Tuesday, September 17, 2013

LO, ITU KAN FOTO IBU MEGA, KOK DIJAJAKAN DI SITU:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (5)

Meski berada di Kota Amsterdam, namun kebiasaan kami berdua: bangun sebelum subuh, tetap terjaga baik. Karena itu, sebelum waktu shalat Subuh tiba, istri pun segera membuka laptop yang dibawanya, meski  kamar hotel yang kami inapi sempit sekali.  Beberapa tugas presentasi di rumah sakit, alhamdulillah, akhirnya dapat dia rampungkan selama beberapa hari di kota itu. Sedangkan saya, selain membuat catatan ringkas hasil perjalanan, juga “melahap” beberapa buku yang saya bawa dan beli di kota itu, sambil menyiapkan outline (calon) buku-buku baru yang kerap kali muncul dalam perjalanan.

“Bekerja”, “Mengaji (menimba ilmu dan mencari pengalaman baru)”, dan “Kluyuran”, itulah yang kami lakukan setiap kali melakukan perjalanan. Ke manapun kami melangkahkan kaki. Baik ketika ke Singapura, Malaysia,Turki,  Hongkong, China, Macao,  maupun Australia. Tidak aneh  jika, kini, penyakit “suka kluyuran” itu menular kepada dua putri kami. Yang sulung sudah “kluyuran” ke 24 provinsi di Indonesia (termasuk Aceh dan Papua) dan 11 negara. Sedangkan yang bungsu sudah “kluyuran” ke 12 provinsi dan 8 negara. Kadang, kami “kluyuran” berempat, kadang mereka jalan sendiri.  Dengan biasa “kluyuran”, kami pun menjadi terbiasa membuat perencanaan mendadak, keluar dari zona nyaman, serta senantiasa siap menghadapi situasi dan kondisi tidak terduga dengan budaya, adat istiadat, dan agama yang beragam. Di mana pun berada, alhamdulillah.

Nah, usai melaksanakan shalat subuh dan menanak nasi (dasar orang Indonesia, sulit berpisah dengan nasi), istri tiba-tiba berucap kepada saya, “Mas, hari ini aku mau “mengaji” materi penyakit jantung yang dipresentasikan sore nanti saja. Pagi ini, bagaimana kalau kita “ngluyur”. Ke mana enaknya?”
“Baru sehari “mengaji” sudah membolos, hehehe. Bagaimana kalau pagi ini kita pergi ke Desa Zaanse Schans, tempat kincir angin-kincir angin kuno di Belanda ini. Dari sana, kita pergi ke Vollendam, sebuah desa nelayan terkenal di negeri ini.”
“Membolos sih tidak. Kan selain “mengaji”, kita juga perlu “kluyuran”, untuk membuka wawasan kita.” “Oke,  jika demikian, hari ini kluyuran ke Desa Zaanse Schans dan Vollendam. Lalu, kita ke Amsterdam RAI. Setelah itu, kita “kluyuran” lagi, naik dan turun trem di seputar Amsterdam!”

Segera, kami pun berkemas-kemas. Saya, yang kerap menjadi tour leader ke berbagai negara, segera membaca peta Belanda. Dan, seusai menikmati breakfast, kami segera “bergerak” menuju Stasiun Amsterdam Centraal, karena memburu kereta api pagi. Tujuan kami, saat itu, adalah Stasiun Koog-Zaandijk. Kemudian, setiba di stasiun terbesar di Kota Amsterdam itu, kami kemudian pergi menuju ke loket penjualan tiket domestik, yang berada di seberang loket internasional. Kami pun membeli tiket “dagretour”, tiket pulang-pergi yang berlaku sehari, seharga 6,30 euro. Mahal, memang, kalau dihitung dengan rupiah. Itu pun untuk kereta api kelas dua, bukan kelas satu dengan kursi yang mewah dan lapang. Kami mendapat jadwal kereta api dengan keberangkatan pukul 08.25 pagi waktu Amsterdam.

Kami pun segera menuju ke peron 7 a, tempat mangkal kereta api yang akan menuju ke Koog-Zaandijk pagi itu. Untuk menuju peron tersebut, kita perlu naik ke lantai kedua dengan elevator. Begitu sampai di lantai dua, ternyata suasana masih sepi. Hanya ada satu atau dua penumpang yang sedang menunggu. Salah seorang di antara mereka adalah seorang anak muda ganteng dan berkulit putih. Semula, saya kira dia adalah anak muda Belanda. Ternyata, dia anak muda keturunan Maroko. Dia bermaksud mengambil mobilnya yang dia parkir di luar kota. Tahu kami Muslim dari Indonesia, anak muda itu pun mendampingi kami dalam perjalanan menuju Koog-Zaandijk. Selama dalam perjalanan, anak muda yang bekerja di restoran dan tinggal di pinggir Kota Amsterdam hanya dengan ibu dan saudara perempuannya itu banyak bercerita tentang kehidupannya di Kota Amsterdam.

Tidak lama kemudian, kereta api yang akan menuju Koog-Zaandijk pun datang. Segera, kami mencari gerbong yang bertuliskan angka 2, karena kami membeli tiket kelas dua. Ternyata, ruangan yang kami tempati di kereta api itu nyaman sekali, meski hanya kelas dua. Kami memilih duduk di ruang lantai dua, karena dapat melihat dengan leluasa sekali pandangan di luar kereta api. Setelah berhenti beberapa lama, kereta api milik Netherlands Spoorwegen (NS) yang berwarna kuning-biru itu kemudian bergerak dan kemudian melaju cepat. Menurut keterangan bagian informasi, jarak tempuh antara Amsterdam Centraal-Koog Zaandijk, dengan kereta api, hanya 17 menit. Saya, yang pernah menjadi pengguna kereta Jakarta-Bandung setiap minggu selama beberapa tahun, pun bertanya dalam hati, “Bagaimana pihak NS mengelola kereta api ini demikian rapi dan tepat waktu?”

Selain dengan manajemen perkeretaapian yang bagus, ternyata, berdasarkan pengamatan saya, rata-rata di Belanda jalur kereta api ada empat. Beda dengan di Indonesia yang kebanyakan hanya satu jalur saja. Pantas, efisien, tepat waktu, dan nyaman.

Rasanya, kami hanya sebentar saja naik kereta api tersebut. Sekitar 15 menit saja. Sedangkan jika naik bus diperlukan waktu sekitar 40 menit. Juga, dari Amsterdam Centraal. Setiba di Stasiun Koog-Zaandijk, yang turun dari kereta api hanya delapan orang: kami berdua dan enam orang Jepang yang, ternyata, juga peserta kongres ESC 2013. Mungkin, karena masih pagi, baru sedikit orang yang pergi ke sana dengan naik kereta api. Mengikuti petunjuk yang ada, kami kemudian melewati terowongan. Setelah melewati terowongan, kami belok kiri dan kemudian belok kanan. Begitu belok kanan, di samping kanan dan kiri Stationsstraat (alias Jalan Stasiun) tegak rumah-rumah tradisional Belanda. Namun, saya tidak melihat satu pun warga yang nongol di rumah-rumah itu, meski di depan rumah-rumah itu banyak mobil sedang parkir. “Sepi banget begini, ya,” ucap istri sambil memandangi rumah-rumah yang cantik dan terawat baik itu. “Padahal, di depan rumah-rumah itu banyak mobil parkir.”
“Mungkin, karena baru pukul 09.00 pagi, mereka masih tidur pulas selepas menikmati malam minggu,” jawab saya. “Barang kali saja, hehehe.”

Setelah melintasi Stationsstraat, kami kemudian belok kiri. Eh, di situ tegak sebuah kincir angin besar dan kuno. Kami pun berfoto, sebagai kenangan, tentu saja. Kemudian, tidak jauh dari situ, kami belok kanan. Ternyata, di situ terbentang jembatan. Melihat jembatan itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke sebuah jembatan di dekat Masjid Baiturrahman, Banda Aceh, karena sedikit ada kemiripan di antara keduanya. Kemudian, tidak jauh dari situ ada jalan belok ke kiri. Nah, di gerbang jalan itu terdiri kotak setinggi orang disertai tuas. Ketika tuas itu digerakkan istri, yang keluar ternyata peta Desa Wisata Zaanse Schans.

Begitu memasuki desa wisata itu, yang sangat rapi, bersih, dan tenang, di situ berdiri sederetan rumah-rumah tradisional. Kami pun masuk ke desa itu. Ternyata, di situ tegak enam kincir angin berukuran besar. Masing-masing kincir-kincir angin itu memiliki nama dan fungsi yang berbeda: “De Huisman”,  tempat pembuatan rempah-rempah, “De gekroonde Poelenburg”, tempat pembuatan gergaji, “De Kat”, tempat pembuatan cat, “De Zoeker”, tempat pembuatan minyak, “Het Jonge Schaap”, tempat pembuatan gergaji, dan “De Bonte Hen”, tempat pembuatan minyak. Selain kincir angin-kincir angin, di desa itu juga terdapat beberapa museum: museum wine, museum keju dan bengkel cara membikinnya, museum klompen, museum Albert Heijn, dan museum Zaanse Schans.

Mengingat waktu yang terbatas, kami hanya “melongok” keenam kincir itu saja dan tidak sempat memasuki museum-museum tersebut. Ketika kami meninggalkan lokasi tersebut, kami lihat rombongan para dokter dari Indonesia, dengan naik beberapa bus, baru saja datang. Dari Desa Zaanse Schans, kami kemudian kembali ke Stasiun Koog-Zaandijk. Jalan kaki, tentu saja. Tidak lama kemudian, datanglah kereta api yang membawa kami kembali ke Stasiun Amsterdam Centraal. Karena ketika berangkat kami telah membeli tiket “dagretour”, maka ketika dari Koog-Zaandijk kami tidak perlu membeli tiket lagi. Sekitar seperempat kemudian, kami sudah tiba di Stasiun Amsterdam Centraal. Setelah turun dari kereta api, kami lantas menuju ke bagian belakang stasiun. Di situ, kami membeli tiket bus EBS yang menuju Vollendam. Ternyata tiket seharga 15 euro itu berlaku selama sehari dan dapat digunakan untuk naik bus EBS. Ke mana saja.

Menunggu tidak lebih dari lima menit, datang kemudian bus nomer 118 (ke Vollendam kita juga bisa naik bus nomer 110). Sepanjang perjalanan, kami melihat kebun-kebun yang juga dijadikan tempat penggembalaan sapi-sapi perah. Semuanya terawat bagus. Dan, tidak lebih lima puluh menit kemudian, tibalah kami di Desa Vollendam, sebuah kampung nelayan Belanda. “Wow, bersih, rapi, dan asri sekali,” seru istri. “Andaikan Pantai Pangandaran atau Pantai Gili Trawangan di Lombok dapat dibuat seperti ini, tentu kian banyak pengunjungnya.”
“Ya, andai saja kan,” jawab saya sambil tersenyum. “Barang kali, di Indonesia terlalu banyak pantai indah. Akibatnya, pengelolaannya seenaknya saja. Lihat orang-orang itu. Betapa santai sekali mereka naik sepeda, ke sana ke mari. Tiada mobil satu pun yang tidak menghormati mereka.”

Tidak jauh dari tempat pemberhentian bus itu, tiba-tiba kami melihat enam orang yang berpenampilan “Indonesia banget”. Kami pun menyapa mereka. Ternyata, mereka memang orang Indonesia. Dan, mereka tinggal di situ. “Duh, di mana-mana bertemu dengan orang Indonesia. Padahal, kampung ini kan ‘di ujung dunia’,” gumam saya dalam hati.
“Bapak dan Ibu ke sini naik apa?” tanya mereka.
“Naik bus dari Stasiun Amsterdam Centraal,” jawab saya. “Memangnya kenapa?”
“Berani sekali,” sahut mereka. “Biasanya orang-orang Indonesia, ketika pergi ke sini, ikut tour group.”
“Kami bukan mereka, hehehe. Kami memang suka ‘kluyuran’ kok.”

Segera, kami berpamitan dengan mereka, karena waktu yang terbatas. Segera pula, kami menuju ke arah Kampung Nelayan Vollendam. Meski tidak besar, kampung itu tertata rapi, bersih, dan nyaman. Di situ, banyak kafe dan restoran yang menyajikan sea-food. Tentu saja, kan kampung itu kampung nelayan. Ketika kami berjalan semakin jauh, eh di sisi kiri jalan kami menemukan sebuah toko foto, Toko Z. Begitu melihat ke etalase toko itu, eh di situ terpampang foto-foto sejumlah tokoh papan atas Indonesia sedang mengenakan pakaian ala nelayan Vollendam, “Lo, itu kan fotonya Ibu Megawati dan Pak Taufik Kiemas (alm). Kenapa dijajakan di situ,” gumam saya begitu melihat foto-foto itu. “Ibu Mega kan pernah jadi Presiden Indonesia. Selayaknya, tidak dijadikan model begitu, ah.”

Itulah pintarnya toko tersebut. Nampaknya, untuk memikat supaya orang-orang Indonesia, termasuk saya dan istri yang akhirnya juga ikut-ikutan berfoto di situ, toko itu “menjajakan” foto-foto para penggede Indonesia. Termasuk foto Prof. Dr. Din Syamsuddin, Ketua Umum PP Muhammadiyah saat ini. Tidak aneh, ketika melihat foto-foto para penggede itu, banyak orang Indonesia yang tertarik ikut berfoto di situ.

Karena asyik ‘kluyuran’ ke Zaanse Schans dan Vollendam, tidak terasa waktu sudah mendekati pukul dua siang. Karena perut kelaparan, dan tidak membawa bekal, akhirnya kami mengikuti jejak para mahasiswa Malaysia dari Inggris yang asyik menikmati nasi kuning ala Belanda dan udang goreng. Hal itu kami lakukan setelah kami bertanya kepada mereka, apakah makanan yang mereka nikmati halal atau tidak. Sayang, rasa nasinya hambar sekali. Tanpa sambal soalnya, hehehe.

Selepas menikmati makan siang, kami segera kembali ke Amsterdam Centraal dan kemudian menuju gedung Amsterdam RAI. Setelah istri ‘mengaji’, saya pun ingat pesan Mas Muzammil Basyuni, mantan wakil duta besar Indonesia dan mantan duta besar Indonesia di Suriah, yang berpesan kepada saya sebelum saya berangkat ke Belanda, “Mas, cari Pak Ahmad Naf’an Sulchan atau Meneer KH. Hambali di sana, ya.” Teringat pesan itu, saya pun kebingungan, karena tidak punya sama sekali ‘data’ mereka. Apalagi, saya belum kenal dan belum pernah bertemu dengan mereka. Akhirnya, saya pun mengambil keputusan untuk tidak jadi mencari mereka. Karena itu, seusai istri ‘mengaji’ tentang penyakit jantung, kami pun mengambil keputusan untuk ‘kluyuran’ lagi. Kali ini, kami menuju Osdorp.

Eh, ketika di tengah perjalanan, kami bertemu seorang anak muda asal Kediri, Mas Suherman. Dia baru saja pulang bermain badminton. Ketika dia kami tanya tentang masjid orang Indonesia di Kota Amsterdam, kami kemudian dia ajak menuju Masjid Al-Ikhlash yang terletak tidak jauh dari Osdorpplein, “Mari saya antarkan ke sana,” ucapnya penuh semangat. “Saya tadi siang juga ikut pengajian di sana, kemudian main badminton bersama seorang teman.”


Sayang, ketika sampai di sana, pengajian mingguan yang mereka adakan baru saja bubaran. Meski demikian, kami sempat  bertemu dan berbincang dengan beberapa pengurus masjid tersebut, alhamdulillah. Dan, dari masjid itu kami kemudian ‘kluyuran’ lagi hingga agak larut malam ke pelbagai penjuru Kota Amsterdam, sampai kami kenal dengan pelbagai sudut kota tua itu. (Bersambung: MADURODAM ITU DI DEN HAAG, BUKAN DI MADURA: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (6). Kisah Kluyuran ke Den Haag). 

Monday, September 16, 2013

MELONGOK  PASAR KONDANG VAN AMSTERDAM:
Perjalanan Santri nDeso ke Belanda-Belgia (4)

“Payungi pun sampun cumepak, Diajeng. Payungnya sudah siap, Diajeng?” tanya saya kepada istri, Sabtu pagi, 31 Agustus 2013, di dalam sebuah kamar Clemens Hotel, Amsterdam, dengan bahasa Jawa halus. 
“Sampun, Ndoro. Sudah, tuan besar,” jawab istri yang faham, ketika saya menggunakan bahasa Jawa halus, seperti kosa kata “diajeng” (adik), artinya saya sedang menggodanya dan bercanda dengannya. Karena itu, dia pun membalas candaan itu dengan ucapan candaan pula: “Ndoro”. Kami berdua, memang, kerap bercanda untuk membuat cair suasana di antara kami berdua.

Menurut ramalan cuaca, baik BBC maupun tivi Belanda, hari itu cuaca Amsterdam turun mendadak, dari antara 22-14 celcius menjadi 16-11 celcius. Lagi pula, hari itu akan hujan. Mendengar ramalan yang demikian, kami pun mempersiapkan diri: membawa payung dan jaket anti-dingin di tas punggung kami. Ternyata, cuaca yang tidak menentu tidak hanya melanda Indonesia, tapi juga benua Eropa. Cuaca yang naik dan turun membuat kami harus selalu siap dengan payung dan jaket. Ke mana pun kami melangkah, selama di Belanda dan Belgia. Dan, dalam cuaca yang demikian, saya sendiri selalu “mempersenjatai diri” dengan meminum vitamin c dosis tinggi.  

Usai mempersiapkan segala sesuatu untuk “menyambut” perjalanan kami hari itu, kami pun segera turun ke resto hotel, untuk menikmati breakfast. Setelah itu, segera kami turun dari hotel dan menuju Halte Dam, dengan tujuan Stasiun Amsterdam Centraal. Hari itu, istri mulai “mengaji” alias “sekolah” di Amsterdam RAI. Ketika kami sedang melihat peta di Halte Dam, sambil menunggu trem nomer 13 atau 17 datang, tiba-tiba seseorang  berusia lanjut, sekitar 70 tahun, mendekati kami dan bertanya, “Tahukah kalian, bagaimana cara menuju Amsterdam RAI?”
“O, Anda akan ikut kongres European Society of Cardiology, ya?” tanya istri kepada orang itu.
“Benar,” jawab orang itu. “Kalian juga akan ke sana? Jika kalian juga akan ke sana, di mana tempat membeli tiket trem yang menuju ke sana?”
“Silakan Anda pergi bersama kami. Kami memang akan pergi ke Amsterdam RAI. Anda dapat membeli tiket itu kepada masinis trem atau petugas lainnya di gerbang ketiga. Di situ, Anda dapat membeli tiket dengan beberapa pilihan masa berlakunya: ada yang satu jam, satu hari, dua hari, atau tiga hari. Anda dari mana?”
“Terima kasih. Saya seorang dokter spesialis jantung dari Spanyol,” jawab orang itu sambil memandangi istri yang mengenakan jilbab. “Tetapi, asal saya dari Lebanon. Saya juga seorang Muslim kok, seperti ibu ini.”
“Mas, pagi begini kita mendapatkan kesempatan bersedekah: mendampingi seseorang berusia lanjut yang masih bersemangat menimba ilmu pengetahuan,” kata istri.

Betapa gembira dokter itu, begitu dia tahu, saya pun menguasai bahasa Arab. Dia pun mengajak saya berbincang dalam bahasa Arab. Dalam hati, saat itu, saya bersyukur kepada Allah, karena sejak muda sudah menyadari pentingnya penguasaan beberapa bahasa asing, terutama bahasa Arab. Dengan menguasai tiga bahasa utama di dunia: bahasa Arab, Inggris, dan Perancis (maaf, tidak bermaksud pamer), alhamdulillah saya dapat berbincang dengan banyak bangsa. Ke mana pun pergi, ke pelbagai belahan dunia.

Ketika trem nomer 13 datang, kami dan dokter dari Spanyol itu pun segera naik ke atas trem tersebut. Tidak lebih dari sepuluh menit, kami sudah tiba di Amsterdam Centraal. Dari situ, kami kemudian naik trem nomer 4 menuju Halte Dintelstraat yang dekat dengan gedung Amsterdam RAI. Ketika trem yang kami naiki kian dekat dengan Amsterdam RAI, kian banyak para penumpang pria yang mengenakan jas dan dasi dan para penumpang yang berpakaian resmi. Dengan mudah dapat diduga, sebagian besar di antara mereka adalah para peserta kongres ESC 2013. Entah kenapa, melihat para dokter yang mengenakan jas dan dasi tersebut, benak saya tiba-tiba “melayang-layang” ke Kairo, Mesir, ketika saya sedang mengikuti program pascasarjana di Universitas Kairo pada awal tahun 1980-an. Ketika itu, musim dingin. Semua para peserta program tersebut mengenakan jas, kecuali saya yang mengenakan jaket. Seumur-umur saya, memang, hanya sekali saja mengenakan jas. Itu pun pinjaman. Melihat hal itu terjadi berulang kali, seorang profesor bertanya, “Ahmed (itulah panggilan saya ketika menimba ilmu di Mesir). Mengapa engkau tidak pernah mengenakan jas seperti teman-temanmu?”
“Maaf, Prof,” jawab saya, “saya tidak terbiasa mengenakan jas. Di Indonesia tidak ada musim dingin, karena itu saya tidak terbiasa mengenakan jas. Saya lebih terbiasa mengenakan jaket.”

Mendapat jawaban demikian, profesor tersebut diam saja. Sejak itu, beliau tidak pernah bertanya lagi tentang persoalan jas. Dan, setelah itu, hingga kini, saya tidak pernah mengenakan jas. Dalam acara apa pun. Memang, dalam hal ini, saya adalah seorang santri ndeso, yang tidak tertarik sama sekali untuk mengenakan jas.

Ketika kami tiba Halte Dintelstraat, hujan tiba-tiba turun. Karena kami sudah “sedia payung sebelum hujan”, kami pun dengan tenang turun dari trem dan melangkah menuju gedung Amsterdam RAI, dengan menggandeng dan memayungi dokter spesialis jantung dari Spanyol yang pergi bersama kami. Ketika tiba di gedung Amsterdam RAI, gedung itu telah penuh dengan ribuan peserta kongres ESC 2013. Saya sendiri, setelah berpamitan dengan istri, segera kembali ke Halte Dintelstraat dengan tujuan: Halte Rembrandtpleine. Sepanjang perjalanan, saya pun berusaha “merekam dengan pandangan mata langsung”, dengan kamera yang saya bawa, lingkungan di sebelah kanan dan kiri sepanjang jalur trem. Itulah kebiasaan saya, sebelum saya menuangkannya dalam sebuah kisah perjalanan.

Ketika trem yang saya naiki tiba di Halte Rembrandtplein, dan kemudian melangkah ke seberang jalan menuju Rembrandt Square. Karena saat itu baru sekitar pukul 08.30 pagi, tidak banyak orang yang sedang “menikmati” patung Rembrandt van Rijn. Di sekitar kawasan itulah, dulu, pelukis kondang Belanda itu tinggal antara 1639-1656. Semula, square alis taman itu merupakan tembok-tembok pertahanan yang dibangun pada Masa Pertengahan untuk melindungi Kota Amsterdam. Sedangkan patung sang pelukis mulai dibuat pada 1852,oleh seorang pematung kondang kala itu, Louis Royer. Patung itu kemudian diletakkan di tengah-tengah taman. Karena itu, taman tersebut disebut Rembrandtplein, alias “Taman Rembrandt”. Di sekitar taman yang terkenal itu, kini, banyak terdapat kafe, hotel, dan pelbagai sarana hiburan. Beberapa trem melintasi taman itu, yaitu trem nomer 4, 9, dan 14.

Puas menikmati patung karya Louis Royer, tentu saja juga mengambil sejumlah foto di situ, saya kemudian meneruskan perjalanan menuju Dam Square. Kali ini, dengan berjalan kaki. Setiap kali melintasi gang dan jalan, gang dan jalan itu saya masuki. Juga, dengan menikmati kanal sepanjang jalan yang saya lalui. Kayak orang yang tanpa tujuan sama sekali. Setiap kali kedua kaki saya “meminta istirahat”, saya pun berhenti dan membaca buku yang senantiasa mengikuti saya ke manapun  pergi. Dari “petualangan” itu, saya kian memahami: tidak semua orang-orang Amsterdam kaya. Meski demikian, menurut penilaian saya, mereka ramah dan rata-rata dapat berbahasa Inggris. Selain itu, mereka sangat sadar berlalu lintas dan penikmat sepeda yang luar biasa serta pencinta fanatik anjing.

Karena saya sangat menikmati petualangan dengan jalan kaki, ketika tiba di Dam Square tidak terasa tiga jam berlalu. Kemudian, ketika saya sedang asyik menikmati taman tersebut, yang penuh dengan turis, tiba-tiba short message (sms) dari istri, “Mas ada di mana? Kongres sebentar lagi istirahat. Lama: sampai pukul 15.00 nanti.”

Menerima pesan demikian, saya pun segera tersadarkan: saat itu saya berada di Belanda. Kayaknya, orang-orang Belanda suka istirahat siang lama. Atau, barang kali, mereka masih menerapkan ‘siesta’, alias tidur siang. Entahlah. Karena itu, saya pun segera naik trem menuju ke gedung Amsterdam RAI.  Begitu bertemu dengan saya, istri pun berucap, “Lapar, nih. Gak ada makanan apa pun. Hanya ada minum air mineral saja.”

Untung, paginya kami sudah “membekali diri” dengan nasi dan lauk yang ikut saya (di tas punggung) kluyuran, hehehe. Kami pun segera makan dengan lahap, karena cuaca hari itu dingin bagi kami. Dan, seusai menikmati makan siang, di taman di depan gedung Amsterdam RAI, istri berucap, “Daripada menunggu lama, sampai pukul 15.00, bagaimana jika kita ‘ngluyur’ saja dulu. Nanti, kita kembali lagi ke sini?”
“Siap! Bagaimana jika kita pergi ke pasar kondang di kota ini, yaitu Albert Cuyp Markt?”
“Mengapa ke pasar itu?”
“Entah kenapa, saya tiba-tiba ingat Edin (adik saya yang telah berpulang karena kecelakaan: seorang insinyur mesin lulusan Insitut Teknologi Bandung yang kemudian mengambil program MBA di bidang bisnis dan teknologi di Enschede, Belanda). Bukankah dia kerap bercerita, ketika dia sedang menimba di sini, salah satu cara dia untuk menghemat bea siswa yang diterimanya, dia sering pergi ke pasar dan membeli barang-barang yang diperlukannya dengan harga murah. Saya ingin tahu, bagaimana suasana pasar di negeri ini. Lagi pula, ngapain kita pergi ke mall. Mall-mall di Indonesia gak kalah lengkap daripada mall-mall di sini…”
“Oke, kalau begitu.”

Kami pun kemudian meninggalkan gedung Amsterdam RAI, dengan naik trem dari Halte Dintelstraat. Setelah trem itu tiba di Halte Centuurbaan, kami pun turun dan menyeberang jalan. Setelah sampai di perempatan jalan, kami kemudian belok kiri dan ketika sampai di jalan berikut, sampai kami ke jalan yang menuju ke Albert Cuyp Markt. Eh, ketika kami sedang melangkah menuju pasar tersebut, dari arah berlawanan kami melihat seseorang yang posturnya seperti orang Indonesia. Ketika kami menyapanya, ternyata dugaan kami memang benar. “Saya sudah 13 tahun tinggal di Amsterdam, Pak,” jawab orang itu, ketika saya tanya telah berapa lama dia tinggal di Amsterdam. Dia sedang berbelanja banyak, karena hari Ahad pasar yang namanya diambil dari nama seorang pelukis kondang Belanda dari abad ke-17, Albert Cuyp, itu tutup.

Di pasar yang terletak di Distrik Oud-Zuid itu kami melihat, yang berjualan di situ, ternyata, berasal dari berbagai bangsa. Yang terbanyak adalah orang Belanda. Di samping mereka, ada juga orang Turki, Maroko, dan Suriname. Dengan mengunjungi pasar itu saya sampai kesimpulan: mudah bagi Muslim mana pun untuk mendapatkan bahan mentah masakan yang halal di Kota Amsterdam.

Setelah mendekati pukul 15.00, kami segera kembali ke Amsterdam RAI. Di sana, istri kembali “mengaji” sampai pukul 16.30. Selepas itu, kami pun ‘ngluyur’ kembali, dengan naik dan turun trem, ke pelbagai sudut Kota Amsterdam. Eh, ketika kami sampai ke salah satu ujung jalur trem yang kami naiki, ternyata kami berhenti di kawasan tidak jauh dari Universiteit van Amsterdam. Dan, ternyata, jalan-jalannya menyandang nama-nama Indonesia, seperti Javastraat, Balistraat, Erste Atjehstraat, Riowstraat, Delistraat, Makassarstraat, Niasstraat, Semarangstraat. Rasanya, kami sedang berada di Indonesia, bukan di Belanda, hehehe.  


Setelah puas ‘ngluyur’, kami kemudian kembali ke hotel, di Raadhuistraat, ketika malam sudah agak larut, dalam keadaan capek. “Mengaji” dan “ngluyur”, itulah kerjaan kami berdua hari itu. (Bersambung: LO, ITU KAN FOTO IBU MEGA, KOK DIJAJAKAN BEGITU: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (5). Selamat menunggu, ya). 

Thursday, September 12, 2013

“MELIHAT” RED LIGHT DISTRICT DARI SISI LAIN:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (3)

“Amsterdam, aku datang!”

Mumpung saat itu sedang sepi, saya pun berteriak kencang begitu, ketika saya sedang berdiri di samping ‘Amsterdam Sign’,  di lingkungan Amsterdam RAI, setelah kami turun di Halte Amsterdam RAI dan menyeberangi jalan ke arah gedung Amsterdam RAI. Mendengar teriakan saya demikian, istri yang akan memotret saya pun berucap gemas, “Mas, kok ndesit gitu sih!” ‘Ndesit’ itu, dalam bahasa Jawa Semarang (asal istri saya), artinya, “udik sekali alias kampungan sekali’.
“Hehehehe, ya gak apa-apa ndesit. Bukankah kita ini memang orang desa yang datang ke Kota Amsterdam, hehehe,” jawab saya. Santai sambil bergaya di samping ‘Amsterdam Sign’. Santri ndesit tenan, hehehe.

Tugu yang menjadi penanda Kota Amsterdam itu, selain menghiasi lingkungan Amsterdam RAI, sebenarnya juga menghiasi lingkungan Rijksmuseum yang terletak di Hobbemastraat, Amsterdam. Tinggi tugu itu setinggi orang ‘bule’. Entah kenapa, ketika melihat tugu itu, benak saya tiba-tiba kembali ke Cikapayang, Bandung dan berandai-andai, “Andai tugu ‘BDG: emerging creative city’ dibuat lebih impresif, tentu banyak orang yang tertarik berfoto di situ, seperti halnya yang dilakukan orang-orang ketika mereka berada di dekat ‘Amsterdam Sign’ dengan tulisan ukuran gede ‘I AMSTERDAM’.

Usai berfoto di dekat ‘Amsterdam Sign’, kami kemudian bergerak menuju gedung Amsterdam RAI. Hari itu, Jumat 30 Agustus 2013, pihak European Society of Cardiology 2013 tampak sangat sibuk menyambut sekitar 43 ribu dokter. Ya, 43 ribu dokter. Tidak aneh, karena jumlah para dokter yang hadir dalam perhelatan ilmiah itu demikian banyak, jika hotel-hotel di Amsterdam kala itu, baik yang bintang lima, empat, tiga, dan dua penuh dengan para tamu. Malah, sebagian di antara mereka menginap di hotel-hotel di kota-kota di luar Amsterdam, seperti Den Haag, Leiden, dan Rotterdam. Namun, karena transportasi yang nyaman dan tepat waktu, seperti Rotterdam yang berjarak sekitar 100 kilometer dari Amsterdam, semua itu tidak menjadi halangan bagi mereka.

Ketika melihat pihak penyelenggara ESC 2013 sedang sibuk menerima para dokter yang sedang melakukan heregistrasi (bayarnya 750 euro, tanpa makan siang dan hanya disediakan minum air mineral saja), saya pun termenung lama. Penyelenggaraan event itu tentu memerlukan manajemen yang bagus, rapi, dan cekatan. Saya sendiri, yang pernah mengamati dan mengikuti pelbagai event di Messe Frankfurt, Singapore Expo, KLCC Exhibition and Convention, Cairo International Bookfair, dan Dubai Festival, lama termenung ketika mengamati kemampuan organisasi pihak penyelenggara. Rasanya, kepada mereka kita harus rajin mengaji, mengaji, dan mengaji, dan juga (meminjam ungkapan Mas Toyibi) rajin “kulakan ilmu dan pengalaman”.  Dan, kita tidak perlu malu mengakui kebodohan dan ketertinggalan kita di bidang-bidang tertentu. Bukankah Rasul Saw. berpesan, “Pungutlah hikmah di mana pun engkau temukan?”

Setelah urusan dengan pihak ESC 2013 rampung, istri pun muncul kembali. Lalu, tanyanya kepada saya, “Kita jadi ke Red Light District?”

Menerima pertanyaan yang sulit dan pelik tersebut, lama saya berpikir. Entah kenapa, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” dan “mudik” ke Cepu, Jawa Tengah. Tiba-tiba pula, saya teringat perjuangan kakek saya, seorang kiai yang oleh Prof. Dr. A. Mukti Ali (alm.) diberi gelar “Gurunya Orang Cepu”, dalam menaklukkan suatu lokasi yang dulunya merupakan pusat ‘kupu-kupu malam’ (yang dalam bahasa Jawa ala Cepu kala saya masih kecil disebut ‘upruk’ dan oleh Gus Mus disebut ‘begenggek’) yang terletak di dekat “Brug (ini bahasa Belanda yang artinya ‘Jembatan’) Basin” (bahasa Jawa, artinya anyir sekali). Dalam perjuangan tersebut, kakek tidak pernah sama sekali menggunakan kekerasan. Tapi, beliau menggunakan “hikmah”, “mau’izhah hasanah”, dan “dialog yang paling indah”. Dengan tiga pendekatan tersebut, kini lokasi tersebut menjadi pesantren yang dikitari masyarakat yang taat pada agama. Alhamdulillah.

Teringat dengan perjalanan hidup kakek di lingkungan “merah” tersebut dan keberhasilan beliau dalam mengubahnya tanpa kekerasan, saya kemudian menjawab pertanyaan istri tersebut, “Ayo, kita ke sana sekarang! Semoga Allah mengampuni kita. Niat kita baik kok!”

Jika ketika datang ke Amsterdam RAI kami turun di Halte Amsterdam RAI, kini kami mengambil halte lain yang ternyata lebih dekat: Halte Dintelstraat. Segera, kami pun naik trem nomer 4, menuju Amsterdam Centraal dengan melewati halte-halte: Mastraat-Waalstraat-Victorieplein-Amstelkade-Lutmastraat-Ceintuurbaan- Stadhourderskade-Prinsengracht-Kaizergracht-Victorieplein-Visserplein-Waterlooplein-Rembrandtplein-Muntplein-Spui-Dam (setelah itu Amsterdam Centraal). Sepanjang perjalanan, meski terkantuk-kantuk, kami tetap bertahan untuk tidak tidur: menikmati pemandangan di samping kanan dan kiri trem yang kami naiki. Ketika melihat kanal-kanal yang tertata dan terkelola baik, di sepanjang perjalanan itu, istri pun berucap, “Mengapa kota-kota di Indonesia tidak dikelola seperti ini ya?”
“Tanya saja pada rumput yang bergoyang, hehehe,” jawab saya. Santai.

Tidak lama setelah dari trem nomer 4, kami kemudian menuju Monumen Nasional yang tegak di seberang Dam Square. Karena lelah, kami kemudian duduk, bersama orang-orang lain, di kaki monumen itu. Ketika saya memandang ke arah orang-orang yang berada di Dam Square, tiba-tiba saya melihat tiga pemandangan menarik: ada satu orang sedang bergaya “mirip” Rembrandt, satu orang mirip tentara Romawi, dan satu orang mirip bajak laut. Mereka, tentu kita semua tahu, sedang ber”acting” untuk mendapatkan uang sumbangan. Melihat pemandangan demikian, tiba-tiba saya teringat kisah petualangan Andrea Hirata seperti yang dia tuturkan dalam bukunya berjudul Edensor.

Setelah sekitar setengah jam duduk di kaki Monumen Nasional, saat waktu itu telah memasuki pukul lima sore waktu Amsterdam. Matahari saat itu masih mencorong. Namun, meski langit masih berpendar terang, namun saya melihat orang-orang bergerak ke arah belakang monumen itu. Melihat hal itu, kami pun berdiri dan kemudian mengikuti gerakan orang-orang itu. O, ternyata mereka melangkahkan kaki menuju ke arah sebuah jembatan yang membentang di atas sebuah kanal. Ketika berdiri di jembatan itu dan memandang orang-orang yang melangkah di samping kiri kanal, ke arah Amsterdam Centraal, saya pun segera menyadari, itulah “titik pusat” distrik “merah” membara yang terkenal itu. Menyadari hal itu, entah kenapa lama saya termangu lama di pinggir jembatan.

Melihat saya tidak bergerak lama, istri pun bertanya kepada saya, “Mas, ada apa, kok berdiri lama?”
“Entahlah,” jawab saya. “Ketika menyadari inilah “titik pusat” Red Light District, kok tiba-tiba saya membayangkan, andaikan Imam Asy-Syafi’i sampai di sini, apa kira-kira fatwa beliau tentang pelbagai hal yang terjadi di sini.”
“Sudahlah, jangan banyak melamun. Ayo kita teruskan perjalanan kita.”

Kami pun kemudian turun dari jembatan dan menuju jalan yang terletak di sebelah kiri kanal. Tidak lama berjalan, segera kami melewati toko-toko yang menjajakan aneka ragam barang-barang yang tidak boleh dibawa masuk ke Indonesia. “Bebas sekali ini negeri,” gumam saya.
“Ini bukan Indonesia. Apalagi Arab Saudi,” sahut istri. Dan, kemudian ketika istri melihat sebuah hotel yang di plangnya tertulis “hanya untuk laki-laki” dan di depannya ada bendera pelangi, alias warna-warni, dia pun berucap, “Itu hotel khusus. Bendera itu menjadi penanda yang jelas bagi “orang-orang yang memahami”. Salah seorang temanku, seorang dokter laki-laki, banyak bercerita tentang Belanda setelah dia “menikah” dengan teman laki-lakinya di sini.”

Istri, sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam, kemudian bercerita banyak tentang kasus-kasus yang berkaitan dengan “persoalan yang pelik dan rumit itu”. Kemudian, setelah kami melintasi beberapa gang di samping kiri kami, tidak jauh dari sebuah gereja kuno, dan kemudian ketika kami memasuki sebuah gang, tiba-tiba kami melihat “pemandangan” seorang cewek ceking dan nyaris tanpa busana dalam “aquarium”. Melihat “pemandangan” demikian,  istri yang terlatih dalam menangani para pasien yang terkena narkoba dan HIV pun berucap, “Kasihan dia! Dia, menurut pengamatan saya, adalah seorang penderita narkoba. Kalau tidak dikontrol baik, menurut perkiraan saya, dia akan segera terpapar HIV.”
“Duh,” sahut saya seraya menarik napas. “Ayo, sudahlah, kita melangkah lebih cepat lagi. Semua ini kita diskusikan di hotel saja ya.”

Kami pun melangkah cepat ketika melihat semakin banyak pemandangan di “aquarium-aquarium”. Eh, ketika kami sampai di gang-gang berikut, ternyata kami semakin kerap menemukan rumah-rumah yang di depannya dipasangi bendera-bendera pelangi. Melihat hal itu, kami pun segera melangkah cepat dan kembali ke hotel. Dan, setelah itu, kami pun terlibat lama dalam perbincangan tentang penanganan “dunia merah” seperti halnya Red Light District itu.

Kemudian, ketika tengah malam telah berlalu, saya pun terbangun dari tidur, karena mendengar suara berisik di jalan yang membentang di depan hotel yang kami inapi.  Apa yang sedang terjadi? Ketika saya membuka vitrage kamar dan melihat ke bawah, tampak oleh saya dua cewek berpelukan sambil berjalan terhuyung-huyung. Melihat hal itu, vitrage itu pun saya kembalikan ke posisinya semula sambil bergumam,”Duh, Amsterdam.”  (Bersambung: MELONGOK PASAR LOAK VAN AMSTERDAM: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (4).)


Wednesday, September 11, 2013

“MENGAJI” DI AMSTERDAM RAI:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (2)

“Neng, bangun,” ucap saya kepada istri ketika saya terjaga dari tidur pulas selama sekitar empat jam.  “Lihat, saat ini telah menunjuk sekitar pukul 14.00 siang waktu Amsterdam. Bukankah siang ini kita akan survei dulu rute ke Amsterdam RAI?”

Kami, memang, saat itu benar-benar kecapaian. Usia di atas 55 tahun dan lelah menempuh perjalanan lebih dari 20 jam serta lebih dari 11.600 kilometer membuat kami tumbang. Malah, karena itu, pagi hari sebelum tidur, kami pun membatalkan pertemuan kami dengan Mbak Imazahra dan Mas Risyan Nurhakim, dua sejoli  asal Bandung yang sedang “honeymoon backpacker”an ke pelbagai negara di Eropa dan saat itu sedang berada di Belanda. Apalagi, hari itu, menurut Mbak Imazahra, Metro Amsterdam sedang libur. “Assalamu’alaikum. Ini Imazahra. Kami kebingungan menuju Amsterdam, karena hari ini Metro ternyata sedang ‘meliburkan diri’ karena perbaikan jalur metro,” demikian bunyi short message (sms) dari Mbak Ima pagi hari itu, Jumat 30 Agustus 2013. Namun, mengingat kami sore itu harus pergi ke Amsterdam RAI Exhibition and Convention Centre, alias RAI Congrescentrum dalam bahasa Belanda, tempat istri akan “mengaji” alias “sekolah”, kami pun segera bangkit dari tempat tidur.

Eh, ternyata begitu bangun, kami merasa lapar. Padahal, kami baru menikmati makan pagi sekitar empat jam sebelumnya. Mungkin, karena cuaca Amsterdam hari itu berkisar antara 14 derajat celcius sampai 20 derajat celcius, membuat kami cepat lapar.  Sambil bersiap-siap, meski telah menginjakkan kedua kakinya di lima benua, istri yang “anak rice cooker”, alias selalu harus makan dengan nasi, segera menanak nasi dengan rice cooker kecil yang dibawanya. “Dasar orang Indonesia. Makan harus selalu dengan nasi. Itu yang membikin beras mahal di sana,” canda saya kepadanya. Menggodanya.
“Biarin,” jawab istri saya penuh semangat. “Yang penting halâlan thayyiban.”
“Hehehehe,” ucap saya sembari tersenyum.

Segera, kami pun menikmati makan siang dengan menu darurat. Untung, di Amsterdam kita mudah mendapatkan beras. “Risjt Pandan”, alias beras merek Pandan Wangi, bisa didapatkan di mini market “Albert Heijn” yang terletak empat rumah di sebelah hotel yang kami inapi atau tempat-tempat lainnya. Perut lapar dan cuaca dingin membuat kami lahap menikmati makanan yang dibuat mendadak itu.  Dan, setelah semua siap, termasuk dua tas punggung yang berisi jaket dan payung (meski menurut ramalan cuaca hari itu ‘clear’), dan tentu saja paspor, kami pun segera turun dari kamar. Tentu saja, melewati tangga yang terdiri dari 48 step. Capek deh.

Begitu berada di depan Clemens Hotel, masih di Raadhuisstraat, kami lihat para pesepeda sedang berlalu lalang dengan nyamannya. “Betapa baik hati pemerintah Kota Amsterdam kepada para pesepeda. Mereka, di mana-mana, dibuatkan jalur sepeda nan sangat nyaman. Orang-orang yang naik mobil pun sangat menghormati mereka,” gumam saya melihat para pesepeda itu. Yang menarik perhatian saya, sepeda-sepeda yang sedang ‘istirahat’, di mana-mana, semuanya dikunci dengan gembok-gembok gede. Konon, di Belanda banyak maling sepeda, hehehehe.

Berbeda dengan ketika datang pertama kali, dari pintu hotel kini kami melangkahkan kaki ke arah kanan. Tidak menuju Halte Westermarkt, tapi menuju Halte Dam. Oh, ternyata, tidak jauh dari situ tegak dengan megahnya Magna Plaza, sebuah mall terkenal di Kota Amsterdam. Dan, tidak jauh dari situ, di seberang jalan, tegak dengan tak kalah megahnya “Koninklijk Paleis”, alias Istana Kerajaan, dan “Nieuwe Kerk”, alias Gereja Baru. Begitu semakin mencermati peta yang saya bawa, saya pun kian menyadari, hotel yang kami tempati ternyata dekat sekali dengan Dam Square. Cukup dengan jalan kaki. Padahal, Dam Square tidak jauh dari sebuah lokasi “merah” yang terkenal di seluruh dunia, yaitu Red Light District.

“Neng, ternyata kita ini menuju Dam Square,” ucap saya kepada istri. “Lihat bangunan megah di depan kita itu. Itu kan “Koninklijk Paleis”, atau Istana Kerajaan. Sedangkan bangunan di samping kirinya adalah “Nieuwe Kerk”, atau Gereja Baru. Nah, di depan kedua gedung itu terdapat Dam Square. Tidak jauh dari situ terdapat Monumen Nasional. Dan, tidak jauh dari monumen itu terletak sebuah distrik terkenal di kota ini, yaitu Red Light District.”
“Selepas dari Amsterdam RAI,” sahut istri, penuh semangat, “bagaimana kalau kita ke Dam Square. Lalu, dari situ kita menuju Red Light District. Saya ingin tahu, apa bedanya “suasana” di distrik itu dengan “suasana” kompleks “kupu-kupu malam” yang pernah saya teliti selama tiga bulan. Karena itu, saya  pernah hidup bersama mereka, selama tiga bulan, dan memahami a sampai z persoalan yang mereka hadapi dan rasakan. Apalagi, saya kan biasa menemukan dan menghadapi pasien-pasien yang terkena narkoba dan ‘terjebak’ dalam ‘kehidupan malam’ seperti di distrik itu. Menurut Mas bagaimana? ”
“Entah kenapa, dalam benak saya tiba-tiba muncul ide: bagaimana kalau saya mencari seorang sahabat yang bisa di’komporin’ untuk menyusun  disertasi tentang Red Light District dari sudut pandang hukum Islam,” jawab saya. “Saya tidak ingin kita memvonisnya haram begitu saja. Tapi, dalam disertasi itu dibahas dengan tinjauan yang benar-benar komprehensif dan luas. Sehingga, lewat kajian itu, dapat dicarikan solusi yang benar-benar tepat dan tuntas atas kasus serupa yang sebenarnya juga terdapat di mana-mana. Karena itu, kalau begitu sekarang kita naik trem saja, menuju Amsterdam Centraal.  Menghemat waktu. Lagi pula, kita punya kartu ‘sakti’ yang dapat digunakan naik trem dan bus GVB ke mana-mana.  Dari sana, kita menikmati Canal Cruises dulu. Setelah itu, kita menuju Amsterdam RAI. Dan, pulangnya, kita naik trem lagi dan turun di Dam Square. Dari situ kita menuju ‘distrik merah’ itu.”
“Oke, let’s go.”

Kami pun kemudian segera naik trem nomer 17 yang menuju Amsterdam Centraal, dengan menempelkan kartu, yang disebut dalam bahasa ‘londo’ dengan sebutan ‘Die GVB-Tageskarte’, di card reader. Kartu itu benar-benar  ‘sakti’, hehehe. Dengan menempelkan kartu itu di ‘card reader’, setiap kali naik dan turun trem atau bus, kita dapat pergi ke mana-mana sesuai dengan masa berlakunya kartu tersebut. Miriplah dengan kartu ‘EZ-Link’ di Singapura atau kartu ‘Touch n Go’ di Kuala Lumpur.

Setelah melintasi dua halte, kami pun tiba di Amsterdam Centraal. Stasiun pusat kereta api di Kota Amsterdam ini terintegrasi dengan bus, kapal, dan kereta api antarnegara. Di depan stasiun itu terdapat halte trem dan bus menuju ke pelbagai penjuru Kota Amsterdam. Di samping terminal trem dan bus itu, terdapat terminal feri dan kapal yang menyusuri kanal-kanal dan laut di seputar kota nan cantik itu. Sedangkan di bagian belakang stasiun itu terdapat terminal bus-bus yang menuju luar kota, seperti ke Edam dan Vollendam.  Dan, dari stasiun itu pula kita dapat pergi menuju ke berbagai kota di Belanda, juga kota-kota di luar Belanda seperti Brussels, Berlin, dan Paris, dengan kereta api yang nyaman dan bersih. Bila Anda ingin naik kereta api dari stasiun ini, Anda bisa membeli tiket dengan mudah di ATM atau ke loket ‘Train Tickets & Services’. Di tempat itu, antara konter kereta api internasional dan konter kereta api domestik dipisahkan. Membeli tiket di situ mudah sekali kok. Jika Anda mau ke Paris, misalnya, Anda dapat membeli tiket kereta api Thalys di situ.

Begitu turun dari trem nomer 17, kami kemudian menuju pangkalan kapal. Segera, kami menemukan sebuah pangkalan ‘cruise’ yang menyusuri kanal-kanal di seputar Kota Amsterdam dan Laut Utara. Segera pula, kami pun ikut bergabung dengan para penumpang yang sudah mengisi kapal tersebut. Selama perjalanan sekitar satu jam, saya pun menjadi tour guide bagi istri yang tak henti-hentinya bertanya tentang banyak hal: menjelaskan pelbagai bangunan dan sejarahnya. Ketika kami melihat bangunan ‘Kapal Kompeni’, saya pun berkomentar, “Ini dia kapal yang mengantarkan para kompeni ke Indonesia. Dengan kapal ini pula, mereka menjajah Indonesia selama sekitar 350 tahun…”

Puas menikmati ‘canal cruise’, kami kemudian menuju pangkalan trem. Kali ini, kami mencari trem nomer 4, trem yang menuju Halte Amsterdam RAI. Sepanjang perjalanan, di sebelah kanan dan kiri jalur trem,  bangunan-bangunan lama dan baru tertata rapi. Di dekat salah satu halte, tepatnya di dekat Halte Rembrandtpleine, terlihat oleh kami sebuah patung seorang pelukis kondang Belanda: Rembrandt Harmenszoon van Rijn (1606-1669), atau lebih terkenal dengan panggilan Rembrandt saja. Naik trem jalur ini, mengingatkan kami ketika ‘ngluyur’ di seputar Kota Vienna, Austria, beberapa tahun yang lalu, dengan tujuan yang sama: mengaji ilmu penyakit jantung dalam kongres yang juga diselenggarakan European Soceity of Cardiology.  Dan, selepas melintasi sejumlah halte, akhirnya trem yang naiki berhenti di Halte Amsterdam RAI.

Apa itu Amsterdam RAI?

Amsterdam RAI, atau nama lengkapnya The Amsterdam RAI Exhibition and Convention Centre, merupakan suatu kompleks gedung-gedung konferensi, kongres, dan pameran paling bergengsi di Belanda. Malah, juga di seluruh Eropa. Kompleks ini terletak di kawasan bisnis terkenal di Amsterdam yang terkenal dengan sebutan Distrik Zuidas.  Di sinilah, kongres ESC 2013 diselenggarakan antara 31 Agustus sampai 4 September 2013.

Mengapa istri memilih mengaji ilmu penyakit jantung di ESC?


Menurut Mas Toyibi, dokter spesialis penyakit jantung yang juga anggota Indonesian Medical Council, di dunia ini ada dua kegiatan yang paling bergengsi yang berkaitan dengan ilmu penyakit jantung. Salah satunya ya kegiatan ilmiah yang diselenggarakan ESC itu. Tidak aneh jika kongres ESC 2013 dihadiri sekitar 43 ribu dokter (khususnya dokter spesialis penyakit jantung, dokter spesialis penyakit dalam, dan dokter spesialis anak) dari pelbagai penjuru dunia. Luar biasa. Tak aneh, jika ke kongres ini pula istri akan mengaji selama beberapa hari. Bukankah mengaji, meminjam ungkapan Gus Mus, ‘tidak hanya tentang ilmu-ilmu yang dewasa ini disebut dengan sebutan ilmu-ilmu agama saja’. Mendalami ilmu kedokteran juga mengaji, bukankah begitu, Gus Mus? Sekian (sudah capek menulisnya dan Anda juga sudah capek membacanya ya. Bersambung: “MELIHAT RED LIGHT DISTRICT DARI SISI LAINl: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (3)). 

Monday, September 9, 2013

MENENGOK NEGERI KINCIR ANGIN:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (1)

“Mas, bagaimana kalau saya “sekolah” lagi,” ucap istri saya, sekitar enam bulan lalu. “Saya ingin mengenal lebih jauh tentang penyakit jantung. Pada akhir Agustus tahun ini, European Society of Cardiology (ESC) akan menyelenggarakan pekan ilmiah tahunan di Amsterdam, Belanda. Tahun ini, saya ingin “sekolah” lagi tentang penyakit jantung, seperti beberapa tahun yang lalu di Vienna, Austria.
“Sendiri?” tanya saya.
“Saya maunya ditemani, seperti ketika “sekolah” di Istanbul pada 2009, dan di Sydney tahun lalu,” jawab istri saya, seorang dokter spesialis penyakit dalam.
“Ok, asal mau bergaya “backpacker” saja, dan gak pergi bersama rombongan dokter-dokter lain yang pergi ke sana dalam bentuk tour group.”
“Rasanya lebih nikmat dan hemat dengan cara “backpacker”an begitu. Saya benar-benar menikmati perjalanan dengan gaya begitu, ketika kita pergi ke Istanbul dan Sydney. Saya “sekolah”, sedangkan Mas jadi tour leader dan“ngluyur” ke mana-mana seperti biasanya, hehehe.”

Segera, kami pun memproses segala hal yang diperlukan dalam perjalanan tersebut. Alhamdulillah, sekitar tiga minggu lalu, visa “Etats Schengen” akhirnya kami dapatkan tanpa kami harus pergi ke Jakarta. Hal itu kami pernah pergi ke Eropa beberapa kali.  Selain ke Belanda, kami juga bermaksud pergi ke Belgia. Karena itu, sebelum berangkat, saya kemudian menghubungi Mas Andi Yudha Asfandiyar, mantan CEO Penerbit Mizan, yang kini bermukim di Brussels, bahwa saya akan mampir ke sana pada 4 September 2013. “Mas, monggo diantos di Brusselnya. Tanggal itu kami siap. Semoga perjalanan lancar dan sehatsegerbarokah selalu,” jawabnya lewat message di facebook. Dan, kebetulan, seorang sahabat yang juragan sebuah perusahaan IT di Jakarta juga mengajak kami untuk pergi bersama dari Belanda ke Belgia. Dia ingin membawa kami ke kantor cabangnya yang baru di Eindhoven dan kemudian pergi ke Brussels untuk bertemu dengan duta besar Republik Indonesia di sana. Alhamdulillah.

Kemudian, pada Kamis sore, 29 Agustus yang lalu, kami pun telah berada di Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Selepas melintasi konter imigrasi, dan ketika kami sedang duduk sebelum masuk ke dalam boarding lounge, tidak lama kemudian seorang saudara, Dr  M. Toyibi, dan istrinya, muncul. “Mas Toyibi mau ke mana?” tanya saya kepada dokter spesialis penyakit jantung yang bertugas di RS Persahabatan, Jakarta itu.
“Saya mau ke Amsterdam. Mau ikut ESC 2013 Meeting. Tapi, kami juga akan ke Swedia. Kalian mau ke mana?”
“Hehehe, sama Mas, ke Amsterdam. Selain ke Amsterdam, kami akan pergi ke Eindhoven dan Brussels, diajak Dik Harca, juragan perusahaan IT yang juga Mas Toyibi kenal. Dia akan melebarkan usahanya ke Belanda, Belgia, dan Jerman.”
“O, gitu. Kalau begitu, kami akan bergabung. Sebentar, saya akan kontak dia.”

Selepas berucap demikian, dokter spesialis penyakit jantung yang ketika menjadi Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Gadjah Mada pernah merasakan “hotel prodeo”, alias bui, selama sekitar setahun di Semarang, karena menentang kebijakan politik rezim yang berkuasa di Indonesia kala itu, segera mengontak juragan perusahaan IT yang sedang berada di Hamburg, Jerman itu. “Oke, dia setuju, saya dan istri ikut bergabung dalam perjalanan ke Eindhoven dan Brussels nanti,” ucap Mas Toyibi dengan wajah sumringah.

Tidak lama kemudian kami berempat pun masuk ke dalam perut pesawat terbang KLM dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Amsterdam. Ternyata, pesawat ini penuh dengan penumpang dan tidak ada kursi yang kosong. Saya dan istri, yang mendapat nomer kursi terpisah jauh, akhirnya dapat duduk berdampingan karena kebaikan hati seorang anak muda asal Karangasem, Bali, yang akan kerja di sebuah perusahaan pelayaran di Belanda. Dan, ternyata, pesawat terbang KLM pun terkena dampak kesibukan Bandara Soekarno-Hatta. Akibatnya, pesawat terbang yang kami tumpangi itu terlambat berangkat sekitar dua jam. Akhir-akhir ini, jadwal naik-turun pesawat terbang di Bandara Cengkareng itu memang sangat sibuk.

Setelah menempuh perjalanan sekitar 14 jam, dan melintasi jarak sekitar 11.160 kilometer, akhirnya pesawat terbang yang kami naiki mendarat di Schipol International Airport pada pukul 06.10 pagi waktu setempat. Karena kami berempat membawa “invitation letter” dari ESC 2013, proses pemeriksaan di konter imigrasi Bandara Schipol pun berjalan lancar. Tanpa banyak pertanyaan, paspor kami pun dicap “30.08.13.86 AMSTERDAM SCHIPOL G 305”.  Dan, begitu melewati “exit”, para penjemput para peserta ESC 2013 tampak bertebaran di mana-mana. Mas Toyibi dan istri segera menuju Ibis Hotel di lingkungan bandara Amsterdam itu. Sedangkan saya dan istri, yang mengatur sendiri perjalanan kali ini, segera menuju ke konter “Train Tickets & Services” untuk membeli tiket kereta api jurusan Amsterdam Centraal.

Setelah memegang dua tiket seharga 4.40 euro, kami kemudian menuju ke peron nomer 2 dengan tulisan “Naar de trainen 1-2”. Membaca tulisan dalam bahasa Belanda tersebut, entah kenapa tiba-tiba pelbagai kosakata bahasa Belanda yang pernah saya pelajari, ketika masih menjadi mahasiswa di Jogjakarta, bermunculan kembali. Perlu dicatat, setiap seperempat jam ada kereta api yang berangkat dari Schipol Airport menuju stasiun tersebar di Kota Amsterdam: Amsterdam Centraal. Juga, sebaliknya. Dan, setelah melintasi dua stasiun, Amsterdam Lelyland dan Amsterdam Slotterdijk, akhirnya kereta api nyaman dan bersih yang kami naiki tiba di Stasiun Amsterdam Centraal. “Andai saja antara Cengkareng dan Gambir segera ada kereta api seperti ini,” gumam istri saya sambil memandangi kereta api-kereta api yang keluar dan masuk di stasiun yang lebih besar dari Stasiun Gambir, Jakarta itu. “Bersih, rapi, dan terintegrasi seperti Stasiun Sydney.”

Begitu turun dari kereta api, kami pun kebingungan dalam mencari tempat penginapan yang kami tuju: Clemens Hotel, yang berada di Raadhuisstraat. Sebab, kami belum pernah ke Amsterdam.  Namun, karena sebelumnya saya sudah membaca “info” seputar kota tua itu, saya kemudian membeli tiket trem dan bus GVB yang berlaku untuk masa tiga hari, seharga 16.50 euro. Masa berlaku tiket GVB tersebut aneka ragam, ada yang berlaku satu jam, satu hari, dua hari, atau tiga hari. Dari peta yang disediakan dalam trem yang kami naiki, kami kemudian menaiki trem nomer 13 (juga bisa naik trem nomer 17) dan turun di Halte Westermarkt. Ketika ada pengumuman “volkende halte: Westermarkt”, kami pun segera siap-siap. Dan, setelah trem itu berhenti di halte yang terletak di depan sebuah gereja megah dan cantik, kami pun turun. “Oh, ini dia Raadhuisstraat,” gumam saya dalam hati seraya memandangi para pesepeda yang lalu lalang di jalan itu. “Enak juga naik sepeda di jalan yang mulus seperti ini. Andai jalan di Kota Bandung seperti ini, saya pun akan naik sepeda ke mana-mana.”

Dengan mendorong masing-masing satu kopor, dan dengan kebingungan, kami pun mencari tempat penginapan yang kami tuju. Setelah bertanya beberapa kali, akhirnya hotel kecil tempat kami menginap pun kami temukan. Kami sendiri, setelah beberapa hari kemudian, baru tahu, ternyata hotel kecil itu berada tidak jauh dari Dam Square dan lokasinya sangat startegis. Lagi pula, harganya terjangkau oleh kocek kami. Tapi, setelah berada di bawah sebuah papan nama kecil bertuliskan “Clemens Hotel”, yang kami dapati hanyalah sebuah pintu tertutup. Di dekat pintu itu ada bel dan kamera. Dasar orang desa, sejenak kami pun kebingungan. Padahal, mata kami terasa berat dan tubuh pun kecapaian setelah menempuh perjalanan tidak kurang dari 20 jam dari Bandung. Setelah berpikir beberapa lama, saya kemudian memencet bel yang ada di dekat pintu dan berucap dalam bahasa Inggris, karena kami tidak dapat berbahasa Belanda, “Kami dari Indonesia dan akan menginap di hotel ini…”
“Apakah Anda telah melakukan reservasi?” tanya suara seorang perempuan di bel itu.
“Ya, kami membawa bukti reservasi tersebut. Kami akan menginap di sini selama enam hari.”
“Oke, tunggu sebentar,” jawab suara itu. “Oke, kini dorong pintu di depan Anda.”
“Ndeso tenan. Dasar orang desa, hehehe,” gumam saya, yang belum pernah menginap di tempat penginapan dengan model begini, sambil mendorong pintu di depan saya.

Tapi, begitu pintu itu terbuka, apa yang ada di depan saya?

Tangga miring dan terdiri dari entah berapa tahap. Begitu melihat tangga miring dan jauh itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke Giza, Mesir, dan terkenang ketika masa muda dan sedang memasuki Piramid Khufu. Persis: miring dan jauh. “Wah, bagaimana saya harus mengangkat dua kopor ini?” gumam saya dalam hati. “Gawat, (sakit) kaki kiri saya (yang tahun lalu harus dioperasi karena jatuh ketika turun dari kereta api di Stasiun Bandung) bisa kambuh lagi.”

Belum lagi kebingungan saya sirna, seorang cewek cantik dan muda melongokkan kepalanya di samping tahap terakhir tangga tersebut dan berteriak kepada saya, “Biarkan kopor kalian. Biar kopor-kopor  itu diangkat Ahmed ke atas.”
“Ahmed, siapa dia?” gumam saya.
Tidak lama kemudian, seorang anak muda turun dan mengangkat dua kopor kami. Anak muda itu ternyata adalah Ahmed, dan alhamdulillah, dia seorang Muslim asal Mesir. Dan, ketika kami “mendaki” ke atas sampai ke kamar yang kami inapi, ternyata tangga itu terdiri dari 48 tahap. Alamak!

Meski hotel itu kecil, namun pelayanannya bagus. Juga, bersih dan nyaman. Semestinya, kami baru dapat masuk ke dalam kamar pukul 14.00. Tapi, karena hari itu ada satu kamar kosong, kami dibolehkan masuk ke dalam kamar sebelum waktunya. Malah, sebelum memasuki kamar, kami dipersilakan menikmati breakfast. Apa yang terjadi ketika kami berada di restoran untuk menikmati makan pagi?

Ketika istri saya sedang kebingungan: apakah menu yang disajikan halal atau haram, seorang anak muda yang melihat istri mengenakan jilbab pun berucap, “Madame tidak usah khawatir. Semua makanan yang kami sajikan halal.”
“Kok Anda berani menjamin demikian?” tanya saya.
“Kenalkan, nama saya Hasan. Saya dari Alexandria. Saya juga Muslim seperti kalian dan pelayan di resto ini. Karena itu, saya tahu benar, semua hidangan ini halal.”
“Intû min Masr? Kân zamân anâ sâkin fî Al-Qâhirah. Anda dari Mesir? Dulu, saya tinggal di Kairo,” ucap saya kepada anak muda itu.
Begitu Hasan mendengar saya berbicara dengan bahasa Arab harian ala Mesir, segera dia memeluk saya dan berucap, “Anda saudara saya. Silakan nikmati hidangan di sini sepuas-puasnya. Saya akan membuatkan kalian omelet yang sangat lezat.”
“Alhamdulillah,” ucap istri saya begitu ia saya beritahu tentang apa yang dikatakan Hasan. “Allah Swt. senantiasa memberikan kemudahan kepada kita.”

Usai menikmati makan pagi, kami kemudian menuju kamar. Ukuran kamar itu, ternyata, tidak lebih dari 3 x 3 meter. Tapi, kamar itu nyaman, bersih, dan view di luar menarik. Dan, tidak lama kemudian, kami pun tidur pulas. Kecapaian! (Bersambung: “MENGAJI” DI AMSTERDAM RAI: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (2).