Tuesday, April 28, 2015

ENSIKLOPEDIA TOKOH MUSLIM 

Langsung bersujud syukur.

Itulah yang saya lakukan tadi pagi, 28 April 2015, begitu saya menerima 5 eksemplar sebuah karya yang telah lama saya nantikan “kelahirannya”: Ensiklopedia Tokoh Muslim, dari Penerbit MIZAN, Bandung lewat seorang kurir. Mengapa sangat saya nantikan kehadirannya? Karena karya setebal 678 halaman itu itu benar-benar merupakan “hasil perburuan” saya, sendirian, nyaris selama enam tahun dalam mencari, menapis, dan menyajikan biografi tokoh-tokoh Muslim sepanjang sejarah Islam. Dan, entah berapa kali saya harus membongkar, membongkar, dan membongkar kembali karya ini sebelum akhirnya hadir di tangan pembaca budiman.

Menulis ensiklopedia seorang diri?

Mungkin, bagi sebagian orang, menulis ensiklopedia seorang diri merupakan hal yang asing, karena ensiklopedia biasanya ditulis oleh sebuah tim. Padahal, sejatinya penulisan ensiklopedia oleh seorang penulis, dalam sejarah Islam, telah berlangsung berabad-abad lamanya. Dengan kata lain, penulisan ensiklopedia oleh seorang penulis Muslim, sendirian, sejatinya bukan hal yang baru. Bagaimanakah sejarah penulisan ensiklopedia dalam sejarah Islam?

Al-Khalil  bin  Ahmad,  yang menurut torehan sejarah Islam yang lebih terkenal sebagai orang  yang  pertama  kali berinisiatif  membuat  tanda-tanda dalam Al-Quran,  seperti  waw  kecil  di atas untuk tanda dhammah, huruf alif kecil untuk  tanda fathah,  dan  huruf ya’ kecil untuk tanda  kasrah, sejatinya tidak hanya itu kiprahnya.  Ternyata, pakar bahasa Arab dengan nama lengkap Abu ‘Abdurrahman Al-Khalil bin Ahmad bin ‘Amr Al-Farahidi, lahir di Oman pada 100 H/718 M, dan terkenal hidup  sangat sederhana  ini juga  seorang penyusun ensiklopedia pertama dalam  sejarah  Islam dengan judul Kitâb Al-‘Ain, 

Selepas lahirnya  karya Al-Khalil bin Ahmad tersebut,  di  Dunia Islam  pun  terbit sederet ensiklopedia  dalam  berbagai  bidang. Karya-karya  dengan  judul “Thabaqât” dapat  dikatakan  merupakan ensiklopedia-ensiklopedia  awal  yang  disusun  para  ulama   dan ilmuwan  Muslim kala itu. Misalnya, Al-Thabaqât Al-Kubrâ,  sebuah karya besar yang juga dikenal dengan nama Thabaqât Al-Shahâbât wa Al-Tâbi‘în atau Thabaqât Ibn Sa‘d yang disusun seorang  ahli hadis  yang sejarawan Muslim terkemuka, Ibn Sa‘d,  yang  bernama lengkap  Abu  ‘Abdullah Muhammad bin  Sa‘d  Al-Zuhri  (berpulang  di  Baghdad  pada  230 H/845  M).  Karya  terakhir itu menampilkan perjalanan  hidup  Nabi Muhammad Saw. dan keluarga beliau  dengan  terinci. Selain itu, dalam karya itu juga disajikan perjalanan hidup para sahabat  Rasul  Saw.  yang ikut serta dalam Perang  Badar  dan  para sahabat angkatan pertama yang tidak ikut serta dalam perang  yang sangat  menentukan  sejarah  Islam itu  dan  yang  memeluk  Islam sebelum penaklukan Makkah.

Di  samping itu, karya yang telah dipublikasikan sebuah  tim yang terdiri dari sejumlah orientalis terkemuka pada 1322  H/1904 M itu juga menyajikan nama para sahabat dan tâbi‘ûn yang  menetap di  Madinah,  Makkah,  Thaif,  Yaman,  Yamamah,  Kufah,  Bashrah, Baghdad, Syam, dan Mesir. Bagian akhir karya itu menampilkan nama kaum perempuan yang menuturkan hadis langsung dari Rasulullah  Saw. dan yang menuturkannya lewat suami dan bukan suami mereka.

Para  ilmuwan  Muslim  pada  zaman  pertengahan  pun,  pada  masa keemasan   kebudayaan  Islam  di  kawasan  Timur  Tengah,   telah menghadirkan   ensiklopedia   yang  sangat   bermutu.   Misalnya, ensiklopedia  kedokteran  yang terdiri dari 10 jilid  lebih  yang disusun  Abu Bakar Al-Razi, seorang dokter, ilmuwan,  dan  filosuf Muslim terkemuka pada zaman pertengahan yang lahir di Ray, sebuah kota dekat Teheran dewasa ini, pada 250 H/864 M. Karya tokoh yang di Eropa dikenal dengan nama “Rhazes” itu, hingga abad ke-16 M,  masih  tetap  merupakan  dasar  dari  kuliah-kuliah   tentang kedokteran di universitas-universitas di Eropa.

Sebuah  ensiklopedia  kedokteran lain dihadirkan Ibn  Sina, seorang  ilmuwan  Muslim,  yang  di  Barat  dikenal  dengan  nama “Avicenna”,  yang  pakar  di  bidang  ilmu   kedokteran, matematika,  dan astronomi, di samping juga seorang  filosuf  dan ensiklopedis.  Karya  ilmuwan yang bernama lengkap Abu  ‘Ali  Al-Husain  bin  ‘Abdullah bin Sina dan lahir  di  Afsyanah,  dekat Bukhara,  pada Shafar 370 H/Agustus 980 M itu  berjudul  Al-Qânûn fî Al-Thib.  Karya itu dikenal di Barat, dengan judul  Canon of  Medicine,  pertama kali lewat terjemahan dalam  bahasa  Latin oleh Gerard de Cremona.

Hingga  ke masa itu, meski berbagai ensiklopedia telah disusun  oleh para ilmuwan dan pakar Muslim, namun tidak ada satu pun di antara karya-karya  itu  yang  menampilkan dengan  judul  jelas  sebagai “Ensiklopedia  Islam”.  Ensiklopedia  yang  pertama  kali  tampil dengan   judul   jelas   “Ensiklopedia   Islam”   adalah   sebuah ensiklopedia   dengan  judul  The  Encyclopaedia  of   Islam:   A Dictionary  of  the Geography, Ethnography and Biography  of  the Muhammadan  Peoples, oleh Penerbit E.J. Brill,  Leiden,  Belanda.  Ide penyusunan ensiklopedia besar yang berisi berbagai  informasi mengenai  sejarah, geografi, dan tokoh-tokoh Muslim  ini  pertama kali   dikemukakan   Ignaz  Goldziher  (1850-1921   M),   seorang orientalis terkemuka berdarah Yahudi asal Hungaria yang  terkenal sebagai pakar tentang akidah dan syariah Islam.

Ide penyusunan ensiklopedia Islam tersebut dikemukakan guru besar bahasa-bahasa  Semit  dan  penyusun  sebuah  karya  dengan  judul Muhammadanische Studien tersebut dalam Konferensi Para Orientalis di Paris pada 1315 H/1897 M. Ide tersebut kemudian direalisasikan dengan  dibentuknya  sebuah  tim  editor  yang  diketuai  M.  Th. Houtsma,  dengan para anggota yang terdiri dari:  A.J.  Wensinck, T.W.  Arnold,  W. Heffening, dan E.  Levi-Provencal.  Karya  yang pertama kali terdiri dari tiga jilid tersebut mereka publikasikan dalam tiga bahasa sekaligus: Inggris, Perancis, dan Jerman.

Di Dunia Islam sendiri, upaya memublikasikan sebuah ensiklopedia Islam pertama kali dilakukan di Kairo, Mesir pada 1351 H/1932  M. Kala  itu, di Negeri Piramid tersebut, dibentuk sebuah  tim  yang bertugas  menerjemahkan  ensiklopedia  Islam  yang  disusun  para orientalis,  versi Inggris dan Perancis, tersebut ke dalam  bahasa Arab.  Sayang, karya yang ditangani para pakar dan ilmuwan  Mesir tersebut  hanya  berakhir sampai huruf  syin.  Dan, ensiklopedia tersebut pertama kali diterbitkan pada 1352 H/1933 M.

Dalam kaitannya dengan pemilihan tokoh-tokoh Muslim yang disajikan di ensiklopedia ini, sejatinya tidak mudah bagi penulis untuk menentukan siapakah di antara tokoh-tokoh yang paling layak untuk lebih dahulu dihadirkan dalam karya ini. Mengingat pelbagai keterbatasan edisi pertama karya ini, penulis memrioritaskan nama-nama yang acap hadir dalam pelbagai ensiklopedia. Walau demikian, dalam karya ini tetap penulis lengkapi dengan para tokoh Muslim yang belum acap dihadirkan di ensiklopedia-ensiklopedia tersebut. Harapan penulis, ensiklopedia ini kelak kian lengkap dan sempurna.

Para tokoh Muslim yang dihadirkan dalam ensiklopedia yang terdiri dari sekitar 1.100 entry ini dengan sengaja tidak penulis batasi dari suatu kawasan tertentu atau masa tertentu. Demikian halnya, dalam karya ini penulis tidak membatasi hanya para tokoh atau pemuka Muslim dari suatu mazhab, aliran, dan sekte tertentu. Harapan penulis, dengan dihadirkannya para tokoh dan pemuka dari lintas mazhab, aliran, dan sekte tersebut, kita dapat mengetahui biografi ringkas mereka dan memahami kontribusi mereka masing-masing, dengan segala kelebihan, kekurangan, dan jasa mereka, di bidang yang mereka tekuni dan lintasi. Pun, dalam karya ini, penulis tidak berusaha menempatkan diri sebagai “hakim” yang menetapkan benar atau salahnya mazhab, aliran, atau sekte yang mereka usung. Tetapi, penulis lebih menekankan pada perjalanan hidup mereka dari pelbagai aspek yang dapat disajikan.

Erat kaitannya dengan proses penulisan karya ini, kemajuan dan perkembangan  ilmu dan teknologi dewasa ini, terutama teknologi  informasi, telah memberi  kesempatan kepada penulis untuk  melakukan  check  and  recheck  berbagai   entri terpilih, sehingga bisa dihadirkan entri-entri yang lebih  tuntas dan akurat, walau ringkas. Di samping itu, kehadiran berbagai website tentang Islam, Dunia Islam, dan biografi para pemuka tokoh dan pemuka Muslim di internet sangat besar artinya bagi  penulis dalam  menyelesaikan  karya ini. Selain itu,  kehadiran  teknologi informasi  tersebut telah memudahkan penulis untuk  menghadirkan kalender Hijriah.

Perlu penulis kemukakan, dalam ensiklopedia ini penulis berusaha menyajikan dua penanggalan, Hijriah dan Masehi, pada setiap entry yang ditampilkan. Sehingga, dengan demikian, penulis harapkan  para pembaca dapat mengetahui pelbagai peristiwa yang berkait dengan biografi para tokoh yang disajikan dalam ensiklopedia ini dari dua penanggalan tersebut. Untuk itu, seluruh tahun yang disajikan dalam karya ini, baik tahun Hijriah maupun Masehi, telah penulis periksa kembali dengan menggunakan situs yang tersedia di internet: “gregorian-hegira converter”. Karena itu, dalam hal ini, kadang terdapat perbedaan dengan tanggal dan tahun yang disajikan dalam karya maupun ensiklopedia lain. Dan, manakala dalam masalah ini terdapat perbedaan tanggal atau tahun, penulis lebih mendahulukan tanggal atau tahun yang dihasilkan oleh proses pengolahan oleh situs tersebut. Memang, bisa saja tanggal atau tahun yang disajikan berbeda dengan tanggal dan tahun yang dikemukakan dalam karya atau ensiklopedia lain.

Di sisi lain, ensiklopedia popular yang penulis harapkan merupakan  karya pengenalan (introductory work) yang  menarik  di seputar  para tokoh dan pemuka Muslim dari masa ke masa, dan secara tak langsung juga menyajikan perkembangan sejarah  Islam dan kaum Muslim sepanjang sejarah mereka yang telah berjalan  lebih dari lima belas abad, ini tidak akan pernah hadir tanpa topangan khazanah kepustakaan tentang Islam yang disusun dan ditulis  para ilmuwan,  pakar, dan penulis di berbagai bidang.  Sebagian  besar kepustakaan  tersebut kami hadirkan pada akhir karya ini,  dengan harapan agar para pembaca dapat melanjutkan kajian dan penelitian mereka lebih jauh.

Sebagai  sebuah ensiklopedia yang merupakan hasil  perpaduan  dan pengolahan berbagai sumber, apalagi ditulis bukan oleh sebuah tim yang  berasal  dari berbagai disiplin yang  menguasai  sepenuhnya “segala hal ihwal” entri-entri yang disajikan, karya  ini  tentu tidak terlepas dari kelemahan  dan  kekurangan serta masih jauh dari kesempurnaan. Karena itu, apabila dalam karya ini terdapat  kelemahan, kealpaan, kekhilafan,  dan kekurangan, semua itu sepenuhnya dari penulis dan tanggung jawab penulis. Karena itu pula, kritik dan saran dari siapa pun tentu  sangat penyusun harapkan. Meski demikian, penyusun tetap berharap semoga karya ini bisa menjadi setetes ilmu yang mampu menebarkan manfaat bagi para pembaca sekalian dan dunia ilmu pengetahuan.

Tentu, dalam kesempatan ini, penulis tidak akan pernah melupakan sumbangan berbagai pihak yang nama mereka terlalu panjang  untuk disajikan  di sini, baik langsung maupun tidak  langsung,  yang membuat  karya ini dapat dihadirkan. Meski demikian,  dalam kesempatan ini penulis  ingin  kembali menyampaikan  ucapan terima  kasih  sedalam-dalamnya kepada Penerbit MIZAN  Bandung, dan Tim,  yang  telah  bersedia menerbitkan  ensiklopedia  popular seputar para tokoh Muslim ini. Ucapan terima kasih sedalam-dalamnya juga penulis sampaikan kepada istri  tercinta penulis dan dua putri penyusun yang  tetap setia  mendampingi  penulis  hingga terselesaikannya   karya  ini,  meski  mereka  acap  kali   harus merelakan waktu yang semestinya menjadi hak mereka. Kiranya Allah membalas amal ibadah mereka semua. Amin.



Saturday, October 18, 2014

SEPENGGAL CERITA CAK SHON

Tadi malam, ketika malam kian beringsut pelan, dan suasana di rumah tiada lagi diwarnai keriuhan suara anak-anak yang mengaji Al-Quran, sementara istri berada jauh di Pulau Seram, Maluku serta dua putri saya sedang “menikmati perjuangan mereka” di Jakarta, saya pun duduk di depan laptop yang menyala sejak dini hari. Kemudian, entah kenapa, tiba-tiba muncul pikiran untuk menelusuri kehidupan para mahasiswa Indonesia di negeri orang. Dan, selepas lama “berkelana”, pencarian itu akhirnya berakhir di sebuah blog milik seorang mahasiswa Indonesia yang menyebut dirinya Cak Shon. Lembar demi lembar blog mahasiswa s-3 University of Nottingham, Inggris itu pun saya simak. Entah kenapa, mungkin karena saya orang yang dikaruniai usia lebih dari 60 tahun, pandangan saya tertarik dengan tulisannya tentang masa tua.
“Kawan, apa yang kau pikirkan tentang sebuah hari tua?,” tulis Cak Shon ketika memulai tulisannya tentang sepenggal cerita di hari tua. “Di hari ketika raga kita semakin tak berdaya. Ketika kulit kita mulai kendur, wajah kita tak setampan dan secantik di kala muda lagi. Otak pun tak lagi tajam dalam berfikir. Perlahan, kita pun kehilangan memori ingatan kita. Hari-hari ketika kita semakin mendekati ketidakberdayaan. Hari-hari ketika tak ada lagi yang bisa kita sombongkan. Sebelum akhirnya, kita pun musnah. Benar-benar tiada dari panggung kehidupan dunia yang sementara ini.
Sebagian dari kita mungkin membayangkan hari tua yang indah. Menikmati manis buah perjuangan ketika muda, bersama lucunya cucu cicit kita. Hari tua yang penuh kehangatan kasih sayang orang-orang yang kita cintai dan mencintai kita. Hari-hari ketika kita semakin dekat dan mengenal Tuhan, yang ketika muda sering kita lupakan. Hari-hari ketika kita semakin bijak memaknai kehidupan. Yang coba kita abadikan dalam goresan tulisan sebagai warisan abadi untuk anak turun kita.
Kawan, kita pun tak ingin membayangkan akan hari tua yang penuh sepi kesendirian. Tiada hari berlalu tanpa kesedihan. Hari-hari penuh rintihan penyesalan. Ketika orang-orang tiada lagi memperhatikan. Hari-hari menunggu penuh ketakutan akan datangnya misteri gelap. Sebuah kematian.”
Usai menulis demikian, Cak Shon kemudian menuturkan tentang sepenggal kehidupan masa tua di negeri orang, Kota Nottingham, “Kawan, pagi sekali hari ini hatiku menangis. Ketika aku menyaksikan seorang perempuan tua di hari tuanya. Dia yang tidak bisa baca tulis sejak lahir, di usianya yang semakin renta, dia masih harus bekerja sangat keras membanting tulang. Hanya sekadar untuk bertahan hidup.
Kawan, malam tadi kembali hatiku menangis. Saat aku kembali dari kampus, aku saksikan lagi-lagi seorang perempuan tua, tertatih keluar dari rumahnya. Mencoba berjalan, tangannya merayapi tembok, kakinya tak mampu menyangga tubuhnya yang ringkih. Rupanya, dia hanya ingin membeli kentang dan ikan goreng. Beruntung aku menemukannya, dan aku bisa membelikannya. Terlihat senyum dan wajahnya yang teramat dalam, ketika bibirnya bergetar berucap berkali-kali , “God Blesses You.”
Konon, cerita sedih di hari tua di negeri yang konon tingkat kemakmuranya tertinggi di atas bumi ini adalah cerita biasa. Semoga kita ditakdirkan memiliki hari tua yang indah. Allâhumma âmîn.”
“Allâhumma âmîn,” bibir saya pun pelan mengaminkan doa Cak Shon. 

Thursday, October 9, 2014

DELAPAN PEDOMAN HIDUP

Suatu  saat seorang Tuan Guru kondang bertanya kepada salah seorang muridnya, “Muridku, sejak kapan engkau menimba ilmu kepadaku?”
“Sejak tiga puluh tahun, Tuan Guru,” jawab si murid dengan suara pelan dan seraya menundukkan kepalanya.
“Mâsyâ Allâh!  Apa saja yang engkau pelajari  selama tiga puluh tahun itu?”  tanya Tuan Guru selanjutnya. Sangat penasaran.
“Delapan persoalan, Tuan Guru,” jawab si murid. Tetap dengan suara pelan dan tetap dengan kepala tertunduk.
“Innâ  lillâhi  wa innâ ilaihi râji‘ûn. Terbuang  percuma  sajalah umurku  bersamamu.  Selama tiga puluh tahun engkau hanya  memelajari  delapan  persoalan saja?” tanya Tuan Guru. Sangat terperanjat. Dan, tentu saja, sangat penasaran.
“Benar, Tuan Guru,” jawab si murid pelan.  “Selama itu, saya  tidak mempelajari  hal-hal yang lain. Sungguh, Tuan Guru. Itulah yang saya pelajari dan lakukan selama itu.”
“Baiklah. Jika demikian, paparkan   delapan   persoalan   itu kepadaku. Aku ingin   sekali mendengarkannya.”  
“Yang pertama,”  jawab si murid, tetap dengan nada suara pelan, “ketika anak manusia yang  hidup di  dunia  ini saya cermati, saya perhatikan, setiap orang ingin punya kekasih  dan ingin bersama dengan kekasihnya hingga ke liang kubur. Namun, ketika  dia telah  sampai  ke  liang  kubur,  ternyata  dia  berpisah   dengan kekasihnya. Karena itu, saya pun menjadikan perbuatan baik  sebagai kekasih saya.  Sebab, bila saya  masuk ke dalam kubur, masuk pulalah  kekasih saya bersama saya.”
“Benar sekali apa yang engkau kemukakan, muridku. Lantas, yang kedua apa?”
“Ketika  firman  Allah Swt, “Dan adapun  orang-orang  yang  takut pada  kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari  keinginan  hawa nafsunya, maka surgalah tempat tinggalnya.” (QS Al-Nâzi‘ât, [79]: 40-41) saya renungkan,  saya benar-benar meyakini bahwa firman Allah Swt. tersebut  benar.  Karena itu, saya lalu berusaha menolak hawa nafsu. Sehingga, dengan demikian, saya tetap taat kepada-Nya.”
“Indah sekali jawabannmu. Lantas, yang ketiga?”
“Ketika anak manusia yang ada di dunia ini saya renungkan, ternyata saya lihat setiap  orang ingin memiliki harta benda,  menghargainya,  memandangnya bernilai,  dan memeliharanya. Kemudian, saya merenungkan firman  Allah Swt., “Apa yang di sisi kalian akan lenyap dan apa yang ada di  sisi Allah adalah kekal.” (QS Al-Nahl, [16]: 96). Karena itu, setiap  kali saya mendapatkan sesuatu yang berharga dan  bernilai,  sesuatu itu pun  saya hadapkan kepada Allah Swt. Semoga sesuatu itu kekal dan terpelihara di sisi-Nya.”
“Mâsyâ Allâh, indah sekali jawabanmu. Yang keempat?”
“Tuan Guru, ketika  pandangan saya terarah kepada anak manusia yang ada di dunia  ini,  saya perhatikan setiap  orang  senantiasa menaruh  perhatian  terhadap  harta, jabatan,  kemuliaan, dan keturunan. Lalu, ketika semua itu saya cermati, tiba-tiba nampak semua itu tiada artinya. Kemudian,  saya lantas merenungkan firman Allah Swt., “Orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah  adalah orang yang paling bertakwa di antara kalian.” (QS Al-Hujurât [49]: 13). Karena itu, saya pun bertakwa kepada-Nya. Kiranya saya menjadi orang mulia di sisi Allah.”
“Benar sekali jawabanmu, muridku. Lantas, yang kelima?”
“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan, ternyata  mereka suka  saling  menohok  dan  mengutuk  satu  sama  lainnya.  Penyebab semuanya itu adalah perasaan dengki. Kemudian, saya pun memperhatikan  firman Allah  Swt., “Kami telah menentukan di antara  mereka  penghidupan mereka dalam kehidupan di dunia.” (QS Al-Zukhrûf [43]: 32)  Karena itu,  perasaan  dengki pun saya tinggalkan dan diri saya  pun  saya jauhkan dari orang banyak. Saya tahu, saya akan mendapatkan pembagian rezeki dari sisi Allah Swt. Karena itu, permusuhan orang banyak kepada saya pun saya abaikan.”
“Menarik sekali, muridku. Yang keenam?”
“Ketika anak manusia yang hidup di dunia ini saya cermati, ternyata mereka suka  berbuat kedurhakaan dan berperang satu sama lain.  Saya  pun kembali  pada firman Allah Swt., “Sungguh, setan  adalah  musuhmu. Karena itu, jadikanlah dia sebagai musuh(mu).” (QS Fâthir [35]: 6). Karena itu pula,  setan pun saya pandang sebagai musuh saya satu-satunya. Dan, saya  pun sangat  berhati-hati  terhadapnya, karena  Allah  Swt.  menyatakan setan sebagai  musuh saya. Dan, permusuhan antarmanusia pun saya tinggalkan.”
“Duh, indah sekali jawabanmu, muridku. Yang ketujuh?”
“Ketika  anak manusia yang hidup di dunia ini saya perhatikan,  ternyata saya  lihat setiap  orang  berusaha memburu sekeping dari dunia  ini.  Lalu,  dia menghinakan   diri  padanya  dan  memasuki   bagiannya   yang terlarang. Kemudian, saya pun merenungkan firman Allah Swt., “Dan, tidak ada suatu  binatang  melata  pun di  Bumi  melainkan  Allah-ah  yang memberikan  rezekinya.” (QS Hûd [11]: 6). Saya pun menjadi  tahu,  ternyata diri saya ini  termasuk binatang melata yang rezekinya ada di tangan  Allah Swt. Karena itu, saya pun lantas melakukan sesuatu  yang menjadi hak Allah atas diri saya, saya tinggalkan  segala sesuatu yang  menjadi  hak  Allah  atas  diri saya, dan saya tinggalkan segala sesuatu yang menjadi hak saya di sisi-Nya.”
“Luar biasa indah jawabanmu, muridku. Lantas, yang kedelapan?”
“Ketika  anak manusia  yang hidup di  dunia  ini saya perhatikan,  ternyata setiap orang menggantungkan  diri  pada  yang selain dirinya.  Yang ini pada bendanya. Yang itu pada perniagaannya. Yang lain  lagi  pada  perusahaannya. Dan,  yang  satunya  lagi   pada kesehatan badannya. Masing-masing orang bergantung pada sesamanya. Lalu, saya pun kembali pada firman Allah  Swt.,  “Dan, barang siapa  yang  bertawakkal kepada Allah,  niscaya  Allah  akan mencukupi  keperluannya.” (QS Al-Thalâq [65]: 3). Karena itu, saya  pun berserah diri kepada Allah Swt. Ternyata, Allah Swt. mencukupi segala keperluan saya.”
“Muridku,” ucap Tuan Guru memungkasi perbincangan di antara mereka berdua.  “Kiranya Allah Swt. melimpahkan karunia-Nya  kepadamu!  Sejatinya, segala ilmu yang ada di dalam Taurat,  Injil, Zabur,  dan  Al-Quran mulia telah saya pelajari dan renungkan. Ternyata, aku mendapatkan, segala  persoalan kebaikan dan keagamaan dalam kitab-kitab suci itu berkisar  pada  delapan persoalan tersebut. Dengan kata lain, barang siapa melaksanakannya, berarti dia telah melaksanakan kandungan keempat kitab tersebut!”


Sunday, August 10, 2014

IBN HAZM:
Ulama Besar yang Filosuf Cinta

Mencari rumah Ibn Hazm di Cordoba, itulah salah satu rancangan saya dalam perjalanan ke Spanyol di bulan Agustus ini dan ketika berada di Kota Cordoba. Ada apa dengan rumah Ibn Hazm dan kenapa Ibn Hazm?

Selain karya besar Al-Ghazali, Ihya ‘Ulûm Al-Dîn (yang terdiri dari 16 jilid), satu karya puncak (masterpiece) lain  ulama terkemuka lain yang telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia adalah karya puncak Ibn Hazm, Thauq Al-Hamâmah. Berbeda dengan karya besar Al-Ghazali, yang membahas secara rinci pelbagai persoalan keagamaan, lain halnya dengan karya Ibn Hazm. Karya ulama besar, yang asli Cordoba dan nenek moyangnya menganut Agama Kristen dan berambut pirang,  ini menyajikan suatu bahasan yang lengkap dan memikat tentang cinta. Berbeda dengan karya-karya para sufi, ketika membahas tentang cinta, yang lebih suka mengkaji cinta Ilahi, Thauq Al-Hamâmah (diterbitkan Penerbit Mizan dengan judul Risalah Cinta: Kitab Klasik Legendaris tentang Seni Mencinta), menyajikan suatu bahasan yang dapat dikatakan lengkap tentang cinta manusiawi. Karena itu, jika Anda sedang jatuh cinta, misalnya, silakan baca dan renungkan karya menawan itu.

Sejatinya, Thauq Al-Hamâmah tidak hanya membahas tentang cinta semata. Tetapi, karya itu juga menyajikan kisah cinta sang penulis. Dalam karya klasik yang telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa dunia itu, misalnya, juga dikemukakan, Ibn Hazm pernah jatuh cinta:

“Ketika saya masih remaja, saya jatuh cinta kepada seorang hamba sahaya perempuan nan amat jelita milik keluarga saya yang tinggal serumah dengan kami,” kenang Ibn Hazm Al-Andalusi dalam karyanya tersebut. “Hamba sahaya itu masih gadis. Berusia enam belas tahun. Wajahnya elok nan sangat memesona. Kecerdasan dan kesucian dirinya menawan hati. Ia begitu pintar memelihara kehormatan dan harga dirinya. Ia tinggalkan segala perbuatan yang kurang ajar dan tak senonoh. Ia pun berpakaian rapi dan tertutup rapat senantiasa. Juga, ia sedikit bicara, tak suka mencela, pandangannya senantiasa terjaga, memelihara jarak dengan lawan jenis, dan senantiasa bersikap hati-hati. Sungguh, ia benar-benar amat memesona.
Selain itu,  ia begitu pandai berkelit dan piawai dalam menyatakan penolakan. Ia begitu tenang dan santun kala duduk. Ia lebih banyak mendengarkan ketimbang bicara. Ia senantiasa menghindar bila ada orang yang ingin berbuat macam-macam dengannya. Karena itu, orang pun segan kepadanya. Ia bukan tipe perempuan gampangan, di mana setiap laki-laki dapat menyinggahinya. Kepribadiannya memikat hati setiap orang yang mengenalnya. Kesantunan tabiatnya mengusir orang yang hendak menjahilinya. Ia dermawan dan ringan tangan. Ia sungguh cekatan dalam pekerjaan. Ia tak senang canda yang tiada manfaatnya. Dan, ia sangat pandai membalas budi dan memendam rasa. Duhai, ia benar-benar gadis sangat memikat nan memesona.”
Demikian kenang tokoh yang sarat pengalaman itu perihal gadis yang dicintainya. Selepas bertutur demikian, ahli hukum  Islam  yang  menganut Aliran  Zhahiriyyah ini  kemudian menuturkan kembali kisah cintanya yang bertepuk sebelah tangan itu,

“Saya sangat mencintainya. Sungguh, sangat mencintainya. Selama dua tahun saya terus berusaha keras untuk dapat mendengar satu kata khusus saja yang terucap dari mulutnya untuk saya. Ya, kata khusus di luar pembicaraan yang sifatnya umum. Namun, sekeras apa pun usaha saya, tetap tak menghasilkan harapan yang saya damba. Ia tak pernah mau berucap kepada saya. Walau itu sepatah saja… Saya tak akan pernah dapat melupakan peristiwa itu. Tak akan pernah! Malah, hingga pun kematian menjemput saya. “
Nah, ketika berada di Cordoba nanti, selain akan mengambil foto patung Ibn Hazm yang menghiasi depan Pintu Gerbang Sevilla kota tersebut (patung itu didirikan atas prakarsa masyarakat dan pemerintah Kota Cordoba pada 1963, sebagai penghargaan atas jasa-jasa tokoh yang dipatungkan itu), saya akan mencoba mencari di mana lokasi rumah ulama besar tersebut. Juga, ingin membayangkan bagaimana ia sedang jatuh cinta dan akhirnya patah hati, sehingga membuatnya berbulan-bulan tidak mau ganti baju. Duh.

Kini, siapakah Ibn Hazm?  

Ahli hukum Islam dan  ilmu  kalam  terkemuka Andalusia yang terkenal juga sebagai filosof cinta ini  bernama lengkap Abu Muhammad ‘Ali bin Ahmad bin Sa‘id bin Hazm. Lahir  di Cordoba  pada Rabu, 30 Ramadhan 384 H/7 November 994  M,  dalam lingkungan  keluarga  yang berasal dari Desa  Manta  Lisyam  yang terletak  dalam  wilayah  Niebla,  ilmuwan  dan  ulama  berdarah Persia  ini  tumbuh  dewasa sebagai putra  seorang  menteri  Al-Manshur  bin  Abu ‘Amir di sebuah istana nan indah  dan  megah. Sang  ayahandalah, seperti kebiasaan kala itu,  yang  menjadi  guru pertamanya. Ketika sang ayahanda berpulang, pada akhir Dzulqa‘dah 402  H/Juni  1013  M, ia pun meninggalkan Cordoba  yang  kala  itu sedang  diguncang prahara perang saudara dan menetap  di  Almeria dan Jativa.

Lima  tahun  kemudian,  ketika Ibn Hazm kembali  ke  Cordoba,  ia diangkat  sebagai  menteri oleh ‘Abdurrahman  IV  Al-Murtadha.  Segera, dunia kekuasaan dan politik menjadi tak  asing baginya.  Beberapa  kali ia terlibat dalam konflik  politik  yang keras, terutama selepas pembunuhan ‘Abdurrahman V Al-Mustazhhir pada  424  H/1023  M.  Selepas  merasakan  pahit  getirnya  dunia politik,  ia  kemudian  memalingkan  diri  ke  arah  dunia   ilmu pengetahuan. Lahirlah karya-karyanya yang terkenal hingga  kini. Di  bidang  fikih, karyanya yang berjudul  Al-Muhallâ  merupakan salah satu sumber acuan. Di bidang ilmu kalam, karyanya  Al-Fashl fî  Al-Milal  wa  Al-Ahwâ’  wa  Al-Nihal  tidak  kalah   nilainya dibandingkan  dengan  karyanya  di bidang fikih  itu.  Di  bidang akhlak, ia menggelar karya besarnya dengan judul Al-Akhlâq wa Al-Sair fî Mudâwah Al-Nufûs. Tak mengherankan bila ia mendapat gelar Al-Imâm (Sang Imam).

Ibn  Hazm  juga dikenal sebagai ahli hukum  Islam  yang  menganut Aliran  Zhahiriyyah,  yang menolak ra’y  (rasio),  dan  mengambil lahiriah teks-teks Al-Quran. Tak aneh bila ia berpendapat bahwa barang siapa memberi fatwa dengan berdasarkan ra’y, maka  ia memberi  fatwa tanpa ilmu. Menurutnya, seseorang tidak  dipandang berilmu  tentang Islam, kecuali apabila ia  mendalami  Al-Quran dan Al-Sunnah. Ilmuwan  yang  berpulang ke hadirat Allah di Manta  Lisham  pada Sabtu, 28 Sya‘ban 456 H/14 Agustus 1064 M ini juga terkenal sebagai seorang ilmuwan yang produktif.  Konon, karya-karya  sekitar 400 buku. Antara lain Al-Fashl fî  Milal  wa Al-Nihal,  Al-Nâsikh wa Al-Mansûkh, Al-Ahkâm li  Ushûl  Al-Ahkâm, Nuqâth Al-‘Arûs fî Tawârîkh Al-Khulafâ’, dan Jawâmi‘ Al-Sîrah Al-Nabawiyyah.

Semoga, ketika berada di Kota Cordoba nanti, saya dapat menemukan lokasi rumah Ibn Hazm, sambil membayangkan kisah cintanya yang berakhir tragis!
   

Wednesday, July 23, 2014

‘ABDUH:
Ulama Terkemuka dan Pembaharu Muslim yang Nyaris Dilupakan?

Muhammad ‘Abduh, seorang ulama terkemuka dan pembaharu Muslim Mesir, tahukah Anda? Jika Anda mengetahuinya, sejatinya itu merupakan hal yang luar biasa.

Lo, mengapa demikian?

Baiklah, kini, kita kembali dahulu ke Kairo pada akhir tahun 1970-an. Tentu Anda tahu, kala itu  Revolusi Islam Iran belum lama membara di Iran. Tidak lama selepas revolusi itu mengguncang negeri yang sebelumnya dipimpin Mohammed Reza Pahlavi, seorang ilmuwan Amerika Serikat dan mantan Rektor American University in Beirut (yang tewas pada Rabu, 14 Rabi‘ Al-Akhir 1404 H/18 Januari 1984  M karena ditembak dua orang bersenjata tidak dikenal di Beirut, Lebanon), Malcolm H. Kerr, datang ke Kairo.

Setiba di Negeri Piramid, penulis sejumlah buku, antara lain Lebanon in the Last Years of Feudalism 1840-1868,The Arab Cold War, Gamel Abd al-Nasr and his Rivals, 1958-1970, Islamic Reform: The political and legal theories of Muhammad ‘Abduh and Rashid Ridā, The Elusive Peace in the Middle East, dan Economics and Politics of the Middle East  ini kemudian menebar kuesioner di antara sejumlah mahasiswa Muslim yang berasal dari pelbagai negara Arab dan sedang menimba ilmu di American University in Cairo. Kala itu, universitas tersebut masih berpusat di salah satu sisi Tahrir Square: jantung revolusi Mesir beberapa tahun terakhir. Universitas itu sendiri mulai beroperasi pada 1337 H/1919 M. Namun, sejak 1429 H/2008 M, program undergraduate dan graduate dialihkan ke sebuah pemukiman baru, New Cairo, yang terletak tidak jauh dari Cairo International Airport, berdampingan dengan Distrik Nasr City.

Nah, apa maksud Malcolm H. Kerr, seorang mantan guru besar kajian Timur Tengah di University of California, Los Angeles, Amerika Serikat,  dalam menebarkan kuesioner tersebut? Kuesioner itu dimaksudkan untuk mengetahui, sejauh mana pengenalan dan pengetahuan mereka tentang tiga pembaharu Muslim di Timur Tengah pada zaman modern: antara lain Muhammad ‘Abduh (perlu dikemukakan, disertasi Malcolm H. Kerr tentang Muhammad ‘Abduh dan  Muhammad Rasyid Ridha dengan judul “Islamic Reform: The Political dan Legal Theories of Muhammad Abduh and Rashid Rida” dan diajukan di Johns Hopkins University, Amerika Serikat, di bawah bimbingan Majid Khadduri dan Sir Hamilton Gibb). Bagaimanakah hasil kuesioner itu? Ternyata, hasil kuesioner itu benar-benar mengejutkan: sebagian besar mahasiswa tersebut tidak mengenal pembaharu Muslim pada zaman modern itu. Padahal, rata-rata para mahasiswa Muslim Arab tersebut berasal dari kalangan kelas menengah ke atas yang tentu saja dipandang cukup memiliki wawasan yang luas.

Oleh karena itu, jika Anda masih mengetahui kisah hidup ulama terkemuka dan pembaharu Muslim tersebut, pengetahuan Anda memang luar biasa. Kini, siapakah ulama terkemuka dan pembaharu Muslim yang nyaris dilupakan para mahasiswa dari sejumlah negara Arab itu?

Tokoh dan pemikir pembaharuan Muslim di Mesir ini lahir di Mehallah Nashr di Provinsi Buhaira pada  1266 H/1849  M  dalam  lingkungan  keluarga  petani.  Selepas  belajar membaca  dan  menulis  di desanya, ia kemudian  menimba  ilmu  di Masjid  Ahmadi  di  Thantha, di bawah  bimbingan  Syeikh  Darwisy Khidhr.  Pada 1285 H/1868 M ia mulai memasuki  Al-Azhar,  sebuah lembaga  pendidikan  terkemuka di  Kairo, Mesir. Selama dua belas tahun  ia  menimba ilmu dan mendalami tasawuf  dan  filsafat  di lembaga ini, sampai ia meraih gelar al-‘âlimiyyah. Pada masa ini pula, tokoh yang telah menikah sejak berusia 16 tahun ini  bertemu dengan Jamaluddin Al-Afghani,  seorang  tokoh pembaharuan  dalam  Islam,  yang  kala  itu  sedang mengunjungi Kairo.

Selepas  merampungkan pendidikannya di Al-Azhar dan  mengajar  di Perguruan Dar Al-‘Ulum (kini merupakan salah satu fakultas  dalam lingkungan  Universitas Kairo), antara 1294-1300  H/1877-1882  M, tokoh  Muslim  yang lebih menaruh  perhatian  terhadap  perbaikan masyarakat  melalui  pendidikan  ketimbang  melalui   pembangunan politik  ini  sering menulis di koran harian  Al-Ahrâm  dan  belakangan menjadi editor Al-Waqâ’i‘ Al-Mishriyyah. Karena terlibat dalam agitasi  terhadap politik dan intervensi militer Inggris di Mesir pada 1300  H/1882 M, ia dituduh termasuk kalangan para pemimpin partai ‘Urabi Pasya dan diusir dari Mesir.

Selepas  menerima perintah pengusiran,  ‘Abduh  kemudian pergi ke Suriah.  Kemudian,  pada  1303 H/1885  M, ia menapakkan kakinya ke Beirut dan tinggal  di  kota itu  selama  tiga  setengah tahun. Lantas,  ia  bergabung  dengan Jamaluddin  Al-Afghani di Paris dan  bersama-sama  menerbitkan majalah  Al-‘Urwah Al-Wutsqâ. Dari Paris, dia kemudian  pindah  ke Tunisia,  selama  beberapa bulan, sambil  berpropaganda  tentang seruannya.  Selanjutnya, ia menapakkan kakinya kembali ke  Beirut. Di kota ini selain mengajar, selama masa ini, ia sempat  menyalin satu-satunya karya Al-Afghani yang cukup berarti, Al-Rad ‘alâ Al-Dahriyyîn.

Pada  1306  H/1888 M tokoh dikatakan begitu longgar  dan  malahan pandangannya  tentang  peran  dan fungsi  akal  terhadap  wahyu disinyalir  lebih liberal daripada kaum Mu‘tazilah ini  diampuni dan  diizinkan kembali ke Mesir. Selepas melalui perantaraan  Lord Cromer dan lain-lainnya. Ia kemudian diangkat sebagai qâdhî, dan kemudian menjadi anggota Majelis Syura Pengadilan. Lantas, pada 1313 H/1895 M, ia ditunjuk sebagai Komite Administratif Al-Azhar,  dan akhirnya  diangkat  sebagai  Mufti Mesir yang  ia  jabat  sampai menghadap  Sang  Pencipta pada Kamis, 8 Jumada Al-Ula  1323  H/11 Juli  1905 M di Alexandria, dengan meninggalkan sejumlah  karya. Antara  lain  Risâlah Al-Tauhîd, sebuah karyanya di  bidang  ilmu tauhid  yang  pertama kali diterbitkan pada 1315  H/1897  M  dan  antara  lain  membahas mengenai keesaan  Allah,  hubungan  agama dengan  filsafat, kebutuhan umat manusia terhadap risalah  para rasul  dan nabi, dan peran Islam dalam membina umat  manusia,  Al-Islâm   wa  Al-Rad  ‘ala  Muntaqidih,  dan  Al-Islâm wa Al-Nashrâniyyah ma‘a Al-‘Ilm wa Al-Madaniyyah.

Ketika tokoh yang satu ini berpulang, menurut Dr. Muhammad Jabir Al-Anshari dalam sebuah karyanya berjudul Tahawwulât Al-Fikr wa Al-Siyâsah fî Al-Syarq Al-‘Arabî, ia “mewariskan” tiga kelompok para muridnya yang tidak seiring dari sisi pemikiran dan politik. Yang satu, dapat dikatakan, mendukung pemikiran yang dikatakan liberal dan yang satu mendukung pemikiran yang dikatakan konservatif. Dua kelompok tersebut, di samping kelompok tengah yang mengikuti garis pemikiran Muhammad ‘Abduh, tetap mewarnai dunia pemikiran dan politik di negeri kelahiran sang ulama hingga saat ini. Dan, mungkin, andai ‘Abduh masih hidup dan menyaksikan perseteruan di antara para murid-muridnya tersebut, ia akan menangis. Sebab, bukan itu sejatinya yang dituju oleh pembaharuan yang digelarnya. Sebuah pelajaran hidup yang menarik: dari pemikiran seorang tokoh dapat timbul dan berkembang aliran pemikiran dan politik yang beragam serta kadang satu sama lainnya saling berseteru. Mungkin, ini terjadi (salah satunya), karena para muridnya memiliki interpretasi yang berbeda atas pemikiran sang guru.

Dan, kini, dengan usainya penyajian kisah hidup Muhammad ‘Abduh, usai pula sudah seri perjalanan hidup sejumlah ulama dan ilmuwan Muslim dari berbagai penjuru dunia yang dapat saya sajikan pada bulan Ramadhan ini. Mungkin, tulisan-tulisan itu membosankan dan menjemukan. Untuk itu, mohon dimaafkan. Tetapi, dengan mengetahui kisah hidup mereka, kiranya kita dapat menyerap hal-hal positif dari kehidupan mereka dan menjadikan semua sebagai “ibrah” bagi kita dan menjadi setetes ilmu yang bermanfaat bagi kita semua. Tentu, masih ada banyak manfaat lain yang kiranya bisa didapatkan dari pengenalan dan pengetahuan tentang perjalanan hidup para tokoh tersebut. Tentu pula, kehadiran kisah-kisah itu tidak dimaksudkan untuk mendewakan mereka.

Sejatinya, masih banyak tokoh-tokoh lain yang akan saya sajikan (dan sekitar 1,100 biografi para tokoh Muslim telah usai saya tulis dan insya Allâh segera akan diterbitkan). Namun, karena ada tugas lain yang harus segera saya siapkan, dengan berat hati seri ini saya cukupkan sampai hari ini saja. Dan, dengan akan hadirnya Hari ‘Idul Fitri, saya dan keluarga menyampaikan permohonan maaf, lahir dan batin, dan “Selamat Hari ‘Idul Fitri”. Kiranya Allah Swt. menerima ibadah puasa Ramadhan dan amal-amal kita. Taqabballâhu Minna wa Minkum min Al-‘Âidin wa Al-Fâ’izîn wa Al-Maqbulîn, Kullu ‘Âm wa Antum bi Khair.