Monday, June 30, 2014

PICKTHALL:
Penerjemah Al-Quran yang Putra 
Seorang Pendeta

Tentu kita semua tahu, Al-Quran diturunkan kepada Nabi Muhammad Saw. di bulan mulia seperti saat ini: bulan Ramadhan. Kemudian, dengan tersebarnya Islam ke berbagai penjuru dunia, Kitab Suci itu pun diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia, antara lain bahasa Inggris. Nah, salah satu penerjemah ke dalam bahasa yang dipakai ratusan juta anak manusia itu adalah Muhammad Marmaduke William Pickthal (1292-1355 H/1875-1936 M). Terjemahannya tersebut terkenal puitis dan akurat.

Kini, siapakah penerjemah Al-Quran tersebut?

Pickthall lahir pada Rabu, 1 Rabi‘ Al-Awwal 1292 H/7 April 1875 M, sebagai putra pasangan suami-istri Pendeta Charles Grayson Pickthall dan Mary O’Brien ini. Dididik di Harrow, novelis yang disanjung D.H Lawrence, H.G Wells, dan E.M Forster ini lahir di lingkungan sebuah keluarga Inggris kelas menengah yang akar keluarganya adalah seorang ksatria di masa William Sang Penakluk, Roger de Poictu. Ketika ia berusia lima tahun, ayahandanya berpulang. Selepas itu, keluarganya pindah ke London. Di ibukota itulah ia menempuh pendidikan dasar dan menengah. Selama meniti pendidikan tersebut, ia gemar mendaki gunung. Kegiatan itu memertemukannya dengan Muriel Smith, seorang gadis cantik  yang kelak menjadi pendamping hidupnya.

Ketika Pickthall berusia delapan belas tahun, karena ingin memelajari bahasa Arab dengan harapan jika dapat menguasai bahasa itu ia dapat bekerja di Konsulat Inggris di Palestina, ia pun bertolak ke Asia. Port Said, sebuah kota pelabuhan di Mesir, adalah kota di Asia yang pertama kali ia singgahi. Selepas belajar bahasa Arab kepada seorang mu‘allim di kota pelabuhan itu, ia kemudian menuju Jaffa. Dengan senantiasa mengenakan baju tradisonal warga setempat, ia kemudian hidup di tengah-tengah masyarakat Palestina. Perjalanan hidupnya selanjutnya mengantarkannya ke Kota Damaskus. Di kota yang pernah menjadi ibukota Dinasti Umawiyyah itu, ia kian mendalami bahasa Arab dan sejarah Islam. Tetapi, segera perhatiannya terarah pada Al-Quran, karena pengaruh karya-karya Thomas Traherne dan Gerard Winstanley.

Selama bermukim di Damaskus ini, sejatinya Pickthall ingin memeluk Islam. Namun, Imam Masjid Umawi kala itu menyarankan kepadanya, agar ia tidak memeluk Islam sebelum meminta masukan kepada ibundanya. Ia pun kembali ke negerinya tanpa memeluk Islam. Tidak lama setiba di negerinya, ia kemudian menikahi Muriel Smith pada Rabi‘ Al-Akhir 1314 H/September 1896 M. Tidak lama selepas menikah, ia menapakkan kaki menuju Jenewa, Swiss. Di kota itu, lahir beberapa novelnya: Monsieur le President, The Word of an Englishman, dan Said the Fisherman. Selepas balik ke negerinya, lahir novel-novelnya Enid dan The House of Islam.

Pada 1327 H/1909 M Pickthall kembali menapakkan kaki ke Mesir. Kota Alexandria adalah kota pertama yang ia kunjungi. Kunjungannya ke acara mawlid Sayyid Ahmad Al-Badawi di Thantha memberikan inspirasi baginya dalam menyusun karya berikutnya, Children of the Nile. Kemudian, ketika Perang Dunia I pecah, ia kembali ke Inggris. Selama di negerinya, lahir novel-novelnya Larkmeadow dan Veiled Women. Perjalanan hidupnya selanjutnya mengantarkannya ke Turki. Di negeri terakhir itu, lahir karya-karyanya With the Turk in Wartime dan The Early Hours. Dan, selepas kembali ke tanah airnya, pada Ahad, 11 Muharram 1333 H/29 November 1914 M Pickthall memberikan ceramah dengan judul “Islam and Progress”. Selepas itu, ia mantap untuk memeluk Islam. Langkahnya ini diikuti istrinya, Muriel Smith. Sejak itulah, ia menjadi aktivis “Islam Society” di Woking dan London. Pada masa ini, ia ikut mengelola koran mingguan The Muslim Outlook.

India adalah negara berikut yang dikunjungi Pickthall, untuk menjadi editor Bombay Chronicle. Ia tiba di negeri itu pada 1338 H/1919 M. Selain menjadi editor, ia juga menjadi khatib shalat Jumat dan belajar bahasa Urdu. Pada 1342 H/1924 M, karena Bombay Chronicle dilarang terbit, ia beralih profesi menjadi kepala sekolah di Hyderabad. Selain itu, ia juga menerbitkan jurnal Islamic Culture dan melahirkan karya-karyanya Dust and the Peacock Throne dan The Cultural Side of Islam. Selama bermukim di Hyderabad itu pula, ia menerjemahkan Al-Quran yang kemudian terbit dengan judul The Meaning of the Glorious Koran.

Selepas bermukim di anak benua India sekitar lima belas tahun, pada 1354 H/1935 M Muhammad Marmaduke William Pickhthal meninggalkan Hyderabad dan kembali ke Inggris. Dan, sekitar setahun kemudian, tepatnya pada Selasa, 27 Shafar 1355 H/19 Mei 1936 M, ia berpulang di St. Ives karena trombosis koroner yang ia derita. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn. Kiranya, amal-amalnya diterima Allah Swt. Amin ya Rabb Al-‘Alamin.


Wednesday, June 18, 2014

AKHIRNYA, HARI PENSIUN PUN TIBA: 
Catatan untuk Seorang Istri

Semarang, 18 Oktober 1983.

Itulah hari, bulan, dan tahun yang paling membahagiakan dirinya.  Selepas berjuang selama enam tahun, akhirnya brevet sebagai dokter dia raih dari sebuah universitas negeri di Semarang, Jawa Tengah., Universitas Diponegoro. Tentu saja, dengan keberhasilannya meraih brevet itu, dia pertama-tama merasa sangat berterima kasih kepada Allah Swt. dan kedua orang tuanya. Meski ayahandanya seorang pensiunan perwira Angkatan Darat,  namun sejak dia diterima di fakultas kedokteran, ayahanda dan ibundanya tidak pernah tanggung-tanggung dalam membiayainya, meski kondisi keuangan mereka kala itu sangat terbatas.

Karena itu, sejak masih sebagai mahasiswa, dia telah bercita-cita bahwa setelah meraih brevet dokter, dia akan berbakti dengan sepenuh hati di bidang medis dan kesehatan untuk masyarakat. Pertama-tama untuk mengikuti jejak ayahandanya yang pernah ikut berjuang untuk Indonesia dalam meraih kemerdekaan. Yang kedua, dia juga merasa berutang kepada negaranya. Ini karena dia menyadari, betapa besar subsidi yang diberikan negaranya kepada dirinya, ketika dia menimba ilmu di fakultas kedokteran.

Selepas menunggu selama sekitar sepuluh bulan sebagai dokter tidak tetap di Unit Gawat Darurat Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta, Departemen Kesehatan Republik Indonesia menempatkan dirinya untuk melaksanakan Wajib Kerja Sarjana Satu di wilayah Jawa Barat. Dengan senang hati, dia pun meninggalkan Jakarta, menuju ke tempat penempatannya sebagai dokter.  Di Jawa Barat, dia ditempatkan di Kabupaten Bandung. Tepatnya di Desa Pakutandang, Kecamatan Ciparay. Selama enam tahun, sesuai dengan janjinya, dia bina dan kembangkan Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) yang dia pimpin dengan sepenuh hati sejak “titik nol”. Tidak aneh, jika ketika dia tinggalkan, Puskesmas itu menempati strata satu, alias Puskesmas Teladan.

Usai bertugas di Desa Pakutandang, dan bertugas sebagai anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia pada Musim Haji 1989, perjalanan hidup mengantarkan dirinya memasuki Program Pendidikan Dokter Spesialis Penyakit Dalam, Universitas Padjadjaran pada 1990. Selama enam tahun (pendidikan dokter spesialis penyakit dalam waktu itu masih selama enam tahun), dengan penuh suka dan duka, dia berjuang untuk menjadi seorang dokter spesialis. Akhirnya, pada 1996, brevet dokter spesialis penyakit dalam pun dia raih. Setelah ditugaskan beberapa bulan di Rumah Sakit Angkatan Darat Dustira di Cimahi, dia kemudian berangkat ke  Nusa Tenggara Barat untuk melaksanakan Wajib Kerja Sarjana Dua di Praya, Lombok Tengah, dengan meninggalkan dua putrinya di Bandung. Selama satu tahun penuh, dia siapkan infrastruktur Bagian Penyakit Dalam Rumah Sakit Umum Daerah Lombok Tengah. Sehingga, ketika dia meninggalkan Praya, dokter spesialis dalam pengganti dapat bertugas dan bekerja dengan nyaman dan krasan.

Kembali ke Bandung pada awal 2008, posisi sebagai pegawai negeri sipil pun dia tinggalkan. Kini, dia memasuki sebuah rumah sakit swasta yang mengharapkan kehadirannya, sebagai salah satu persyaratan izin beroperasinya rumah sakit tersebut. Seperti sebelumnya, selama menjadi karyawan di rumah sakit tersebut, dia bekerja dengan sepenuh hati. Jika banyak di antara para sejawatnya merangkap di beberapa rumah sakit, dia sepenuhnya hanya berkarya di rumah sakit tersebut. Berbagai posisi dia pegang, antara lain sebagai Ketua SMF Penyakit Dalam (nyaris selama bekerja di rumah sakit tersebut), Ketua Komite Infeksi, Wakil Ketua Komite Medik, Ketua Komite Kendali Mutu dan Etik, Ketua Tim Pemeriksa Kesehatan Para Calon Bupati Kabupaten Bandung, dan Wakil Direktur (dua kali). Selain itu, dia bangun pula sebuah pusat penanganan para penderita diabetes mellitus.

Di luar kegiatannya tersebut, dia seakan tidak pernah merasa capai untuk membina masyarakat. Entah berapa kali dia adakan kegiatan simposium medis dan parenting, baik bagi para profesional maupun masyarakat, yang bermanfaat untuk mereka. Kemampuan managerialnya memang patut diacungi jempol. Selain itu, dia sempatkan pula mendirikan pesantren mini, dengan pelbagai kegiatan yang tidak pernah berhenti semenjak pesantren mini itu dibuka hingga kini.

Kemarin, 17 Juni 2014, dia dipanggil direksi tempat dia bekerja selama 16 tahun. Secara resmi dia diberitahu bahwa mulai hari ini, 18 Juni 2014, dia mulai memasuki masa pensiun. Ya, baru kemarin, sehari sebelum dia berulang tahun ke 56 tahun, dia baru diberitahu secara resmi bahwa mulai hari ini dia pensiun.  Dan, hari ini,  18 Juni 2014, saat dia berulang tahun ke-56, dia merasa sebuah beban berat seakan terlepas dari dirinya: sebuah amanah sebagai dokter yang harus melayani masyarakat  dengan sebaik-baiknya. Selama 31 tahun, sebagai dokter, dia memang  tidak pernah lupa dengan janjinya bahwa “dia akan senantiasa melayani masyarakat dengan sebaik-baiknya. Dari yang jembel hingga yang jenderal”. 

Untuk itu, doa pun kami (saya dan anak-anak) panjatkan kepada Allah Swt., “Allâhumma ij’alhâ min ahl al-‘ilm wa ahl al-khair, walâ taj’alhâ min ahl al-syarr wa ahl al-dhair. Ya Allah, Tuhan kami. Jadikanlah dia termasuk orang-orang yang Engkau karuniai ilmu pengetahuan dan suka berbuat kebaikan. Dan, jangan jadikan dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan dan kesesatan. Amin.” 

Selamat ulang tahun istriku. Selamat meniti masa pensiun. Kiranya sisa hidupmu senantiasa mendapatkan limpahan ridha dan berkah dari Sang Pemilik Kehidupan. Amin ya Rabb Al-‘Alamin.


Friday, May 16, 2014

PENSIUN:
Catatan Pengabdian Selama 30 Tahun kepada Masyarakat

“Mas, tadi saya diberitahu rumah sakit, mulai bulan depan saya memasuki masa pensiun.”

Demikian ucap istri, sepuluh hari lalu, ketika dia baru saja pulang dari tempatnya bekerja di sebuah rumah sakit di Baleendah, Kabupaten Bandung. Wajahnya, kala itu, memancarkan antara perasaan sedih dan gembira. Sedih, karena akan berpisah dengan tempatnya bekerja, dan gembira karena dapat merampungkan tugasnya sebagai dokter spesialis tetap di rumah sakit tersebut.

Mendengar ucapan istri yang demikian, segera benak saya pun “melayang-layang” dan teringat perjalanan panjang karier istri sebagai seorang dokter. Kami bertemu pertama kali 30 tahun yang lalu, ketika dia sedang bertugas di Rumah Sakit Fatmawati, Jakarta. Beberapa bulan kemudian, kami menikah. Seminggu setelah menikah, karena menerima perintah penempatan dari Departemen (kini Kementerian) Kesehatan Republik Indonesia, istri dan saya pun menuju Bandung dengan hanya membawa dua tas. Setelah melapor di Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Jawa Barat, dia ditempatkan di Kabupaten Bandung, untuk melaksanakan Wajib Kerja Sarjana 1 di Kabupaten Bandung.

Setelah bertugas beberapa lama di Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Cililin dan Ciparay, pada November 1984, dia ditugaskan untuk menjabat Kepala Puskesma Pakutandang, Ciparay disertai perintah harus tinggal di rumah dinas di puskesmas tersebut. “Mas, ternyata rumah dinas yang akan kita tempati tidak ada listriknya. Itu belum apa-apa. Saya, bersama 12 staf yang belum berpengalaman, akan memulai kerja tanpa perabotan sama sekali di sebuah puskesmas yang belum rampung pembangunannya. Kami akan mulai bekerja hanya dengan tikar saja,” ucap istri seusai melihat kondisi puskesmas tersebut.
“Bismillah, laksanakan saja perintah itu dengan ikhlas dan sebagai bentuk pengabdian kita kepada masyarakat,” jawab saya.

Bukan hanya dengan peralatan yang terbatas, namun juga dana yang terbatas. Namun, semua itu tidak menghalangi dia untuk bekerja dengan sebaik-baiknya. Dan, lewat pengabdian selama sekitar enam tahun di puskesmas tersebut, kami mendapat pengalaman yang sangat berharga: ketika kita mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas, kerja keras, dan jujur, masyarakat pun tahu apa yang kita lakukan dan menghargai pengabdian kita serta dengan senang hati mereka membantu kita. Karena itu, tidak aneh jika dalam waktu enam tahun, Puskesmas Pakutandang beralih dari strata paling “bontot”, alias strata 3, menjadi puskesmas strata 1, alias puskesmas teladan, tanpa perlu melakukan tindakan manipulatif apa pun. Setiap hari kerja, puskesmas itu dihadiri tidak kurang dari 300 pasien.

Sebelum kami meninggalkan puskesmas yang menjadi tempat kelahiran dua putri kami tersebut, kami mendapatkan kenangan indah: kami mendapat hadiah gambar sebuah masjid mungil dari seorang arsitek maestro Indonesia, Ir. Achmad Noe’man (seorang arsitek yang merancang Masjid Salman ITB, Bandung) dan membangun sebuah masjid mungil sesuai gambar tersebut di lingkungan puskesmas dengan luas lahan terluas di Kabupaten Bandung: 4,000 meter persegi. Dan, atas pengabdiannya tersebut, istri mendapatkan penghargaan dengan ditunjuk sebagai anggota Tim Kesehatan Haji Indonesia.

Pada Mei 1990 kami pindah ke Kota Bandung, dengan diantar tidak kurang dari 70 masyarakat Pakutandang.  Dengan berat hati kami meninggalkan Desa Pakutandang, karena istri mengikuti pendidikan dokter spesialis penyakit dalam di Universitas Padjajaran. Enam tahun setelah mengikuti pendidikan yang tidak mudah (antara mengurus rumah tangga dan mengikuti pendidikan yang berat), akhirnya pada 1996 pendidikan itu terselesaikan. Kemudian, ketika melapor ke Departemen Kesehatan Republik Indonesia di Jakarta, untuk membayar utang, alias melaksanakan Wajib Kerja Sarjana 2, apa yang terjadi? Ucap seorang pejabat di departemen tersebut, “Silakan dokter memilih, mau berangkat ke Irian Jaya, Maluku, Nusa Tenggara Timur, atau Nusa Tenggara Barat. Di tempat-tempat tersebut, dokter akan ditempatkan selama satu tahun. Jika memilih ditempatkan di Jawa, dokter harus mengabdi selama lima tahun, untuk bisa mendapatkan surat lolos butuh. Kami memberikan kesempatan kepada dokter untuk memikirkannya dalam waktu sehari semalam!”

Akhirnya, kami memilih mengabdi di Nusa Tenggara Barat, dengan penempatan di Kota Bima. Dengan meninggalkan dua putri di Bandung (mereka baru menempuh pendidikan di sekolah dasar), kami pun berangkat ke Mataram, untuk melapor penempatan istri, ke Kantor Wilayah Departemen Kesehatan Provinsi Nusa Tenggara Barat. Seusai melapor, ucap istri kepada saya, “Mas, saya harus “babat alas” lagi. Saya tidak jadi ditempatkan di Bima. Tapi, saya ditempatkan di Praya, ibu kota Lombok Tengah. Kota itu telah memiliki Rumah Sakit Umum Daerah. Sayangnya, sampai saat ini tidak ada dokter spesialis penyakit dalam yang mau ditempatkan di rumah sakit tersebut. Kabupaten Lombok Tengah, saat ini, merupakan kabupaten termiskin di Nusa Tenggara Barat. Bagaimana enaknya?”
“Bismillah, lakukan saja tugas itu,” jawab saya.

Sekali lagi, pelajaran serupa kami dapatkan ketika istri bertugas di Praya: : ketika kita mengabdi kepada masyarakat dengan ikhlas, kerja keras, dan jujur, masyarakat pun tahu apa yang kita lakukan dan menghargai pengabdian kita serta dengan senang hati mereka membantu kita.

Awal tahun 1998, ketika Indonesia menjelang “dihajar” krisis ekonomi, dan beberapa bulan sebelum Pak Harto lengser, istri kembali ke Bandung setelah rampung “membayar utang”, alias melaksanakan Wajiba Kerja Sarjana 2, di Praya. Setiba kembali di Bandung, sebagai Pegawai Negeri dengan pangkat IIId, sebuah rumah sakit Islam mengharapkan istri bertugas di situ, dengan syarat melepaskan kedudukannya sebagai pegawai negeri. Kala itu, tidak ada dokter spesialis penyakit dalam yang mau menerima persyaratan demikian untuk ditempatkan di rumah sakit tersebut. Syarat keluar dari pegawai negeri itu diperlukan rumah sakit tersebut untuk melengkapi perizinannya. “Mas, masa saya harus “babat alas” melulu. Bagimana ini enaknya?”
“Keluar saja dari pegawai negeri. Rezeki Allah Swt. yang mengatur. Kalau tiada yang mau memenuhi syarat demikina, kapan rumah sakit itu memiliki izin,” jawab saya.


Akhirnya, istri pun melepaskan kedudukannya sebagai pegawai negeri. Dan, sejak itu, dia bertugas di Rumah Sakit Al-Ihsan (kini menjadi sebuah rumah sakit umum daerah di bawah pemerintah Provinsi Jawa Barat), dengan sederet tugas, antara lain sebagai wakil direktur (dua kali), Ketua SMF Penyakit Dalam, Ketua Komite Infeksi, Ketua Komite Kendali Mutu dan Etik, dan pemrakarsa berdirinya Diabetic Center, sampai akhirnya menerima keputusan pensiun bulan depan. Semoga amal dan pengabdiannya kepada masyarakat diterima Allah Swt., amin ya Rabb Al-‘Alamin. 

Thursday, May 15, 2014


Golden Ages
“Mas, Antum sama istri Antum itu aneh!”

Demikian ucap seorang sahabat, ketika dia tahu, ternyata santri-santri dan murid-murid  Pesantren Mini kami “hanya” anak-anak dari pra-taman kanak-kanak sampai sekolah dasar. Bukan seperti kebanyakan pesantren-pesantren lainnya yang santri-santrinya mulai dari anak-anak sekolah menengah pertama sampai mahasiswa.
“Apanya yang aneh,” tanya saya.
“Kalau punya santri-santri dan murid-murid seusia mereka, Antum tidak bakal punya pengaruh terhadap masyarakat. Apalagi pengaruh politik,” jawab sahabat saya. “Beda sekali dengan pesantren-pesantren lain yang memiliki para santri yang usia mereka lebih tinggi. Lihat itu calon-calon anggota dewan perwakilan, malah juga calon-calon presiden, mereka sama “sowan” ke pesantren-pesantren untuk mendapatkan dukungan. Kalau pesantren Antum, siapa yang akan mendatanginya?”

Mendengar jawaban yang demikian, saya hanya tersenyum saja. Lantas, beberapa saat kemudian, saya pun berucap, “Gak mereka datangi ya gak apa-apa. Gitu saja kok repot, kata Gus Dur. Saya dan istri memang bukan politisi,” jawab saya santai. “Dan, inilah model pesantren yang saya dan istri saya pilih dengan pertimbangan yang matang. Untuk mendapatkan “formula” pesantren mini yang demikian ini, sejatinya saya dan istri melalui proses yang tidak sebentar. Saya dan istri sengaja memilih pendidikan untuk anak-anak, karena pendidikan di masa “golden ages” (dari sejak anak dalam kandungan hingga usia sekitar tujuh tahun) sangat penting. Masa itu merupakan landasan masa depan anak-anak. Dan, untuk menyiapkan pendidikan model ini, kami telah keliling ke mana-mana: ke Banten, melihat Rumah Dunianya Golagong dan Madrasah Aliyah Negeri Insan Cendekia, di Jakarta ke Pesantren Darunnajah, ke Jawa Barat ke beberapa sekolah menengah umum dan pesantren. Kami pun juga pergi ke Jawa Tengah, melihat pola pendidikan di Sekolah Menengah Pertama Qaryah Thayyibah di Salatiga, Sekolah Menengah Umum Taruna Nusantara di Magelang, dan beberapa pesantren. Termasuk Pesantren Raudlotut Tholibin yang kini dipimpin Gus Mus dan Pondok Pesantren Mangkuyudan di Solo. Kami juga pergi ke Jogjakarta dan Jawa Timur. Antara lain ke Pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta, Pondok Modern Gontor, Pondok Pesantren Syaikhona Khalil di Bangkalan, dan Pondok Modern Al-Amin Prenduan Sumenep. Selain itu, kami juga mengunjungi beberapa sekolah alam. Dari perjalanan panjang itu, kami akhirnya mengambil “positioning”: kami memilih pendidikan untuk anak-anak.”

Rasanya “plong” usai berucap demikian. Dan, mendengar “paparan” saya yang demikian, sahabat saya pun berkomentar, “Jika demikian, kapan Antum akan “nangkring” di atas kursi empuk di Gedung DPR?” 
“Jalur itu bukan pilihan saya.”
“Sayang sekali. Antum ini kan pernah lama belajar di luar negeri. Sedangkan istri Antum seorang dokter spesialis. Semestinya, Antum dan istri Antum mendirikan perguruan tinggi. Itu baru pas.”
“Seperti telah saya katakan tadi: itu adalah pilihan kami. Kami pun merasa pilihan itu tidak salah dan merasa bahagia dapat ikut mencerdaskan umat. Doakan saja, kiranya amal kami diterima Allah Swt. dan menjadi amal yang bermanfaat, dunia dan akhirat, amin ya Rabb Al-‘Alamin.”
“Amin ya Mujib Al-Sa’ilin.”


Saturday, April 19, 2014

Sakit Gigi dan Syaikh 'Abdul Qadir Al-Jailani

“Duh, ini mesti ada gigi yang lubang,” gumam pelan bibir saya pada dini hari Rabu, 16 April 2014, yang lalu, sambil memegang pipi kiri yang agak bengkak dan kepala terasa sangat nyeri. Meski menahan sakit, karena dini hari itu telah berjanji akan mengantarkan istri ke Bandara Husain Sastranegara, Bandung, saya pun segera bangkit dari tempat tidur. Dan, sepanjang perjalanan dari rumah menuju bandara, saya tidak banyak menceritakan sakit gigi itu kepada istri yang akan mengikuti simposium medis di Denpasar, Bali. Selepas istri berangkat, dan saya kembali ke rumah di Baleendah, nyeri karena sakit gigi itu kian “membara”. Segera, saya memberitahu istri yang kemudian memberikan resep obat harus segera saya beli dan obat itu kemudian saya minum.

Entah kenapa, ketika sedang menahan rasa sakit tersebut, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh, Ya, melayang-layang jauh ke Baghdad, Irak, karena teringat pesan indah seorang sufi terkemuka bernama Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Sejak kecil, saya sejatinya sudah akrab dengan nama sufi terkemuka tersebut, karena ayah saya adalah seorang kiai yang pengikut Tarikat Qadiriyah-Naqsyabandiyah. Apa pesan sang sufi berkenaan dengan sakit yang hari itu sedang saya “nikmati”? “Orang yang sakit,” demikian pesan sang sufi, “adalah tamu Allah selama dia sakit. Setiap hari saat sakit, Allah Swt. mengaruniakan kepadanya pahala yang tidak terhitung, selama dia mengucapkan alhamdulillah (segala puja dan puji bagi Allah Swt. semata) dan tidak melawan serta mengeluh. Dan, ketika Allah memulihkan kesehatannya, Dia menghapus dosa-dosanya dan memberinya status seperti bayi yang baru lahir. Sakit adalah pengampunan dan berkah.”

Teringat pesan indah yang demikian, sakit gigi tersebut pun saya “nikmati” dengan ikhlas.  Dan, kini, siapakah jati diri Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani tersebut?

Bernama lengkap Abu Muhammad Muhyiddin  ‘Abdul Qadir bin Musa bin ‘Abdullah  Al-Jailani,  pendiri Tarikat  Qadiriyyah  ini  lahir di Desa Nif  atau  Naif,  Jailan, selatan  Laut Kaspia (kini masuk wilayah Iran), pada Ahad, 1 Ramadhan 470 H/18 Maret 1078 M. Selepas menimba ilmu  di kota kelahirannya, pada 488 H/1095 M ia dikirim ibundanya,  Fathimah bin ‘Abdullah Al-Shauma‘i, ke Baghdad. Di kota terakhir ini ia menimba ilmu dari sejumlah tokoh ilmuwan dan ulama dan menempuh jalan  sufi. Ia belajar ilmu fikih kepada Syaikh  Abu  Al-Wafa’ dan  Syaikh  Abu Al-Khaththab Al-Kalwazani. Sedangkan  di  bidang tasawuf ia menimba ilmu kepada Syaikh Abu Al-Khair Muhammad  bin Muslim  Al-Dabbas dan Abu Sa‘d Mubarak Al-Mukharrimi  dan  di bidang bahasa Arab kepada Abu Al-Husain Abu Ya‘la.

Di   samping  menimba  ilmu,  Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani  juga   acap   melakukan pengembaraan.  Antara lain, ke Persia, Mesir,  dan  Semenanjung Arab.   Tetapi,  akhirnya  ia  memilih  Baghdad  sebagai   tempat menetapnya.  Di  kota itu, ia mendirikan  padepokan  bagi  murid-muridnya  dan para sufi. Tasawuf, menurut ia, adalah  kebeningan dan  kebersihan dari kotoran jiwa dan hawa nafsu,  hubungan  yang benar dengan Allah dan akhlak yang mulia dalam hubungan  dengan sesama makhluk. Semua itu agar tasawuf benar-benar selaras dengan syariah, hingga menjadi dasar dalam hubungan antara sesama  mereka dan  dalam  hubungan  ibadah kepada  Allah.  Dengan  kata  lain, tasawuf harus selaras dengan Al-Quran dan Sunnah.

Dengan  pandangannya yang demikian ini, tak aneh bila  Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani dikenal  sebagai  sufi yang memiliki toleransi  yang  tinggi  dan sangat  menghormati tetangga, menjauhi kemewahan, dan  kenikmatan duniawi. Ini tercermin, misalnya, pada ucapannya, “Bukalah  mata jasmani  dan mata hatimu lebar-lebar terhadap dunia  yang  senantiasa mengecoh.   Hadapilah  dengan  meniadakan  hawa  nafsu,   tidak membiarkan  ajakannya dan bawalah ke arah pengabdian diri  kepada Allah  semata.”  Karena itu, tak aneh bila  ia  berpendapat  bahwa orang  harus  ditempa  dalam kesengsaraan  agar  mampu  merengkuh kedamaian batin. Allah Yang Maha Kuasa, menurutnya,  menghadapkan orang-orang  pilihan-Nya pada berbagai cobaan dan  godaan,  untuk menguji  kekuatan  iman  mereka  dan  mengangkat  mereka secara ruhaniah dan moral.  

Selain   sebagai  sufi,  Syaikh 'Abdul Qadir Al-Jailani  juga  seorang  faqîh   yang mengikuti  Mazhab Hanbali dan menguasai ushul fikih dan  fikih. Tak aneh bila ia mengaitkan tasawuf dengan Al-Quran dan  Sunnah. Karenanya  ia  mendapat  pujian  dari  seorang  pengkritik  keras tasawuf,  Ibn Taimiyyah. Di samping itu, ia juga terkenal  sebagai seorang  sufi  yang  selalu  memberikan  pengarahan  kepada  para muridnya  untuk  senantiasa takut dan patuh kepada  Allah.  Misalnya, suatu kala ia dimintai nasihat oleh seorang muridnya tentang  hal yang menyebabkan iman dan agama rusak. Jawab Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani, “Agamamu bisa sirna  oleh empat hal: engkau tidak mau beramal terhadap  sesuatu yang  tidak engkau ketahui, engkau tidak  mau  belajar  terhadap sesuatu yang tidak engkau ketahui, engkau lakukan pekerjaan  atas dasar  sesuatu yang  tidak engkau ketahui, dan engkau  menghalangi  orang untuk  belajar sesuatu yang tidak mereka ketahui.”

Sufi yang satu  ini menghadap  Sang  Pencipta di Baghdad pada Senin, 11 Rabi‘ Al-Akhir 561  H/14 Februari 1166  M,  dengan meninggalkan sejumlah karya. Antara lain Futûh Al-Ghaib dan Al-Fuyudhât Al-Rabbâniyyah.