Wednesday, September 11, 2013

“MENGAJI” DI AMSTERDAM RAI:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (2)

Neng, bangun,” ucap saya kepada istri ketika saya terjaga dari tidur pulas selama sekitar empat jam.  “Lihat, saat ini telah menunjuk sekitar pukul 14.00 siang waktu Amsterdam. Bukankah siang ini kita akan survei dulu rute ke Amsterdam RAI?”

Kami, memang, saat itu benar-benar kecapaian. Usia di atas 55 tahun dan lelah menempuh perjalanan lebih dari 20 jam serta lebih dari 11.600 kilometer membuat kami tumbang. Malah, karena itu, pagi hari sebelum tidur, kami pun membatalkan pertemuan kami dengan Mbak Imazahra dan Mas Risyan Nurhakim, dua sejoli  asal Bandung yang sedang “honeymoon backpacker”an ke pelbagai negara di Eropa dan saat itu sedang berada di Belanda. Apalagi, hari itu, menurut Mbak Imazahra, Metro Amsterdam sedang libur. “Assalamu’alaikum. Ini Imazahra. Kami kebingungan menuju Amsterdam, karena hari ini Metro ternyata sedang ‘meliburkan diri’ karena perbaikan jalur metro,” demikian bunyi short message (sms) dari Mbak Ima pagi hari itu, Jumat 30 Agustus 2013. Namun, mengingat kami sore itu harus pergi ke Amsterdam RAI Exhibition and Convention Centre, alias RAI Congrescentrum dalam bahasa Belanda, tempat istri akan “mengaji” alias “sekolah”, kami pun segera bangkit dari tempat tidur.

Eh, ternyata begitu bangun, kami merasa lapar. Padahal, kami baru menikmati makan pagi sekitar empat jam sebelumnya. Mungkin, karena cuaca Amsterdam hari itu berkisar antara 14 derajat celcius sampai 20 derajat celcius, membuat kami cepat lapar.  Sambil bersiap-siap, meski telah menginjakkan kedua kakinya di lima benua, istri yang “anak rice cooker”, alias selalu harus makan dengan nasi, segera menanak nasi dengan rice cooker kecil yang dibawanya. “Dasar orang Indonesia. Makan harus selalu dengan nasi. Itu yang membikin beras mahal di sana,” canda saya kepadanya. Menggodanya.
“Biarin,” jawab istri saya penuh semangat. “Yang penting halâlan thayyiban.”
“Hehehehe,” ucap saya sembari tersenyum.

Segera, kami pun menikmati makan siang dengan menu darurat. Untung, di Amsterdam kita mudah mendapatkan beras. “Risjt Pandan”, alias beras merek Pandan Wangi, bisa didapatkan di mini market “Albert Heijn” yang terletak empat rumah di sebelah hotel yang kami inapi atau tempat-tempat lainnya. Perut lapar dan cuaca dingin membuat kami lahap menikmati makanan yang dibuat mendadak itu.  Dan, setelah semua siap, termasuk dua tas punggung yang berisi jaket dan payung (meski menurut ramalan cuaca hari itu ‘clear’), dan tentu saja paspor, kami pun segera turun dari kamar. Tentu saja, melewati tangga yang terdiri dari 48 step. Capek deh.

Begitu berada di depan Clemens Hotel, masih di Raadhuisstraat, kami lihat para pesepeda sedang berlalu lalang dengan nyamannya. “Betapa baik hati pemerintah Kota Amsterdam kepada para pesepeda. Mereka, di mana-mana, dibuatkan jalur sepeda nan sangat nyaman. Orang-orang yang naik mobil pun sangat menghormati mereka,” gumam saya melihat para pesepeda itu. Yang menarik perhatian saya, sepeda-sepeda yang sedang ‘istirahat’, di mana-mana, semuanya dikunci dengan gembok-gembok gede. Konon, di Belanda banyak maling sepeda, hehehehe.

Berbeda dengan ketika datang pertama kali, dari pintu hotel kini kami melangkahkan kaki ke arah kanan. Tidak menuju Halte Westermarkt, tapi menuju Halte Dam. Oh, ternyata, tidak jauh dari situ tegak dengan megahnya Magna Plaza, sebuah mall terkenal di Kota Amsterdam. Dan, tidak jauh dari situ, di seberang jalan, tegak dengan tak kalah megahnya “Koninklijk Paleis”, alias Istana Kerajaan, dan “Nieuwe Kerk”, alias Gereja Baru. Begitu semakin mencermati peta yang saya bawa, saya pun kian menyadari, hotel yang kami tempati ternyata dekat sekali dengan Dam Square. Cukup dengan jalan kaki. Padahal, Dam Square tidak jauh dari sebuah lokasi “merah” yang terkenal di seluruh dunia, yaitu Red Light District.

“Neng, ternyata kita ini menuju Dam Square,” ucap saya kepada istri. “Lihat bangunan megah di depan kita itu. Itu kan “Koninklijk Paleis”, atau Istana Kerajaan. Sedangkan bangunan di samping kirinya adalah “Nieuwe Kerk”, atau Gereja Baru. Nah, di depan kedua gedung itu terdapat Dam Square. Tidak jauh dari situ terdapat Monumen Nasional. Dan, tidak jauh dari monumen itu terletak sebuah distrik terkenal di kota ini, yaitu Red Light District.”
“Selepas dari Amsterdam RAI,” sahut istri, penuh semangat, “bagaimana kalau kita ke Dam Square. Lalu, dari situ kita menuju Red Light District. Saya ingin tahu, apa bedanya “suasana” di distrik itu dengan “suasana” kompleks “kupu-kupu malam” yang pernah saya teliti selama tiga bulan. Karena itu, saya  pernah hidup bersama mereka, selama tiga bulan, dan memahami a sampai z persoalan yang mereka hadapi dan rasakan. Apalagi, saya kan biasa menemukan dan menghadapi pasien-pasien yang terkena narkoba dan ‘terjebak’ dalam ‘kehidupan malam’ seperti di distrik itu. Menurut Mas bagaimana? ”
“Entah kenapa, dalam benak saya tiba-tiba muncul ide: bagaimana kalau saya mencari seorang sahabat yang bisa di’komporin’ untuk menyusun  disertasi tentang Red Light District dari sudut pandang hukum Islam,” jawab saya. “Saya tidak ingin kita memvonisnya haram begitu saja. Tapi, dalam disertasi itu dibahas dengan tinjauan yang benar-benar komprehensif dan luas. Sehingga, lewat kajian itu, dapat dicarikan solusi yang benar-benar tepat dan tuntas atas kasus serupa yang sebenarnya juga terdapat di mana-mana. Karena itu, kalau begitu sekarang kita naik trem saja, menuju Amsterdam Centraal.  Menghemat waktu. Lagi pula, kita punya kartu ‘sakti’ yang dapat digunakan naik trem dan bus GVB ke mana-mana.  Dari sana, kita menikmati Canal Cruises dulu. Setelah itu, kita menuju Amsterdam RAI. Dan, pulangnya, kita naik trem lagi dan turun di Dam Square. Dari situ kita menuju ‘distrik merah’ itu.”
“Oke, let’s go.”

Kami pun kemudian segera naik trem nomer 17 yang menuju Amsterdam Centraal, dengan menempelkan kartu, yang disebut dalam bahasa ‘londo’ dengan sebutan ‘Die GVB-Tageskarte’, di card reader. Kartu itu benar-benar  ‘sakti’, hehehe. Dengan menempelkan kartu itu di ‘card reader’, setiap kali naik dan turun trem atau bus, kita dapat pergi ke mana-mana sesuai dengan masa berlakunya kartu tersebut. Miriplah dengan kartu ‘EZ-Link’ di Singapura atau kartu ‘Touch n Go’ di Kuala Lumpur.

Setelah melintasi dua halte, kami pun tiba di Amsterdam Centraal. Stasiun pusat kereta api di Kota Amsterdam ini terintegrasi dengan bus, kapal, dan kereta api antarnegara. Di depan stasiun itu terdapat halte trem dan bus menuju ke pelbagai penjuru Kota Amsterdam. Di samping terminal trem dan bus itu, terdapat terminal feri dan kapal yang menyusuri kanal-kanal dan laut di seputar kota nan cantik itu. Sedangkan di bagian belakang stasiun itu terdapat terminal bus-bus yang menuju luar kota, seperti ke Edam dan Vollendam.  Dan, dari stasiun itu pula kita dapat pergi menuju ke berbagai kota di Belanda, juga kota-kota di luar Belanda seperti Brussels, Berlin, dan Paris, dengan kereta api yang nyaman dan bersih. Bila Anda ingin naik kereta api dari stasiun ini, Anda bisa membeli tiket dengan mudah di ATM atau ke loket ‘Train Tickets & Services’. Di tempat itu, antara konter kereta api internasional dan konter kereta api domestik dipisahkan. Membeli tiket di situ mudah sekali kok. Jika Anda mau ke Paris, misalnya, Anda dapat membeli tiket kereta api Thalys di situ.

Begitu turun dari trem nomer 17, kami kemudian menuju pangkalan kapal. Segera, kami menemukan sebuah pangkalan ‘cruise’ yang menyusuri kanal-kanal di seputar Kota Amsterdam dan Laut Utara. Segera pula, kami pun ikut bergabung dengan para penumpang yang sudah mengisi kapal tersebut. Selama perjalanan sekitar satu jam, saya pun menjadi tour guide bagi istri yang tak henti-hentinya bertanya tentang banyak hal: menjelaskan pelbagai bangunan dan sejarahnya. Ketika kami melihat bangunan ‘Kapal Kompeni’, saya pun berkomentar, “Ini dia kapal yang mengantarkan para kompeni ke Indonesia. Dengan kapal ini pula, mereka menjajah Indonesia selama sekitar 350 tahun…”

Puas menikmati ‘canal cruise’, kami kemudian menuju pangkalan trem. Kali ini, kami mencari trem nomer 4, trem yang menuju Halte Amsterdam RAI. Sepanjang perjalanan, di sebelah kanan dan kiri jalur trem,  bangunan-bangunan lama dan baru tertata rapi. Di dekat salah satu halte, tepatnya di dekat Halte Rembrandtpleine, terlihat oleh kami sebuah patung seorang pelukis kondang Belanda: Rembrandt Harmenszoon van Rijn (1606-1669), atau lebih terkenal dengan panggilan Rembrandt saja. Naik trem jalur ini, mengingatkan kami ketika ‘ngluyur’ di seputar Kota Vienna, Austria, beberapa tahun yang lalu, dengan tujuan yang sama: mengaji ilmu penyakit jantung dalam kongres yang juga diselenggarakan European Soceity of Cardiology.  Dan, selepas melintasi sejumlah halte, akhirnya trem yang naiki berhenti di Halte Amsterdam RAI.

Apa itu Amsterdam RAI?

Amsterdam RAI, atau nama lengkapnya The Amsterdam RAI Exhibition and Convention Centre, merupakan suatu kompleks gedung-gedung konferensi, kongres, dan pameran paling bergengsi di Belanda. Malah, juga di seluruh Eropa. Kompleks ini terletak di kawasan bisnis terkenal di Amsterdam yang terkenal dengan sebutan Distrik Zuidas.  Di sinilah, kongres ESC 2013 diselenggarakan antara 31 Agustus sampai 4 September 2013.

Mengapa istri memilih mengaji ilmu penyakit jantung di ESC?


Menurut Mas Toyibi, dokter spesialis penyakit jantung yang juga anggota Indonesian Medical Council, di dunia ini ada dua kegiatan yang paling bergengsi yang berkaitan dengan ilmu penyakit jantung. Salah satunya ya kegiatan ilmiah yang diselenggarakan ESC itu. Tidak aneh jika kongres ESC 2013 dihadiri sekitar 43 ribu dokter (khususnya dokter spesialis penyakit jantung, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis anak) dari pelbagai penjuru dunia. Luar biasa. Tak aneh, jika ke kongres ini pula istri akan mengaji selama beberapa hari. Bukankah mengaji, meminjam ungkapan Gus Mus, ‘tidak hanya tentang ilmu-ilmu yang dewasa ini disebut dengan sebutan ilmu-ilmu agama saja’. Mendalami ilmu kedokteran juga mengaji, bukankah begitu, Gus Mus? Sekian (sudah capek menulisnya dan Anda juga sudah capek membacanya ya. Bersambung: “MELIHAT RED LIGHT DISTRICT DARI SISI LAINl: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (3)). 

Monday, September 9, 2013

MENENGOK NEGERI KINCIR ANGIN:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (1)

Mas, bagaimana kalau saya “sekolah” lagi,” ucap istri saya, sekitar enam bulan lalu. “Saya ingin mengenal lebih jauh tentang penyakit jantung. Pada akhir Agustus tahun ini, European Society of Cardiology (ESC) akan menyelenggarakan pekan ilmiah tahunan di Amsterdam, Belanda. Tahun ini, saya ingin “sekolah” lagi tentang penyakit jantung, seperti beberapa tahun yang lalu di Vienna, Austria.
“Sendiri?” tanya saya.
“Saya maunya ditemani, seperti ketika “sekolah” di Istanbul pada 2009, dan di Sydney tahun lalu,” jawab istri saya, seorang dokter spesialis penyakit dalam.
“Ok, asal mau bergaya “backpacker” saja, dan gak pergi bersama rombongan dokter-dokter lain yang pergi ke sana dalam bentuk tour group.”
“Rasanya lebih nikmat dan hemat dengan cara “backpacker”an begitu. Saya benar-benar menikmati perjalanan dengan gaya begitu, ketika kita pergi ke Istanbul dan Sydney. Saya “sekolah”, sedangkan Mas jadi tour leader dan“ngluyur” ke mana-mana seperti biasanya, hehehe.”

Segera, kami pun memproses segala hal yang diperlukan dalam perjalanan tersebut. Alhamdulillah, sekitar tiga minggu lalu, visa “Etats Schengen” akhirnya kami dapatkan tanpa kami harus pergi ke Jakarta. Hal itu kami pernah pergi ke Eropa beberapa kali.  Selain ke Belanda, kami juga bermaksud pergi ke Belgia. Karena itu, sebelum berangkat, saya kemudian menghubungi Mas Andi Yudha Asfandiyar, mantan CEO Penerbit Mizan, yang kini bermukim di Brussels, bahwa saya akan mampir ke sana pada 4 September 2013. “Mas, monggo diantos di Brusselnya. Tanggal itu kami siap. Semoga perjalanan lancar dan sehatsegerbarokah selalu,” jawabnya lewat message di facebook. Dan, kebetulan, seorang sahabat yang juragan sebuah perusahaan IT di Jakarta juga mengajak kami untuk pergi bersama dari Belanda ke Belgia. Dia ingin membawa kami ke kantor cabangnya yang baru di Eindhoven dan kemudian pergi ke Brussels untuk bertemu dengan duta besar Republik Indonesia di sana. Alhamdulillah.

Kemudian, pada Kamis sore, 29 Agustus yang lalu, kami pun telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selepas melintasi konter imigrasi, dan ketika kami sedang duduk sebelum masuk ke dalam boarding lounge, tidak lama kemudian seorang saudara, Dr  M. Toyibi, dan istrinya, muncul. “Mas Toyibi mau ke mana?” tanya saya kepada dokter spesialis penyakit jantung yang bertugas di RS Persahabatan, Jakarta itu.
“Saya mau ke Amsterdam. Mau ikut ESC 2013 Meeting. Tapi, kami juga akan ke Swedia. Kalian mau ke mana?”
“Hehehe, sama Mas, ke Amsterdam. Selain ke Amsterdam, kami akan pergi ke Eindhoven dan Brussels, diajak Dik Harca, juragan perusahaan IT yang juga Mas Toyibi kenal. Dia akan melebarkan usahanya ke Belanda, Belgia, dan Jerman.”
“O, gitu. Kalau begitu, kami akan bergabung. Sebentar, saya akan kontak dia.”

Selepas berucap demikian, dokter spesialis penyakit jantung yang ketika menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada pernah merasakan “hotel prodeo”, alias bui, selama sekitar setahun di Semarang, karena menentang kebijakan politik rezim yang berkuasa di Indonesia kala itu, segera mengontak juragan perusahaan IT yang sedang berada di Hamburg, Jerman itu. “Oke, dia setuju, saya dan istri ikut bergabung dalam perjalanan ke Eindhoven dan Brussels nanti,” ucap Mas Toyibi dengan wajah sumringah.

Tidak lama kemudian kami berempat pun masuk ke dalam perut pesawat terbang KLM dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Ternyata, pesawat ini penuh dengan penumpang dan tidak ada kursi yang kosong. Saya dan istri, yang mendapat nomer kursi terpisah jauh, akhirnya dapat duduk berdampingan karena kebaikan hati seorang anak muda asal Karangasem, Bali, yang akan kerja di sebuah perusahaan pelayaran di Belanda. Dan, ternyata, pesawat terbang KLM pun terkena dampak kesibukan Bandara Soekarno-Hatta. Akibatnya, pesawat terbang yang kami tumpangi itu terlambat berangkat sekitar dua jam. Akhir-akhir ini, jadwal naik-turun pesawat terbang di Bandara Cengkareng itu memang sangat sibuk.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 14 jam, dan melintasi jarak sekitar 11.160 kilometer, akhirnya pesawat terbang yang kami naiki mendarat di Schipol International Airport pada pukul 06.10 pagi waktu setempat. Karena kami berempat membawa “invitation letter” dari ESC 2013, proses pemeriksaan di konter imigrasi Bandara Schipol pun berjalan lancar. Tanpa banyak pertanyaan, paspor kami pun dicap “30.08.13.86 AMSTERDAM SCHIPOL G 305”.  Dan, begitu melewati “exit”, para penjemput para peserta ESC 2013 tampak bertebaran di mana-mana. Mas Toyibi dan istri segera menuju Ibis Hotel di lingkungan bandara Amsterdam itu. Sedangkan saya dan istri, yang mengatur sendiri perjalanan kali ini, segera menuju ke konter “Train Tickets & Services” untuk membeli tiket kereta api jurusan Amsterdam Centraal.

Setelah memegang dua tiket seharga 4.40 euro, kami kemudian menuju ke peron nomer 2 dengan tulisan “Naar de trainen 1-2”. Membaca tulisan dalam bahasa Belanda tersebut, entah kenapa tiba-tiba pelbagai kosakata bahasa Belanda yang pernah saya pelajari, ketika masih menjadi mahasiswa di Jogjakarta, bermunculan kembali. Perlu dicatat, setiap seperempat jam ada kereta api yang berangkat dari Schipol Airport menuju stasiun tersebar di Kota Amsterdam: Amsterdam Centraal. Juga, sebaliknya. Dan, setelah melintasi dua stasiun, Amsterdam Lelyland dan Amsterdam Slotterdijk, akhirnya kereta api nyaman dan bersih yang kami naiki tiba di Stasiun Amsterdam Centraal. “Andai saja antara Cengkareng dan Gambir segera ada kereta api seperti ini,” gumam istri saya sambil memandangi kereta api-kereta api yang keluar dan masuk di stasiun yang lebih besar dari Stasiun Gambir, Jakarta itu. “Bersih, rapi, dan terintegrasi seperti Stasiun Sydney.”

Begitu turun dari kereta api, kami pun kebingungan dalam mencari tempat penginapan yang kami tuju: Clemens Hotel, yang berada di Raadhuisstraat. Sebab, kami belum pernah ke Amsterdam.  Namun, karena sebelumnya saya sudah membaca “info” seputar kota tua itu, saya kemudian membeli tiket trem dan bus GVB yang berlaku untuk masa tiga hari, seharga 16.50 euro. Masa berlaku tiket GVB tersebut aneka ragam, ada yang berlaku satu jam, satu hari, dua hari, atau tiga hari. Dari peta yang disediakan dalam trem yang kami naiki, kami kemudian menaiki trem nomer 13 (juga bisa naik trem nomer 17) dan turun di Halte Westermarkt. Ketika ada pengumuman “volkende halte: Westermarkt”, kami pun segera siap-siap. Dan, setelah trem itu berhenti di halte yang terletak di depan sebuah gereja megah dan cantik, kami pun turun. “Oh, ini dia Raadhuisstraat,” gumam saya dalam hati seraya memandangi para pesepeda yang lalu lalang di jalan itu. “Enak juga naik sepeda di jalan yang mulus seperti ini. Andai jalan di Kota Bandung seperti ini, saya pun akan naik sepeda ke mana-mana.”

Dengan mendorong masing-masing satu kopor, dan dengan kebingungan, kami pun mencari tempat penginapan yang kami tuju. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya hotel kecil tempat kami menginap pun kami temukan. Kami sendiri, setelah beberapa hari kemudian, baru tahu, ternyata hotel kecil itu berada tidak jauh dari Dam Square dan lokasinya sangat startegis. Lagi pula, harganya terjangkau oleh kocek kami. Tapi, setelah berada di bawah sebuah papan nama kecil bertuliskan “Clemens Hotel”, yang kami dapati hanyalah sebuah pintu tertutup. Di dekat pintu itu ada bel dan kamera. Dasar orang desa, sejenak kami pun kebingungan. Padahal, mata kami terasa berat dan tubuh pun kecapaian setelah menempuh perjalanan tidak kurang dari 20 jam dari Bandung. Setelah berpikir beberapa lama, saya kemudian memencet bel yang ada di dekat pintu dan berucap dalam bahasa Inggris, karena kami tidak dapat berbahasa Belanda, “Kami dari Indonesia dan akan menginap di hotel ini…”
“Apakah Anda telah melakukan reservasi?” tanya suara seorang perempuan di bel itu.
“Ya, kami membawa bukti reservasi tersebut. Kami akan menginap di sini selama enam hari.”
“Oke, tunggu sebentar,” jawab suara itu. “Oke, kini dorong pintu di depan Anda.”
Ndeso tenan. Dasar orang desa, hehehe,” gumam saya, yang belum pernah menginap di tempat penginapan dengan model begini, sambil mendorong pintu di depan saya.

Tapi, begitu pintu itu terbuka, apa yang ada di depan saya?

Tangga miring dan terdiri dari entah berapa tahap. Begitu melihat tangga miring dan jauh itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke Giza, Mesir, dan terkenang ketika masa muda dan sedang memasuki Piramid Khufu. Persis: miring dan jauh. “Wah, bagaimana saya harus mengangkat dua kopor ini?” gumam saya dalam hati. “Gawat, (sakit) kaki kiri saya (yang tahun lalu harus dioperasi karena jatuh ketika turun dari kereta api di Stasiun Bandung) bisa kambuh lagi.”

Belum lagi kebingungan saya sirna, seorang cewek cantik dan muda melongokkan kepalanya di samping tahap terakhir tangga tersebut dan berteriak kepada saya, “Biarkan kopor kalian. Biar kopor-kopor  itu diangkat Ahmed ke atas.”
“Ahmed, siapa dia?” gumam saya.
Tidak lama kemudian, seorang anak muda turun dan mengangkat dua kopor kami. Anak muda itu ternyata adalah Ahmed, dan alhamdulillah, dia seorang Muslim asal Mesir. Dan, ketika kami “mendaki” ke atas sampai ke kamar yang kami inapi, ternyata tangga itu terdiri dari 48 tahap. Alamak!

Meski hotel itu kecil, namun pelayanannya bagus. Juga, bersih dan nyaman. Semestinya, kami baru dapat masuk ke dalam kamar pukul 14.00. Tapi, karena hari itu ada satu kamar kosong, kami dibolehkan masuk ke dalam kamar sebelum waktunya. Malah, sebelum memasuki kamar, kami dipersilakan menikmati breakfast. Apa yang terjadi ketika kami berada di restoran untuk menikmati makan pagi?

Ketika istri saya sedang kebingungan: apakah menu yang disajikan halal atau haram, seorang anak muda yang melihat istri mengenakan jilbab pun berucap, “Madame tidak usah khawatir. Semua makanan yang kami sajikan halal.”
“Kok Anda berani menjamin demikian?” tanya saya.
“Kenalkan, nama saya Hasan. Saya dari Alexandria. Saya juga Muslim seperti kalian dan pelayan di resto ini. Karena itu, saya tahu benar, semua hidangan ini halal.”
Intû min Masr? Kân zamân anâ sâkin fî Al-Qâhirah. Anda dari Mesir? Dulu, saya tinggal di Kairo,” ucap saya kepada anak muda itu.
Begitu Hasan mendengar saya berbicara dengan bahasa Arab harian ala Mesir, segera dia memeluk saya dan berucap, “Anda saudara saya. Silakan nikmati hidangan di sini sepuas-puasnya. Saya akan membuatkan kalian omelet yang sangat lezat.”
“Alhamdulillah,” ucap istri saya begitu ia saya beritahu tentang apa yang dikatakan Hasan. “Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan kepada kita.”

Usai menikmati makan pagi, kami kemudian menuju kamar. Ukuran kamar itu, ternyata, tidak lebih dari 3 x 3 meter. Tapi, kamar itu nyaman, bersih, dan view di luar menarik. Dan, tidak lama kemudian, kami pun tidur pulas. Kecapaian! (Bersambung: “MENGAJI” DI AMSTERDAM RAI: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (2). 


Thursday, August 29, 2013

Dendeng Gg. Ijan dan Hewan Korban di Makkah

Mas, kalau ke kota, jangan lupa beli Dendeng Gg. Ijan, ya.”

Demikian pesan istri saya, dua hari yang lalu, ketika ia tahu, saya akan pergi ke Kota Bandung untuk membeli sesuatu sebelum saya dan istri “ngluyur” ke Benua Eropa mulai siang hari ini. Meski ia belum pernah merasakan dendeng nan lezat itu, entah kenapa ia tertarik untuk membawa oleh-oleh dendeng terkenal dari Parijs van Java itu untuk seorang sahabat dan keluarga di benua nun jauh di utara itu. Karena itu, setelah menikmati angkot dari Baleendah dan tiba di Terminal Kebon Kalapa, Bandung, saya kemudian berjalan kaki ke arah barat, ke arah Jalan Otista, menyusuri Jalan Pungkur. Sekitar empat rumah sebelum perempatan Jalan Otista, di sebelah kiri ada sebuah gang. Di situ, ada sebuah petunjuk jalan dengan tulisan “Gg. Ijan”.

Saya sendiri, sebelum itu, belum pernah membeli Dendeng Gg. Ijan. Juga, saya tidak tahu di mana alamat penjual dendeng yang digemari Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei itu. Karena itu, ketika telah berada di gang tersebut, saya pun kebingungan mencari alamat penjual dendeng itu. Apalagi, sepanjang gang itu saya tidak menemukan petunjuk apa pun tentang “Dendeng Gg. Ijan” itu. Selepas berjalan beberapa lama, dan tidak menemukan alamat penjual dendeng itu, akhirnya saya melihat seorang ibu berusia lanjut berdiri di depan rumahnya. Saya pun bertanya kepada ibu itu, dan ibu sepuh itu memberitahu saya, Dendeng Gg. Ijan beralamat di no. 18 gang itu. Saya pun balik langkah. Ketika berada di depan rumah bernomor 18 tersebut, saya melihat dua ibu muda sedang menjemur pakaian. Di rumah itu tiada tanda-tanda sama sekali bahwa rumah itu merupakan produsen Dendeng Gg. Ijan. “Ibu,” tanya saya kepada saya seorang di antara dua ibu itu, “apa memang di sini tempat penjualan Dendeng Gg. Ijan?”
“Benar, Pak,” jawab ibu itu. “Silakan masuk.”

Setelah mempersilakan saya masuk ke dalam rumah dan duduk, ibu itu kemudian bertanya kepada saya, “Bapak sudah pesan dendeng kami sebelum ini?”
“Lo, harus pesan dulu, ya?”
“Iya, Pak. Kami hanya melayani pemesanan saja. Jadi, kami hanya melayani pembuatan dendeng ini berdasarkan pesanan saja. Jika Bapak pesan hari, pesanan Bapak baru siap besok sore.”
“Duh,” gumam saya dalam hati. “Untung saja saya baru berangkat dua hari lagi.”

Mendengar penjelasan demikian, saya kemudian bertanya kepada ibu itu tentang harga dendeng itu. Ternyata, harganya cukup aduhai. Meski demikian, saya tetap memesan dendeng tersebut yang akan saya ambil sore hari berikut. Dan, saya mendapat sampel dendeng lezat siap saji nan lezat itu.

Setelah berpamitan, dan ketika sedang menikmati perjalanan menuju Dago, naik kendaraan kegemaran saya: angkot, entah kenapa tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh. Ya, melayang jauh ke Makkah, sebuah kota yang entah berapa kali pernah saya kunjungi. Benak saya, entah kenapa pula, tiba-tiba membayangkan ratusan ribu hewan korban yang kerap kali tidak didayagunakan menjadi “sesuatu yang jauh lebih bermanfaat” dan tidak dibiarkan “mubadzir” saja. Membayangkan hewan korban tersebut, tiba-tiba bibir saya bergumam pelan, “Andai saja saudara-saudaraku di Kota Makkah mau belajar membuat dendeng nan lezat berbentuk krispi kepada ibu di Gg. Ijan itu, tentu hewan-hewan korban di Makkah itu akan termanfaatkan dengan baik. Tidak hanya dibuat kornet saja. Tetapi, dibuat dendeng siap saji nan lezat, dengan aneka ragam rasa, seperti Dendeng Gg. Ijan itu. Andai saja…”

Setiba saya di rumah kembali, sore harinya, dan ketika istri melihat sampel Dendeng Gg. Ijan yang saya bawa, istri saya pun segera mencicipi dendeng itu. “Wow, lezat sekali dendeng ini. Siap saja lagi…” serunya sambil menikmati dendeng kesukaan Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei itu.
  


Tuesday, August 20, 2013

AL-IBRIZ: 
Kitab Tafsir yang Unik, Menarik, dan Ciamik

Usai berlebaran di Kota Cepu, Jawa Tengah, pada Sabtu, 17 Agustus 2013 yang lalu, rencana semula dalam perjalanan kembali ke Bandung, sejatinya saya, istri, dan seorang adik dan suaminya bermaksud melintasi rute Cepu-Blora-Purwodadi-Semarang. Mengapa? Hal ini karena sebelumnya saya telah memberitahu seorang kiai di Pondok Pesantren Futuhiyyah, Mranggen, bahwa saya akan mampir ke sana. Kiai tersebut adalah seorang sahabat saya sejak berada di Mesir. Beliau pernah menimba ilmu di Universitas Alexandria.

Namun, rencana itu kemudian kami ubah. Ini karena malam sebelumnya, saya bertemu dengan Gus Mus dan beliau berucap kepada saya, “Monggo pinarak wonten Rembang. Silakan berkunjung di Rembang.” Menerima undangan dari seorang kiai mulia seperti halnya Gus Mus, tentu saja saya tidak dapat mampu berucap kecuali menjawab dengan penuh semangat, “Insya Allah.” Oleh karena itu, keesokan harinya, kami pun mengubah rute perjalanan kami menjadi: Cepu-Blora-Rembang-Juwana-Pati-Kudus-Demak-Mranggen-Semarang.  Tetapi, kami sengaja tidak memberitahu Gus Mus bahwa kami akan berkunjung ke rumah beliau yang terletak di Desa Leteh, Kota Rembang.

Ketika mobil yang membawa kami tiba di lingkungan Pondok Pesantren Raudlotut Tholibin, Rembang, kami pertama-tama berkunjung ke rumah Nyai Hj. Cholil Bisyri. Di situ, kami bertemu dengan ibunda Gus Yahya Staquf, salah seorang kiai di pondok tersebut yang pernah menjadi salah seorang kepercayaan Gus Dur, dan tentu Gus Yahya sendiri. Seusai berkunjung di situ, kami berenam (bersama seorang istri paman) kemudian menuju ke rumah Gus Mus. Melihat mobil Kijang Innova dengan no. polisi K 1926… berwarna putih, saya merasa yakin Gus Mus ada di rumah, meski pintu depan rumah beliau tertutup. “Bagaimana ini? Apa kita tetap akan berkunjung ke rumah Gus Mus,” tanya istri saya yang merasa tidak enak jika kehadiran kami mengganggu Gus Mus yang kemungkinan sedang beristirahat.
“Saya lihatnya dahulu, Mbak. Barang kali beliau ada di rumah,” jawab istri paman yang biasa masuk dan keluar dalam lingkungan keluarga besar Gus Mus.

Tidak lama kemudian, kami mendapat lampu hijau untuk bertemu dengan Gus Mus. Kami pun masuk ke dalam rumah beliau melalui pintu samping, di dekat dapur rumah beliau. Ketika melintasi tempat tersebut menuju ruang tamu, saya lihat Gus Mus sedang asyik memasak di dapur  dengan pakaian kebesarannya:  tetap mengenakan sarung dan baju berwarna putih. “Mâsyâ Allâh, kiai seperti Gus Mus masih sempat dan tidak malu memasak,” gumam saya dalam hati.

Tidak lama kemudian, Gus Mus keluar dari dalam rumah untuk menemui kami. Beliau keluar dengan tampilan kebesaran beliau: mengenakan baju putih, sarung putih, dan kopiah putih, serta berambut putih. Tidak lama kemudian, istri beliau juga keluar menemui kami. Segera pula, setelah berbagi sapa dengan kami, tiba-tiba Gus Mus berdiri dan kemudian masuk ke dalam rumah. Tidak lama kemudian, beliau muncul kembali dengan membawa sebuah buku berukuran besar. Setelah duduk kembali di hadapan kami, kemudian beliau menyerahkan buku itu, yang ternyata sebuah kitab terjemah dan tafsir Al-Quran yang merupakan karya besar ayahanda beliau, KH. Bisyri Musthofa, kepada saya. “Alhamdulillah,” gumam saya dalam hati seraya menarik napas panjang. “Ini merupakan hadiah yang luar biasa: mendapat hadiah sebuah kitab terjemah dan tafsir Al-Quran dari putra penulis karya besar itu dan sang putra juga seorang kiai terkemuka.” Karya itu berjudul Al-Ibriz Versi Latin.

Belum lagi rasa kaget sirna selepas menerima hadiah luar biasa tersebut, kami kemudian dipersilakan menikmati makan siang dengan hidangan yang juga tidak lepas dari sentuhan tangan Gus Mus. “Kulo niki pancene seneng ngrusuhi wonten pawon. Saya ini memang suka membuat repot (orang di) dapur (dan terlibat dalam kegiatan dapur),” ucap Gus Mus, merendah. Duh, betapa hal itu merupakan suatu kehormatan bagi kami. Ingat pesan Imam Al-Syafi’i, yang suka menikmati hidangan halal yang disajikan orang yang mulia, saya pun menikmati hidangan itu dengan lahap. Eh, yang lain-lain ternyata ikut-ikutan menikmati hidangan itu dengan lahap.

Tidak lama kemudian, menyadari Gus Mus belum banyak beristirahat, kami pun segera berpamitan.  Sepanjang perjalanan, dari Rembang menuju Semarang, kitab hadiah istimewa, dalam bahasa Jawa indah, dari Gus Mus itu saya cermati. “Duh,” gumam saya dalam hati selepas mencermati kitab tersebut. “Ini kitab terjemah dan tafsir yang luar biasa dan merupakan karya seorang kiai yang luar biasa. Sebuah karya yang unik, menarik, dan ciamik (luar biasa).”

Siapakah KH. Bisyri Musthofa, penyusun karya dalam bahasa Jawa itu?

KH. Bisyri Musthofa lahir di Desa Pesawahan, Rembang, Jawa Tengah, pada tahun 1915.  Nama asli beliau adalah Masyhadi. Namun, sepulang dari menunaikan ibadah haji, beliau mengubah namanya menjadi Bisyri. Ketika berusia sekitar dua puluh tahun,  putra pertama dari empat bersaudara pasangan H. Zaenal Musthofa dengan istri keduanya yang bernama Hj. Khatijah, dinikahkan seorang gurunya, KH.  Cholil dari Kasingan (tetangga Desa Pesawahan), dengan seorang gadis bernama Ma’rufah yang tidak lain adalah putri KH. Cholil sendiri. Dari perkawinannya ini, KH. Bisyri Musthofa dianugrahi delapan anak, yaitu Cholil, Musthofa, Adib, Faridah, Najihah, Labib, Nihayah, dan Atikah.

Setelah menikah dan menimba ilmu, termasuk ke Makkah, KH. Bisyri Musthofa kemudian mengajar di pesantren. Di samping kegiatan mengajar di pesantren, beliau juga aktif pula mengisi ceramah keagamaan. Penampilannya di atas mimbar amat mempesona para hadirin yang ikut mendengarkan ceramahnya. Tidak aneh jika beliau kerap diundang untuk mengisi ceramah dalam berbagai kesempatan di berbagai daerah di Jawa Tengah.

Meski sibuk mengajar dan terkenal sebagai singa podium, namun KH. Bisyri Musthofa ternyata punya keistimewaan yang kerap tidak dimiliki para kiai yang lain: beliau juga seorang penulis piawai. Salah satu karya beliau adalah karya monumental beliau, Al-Ibriz, sebuah kitab terjemah dan tafsir Al-Quran dalam bahasa Jawa.  Dalam karya yang semula terdiri dari tiga jilid dan diterbitkan Penerbit Menara Kudus ini KH. Bisyri Musthofa senantiasa memberikan tafsiran terhadap ayat-ayat mutasyâbihât dengan mengambil beberapa pendapat para mufassir disertai dengan argumen-argumen yang beliau berikan sendiri. Dalam kitab tafsirnya itu, tidak sedikit ditemukan uraian-uraian yang menyangkut ilmu sosial, logika, ilmu pengetahuan alam dan sebagainya.

Sebagai orang Jawa yang telah lama, tidak kurang dari 30 tahun, tidak tinggal di daerah yang berbahasa Jawa, saya sangat menikmati tulisan kiai terkemuka yang berpulang pada Rabu, 27 Shafar 1397 H/17 Februari 1977 M itu. “Unik, menarik, dan ciamik sekali karya ini,” demikian gumam saya dalam hati sepanjang perjalanan dari Rembang menuju Semarang, dan kemudian menuju Bandung. “Matur nuwun sanget, Gus Mus. Ini merupakan hadiah yang luar biasa.”
  

Wednesday, August 14, 2013

Makanan yang Menjadi Obat

Nanti malam, ketika jutaan orang kembali dari kampung halaman, ganti saya yang mudik bersama istri. Ketika saya mudik, yang paling khawatir adalah istri. Mengapa? Dia tahu, setiap kali pulang kampung, saya punya kebiasaan berkunjung ke beberapa sahabat. Nah, di sini “problem”nya. Kala berkunjung ke rumah beberapa sahabat dan mendapat sajian makanan, saya biasanya menikmati sajian yang ada dengan lahap. Tapi, tentu, tidak di semua sahabat.

Pernah, beberapa tahun lalu, ketika saya berkunjung ke rumah Cak Amal Fathullah, salah seorang sahabat dekat yang kini menjadi seorang kiai terkemuka di sebuah pondok modern di Ponorogo, Jawa Timur, kala itu dihidangkan sate ponorogo nan lezat. Menerima sajian demikian, saya pun menikmati sate ponorogo itu dengan lahap. Melihat hal itu, tiba-tiba istri mencubit tangan saya sambil berucap, “Mas, apa kata Cak Amal nanti. Malu ah!”
“Biarkan saya menikmati sate ponorogo ini dengan lahap. Saya yakin, sajian ini halâlan thayyiban. Sajian ini, insya Allah, penuh berkah. Karena itu, biarkan saya menikmati sajian ini dan meneladani Imam Al-Syafi‘i.”
“Lo, apa kaitannya Imam Al-Syafi‘i dengan sajian ini?”
“Belum tahu ya ceritanya?”

Ya, bagaimana kaitan Imam Al-Syafi‘i, pendiri Mazhab Syafi‘i yang diikuti ratusan juta umat di Dunia Islam, dengan menikmati sajian dengan lahap? Berikut ceritanya:

Suatu saat, betapa gembira hati seorang putri Imam Ahmad bin Hanbal. Kita tahu, Imam Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadis, hukum Islam,  dan  ilmu kalam  yang  juga  salah seorang tokoh dari  empat  imam  mazhab fikih. Kegembiraan putri ulama yang satu itu dipicu oleh kabar gembira dari sang ayahanda yang akan menerima kunjungan seorang guru yang kerap ia bincangkan bersama sang putri. Sang putri tahu, ayahandanya kerap menyanjung gurunya yang lahir di Gaza, Palestina itu, karena keluasan ilmu dan wawasannya. Karena itu, ia ingin tahu bagaimanakah sejatinya akhlak dan perilaku tokoh  yang  pernah menyatakan bahwa  “perhiasan  yang  paling indah yang  dikenakan  ulama adalah  kedamaian hati (qanâ‘ah), kepapaan, dan ridha” itu.

Benar saja, Imam Al-Syafi‘i tidak lama selepas itu datang berkunjung ke rumah Imam Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ketika larut malam tiba, ulama yang berpulang Jumat, 30 Rajab 204 H/ 20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir meminta izin kepada tuan rumah untuk beristirahat. Selama Imam Al-Syafi‘i beristirahat malam itu, ternyata putri Imam Ahmad bin Hanbal sengaja begadang dan mengintip apa saja yang dilakukan tamu mulia ayahandanya itu. Kemudian, pagi harinya, seusai melaksanakan shalat subuh, sang putri memberanikan diri bertanya kepada ayahandanya dengan suara lirih, “Wahai ayahanda! Benarkah ia adalah Imam Al-Syafi‘i yang kerap ayahanda bincangkan tentang kebaikan dan ketakwaannya itu?”
“Benar, wahai putriku,” jawab sang ayahanda penasaran. “Ia memang adalah Imam Al-Syafi‘i, guru ayah, yang kerap kubincangkan denganmu. Ada apa?”
“Wahai ayahanda,” jawab sang putri tetap dengan suara pelan. “Semalam, saya sengaja tidak memejamkan mata. Betapa saya ingin sekali tahu perihal perilaku tuan guru  yang satu itu. Sejak tuan guru dan tamu ayahanda itu datang, saya senantiasa mencermati seluruh gerak dan lakunya. Ternyata, selama itu, saya mengamati tiga hal yang saya sayangkan terhadap diri tuan guru dan tamu ayahanda itu. Ketika saya menghidangkan makanan, duh, ternyata ia lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan. Ketika ia sedang beristirahat, ternyata ia sama sekali tidak melakukan shalat malam dan tahajud. Dan, ketika ia menjadi Imam shalat subuh tadi, ternyata ia tidak berwudhu!”

Tentu saja, Imam Ahmad bin Hanbal kaget sekali dan sangat penasaran mendapat penjelasan dari putrinya tentang Imam besar yang  dalam menetapkan hukum memadukan antara metoda  Hijaz  dan metoda Irak, yakni memadukan antara lahiriah teks-teks  landasan hukum  Islam dengan rasio, itu. Karena itu, selepas berbagi sapa beberapa lama, Imam yang salih dan hidup sederhana itu pun mengemukakan kepada Imam Al-Syafi‘i perihal pengamatan putrinya.

Mendengar pertanyaan demikian, wajah Imam Al-Syafi‘i tidak menunjukkan rasa tidak senang sama sekali. Malah, Imam Al-Syafi‘i menjawab dengan wajah berbinar, “Wahai Imam Ahmad! Memang saya lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan tersebut. Ini karena saya tahu, makanan yang kalian sajikan adalah makanan yang halal dan baik. Engkau adalah seorang ulama mulia. Sedangkan makanan yang disajikan orang mulia dan halal adalah obat. Berbeda dengan makanan orang pelit yang malah dapat menjadi penyakit. Jadi, saya makan tidaklah untuk memuaskan selera makan saya. Tapi, saya makan untuk berobat dengan makanan yang disajikan semalam. Sedangkan berkenaan dengan malam yang saya lewatkan tanpa shalat malam atau tahajud, semalam seakan saya melihat Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. ada di depan mata saya. Sehingga, dengan merenungi keduanya, saya menemukan kesimpulan tujuh puluh dua masalah fikih yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Akibatnya, saya tidak memiliki kesempatan untuk melaksanakan shalat malam. Dan, berkenaan dengan shalat subuh tanpa wudhu, sejatinya karena sepanjang malam saya tidak tidur sama sekali dan tiada sesuatu pun yang membatalkan wudhu saya. Sehingga, saya shalat subuh dengan wudhu shalat isya.”

Betapa lega Imam Ahmad bin Hanbal mendengar jawaban Imam Al-Syafii tersebut yang tidak selaras dengan pengamatan putrinya. Demikian pula putrinya yang mendengarkan penjelasan guru ayahandanya itu dari balik tirai. Malah, Imam Ahmad bin Hanbal kemudian menekankan kepada putrinya bahwa hasil perenungan Imam Al-Syafi’i yang bermanfaat bagi kemaslahatan kaum Muslim itu jauh lebih utama nilainya dibandingkan dengan shalat malam yang dilakukannya.


Nah, karena itu, jika Anda berkunjung ke rumah seseorang dan mendapat sajian makanan, sedangkan Anda merasa yakin sajian itu halâlan thayyiban, nikmati saja sajian itu dengan lahap. Sebab, sajian itu, menurut Imam Al-Syafi‘i, merupakan obat!