Monday, October 8, 2012


BERMIMPILAH DAN BERKELANALAH

"Ya Allah, ternyata tahun ini, Engkau memberikan kesempatan kepada hamba-Mu ini untuk menengok sejumlah kota di empat benua: Asia, Afrika, Eropa, dan Australia, dengan jarak sekitar 120 ribu kilometer," demikian gumam bibir saya seraya berdiri di pinggir dermaga Darling Harbour, Sydney, Australia, minggu lalu (maaf, sejatinya saya enggan menulis demikian, khawatir riya’). "Ya, Allah, hamba-Mu ini bukan pejabat, anggota DPR, ataupun orang yang Engkau karuniai harta melimpah. Tapi, mengapa Engkau tahun ini memberikan kesempatan kepada hamba-Mu ini menginjakkan kaki di empat benua?"

Berkelana memang sudah mendarah daging dalam diri saya.

Sejatinya, keinginan untuk berkelana, alias “ngluyur”, sudah tumbuh dalam diri saya ketika saya masih menjadi anak sekolah dasar di sebuah kota kecil di Jawa Tengah: Cepu. Meski kota kecil, kala itu kota itu cukup lengkap dengan prasarana dan sarana publik: kolam renang, gedung bioskop megah, lapangan sepak bola yang lengkap, perumahan megah dan indah, dan juga taman perpustakaan rakyat. Mungkin, karena kota di perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur itu kala itu masih menjadi tempat tinggal bule-bule Belanda yang mengendalikan perusahaan minyak BPM (Bataafsche Petroleum Matschappij).

Sebagai rakyat biasa dan ayah bukan karyawan BPM (ayah adalah seorang kiai yang juga pegawai di Departemen Agama), tentu saja saya tidak memiliki hak untuk menikmati prasarana dan sarana mewah tersebut di atas, selain Taman Perpustakaan Rakyat yang kala itu memiliki buku-buku bacaan yang sangat lengkap. Betapa saya kala itu mendambakan dapat menikmati prasarana dan sarana semua itu. Namun, saya hanya dapat “menikmati” semua prasarana dan sarana itu dari kejauhan. Tak aneh bila kerap kali rasa cemburu saya pun membuncah melihat nonik-nonik dan sinyo-sinyo yang sedang asyik menikmati semua prasarana dan sarana mewah tersebut.

Tidak memiliki kesempatan menikmati prasarana dan sarana mewah di tempat kelahiran saya itu, saya pun akhirnya menjadikan Taman Perpustakaan Rakyat sebagai pelarian. Nah, lewat buku-buku yang tersedia di taman perpustakaan itu, termasuk karya-karya Karl May, saya mulai mengenal pelbagai kawasan dunia. Entah kenapa, sejak itu, dalam benak saya mulai tumbuh keinginan untuk mengelilingi dunia, meski tidak tahu caranya. Saya pun mulai bermimpi dapat mengunjungi pelbagai kota di pelbagai penjuru dunia. “Mimpi” itu kian membuncah ketika keluarga saya pindah ke Blora. Di kota itu, saya memiliki seorang saudara angkat, keturunan Arab, yang memiliki buku bacaan yang sangat lengkap satu lemari besar: komik, kisah petualangan, kisah cowboy, dan novel. Rasanya, kala itu, saya mulai mencandu buku. Segala jenis buku saya baca dan mimpi saya untuk berkelana kian terbentuk. Di sisi lain, kala itu saya mulai mendalami bahasa Arab di pesantren di Kudus selama sekitar enam tahun.

Perjalanan selanjutnya mengantarkan saya ke Jogjakarta. Selepas empat tahun menimba ilmu dan memperdalam bahasa Arab di Pondok Pesantren Krapyak, di samping menimba ilmu di Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga, saya kemudian pindah ke daerah Sagan. Mengapa? Adik bungsu Ibunda saya, seorang mahasiswa Universitas Gadjah Mada yang merangkap jadi mahasiswa IAIN, mengajak saya untuk “menaklukkan dunia”. Ucapnya, “Ayo kita taklukkan dunia. Kita kan sudah menguasai bahasa Arab. Sekarang, sebaiknya kita menguasai bahasa Inggris. Dengan dua bahasa itu, bagaimana jika dik Rofi’ sebaiknya pergi ke Timur Tengah dan “menaklukkan” Universitas Al-Azhar. Sedangkan saya akan pergi ke Amerika Serikat. Saya ingin “menaklukkan” Universitas Harvard. Kan saya saat ini, selain bahasa Arab, sudah menguasai bahasa Perancis.”

Tentu saja tidak mudah untuk mewujudkan mimpi dan keinginan yang melambung tinggi tersebut. Apalagi kami berdua kala itu adalah para mahasiswa berkantong tipis. Di Sagan kami hanya mampu tinggal di sebuah tempat kos-kosan sangat sederhana. Tanpa listrik dan hanya memakai lampu teplok. Namun, keinginan kami untuk mendalami bahasa Inggris tak terbendung lagi. Kami pun memilih kursus bahasa Inggris di tempat kursus yang paling bergengsi kala itu: di Institut Keguruan dan Pendidikan Negeri Jogjakarta.

Untuk membiayai kursus mahal tersebut, kami berdua mulai menulis di media massa. Hasilnya lumayan: kami kian lancar menulis dan mampu membiayai kursus bahasa Inggris yang cukup mahal kala itu. Karena kami sangat bersemangat dalam usaha untuk menaklukkan bahasa Inggris, akibatnya di setiap jenjang hingga jenjang terakhir, advanced level, kami dengan bergantian menjadi juara level. Kemudian, setelah meraih gelar sarjana, Allah ternyata memberikan kesempatan kepada saya untuk memasuki Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Demikian pula mimpi paman saya pun terpenuhi: ia menerima beasiswa program pascasarjana di John F. Kennedy School, Harvard University, Amerika Serikat, salah satu sekolah paling prestisius di negara adikuasa tersebut. Luar biasa: mimpi kami benar-benar terwujud. Dan, lewat kelana tersebut, betapa banyak pengalaman dan ide kreatif yang kami dapatkan.

Selepas menapakkan kaki di Kairo, mimpi saya untuk keliling dunia kian terpicu oleh kisah-kisah petualangan. Khususnya karya seorang wartawan terkemuka Mesir kala itu, Anis Mansur, yang menuturkan kisah perjalanannya keliling dunia selama 200 hari. Juga, kisah petualangan Dr. Husain Fauzi ke Amerika Serikat dan Eropa. Kisah-kisah itu, ternyata, membangkitkan obsesi yang kuat dalam benak saya dan memicu saya untuk memelajari bahasa Perancis selama enam tahun di Mesir.

Karena itu, selepas kembali ke Tanah Air, hingga kini, setiap ada kesempatan, entah kenapa saya selalu ingin berkelana ke pelbagai negara yang belum pernah saya kunjungi. Alhamdulillah, entah kenapa pula, hingga kini Allah senantiasa memberikan kesempatan kepada saya untuk “ngluyur”. Dan, untuk tahun ini, kesempatan itu membuat saya mengunjungi sejumlah kota di empat benua dan menempuh jarak tidak kurang dari 120 ribu kilometer: Singapura, Kuala Lumpur, Dubai, Jeddah, Madinah, Makkah, Istanbul, Hong Kong, Shenzen, Macao, Kairo, dan Sydney.

Mungkin di sini timbul pertanyaan: kawasan manakah yang kini ingin saya kunjungi? Hal itu sejatinya pernah ditanyakan putri sulung saya, “Bapak, andai Mona memiliki rezeki dan dapat mengajak Bapak berkelana, ke kawasan mana yang ingin Bapak kunjungi?” Jawab saya pasti, “Alaska!”

Kiranya Allah Swt. memenuhi mimpi saya, amin.


Tuesday, August 14, 2012


JANGAN BERDUKA, DALAM DIRIMU 1000 BULAN BERKILAUAN

Tidak terasa, hari-hari bulan suci Ramadhan hampir rampung kita tapaki. Malam demi malam berbagai tindak kebaikan dilakukan. Sehingga, bulan yang sarat berkah ini terasa pendek sekali. Tiba-tiba di hadapan kita muncul hari kembali pada kesucian diri: Hari ‘Idul Fitri.

Menghadapi keadaan demikian, benak pun tercenung dan berpikir, “Apakah yang selayaknya dilakukan dalam mengisi lembaran baru kehidupan, selepas sebulan diri dalam tempaan?” Selepas lama termenung mencari jawab, ingatan pun melayang pada pesan-pesan Mohammad Iqbal, seorang penyair dan filosuf Pakistan.

Iqbal, dalam pesannya bagaimanakah sebaiknya kehidupan ditapaki, mengingatkan:

Hidup adalah kreatifitas dan semangat!
Pabila kau benar-benar hidup
Hiduplah penuh kreatifitas dan gairah!
Jelajah seluruh semesta alam!
Tumpas hingga tuntas segala yang nista

Lalu, cipta dunia barumu
Sebagai penjelmaan imajinasimu!
Bagi yang bebas
Sungguh membosankan
Untuk hidup di dunia ciptaan orang lain.

Bukan tidak mungkin dalam menapaki lembaran kehidupan baru itu, suatu saat kita berhasil merengkuh apa yang kita dambakan. Dalam keadaan demikian, kadang kita lupa dan kemudian menepuk dada serta mengatakan hal itu terjadi karena kita berasal dari ras tertentu. Dalam keadaan demikian itu, Iqbal mendamprat kita untuk tidak melakukan hal yang demikian:

Belajarlah menghargai dirimu, O Bocah!
Adakah kau Muslim? Enyahkan kebanggaan keturunan
Jika orang Arab melihat kulit dan darahnya
Katakan selamat tinggal selamanya

Disebut China, Melayu, Turki, atau Afghan
Kita ini milik sebuah taman besar
Lahir di musim semi itulah keluhuran
Membedakan warna adalah berdosa bagi kita

Tampaknya Iqbal kerap mengamati, kebanggaan diri dan perasaan pongah kerap timbul dalam diri kita, umat manusia. Malah, kebanggaan itu kadang dipamerkan kepada Tuhan:

Kau mencipta alam, aku mencipta lampu yang memendari
Kaubuat lempung, kubikin darinya cawan minuman
Kaubikin hutan liar, gunung, dan padang rerumputan
Kucipta kebun, taman, jalan, dan padang gembala
Kuubah racun berbisa jadi minuman segar
Akulah yang mencipta cermin cerlang dari pasir.

Wajar, bila sikap sombong dan pongah perlu disirnakan dari diri kita, selepas sebulan menempa diri. Apalagi, di depan kita terbentang hari-hari nan fitri. Kesediaan untuk memaafkan dan membuang perasaan benci semestinya kita miliki. Iqbal menghardik kita:

Jika kau tak memiliki
Kesanggupan memaafkan
Pergilah! Carilah pegangan
Bersama mereka yang menjerumuskanmu
Jangan rawat kebencian dalam hatimu
O, jangan buat madumu kecut
Mencampurnya dengan cuka.

Tetapi, Iqbal tidak hanya piawai menghardik saja. Ia juga pandai menghibur kita. Lewat puisinya “Bulan Baru ‘Id”, kita dihiburnya untuk tidak berduka ditinggalkan kekasih kita: bulan Ramadhan. Karena, di depan kita ada bulan baru ‘Id:

Bulan baru ‘Id
Tak dapat kauhindari
Mata nanar
Khalayak yang menantikan pandangmu
Seribu kerlingan
Diam-diam merangkai
Jaring untuk menangkapmu
Buka matamu
Pada dirimu: jangan berduka
Karena kau adalah rencana terbuka
Dalam dirimu
Berkilauan seribu bulan!

Untuk itu, mari kita buka lebar pintu kelapangan dada dan pintu kemaafan kita. Kepada siapa pun. Dan, “pada bulan fitri tahun ini, perkenankan kami, menyampaikan permohonan maaf, baik lahir maupun batin. Kiranya Allah menerima amal ibadah kita. Amin. Selamat Idul Fitri”. 

Monday, August 6, 2012


SEPATU DAHLAN ISKAN DAN MULLA NASRUDDIN HOJA

Kemarin, ketika membaca untuk kedua kalinya sebuah buku berjudul Sepatu Dahlan, yang menuturkan dengan memikat kisah kehidupan masa belia dan muda yang perih Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia saat ini, entah kenapa  benak saya tiba-tiba  “melayang-layang” ke Turki. Melayang-melayang ke Turki karena tiba-tiba teringat Mulla Nasruddin Hoja. Ya, teringat Mulla Nasruddin Hoja, seorang tokoh yang terkenal kocak ala si Kabayan van Jawa Barat.

Tentu Anda mengenal Mulla Nasruddin Hoja. Menurut kisah-kisah yang beredar, tokoh yang satu ini adalah seorang sufi jenaka yang kadang bertindak “kurang waras”. Padahal, menurut Dr. Muhammad Rajab Al-Najjar, dalam karyanya berjudul Juhâ Al-‘Arabî, mulla yang satu ini sejatinya bukan sosok yang “kurang waras” alias sangat bego. Sebaliknya, dia adalah sosok yang berusaha mendekati segala persoalan yang dia hadapi dari aspek-aspek yang paling dekat dengan kebenaran dan kenyataan. Karena itu, bagi orang-orang lain yang tidak menyukai kebenaran, sang mulla merupakan sosok yang kontradiktif. Tak aneh, bila Sultan ‘Abdul Hamid II, seorang penguasa Turki, pernah melarang beredarnya “kisah-kisah tentang Nasruddin Hoja”. Sang penguasa khawatir, kisah-kisah itu dapat membangkitkan perlawanan rakyat Turki terhadap penguasa. Utamanya, penguasa yang otoriter dan salah dalam mengurus negara dan rakyat.

Tentu Anda tahu pula gaya Dahlan Iskan. Ke mana-mana menteri yang satu ini kerap mengenakan sepatu kets. Nah, sepatu kets yang dikenakan Dahlan Iskan mengingatkan saya pada kisah Mulla Nasruddin Hoja berikut:

Suatu saat, Mulla Nasruddin Hoja mendapat undangan untuk menghadiri suatu perhelatan besar dan resmi. Menerima undangan kehormatan demikian, tentu saja dia menyatakan kesediaannya untuk hadir. Nah, ketika saat perhelatan itu tiba, dia pun pergi ke tempat perhelatan itu. Berbeda dengan tamu-tamu lain yang mengenakan busana yang mewah dan indah, dia datang dengan pakaian harian yang biasa ia kenakan.

Ternyata, setiba di tempat perhelatan itu, tidak seorang pun menaruh perhatian kepada Mulla Nasruddin Hoja. Malah, dia diperlakukan dengan tidak hormat. Pelayan-pelayan pun mengabaikan dia. Menengok kepada dia pun tidak. Malah, mereka tidak menyajikan hidangan apa pun kepadanya.

Menerima perlakuan demikian, Mulla Nasruddin Hoja kemudian dengan diam-diam menyelinap dari perhelatan tersebut. Tanpa seorang pun melihatnya. Lalu, dia pulang ke rumah. Setiba di rumah, ia segera mengganti pakaian yang dikenakannya dengan busana mewah nan indah: penuh pernik-pernik sangat mahal yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang pembesar dan bangsawan. Tidak lupa dia mengenakan sepatu yang mahal harganya, jubah sutra, dan serban indah dan tinggi menjulang. Kini, tampilannya laiknya seorang sultan.

Selepas mengenakan adi busana (haute couture) ala busana para model papan atas dari Paris, Perancis, Mulla Nasruddin Hoja kemudian balik ke tempat perhelatan tadi. Berbeda dengan sebelumnya, kedatangannya kali ini disambut dengan penuh kehormatan dan sanjungan. Malah, tuan rumah meminta sang mulla agar duduk di sampingnya, di tempat VVIP (very very important person). Segera pula, tuan rumah menyilakan Mulla Nasruddin untuk menikmati hidangan nan lezat. Menerima sambutan dan ajakan demikian, tiba-tiba sang mulla melukar busana kebesarannya dan meletakkan busana itu di dekat hidangan seraya berucap, “Suruhlah makan pakaian ini! Suruhlah dia makan!”
“Tuan Nasruddin! Apa maksud Anda?” tanya tuan rumah. Sangat kebingungan.
“Bukankah pakaian ini yang Anda hormati. Bukan saya!” jawab sang mulla.

Kisah Mulla Nasruddin Hoja di atas, juga kisah sepatu kets Dahlan Iskan, seakan menyentil kita, “Janganlah melihat seseorang dari tampilannya semata!” Atau barang kali Mulla Nasruddin Hoja maupun Dahlan Iskan sangat memerhatikan dan memraktikkan pesan Nabi Saw., “Innallâha la yanzhuru ilâ ajsâmikum walâ ilâ shuwarikum, walâkin yanzhuru ilâ qulâbikum. Allah tidak memperhatikan tubuh maupun tampilan kalian. Tetapi, Dia melihat kalbu kalian.” Barang kali!


Friday, August 3, 2012


MEMBURU MUKJIZAT NABI 'ISA A.S.

Siang kemarin, ketika melintasi Instalasi Gawat Darurat  rumah sakit tempat istri bekerja, dan melihat pasien-pasien yang sedang dilayani di instakasi tersebut, entah kenapa tiba-tiba saya teringat Nabi ‘Isa a.s. dan kisahnya bersama sekelompok orang yang memburu mukjizat sang Nabi.

Seperti diketahui, Nabi ‘Isa a.s. adalah seorang Nabi terakhir yang diutus kepada Bani  Israil. Sang Nabi  ini termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s. dan merupakan keluarga  dekat Nabi Zakariya a.s. Menurut Al-Quran, ia adalah putra Maryam,  seorang wanita suci yang penuh pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Wanita suci itu  melahirkan sang Nabi tanpa hubungan intim dengan laki-laki.  Selain  itu,  menurut  Kitab  Suci  tersebut,   ia diciptakan  Allah sebagaimana Adam a.s. diciptakan dari tanah  dan ia adalah kata-kata Allah dalam arti bahwa Allah mengatakan “Kun” dan  ia tidak berayah. Karena ia lahir tanpa ayah, kaum  keluarga ibunya  menuduh  Maryam  melakukan  perselingkuhan.  Tuduhan  ini lantas dijawab langsung 'Isa yang masih orok.

Nabi  yang disebut sekitar 25 kali di dalam Al-Quran ini  diutus khusus  untuk  meluruskan  Bani Israil yang  telah  tersesat  dari ajaran  agama mereka. Namun, mereka tidak menghiraukan  petunjuk  dan pengajarannya,  meski  ia  telah  memberikan  berbagai   landasan kebenarannya  sebagai  Nabi. Antara lain dengan  menunjukkan salah salah satu mukjizatnya: menghidupkan kembali orang yang telah mati.

Alkisah, suatu hari, Nabi ‘Isa a.s. berkelana di gurun pasir bersama sekelompok orang.  Mereka pun segera tahu, ternyata sang Nabi memiliki kemampuan luar biasa untuk menghidupkan kembali orang  yang telah mati. Melihat kemampuan sang Nabi yang demikian, mereka pun “ngiler”. Mereka kemudian mendesak sang Nabi untuk menularkan mukjizatnya. Utamanya, mereka mendesak sang Nabi untuk mengajarkan mukjizatnya yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati. Didesak demikian, sang Nabi pun berucap, “Saya khawatir, bila mukjizat itu saya ajarkan kepada kalian, kalian akan menyalahgunakannya.”

Karena itu, sang Nabi menolak mengajarkan mukjizat itu kepada mereka. Tetapi, mereka kemudian senantiasa mendesak dan memaksa sang Nabi untuk mengajarkan mukjizat tersebut. Menghadapi desakan dan paksaan yang demikian, sang Nabi akhirnya berucap, “Baik, mukjizat itu akan saya ajarkan kepada kalian. Namun, perlu kalian ketahui, sejatinya kalian benar-benar tidak layak memelajari mukjizat tersebut!”
Sang Nabi kemudian mengajarkan kepada mereka mukjizat tersebut. Usai memelajari mukjizat tersebut, mereka kemudian meninggalkan sang Nabi dan pergi ke tempat yang sepi untuk memraktikkan mukjizat tersebut. Ketika berada di tempat sepi tersebut, mereka melihat setumpukan tulang belulang putih. “Ayo kita praktikkan mukjizat ini,” ucap salah seorang di antara mereka.

Begitu mukjizat itu dipraktikkan, tiba-tiba tulang belulang itu berubah menjadi sekawanan singa galak. Dan, singa-singa itu pun segera memburu, mencabik-cabik, dan memangsa mereka.

Suatu pelajaran indah diajarkan sang Nabi, “Janganlah memburu sesuatu yang diri kita sendiri sejatinya tidak layak menerimanya. Termasuk jabatan. Akibatnya, sesuatu itu akan mencabik-cabik dan memangsa kita!”

Tuesday, July 31, 2012


USTADZ, MENGAPA SHALAT SEBAGAI TIANG AGAMA?

“Ustadz,” tanya seorang jamaah pengajian Sabtu pagi di rumah, minggu lalu, “mengapa shalat yang dikatakan sebagai tiang Agama (Islam). Kok bukan puasa, zakat, atau ibadah haji?”

Entah kenapa, menerima pertanyaan yang memikat tersebut, saya teringat jawaban seorang ulama terkemuka Mesir atas pertanyaan yang sama. Ketika masih menimba ilmu di Mesir, saya suka mengikuti ceramah yang disampaikan ulama yang satu itu, setiap kali sang ulama memberikan ceramah di tivi. Wajahnya tampak memendarkan kedamaian dan kebahagiaan. Gaya ceramahnya sangat menawan: popular, berisi, dan mencerahkan. Tidak aneh bila rating ceramah yang disampaikan ulama yang satu itu meraih nilai “jempol”. Apalagi ketika ulama tersebut sedang memberikan ceramah tentang Tafsir Al-Quran. Indah sekali ceramah-ceramahnya.

Siapakah ulama tersebut?

Ulama yang setiap kali tampil senantiasa mengenakan jubah berwarna putih itu bernama lengkap Syeikh ‘Abdurrahim Muhammad Mutawalli Al-Sya‘rawi. Ulama yang satu ini lahir di Daqadus,  Daqahliyyah, pada  Rabu,  19 Rabi‘ Al-Akhir 1329 H/19 April  1911  M,  dalam lingkungan yang  saleh  dan  berkecukupan. Pendidikan   pertamanya  ia  lalui  di  kuttâb,   suatu   sistem pendidikan  tradisional untuk menghapal Al-Quran yang  dilakukan di  masjid.  Pada  1349  H/1930  M  ia  melanjutkan   pendidikan menengahnya di Zaqaziq, di sebuah sekolah yang berafiliasi dengan Al-Azhar.  Enam tahun kemudian, selepas merampungkan  pendidikan menengah di Zaqaziq, ia menapakkan kakinya di Kairo.

Di  kota yang telah berusia lebih dari seribu tahun ini  pengagum Ahmad Syauqi, penyair terkemuka di Mesir, ini memasuki  Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar. Selama menjadi mahasiswa,  ia dikenal  sebagai  aktivis.  Ia  pernah  memimpin  gerakan  protes terhadap rektornya yang dianggap bertanggungjawab atas  rendahnya gaji  para alumni yang menjadi pengajar di Al-Azhar. Sang  rektor akhirnya  dicopot dan gaji para pengajar pun naik.  Pendidikannya di  universitas Islam tertua di Dunia Islam  ini  dirampungkannya pada 1360 H/1941 M. Di antara para guru besar Al-Azhar yang besar pengaruhnya  selama ia meniti pendidikan ini ialah  Syaikh  Ahmad Yusuf  Najati, Syaikh Ahmad ‘Imarah, Syaikh Ibrahim Hamrusy,  dan Syaikh Muhammad Musthafa Al-Maraghi.

Usai  merampungkan  pendidikan tinggi pada 1360  H/1941  M,  Al-Sya‘rawi  muda  lantas  meniti karier sebagai  guru  di  Thantha, Zaqaziq,  dan Iskandariah. Lantas, pada awal 1950-an, ulama  yang sangat  memikat  ketika berceramah ini bermukim  di  Arab  Saudi selama  beberapa  tahun.  Di  negeri  ini  ia  giat  menulis  dan berceramah, di samping menjadi staf pengajar di Universitas  Raja ‘Abdul ‘Aziz. Baru pada 1380 H/1960 M ia kembali  ke  negerinya untuk  menduduki  beberapa jabatan di Kementerian Wakaf  dan  Al-Azhar. Namun, pada 1386 H/1966 ia kembali meninggalkan negeri dan menapakkan kakinya ke Aljazair. Di negeri terakhir ini ia  lebih banyak mencurahkan waktunya di bidang dakwah Islamiah.

Pada awal tahun 1970-an ulama yang terkenal dermawan ini  menetap kembali  di Arab Saudi selama beberapa tahun dan bekerja  sebagai guru   besar  di  lingkungan  Universitas  Raja  ‘Abdul ‘Aziz. Kemudian,  tepatnya  pada 1396 H/1976 M,  Presiden  Anwar  Sadat memintanya  balik  ke negerinya, untuk menjabat  sebagai  Menteri Wakaf,  di samping menjadi penceramah. Karena keluasan  ilmu  dan wawasan  yang ia kemukakan dalam tulisan dan ceramahnya,  namanya segera berpendar. Tak aneh bila karena ilmu dan wawasannya  yang luas  itu ia kemudian diangkat sebagai ketua panitia konsultatif Bank Sentral Mesir.

Dalam  perjalanan  hidup selanjutnya ulama  yang  juga  membangun Kompleks  Medis  Al-Sya‘rawi  ini  ikut  berperan  aktif  dalam berbagai kegiatan keislaman, termasuk ikut mendirikan sebuah bank Islam di Austria dan memelopori berdirinya bank Islam di  tanah airnya,  Mesir. Dan, ulama yang ikut menghadiri Konferensi  Asia-Afrika  di Bandung pada 1955 ini berpulang kepada  Sang  Pencipta pada  Rabu, 22 Shafar 1419 H/17 Juni 1998 M, dalam  usia  87 tahun, dengan meninggalkan sederet karya tulis. Karya-karyanya tersebut, antara lain, adalah Fî Al-Hukm wa Al-Siyâsah, Al-Tharîq ilâ Allâh, Hâdzâ Hua Al-Islâm, Al-Islâm wa Harakât Al-Hayâh, dan Mu‘jizât Al-Qur’ân.

Nah, bagaimanakah jawaban sang ulama atas pertanyaan di atas?

Menjawab pertanyaan yang demikian, Syeikh ‘Abdurrahim Muhammad Mutawalli Al-Sya‘rawi, memberikan jawaban yang menawan, “Shalat menjadi tiang agama karena shalat merupakan rukun yang tidak dapat digugurkan selamanya. Ini karena shalat memadukan semua rukun itu. Karena itu, ketika seseorang melaksanakan shalat, sejatinya ia juga mengucapkan dua kalimat syahadah, yaitu tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah. Juga, pada saat melaksanakan shalat, ia berpuasa dalam pengertian ia menahan makan dan minum, termasuk menahan berbicara. Demikian pula shalat lebih luas cakupannya dalam menahan diri daripada puasa. Ketika seseorang Muslim melaksanakan shalat, sejatinya ia juga menahan diri dari banyak hal yang kadang masih dapat dilakukan seseorang yang sedang berpuasa. Misalnya, dalam puasa ia tidak dilarang bergerak ke mana pun ia melangkah kedua kakinya. Sedangkan dalam shalat, ia dilarang bergerak selain gerakan-gerakan yang diwajibkan ketika ia sedang menghadap Allah Swt. Dengan kata lain, shalat mempunyai cakupan menahan diri yang lebih luas daripada ketika seorang mukmin menahan diri karena berpuasa.

Zakat, seperti diketahui, adalah mengeluarkan sebagian harta. Harta itu diperoleh manusia melalui gerakan dan kerja. Gerakan dan kerja tersebut menyita sebagian waktu. Ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, sejatinya ia juga melaksanakan zakat, karena ia telah meluangkan waktunya sebagai wadah gerakan dan kerja. Malah, dalam shalat terkandung makna zakat yang lebih luas. Melaksanakan ibadah haji ke Baitullah juga terkandung dalam shalat. Ini karena setiap kali seseorang Muslim melaksanakan shalat, ia menghadap ke arah Baitullah sebagai kiblat.

Oleh karena itu, shalat berbeda dengan rukun-rukun Islam lainnya. Mengapa? Lembaran sejarah menorehkan, shalat tidak diwajibkan melalui wahyu, tapi diwajibkan langsung antara Allah Swt. dan Muhammad Saw. Karena kedudukan yang tinggi ini, Allah Swt. memperingatkan kita supaya kita melaksanakan shalat di mana pun kita berada. Malah, Allah Swt. juga mewajibkan shalat khusus yang disebut shalat harb (shalat dalam keadaan berperang) dan shalat al-khauf (shalat ketika dalam keadaan ketakutan). Sehingga, tiada seorang pun yang akan menyatakan bahwa perang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat. Malah, dalam perang setiap Muslim lebih diutamakan untuk tetap konsisten dalam melakanakan ajaran Tuhan.”

Indah sekali jawaban itu!