Tuesday, August 14, 2012


JANGAN BERDUKA, DALAM DIRIMU 1000 BULAN BERKILAUAN

Tidak terasa, hari-hari bulan suci Ramadhan hampir rampung kita tapaki. Malam demi malam berbagai tindak kebaikan dilakukan. Sehingga, bulan yang sarat berkah ini terasa pendek sekali. Tiba-tiba di hadapan kita muncul hari kembali pada kesucian diri: Hari ‘Idul Fitri.

Menghadapi keadaan demikian, benak pun tercenung dan berpikir, “Apakah yang selayaknya dilakukan dalam mengisi lembaran baru kehidupan, selepas sebulan diri dalam tempaan?” Selepas lama termenung mencari jawab, ingatan pun melayang pada pesan-pesan Mohammad Iqbal, seorang penyair dan filosuf Pakistan.

Iqbal, dalam pesannya bagaimanakah sebaiknya kehidupan ditapaki, mengingatkan:

Hidup adalah kreatifitas dan semangat!
Pabila kau benar-benar hidup
Hiduplah penuh kreatifitas dan gairah!
Jelajah seluruh semesta alam!
Tumpas hingga tuntas segala yang nista

Lalu, cipta dunia barumu
Sebagai penjelmaan imajinasimu!
Bagi yang bebas
Sungguh membosankan
Untuk hidup di dunia ciptaan orang lain.

Bukan tidak mungkin dalam menapaki lembaran kehidupan baru itu, suatu saat kita berhasil merengkuh apa yang kita dambakan. Dalam keadaan demikian, kadang kita lupa dan kemudian menepuk dada serta mengatakan hal itu terjadi karena kita berasal dari ras tertentu. Dalam keadaan demikian itu, Iqbal mendamprat kita untuk tidak melakukan hal yang demikian:

Belajarlah menghargai dirimu, O Bocah!
Adakah kau Muslim? Enyahkan kebanggaan keturunan
Jika orang Arab melihat kulit dan darahnya
Katakan selamat tinggal selamanya

Disebut China, Melayu, Turki, atau Afghan
Kita ini milik sebuah taman besar
Lahir di musim semi itulah keluhuran
Membedakan warna adalah berdosa bagi kita

Tampaknya Iqbal kerap mengamati, kebanggaan diri dan perasaan pongah kerap timbul dalam diri kita, umat manusia. Malah, kebanggaan itu kadang dipamerkan kepada Tuhan:

Kau mencipta alam, aku mencipta lampu yang memendari
Kaubuat lempung, kubikin darinya cawan minuman
Kaubikin hutan liar, gunung, dan padang rerumputan
Kucipta kebun, taman, jalan, dan padang gembala
Kuubah racun berbisa jadi minuman segar
Akulah yang mencipta cermin cerlang dari pasir.

Wajar, bila sikap sombong dan pongah perlu disirnakan dari diri kita, selepas sebulan menempa diri. Apalagi, di depan kita terbentang hari-hari nan fitri. Kesediaan untuk memaafkan dan membuang perasaan benci semestinya kita miliki. Iqbal menghardik kita:

Jika kau tak memiliki
Kesanggupan memaafkan
Pergilah! Carilah pegangan
Bersama mereka yang menjerumuskanmu
Jangan rawat kebencian dalam hatimu
O, jangan buat madumu kecut
Mencampurnya dengan cuka.

Tetapi, Iqbal tidak hanya piawai menghardik saja. Ia juga pandai menghibur kita. Lewat puisinya “Bulan Baru ‘Id”, kita dihiburnya untuk tidak berduka ditinggalkan kekasih kita: bulan Ramadhan. Karena, di depan kita ada bulan baru ‘Id:

Bulan baru ‘Id
Tak dapat kauhindari
Mata nanar
Khalayak yang menantikan pandangmu
Seribu kerlingan
Diam-diam merangkai
Jaring untuk menangkapmu
Buka matamu
Pada dirimu: jangan berduka
Karena kau adalah rencana terbuka
Dalam dirimu
Berkilauan seribu bulan!

Untuk itu, mari kita buka lebar pintu kelapangan dada dan pintu kemaafan kita. Kepada siapa pun. Dan, “pada bulan fitri tahun ini, perkenankan kami, menyampaikan permohonan maaf, baik lahir maupun batin. Kiranya Allah menerima amal ibadah kita. Amin. Selamat Idul Fitri”. 

Monday, August 6, 2012


SEPATU DAHLAN ISKAN DAN MULLA NASRUDDIN HOJA

Kemarin, ketika membaca untuk kedua kalinya sebuah buku berjudul Sepatu Dahlan, yang menuturkan dengan memikat kisah kehidupan masa belia dan muda yang perih Dahlan Iskan, Menteri Badan Usaha Milik Negara Indonesia saat ini, entah kenapa  benak saya tiba-tiba  “melayang-layang” ke Turki. Melayang-melayang ke Turki karena tiba-tiba teringat Mulla Nasruddin Hoja. Ya, teringat Mulla Nasruddin Hoja, seorang tokoh yang terkenal kocak ala si Kabayan van Jawa Barat.

Tentu Anda mengenal Mulla Nasruddin Hoja. Menurut kisah-kisah yang beredar, tokoh yang satu ini adalah seorang sufi jenaka yang kadang bertindak “kurang waras”. Padahal, menurut Dr. Muhammad Rajab Al-Najjar, dalam karyanya berjudul Juhâ Al-‘Arabî, mulla yang satu ini sejatinya bukan sosok yang “kurang waras” alias sangat bego. Sebaliknya, dia adalah sosok yang berusaha mendekati segala persoalan yang dia hadapi dari aspek-aspek yang paling dekat dengan kebenaran dan kenyataan. Karena itu, bagi orang-orang lain yang tidak menyukai kebenaran, sang mulla merupakan sosok yang kontradiktif. Tak aneh, bila Sultan ‘Abdul Hamid II, seorang penguasa Turki, pernah melarang beredarnya “kisah-kisah tentang Nasruddin Hoja”. Sang penguasa khawatir, kisah-kisah itu dapat membangkitkan perlawanan rakyat Turki terhadap penguasa. Utamanya, penguasa yang otoriter dan salah dalam mengurus negara dan rakyat.

Tentu Anda tahu pula gaya Dahlan Iskan. Ke mana-mana menteri yang satu ini kerap mengenakan sepatu kets. Nah, sepatu kets yang dikenakan Dahlan Iskan mengingatkan saya pada kisah Mulla Nasruddin Hoja berikut:

Suatu saat, Mulla Nasruddin Hoja mendapat undangan untuk menghadiri suatu perhelatan besar dan resmi. Menerima undangan kehormatan demikian, tentu saja dia menyatakan kesediaannya untuk hadir. Nah, ketika saat perhelatan itu tiba, dia pun pergi ke tempat perhelatan itu. Berbeda dengan tamu-tamu lain yang mengenakan busana yang mewah dan indah, dia datang dengan pakaian harian yang biasa ia kenakan.

Ternyata, setiba di tempat perhelatan itu, tidak seorang pun menaruh perhatian kepada Mulla Nasruddin Hoja. Malah, dia diperlakukan dengan tidak hormat. Pelayan-pelayan pun mengabaikan dia. Menengok kepada dia pun tidak. Malah, mereka tidak menyajikan hidangan apa pun kepadanya.

Menerima perlakuan demikian, Mulla Nasruddin Hoja kemudian dengan diam-diam menyelinap dari perhelatan tersebut. Tanpa seorang pun melihatnya. Lalu, dia pulang ke rumah. Setiba di rumah, ia segera mengganti pakaian yang dikenakannya dengan busana mewah nan indah: penuh pernik-pernik sangat mahal yang menunjukkan bahwa dia adalah seorang pembesar dan bangsawan. Tidak lupa dia mengenakan sepatu yang mahal harganya, jubah sutra, dan serban indah dan tinggi menjulang. Kini, tampilannya laiknya seorang sultan.

Selepas mengenakan adi busana (haute couture) ala busana para model papan atas dari Paris, Perancis, Mulla Nasruddin Hoja kemudian balik ke tempat perhelatan tadi. Berbeda dengan sebelumnya, kedatangannya kali ini disambut dengan penuh kehormatan dan sanjungan. Malah, tuan rumah meminta sang mulla agar duduk di sampingnya, di tempat VVIP (very very important person). Segera pula, tuan rumah menyilakan Mulla Nasruddin untuk menikmati hidangan nan lezat. Menerima sambutan dan ajakan demikian, tiba-tiba sang mulla melukar busana kebesarannya dan meletakkan busana itu di dekat hidangan seraya berucap, “Suruhlah makan pakaian ini! Suruhlah dia makan!”
“Tuan Nasruddin! Apa maksud Anda?” tanya tuan rumah. Sangat kebingungan.
“Bukankah pakaian ini yang Anda hormati. Bukan saya!” jawab sang mulla.

Kisah Mulla Nasruddin Hoja di atas, juga kisah sepatu kets Dahlan Iskan, seakan menyentil kita, “Janganlah melihat seseorang dari tampilannya semata!” Atau barang kali Mulla Nasruddin Hoja maupun Dahlan Iskan sangat memerhatikan dan memraktikkan pesan Nabi Saw., “Innallâha la yanzhuru ilâ ajsâmikum walâ ilâ shuwarikum, walâkin yanzhuru ilâ qulâbikum. Allah tidak memperhatikan tubuh maupun tampilan kalian. Tetapi, Dia melihat kalbu kalian.” Barang kali!


Friday, August 3, 2012


MEMBURU MUKJIZAT NABI 'ISA A.S.

Siang kemarin, ketika melintasi Instalasi Gawat Darurat  rumah sakit tempat istri bekerja, dan melihat pasien-pasien yang sedang dilayani di instakasi tersebut, entah kenapa tiba-tiba saya teringat Nabi ‘Isa a.s. dan kisahnya bersama sekelompok orang yang memburu mukjizat sang Nabi.

Seperti diketahui, Nabi ‘Isa a.s. adalah seorang Nabi terakhir yang diutus kepada Bani  Israil. Sang Nabi  ini termasuk keturunan Nabi Ibrahim a.s. dan merupakan keluarga  dekat Nabi Zakariya a.s. Menurut Al-Quran, ia adalah putra Maryam,  seorang wanita suci yang penuh pengabdian dan ketaatan kepada Allah Swt. Wanita suci itu  melahirkan sang Nabi tanpa hubungan intim dengan laki-laki.  Selain  itu,  menurut  Kitab  Suci  tersebut,   ia diciptakan  Allah sebagaimana Adam a.s. diciptakan dari tanah  dan ia adalah kata-kata Allah dalam arti bahwa Allah mengatakan “Kun” dan  ia tidak berayah. Karena ia lahir tanpa ayah, kaum  keluarga ibunya  menuduh  Maryam  melakukan  perselingkuhan.  Tuduhan  ini lantas dijawab langsung 'Isa yang masih orok.

Nabi  yang disebut sekitar 25 kali di dalam Al-Quran ini  diutus khusus  untuk  meluruskan  Bani Israil yang  telah  tersesat  dari ajaran  agama mereka. Namun, mereka tidak menghiraukan  petunjuk  dan pengajarannya,  meski  ia  telah  memberikan  berbagai   landasan kebenarannya  sebagai  Nabi. Antara lain dengan  menunjukkan salah salah satu mukjizatnya: menghidupkan kembali orang yang telah mati.

Alkisah, suatu hari, Nabi ‘Isa a.s. berkelana di gurun pasir bersama sekelompok orang.  Mereka pun segera tahu, ternyata sang Nabi memiliki kemampuan luar biasa untuk menghidupkan kembali orang  yang telah mati. Melihat kemampuan sang Nabi yang demikian, mereka pun “ngiler”. Mereka kemudian mendesak sang Nabi untuk menularkan mukjizatnya. Utamanya, mereka mendesak sang Nabi untuk mengajarkan mukjizatnya yang dapat menghidupkan kembali orang yang telah mati. Didesak demikian, sang Nabi pun berucap, “Saya khawatir, bila mukjizat itu saya ajarkan kepada kalian, kalian akan menyalahgunakannya.”

Karena itu, sang Nabi menolak mengajarkan mukjizat itu kepada mereka. Tetapi, mereka kemudian senantiasa mendesak dan memaksa sang Nabi untuk mengajarkan mukjizat tersebut. Menghadapi desakan dan paksaan yang demikian, sang Nabi akhirnya berucap, “Baik, mukjizat itu akan saya ajarkan kepada kalian. Namun, perlu kalian ketahui, sejatinya kalian benar-benar tidak layak memelajari mukjizat tersebut!”
Sang Nabi kemudian mengajarkan kepada mereka mukjizat tersebut. Usai memelajari mukjizat tersebut, mereka kemudian meninggalkan sang Nabi dan pergi ke tempat yang sepi untuk memraktikkan mukjizat tersebut. Ketika berada di tempat sepi tersebut, mereka melihat setumpukan tulang belulang putih. “Ayo kita praktikkan mukjizat ini,” ucap salah seorang di antara mereka.

Begitu mukjizat itu dipraktikkan, tiba-tiba tulang belulang itu berubah menjadi sekawanan singa galak. Dan, singa-singa itu pun segera memburu, mencabik-cabik, dan memangsa mereka.

Suatu pelajaran indah diajarkan sang Nabi, “Janganlah memburu sesuatu yang diri kita sendiri sejatinya tidak layak menerimanya. Termasuk jabatan. Akibatnya, sesuatu itu akan mencabik-cabik dan memangsa kita!”

Tuesday, July 31, 2012


USTADZ, MENGAPA SHALAT SEBAGAI TIANG AGAMA?

Ustadz,” tanya seorang jamaah pengajian Sabtu pagi di rumah, minggu lalu, “mengapa shalat yang dikatakan sebagai tiang Agama (Islam). Kok bukan puasa, zakat, atau ibadah haji?”

Entah kenapa, menerima pertanyaan yang memikat tersebut, saya teringat jawaban seorang ulama terkemuka Mesir atas pertanyaan yang sama. Ketika masih menimba ilmu di Mesir, saya suka mengikuti ceramah yang disampaikan ulama yang satu itu, setiap kali sang ulama memberikan ceramah di tivi. Wajahnya tampak memendarkan kedamaian dan kebahagiaan. Gaya ceramahnya sangat menawan: popular, berisi, dan mencerahkan. Tidak aneh bila rating ceramah yang disampaikan ulama yang satu itu meraih nilai “jempol”. Apalagi ketika ulama tersebut sedang memberikan ceramah tentang Tafsir Al-Quran. Indah sekali ceramah-ceramahnya.

Siapakah ulama tersebut?

Ulama yang setiap kali tampil senantiasa mengenakan jubah berwarna putih itu bernama lengkap Syeikh ‘Abdurrahim Muhammad Mutawalli Al-Sya‘rawi. Ulama yang satu ini lahir di Daqadus,  Daqahliyyah, pada  Rabu,  19 Rabi‘ Al-Akhir 1329 H/19 April  1911  M,  dalam lingkungan yang  saleh  dan  berkecukupan. Pendidikan   pertamanya  ia  lalui  di  kuttâb,   suatu   sistem pendidikan  tradisional untuk menghapal Al-Quran yang  dilakukan di  masjid.  Pada  1349  H/1930  M  ia  melanjutkan   pendidikan menengahnya di Zaqaziq, di sebuah sekolah yang berafiliasi dengan Al-Azhar.  Enam tahun kemudian, selepas merampungkan  pendidikan menengah di Zaqaziq, ia menapakkan kakinya di Kairo.

Di  kota yang telah berusia lebih dari seribu tahun ini  pengagum Ahmad Syauqi, penyair terkemuka di Mesir, ini memasuki  Fakultas Bahasa Arab, Universitas Al-Azhar. Selama menjadi mahasiswa,  ia dikenal  sebagai  aktivis.  Ia  pernah  memimpin  gerakan  protes terhadap rektornya yang dianggap bertanggungjawab atas  rendahnya gaji  para alumni yang menjadi pengajar di Al-Azhar. Sang  rektor akhirnya  dicopot dan gaji para pengajar pun naik.  Pendidikannya di  universitas Islam tertua di Dunia Islam  ini  dirampungkannya pada 1360 H/1941 M. Di antara para guru besar Al-Azhar yang besar pengaruhnya  selama ia meniti pendidikan ini ialah  Syaikh  Ahmad Yusuf  Najati, Syaikh Ahmad ‘Imarah, Syaikh Ibrahim Hamrusy,  dan Syaikh Muhammad Musthafa Al-Maraghi.

Usai  merampungkan  pendidikan tinggi pada 1360  H/1941  M,  Al-Sya‘rawi  muda  lantas  meniti karier sebagai  guru  di  Thantha, Zaqaziq,  dan Iskandariah. Lantas, pada awal 1950-an, ulama  yang sangat  memikat  ketika berceramah ini bermukim  di  Arab  Saudi selama  beberapa  tahun.  Di  negeri  ini  ia  giat  menulis  dan berceramah, di samping menjadi staf pengajar di Universitas  Raja ‘Abdul ‘Aziz. Baru pada 1380 H/1960 M ia kembali  ke  negerinya untuk  menduduki  beberapa jabatan di Kementerian Wakaf  dan  Al-Azhar. Namun, pada 1386 H/1966 ia kembali meninggalkan negeri dan menapakkan kakinya ke Aljazair. Di negeri terakhir ini ia  lebih banyak mencurahkan waktunya di bidang dakwah Islamiah.

Pada awal tahun 1970-an ulama yang terkenal dermawan ini  menetap kembali  di Arab Saudi selama beberapa tahun dan bekerja  sebagai guru   besar  di  lingkungan  Universitas  Raja  ‘Abdul ‘Aziz. Kemudian,  tepatnya  pada 1396 H/1976 M,  Presiden  Anwar  Sadat memintanya  balik  ke negerinya, untuk menjabat  sebagai  Menteri Wakaf,  di samping menjadi penceramah. Karena keluasan  ilmu  dan wawasan  yang ia kemukakan dalam tulisan dan ceramahnya,  namanya segera berpendar. Tak aneh bila karena ilmu dan wawasannya  yang luas  itu ia kemudian diangkat sebagai ketua panitia konsultatif Bank Sentral Mesir.

Dalam  perjalanan  hidup selanjutnya ulama  yang  juga  membangun Kompleks  Medis  Al-Sya‘rawi  ini  ikut  berperan  aktif  dalam berbagai kegiatan keislaman, termasuk ikut mendirikan sebuah bank Islam di Austria dan memelopori berdirinya bank Islam di  tanah airnya,  Mesir. Dan, ulama yang ikut menghadiri Konferensi  Asia-Afrika  di Bandung pada 1955 ini berpulang kepada  Sang  Pencipta pada  Rabu, 22 Shafar 1419 H/17 Juni 1998 M, dalam  usia  87 tahun, dengan meninggalkan sederet karya tulis. Karya-karyanya tersebut, antara lain, adalah Fî Al-Hukm wa Al-Siyâsah, Al-Tharîq ilâ Allâh, Hâdzâ Hua Al-Islâm, Al-Islâm wa Harakât Al-Hayâh, dan Mu‘jizât Al-Qur’ân.

Nah, bagaimanakah jawaban sang ulama atas pertanyaan di atas?

Menjawab pertanyaan yang demikian, Syeikh ‘Abdurrahim Muhammad Mutawalli Al-Sya‘rawi, memberikan jawaban yang menawan, “Shalat menjadi tiang agama karena shalat merupakan rukun yang tidak dapat digugurkan selamanya. Ini karena shalat memadukan semua rukun itu. Karena itu, ketika seseorang melaksanakan shalat, sejatinya ia juga mengucapkan dua kalimat syahadah, yaitu tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah. Juga, pada saat melaksanakan shalat, ia berpuasa dalam pengertian ia menahan makan dan minum, termasuk menahan berbicara. Demikian pula shalat lebih luas cakupannya dalam menahan diri daripada puasa. Ketika seseorang Muslim melaksanakan shalat, sejatinya ia juga menahan diri dari banyak hal yang kadang masih dapat dilakukan seseorang yang sedang berpuasa. Misalnya, dalam puasa ia tidak dilarang bergerak ke mana pun ia melangkah kedua kakinya. Sedangkan dalam shalat, ia dilarang bergerak selain gerakan-gerakan yang diwajibkan ketika ia sedang menghadap Allah Swt. Dengan kata lain, shalat mempunyai cakupan menahan diri yang lebih luas daripada ketika seorang mukmin menahan diri karena berpuasa.

Zakat, seperti diketahui, adalah mengeluarkan sebagian harta. Harta itu diperoleh manusia melalui gerakan dan kerja. Gerakan dan kerja tersebut menyita sebagian waktu. Ketika seseorang sedang melaksanakan shalat, sejatinya ia juga melaksanakan zakat, karena ia telah meluangkan waktunya sebagai wadah gerakan dan kerja. Malah, dalam shalat terkandung makna zakat yang lebih luas. Melaksanakan ibadah haji ke Baitullah juga terkandung dalam shalat. Ini karena setiap kali seseorang Muslim melaksanakan shalat, ia menghadap ke arah Baitullah sebagai kiblat.

Oleh karena itu, shalat berbeda dengan rukun-rukun Islam lainnya. Mengapa? Lembaran sejarah menorehkan, shalat tidak diwajibkan melalui wahyu, tapi diwajibkan langsung antara Allah Swt. dan Muhammad Saw. Karena kedudukan yang tinggi ini, Allah Swt. memperingatkan kita supaya kita melaksanakan shalat di mana pun kita berada. Malah, Allah Swt. juga mewajibkan shalat khusus yang disebut shalat harb (shalat dalam keadaan berperang) dan shalat al-khauf (shalat ketika dalam keadaan ketakutan). Sehingga, tiada seorang pun yang akan menyatakan bahwa perang menghalangi seseorang untuk melaksanakan shalat. Malah, dalam perang setiap Muslim lebih diutamakan untuk tetap konsisten dalam melakanakan ajaran Tuhan.”

Indah sekali jawaban itu!

Monday, July 30, 2012


INDAHNYA NAMA

Assalamu’alaikum,” demikian ucap seorang perempuan di telpon genggam saya sekitar satu jam yang lalu. “Kulo saking Jember, Ustad. Kulo bade nyuwun asmo kangge anak jaler kulo, nomer kalih. Nyuwun sewu, boso Indonesia kulo mboten lancar. Saya dari Jember. Saya hendak meminta nama untuk anak lelaki saya, nomer dua. Maaf, bahasa Indonesia saya tidak lancar.”
“Wa’alaikumussalam. Ibu pirso nomer telpon kulo saking sinten? Ibu tahu nomer telpon saya dari siapa?”
Saking Ustad Bunyamin, Semarang. Kulo dipun arahaken Ustad Bunyamin supados nyuwun asmo anak kulo dateng njenengan. Dari Ustad Bunyamin, Semarang. Saya diarahkan Ustad Bunyamin supaya meminta nama anak saya kepada Anda.”

Mendengar jawaban demikian, beberapa lama saya tidak kuasa berucap. Kemudian, gumam saya. “Ya Allah, nama anak doa. Berilah ide kepada hamba-Mu ini untuk dapat memberikan nama anak itu dan kiranya nama itu senantiasa menjadi doa ibunda dan ayahandanya, sehingga anak itu memiliki akhlak yang selaras dengan nama itu.”

Selepas meminta ibu tersebut menanti, saya akhirnya memberikan kepadanya tiga nama pilihan. Alhamdulillah akhirnya salah satu nama mereka pilih. Dan, kejadian itu sendiri segera menyadarkan saya: meski saya hanya dikaruniai Allah Swt. dua putri, namun hingga kini Allah Swt. memberikan kesempatan kepada saya untuk memberi nama sekitar 40 anak. Mereka bertebaran di berbagai kota di Indonesia. Alhamdulillah.

Pentingkah nama yang baik?

Pertanyaan tersebut mengingatkan saya pada peristiwa berikut: Madinah, Dzulhijjah 8 H. Betapa gembira hati Rasulullah Saw. pada suatu malam di bulan  itu. Allah Swt. memberikan karunia kepada beliau seorang putra. Sebelum kelahiran sang bayi, beliau memanggil seorang bidan, Salma, istri Abu Rafi‘. Kemudian, beliau menyendiri ke sudut, shalat, dan berdoa. Lahirlah bayi itu dengan selamat. Beliau pun mengucapkan terima kasih kepada sang bidan, dan memuliakannya dengan pemberian sedemikian rupa. Setelah itu, beliau segera menemui Mariyah Al-Qibthiyah, sang istri tercinta yang berasal dari Mesir, untuk mengucapkan selamat kepadanya. Selamat atas kelahiran putranya yang melepaskan dirinya dari status budak. Tak lama kemudian, beliau memangku sang bayi, membawanya ke hadapannya, sebagai penebar kegembiraan dan kasih sayang.

Rasulullah Saw. pun memberi nama sang putra serupa dengan nama nenek moyang beliau, Nabi Ibrahim a.s. Beberapa hari setelah itu, beliau menyembelih  dua  ekor  domba,  mencukur  rambut  si  bayi,   dan bersedekah perak yang setara dengan berat rambutnya kepada kaum fakir miskin Madinah. Dan, ibu-ibu Anshar berebut untuk menyusuinya. Mereka ingin agar Mariyah dapat tenang meladeni beliau, karena mereka mengerti bahwa beliau sangat menyenanginya. Ibrahim akhirnya disusui seorang istri tukang pandai besi bernama Abu Saif yang bermukim di perbukitan Madinah.

Putra tercinta Rasulullah Saw yang satu itu, seperti diketahui, merupakan putra  beliau satu-satunya yang lahir selepas beliau diangkat sebagai utusan Allah. Dapat dibayangkan, betapa gembira beliau menerima karunia demikian. Apalagi kala itu usia beliau telah memasuki kepala enam. Tentu, hal itu merupakan suatu kebahagiaan tersendiri. Tak aneh, dengan kelahiran sang putra tersebut, perhatian beliau begitu besar terhadap sang putra dan juga ibunya. Sehingga, tak aneh pula, jika hal tersebut membangkitkan kecemburuan istri-istri lain beliau terhadap Mariyah Al-Qibthiyah.

Di sisi lain, jika proses pemberian nama sang putra tersebut dikaji dan diteliti dengan penuh perhatian, akan tampak bahwa Rasulullah Saw. begitu cermat dalam memilih nama. Sebab, Ibrahim termasuk nama yang indah, istimewa, dan langka pada saat itu. Nama ini belum pernah disandang oleh sahabat-sahabat beliau, juga oleh masyarakat yang berkembang di Semenanjung Arab kala itu. Jadi, pemilihan nama Ibrahim jelas bukan asal-asalan, dan malah dapat dikatakan merupakan pemilihan yang sangat tepat dan luar biasa.

Seperti diketahui, Ibrahim diambil dari nama nabi seorang kekasih Allah yang disebut 40  kali  dalam Al-Quran  dan digambarkan sebagai orang yang  menyerahkan  diri sepenuhnya  kepada Allah. Sehingga, perintah apa pun  ia  lakukan meski  harus  bertentangan dengan pikiran  dan  perasaannya. Putra  Adzar yang hidup  sekitar 2.100 sebelum Masehi yang silam ini lahir  di  Ur, di kawasan Chaldea. Setelah menerima  wahyu  dari Allah, orang pertama yang ia seru ialah ayahnya sendiri, seorang pemahat.  Tetapi,  sang ayah menolak  seruannya,  malah  kemudian mengusirnya.  Meski  diusir  sang  ayah,  ia  tetap  menyampaikan seruannya di kalangan bangsanya. Akibatnya, ia menerima  berbagai ancaman  dari  mereka. Ia lalu meninggalkan  negerinya,  disertai istri pertamanya: Sarah, menuju Palestina lewat Damaskus. 

Ketika  nabi  yang  mendapat gelar “Khalil Allah”  ini  tiba  di Palestina,  negeri  tersebut sedang tertimpa  paceklik.  Dia  lalu melanjutkan  perjalanannya ke Mesir. Di negeri terakhir  ini,  dia tinggal  tidak  lama, kemudian ia kembali lagi ke  Palestina.  Dia baru  mempunyai  putra pertama: Isma‘il,  lewat  istri  keduanya Hajar,  ketika berusia 68 tahun. Sedang putra  keduanya,  Ishaq, lahir  empat tahun kemudian. Menurut sebuah sumber, dia  berpulang pada  usia 175 tahun dan dimakamkan di Hebron  (kini  Al-Khalil), sebuah kota di Palestina, di Gua Machepelah. Hingga kini gua yang dapat  dikatakan  sebagai makam tertua di dunia ini  masih  tegak dengan gagahnya.

Ibrahim  a.s.  sendiri  datang menyerukan  bahwa  Allah  yang disembahnya adalah Tuhan seru sekalian alam, bukan Tuhan satu ras dan  bangsa,  juga bukan Tuhan yang terbatas untuk  satu  periode tertentu. Di dalam Al-Quran dikemukakan, para nabi  sebelum Ibrahim a.s. mengajarkan kaumnya agar menyembah Allah “Tuhanmu”. Tetapi  setelah  itu,  Ibrahim a.s. mengajarkan  bahwa  Tuhan  yang disembahnya  adalah Tuhan seru sekalian alam. Dengan  kata  lain, Tuhan  yang menyertai manusia saat tidur atau  sadarnya,  sebelum dan  saat  keberadaannya di dunia, dan  setelah  kematiannya. Uniknya, dia menemukan   dan  membina  keyakinannya  itu  melalui   pengalaman pribadi. Setelah mengamati bintang, bulan, dan matahari, akhirnya dia berkesimpulan, yang wajar disembah bukanlah patung, tidak juga benda-benda, tapi Tuhan seru sekalian alam.

Kecermatan Rasulullah Saw. dalam memilih dan memberi nama putra-putri beliau memang menarik untuk dikaji dan diteliti. Seperti diketahui, nama putra-putri beliau mempunyai arti yang sangat bagus. Tentu, pemberian nama-nama yang sangat bagus tersebut tidak mungkin asal-asalan, namun merupakan “buah” kecermatan beliau dalam memilih dan memberikan nama. Kecermatan beliau yang demikian itu sebenarnya tidak hanya terjadi ketika beliau memberi nama putra-putri beliau saja. Beliau juga selalu mencermati nama para sahabat beliau. Malah, kalau dirasa perlu, beliau meminta sahabat-sahabat beliau untuk mengganti dan mengubah nama mereka yang kurang islami. Misalnya saja, beliau mengganti nama kecil Abu Bakar Al-Shiddiq, yaitu ‘Abdul Ka‘bah yang berarti “hamba Ka‘bah”, menjadi ‘Abdullah yang berarti “hamba Allah”. Demikian halnya beliau mengganti nama kecil Abu Hurairah, yaitu ‘Abdusy-Syams yang berarti “hamba matahari”, menjadi ‘Abdurrahman yang berarti “hamba Yang Maha Pengasih”, dan mengganti nama putri ‘Umar bin Al-Khaththab yang bernama ‘Ashiyah yang berarti “perempuan yang berbuat maksiat” menjadi bernama Jamilah yang berarti “perempuan nan cantik”.

Dari sinilah kita dapat memahami mengapa Rasulullah Saw. bersabda, “Sungguh, pada hari kiamat kelak kalian akan diseru dengan nama-nama kalian dan nama-nama ayah kalian. Karena itu, perbaguslah nama kalian,” (HR Abu Dawud dan Ibn Hibban dari Abu Al-Darda’). Beliau juga berpesan, “muliakanlah anak-anak kalian dan perbaguslah nama mereka!” (dituturkan oleh Ibn Majah) dan “hendaklah kalian menyandang nama dengan nama para nabi!” (dituturkan oleh Abu Dawud dari Abu Wahab Al-Jusyami).

Ya, muliakanlah putra-putri Anda, dengan memberikan nama yang indah. Silakan!