Friday, May 8, 2015

NIKMATNYA SHALAT

Kota Dresden, Jerman, di puncak musim dingin.

Walau dingin, dini hari itu ia tetap melangkahkan kakinya menuju masjid untuk melaksanakan shalat Shubuh. Ya, subuh hari itu kembali ia niatkan untuk melangkahkan kaki menuju Uhlandstrasse 34 di mana berdiri salah satu masjid di Dresden, sebuah kota cantik di belahan timur negeri Jerman yang dihiasi bangunan-bangunan tua nan megah serta pemandangan alam nan indah. Sudah dua hari terakhir sebelum itu, ia berhalangan hadir pada jamaah shalat Shubuh, karena kondisi fisik yang sedang menurun akibat faktor cuaca yang kurang bersahabat. Dalam minggu terakhir kala itu, udara di Kota Dresden memang terasa terus bertambah dingin. Kisaran suhu selalu berada di bawah titik beku. Malah, malam sebelum hari itu, temperatur telah mencapai -20 derajat celcius.

Usai menunaikan dua rakaat shalat sunnah sebelum subuh, yang nilainya melebihi dunia dan seisinya, segera ia kenakan sweater dan jaket tebal penahan angin maupun dingin. Lobbi apartemen masih tampak lengang, meski waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Seketika, ia rasakan hawa dingin menerpa wajahnya dan menusuk hingga ke tulangnya saat pintu utama apartemen berlantai 16 itu terbuka.

Pakaian tebal dan sarung tangan kulit yang ia kenakan ternyata tidak cukup kuasa menahan terpaan angin yang menambah dinginnya permulaan hari itu. Dalam kondisi seperti itu, godaan untuk melaksanakan shalat di rumah sedemikian besar. Malah, bagi sebagian orang, hangatnya pembaringan dan gelapnya fajar merupakan saat yang tepat untuk memanjangkan mimpi-mimpi indahnya, hingga terbuai dan melalaikan kewajiban utamanya kepada Allah Swt. Namun, sebaliknya, bagi mereka yang rindu dan dirindukan Allah Swt., kesulitan seperti itu justru menambah kekuatan dan semangat untuk dapat lulus dalam sebuah ujian yang dapat membuktikan kebenaran imannya. Yakni dengan menjawab panggilan Allah Swt. di waktu subuh serta berusaha menyempurnakannya dengan melaksanakannya secara berjamaah di masjid.

Ya, itulah sepenggal kisah yang disajikan dalam buku yang saya tulis dan terima dari Penerbit Mizania, Bandung, kemarin, Nikmatnya Shalat. Tentu, masih banyak kisah lain yang disajikan dalam buku dengan tebal 385 halaman ini, karena setiap pasal ini selalu diawali dengan suatu kisah memikat. Semuanya, tentu saja, berkenaan dengan shalat.

Anda mungkin tahu, hingga dewasa ini, sederet panjang karya-karya tentang shalat tentang telah ditulis dan disajikan dengan pelbagai pendekatan. Sebagian di antara karya-karya itu menyajikan pembahasan mengenai shalat tersebut dalam sebuah kajian khusus mengenai shalat, misalnya saja karya T.M. Hasbi Ash-Shiddieqy, Pedoman Shalat, dan karya Datuk Haji M. Hashim Yahaya, Ensiklopedia Solat. Sebagian di antara karya-karya yang lain menyajikannya dengan pendekatan lintas mazhab, misalnya saja karya Dr. ‘Abdul Qadir Al-Rahbawi, Al-Shalâh ‘alâ Al-Madzâhib Al-Arba‘ah.  Sebagian yang lain lagi, di antara karya-karya tersebut, menyajikannya sebagai bagian dari sebuah karya yang menyajikan pembahasan mengenai ibadah-ibadah dalam Islam, misalnya saja karya Abu Hamid Al-Ghazali, Ihya’ ‘Ulûm Al-Dîn, karya Ibn Rusyd, Bidâyah Al-Mujtahid, karya Sayyid Sabiq, Fiqh Al-Sunnah, dan karya Dr. Ahsan Zaqqur, Fiqh Al-‘Ibâdât wa Adillatuh ‘alâ Madzhab Al-Sâdah Al-Mâlikiyyah. Sebagian karya yang lain lagi menyajikan kajian shalat menurut Sunnah, misalnya saja karya Prof. Muhammad Zulfiqar, Prayer According to the Sunnah, dan karya Dr. ‘Abdullah ibn Muhammad ibn Ahmad Al-Thayyar, Al-Shalâh. Sebagian karya yang lain lagi menyajikan kajian khusus mengenai salah satu bahasan seputar shalat, misalnya seputar shalat tahajjud atau rukhshah dalam shalat. Contoh karya-karya model yang terakhir tersebut, antara lain, adalah karya Dr. ‘Ali Abu Al-Bashal, Rukhash fî Al-Shalâh, dan karya Dr. Muhammad Salleh, Pesona Solat Tahajud.

Nah, berbeda dengan karya-karya di atas, karya berjudul Nikmatnya Shalat ini menyajikan suatu pendekatan lain dalam membahas hal-hal di seputar shalat. Dalam Nikmatnya Shalat, di samping diuraikan mengenai hukum, tatacara, dan hikmah shala, juga disajikan pelbagai pengalaman pelaksanaan shalat di pelbagai penjuru dunia, seperti kisah di atas. Di samping itu, juga disajikan sederet kisah yang erat kaitannya dengan problematika shalat.

Lewat sederet pengalaman langsung, yang disajikan dalam bentuk kisah-kisah nyata para pelakunya di pelbagai negara, diharapkan pembaca karya yang terdiri dari tiga bagian ini dapat mengetahui dan merasakan pengalaman nyata pelaksanaan shalat, di samping juga mengetahui pelbagai problematika pelaksanaan shalat yang mereka hadapi, di pelbagai penjuru dunia tersebut. Selain itu, lewat kisah-kisah itu sendiri diharapkan pembaca dapat memahami pelbagai aspek yang berkaitan dengan shalat yang kadang sulit dilakukan. Dengan demikian, pembaca akan dapat memahami berbagai problematika pelaksanaan tatacara shalat di pelbagai penjuru dunia. Misalnya, pengalaman seorang perwira Angkatan Laut Republik Indonesia ketika sedang menempuh pendidikan militer di Prancis sebagai berikut (seperti disajikan dalam karya ini),

Nah, ketika bergeser ke BPC Dixmude, ketika ia onboard, muncullah sebuah masalah baru. Satu kamar berenam, hanya ia saja yang Muslim. Lima yang lain berkewarganegaraan Prancis dan memeluk agama yang berbeda dengan agamanya. Satu-satunya tempat yang privat di kamar adalah di atas tempat tidur, karena ada tirai yang dapat ditutup. Shalat menjadi sulit baginya karena dua alasan. Pertama, karena di kapal itu tiada ruangan khusus untuk shalat. Kedua, karena di kamar banyak orang berlalu lalang.  Hal itu menyulitkan dirinya untuk melaksanakan shalat.

Terkadang, untuk melaksanakan shalat ia harus menunggu sepi. Setiap kali melaksanakan shalat Shubuh, ia harus bangun pagi-pagi sebelum yang lain bangun. Bukan apa-apa, karena tidak enak mengganggu lalu lintas mereka yang hendak ke kamar mandi atau ke tempat lain. Kalau pun tiada jalan lain, ia terpaksa menggunakan tempat tidur sebagai tempat shalat. Shalat Zhuhur dan Ashar harus ambil waktu di antara istrirahat dua pelajaran. Untuk melaksanakan shalat Magrib, terkadang ia harus menunggu yang lain berangkat makan malam. Repot juga sebenarnya usahanya untuk melaksanakan shalat di situ. Namun untuk urusan makan, kapal itu patut diacungi jempol. Selalu ada alternatif makanan bagi yang Muslim apabila kebetulan menu saat itu tidak halal. Tinggal bilang saja ke petugas, maka akan segera diantar jenis makanan yang lain. Entah itu ayam, sapi, atau ikan.

Meski  karya ini merupakan sebuah karya popular, saya berharap kiranya karya ini dapat “menyajikan gambaran menyeluruh mengenai shalat” secara ringkas dalam bahasa yang mudah dicerna, enak dibaca, dan menunjukkan bahwa shalat memang indah. Tentu, dalam karya ini saya tidak akan memaparkan secara terinci landasan hukum setiap shalat yang disajikan dalam karya ini. Bagi pembaca yang ingin mendalami lebih jauh landasan hukum setiap shalat dapat mengkajinya pada sederet buku yang membahas secara terinci shalat dengan landasan hukumnya.

Di sisi lain, sekali lagi, saya sepenuhnya menyadari, karya yang terdiri dari tiga bagian ini bukan sebuah karya yang sempurna. Karena itu, apabila dalam karya ini terdapat kekurangan dan kelemahan, sekali lagi penulis sampaikan, semua itu sepenuhnya dari saya dan merupakan tanggung jawab saya. Karena itu pula, kritik dan saran dari pembaca tentu senantiasa penulis harapkan demi perbaikan ke depan. Meskipun demikian, saya senantiasa berharap kiranya karya ini dapat menjadi setetes ilmu yang menebarkan manfaat bagi para pembaca sekalian dan sebagai amal jariah yang diterima Allah Swt.

Dalam kesempatan ini pula saya tidak  lupa  mengucapkan rasa terima kasih, dari relung hati terdalam, kepada para penulis kisah-kisah indah yang berkenaan dengan shalat yang disajikan dalam karya ini, baik apakah yang mereka sajikan dalam buku maupun blog. Kehadiran kisah-kisah indah dan nyata yang mereka sajikan tersebut, dan kemudian saya olah kembali, tanpa meniadakan esensinya, sehingga membentuk satu kesatuan dalam bentuk sebuah buku yang mudah dicerna dan enak dibaca, kiranya dapat memberikan gambaran yang hidup, nyata, dan menawan mengenai pelaksanaan shalat di pelbagai negara dan dalam pelbagai kondisi. Sekali lagi, kisah-kisah itu merupakan bukti nyata keindahan shalat. Di samping itu, kiranya penyajian kisah-kisah tersebut dapat membuka cakrawala pemahaman kita mengenai praktik shalat di pelbagai kawasan dan negara.

Tentu, pada kesempatan ini, rasa terima kasih yang sedalam-dalamnya saya sampaikan kepada Penerbit Mizania,  dan Tim,  yang telah bekerja keras untuk menerbitkan karya ini dan karya-karya saya sebelumnya dengan suntingan, tampilan, dan sebaran yang terbaik dan tercantik. Dan, sekali lagi, rasa terima kasih juga saya sampaikan kepada istri tercinta dan dua putri saya atas waktu yang senantiasa mereka relakan yang semestinya menjadi hak mereka.

Kiranya pula Allah Swt. membalas amal kebajikan mereka. Amin. 


JEJAK-JEJAK ISLAM

Bersujud syukur kembali.

Itulah yang saya lakukan tiga hari selepas Ensiklopedia Tokoh Muslim sampai di tangan saya dua minggu yang lalu. Hal itu karena rasa bahagia dan syukur yang luar biasa kepada Allah Swt., karena hari itu, Rabu, 29 April 2015 yang lalu, saya menerima sebuah email dari Yogyakarta. Dalam email tersebut, seorang editor antara lain mengemukakan sebuah kabar gembira, “Mohon maaf, baru mengabari kembali mengenai buku-buku Jejak-Jejak Islam… Insya Allah jika semuanya lancar, buku ini akan masuk ke bagian produksi minggu depan tanggal 7 Mei 2015.”

Dengan kata lain, kemarin  buku Jejak-Jejak Islam mulai dalam proses produksi.

Jejak-Jejak Islam, sejatinya, merupakan “pasangan serasi” dari sebuah ensiklopedia  yang saya susun dan baru terbit bulan lalu, Ensiklopedia Tokoh Muslim. Dapat dikatakan, dua buku tersebut saya siapkan dan tulis berbarengan selama 6 tahun. Jika dalam Ensiklopedia Tokoh-Tokoh Muslim disajikan sekitar 1.100 tokoh Muslim berpengaruh yang pernah ada dalam sejarah Islam, sedangkan Jejak-Jejak Islam merupakan sebuah kamus  popular sejarah dan peradaban Islam yang disajikan dalam bahasa yang mudah dicerna, tetapi tetap akurat.

Mengapa kamus sejarah dan peradaban Islam?

Hingga dewasa ini, memang beberapa ensiklopedia tentang Islam telah hadir dan terbit di Indonesia. Namun, tidak banyak di antara ensiklopedia-ensiklopedia tersebut yang secara khusus menyajikan perihal sejarah dan peradaban Islam. Tentu kita tahu, hingga kini sejarah Islam telah membentang selama 15 abad. Selama itu pula, kaum Muslim telah melahirkan peradaban Islam yang sangat kaya. Namun, sayang, betapa kerap peradaban yang sangat kaya itu tidak diketahui masyarakat pada umumnya dan kaum Muslim pada khususnya. Hal itu, antara lain, karena sejarah dan peradaban Islam tersebut tidak tersajikan dalam sebuah karya sistematis yang enak dibaca.  Bentuk yang paling tepat untuk menyajikannya adalah dalam bentuk kamus popular sejarah dan peradaban Islam. Inilah salah satu pertimbangan mengapa saya menyusun karya yang kini sedang dalam proses cetak ini. Tentu, masih terdapat sederet manfaat lain yang terkandung dalam pengenalan dan pengetahuan tentang sejarah dan peradaban Islam tersebut.

Entri-entri yang dihadirkan dalam kamus ini, terdiri dari sekitar 700 entri, dengan sengaja tidak saya sajikan dari sejarah dan peradaban Islam dari suatu kawasan tertentu atau masa tertentu. Dan, 700 entri memang tidak banyak. Namun, harapan saya, dengan dihadirkannya 700 entri seputar sejarah dan peradaban Islam, pembaca dapat mengetahui dan memahami sejarah Islam secara ringkas dan kontribusi masyarakat Muslim di pelbagai penjuru dunia. Tentu, dengan segala kelebihan, kekurangan, dan jasa mereka.

Erat kaitannya dengan proses penulisan Jejak-Jejak Islam ini, seperti halnya dalam menyusun Ensiklopedia Tokoh-Tokoh Muslim, kemajuan dan perkembangan  ilmu dan teknologi dewasa ini, terutama teknologi  informasi, telah memberi  kesempatan kepada saya untuk  melakukan  check  and  recheck  berbagai   entri terpilih, sehingga dapat dihadirkan entri-entri yang lebih  tuntas dan akurat, walau ringkas. Di samping itu, kehadiran berbagai website tentang Islam, Dunia Islam, dan sejarah dan peradaban Islam di internet sangat besar artinya bagi  saya dalam  menyelesaikan  karya ini. Selain itu,  kehadiran  teknologi informasi tersebut telah memudahkan saya untuk  menghadirkan kalender Hijriah.

Sebagai  sebuah kamus yang merupakan hasil  perpaduan  dan pengolahan berbagai sumber, apalagi ditulis bukan oleh sebuah tim yang  berasal  dari berbagai disiplin yang  menguasai  sepenuhnya “segala hal ihwal” entri-entri yang disajikan, karya  ini  tentu tidak terlepas dari kelemahan  dan  kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Juga, karya ini masih jauh dari sempurna. Karena itu, apabila dalam karya ini terdapat  kelemahan, kealpaan, kekhilafan,  dan kekurangan, semua itu sepenuhnya dari dan merupakan tanggung jawab saya. Karena itu pula, kritik dan saran dari siapa pun tentu  sangat saya harapkan. Meski demikian, saya tetap berharap semoga karya ini dapat menjadi setetes ilmu yang mampu menebarkan manfaat bagi para pembaca sekalian dan dunia ilmu pengetahuan.
   
Tentu, dalam kesempatan ini, saya tidak akan pernah melupakan sumbangan berbagai pihak yang nama mereka terlalu panjang  untuk disajikan  di sini, baik langsung maupun tidak  langsung,  yang membuat  karya ini dapat dihadirkan. Meski demikian,  dalam kesempatan ini, saya  ingin secara khusus menyampaikan  ucapan terima  kasih  sedalam-dalamnya kepada Penerbit Mizania, dan Tim. Dan, secara khusus pula, karya setebal sekitar 600 halaman ini saya persembahkan kepada seorang ibu yang senantiasa menekankan pentingnya meraih ilmu, seorang ayah yang senantiasa menekankan pentingnya menebarkan dan mengamalkan ilmu, seorang istri yang tanpa mengenal lelah senantiasa berbagi ilmu, dan dua permata hati yang mulai merasakan indahnya ilmu.
     
Kiranya Allah membalas amal ibadah mereka semua. Amin.


Tuesday, April 28, 2015

ENSIKLOPEDIA TOKOH MUSLIM 

Langsung bersujud syukur.

Itulah yang saya lakukan tadi pagi, 28 April 2015, begitu saya menerima 5 eksemplar sebuah karya yang telah lama saya nantikan “kelahirannya”: Ensiklopedia Tokoh Muslim, dari Penerbit MIZAN, Bandung lewat seorang kurir. Mengapa sangat saya nantikan kehadirannya? Karena karya setebal 678 halaman itu itu benar-benar merupakan “hasil perburuan” saya, sendirian, nyaris selama enam tahun dalam mencari, menapis, dan menyajikan biografi tokoh-tokoh Muslim sepanjang sejarah Islam. Dan, entah berapa kali saya harus membongkar, membongkar, dan membongkar kembali karya ini sebelum akhirnya hadir di tangan pembaca budiman.

Menulis ensiklopedia seorang diri?

Mungkin, bagi sebagian orang, menulis ensiklopedia seorang diri merupakan hal yang asing, karena ensiklopedia biasanya ditulis oleh sebuah tim. Padahal, sejatinya penulisan ensiklopedia oleh seorang penulis, dalam sejarah Islam, telah berlangsung berabad-abad lamanya. Dengan kata lain, penulisan ensiklopedia oleh seorang penulis Muslim, sendirian, sejatinya bukan hal yang baru. Bagaimanakah sejarah penulisan ensiklopedia dalam sejarah Islam?

Al-Khalil  bin  Ahmad,  yang menurut torehan sejarah Islam yang lebih terkenal sebagai orang  yang  pertama  kali berinisiatif  membuat  tanda-tanda dalam Al-Quran,  seperti  waw  kecil  di atas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil untuk  tanda fathah,  dan  huruf ya’ kecil untuk tanda  kasrah, sejatinya tidak hanya itu kiprahnya.  Ternyata, pakar bahasa Arab dengan nama lengkap Abu ‘Abdurrahman Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr Al-Farahidi, lahir di Oman pada 100 H/718 M, dan terkenal hidup  sangat sederhana  ini juga  seorang penyusun ensiklopedia pertama dalam  sejarah  Islam dengan judul Kitâb Al-‘Ain

Selepas lahirnya  karya Al-Khalil bin Ahmad tersebut,  di  Dunia Islam  pun  terbit sederet ensiklopedia  dalam  berbagai  bidang. Karya-karya  dengan  judul “Thabaqât” dapat  dikatakan  merupakan ensiklopedia-ensiklopedia  awal  yang  disusun  para  ulama   dan ilmuwan  Muslim kala itu. Misalnya, Al-Thabaqât Al-Kubrâ,  sebuah karya besar yang juga dikenal dengan nama Thabaqât Al-Shahâbât wa Al-Tâbi‘în atau Thabaqât Ibn Sa‘d yang disusun seorang  ahli hadis  yang sejarawan Muslim terkemuka, Ibn Sa‘d,  yang  bernama lengkap  Abu  ‘Abdullah Muhammad bin  Sa‘d  Al-Zuhri  (berpulang  di  Baghdad  pada  230 H/845  M).  Karya  terakhir itu menampilkan perjalanan  hidup  Nabi Muhammad Saw. dan keluarga beliau  dengan  terinci. Selain itu, dalam karya itu juga disajikan perjalanan hidup para sahabat  Rasul  Saw.  yang ikut serta dalam Perang  Badar  dan  para sahabat angkatan pertama yang tidak ikut serta dalam perang  yang sangat  menentukan  sejarah  Islam itu  dan  yang  memeluk  Islam sebelum penaklukan Makkah.

Di  samping itu, karya yang telah dipublikasikan sebuah  tim yang terdiri dari sejumlah orientalis terkemuka pada 1322  H/1904 M itu juga menyajikan nama para sahabat dan tâbi‘ûn yang  menetap di  Madinah,  Makkah,  Thaif,  Yaman,  Yamamah,  Kufah,  Bashrah, Baghdad, Syam, dan Mesir. Bagian akhir karya itu menampilkan nama kaum perempuan yang menuturkan hadis langsung dari Rasulullah  Saw. dan yang menuturkannya lewat suami dan bukan suami mereka.

Para  ilmuwan  Muslim  pada  zaman  pertengahan  pun,  pada  masa keemasan   kebudayaan  Islam  di  kawasan  Timur  Tengah,   telah menghadirkan   ensiklopedia   yang  sangat   bermutu.   Misalnya, ensiklopedia  kedokteran  yang terdiri dari 10 jilid  lebih  yang disusun  Abu Bakar Al-Razi, seorang dokter, ilmuwan,  dan  filosuf Muslim terkemuka pada zaman pertengahan yang lahir di Ray, sebuah kota dekat Teheran dewasa ini, pada 250 H/864 M. Karya tokoh yang di Eropa dikenal dengan nama “Rhazes” itu, hingga abad ke-16 M,  masih  tetap  merupakan  dasar  dari  kuliah-kuliah   tentang kedokteran di universitas-universitas di Eropa.

Sebuah  ensiklopedia  kedokteran lain dihadirkan Ibn  Sina, seorang  ilmuwan  Muslim,  yang  di  Barat  dikenal  dengan  nama “Avicenna”,  yang  pakar  di  bidang  ilmu   kedokteran, matematika,  dan astronomi, di samping juga seorang  filosuf  dan ensiklopedis.  Karya  ilmuwan yang bernama lengkap Abu  ‘Ali  Al-Husain  bin  ‘Abdullah bin Sina dan lahir  di  Afsyanah,  dekat Bukhara,  pada Shafar 370 H/Agustus 980 M itu  berjudul  Al-Qânûn fî Al-Thib.  Karya itu dikenal di Barat, dengan judul  Canon of  Medicine,  pertama kali lewat terjemahan dalam  bahasa  Latin oleh Gerard de Cremona.

Hingga  ke masa itu, meski berbagai ensiklopedia telah disusun  oleh para ilmuwan dan pakar Muslim, namun tidak ada satu pun di antara karya-karya  itu  yang  menampilkan dengan  judul  jelas  sebagai “Ensiklopedia  Islam”.  Ensiklopedia  yang  pertama  kali  tampil dengan   judul   jelas   “Ensiklopedia   Islam”   adalah   sebuah ensiklopedia   dengan  judul  The  Encyclopaedia  of   Islam:   A Dictionary  of  the Geography, Ethnography and Biography  of  the Muhammadan  Peoples, oleh Penerbit E.J. Brill,  Leiden,  Belanda.  Ide penyusunan ensiklopedia besar yang berisi berbagai  informasi mengenai  sejarah, geografi, dan tokoh-tokoh Muslim  ini  pertama kali   dikemukakan   Ignaz  Goldziher  (1850-1921   M),   seorang orientalis terkemuka berdarah Yahudi asal Hungaria yang  terkenal sebagai pakar tentang akidah dan syariah Islam.

Ide penyusunan ensiklopedia Islam tersebut dikemukakan guru besar bahasa-bahasa  Semit  dan  penyusun  sebuah  karya  dengan  judul Muhammadanische Studien tersebut dalam Konferensi Para Orientalis di Paris pada 1315 H/1897 M. Ide tersebut kemudian direalisasikan dengan  dibentuknya  sebuah  tim  editor  yang  diketuai  M.  Th. Houtsma,  dengan para anggota yang terdiri dari:  A.J.  Wensinck, T.W.  Arnold,  W. Heffening, dan E.  Levi-Provencal.  Karya  yang pertama kali terdiri dari tiga jilid tersebut mereka publikasikan dalam tiga bahasa sekaligus: Inggris, Perancis, dan Jerman.

Di Dunia Islam sendiri, upaya memublikasikan sebuah ensiklopedia Islam pertama kali dilakukan di Kairo, Mesir pada 1351 H/1932  M. Kala  itu, di Negeri Piramid tersebut, dibentuk sebuah  tim  yang bertugas  menerjemahkan  ensiklopedia  Islam  yang  disusun  para orientalis,  versi Inggris dan Perancis, tersebut ke dalam  bahasa Arab.  Sayang, karya yang ditangani para pakar dan ilmuwan  Mesir tersebut  hanya  berakhir sampai huruf  syin.  Dan, ensiklopedia tersebut pertama kali diterbitkan pada 1352 H/1933 M.

Dalam kaitannya dengan pemilihan tokoh-tokoh Muslim yang disajikan di ensiklopedia ini, sejatinya tidak mudah bagi penulis untuk menentukan siapakah di antara tokoh-tokoh yang paling layak untuk lebih dahulu dihadirkan dalam karya ini. Mengingat pelbagai keterbatasan edisi pertama karya ini, penulis memrioritaskan nama-nama yang acap hadir dalam pelbagai ensiklopedia. Walau demikian, dalam karya ini tetap penulis lengkapi dengan para tokoh Muslim yang belum acap dihadirkan di ensiklopedia-ensiklopedia tersebut. Harapan penulis, ensiklopedia ini kelak kian lengkap dan sempurna.

Para tokoh Muslim yang dihadirkan dalam ensiklopedia yang terdiri dari sekitar 1.100 entry ini dengan sengaja tidak penulis batasi dari suatu kawasan tertentu atau masa tertentu. Demikian halnya, dalam karya ini penulis tidak membatasi hanya para tokoh atau pemuka Muslim dari suatu mazhab, aliran, dan sekte tertentu. Harapan penulis, dengan dihadirkannya para tokoh dan pemuka dari lintas mazhab, aliran, dan sekte tersebut, kita dapat mengetahui biografi ringkas mereka dan memahami kontribusi mereka masing-masing, dengan segala kelebihan, kekurangan, dan jasa mereka, di bidang yang mereka tekuni dan lintasi. Pun, dalam karya ini, penulis tidak berusaha menempatkan diri sebagai “hakim” yang menetapkan benar atau salahnya mazhab, aliran, atau sekte yang mereka usung. Tetapi, penulis lebih menekankan pada perjalanan hidup mereka dari pelbagai aspek yang dapat disajikan.

Erat kaitannya dengan proses penulisan karya ini, kemajuan dan perkembangan  ilmu dan teknologi dewasa ini, terutama teknologi  informasi, telah memberi  kesempatan kepada penulis untuk  melakukan  check  and  recheck  berbagai   entri terpilih, sehingga bisa dihadirkan entri-entri yang lebih  tuntas dan akurat, walau ringkas. Di samping itu, kehadiran berbagai website tentang Islam, Dunia Islam, dan biografi para pemuka tokoh dan pemuka Muslim di internet sangat besar artinya bagi  penulis dalam  menyelesaikan  karya ini. Selain itu,  kehadiran  teknologi informasi  tersebut telah memudahkan penulis untuk  menghadirkan kalender Hijriah.

Perlu penulis kemukakan, dalam ensiklopedia ini penulis berusaha menyajikan dua penanggalan, Hijriah dan Masehi, pada setiap entry yang ditampilkan. Sehingga, dengan demikian, penulis harapkan  para pembaca dapat mengetahui pelbagai peristiwa yang berkait dengan biografi para tokoh yang disajikan dalam ensiklopedia ini dari dua penanggalan tersebut. Untuk itu, seluruh tahun yang disajikan dalam karya ini, baik tahun Hijriah maupun Masehi, telah penulis periksa kembali dengan menggunakan situs yang tersedia di internet: “gregorian-hegira converter”. Karena itu, dalam hal ini, kadang terdapat perbedaan dengan tanggal dan tahun yang disajikan dalam karya maupun ensiklopedia lain. Dan, manakala dalam masalah ini terdapat perbedaan tanggal atau tahun, penulis lebih mendahulukan tanggal atau tahun yang dihasilkan oleh proses pengolahan oleh situs tersebut. Memang, bisa saja tanggal atau tahun yang disajikan berbeda dengan tanggal dan tahun yang dikemukakan dalam karya atau ensiklopedia lain.

Di sisi lain, ensiklopedia popular yang penulis harapkan merupakan  karya pengenalan (introductory work) yang  menarik  di seputar  para tokoh dan pemuka Muslim dari masa ke masa, dan secara tak langsung juga menyajikan perkembangan sejarah  Islam dan kaum Muslim sepanjang sejarah mereka yang telah berjalan  lebih dari lima belas abad, ini tidak akan pernah hadir tanpa topangan khazanah kepustakaan tentang Islam yang disusun dan ditulis  para ilmuwan,  pakar, dan penulis di berbagai bidang.  Sebagian  besar kepustakaan  tersebut kami hadirkan pada akhir karya ini,  dengan harapan agar para pembaca dapat melanjutkan kajian dan penelitian mereka lebih jauh.

Sebagai  sebuah ensiklopedia yang merupakan hasil  perpaduan  dan pengolahan berbagai sumber, apalagi ditulis bukan oleh sebuah tim yang  berasal  dari berbagai disiplin yang  menguasai  sepenuhnya “segala hal ihwal” entri-entri yang disajikan, karya  ini  tentu tidak terlepas dari kelemahan  dan  kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, apabila dalam karya ini terdapat  kelemahan, kealpaan, kekhilafan,  dan kekurangan, semua itu sepenuhnya dari penulis dan tanggung jawab penulis. Karena itu pula, kritik dan saran dari siapa pun tentu  sangat penyusun harapkan. Meski demikian, penyusun tetap berharap semoga karya ini bisa menjadi setetes ilmu yang mampu menebarkan manfaat bagi para pembaca sekalian dan dunia ilmu pengetahuan.

Tentu, dalam kesempatan ini, penulis tidak akan pernah melupakan sumbangan berbagai pihak yang nama mereka terlalu panjang  untuk disajikan  di sini, baik langsung maupun tidak  langsung,  yang membuat  karya ini dapat dihadirkan. Meski demikian,  dalam kesempatan ini penulis  ingin  kembali menyampaikan  ucapan terima  kasih  sedalam-dalamnya kepada Penerbit MIZAN  Bandung, dan Tim,  yang  telah  bersedia menerbitkan  ensiklopedia  popular seputar para tokoh Muslim ini. Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya juga penulis sampaikan kepada istri  tercinta penulis dan dua putri penyusun yang  tetap setia  mendampingi  penulis  hingga terselesaikannya   karya  ini,  meski  mereka  acap  kali   harus merelakan waktu yang semestinya menjadi hak mereka. Kiranya Allah membalas amal ibadah mereka semua. Amin.



Saturday, October 18, 2014

SEPENGGAL CERITA CAK SHON

Tadi malam, ketika malam kian beringsut pelan, dan suasana di rumah tiada lagi diwarnai keriuhan suara anak-anak yang mengaji Al-Quran, sementara istri berada jauh di Pulau Seram, Maluku serta dua putri saya sedang “menikmati perjuangan mereka” di Jakarta, saya pun duduk di depan laptop yang menyala sejak dini hari. Kemudian, entah kenapa, tiba-tiba muncul pikiran untuk menelusuri kehidupan para mahasiswa Indonesia di negeri orang. Dan, selepas lama “berkelana”, pencarian itu akhirnya berakhir di sebuah blog milik seorang mahasiswa Indonesia yang menyebut dirinya Cak Shon. Lembar demi lembar blog mahasiswa s-3 University of Nottingham, Inggris itu pun saya simak. Entah kenapa, mungkin karena saya orang yang dikaruniai usia lebih dari 60 tahun, pandangan saya tertarik dengan tulisannya tentang masa tua.
“Kawan, apa yang kau pikirkan tentang sebuah hari tua?,” tulis Cak Shon ketika memulai tulisannya tentang sepenggal cerita di hari tua. “Di hari ketika raga kita semakin tak berdaya. Ketika kulit kita mulai kendur, wajah kita tak setampan dan secantik di kala muda lagi. Otak pun tak lagi tajam dalam berfikir. Perlahan, kita pun kehilangan memori ingatan kita. Hari-hari ketika kita semakin mendekati ketidakberdayaan. Hari-hari ketika tak ada lagi yang bisa kita sombongkan. Sebelum akhirnya, kita pun musnah. Benar-benar tiada dari panggung kehidupan dunia yang sementara ini.
Sebagian dari kita mungkin membayangkan hari tua yang indah. Menikmati manis buah perjuangan ketika muda, bersama lucunya cucu cicit kita. Hari tua yang penuh kehangatan kasih sayang orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Hari-hari ketika kita semakin dekat dan mengenal Tuhan, yang ketika muda sering kita lupakan. Hari-hari ketika kita semakin bijak memaknai kehidupan. Yang coba kita abadikan dalam goresan tulisan sebagai warisan abadi untuk anak turun kita.
Kawan, kita pun tak ingin membayangkan akan hari tua yang penuh sepi kesendirian. Tiada hari berlalu tanpa kesedihan. Hari-hari penuh rintihan penyesalan. Ketika orang-orang tiada lagi memperhatikan. Hari-hari menunggu penuh ketakutan akan datangnya misteri gelap. Sebuah kematian.”
Usai menulis demikian, Cak Shon kemudian menuturkan tentang sepenggal kehidupan masa tua di negeri orang, Kota Nottingham, “Kawan, pagi sekali hari ini hatiku menangis. Ketika aku menyaksikan seorang perempuan tua di hari tuanya. Dia yang tidak bisa baca tulis sejak lahir, di usianya yang semakin renta, dia masih harus bekerja sangat keras membanting tulang. Hanya sekadar untuk bertahan hidup.
Kawan, malam tadi kembali hatiku menangis. Saat aku kembali dari kampus, aku saksikan lagi-lagi seorang perempuan tua, tertatih keluar dari rumahnya. Mencoba berjalan, tangannya merayapi tembok, kakinya tak mampu menyangga tubuhnya yang ringkih. Rupanya, dia hanya ingin membeli kentang dan ikan goreng. Beruntung aku menemukannya, dan aku bisa membelikannya. Terlihat senyum dan wajahnya yang teramat dalam, ketika bibirnya bergetar berucap berkali-kali , “God Blesses You.”
Konon, cerita sedih di hari tua di negeri yang konon tingkat kemakmuranya tertinggi di atas bumi ini adalah cerita biasa. Semoga kita ditakdirkan memiliki hari tua yang indah. Allâhumma âmîn.”
Allâhumma âmîn,” bibir saya pun pelan mengaminkan doa Cak Shon. 

Thursday, October 9, 2014

DELAPAN PEDOMAN HIDUP

Suatu  saat seorang Tuan Guru kondang bertanya kepada salah seorang muridnya, “Muridku, sejak kapan engkau menimba ilmu kepadaku?
“Sejak tiga puluh tahun, Tuan Guru,” jawab si murid dengan suara pelan dan seraya menundukkan kepalanya.
Mâsyâ Allâh!  Apa saja yang engkau pelajari  selama tiga puluh tahun itu?  tanya Tuan Guru selanjutnya. Sangat penasaran.
“Delapan persoalan, Tuan Guru,” jawab si murid. Tetap dengan suara pelan dan tetap dengan kepala tertunduk.
Innâ  lillâhi  wa innâ ilaihi râji‘ûn. Terbuang  percuma  sajalah umurku  bersamamu.  Selama tiga puluh tahun engkau hanya  memelajari  delapan  persoalan saja?” tanya Tuan Guru. Sangat terperanjat. Dan, tentu saja, sangat penasaran.
“Benar, Tuan Guru,” jawab si murid pelan.  “Selama itu, saya  tidak mempelajari  hal-hal yang lain. Sungguh, Tuan Guru. Itulah yang saya pelajari dan lakukan selama itu.”
“Baiklah. Jika demikian, paparkan   delapan   persoalan   itu kepadaku. Aku ingin   sekali mendengarkannya.”  
“Yang pertama,”  jawab si murid, tetap dengan nada suara pelan, “ketika anak manusia yang  hidup di  dunia  ini saya cermati, saya perhatikan, setiap orang ingin punya kekasih  dan ingin bersama dengan kekasihnya hingga ke liang kubur. Namun, ketika  dia telah  sampai  ke  liang  kubur,  ternyata  dia  berpisah   dengan kekasihnya. Karena itu, saya pun menjadikan perbuatan baik  sebagai kekasih saya.  Sebab, bila saya  masuk ke dalam kubur, masuk pulalah  kekasih saya bersama saya.
“Benar sekali apa yang engkau kemukakan, muridku. Lantas, yang kedua apa?
“Ketika  firman  Allah Swt, “Dan adapun  orang-orang  yang  takut pada  kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari  keinginan  hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS Al-Nâzi‘ât, [79]: 40-41) saya renungkan,  saya benar-benar meyakini bahwa firman Allah Swt. tersebut  benar.  Karena itu, saya lalu berusaha menolak hawa nafsu. Sehingga, dengan demikian, saya tetap taat kepada-Nya.
“Indah sekali jawabannmu. Lantas, yang ketiga?
“Ketika anak manusia yang ada di dunia ini saya renungkan, ternyata saya lihat setiap  orang ingin memiliki harta benda,  menghargainya,  memandangnya bernilai,  dan memeliharanya. Kemudian, saya merenungkan firman  Allah Swt., Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang ada di  sisi Allah adalah kekal.” (QS Al-Nahl, [16]: 96). Karena itu, setiap  kali saya mendapatkan sesuatu yang berharga dan  bernilai,  sesuatu itu pun  saya hadapkan kepada Allah Swt. Semoga sesuatu itu kekal dan terpelihara di sisi-Nya.
Mâsyâ Allâh, indah sekali jawabanmu. Yang keempat?
“Tuan Guru, ketika  pandangan saya terarah kepada anak manusia yang ada di dunia  ini,  saya perhatikan setiap  orang  senantiasa menaruh  perhatian  terhadap  harta, jabatan,  kemuliaan, dan keturunan. Lalu, ketika semua itu saya cermati, tiba-tiba nampak semua itu tiada artinya. Kemudian,  saya lantas merenungkan firman Allah Swt., Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah  adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS Al-Hujurât [49]: 13). Karena itu, saya pun bertakwa kepada-Nya. Kiranya saya menjadi orang mulia di sisi Allah.
“Benar sekali jawabanmu, muridku. Lantas, yang kelima?
“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan, ternyata  mereka suka  saling  menohok  dan  mengutuk  satu  sama  lainnya.  Penyebab semuanya itu adalah perasaan dengki. Kemudian, saya pun memperhatikan  firman Allah  Swt., Kami telah menentukan di antara  mereka  penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia.” (QS Al-Zukhrûf [43]: 32)  Karena itu,  perasaan  dengki pun saya tinggalkan dan diri saya  pun  saya jauhkan dari orang banyak. Saya tahu, saya akan mendapatkan pembagian rezeki dari sisi Allah Swt. Karena itu, permusuhan orang banyak kepada saya pun saya abaikan.
“Menarik sekali, muridku. Yang keenam?
“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya cermati, ternyata mereka suka  berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain.  Saya  pun kembali  pada firman Allah Swt., Sungguh, setan  adalah  musuhmu. Karena itu, jadikanlah dia sebagai musuh(mu).” (QS Fâthir [35]: 6). Karena itu pula,  setan pun saya pandang sebagai musuh saya satu-satunya. Dan, saya  pun sangat  berhati-hati  terhadapnya, karena  Allah  Swt.  menyatakan setan sebagai  musuh saya. Dan, permusuhan antarmanusia pun saya tinggalkan.
“Duh, indah sekali jawabanmu, muridku. Yang ketujuh?
“Ketika  anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan,  ternyata saya  lihat setiap  orang  berusaha memburu sekeping dari dunia  ini.  Lalu,  dia menghinakan   diri  padanya  dan  memasuki   bagiannya   yang terlarang. Kemudian, saya pun merenungkan firman Allah Swt., Dan, tidak ada suatu  binatang  melata  pun di  Bumi  melainkan  Allah-ah  yang memberikan  rezekinya.” (QS Hûd [11]: 6). Saya pun menjadi  tahu,  ternyata diri saya ini  termasuk binatang melata yang rezekinya ada di tangan  Allah Swt. Karena itu, saya pun lantas melakukan sesuatu  yang menjadi hak Allah atas diri saya, saya tinggalkan  segala sesuatu yang  menjadi  hak  Allah  atas  diri saya, dan saya tinggalkan segala sesuatu yang menjadi hak saya di sisi-Nya.
“Luar biasa indah jawabanmu, muridku. Lantas, yang kedelapan?
“Ketika  anak manusia  yang hidup di  dunia  ini saya perhatikan,  ternyata setiap orang menggantungkan  diri  pada  yang selain dirinya.  Yang ini pada bendanya. Yang itu pada perniagaannya. Yang lain  lagi  pada  perusahaannya. Dan,  yang  satunya  lagi   pada kesehatan badannya. Masing-masing orang bergantung pada sesamanya. Lalu, saya pun kembali pada firman Allah  Swt.,  Dan, barang siapa  yang  bertawakkal kepada Allah,  niscaya  Allah  akan mencukupi  keperluannya.” (QS Al-Thalâq [65]: 3). Karena itu, saya  pun berserah diri kepada Allah Swt. Ternyata, Allah Swt. mencukupi segala keperluan saya.
“Muridku,” ucap Tuan Guru memungkasi perbincangan di antara mereka berdua.  “Kiranya Allah Swt. melimpahkan karunia-Nya  kepadamu!  Sejatinya, segala ilmu yang ada di dalam Taurat,  Injil, Zabur,  dan  Al-Quran mulia telah saya pelajari dan renungkan. Ternyata, aku mendapatkan, segala  persoalan kebaikan dan keagamaan dalam kitab-kitab suci itu berkisar  pada  delapan persoalan tersebut. Dengan kata lain, barang siapa melaksanakannya, berarti dia telah melaksanakan kandungan keempat kitab tersebut!