Tuesday, February 12, 2013


TELADAN

Merupakan kebiasaan saya nyaris setiap hari (kecuali ketika dalam keadaan letih), manakala sedang berada di rumah, dini hari sekitar pukul tiga pagi saya telah terjaga dari tidur. Setelah bangun, saya senantiasa membiasakan diri shalat malam (mohon maaf, tidak bermaksud pamer alias riya’), membuka jendela-jendela dan pintu-pintu rumah, dan kemudian menulis, menulis, dan menulis hingga menjelang waktu shalat Shubuh tiba. Alhamdulillah, dengan kebiasaan yang demikian, hidup terasa bermanfaat, nyaman, dan sehat.

Entah kenapa, dini hari tadi, ketika sedang menikmati suasana di luar rumah dari balkon di rumah, tiba-tiba dalam benak saya muncul pertanyaan, “Dari manakah kebiasaan yang baik dan indah ini?”

Ternyata, kebiasaan yang demikian itu dengan tidak sadar saya teladani dari tiga kiai. Yang pertama, dari KH. Ahmad Zein Dahlan (ayah saya, seorang kiai di Kota Blora, Jawa Tengah). Ayah saya ini memiliki kebiasaan: setiap hari, sekitar pukul tiga pagi telah terjaga dari tidur. Setelah terjaga, ayah lalu mandi (demikian setiap hari), kemudian melaksanakan shalat malam, dan kemudian membuka semua jendela dan pintu rumah. Selepas itu, ayah menuju masjid untuk melaksanakan shalat  Shubuh sebagai Imam shalat. Seusai melaksanakan shalat Shubuh, ayah lantas mengajar para santri. Yang kedua, KH. Abu Ammar, seorang kiai di Kota Kudus, Jawa Tengah. Ketika sedang menimba ilmu di pesantren beliau, nyaris setiap hari saya melihat beliau sekitar pukul tiga pagi telah terjaga dari tidur. Setelah melaksanakan shalat malam, beliau lantas menulis, menulis, dan menulis hingga waktu shalat Shubuh tiba. Seperti halnya ayah, seusai melaksanakan shalat Shubuh, beliau juga lantas mengajar para santri. Yang ketiga, KH. Ali Maksum, seorang kiai di Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Seperti halnya ayah dan KH. Abu Ammar, nyaris setiap hari beliau telah terjaga dari tidur pada pukul tiga pagi. Setelah mandi dan melaksanakan shalat malam, beliau lantas mengelilingi seluruh penjuru pondok pesantren untuk mengajak para santri melaksanakan shalat  Shubuh berjamaah. Seusai melaksanakan shalat Shubuh, seperti halnya ayah dan KH. Abu Ammar, beliau lantas mengajar para santri hingga pukul enam pagi.

Yang menarik, tiada satu pun di antara ketiga kiai itu yang suka menggembar-gemborkan kebiasaan mereka yang baik dan indah itu. Tetapi, mereka tidak jemu-jemunya memberikan teladan dan contoh dengan tindakan dan perbuatan yang nyata. Nyaris setiap hari. Hasilnya luar biasa: kebiasaan itu pun “menular” tanpa dipaksakan kepada para santri.

Menyadari hal itu, selepas shalat Shubuh hari ini, saya pun berdoa, kiranya Allah Swt. memberikan balasan kepada tiga kiai tersebut, atas jasa mereka dalam memberikan teladan yang baik dan indah tersebut.

Hikmah: penanaman nilai-nilai yang luhur lebih efektif dengan teladan yang nyata. Bukan dengan ucapan. 

Friday, December 7, 2012


BERBUAT YANG TERBAIK, MENGAPA TIDAK?

Rrrrrrr…. Rrrrrr…. Rrrrr….”

Tiba-tiba suara berisik demikian itu “mewarnai” suasana di tempat tinggal kami, di Baleendah, Kab. Bandung, beberapa waktu yang lalu. Kian lama suara itu kian kencang. Saya yang sedang asyik di depan laptop, di lantai dua rumah kami, di Pondok Pesantren Mini Nun Learning Center, pun segera turun ke lantai satu. Ohoi, ternyata, Pak Apo, petugas kebersihan di lingkungan pondok pesantren, sedang asyik memotong rumput dengan mesin pemotong rumput yang telah berusia senja. Saya lihat, Pak Apo begitu asyik “menari-nari” dengan mesin tua itu. Bidang demi bidang di pelbagai sudut pondok pesantren yang ditumbuhi rumput pun menjadi bersih, rancak, dan indah.

Ketika sedang “bermain-main” dengan mesin pemotong rumput, saya lihat Pak Apo begitu asyik dengan pekerjaannya. Bila bahasa kaum sufi dapat dipakai di sini, dapat dikatakan ketika sedang memegang mesin pemotong rumput Pak Apo sedang dalam keadaan “trance” alias majdzûb. Lupa segala-galanya dan yang dia lakukan adalah “menari”, “menari”, dan “menari” dengan mesin pemotong rumput yang ada di tangannya. Dengan cara kerja yang demikian, tidak aneh jika dalam waktu tidak lebih dari tiga jam seluruh sudut pondok pesantren, dengan luas sekitar 1.700 meter persegi, pun menjadi bersih dan indah kembali. Memang, meski hanya sebagai seorang petugas kebersihan, namun Pak Apo dapat dikategorikan sebagai orang yang ketika bekerja dia senantiasa bekerja dengan hatinya dan sepenuh hati. Tanpa mengharapkan pujian. Hasilnya luar biasa:  setiap pekerjaan yang dia lakukan menghasilkan hasil yang patut diacungi jempol.

Entah kenapa, ketika melihat Pak Apo sedang mengalami “ekstase” dengan pekerjaannya, tiba-tiba saya teringat kejadian di awal tahun 1980-an di Universitas Kairo, Mesir. Sore itu, selepas mengikuti bimbingan seorang supervisor tesis master saya, Prof. Dr. Ahmad Shalaby, seorang pakar sejarah dan kebudayaan Islam terkemuka di Mesir, tiba-tiba memanggil saya, “Ahmad (di Mesir, saya dipanggil dengan nama tersebut, bukan dipanggil Rofi’, karena nama pertama saya memang Ahmad), dua buku yang kamu terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia telah diterima sebuah penerbit di Singapura. Mereka memuji hasil terjemahanmu.”
“Terima kasih, Prof. Tapi, terjemahan yang saya lakukan masih banyak kekurangannya,” jawab saya.
“Ahmad,” tiba-tiba sang profesor bertanya, “tahukah kamu Prof. Dr. A.J. Arberry?”

Menerima pertanyaan demikian, sejenak saya kebingungan. Untung, beberapa waktu sebelumnya saya sudah membaca sebuah buku yang menuturkan perjalanan hidup supervisor saya tersebut, dengan judul Hayâtî. Karena itu, tidak lama kemudian saya menjawab, “Ya, saya sedikit tahu tentang Prof. Dr. A.J. Arberry, supervisor profesor ketika sedang mengambil program doktor di Universitas Cambridge, Inggris.”

A.J. Arberyy, siapakah tokoh yang ditanyakan supervisor saya itu?

A.J. Arberry, atau lebih lengkapnya Arthur John Arberry, adalah seorang orientalis terkemuka  yang  pakar tasawuf  dan  sastra  Persia. Orientalis yang satu ini lahir  di  sebuah  desa  kecil, Fratton,  Portmouth,  Inggris pada Jumat, 7 Rabi‘ Al-Awwal  1323 H/12  Mei 1905 M. Setelah merampungkan pendidikan menengahnya  di Grammar  School,  di tempat kelahirannya, putra  seorang  perwira Angkatan  Laut  Inggris  ini lantas  memasuki  Pembroke  College, Universitas Cambridge. Di universitas terkemuka itu, ia bertemu dengan  Reynold A.   Nicholson, seorang orientalis terkemuka,   yang  kemudian  banyak   mengarahkan Arberrry  untuk mempelajari  bahasa Arab dan Persia. Malah, Arberry kemudian  menjadi pengganti sang mahaguru yang juga pakar di bidang tasawuf.

Pada 1350 H/1931 M Arberry melakukan perjalanan ilmiah ke Kairo, Mesir. Di "Kota Seribu Menara" itulah ia bertemu dengan seorang mahasiswi  Romania,  Sabrina Simons, yang  kemudian  disuntingnya menjadi istrinya. Lima tahun kemudian, pada 1355 H/1936 M,  gelar doktor ia raih dari almamaternya. Segera langkah-langkah pastinya dalam  menapaki kajian tentang tasawuf dan satra  Persia  kian terentang  jauh.  Dan,  segera pula  lahir  sejumlah  karya-karya ilmiahnya di bidang tersebut.

Karier Arberry pada tahun-tahun berikutnya kian berpendar. Pada 1364  H/1944 M, misalnya, ia diangkat sebagai guru  besar  bahasa Persia  di Oriental and African Studies School, menggantikan  V.F Minorsky.  Lantas, dua tahun kemudian, ia diangkat  sebagai  guru besar  bahasa Arab. Lalu, tahun berikutnya, ia  diangkat  sebagai guru  besar  kursi  bahasa  Arab  di  almamaternya,   Universitas Cambridge, menggantikan C.A. Storey.  Perjalanan hidup selanjutnya guru besar yang terkenal santun  ini diwarnai dengan berbagai kegiatannya dalam meneliti, menulis, dan menerjemahkan  karya-karya yang menjadi bidang kajiannya,  sampai ia  meninggal dunia di Cambridge, pada Kamis, 20 Rajab 1387  H/2 Oktober 1969 M. Karya-karyanya, antara lain, adalah  Specimens of Arabic  and Paleography, Revelation and Reason in Islam,  Aspects of Islamic Civilization, Sufism: An Account of Mystics of  Islam, dan The Koran Interpreted.

“Prof, ada apa dengan Prof. Dr. A.J. Arberry?” saya kemudian balik bertanya. Sangat penasaran.
“Ahmad,” jawab Prof. Dr. Ahmad Shalaby,  “kerap kali ketika kita menilai para tokoh orientalis atau para ilmuwan Barat, kita terjebak dalam usaha untuk senantiasa mencari kesalahan dan kelemahan mereka. Kita langka sekali berusaha mengetahui dan memahami aspek-aspek positif yang mereka miliki. Prof. Dr. A.J. Arberry, misalnya. Saya sejatinya sangat mengagumi cara kerja ilmiah beliau. Mengapa? Beliau adalah seorang ilmuwan yang sangat cermat dan teliti. Ketika beliau menerjemahkan karya-karya dari bahasa Persia atau bahasa Arab, misalnya, dan beliau merasa kurang sreg dengan terjemahan satu kosakata, beliau bisa berhari-hari tidak beranjak dari kosakata itu hingga menemukan terjemahan yang paling tepat. Juga, ketika menulis sebuah buku, beliau sangat teliti dan cermat sekali. Hal-hal positif yang demikian itu sebaiknya juga kamu lakukan ketika kelak kamu menjadi seorang ilmuwan, penulis, atau penerjemah. Malah, juga ketika kamu bergerak di bidang-bidang lain. Berbuatlah sebaik mungkin di bidang apa pun yang kamu geluti dan tangani.”
“Prof, terima kasih sekali atas nasihat yang indah tersebut. Insya Allah saya akan melaksanakan nasihat tadi,” sahut saya dengan perasaan sangat gembira.

“Berbuatlah  yang terbaik. Di mana pun dan kapan pun”, pesan indah yang demikian itulah sejatinya yang menjadi pesan Pak Apo dan Prof. Dr. A.J. Arberry, lewat tindakan cermat dan teliti yang senatiasa mereka lakukan. Betapa indah pesan itu. Akan lebih indah lagi bila kita dapat melaksanakan pesan indah itu. Di bidang apa pun yang kita kerjakan dan tekuni. Tentu saja, di bidang dan usaha yang positif dan bukan negatif.  Pesan yang indah tersebut sejatinya juga pernah disampaikan Rasulullah Saw. “Sungguh, sejatinya Allah senang bila hamba-Nya beramal dengan amal yang terbaik.” Karena itu, semestinyalah kita berbuat yang terbaik, di bidang apa pun yang kita tekuni, dengan mengharap ridha Allah Swt.!

Monday, November 26, 2012


ANAK-ANAK DAN SEPAK BOLA 

Tadi malam, selepas menonton pertandingan sepak bola antara Indonesia melawan Laos, entah kenapa tiba-tiba saya teringat pertemuan antara para guru dan karyawan Taman Kanak-Kanak Sekolah Alam Gaharu dengan kami selaku Pengurus Pondok Pesantren Mini Nun Learning Center yang membawahi TK tersebut. Menjelang pertemuan berakhir, istri (yang memimpin pertemuan itu) memberikan kesempatan kepada Pak Apo, seorang petugas kebersihan di Ponmin, untuk berbicara, "Pak Apo. Barang kali ada masukan atau keluhan yang perlu disampaikan?"
"Kepala saya saat ini sedang pusing, Ibu...," jawab Pak Apo.
"Kenapa?"
"Beberapa hari yang lalu Ibu meminta saya melarang anak-anak Taman Pendidikan Al-Quran, yang mengaji di sore hari, main sepak bola di halaman belakang tempat ini. Sedangkan Bapak (maksudnya saya) mengizinkan mereka main sepak bola di sini. Perintah siapa yang saya ikuti?"

Mendengar keluhan yang demikian, istri pun berpaling ke arah saya dan berucap, "Mas, tolong dijawab keluhan Pak Apo itu!"
"Pak Apo," jawab saya, "tentu tahu, Ibu kerap pulang dari kerja di rumah sakit malam hari. Ibu jarang melihat anak-anak main sepak bola. Nah, beberapa hari yang lalu, Ibu pulang dari rumah sakit siang hari. Melihat keriuhan anak-anak main sepak bola di halaman belakang, Ibu khawatir mereka dapat merusak tanam-tanaman yang sudah ditanam dan dipelihara dengan susah payah. Sedangkan saya hampir tiap hari melihat mereka main sepak bola. Ternyata, mereka cukup disiplin: mereka tidak pernah mengganggu tanam-tanaman yang ada di sini. Malah, dengan diberi izin main sepak bola di sini, mereka malah rajin mengaji."
"Jadi, anak-anak tetap boleh main sepak bola?" tanya Pak Apo.
"Ya, biarkan mereka main sepak bola," jawab saya. "Besok sore, saya akan bicara lagi dengan mereka."

Hari berikutnya, ketika anak-anak itu sedang main sepak bola, mereka kemudian saya minta berkumpul. Setelah mereka berkumpul, saya lantas bertanya kepada mereka, "Kalian masih ingat pesan Ustadz beberapa bulan yang lalu?"
"Masih, Ustadz," jawab mereka serempak. "Kami boleh main sepak boleh di halaman ini dengan syarat: kami tetap menjaga tanam-tanaman yang ada. Juga, kami harus membuang sampah di tempat yang disediakan."
"Bagus, mengapa demikian?" tanya saya kepada mereka.
"Untuk menjaga lingkungan, Ustadz. Biar lingkungan kita bersih dan tidak banjir," jawab salah seorang di antara mereka.
"Bagus," komentar saya. "Kini, Ustadz mau tanya kepada kalian, 'Mengapa kalian suka main bola?'"
"Biar sehat, Ustadz," jawab salah seorang di antara mereka
"Melatih sportifitas dan menumbuhkan sikap fairplay, Ustadz," jawab Ihsan, salah seorang di antara mereka.
"Melatih kerja sama, Ustadz," jawab salah seorang anak.
"Habis di sekolah gak ada tempat untuk bermain sepak bola, Ustadz," jawab seorang anak yang paling muda usianya.
"Bagus sekali jawaban kalian...."
"Jadi, kami sekarang boleh main sepak bola lagi?" tanya mereka.
"Ya, kini silakan kalian bermain kembali sepak bola."
"Horeee...."

Itulah anak-anak: jujur, sportif, dan berbicara apa adanya. Mereka belum terkontaminasi "penyakit" yang kerap menerpa orang-orang dewasa. Mungkin, kita kini perlu belajar kepada anak-anak dan tidak memandang sebelah mata kepada mereka. Mungkin!

Wednesday, November 21, 2012


Palestinian Diaspora

Pak Rofi’, ceritalah barang sedikit tentang bangsa Palestina. Biar kami tahu sedikit tentang perjuangan mereka!”

Demikian bunyi salah satu pesan singkat yang masuk ke telpon genggam saya. Menerima permintaan demikian, tiba-tiba kenangan ketika masih menimba ilmu di Universitas Kairo pada awal 1980-an pun “melayang-layang” dalam benak saya. Tiba-tiba dalam benak saya “terpampang” bayang-bayang beberapa teman mahasiswa  asal Palestina. Kala itu mereka, selepas berkenalan dengan saya, kerap mengajak berbincang tentang pelbagai hal. Mereka, kala itu, merupakan bagian dari “Palestinian Diaspora”, alias orang-orang Palestina di perantauan. Mereka termasuk para mahasiswa Palestina yang mendapatkan kesempatan menimba ilmu di pelbagai perguruan tinggi di Mesir. Tentu saja, mereka menimba ilmu di Negeri Piramid itu gratis. Tidak hanya itu. Mereka juga memiliki dua paspor: paspor Palestina dan paspor Mesir. Kelompok Palestinian Diaspora inilah sejatinya yang sangat ditakutkan Israel.

Mengapa Israel sangat khawatir dengan Palestinian Diaspora?

Seperti diketahui, sejak 1948 hingga dewasa ini, pelan tapi pasti, Israel kian menggerogoti kawasan yang asalnya milik bangsa Palestina. Demikian halnya, setiap kali diperlukan, Israel dengan arogannya kerap memporak-porandakan kawasan yang dihuni orang-orang Palestina di wilayah Palestina. Namun, sejatinya Israel tahu, bangsa Palestina adalah bangsa yang terkenal liat dan tangguh. Bukan saja dalam perjuangan militer dalam menghadapi Israel. Tapi, justru yang paling berat adalah di medan lain.

Seperti halnya bangsa Yahudi, yang selama ribuan tahun hidup sebagai Jewish Diaspora, banyak orang-orang Palestina yang kini “meneladani jalur kehidupan” bangsa Yahudi. Dan, bangsa Palestina juga terkenal sebagai bangsa yang sangat tangguh dan liat dalam menjalani hidup sebagai Palestinian Diaspora. Pada 1983, misalnya, ketika saya masih di Mesir, jumlah doktor Indonesia baru sekitar 1.500 orang. Sedangkan jumlah doktor Palestina di perantauan kala itu telah mencapai sekitar 3.000 orang. Padahal, mereka hidup di pengasingan. Nah, mengapa hal itu terjadi?

Menyadari posisi mereka yang menderita di negeri sendiri, mereka kemudian mencari solusi dengan hidup di perantauan.  Salah satu jalur yang mereka pilih untuk mempertahankan kelangsungan hidup mereka adalah dengan berjuang sebaik mungkin di bidang-bidang yang strategis di pelbagai kawasan dunia di luar Palestina. Untuk meraih keberhasilan tersebut, mereka pun berjuang untuk meraih pendidikan yang terbaik dan tertinggi yang disedikan bagi mereka. Di samping itu, mereka juga menyiapkan diri untuk menguasai pelbagai posisi strategis di bidang ekonomi dan bisnis di pelbagai kawasan Timur Tengah khususnya. Ternyata, perjuangan mereka benar-benar membuahkan hasil yang positif. Mereka kini berhasil menempati pelbagai posisi strategis di bidang perekonomian dan bisnis kawasan Timur Tengah. Di sisi lain, banyak para ilmuwan Palestina yang bertebaran di pelbagai penjuru dunia. Termasuk di Eropa dan Amerika Serikat.

Nah, karena pernah menjadi sebagai Jewish Diaspora, para penguasa Israel sangat sadar adanya kekuatan yang sangat menakutkan di hadapan mereka: Palestinian Diaspora. Bagi para penguasa Israel, lebih gampang bagi mereka untuk memporakporandakan kawasan Palestina ketimbang menghadapi Palestinian Diaspora yang bertebaran di pelbagai kawasan dunia. Yang paling ditakutkan Israel adalah manakala Palestinian Diaspora ini bersatu padu membentuk kekuatan bersama menghadapi Israel. Dewasa ini, jumlah Palestinian Diaspora sekitar 9-11 juta orang. Tentu dapat dibayangkan, bila hal itu terjadi, betapa sangat berat tantangan yang dihadapi Israel. Israel pun menyadari, pertempuran dengan Palestina akan berlangsung lama dan sangat melelahkan. Dan, bukan tidak mungkin, suatu ketika, Israel akan mengalami nasib seperti yang dialami Palestina saat ini: menjadi bulan-bulanan.  

Thursday, November 15, 2012


Makna di Balik Hijrah Rasul Saw. 
Peristiwa hijrah dalam sejarah Islam, tentu kita semua tahu. Lembaran sejarah Islam menorehkkan, hijrah adalah peristiwa perpindahan Rasulullah Saw.  dari Makkah ke Yatsrib: sebuah kota sekitar 430 kilometer di sebelah utara Makkah yang kemudian namanya diubah menjadi Madinah. Sejatinya, di antara para sejarawan Muslim tiada kesepakatan tentang tanggal  yang pasti  kedatangan beliau ke Madinah. Namun, yang  banyak  diikuti adalah pendapat yang menyatakan kedatangan beliau ke Madinah itu terjadi pada Jumat, 12  Rabi‘ Al-Awwal 1 H. Hari Senin sebelumnya, 8  Rabi‘ Al-Awwal, beliau  tiba  di  Desa Quba’ dan mendirikan sebuah  masjid  di  sana. Tanggal  12 Rabi‘ Al-Awwal tahun itu bertepatan dengan 24 September  622 M.

Sejatinya,  Rasulullah  Saw.  berat  meninggalkan  kota  kelahiran beliau. Sebab, meski beliau memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan  kesucian yang tidak tertandingi, tetapi beliau  tetap  mencintai kota   kelahirannya.  Hijrah  terpaksa   dilakukan,   karena mayoritas  masyarakat Makkah kala itu tidak mau  menerima  ajaran Allah Swt. yang disampaikan melalui Rasul-Nya. Mereka menolak  ajaran itu karena tidak mengerti atau membenci beliau.  

Kini, apakah makna di balik Peristiwa Hijrah tersebut?

Hijrah, menurut Tariq Ramadan dalam sebuah karyanya berjudul In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the life of Muhammad, “pada dasarnya merupakan realitas yang harus dihadapi orang beriman yang tidak memiliki kebebasan untuk memraktikkan keyakinan mereka dan memutuskan untuk mengakhiri hubungan secara baik demi keyakinan mereka. Karena ‘bumi Tuhan sangat luas’, seperti yang dinyatakan dalam Al-Quran, mereka memutuskan untuk meninggalkan tanah kelahiran mereka, memutuskan diri dari semesta dan kebiasaan mereka, dan menjalani pengasingan. Semua itu semata demi keyakinan mereka.

Wahyu yang turun kemudian memuji keberanian dan keteguhan orang-orang beriman yang telah menunjukkan kepercayaan mereka kepada Tuhan dengan mengambil langkah sulit dan berisiko itu. Firman Allah Swt., “Dan orang-orang yang  berhijrah karena dan untuk Allah, sesudah mereka dizalimi, pasti Kami  akan memberikan  tempat dan posisi yang baik kepada mereka  di  dunia. Dan  sesungguhnya  pahala di akhirat adalah lebih  besar,  kalau mereka mengetahui.” (QS Al-Nahl [16]: 41).

Dengan demikian, sejatinya pengasingan merupakan bentuk lain dari ujian keimanan. Semua Nabi pun telah mengalami ujian semacam itu. Juga, semua orang beriman setelah mereka. Nah, sejauh manakah mereka kuasa melaksanakannya, sejauh manakah mereka siap menyerahkan jiwa dan raga mereka untuk Yang Maha Esa, kebenaran, dan cinta-Nya? Semua itu merupakan pertanyaan abadi keimanan yang mengiringi setiap pengalaman temporal dan historis dalam kesadaran orang beriman. Hijrah merupakan salah satu jawaban masyarakat Muslim pada masa-masa awal kehadiran mereka. Dengan kata lain, pengasingan juga menuntut kaum Muslim awal agar selalu belajar untuk tetap setia terhadap makna ajaran Islam di tengah perubahan tempat, budaya, dan memori. Madinah berarti budaya baru, jenis hubungan sosial baru, peran yang seluruhnya baru bagi perempuan (yang secara sosial jauh lebih terlibat daripada di Makkah), dan ikatan komunitas antarsuku yang lebih kompleks.”

Berkenaan dengan makna hijrah tersebut, Ibn Qayyim Al-Jauziyyah berpendapat,  hijrah dapat  dipilah  menjadi dua.  Pertama,  hijrah  fisik,  berupa  perpindahan  fisik,  baik personal  maupun  massal, dari suatu daerah  ke  daerah  lainnya. Dalam  konteks  ini, ‘A’isyah binti Abu Bakar  Al-Shiddiq,  tercinta istri Rasulullah  Saw. menuturkan  sebuah  hadis  bahwa sesudah  Penaklukan Makkah tiada lagi hijrah dan yang ada  adalah jihad dan niat. Kedua, hijrah hati  nurani.  Hijrah jenis  terakhir ini bukan saja memerlukan sekadar  perpindahan  fisik, tapi juga memerlukan perpindahan orientasi niat  dan  aktivitas hati, dengan perpindahan menuju kecintaan dan keridhaan Allah dan Rasul-Nya. Perpindahan orientasi itu hendaknya dilakukan   dengan   meninggalkan   berbagai   aktivitas    yang berkategori  syubhat, maksiat, maupun kategori  negatif  lainnya. Menurut  Ibn Qayyim Al-Jauziyyah, hijrah terakhir itulah  hijrah yang  hakiki: prinsip dan fondasi  dasar  dalam berhijrah. Sedangkan aktivitas fisik adalah ikutannya saja.

Kini, dengan datangnya kembali tahun hijriah, kiranya kita dapat mengambil pelajaran dari makna di balik Peristiwa Hijrah dan memraktikannya. Kiranya demikian.