Sunday, August 28, 2011

Munajat Akhir Ramadhan


“Ya Allah, doa apakah yang selayaknya kupanjatkan kepada-Mu di akhir bulan-Mu yang mulia ini? Sebelum ini, setiap siang dan malam, pelbagai doa telah kumohonkan kepada-Mu, sesuai dengan perintah-Mu, ‘Berdoalah kalian, niscaya akan Aku penuhi doa kalian.' Walau sejatinya Engkau sejak awal telah tahu dan tetapkan segala sesuatu yang paling tepat dan layak untuk setiap hamba-Mu,” gumam penulis tadi, di dini hari di rumah yang sangat sunyi. Sendiri.

Entah kenapa, dalam kesunyian yang benar-benar sangat sunyi tersebut, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Madinah. Kali ini, entah kenapa pula, yang membara dalam benak adalah sosok seorang sahabat yang santun dan berperilaku sangat lurus: Abu Bakar Al-Shiddiq. Lembaran sejarah Islam menorehkan, khalifah pertama dalam sejarah Islam (berkuasa antara 11-13 H/632-634 M) ini bernama lengkap ‘Abdullah ibn Abu Quhafah ‘Utsman ibn ‘Amir ibn ‘Umar ibn Ka‘b ibn Sa‘d ibn Taim ibn Murrah ibn Ka‘b ibn Lu’ayyi ibn Thalib ibn Fihr ibn Nadr ibn Malik at-Taimi al-Qurasyi, dengan nama ‘Abdul Ka‘bah. Sedangkan ibundanya, Ummu Khair Salma ibnti Sakhr, seorang wanita dari suku Quraisy. Ia lahir dua tahun setelah Tahun Gajah. Dengan kata lain, ia lebih muda dua tahun dari Rasul Saw., yakni lahir pada 573 M.

Khalifah yang berasal dari Bani Tamim ini telah menjadi sahabat karib Rasul Saw. sebelum beliau menjadi Nabi. Malah, beliaulah yang mengubah namanya menjadi bernama ‘Abdullah. Kemudian, ketika beliau diutus sebagai nabi, pedagang yang berbudi dan hidup berkecukupan ini menjadi pria dewasa pertama yang mengakui kedudukan beliau sebagai nabi. Keislamannya mendorong sejumlah tokoh Quraisy mengikuti jejak langkahnya. Di antara mereka adalah ‘Utsman ibn ‘Affan, Al-Zubair ibn Al-‘Awwam, Sa‘d ibn Abu Waqqash, dan ‘Abddurrahman ibn ‘Auf.

Ketika Rasul Saw. meninggalkan Makkah, pada malam hari 12 Rabi‘ Al-Awwal tahun pertama Hijrah yang bertepatan dengan 28 Juni 622 M, dan berhijrah ke Madinah, Abu Bakar dipilih beliau untuk menyertai beliau. Kemudian, ketika Rasul Saw. wafat, ia diangkat sebagai khalifah. Jabatan itu ia duduki melalui pemilihan dalam satu pertemuan yang berlangsung pada hari kedua setelah Rasulullah saw wafat dan sebelum jenazah beliau dimakamkan. Itulah antara lain yang menyulut kemarahan keluarga Nabi Muhammad saw, khususnya Fathimah Al-Zahra’: mengapa mereka demikian terburu-buru mengambil keputusan tentang pengganti Rasul Saw. sebelum pemakaman dan tidak mengikutsertakan keluarga dekat beliau. Tetapi, penyelenggaraan pertemuan di Tsaqifah Bani Sa‘idah tersebut sejatinya tidak direncanakan terlebih dahulu. Sebaliknya, pertemuan itu berlangsung karena terdorong keadaan yang sangat genting.

Selepas Rasul Saw. dimakamkan di rumah ‘A’isyah, pada Selasa petang, menjelang shalat ‘Isya’ di Masjid Nabawi, Abu Bakar Al-Shiddiq mengucapkan pidato kekhalifahannya yang pertama di hadapan kaum Muhajirun dan kaum Anshar yang membentuk tiang agung kekuatan Islam kala itu. Dan, selama Abu Bakr menduduki jabatan khalifah, Islam kian mengepakkan sayapnya. Agama ini pun mulai memasuki kawasan yang berada di bawah kekuasaan Imperium Romawi dan Persia. Namun, karena masa pemerintahannya yang pendek, perluasan ke arah kedua kawasan itu baru benar-benar terpancang kuat pada masa pemerintahan ‘Umar ibn Al-Khaththab.

Tokoh yang mendapat gelar “Al-Shiddiq”, karena membenarkan perjalanan Isra’ dan Mi‘raj yang dilakukan Rasul Saw., berpulang pada Senin, 22 Jumadil Akhir 13 H/22 Agustus 634 M, dengan meninggalkan enam putra-putri: ‘Abdullah (meninggal dunia pada tahun pertama kekhilafahan sang ayah), Asma’ (istri Al-Zubair ibn Al-‘Awwam), ‘Abdurrahman, ‘A’isyah (istri Rasul Saw.), Muhammad (gubernur Mesir pada masa pemerintahan ‘Ali ibn Abu Thalib), dan Ummu Kaltsum (lahir selepas Abu Bakar berpulang).

Nah, menjelang Abu Bakar Al-Shiddiq berpulang, sejumlah sahabat mendatangi sang khalifah yang kala itu sedang sakit. Selepas berbagi sapa sejenak dengan mertua tercinta Rasul Saw. itu, mereka kemudian berucap kepadanya, “Wahai khalifah Rasulullah saw. Bekalilah kami. Sesungguhnya kami melihat kemuliaan ada pada dirimu.”
“Wahai saudara-saudaraku,” jawab Abu Bakar Al-Shiddiq seraya menahan sakit. “Perlu kalian ketahui, barang siapa mengucapkan doa berikut dan kemudian ia mati, ruhnya akan berada di ufuk yang nyata.”
“Apakah ufuk yang nyata itu?” tanya mereka penuh rasa ingin tahu dan penasaran.
“Kawasan nyaman lagi menawan di depan ’Arsy. Di situ terdapat taman-taman Allah, sungai-sungai, dan pohon-pohon yang setiap hari dilimpahi seratus rahmat. Barang siapa mengucapkan doa berikut yang termaktub dalam kandungan pelbagai ayat-ayat Al-Quran ini, Allah Swt. akan menjadikan ruhnya di tempat itu:

Ya Allah, sungguh, Engkaulah yang memulai penciptaan tan¬pa keperluan bagi-Mu kepada mereka. Kemudian, Engkau ciptakan mereka menjadi dua kelompok, satu kelompok untuk surga dan satu kelompok untuk neraka. Karena itu, jadikanlah aku untuk surga dan janganlah Engkau jadikan aku untuk neraka.
Ya Allah, sungguh, Engkau ciptakan makhluk menjadi beberapa kelompok dan Engkau pilah-pilah mereka sebelum Engkau menciptakan mereka. Lalu, Engkau jadikan di antara mereka orang yang celaka, orang yang bahagia, orang yang sesat, dan orang yang memeroleh petunjuk. Karena itu, ya Allah, janganlah Engkau celakakan aku dengan pelbagai perbuatan maksiat kepada-Mu. Sungguh, Engkau mengetahui segala sesuatu yang di¬lakukan setiap jiwa sebelum Engkau menciptakannya. Karena tiada tempat lari dari segala sesuatu yang Engkau ketahui, jadikanlah aku termasuk orang yang Engkau tetapkan sebagai orang senantiasa taat kepada-Mu.
Ya Allah, sungguh, tiada seorang pun menghendaki sesuatu hingga Engkau kehendaki. Karena itu, sesuai dengan kehendak-Mu, jadikanlah aku menghendaki segala sesuatu yang dapat mendekatkan diriku kepada-Mu. Sung¬guh, Engkaulah yang menentukan setiap gerak hamba-hamba-Mu. Sehingga, tidaklah bergerak sesuatu pun kecuali dengan izin-Mu. Karena itu, jadikanlah segala ¬gerakku dalam takwa kepada-Mu.
Ya Allah, sungguh, Engkaulah yang menciptakan kebaikan dan kejelekan. Juga, Engkau jadikan bagi masing-masing dari keduanya orang-orang yang melakukannya. Karena itu, jadikanlah aku termasuk yang terbaik di antara dua bagian itu.
Ya Allah, sungguh, Engkau telah menciptakan surga dan neraka. Juga, Engkau jadikan penghuninya bagi masing-masing dari keduanya. Karena itu, jadikanlah aku termasuk penghuni surga-Mu, ya Allah! Sungguh¬, manakala Engkau menghendaki suatu kaum menuju kesesatan, maka Engkau sempitkan dada mereka karenanya. Karena itu, ya Allah, bukalah dadaku untuk menerima iman dan hiaskanlah iman dalam kalbuku.
Ya Allah, sungguh, Engkau mengatur segala sesuatu dan menjadikan tempat kembali mereka kepada-Mu. Karena itu, hidupkanlah aku selepas mati dengan kehidupan yang baik dan dekatkanlah aku kepada-Mu sedekat-dekatnya. Dan, walau ada orang-orang yang kala pagi maupun senja hari kepercayaannya dan ha¬rapannya adalah kepada selain Engkau, namun Engkaulah kepercayaan dan harapanku. Tiada daya dan upaya selain dengan pertolongan-Mu, Amin
.”

Teringat doa Abu Bakar Al-Shiddiq tersebut, penulis menjadikan doa tersebut sebagai munajat di dini hari tadi. Kiranya Allah Swt. menerima doa yang indah tersebut, Amin ya Mujib Al-Sa’ilin.

Dan, sebagai penutup tulisan di bulan Ramadhan ini, sebagai manusia yang tidak luput dari kekurangan, kesalahan, kekhilafan, kealpaan, dan tindakan, sikap, dan ungkapan kata yang tidak menyenangkan dan menyakitkan, penulis memohon maaf sebesar-besarnya dan “Allahumma Taqqabbal Shiyamana wa Ij‘alna min al-‘Aidin wa al-Faizin wa al-Maqbulin, Kullu Sanah wa Antum bi Khair, Selamat Id Mubarak”. (arofiusmani.blogspot.com/)

Saturday, August 27, 2011

Dicari: Orang yang Memiliki Sikap Berbeda


Tadi malam, selepas melaksanakan shalat tarawih, entah kenapa tiba-tiba dalam benak penulis membara hasrat untuk menulis. Tetapi, sayangnya, walau tangan masih cekatan “menari”, kedua mata penulis ternyata enggan diajak “menari” bersama. Karena itu, segera laptop pun penulis matikan. Nah, begitu laptop mati, ternyata ganti kedua mata itu yang begitu bersemangat “menari-nari” di antara deretan buku yang ada di rak buku. Selepas beberapa lama “menari-nari” di antara deretan buku, entah kenapa kedua mata itu tiba-tiba berhenti bergerak dan kemudian menatap tajam ke sebuah buku dengan judul Nasihat Al-Muluk, Nasihat kepada Raja-raja. Buku itu merupakan hasil goresan tangan seorang ulama, pemikir, dan sufi kondang di Masa Pertengahan, Abu Hamid Al-Ghazali.

Segera, benak penulis pun “melayang-layang”. Segera pula penulis teringat, buku itu merupakan hadiah dari seorang sahabat, seorang dosen di Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Surakarta dan kandidat doktor di Universiti Malaya, Kuala Lumpur, Malaysia. Buku yang diterbitkan Dewan Bahasa dan Pustaka Malaysia tersebut, menurut Dr. Jelani Harun dalam kata pengantar karya itu, masuk dalam genre “Mirror for Princess”. Lebih jauh Dr. Jelani Harun menyatakan, dari sisi sejarah genre “Mirrors for Princes” telah lama hadir dalam tradisi keilmuan Islam. Antara lain lewat karya seperti Kitâb Al-Sulthân, oleh Ibn Qutaibah, Kitâb Al-Tâj, oleh Al-Jahizh, dan beberapa karya lain.

Sementara menurut C.E. Bosworth, dalam tulisannya “An Early Arabic Mirrors of Princess: Tahir Dhul-Yaminain’s Epistle to His Son Abdallah (206 H/821 M)”, penulisan genre “Mirrors for Princes” dalam kesusastraan Arab telah bermula semenjak awal tahun 205 H/820 M, melalui karya Kitâb Al-Baghdâd oleh Ibn Thaifur. Pada 516 H/1122 M, karya “Mirrors for Princess” dalam tradisi Arab terus berkembang dengan kelahiran Sirâj Al-Mulûk oleh Al-Turthusi. Perkembangan genre “Mirrors for Princess” mencapai puncaknya sekitar abad ke-10 dan ke-11 M, melalui tiga karya Persia yang cukup terkenal, yaitu Siyasatnama/Siyâr Al-Mulûk (409-485 H/1018-1092 M) oleh Nizham Al-Muluk, Qabusnama (475 H/1082 M) oleh Kay Kaus bin Iskandar, dan Nasîhâh Al-Mulûk oleh Al-Ghazali (450-504 H/1058-1111 M).

Nah, berikut adalah salah satu contoh genre “Mirror for Princess” tersebut:

Resah dan gelisah, itulah kondisi batin Harun Al-Rasyid tidak lama selepas menjabat khalifah, atau orang nomor satu, Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak. Kala itu, selama berhari-hari, betapa ia senantiasa resah karena satu masalah yang mengganjal dalam hatinya: seorang ulama terkemuka dan mulia yang ia segani tidak kunjung menyampaikan ucapan selamat kepadanya, seperti halnya ulama-ulama yang lain. Alih-alih datang ke istananya. Padahal, sebelum menjabat khalifah, ia sangat akrab dan dekat dengan ulama yang satu itu. Tapi, kini, selepas ia menjadi penguasa, ulama yang bermukim di Kufah itu hilang seakan ditelan bumi dan tidak pernah bertandang kepadanya lagi. Ulama itu tidak lain adalah Sufyan Al-Tsauri.

Ulama yang sangat disegani Harun Al-Rasyid itu adalah seorang tabi‘in yang ahli hukum Islam dan sufi terkemuka pada abad ke-2 H/8 M. Lahir di Kufah pada 97 H/715 M, ia bernama lengkap Abu ‘Abdullah Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri Al-Kufi. Sesuai dengan tradisi yang berkembang kala itu, ia mula-mula menimba ilmu kepada ayahandanya. Usai mendapat “pembinaan” dari sang ayahanda, tokoh yang pernah menyatakan bahwa “barang siapa kikir dengan ilmu yang dimilikinya, sejatinya ia mengharapkan tiga petaka: lupa akan ilmunya, mati tanpa sempat memanfaatkan ilmunya, atau kehilangan buku-bukunya” ini lantas memperdalam ilmu kepada sejumlah ulama, antara lain kepada Al-Hasan Al-Bashri. Usai memperdalam ilmu kepada sejumlah ulama, namanya segera mencuat sebagai ahli hukum Islam yang berwawasan luas dan mandiri. Tidak aneh bila di bidang ini, nama ahli hukum yang menopang penghidupannya dengan berdagang ini dapat disejajarkan dengan para mujtahid terkemuka. Namun, ia tidak hanya seorang pakar di bidang hukum Islam semata. Ia juga terkenal sebagai seorang pakar hadis yang menuturkan banyak hadis. Tidak aneh, karena kepakarannya di bidang terakhir ini, ulama yang sangat berpegang teguh pada Al-Quran dan Sunnah ini mendapat julukan “Amir Al-Mu’minin” di bidang hadis.

Atas saran pelbagai pihak, Harun Al-Rasyid akhirnya menulis sepucuk surat kepada Sufyan Al-Tsauri:

Bismillâhirrahmanirrahim.

Dari hamba Allah, Harun Al-Rasyid, Amir Al-Mukminin, kepada saudaranya, Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri.

Wahai saudaraku! Engkau tentu tahu, Allah Swt. telah mempersaudarakan di antara orang-orang beriman. Dia menjadikan hal yang demikian itu di jalan-Nya dan karena-Nya. Perlu engkau ketahui, aku telah mempersaudarkan diriku denganmu dengan tali persaudaran yang tidak akan kuputuskan selamanya dan kasih sayang yang timbul darinya tidak akan kupotong apa pun halnya. Kesenanganku berkumpul denganmu lebih tinggi daripada kesenangan dan keinginan terbaik. Andai tiada belenggu (jabatan) ini, yang dibebankan Allah Swt., tentu akan kudatangi tempatmu, karena rasa cinta yang terpancang kuat dalam hatiku kepadamu. Walau dengan merangkak sekali pun.

Wahai Abu ‘Abdullah! Ketahuilah, tiada seorang pun di antara teman-temanku dan teman-temanmu yang belum bertandang kepadaku untuk mengucapkan selamat kepadaku, karena jabatan yang kini kupangku. Aku telah membuka sejumlah bait al-mâl. Aku pun telah memberikan pelbagai hadiah kepada mereka. Semua itu begitu menggembirakan hatiku dan menyedapkan mataku. Sungguh, aku menanti kedatanganmu yang amat terlambat. Tapi, hingga pun kini, ternyata engkau tidak kunjung bertandang juga. Karena itu, kutulis surat ini kepadamu. Hatiku begitu rindu kepadamu.

Wahai Abu ‘Abdullah! Engkau tentu tahu ajaran agama perihal keutamaan orang beriman, kunjungannya, dan silaturahmi. Karena itu, manakala surat ini telah sampai kepadamu, segeralah bertandang kepadaku.

Wassalâmu ‘alaikum wa Rahmatullâh wa Barakâtuh.


Ketika menerima surat itu, dan mengetahui isinya, Sufyan Al-Tsauri, yang tidak mau menyentuh sama sekali surat itu, lantas berucap kepada orang yang membacakan surat itu, “Baliklah surat itu! Tulis jawabannya kepada orang zalim itu di baliknya!”
“Wahai Abu ‘Abdullah,” ucap seseorang yang hadir kala itu mencoba meredakan rasa tidak senang Sufyan Al-Tsauri kepada Harun Al-Rasyid selepas menjadi khalifah. “Ia seorang khalifah, lo. Bagaimana kalau jawaban itu ditulis di selembar kertas bersih yang belum ada tulisannya?”
“Tulislah jawaban kepada orang zalim itu di balik surat itu!” sahut ulama yang berpulang ke hadirat Allah di Makkah pada 161 H/778 M itu dengan suara melengking. “Bila kertas itu didapatkan dari harta halal, tentu amalnya akan dibalas Allah Swt. Sedangkan bila kertas itu didapatkannya dari harta haram, tentu ia akan dimasukkan ke dalam neraka. Dan, tiada sesuatu pun yang disentuh orang zalim dan diserahkan kepada kita melainkan akan merusakkan agama kita!”
“Apakah yang kami tulis?”

Sufyan Al-Tsauri lantas mendiktekan sebagai berikut:

Bismillâhirrahmanirrahîm.

Dari hamba Allah yang berdosa, Sufyan bin Sa‘id bin Al-Mundzir Al-Tsauri, kepada seorang hamba Allah yang banyak berangan-angan dan mencabut manisnya iman seseorang, Harun Al-Rasyid.

Ammâ ba‘d. Sungguh, lewat tulisan ini kuberitahukan kepadamu, sejatinya silaturahmi denganmu telah kuputuskan. Juga, kecintaan kepadamu telah kupotong. Aku sangat tidak suka terhadap jabatan yang kini kaupangku. Engkau pun telah menjadikan aku sebagai saksi atas dirimu, dengan pengakuanmu atas dirimu dalam suratmu, dengan seranganmu terhadap bait al-mâl kaum Muslim. Engkau telah membelanjakannya di jalur yang bukan yang semestinya dan telah menghabiskannya untuk hal-hal yang tidak selaras dengan ketentuannya. Kemudian, engkau merasa tidak senang dengan yang kulakukan, sedangkan engkau jauh dariku, hingga engkau torehkan surat kepadaku. Engkau jadikan aku saksi atas dirimu. Sungguh, aku telah bersaksi atas dirimu dan teman-temanku yang menyaksikan pembacaan suratmu. Kesaksian itu akan kami tunaikan atas dirimu. Kelak di hadapan Allah Swt.

Wahai Harun! Engkau telah menyerang bait al-mâl kaum Muslim tanpa kerelaan mereka. Akan relakah, akibat tindakanmu itu, para muallaf, para pejuang di jalan Allah, dan para musafir? Akan relakah, akibat tindakanmu itu, para pendukung Al-Quran, para ulama, perempuan-perempuan janda, dan anak-anak yatim? Akan relakah, akibat tindakanmu itu, khalayak ramai dari kalangan rakyatmu? Karena itu, wahai Harun, ikatlah kainmu! Sediakanlah jawaban untuk setiap pertanyaan.

Wahai Harun! Ketahuilah, engkau akan berdiri di hadapan Hakim Yang Mahaadil. Sungguh, engkau telah menanam bahaya terhadap dirimu sendiri. Ini, karena engkau telah meniadakan manisnya ilmu, kezahidan, kelezatan Al-Quran, dan pergaulan dengan orang-orang pilihan. Engkau relakan dirimu sendiri menjadi orang zalim dan panutan orang-orang zalim.

Wahai Harun! Kini, engkau duduk di atas kursi kebesaran. Engkau kenakan kain sutra. Engkau pasang tirai di pintumu. Engkau serupakan dirimu dengan Tuhan semesta alam dengan penjaga-penjaga yang mengawalmu. Kemudian, engkau tempatkan tentara-tentaramu yang zalim di pintu dan tiraimu. Walau mereka acap berbuat kezaliman kepada khalayak ramai, tapi mereka tidak kunjung insaf. Mereka memukul orang-orang yang menenggak minuman keras, padahal mereka sendiri juga menenggak minuman itu. Mereka menghukum orang yang berzina, padahal mereka sendiri juga para pezina. Mereka memotong tangan orang yang mencuri, padahal merela sendiri juga para pencuri. Apakah hukuman-hukuman itu tidak lebih layak ditimpakan atas dirimu dan diri mereka, sebelum engkau menghukum orang lain?

Wahai Harun! Karena itu, bagaimanakah engkau kelak, manakala dipanggil di hadapan Allah Swt, “Kumpulkanlah orang-orang zalim dan istri mereka! Manakah orang-orang zalim itu dan para penolongnya?” Lantas, pemanggil itu membawa dirimu di hadapan Allah Swt., sedangkan kedua tanganmu dibelenggu di lehermu. Tiada yang kuasa melepaskan belenggu itu selain keadilan dan keinsafanmu. Orang-orang zalim itu sendiri berada di seputarmu. Engkaulah yang mendahului mereka dan menjadi panutan mereka menuju neraka.

Wahai Harun! Seakan antara aku denganmu telah engkau tempatkan pencekik leher dan pelbagai halangan. Engkau lihat kebaikanmu dalam timbangan orang lain dan keburukanmu dalam timbanganmu. Karena itu, perhatikanlah pesanku ini. Ambillah pelajaran dari arahan yang kukemukakan kepadamu.

Ketahuilah, aku telah menasihati engkau dan tiada yang tersisa untuk tidak kukemukakan kepadamu. Takutlah kepada Allah, wahai Harun, dalam kaitannya dengan rakyatmu. Jagalah Muhammad Saw. dalam kaitannya dengan umatnya. Dan, baguskanlah kekhalifahan atas diri mereka.

Ketahuilah pula, manakala tugas ini ditetapkan atas diri orang lain, tentu tugas itu tidak akan sampai kepadamu dan menjadi hak orang lain. Ini bagaikan dunia yang penghuninya berpindah, satu demi satu. Di antara mereka ada yang mencari perbekalan yang bermanfaat. Tapi, ada juga yang merugi, baik di dunia maupun akhirat. Menurutku, wahai Harun, engkau termasuk yang merugi. Baik di dunia maupun akhirat. Karena itu, jagalah dirimu. Juga, jagalah dirimu agar tidak menulis surat lagi kepadaku selepas ini, karena tidak akan kujawab nanti.

Wassâlamu‘alaikum wa Rahmatullâh wa Barakâtuh.


Ketika surat itu diserahkan kepada Harun Al-Rasyid, penguasa itu segera membacanya penuh perhatian. Begitu membaca jawaban Sufyan Al-Tsauri itu, Al-Rasyid pun tidak kuasa menahan lelehan air matanya dan berkali-kali menarik napas panjang. Melihat hal itu, seorang pejabat yang hadir kala itu berucap kepadanya, “Wahai Amir Al-Mukminin! Betapa lancang Sufyan Al-Tsauri! Mungkin lebih baik engkau perintahkan agar ia menghadap kepadamu di sini. Lantas, setibanya di sini, belenggu dan jebloskan ia ke dalam bui yang sangat sempit. Biar menjadi pelajaran bagi orang-orang lain.”
“Tinggalkan aku, hai budak-budak dunia yang gemar memerdayakan orang lain!” hardik Harun Al-Rasyid. “Kasihan sekali orang-orang yang telah kalian binasakan! Sungguh, Sufyan adalah satu-satunya orang yang memiliki sikap berbeda. Biarkan dia dengan sikap dan tindakannya yang demikian itu!”

Surat itu kemudian senantiasa dibawa Harun Al-Rasyid dan dibacanya setiap kali usai melaksanakan shalat hingga ia berpulang. (arofiusmani.blogspot.com/)

Friday, August 26, 2011

Lo, Imam Al-Syafi'i Tidak Shalat Tahajjud?


“Alhamdulillah, buku-buku yang Anda kirimkan kepada saya telah sampai.” Demikian pesan penulis kemarin kepada seorang sahabat, seorang mahasiswa asal Cirebon yang sedang mengikuti program pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir dan sedang pulang ke Indonesia. Dua buku itu adalah dua buku menarik yang disusun dua ulama dan pemikir kondang dari Negeri Piramid: Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dan Dr. Muhammad ‘Imarah. Dua ulama terkemuka itu memang terkenal sebagai pemikir-pemikir yang disegani di Dunia Islam. Buku pertama tentang “Lagu dan Musik Menurut Al-Quran dan Sunnah”. Sedangkan buku kedua tentang “Al-Bukhari dan Muslim, Dua Tokoh Hadits”.

Melihat dua karya penting tersebut, malam harinya penulis pun segera terasyikkan dalam menyimak dan mencermati kedua karya itu. Menyimak kedua karya itu, penulis kian tersadarkan, betapa Hukum Islam demikian luas. Dan, hukum itu tidak dapat dimengerti dan difahami dengan baik bila kita menggunakan “pandangan mata kuda”: pandangan picik yang melihat hukum itu dari aspek yang sempit. Mengenai lagu dan musik saja, hingga dikaji Dr. Yusuf Al-Qaradhawi dalam 255 halaman, ternyata pembahasan para ulama dan pakar demikian mendalam dan luas. Dan, ternyata pula, para ulama dan pakar Hukum Islam telah semenjak lama telah membahas persoalan lagu dan musik.

Entah kenapa, ketika sedang asyik “menikmati” dua karya tersebut, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang”, teringat kisah memikat tentang dua raksasa di bidang Hukum Islam: Imam Ahmad ibn Hanbal dan Imam Al-Syafi’i. Juga, pendekatan mereka dalam memahami dan memaknai kehidupan sehari-hari menurut ajaran Islam. Berikut kisahnya:

Betapa gembira hati putri Ahmad bin Hanbal hari itu. Ahmad bin Hanbal adalah seorang ahli hadis, hukum Islam, dan ilmu kalam yang juga salah seorang tokoh dari empat imam mazhab fikih. Bernama lengkap Abu ‘Abdullah Ahmad bin Muhammad bin Hanbal bin Hilal bin Asad Al-Syaibani Al-Bashri, ia lahir di Baghdad pada Rabi‘ Al-Akhir 164 H/Desember 780 M. Lantas, ketika masih menyusu, ia dibawa ibundanya pindah ke Baghdad. Tokoh yang telah hapal Al-Quran sejak dini ini gemar merantau untuk memperluas wawasan keilmuannya. Di antara gurunya kala itu adalah Abu Yusuf, sejawat dan murid Abu Hanifah Al-Nu‘man. Guru-gurunya yang lain, antara lain, adalah Hasyim bin Basyir. Ia menjadi murid Hasyim bin Basyir hingga sang guru berpulang ke hadirat Allah Swt. pada 183 H/799 M. Selepas itu, ia belajar di bawah bimbingan Abu Yusuf. Bertolak dari Baghdad, pada 186 H/802 M, Ahmad muda lantas menapakkan kakinya menuju Bashrah. Dari sana, ia lalu menuju Kufah. Selanjutnya ia menuju Makkah dan kemudian ke San‘a, Yaman.

Tak aneh bila Imam yang satu ini memiliki sederet guru, antara lain ‘Abdullah bin Al-‘Abbas, Sufyan bin ‘Uyainah, Yahya bin Sa‘id Al-Qaththan, Yazid bin Harun, Abu Dawud Al-Thayalisi, Waki‘ bin Al-Jarrah, Al-Hasan bin Ziyad, ‘Abdurrazzaq Al-Shan‘ani, dan Ibn Hammam. Selain itu, ia juga sempat bertemu dengan dan menimba ilmu dari Al-Syafi‘i, pengasas Mazhab Syafi‘i, di Makkah dan Baghdad. Dan, sejak 204 H/817 M, ia menetap di Baghdad sampai berpulang ke hadirat Allah pada Jumat, 12 Rabi‘ Al-Awwal 241 H/31 Juli 855 M. Di kota itu pula ia meniti kehidupannya untuk menebarkan ilmu, terutama ilmu hadis. Karena keluasan ilmunya, ia segera berhasil memikat banyak murid, antara lain para ahli terkemuka seperti Al-Bukhari, Muslim bin Al-Hajjaj, dan Abu Dawud Al-Sijistani.

Kegembiraan putri ulama yang kala berpulang meninggalkan sederet karya tulis, antara lain Al-Musnad, yang menghimpun sekitar tiga puluh ribu hadis, Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, ‘Ilal Al-Hadîts wa Ma‘rifah Al-Rijâl, Al-Radd ‘ala Al-Jahmiyyah wa Al-Zanâdiqah, Fadhâ’il Al-Shahâbah, Kitâb Al-Shalâh wa Mâ Yalzam Fîhâ, Kitâb Al-Sunnah, dan Kitâb Al-Zuhd itu dipicu oleh kabar gembira dari sang ayahanda yang akan menerima kunjungan seorang guru yang acap ia bincangkan bersama sang putri. Sang putri tahu, ayahandanya acap menyanjung gurunya yang lahir di Gazza, Palestina itu, karena keluasan ilmu dan wawasannya. Karena itu, ia ingin tahu bagaimanakah sejatinya akhlak dan perilaku tokoh yang pernah menyatakan bahwa “perhiasan yang paling indah yang dikenakan ulama adalah kedamaian hati (qanâ‘ah), kepapaan, dan ridha” itu.

Benar saja, Al-Syafi‘i tak lama selepas itu datang berkunjung ke rumah Ahmad bin Hanbal. Kemudian, ketika larut malam tiba, ulama yang berpulang Jumat, 30 Rajab 204 H/ 20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir meminta izin kepada tuan rumah untuk beristirahat. Selama Al-Syafi‘i beristirahat malam itu, putri Ahmad bin Hanbal sengaja begadang dan mengamati apa saja yang dilakukan tamu mulia ayahandanya itu.

Kemudian, pagi harinya, seusai melaksanakan shalat subuh, sang putri memberanikan diri bertanya kepada ayahandanya dengan suara lirih, “Wahai ayahanda! Benarkah dia Al-Syafi‘i yang acap ayahanda bincangkan tentang kebaikan dan ketakwaannya itu?”
“Benar, wahai putriku,” jawab sang ayahanda penasaran. “Dia memang adalah Al-Syafi‘i yang acap kubincangkan denganmu. Ada apa?”
“Wahai ayahanda,” jawab sang putri tetap dengan suara pelan. “Semalam, saya sengaja tak memejamkan mata. Betapa saya ingin sekali tahu perihal perilaku guru ayahanda yang satu itu. Sejak guru dan tamu ayahanda itu datang, saya senantiasa mencermati seluruh gerak dan lakunya. Ternyata, selama itu, saya mengamati tiga hal yang saya sayangkan terhadap diri guru dan tamu ayahanda itu. Ketika saya menghidangkan makanan, duh, ternyata ia lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan. Ketika ia sedang beristirahat, ternyata ia sama sekali tak melakukan shalat malam dan tahajud. Dan, ketika ia menjadi Imam shalat subuh tadi, ternyata ia tak berwudhu!”

Tentu, sang ayahanda kaget sekali dan sangat penasaran mendapat penjelasan dari putrinya tentang Imam besar yang dalam menetapkan hukum memadukan antara metoda Hijaz dan metoda Irak, yakni memadukan antara lahiriah teks-teks landasan hukum Islam dengan rasio, itu. Karena itu, selepas berbagi sapa beberapa lama, Imam yang salih dan hidup sederhana itu pun mengemukakan kepada Al-Syafi‘i perihal pengamatan putrinya.

Mendengar pertanyaan demikian, wajah Al-Syafi‘i tak menunjukkan rasa tak senang sama sekali. Malah, ia menjawab dengan wajah berbinar, “Wahai Imam Ahmad! Memang saya lahap sekali menyantap hidangan yang disajikan tersebut. Ini karena saya tahu, makanan yang kalian sajikan adalah makanan yang halal dan baik. Engkau adalah seorang ulama mulia. Sedangkan makanan yang disajikan orang mulia dan halal adalah obat. Berbeda dengan makanan orang pelit yang malah dapat menjadi penyakit. Jadi, saya makan tidaklah untuk memuaskan selera makan saya. Tapi, saya makan untuk berobat dengan makanan yang disajikan semalam. Sedangkan berkenaan dengan malam yang saya lewatkan tanpa shalat malam atau tahajud, semalam seakan saya melihat Al-Quran dan Sunnah Rasul Saw. ada di depan mata saya. Sehingga, dengan merenungi keduanya, saya menemukan kesimpulan tujuh puluh dua masalah fikih yang bermanfaat bagi kaum Muslim. Akibatnya, saya tak memiliki kesempatan untuk melaksanakan shalat malam. Dan, berkenaan dengan shalat subuh tanpa wudhu, sejatinya karena sepanjang malam saya tak tidur sama sekali dan tiada sesuatu pun yang membatalkan wudhu saya. Sehingga, saya shalat subuh dengan wudhu shalat isya.”

Betapa lega Ahmad bin Hanbal mendengar jawaban Al-Syafi’i tersebut yang tak selaras dengan pengamatan putrinya. Demikian pula putrinya yang mendengarkan penjelasan guru ayahandanya itu dari balik tirai. Malah, Ahmad bin Hanbal kemudian menekankan kepada putrinya bahwa hasil perenungan Al-Syafi’i yang bermanfaat bagi kemaslahatan kaum Muslim itu jauh lebih utama nilainya dibandingkan dengan shalat malam yang dilakukannya. (arofiusmani.blogspot.com/)

Thursday, August 25, 2011

Ramadhan dan Kisah Buah Apel


“Ya Allah, mengapa bulan Ramadhan begitu cepat melintas,” gumam pelan penulis sembari mencermati bintang-bintang yang bertebaran di langit cerah tadi dini hari dari balkon. Memang, selepas Ramadhan melintasi paruh pertamanya, entah kenapa penulis suka “mengintip” langit di dini hari. Sembari mencermati langit indah di dini hari, tiba-tiba penulis tersadarkan, di antara pelbagai hikmah Ramadhan yang penulis gapai pada tahun ini, dalam hubungan antarmanusia, hikmah kesabaranlah yang paling penulis dambakan. Mengapa kesabaran? Penulis merasa, kesabaran begitu besar maknanya baginya dalam menghadapi pelbagai godaan dan cobaan dalam kehidupan dewasa ini yang kian “menggoda”.

Entah kenapa, ketika sedang merenungkan hikmah Ramadhan tersebut, tiba-tiba penulis teringat kesabaran Tsabit bin Ibrahim, ayahanda Abu Hanifah Al-Nu‘man, pendiri Mazhab Hanafi, dalam menghadapi godaan sebuah apel nan lezat. Ternyata, dengan kesabarannya dalam menghadapi godaan buah apel nan lezat tersebut, hikmah luar biasa ia raih. Bagaimana kisah Tsabit bin Ibrahim tersebut? Berikut kisahnya:

“Duh, betapa lezat buah-buah apel itu,” gumam Tsabit bin Ibrahim ketika melintasi sebuah kebun apel luas selepas menempuh perjalanan panjang untuk meraih ilmu. Apalagi hari itu bekalnya telah habis dan tubuhnya terasa sangat lelah tak terkira. Karena itu, ia lantas memasuki kebun yang sedang tak dijaga itu dan kemudian melihat buah-buah apel yang ada di dalamnya. Lama, ia menatap satu demi satu buah-buah apel ranum yang sangat membangkitkan seleranya itu.

Sejenak Tsabit bin Ibrahim kemudian menghentikan langkah-langkahnya dan kemudian duduk di dekat sebuah pohon apel yang ranum buah-buahnya. Akhirnya, selepas lama menatap satu buah apel di pohon itu, tangannya terjulur ke arah buah itu dan memetiknya. Dan, kemudian, ia pun menyantap separohnya dan minum air jernih sungai yang ada di sebelah kebun itu. Tapi, tiba-tiba hati nuraninya mengingatkannya bahwa ia telah berbuat kesalahan: kebun dan buah apel itu bukan miliknya. Ia pun bergumam dengan hati yang perih dan sedih, “Wahai Tsabit! Betapa hina engkau ini. Betapa beraninya engkau memakan buah milik orang lain, tanpa meminta izin kepadanya?”

Kejadian itu benar-benar membuat Tsabit bin Ibrahim menyesal. Ia pun bertekad tak akan meneruskan perjalanannya, hingga bertemu dengan pemilik kebun itu. Ia akan meminta maaf atas tindakannya yang telah menyantap separoh apel tanpa izin. Karena itu, ia lantas mencari rumah pemilik kebun itu. Selepas berhasil menemukan rumah pemilik kebun apel itu dan berbagi sapa sejenak dengannya, ia pun berucap, “Wahai Tuan! Mohon kiranya saya dimaafkan. Tadi, tanpa seizin Tuan, saya memasuki kebun apel milik Tuan. Lalu, karena lapar dan lalai, saya memetik satu buah apel dan memakan separoh buah itu. Kemudian saya sadar, buah apel itu bukan milik saya. Karena itu, saya mohon kiranya Tuan berkenan memaafkan saya, juga mengikhlaskan separoh buah apel yang saya makan.”

Sejenak pemilik kebun tercenung dan kagum atas kejujuran anak muda yang ada di hadapannya itu. Lantas, ucapnya, “Wahai anak muda! Sungguh, saya tak kuasa merelakan tindakanmu. Betapa tak terpuji dan tak termaafkan tindakanmu itu. Kecuali bila engkau mau menerima satu syarat!”
“Apa syarat yang Tuan minta?” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu dan tentu saja penasaran.
“Anak muda,” jawab pemilik kebun itu seraya menatap tajam wajah anak muda yang sejatinya memikat kalbunya. “Syaratnya adalah engkau harus bersedia menikah dengan putriku. Tapi, perlu engkau ketahui, putriku itu adalah seorang gadis buta, dengan kata lain tak kuasa melihat. Juga, ia tuli, dengan kata lain tak kuasa mendengar. Dan ia juga bisu, dengan kata lain tak kuasa berbicara!”

Sedih, bingung, dan tak tahu harus menjawab bagaimana, begitu Tsabit bin Ibrahim mendengar satu syarat “pembebasan” dirinya dari kealpaan, keteledoran, dan kesalahan yang telah dilakukannya itu. Menikah dengan seorang gadis buta, bisu, dan tuli? Duh, siapakah mau menerima gadis demikian hanya karena kesalahan menyantap separoh buah apel. Berat nian persyaratan yang diajukan pemilik kebun itu.
“Duh, apakah akan kuterima syarat yang benar-benar tak ringan ini. Tapi, bagaimana kalau syarat itu kutolak?” gumam Tsabit bin Ibrahim lirih dengan hati perih dan sedih. Kemudian, selepas lama berpikir dan hati nuraninya mengingatkan kealpaan, keteledoran, dan kesalahan yang telah dilakukannya, akhirnya dengan hati yang mantap ia memutuskan menerima syarat yang diajukan pemilik kebun itu. Apa pun risikonya. Bukankah hidup di dunia yang fana ini tak lama. Juga, bukankah keridhaan Allah Swt. jauh lebih berharga dan lebih bermakna.

Betapa gembira pemilik kebun itu begitu tahu kesediaan Tsabit bin Ibrahim untuk menerima syarat yang diajukannya. Ia pun segera menyiapkan acara pernikahan anak muda itu dengan putrinya yang sangat disayanginya. Dan ketika hari pernikahan tiba, betapa galau dan resah anak muda itu. Andai waktu dapat diputar kembali ke belakang, sejatinya ia tak akan memakan buah apel itu. Sehingga, ia tak menikah dengan seorang gadis buta, tuli, dan bisu yang benar-benar tak diharapkannya itu. Tapi, kini, nasi telah menjadi bubur: hal itu telah terjadi. Akhirnya, ia hanya pasrah sepenuh hati kepada Allah Swt. Dan, pernikahan itu pun dilangsungkan.

Namun, betapa kaget Tsabit bin Ibrahim ketika bertemu dengan dengan gadis yang baru dinikahinya itu. Ternyata, gadis itu sangat cantik nan jelita, petah bicara, cepat tanggap terhadap setiap kata yang didengarnya, dan kuasa menjawab dengan cerdas setiap kata setiap orang yang menanyainya. Beda sekali dengan yang dikemukakan ayahandanya ketika mengemukakan satu syarat yang harus dipenuhinya.
“Wahai istriku,” tanya Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu, juga penuh haru. “Sejatinya apa yang terjadi? Ternyata, engkau kuasa bicara, mendengar, dan melihat. Tidak sebagaimana dikemukakan ayahanda kita?”
“Suamiku tercinta,” jawab gadis nan jelita itu dengan nada suara penuh takzim kepada suaminya yang baru menyuntingnya. “Ayahanda benar-benar tak berdusta kok.”
“Tak berdusta bagaimana?” tanya lebih jauh Tsabit bin Ibrahim penuh rasa ingin tahu dan sangat penasaran.
“Ayahanda memang mengatakan apa adanya. Aku buta, dengan pengertian aku tak pernah memandang laki-laki yang tak halal bagiku. Aku tuli, dengan pengertian aku tak pernah duduk di majelis yang sarat dengan gunjingan, iri, kedengkian, dan bincang-bincang yang tak bermakna. Dan aku bisu, dengan pengertian aku tak pernah mengatakan kata-kata yang tak senonoh dan tak pernah pula berbincang dengan laki-laki yang tak halal bagiku.”

Betapa gembira Tsabit bin Ibrahim mendengar jawaban istrinya yang demikian itu. Seketika itu juga ia bersujud syukur kepada Allah Swt., atas karunia istri salihah yang tidak ia duga sebelumnya. Dan, kelak, dari pasangan suami-istri ini lahir seorang anak yang kelak menjadi seorang ulama terkemuka yang pendiri Mazhab Hanafi: Abu Hanifah Al-Nu‘man. (arofiusmani.blogspot.com/)

Wednesday, August 24, 2011

"Surat Cinta" Al-Hasan Al-Bashri


Kemarin sore, ketika penulis sedang mengikuti perkembangan pergolakan politik yang sedang terjadi di Libya, lewat channel tivi: Al-Jazeera, CNN, dan Euronews, tiba-tiba penulis tersadarkan: para penguasa di kawasan Timur Tengah yang telah berkuasa ketika penulis masih menimba ilmu di Mesir (1978-1984), dan berkuasa terlalu lama, kini telah berjatuhan. Tiba-tiba pula dalam benak penulis membara pertanyaan, “Mengapa mereka terlenakan oleh kekuasaan, sehingga kekuasaan itu mereka genggam terlalu lama. Akibatnya, kekuasaan itu pun berubah menjadi “bara” di akhir perjalanan kekuasaan mereka.” Tidakkah para pemegang kekuasaan itu sadar, selain oleh rakyat, mereka akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Sang Khalik kelak di akhirat?

Merenung demikian, entah kenapa, tiba-tiba benak penulis “melayang-layang” ke Damaskus, Suriah, teringat kegelisahan ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, penguasa ke-8 Dinasti Umawiyyah ketika menjabat sebagai khalifah. Kala itu, selama berhari-hari, betapa ia acap sulit memejamkan mata, walau malam telah sangat larut. Amanah yang ia sangga, sebagai khalifah, ternyata terasa sangat berat baginya.

Penguasa yang satu itu, sebagaimana termaktub dalam torehan sejarah Islam, terkenal adil dan bijak. Cicit ‘Umar bin Al-Khaththab ini lahir di Madinah pada 61 H/681 M (ada yang mengatakan 63 H/684 M) dan tumbuh dewasa di Helwan, Mesir hingga bersampai usia sekitar dua puluh tahun. Ia kemudian dikirim ke Madinah Al-Munawwarah, untuk menimba ilmu. Lantas, ketika ayahandanya berpulang, ia kembali ke Damaskus dan menikah dengan sepupunya, seorang putri ‘Abdul Malik bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash, penguasa kelima Dinasti Umawiyyah, bernama Fathimah. Setahun selepas itu, pada 86 H/705 M, kala berusia dua puluh enam tahun, ia diangkat Al-Walid bin ‘Abdul Malik sebagai Gubernur Madinah, menggantikan Hisyam bin Isma‘il. Selanjutnya, putra ‘Abdul ‘Aziz bin Marwan bin Al-Hakam bin Abu Al-‘Ash ini diangkat menjadi Gubernur Makkah. Selama menjabat gubernur, kedua wilayah itu menjadi kawasan yang stabil dan aman. Jabatan itu ia pegang sampai 93 H/712 M. Selepas itu, ia kembali ke Damaskus untuk menjadi menteri utama di masa pemerintahan Sulaiman bin ‘Abdul Malik. Jabatan sebagai orang nomor satu Dinasti Umawiyyah dipegang ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pada 99 H/717 M, menggantikan ipar yang juga saudara sepupunya: Sulaiman bin ‘Abdul Malik.

Tak kuasa mengatasi kegelisahan dan keresahan hatinya, akhirnya suami Fathimah binti ‘Abdul Malik dan ayahanda tiga belas putra dan putri itu mengirim sepucuk surat kepada Al-Hasan Al-Bashri, untuk meminta nasihat dan arahan. Terkenal sebagai seorang ulama generasi tâbi‘în dan sufi terkemuka abad 2 H/8 M, Al-Hasan Al-Bashri lahir di Madinah pada 21 H/642 M, di masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab, dengan nama lengkap Abu Sa‘id Al-Hasan bin Yassar Al-Bashri. Namun, kemudian keluarganya pindah ke Bashrah, selepas terjadi Perang Shiffin pada 35 H/656 M. Sehingga, ia lebih terkenal dengan sebutan “Al-Bashri” (yang asal Bashrah). Ia tumbuh dewasa di Kota Nabi dalam lingkungan yang salih dan mendalam pengetahuan agamanya. Dan, selama bermukim di Kota Suci itu, ia bertemu tak kurang dari tujuh puluh sahabat.

Tak lama selepas menerima surat dari ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Al-Hasan Al-Bashri pun segera membalasnya. Ia, antara lain, menulis, “Ammâ ba‘d. Wahai Amir Al-Mukminin! Sungguh, dunia adalah tempat berkelana, bukan tempat bermukim selamanya. Adam a.s. diturunkan dari surga ke dunia tak lain karena sebagai hukuman atas dirinya. Karena itu, waspadalah terhadap dunia. Sungguh, bekal dari dunia ini adalah sikap menghindarinya. Kekayaan dari dunia adalah kemiskinannya. Di setiap saat, sejatinya dunia melakukan pembunuhan. Juga, dunia melecehkan orang yang memuliakannya dan memiskinkan orang yang menghimpunnya. Dan, dunia laksana racun yang menelan orang yang tak mencermatinya dan kemudian mematikannya. Karena itu, berbekal di dalamnya adalah dengan meninggalkan dunia dan kekayaan di dalamnya adalah dengan kefakiran.

Wahai Amir Al-Mukminin! Hendaklah sikapmu terhadap dunia laksana sikap orang yang sedang mengobati luka dirinya. Ia menjaga diri sebentar, karena khawatir terhadap sesuatu yang tak disukainya dalam masa yang lama. Ia bersabar atas getirnya obat, karena takut atas derita yang berlama-lama. Sejatinya, orang mulia adalah orang yang berucap benar, menapakkan kaki dengan menundukkan kepala, hanya menyantap makanan yang baik dan halal, memejamkan mata dari hal-hal yang haram, penuh rasa khawatir, baik di kala di darat maupun di laut, dan senantiasa berdoa, baik dalam kesulitan maupun kelonggaran. Andai bukan karena ajal yang telah ditetapkan atas diri mereka, tentu mereka tak ingin nyawa mereka tetap berpadu dengan tubuh mereka. Ini, karena mereka takut hukuman-Nya dan mengharapkan balasan-Nya. Dalam hati mereka, Sang Khalik demikian agung. Sedangkan semua makhluk, di mata mereka, demikian tiada artinya.

Wahai Amir Al-Mukminin! Tafakur dapat membuahkan ajakan untuk melakukan kebaikan dan mengamalkannya. Sedangkan penyesalan atas keburukan mengajak pada sikap meninggalkannya. Dan, sesuatu yang bercorak fana dapat berpengaruh atas sesuatu yang bercorak abadi. Demikian halnya, bersusah payah yang membangkitkan kedamaian lebih baik ketimbang kesenangan sesaat yang mengakibatkan penyesalan dan kesengsaraan nan tiada henti. Waspadalah terhadap pesona duniawi yang dapat mengaparkan, merendahkan, dan mematikan siapa saja, karena mengaguminya lantas terlena. Bila demikian, yang kemudian terjadi adalah hari-hari yang telah melintas tak dapat dijadikan pelajaran atas hal-hal yang bakal terjadi di masa depan. Ini adalah akibat perbuatan di masa lalu, yang tak gentar terhadap kebenaran peringatan Allah yang dikemukakan, tak menyadarkannya. Yang ada dalam kalbu, dalam kaitannya dengan pesona duniawi, hanyalah cinta buta semata. Barang siapa kalbunya hanya tertuju pada kehidupan duniawi semata, hingga saat kematian menjemput pun ia akan senantiasa memburu pesona yang menurutnya merupakan sesuatu yang paling memikat baginya. Akibatnya, pada dirinya, berpadu dua derita. Yaitu, kepedihan sakratulmaut dan keperihan tak kuasa merengkuh pesona yang ia damba. Dengan demikian, ia meniti perjalanan panjang menuju ke hadirat Allah Swt. Tanpa bekal apa pun dan datang (ke akhirat)dan tanpa persiapan sama sekali.

Wahai Amir Al-Mukminin! Karena itu, waspadalah sepenuhnya terhadap pesona duniawi. Sebab, pesona itu laksana ular. Manakala disentuh sedikit saja, ia kuasa membunuh dengan bisanya. Berpalinglah dari pesona yang engkau kagumi segala sesuatu yang ada di dalamnya, karena hanya sedikit darinya yang akan kuasa menyertaimu. Lepaskanlah hasratmu kepadanya, karena engkau yakin akan berpisah dengannya. Jadikanlah kepahitan berat yang ada padanya sebagai dambaan yang senantiasa engkau idamkan selepasnya. Waspadalah, karena setiap kali seseorang hamba dunia terbuai oleh kesenangan yang ada di dalamnya, akibat buruknya akan senantiasa menyertai dirinya. Manakala sesuatu yang ia gemari dapat direngkuhnya, sesuatu yang ia benci kelak akan menjadi penggantinya. Karena itu, sesuatu yang kini menyenangkan, kelak akan menjadi menyedihkan. Yang kini bermanfaat, kelak akan membahayakan. Kemakmuran di dalamnya kelak akan mengantarkan pada kepedihan. Kenikmatannya pun kelak akan dikembalikan menjadi kepahitan.

Wahai Amir Al-Mukminin! Pandanglah pesona duniawi dengan tatapan selamat jalan. Bukan dengan tatapan jatuh cinta. Ketahuilah, dunia memedayakan. Seolah, yang tinggal di dalamnya akan hidup abadi selamanya, juga menyajikan kesenangan bagi pemburu kesenangan di dalamnya. Sejatinya, kunci kesenangan dan kekayaan dunia pernah ditawarkan kepada Nabi Saw. Namun, beliau menolaknya. Tak lain karena beliau mengetahui bahwa sesuatu yang tak disukai Allah, beliau pun tak menyukainya, dan sesuatu yang dipandang kecil oleh Allah Swt., beliau pun memandangnya kecil. Andai beliau menerima tawaran itu, tentu hal itu menjadi penanda bahwa beliau mencintai pesona duniawi.

Kiranya Allah Swt. berkenan melimpahkan rahmat kepada kami, dengan nasihat ini. Juga, kepada engkau,

Wassalâmu‘alaikum wa Rahmâtullâh wa Barakâtuh
.”

Betapa gembira ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz menerima surat dari tokoh yang ikut serta dalam pasukan ‘Abdullah bin ‘Amir, Gubernur Bashrah, dalam pelbagai ekspedisi militer hingga ke Kabul dan baru kembali ke Bashrah pada 53 H/673 M serta menetap di kota itu hingga berpulang pada Kamis, 1 Rajab 110 H/ 10 Oktober 728 M. Nasihat Al-Hasan Al-Bashri itu kemudian banyak ia jadikan sebagai pedoman dan acuan dalam bertindak dan mengambil keputusan selama ia menjadi penguasa. (arofiusmani.blogspot.com/)