Friday, December 11, 2015

IBUKU

Masya Allah, tak terasa 37 tahun lewat ketika pertama kali aku menjejakkan kaki di Negeri Piramid.”

Demikian gumam bibir saya, tadi pagi, ketika teringat perjalanan hidup diri. Ya, tepat pada tanggal sama dengan tanggal hari ini, 11 Desember, itulah hari pertama kali kedua kaki saya menjejakkan kaki di ibukota Mesir: Kairo 37 tahun yang silam.  Seperti pernah saya tulis dalam sebuah karya berjudul Dari Istanbul hingga Eksotisme Masjid Al-Azhar, pada tanggal itu, tepatnya pada Senin, 10 Muharram 1399 H/11 Desember 1978 M, itulah hari pertama kali saya menjejakkan kaki di Kota Kairo selepas naik pesawat terbang Royal  Air Maroc selama sekitar dua jam dari Kota Jeddah. Tanpa mengenal siapa pun. Juga, belum mengenal sama sekali tentang ibukota Mesir itu. Yang saya ketahui, Mesir adalah sebuah “ladang perburuan” ilmu. Itu saja dan tak lebih. Saya pun tak tahu, setiba di Kairo mau menemui siapa, tinggal di mana, dan meneruskan studi di mana.  

Malah, menjelang tiba di Kota Kairo, ternyata pesawat terbang yang saya naiki  saat itu mengalami kejadian yang tak pernah saya lupakan hingga kini pesawat itu terjerembab dalam ruang hampa udara dan terhempas keras sekali. Cuaca mendekati Kota Kairo kala itu benar-benar tak bersahabat. Musim dingin di bulan Desember dengan badai sedang menghantui. Hampir setengah jam lamanya pesawat terbang tersebut bermain akrobat.  Demikianlah “sambutan meriah” yang diberikan kepada saya menjelang kedatangan saya pertama kali ke Kota Seribu Menara itu.

Kejadian demi kejadian yang saya alami itu kian menanamkan keyakinan dalam diri saya, manusia hanya kuasa berikhtiar dan Allah Swt. kuasa atas segala sesuatu. Di samping itu, dalam hidup kadang diperlukan kenekadan dan keberanian mengambil keputusan yang berisiko tinggi. Yang tak kalah penting, menurut saya, adalah doa orang tua. Khususnya doa seorang ibu.

Mungkin, karena doa dan keinginan Ibuku  yang sangat kuat agar saya menimba ilmu kembali, tak lebih dari sebulan setiba di Kairo, saya telah diterima sebagai mahasiswa di dua universitas sekaligus: Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo. Ya, dua universitas sekaligus. Ini karena saya mengajukan dua ijazah: untuk Universitas Al-Azhar saya mengajukan ijazah sarjana muda dan untuk Universitas Kairo saya mengajukan ijazah sarjana penuh. Ternyata, pengajuan saya diterima oleh kedua universitas itu. Padahal, banyak teman-teman yang telah lama mendaftarkan diri di Universitas Al-Azhar tak kunjung beres urusannya.

Ibuku, bagi saya, memang luar biasa.

Ketika masih berusia tidak lebih empat tahun, Ibuku telah ditinggalkan ibunya, seorang Ibu Nyai, alias istri seorang kiai. Ibuku memang memiliki “darah” kiai: ibunya seorang Ibu Nyai, ayahnya seorang kiai terkemuka di tempat kelahirannya, Cepu, kakeknya seorang kiai terkemuka di Karesidenan Bojonegoro, Jawa Timur, dan suaminya juga seorang kiai di Blora. Ibuku, seperti halnya kebanyakan ibu-ibu seusia dengannya, tidak pernah menempuh pendidikan umum. Ia hanya menerima pendidikan dalam lingkungan keluarga dan  mengaji di lingkungan pesantren di bawah pimpinan ayahnya: seorang kiai yang hafal Al-Quran dan menimba ilmu di sederet pesantren. Termasuk di Pesantren Syaikhona Kholil Bangkalan, beberapa tahun menimba ilmu di Makkah, dan Pesantren Krapyak Yogyakarta: untuk mendalami qira’ah sab’ah kepada K.H. Munawwir.

Meski tidak pernah mengikuti pendidikan formal, Ibuku seorang “pemburu” ilmu yang luar biasa. Setelah bisa membaca dan menulis tulisan Arab dan Latin, dapat dikatakan tiada hari baginya tanpa membaca Al-Quran dan buku. Tak aneh jika ketika telah berusia sekitar 40 tahun, selain mengajar Al-Quran, Ibuku juga mengajar di Sekolah Penjenang Kesehatan. Padahal, Ibuku tidak pernah menempuh pendidikan formal apa pun. Di sisi lain, Ibuku seorang penyabar, tidak pernah mengeluh, dan sangat menaruh perhatian terhadap pendidikan putra dan putrinya. Yang menarik, meski hidup sehari-hari di lingkungan pesantren, putra dan putrinya diarahkan untuk menimba di luar pesantren hingga mereka berhasil memasuki perguruan-perguruan tinggi umum: ITB, UI, dan UNPAD. Lain halnya dengan saya. Entah kenapa, saya sejak kecil diarahkan ke pesantren. Mungkin, saya anak yang malas sekolah: umur 7 tahun baru mau masuk sekolah dasar. Sedangkan saudara-saudara saya umur  5 tahun rata-rata sudah masuk sekolah dasar.

Sejatinya, saya sejak awal menolak keinginan Ibuku untuk menimba ilmu di Timur Tengah. Tetapi, dengan sabar, dan setelah berhasil mengantarkan dua adik lelakinya mengambil program s-3 di Universitas Ummu Al-Qura, Makkah, dan Universitas Harvard, Amerika Serikat, Ibuku akhirnya berhasil memotivasi saya untuk berangkat ke sana. Ucap Ibuku, “Rofi’, jangan engkau tolak dambaan Ibu. Carilah ilmu dan pengalaman yang bermanfaat  di mana pun, sampai pun ke negeri orang. Itulah yang terpenting. Masalah gelar, itu tidak Ibu haruskan untuk diraih. Engkau tentu tahu, Ibu bukan orang yang pernah meniti pendidikan formal, namun Ibu tak pernah berhenti menimba ilmu dan pengalaman yang bermanfaat. Berangkatlah dan ikuti jejak langkah dua pamanmu itu.”

“Memburu ilmu dan pengalaman”, sesuai pesan Ibuku, akhirnya yang saya buru, bukan gelar. Hal itulah yang saya lakukan hingga kini: dengan kluyuran ke mana-mana. Dan, pada hari ini, secara khusus saya berdoa panjang untuk Ibuku. Kiranya beliau berbahagia di sisi Tuhannya, amin.


Wednesday, November 18, 2015

GAYA HIDUP SEBAGAI RAKYAT

Usia Pak Rofi’ berapa?”
“62 tahun dan menjelang 63 tahun. Mengapa?”
“Saya lihat, Pak Rofi’ masih kuat jalan ke mana-mana. Wajah Pak Rofi’ pun  kelihatan belum sepuh seperti  ayah saya yang usianya lebih muda.”
“Alhamdulillah. Kiranya Allah Swt. tetap mengaruniakan kesehatan dan kebugaran kepada saya. Juga, kepada Anda.”
“Apa rahasianya, Pak Rofi’”

Pertanyaan terakhir dari seorang manager sebuah perusahaan itu, minggu lalu, tiba-tiba membuat saya termenung. Lama. Menjawab pertanyaan “rahasia” ternyata tidak mudah. Kemudian, sambil menikmati perjalanan dengan naik mobil, antara Bandung-Jakarta, benak saya pun “melayang-layang”. Ke belakang.

Segera terungkap, selama hampir tiga tahun terakhir dapat dikatakan saya menjadi “manusia mandiiri”. Ketika sebelum adzan dilantunkan, kedua mata saya dapat dikatakan nyaris tidak dapat dipejamkan.  Usai shalat malam dan shalat Shubuh, sambil mentadarus Al-Quran satu juz setiap hari, mesin cuci pun saya operasikan. Usai tadarus dan mencuci pakaian, rumah yang tidak lebih dari 7 x 10 meter pun saya bersihkan. Di samping itu, bergantian sama istri, saya menanak nasi dan kadang memasak. Dan, selepas semua urusan domestik itu rampung, benak dan jemari saya pun mulai “menari-nari”. Dan, biar tidak membuat benak jenuh: sambil menulis, radio atau speaker aktif yang berada di samping kanan dan kiri saya ikut “mengiringi” kelana otak saya ke mana saja dengan lagu-lagu. Baik klasik, populer (barat maupun indonesia), arab, maupun islami.

Di sela-sela kegiatan otak dan jemari yang kerap kali berlangsung seharian penuh, saya keluar dari “sarang”: menengok kegiatan di Pesantren Mini kami untuk memeriksa dan memantau berbagai kegiatan yang sedang berlangsung. Dan, ketika otak lagi di puncak kejenuhan, “kluyuran” itulah yang kerap saya lakukan: naik angkutan umum kota. Angkutan umum kota, alias angkot, memang “kendaraan pribadi” saya ketika sedang “kluyuran” di seputar Kota Bandung. Mengapa? Kerap kali, ketika sedang naik angkot, ide-ide bermunculan. Di samping itu, tentu saja, saya bisa tidur ketika kedua mata ingin dipejamkan. Ketika sedang kluyuran  di Kota Bandung,  saya biasanya pergi ke pusat buku loak di Jalan Dewi Sartika, kemudian naik angkot  lagi menuju ke Banceuy. Ke Banceuy, ada apa? Di situ, saya suka bertandang ke Pusat Elektronik Cikapundung: mencari atau memperbaiki radio lama. Lantas, biasanya saya pergi ke Toko Gramedia dan Bandung Electronic Center. Tentu, Anda tahu tujuan saya.

Demikianlah sebagian “gaya hidup” yang sederhana dan tidak “neko-neko” dalam kehidupan saya: tanpa pernah menjadi pejabat, pegawai negeri,  apalagi penggede negeri. Hanya sebagai rakyat biasa selama hayat saya. Lewat kehidupan yang demikian, alhamdulillah saya dapat menikmati hidup dengan penuh makna dan sehat. Juga, kiranya bermanfaat bagi sesama. Kiranya demikian, amin.



Wednesday, October 14, 2015

RENUNGAN AWAL TAHUN HIJRIAH 1437:
Kenapa Kami Suka “Kluyuran”

Mau jalan-jalan lagi ya? Sekeluarga ya?”

Demikian ucap kakak sulung saya kepada saya, sebelum saya sekeluarga bertolak ke Jepang antara 6-12 Oktober yang lalu. “He, he, he. Iya, Mbak.  Kan saya sama Mona (putri sulung kami) belum pernah ke sana. Kalau istri dan Naila (putri bungsu kami) kan sudah pernah ke sana.”
“Ke mana saja?”
“Mona dan Naila yang merancang dan memimpin kami. Mereka yang tahu, ke mana kami akan melangkah. Seperti dua tahun yang lalu ketika kami ke Korea.”
“Selamat jalan, ya. Semoga mendapatkan ilmu dan pengalaman yang bermanfaat.”
“Terima kasih, Mbak.”

“Kluyuran” alias jalan-jalan, memang, sudah menjadi kegiatan kami sejak bertahun-tahun yang lalu. Saya sudah mulai “kluyuran” sejak tahun 1978. Istri sejak sekitar tahun 1989. Sedangkan putri sulung kami sejak tahun 2001, juga putri bungsu kami. Meski saya yang paling lama, tapi “prestasi” saya kalah sama “prestasi” istri. Saya baru mengunjungi empat benua. Istri sudah melalangbuana ke lima benua. Putri sulung dan bungsu kami bersaing: yang sulung sudah menjejakkan kaki di 25 provinsi Indonesia, yang bungsu 16 provinsi. Yang sulung sudah menengok seluruh negara Asean, yang bungsu juga sama minus Filipina, di samping Eropa, Hong Kong, China, Macau, dan Korea. Tentu saja di luar kegiatan beribadah ke Tanah Suci.

Mengapa kami suka “kluyuran”?

Bagi kami, “kluyuran” memang mengasyikkan: selain menimba ilmu, mendapatkan pengalaman baru, mengenal lebih dekat dengan berbagai bangsa dengan kultur dan kebiasaan serta pencapaian mereka, kami bisa saling berbagi ilmu dan pengalaman sambil jalan-jalan.  Dalam berbagi ilmu, kami memiliki “keunggulan” yang tidak sama. Saya memiliki latar belakang pendidikan keagamaan, istri memiliki latar belakang medis, putri sulung kami memiliki latar belakang teknik industri dan teknik perminyakan, dan putri bungsu kami memiliki latar belakang teknik informatika dan manajemen telekomunikasi. Sehingga, dapat dikatakan, saya ini masuk dalam “kelompok minoritas”: mereka bertiga memiliki latar belakang pendidikan eksakta, sedangkan saya beda sendiri, berlatar belakang pendidikan pesantren. Dengan latar belakang pendidikan yang beragam tersebut, kami bisa melihat setiap persoalan dengan sudut pandang yang kaya.

Di sisi lain, mulai dua tahun yang lalu, ketika kami “kluyuran” ke Korea, dalam hal pendanaan, perancangan skedul perjalanan, pengurusan visa, pengurusan bagasi dan “komandan” perjalanan kami serahkan sepenuhnya kepada dua putri kami. Saya dan istri menempati posisi pengikut yang patuh pada arahan mereka. Hal itu karena dua putri kami, dengan latar belakang pendidikan yang membekali mereka dengan penguasan teknologi, lebih cepat mengantisipasi dan menghadapi segala hal yang terjadi di perjalanan. Contoh, sistem transportasi di Seoul dan Tokyo dengan mudah dapat mereka pecahkan dan hadapi. Karena itu, dalam perjalanan bersama mereka, saya kini mendapat tugas sebagai “chef”, ya tukang masak. Sayalah yang menyiapkan bekal makanan dan memasaknya setiap subuh sebelum kami “kluyuran”. Tugas yang menyenangkan, tapi membuat tubuh saya kian tambun.

Selain mendapatkan berbagai manfaat tersebut, entah kenapa, kerap kali ide awal buku-buku yang saya tulis lahir di tengah perjalanan. Misal, Ensiklopedia Tokoh Muslim, yang saya tulis, lahir ketika saya sedang “kluyuran” di Istanbul. Malah, ide awal pendirian Pesantren Mini kami muncul ketika kami sedang bersilaturahmi di rumah seorang sahabat di Kajang, Kuala Lumpur. Malah, ide pendirian Diabetic Center di rumah sakit tempat istri kerja (dua bulan yang lalu meraih predikat sebagai Diabetic Center terbaik tingkat nasional), di bawah komandan istri,  muncul ketika istri “kluyuran” di Bangkok. Ide-ide itu kemudian kami kembangkan dan laksanakan dengan sebaik-baiknya.

Tentu, masih banyak manfaat lain yang kami dapatkan lewat perjalanan. Apa pun halnya, perjalanan sekeluarga kini menjadi bagian dari acara kami sekeluarga. Dan, perjalanan, dengan cara kami, tidak selalu berbiaya tinggi dan lewat perjalanan, seperti diperintahkan Rasulullah Saw., kami berusaha “memungut hikmah yang terserak di mana-mana.”  Dan, akhirnya, “Selamat Tahun Baru 1437 H, Semoga Allah Swt. Senantiasa Memberkahi dan Meridhai Kita Semua.” Salam.


Thursday, October 1, 2015

KECANTIKAN ISTRI DAN KEINDAHAN REMBULAN PURNAMA

Istriku! Engkau akan kucerai bila malam ini tidak tampil lebih cantik dari bulan purnama!”

Demikian ucap ‘Isa bin Musa bin Muhammad kepada istrinya suatu malam. ‘Isa bin Musa, kala itu, adalah putra mahkota yang disiapkan sebagai pengganti Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyah di Irak kala itu. Tentu saja istri  ‘Isa bin Musa, ketika mendengar ucapan suaminya yang demikian, sangat terkejut dan terpukul. Maka, dengan menahan perasaan sedih, dia pun menjawab, “Suamiku, tidak sadarkah engkau, sejatinya dengan kata-katamu yang demikian, berarti telah engkau  jatuhkan talak atas diriku. Tentu engkau tahu dan sadar, meski berhias secantik apa pun, kecantikanku tidak akan kuasa mengungguli keindahan dan kecantikan bulan purnama.”

Mendengar ucapan istrinya yang demikian, malam itu ‘Isa bin Musa benar-benar merasa bersalah dan menyesali tindakannya. Ya, benar-benar merasa bersalah atas keteledoran dirinya. Juga, merasa bersalah karena telah mengucapkan kata-kata yang ternyata membangkitkan masalah dengan istrinya. Sebagai seorang putra mahkota (namun kemudian digantikan Al-Mahdi dengan imbalan harta kekayaan yang sangat melimpah), tentu tidak semestinya dia bertindak gegabah demikian. Akibatnya, malam itu dia tidur sendirian dengan perasaan gelisah, resah, dan tidak karuan.

Selepas merenung, merenung, dan merenung, ‘Isa bin Musa akhirnya memutuskan akan menemui Abu Ja‘far Al-Manshur, pamannya yang penguasa  Dinasti ‘Abbasiyah kala itu. Harapannya, sang penguasa kuasa mencarikan jalan pemecahan atas masalah yang sedang menimpa dirinya.

Benar saja, keesokan harinya, ‘Isa bin Musa tanpa membuang waktu segera menghadap Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa Dinasti ‘Abbasiyah kala itu. Tentu saja, dengan maksud untuk menuturkan kejadian yang menimpa  dirinya itu. Selepas mengucapkan salam dan berbagi sapa sejenak dengan orang nomor satu Dinasti ‘Abbasiyah itu, ‘Isa bin Musa pun menuturkan kejadian itu. Ketika mengakhiri penuturannya, dia berucap, “Wahai Amir Al-Mukminin! Jika perceraian itu benar-benar terjadi, betapa pedih dan hancur hati saya. Saya sejatinya masih sangat mencintai istri saya.”

Mendengar keluhan demikian, hati Abu Ja‘far Al-Manshur pun tersentuh dan termenung lama. Perceraian antara sang putra mahkota dan istrinya benar-benar tidak dia harapkan. Karena itu, dia pun segera memerintahkan seorang pejabat agar mengundang beberapa ahli hukum Islam untuk dimintai pandangan mereka perihal kasus ucapan ‘Isa bin Musa itu.

Selepas para ahli hukum Islam itu datang, mereka pun membahas secara cermat kasus itu. Akhirnya, mereka seiring pendapat, ucapan ‘Isa bin Musa itu sama dengan menjatuhkan talak atas istrinya. Namun, kala itu, ada seorang ulama yang tidak memberikan komentar apa pun atas kasus itu. Dia hanya diam saja. Melihat sikapnya yang demikian, Abu Ja‘far Al-Manshur pun penasaran. Kemudian, dengan penuh takzim, dia bertanya kepada ulama itu, “Tuan Guru, mengapa engkau tidak memberikan pendapat? Bagaimanakah pendapatmu perihal kasus ini?”

Ulama dan Tuan Guru yang dimaksud penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyah dan pembangun Kota Baghdad Dar Al-Salam, ternyata, tidak lain adalah Abu Hanifah Al-Nu‘man.

Abu Hanifah Al-Nu‘man, siapakah ulama dan Tuan Guru itu?

Salah seorang ahli hukum Islam yang  tokoh pendiri salah satu mazhab fikih ini bernama lengkap Abu  Hanifah Al-Nu‘man  bin  Tsabit bin Zutha Al-Ta’imi. Dia lahir  di  Kufah, Irak pada 80 H/699 M, pada masa pemerintahan Al-Walid bin  ‘Abdul Malik  dari Dinasti  Umawiyah,  dalam  lingkungan keluarga  berdarah  mawlâ (mantan budak). Ayahandanya, Tsabit bin  Zutha,  adalah seorang pedagang  sutra yang kelak juga memengaruhi  pikirannya.  Sedangkan nenek   moyangnya  adalah orang  Persia  yang  berasal   dari   Kabul, Afghanistan,  dan  dibawa ke Kufah sebagai  tawanan  perang.  Selepas merdeka, dia memeluk Islam di bawah perlindungan Bani Taimullah.
Ketika kecil, Abu Hanifah belajar di bawah bimbingan Al-Sya‘bi, seorang ahli hukum Islam terkemuka di Irak kala itu. Kala itu, sang guru telah  melihat tanda-tanda keistimewaan muridnya yang  satu  ini. Sehingga,  dia  menasihati muridnya agar belajar  lebih  tekun  dan pergi  belajar  kepada ulama-ulama besar. Nasihat itu dia  patuhi.  Dia lantas belajar kepada ke ‘Atha‘ bin Rabi‘ah dan belajar hadis kepada Nafi‘, mantan budak ‘Abdullah  bin ‘Umar. Sedangkan kepada Hammad  bin Sulaiman, dia belajar ilmu fikih selama 18 tahun.

Tokoh yang haus ilmu yang juga seorang pedagang yang berhasil itu juga  sempat  belajar  kepada beberapa  sahabat  Nabi Muhammad  Saw. Antara lain Anas bin Malik, ‘Abdullah bin Aufa, ‘Abdullah bin Mas‘ud, ‘Abdullah bin Al-‘Abbas, Suhail, dan Abu Thufail. Karena wawasannya yang luas, dia mendapat gelar Bahr Al-‘Ilm (Laut Ilmu). Tak  aneh  bila pada masa akhir pemerintahan  Dinasti  Umawiyah, karena pengetahuan dan wawasannya yang luas, dia diminta Yazid bin ‘Umar, Gubernur Kufah kala itu, untuk menjabat  Kepala  Kas Negara (Bait Al-Mâl). Tetapi, dia menolak  tawaran  itu, karena   khawatir   jabatan   itu   akan   mengubah   sikap   dan kecenderungannya.  Di  samping itu, dia juga khawatir  jabatan  itu akan  menggeser dan memalingkan kehidupannya dari ilmu agama  dan ibadah.  Karena  tawaran itu ditolak, sang  gubernur  memintanya menjadi hakim. Sekali lagi, dia tolak tawaran itu. Akibatnya,  dia pun dijebloskan ke dalam bui. Dan, dia berpulang  di Baghdad dalam usia 70  tahun  pada 150  H/767 M, diantar ribuan anak manusia yang mencintainya  dan menghormatinya. Dia meninggalkan beberapa karya tulis, antara  lain  Al-Musnad, Al-Makhârij, Kitâb Al-Fiqh Al-Akbar, Kitâb Al-Risâlah,  dan Kitâb Al-Washiyah.

Nah, begitu mendengar pertanyaan Abu Ja‘far Al-Manshur yang demikian, tanpa banyak memberikan komentar ulama itu kemudian membaca ayat Al-Quran berikut, “Demi (buah) Tin dan (buah) Zaitun, juga demi Bukit Sinai serta demi kota (Makkah) yang aman ini, sungguh Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik.” (QS Al-Tîn [95]: 1-4).

Mendengar ayat Al-Quran itu, Abu Ja‘far Al-Manshur segera menyadari bahwa manusia adalah makhluk Allah yang terindah dan terbaik, jauh lebih indah ketimbang rembulan kala purnama. Karena itu, begitu menyadari dan memahami arah jawaban ulama itu, dia pun dengan penuh semangat berucap kepada ‘Isa bin Musa, “Isa bin Musa! Allah Swt. telah memberikan jalan keluar atas masalah yang sedang engkau hadapi. Ayat yang dibacakan Tuan Guru itu adalah jawaban masalah yang sedang engkau hadapi. Sekarang, pergilah kepada istrimu. Sampaikan kepadanya, kabar gembira ini.”

Sebelum ‘Isa bin Musa bermohon diri, Abu Ja‘far Al-Manshur memerintahkan seorang pejabat untuk menulis surat kepada istri ‘Isa bin Musa yang berisi penjelasan bahwa ucapan suaminya itu bukan talak. Dan, selepas itu, dia menyampaikan rasa terima kasihnya yang tidak terhingga kepada Tuan Guru yang berwawasan luas itu.@



Friday, September 25, 2015

MENGAPA TRAGEDI MINA TERULANG?

Bapak, mengapa sih kerap terjadi tragedi dalam ibadah haji?”

Demikian tanya putri bungsu saya tadi malam dalam perbincangan di Jakarta, seusai mendampingi seorang keponakan yang melahirkan seorang putri, di sebuah rumah sakit, yang didambakan kehadirannya sejak  bertahun-tahun. Menerima pertanyaan tentang tragedi tersebut, tentu saja disertai rasa duka dan sedih yang mendalam atas terulangnya tragedi di Tanah Suci itu, segera benak saya pun “melayang-layang”. Dan, tak lama kemudian, benak saya berusaha membongkar kembali ingatan dan pengalaman naik haji dan menjadi pembimbing haji dan umrah dalam rentang waktu antara 1979-2015. Alhamdulillah (mohon maaf, tidak bermaksud riya’), saya diberikan kesempatan Allah Swt. berulang naik haji dan umrah. Baik secara pribadi maupun sebagai pembimbing ibadah haji dan umrah.

Ya, mengapa tragedi dalam ibadah haji kerap  terulang?

Ketika seseorang mendapatkan “undangan agung” dari Sang Pencipta untuk naik haji, baik lewat Ongkos Naik Haji (ONH) reguler maupun plus, juga lewat jalur lain, orang itu diharapkan segera mempersiapkan diri, baik secara fisik maupun psikis. Biasanya, pihak KBIH maupun travel ONH plus sudah membekali mereka dengan kedua “kopor” fisik dan psikis tersebut. Cukupkah dua “kopor” itu? Tidak cukup, karena pelaksanaan ibadah haji lebih berat ketimbang ibadah umrah. Ibadah haji melibatkan jutaan anak manusia pada saat yang berbarengan. Karena itu, dalam setiap pembekalan dan pengarahan dalam manasik haji, saya kerap bertanya dengan berseloroh kepada para calon jamaah haji, “Ibu dan bapak  yang saya muliakan. Apa sudah menerima dua kopor, kopor bagasi dan kopor kabin?”
“Sudah, Ustadz,” jawab mereka serempak.
“Apakah dua kopor itu sudah cukup, ibu dan bapak yang saya cintai?”

Mendengar ucapan saya yang demikian, biasanya para calon jamaah haji diam. Tidak menjawab. Melihat suasana yang demikian, saya pun berucap, “Ibu dan bapak. Ketika kita berada di Tanah Suci nanti, bekal dua kopor itu tidak cukup. Ibu dan bapak sekalian perlu membawa lima “kopor” besar lain. Lima “kopor” itu sangat penting sekali untuk dibawa. Ke mana pun selama ibu dan bapak naik haji.”
“Lima kopor lagi, berat dan repot, Ustadz.”
“Ibu dan bapak sekalian, meski lima “kopor” itu berat, tapi lima “kopor” itu perlu sekali. Lima “kopor” itu adalah kopor-kopor: pengetahuan tentang manasik haji serta pemahaman tentang prosedur perjalanan dan pengenalan lapangan, kesabaran, keikhlasan,  kedisiplinan, dan ketawakkalan.”

“Kopor” pertama, pengetahuan tentang manasik haji serta pemahaman tentang prosedur perjalanan dan pengenalan lapangan, biasanya diberikan kepada para jamaah haji Indonesia. Namun, tentu saja, sejauh mana pembekalan itu cukup atau tidak,tentu banyak faktor yang berkait dengannya. Belum tentu pihak pemberi pembekalan menguasai sepenuhnya masalah tersebut. Saya, yang dapat dikatakan setiap tahun 4 atau 5 kali ke Tanah Suci, kadang masih tergagap-gagap dengan perkembangan baru di sana dan harus terus menerus mempelajarinya dan memahaminya. Dalam kasus terjadinya Tragedi Mina tahun ini, melihat asal para korban dalam tragedi tersebut, mereka sebagian besar bukan dari Indonesia. Saya tidak tahu, apakah para jamaah haji tersebut, mendapatkan pembekalan yang cukup tentang manasik haji serta pemahaman tentang prosedur perjalanan dan pengenalan lapangan. Perlu dikemukakan, pelaksanaan ibadah haji tahun ini hingga sekitar tahun 2025 dilaksanakan pada musim panas. Kondisi yang kurang “bersahabat” bagi para jamaah yang tidak biasa menghadapi suhu antara 40 sampai dengan 50 derajat celcius perlu dikemukakan kepada mereka, supaya mereka siap dalam menghadapinya.

Kesabaran tentu saja juga penting. Perjalanan naik haji memerlukan “perjuangan”. Sejak dari rumah, di Tanah Air, ketika di tengah perjalanan, setiba di Jeddah atau ketika berada Madinah, apalagi ketika sedang melaksanakan ritual ibadah haji di Makkah dan sekitarnya. Pelaksanaan ibadah yang dilaksanakan sekian juta anak manusia, dalam masa yang relatif berbarengan, tentu memerlukan “managemen” kesabaran. Berinteraksi dengan banyak jamaah, dari berbagai bangsa dan negara, dengan karakter, kultur, dan kebiasaan yang beragam tentu memerlukan kesabaran. Khususnya pada puncak pelaksanaan ibadah haji, antara 8 sampai dengan 13 Dzulhijjah. Pelaksanaan ibadah pada masa yang berlangsung selama beberapa hari itu memerlukan kesabaran yang luar biasa. Gerakan jutaan manusia pada waktu dan masa yang relatif yang sama, apalagi ketika tubuh para jamaah dalam keadaan sangat letih dan capek, dapat menimbulkan peristiwa yang tidak terduga. Termasuk Tragedi Mina kali ini. Kesabaran yang berlapis-lapis sangat diharapkan dimiliki para jamaah. Meski pemerintah Kerajaan Arab Saudi dengan Hajj Centernya telah mempersiapkan dengan baik pelaksanaan ibadah haji setiap tahun, namun hal itu bisa buyar jika tidak didukung oleh sikap dan perilaku para jamaah yang harus bersabar dalam mematuhi aturan yang ditetapkan. Melaksanakan ibadah haji tidak hanya menjadi “Tamu Allah” semata. Tetapi, juga berinteraksi dengan jutaaan anak manusia. Kesabaran, dalam hal ini, sangat diperlukan.

Keikhlasan, tentu saja, juga perlu. Ibadah yang tidak disertai keikhlasan tentu mengurangi makna ibadah tersebut. Tanpa kesabaran dan keikhlasan ketika naik haji dapat membuat seseorang jamaah mengomel dan menggerutu, misalnya. Akibatnya tentu dapat diduga: ibadahnya menjadi  “amburadul”. Yang kerap terjadi, ketika ada jamaah yang tidak sabar dan ikhlas dalam beribadah, ketidaksabaran dan ketidakikhlasan itu “menular” kepada jamaah-jamaah yang lain. Misal, dalam tata pelaksanaan pelemparan jumrah, pemerintah Kerajaan Arab Saudi kini memberlakukan skedul waktu bagi setiap maktab. Tentu, ketentuan itu untuk kemaslahatan semua jamaah. Meski demikian, ada saja jamaah yang mengomel, ketika maktabnya mendapat skedul waktu yang tidak pada waktu yang utama (afdhal).  “Mengapa sih kami tidak diberikan kesempatan melaksanakan pelemparan jumrah pada waktu yang utama?”  Jika hal yang demikian itu terjadi pada banyak orang, tentu hal-hal yang tidak diinginkan dapat terjadi.

“Kopor” kedisiplinan juga perlu. Problem dalam proses pelaksanaan ibadah haji juga kerap terjadi karena ketidakdiplinan sebagian para jamaah. Dalam proses pemeriksaaan di bagian imigrasi, misalnya, kerap terjadi kediplinan diabaikan oleh para jamaah dari beberapa negara tertentu. Mereka “main slonong” saja. Akibatnya tentu dapat diduga. Juga dalam pelaksaan tawaf, misalnya, apalagi tawaf ifadhah, kita dapat menyaksikan berbagai perilaku jamaah yang maunya menang sendiri. Dalam hal ini tabrakan dan gesekan antar jamaah dapat terjadi.

Dan, akhirnya, “kopor” ketawakkalan. Kita semua tentu tahu, pentingnya ketawakkalan kepada Allah Swt. Apa pun dapat terjadi selama dalam proses pelaksanaan yang hanya diwajibkan sekali seumur hidup itu. Berserah diri, selepas melengkapi diri dengan dua kopor kabin dan bagasi serta empat “kopor” lainnya, hendaknya dibawa para jamaah haji ke mana mereka melangkah ketika melaksanakan ibadah yang berat itu.

Tragedi Mina terulang. Untuk para jamaah yang berpulang karena peristiwa tragis tersebut, marilah kita doakan, “Allahumma ighfir lahum warhamhum wa’afihi wa’fu ‘anhum waj’al al-jannata matswahum. Allahumma ij’al hajjahum hajjan mabrurâ wasa’yahum sa'yan masykûrâ wa dzanbahum dzanban maghfûrâ. ” Semoga Allah menerima ibadah mereka dan menjadikan ibadah haji mereka mabrur. ÂmÎn ya Rabb Al-‘Âlamîn.