Thursday, July 10, 2008

Muhammad Sang Kekasih

Madinah, dini hari Rabu, 2 Juli 2008. Dengan hati yang sangat bahagia, penulis meninggalkan lobi Movenpick Hotel, Madinah. Perasaan campur aduk memenuhi relung hati dan benak penulis. Dengan perasaan sangat bersyukur kepada Allah Swt., yang lagi-lagi telah memberi kesempatan kembali kepada penulis untuk berziarahah ke Kota Nabi, penulis melintasi pelataran belakang Masjid Nabawi. Penulis tak tahu, skenario apa yang sedang digoreskan Sang Khalik, hingga Dia menganugerahkan karunia tak ternilai ini.
Anugerah tak ternilai? Ya, selepas tiba kembali di Tanah Air dari naik haji pada Desember 2007, seperti penulis kemukakan dalam sebuah tulisan dalam blog ini, seluruh energi penulis curahkan untuk menyusun sebuah karya tentang biografi Rasulullah Saw. Rasanya, penulis tak pernah merasa begitu bersemangat seperti halnya ketika menulis karya yang satu ini. Siang dan malam energi penulis tersedot untuk merampungkan penulisan karya itu. Alhamdulillah, penulisan karya itu akhirnya usai pada pertengahan April 2008. Namun, seusai merampungkan penulisan karya itu, energi penulis untuk menulis seakan sirna sama sekali. Sehingga, menulis sebuah tulisan untuk blog ini pun tak kuasa.
Penulis sendiri tak tahu, skenario apa yang sedang digoreskan Allah Swt., Kang Rustam Sumarna, Direktur KhalifahTour, sebuah biro perjalanan umrah dan haji di Bandung, tiba-tiba menawarkan kepada penulis untuk berangkat menunaikan ibadah umrah dan pergi ke Mesir selama 12 hari, dari 26 Juni hingga 7 Juli 2008. Subhânallâh, Allah kuasa atas segala sesuatu.
Begitu memasuki Raudhah, penulis ungkapkan rasa syukur tak terhingga kepada-Nya. Betapa besar anugerah yang Dia karuniakan kepada penulis yang dhaif ini. Kemudian, selepas menunaikan ibadah shalat subuh, segera penulis melintasi lorong di depan makam Rasulullah Saw. Gembira, bahagia, puas, dan khawatir (melakukan banyak kesalahan dan kealpaan dalam menyusun karya tentang biografi beliau yang akan terbit sekitar akhir Juli 2008 itu) berpadu menjadi satu. Ketika tepat berada di depan makam beliau, penulis pun bergumam, “Shalawat dan salam untukmu, wahai Rasul. Hanya inilah yang dapat kulakukan dalam menyusun biografimu. Ampunan dari Allah dan maaf darimu kuharapkan, bila dalam menulis karya itu banyak terdapat kesalahan, keteledoran, kealpaan, dan kekeliruan. Kiranya karya itu bermanfaat bagi umatmu. Amiin.”