Monday, July 30, 2012


INDAHNYA NAMA

“Assalamu’alaikum,” demikian ucap seorang perempuan di telpon genggam saya sekitar satu jam yang lalu. “Kulo saking Jember, Ustad. Kulo bade nyuwun asmo kangge anak jaler kulo, nomer kalih. Nyuwun sewu, boso Indonesia kulo mboten lancar. Saya dari Jember. Saya hendak meminta nama untuk anak lelaki saya, nomer dua. Maaf, bahasa Indonesia saya tidak lancar.”
“Wa’alaikumussalam. Ibu pirso nomer telpon kulo saking sinten? Ibu tahu nomer telpon saya dari siapa?”
“Saking Ustad Bunyamin, Semarang. Kulo dipun arahaken Ustad Bunyamin supados nyuwun asmo anak kulo dateng njenengan. Dari Ustad Bunyamin, Semarang. Saya diarahkan Ustad Bunyamin supaya meminta nama anak saya kepada Anda.”

Mendengar jawaban demikian, beberapa lama saya tidak kuasa berucap. Kemudian, gumam saya. “Ya Allah, nama anak doa. Berilah ide kepada hamba-Mu ini untuk dapat memberikan nama anak itu dan kiranya nama itu senantiasa menjadi doa ibunda dan ayahandanya, sehingga anak itu memiliki akhlak yang selaras dengan nama itu.”

Selepas meminta ibu tersebut menanti, saya akhirnya memberikan kepadanya tiga nama pilihan. Alhamdulillah akhirnya salah satu nama mereka pilih. Dan, kejadian itu sendiri segera menyadarkan saya: meski saya hanya dikaruniai Allah Swt. dua putri, namun hingga kini Allah Swt. memberikan kesempatan kepada saya untuk memberi nama sekitar 40 anak. Mereka bertebaran di berbagai kota di Indonesia. Alhamdulillah.

Pentingkah nama yang baik?

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada peristiwa berikut: Madinah, Dzulhijjah 8 H. Betapa gembira hati Rasulullah Saw. pada suatu malam di bulan  itu. Allah Swt. memberikan karunia kepada beliau seorang putra. Sebelum kelahiran sang bayi, beliau memanggil seorang bidan, Salma, istri Abu Rafi‘. Kemudian, beliau menyendiri ke sudut, shalat, dan berdoa. Lahirlah bayi itu dengan selamat. Beliau pun mengucapkan terima kasih kepada sang bidan, dan memuliakannya dengan pemberian sedemikian rupa. Setelah itu, beliau segera menemui Mariyah Al-Qibthiyah, sang istri tercinta yang berasal dari Mesir, untuk mengucapkan selamat kepadanya. Selamat atas kelahiran putranya yang melepaskan dirinya dari status budak. Tak lama kemudian, beliau memangku sang bayi, membawanya ke hadapannya, sebagai penebar kegembiraan dan kasih sayang.

Rasulullah Saw. pun memberi nama sang putra serupa dengan nama nenek moyang beliau, Nabi Ibrahim a.s. Beberapa hari setelah itu, beliau menyembelih  dua  ekor  domba,  mencukur  rambut  si  bayi,   dan bersedekah perak yang setara dengan berat rambutnya kepada kaum fakir miskin Madinah. Dan, ibu-ibu Anshar berebut untuk menyusuinya. Mereka ingin agar Mariyah dapat tenang meladeni beliau, karena mereka mengerti bahwa beliau sangat menyenanginya. Ibrahim akhirnya disusui seorang istri tukang pandai besi bernama Abu Saif yang bermukim di perbukitan Madinah.

Putra tercinta Rasulullah Saw yang satu itu, seperti diketahui, merupakan putra  beliau satu-satunya yang lahir selepas beliau diangkat sebagai utusan Allah. Dapat dibayangkan, betapa gembira beliau menerima karunia demikian. Apalagi kala itu usia beliau telah memasuki kepala enam. Tentu, hal itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Tak aneh, dengan kelahiran sang putra tersebut, perhatian beliau begitu besar terhadap sang putra dan juga ibunya. Sehingga, tak aneh pula, jika hal tersebut membangkitkan kecemburuan istri-istri lain beliau terhadap Mariyah Al-Qibthiyah.

Di sisi lain, jika proses pemberian nama sang putra tersebut dikaji dan diteliti dengan penuh perhatian, akan tampak bahwa Rasulullah Saw. begitu cermat dalam memilih nama. Sebab, Ibrahim termasuk nama yang indah, istimewa, dan langka pada saat itu. Nama ini belum pernah disandang oleh sahabat-sahabat beliau, juga oleh masyarakat yang berkembang di Semenanjung Arab kala itu. Jadi, pemilihan nama Ibrahim jelas bukan asal-asalan, dan malah dapat dikatakan merupakan pemilihan yang sangat tepat dan luar biasa.

Seperti diketahui, Ibrahim diambil dari nama nabi seorang kekasih Allah yang disebut 40  kali  dalam Al-Quran  dan digambarkan sebagai orang yang  menyerahkan  diri sepenuhnya  kepada Allah. Sehingga, perintah apa pun  ia  lakukan meski  harus  bertentangan dengan pikiran  dan  perasaannya. Putra  Adzar yang hidup  sekitar 2.100 sebelum Masehi yang silam ini lahir  di  Ur, di kawasan Chaldea. Setelah menerima  wahyu  dari Allah, orang pertama yang ia seru ialah ayahnya sendiri, seorang pemahat.  Tetapi,  sang ayah menolak  seruannya,  malah  kemudian mengusirnya.  Meski  diusir  sang  ayah,  ia  tetap  menyampaikan seruannya di kalangan bangsanya. Akibatnya, ia menerima  berbagai ancaman  dari  mereka. Ia lalu meninggalkan  negerinya,  disertai istri pertamanya: Sarah, menuju Palestina lewat Damaskus. 

Ketika  nabi  yang  mendapat gelar “Khalil Allah”  ini  tiba  di Palestina,  negeri  tersebut sedang tertimpa  paceklik.  Dia  lalu melanjutkan  perjalanannya ke Mesir. Di negeri terakhir  ini,  dia tinggal  tidak  lama, kemudian ia kembali lagi ke  Palestina.  Dia baru  mempunyai  putra pertama: Isma‘il,  lewat  istri  keduanya Hajar,  ketika berusia 68 tahun. Sedang putra  keduanya,  Ishaq, lahir  empat tahun kemudian. Menurut sebuah sumber, dia  berpulang pada  usia 175 tahun dan dimakamkan di Hebron  (kini  Al-Khalil), sebuah kota di Palestina, di Gua Machepelah. Hingga kini gua yang dapat  dikatakan  sebagai makam tertua di dunia ini  masih  tegak dengan gagahnya.

Ibrahim  a.s.  sendiri  datang menyerukan  bahwa  Allah  yang disembahnya adalah Tuhan seru sekalian alam, bukan Tuhan satu ras dan  bangsa,  juga bukan Tuhan yang terbatas untuk  satu  periode tertentu. Di dalam Al-Quran dikemukakan, para nabi  sebelum Ibrahim a.s. mengajarkan kaumnya agar menyembah Allah “Tuhanmu”. Tetapi  setelah  itu,  Ibrahim a.s. mengajarkan  bahwa  Tuhan  yang disembahnya  adalah Tuhan seru sekalian alam. Dengan  kata  lain, Tuhan  yang menyertai manusia saat tidur atau  sadarnya,  sebelum dan  saat  keberadaannya di dunia, dan  setelah  kematiannya. Uniknya, dia menemukan   dan  membina  keyakinannya  itu  melalui   pengalaman pribadi. Setelah mengamati bintang, bulan, dan matahari, akhirnya dia berkesimpulan, yang wajar disembah bukanlah patung, tidak juga benda-benda, tapi Tuhan seru sekalian alam.

Kecermatan Rasulullah Saw. dalam memilih dan memberi nama putra-putri beliau memang menarik untuk dikaji dan diteliti. Seperti diketahui, nama putra-putri beliau mempunyai arti yang sangat bagus. Tentu, pemberian nama-nama yang sangat bagus tersebut tidak mungkin asal-asalan, namun merupakan “buah” kecermatan beliau dalam memilih dan memberikan nama. Kecermatan beliau yang demikian itu sebenarnya tidak hanya terjadi ketika beliau memberi nama putra-putri beliau saja. Beliau juga selalu mencermati nama para sahabat beliau. Malah, kalau dirasa perlu, beliau meminta sahabat-sahabat beliau untuk mengganti dan mengubah nama mereka yang kurang islami. Misalnya saja, beliau mengganti nama kecil Abu Bakar Al-Shiddiq, yaitu ‘Abdul Ka‘bah yang berarti “hamba Ka‘bah”, menjadi ‘Abdullah yang berarti “hamba Allah”. Demikian halnya beliau mengganti nama kecil Abu Hurairah, yaitu ‘Abdusy-Syams yang berarti “hamba matahari”, menjadi ‘Abdurrahman yang berarti “hamba Yang Maha Pengasih”, dan mengganti nama putri ‘Umar bin Al-Khaththab yang bernama ‘Ashiyah yang berarti “perempuan yang berbuat maksiat” menjadi bernama Jamilah yang berarti “perempuan nan cantik”.

Dari sinilah kita dapat memahami mengapa Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh, pada hari kiamat kelak kalian akan diseru dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Karena itu, perbaguslah nama kalian,” (HR Abu Dawud dan Ibn Hibban dari Abu Al-Darda’). Beliau juga berpesan, “muliakanlah anak-anak kalian dan perbaguslah nama mereka!” (dituturkan oleh Ibn Majah) dan “hendaklah kalian menyandang nama dengan nama para nabi!” (dituturkan oleh Abu Dawud dari Abu Wahab Al-Jusyami).

Ya, muliakanlah putra-putri Anda, dengan memberikan nama yang indah. Silakan!

Friday, July 27, 2012


CEMBURU SEORANG ISTRI DAN CEMBURU TUHAN

“Al-Bashri,” ucap seorang ulama terkemuka pada dirinya sendiri, “jangan kau biarkan dirimu jadi pemalas. Malam ini, jalan-jalanlah tanpa diketahui orang lain. Dengarkanlah keluhan orang-orang lain, sebagai pengingat dirimu di hadapan Tuhanmu!”

Ulama terkemuka yang satu itu tidak lain adalah Al-Hasan Al-Bashri. Ulama generasi tabi‘ûn  dan  sufi terkemuka  pada abad 2 H/8 M ini lahir di Madinah pada 21  H/642 M,  pada masa pemerintahan ‘Umar bin Al-Khaththab,  dengan  nama lengkap  Abu  Sa‘id Al-Hasan bin Abu Al-Hasan  Yassar  Al-Bashri. Namun,  kemudian keluarganya pindah ke Bashrah, selepas  terjadi Perang  Shiffin pada 35 H/656 M, sehingga lebih terkenal  dengan sebutan  “Al-Bashri”  (yang asal Bashrah). Ibundanya  adalah seorang  hamba sahaya  Ummu Salmah, istri Nabi Muhammad Saw.,  bernama  Khairah binti  Sa‘id  bin  Zaid bin ‘Amr. Sedangkan  ayahandanya  yang  berdarah Persia, Firuz yang kemudian berganti nama Yassar, memeluk Islam ketika kaum Muslim menaklukkan Irak dan mantan budak Zaid bin Tsabit  Al-Anshari. Sebelum memeluk Islam, menurut  Al-Thabari, sang  ayahanda beragama Nasrani. Ketika masih bayi, ia beberapa  kali disusui istri Nabi Saw. itu.

Al-Hasan  Al-Bashri tumbuh dewasa di Kota Nabi  dalam  lingkungan yang  saleh  dan  mendalam pengetahuan agamanya.  Tak  aneh  bila selama  bermukim di kota suci  itu, ia bertemu tidak kurang  dari 70 sahabat Nabi Muhammad Saw. Di samping terkenal berpengetahuan agama  yang  mendalam, ia juga terkenal hidup  jauh  dari  pesona duniawi  dan  rendah  hati. Di  antara  ucapannya  yang  terkenal adalah, “Dunia ini bagaikan seorang janda yang telah bongkok  dan telah   lama   ditinggal  mati  suaminya.”  Juga,   ia   berkata, “Barang siapa mencintai  seseorang  yang  saleh, ia bagaikan mencintai Allah.”

Sikap hidup guru pendiri Aliran Mu‘tazilah, Washil bin  ‘Atha’, yang  demikian  itu dipicu perasaan takutnya  kepada  Allah  SWT, perasaan  sedih,  dan  renungan untuk  meraih  ridha  Allah  dan surga-Nya  di  akhirat. Mengenai hal ini  Al-Sya‘rani,  dalam karyanya  Al-Thabaqât, berucap, “Dia penuh diliputi  rasa  takut. Sehingga, neraka seakan hanya diciptakan untuk dirinya seorang.”

Tak  aneh  bila  karena kehidupan Al-Hasan  Al-Bashri  yang  amat saleh,  ia  pernah  melakukan oposisi  keagamaan  terhadap  rezim Dinasti  Umawiyyah, lewat sepucuk surat yang ia  kirimkan  kepada ‘Abdul Malik bin Marwan, penguasa ke-5 dinasti tersebut.  Dalam suratnya  itu,  ia menuntut agar rakyat  diberi  kebebasan  untuk melakukan apa yang mereka anggap baik, sehingga dengan begitu ada tempat  bagi  tanggung  jawab moral.  Suratnya  tersebut  bernada menggugat praktek-praktek zalim penguasa Dinasti Umawiyyah. Namun, ia  dibiarkan penguasa, karena wibawa kepribadiannya  yang  saleh dan pengaruhnya yang amat besar kepada masyarakat luas. Pada 42 H/662 M tokoh yang terkenal petah dalam berbicara,  tegas dalam  berpendapat, dan pemberani dalam bersikap ini  ikut  serta dalam  pasukan  ‘Abdullah bin ‘Amir,  Gubernur  Bashrah,  dalam berbagai ekspedisi militer sampai ke Kabul. Dan, ia baru  kembali ke  Bashrah  pada 53 H/673 M dan menetap di kota  itu  sampai  ia berpulang.

Nah, ketika malam tiba, ulama yang berpulang pada Kamis, 1 Rajab  110  H/10 Oktober 728 M itu pun jalan-jalan di seputar Kota Bashrah. Lantas, ketika kedua kakinya telah terasa sangat berat untuk diayunkan, ia pun duduk di bawah balkon sebuah rumah berlantai dua. Ketika ia sedang duduk di situ, tiba-tiba ia mendengar seorang istri sedang berkata kepada suaminya di balkon tersebut, “Suamiku! Sudah 50 tahun kita tinggal dalam satu rumah. Baik apakah dalam suka maupun duka, aku selalu bersabar. Selama itu pula, aku tidak pernah bertindak yang tidak benar. Aku pun tidak pernah mengeluhkan kepada orang tentang dirimu kepada siapa pun. Karena itu, aku tak akan pernah memaafkan dirimu karena satu hal: jika kau mencintai perempuan lain selain diriku. Ini karena aku telah melakukan segalanya untuk dirimu. Karena itu pula, perhatikankanlah diriku dan jangan sekali-kali memperhatikan perempuan lain!”

Mendengar ucapan yang demikian, Al-Hasan Al-Bashri segera berdiri dan kembali ke rumahnya. Begitu sampai di dalam rumah, ia pun langsung bersujud, menangis, dan berucap, “Ya Allah, ampunilah aku. Cemburu perempuan itu mengingatkan aku pada titah-Mu dan cemburu-Mu, ‘Aku akan mengampuni semua dosa kalian. Tetapi, jika dalam pikiran kalian ada sedikit kecenderungan pada yang selain Aku dan kalian menyekutukan Aku dengan yang selain Aku, Aku tidak akan mengampuni kalian.’ Ya Allah, betapa aku masih acap cenderung pada yang selain Engkau dan menyekutukan Engkau dengan yang selain engkau: dengan kedudukanku, rasa banggaku sebagai ulama, ilmuku, dan lain-lain sebagainya. Ampunilah aku, wahai Tuhan Yang Sangat Pemaaf….”


Wednesday, July 25, 2012


PESAN INDAH SEORANG TUAN GURU

“Tuan Guru,” ucap seseorang kepada seorang ulama terkemuka suatu saat, “berilah kami pencerahan kalbu tentang kekayaan duniawi. Sehingga, lewat pencerahan itu, kami dapat memahami makna kehadiran kami di dunia ini.”

Tuan Guru itu tidak lain adalah Ibn ‘Arabi, seorang  ulama terkemuka  Andalusia.  Bernama  lengkap  Muhyiddin  Abu  ‘Abdullah Muhammad ibn ‘Ali ibn Muhammad ibn Ahmad ibn ‘Abdullah Al-‘Arabi Al-Hatimi  Al-Tha’i  Al-Andalusi, ia lebih terkenal  dengan  sebutan Muhyiddin ibn ‘Arabi atau Ibn ‘Arabi (atau Ibn Al-‘Arabi) saja. Ia  lahir  pada  Senin,  17 Ramadhan 560 H/28  Juli  1165  M  di Murcia, Andalusia Tenggara, dan berasal dari keluarga bangsawan, hartawan, dan ilmuwan. Ketika  ia  berumur  8  tahun,  keluarganya  pindah   ke Sevilla.  Di kota ini, ia mulai menuntut ilmu dan  menelaah  Al-Quran,  hadis,  dan  fikih di  bawah  asuhan  seorang  faqîh terkenal  kota  itu, Abu Bakar bin Khalaf, yang  mengikuti  Mazhab Zhahiri.  Lantas, ketika berumur 21 tahun, ia  mulai  memasuki  dan mengikuti perjalanan para sufi. Ia pun rajin menelaah karya-karya tentang  tasawuf.  Selain  itu, ia  juga  mulai  terlibat  dalam berbagai  pertemuan dan dialog dengan para tokoh sufi.

Pada  590  H/1194  M, ketika  pikiran  Ibn  ‘Arabi  telah mengkristal, ia berkelana mengelilingi Andalusia. Selepas  puas menikmati kelananya ke berbagai kota di  Andalusia, ia ingin menyeberangi laut dan menuju daratan lain. Ia pun  pergi ke  Bejayah,  Aljazair. Dari  kota  ini  ia  kemudian meneruskan kelananya ke Tunis. Selepas  beberapa  lama  berada di  Tunis,  ia kemudian kembali  lagi  ke  Andalusia. Pada tahun  berikutnya  ia  kembali melintasi Selat Gibraltar, menuju Fez. Di kota terakhir tersebut ia  tinggal selama beberapa tahun. Pada 595 H/1198 M  ia  kembali lagi  ke Andalusia, mengunjungi Granada dan Murcia.  Selepas  dua tahun  berada  di negeri yang indah tempat kelahirannya  itu,  ia pergi ke Marrakesy. Bersama-sama seorang sufi, Abu Al-‘Abbas Al-Sibti.  Dari  kota ini ia kemudian menuju Bejayah  kembali.  Dari sana  ia  kemudian  berkelana ke Tripoli, Tunis, Mesir, dan kemudian menuju Makkah.

Di  kota  ini  nama Ibn ‘Arabi mulai mencuat.  Para  tokoh  dan ilmuwan pun acap menemuinya. Di antara mereka adalah Abu Syuja‘  Al-Imam Al-Muwakkil.  Tokoh  terakhir ini mempunyai  seorang  gadis  yang cantik dan jenius, bernama Nizham. Melihat gadis yang cantik  dan pintar itu, kalbu Ibn ‘Arabi bergetar. Muncullah inspirasi untuk menuangkan  getaran  kalbunya  dalam  sebuah  karya.  Lahirlah karyanya yang berjudul Turjumân Al-Asywâq. Menurut pengakuan Ibn ‘Arabi,  dalam mukadimah karyanya itu, secara lahiriah karya  itu merupakan  untaian puisi cintanya kepada gadis yang rupawan  itu. Namun,  sejatinya, karya itu merupakan ungkapan cintanya  kepada Sang Pencipta.

Lantas, pada 600 H/1203, M Ibn ‘Arabi memulai kembali kelananya.  Pertama-tama  ia menuju Baghdad, kemudian ke Mosul. Dari  kota  terakhir ini  ia  menuju  Mesir.  Dari  sana  ia  menuju  Makkah  kembali. Selanjutnya  ia berkelana ke Baghdad lagi. Selepas beberapa  lama berada di kota itu, ia menuju Suriah dan menetap di Damaskus sampai berpulang pada Rabu, 28 Rabi‘ Al-Akhir  638 H/14  November 1240 M.  

“Saudaraku,” ucap sang Tuan Guru, menjawab pertanyaan yang menarik itu, “sejatinya dunia ini adalah tempat persiapan di mana seseorang diberi banyak pelajaran dan berhasil dalam mengatasi banyak cobaan. Pilihlah yang kurang daripada yang lebih banyak di dalamnya. Puaslah dengan yang Anda miliki, meski itu lebih sedikit daripada kepunyaan orang lain. Senanglah dengan memiliki yang sedikit.”

Usai berucap demikian, Tuan Guru pun berhenti mengucap. Lantas, ia berpesan, “Saudaraku. Sejatinya dunia ini tidak buruk. Sebaliknya, ia adalah ladang kehidupan mendatang. Apa yang Anda semai di sini akan Anda tuai di sana. Dunia ini adalah jalan menuju kebahagiaan abadi. Karena itu, dunia patut dinikmati dan dipuji. Yang buruk adalah apa yang Anda lakukan terhadap dunia ketika Anda buta terhadap kebenaran dan benar-benar tenggelam oleh keinginan, nafsu, dan ambisi Anda. Guru kita, Nabi Saw., yang dalam dirinya terdapat kebijaksanaan sebening kristal, pernah ditanya, ‘Apakah yang duniawi itu?’ Jawab beliau, ‘Segala sesuatu yang membuat Anda lalai dan menyebabkan Anda lupa terhadap Tuhan Anda.’ Karena itu, pada dasarnya kekayaan duniawi tidak buruk. Tetapi, yang buruk adalah hanya ketika Anda membiarkan kekayaan duniawi membuat Anda lupa, tidak taat, dan tidak sadar akan Tuhan.”

Saturday, July 21, 2012


SHALAT SHUBUH DUA RAKAAT, KENAPA?

Tadi, usai melaksanakan shalat Shubuh, saya pun berdiri di balkon di rumah saya, di Baleendah, Kabupaten Bandung. Alam sekitar masih kelam, tapi sangat indah. Kadang, di sana sini terdengar suara ayam-ayam yang mengajak kita bertashbih: mengagungkan Allah. Udara dingin membuat suasana terasa sangat indah. Dalam suasana dan keadaan demikian, entah kenapa dalam benak timbul pertanyaan, “Mengapa shalat Shubuh terdiri dari dua rakaat?”

Duh, ternyata, pertanyaan yang demikian itu lama tidak mau juga berlalu dari benak. Dari pada pening kepala, saya pun segera berselancar di internet. Alhamdulillah, akhirnya saya menemukan jawaban.

Menjawab pertanyaan demikian, seorang ulama terkemuka asal Patani, Thailand, Syaikh Daud bin Syaikh Wan  Abdullah bin  Syaikh Wan Idris Al-Jawi Al-Fathani, dalam sebuah karyanya Munyah Al-Mushallî, mengemukakan jawaban yang menarik. Menurut ulama yang lahir di kampung  Parik Kerisek,  Patani,  Thailand pada Ahad, 1 Muharram  1183  H/7 Mei 1769 M  tersebut, setiap shalat dari lima shalat lima waktu memiliki kaitan yang erat dengan shalat yang pernah dilakukan seorang Nabi sebelum Nabi Muhammad Saw. Nah, orang yang pertama-tama melaksanakan shalat Shubuh adalah Nabi Adam a.s. Sang Nabi melaksanakan shalat tersebut selepas “diusir” dari surga, karena suatu kesalahan yang ia lakukan. Lantas, ketika sang Nabi diturunkan ke Bumi dan pertama kali menyaksikan kelamnya Bumi pada saat malam,  ia pun ketakutan, karena ia belum pernah menyaksikan pemandangan kelam seperti itu. Kemudian, ketika fajar menyingsing, hatinya terasa damai dan tenang. Karena itu, ia pun segera melaksanakan shalat dua rakaat. Rakaat pertama sebagai rasa syukur karena ia telah melewati kelamnya malam yang membuat ia ketakutan. Sedangkan rakaat kedua sebagai rasa syukur atas kehadiran fajar yang membangkitkan rasa damai.

Kini, berkaitan dengan shalat yang satu ini, bagaimanakah pesan Rasulullah Saw.?

Dalam hal ini, Rasulullah Saw. berpesan, "Seandainya manusia mengetahui pahala dalam azan dan shaf pertama, kemudian mereka tidak mampu mendapatkannya selain dengan diundi, tentu mereka saling mengundi. Seandainya mereka mengetahui pahala melaksanakan shalat lebih awal, tentu mereka  akan berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dan, seandainya mereka tahu pahala dalam shalat 'Isya' dan Shubuh, tentang mereka akan menghadiri keduanya walaupun harus merangkak." (HR Al-Bukhari).

Ya, seandainya manusia mengetahui, seandainya mereka mengetahui, dan seandainya mereka mengetahui. Kalimat itu diulang-ulang Rasulullah Saw., seakan beliau sangat menyayangkan bila umatnya tidak melaksanakan shalat 'Isya dan Shubuh. Hal itu boleh jadi karena Allah Swt. telah memperlihatkan kepada beliau pahala dan keutamaan yang akan didapatkan manusia manakala mereka melaksanakan dua shalat itu secara berjamaah.

Tidak hanya itu. Malah, barang siapa melaksanakan shalat Shubuh berjamaah di masjid, ia akan mendapatkan jaminan dari Allah Swt. Jundub ibn 'Abdurrahman menuturkan bahwa Rasulullah Saw. berpesan, "Barang siapa menunaikan shalat Shubuh, maka dia berada dalam jaminan Allah. Karena itu, janganlah sekali-kali kalian membuat Allah sampai meminta jaminan-Nya itu sedikit pun. Ini karena barang siapa diminta jaminannya, maka Allah akan mendapatkannya, kemudian Dia akan mencampakkan dirinya ke dalam api neraka." (HR Al-Bukhari). 


Wednesday, July 18, 2012


INDONESIAN DIASPORA

“Saat ini, sebaiknya para pakar dan ilmuwan Indonesia di luar negeri tidak usah pulang kampung!” ucapnya berapi-api. “Malah, setiap kali saya bertemu dengan teman-teman yang sedang mengambil program s-3 di luar negeri, atau selepas mereka merampungkan program itu, saya selalu bilang kepada mereka, ‘Jangan pulang kampung! Taklukkan dunia, dengan ilmu kalian! Prestasi Anda di luar negeri akan mengangkat nama baik negeri kita! Mari kita bentuk Indonesian Diaspora yang bergengsi dan tangguh di luar negeri!”

Entah kenapa, mendengar ucapan mahasiswa program s-3 Universitas Delft, Belanda itu saya terlarut oleh gaya ucapannya yang meledak-ledak. Padahal, saya baru bertemu sekali dengannya: tadi sore. Program s-2 ia rampungkan di universitas yang sama. Sedangkan program s-1 ia rampungkan di Jurusan Geologi ITB. Saat ini, ia pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu. Dan, bulan Desember nanti, insya Allah ia akan maju sidang doktoral di almamaternya di Belanda.

Begitu mendengar kata-kata ‘Indonesian diaspora’, saya pun segera teringat para sahabat saya yang kini menempati pelbagai kedudukan strategis di luar negeri. Dulu, saya termasuk orang yang suka ‘ngomporin’ mereka untuk pulang ke negeri tercinta. Namun, cara pandang saya yang demikian itu kini sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Kini, seperti halnya mahasiswa s-3 Universitas Delft itu, saya lebih suka memotivasi mereka untuk tidak pulang kampung. Mereka lebih baik meretas karier di luar negeri dan “MENAKLUKKAN DUNIA”.  Mengapa? Kita kini memerlukan jejaring yang kuat di luar negeri. Terutama jejaring para ilmuwan dan pakar. Sehingga, dengan demikian, Indonesia memiliki jaringan bergengsi di luar negeri. Dan, berdasarkan kajian-kajian tentang pelbagai diaspora di dunia, kontribusi ‘kaum diaspora’ terhadap negeri asal mereka demikian besar.

“Pak Rofi’! Anak-anak Indonesia sejatinya memiliki kemampuan ilmiah yang luar biasa. Apalagi yang sedang menimba ilmu di negeri itu. Itu sejatinya merupakan aset luar biasa yang kerap diabaikan negara kita!” ucapnya selanjutnya.

Entah kenapa, tadi sore, saya lebih suka menempatkan diri saya sebagai ‘murid’ yang sedang menyerap ilmu dan pengalaman anak muda yang bertubuh agak tambun dan asal Bandung itu. Senang sekali rasanya mendengarkan ‘pidato’nya yang berapi-api. Dan, ketika berpisah dengannya, entah kenapa ucapannya tentang ‘Indonesian Diaspora’ sulit lenyap dari benak saya.