Tuesday, March 4, 2014

AKHIRNYA, IBRAHIM MENEMUKAN TUHAN SEMESTA ALAM

Selepas terjadinya “Peristiwa Banjir dan Badai Nuh”, dengan segera, masa demi masa pun berlalu. Kemudian, ketika masa telah memasuki sekitar 2.100 tahun sebelum Masehi, muncul seorang Nabi dan Rasul lain yang namanya disebut 40  kali  dalam Al-Quran. Nabi yang satu ini, dalam menebarkan risalah yang diembannya, juga mengalami perjuangan yang tidak kalah “seru” dengan perjuangan Nabi Nuh a.s. Malah, Rasul yang satu ini, dalam Al-Quran, digambarkan sebagai orang yang  menyerahkan  diri sepenuhnya  kepada Allah. Sehingga, perintah apa pun dia lakukan, meski hal itu bertentangan dengan pikiran dan perasaannya.

Kini, siapakah sejatinya Nabi Ibrahim a.s. ini?

“Garis keturunan Nabi Ibrahim a.s.,” jawab Ibn Katsir dalam sebuah karyanya berjudul Qashash Al-Anbiyâ’, “adalah sebagai berikut: Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Raghuh bin Faligh bin Ahr bin Syalih bin Arfghshand bin Sam bin Nuh. Dengan kata lain, Nabi Ibrahim a.s., menurut Ibn Katsir, adalah anak keturunan Nabi Nuh a.s. Wallâhu a‘lam.

Lain halnya dengan pendapat Dr. Shauqi Abu Khalil tentang nama ayahanda Nabi Ibrahim a.s. Menurut Dr. Shauqi Abu Khalil, nama ayahanda Nabi Ibrahim a.s. bukan Tarikh, tapi Azar. Tulis Dr. Shauqi Abu Khalil dalam karyanya di atas, Atlas of the Qur’an, tentang sang Nabi, “Lahir di kawasan Irak selatan, Nabi Ibrahim a.s. semula tinggal di Kota Ur, Chaldea. Ayahnya adalah Azar bin Nahûr, meski ada yang menyatakan bahwa Azar adalah pamannya. Kekaburan itu berpangkal dari kebiasaan memanggil paman seseorang (yaitu salah seorang saudara kandung lelaki ayah seseorang) dengan panggilan “ayah”. Azar adalah seorang warga Kutha, sebuah desa di pinggiran Kota Kufah.”

Nabi dan Rasul yang lahir di kawasan Babylonia ini, menurut Ibn Katsir dalam karyanya yang sama, adalah anak nomor dua dari dua bersaudara. Kedua saudaranya bernama Tahur dan Haran. Nah, Haran mempunyai seorang putra bernama Luth, yang kelak juga menjadi seorang Rasul sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. Dengan kata lain, Nabi Luth a.s. adalah keponakan Nabi Ibrahim a.s.

Kini, marilah kita tinggalkan perbedaan pendapat tentang siapa jati diri ayahanda Nabi Ibrahim a.s.  Kini, mari kita simak kisah pencarian Ibrahim untuk menemukan Tuhan. Suatu pencarian yang kemudian benar-benar membuatnya kalbunya damai dan tenang.

Ketika masih muda usia, Ibrahim adalah seorang anak muda yang senantiasa gelisah. Dia senantiasa gelisah, karena menyaksikan pelbagai penyimpangan dan kesesatan yang berkembang dalam masyarakatnya. Kegelisahan itu kian lama kian membara. Sehingga, akhirnya, kegelisahannya itu memacunya untuk mencari Tuhan yang menurutnya selayaknya disembah. Lewat kegelisahan yang berangkat dari keraguan, namun tidak berhenti pada keraguan itu selamanya, Ibrahim akhirnya menemukan Tuhan kala itu dia sedang menyendiri di sebuah gunung. Kisah indah yang disajikan dalam Al-Quran itu, menurut Dr. Muhammad ‘Utsman Najati dalam sebuah karyanya berjudul Al-Qur’ân wa ‘Ilm Al-Nafs, sejatinya “merupakan contoh yang gamblang tentang langkah-langkah berpikir ilmiah dalam memecahkan suatu problem”. Benarkah demikian? Untuk membuktikan hal itu, kini, mari kita ikuti kisah pencarian Ibrahim tersebut.

Berkenaan dengan kisah pencarian tersebut, pertama-tama dalam Al-Quran dikemukakan dengan memikat kisah tentang keraguan Ibrahim yang diharapkan sang ayahanda, Azar, agar suatu saat menjadi pendeta: suatu saat dia bertanya kepada ayahandanya, perihal berhala yang disembahnya dan prosesnya menemukan Tuhan,

“Dan (ingatlah) ketika waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sungguh, aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang. (Lalu,) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi, tatkala bintang itu tenggelam, dia (pun) berkata, ‘Saya tidak suka pada (sesuatu) yang tenggelam.’ Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia (pun) berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat.’ Kemudian, tatkala dia melihat matahari terbit, dia (pun) berkata, ‘Inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar.’ Maka, tatkala matahari itu terbenam, dia (pun) berkata, ‘Wahai kaumku, sungguh aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sungguh, aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung pada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS Al-An‘âm [6]: 74-79).

Dengan keraguan dan pencarian itu, akhirnya Ibrahim menyadari kelirunya penyembahan berhala seperti yang dilakukan kaumnya. Sebab, manusialah yang menciptakan berhala itu. Bagaimana manusia dapat menyembah sesuatu yang dibuatnya sendiri? Karena itu, Ibrahim menyanggah tindakan kaumnya yang demikian itu, “Kemudian Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat?’” (QS Al-Shaffât [37]: 95).

Apalagi, menurut Ibrahim, berhala sama sekali tidak memiliki kekuatan. Karena itu, patung-patung itu tidak layak diberi predikat ketuhanan. Sebab, Tuhan adalah Zat Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Pengendali semesta alam, Pemberi karunia, dan Pemberi rezeki. Menyadari semua itu, protes Ibrahim pun kian lantang, “Karena itu, mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian? Duh, (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka, apakah kalian tidak memahami?” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 66-67).

Kesadaran Ibrahim akan kelirunya penyembahan berhala dan ketidaklayakan berhala itu untuk disebut sebagai tuhan membangkitkan dalam dirinya problem yang mendesaknya dan menguasai pikirannya, “Siapakah Tuhan semesta alam ini?”

Nah, ketika Ibrahim merasakan “adanya problem” itu, dia pun merasakan adanya dorongan yang memaksanya memikirkan problem itu, dengan tujuan untuk mengetahui Tuhan dan Pencipta semesta alam ini. Timbulnya dorongan yang semacam itu ditopang oleh fitrahnya yang benar, jiwanya yang bening, dan akal budinya yang kuat. Tentu, juga, atas hidâyah dan karunia Allah Swt.

Selepas melintasi proses yang demikian, kisah pencarian Ibrahim kemudian beralih pada tahap pengamatan dan penghimpunan data dan informasi. Dia pun mulai mengamati pelbagai gejala alam. Baik di langit maupun di bumi. Harapannya: dia dapat memeroleh pengetahuan tentang Tuhan. Karena itu, kini, dia pun gemar memandang ke arah bintang, bulan, dan matahari. Proses pencariannya yang demikian itu ditampilkan dengan gamblang dalam ayat Al-Quran berikut, “Kami perlihatkan kepada Ibrahim, tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi. Dan, (Kami memperlihatkannya agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS Al-An‘âm [6] 75).

Selama dalam tahap pengamatan dan penghimpunan data dan informasi tentang pelbagai gejala alam tersebut, Ibrahim menyusun beberapa hipotesa. Ketika malam datang dan dia menyaksikan bintang-bintang gemerlap di langit yang kelam, dia membuat hipotesa bahwa bintang-bintang itulah tuhan. Namun, ketika tampak olehnya bintang-bintang itu tenggelam dan tidak tampak lagi, dia pun menyingkirkan hipotesa itu, karena hipotesa itu bukan merupakan hipotesa yang tepat. Sebab, jika bintang-bintang itu adalah tuhan, tentu bintang-bintang itu akan tetap dan tidak berubah: selalu ada dan tidak menghilang.

Kemudian, ketika tengah malam datang, Ibrahim pun menyaksikan bulan. Segera, dia pun membuat hipotesa baru bahwa bulan itulah tuhan. Namun, ketika dia menyaksikan bulan juga tenggelam, dia pun menyingkirkan hipotesa itu. Ini juga karena bulan tidak dapat diberi predikat ketuhanan. Lantas, ketika dia menyaksikan matahari dan pendar cahayanya memenuhi seluruh penjuru bumi, lagi lebih besar ketimbang bintang-bintang lainnya, dia pun membuat hipotesa lain dan menyatakan bahwa matahari itulah tuhan. Namun, lagi-lagi, ketika dia menyaksikan matahari juga tenggelam, dia pun menyingkirkan hipotesa terakhir itu. Sebab, matahari juga tidak layak diberi predikat ketuhanan.

Selepas semua hipotesa itu disingkirkannya, karena semuanya tidak layak diberi predikat ketuhanan, Ibrahim kemudian menyusun sebuah hipotesa baru: Tuhan adalah Zat yang menciptakan semua bintang, langit, bumi, dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Ucap Ibrahim, “Sungguh, aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung pada agama yang benar. Dan, aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan.”

Tidak syak lagi, dalam membuat hipotesa terakhir itu, di mana akhirnya Ibrahim memeroleh hidâyah, dia berpikir dan menghimpun banyak pengamatan lainnya tentang pelbagai gejala semesta alam. Ternyata, dia tidak mendapatkan adanya sesuatu yang dapat menggugurkan hipotesa terakhirnya itu. Malah, dia mendapatkan, semua keindahan ciptaan Allah Swt. yang dia saksikan dan sistem yang sangat teratur dalam semesta alam membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, dan Maha Bijaksana. Dialah yang menciptakan semesta alam itu. Juga, semua makhluk yang ada dalam sistem yang begitu teratur itu.

Kisah pencarian Ibrahim tersebut, yang dikemukakan secara terinci dalam Al-Quran tersebut, memberikan suatu pelajaran indah: betapa cermatnya Al-Quran dalam memaparkan langkah-langkah berpikir dalam memecahkan suatu problem. Di samping itu, dalam Kitab Suci itu juga dikemukakan, bila para nabi  sebelum Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan kepada kaumnya agar menyembah Allah “Tuhan kalian”, lain halnya dengan Nabi yang satu itu: dia mengajarkan, Tuhan  yang disembahnya  adalah Tuhan semesta alam. Dengan  kata  lain, Tuhan  yang menyertai manusia saat tidur atau  sadarnya,  sebelum dan  saat  keberadaannya di dunia, dan  setelah  kematiannya.  Dia mengajarkan demikian setelah menemukan   dan  membina  keyakinannya melalui pengalaman pribadi seperti dikemukakan di atas: setelah mengamati bintang, bulan, dan matahari, akhirnya ia berkesimpulan bahwa yang layak disembah bukanlah patung, tidak juga benda-benda, tapi Tuhan semesta alam.

Monday, March 3, 2014

NAK, NAIKLAH KAPAL BERSAMAKU!

Menerima perintah Allah Swt. untuk menebarkan ajaran Tauhîd, Nabi Nuh a.s. pun dengan berbagai cara berusaha menyampaikan tugas utama tersebut. Namun, ternyata sebagian besar kaumnya tetap menentang keras dan membangkang terhadap ajaran mulia itu. Akibatnya, sang Nabi tidak berhasil menyadarkan mereka. Kejadian yang demikian itu dikemukakan dengan gamblang dalam ayat-ayat Al-Quran berikut, 

“Nuh berkata, ‘Ya Tuhanku. Sungguh, aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Ternyata, seruanku itu kian membuat mereka lari (dari kebenaran). Dan, sungguh, setiap kali aku menyeru mereka (menuju iman), agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinga mereka dan menutupkan baju mereka (kemuka mereka) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian, sungguh, aku telah menyeru mereka (menuju iman) dengan cara terang-terangan (dan) kemudian sungguh aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu. Sungguh, Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepada kalian dengan lebat, membanyakkan harta dan anak-anak kalian, mengadakan untuk kalian kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk kalian sungai-sungai.” (QS Nûh [71]: 5-12).

Gagal. Dan, bukan hanya tidak diacuhkan dan ditolak saja. Itulah “nasib” langkah-langkah awal perjuangan yang dilakukan Nabi Nuh a.s. “Nasib” yang kelak kerap juga dialami para Nabi dan Rasul selepas dirinya, ketika mereka pertama kali menebarkan kebenaran dalam masyarakat mereka.

Selain membangkang, kaum Nabi Nuh a.s. juga gemar melecehkan sang Nabi. Tentu saja, juga terhadap para pengikutnya yang sebagian besar terdiri dari kaum papa yang terpinggirkan dari masyarakatnya kala itu. “Nuh, sejatinya engkau ini tidak lebih dari orang biasa. Ya, orang biasa tanpa kelebihan apa pun,” itulah komentar mereka atas diri sang Nabi. Malah, mereka memandang sang Nabi sebagai pembohong. Tutur Al-Quran berkenaan dengan sikap mereka terhadap diri sang Nabi, “Maka, pemimpin-pemimpin yang kafir dari kaumnya pun berkata, ‘Kami tidak melihat dirimu melainkan (sebagai) seorang manusia (biasa) seperti kami. Dan, kami tidak melihat orang-orang yang mengikuti kamu melainkan orang-orang yang hina dina di antara kami yang lekas percaya saja dan kami tidak melihat kamu memiliki sesuatu kelebihan apa pun atas kami. Bahkan, kami yakin bahwa kamu adalah orang yang dusta.” (QS Hûd [11]: 27).

Dipandang sebelah mata dan dilecehkan demikian, Nabi Nuh a.s. tetap bersabar. Tentu saja, sang Nabi pun tetap berjuang dengan setulus dan sepenuh hati dalam melaksanakan perintah-perintah Tuhannya. Namun, selepas berjuang dengan gigih dan penuh kesabaran, dalam masa yang tidak pendek (menurut QS Al-‘Ankabût [29]: 14 berlangsung selama ‘seribu tahun kurang lima puluh tahun), dengan pelbagai usaha dan cara, tetap saja perjuangannya mengajak masyarakatnya menuju jalan lurus menghadapi jalan buntu. Hanya sedikit di antara masyarakatnya yang bersedia mengikuti ajakannya yang luhur itu. Sebuah sumber mengemukakan, para pengikut sang Nabi kala itu dapat dihitung dengan jari. Tidak lebih dari sepuluh orang.

Malah, karena jengkel dengan ajakan itu, masyarakat Nabi Nuh a.s kala itu meminta sang Nabi untuk membuktikan kebenaran yang dia serukan. “Hai Nuh,” tantang mereka (lihat QS Hûd [11]: 32) dengan nada tinggi, “kau telah membantah kami. Demikian kerap. Karena itu, kini, coba buktikan kebenaran ucapanmu itu. Mintalah kepada Tuhanmu untuk menurunkan azab yang kerap kau ancamkan atas diri kami itu. Buktikan ucapanmu itu, bila ucapanmu itu memang benar.” 
“Wahai kaumku,” jawab Nabi Nuh a.s. yang tentu saja prihatin atas tantangan itu (QS Hûd [11]: 33). “Hanya Allah semata yang dapat menurunkan azab itu atas diri kalian. Namun, ingat, begitu azab itu diturunkan, kalian tidak akan dapat menghindarkan diri dari azab itu.”

Kian lama, kian membara penentangan dan pembangkangan mereka. Akibatnya, mereka pun kian jauh dari risalah indah yang diajarkan sang Nabi. Akhirnya, ketika penentangan dan pembangkangan mereka memuncak dan kian tidak terbendung lagi, sang Nabi pun menyerahkan sepenuhnya urusan itu kepada Sang Pemberi Risalah dan pasrah kepada-Nya. Kemudian, dengan sepenuh hati, sang Nabi pun berdoa (QS Hûd [11]: 25-27), “Tuhanku, jangan Engkau biarkan seorang pun di antara orang-orang yang menentang perintah-Mu itu tersisa di atas permukaan bumi-Mu ini. Sungguh, bila mereka Engkau biarkan tetap menikmati kehidupan di bumi ini, tentu mereka akan senantiasa menyesatkan hamba-hamba-Mu yang lain. Juga, mereka akan melahirkan generasi-generasi yang gemar melakukan perbuatan maksiat dan sangat menyimpang dari ajaran-Mu.”

Doa pendek, tapi diucapkan dengan sepenuh hati.

Menerima doa sepenuh hati dari seorang Nabi yang senantiasa bersyukur (QS Al-Isrâ’ [17]: 3) itu, Allah Swt. pun memerintahkan kepada sang Nabi untuk menyiapkan sebuah kapal, “Buatlah sebuah kapal, dengan pengawasan dan petunjuk wahyu Kami. Janganlah kamu kemukakan lagi persoalan orang-orang yang zalim itu kepada-Ku. Sungguh, mereka akan ditenggelamkan.” (QS Hûd [11]: 37).

Menerima perintah demikian, Nabi Nuh a.s. pun segera menyiapkan sebuah kapal. Meski sejatinya sang Nabi pun tidak mengerti, mengapa dia diperintahkan membuat kapal. Menyaksikan “kelakuan dan perbuatan” sang Nabi yang aneh dan tidak lazim dilakukan dalam masyarakatnya, tentu saja cercaan dan malah hinaan kepada sang Nabi dan para pengikutnya kian membara. Memang, “kelakuan dan perbuatan” sang Nabi tampak aneh dan tidak lazim: membuat kapal di kawasan yang jauh dari laut, sungai, maupun danau.

Menghadapi cercaan dan hinaan yang demikian, sang Nabi tetap patuh melaksanakan perintah Tuhannya. Dan, dia hanya kuasa menjawab dengan suara pelan, “Sungguh, suatu saat, kelak, balik kami yang akan mengejek kalian. Kelak, kalian akan menyaksikan, siapa yang bakal tertimpa azab yang menghinakan. Bukan hanya itu, kalian juga akan merasakan azab yang abadi.” (QS Hûd [11]: 38-39).

Selepas kapal yang diperintahkan Allah Swt. untuk dibuat telah siap, Sang Khalik pun memenuhi janji-Nya: segera akan menurunkan azab atas diri para pembangkang pada masa Nabi Nuh a.s. Sebelumnya, Allah Swt. memerintahkan sang Nabi dan para pengikutnya untuk segera naik ke dalam kapal. Sang Nabi pun segera memerintahkan para pengikutnya, yang dapat dihitung dengan jari itu, untuk segera berkemas dan naik ke dalam kapal. Sebelum mereka naik ke dalam kapal, sang Nabi pun berpesan kepada mereka (QS Hûd [11]: 41), “Naiklah kalian semua ke dalam kapal dengan senantiasa menyebut nama Allah. Baik ketika kapal sedang berlayar maupun ketika telah berlabuh nanti. Sungguh, Tuhanku benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

“Senantiasa menyebut nama Allah.” Betapa indah pesan itu.

Selepas mengajak para pengikutnya untuk naik ke dalam kapal, Nabi Nuh a.s. kemudian mengajak keluarganya untuk masuk ke dalam kapal yang sama. Duh, ternyata istri dan putranya pun menolak keras ajakan itu. Betapa perih hati sang Nabi menyaksikan pembangkangan terang-terangan yang dilakukan istrinya dan putranya. Ternyata, sang istri dan sang putra lebih memilih bergabung dengan masyarakat yang menolak risalah yang ditebarkan sang Nabi, ketimbang menerima ajaran indah itu. Karena itu, Allah Swt. pun menggolongkan istri sang Nabi termasuk dalam kelompok para pembangkang, “Allah membuat istri Nuh dan istri Luth sebagai perumpamaan bagi orang-orang kafir. Keduanya berada di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba kami. Lalu, kedua istri itu berkhianat kepada suaminya (masing-masing). Karena itu, suaminya tidak dapat membantu mereka sedikit pun dari (siksa) Allah dan (akan) dikatakan (kepada keduanya), ‘Masuklah ke dalam Jahannam bersama orang-orang yang masuk (Jahannam).” (QS Al-Tahrîm [66]: 10).

Suatu pelajaran indah, lewat kisah Nabi Nuh a.s. dan istrinya, kembali diajarkan: pembangkangan terhadap ajaran mulia dapat saja berasal dari dalam keluarga sendiri.

Dengan hati yang sedih dan perih, akhirnya Nabi Nuh a.s. masuk ke dalam kapal. Kali ini dengan iringan doa (QS Al-Mu’minûn [23]: 29), “Ya Allah, Tuhanku. Tempatkanlah aku di tempat yang diberkahi. Dan, sungguh, Engkau adalah Pemberi terbaik tempat itu.”

Tidak lama kemudian, langit “yang diwarnai mendung tebal” pun mulai menumpahkan hujan ke permukaan bumi. Sangat lebat dan berhari-hari tanpa henti. Sedangkan dari bumi sendiri air memancar kencang. Di mana-mana. Perpaduan antara hujan yang sangat lebat dan air yang memancar kencang di mana-mana menghasilkan banjir dahsyat disertai badai yang menggilas dan melibas segala sesuatu yang menghadang. Segera, kapal yang disiapkan Nabi Nuh a.s. dan para pengikutnya pun berlayar dengan menerjang “gelombang-gelombang yang laksana gunung” (QS Hûd [11]: 42). Banjir besar dengan gelombang-gelombang raksasa itu pun segera menenggelamkan masyarakat yang enggan diajak bersama sang Nabi menuju “jalan yang lurus”.

Ketika kapal itu sedang “sibuk” menghadapi hajaran gelombang-gelombang raksasa,  Nabi Nuh a.s. melihat putranya sedang berjuang untuk menyelamatkan dirinya. Sang putra kala itu sedang melarikan diri, dari gelombang-gelombang raksasa, menuju ke puncak sebuah gunung. Dan, ketika menyaksikan gelombang banjir kian ganas dan mendekati sang putra, hati ayah manakah yang tidak luluh meski dia seorang Nabi. Karena itu, sang Nabi pun memanggil putranya yang nyaris “digulung” air bah yang datang menyergapnya (QS Hûd [11]: 42-43), “Putraku! Naiklah ke kapal bersama ayah. Jangan kau turutkan kata hatimu sendiri.”

“Tidak! Aku dapat menyelamatkan diriku sendiri. Tanpa pertolongan ayah,” jawab sang putra. Keras kepala. Dan, dia tetap berusaha menaklukkan gelombang bah yang kian ganas menghajar dirinya.
“Nak! Naiklah ke kapal bersamaku. Aku akan memaafkanmu,” seru sang ayah. Tetap bersikap kasih kepada putranya yang membuat hatinya perih.
“Tidak! Tolong,” teriak sang putra meminta tolong. Tetapi, nyawanya tidak dapat diselamatkan lagi. Gelombang bah melahapnya dan menghempaskannya entah ke mana.

Menyaksikan goresan nasib buruk sang putra yang malang itu, hati ayah manakah yang tidak menangis, meski dia seorang Nabi. Dia pun, kemudian, mengeluh kepada Tuhannya, “Tuhan, bukankah dia keluargaku. Bukankah Engkau akan menepati janji-Mu dan Engkau adalah Hakim Yang Paling Agung?” (QS Hûd [11]: 45).
“Bukan! Dia bukan keluargamu. Perilakunya buruk sekali. Karena itu, janganlah engkau memohon kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui hakikatnya. Aku peringatkan engkau supaya tidak termasuk orang-orang yang bodoh,” jawab Tuhan memperingatkan sang Nabi.
“Tuhan, aku berlindung kepada-Mu dari memohon kepada-Mu dari memohon sesuatu yang tidak aku ketahui hakikatnya,” ucap Nabi Nuh a.s. seraya memohon ampun kepada Tuhannya.

Suatu pelajaran indah diajarkan lewat kisah indah dalam sebuah peristiwa yang terjadi antara sang Nabi dengan putranya: kisah hubungan antara dua generasi yang bertolak pandangan dan gaya hidup mereka. Kisah itu memberikan pelajaran: peristiwa serupa itu dapat saja terjadi pada setiap keluarga. Seorang ayah, misalnya, ingin membantu anaknya, tapi sang anak menolak bantuan itu. Bila sang ayah seorang jenderal, sang anak tidak ingin mengikuti jejaknya. Bila sang ayah seorang pengusaha, sang anak ingin menjadi pelukis. Biasanya sang ayah ingin membantu. Namun, sang anak ingin mandiri dan menjadi pribadi yang lain serta memiliki jalan hidup sendiri tanpa mau menengok pengalaman hidup sang ayah. Hal itu dapat terjadi karena sang anak tidak mau dikatakan bahwa dia berhasil karena orang tuanya dan dia tidak layak menerima keberhasilan itu.

Kisah antara Nabi Nuh a.s. dan putranya itu juga menyajikan suatu suri teladan: sang Nabi tidak memaksakan kehendaknya kepada putranya. Dia hanya memberikan saran yang semestinya dilakukan sang putra. Meski dia tahu, sang putra tidak akan selamat. Sedangkan sang putra mempunyai kebebasan menentukan sikapnya sendiri, dengan pertanggungjawaban penuh atas tindakannya.

Kemudian, ketika banjir telah meluluhlantakkan semua orang yang menyembah selain Allah Swt., dan banjir telah surut dan badai telah mereda, Allah Swt. pun memerintahkan Nabi Nuh a.s. dan para pengikutnya turun dari kapal, untuk menikmati kehidupan baru yang sarat dengan kesejahteraan dan keberkahan dari-Nya, “Hai Nuh, turunlah dengan selamat sejahtera dan penuh keberkahan dari Kami atasmu dan atas umat-umat (yang beriman) dari orang-orang yang bersamamu. Dan (kelak) ada (pula) umat-umat yang Kami beri kesenangan kepada mereka (dalam kehidupan dunia), kemudian mereka akan ditimpa azab yang pedih dari Kami.” (QS Hûd [11]: 48).

Selepas turun dari kapal, Al-Quran tidak menuturkan kisah kehidupan Nabi Nuh a.s. selanjutnya. Demikian halnya, Kitab Suci itu juga tidak menuturkan apakah setelah turun dari kapal itu sang Nabi tinggal di Kota Cizre, Turki dan juga tidak menuturkan bahwa ketika berpulang (menurut sebagian sumber) sang Nabi dikebumikan di Makkah. Juga, Al-Quran tidak meneguhkan pandangan yang menyatakan bahwa setelah berpulang, sang Nabi dimakamkan di sebuah daerah di Lebanon, tepatnya di Karak, seperti dikemukakan Dominique dan Janine Sourdel dalam sebuah karya berjudul Dictionnaire historique de l’Islam.


Friday, February 28, 2014

USTADZ, APA TUJUAN DIUTUSNYA NABI NUH A.S.?

Kemarin sore, Kamis, 27 Februari 2014, seorang kiai sepuh datang berkunjung ke rumah kami di Baleendah, Kabupaten Bandung. Bagi kami, saya dan istri, menerima kunjungan tamu, siapa pun tamu itu, senantiasa kami pandang sebagai penghormatan dan kehormatan kepada kami. Apalagi, tamu itu seorang kiai terhormat yang memiliki sebuah pesantren dengan jumlah santri yang tidak sedikit: sekitar seribu santri.

Meski kunjungan itu singkat, namun kami sempat berbincang tentang banyak hal. Beliau banyak bercerita tentang kisahnya dalam membangun pesantrennya. Betapa diperlukan kesabaran, kedekatan dengan masyarakat, para orang tua, dan para santri, serta siap jatuh-bangun. Yang tidak kalah penting: siap mengayomi masyarakat. Seakan, dengan menuturkan kisah tersebut, beliau menasihati saya yang masih perlu banyak belajar, belajar, dan belajar dalam mengelola Pesantren Mini yang kami kelola. Saya pun dengan penuh perhatian mencoba menyimak dan menyerap inti-inti kisah itu. Entah kenapa, usai berkisah demikian, tiba-tiba dengan suara pelan beliau bertanya, “Ustadz, bolehkah saya bertanya tentang sesuatu?”
“Silakan, Bapak Kiai?” jawab saya. Penasaran dan khawatir tidak kuasa menjawab pertanyaan itu.
“Ustadz, apa sejatinya tujuan diutusnya Nabi Nuh a.s.?” tanya beliau.
“Duh, ini sih bukan sekadar pertanyaan. Tapi, ini adalah ujian dan tes,” gumam bibir saya sangat pelan.

Beberapa saat tiada sepatah kata pun terucap dari bibir saya. Saya pun mencoba “membangkitkan kembali” pengetahuan saya tentang Nabi Nuh a.s. Alhamdulillah, tiba-tiba saya teringat tulisan saya tentang Nabi tersebut. Tulisan itu saya susun atas permintaan seorang editor sebuah penerbit di Bandung. Ingat hal itu, saya kemudian menjawab pertanyaan Bapak Kiai. Mendengar jawaban saya, beliau menyimaknya dengan penuh perhatian. Dan, tidak lama kemudian, beliau berpamitan.

Kini, apakah sejatinya tujuan diutusnya Nabi Nuh a.s.?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pertama-tama mari kita sejenak “kembali” ke masa jauh. Ya, ke masa yang jauh di belakang kita, ke sekitar 5.000 hingga 5.500 yang lalu, untuk menyimak kembali sejenak kisah Nabi Nuh a.s. Siapakah sejatinya Nabi Nuh a.s. yang juga terkenal dengan sebutan “Nabi Adam kedua”?

Ibn Katsir (700-774 H/1300-1373 M), seorang ahli tafsir Al-Quran yang terkenal  dengan karyanya Tafsîr Ibn Katsîr, di samping juga seorang ahli hadis  dan ahli  hukum  Islam  yang mengikuti  Mazhhab  Hanbali  pada  masa pemerintahan Dinasti Mamluk, dalam sebuah karyanya berjudul Qashash Al-Anbiyâ’, mengemukakan, garis keturunan lengkap Nabi Nuh a.s. adalah sebagai berikut: Nuh bin Lamik (atau Lamech) bin Mitoshilkh bin Enoch (atau Nabi Idris a.s.) bin Yarid bin Mahlabil bin Qinan bin Anoush bin Syits bin Adam a.s. Dengan kata lain, Nabi Nuh a.s. merupakan generasi ke-7 dari keturunan Nabi Adam a.s. dan generasi ke-2 dari keturunan Nabi Idris a.s. Demikian menurut Ibn Katsir.

Di manakah Nabi Nuh a.s. ini bermukim sebelum terjadinya prahara besar yang dikenal dengan sebutan “Badai atau Topan Nuh”? Menurut Dr. Shauqi Abu Khalil, dalam sebuah karyanya berjudul Atlas of the Qur’an, sang Nabi tinggal di sekitar Kufah, Irak. Kala itu, Kufah merupakan salah satu wilayah Kerajaan Babylonia.

Berbeda dengan sang kakek, Nabi Idris a.s., Al-Quran menuturkan cukup panjang lebar kisah sang cucu: Nabi Nuh a.s. Berkaitan dengan diri sang kakek, yang menurut Ibn Ishaq (85-150 H/704-767 M, seorang sejarawan Muslim pertama yang menulis  tentang perjalanan hidup Nabi Muhammad Saw.) merupakan orang yang pertama kali menulis dengan pena, Al-Quran mengemukakan secara ringkas saja, “Dan kemukakanlah (wahai Muhammad) kepada mereka, (kisah) Idris (yang tersebut dalam Al-Quran), sesungguhnya dia adalah orang yang sangat membenarkan dan seorang Nabi. Dan, Kami telah mengangkatnya ke martabat yang tinggi.” (QS Maryam [19]: 56-57).

Dalam Al-Quran dituturkan, Nabi Nuh a.s. diangkat sebagai Rasul kepada kaum yang menyembah berhala: Wadd, Suwwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr. Selain itu, mereka terbawa arus kehidupan yang sarat dosa dan menyimpang dari perintah Allah Swt. Padahal, mereka adalah anak keturunan seorang Nabi. Karena itu, Allah Swt. kemudian mengutus sang Nabi, sebagai rahmat kepada para hamba-Nya. Dengan pengutusan tersebut, Nabi Nuh a.s. menjadi Rasul pertama yang diutus di muka bumi. Berkenaan dengan misi Nabi Nuh a.s. yang demikian, Al-Quran mengemukakan, “Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya. Lalu, ia berkata, ‘Wahai kaumku, sembahlah Allah. Sekali-kali tiada Tuhan bagimu selain Dia. Sungguh, (bila kalian tidak menyembah Allah), aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar (kiamat).’ Pemuka-pemuka dari kaumnya (pun) menjawab,  ‘Sungguh, Kami memandang dirimu berada dalam kesesatan yang nyata.’ Nuh pun berkata, ‘Wahai kaumku, tiada padaku kesesatan sedikit pun. Tetapi, aku adalah utusan dari Tuhan semesta alam.” (QS Al-A‘râf [7]: 59-61).

Menerima ajakan Nabi Nuh a.s. yang demikian, kaumnya bukannya senang dan bersyukur. Sebaliknya, mereka kian membangkang dan menyimpang. Malah, akhirnya, mereka kemudian merasa gusar kepada Nabi Nuh a.s. dan melabrak sang Nabi. Hal itu sebagaimana diungkapkan dalam ayat Al-Quran berikut, “Dan mereka berkata, “(Hai Nuh!) Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhanmu. Dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd, dan jangan pula meninggalkan (penyembahan) Suwwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr.” (QS Nûh [71]: 23).

Mungkin, di sini timbul pertanyaan, “Siapakah Suwwa‘, Yaghuts, Ya‘uq, dan Nasr? Mengapa mereka menyembah berhala-berhala itu?”

“Mereka adalah nama orang-orang saleh dari kalangan Nabi Nuh a.s.,” jawab Ibn Katsir dalam karyanya di atas. “Ketika mereka berpulang, setan membisikkan kepada kaum mereka untuk membuat patung-patung mereka di tempat mereka kerap melakukan pertemuan dengan khalayak ramai. Kemudian, setiap patung diberi nama dengan nama mereka. Usulan setan itu mereka terima. Sehingga, ketika generasi pertama mereka sudah tiada dan ilmu mereka juga sudah sirna, patung-patung itu akhirnya disembah.”

Berkenaan dengan hal yang sama, Muhammad ibn Jarir Al-Thabari (224-313 H/839-926  M),  sejarawan  Muslim  dan  ahli tafsir  Al-Quran terkemuka pada Masa Pertengahan, menjelaskan lebih jauh, “Mereka memiliki banyak pengikut yang senantiasa meneladani kehidupan mereka. Ketika mereka berpulang, para pengikut mereka pun berucap, ‘Bagaimana bila kita buatkan patung mereka. Hal itu akan membuat kita senantiasa ingat mereka dam mendorong kita agar tekun beribadah.’ Rencana itu pun mereka laksanakan. Ketika para pengikut mereka telah berpulang, Iblis pun membisikkan kepada generasi berikutnya, ‘Sejatinya mereka (para pendahulu kalian) menyembah mereka dan meminta hujan dengan perantara patung-patung itu.’ Akhirnya, patung-patung itu pun mereka sembah.”

Lewat kisah itu, Al-Quran sejatinya juga menyajikan suatu ajaran yang indah: hendaknya kita menghindari kultus individu atau pendewaan  pemimpin, karena hal itu sangat berbahaya bagi terbentuknya pribadi manusia seutuhnya yang mendekatkan diri kepada Allah. Hal itu sebagaimana halnya yang terjadi pada diri kaum Nabi Nuh a.s.

Kemudian, dengan bergulirnya sang waktu, penyembahan yang dilakukan anak keturunan Nabi Adam a.s. dan Nabi Idris a.s.  terhadap berhala-berhala itu kian merajalela. Karena itu, Allah Swt. pun mengutus Nabi Nuh a.s. Sebagai Rasul pertama, sang Nabi mendapatkan tugas utama: menyerukan kepada kaumnya supaya kembali pada ajaran yang dibawa Nabi Adam a.s., yaitu ajaran yang didasarkan pada tauhîd.

Tauhîd, sebagai ajaran utama yang dibawa Nabi Nuh a.s., sejatinya tidak hanya mengesakan  Allah Swt. semata. Tetapi, dalam tauhîd terkandung ajaran-ajaran indah sebagai berikut: Pertama, kesatuan ketuhanan. Kedua,  kesatuan  penciptaan bahwa  hanya Allah Swt. semata yang  berkuasa menciptakan  segala sesuatu. Ketiga, kesatuan  kemanusiaan  bahwa manusia  sebagai anak keturunan Adam a.s. memiliki kedudukan  yang sama di hadapan Allah Swt., tidak terbatas pada etnis, ras, suku, bangsa, dan negara tertentu saja. Keempat, kesatuan petunjuk atau hidâyah yang menuntun  manusia ke jalan yang dikehendaki Allah Swt. Kelima, kesatuan tujuan hidup yang harus dipahami secara utuh dan menyeluruh.

Menebarkan ajaran Tauhid, itulah tujuan utama diutusnya  Nabi Nuh a.s. Juga, para Nabi setelahnya. Betapa indah risalah itu!


Wednesday, February 19, 2014

KERENDAHAN HATI DAN KASIH SAYANG

“Mas, punten, (calon) buku yang pernah saya janjikan beberapa waktu yang lalu akan segera rampung terpaksa saya tunda,” ucap saya kepada seorang editor sebuah penerbit di Bandung sekitar tiga minggu lalu. “Entah kenapa, ketika saya sedang bersujud di Masjid Al-Aqsha (sekitar empat minggu lalu), tiba-tiba muncul ide untuk mengubah sepenuhnya outline dan isi (calon) buku itu.”
“Tidak apa-apa, Pak Rofi’,” jawab editor yang ramah dan santun itu. “Silakan dilanjutkan penulisan (calon) buku itu.”

Usai mendapatkan “acc” demikian, segera saya pun “tenggelam” dalam dunia buku: membaca, membaca, dan membaca, serta menulis, menulis, dan menulis. Demikian yang terjadi nyaris selama tiga minggu terakhir dalam kehidupan saya.

Lantas, entah kenapa tadi pagi, ketika sedang menyiapkan salah satu anak pasal (calon) buku itu, lama saya termenung ketika membayangkan suatu peristiwa yang terjadi sekitar 1385 tahun silam. Itulah saat Rasulullah Saw. dan kaum Muslim berhasil menaklukkan Kota Makkah. Betapa indah perilaku dan akhlak beliau kala kemenangan yang sangat beliau dambakan akhirnya berhasil diraih di tangan.

Bagaimanakah perilaku dan akhlak Rasulullah Saw. dalam situasi dan kondisi demikian?

Sejenak mari kita ke Makkah, untuk menyimak apa yang terjadi pada 20 (ada yang menyatakan tanggal 21)  Ramadhan 8 H/11 Januari 630 M. Hari itu, ketika pasukan kaum Muslim mulai bergerak menuju jantung Makkah, Kota Suci itu sendiri membisu di depan Rasulullah Saw. dan para pendukung beliau. Ya, kini Makkah membisu dan tak lagi meneriakkan seruan-seruan Abu Jahal, Abu Lahab bin ‘Abdul Muththalib, Hindun bin ‘Utbah, Al-Walid bin Al-Mughirah, dan Umayyah bin Khalaf, digantikan oleh hiruk pikuk suara sekitar sepuluh ribu pasukan kaum Muslim yang membahana. Ketika pasukan kaum Muslim itu kian mendekati jantung Kota Makkah, mereka berpencar dan memasuki kota melalui empat penjuru. Khalid bin Al-Walid dari bawah, sedangkan yang lain dari bukit, melintasi tiga jalur yang berbeda. Dan, tak lama kemudian, Kota Makkah berhasil dikuasai pasukan kaum Muslim. Mereka kemudian bergabung kembali di sekitar Masjid Al-Haram. Kini, usai sudah tugas mereka.  

Ya, kini tugas mereka telah usai, karena Makkah telah jatuh. Kini, suasana kota itu pun beda jauh dengan suasana sekitar delapan tahun sebelum itu. Kala itu, Rasulullah Saw. terpaksa meninggalkan bumi kelahirannya secara sembunyi-sembunyi, tapi dengan kepala tegak. Sedangkan kini, beliau kembali ke Makkah di siang hari sebagai pemenang. Tapi, kali ini kepala beliau merunduk di atas untanya, sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah Swt., seraya membaca ayat berikut, “Sungguh, Kami telah memberikan kemenangan yang nyata kepadamu, agar Allah memberikan pengampunan kepadamu atas kesalahanmu yang lalu dan yang kemudian, dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu, dan membimbing engkau ke jalan yang lurus.” (QS Al-Fath [48]: 1-2).

Rasulullah Saw. memasuki Makkah dengan mengungkapkan kerendahan hati yang paling dalam, dan beliau memerintahkan agar kaum Muslim memperlihatkan kasih sayang yang paling luhur untuk merendah diri, bukan untuk menyombongkan diri. Sedangkan saat kebebasan agung adalah saat bersyukur kepada Zat yang telah memeliharanya dari kesewenang-wenangan dan penindasan. Dan, saat mendapatkan kekuatan adalah saat bersyukur atas anugerah yang dikaruniakan Yang Merajai langit dan bumi serta mengakui karunia-Nya.

Selepas Makkah jatuh, Rasulullah Saw. kemudian berwudhu, melaksanakan shalat sunnah delapan rakaat,  dan beristirahat di tenda bersama Ummu Salamah, Maimunah binti Al-Harits, dan Fathimah Al-Zahra’. Kemudian, saat yang sangat dinantikan kaum Muslim pun tiba. Selepas beristirahat cukup, beliau lantas menaiki unta beliau, Al-Qashwa’, dan pergi menuju Ka‘bah untuk bertawaf tujuh kali. Kemudian, dengan tongkatnya, beliau memerintahkan agar berhala-berhala yang ada diruntuhkan seraya mengulang-ulang ayat Al-Quran, “Yang benar telah datang dan yang batil telah sirna. Sungguh, yang batil niscaya sirna.” (QS Al-Isra’ [17]: 81).

Usai itu, Rasulullah Saw. lantas memegang kunci masuk ke dalam Ka‘bah yang dibawakan ‘Utsman bin Thalhah untuk beliau. Beliau pun memasuki tempat suci itu bersama Usamah bin Zaid dan Bilal bin Rabah. Selepas beberapa lama di dalam Ka‘bah, beliau lantas keluar dan memerintahkan agar semua simbol sesembahan kaum musyrik disirnakan. Ini, agar Rumah Allah dikembalikan pada esensinya. Yaitu untuk mengungkapkan penyembahan Tuhan Yang tak dapat diserupakan atau diasosiasikan dengan simbol apa pun. Dengan tindakan itu, beliau mengubah Ka‘bah menjadi masjid sesungguhnya yang semenjak itu hanya diabdikan untuk penyembahan satu Tuhan.

Kala itu sendiri, sedikit demi sedikit, orang-orang Quraisy keluar dari rumah mereka. Mereka kemudian berkumpul di sekitar Ka‘bah. Kini, semua orang menanti dengan tak sabar apa yang terjadi berikutnya. Rasulullah Saw. kini berdiri di depan Ka‘bah, menghadap ke arah kaum Muslim. Sedangkan orang-orang Quraisy menanti nasib mereka. Sebab, hidup dan mati mereka, kini tergantung di bibir beliau. Sungguh, detik-detik yang mencekam dan menentukan.

“Inilah saat dimulainya sejarah”, tulis Dr. Ali Shariati dalam karyanya, Muhammad Saw. Khâtim Al-Nabiyyîn: min Al-Hijrah hattâ Al-Wafâh, “karena kala itu Rasulullah Saw. telah merampungkan tugas berat yang telah beliau emban selama dua puluh tahun, dengan menanggung segala derita dan siksaan. Dan, kini, beliau dalam kemenangan besar dan di puncak cita-citanya dulu. Dengan sepuluh ribu pedang di tangan para pengikut beliau, beliau memegang nasib kota yang telah menimpakan siksaan atas diri beliau selama tiga belas tahun, dan senantiasa mengacungkan pedangnya selama dua puluh tahun dalam kehidupan beliau.”

Tak aneh jika manakala Rasulullah Saw. akan menyampaikan pernyataan beliau, jantung semua orang berdebar-debar. Puluhan ribu orang, laki-laki dan perempuan, kawan dan lawan, tegang menanti keputusan yang bakal keluar dari bibir beliau. Seakan, burung-burung bertengger di kepala mereka. Tiba-tiba beliau menghadapkan mukanya ke arah orang-orang Quraisy dan kemudian berucap, “Tiada Tuhan selain Allah, Tuhan Yang Maha Esa. Yang tak  memiliki sekutu. Ia telah menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan mengalahkan gabungan musuh-musuh-Nya. Hanya Ia sendiri (yang dapat melakukannya).”

Kemudian Rasulullah Saw. menyampaikan kepada orang-orang Quraisy pelbagai aturan Islam dan membaca ayat, “Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kalian saling mengenal. Sungguh, orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling takwa di antara kalian. Sungguh, Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.” (QS Al-Hujurât [49]: 13).

Selepas itu, Rasulullah Saw. bertanya kepada orang-orang Quraisy, “Wahai orang-orang Quraisy. Bagaimana pendapat kalian tentang apa yang akan kulakukan kini?”
“Amat baik, wahai saudara yang baik dan putra saudara kami yang mulia,” jawab mereka. Serempak.
Tiba-tiba saja Rasulullah Saw. berseru, “Pergilah, kalian adalah orang-orang yang bebas.”

Betapa indah sikap dan tindakan Rasulullah Saw. itu. Ketika beliau berada di puncak kekuasaan dan kemenangan, meminjam ungkapan Dr. Ali Shariati dalam karyanya, Muhammad Saw. Khâtim Al-Nabiyyîn: min Al-Hijrah hattâ Al-Wafâh, “ternyata beliau pun sampai pula di puncak kerendahhatian dan kasih sayang beliau. Inilah salah satu di antara sifat beliau yang menonjol. Selepas menyampaikan amnesti umum, beliau menggunakan cara yang paling sederhana untuk mengampuni orang-orang yang dikecualikan karena pengkhianatan yang luar biasa.”

Dalam memberi komentar perihal sikap dan tindakan Rasulullah Saw. itu sendiri, Seyyed Hossein Nasr, dalam karyanya Muhammad Man of Allah, menulis, “Berkat keluhuran dan kasih sayangnya, beliau menerima semua penentangnya ke dalam haribaan Islam. Selama mereka mengakui Islam, walau hanya dengan kata semata, mereka diampuni dan diterima ke dalam masyarakat baru ini. Beliau tak mendendam dan tak pula menaruh syak. Karena yang dicitakan beliau adalah tatanan baru berlandaskan kebenaran dan keadilan. Bukan hasrat membalas perbuatan buruk yang selama itu mereka lancarkan kepada Nabi dan para sahabat.

Sampai sejauh itu Nabi memaafkan manusia, walau beliau senantiasa ditantang oleh sifat musyrik orang-orang yang menyembah berhala itu. Kemurkaan beliau sejatinya tidak ditujukan kepada pribadi yang meminta diampuni dan menyatakan menyembah Allah. Tak peduli apakah itu bertolak dari hati yang tulus atau hanya kemestian semata. Tapi, ditujukan pada berhala-berhala yang bersifat benda dan individualis itu. Ini karena berhala-berhala itu menistakan Rumah Allah dan menyembunyikan Hadirat Allah, yang tak dapat digambarkan atau pun dicerminkan oleh patung atau berhala mana pun jua.”


Ya, kerendahan hati dan puncak kasih sayang, itulah perilaku dan akhlak indah Rasulullah Saw. ketika berhasil meraih kemenangan. Sebagai umat beliau, tidak inginkah kita meneladani perilaku dan akhlak yang sangat indah itu? Semoga.

Friday, February 7, 2014

“Menikmati” Pendaratan Darurat di Marka Airport, Jordania

Mungkin, karena kerap melakukan perjalanan lewat udara Timur Tengah dalam pelbagai musim, saya sedikit tahu karakter cuaca di kawasan yang satu itu. Musim dingin di kawasan itu, menurut saya, merupakan musim yang paling tidak nyaman untuk melakukan perjalanan udara di kawasan itu. Di musim itu pula, saya pernah mengalami sederet kejadian yang kurang mengenakkan dalam perjalanan-perjalanan tersebut. Termasuk merasakan naik pesawat terbang yang memasuki ruang hampa dan tiba-tiba “melayang-layang” seperti layang-layang yang lepas kendali dan tiba-tiba “menikmati” pendaratan darurat di sebuah airport kurang terkenal di Jordania: Marka Airport, ketika dalam perjalanan dari Arab Saudi menuju Jordania seperti yang terjadi tiga minggu yang lalu.

Saat itu, tepatnya Sabtu dini hari, 19 Januari 2014, saya yang berlaku sebagai “komandan” perjalanan, dengan 34 “anak buah”, telah berada di Prince Mohammad ibn Abdul Aziz International Airport, Madinah Al-Munawwarah. “Acara” kami hari itu adalah melakukan perjalanan menuju Jordania, sebelum meneruskan perjalanan menuju Palestina, seusai berumrah dan berziarah ke Kota Nabi. Sekitar pukul 06.15 pagi, pesawat terbang Royal Jordanian dengan nomor penerbangan RJ-723 pun tinggal landas dari Bandara Kota Madinah. Jarak antara Madinah-Amman sekitar 900 kilometer saja, sehingga dapat ditempuh dalam masa sekitar satu jam lima belas menit. Kala itu, para penumpang dapat dikatakan hanya terdiri dari dua kelompok: para jamaah umrah Turki dan Indonesia. Diperkirakan, pesawat terbang yang kami naiki itu akan mendarat di Queen Alia International Airport, Amman pada pukul 08.25 pagi waktu setempat.

Selama dalam perjalanan, hanya awan dan mendung tebal yang menyertai kami. Suasana di luar tampak gelap. Hal itu dapat dimengerti, karena saat itu berada di puncak musim dingin. Saat itu, matahari masih malas “menampakkan senyumnya”. Kemudian, selepas menempuh perjalanan selama sekitar satu jam, pilot mengumumkan, “Para penumpang yang terhormat. Sebentar lagi, kita akan mendarat di Queen Alia International Airport" dan seterusnya.Tidak lama kemudian, pesawat terbang yang kami naiki mulai berjalan pelan dan siap mendarat.

Namun, apa yang kemudian terjadi?

Tiba-tiba pesawat terbang itu naik cepat dan membubung tinggi, seperti saat pesawat terbang itu ketika tinggal landas. Para penumpang terlihat kebingungan. Meski demikian, mereka tidak tampak  panik. Tidak lama kemudian, pilot mengumumkan, pesawat terbang yang dikendalikannya gagal mendarat di Queen Alia International Airport, karena cuaca buruk. Karena itu, pendaratan akan dialihkan ke sebuah airport lain. Dan, sekitar 10 menit kemudian diumumkan, pesawat terbang akan mendarat di Marka Airport. “Marka Airport? Di mana letak airport ini?” gumam saya dalam hati.

Benar saja, tidak lama kemudian pesawat terbang Royal Jordanian itu mendarat di sebuah airport yang belum pernah saya kenal. Ketika pesawat terbang itu mulai melambat jalannya, di sebelah kiri pesawat terbang tampak oleh saya jejeran panjang pesawat dan helikopter tempur. “Oh, ini sih airport militer. Tapi, di mana?” gumam saya kembali. Pelan dan bingung.

Kemudian, ketika pesawat terbang itu berhenti, diumumkan bahwa para penumpang diharapkan sabar menunggu. Setelah menunggu sekitar setengah jam, diumumkan bahwa hanya para penumpang yang turun di Jordania yang boleh turun dari pesawat terbang. Ternyata, hanya kami saja yang turun. Sedangkan para penumpang lain tetap berada dalam pesawat terbang. Dan, segera, kami pun diangkut dengan sebuah bus menuju sebuah bangunan lama. Ketika berada di bangunan itu, suasana sunyi dan dingin karena tanpa heater. Saya pun segera mengumpulkan paspor-paspor para “anak buah”. Lo, ketika saya menuju konter Visa on Arrival (VOA), petugasnya masih tidur di kursi. Begitu dia bangun dan meneliti paspor-paspor kami, dia pun berucap, “Setiap orang harus bayar 30 USD!”

Mendengar ucapan demikian, saya pun menahan diri untuk tidak membayarnya, karena sebelumnya saya telah dipesan bahwa pembayaran visa telah dibereskan oleh pihak penjemput kami dari Jordania. Karena itu, saya pun segera menghubungi orang itu. “Ahmed!” seru orang itu, alias tour guide kami dari Jordania, bernama Abdel Aziz, “Di manakah kalian? Saya telah menunggu kalian sejak pukul 06.30 di gedung baru Queen Alia International Airport.”
“Pesawat terbang yang kami naiki mendarat darurat di Marka Airport,” jawab saya. “Di manakah kami ini?”
“Masya Allah,” seru A. Aziz. “Kalian mendarat di sebuah airport  lama yang terletak sekitar 70 kilometer dari Queen Alia International Airport. Oke, saya segera meluncur ke sana. Sekitar satu jam lagi saya sampai ke sana. Kalian tidak usah membayar visa lagi. Suratnya saya bawa. Sabar ya.”


Kami pun terpaksa menunggu di ruangan yang terasa sangat dingin dan tanpa tempat duduk. Salah seorang “anak buah” saya, yang baru berusia 9 bulan, pun mulai menangis karena kedinginan.  Duh. Dan, akhirnya, setelah menanti sekitar satu jam, Abdel Aziz muncul dan kami pun segera meninggalkan Marka Airport dan menuju Amman, ibu kota Jordania, alhamdulillah.