BERIKAN YANG TERBAIK
“Mas, bagaimana ini. Meski tawaran itu sudah saya tolak berkali-kali, saya akhir Juli 2016 ini akan tetap dilantik sebagai Ketua Persadia Jawa Barat.”
Demikian ucap istri beberapa waktu yang lalu. Persadia adalah sebuah organisasi nirlaba bagi orang-orang yang peduli terhadap penyakit diabetes mellitus. Istri memang aktif di organisasi tersebut sejak lama. Mendengar ucapannya yang demikian, saya pun teringat perbincangan kami sekitar 32 tahun yang lalu. Tidak lama selepas kami menikah, ia meminta izin kepada saya, “Mas, sebagai seorang dokter yang mendapatkan fasilitas pendidikan dari negara, izinkan saya tetap mengabdi di profesi saya tersebut. Insya Allah, saya tetap tidak akan mengabaikan keluarga saya.”
Saya pun mengizinkan istri untuk tetap menjadi seorang dokter yang mengabdi kepada masyarakat. Dan, sejak awal saya tahu, ia adalah seorang “pejuang” yang tangguh dan ulet. Tak aneh jika ketika ia menjadi kepala puskesmas di sebuah desa di Kabupaten Bandung, ia antarkan puskesmas yang ia pimpin, dari strata iii (alias puskesmas di level paling kurang maju) menjadi puskesmas strata i (alias strata terbaik).
Kemudian, ketika ia telah berhasil meraih brevet sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam, ketika para sejawatnya tidak ada yang mau ditempatkan di sebuah kabupaten yang kala itu merupakan kabupaten termiskin di NusaTenggara Barat, ia pun dengan senang hati bertugas di sana. Selama setahun penuh, ia siapkan infrastruktur bagian penyakit penyakit dalam di sebuah rumah sakit daerah di kabupaten tersebut dengan baik. Sehingga, ketika ia telah merampungkan tugasnya, dokter-dokter lain pun menjadi berebut untuk bertugas di sana.
Dari Nusa Tenggara Barat, ia kemudian kembali ke Jawa Barat. Tak lama kemudian, ia bertugas kembali ke sebuah rumah sakit di Kabupaten Bandung. Selepas dua kali menjadi wakil direktur, ia kemudian bersama saya membangun “Pesantren Mini”, sejak 2008 hingga kini. Di sisi lain, ia mulai menaruh perhatian terhadap para penderita diabetes mellitus. Ia pun bersama dengan beberapa sahabatnya, membentuk Diabetic Center Unit, alias pusat penanganan dan pendidikan bagi para penderita diabetes mellitus, sebagai ketua lembaga tersebut di rumah sakit tempat ia berkarya. Dengan tanpa mengenal lelah lembaga tersebut ia kelola dan kembangkan. Sehingga, akhirnya, tahun lalu lembaga itu menjadi diabetic center terbaik tingkat nasional.
“Bagaimana, diterima atau tidak amanah baru itu?” tanya istri lebih lanjut. “Jika Mas tidak mengizinkan, tawaran tersebut tidak akan saya terima.”
“Kita ini dikaruniai Allah Swt. ilmu pengetahuan dan pengalaman bukan untuk dibanggakan dan disembunyikan. Tetapi, kita dikaruniai Allah Swt. ilmu pengetahuan dan pengalaman untuk disebarluaskan dan dikhidmahkan untuk masyarakat. Berikan yang terbaik kepada masyarakat. Bukankah Rasulullah Saw. berpesan demikian, “Berbuatlah yang terbaik.” Tetapi, jangan lupa meminta izin juga kepada anak-anak. Insya Allah, mereka senang dengan kegiatan dan amanah baru yang akan dilaksanakan ibu mereka.”
“Insya Allah, saya akan memberitahu anak-anak. Doakan, kiranya saya dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Tetap dengan niat yang ikhlas dan karena Allah Swt. semata.”
“Kiranya Allah Swt. meridhai dan memberkahi langkah kita. Amin ya Rabb al-‘Alamin.”
Thursday, June 30, 2016
Monday, April 4, 2016
IN MEMORIAM: ACHMAD NOE’MAN
Ciparay, Bandung, 1987.
“Mas, sebaiknya tanah kosong ini dimanfaatkan untuk apa? Lahan luas
begini kok tampak kosong.”
Demikian ucap istri saya, kala itu sedang menjabat sebagai Kepala Pusat
Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pakutandang, Ciparay, Kabupaten Bandung,
kepada saya seraya memandangi bukit kecil indah di belakang Puskesmas. Kala
itu, kami menempati rumah dinas puskesmas yang memiliki luas sekitar 4.000 meter
persegi. Selain rumah dinas dan bangunan puskesmas, di lahan tersebut juga
telah kami lengkapi dengan balong alias kolam ikan mas dan nilai. Meski
demikian, lahan tersebut terasa masih kosong.
“Bagaimana jika di ujung akhir lahan ini kita dirikan masjid?” jawab
saya.
“Oh, ide yang bagus. Tetapi, sebaiknya kita dirikan sebuah masjid kecil,
tapi indah, yang pas dengan lahan itu. Mas kenal arsitek yang dapat merancang
masjid yang demikian itu?”
“Saya kenal Pak Achmad Noe’man, seorang arsitek yang merancang Masjid
Salman ITB. Tetapi, kita kan tidak punya banyak dana.”
“Coba temui beliau. Barang kali beliau berkenan merancangkan masjid kecil
tapi indah seperti yang saya dambakan. Siapa tahu, beliau mau membantu kita.”
Beberapa hari selepas perbincangan di hari Ahad itu, saya pun menemui
Pak Achman Noe’man di biro arsitek beliau, Birano, yang berada di Jalan Ganesha
no. 3 Bandung, tidak jauh dari kampus Institut Teknologi Bandung. Selepas
berbagi sapa beberapa lama, akhirnya saya kemukakan maksud kedatangan saya. “Rofi’,
seminggu lagi datang ke sini ya. Insya Allah, rancangan masjid yang Rofi’
maksudkan sudah saya siapkan,” jawab beliau.
Benar, seminggu kemudian saya datang menemui kembali beliau. Masya
Allah, ternyata rancangan masjid itu benar-benar telah siap. Ketika saya
menanyakan tentang biaya perancangannya, beliau hanya tersenyum dan kemudian
berucap pelan, “Rofi’. Jangan pernah menanyakan lagi biayanya ya. Doakan,
semoga hal itu dapat menjadi amal saya kelak, ketika saya menghadap Allah Swt.”
“Jazakumullah ahsanal jaza’, Pak Noe’man. Semoga doa bapak diijabah
Allah Swt., amin.”
Setahun kemudian, masjid kecil dan indah itu tegak di lingkungan
Puskesmas Pakutandang.
Itulah kenangan terindah yang “membara” dalam benak saya, ketika tadi
siang saya mendengar Bapak Ir. Achman Noe’man berpulang. Sejak itu, saya
menganggap beliau sebagai ayah, pencerah, dan sahabat saya. Terakhir saya
bertemu dengan beliau ketika beliau berkunjung ke Pesantren Mini kami di
Baleendah, Kabupaten Bandung. Beliau, yang telah berusia 90 tahun, datang
dengan didampingi seorang sahabat yang juga boss sebuah penerbit di Kota
Bandung: Ammar Haryono. Sekitar dua jam beliau berkunjung ke pesantren kami.
Ternyata, sebulan selepas kunjungan itu beliau berpulang. Inna lillahi wa inna
ilaihi raji‘un.
Siapakah Achmad Noe’man?
Arsitek
Muslim kondang yang terkenal
pula sebagai perancang piawai masjid tanpa kubah ini lahir di Garut pada
Jumat, 11 Rabi‘ Al-Awwal 1343 H/10 Oktober 1924 M. Selepas merampungkan pendidikannya di
Hollandsch Inlandsche School (HIS)
dan Meer Uitgebreid
Lager Onderweijs (MULO)
di tempat kelahirannya, di
samping menimba ilmu di madrasah, putra Haji Mas Djamhari ini
lantas meneruskan sekolahnya di
Sekolah Menengah Atas (SMA)
Muhammadiyah Ketanggungan, Yogyakarta.
Ketika Indonesia
memasuki “zaman revolusi”,
Noe‘man muda bergabung dengan
Divisi Siliwangi dan ditugaskan
di Jakarta sambil sekolah
di Sekolah Menengah Atas Republik.
Lantas pada 1368 H/1948
M ia memasuki jurusan bangunan
Fakultas Teknik, Universitas
Indonesia (kini menjadi Institut Teknologi
Bandung). Tetapi, ia merasa
kurang “nyaman” di bagian itu. Kebetulan
kala itu terjadi penyerbuan pasukan Belanda atas Yogyakarta. Maka, ia tidak melanjutkan kuliahnya dan memasuki
Corps Polisi Militer di Bandung dengan pangkat letnan dua. Karier militer ini
ia tekuni sampai 1373 H/1953 M.
Ketika di
almamaternya dibuka jurusan
arsitektur, perancang Masjid Salman
di lingkungan Institut Teknologi
Bandung ini lantas mengundurkan diri dari tugas militer dan
memasuki bidang yang ia gandrungi
itu. Ia memilih
bidang itu karena, menurutnya, “ada nilai-nilai yang cocok untuk beramal
saleh dan dengan pensil dan kertas ia
bisa berdakwah”. Pendidikan di bidang ini, yang mengantarkannya menjadi arsitek
yang menurutnya “harus memiliki kepribadian yang jujur, independen, dan kompeten”,
ia rampungkan pada 1378 H/1958 M.
Seusai menempuh
pendidikan tingginya tersebut,
arsitek yang berdarah Jawa ini sebetulnya hendak dikirim ke
Kentucky, Amerika Serikat, untuk
mengambil program master. Tetapi,
ia memilih tidak berangkat dan membuka sebuah biro arsitektur dengan
nama “Birano” yang merupakan singkatan dari “Biro Arsitek Achmad Noe‘man”. Lewat
biro itu ia melahirkan
sederet karyanya di bidangnya, antara lain Masjid Salman ITB,
Masjid Al-Furqan, dan Masjid Al-Markaz Al-Islami di Makassar. Tentang
pengalamannya dalam
merancang Masjid Salman
yang tanpa kubah,
ia pernah menuturkan, “Tahun 1959,
saya merancang Masjid Salman, waktu
sudah lulus. Yang namanya
arsitek bisa dihitung dengan jari.
Ada peristiwa yang menarik. Sekarang ini, mahasiswa yang
tidak shalat justru aneh.
Kalau dulu, justru yang shalat dianggap aneh. Teman-teman ada yang bilang, wah... salam ya
pada Tuhan. My greeting to God.
Ya kita
acuh saja. Yang namanya di kampus, di ITB lagi,
harus membuat masjid. Akhirnya
saya bongkAl-bongkar literatur arsitektur. Malah, saya sempat naik haji. Mampir ke
Regent Park di London, waktu itu belum jadi. Lalu ke Bonn,
Muenchen, ke Aya Sofia. Saya mencari acuan. Ketemu Surah Al-Taubah. Jangan
kita membuat masjid yang mengakibatkan
riya’, gitu kan. Saya justru mencari nilai-nilai yang universal,
yang transendental. Jadi saya hilangkan
itu bentuk kubah.
Memang, berat juga
waktu menghilangkan kubah dari rancangan kita. Itu kan ciri kita.”
Di samping
itu, Achmad Noe‘man juga aktif di
berbagai kegiatan lain, antara
lain menjadi anggota Majelis Arsitek Ikatan
Arsitek Indonesia (IAI), anggota
Dewan Kehormatan Ikatan
Nasional Konsultan
Indonesia (INKINDO), anggota
Persatuan Insinyur Indonesia
(PII), dan Ketua Yayasan Universitas Islam Bandung.
Selamat jalan, Pak Noe’man.
Thursday, March 10, 2016
SEVILLA
DAN LA GIRALDA
“Sevilla!
Akhirnya, aku menengokmu!”
Demikian
ucap pelan bibir saya, ketika sebuah pesawat yang kami (saya, istri, dan dua
sahabat) naiki dari Barcelona mendarat di Sevilla Airport. Sejak sebelum
berangkat ke Andalusia, kami memang merancang setidaknya dalam kelana itu kami
mengunjung Madrid, Barcelona, Sevilla, Cordoba, Medina Az-Zahra, dan Granada.
Setelah
meninggalkan bandara dan merampungkan urusan tempat menginap, segera kami pun
berjalan kaki menyusuri pelbagai sudut Sevilla (baca Sebiyya). Tujuan kami pagi
itu adalah mengunjungi La Giralda dan senja harinya kami ingin “menikmati”
Tarian Flamenco. Tentu, Anda pernah
mendengar tarian dengan bunyi suara hentakan kaki kuat di lantai yang memikat tersebut,
“Tak, tak, tak, tak, tak, tak…”. Sambil
berjalan pelan, kami pun menikmati berbagai bangunan dan pemandangan lain di
seputar kota yang pernah bernama Hispalis.
Kini,
bagaimanakah sejarah ringkas kota yang pernah dikelola kaum Muslim ini?
Selain bernama Hispalis, kota yang berada di ketinggian 7
meter di atas permukaan laut ini pernah diduduki Julius Caisar. Tak aneh jika
nama kota itu, kala itu, juga dikenal dengan sebutan “Colonia Julia Romula”.
Selain itu, kota yang menjadi ibu kota Provinsi Cordoba ini pernah diduduki
bangsa Vandal dan dijadikan sebagai ibu kotakerajaan mereka.
Kaum Muslim mulai memasuki kota yang terletak di bagian
selatan Semenanjung Iberia ini pada
94 H/712 M, lewat pasukan Dinasti Umawiyah di
bawah pimpinan Musa bin Nushair, seorang jenderal Muslim yang memimpin perluasan
wilayah kekuasaan dinasti tersebut ke Semenanjung Iberia. Kala itu, kota ini masih bernama
Hispalis. Kemudian, setelah jatuh
ke tangan mereka, dengan
gubernur pertamanya: ‘Abdul ‘Aziz
ibn Musa bin Nushair, namanya
pun diubah menjadi Isybilyah.
Selama itu, banyak
para pendatang dari Semenanjung Arab, terutama dari Yaman. Setelah sang
gubernur pertama itu berpulang,
pada 98 H/716 M, ibukota Andalusia dipindahkan ke Cordoba.
Ketenangan
kota yang indah ini mulai terusik
akibat gempuran pasukan Normandia pada
230 H/844 M dan 241 H/855 M. Namun,
kota ini terselamatkan oleh
kedatangan pasukan dari Cordoba yang kala
itu di bawah pimpinan ‘Abdurrahman Al-Ausath. Selepas itu,
terutama pada masa pemerintahan
‘Abdurrahman III Al-Nashir,
kota ini mengalami masa keemasannya. Kemudian, dengan
tumbangnya Dinasti Umawiyah di
Cordoba, kota yang terletak di
tepi Sungai Guadalquivir (dalam bahasa Arab disebut “Wâdî Al-Kabîr”) ini dengan
wilayah di sekitarnya memroklamasikan diri
sebagai kerajaan. Kekuasaan
Kerajaan Sevilla ini kian
mantap selama di bawah pimpinan
Dinasti ‘Abbadiyah yang menguasai kota ini sejak 414 H/1023 M.
Pada 558 H/1163
M, Andalusia
jatuh ke tangan Dinasti Al-Muwahhidun, di bawah pimpinan Sultan Abu Ya‘qub
Yusuf bin ‘Abdul Mu’min. Penguasa itu pun segera menabalkan dirinya sebagai penguasa Andalusia. Dan, 9 tahun
kemudian, ia mendirikan sebuah masjid agung nan megah dan indah di pusat Kota
Sevilla. Menara masjid agung yang kini tegak di Distrik Santa Cruz itulah yang disebut
La Tour de Giralda atau La Giralda saja. Pembangunan masjid agung itu sendiri
baru rampung pada 595 H/1198 M. Kemudian, ketika
Sevilla jatuh ke tangan pasukan Spanyol
di bawah pimpinan Raja Ferdinand III pada 646 H/1248 M, masjid
tersebut diubah menjadi
Katedral Sevilla. Sedangkan menaranya memiliki tinggi 96 meter, pada 993 H/1585
M, kemudian diubah menjadi tempat lonceng yang berlanggam renaisans.
Selain sebagai
menara, La Giralda juga dimanfaatkan
kaum Muslim sebagai observatorium
astronomis. Konon, menjelang kejatuhan Sevilla
ke tangan pasukan
Spanyol, kaum Muslim
berniat membumi hanguskan Masjid
Sevilla beserta Giralda, karena mereka tidak
ingin bangunan yang sangat indah
itu tersebut jatuh
ke tangan lawan. Namun, karena Pangeran Alfonso X-kelak menjadi raja
yang ahli astronomi- mengancam: jika
bangunan itu dibumi hanguskan
maka seluruh kaum Muslim Sevilla akan
dibunuh, akhirnya bangunan itu akhirnya terselamatkan. Dan,
di sini pulalah Copernicus
mengkaji khazanah astronomis
yang ditinggalkan Raja Alfonso X,
berjudul Tablas Astronomicas Alfonsies.
Selepas Kota Sevilla jatuh ke tangan Raja Ferdinand III
(596-650 H/1200-1252 M), pada 646 H/1248 M, masjid dari batu bata yang
diplester ini diubah menjadi katedral berlanggam Gotik dengan nama Katedral Santa Maria de la Sede. Shahn (ruang terbuka
di dalam masjid) masjid yang satu masih dapat disaksikan hingga dewasa
ini. Kini, shahn tersebut menjadi Lapangan Patio de los Naranyos.
Di tengah lapangan itu terdapat sebuah kolam yang terbuat dari marmer. Dulu, kolam itu merupakan tempat wudhu. Pintunya, di
sebelah barat, terbuat dari tembaga yang dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi
Arab. Bangunan yang masih utuh hingga kini adalah menaranya, La Giralda, yang didirikan
pada 580 H/1184 M. Di bagian dalam menara itu terdapat tangga spiral menuju ke
puncak menara.
Nah,
jika Anda berkunjung ke Sevilla, sebaiknya kunjungi pula La Giralda. Siapa tahu, Anda mendapatkan inspirasi suatu
ide yang Anda inginkan.
Tuesday, March 8, 2016
MASJID CORDOBA
Entah kenapa, tadi pagi, ketika sedang
memandangi ribuan huruf yang sedang “bermain-main” di laptop, tiba-tiba benak
terlempar jauh, ke Cordoba, Spanyol, dan teringat perjalanan saya ke kota itu
dua tahun yang lalu.
Lembaran sejarah menorehkan, kota yang berarti “Mempelai Perempuan
Kota-Kota itu”, sebelum jatuh ke tangan kaum Muslim, berada di bawah naungan Toledo yang kala itu menjadi
ibukota Spanyol bersatu. Kemudian, tidak lama selepas pasukan
kaum Muslim memasuki Andalusia pada 93
H/711 M, kota cantik di atas atas
Sungai Guadalquivir, di dataran luas dan subur di kaki Gunung Sierra Morena, itu dijadikan sebagai ibukota penguasa Muslim. Di kota yang cantik itu pulalah, pada
139 H/756 M, ‘Abdurrahman Al-Dakhil, pendiri Dinasti
Umawiyyah di Andalusia,
menyatakan dirinya sebagai
penguasa. Dan, pada masa pemerintahan penguasa itulah Masjid Cordoba yang megah dan tetap
“mewarnai” kota itu hingga kini mulai
dibangun.
Sang penguasa membangun masjid ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada
Allah Swt. atas kemakmuran yang dicapai kawasan yang ia pimpin. Juga,
sebagai imbangan Masjid Umawi di Damaskus yang megah dan indah. Konon, dia
sendiri yang mempersiapkan
rancangan bangunan masjid ini. Kala itu,
masjid ini memiliki ukuran panjang 65 meter, sama dengan panjang ruang utama
shalat, dan lebar 75 meter, di samping memiliki shahn lapang yang
memiliki luas yang sama dengan luas ruang shalat masjid itu.
Pada 180 H/796 M
Hisyam Al-Ridha, putra ‘Abdurrahman Al-Dakhil, menambah baris ruang
shalat yang berada di sisi shahn. Perhatian yang sangat besar
terhadap masjid ini juga diberikan penguasa ke-4 Dinasti Umawiyyah di Cordoba,
‘Abdurrahman Al-Ausath. Semula, pada 218 H/833 M, ia melakukan perluasan
kecil pada masjid ini. Namun, karena melihat jumlah jamaah yang kian banyak,
seiring dengan perkembangan Kota Cordoba, maka pada 234 H/848 M ia menambah kedalaman ruangan shalat
sebanyak delapan baris ke arah kiblat (yakni ke arah selatan menuju ke Sungai
Guadalquivir) dan memindahkan dinding kiblat ke tempat yang baru. Selain itu, dia
juga melengkapi masjid ini dengan sebuah mihrab baru yang indah. Dengan
penambahan tersebut, ukuran masjid ini pun menjadi 130 x 75 meter, termasuk shahn.
Perluasan tersebut
disempurnakan dengan pembuatan pelbagai dekorasi pada masjid ini oleh Pangeran
Muhammad ibn ‘Abdurrahman Al-Ausath pada 241 H/855 M. Selepas
itu, pada 340 H/951 H, ‘Abdurrahman Al-Nashir mendirikan sebuah menara
baru di ujung paling utara dinding shahn masjid ini. Menara
tersebut dibuat berbentuk benteng raksasa yang memiliki dua balkon untuk
melantunkan azan. Menara tersebut masih sediakala hingga dewasa ini meski telah
diubah menjadi menara untuk tempat lonceng gereja. Selain itu, ‘Abdurrahman
Al-Nashir juga melengkapi masjid ini dengan banyak dekorasi.
Di sisi lain, kala
itu ‘Abdurrahman Al-Nashir berpendapat, masjid ini tidak boleh tidak
harus diperluas untuk ketiga kalinya. Karena itu, ia memerintahkan putranya,
Al-Hakam, yang kala menjadi penguasa bergelar Al-Mustanshir, untuk
menjadi pemimpin proyek perluasan yang baru rampung pada 351 H/961 M. Perluasan
ini, seperti perluasan sebelumnya, menuju ke arah selatan. Untuk itu, dinding
mihrab dipindahkan 35 meter ke arah selatan. Dengan demikian, karena adanya
penambahan baru sebanyak 12 baris, masjid ini menjadi mencapai tepi Sungai
Guadalquivir. Selain itu, dibuat sebuah mihrab baru yang menjadi salah satu
puncak keindahan di bidang arsitektur dan seni ukir dalam sejarah arsitektur
Islam. Sedangkan kedalaman ruang shalat menjadi 75 meter. Dengan kata lain,
apabila shahn ikut dihitung, panjang masjid menjadi 105 meter.
Perluasan keempat
atas Masjid Cordoba ini dilakukan Al-Manshur Muhammad ibn Abu ‘Amir yang
bertindak otoriter pada masa pemerintahan Hisyam Al-Mu‘ayyad. Perluasan
tersebut baru rampung pada 377 H/987 M. Perluasan tersebut dilakukan pada
seluruh panjang masjid di sebelah timur. Dalam perluasan tersebut, Al-Manshur
berusaha sekuasa mungkin supaya selaras dengan bentuk dan semangat secara umum
bagian-bagian lainnya masjid ini. Meski perluasan tersebut tidak seratus persen
orisinal, yang menjadi ciri khas ketiga bagian lainnya masjid ini, namun lewat
perluasan tersebut masjid ini kian luas melebih luas semua masjid yang ada di Dunia
Islam kala itu. Dalam hal ini yang paling menarik ialah masjid ini tetap
sediakala hingga dewasa ini, sebagai saksi pencapaian kaum Muslim di bidang
teknik dan arsitektur.
Masjid ini diubah
menjadi sebuah katedral ketika penguasa Spanyol menguasai kembali Cordoba pada
634 H/1236 M. Pada abad ke-8 H/14 M di sisi barat masjid ini-yang dibangun pada
perluasaan yang dilakukan ‘Abdurrahman Al-Ausath-didirikan sebuah
katedral kecil atas perintah Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Selepas itu,
yakni pada abad ke-10 H/16 M, tepatnya pada 930 H/1523 M, di jantung masjid ini
didirikan sebuah katedral besar yang terkenal dengan nama
“La Mezquita”. Bangunan katedral ini menyita sepersepuluh luas masjid ini.
Sejatinya, pembangunan katedral terakhir tersebut ditentang Kaisar
Carlos V, dengan alasan pembangunan tersebut merusak tampilan indah ruang
shalat masjid yang membanggakan tersebut. Anehnya, hingga dewasa ini ruang
shalat masjid ini masih terpelihara dengan sebagian besar keindahan dan
kemegahannya.
Masjid Cordoba dapat dikatakan merupakan saksi bahwa kaum Muslim sejak
dulu tidak hanya piawai tentang masalah ibadah murni semata. Tapi, mereka juga
andal di bidang-bidang lain. Semoga, kini dan ke depan, demikian pula!
Wednesday, January 27, 2016
CIRENG DAN PRESIDEN ANWAR SADAT
Bahagia dan gembira.
Itulah suasana hati saya, sore kemarin, ketika dua mobil
datang ke rumah yang masih ramai dan padat dengan sekitar 175 anak yang sedang
mengaji Al-Quran. Mobil pertama, yang datang lebih dahulu, ternyata berisi seorang teman dan
keluarganya. Teman yang sejak tahun 1978 tidak berjumpa itu, sejak saya dan
beliau menyelesaikan kuliah di Jogja, pagi kemarin dilantik sebagai seorang
hakim tinggi di Bandung. Tentu, betapa gembira dan bahagia kami berdua ketika
berbagi cerita perjalanan panjang hidup kami selama ini. “Hidup memang tidak
dapat diduga,” gumam pelan bibir saya seraya memandangi wajah teman saya yang
tampak berpendar bersih. “Dahulu, ketika masih kuliah, rambutnya selalu
gondrong. Tetapi, kini, beliau menjadi seorang hakim tinggi yang senantiasa
bersikap rendah hati dan rambutnya tersisir rapi.”
Sekitar setengah jam kemudian, sebuah mobil datang lagi.
Ternyata, dua teman kuliah juga. Yang seorang mantan pemimpin redaksi koran
bisnis terbesar di Indonesia, dan kini menjadi “komandan” sebuah kelompok media
massa lain di Jakarta. Yang seorang lagi seorang buya yang pernah menjadi
direktur sebuah rumah sakit Islam di Jakarta. Dengan beliau, sejak kami usai
kuliah, baru sore itu kami bersua kembali. Sama dengan teman yang kini menjadi
hakim tinggi. Bagi saya, tentu pertemuan tersebut sangat membahagiakan: dapat
bersilaturahmi kembali dengan teman-teman yang puluhan tahun tidak berjumpa.
Kemudian, ketika mereka berpamitan, teman yang mantan direktur
rumah sakit berucap pelan kepada saya, “Mas, saya bisa minta contoh cireng yang
dihidangkan tadi. Lezat
sekali cireng (salah satu makanan khas Bandung) tadi. ”
“Oh, baik. Tetapi, untuk apa?” tanya saya kepada temann
saya yang asal dari Riau itu. Tentu saja, saya sangat penasaran.
“Mas, saya membina beberapa rumah anak yatim piatu. Ke
mana pun saya pergi, saya mencari makanan yang menarik untuk diproduksi kembali
oleh mereka. Tentu saja, dengan pengembangan dan dan pengayaan bahan dan
lain-lainnya.”
“Menarik sekali. Baik, saya ambilkan.”
Ketika teman-teman telah pulang, entah kenapa tiba-tiba
“kisah cireng” tersebut membuat saya
teringat seorang presiden Mesir: Presiden Anwar Sadat.
Lho, apa kaitan antara cireng dan presiden ke-2 Mesir itu?
Ketika saya masih menimba ilmu di Mesir, saya kerap
mendengar bahwa setiap kali melakukan kunjungan ke luar negeri, Presiden Anwar
Sadat selalu membawa dua pesawat terbang. Pesawat pertama berisi sang presiden dan
rombongannya. Sedangkan pesawat kedua disiapkan untuk menjadi tempat “hadiah”
dari negara-negara yang dikunjungi. Yang menarik, ketika berkunjung ke suatu
negara, Presiden Anwar Sadat selalu berusaha mendapatkan hadiah berupa:
hewan-hewan ternak terbaik negara itu, tetumbuhan terbaik negara itu yang
kemudian dapat dibudidayakan di Mesir (misalnya mangga dari Indonesia yang kini
menjadi mangga terkenal di Timur Tengah), dan produk-produk lain yang dapat
diproduksi dan dikembangkan di Negara Piramid itu.
Teringat
kisah cireng dan langkah Presiden Anwat Sadat tersebut, tiba-tiba bibir saya
bergumam sangat pelan, “Sebuah ide yang bagus. Kenapa tidak kita lakukan?”
Subscribe to:
Posts (Atom)




