Friday, April 27, 2007

Benteng Qait Bey: Saksi Bisu Lahirnya Seorang Maharaja Tiga Benua!

“Kenapa sih para penguasa zaman dulu suka mendirikan benteng? Coba bayangkan, seperti Tembok Besar China itu, berapa besar dana yang dihamburkan?” tanya istri tercinta seraya memandangi Benteng Qait Bey yang terletak di tepi Laut Tengah. Hari di jam tangan saya saat itu masih menunjuk hari Jumat, 23 Maret 2007.

“Setiap benteng, baik benteng dalam bentuk bangunan fisik maupun benteng psikis, pada dasarnya merupakan perlindungan diri, sikap waspada, atau perlindungan dari rasa takut. Nah, benteng ini juga demikian. Sejatinya, benteng ini juga sebagai bentuk perlindungan diri Dinasti Mamluk dari kemungkinan serangan Dinasti Usmaniyyah dan juga sebagai saksi bisu runtuhnya dua dinasti, Dinasti Mamluk dan Dinasti ‘Abbasiyyah, serta lahirnya seorang maharaja tiga benua yang sangat disegani dan ditakuti pada abad ke-16 M. Sang maharaja tersebut tidak lain adalah Sultan Salim I. Sejatinya, tidak hanya para penguasa zaman dulu saja yang suka mendirikan benteng. Para penguasa zaman modern pun suka. Lihat saja penguasa Israel saat ini. Tembok yang dibangun di Palestina oleh Israel tersebut sejatinya kan juga benteng,” jawab saya seraya mengingat-ingat sejarah Dinasti Mamluk dan Dinasti Usmaniyyah.
“Mengapa demikian? Sebenarnya, siapa sih Qait Bey dan Salim I itu?” tanya lebih lanjut istri saya yang memang suka bertanya.
“Kalau begitu saya bercerita tentang kedua penguasa Muslim itu saja ya,” jawab saya. “Tentang sejarah benteng yang didirikan pada 1480 M ini, biar saja orang lain yang bercerita ya.”

Qait Bey tidak lain adalah seorang sultan dari Dinasti Mamluk Burji yang menguasai Mesir dan Suriah. Bergelar lengkap Al-Malik Al-Asyraf Abu Al-Nashr Saif Al-Din Al-Mahmudi Al-Zhahiri, ia memerintah antara 873-902 H/1468-1496 M. Lahir dengan tahun kelahiran yang tak jelas, ia melewati masa kecilnya sebagai seorang budak belian yang kemudian dibeli orang nomor satu Dinasti Mamluk kala itu, Al-Asyraf Saif Al-Din Barsbay, dan dimerdekakan oleh Al-Zhahir Saif Al-Din Jaqmaq yang juga orang nomor satu dinasti itu setelah Barsbay dan Yusuf. Selepas itu ia meniti karier di bidang militer. Sehingga akhirnya, pada 872 H/1467 M, ia diangkat sebagai atabeg oleh Al-Zhahir Temirbugha, orang nomor satu Dinasti Mamluk kala itu. Tahun berikutnya ia diangkat sebagai pengganti Temirbugha yang mangkat.

Setelah naik tahta, Qait Bey dihadapkan pada dua tantangan besar. Pertama, menghadang gerak maju pasukan Dinasti Usmaniyyah yang mulai mengintai Mesir dan ingin sekali “memeluknya di pangkuannya”, dan Dinasti Ak Koyunlou dari Turki. Kedua, mengatasi masalah ekonomi yang memburuk akibat ditemukannya Tanjung Harapan oleh para petualang Eropa yang sedang memburu “harta karun” di Indonesia. Dalam persoalan yang pertama, meski ia berhasil menahan gerak maju pasukan Dinasti Usmaniyyah dengan menawan Pangeran Elbistan di Anatolia, namun pasukannya tidak berhasil mengalahkan pasukan Dinasti Ak Koyunlou di bawah pimpinan Uzun Hasan. Malah, pada 891 H/1486 M pasukan Dinasti Usmaniyyah berhasil mengalahkan pasukannya di Silisia. Akhirnya, pada 897 H/1491 M, dicapai perjanjian perdamaian dengan Dinasti Usmaniyyah. Kesepakatan itu memberi kesempatan kepada penguasa yang berkuasa hingga 902 H/1496 M ini untuk memperbaiki kondisi perekonomian negeri yang dipimpinnya dan membangun benteng. Namun, keberhasilan di bidang ekonomi tersebut masih belum mampu menyelamatkan Dinasti Mamluk dari gempuran pasukan Dinasti Usmaniyyah yang akhirnya melibas Dinasti Mamluk sekitar satu setengah dekade setelah ia mangkat pada 902 H/1496 M. Mengapa hal itu terjadi?

Keberhasilan pasukan Dinasti Mamluk dalam menghadang pasukan Dinasti Usmaniyyah ternyata tidak pernah dilupakan oleh Salim I, seorang penguasa terkemuka Dinasti Usmaniyyah di Turki. Sultan Turki yang satu ini adalah salah seorang putra pasangan suami-istri Sultan Bayazid II dan Gulbahar Sultan. Ia lahir di kota Amasya pada Senin, 5 Rabi‘ Al-Akhir 875 H yang bertepatan dengan 10 Oktober 1470 M. Ketika sang ayah menjadi orang nomor satu, ia diberi kepercayaan sebagai Gubernur Trabzon, Turki. Lantas ketika sang ayah gering menjelang kemangkatannya, sang ayah mengangkat Salim sebagai putra mahkota dengan membatalkan hak sang putra sulung, Ahmad, untuk menduduki jabatan itu. Inilah salah satu pemicu terjadinya perang saudara yang membara di Turki selepas berpulangnya sang ayah ke hadirat Allah pada 918 H/1512 M. Perang saudara ini dimenangkan murid seorang ulama terkemuka kala itu: Mevlana ‘Abdul Halim.

Akibat kekalahan Ahmad bin Bayazid II dalam perang saudara tersebut, kedua putranya: Murad dan ‘Ala’ Al-Din, pun menyelamatkan diri. Murad menyelamatkan diri ke Persia (dh Iran), meminta suaka kepada penguasa negeri itu kala itu: Syah Ismail, penguasa pertama Dinasti Shafawiyyah di Persia. Sedangkan ‘Ala’ Al-Din menyelamatkan diri ke Mesir, meminta perlindungan kepada Sultan Qanshauh Al-Ghuri, penguasa Dinasti Mamluk di Mesir selepas Sultan Qait Bey. Perlindungan yang diberikan kepada kedua kemenakannya tersebut merupakan salah satu pemicu bagi Sultan Salim I untuk menggempur dan menaklukkan Persia dan Mesir.

Persia mendapat hajaran dalam Perang Chaldiran yang terjadi pada Rajab 920 H/1514 M. Dalam perang tersebut, pasukan Dinasti Usmaniyyah di bawah pimpinan Salim I berhasil meluluhlantakkan pasukan Persia dan dengan penuh kemenangan memasuki Tabriz, ibukota Persia kala itu, sehingga membuat Syah Ismail melarikan diri. Dua tahun kemudian, tepatnya pada Jumada Al-Awwal 921 H/Agustus 1516 M, Mesir ganti mendapat gempuran dari pasukan Dinasti Usmaniyyah. Akibat kekalahan pasukan Mesir dalam perang di Dataran Maraj Dabiq, terutama karena mangkatnya Sultan Qanshauh Al-Ghuri, pasukan di bawah pimpinan Salim I kemudian berhasil merangsek masuk Hamah, Homs, Damaskus, Nablus, Al-Quds, Gaza, dan akhirnya Suez. Kemudian, dengan takluknya Sultan Thuman Bay pada tahun berikutnya, pasukan Dinasti Usmaniyyah pun berhasil menguasai seluruh wilayah Mesir, termasuk Alexandria. Keberhasilan tersebut mengukuhkan Dinasti Usmaniyyah sebagai negara muslim paling berjaya, dengan kekuatan militernya yang sangat tangguh, terutama pasukan kavaleri dan artilerinya yang mampu bergerak sangat cepat “bagaikan topan yang menderu sangat kencang dan menggilas apapun yang menghadangnya”, di Timur Tengah kala itu.

Seusai menaklukkan Negeri Piramid tersebut, penguasa yang selalu mencukur bersih janggutnya, berbeda dengan para pendahulunya yang membiarkan panjang janggutnya, ini kembali ke negerinya dengan “mengantongi” dua gelar: Sulthan Al-Barrain wa Khaqan Al-Bahrain (Sultan Dua Daratan dan Khaqan Dua Lautan) dan Hamiy Al-Haramain Al-Syarifain (Sang Pelindung Dua Tanah Suci yang Mulia), dengan membawa serta khalifah terakhir Dinasti ‘Abbasiyyah di Mesir, Al-Mutawakkil ‘Alallah, dan putra-putranya, ke Istanbul. Sejak itu Dinasti ‘Abbasiyyah dan Dinasti Mamluk di Mesir “tutup buku dari sejarah untuk selamanya”. Dan, sejak itu pula, sultan-sultan Turki Usmani menjadi satu-satunya khalifah di dunia Islam dan menjadi seorang maharaja tiga benua: Eropa, Asia, dan Afrika! Ya, tiga benua: Eropa, Asia, dan Afrika!

Lantas, sekembalinya penguasa yang menguasai bahasa Turki, Persia, dan Arab ini, dari penaklukan-penaklukan tersebut, ia mencurahkan perhatiannya untuk membangun negerinya dan kawasan-kawasan yang berada di bawah kekuasaannya dengan bantuan para ilmuwan, pakar, dan teknisi. Dan, pada Selasa, 28 Ramadhan 926 H yang bertepatan dengan 21 September 1520 M, ketika dalam perjalanan menuju Edirne, ia berpulang ke hadirat Sang Pencipta, dengan meninggalkan seorang putra: Sulaiman, dan empat putri: Hatice Sultan, Fatma Sultan, Hafsa Sultan, dan Syah Sultan. Ia digantikan putranya semata wayang: Sulaiman The Magnificent (Sulaiman Agung yang terkenal membuat gentar seluruh benua Eropa).

“Luar biasa! Sejarah Islam sebenarnya disiplin yang menarik sekali, ya! Sayang, sejarah Islam yang pernah saya pelajari, hanya berisi pelajaran yang tak menarik. Tapi, kita jalan-jalan dulu ya,” ucap istri saya. “Yuk,” jawab saya seraya menapakkan kaki ke arah Benteng Qait Bey, bersama istri, Mas Oyik, dan Mas Norman Muttaqin. Dan, sore harinya, selepas mengunjungi Istana Montazah, kami kembali ke Kairo dengan melintasi jalur padang pasir.

Tuesday, April 24, 2007

Arsitektur Masjid a la Mesir

“Mas, bentuk masjid-masjid di Mesir ini kayaknya kok mirip semua ya?!” tanya istri tercinta saya seraya melangkahkan kaki menuju Masjid Abu Al-‘Abbas Al-Mursi, Alexandria. Hari di jam tangan saya saat itu masih menunjuk hari Jumat, 23 Maret 2007.
“Mirip semua sih tidak. Tapi, memang, masjid-masjid di negeri ini memiliki karakteristik yang hampir mirip. Karena itu, para arsitek kemudian mengatakan, masjid-masjid di negeri ini memiliki gaya arsitektural tersendiri,” jawab saya yang baru menyadari kalau banyak masjid di Mesir ini memang sekilas hampir mirip bentuknya (saya pun segera teringat dua kemenakan saya yang berada di Ubud, Bali, Ika dan Priyatna. Semestinya mereka berdua, sebagai arsitek, yang menjawab pertanyaan Bude mereka tersebut).

Bagaimanakah sih sejatinya gaya arsitektural masjid-masjid di Mesir ini? Walau sekilas mirip, sejatinya masing-masing masjid di negeri ini tidak sepenuhnya benar bentuknya mirip. Masing-masing sejatinya punya bentuk yang beda. Bentuk Masjid ‘Amr bin Al-‘Ash di Fusthath, misalnya, tidak sama dengan bentuk Masjid Al-Azhar, atau Masjid Al-Husain bin ‘Ali, atau Masjid Sayyidah Zainab. Apalagi dengan bentuk Masjid Muhammad ‘Ali yang didominasi oleh gaya arsitektural Turki. Namun, secara keseluruhan, masjid-masjid di Negeri Piramid ini memiliki kesamaan karakteristik sebagai begikut:

Pertama, kecermatan bangunan dan kekokohan strukturnya. Hal yang demikian ini berlaku baik bagi masjid yang dibangun dengan memakai bahan batu maupun batu bata. Mengapa demikian? Ini karena para arsitek masjid-masjid tersebut bertolak dengan mendasarkan diri pada ilmu pengetahuan dan rasa percaya diri yang besar. Tak aneh, karenanya, jika di Mesir tidak terdapat masjid yang punya dinding dengan ketebalan sampai dua atau meter, misalnya, seperti yang terdapat di beberapa negara lain.

Selain itu, para arsitek Mesir juga jarang memakai bahan bangunan yang mudah lapuk atau usang pada bangunan umum atau bangunan monumental. Walau banyak warga pedesaan Mesir mendirikan rumah mereka dari adonan air susu, namun tiada seorang arsitek Mesir pun yang memakai bahan tersebut dalam membangun masjid. Demikian halnya mereka tidak pernah memakainya dalam membangun dinding atau tembok. Padahal, yang demikian itu biasa dilakukan di Iraq, misalnya saja. Selain itu, orang-orang Mesir juga tidak pernah memakai batang-batang pohon kurma atau batu yang tidak dipahat untuk membangun rumah. Mereka pun terkenal sangat cermat dalam memakai adukan. Umumnya mereka hanya memakai sedikit sekali adukan. Mereka lebih suka memakai batu-batu besar yang dipahat cermat, dalam mendirikan bangunan besar, sehingga memperkecil pemakaian adukan.

Kedua, berupaya memelihara secermat mungkin keselarasan artistik pada bangunan yang mereka dirikan. Ini tampak jelas pada Masjid Ahmad bin Thulun, masjid tertua kedua di Kairo. Seluruh bentuk umum masjid yang didirikan oleh Dinasti Thuluniyyah (254-292 H/868-905 M) itu benar-benar selaras: seluruh lengkung masjid berbentuk lancip dan seluruh bukaan yang berada di atas diletakkan dengan posisi yang sama. Karakteristik yang demikian itu semakin tampak gamblang pada bangunan-bangunan yang didirikan di masa pemerintahan Dinasti Fathimiyyah (358-567 H/969-1171 M). Misalnya, Masjid Al-Aqmar atau Masjid Al-Shalih Thala‘i’ bin Ruzaik. Keselarasan artistik kedua masjid tersebut begitu menonjol. Arstitek kedua masjid tersebut mendayagunakan bentuk kerang-kerangan di pintu-pintu dan jendela-jendela kedua masjid tersebut. Selain itu, di seluruh dinding luar kedua masjid tersebut dibuat sarung berbentuk jendela-jendela tuli dalam bentuk kerang. Dengan kata lain, ketika kita sedang memandangi di kedua masjid tersebut, benar-benar terasakan kalau kita sedang berada di depan sebuah karya seni yang sangat selaras dan indah.

Ketiga, keseimbangan bentuk umum bangunan senantiasa dipelihara. Keseimbangan tersebut tidak dilakukan secara asal-asalan dan sekadar formalitas belaka. Misalnya, dengan membuat dua menara di kedua sisi bagian pintu masuk atau kedua pojok bagian depan. Namun, keseimbangan tersebut dilakukan di seluruh bangunan. Tampilan terindah keseimbangan tersebut, terutama pada masjid-masjid yang didirikan oleh Dinasti Mamluk (648-923 H/1250-1517 M), terpancar pada pembangunan kubah di sudut yang satu dan menara di sudut yang lain. Hasilnya, suatu keseimbangan yang benar-benar memukau. Padahal, kubah tersebut berbentuk bundar dan menara tersebut berbentuk lurus. Namun, keduanya membentuk suatu keterpaduan dan keseimbangan dalam pandangan dan cita rasa.

Keseimbangan itu sendiri merupakan corak utama yang oleh para arsitek Mesir selalu diupayakan untuk tetap dihadirkan pada setiap karya yang mereka hasilkan. Jika Masjid Al-Azhar di Kairo diperkecualikan, keseimbangan tersebut tampak gamblang pada masjid-masjid antik di Mesir. Di sisi lain, keseimbangan tersebut menjadi bukti, para arsitek masjid-masjid tersebut sebelum mendirikan masjid-masjid tersebut telah membuat rancangan secara keseluruhan bangunan masjid-masjid tersebut. Keseimbangan tersebut mencapai puncaknya pada masjid-masjid yang didirikan oleh Sultan Qait Bey, Sultan Barquq, dan Sultan Al-Hasan. Sayang, keseimbangan yang demikian itu tidak terdapat pada Masjid Al-Azhar. Mengapa hal itu terjadi? Ini karena Masjid Al-Azhar telah kehilangan keselarasan arsitekturalnya. Ini semua gara-gara sederet perbaikan dan pemugaran yang dialaminya. Semua itu terjadi karena para penguasa di Mesir bersaing dalam “memperbaiki dan memugar” Masjid Al-Azhar. Akibatnya, sayang sekali, masjid yang seusia dengan Kota Kairo itu pun menjadi berukuran besar, namun kehilangan keselarasan arsitekturalnya.

Keseimbangan yang demikian itu tidak hanya pada global bangunan saja. Tapi, juga pada rinci bangunan. Hal itu tampak gamblang pada menara-menara pelbagai masjid di Mesir. Menara-menara tersebut tampak sangat indah dan memikat. Hal itu terjadi karena menara-menara tersebut dirancang sedemikian imbang antara garis tengahnya, ketinggiannya, dan jumlah balkon-balkonnya yang dibuat dengan jarak yang dihitung secara sangat cermat. Karena itu, tidak aneh jika menara masjid-masjid Mesir merupakan salah satu menara-menara masjid terindah di dunia. Dan, tak aneh pula, seperti halnya bentuk mesalla yang banyak memberikan inspirasi bagi dunia arsitektur di pelbagai belahan dunia, menara masjid Mesir pun berhasil memberikan inspirasi ke pelbagai belahan dunia Islam. Termasuk ke Sudan selatan dan Amerika Latin.

Hal serupa juga berlaku pada kubah bergaya Mesir. Kubah dengan gaya tersebut juga memiliki keseimbangan dan keselarasan yang menawan. Tak aneh jika kubah dengan gaya tersebut tidak memiliki kepincangan pada panjang kakinya, seperti halnya yang ada pada kubah-kubah bergaya Saljuq, tidak pula memiliki lengkung-lengkung yang terlalu berlebihan lengkungannya, seperti halnya yang ada pada masjid-masjid di India, dan juga tidak mengenal bentuk yang terlalu besar sehingga kubah kehilangan posisinya sebagai salah satu karya arsitektural yang memikat. Di sisi lain, meski para arsitek Mesir tidak berupaya membuat menara masjid yang mereka bangun sarat dengan dekorasi berwarna-warni, namun menara tersebut tetap memancarkan keindahan dan keselarasan yang luar biasa. Sayangnya, sebagian besar masjid-masjid dari masa pemerintahan Dinasti Fathimiyyah kini telah sirna. Sedangkan sebagian besar yang masih tersisa telah rusak dan pelbagai aspek seni dan keindahannya pun telah tiada. Selain itu, sayang sekali, secara umum masjid-masjid di Mesir kurang terpelihara dengan baik. Tak aneh jika sebagian besar masjid-masjid tersebut kehilangan keindahannya, akibat kurang pemeliharan, kerusakan, dan proses kehancuran.

“Saya puas sekali dapat melihat masjid-masjid indah dan megah di Mesir ini. Sama dengan kepuasaan saya ketika melihat gereja-gereja indah di Eropa. Ini menunjukkan kualitas para arsitek Muslim tidak kalah dengan rekan-rekan sejawatnya yang non-Muslim,” ucap istri tercinta saya seraya menikmati keindahan Masjid Abu Al-‘Abbas Al-Mursi. “Ya. Tapi, ada satu hal yang kurang pada masjid-masjid di Mesir ini. Banyak masjid yang tidak dilengkapi dengan taman yang indah. Sayang sekali, ya!” jawab saya seraya mengajaknya melangkahkan kaki menuju mobil yang dikendarai Mas Norman Muttaqin untuk mengunjungi Benteng Qait Bey.

Sunday, April 22, 2007

Sufi Andalusia Itu pun Terpikat oleh Alexandria

“Semakin cantik saja masjid ini,” gumam saya begitu mobil yang kini dikendarai Mas Norman Muttaqin, menggantikan Mas Oyik, parkir di depan sebuah masjid megah dan cantik di tengah-tengah Kota Alexandria. Bentuk kota yang satu ini, lebih mudahnya, dapat dikatakan seperti bentuk lengkung hurup D besar. Di ujung atas hurup itu terdapat Istana Montazah, sedangkan di ujung bawah hurup D terdapat Benteng Qait Bey. Kota Alexandria sendiri berbentuk melengkung, dengan beberapa penanda utama di tengah-tengahnya, antara lain masjid yang sedang kami kunjungi ini: Masjid Abu Al-‘Abbas Al-Mursi. Sebenarnya, nama lengkap sang sufi yang menjadi nama masjid tersebut adalah Syihab Al-Din Abu Al-‘Abbas Ahmad bin ‘Umar bin Muhammad Al-Mursi.

Dari nisbat “Al-Mursi”, kita sebenarnya dengan segera dapat tahu, sufi itu tentu ada kaitannya dengan Kota Murcia, sebuah kota di Andalusia (dh Spanyol). Memang, sufi yang satu ini lahir di kota yang terletak di Semenanjung Iberia tersebut. Meski tahun kelahirannya tidak jelas, tapi jika melihat perjalanan hidupnya yang pernah bersama pendiri Tarikat Syadziliyyah, Abu Al-Hasan Al-Syadzili, dengan mudah ditebak sang sufi hidup ketika tanah kelahirannya mulai tidak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal selamanya. Suasana Andalusia kala itu mulai mengkhawatirkan bagi kaum Muslim Andalusia kala itu. Mengapa demikian? Ini karena pada 634 H/1236 M Kota Cordoba, dan pada 646 H/1248 M Kota Sevilla, jatuh ke tangan pasukan Kristen serta tinggal Granada yang masih bertahan hingga 898 H/1492 M. Dari sini dapat dimengerti pula bila selepas meninggalkan negeri kelahirannya Abu Al-‘Abbas Al-Mursi tak pernah kembali ke negerinya.

Bagaimana kisah hidup sang sufi asal Andalusia ini akhirnya memilih Kota Alexandria sebagai tempat dia menyebarluaskan ajaran-ajaran tarikat yang dianutnya? Setelah menimba ilmu di Andalusia, sufi yang satu ini lantas menapakkan kakinya ke Ceuta. Langkah-langkahnya selanjutnya mengantarkannya ke Tunisia. Di situlah ia bertemu dengan pendiri Tarikat Syadziliyyah, Abu Al-Hasan Al-Syadzili. Mereka berdua selanjutnya meneruskan perjalanan menuju Kairo dan Alexandria. Di kota terakhir inilah mereka menetap. Pada 656 H/1258 M guru dan murid ini bertolak ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji, dengan melintasi Gurun ‘Aidzab. Ketika mereka berada di suatu tempat bernama Humaitsarah, sang guru jatuh sakit dan berpulang ke hadirat Allah. Sebelum meninggal dunia, sang guru berpesan kepada murid-muridnya bahwa ia menunjukkan Al-Mursi sebagai penggantinya dalam menyebarluaskan ajaran-ajaran Tarikat Al-Syadziliyyah.

Al-Mursi, selain sebagai seorang sufi, juga seorang ahli hukum Islam. Tak aneh bila ia mengikuti jejak sang guru dalam persyaratan penerimaan para murid. Dalam hal ini para calon murid disyaratkan harus benar-benar menguasai ilmu syariah Islam, sebelum mereka diperkenankan meniti jalan para sufi. Demikian halnya, seperti halnya Al-Syadzili, sufi yang menghadap Allah di Kota Alexandria pada 686 H/1287 M, di masa pemerintahan Sultan Qalawun, ini juga tidak meninggalkan karya tulis. Para murid merekalah yang mencatat dan menyusun ajaran-ajaran mereka berdua.

Memandangi masjid megah dan indah yang satu ini (sayang kebersihan lingkungannya kurang diperhatikan), “indra keenam” saya segera menyatakan, para pengikut Tarikat Syadziliyyah masih aktif hingga dewasa ini. “Sayang, saya tidak banyak memiliki data (bila di antara para pembaca ada yang memiliki data sejarah masjid ini, saya akan sangat berterimakasih bila data tersebut dapat diemailkan ke saya) tentang sejarah masjid ini,” gumam saya memandangi masjid yang banyak dikunjungi orang itu, selain kami, termasuk dua pramugari asal Indonesia yang bekerja di Saudi Airlines. Namun, dari pandangan sekilas terhadap masjid tersebut, dapat dikatakan masjid ini memiliki gaya arsitektural seperti halnya kebanyakan masjid-masjid yang banyak bertebaran di Mesir. Bagaimana gaya arsitektural masjid-masjid ala Mesir? Insya Allah akan saya hadirkan dalam tulisan berikut di blog ini.

Wednesday, April 18, 2007

‘Umar! Engkaukah yang Membakar Perpustakaan Alexandria?

Usai mengunjungi Teater Romawi dan melaksanakan shalat Jumat di pinggir jalan (di Timur Tengah, ketika musim dingin, merupakan hal yang lazim shalat Jumat dilaksanakan di jalan-jalan), mobil yang dikendarai Mas Oyik segera bergerak pelan menuju Perpustakaan Alexandria. Hari di jam tangan saya kala itu masih menunjuk hari Jumat, 23 Maret 2007. Tidak lebih dari lima menit dari tempat shalat Jumat, kami pun berhenti di sebuah bangunan berbentuk silinder miring yang terletak di sisi jalan utama Kota Alexandria yang terletak di tepi Laut Tengah.

“Aneh!” demikian gumam saya begitu melihat bentuk bangunan perpustakaan yang diresmikan pada bulan Oktober 2002 itu dan berdiri di dekat situs semula Perpustakaan Alexandria lama yang didirikan pada awal abad ke-3 SM di masa pemerintahan Ptolemeus II dari Mesir setelah ayahnya mendirikan kuil Muses, Musaeum. Konon, perpustakaan ini memiliki 700.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14 M, Perpustakaan Sorbonne, Paris, Perancis yang katanya memiliki koleksi terbesar di zamannya hanya memiliki 1700 buku. Para penguasa Mesir kala itu begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka. Sampai-sampai mereka memerintahkan para prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Dan, kala itu, perpustakaan ini menjadi “tempat kerja” sederat cendekiawan kelas dunia yang menghasilkan karya-karya besar di bidang geometri, trigonometri, astronomi, bahasa, kesusastraan, dan kedokteran.

Sementara bentuk bangunan Perpustakaan Alexandria baru, yang dirancang oleh Snøhetta, sebuah biro arsitektur Norwegia, dibagi secara diagonal dan berdiri dalam bentuk silinder yang ditusuk sebuah garis lurus. Garis lurus yang menusuk bentuk silinder perpustakaan tersebut tak lain adalah jembatan penyeberangan dari Universitas Alexandria ke selatan. Jembatan tersebut membentang di atas jalan dan menuju ke arah lantai dua perpustakaan dan terus ke plasa di sebelah utara gedung yang mengarah ke laut. Di sebelah barat jembatan tersebut, sebagian besar bangunan berbentuk silinder menukik hingga menciptakan ruang kosong yang merupakan pintu masuk utama perpustakaan. Sedangkan pintu masuk perpustakaan menghadap pintu depan sebuah gedung pertemuan tua, seakan menunjukkan penghormatan terhadap gedung tersebut. Di antara kedua gedung tersebut terdapat plasa yang dihias dengan jalanan batu. Di dalam plasa itu sendiri terdapat area yang sangat luas untuk planetarium.

Bangunan perpustakaan itu sendiri berbentuk silinder dipotong oleh sudut miring. Semua dinding miring tersebut menunjuk ke utara, ke arah laut. Sedangkan dinding yang menghadap selatan dari bagian silinder dihias dengan potongan batu granit yang merupakan pecahan batu yang sangat besar, bukan digergaji. Permukaannya tidak rata, dengan garis bentuk yang halus. Batu-batu granit tersebut ditulisi dengan simbol huruf dari seluruh dunia. Sinar matahari dan pantulan lampu di perbatasan air menghasilkan bentuk bayangan dinamis dari simbol-simbol tersebut, yang mengingatkan pada dinding tempat beribadah Mesir kuno. Dinding melengkung tebuat dari beton dengan sambungan vertikal terbuka, sementara dinding yang lurus dihias dengan batu hitam dari Zimbabwe.

Memandangi bangunan Perpustakaan Alexandria baru tersebut, saya beberapa lama tercenung dan termenung. Segera saya teringat, ketika masih sebagai mahasiswa di Yogyakarta pada tahun-tahun 1970-an, betapa saya pernah sangat benci kepada ‘Umar bin Al-Khaththab, khalifah kedua dalam sejarah Islam yang mertua Rasulullah Saw. Benci kepada ‘Umar bin Al-Khaththab? Ya, hal itu gara-gara sejumlah buku yang pernah saya baca (termasuk beberapa buku berbahasa Indonesia) menyatakan, ‘Umar bin Al-Khaththablah yang memerintahkan ‘Amr bin Al-‘Ash, ketika menundukkan Alexandria pada 21 H/640 M, membakar Perpustakaan Alexandria lama. Menurut saya ketika itu, tindakan ‘Umar tersebut benar-benar tidak termaafkan dan tidak beradab.

Namun, dengan bergulirnya waktu, saya tahu tuduhan terhadap ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut merupakan tuduhan yang tidak berdasar sama sekali. Mengapa demikian? Ini karena Perpustakaan Alexandria lama tersebut telah sirna sewaktu Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 47 M. Kemudian, ketika perpustakaan tersebut dibangun kembali dalam ukuran yang lebih kecil, perpustakaan itu pun lenyap akibat gempuran Kaisar Theodorus pada 389 M. Karena itu, ketika ‘Amr bin Al-‘Ash menaklukkan Alexandria pada 21 H/640 M, perpustakaan tersebut sudah tiada lagi puing-puingnya. Hal ini dikukuhkan oleh tiadanya catatan dari para sejarawan terpercaya pada masa itu tentang terjadinya pembakaran perpustakaan tersebut oleh ‘Amr. Demikian halnya para sejarawan Muslim yang sangat dapat dipercaya, seperti halnya Al-Ya‘qubi, Al-Baladzuri, Ibn ‘Abdul Hakam, Al-Thabari, Al-Kindi, Ibn Al-Atsir, Ibn Taghribirdi, dan Al-Sayuthi tidak pernah sama sekali mengemukakan masalah pembakaran perpustakaan tersebut. Secuil pun tidak pernah!

Tuduhan pertama terhadap ‘Umar bin Al-Khaththab, sebagai orang yang memerintahkan pembakaran Perpustakaan Alexandria lama, mencuat gara-gara tulisan tanpa acuan dan rujukan sama sekali yang dikemukakan oleh ‘Abdul Lathif Al-Baghdadi, seorang ahli astronomi dan dokter yang lahir pada 1162 M dan berpulang pada 1231 M di Baghdad. Menurut catatan ilmuwan yang sezaman dengan Maimonides serta pernah melakukan perjalanan lama ke Mosul, Damaskus, dan Mesir tersebut, di Kota Alexandria terdapat sejumlah pilar dan bidang kosong yang mengelilinginya. Menurutnya, di situlah Aristoteles mengajar murid-muridnya dan di situ pulalah Alexander The Great mendirikan perpustakaannya. Dan, di situ pulalah terdapat sebuah perpustakaan yang dibakar oleh ‘Amr bin Al-‘Ash atas perintah ‘Umar bin Al-Khaththab. Catatan itu kemudian di”blow-up” oleh seorang sejarawan pada masa itu, Abu Al-Faraj bin Al-‘Ibri. Berdasarkan catatan tanpa pijakan ilmiah kuat itulah “legenda pembakaran Perpustakaan Alexandria oleh ‘Umar bin Al-Khaththab” kemudian dikutip oleh Edward Gibbon dalam karyanya The Decline and Fall of the Roman Empire dan Rene Sedillot dalam karyanya The History of the World yang menyatakan bahwa “warisan kebudayaan Islam terhadap kebudayaan manusia adalah pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun yang ditanami”. Kutipan yang sangat menyedihkan! Dari sinilah “virus pembakaran perpustakaan” tersebut tersebar ke pelbagai penjuru dunia. Padahal, ‘Umar bin Al-Khaththab tidak pernah sama sekali melakukan tindakan keji dan tak beradab tersebut!

“Mas, mau di sini terus?” tanya istri tercinta saya yang segera menyadarkan saya dari lamunan. “Gaklah!” jawab saya seraya mengajak Mas Oyik dan Mas Norman meneruskan perjalanan menikmati panorama Kota Alexandria yang cantik itu dan mengunjungi Masjid Abu Al-‘Abbas Al-Mursi!

Saturday, April 14, 2007

Mengapa ‘Amr bin Al-‘Ash "Jatuh Cinta" kepada Alexandria?

Begitu mobil yang kami naiki memasuki Kota Alexandria, udara segar dan angin laut semilir datang menjemput kami. Udara dan angin Alexandria di minggu terakhir bulan Maret 2007 benar-benar bersahabat. Segera kenangan sekitar 27 tahun lalu pun merangkak keluar dari alam bawah sadar, membangkitkan sederet kenangan ketika saya dan teman-teman berliburan selama beberapa hari di kota ini untuk menghindari udara panas yang menghajar Kota Kairo. Begitu memasuki jantung kota yang telah berusia ribuan tahun dan pernah menjadi pusat budaya dunia ini, Mas Oyik pun membawa kami mengitari pelbagai sudut kota. Menikmati pemandangan nan indah sepanjang kota, saya pun merasa seakan sedang berada di Eropa, ketika menikmati pemandangan sangat indah sepanjang Sungai Danube di Wina, Austria dan Sungai Seine di Paris, Perancis. Gaya arsitektural bangunan-bangunan kota ini memang banyak mengadaptasi gaya arsitektural bangunan-bangunan di Eropa.

Selain bangunan-bangunan memikat di tepi Laut Tengah yang membentang sekitar 15 kilometer, ada suatu pemandangan yang memikat perhatian saya. Segera saya tersadarkan, ternyata bangunan-bangunan beragam tersebut ternyata tiada satu pun yang berada di garis sempadan laut yang dibatasi oleh jalan berjalur empat dan trotoar lebar. Semua bangunan tersebut tiada satu pun yang menghalangi siapa pun yang ingin menikmati laut dengan pemandangannya yang memikat. Betapa hal ini beda dengan kondisi yang terjadi di pelbagai kawasan Indonesia, sampai pun di Pulau Bali yang menjadi salah satu puncak tempat wisata di Indonesia. Saya merasa (walau bukan seorang ahli tata kota) inilah tatakota dan tatalaut yang benar tidak. Pemandangan indah laut harus dapat dinikmati semua orang dan tidak dikapling-kapling oleh pihak-pihak tertentu yang memiliki dana finansial besar, sehingga hanya orang-orang yang berduit saja yang dapat menikmati laut dan indahnya pemandangan yang dihadirkannya. Sayang, kenapa hal yang demikian itu terjadi. Siapakah yang salah?

Ketika saya sedang asyik menikmati indahnya pemandangan indah di sepanjang Kota Alexandria, tiba-tiba dalam benak timbul pertanyaan: mengapakah ‘Amr bin Al-‘Ash terpikat untuk menundukkan Alexandria?

Seperti tercatat dalam lembaran sejarah Islam, memang jenderal yang memeluk Islam menjelang Penaklukan Makkah itulah yang semula memiliki ide untuk menundukkan Kota Alexandria. Jenderal yang satu ini, sebelum memeluk Islam, adalah seorang pedagang dan Kota Alexandria merupakan pusat niaganya. Kemudian, selepas dia memeluk Islam dan ‘Umar bin Al-Khaththab melakukan perjalanan terakhirnya ke Suriah, ‘Amr bin Al-‘Ash pun menunggu kedatangan sang khalifah yang juga mertua Rasulullah Saw. tersebut dan membicarakan idenya tersebut. Menurutnya, Alexandria harus ditundukkan untuk melindungi posisi pasukan Muslim yang telah berhasil menundukkan Suriah dan Yordania. Sebab Kota Alexandria, kala itu, merupakan salah satu pangkalan terkuat angkatan laut Romawi yang merajalela di Laut Tengah. Karena itu, pangkalan itu harus direbut dan ditundukkan. Kalau hal tersebut tidak dilakukan, posisi pasukan kaum Muslim akan terus menerus dalam posisi jadi bulan-bulanan angkatan laut Romawi yang menguasai Laut Tengah.

Semula khalifah kedua dalam sejarah Islam itu enggan memenuhi permintaan sang jenderal, karena merasa belum saatnya hal itu dilakukan. Namun, karena ‘Amr mengemukakan idenya itu berulang kali, akhirnya sang khalifah yang terkenal hidup sederhana dan tegas itu mengizinkannya. Tapi, izin itu dengan syarat ‘Amr hanya boleh membawa 4.000 serdadu. Betapa gembira sang jenderal yang terkenal piawai di medan pertempuran itu menerima izin sang khalifah. Dia pun segera membawa pasukan tersebut dari Al-‘Arisy, Sinai menuju Farma yang terletak di tepi Laut Tengah. Setelah berhasil memporakporandakan pasukan Romawi yang mencoba menghadangnya, sang jenderal pun menggerakkan pasukannya menuju Fusthath (perlu diingat, kala itu Terusan Suez belum ada, sehingga pasukan itu tidak terhalang oleh laut sama sekali), menundukkan Balbis, dan menaklukkan Umm Danin. Keberhasilan sang jenderal ini tidak lepas dari bantuan warga Mesir, di bawah pimpinan Muqauqis, yang kala itu ingin melepaskan diri dari cengkeraman pasukan Romawi yang penindas.

Selepas beberapa hari beristirahat di Fusthath, ‘Amr bin Al-‘Ash kemudian meminta izin lagi untuk menundukkan Kota Alexandria. Begitu izin sang khalifah diterimanya, pasukan kaum Muslim segera bergerak ke arah kota itu dan mengepungnya. Selepas pengepungan itu berlangsung beberapa lama, akhirnya pasukan terdepan yang berada di bawah komando Al-Zubair bin Al-‘Awwam dan Maslamah bin Mukhallad berhasil menjebol pertahanan kota ini. Jatuhlah Si Alexandria nan cantik itu ke pelukan pasukan kaum Muslim pada 21 H/641 M. Dengan kata lain, hingga dewasa ini, kota ini telah berada di pelukan kaum Muslim selama sekitar 1407 tahun. Lama juga. Dan, selepas menundukkan Alexandria, ‘Amr bin Al-‘Ash kemudian balik ke Fusthath dan memerintahkan pendirian sebuah kota dengan dilengkapi sebuah masjid, sebagai masjid pertama di Mesir, yang kemudian lebih terkenal dengan nama Masjid ‘Amr bin Al-‘Ash.

“Pak Rofi’, kita berhenti di sini ya,” ucap Mas M. Norman Muttaqin membuyarkan lamunan saya. Ternyata, mobil yang dikendarai Mas Oyik sudah berhenti tidak jauh dari situs Teater Romawi yang terletak tidak jauh dari pusat Kota Alexandria.“Silakan,” jawab saya agap tergagap, tersadarkan kembali dari lamunan dan segera turun dari mobil untuk mengunjungi salah satu saksi bahwa kota ini pernah di bawah penjajahan pasukan Romawi yang ganas dan kejam (dan mengingatkan saya pada film Cleopatra dan kisah cintanya)!