Friday, March 22, 2013


Al-Buthi, Siapakah Ulama yang Satu ini?

Sedih, itulah suasana hati saya begitu membaca berita tentang berpulangnya kemarin seorang ulama terkemuka Suriah yang satu ini, Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi, dalam peristiwa bom yang meledak di lingkungan Masjid Umawi, Damaskus. Mengapa sedih? Lepas dari pemikiran politik yang beliau dukung, beliau tidak hanya seorang ulama kondang semata. Tetapi, beliau juga seorang penulis produktif sejumlah karya tulis ilmiah yang berbobot. Dewasa ini, di Dunia Islam, tidak mudah menemukan seorang ulama terkemuka yang juga seorang penulis yang berbobot seperti beliau. Apalagi, beliau sejak dahulu terkenal memiliki akhlak yang indah.

Siapakah Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi?

Ulama  dan pemikir Muslim terkemuka asal Suriah ini lahir pada 1348 H/1929 M di sebuah desa Turki, Jilika, di Pulau Butan (dalam bahasa  Arab disebut  Jazirah Ibn ‘Umar), Anatolia Barat. Putra semata  wayang seorang  ulama  berdarah Kurdi yang juga seorang  penjual  buku, Mulla Ramadhan Al-Buthi, ini pindah ke Damaskus, Suriah pada 1353 H/1934  M,  bersama keluarganya yang menghindar  dari  penindasan pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk. Di kota baru tersebut mereka bermukim  di  Distrik Ruknuddin yang  warganya  sebagian  besar berdarah Kurdi.

Di kota yang pernah menjadi ibukota pemerintahan Dinasti Umawiyyah itu,  Al-Buthi muda memperdalam ilmu. Antara lain  kepada  Syaikh Hasan Habannakah Al-Midani dan Syaikh Al-Maradini di Masjid  Raya Manjak  di Al-Midan. Di sisi lain, tatkala berusia 18  tahun,  dia dinikahkan  ayahandanya  dengan adik perempuan istri  kedua  ayahandanya. Usai  menimba  ilmu  di  Suriah, Al-Buthi muda  lantas  memperdalam  ilmu  di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Selepas  menimba ilmu di Negeri Piramid pada 1376 H/1956  M,  Al-Buthi  meniti  karier sebagai guru. Lantas, pada 1381  H/1961  M, tatkala  Universitas  Damaskus  membuka  Fakultas  Syariah,   dia direkrut  sebagai  staf pengajar di bidang  perbandingan  mazhab, akidah, dan sîrah. Karier ilmiahnya kian berpendar  selepas dia  berhasil meraih gelar doktor dari Universitas  Al-Azhar  pada 1385  H/1965  M.  Jabatan yang dia pangku,  antara  lain,  adalah sebagai Dekan Fakultas Syariah, Universitas Damaskus.

Selain  itu, Al-Buthi juga meluangkan sebagian waktunya untuk  menyusun sejumlah karya tulis. Karya-karya tulisnya, antara lain Dhawâbith Al-Mashlahah fî Al-Syarî‘ah  Al-Islâmiyyah,  Fiqh  Al-Sîrah  Al-Nabawiyyah   ma‘a Mu‘jaz li Târîkh Al-Khulafâ’ Al-Râsyidah, Kubrâ Al-Yaqîniyyât  Al-Kauniyyah,  Muhadharât fî Al-Fiqh Al-Muqârin, Min Al-Fikr wa  Al-Qalb,  Minhâj Tarbawî Farîd fî Al-Qur’ân, Al-Islâm  wa  Musykilât Al-Syabâb, Al-Insân wa ‘Adâlah Allâh fî Al-Ardh, Min Rawâ’i‘  Al-Qur’ân,  Minhâj Al-‘Audah ilâ Al-Islâm,  Al-Salafiyyah:  Marhalah Zamâniyyah  Mubârakah  ilâ Madzhab Islâmî, Hiwâr  Haula  Musykilât Hadhâriyyah,  Minhâj Al-Hadhârah Al-Insâniyyah fî Al-Qur’ân,  Al-Jihâd  fî Al-Islâm, Qadhâyâ Fiqhiyyah Mu‘âshirah, dan  Al-Dîn  wa Al-Falsafah.

Mengiringi kepulangan Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi ke hadirat Allah Swt., saya hanya dapat mengiringinya dengan doa, “Allahumma ighfir lahu warhamhu wa‘âfihi wa‘fu ‘anhu wawassi‘ madkhalahu waj‘al al-jannnata matswâhu.” Kiranya Allah Swt. menerima amal-amal beliau dan mengampuni dosa-dosanya, amin.

Monday, March 4, 2013


Kisah 2 Potong Celana Panjang Baru

Perjalanan, bagi saya, senantiasa menyajikan berbagai pengalaman baru. Baik apakah berupa sajian ilmu, pengalaman, maupun ide baru. Nah, dalam perjalanan terakhir (ke Arab Saudi, Turki, dan Dubai), antara 15 sampai dengan 26 Februari 2013 yang lalu, ada suatu pengalaman kecil yang menarik buat saya: kisah dua potong celana baru saya.

Dapat dikatakan, saya adalah manusia “jadul” (jaman dulu). Selama ini, saya tidak pernah terpikat untuk mengenakan celana jeans atau celana jadi. Seperti halnya dalam hal memotong rambut, saya pun jarang berganti penjahit celana panjang. Sejak tinggal di Kota Bandung, sejak 1984, dapat dikatakan ketika membuat celana saya tidak pernah berpindah dari seorang penjahit di Jalan Sukajadi, Bandung. Sang penjahit  sampai hapal ukuran celana saya. Karena itu, ketika menjelang bertolak menuju Timur Tengah pada pertengahan bulan lalu, saya menjahitkan dua potong kain untuk dibuat celana, hanya dalam dua hari dua potong celana itu telah siap. Saya menyiapkan dua potong celana itu karena celana-celana yang lain sudah “berusia senja”.  Dalam perjalanan ke Timur Tengah itu, saya membawa empat celana: dua celana lama dan dua celana baru.

Kemudian, apa yang terjadi dengan dua potong celana baru itu?

Selama di Arab Saudi, dalam perjalanan itu saya senantiasa didampingi para sahabat dari Madura. Mereka adalah para sahabat yang begitu tulus dalam melakukan tugas yang harus mereka laksanakan. Atas bantuan mereka, tugas yang saya emban selama di Tanah Suci pun menjadi terasa ringan. Nah, ketika berada di Makkah, dan ketika sedang rehat di hotel, seorang sahabat dari Sampang, sebut saja Sahih namanya, tiba-tiba mendekati saya dan berucap, “Ustadz, selama bermukim selama 10 tahun di Makkah, Sahih belum pernah menemukan penjahit celana yang pas. Saat ini, celana-celana Sahih sudah usang semua. Selama beberapa hari ini saya perhatikan, celana-celana baru yang Ustadz kenakan tampaknya kok enak dikenakan. Bolehkah saya mencoba celana-celana itu. Kalau cocok, saya akan pesan beberapa potong celana. Lewat Ustadz?”
“Silakan dicoba, Mas Sahih.”

Oh, ternyata ketika kedua celana baru itu dikenakan Mas Sahih, dua celana itu pas sekali dengan ukuran tubuhnya. Betapa gembira hatinya begitu Mas Sahih tahu hal yang demikian itu. Dan, sambil melukar salah satu celana itu, dia berucap pelan, “Ustadz, bagaimana jika dua celana baru ini untuk Sahih. Ustadz bikin saja celana-celana baru begitu tiba di Bandung nanti?”

Begitu mendengar ucapan Mas Sahih yang demikian, sejenak saya tercenung dan bingung. Sebab, perjalanan saya masih panjang. Saya masih akan meneruskan perjalanan menuju Turki dan Dubai. Padahal, saat itu, salah satu dari celana lama saya dalam keadaan kotor dan hari berikutnya saya akan meneruskan perjalanan menuju Istanbul. Tentu, selama dalam perjalanan selanjutnya, satu celana bersih saja tidak cukup. Tapi, segera, saya abaikan semua pertimbangan itu dan menjawab, “Silakan, ambil saja kedua celana itu.”
Betapa gembira Mas Sahih mendengar jawaban saya demikian. Dia pun segera memegang tangan saya dan menciuminya berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, Ustadz. Saya doakan, perjalanan Ustadz senantiasa di bawah lindungan Allah Swt. Juga, Ustadz dan keluarga senantiasa dikaruniai keberkahan dan kemudahan, amin…”

Mendengar ucapannya yang tulus tersebut, saya hanya dapat mengaminkan saja. Dan, alhamdulillah, Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan dalam perjalanan saya selanjutnya. Juga, mengaruniakan limpahan karunia yang jauh lebih berharga dan bernilai daripada kedua celana baru saya tersebut.

Hikmah: jadilah selalu pemberi, kapan pun dan di mana pun, dengan hati yang ikhlas. 

Thursday, February 28, 2013


Sebuah Jam Tangan: Kisah Sebuah Cinta yang Hilang

Sejak kecil, hingga setelah menikah, entah kenapa saya tidak pernah mengenakan jam tangan. Baru ketika istri saya naik haji, pada 1989, sebagai oleh-oleh dari Tanah Suci, dia membelikan saya sebuah jam tangan merk Citizen. Sebuah jam tangan tipis, ringan, dan enak dikenakan. Merk jam tangan yang dibeli istri sama dengan dua jam tangan yang dibeli paman saya dan istrinya yang tinggal di Denpasar, Bali untuk kedua putranya. Betapa gembira saya menerima hadiah istimewa dari Tanah Suci tersebut, meski harganya tidak mahal. Harga jam tangan itu hanya 90 riyal Arab Saudi.

Ternyata, selama sekitar 24 tahun kemudian, jam tangan itu senantiasa menyertai saya ke mana pun saya pergi, meski saya kemudian mendapat hadiah sebuah jam tangan lain dari istri saya. Ke mana pun saya pergi, tetap jam tangan “tempo doeloe” itu yang menyertai saya. Rasanya, jam tangan yang selalu tepat waktu itu telah menyatu dengan diri saya. Selama itu pula, jam tangan itu tidak pernah pernah “mogok”. Selama itu pula, saya tidak pernah berkeinginan mengganti jam tangan itu, meski saya melihat banyak di antara para sahabat saya yang suka mengenakan jam tangan yang “wah”.

Lantas, minggu lalu, ketika berada di Makkah, dan ketika saya bertemu dengan saudara sepupu saya di sebuah hotel di depan Masjidil Haram, dan selepas berbincang beberapa lama, tiba-tiba saudara sepupu saya tersebut menyapa saya, “Mas Rofi’! Awet sekali jam tangan yang Mas Rofi’ kenakan. Bukankah jam tangan ini seangkatan dengan dua jam tangan yang dihadiahkan Bapak dan Ibu kenapa naik haji kepada saya dan kakak laki-laki saya.  Jam saya dan jam tangan kakak saya sudah lama rusak lo.” “Ya,” jawab saya dengan perasaan bangga, “memang jam tangan saya ini seangkatan dengan dua jam tangan tersebut.”

Namun, mungkin karena perasaan bangga tersebut, kemudian apa yang terjadi. Ketika selepas dari Istanbul dan tiba di Dubai International Airport dua hari yang lalu, dan kemudian ketika melintasi pemeriksaan barang menjelang memasuki ruang transit, saya pun melepas jam tangan itu di sebuah kotak untuk discan bersama tas punggung yang saya bawa. Karena tergesa-gesa, begitu melintasi detektor, saya lupa mengambil jam tangan itu. Begitu ingat, dan saya kembali ke tempat pemeriksaan tersebut, ternyata jam tangan saya tidak ada. Raib entah ke mana.  Tentu saja, saya merasa sedih dengan perginya “sahabat akrab saya” selama 24 tahun itu. Kehilangan jam tangan itu bagaikan kehilangan seorang saudara yang berpulang. Sedih sekali rasanya.

Tampaknya, seorang sahabat dalam perjalanan itu mengamati perubahan wajah saya. Dia pun bertanya, “Kenapa Pak Rofi’ tiba-tiba tampak sedih?” “Saya kehilangan jam tangan yang dihadiahkan istri saya 24 tahun yang lalu,” jawab saya. Ringkas.

Entah kenapa, dengan diam-diam sahabat saya itu kemudian menceritakan kejadian itu kepada sejumlah sahabat lain dalam perjalanan itu. Tanpa meminta pendapat saya, mereka kemudian membelikan sesuatu serta kemudian menyerahkannya kepada saya sebagai hadiah ketika saya berpisah dengan mereka di Soekarno-Hatta International Airport. Ketika bingkisan itu saya buka di rumah, di Bandung, ternyata bingkisan itu sebuah jam tangan baru “branded” dan berharga mahal. Tentu saja, melihat jam baru itu, dalam hati saya ucapkan terima kasih. Meski demikian, saya merasa, cinta saya terhadap jam baru itu tidak akan pernah sebesar cinta saya terhadap jam tangan lama saya yang tidak mahal harganya.

Hikmah: Di dunia ini tiada yang abadi dan Allah Swt. dengan mudah dapat menggantikan sesuatu yang kita cintai dan senangi dengan yang lain.



Tuesday, February 12, 2013


TELADAN

Merupakan kebiasaan saya nyaris setiap hari (kecuali ketika dalam keadaan letih), manakala sedang berada di rumah, dini hari sekitar pukul tiga pagi saya telah terjaga dari tidur. Setelah bangun, saya senantiasa membiasakan diri shalat malam (mohon maaf, tidak bermaksud pamer alias riya’), membuka jendela-jendela dan pintu-pintu rumah, dan kemudian menulis, menulis, dan menulis hingga menjelang waktu shalat Shubuh tiba. Alhamdulillah, dengan kebiasaan yang demikian, hidup terasa bermanfaat, nyaman, dan sehat.

Entah kenapa, dini hari tadi, ketika sedang menikmati suasana di luar rumah dari balkon di rumah, tiba-tiba dalam benak saya muncul pertanyaan, “Dari manakah kebiasaan yang baik dan indah ini?”

Ternyata, kebiasaan yang demikian itu dengan tidak sadar saya teladani dari tiga kiai. Yang pertama, dari KH. Ahmad Zein Dahlan (ayah saya, seorang kiai di Kota Blora, Jawa Tengah). Ayah saya ini memiliki kebiasaan: setiap hari, sekitar pukul tiga pagi telah terjaga dari tidur. Setelah terjaga, ayah lalu mandi (demikian setiap hari), kemudian melaksanakan shalat malam, dan kemudian membuka semua jendela dan pintu rumah. Selepas itu, ayah menuju masjid untuk melaksanakan shalat  Shubuh sebagai Imam shalat. Seusai melaksanakan shalat Shubuh, ayah lantas mengajar para santri. Yang kedua, KH. Abu Ammar, seorang kiai di Kota Kudus, Jawa Tengah. Ketika sedang menimba ilmu di pesantren beliau, nyaris setiap hari saya melihat beliau sekitar pukul tiga pagi telah terjaga dari tidur. Setelah melaksanakan shalat malam, beliau lantas menulis, menulis, dan menulis hingga waktu shalat Shubuh tiba. Seperti halnya ayah, seusai melaksanakan shalat Shubuh, beliau juga lantas mengajar para santri. Yang ketiga, KH. Ali Maksum, seorang kiai di Pondok Pesantren Krapyak, Jogjakarta. Seperti halnya ayah dan KH. Abu Ammar, nyaris setiap hari beliau telah terjaga dari tidur pada pukul tiga pagi. Setelah mandi dan melaksanakan shalat malam, beliau lantas mengelilingi seluruh penjuru pondok pesantren untuk mengajak para santri melaksanakan shalat  Shubuh berjamaah. Seusai melaksanakan shalat Shubuh, seperti halnya ayah dan KH. Abu Ammar, beliau lantas mengajar para santri hingga pukul enam pagi.

Yang menarik, tiada satu pun di antara ketiga kiai itu yang suka menggembar-gemborkan kebiasaan mereka yang baik dan indah itu. Tetapi, mereka tidak jemu-jemunya memberikan teladan dan contoh dengan tindakan dan perbuatan yang nyata. Nyaris setiap hari. Hasilnya luar biasa: kebiasaan itu pun “menular” tanpa dipaksakan kepada para santri.

Menyadari hal itu, selepas shalat Shubuh hari ini, saya pun berdoa, kiranya Allah Swt. memberikan balasan kepada tiga kiai tersebut, atas jasa mereka dalam memberikan teladan yang baik dan indah tersebut.

Hikmah: penanaman nilai-nilai yang luhur lebih efektif dengan teladan yang nyata. Bukan dengan ucapan. 

Friday, December 7, 2012


BERBUAT YANG TERBAIK, MENGAPA TIDAK?

Rrrrrrr…. Rrrrrr…. Rrrrr….”

Tiba-tiba suara berisik demikian itu “mewarnai” suasana di tempat tinggal kami, di Baleendah, Kab. Bandung, beberapa waktu yang lalu. Kian lama suara itu kian kencang. Saya yang sedang asyik di depan laptop, di lantai dua rumah kami, di Pondok Pesantren Mini Nun Learning Center, pun segera turun ke lantai satu. Ohoi, ternyata, Pak Apo, petugas kebersihan di lingkungan pondok pesantren, sedang asyik memotong rumput dengan mesin pemotong rumput yang telah berusia senja. Saya lihat, Pak Apo begitu asyik “menari-nari” dengan mesin tua itu. Bidang demi bidang di pelbagai sudut pondok pesantren yang ditumbuhi rumput pun menjadi bersih, rancak, dan indah.

Ketika sedang “bermain-main” dengan mesin pemotong rumput, saya lihat Pak Apo begitu asyik dengan pekerjaannya. Bila bahasa kaum sufi dapat dipakai di sini, dapat dikatakan ketika sedang memegang mesin pemotong rumput Pak Apo sedang dalam keadaan “trance” alias majdzûb. Lupa segala-galanya dan yang dia lakukan adalah “menari”, “menari”, dan “menari” dengan mesin pemotong rumput yang ada di tangannya. Dengan cara kerja yang demikian, tidak aneh jika dalam waktu tidak lebih dari tiga jam seluruh sudut pondok pesantren, dengan luas sekitar 1.700 meter persegi, pun menjadi bersih dan indah kembali. Memang, meski hanya sebagai seorang petugas kebersihan, namun Pak Apo dapat dikategorikan sebagai orang yang ketika bekerja dia senantiasa bekerja dengan hatinya dan sepenuh hati. Tanpa mengharapkan pujian. Hasilnya luar biasa:  setiap pekerjaan yang dia lakukan menghasilkan hasil yang patut diacungi jempol.

Entah kenapa, ketika melihat Pak Apo sedang mengalami “ekstase” dengan pekerjaannya, tiba-tiba saya teringat kejadian di awal tahun 1980-an di Universitas Kairo, Mesir. Sore itu, selepas mengikuti bimbingan seorang supervisor tesis master saya, Prof. Dr. Ahmad Shalaby, seorang pakar sejarah dan kebudayaan Islam terkemuka di Mesir, tiba-tiba memanggil saya, “Ahmad (di Mesir, saya dipanggil dengan nama tersebut, bukan dipanggil Rofi’, karena nama pertama saya memang Ahmad), dua buku yang kamu terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia telah diterima sebuah penerbit di Singapura. Mereka memuji hasil terjemahanmu.”
“Terima kasih, Prof. Tapi, terjemahan yang saya lakukan masih banyak kekurangannya,” jawab saya.
“Ahmad,” tiba-tiba sang profesor bertanya, “tahukah kamu Prof. Dr. A.J. Arberry?”

Menerima pertanyaan demikian, sejenak saya kebingungan. Untung, beberapa waktu sebelumnya saya sudah membaca sebuah buku yang menuturkan perjalanan hidup supervisor saya tersebut, dengan judul Hayâtî. Karena itu, tidak lama kemudian saya menjawab, “Ya, saya sedikit tahu tentang Prof. Dr. A.J. Arberry, supervisor profesor ketika sedang mengambil program doktor di Universitas Cambridge, Inggris.”

A.J. Arberyy, siapakah tokoh yang ditanyakan supervisor saya itu?

A.J. Arberry, atau lebih lengkapnya Arthur John Arberry, adalah seorang orientalis terkemuka  yang  pakar tasawuf  dan  sastra  Persia. Orientalis yang satu ini lahir  di  sebuah  desa  kecil, Fratton,  Portmouth,  Inggris pada Jumat, 7 Rabi‘ Al-Awwal  1323 H/12  Mei 1905 M. Setelah merampungkan pendidikan menengahnya  di Grammar  School,  di tempat kelahirannya, putra  seorang  perwira Angkatan  Laut  Inggris  ini lantas  memasuki  Pembroke  College, Universitas Cambridge. Di universitas terkemuka itu, ia bertemu dengan  Reynold A.   Nicholson, seorang orientalis terkemuka,   yang  kemudian  banyak   mengarahkan Arberrry  untuk mempelajari  bahasa Arab dan Persia. Malah, Arberry kemudian  menjadi pengganti sang mahaguru yang juga pakar di bidang tasawuf.

Pada 1350 H/1931 M Arberry melakukan perjalanan ilmiah ke Kairo, Mesir. Di "Kota Seribu Menara" itulah ia bertemu dengan seorang mahasiswi  Romania,  Sabrina Simons, yang  kemudian  disuntingnya menjadi istrinya. Lima tahun kemudian, pada 1355 H/1936 M,  gelar doktor ia raih dari almamaternya. Segera langkah-langkah pastinya dalam  menapaki kajian tentang tasawuf dan satra  Persia  kian terentang  jauh.  Dan,  segera pula  lahir  sejumlah  karya-karya ilmiahnya di bidang tersebut.

Karier Arberry pada tahun-tahun berikutnya kian berpendar. Pada 1364  H/1944 M, misalnya, ia diangkat sebagai guru  besar  bahasa Persia  di Oriental and African Studies School, menggantikan  V.F Minorsky.  Lantas, dua tahun kemudian, ia diangkat  sebagai  guru besar  bahasa Arab. Lalu, tahun berikutnya, ia  diangkat  sebagai guru  besar  kursi  bahasa  Arab  di  almamaternya,   Universitas Cambridge, menggantikan C.A. Storey.  Perjalanan hidup selanjutnya guru besar yang terkenal santun  ini diwarnai dengan berbagai kegiatannya dalam meneliti, menulis, dan menerjemahkan  karya-karya yang menjadi bidang kajiannya,  sampai ia  meninggal dunia di Cambridge, pada Kamis, 20 Rajab 1387  H/2 Oktober 1969 M. Karya-karyanya, antara lain, adalah  Specimens of Arabic  and Paleography, Revelation and Reason in Islam,  Aspects of Islamic Civilization, Sufism: An Account of Mystics of  Islam, dan The Koran Interpreted.

“Prof, ada apa dengan Prof. Dr. A.J. Arberry?” saya kemudian balik bertanya. Sangat penasaran.
“Ahmad,” jawab Prof. Dr. Ahmad Shalaby,  “kerap kali ketika kita menilai para tokoh orientalis atau para ilmuwan Barat, kita terjebak dalam usaha untuk senantiasa mencari kesalahan dan kelemahan mereka. Kita langka sekali berusaha mengetahui dan memahami aspek-aspek positif yang mereka miliki. Prof. Dr. A.J. Arberry, misalnya. Saya sejatinya sangat mengagumi cara kerja ilmiah beliau. Mengapa? Beliau adalah seorang ilmuwan yang sangat cermat dan teliti. Ketika beliau menerjemahkan karya-karya dari bahasa Persia atau bahasa Arab, misalnya, dan beliau merasa kurang sreg dengan terjemahan satu kosakata, beliau bisa berhari-hari tidak beranjak dari kosakata itu hingga menemukan terjemahan yang paling tepat. Juga, ketika menulis sebuah buku, beliau sangat teliti dan cermat sekali. Hal-hal positif yang demikian itu sebaiknya juga kamu lakukan ketika kelak kamu menjadi seorang ilmuwan, penulis, atau penerjemah. Malah, juga ketika kamu bergerak di bidang-bidang lain. Berbuatlah sebaik mungkin di bidang apa pun yang kamu geluti dan tangani.”
“Prof, terima kasih sekali atas nasihat yang indah tersebut. Insya Allah saya akan melaksanakan nasihat tadi,” sahut saya dengan perasaan sangat gembira.

“Berbuatlah  yang terbaik. Di mana pun dan kapan pun”, pesan indah yang demikian itulah sejatinya yang menjadi pesan Pak Apo dan Prof. Dr. A.J. Arberry, lewat tindakan cermat dan teliti yang senatiasa mereka lakukan. Betapa indah pesan itu. Akan lebih indah lagi bila kita dapat melaksanakan pesan indah itu. Di bidang apa pun yang kita kerjakan dan tekuni. Tentu saja, di bidang dan usaha yang positif dan bukan negatif.  Pesan yang indah tersebut sejatinya juga pernah disampaikan Rasulullah Saw. “Sungguh, sejatinya Allah senang bila hamba-Nya beramal dengan amal yang terbaik.” Karena itu, semestinyalah kita berbuat yang terbaik, di bidang apa pun yang kita tekuni, dengan mengharap ridha Allah Swt.!