Friday, February 3, 2012

3 Hari Menikmati "Hotel Prodeo" di Kairo


“Menikmati internet”, itulah sajian dan hidangan pagi bagi saya setiap kali usai melaksanakan shalat subuh. Nah, pagi tadi, ketika menikmati sajian dan hidangan tersebut, saya berkesempatan “menikmati perjalanan” ke Kairo, sebuah negeri yang pernah saya tinggali selama sekitar enam tahun. Ketika sedang menikmati “sajian dan hidangan” pagi hari ini, saya berusaha mencari informasi seputar Cairo International Bookfair 2012 yang sedang berlangsung di ibukota Negeri Piramid itu.

Entah kenapa, ketika sedang asyik “menikmati sajian” yang demikian, tiba-tiba kenangan saya selama tiga hari ditahan di Cairo International Airport pada 1995 menyeruak kuat dalam benak saya. Ditahan di Kairo? Ya, ditahan di Kairo, itulah salah satu “buah” perjalanan yang pernah saya nikmati. Bagaimanakah kisah penahanan atas diri saya tersebut, berikut kisahnya:

Pada penggal kedua Januari 1995 saya bermaksud pergi ke Kairo, dengan tujuan untuk menghadiri Cairo International Bookfair. Sebelum bertolak menuju Kairo, kala itu saya berkunjung ke Brunei Darussalam untuk suatu urusan. Kemudian, dengan naik pesawat terbang Royal Air Brunei, saya berangkat ke Kairo tanpa visa sama sekali. Kala itu, saya berangkat ke Kairo dengan keyakinan bahwa visa itu dapat diperoleh di Cairo International Airport (on arrival visa). Memang, demikianlah yang berlaku kala itu. Sebelum berangkat, saya mengontak dahulu Mas Ahmad Dja‘far Bushiri (alm.), seorang koresponden Majalah Gatra dan mahasiswa s-3 Universitas Al-Azhar yang tinggal di Rabi‘ah Al-Adawiyyah District, Nasr City, Kairo. Namun, ketika saya tiba di Cairo International Airport, apa yang terjadi?

Begitu saya mengurus on arrival visa, ternyata permintaan saya ditolak. Alasannya, dua minggu sebelum kedatangan saya, pemberian on arrival visa untuk pemegang paspor Indonesia dihapuskan. Di antara negara-negara ASEAN kala itu, pencabutan on arrival visa hanya dikenakan atas para pemegang paspor Indonesia. Ini karena kala itu kian banyak tenaga kerja Indonesia yang masuk Mesir dengan on arrival visa dan kemudian menyalahgunakannya untuk bekerja secara ilegal di Mesir. “Duh, merananya menjadi pemegang paspor Indonesia,” gumam pelan saya.

Saya kemudian diminta menghadap seorang petugas imigrasi Mesir. Selepas mengecek paspor saya yang tanpa visa dan melihat dalam kolom pekerjaaan saya tertulis “employee”, si petugas langsung memerintahkan saya berdiri menjauh dari antrian. Ketika saya jelaskan bahwa saya adalah seorang anggota dewan komisaris sebuah perusahaan penerbitan di Jakarta yang akan menghadiri Cairo International Bookfair, alasan itu tetap tidak diterima. Gara-garanya, pekerjaan yang tertulis di paspor saya adalah “employee” yang artinya “karyawan”. Menurut penjelasan petugas Mesir itu, seseorang asal Indonesia yang dalam paspornya tertulis “employee” harus mengurus visa Mesir di Jakarta dan tak berhak mendapatkan on arrival visa. “Duh, beginilah nasib pemegang paspor Indonesia,” keluh saya dalam hati.

Tidak lama kemudian, datang seorang petugas lain yang memerintahkan saya agar mengambil kopor saya di bagian bagasi. Selepas menemukan kopor itu, saya lantas diperintahkan mengikuti si petugas. Selepas melintasi lorong-lorong panjang, akhirnya saya dimasukkan ke dalam sebuah ruangan berukuran sekitar 4 x 10 meter: sebuah ruangan tanpa jendela sama sekali dengan satu pintu yang dijaga seorang petugas. Oh, ternyata, saya dijebloskan ke dalam ruang karantina. Ketika saya memasuki ruangan itu, dalam ruangan itu ternyata ada seorang tenaga kerja wanita (TKW) asal Serang, Banten dan beberapa orang dari negara-negara Afrika. TKW tersebut datang ke Kairo bersama majikannya yang berasal dari Arab Saudi dengan naik pesawat terbang Saudi Airlines tanpa visa Mesir. Akibatnya, ia dimasukkan ke dalam ruangan karantina seperti saya.

Beberapa jam selepas menikmati ruang tahanan, teman-teman dari Afrika tiada lagi karena dideportasi ke negara mereka masing-masing dengan naik pesawat terbang yang menuju negara mereka. Tinggallah saya dan TKW asal Serang itu. Seharian kami tak mendapat sajian makanan apa pun. Kemudian, ketika malam datang, dingin ruangan terasa kian menusuk tulang. Saya lihat TKW itu menggigil kedinginan. Ternyata, ia tidak membawa baju hangat atau pun jaket. Padahal, kala itu Kairo sedang berada di puncak musim dingin di akhir bulan Januari. Melihat kondisinya yang demikian, saya pun segera membongkar kopor saya dan menyerahkan sarung dan kaos kaki kepadanya. Kemudian, tengah malam, TKW itu diambil petugas Mesir karena akan dideportasi dengan pesawat Saudi Airlines yang akan membawa ia kembali ke Arab Saudi. Saya kemudian tidur dalam posisi duduk di sebuah kursi dari fiber, karena di ruangan karantina itu tidak tersedia sama sekali tempat tidur. Hingga kini saya tidak tahu, bagaimana nasib TKW tersebut. Kiranya Allah Swt. melindungi TKW itu dan kiranya ia tidak bernasib buruk. Saya sendiri belum dideportasi, karena pesawat terbang Royal Air Brunei kala itu berkunjung ke Kairo hanya seminggu sekali.

Pada hari kedua, tinggal saya seorang diri dalam ruangan karantina itu. Di pagi hari kedua itu, lapar yang sangat pun menyergap diri saya. Musim dingin memang membuat seseorang cepat lapar. Saya lihat, petugas yang mengawal pintu ruang karantina tidak memberikan tanda akan menyajikan makanan atau masakan apa pun. Malah, ia sedang asyik menulis sesuatu. Saya pun mendekatinya. Ternyata, ia sedang mengerjakan “pekerjaan rumah”: pelajaran bahasa Perancis. Melihat saya mendekat, wajahnya pun segera berubah menjadi garang dan galak. Namun, dengan santun kepadanya saya kemukakan, saya bisa membantu “mengatasi” pekerjaan rumahnya. Selepas tahu saya benar-benar bisa mengajari ia bahasa Perancis, apalagi selepas ia tahu saya pun bisa berbahasa Arab lancar dengan dialek Mesir, selamatlah saya dari derita dalam “tahanan” di ruang karantina Cairo International Airport, karena si petugas kini berubah menjadi seorang sahabat. Saya pun tidak lagi kelaparan, karena dengan senang hati ia mencarikan saya masakan dan makanan Mesir untuk saya.

Ketika memasuki hari ketiga, pada siang hari saya diminta petugas agar mengemasi barang-barang yang saya bawa. Kemudian, saya dibawa menghadap Kepala Urusan Imigrasi di Cairo International Airport. Oh, di situ sahabat saya, Mas Ahmad Dja‘far Bushiri, telah menunggu. Ternyata, ketika pesawat Royal Air Brunei mendarat tiga hari sebelum itu, ia menjemput saya. Karena saya tak kunjung keluar, kemudian ia menanyakan kepada petugas perusahaan penerbangan Royal Air Brunei tentang diri saya. Mengetahui nama saya ada dalam master list para penumpang pesawat terbang dari Brunei Darussalam itu dan tahu saya dijebloskan ke dalam ruang karantina, ia pun segera bergerak cepat: datang ke KBRI di Kairo dan melaporkan kasus saya. Atas bantuan mantan Ketua Badan Kerjasama Persatuan Pelajar Indonesia se-Timur Tengah itu dan KBRI, akhirnya saya dibebaskan dan dapat mengunjungi Kairo.

Perjalanan dan kejadian itu mengajarkan kepada diri saya, “Bila seseorang gemar melakukan perjalanan, ia harus siap menghadapi pelbagai kejadian yang tidak terduga!”

Wednesday, December 14, 2011

Catatan Perjalanan Hidup: 33 Tahun yang Silam


Hari Ahad yang lalu, 11 Desember 2011, ketika sedang menerima sekitar 110 para ustadz dan ustadzah yang akan mendalami sebuah metode yang baik dalam mengajarkan Al-Quran, entah kenapa tiba-tiba dalam benak saya membersit pikiran, “Oh, pada hari ini, 33 tahun yang silam, untuk pertama kalinya saya menjejakkan kaki di Kairo, Mesir, untuk menimba ilmu. Betapa fase kehidupan itu sangat bermakna atas perjalanan kehidupan saya selepas itu.”

Bagaimanakah kisah perjalanan pertama kali saya ke Kairo?

Senin, 10 Muharram 1399 H/11 Desember 1978 M, itulah hari pertama kali saya meninggalkan Kota Jeddah, selepas menunaikan ibadah haji untuk pertama kalinya. Juga, itulah pertama kalinya pula saya menjejakkan kaki di Kota Kairo, selepas naik pesawat terbang Royal Air Maroc selama sekitar dua jam dari Kota Jeddah. Tanpa mengenal siapa pun. Juga, belum mengenal sama sekali tentang ibukota Mesir itu. Yang saya ketahui, Mesir adalah sebuah “ladang perburuan” ilmu. Itu saja dan tak lebih. Saya pun tidak tahu, setiba di Kairo mau menemui siapa, tinggal di mana, dan meneruskan studi di mana. Yang saya kenal hanyalah nama seseorang yang tercantum dalam sepucuk surat yang diberikan seorang paman saya. Orang itu adalah Mas Marzuki Ali Sibromalisi (alm.), seorang putra kiai terkemuka Jakarta yang tinggal di Asrama Putra Universitas Al-Azhar (Madînah Al-Bu‘ûts Al-Islâmiyyah). Itu saja. Karena itu, saya pun tak pernah membayangkan akan ada seseorang yang akan menjemput saya di Cairo International Airport.

Ternyata, menjelang tiba di Kota Kairo, ternyata pesawat terbang yang saya naiki saat itu mengalami kejadian yang tidak pernah saya lupakan hingga kini. Bagaimana kisah kejadian itu?

Tidak lama selepas pesawat terbang Royal Air Maroc yang saya naiki itu tinggal landas dari King ‘Abdul ‘Aziz International Airport, Jeddah pesawat terbang Boeing 727 itu dengan cepat dan gagah itu menguak relung langit biru. Sementara bila memandang bumi, tampak tergelar pemandangan Laut Merah yang kemerah-merahan membentang di antara dan membelah benua Asia-Afrika. Di sebelah barat Laut Merah itu tampak Pelabuhan Yanbu‘, dan kadang muncul kilang-kilang minyak. Tampak pula jalur jalan-jalan panjang menyobek padang pasir yang lengang. Sedangkan di sebelah timur Laut Merah itu berhamparan gurun sahara. Di dalam pesawat terbang yang sedang menuju Kota Kairo itu para penumpang kelihatan senang dan ceria dalam menikmati perjalanan. Apalagi, pelayanan para pramugara dan pramugari Royal Air Maroc cukup memuaskan.

Selepas beberapa lama mengangkasa, pesawat terbang dari Maroko itu telah berada di angkasa tinggi. Pemandangan yang tampak kini hanyalah langit biru, awan, dan bumi di kejauhan. Kadang, pemandangan pekat belaka yang kelihatan, bila pesawat sedang melintasi awan tebal. Selepas menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam dan ketika pesawat terbang itu telah melintasi dan memasuki wilayah Mesir serta menjelang mendekati Kota Kairo, tiba-tiba pengumuman fasten seat belt (pasang sabuk pengaman di tempat duduk) menyala. Pramugara dan pramugari pun sigap membantu para penumpang memasang sabuk pengaman. Tiba-tiba telinga terasa tuli, perut mual sekali, dan kepala berkunang-kunang. Para penumpang yang sebelumnya tampak gembira, kini menampakkan wajah yang berbeda. Ada yang berdoa, ada yang terpaku diam, dan ada yang berwajah pucat pasi. Terasa sekali ketika itu Tuhan hadir dalam pesawat terbang. Kala itu, pesawat terbang terasa meluncur cepat sekali. Mungkin, pesawat itu terjerembab dalam ruang hampa udara. Belum lagi selesai meluncur, tiba-tiba pesawat terhempas keras sekali. Cuaca mendekati Kota Kairo kala itu benar-benar tak bersahabat. Musim dingin di bulan Desember dengan badai sedang menghantui.

Hampir setengah jam lamanya pesawat terbang tersebut bermain akrobat. Laksana sabut di lautan diguncang prahara. Sebentar terhempas ke sana, sebentar terbanting ke sini. Pemandangan menarik Kota Kairo, dengan piramid-piramid dan sphinx menghiasi salah satu sudutnya serta Bukit Muqaththam dengan perbentengan yang didirikan Shalahuddin Al-Ayyubi di sudut lain menjadi tak menarik lagi. Yang membersit dalam benak dan kalbu saya hanyalah doa kiranya Allah Swt. melindungi. Akhirnya, pesawat itu berhasil menguak mendung tebal dan mendapat lampu hijau untuk mendarat di Cairo International Airport. Begitu pesawat menjejakkan roda-rodanya di landasan dan kemudian berhenti, para penumpang pun berpelukan gembira. Ketika telah berada di dalam gedung bandar udara, tampak wajah mereka berseri kembali. Kejadian di angkasa yang belum lama mereka alami tinggal kenangan belaka.

Demikianlah “sambutan meriah” yang diberikan kepada saya menjelang kedatangan saya pertama kali ke Kota Seribu Menara itu.

Kemudian, selepas melewati pemeriksaan imigrasi dan menyelesaikan urusan bagasi, beberapa lama saya kebingungan. Ini karena, kala itu, saya tidak mengenal siapa pun di Kota Seribu Menara itu. Selepas lama merenung dan bingung, saya akhirnya mencari sebuah taksi dan meminta si sopir untuk mengantarkan saya menuju ke Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) yang terletak di 13 Aisha El Taymouria St., Garden City, yang terletak tak jauh dari pusat Kota Kairo yang ditandainya dengan Mîdân Tahrîr. Saya sendiri tidak tahu, di mana kawasan Garden City itu.

Taksi pun segera meluncur menuju kawasan Garden City, melintasi pelbagai jalan dan bangunan yang pertama kali saya kenal, sementara hujan rintik-rintik di musim dingin di pertengahan bulan Desember sedang menyergap seluruh penjuru kota yang didirikan oleh Jauhar Al-Shiqilli itu. Tak terbayangkan oleh saya kala itu, selepas tiba di KBRI, saya mau bertemu siapa dan selepas itu mau ke mana. Semua saya serahkan kepada Allah Swt., seperti halnya ketika saya pertama kali memasuki Yogyakarta pertama kali pada 1391 H/1972 M, sebagai anak daerah, untuk menimba ilmu di Kota Gudeg itu.

Sekitar satu jam selepas menelusuri Kota Kairo dari airport, taksi tua berwarna hitam yang saya naiki itu berhenti di depan sebuah gedung megah yang bentuknya mirip istana. Begitu turun dari taksi yang segera berlalu, dengan menjinjing tas satu-satunya yang saya bawa, saya menerobos hujan rintik menuju ke pos penjagaan. Yang ada di pos penjagaan itu hanyalah dua security Mesir berkulit hitam legam berseragam hitam dan menjinjing senjata bersangkur terhunus. Suasana perang kala itu masih sangat mewarnai Kairo. Kala itu, Perjanjian Camp David belum lagi dilangsungkan. Di depan setiap bangunan, kala itu, masih di“hiasi” bunker.

Dengan bahasa Arab baku (fushhah) dan sedikit bahasa harian (‘âmiyyah) ala Arab Saudi (karena belum menguasai bahasa harian Mesir), saya mencoba berkomunikasi dengan dua security Mesir tersebut. Sementara suasana di sekitar kian temaram dengan cepat, karena kala itu musim dingin sedang datang menyergap dan mendung sedang memayungi Kota Kairo. Hati pun kian gelisah dan galau, karena komunikasi dengan dua security dari Mesir Selatan itu tak berjalan lancar. Apalagi saya tak tahu, malam itu akan menginap di mana, sedangkan tubuh mulai menggigil kedinginan. Kala itu saya tak pernah berpikir untuk membawa jaket, karena sebelum itu saya belum pernah pergi ke kawasan yang mengenal empat musim.

Kepasrahan kepada Allah Swt. dan kenekadan, itulah bekal saya ketika pertama kali menapakkan kaki di Kota Kairo. Saya memang datang ke kota yang sedang disergap musim dingin ini sebagai “penerjun bebas”, sebuah istilah yang dikenakan bagi mahasiswa Indonesia yang datang ke Kairo tanpa beasiswa. Saya datang ke kota ini karena merasa tidak berhasrat menimba ilmu di Arab Saudi. Apalagi, sejak berangkat dari Tanah Air memang saya tidak berniat akan “memburu” ilmu di Timur Tengah. Yang terpikir oleh saya kala itu, selepas naik haji saya akan kembali ke Tanah Air dan kemudian mencari pekerjaan. Karena itu, saya “melarikan diri” ke Mesir hanya dengan sebuah tekad, saya harus dapat menaklukkan kota yang satu ini dengan segala kesulitannya, kepahitannya, keindahannya, keceriaannya, dan khazanah ilmiahnya yang kaya.

Tampaknya, Allah Swt. masih mencintai saya yang saat itu benar-benar galau dan gelisah. Tidak lama kemudian, seorang pria bercelana hitam dan berbaju putih dengan tubuh jangkung, hidung mancung, dan wajah dihiasi senyum serta berpayung mendekat. Begitu dekat, orang itu segera menyapa saya dengan ramah dan santun, “Anda siapa dan dari mana? Kenapa sore dan hujan begini masih ada di sini?”

Subhânallâh, betapa gembira dan damai hati saya begitu tahu orang itu tak lain adalah Prof. Dr. Fuad Hassan (alm.), seorang guru besar di bidang psikologi Universitas Indonesia yang kala itu sedang menjabat Duta Besar Indonesia di Kairo. Wajah dubes kelahiran Semarang pada Rabu, 18 Muharram 1348 H/26 Juni 1929 M itu sebelumnya telah saya kenal dari beberapa buku beliau yang pernah saya baca. Segera saja kami pun terlibat dalam perbincangan lama di pos keamanan. Karena kemudian tahu saya berasal dari Jawa Tengah, kemudian dubes yang gemar menggesek biola dan bermain biliar itu menelpon seseorang dan memerintahkan seorang sopir KBRI untuk mengantarkan saya ke flat seorang pegawai lokal KBRI yang berasal dari Kebumen, Jawa Tengah. Segera sebuah mobil KBRI membawa saya menuju ke ‘Abdullah Sharqawi St., Manial Raudhah, Kairo, untuk “menitipkan” saya kepada keluarga Mas Ahmad Zabidi (alm). Dan, selepas itu, ternyata selama enam tahun kemudian saya tidak pernah pindah dari distrik tersebut.

Kejadian demi kejadian yang saya alami itu kian menanamkan keyakinan dalam diri saya, manusia hanya kuasa berikhtiar dan Allah Swt. kuasa atas segala sesuatu. Di samping itu, dalam hidup kadang diperlukan kenekadan dan keberanian mengambil keputusan yang berisiko tinggi. Yang tak kalah penting, menurut saya, adalah doa orang tua. Mengapa? Mungkin, karena doa dan keinginan Ibunda saya yang sangat kuat agar saya menimba ilmu kembali, tak lebih dari sebulan setiba di Kairo, saya telah diterima sebagai mahasiswa di dua universitas sekaligus: Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo. Ya, dua universitas sekaligus. Ini karena saya mengajukan dua ijazah: untuk Universitas Al-Azhar saya mengajukan ijazah sarjana muda dan untuk Universitas Kairo saya mengajukan ijazah sarjana penuh. Ternyata, pengajuan saya diterima oleh kedua universitas tersebut.

Saturday, November 26, 2011

1433 Tahun yang Lalu


Wulida-l-hudâ fa-l-kâ’inâtu dhiyâ’u
Wa fammu-z-zamâni tabassumun wa tsanâ’u
A-r-rûhu wa-l-mala’u-l-malâ’iku haulahu
Li-d-dîn-i wa-d-dunyâ bihi busyrâ’u
Wa-l-‘arsyu yazhû wa-l-hadzîratu tazdahî
Wa-l-muntaha wa-d-durratu-l-‘ashmâ’u


Telah lahir Sang Nabi, pembawa petunjuk nan cemerlang
Semesta alam pun berpendar sangat benderang
Mulut zaman tiada henti dan senantiasa menggemakan
Senyuman, pujian, serta sanjungan

Jibril dan para malaikat pun mengitarinya senantiasa
Karena berita gembira ‘tuk agama dan dunia sertai kelahirannya
‘Arasy bangga dan surga tak kalah ceria
Sidrah Al-Muntaha dan Mutiara Putih pun berdendang ria

Ahmad Syauqi
Seorang penyair terkemuka Mesir (1287-1351 H/1870-1932 M)

Hari itu, Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 H, kala terik matahari di musim panas di penggal terakhir (tanggal 23) bulan September 622 M tengah menyengat dengan ganasnya, Rasulullah Saw. dan sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, menapakkan kaki memasuki Desa Quba’. Kala itu, orang-orang yang menantikan kedatangan Rasulullah Saw. dengan harap-harap cemas itu telah kembali ke rumah masing-masing dengan rasa putus asa. Tidak mungkin hari ini orang yang mereka nantikan kedatangannya itu tiba di Yatsrib. Tetapi, tiba-tiba seorang Yahudi berteriak-teriak nyaring, “Wahai Bani Qa’ilah! Itu orang yang kalian nantikan kedatangannya telah tiba!”

Semua orang menghambur dari rumah-rumah mereka. Rasulullah Saw. dan Abu Bakar Al-Shiddiq ternyata sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon kurma. Orang-orang pun berkerumun di sekeliling beliau. Sebagian besar di antara mereka tidak dapat membedakan mana Rasul Saw. dan mana Abu Bakar. Tetapi, di saat bayangan pohon kurma bergeser, Abu Bakar memayungkan jubahnya di atas kepala beliau. Kini, tahulah mereka yang mana Nabi mereka.

Di Desa Quba’ itu, Rasulullah Saw. kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang selama itu dijadikan pangkalan oleh kaum Muslim Makkah yang baru tiba di Yatsrib, antara lain Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan Zaid bin Haritsah, yakni rumah Kultsum bin Hadm. Bani ‘Amr, kabilah Kultsum, adalah suku Aus. Sedangkan Abu Bakar Al-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid (yang kemudian menjadi mertua Abu Bakar), seorang Khazraj di Sunh, sebuah desa yang agak dekat dengan Yatsrib. Selepas satu atau dua hari, ‘Ali bin Abu Thalib tiba dari Makkah, dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasul Saw. Untuk mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya bagi para pemiliknya, ia memerlukan waktu selama tiga hari.

Rasulullah Saw. berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, semenjak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam, dan beliau sendirilah yang meletakkan batu pertama di kiblatnya, yang kemudian diikuti Abu Bakar Al-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya.

Pada Jumat pagi, Rasulullah Saw. meninggalkan Quba’. Di siang hari, beliau dan para sahabat berhenti di Lembah Ranuna, di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf dari suku Khazraj, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Sebelum melaksanakan shalat bersama sekitar seratus jamaah, seusai mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., beliau berkhutbah,

Amma ba‘du. Wahai kaum Muslim, hendaklah kalian berbuat kebajikan demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu mengetahui, setiap orang di antara kalian pasti akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannyya. Tuhan akan bertanya kepadanya, langsung tanpa perantara dan tiada tirai apa pun yang akan memisahkannya, ‘Apakah Utusan-Ku tak datang kepadamu untuk menyampaikan amanah-Ku? Bukankah kepadamu telah kuanugerahkan harta dan pelbagai nikmat?’Kebaikan apakah yang telah engkau lakukan demi keselamatan dirimu sendiri?’

Orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi, ia tak melihat sesuatu. Ia kemudian melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari api neraka, walau hanya dengan sebutir buah kurma, lakukanlah! Bila tiada sesuatu apa pun yang dapat diberikan, cukuplah dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memperoleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Wassalamu‘alaikum wa ‘ala Rasulillah
.”

Sebuah khutbah sarat makna yang singkat, padat, dan sangat memikat! Inti khutbah itu ialah sejatinya manusia senantiasa kuasa berbuat kebaikan, dengan bersedekah dan memberi, walau ia seorang miskin. Beliau menyampaikan, seseorang kuasa menghindarkan diri dari neraka dan masuk surga walau hanya dengan sebutir buah kurma. Demikian halnya kata-kata yang baik pun juga dapat menghindarkan seseorang dari neraka dan masuk surga dalam timbangan Allah Swt. Dengan kata lain, kemampuan berbuat kebaikan dan memberi sejatinya terdapat pada diri setiap orang. Bagaimana pun kondisinya.

Usai melaksanakan shalat Jumat pertama kali dalam sejarah Islam, Rasulullah Saw. melanjutkan perjalanan ke pusat Kota Yatsrib. Bani Al-Najjar, suku terkenal di kota itu dan merupakan kerabat beliau dari pihak Ibunda beliau, Aminah binti Wahb, datang dengan memanggul senjata untuk menyambut kedatangan beliau. Dan, ketika memasuki kota, beliau mendapat sambutan yang sangat meriah. Banyak orang berusaha menghentikan beliau dan mengajak beliau tinggal bersama mereka. Bagi beliau, tentu sulit untuk memutuskan. Karena itu, beliau membiarkan untanya melanjutkan perjalanan, dan mengatakan kepada khalayak ramai bahwa beliau akan tinggal di tempat berhentinya unta. Ketika tiba di dekat lahan milik Abu Ayyub Al-Anshari, unta beliau berlutut tepat di depan rumah Abu Ayyub di atas lahan kosong milik dua anak yatim, Sahl dan Suhail, tempat tegaknya Masjid Nabawi dewasa ini. Unta itu lantas diurus oleh As‘ad bin Zurarah.

Abu Ayyub Al-Anshari, tentu, sangat gembira, suka cita, dan bahagia. Untuk menghormati beliau, ia mempersilakan beliau tinggal di lantai atas rumahnya yang bertingkat dua. Tapi, beliau memilih tinggal di lantai bawah, untuk memudahkan para tamu menemui beliau. Abu Ayyub menyediakan segala keperluan beliau yang tinggal di rumahnya selama sekitar tujuh bulan. Selepas itu, beliau pindah ke rumah beliau sendiri.

Selepas tinggal di Yatsrib, kota itu diganti namanya menjadi “Kota Nabi” (Madînah Al-Nabiy), atau “Kota nan Cemerlang” (Al-Madînah Al-Munawwarah), Thaibah, dan Thabah.(arofiusmani.blogspot.com/)

Thursday, November 24, 2011

Antara Cinta dan Sekat Politik


Entah kenapa siang tadi, 24 November 2011, ketika menyimak perhelatan pernikahan antara putra dan putri dua penggede Indonesia di tivi, tiba-tiba bibir saya bergumam, “Cinta, sejak dahulu, memang kerap tidak mengenal sekat politik.” Dan, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” dan teringat kisah cinta antar dua sejoli dari latar belakang politik yang berbeda: pernikahan antara Khalid bin Yazid dengan Ramlah binti Al-Zubair. Nah, berikut kisah indah dua sejoli dari dua keluarga besar yang pernah terlibat dalam konflik politik keras dan berdarah. Selamat menikmati!

Betapa gembira dan bahagia hati Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah kala itu. Orang nomor satu Dinasti Umawiyyah kala itu, ‘Abdul Malik bin Marwan, mengajaknya ikut serta naik haji bersama sejumlah besar jamaah haji dari Syam. Dan, kegembiraan dan kebahagiaannya kian sempurna manakala ia menapakkan kedua kakinya di lingkungan Masjid Al-Haram, di Makkah Al-Mukarramah, untuk menunaikan ibadah umrah.

Kala putra Yazid bin Mu‘awiyah bin Abu Sufyan, penguasa kedua dinasti itu, sedang bertawaf, tiba-tiba matanya beradu pandang tanpa sengaja dengan mata seorang perempuan jelita nan sangat memikat. Entah mengapa, Khalid tiba-tiba tak kuasa lagi mengendalikan gelegak hatinya. Juga, ia tak kuasa melupakan perempuan nan rupawan itu. Namun, selepas bertawaf dan mencari tahu tentang jati diri perempuan itu, betapa kaget Khalid. Perempuan bernama Ramlah itu, ternyata, adalah saudara perempuan seorang tokoh yang sangat anti terhadap ayahandanya dan Dinasti Umawiyyah: ‘Abdullah bin Al-Zubair, dan putri pasangan suami-istri seorang sahabat terkemuka: Al-Zubair bin Al-‘Awwam dan Al-Rabbab binti Alif bin ‘Ubaid Al-Kalbi.

Mengetahui semua itu, ternyata tak membuat gelegak cinta Khalid bin Yazid kepada Ramlah binti Al-Zubair kian mereda. Alih-alih, cintanya kian membara dan nyaris tak terkendali. Mengetahui kisah cinta Khalid tersebut, Al-Hajjaj bin Yusuf Al-Tsaqafi, panglima Dinasti Umawiyyah kala itu, benar-benar tak dapat menerimanya. Ia pun segera mengirim ‘Ubaidullah bin Mauhib, untuk menyampaikan sepucuk surat kepada Khalid. Dalam surat itu Al-Hajjaj, antara lain, menulis, “Menurut saya, tak sepatutnya engkau meminang anggota keluarga Al-Zubair bin Al-‘Awwam sebelum engkau meminta pertimbangan kepadaku. Bagaimana engkau berani meminang sebuah keluarga yang tak sepadan dengan keluargamu. Begitulah yang pernah dikatakan kakekmu, Mu‘awiyah. Mereka adalah orang-orang yang pernah menyerang kekuasaan ayahandamu, menuduhnya dengan pelbagai tindak kejahatan, dan memandang ayahanda dan kakekmu sebagai orang sesat!

Menerima surat demikian, Khalid bin Yazid dengan geram pun berucap kepada ‘Ubaidullah bin Mauhib, “Andai engkau bukan kurir yang memang tak boleh dijatuhi hukuman, tentu akan kupotong satu demi satu anggota tubuhmu, lantas kulempar di depan pintu rumah temanmu itu. Katakan kepada Al-Hajjaj, tak semua urusan harus diserahkan kepadanya dan dimintakan pertimbangannya. Perihal keluarga Al-Zubair yang menurutnya pernah menyerang kekuasaan ayahandaku, dan menuduhnya dengan segala kejahatan, kukira hal itu biasa berlaku di kalangan orang-orang Quraisy. Dan, bila Allah Swt. telah menetapkan suatu kebenaran, memboikot dan menandingi mereka tergantung pada cita-cita dan keutamaan mereka. Perihal keluarga Al-Zubair yang menurutnya tak sepadan, kiranya Allah mencelakakan Al-Hajjaj. Betapa picik pengetahuannya perihal garis keturunan kaum Quraisy. Bukankah Al-Zubair bin Al-‘Awwam sepadan dengan ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, karena pernikahannya dengan Shafiyyah, dan juga karena pernikahan Rasul Saw. dengan Khadijah binti Khuwailid. Apakah ia tak melihat bahwa mereka sepadan dengan Abu Sufyan?

Kemudian, seusai naik haji, ketika ‘Abdul Malik bin Marwan dan jamaah yang dipimpinnya sedang bersiap-siap untuk kembali ke Damaskus, Khalid pun menemui ‘Abdul Malik bin Marwan, dengan tujuan meminta izin untuk menunda kepulangannya. Tentu saja ‘Abdul Malik bin Marwan merasa penasaran dan ingin tahu alasan Khalid yang sebenarnya. Karena itu, ia pun meminta Khalid datang untuk menemuinya dan menjelaskan maksudnya tinggal beberapa lama di Makkah.

“Wahai Amir Al-Mukminin,” ucap Khalid bin Yazid yang tak kuasa mengelak untuk menjawab pertanyaan orang nomor satu Dinasti Umawiyyah itu. “Ketika kita tiba di Kota Suci ini dan kemudian bertawaf, entah mengapa tiba-tiba mata saya tanpa sengaja beradu pandang dengan mata seorang perempuan nan jelita. Ternyata, perempuan itu adalah Ramlah binti Al-Zubair bin Al-‘Awwam.”
“Oh, Ramlah binti Al-Zubair?” sahut ‘Abdul Malik bin Marwan terkejut seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. “Bukankah perempuan itu adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Al-Zubair? Bukankah saudara laki-lakinya adalah lawan politik berat ayahandamu dan kita?”
“Benar, wahai Amir Al-Mukminin,” jawab putra Yazid bin Mu‘awiyah (yang memerintahkan pasukannya untuk melibas ‘Abdullah bin Al-Zubair yang menentangnya) dengan suara pelan dan merundukkan kepala. “Perempuan jelita itu memang adalah saudara perempuan ‘Abdullah bin Al-Zubair. Walau demikian, kecantikan dan kepribadiannya yang menawan benar-benar membuat pikiran saya kacau tak karuan. Demi Allah, semenjak semula sejatinya saya berniat tak akan menuturkan hal ini kepada Paduka. Tapi, ternyata kesabaran saya pun ada batasnya. Mata saya telah saya paksa untuk melupakannya, tapi ia menolak dan tak mau menerimanya. Saya pun telah mencoba dengan segala cara untuk menghibur hati saya, tapi ia juga menolak.”
“Wahai Khalid bin Yazid,” ucap sang khalifah, yang merasa heran mendengarkan penjelasan cucu pendiri Dinasti Umawiyyah yang demikian itu, seraya menarik napas panjang. “Saya tak mengira, cinta dapat menguasai diri seseorang semisal engkau ini.”
“Wahai Amir Al-Mukminin,” jawab Khalid bin Yazid seraya merundukkan kepala. “Saya sendiri sejatinya lebih heran ketimbang Paduka. Sebab, sejak semula saya berpendapat, cinta hanya dapat menguasai dua jenis orang: para penyair dan orang-orang Badui. Adapun para penyair, ini karena pikiran mereka hanya tertuju kepada perempuan, menggambarkan keindahannya, dan merayunya. Akibatnya, watak mereka menyukai perempuan dan dengan sendirinya hati mereka gampang meyerah di hadapan sergapan cinta. Sedangkan orang-orang Badui, ketika salah seorang di antara mereka tinggal hanya berduaan dengan istrinya, tiada yang menguasai perasaannya selain hanya cintanya kepada istrinya. Juga, tiada kesibukan apa pun yang kuasa memalingkan cintanya itu. Akibatnya, hatinya tak kuasa untuk menolak cinta. Sehingga, cinta pun menguasai dirinya. Tapi, saya merasa heran, saya belum pernah melihat satu pun pandangan yang dapat menghalang-halangi diri saya dari kebulatan tekad saya dan membuat diri saya terasa mudah melakukan perbuatan dosa selain pandangan saya kali ini.”
“Wahai Khalid,” sergah sang khalifah seraya menatap tajam cucu Mu‘awiyah bin Abu Sufyan itu. “Apakah sudah sedemikian parahnya cinta menguasai dirimu?”
“Demi Allah, wahai Amir Al-Mukminin,” jawab Khalid bin Yazid seraya mendongakkan kepalanya dan salah tingkah, “Sebelum ini, saya tak pernah mengalami kekacauan dalam berpikir sebagaimana yang terjadi saat ini.”

Memahami “penyakit” yang sedang menyergap Khalid bin Yazid bin Mu‘awiyah tersebut, ‘Abdul Malik bin Marwan akhirnya memutuskan untuk meminang Ramlah binti Al-Zubair sebelum bertolak ke Damaskus. Mengetahui gelegak cinta Khalid kepadanya, Ramlah pun dengan tinggi hati menjawab, “Tidak! Demi Allah, saya tak mau menerima lamarannya sebelum Khalid bin Yazid menceraikan semua istrinya!”

Khalid bin Yazid pun menceraikan semua istrinya. Dan, selepas melangsungkan acara pernikahan dengan Ramlah binti Al-Zubair di Makkah, ia kemudian memboyong istri nan jelita yang sangat dicintainya itu ke Damaskus, Suriah.(arofiusmani.blogspot.com/)

Sunday, November 13, 2011

"Turunkan Saja Dia dari Jabatannya!"


“Banyak pejabat negara yang sangat perlente, hidup mewah, dan berideologi pragmatis dan hedonis,” demikian kritik seorang ketua komisi pemberantasan korupsi di Indonesia beberapa hari yang lalu. Menurut tokoh tersebut, ideologi pragmatis dan hedonis adalah akar korupsi di negeri ini. Kritik yang menarik. Ternyata, banyak pihak yang tidak senang dengan kritik yang “menyengat” tersebut.

Entah kenapa, ketika membaca kritik tersebut, saya teringat dengan kritik yang dikemukakan seorang hakim agung terkemuka Andalusia, Al-Mundzir bin Sa‘id Al-Baluthi, kepada seorang penguasa terkemuka kala itu, ‘Abdurrahman III Al-Nashir li Dinillah. Penguasa yang satu itu, kala itu, terkenal sebagai seorang penguasa yang lagi suka hidup bermewah-mewah dan menghambur-hamburkan kekayaan kerajaan yang dipimpinnya. Bagaimanakah sikap sang penguasa dalam menghadapi kritik yang membuat “telinganya merah” itu? Nah, berikut adalah kisah sang penguasa dalam menghadapi kritik tersebut:

Membangun Kota Al-Zahra’, itulah yang dilakukan ‘Abdurrahman III Al-Nashir li Dinillah, penguasa ke-8 Dinasti Umawiyyah di Cordoba, selepas berhasil memancangkan kekuasaannya. Kota istana yang dimaksudkan sebagai tanda cinta kepada istri tercintanya, Al-Zahra’, itu terletak di sebelah barat Cordoba. Kota yang setelah jatuh kembali ke tangan pasukan Spanyol disebut “Cordoba la Vieja” ini dirancang di dekat Sungai Guadalquivir dan di atas Bukit Siera Morina. Pembangunan kota di bawah pengawasan Al-Hakam II ini dimulai pada permulaan Muharram 325 H/Desember 936 M, dengan mengerahkan tenaga kerja sebanyak sekitar sepuluh ribu orang setiap hari, berlangsung terus menerus selama dua puluh lima tahun. Lebih dari tiga ribu hewan dikerahkan untuk mengangkut pelbagai ragam bahan bangunan dari berbagai belahan dunia. Misalnya, marmer hijau dan ungu yang didatangkan dari Carthago dan marmer putih dari Almeria. Sedangkan beberapa bahan lainnya yang terbuat dari emas dan perak didatangkan dari Suriah dan Constantinople.

Kota yang juga disebut dengan nama “Mahkota Pengantin Putri” (Tâj Al-‘Arûs) dan terdiri dari tiga blok ini demikian megah. Blok pertama diperuntukkan bagi istana-istana, perumahan, dan pasar. Blok kedua dikhususkan untuk taman dan tempat pesiar. Sedangkan blok ketiga untuk toko-toko, pemandian umum, dan tempat satuan pengamanan. Karena demikian megahnya, tak aneh bila pembangunannya tiap tahunnya menghabiskan biaya sekitar tiga ratus ribu dinar. Tak mengherankan pula ketika kota ini rampung dibangun, kota ini mampu menyediakan akomodasi ratusan kamar dan apartemen, di samping bangunan-bangunan lainnya, seperti masjid dan memungkinkan pula ribuan pasukan pengawal tinggal di kota ini.

Pembangunan kota itu ternyata membuat penguasa yang lahir di Cordoba pada Ramadhan 277 H/Desember 890 M itu pernah meninggalkan shalat Jumat di masjid sebanyak tiga kali berturut-turut. Mengetahui hal itu, Al-Mundzir bin Sa‘id Al-Baluthi, hakim agung (qâdhi al-qudhah) terkemuka Andalusia kala itu, bermaksud memberikan nasihat kepada penguasa yang lalai itu. Karena itu, suatu hari, ketika sedang menyampaikan khutbah shalat Jumat yang dihadiri ‘Abdurrahman III Al-Nashir, ia antara lain mengutip firman Allah Swt., “Apakah kalian mendirikan pada setiap tanah tinggi bangunan untuk bermain-main, dan kalian mendirikan benteng-benteng dengan maksud agar kalian kekal (di dunia)? Dan, manakala kalian menyiksa, kalian menyiksa sebagaimana orang-orang yang kejam dan bengis. Karena itu, bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Juga, bertakwalah kepada Allah yang telah menganugrahkan kepada kalian sesuatu yang kalian ketahui. Dia telah menganugerahkan kepada kalian hewan-hewan ternak, anak-anak, dan kebun-kebun serta mata air. Sungguh, aku takut kalian akan ditimpa azab hari yang besar.” (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 128-135).

Usai mengutip ayat-ayat Al-Quran tersebut, Al-Mundzir bin Sa‘id kemudian melengkapi khutbahnya yang pedas dengan uraian perihal larangan berlaku boros dan menghambur-hamburkan harta kekayaan.

Mendengar khutbah tersebut, penguasa yang berhasil menjadikan Andalusia sebuah negara adikuasa yang makmur dan kaum Muslim sebagai pelopor ilmu pengetahuan di Eropa itu tak kuasa menahan lelehan air matanya dan menyesali tindakannya. Kemudian, selepas kembali ke istana, ia berucap kepada putranya, Al-Hakam, “Sungguh, Al-Mundzir begitu keterlaluan dalam mengecam dan menyinggung diriku. Demi Allah, aku selamanya tak akan lagi melaksanakan shalat Jumat di belakangnya!”
“Apa yang membuat Ayahanda tak mencopot dan memberhentikan dia sebagai hakim agung? Turunkan saja dia dari jabatannya!” sahut sang putra.
“Celaka engkau,” sergah sang Ayahanda yang menyadari kembali kekeliruan dirinya. “Apakah tokoh setinggi Al-Mundzir dalam hal kesalihan, keilmuan, dan keutamaannya harus dicopot demi membela hawa nafsu yang senantiasa menyimpang dari kebenaran, menampakkan kemewahan, dan menempuh tujuan yang tak benar? Ini tak boleh terjadi. Sungguh, aku akan malu di hadapan Allah Swt. bila aku tak kuasa menjadikan orang seperti Al-Mundzir bin Sa‘id sebagai penolongku di Hari Kiamat kelak.” (arofiusmani.blogspot.com/)