Tuesday, August 20, 2013

AL-IBRIZ: 
Kitab Tafsir yang Unik, Menarik, dan Ciamik

Usai berlebaran di Kota Cepu, Jawa Tengah, pada Sabtu, 17 Agustus 2013 yang lalu, rencana semula dalam perjalanan kembali ke Bandung, sejatinya saya, istri, dan seorang adik dan suaminya bermaksud melintasi rute Cepu-Blora-Purwodadi-Semarang. Mengapa? Hal ini karena sebelumnya saya telah memberitahu seorang kiai di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, bahwa saya akan mampir ke sana. Kiai tersebut adalah seorang sahabat saya sejak berada di Mesir. Beliau pernah menimba ilmu di Universitas Alexandria.

Namun, rencana itu kemudian kami ubah. Ini karena malam sebelumnya, saya bertemu dengan Gus Mus dan beliau berucap kepada saya, “Monggo pinarak wonten Rembang. Silakan berkunjung di Rembang.” Menerima undangan dari seorang kiai mulia seperti halnya Gus Mus, tentu saja saya tidak dapat mampu berucap kecuali menjawab dengan penuh semangat, “Insya Allah.” Oleh karena itu, keesokan harinya, kami pun mengubah rute perjalanan kami menjadi: Cepu-Blora-Rembang-Juwana-Pati-Kudus-Demak-Mranggen-Semarang.  Tetapi, kami sengaja tidak memberitahu Gus Mus bahwa kami akan berkunjung ke rumah beliau yang terletak di Desa Leteh, Kota Rembang.

Ketika mobil yang membawa kami tiba di lingkungan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, Rembang, kami pertama-tama berkunjung ke rumah Nyai Hj. Cholil Bisyri. Di situ, kami bertemu dengan ibunda Gus Yahya Staquf, salah seorang kiai di pondok tersebut yang pernah menjadi salah seorang kepercayaan Gus Dur, dan tentu Gus Yahya sendiri. Seusai berkunjung di situ, kami berenam (bersama seorang istri paman) kemudian menuju ke rumah Gus Mus. Melihat mobil Kijang Innova dengan no. polisi K 1926… berwarna putih, saya merasa yakin Gus Mus ada di rumah, meski pintu depan rumah beliau tertutup. “Bagaimana ini? Apa kita tetap akan berkunjung ke rumah Gus Mus,” tanya istri saya yang merasa tidak enak jika kehadiran kami mengganggu Gus Mus yang kemungkinan sedang beristirahat.
“Saya lihatnya dahulu, Mbak. Barang kali beliau ada di rumah,” jawab istri paman yang biasa masuk dan keluar dalam lingkungan keluarga besar Gus Mus.

Tidak lama kemudian, kami mendapat lampu hijau untuk bertemu dengan Gus Mus. Kami pun masuk ke dalam rumah beliau melalui pintu samping, di dekat dapur rumah beliau. Ketika melintasi tempat tersebut menuju ruang tamu, saya lihat Gus Mus sedang asyik memasak di dapur  dengan pakaian kebesarannya:  tetap mengenakan sarung dan baju berwarna putih. “Mâsyâ Allâh, kiai seperti Gus Mus masih sempat dan tidak malu memasak,” gumam saya dalam hati.

Tidak lama kemudian, Gus Mus keluar dari dalam rumah untuk menemui kami. Beliau keluar dengan tampilan kebesaran beliau: mengenakan baju putih, sarung putih, dan kopiah putih, serta berambut putih. Tidak lama kemudian, istri beliau juga keluar menemui kami. Segera pula, setelah berbagi sapa dengan kami, tiba-tiba Gus Mus berdiri dan kemudian masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, beliau muncul kembali dengan membawa sebuah buku berukuran besar. Setelah duduk kembali di hadapan kami, kemudian beliau menyerahkan buku itu, yang ternyata sebuah kitab terjemah dan tafsir Al-Quran yang merupakan karya besar ayahanda beliau, KH. Bisyri Musthofa, kepada saya. “Alhamdulillah,” gumam saya dalam hati seraya menarik napas panjang. “Ini merupakan hadiah yang luar biasa: mendapat hadiah sebuah kitab terjemah dan tafsir Al-Quran dari putra penulis karya besar itu dan sang putra juga seorang kiai terkemuka.” Karya itu berjudul Al-Ibriz Versi Latin.

Belum lagi rasa kaget sirna selepas menerima hadiah luar biasa tersebut, kami kemudian dipersilakan menikmati makan siang dengan hidangan yang juga tidak lepas dari sentuhan tangan Gus Mus. “Kulo niki pancene seneng ngrusuhi wonten pawon. Saya ini memang suka membuat repot (orang di) dapur (dan terlibat dalam kegiatan dapur),” ucap Gus Mus, merendah. Duh, betapa hal itu merupakan suatu kehormatan bagi kami. Ingat pesan Imam Al-Syafi’i, yang suka menikmati hidangan halal yang disajikan orang yang mulia, saya pun menikmati hidangan itu dengan lahap. Eh, yang lain-lain ternyata ikut-ikutan menikmati hidangan itu dengan lahap.

Tidak lama kemudian, menyadari Gus Mus belum banyak beristirahat, kami pun segera berpamitan.  Sepanjang perjalanan, dari Rembang menuju Semarang, kitab hadiah istimewa, dalam bahasa Jawa indah, dari Gus Mus itu saya cermati. “Duh,” gumam saya dalam hati selepas mencermati kitab tersebut. “Ini kitab terjemah dan tafsir yang luar biasa dan merupakan karya seorang kiai yang luar biasa. Sebuah karya yang unik, menarik, dan ciamik (luar biasa).”

Siapakah KH. Bisyri Musthofa, penyusun karya dalam bahasa Jawa itu?

KH. Bisyri Musthofa lahir di Desa Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1915.  Nama asli beliau adalah Masyhadi. Namun, sepulang dari menunaikan ibadah haji, beliau mengubah namanya menjadi Bisyri. Ketika berusia sekitar dua puluh tahun,  putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan istri keduanya yang bernama Hj. Khatijah, dinikahkan seorang gurunya, KH.  Cholil dari Kasingan (tetangga Desa Pesawahan), dengan seorang gadis bernama Ma’rufah yang tidak lain adalah putri KH. Cholil sendiri. Dari perkawinannya ini, KH. Bisyri Musthofa dianugrahi delapan anak, yaitu Cholil, Musthofa, Adib, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah, dan Atikah.

Setelah menikah dan menimba ilmu, termasuk ke Makkah, KH. Bisyri Musthofa kemudian mengajar di pesantren. Di samping kegiatan mengajar di pesantren, beliau juga aktif pula mengisi ceramah keagamaan. Penampilannya di atas mimbar amat mempesona para hadirin yang ikut mendengarkan ceramahnya. Tidak aneh jika beliau kerap diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Meski sibuk mengajar dan terkenal sebagai singa podium, namun KH. Bisyri Musthofa ternyata punya keistimewaan yang kerap tidak dimiliki para kiai yang lain: beliau juga seorang penulis piawai. Salah satu karya beliau adalah karya monumental beliau, Al-Ibriz, sebuah kitab terjemah dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Jawa.  Dalam karya yang semula terdiri dari tiga jilid dan diterbitkan Penerbit Menara Kudus ini KH. Bisyri Musthofa senantiasa memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat mutasyâbihât dengan mengambil beberapa pendapat para mufassir disertai dengan argumen-argumen yang beliau berikan sendiri. Dalam kitab tafsirnya itu, tidak sedikit ditemukan uraian-uraian yang menyangkut ilmu sosial, logika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.

Sebagai orang Jawa yang telah lama, tidak kurang dari 30 tahun, tidak tinggal di daerah yang berbahasa Jawa, saya sangat menikmati tulisan kiai terkemuka yang berpulang pada Rabu, 27 Shafar 1397 H/17 Februari 1977 M itu. “Unik, menarik, dan ciamik sekali karya ini,” demikian gumam saya dalam hati sepanjang perjalanan dari Rembang menuju Semarang, dan kemudian menuju Bandung. “Matur nuwun sanget, Gus Mus. Ini merupakan hadiah yang luar biasa.”
  

Wednesday, August 14, 2013

Makanan yang Menjadi Obat

Nanti malam, ketika jutaan orang kembali dari kampung halaman, ganti saya yang mudik bersama istri. Ketika saya mudik, yang paling khawatir adalah istri. Mengapa? Dia tahu, setiap kali pulang kampung, saya punya kebiasaan berkunjung ke beberapa sahabat. Nah, di sini “problem”nya. Kala berkunjung ke rumah beberapa sahabat dan mendapat sajian makanan, saya biasanya menikmati sajian yang ada dengan lahap. Tapi, tentu, tidak di semua sahabat.

Pernah, beberapa tahun lalu, ketika saya berkunjung ke rumah Cak Amal Fathullah, salah seorang sahabat dekat yang kini menjadi seorang kiai terkemuka di sebuah pondok modern di Ponorogo, Jawa Timur, kala itu dihidangkan sate ponorogo nan lezat. Menerima sajian demikian, saya pun menikmati sate ponorogo itu dengan lahap. Melihat hal itu, tiba-tiba istri mencubit tangan saya sambil berucap, “Mas, apa kata Cak Amal nanti. Malu ah!”
“Biarkan saya menikmati sate ponorogo ini dengan lahap. Saya yakin, sajian ini halâlan thayyiban. Sajian ini, insya Allah, penuh berkah. Karena itu, biarkan saya menikmati sajian ini dan meneladani Imam Al-Syafi‘i.”
“Lo, apa kaitannya Imam Al-Syafi‘i dengan sajian ini?”
“Belum tahu ya ceritanya?”

Ya, bagaimana kaitan Imam Al-Syafi‘i, pendiri Mazhab Syafi‘i yang diikuti ratusan juta umat di Dunia Islam, dengan menikmati sajian dengan lahap? Berikut ceritanya:

Suatu saat, betapa gembira hati seorang putri Imam Ahmad bin Hanbal. Kita tahu, Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadis, hukum Islam,  dan  ilmu kalam  yang  juga  salah seorang tokoh dari  empat  imam  mazhab fikih. Kegembiraan putri ulama yang satu itu dipicu oleh kabar gembira dari sang ayahanda yang akan menerima kunjungan seorang guru yang kerap ia bincangkan bersama sang putri. Sang putri tahu, ayahandanya kerap menyanjung gurunya yang lahir di Gaza, Palestina itu, karena keluasan ilmu dan wawasannya. Karena itu, ia ingin tahu bagaimanakah sejatinya akhlak dan perilaku tokoh  yang  pernah menyatakan bahwa  “perhiasan  yang  paling indah yang  dikenakan  ulama adalah  kedamaian hati (qanâ‘ah), kepapaan, dan ridha” itu.

Benar saja, Imam Al-Syafi‘i tidak lama selepas itu datang berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ketika larut malam tiba, ulama yang berpulang Jumat, 30 Rajab 204 H/ 20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir meminta izin kepada tuan rumah untuk beristirahat. Selama Imam Al-Syafi‘i beristirahat malam itu, ternyata putri Imam Ahmad bin Hanbal sengaja begadang dan mengintip apa saja yang dilakukan tamu mulia ayahandanya itu. Kemudian, pagi harinya, seusai melaksanakan shalat subuh, sang putri memberanikan diri bertanya kepada ayahandanya dengan suara lirih, “Wahai ayahanda! Benarkah ia adalah Imam Al-Syafi‘i yang kerap ayahanda bincangkan tentang kebaikan dan ketakwaannya itu?”
“Benar, wahai putriku,” jawab sang ayahanda penasaran. “Ia memang adalah Imam Al-Syafi‘i, guru ayah, yang kerap kubincangkan denganmu. Ada apa?”
“Wahai ayahanda,” jawab sang putri tetap dengan suara pelan. “Semalam, saya sengaja tidak memejamkan mata. Betapa saya ingin sekali tahu perihal perilaku tuan guru  yang satu itu. Sejak tuan guru dan tamu ayahanda itu datang, saya senantiasa mencermati seluruh gerak dan lakunya. Ternyata, selama itu, saya mengamati tiga hal yang saya sayangkan terhadap diri tuan guru dan tamu ayahanda itu. Ketika saya menghidangkan makanan, duh, ternyata ia lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan. Ketika ia sedang beristirahat, ternyata ia sama sekali tidak melakukan shalat malam dan tahajud. Dan, ketika ia menjadi Imam shalat subuh tadi, ternyata ia tidak berwudhu!”

Tentu saja, Imam Ahmad bin Hanbal kaget sekali dan sangat penasaran mendapat penjelasan dari putrinya tentang Imam besar yang  dalam menetapkan hukum memadukan antara metoda  Hijaz  dan metoda Irak, yakni memadukan antara lahiriah teks-teks  landasan hukum  Islam dengan rasio, itu. Karena itu, selepas berbagi sapa beberapa lama, Imam yang salih dan hidup sederhana itu pun mengemukakan kepada Imam Al-Syafi‘i perihal pengamatan putrinya.

Mendengar pertanyaan demikian, wajah Imam Al-Syafi‘i tidak menunjukkan rasa tidak senang sama sekali. Malah, Imam Al-Syafi‘i menjawab dengan wajah berbinar, “Wahai Imam Ahmad! Memang saya lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan tersebut. Ini karena saya tahu, makanan yang kalian sajikan adalah makanan yang halal dan baik. Engkau adalah seorang ulama mulia. Sedangkan makanan yang disajikan orang mulia dan halal adalah obat. Berbeda dengan makanan orang pelit yang malah dapat menjadi penyakit. Jadi, saya makan tidaklah untuk memuaskan selera makan saya. Tapi, saya makan untuk berobat dengan makanan yang disajikan semalam. Sedangkan berkenaan dengan malam yang saya lewatkan tanpa shalat malam atau tahajud, semalam seakan saya melihat Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. ada di depan mata saya. Sehingga, dengan merenungi keduanya, saya menemukan kesimpulan tujuh puluh dua masalah fikih yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Akibatnya, saya tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan shalat malam. Dan, berkenaan dengan shalat subuh tanpa wudhu, sejatinya karena sepanjang malam saya tidak tidur sama sekali dan tiada sesuatu pun yang membatalkan wudhu saya. Sehingga, saya shalat subuh dengan wudhu shalat isya.”

Betapa lega Imam Ahmad bin Hanbal mendengar jawaban Imam Al-Syafii tersebut yang tidak selaras dengan pengamatan putrinya. Demikian pula putrinya yang mendengarkan penjelasan guru ayahandanya itu dari balik tirai. Malah, Imam Ahmad bin Hanbal kemudian menekankan kepada putrinya bahwa hasil perenungan Imam Al-Syafi’i yang bermanfaat bagi kemaslahatan kaum Muslim itu jauh lebih utama nilainya dibandingkan dengan shalat malam yang dilakukannya.


Nah, karena itu, jika Anda berkunjung ke rumah seseorang dan mendapat sajian makanan, sedangkan Anda merasa yakin sajian itu halâlan thayyiban, nikmati saja sajian itu dengan lahap. Sebab, sajian itu, menurut Imam Al-Syafi‘i, merupakan obat! 

Saturday, April 27, 2013


Dendeng Gg. Idjan: Dendeng Kesukaaan Sultan Hassanal Bolkiah

Entah berapa kali saya diberi amanah menjadi “komandan” perjalanan antarnegara. Ketika dalam posisi demikian, yang paling membuat repot saya adalah ketika banyak di antara para “anak buah” terdiri dari ibu-ibu. Kenapa? Mereka suka membawa makanan dan masakan Indonesia. Ke mana pun mereka pergi. Tidak terkecuali minggu lalu, ketika kami “kluyuran” ke Jordania dan Palestina, sebuah perjalanan yang difasilitasi Khalifah Tour, Bandung. Dalam perjalanan itu, seorang ibu dari Pulau Bangka membawa krupuk bangka, seorang ibu dari Riau membawa makanan riau, seorang ibu yang suaminya dari Makassar membawa masakan dari ikan cakalang, dan dua orang ibu dari Semarang membawa makanan dari Jawa Tengah.  Membawa makanan dan masakan sejatinya bukan masalah. Tapi, di sisi lain, hal itu menjadi masalah bagi saya: kerap saya mendapat bagian. Akibatnya, setiap kali pulang dari perjalanan berat tubuh saya naik 1-2 kilogram.

Nah, malam itu, minggu lalu, ketika kami sedang menikmati malam di Amman, Jordania,  seorang ibu dari Bandung, sebut saja Ibu Nuke, tiba-tiba mengeluarkan sebuah kotak. Ketika kotak itu dibuka, wow, ternyata isinya dendeng dengan aroma nan sedap. Segera, Ibu Nuke menawarkan dendeng itu kepada saya, “Ustadz, coba dendeng ini. Ini Dendeng Gg. Idjan lo…”

Saya pun segera mengambil satu lembar dendeng tipis yang bentuknya miripnya krispi. Ketika dendeng itu saya cicipi, terasa oleh saya betapa lezat rasa dendeng itu. Benar-benar maknyuuus alias lezaaat sekali.  Merasakan dendeng yang lezat itu, saya pun bertanya kepada Ibu Nuke, “Ibu Nuke, di mana ibu beli dendeng ini?”
“Ustadz, bukankah sudah katakan, ini adalah Dendeng Gg. Idjan…”
“Dendeng Gg. Ijan? Di mana itu Gg. Idjan?”
“Ustadz tidak tahu Dendeng Gg.Idjan?”
“Benar, saya tidak tahu…”
“Sudah berapa tahun Ustadz tinggal di Bandung?”
“29 tahun…”
“Di mana Ustadz tinggal di Bandung?”
“Di Baleendah…”
“Sering naik angkot dari Terminal Kebon Kalapa ke Baleendah?”
“Sering sekali. Kenapa Ibu?”
“Ustadz Rofi’ keterlaluan. 29 tahun tinggal di Bandung dan kerap melewati Gg. Idjan, tapi tidak kenal Dendeng Gg. Idjan. Dendeng ini kan terkenal sekali di Bandung dan buatan seorang ibu di Gg. Idjan, tidak jauh dari Terminal Kebon Kalapa, ke arah Jalan Otista. Hanya sekitar sepuluh rumah dari terminal, lalu belok kiri. Ustadz Rofi’ KETERLALUAN….”

Mendengar kata-kata keterlaluan, entah kenapa membuat saya tiba-tiba teringat bahwa saya ternyata sebelumnya pernah menikmati Dendeng Gg. Idjan. Setelah merenung beberapa saat, saya pun teringat bahwa saya pernah menikmati Dendeng Gg. Idjan sekitar 1988, ketika saya diajak seorang paman (waktu itu menjadi salah seorang dekan di Universiti Brunei Darussalam, Brunei) ke Pondok Pesantren Al-Musaddadiyah, Garut, Jawa Barat. Kami waktu itu bertemu dengan pendiri pondok pesantren itu, KH. Anwar Musaddad (alm.), seorang kiai terkemuka yang pernah menjabat Rais Am Syuriyah Pengurus Nahdlatul Ulama.

Nah, ketika menikmati makan siang bersama kiai yang pernah menjadi seorang dekan di lingkungan Institut Agama Islam Negeri Jogjakarta, kala itu hidangan yang disajikan adalah Dendeng Gg. Idjan. Kala itu, sambil mengambilkan dendeng, kiai yang pernah menjadi guru agama dan penasihat ruhaniah Sultan Hassanal Bolkiah, Brunei itu berucap kepada paman saya, “Ustadz, coba dendeng ini. Ini adalah dendeng kesukaan Sultan Hassanal Bolkiah. Setiap kali saya ke Brunei, dendeng inilah yang menjadi oleh-oleh dari Bandung untuk beliau.”

Nah, jika Anda ke Bandung, jangan lupa cari itu Dendeng van Gg. Idjan ya: dendeng kesukaan Sultan Hassanal Bolkiah, Brunei!


    

Friday, March 22, 2013


Al-Buthi, Siapakah Ulama yang Satu ini?

Sedih, itulah suasana hati saya begitu membaca berita tentang berpulangnya kemarin seorang ulama terkemuka Suriah yang satu ini, Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi, dalam peristiwa bom yang meledak di lingkungan Masjid Umawi, Damaskus. Mengapa sedih? Lepas dari pemikiran politik yang beliau dukung, beliau tidak hanya seorang ulama kondang semata. Tetapi, beliau juga seorang penulis produktif sejumlah karya tulis ilmiah yang berbobot. Dewasa ini, di Dunia Islam, tidak mudah menemukan seorang ulama terkemuka yang juga seorang penulis yang berbobot seperti beliau. Apalagi, beliau sejak dahulu terkenal memiliki akhlak yang indah.

Siapakah Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi?

Ulama  dan pemikir Muslim terkemuka asal Suriah ini lahir pada 1348 H/1929 M di sebuah desa Turki, Jilika, di Pulau Butan (dalam bahasa  Arab disebut  Jazirah Ibn ‘Umar), Anatolia Barat. Putra semata  wayang seorang  ulama  berdarah Kurdi yang juga seorang  penjual  buku, Mulla Ramadhan Al-Buthi, ini pindah ke Damaskus, Suriah pada 1353 H/1934  M,  bersama keluarganya yang menghindar  dari  penindasan pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk. Di kota baru tersebut mereka bermukim  di  Distrik Ruknuddin yang  warganya  sebagian  besar berdarah Kurdi.

Di kota yang pernah menjadi ibukota pemerintahan Dinasti Umawiyyah itu,  Al-Buthi muda memperdalam ilmu. Antara lain  kepada  Syaikh Hasan Habannakah Al-Midani dan Syaikh Al-Maradini di Masjid  Raya Manjak  di Al-Midan. Di sisi lain, tatkala berusia 18  tahun,  dia dinikahkan  ayahandanya  dengan adik perempuan istri  kedua  ayahandanya. Usai  menimba  ilmu  di  Suriah, Al-Buthi muda  lantas  memperdalam  ilmu  di Universitas Al-Azhar di Kairo, Mesir.

Selepas  menimba ilmu di Negeri Piramid pada 1376 H/1956  M,  Al-Buthi  meniti  karier sebagai guru. Lantas, pada 1381  H/1961  M, tatkala  Universitas  Damaskus  membuka  Fakultas  Syariah,   dia direkrut  sebagai  staf pengajar di bidang  perbandingan  mazhab, akidah, dan sîrah. Karier ilmiahnya kian berpendar  selepas dia  berhasil meraih gelar doktor dari Universitas  Al-Azhar  pada 1385  H/1965  M.  Jabatan yang dia pangku,  antara  lain,  adalah sebagai Dekan Fakultas Syariah, Universitas Damaskus.

Selain  itu, Al-Buthi juga meluangkan sebagian waktunya untuk  menyusun sejumlah karya tulis. Karya-karya tulisnya, antara lain Dhawâbith Al-Mashlahah fî Al-Syarî‘ah  Al-Islâmiyyah,  Fiqh  Al-Sîrah  Al-Nabawiyyah   ma‘a Mu‘jaz li Târîkh Al-Khulafâ’ Al-Râsyidah, Kubrâ Al-Yaqîniyyât  Al-Kauniyyah,  Muhadharât fî Al-Fiqh Al-Muqârin, Min Al-Fikr wa  Al-Qalb,  Minhâj Tarbawî Farîd fî Al-Qur’ân, Al-Islâm  wa  Musykilât Al-Syabâb, Al-Insân wa ‘Adâlah Allâh fî Al-Ardh, Min Rawâ’i‘  Al-Qur’ân,  Minhâj Al-‘Audah ilâ Al-Islâm,  Al-Salafiyyah:  Marhalah Zamâniyyah  Mubârakah  ilâ Madzhab Islâmî, Hiwâr  Haula  Musykilât Hadhâriyyah,  Minhâj Al-Hadhârah Al-Insâniyyah fî Al-Qur’ân,  Al-Jihâd  fî Al-Islâm, Qadhâyâ Fiqhiyyah Mu‘âshirah, dan  Al-Dîn  wa Al-Falsafah.

Mengiringi kepulangan Prof. Dr. Muhammad Sa‘id Ramadhan Al-Buthi ke hadirat Allah Swt., saya hanya dapat mengiringinya dengan doa, “Allahumma ighfir lahu warhamhu wa‘âfihi wa‘fu ‘anhu wawassi‘ madkhalahu waj‘al al-jannnata matswâhu.” Kiranya Allah Swt. menerima amal-amal beliau dan mengampuni dosa-dosanya, amin.

Monday, March 4, 2013


Kisah 2 Potong Celana Panjang Baru

Perjalanan, bagi saya, senantiasa menyajikan berbagai pengalaman baru. Baik apakah berupa sajian ilmu, pengalaman, maupun ide baru. Nah, dalam perjalanan terakhir (ke Arab Saudi, Turki, dan Dubai), antara 15 sampai dengan 26 Februari 2013 yang lalu, ada suatu pengalaman kecil yang menarik buat saya: kisah dua potong celana baru saya.

Dapat dikatakan, saya adalah manusia “jadul” (jaman dulu). Selama ini, saya tidak pernah terpikat untuk mengenakan celana jeans atau celana jadi. Seperti halnya dalam hal memotong rambut, saya pun jarang berganti penjahit celana panjang. Sejak tinggal di Kota Bandung, sejak 1984, dapat dikatakan ketika membuat celana saya tidak pernah berpindah dari seorang penjahit di Jalan Sukajadi, Bandung. Sang penjahit  sampai hapal ukuran celana saya. Karena itu, ketika menjelang bertolak menuju Timur Tengah pada pertengahan bulan lalu, saya menjahitkan dua potong kain untuk dibuat celana, hanya dalam dua hari dua potong celana itu telah siap. Saya menyiapkan dua potong celana itu karena celana-celana yang lain sudah “berusia senja”.  Dalam perjalanan ke Timur Tengah itu, saya membawa empat celana: dua celana lama dan dua celana baru.

Kemudian, apa yang terjadi dengan dua potong celana baru itu?

Selama di Arab Saudi, dalam perjalanan itu saya senantiasa didampingi para sahabat dari Madura. Mereka adalah para sahabat yang begitu tulus dalam melakukan tugas yang harus mereka laksanakan. Atas bantuan mereka, tugas yang saya emban selama di Tanah Suci pun menjadi terasa ringan. Nah, ketika berada di Makkah, dan ketika sedang rehat di hotel, seorang sahabat dari Sampang, sebut saja Sahih namanya, tiba-tiba mendekati saya dan berucap, “Ustadz, selama bermukim selama 10 tahun di Makkah, Sahih belum pernah menemukan penjahit celana yang pas. Saat ini, celana-celana Sahih sudah usang semua. Selama beberapa hari ini saya perhatikan, celana-celana baru yang Ustadz kenakan tampaknya kok enak dikenakan. Bolehkah saya mencoba celana-celana itu. Kalau cocok, saya akan pesan beberapa potong celana. Lewat Ustadz?”
“Silakan dicoba, Mas Sahih.”

Oh, ternyata ketika kedua celana baru itu dikenakan Mas Sahih, dua celana itu pas sekali dengan ukuran tubuhnya. Betapa gembira hatinya begitu Mas Sahih tahu hal yang demikian itu. Dan, sambil melukar salah satu celana itu, dia berucap pelan, “Ustadz, bagaimana jika dua celana baru ini untuk Sahih. Ustadz bikin saja celana-celana baru begitu tiba di Bandung nanti?”

Begitu mendengar ucapan Mas Sahih yang demikian, sejenak saya tercenung dan bingung. Sebab, perjalanan saya masih panjang. Saya masih akan meneruskan perjalanan menuju Turki dan Dubai. Padahal, saat itu, salah satu dari celana lama saya dalam keadaan kotor dan hari berikutnya saya akan meneruskan perjalanan menuju Istanbul. Tentu, selama dalam perjalanan selanjutnya, satu celana bersih saja tidak cukup. Tapi, segera, saya abaikan semua pertimbangan itu dan menjawab, “Silakan, ambil saja kedua celana itu.”
Betapa gembira Mas Sahih mendengar jawaban saya demikian. Dia pun segera memegang tangan saya dan menciuminya berkali-kali sambil mengucapkan terima kasih, “Terima kasih, Ustadz. Saya doakan, perjalanan Ustadz senantiasa di bawah lindungan Allah Swt. Juga, Ustadz dan keluarga senantiasa dikaruniai keberkahan dan kemudahan, amin…”

Mendengar ucapannya yang tulus tersebut, saya hanya dapat mengaminkan saja. Dan, alhamdulillah, Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan dalam perjalanan saya selanjutnya. Juga, mengaruniakan limpahan karunia yang jauh lebih berharga dan bernilai daripada kedua celana baru saya tersebut.

Hikmah: jadilah selalu pemberi, kapan pun dan di mana pun, dengan hati yang ikhlas.