Monday, July 18, 2016

GUS, IKUTILAH JEJAK LANGKAH KAKEKMU...!

Ya Allah, karuniakanlah limpahan cinta dan kasih sayang-Mu kepada Mbah Maimun...”

Demikian gumam pelan bibir saya, ketika saya melihat foto Al-Mukarram K.H. Maimun Zubair (alias Mbah Maimun), seorang kiai sepuh asal Sarang, Rembang, Jawa Tengah, di facebook salah seorang sahabat tadi malam. Dan, entah kenapa, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke tahun 2007, ketika saya bertemu pertama kali dengan Mbah Maimun, dan hingga kini belum pernah bertemu kembali dengan beliau.

Kala itu, saya sedang mendampingi jamaah sebuah travel dari Bandung untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika kami sedang mabît di Mina, saya lihat banyak jamaah dari berbagai maktab mendatangi sebuah tenda di belakang tenda tempat kami mabît. Ketika saya tahu bahwa mereka ternyata berusaha sowan kepada Mbah Maimun, saya pun ikut antri bersama mereka untuk sowan kepada beliau. Meski saya belum pernah bertemu sama sekali dengan beliau, tapi saya sedikit tahu tentang “jati diri” beliau. Dan, Mbah Maimun akrab dengan keluarga kami di Cepu, Jawa Tengah.

Kemudian, ketika antrian saya sampai di hadapan beliau, beliau pun saya peluk. Lama. Masih dalam pelukan saya, Mbah Maimun bertanya kepada saya dengan suara pelan, “Njenengan niku sinten. Kulo kok kadose kenal wajah njenengan. Anda itu siapa. Saya kok kayaknya kenal dengan wajah Anda.”
Mbah, kawulo Ahmad Rofi’ Usmani, saking Bandung. Mbah, saya Ahmad Rofi’ Usmani, dari Bandung.”
Saking Bandung kok saged boso Jawi. Dari Bandung kok bisa bahasa Jawa.”
Inggih, Mbah, asal kawulo saking Cepu, dados saged boso Jawi. Iya, Mbah, asal saya dari Cepu, karena itu saya bisa bahasa Jawa.”
O, saking Cepu. Pirso Mbah Yai Usman. O, dari Cepu. Tahu Mbah Kiai Usman?”
Inggih, Mbah, kawulo wayahipun. Iya, Mbah, saya cucunya.”

Begitu mendengar jawaban terakhir tersebut, Mbah Maimun ganti memeluk lama saya sambil mengelus-elus punggung saya. Kemudian, ucap beliau dengan suara pelan, “Masya Allah, njenengan niku wayahipun Mbah Yai Usman to. Pantesan, kok kawulo rasanipun sampun kenal dangu kaliyan njenengan. Njenengan pinarak wonten mriki mawon, nggih. Ngancani kawulo. Masya Allah, Anda itu cucunya Mbah Kiai Usman to. Pantesan, kok saya rasanya sudah kenal lama dengan Anda. Anda duduk di sini saja, ya. Menemani saya.”

Sebenarnya, saya ingin menolak permintaan Mbah Maimun. Tetapi, merasa tidak tepat menolak permintaan beliau, saya pun duduk di samping beliau. Akibatnya? Saya pun kecipratan kehormatan beliau sebagai kiai sepuh, alias saya dapat “kramat gantung”: orang-orang yang menghadap beliau pun mengambil tangan kanan saya dan menciumnya, selepas mereka mencium tangan beliau. Melihat hal yang demikian, bibir saya pun bergumam pelan, “Wah gawat. Aku ini bukan siapa-siapa, kok mendapat penghormatan demikian ini.”

Melihat orang-orang yang mau sowan kepada Mbah Maimun kian mengular panjang, akhirnya saya pun berpamitan dengan beliau. Semula, beliau tidak mengizinkan saya berlalu. Tetapi, dengan berbagai alasan, beliau akhirnya mengizinkan saya pamit. Sambil memeluk saya, beliau berucap, “Gus, kawulo ndongaaken, njenengan saged kados Mbah Yai Usman: saged ndamel pesantren ingkang manfaat kangge umat. Gus, saya doakan, Anda bisa seperti Mbah Kiai Usman: bisa mendirikan pesantren yang bermanfaat bagi umat.”

Deg, betapa hati dan pikiran saya bingung dan gelisah mendengar pesan Mbah Maimun yang demikian. Pertama, panggilan "gus" membuat saya merasa bahwa saya tidak layak mendapatkan panggilan demikian. Lagi pula, meski putra dan cucu seorang kiai, namun sejak muda saya lebih suka tidak dikenal sebagai keturunan kiai. Saya lebih suka disebut dengan panggilan “Rofi’” saja, tanpa imbuhan apapun. Kedua, kala itu, saya tidak tertarik untuk menekuni dunia pendidikan, apalagi mendirikan pesantren. Saya lebih suka jadi tukang kluyuran yang tidak dikenal orang.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Mungkin, karena doa Mbah Maimun yang ikhlas dan “mandi”, entah kenapa setahun kemudian Allah Swt. membukakan hati saya dan istri saya untuk mulai merintis Pesantren Mini kami yang kini kian berkembang.

Matur nuwun, Mbah Maimun,” demikian gumam pelan bibir saya dini hari tadi, sambil memandangi Pesantren Mini kami yang kini kian banyak murid dan santrinya.


Thursday, June 30, 2016

BERIKAN YANG TERBAIK

Mas, bagaimana ini. Meski tawaran itu sudah saya tolak berkali-kali, saya akhir Juli 2016 ini akan tetap dilantik sebagai Ketua Persadia Jawa Barat.”

Demikian ucap istri beberapa waktu yang lalu. Persadia adalah sebuah organisasi nirlaba bagi orang-orang yang peduli terhadap penyakit diabetes mellitus. Istri memang aktif di organisasi tersebut sejak lama. Mendengar ucapannya yang demikian, saya pun teringat perbincangan kami sekitar 32 tahun yang lalu. Tidak lama selepas kami menikah, ia meminta izin kepada saya, “Mas, sebagai seorang dokter yang mendapatkan fasilitas pendidikan dari negara, izinkan saya tetap mengabdi di profesi saya tersebut. Insya Allah, saya tetap tidak akan mengabaikan keluarga saya.”

Saya pun mengizinkan istri untuk tetap menjadi seorang dokter yang mengabdi kepada masyarakat. Dan, sejak awal saya tahu, ia adalah seorang “pejuang” yang tangguh dan ulet. Tak aneh jika ketika ia menjadi kepala puskesmas di sebuah desa di Kabupaten Bandung, ia antarkan puskesmas yang ia pimpin, dari strata iii (alias puskesmas di level paling kurang maju) menjadi puskesmas strata i (alias strata terbaik). 

Kemudian, ketika ia telah berhasil meraih brevet sebagai seorang dokter spesialis penyakit dalam, ketika para sejawatnya tidak ada yang mau ditempatkan di sebuah kabupaten yang kala itu merupakan kabupaten termiskin di NusaTenggara Barat, ia pun dengan senang hati bertugas di sana. Selama setahun penuh, ia siapkan infrastruktur bagian penyakit penyakit dalam di sebuah rumah sakit daerah di kabupaten tersebut dengan baik. Sehingga, ketika ia telah merampungkan tugasnya, dokter-dokter lain pun menjadi berebut untuk bertugas di sana. 

Dari Nusa Tenggara Barat, ia kemudian kembali ke Jawa Barat. Tak lama kemudian, ia bertugas kembali ke sebuah rumah sakit di Kabupaten Bandung. Selepas dua kali menjadi wakil direktur, ia kemudian bersama saya membangun “Pesantren Mini”, sejak 2008 hingga kini. Di sisi lain, ia mulai menaruh perhatian terhadap para penderita diabetes mellitus. Ia pun bersama dengan beberapa sahabatnya, membentuk Diabetic Center Unit, alias pusat penanganan dan pendidikan bagi para penderita diabetes mellitus, sebagai ketua lembaga tersebut di rumah sakit tempat ia berkarya. Dengan tanpa mengenal lelah lembaga tersebut ia kelola dan kembangkan. Sehingga, akhirnya, tahun lalu lembaga itu menjadi diabetic center terbaik tingkat nasional. 

“Bagaimana, diterima atau tidak amanah baru itu?” tanya istri lebih lanjut. “Jika Mas tidak mengizinkan, tawaran tersebut tidak akan saya terima.”
“Kita ini dikaruniai Allah Swt. ilmu pengetahuan dan pengalaman bukan untuk dibanggakan dan disembunyikan. Tetapi, kita dikaruniai Allah Swt. ilmu pengetahuan dan pengalaman untuk disebarluaskan dan dikhidmahkan untuk masyarakat. Berikan yang terbaik kepada masyarakat. Bukankah Rasulullah Saw. berpesan demikian, “Berbuatlah yang terbaik.” Tetapi, jangan lupa meminta izin juga kepada anak-anak. Insya Allah, mereka senang dengan kegiatan dan amanah baru yang akan dilaksanakan ibu mereka.”
“Insya Allah, saya akan memberitahu anak-anak. Doakan, kiranya saya dapat memberikan yang terbaik bagi masyarakat. Tetap dengan niat yang ikhlas dan karena Allah Swt. semata.”
“Kiranya Allah Swt. meridhai dan memberkahi langkah kita. Amin ya Rabb al-‘Alamin.”

Monday, April 4, 2016

IN MEMORIAM: ACHMAD NOE’MAN


Ciparay, Bandung, 1987.

“Mas, sebaiknya tanah kosong ini dimanfaatkan untuk apa? Lahan luas begini kok tampak kosong.”

Demikian ucap istri saya, kala itu sedang menjabat sebagai Kepala Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) Pakutandang, Ciparay, Kabupaten Bandung, kepada saya seraya memandangi bukit kecil indah di belakang Puskesmas. Kala itu, kami menempati rumah dinas puskesmas yang memiliki luas sekitar 4.000 meter persegi. Selain rumah dinas dan bangunan puskesmas, di lahan tersebut juga telah kami lengkapi dengan balong alias kolam ikan mas dan nilai. Meski demikian, lahan tersebut terasa masih kosong.

“Bagaimana jika di ujung akhir lahan ini kita dirikan masjid?” jawab saya.
“Oh, ide yang bagus. Tetapi, sebaiknya kita dirikan sebuah masjid kecil, tapi indah, yang pas dengan lahan itu. Mas kenal arsitek yang dapat merancang masjid yang demikian itu?”
“Saya kenal Pak Achmad Noe’man, seorang arsitek yang merancang Masjid Salman ITB. Tetapi, kita kan tidak punya banyak dana.”
“Coba temui beliau. Barang kali beliau berkenan merancangkan masjid kecil tapi indah seperti yang saya dambakan. Siapa tahu, beliau mau membantu kita.”

Beberapa hari selepas perbincangan di hari Ahad itu, saya pun menemui Pak Achman Noe’man di biro arsitek beliau, Birano, yang berada di Jalan Ganesha no. 3 Bandung, tidak jauh dari kampus Institut Teknologi Bandung. Selepas berbagi sapa beberapa lama, akhirnya saya kemukakan maksud kedatangan saya. “Rofi’, seminggu lagi datang ke sini ya. Insya Allah, rancangan masjid yang Rofi’ maksudkan sudah saya siapkan,” jawab beliau.

Benar, seminggu kemudian saya datang menemui kembali beliau. Masya Allah, ternyata rancangan masjid itu benar-benar telah siap. Ketika saya menanyakan tentang biaya perancangannya, beliau hanya tersenyum dan kemudian berucap pelan, “Rofi’. Jangan pernah menanyakan lagi biayanya ya. Doakan, semoga hal itu dapat menjadi amal saya kelak, ketika saya menghadap Allah Swt.”
“Jazakumullah ahsanal jaza’, Pak Noe’man. Semoga doa bapak diijabah Allah Swt., amin.”

Setahun kemudian, masjid kecil dan indah itu tegak di lingkungan Puskesmas Pakutandang.

Itulah kenangan terindah yang “membara” dalam benak saya, ketika tadi siang saya mendengar Bapak Ir. Achman Noe’man berpulang. Sejak itu, saya menganggap beliau sebagai ayah, pencerah, dan sahabat saya. Terakhir saya bertemu dengan beliau ketika beliau berkunjung ke Pesantren Mini kami di Baleendah, Kabupaten Bandung. Beliau, yang telah berusia 90 tahun, datang dengan didampingi seorang sahabat yang juga boss sebuah penerbit di Kota Bandung: Ammar Haryono. Sekitar dua jam beliau berkunjung ke pesantren kami. Ternyata, sebulan selepas kunjungan itu beliau berpulang. Inna lillahi wa inna ilaihi raji‘un.

Siapakah Achmad Noe’man?

Arsitek  Muslim  kondang yang  terkenal  pula sebagai perancang piawai masjid tanpa kubah ini lahir di  Garut pada  Jumat, 11 Rabi‘ Al-Awwal 1343 H/10 Oktober 1924 M.  Selepas merampungkan pendidikannya di Hollandsch Inlandsche School  (HIS) dan   Meer   Uitgebreid  Lager  Onderweijs   (MULO)   di   tempat kelahirannya, di samping menimba ilmu di madrasah, putra Haji Mas Djamhari  ini  lantas meneruskan sekolahnya di  Sekolah  Menengah Atas (SMA) Muhammadiyah Ketanggungan, Yogyakarta.

Ketika   Indonesia  memasuki  “zaman  revolusi”,  Noe‘man   muda bergabung  dengan  Divisi  Siliwangi dan  ditugaskan  di  Jakarta sambil  sekolah  di Sekolah Menengah Atas Republik.  Lantas  pada 1368  H/1948  M  ia memasuki jurusan  bangunan  Fakultas  Teknik, Universitas Indonesia (kini menjadi Institut Teknologi  Bandung). Tetapi,  ia merasa kurang “nyaman” di bagian itu. Kebetulan  kala itu terjadi penyerbuan pasukan Belanda atas Yogyakarta. Maka,  ia tidak melanjutkan kuliahnya dan memasuki Corps Polisi Militer  di Bandung  dengan pangkat letnan dua. Karier militer ini ia  tekuni sampai 1373 H/1953 M.

Ketika  di  almamaternya  dibuka  jurusan  arsitektur,  perancang Masjid  Salman  di  lingkungan Institut  Teknologi  Bandung  ini lantas  mengundurkan diri dari tugas militer dan memasuki  bidang yang   ia gandrungi  itu.  Ia  memilih  bidang   itu   karena, menurutnya,  “ada nilai-nilai yang cocok untuk beramal saleh  dan dengan pensil dan kertas ia bisa berdakwah”. Pendidikan di bidang ini, yang mengantarkannya menjadi arsitek yang menurutnya  “harus memiliki  kepribadian yang jujur, independen, dan  kompeten”,  ia rampungkan pada 1378 H/1958 M.

Seusai  menempuh  pendidikan  tingginya  tersebut,  arsitek  yang berdarah  Jawa ini sebetulnya hendak dikirim  ke  Kentucky, Amerika  Serikat,  untuk  mengambil program  master.  Tetapi,  ia memilih tidak berangkat dan membuka sebuah biro arsitektur dengan nama “Birano” yang merupakan singkatan dari “Biro Arsitek  Achmad Noe‘man”.  Lewat  biro  itu ia  melahirkan  sederet  karyanya  di bidangnya, antara lain Masjid Salman ITB, Masjid Al-Furqan,   dan Masjid  Al-Markaz Al-Islami di Makassar.  Tentang  pengalamannya dalam  merancang  Masjid  Salman  yang  tanpa  kubah,  ia  pernah menuturkan, “Tahun  1959,  saya merancang Masjid Salman, waktu  sudah  lulus. Yang  namanya  arsitek bisa dihitung dengan jari.  Ada  peristiwa yang  menarik. Sekarang ini, mahasiswa yang tidak  shalat  justru aneh.  Kalau dulu, justru yang shalat dianggap aneh.  Teman-teman ada yang bilang, wah... salam ya pada Tuhan. My greeting to  God. Ya  kita  acuh saja. Yang namanya di kampus, di ITB  lagi,  harus membuat   masjid.   Akhirnya   saya   bongkAl-bongkar   literatur arsitektur.  Malah, saya sempat naik haji. Mampir ke Regent  Park di  London, waktu itu belum jadi. Lalu ke Bonn, Muenchen, ke  Aya Sofia.  Saya mencari acuan. Ketemu Surah Al-Taubah.  Jangan  kita membuat  masjid yang mengakibatkan riya’, gitu kan.  Saya  justru mencari nilai-nilai yang universal, yang transendental. Jadi saya hilangkan   itu   bentuk   kubah.  Memang,   berat   juga   waktu menghilangkan kubah dari rancangan kita. Itu kan ciri kita.”

Di  samping  itu, Achmad Noe‘man juga aktif di  berbagai  kegiatan lain, antara lain menjadi anggota Majelis Arsitek Ikatan  Arsitek Indonesia   (IAI),  anggota  Dewan  Kehormatan  Ikatan   Nasional Konsultan   Indonesia  (INKINDO),  anggota   Persatuan   Insinyur Indonesia (PII), dan Ketua Yayasan Universitas Islam Bandung.


Selamat jalan, Pak Noe’man. 

Thursday, March 10, 2016

SEVILLA DAN LA GIRALDA

Sevilla! Akhirnya, aku menengokmu!”

Demikian ucap pelan bibir saya, ketika sebuah pesawat yang kami (saya, istri, dan dua sahabat) naiki dari Barcelona mendarat di Sevilla Airport. Sejak sebelum berangkat ke Andalusia, kami memang merancang setidaknya dalam kelana itu kami mengunjung Madrid, Barcelona, Sevilla, Cordoba, Medina Az-Zahra, dan Granada.

Setelah meninggalkan bandara dan merampungkan urusan tempat menginap, segera kami pun berjalan kaki menyusuri pelbagai sudut Sevilla (baca Sebiyya). Tujuan kami pagi itu adalah mengunjungi La Giralda dan senja harinya kami ingin “menikmati” Tarian Flamenco.  Tentu, Anda pernah mendengar tarian dengan bunyi suara hentakan kaki kuat di lantai yang memikat tersebut, “Tak, tak, tak, tak, tak, tak…”.  Sambil berjalan pelan, kami pun menikmati berbagai bangunan dan pemandangan lain di seputar kota yang pernah  bernama Hispalis.

Kini, bagaimanakah sejarah ringkas kota yang pernah dikelola kaum Muslim ini?

Selain bernama Hispalis, kota yang berada di ketinggian 7 meter di atas permukaan laut ini pernah diduduki Julius Caisar. Tak aneh jika nama kota itu, kala itu, juga dikenal dengan sebutan “Colonia Julia Romula”. Selain itu, kota yang menjadi ibu kota Provinsi Cordoba ini pernah diduduki bangsa Vandal dan dijadikan sebagai ibu kotakerajaan mereka.

Kaum  Muslim   mulai memasuki kota yang terletak di bagian selatan Semenanjung  Iberia ini  pada  94 H/712 M, lewat pasukan Dinasti Umawiyah  di  bawah pimpinan  Musa bin Nushair, seorang jenderal Muslim yang memimpin perluasan wilayah kekuasaan dinasti tersebut ke Semenanjung Iberia. Kala itu, kota ini masih bernama  Hispalis. Kemudian,  setelah jatuh ke tangan  mereka,  dengan  gubernur pertamanya:  ‘Abdul ‘Aziz ibn Musa bin Nushair,  namanya pun diubah  menjadi   Isybilyah.  Selama  itu,  banyak  para  pendatang   dari Semenanjung  Arab, terutama dari Yaman. Setelah  sang  gubernur pertama  itu berpulang, pada 98 H/716 M, ibukota Andalusia dipindahkan ke Cordoba.

Ketenangan  kota  yang indah ini  mulai  terusik  akibat  gempuran   pasukan Normandia  pada  230  H/844 M dan 241 H/855 M.  Namun,  kota  ini terselamatkan oleh kedatangan pasukan dari Cordoba yang kala  itu di bawah pimpinan ‘Abdurrahman Al-Ausath. Selepas itu, terutama  pada masa  pemerintahan  ‘Abdurrahman  III  Al-Nashir,  kota   ini mengalami  masa keemasannya. Kemudian, dengan tumbangnya  Dinasti Umawiyah  di  Cordoba,  kota yang terletak di tepi Sungai Guadalquivir (dalam bahasa Arab disebut “Wâdî Al-Kabîr”) ini  dengan  wilayah  di  sekitarnya memroklamasikan  diri  sebagai  kerajaan.   Kekuasaan   Kerajaan Sevilla  ini  kian  mantap selama di  bawah  pimpinan  Dinasti ‘Abbadiyah yang menguasai kota ini sejak 414 H/1023 M.

Pada  558  H/1163  M, Andalusia jatuh ke tangan Dinasti Al-Muwahhidun, di bawah pimpinan Sultan Abu Ya‘qub Yusuf bin ‘Abdul Mu’min. Penguasa itu pun segera menabalkan dirinya sebagai penguasa Andalusia. Dan, 9 tahun kemudian, ia mendirikan sebuah masjid agung nan megah dan indah di pusat Kota Sevilla. Menara masjid agung yang kini tegak di Distrik Santa Cruz itulah yang disebut La Tour de Giralda atau La Giralda saja. Pembangunan masjid agung itu sendiri baru rampung pada 595 H/1198 M. Kemudian, ketika Sevilla jatuh ke tangan pasukan Spanyol  di bawah pimpinan Raja Ferdinand III pada 646 H/1248  M, masjid   tersebut  diubah  menjadi  Katedral   Sevilla.   Sedangkan menaranya memiliki  tinggi 96 meter, pada 993  H/1585  M, kemudian diubah menjadi tempat lonceng yang berlanggam renaisans.

Selain  sebagai menara, La Giralda juga dimanfaatkan  kaum  Muslim sebagai observatorium astronomis. Konon, menjelang kejatuhan Sevilla   ke  tangan  pasukan  Spanyol,  kaum  Muslim   berniat membumi hanguskan  Masjid Sevilla beserta Giralda,  karena  mereka tidak  ingin  bangunan yang sangat indah itu  tersebut  jatuh  ke tangan  lawan.  Namun, karena Pangeran Alfonso X-kelak  menjadi raja   yang   ahli  astronomi- mengancam:  jika   bangunan   itu dibumi hanguskan maka seluruh kaum Muslim Sevilla akan  dibunuh, akhirnya  bangunan  itu  akhirnya  terselamatkan.  Dan,  di  sini pulalah   Copernicus   mengkaji   khazanah   astronomis   yang ditinggalkan  Raja Alfonso X, berjudul Tablas Astronomicas Alfonsies.

Selepas Kota Sevilla jatuh ke tangan Raja Ferdinand III (596-650 H/1200-1252 M), pada 646 H/1248 M, masjid dari batu bata yang diplester ini diubah menjadi katedral berlanggam Gotik  dengan nama Katedral Santa Maria de la Sede. Shahn (ruang terbuka di dalam masjid) masjid yang satu masih dapat disaksikan hingga dewasa ini. Kini, shahn tersebut menjadi Lapangan Patio de los Naranyos. Di tengah lapangan itu terdapat sebuah kolam yang terbuat dari marmer. Dulu, kolam itu merupakan tempat wudhu. Pintunya, di sebelah barat, terbuat dari tembaga yang dihiasi dengan ukiran dan kaligrafi Arab. Bangunan yang masih utuh hingga kini adalah menaranya, La Giralda, yang didirikan pada 580 H/1184 M. Di bagian dalam menara itu terdapat tangga spiral menuju ke puncak menara.

Nah, jika Anda berkunjung ke Sevilla, sebaiknya kunjungi pula La Giralda. Siapa tahu, Anda mendapatkan inspirasi suatu ide yang Anda inginkan. 


Tuesday, March 8, 2016

MASJID CORDOBA

Entah kenapa, tadi pagi, ketika sedang memandangi ribuan huruf yang sedang “bermain-main” di laptop, tiba-tiba benak terlempar jauh, ke Cordoba, Spanyol, dan teringat perjalanan saya ke kota itu dua tahun yang lalu.

Lembaran sejarah menorehkan, kota yang berarti “Mempelai Perempuan Kota-Kota itu”, sebelum jatuh ke tangan kaum Muslim, berada  di bawah naungan Toledo yang kala itu menjadi ibukota Spanyol bersatu. Kemudian, tidak lama selepas pasukan kaum Muslim memasuki Andalusia pada 93  H/711 M, kota cantik di atas atas  Sungai Guadalquivir, di dataran luas dan subur di kaki Gunung  Sierra Morena, itu dijadikan sebagai ibukota penguasa  Muslim. Di kota yang cantik itu pulalah, pada 139 H/756 M, ‘Abdurrahman Al-Dakhil, pendiri  Dinasti  Umawiyyah  di  Andalusia,  menyatakan  dirinya sebagai penguasa. Dan, pada masa pemerintahan penguasa itulah  Masjid Cordoba yang megah dan tetap “mewarnai” kota  itu hingga kini mulai dibangun.

Sang penguasa  membangun masjid  ini sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah  Swt.  atas kemakmuran  yang dicapai kawasan yang ia pimpin.  Juga,  sebagai imbangan Masjid Umawi di Damaskus yang megah dan indah.  Konon, dia  sendiri  yang mempersiapkan rancangan  bangunan masjid ini. Kala itu, masjid ini memiliki ukuran panjang 65 meter, sama dengan panjang ruang utama shalat, dan lebar 75 meter, di samping memiliki shahn lapang yang memiliki luas yang sama dengan luas ruang shalat masjid itu.

Pada 180 H/796 M Hisyam Al-Ridha, putra ‘Abdurrahman Al-Dakhil, menambah baris ruang shalat yang berada di sisi shahn. Perhatian yang sangat besar terhadap masjid ini juga diberikan penguasa ke-4 Dinasti Umawiyyah di Cordoba, ‘Abdurrahman Al-Ausath. Semula, pada 218 H/833 M, ia melakukan perluasan kecil pada masjid ini. Namun, karena melihat jumlah jamaah yang kian banyak, seiring dengan perkembangan Kota Cordoba, maka pada 234  H/848 M ia menambah kedalaman ruangan shalat sebanyak delapan baris ke arah kiblat (yakni ke arah selatan menuju ke Sungai Guadalquivir) dan memindahkan dinding kiblat ke tempat yang baru. Selain itu, dia juga melengkapi masjid ini dengan sebuah mihrab baru yang indah. Dengan penambahan tersebut, ukuran masjid ini pun menjadi 130 x 75 meter, termasuk shahn.

Perluasan tersebut disempurnakan dengan pembuatan pelbagai dekorasi pada masjid ini oleh Pangeran Muhammad ibn ‘Abdurrahman Al-Ausath pada 241 H/855 M. Selepas itu, pada 340 H/951 H, ‘Abdurrahman Al-Nashir mendirikan sebuah menara baru di ujung paling utara dinding shahn masjid ini. Menara tersebut dibuat berbentuk benteng raksasa yang memiliki dua balkon untuk melantunkan azan. Menara tersebut masih sediakala hingga dewasa ini meski telah diubah menjadi menara untuk tempat lonceng gereja. Selain itu, ‘Abdurrahman Al-Nashir juga melengkapi masjid ini dengan banyak dekorasi.

Di sisi lain, kala itu ‘Abdurrahman Al-Nashir berpendapat, masjid ini tidak boleh tidak harus diperluas untuk ketiga kalinya. Karena itu, ia memerintahkan putranya, Al-Hakam, yang kala menjadi penguasa bergelar Al-Mustanshir, untuk menjadi pemimpin proyek perluasan yang baru rampung pada 351 H/961 M. Perluasan ini, seperti perluasan sebelumnya, menuju ke arah selatan. Untuk itu, dinding mihrab dipindahkan 35 meter ke arah selatan. Dengan demikian, karena adanya penambahan baru sebanyak 12 baris, masjid ini menjadi mencapai tepi Sungai Guadalquivir. Selain itu, dibuat sebuah mihrab baru yang menjadi salah satu puncak keindahan di bidang arsitektur dan seni ukir dalam sejarah arsitektur Islam. Sedangkan kedalaman ruang shalat menjadi 75 meter. Dengan kata lain, apabila shahn ikut dihitung, panjang masjid menjadi 105 meter.

Perluasan keempat atas Masjid Cordoba ini dilakukan Al-Manshur Muhammad ibn Abu ‘Amir yang bertindak otoriter pada masa pemerintahan Hisyam Al-Mu‘ayyad. Perluasan tersebut baru rampung pada 377 H/987 M. Perluasan tersebut dilakukan pada seluruh panjang masjid di sebelah timur. Dalam perluasan tersebut, Al-Manshur berusaha sekuasa mungkin supaya selaras dengan bentuk dan semangat secara umum bagian-bagian lainnya masjid ini. Meski perluasan tersebut tidak seratus persen orisinal, yang menjadi ciri khas ketiga bagian lainnya masjid ini, namun lewat perluasan tersebut masjid ini kian luas melebih luas semua masjid yang ada di Dunia Islam kala itu. Dalam hal ini yang paling menarik ialah masjid ini tetap sediakala hingga dewasa ini, sebagai saksi pencapaian kaum Muslim di bidang teknik dan arsitektur.

Masjid ini diubah menjadi sebuah katedral ketika penguasa Spanyol menguasai kembali Cordoba pada 634 H/1236 M. Pada abad ke-8 H/14 M di sisi barat masjid ini-yang dibangun pada perluasaan yang dilakukan ‘Abdurrahman Al-Ausath-didirikan sebuah katedral kecil atas perintah Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Selepas itu, yakni pada abad ke-10 H/16 M, tepatnya pada 930 H/1523 M, di jantung masjid ini didirikan sebuah katedral besar yang terkenal dengan  nama  “La Mezquita”. Bangunan katedral ini menyita sepersepuluh luas  masjid ini.  Sejatinya, pembangunan katedral terakhir tersebut ditentang Kaisar Carlos V, dengan alasan pembangunan tersebut merusak tampilan indah ruang shalat masjid yang membanggakan tersebut. Anehnya, hingga dewasa ini ruang shalat masjid ini masih terpelihara dengan sebagian besar keindahan dan kemegahannya.


Masjid Cordoba dapat dikatakan merupakan saksi bahwa kaum Muslim sejak dulu tidak hanya piawai tentang masalah ibadah murni semata. Tapi, mereka juga andal di bidang-bidang lain. Semoga, kini dan ke depan, demikian pula!