai nabi. Keislamannya mendorong sejumlah tokoh Quraisy mengikuti jejak langkahnya. Di antara mereka adalah ‘Utsman ibn ‘Affan, Al-Zubair ibn Al-‘Awwam, Sa‘d ibn Abu Waqqash, dan ‘Abddurrahman ibn ‘Auf.

Ketika Rasul Saw. meninggalkan Makkah, pada malam hari 12 Rabi‘ Al-Awwal tahun pertama Hijrah yang bertepatan dengan 28 Juni 622 M, dan berhijrah ke Madinah, Abu Bakar dipilih beliau untuk menyertai beliau. Kemudian, ketika Rasul Saw. wafat, ia diangkat sebagai khalifah. Jabatan itu ia duduki melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Rasulullah saw wafat dan sebelum jenazah beliau dimakamkan. Itulah antara lain yang menyulut kemarahan keluarga Nabi Muhammad saw, khususnya Fathimah Al-Zahra’: mengapa mereka demikian terburu-buru mengambil keputusan tentang pengganti Rasul Saw. sebelum pemakaman dan tidak mengikutsertakan keluarga dekat beliau. Tetapi, penyelenggaraan pertemuan di Tsaqifah Bani Sa‘idah tersebut sejatinya tidak direncanakan terlebih dahulu. Sebaliknya, pertemuan itu berlangsung karena terdorong keadaan yang sangat genting.

Selepas Rasul Saw. dimakamkan di rumah ‘A’isyah, pada Selasa petang, menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid Nabawi, Abu Bakar Al-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang pertama di hadapan kaum Muhajirun dan kaum Anshar yang membentuk tiang agung kekuatan Islam kala itu. Dan, selama Abu Bakr menduduki jabatan khalifah, Islam kian mengepakkan sayapnya. Agama ini pun mulai memasuki kawasan yang berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi dan Persia. Namun, karena masa pemerintahannya yang pendek, perluasan ke arah kedua kawasan itu baru benar-benar terpancang kuat pada masa pemerintahan ‘Umar ibn Al-Khaththab.

Tokoh yang mendapat gelar “Al-Shiddiq”, karena membenarkan perjalanan Isra’ dan Mi‘raj yang dilakukan Rasul Saw., berpulang pada Senin, 22 Jumadil Akhir 13 H/22 Agustus 634 M, dengan meninggalkan enam putra-putri: ‘Abdullah (meninggal dunia pada tahun pertama kekhilafahan sang ayah), Asma’ (istri Al-Zubair ibn Al-‘Awwam), ‘Abdurrahman, ‘A’isyah (istri Rasul Saw.), Muhammad (gubernur Mesir pada masa pemerintahan ‘Ali ibn Abu Thalib), dan Ummu Kaltsum (lahir selepas Abu Bakar berpulang).

Nah, menjelang Abu Bakar Al-Shiddiq berpulang, sejumlah sahabat mendatangi sang khalifah yang kala itu sedang sakit. Selepas berbagi sapa sejenak dengan mertua tercinta Rasul Saw. itu, mereka kemudian berucap kepadanya, “Wahai khalifah Rasulullah saw. Bekalilah kami. Sesungguhnya kami melihat kemuliaan ada pada dirimu.”
“Wahai saudara-saudaraku,” jawab Abu Bakar Al-Shiddiq seraya menahan sakit. “Perlu kalian ketahui, barang siapa mengucapkan doa berikut dan kemudian ia mati, ruhnya akan berada di ufuk yang nyata.”
“Apakah ufuk yang nyata itu?” tanya mereka penuh rasa ingin tahu dan penasaran.
“Kawasan nyaman lagi menawan di depan ’Arsy. Di situ terdapat taman-taman Allah, sungai-sungai, dan pohon-pohon yang setiap hari dilimpahi seratus rahmat. Barang siapa mengucapkan doa berikut yang termaktub dalam kandungan pelbagai ayat-ayat Al-Quran ini, Allah Swt. akan menjadikan ruhnya di tempat itu:

Ya Allah, sungguh, Engkaulah yang memulai penciptaan tan¬pa keperluan bagi-Mu kepada mereka. Kemudian, Engkau ciptakan mereka menjadi dua kelompok, satu kelompok untuk surga dan satu kelompok untuk neraka. Karena itu, jadikanlah aku untuk surga dan janganlah Engkau jadikan aku untuk neraka.
Ya Allah, sungguh, Engkau ciptakan makhluk menjadi beberapa kelompok dan Engkau pilah-pilah mereka sebelum Engkau menciptakan mereka. Lalu, Engkau jadikan di antara mereka orang yang celaka, orang yang bahagia, orang yang sesat, dan orang yang memeroleh petunjuk. Karena itu, ya Allah, janganlah Engkau celakakan aku dengan pelbagai perbuatan maksiat kepada-Mu. Sungguh, Engkau mengetahui segala sesuatu yang di¬lakukan setiap jiwa sebelum Engkau menciptakannya. Karena tiada tempat lari dari segala sesuatu yang Engkau ketahui, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau tetapkan sebagai orang senantiasa taat kepada-Mu.
Ya Allah, sungguh, tiada seorang pun menghendaki sesuatu hingga Engkau kehendaki. Karena itu, sesuai dengan kehendak-Mu, jadikanlah aku menghendaki segala sesuatu yang dapat mendekatkan diriku kepada-Mu. Sung¬guh, Engkaulah yang menentukan setiap gerak hamba-hamba-Mu. Sehingga, tidaklah bergerak sesuatu pun kecuali dengan izin-Mu. Karena itu, jadikanlah segala ¬gerakku dalam takwa kepada-Mu.
Ya Allah, sungguh, Engkaulah yang menciptakan kebaikan dan kejelekan. Juga, Engkau jadikan bagi masing-masing dari keduanya orang-orang yang melakukannya. Karena itu, jadikanlah aku termasuk yang terbaik di antara dua bagian itu.
Ya Allah, sungguh, Engkau telah menciptakan surga dan neraka. Juga, Engkau jadikan penghuninya bagi masing-masing dari keduanya. Karena itu, jadikanlah aku termasuk penghuni surga-Mu, ya Allah! Sungguh¬, manakala Engkau menghendaki suatu kaum menuju kesesatan, maka Engkau sempitkan dada mereka karenanya. Karena itu, ya Allah, bukalah dadaku untuk menerima iman dan hiaskanlah iman dalam kalbuku.
Ya Allah, sungguh, Engkau mengatur segala sesuatu dan menjadikan tempat kembali mereka kepada-Mu. Karena itu, hidupkanlah aku selepas mati dengan kehidupan yang baik dan dekatkanlah aku kepada-Mu sedekat-dekatnya. Dan, walau ada orang-orang yang kala pagi maupun senja hari kepercayaannya dan ha¬rapannya adalah kepada selain Engkau, namun Engkaulah kepercayaan dan harapanku. Tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan-Mu, Amin
.”

Teringat doa Abu Bakar Al-Shiddiq tersebut, penulis menjadikan doa tersebut sebagai munajat di dini hari tadi. Kiranya Allah Swt. menerima doa yang indah tersebut, Amin ya Mujib Al-Sa’ilin.

Dan, sebagai penutup tulisan di bulan Ramadhan ini, sebagai manusia yang tidak luput dari kekurangan, kesalahan, kekhilafan, kealpaan, dan tindakan, sikap, dan ungkapan kata yang tidak menyenangkan dan menyakitkan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya dan “Allahumma Taqqabbal Shiyamana wa Ij‘alna min al-‘Aidin wa al-Faizin wa al-Maqbulin, Kullu Sanah wa Antum bi Khair, Selamat Id Mubarak”. (arofiusmani.blogspot.com/)

Saturday, August 27, 2011

Dicari: Orang yang Memiliki Sikap Berbeda


Tadi malam, selepas melaksanakan shalat tarawih, entah kenapa tiba-tiba dalam benak penulis membara hasrat untuk menulis. Tetapi, sayangnya, walau tangan masih cekatan “menari”, kedua mata penulis ternyata enggan diajak “menari” bersama. Karena itu, segera laptop pun penulis matikan. Nah, begitu laptop mati, ternyata ganti kedua mata itu yang begitu bersemangat “menari-nari” di antara deretan buku yang ada di rak buku. Selepas beberapa lama “menari-nari” di antara deretan buku, entah kenapa kedua mata itu tiba-tiba berhenti bergerak dan kemudian menatap tajam ke sebuah buku dengan judul Nasihat Al-Muluk, Nasihat kepada Raja-raja. Buku itu merupakan hasil goresan tangan seorang ulama, pemikir, dan sufi kondang di Masa Pertengahan, Abu Hamid Al-Ghazali.

Segera, benak penulis pun “melayang-layang”. Segera pula penulis teringat, buku itu merupakan hadiah dari seorang sahabat, seorang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta dan kandidat doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Buku yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia tersebut, menurut Dr. Jelani Harun dalam kata pengantar karya itu, masuk dalam genre “Mirror for Princess”. Lebih jauh Dr. Jelani Harun menyatakan, dari sisi sejarah genre “Mirrors for Princes” telah lama hadir dalam tradisi keilmuan Islam. Antara lain lewat karya seperti Kitâb Al-Sulthân, oleh Ibn Qutaibah, Kitâb Al-Tâj, oleh Al-Jahizh, dan beberapa karya lain.

Sementara menurut C.E. Bosworth, dalam tulisannya “An Early Arabic Mirrors of Princess: Tahir Dhul-Yaminain’s Epistle to His Son Abdallah (206 H/821 M)”, penulisan genre “Mirrors for Princes” dalam kesusastraan Arab telah bermula semenjak awal tahun 205 H/820 M, melalui karya Kitâb Al-Baghdâd oleh Ibn Thaifur. Pada 516 H/1122 M, karya “Mirrors for Princess” dalam tradisi Arab terus berkembang dengan kelahiran Sirâj Al-Mulûk oleh Al-Turthusi. Perkembangan genre “Mirrors for Princess” mencapai puncaknya sekitar abad ke-10 dan ke-11 M, melalui tiga karya Persia yang cukup terkenal, yaitu Siyasatnama/Siyâr Al-Mulûk (409-485 H/1018-1092 M) oleh Nizham Al-Muluk, Qabusnama (475 H/1082 M) oleh Kay Kaus bin Iskandar, dan Nasîhâh Al-Mulûk oleh Al-Ghazali (450-504 H/1058-1111 M).

Nah, berikut adalah salah satu contoh genre “Mirror for Princess” tersebut:

Resah dan gelisah, itulah kondisi batin Harun Al-Rasyid tidak lama selepas menjabat khalifah, atau orang nomor satu, Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak. Kala itu, selama berhari-hari, betapa ia senantiasa resah karena satu masalah yang mengganjal dalam hatinya: seorang ulama terkemuka dan mulia yang ia segani tidak kunjung menyampaikan ucapan selamat kepadanya, seperti halnya ulama-ulama yang lain. Alih-alih datang ke istananya. Padahal, sebelum menjabat khalifah, ia sangat akrab dan dekat dengan ulama yang satu itu. Tapi, kini, selepas ia menjadi penguasa, ulama yang bermukim di Kufah itu hilang seakan ditelan bumi dan tidak pernah bertandang kepadanya lagi. Ulama itu tidak lain adalah Sufyan Al-Tsauri.

Ulama yang sangat disegani Harun Al-Rasyid itu adalah seorang tabi‘in yang ahli hukum Islam dan sufi terkemuka pada abad ke-2 H/8 M. Lahir di Kufah pada 97 H/715 M, ia bernama lengkap Abu ‘Abdullah Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri Al-Kufi. Sesuai dengan tradisi yang berkembang kala itu, ia mula-mula menimba ilmu kepada ayahandanya. Usai mendapat “pembinaan” dari sang ayahanda, tokoh yang pernah menyatakan bahwa “barang siapa kikir dengan ilmu yang dimilikinya, sejatinya ia mengharapkan tiga petaka: lupa akan ilmunya, mati tanpa sempat memanfaatkan ilmunya, atau kehilangan buku-bukunya” ini lantas memperdalam ilmu kepada sejumlah ulama, antara lain kepada Al-Hasan Al-Bashri. Usai memperdalam ilmu kepada sejumlah ulama, namanya segera mencuat sebagai ahli hukum Islam yang berwawasan luas dan mandiri. Tidak aneh bila di bidang ini, nama ahli hukum yang menopang penghidupannya dengan berdagang ini dapat disejajarkan dengan para mujtahid terkemuka. Namun, ia tidak hanya seorang pakar di bidang hukum Islam semata. Ia juga terkenal sebagai seorang pakar hadis yang menuturkan banyak hadis. Tidak aneh, karena kepakarannya di bidang terakhir ini, ulama yang sangat berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah ini mendapat julukan “Amir Al-Mu’minin” di bidang hadis.

Atas saran pelbagai pihak, Harun Al-Rasyid akhirnya menulis sepucuk surat kepada Sufyan Al-Tsauri:

Bismillâhirrahmanirrahim.

Dari hamba Allah, Harun Al-Rasyid, Amir Al-Mukminin, kepada saudaranya, Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri.

Wahai saudaraku! Engkau tentu tahu, Allah Swt. telah mempersaudarakan di antara orang-orang beriman. Dia menjadikan hal yang demikian itu di jalan-Nya dan karena-Nya. Perlu engkau ketahui, aku telah mempersaudarkan diriku denganmu dengan tali persaudaran yang tidak akan kuputuskan selamanya dan kasih sayang yang timbul darinya tidak akan kupotong apa pun halnya. Kesenanganku berkumpul denganmu lebih tinggi daripada kesenangan dan keinginan terbaik. Andai tiada belenggu (jabatan) ini, yang dibebankan Allah Swt., tentu akan kudatangi tempatmu, karena rasa cinta yang terpancang kuat dalam hatiku kepadamu. Walau dengan merangkak sekali pun.

Wahai Abu ‘Abdullah! Ketahuilah, tiada seorang pun di antara teman-temanku dan teman-temanmu yang belum bertandang kepadaku untuk mengucapkan selamat kepadaku, karena jabatan yang kini kupangku. Aku telah membuka sejumlah bait al-mâl. Aku pun telah memberikan pelbagai hadiah kepada mereka. Semua itu begitu menggembirakan hatiku dan menyedapkan mataku. Sungguh, aku menanti kedatanganmu yang amat terlambat. Tapi, hingga pun kini, ternyata engkau tidak kunjung bertandang juga. Karena itu, kutulis surat ini kepadamu. Hatiku begitu rindu kepadamu.

Wahai Abu ‘Abdullah! Engkau tentu tahu ajaran agama perihal keutamaan orang beriman, kunjungannya, dan silaturahmi. Karena itu, manakala surat ini telah sampai kepadamu, segeralah bertandang kepadaku.

Wassalâmu ‘alaikum wa Rahmatullâh wa Barakâtuh.


Ketika menerima surat itu, dan mengetahui isinya, Sufyan Al-Tsauri, yang tidak mau menyentuh sama sekali surat itu, lantas berucap kepada orang yang membacakan surat itu, “Baliklah surat itu! Tulis jawabannya kepada orang zalim itu di baliknya!”
“Wahai Abu ‘Abdullah,” ucap seseorang yang hadir kala itu mencoba meredakan rasa tidak senang Sufyan Al-Tsauri kepada Harun Al-Rasyid selepas menjadi khalifah. “Ia seorang khalifah, lo. Bagaimana kalau jawaban itu ditulis di selembar kertas bersih yang belum ada tulisannya?”
“Tulislah jawaban kepada orang zalim itu di balik surat itu!” sahut ulama yang berpulang ke hadirat Allah di Makkah pada 161 H/778 M itu dengan suara melengking. “Bila kertas itu didapatkan dari harta halal, tentu amalnya akan dibalas Allah Swt. Sedangkan bila kertas itu didapatkannya dari harta haram, tentu ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Dan, tiada sesuatu pun yang disentuh orang zalim dan diserahkan kepada kita melainkan akan merusakkan agama kita!”
“Apakah yang kami tulis?”

Sufyan Al-Tsauri lantas mendiktekan sebagai berikut:

Bismillâhirrahmanirrahîm.

Dari hamba Allah yang berdosa, Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri, kepada seorang hamba Allah yang banyak berangan-angan dan mencabut manisnya iman seseorang, Harun Al-Rasyid.

Ammâ ba‘d. Sungguh, lewat tulisan ini kuberitahukan kepadamu, sejatinya silaturahmi denganmu telah kuputuskan. Juga, kecintaan kepadamu telah kupotong. Aku sangat tidak suka terhadap jabatan yang kini kaupangku. Engkau pun telah menjadikan aku sebagai saksi atas dirimu, dengan pengakuanmu atas dirimu dalam suratmu, dengan seranganmu terhadap bait al-mâl kaum Muslim. Engkau telah membelanjakannya di jalur yang bukan yang semestinya dan telah menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak selaras dengan ketentuannya. Kemudian, engkau merasa tidak senang dengan yang kulakukan, sedangkan engkau jauh dariku, hingga engkau torehkan surat kepadaku. Engkau jadikan aku saksi atas dirimu. Sungguh, aku telah bersaksi atas dirimu dan teman-temanku yang menyaksikan pembacaan suratmu. Kesaksian itu akan kami tunaikan atas dirimu. Kelak di hadapan Allah Swt.

Wahai Harun! Engkau telah menyerang bait al-mâl kaum Muslim tanpa kerelaan mereka. Akan relakah, akibat tindakanmu itu, para muallaf, para pejuang di jalan Allah, dan para musafir? Akan relakah, akibat tindakanmu itu, para pendukung Al-Quran, para ulama, perempuan-perempuan janda, dan anak-anak yatim? Akan relakah, akibat tindakanmu itu, khalayak ramai dari kalangan rakyatmu? Karena itu, wahai Harun, ikatlah kainmu! Sediakanlah jawaban untuk setiap pertanyaan.

Wahai Harun! Ketahuilah, engkau akan berdiri di hadapan Hakim Yang Mahaadil. Sungguh, engkau telah menanam bahaya terhadap dirimu sendiri. Ini, karena engkau telah meniadakan manisnya ilmu, kezahidan, kelezatan Al-Quran, dan pergaulan dengan orang-orang pilihan. Engkau relakan dirimu sendiri menjadi orang zalim dan panutan orang-orang zalim.

Wahai Harun! Kini, engkau duduk di atas kursi kebesaran. Engkau kenakan kain sutra. Engkau pasang tirai di pintumu. Engkau serupakan dirimu dengan Tuhan semesta alam dengan penjaga-penjaga yang mengawalmu. Kemudian, engkau tempatkan tentara-tentaramu yang zalim di pintu dan tiraimu. Walau mereka acap berbuat kezaliman kepada khalayak ramai, tapi mereka tidak kunjung insaf. Mereka memukul orang-orang yang menenggak minuman keras, padahal mereka sendiri juga menenggak minuman itu. Mereka menghukum orang yang berzina, padahal mereka sendiri juga para pezina. Mereka memotong tangan orang yang mencuri, padahal merela sendiri juga para pencuri. Apakah hukuman-hukuman itu tidak lebih layak ditimpakan atas dirimu dan diri mereka, sebelum engkau menghukum orang lain?

Wahai Harun! Karena itu, bagaimanakah engkau kelak, manakala dipanggil di hadapan Allah Swt, “Kumpulkanlah orang-orang zalim dan istri mereka! Manakah orang-orang zalim itu dan para penolongnya?” Lantas, pemanggil itu membawa dirimu di hadapan Allah Swt., sedangkan kedua tanganmu dibelenggu di lehermu. Tiada yang kuasa melepaskan belenggu itu selain keadilan dan keinsafanmu. Orang-orang zalim itu sendiri berada di seputarmu. Engkaulah yang mendahului mereka dan menjadi panutan mereka menuju neraka.

Wahai Harun! Seakan antara aku denganmu telah engkau tempatkan pencekik leher dan pelbagai halangan. Engkau lihat kebaikanmu dalam timbangan orang lain dan keburukanmu dalam timbanganmu. Karena itu, perhatikanlah pesanku ini. Ambillah pelajaran dari arahan yang kukemukakan kepadamu.

Ketahuilah, aku telah menasihati engkau dan tiada yang tersisa untuk tidak kukemukakan kepadamu. Takutlah kepada Allah, wahai Harun, dalam kaitannya dengan rakyatmu. Jagalah Muhammad Saw. dalam kaitannya dengan umatnya. Dan, baguskanlah kekhalifahan atas diri mereka.

Ketahuilah pula, manakala tugas ini ditetapkan atas diri orang lain, tentu tugas itu tidak akan sampai kepadamu dan menjadi hak orang lain. Ini bagaikan dunia yang penghuninya berpindah, satu demi satu. Di antara mereka ada yang mencari perbekalan yang bermanfaat. Tapi, ada juga yang merugi, baik di dunia maupun akhirat. Menurutku, wahai Harun, engkau termasuk yang merugi. Baik di dunia maupun akhirat. Karena itu, jagalah dirimu. Juga, jagalah dirimu agar tidak menulis surat lagi kepadaku selepas ini, karena tidak akan kujawab nanti.

Wassâlamu‘alaikum wa Rahmatullâh wa Barakâtuh.


Ketika surat itu diserahkan kepada Harun Al-Rasyid, penguasa itu segera membacanya penuh perhatian. Begitu membaca jawaban Sufyan Al-Tsauri itu, Al-Rasyid pun tidak kuasa menahan lelehan air matanya dan berkali-kali menarik napas panjang. Melihat hal itu, seorang pejabat yang hadir kala itu berucap kepadanya, “Wahai Amir Al-Mukminin! Betapa lancang Sufyan Al-Tsauri! Mungkin lebih baik engkau perintahkan agar ia menghadap kepadamu di sini. Lantas, setibanya di sini, belenggu dan jebloskan ia ke dalam bui yang sangat sempit. Biar menjadi pelajaran bagi orang-orang lain.”
“Tinggalkan aku, hai budak-budak dunia yang gemar memerdayakan orang lain!” hardik Harun Al-Rasyid. “Kasihan sekali orang-orang yang telah kalian binasakan! Sungguh, Sufyan adalah satu-satunya orang yang memiliki sikap berbeda. Biarkan dia dengan sikap dan tindakannya yang demikian itu!”

Surat itu kemudian senantiasa dibawa Harun Al-Rasyid dan dibacanya setiap kali usai melaksanakan shalat hingga ia berpulang. (arofiusmani.blogspot.com/)

Friday, August 26, 2011

Lo, Imam Al-Syafi'i Tidak Shalat Tahajjud?


“Alhamdulillah, buku-buku yang Anda kirimkan kepada saya telah sampai.” Demikian pesan penulis kemarin kepada seorang sahabat, seorang mahasiswa asal Cirebon yang sedang mengikuti program pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan sedang pulang ke Indonesia. Dua buku itu adalah dua buku menarik yang disusun dua ulama dan pemikir kondang dari Negeri Piramid: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Dr. Muhammad ‘Imarah. Dua ulama terkemuka itu memang terkenal sebagai pemikir-pemikir yang disegani di Dunia Islam. Buku pertama tentang “Lagu dan Musik Menurut Al-Quran dan Sunnah”. Sedangkan buku kedua tentang “Al-Bukhari dan Muslim, Dua Tokoh Hadits”.

Melihat dua karya penting tersebut, malam harinya penulis pun segera terasyikkan dalam menyimak dan mencermati kedua karya itu. Menyimak kedua karya itu, penulis kian tersadarkan, betapa Hukum Islam demikian luas. Dan, hukum itu tidak dapat dimengerti dan difahami dengan baik bila kita menggunakan “pandangan mata kuda”: pandangan picik yang melihat hukum itu dari aspek yang sempit. Mengenai lagu dan musik saja, hingga dikaji Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam 255 halaman, ternyata pembahasan para ulama dan pakar demikian mendalam dan luas. Dan, ternyata pula, para ulama dan pakar Hukum Islam telah semenjak lama telah membahas persoalan lagu dan musik.

Entah kenapa, ketika sedang asyik “menikmati” dua karya tersebut, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang”, teringat kisah memikat tentang dua raksasa di bidang Hukum Islam: Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Al-Syafi’i. Juga, pendekatan mereka dalam memahami dan memaknai kehidupan sehari-hari menurut ajaran Islam. Berikut kisahnya:

Betapa gembira hati putri Ahmad bin Hanbal hari itu. Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadis, hukum Islam, dan ilmu kalam yang juga salah seorang tokoh dari empat imam mazhab fikih. Bernama lengkap Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Al-Syaibani Al-Bashri, ia lahir di Baghdad pada Rabi‘ Al-Akhir 164 H/Desember 780 M. Lantas, ketika masih menyusu, ia dibawa ibundanya pindah ke Baghdad. Tokoh yang telah hapal Al-Quran sejak dini ini gemar merantau untuk memperluas wawasan keilmuannya. Di antara gurunya kala itu adalah Abu Yusuf, sejawat dan murid Abu Hanifah Al-Nu‘man. Guru-gurunya yang lain, antara lain, adalah Hasyim bin Basyir. Ia menjadi murid Hasyim bin Basyir hingga sang guru berpulang ke hadirat Allah Swt. pada 183 H/799 M. Selepas itu, ia belajar di bawah bimbingan Abu Yusuf. Bertolak dari Baghdad, pada 186 H/802 M, Ahmad muda lantas menapakkan kakinya menuju Bashrah. Dari sana, ia lalu menuju Kufah. Selanjutnya ia menuju Makkah dan kemudian ke San‘a, Yaman.

Tak aneh bila Imam yang satu ini memiliki sederet guru, antara lain ‘Abdullah bin Al-‘Abbas, Sufyan bin ‘Uyainah, Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan, Yazid bin Harun, Abu Dawud Al-Thayalisi, Waki‘ bin Al-Jarrah, Al-Hasan bin Ziyad, ‘Abdurrazzaq Al-Shan‘ani, dan Ibn Hammam. Selain itu, ia juga sempat bertemu dengan dan menimba ilmu dari Al-Syafi‘i, pengasas Mazhab Syafi‘i, di Makkah dan Baghdad. Dan, sejak 204 H/817 M, ia menetap di Baghdad sampai berpulang ke hadirat Allah pada Jumat, 12 Rabi‘ Al-Awwal 241 H/31 Juli 855 M. Di kota itu pula ia meniti kehidupannya untuk menebarkan ilmu, terutama ilmu hadis. Karena keluasan ilmunya, ia segera berhasil memikat banyak murid, antara lain para ahli terkemuka seperti Al-Bukhari, Muslim bin Al-Hajjaj, dan Abu Dawud Al-Sijistani.

Kegembiraan putri ulama yang kala berpulang meninggalkan sederet karya tulis, antara lain Al-Musnad, yang menghimpun sekitar tiga puluh ribu hadis, Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, ‘Ilal Al-Hadîts wa Ma‘rifah Al-Rijâl, Al-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah wa Al-Zanâdiqah, Fadhâ’il Al-Shahâbah, Kitâb Al-Shalâh wa Mâ Yalzam Fîhâ, Kitâb Al-Sunnah, dan Kitâb Al-Zuhd itu dipicu oleh kabar gembira dari sang ayahanda yang akan menerima kunjungan seorang guru yang acap ia bincangkan bersama sang putri. Sang putri tahu, ayahandanya acap menyanjung gurunya yang lahir di Gazza, Palestina itu, karena keluasan ilmu dan wawasannya. Karena itu, ia ingin tahu bagaimanakah sejatinya akhlak dan perilaku tokoh yang pernah menyatakan bahwa “perhiasan yang paling indah yang dikenakan ulama adalah kedamaian hati (qanâ‘ah), kepapaan, dan ridha” itu.

Benar saja, Al-Syafi‘i tak lama selepas itu datang berkunjung ke rumah Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ketika larut malam tiba, ulama yang berpulang Jumat, 30 Rajab 204 H/ 20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir meminta izin kepada tuan rumah untuk beristirahat. Selama Al-Syafi‘i beristirahat malam itu, putri Ahmad bin Hanbal sengaja begadang dan mengamati apa saja yang dilakukan tamu mulia ayahandanya itu.

Kemudian, pagi harinya, seusai melaksanakan shalat subuh, sang putri memberanikan diri bertanya kepada ayahandanya dengan suara lirih, “Wahai ayahanda! Benarkah dia Al-Syafi‘i yang acap ayahanda bincangkan tentang kebaikan dan ketakwaannya itu?”
“Benar, wahai putriku,” jawab sang ayahanda penasaran. “Dia memang adalah Al-Syafi‘i yang acap kubincangkan denganmu. Ada apa?”
“Wahai ayahanda,” jawab sang putri tetap dengan suara pelan. “Semalam, saya sengaja tak memejamkan mata. Betapa saya ingin sekali tahu perihal perilaku guru ayahanda yang satu itu. Sejak guru dan tamu ayahanda itu datang, saya senantiasa mencermati seluruh gerak dan lakunya. Ternyata, selama itu, saya mengamati tiga hal yang saya sayangkan terhadap diri guru dan tamu ayahanda itu. Ketika saya menghidangkan makanan, duh, ternyata ia lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan. Ketika ia sedang beristirahat, ternyata ia sama sekali tak melakukan shalat malam dan tahajud. Dan, ketika ia menjadi Imam shalat subuh tadi, ternyata ia tak berwudhu!”

Tentu, sang ayahanda kaget sekali dan sangat penasaran mendapat penjelasan dari putrinya tentang Imam besar yang dalam menetapkan hukum memadukan antara metoda Hijaz dan metoda Irak, yakni memadukan antara lahiriah teks-teks landasan hukum Islam dengan rasio, itu. Karena itu, selepas berbagi sapa beberapa lama, Imam yang salih dan hidup sederhana itu pun mengemukakan kepada Al-Syafi‘i perihal pengamatan putrinya.

Mendengar pertanyaan demikian, wajah Al-Syafi‘i tak menunjukkan rasa tak senang sama sekali. Malah, ia menjawab dengan wajah berbinar, “Wahai Imam Ahmad! Memang saya lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan tersebut. Ini karena saya tahu, makanan yang kalian sajikan adalah makanan yang halal dan baik. Engkau adalah seorang ulama mulia. Sedangkan makanan yang disajikan orang mulia dan halal adalah obat. Berbeda dengan makanan orang pelit yang malah dapat menjadi penyakit. Jadi, saya makan tidaklah untuk memuaskan selera makan saya. Tapi, saya makan untuk berobat dengan makanan yang disajikan semalam. Sedangkan berkenaan dengan malam yang saya lewatkan tanpa shalat malam atau tahajud, semalam seakan saya melihat Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. ada di depan mata saya. Sehingga, dengan merenungi keduanya, saya menemukan kesimpulan tujuh puluh dua masalah fikih yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Akibatnya, saya tak memiliki kesempatan untuk melaksanakan shalat malam. Dan, berkenaan dengan shalat subuh tanpa wudhu, sejatinya karena sepanjang malam saya tak tidur sama sekali dan tiada sesuatu pun yang membatalkan wudhu saya. Sehingga, saya shalat subuh dengan wudhu shalat isya.”

Betapa lega Ahmad bin Hanbal mendengar jawaban Al-Syafi’i tersebut yang tak selaras dengan pengamatan putrinya. Demikian pula putrinya yang mendengarkan penjelasan guru ayahandanya itu dari balik tirai. Malah, Ahmad bin Hanbal kemudian menekankan kepada putrinya bahwa hasil perenungan Al-Syafi’i yang bermanfaat bagi kemaslahatan kaum Muslim itu jauh lebih utama nilainya dibandingkan dengan shalat malam yang dilakukannya. (arofiusmani.blogspot.com/)