Saturday, March 18, 2017



CAK AMAL: PROFIL KIAI PONDOK MODERN GONTOR

Oh, ini kan foto di rumah Cak Amal!”

Tak terasa ucapan demikian pelan meluncur dari bibir saya, dini hari tadi. Seperti kebiasaan nyaris setiap hari, dini hari tadi saya pun sudah bangun.

Ketika usai melaksanakan hal-hal yang biasanya setiap hari saya lakukan, saya pun membuka laptop. Entah kenapa, tiba-tiba timbul keinginan untuk membuka “simpanan” foto-foto lama. Ketika membuka foto-foto perjalanan saya dan istri ke Sydney, Australia, lo ternyata foto pertama yang muncul adalah foto silaturahmi saya dan istri ke rumah seorang sahabat lama saya, Cak K.H. Prof. Dr. Amal Fathullah Zarkasyi, seorang kiai yang kini menjadi rektor Universitas Darussalam, Gontor, Ponorogo. Saya memanggil beliau, sejak pertama saya bertemu beliau, dengan panggilan Cak Amal.

Saya berkenalan pertama kali dengan kiai yang ramah, periang, dan kadang suka canda ini  ketika kami sedang menimba ilmu di program  pascasarjana Fakultas Dar Al-‘Ulum, Universitas Kairo pada awal 1980-an. Beliau mendalami filsafat Islam, sedangkan saya mendalami sejarah dan kebudayaan Islam. Selain itu,saya dan doktor lulusan Universitas Malaya, Kuala Lumpur itu juga menimba ilmu di Universitas Al-Azhar. Kala itu, dapat dikatakan hanya ada sekitar 10 mahasiswa Indonesia yang merangkap kuliah di Universitas Al-Azhar dan Universitas Kairo.

Di luar kegiatan menimba ilmu, saya sering diajak kluyuran sama  Cak Amal  ke rumah sejumlah alumni Pondok Modern Gontor. Untuk apa? Tidak lain untuk menghilangkan “home sick” kami dengan masakan Indonesia. Sebagai putra seorang kiai yang pendiri Pondok Modern Gontor, ke mana pun beliau bersilaturahmi ke rumah para alumi pondok modern tersebut, beliau senantiasa disambut dengan hangat: disiapkan makanan nan lezat. Saya pun kecipratan ikut menikmati masakan lezat tersebut. Bagi saya, hal itu merupakan suatu kemewahan luar biasa: mahasiswa “tongpes” mendapat hidangan masakan lezat. Gumam bibir saya kala itu, “Andai tidak bersahabat dengan Cak Amal, mana saya dapat menikmati ‘kramat gandul’ seperti ini. Alhamdulillah.”

Selepas kami kembali ke Tanah Air, saya langsung bermukim di Jawa Barat, hingga kini. Sedangkan Cak Amal, tentu saja, kembali ke Gontor. Kemudian, selama sekitar 25 tahun, kami tidak bersua. Kami  bertemu kembali selepas saya mulai merintis Pesantren Nun, pada 2008, sebuah pesantren mini yang tidak ada apa-apanya bila dibandingkan dengan Pondok Modern Gontor. Sejak itu, saya dan istri kerap sowan ke Gontor: untuk menimba ilmu dan pengalaman dalam pengelolaan pesantren. Seperti halnya ketika masih muda usia, Cak Amal tetap tidak berubah, meski kini telah menjadi  seorang kiai dan rektor: ramah, periang, suka bercanda, dan hidup sederhana.

Cak Amal, menurut saya, dapat dikatakan sebagai profil seorang kiai Gontor: tawadhu, berwawasan luas, suka bersilaturahmi, hidup sederhana, dan ikhlas dalam mengabdi kepada masyarakat. Dan, pada kesempatan ini, secara khusus, kepada Cak Amal, saya hanya dapat mendoakan, “Matur nuwun, Cak Amal, atas segala kebaikan panjenengan selama ini. Kiranya Allah Swt. melimpahkan kasih sayang-Nya kepada panjenengan serta menerima amal dan kebaikan panjenengan, amin ya Rabb al-‘alamin.”


Thursday, February 16, 2017

KETIKA KEIMANAN BERPENDAR

Dulu, saya ini pernah menjadi kafir, Pak Rofi’.”

Demikian ucap pelan seorang ahli geologi senior yang sedang duduk di samping saya, di pelataran sebuah rest area di Puerto Almuradiel, antara Madrid-Cordoba, sambil menikmati secangkir teh hangat. Mendengar ucapannya yang demikian, sejenak saya tertegun. Lalu, wajah sosok sepuh berusia sekitar 66 tahun yang duduk di samping saya itu pun saya cermati. Pandangannya tampak sedang memandang jauh. Lebih jauh dari hamparan lahan luas yang ada di depan kami yang sedang beristirahat dalam perjalanan menuju Sevilla, akhir bulan lalu.

“Lalu, mengapa kemudian Bapak memeluk Islam?” tanya saya pelan. Tentu saja penasaran.
“Saya seorang ahli geologi lulusan ITB. Saya angkatan 1972. Sejak kecil saya dididik berpikir sangat rasional,” ucapnya sambil tetap memandang ke arah jauh. Sementara angin pagi masih bertiup agak kencang dan terasa menusuk tulang. “Kemudian, ketika di ITB, saya diajar untuk berpikir dengan pemikiran yang sangat rasional. Dampaknya terasa selepas saya lulus dari ITB. Meski kedua orang tua saya Muslim, saya jauh dari sentuhan agama. Saya menjadi manusia agnostik. Di sisi lain, dengan berjalannya waktu, sebagai seorang konsultan teknik dan kontraktor, saya mengalami banyak kejadian. Mungkin Pak Rofi’ pernah mendengar peristiwa jebolnya Situ Gintung.”

Sejenak, sosok asal Solo, Jawa Tengah itu menghentikan ceritanya. Lalu, ucapnya lebih lanjut, “Saya pernah menjadi konsultan teknik situ tersebut. Sebelum situ itu jebol, saya sudah memberikan masukan dan laporan kepada pejabat terkait bahwa situ itu harus diperkuat tanggul-tanggulnya. Jika tidak diperkuat, situ itu akan jebol. Tapi, masukan dan laporan saya tidak didengarkan. Jebollah kemudian situ itu. Sedih. Saya pun pernah dimusuhi oleh sebuah negara tetangga kita. Padahal, saya tidak bersalah. Dan, masih banyak kisah suka dan duka lain yang saya alami dan hadapi. Selama itu, dapat dikatakan hati dan pikiran saya hampa dari yang namanya Tuhan.”

“Lantas, mengapa Bapak kemudian kembali memeluk Islam,” ucap saya.
“Sekitar 2007, saya bertugas di Kalimantan Selatan,” ucapnya lebih lanjut, tetap sambil menatap ke arah jauh. “Di sana, saya bertemu dengan seorang anak muda. Usianya sekitar 23 tahun. Ternyata, meski muda usia, dia memiliki pengetahuan dan pemahaman yang luas sekali tentang tasawuf. Entah kenapa, mendengar dan menyimak penjelasannya tentang pemikiran seorang tokoh sufi membuat hati dan pikiran saya terpikat  dan  luluh. Akhirnya, saya pun menjadi Muslim kembali.”
“Alhamdulillah. Siapakah tokoh sufi tersebut?”

Sambil tetap menatap ke arah jauh, sosok itu kemudian menyebut sebuah nama. Mendengar nama itu, saya kemudian berucap, “Tokoh sufi itu berasal dari Andalusia ini, Bapak. Ia berasal dari sebuah keluarga bangsawan, hartawan, dan ilmuwan terpandang di Bumi Andalusia ini.”
“Oh begitu?”
“Ya. Ia lahir di Murcia, Andalusia selatan. Kemudian, ketika berusia 8 tahun, dia pindah ke Sevilla. Tidak beda jauh dengan guru Bapak, tokoh sufi itu mulai menceburkan diri ke dalam “lautan” tasawuf ketika berusia sekitar 21 tahun. Selepas itu, dia mulai berkelana: ke Cordoba, Granada, Afrika Utara, Semenanjung Arab, dan berbagai penjuru Dunia Islam kala itu. Dan, perjalanannya di dunia yang fana ini berakhir di Damaskus, Suriah, 18 tahun sebelum Baghdad diluluhlantakkan oleh pasukan Mongol.”
“Masya Allah, luar biasa perjalanan hidup beliau.”

“Pak Rofi’,” ucap seorang sahabat yang mendampingi perjalanan kami selama di Andalusia, “kini saatnya kita melanjutkan perjalanan kita menuju Sevilla.”
“Baik, Mas. Bapak, silakan naik mobil. Perbincangan ini nanti kita lanjutkan selepas kita tiba di Sevilla.”

Dengan berjalan tertatih, ditopang tongkat yang senantiasa menyertainya, bapak itu kemudian menuju mobil van yang sudah siap berjalan menuju Sevilla. Seraya memandangi langkah-langkah pelan sosok tersebut, entah kenapa tiba-tiba saya teringat penjelasan Tariq Ramadan, tentang proses keislaman ‘Umar bin Al-Khaththab, dalam sebuah karyanya berjudul In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammad,

“Nabi Saw. tahu, dirinya tak berkuasa atas hati manusia. Dalam menghadapi penganiayaan dan kesulitan besar, beliau berpaling kepada Allah, seraya berharap Dia akan memberi petunjuk kepada salah satu dari dua tokoh Quraisy yang beliau ketahui memiliki kualitas dan kekuatan yang diperlukan untuk membalikkan keadaan. Tentu saja Nabi Saw. tahu, hanya Allah yang berkuasa menuntun hati  manusia. Bagi sebagian orang, perpindahan agama merupakan sebuah proses panjang yang membutuhkan masa penuh pertanyaan, keraguan, dan langkah maju-mundur. Sedangkan bagi yang lain, perpindahan agama berlangsung singkat, segera selepas membaca teks, atau memerhatikan gerak tubuh atau perilaku.

Hal yang demikian itu tak dapat dijelaskan. Peralihan agama yang memakan waktu paling lama tak berarti melahirkan keimanan yang kukuh, dan kebalikannya juga tak sepenuhnya benar: jika bicara urusan peralihan agama, kecenderungan hati, keimanan dan cinta, tiada lagi logika; yang berlaku adalah kekuasaan Allah yang luar biasa. ‘Umar keluar rumah dengan niat kuat untuk membunuh Nabi Saw., dibutakan oleh pengingkarannya terhadap Allah Yang Maha Esa. Namun, beberapa jam kemudian, dia berubah dan mengalami sebuah transformasi sebagai hasil perubahan keyakinan akibat sentuhan sebuah Al-Quran dan maknanya. Malah, dia kemudian menjadi salah seorang sahabat setia dari orang yang dia ingikan kematiannya. Tak seorang pun di antara para pengikut Nabi Saw. yang dapat membayangkan bahwa ‘Umar akan mengikuti pesan agama Islam, mengingat ia dengan sangat jelas telah mengungkapkan kebenciannya terhadap Islam. Revolusi hati ini merupakan sebuah pertanda, dan dia mengajarkan dua hal: tiada yang mustahil bagi Allah, dan kita tak boleh memberikan penilaian mutlak terhadap sesuatu atau seseorang.”
Ya, tiada yang mustahil bagi Allah Swt.!



Monday, December 26, 2016

KIAI DAN FOTO

Siapakah kiai yang paling kerap tampil lewat foto?”

Andai pertanyaan demikian diajukan kepada saya, dengan spontan saya akan menjawab, “Gus Mus!”

Anda tidak percaya? Silakan minta masukan kepada saudara Google atau tanya kepada Facebook. Minggu ini, misalnya, foto-foto Gus Mus yang sedang menerima tamu dari Jakarta, yang juga sahabat beliau ketika sedang menimba ilmu di Kairo, Mesir: K.H. Prof. Dr. Habib Quraish Shihab (dan keluarga), merupakan salah satu “trending photos”.

Entah kenapa, hati saya merasa bahagia begitu melihat foto-foto kunjungan mantan menteri agama dan keluarga tersebut kepada Gus Mus di tempat kediamannya di Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Melihat foto-foto tersebut, saya segera dapat “menangkap” keakraban di antara dua tokoh tersebut. Selain itu, segera pula saya dapat menangkap masih kuatnya kultur pesantren yang mewarnai kunjungan tersebut: Gus Mus meminta kepada K.H. Prof. Dr. Habib Quraish Shihab untuk berdoa. Permintaan doa oleh shahib al-bait kepada seorang tamu yang sedang berkunjung merupakan kultur yang biasa dilakukan oleh para kiai. Mereka sangat sadar, doa tamu yang termasuk kategori musafir meripakan doa yang mustajab.

Kini, kita kembali kepada Gus Mus. Mengapa saya memilih beliau sebagai kiai yang sangat sadar “peran” foto? Saya mulai “memantau” kegemaran beliau berfoto (nyuwun agunging pangapunten, Gus) ketika saya masih menjadi santri di Pondok Pesantren Al-Munawwir,  Krapyak Yogyakarta (1972-1975). Kala itu, saya tinggal satu gotakan (kamar) bersama adik kandung Gus Mus: Gus Adib Bisri (almarhum). Nah, suatu ketika, selepas Gus Adib kembali dari mudik ke Rembang, Gus Adib membawa tiga  album penuh foto-foto. Ternyata, album-album itu milik Gus Mus.

Lewat album-album itulah saya tahu “kisah” Gus Mus ketika sedang menimba ilmu di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir. Saya ingat, misalnya, bagaimana gaya beliau ketika sedang mengikuti kegiatan di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Kairo. Dapat dikatakan, Gus Mus kala itu adalah seorang mahasiswa fotogenik: senantiasa tampil menawan ketika berfoto. Dari foto-foto itu saya juga ingat beberapa kawan seangkatan beliau menimba ilmu di ibu kota Mesir itu. Antara lain Gus Dur, K.H. Prof. Dr. Habib Quraish Shihab, dan. K.H. Abdullah Syukri Zarkasyi Gontor.

Selintas, foto-foto Gus Mus itu tidak banyak manfaatnya. Mungkin, bagi sebagian orang demikian. Tapi, bagi saya pribadi, foto-foto itu  telah berjasa dalam memberikan motivasi kepada saya untuk menimba ilmu sampai  jauh ke negeri orang. Karena terpikat dengan foto-foto Gus Mus ketika sedang menimba ilmu di Mesir, saya pun sejak masih sebagai santri punya keinginan kuat untuk mengikuti jejak Gus Mus: menimba ilmu di Mesir.


Matur nuwun, Gus Mus.  Semoga tetap tidak jemu berfoto nggih. Salam.

Friday, December 23, 2016

KIAI-KIAI YANG MENDAMAIKAN HATI

Entah kenapa, tiba-tiba dini hari tadi, saya sangat kangen dengan dua kiai yang sangat tawadhuk.

Terkenang dengan dua kiai yang sangat rendah hati itu, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke sekitar 1974. Kala itu, saya masih sebagai santri di Pondok Pesantren Al-Munawwir, Krapyak, Yogyakarta. Juga, sebagai salah seorang pengurus pondok pesantren yang mendapat amanah mendampingi ribuan santri.  

Sebagai pesantren besar, pesantren yang berada di ujung paling selatan jalan dari arah Beteng Selatan  itu kerap menerima banyak tamu. Khususnya untuk bersilaturahim dengan KH. Ali Maksum, kiai terkemuka di pesantren tersebut kala itu. Tamu-tamu yang datang tidak hanya para orang tua santri. Tapi, juga para kiai dan pejabat. Di antara para pejabat, yang kerap bersilaturahim adalah seorang menteri agama yang pernah menjadi murid K.H. Ali Maksum ketika di Pondok Pesantren Tremas, Pacitan: Prof. Dr. A. Mukti Ali. Tokoh terakhir tersebut, seingat saya, setiap Hari Raya Fitri, selalu sowan kepada K.H. Ali Maksum, sampaipun ketika menjabat sebagai Menteri Agama. Dan, saya lihat, setiap kali sowan beliau selalu mencium lama tangan gurunya itu.

Sebagai pengurus pesantren, kami senantiasa diberitahu para tamu yang datang. Bagi saya pribadi, ada dua “tamu” yang senantiasa saya nantikan kehadiran mereka: K.H. Abdul Hamid Pasuruan dan K.H. Arwani Kudus. Yang pertama adalah seorang kiai yang terkenal sangat tawadhuk dan berwajah teduh dan meneduhkan hati. Kiai yang senantiasa mengenakan busana putih, dari serban, baju, hingga sarung ini pernah bersama K.H. Ali Maksum menimba ilmu di Pondok Pesantren Tremas, dan malah kemudian menjadi besan beliau.

Setiap kali K.H. Abdul Hamid bersilaturahim ke Pondok Pesantren Krapyak, dan seusai melaksanakan shalat Shubuh, K.H. Ali Maksum kemudian mempersilakan sang tamu mendampingi beliau untuk berdiri di depan mihrab masjid. Segera, para santri berbaris dan kemudian menjabat tangan serta mencium tangan dua kiai terkemuka tersebut. Dalam suasana demikian, saya sengaja menanti sebagai santri terakhir yang antri. Mengapa? Sebagai orangg terakhir yang menjabat tangan dan mencium tangan dua kiai yang guru ayah saya ketika di Pondok Pesantren Tremas, saya berkesempatan mencium lama dua tangan lembut dua kiai tersebut. Ada suatu kebahagiaan yang tidak dapat diungkapkan dengan kata, ketika mencium lama tangan lembut dua kiai tersebut.

Kiai kedua yang senantiasa dambakan kehadirannya adalah K.H. Arwani. Kiai yang satu ini, seperti halnya K.H. Abdul Hamid Pasuruan, setiap kali datang ke Pondok Pesantren Krapyak, juga senantiasa mengenakan serban, baju, dan sarung putih. Kiai yang satu ini terkenal sebagai salah seorang tokoh tahfidz Al-Quran di Indonesia. Seperti halnya K.H. Abdul Hamid, K.H. Arwani senantiasa lembut ketika berbincang, sangat santun dalam bertindak, dan memiliki wajah yang memancarkan kebeningan dan kejernihan hati. Yang jauh lebih utama: lewat asuhan beliau, lahir ribuan hafizh Al-Quran dengan standard tinggi. Dengan kata lain, tidak sekadar hapal Al-Quran.

Dua kiai tersebut, setahu saya, tidak pernah terlibat dalam hingar bingar perpolitikan di Indonesia. Meski demikian, dalam sunyi mereka senantiasa berdakwah dengan cara yang mereka pilih: tanpa banyak cakap dan cuap-cuap. Mereka berdakwah dengan sangat ikhlas dan tanpa ingin disanjung siapa pun. Ternyata, hasil dakwah mereka luar biasa dan sangat efektif.

Teringat dua kiai yang rendah hati dan menyejukkan hati tersebut, seusai shalat Shubuh tadi pagi pun saya berdoa, “Ya Allah, dua kiai yang rendah hati itu kini telah berpulang kepada-Mu. ‘Peluk’lah keduanya dengan penuh kasih sayang. Dan, munculkanlah para pengganti mereka yang memiliki akhlak dan kualitas seperti mereka berdua. Di negeri tercinta kami ini, Indonesia.”

Amin yang Mujibas Sa’ilin.

Tuesday, November 15, 2016

WAHAI IMAM AL-SYAFI‘I, AKU MERINDUKANMU

Entah kenapa, dini hari tadi, saya merasa resah dan gelisah. Dan, kemudian tiba-tiba saya merindukan kehadiran Imam Al-Syafi'i, seorang pendiri Mazhab Syafi'i: sebuah mazhab fikih yang hingga kini tersebar di berbagai kawasan Dunia Islam. Karena itu, sejak dini hari tadi, saya  membuka banyak tulisan tentang perjalanan hidup dan pemikiran beliau

Mungkin, kerinduan saya yang demikian itu membara karena perasaan jenuh karena membaca berbagai perbedaan pendapat yang kini sedang "membara" di media sosial. Perbedaan pendapat yang kerap membangkitkan emosi. Dan, selepas membuka sederet tulisan tentang tokoh kelahiran Gaza, Palestina itu, akhirnya saya mendapatkan sebuah catatan tentang sikap beliau dalam menyikapi berbagai persoalan yang terjadi pada masanya, "Imam Al-Shafii never got furious while debating with anyone, because he was not interested in scoring points or winning people's admiration, but rather in reaching the truth. And if his opponent were right, he would not find difficulty accepting his view."

Membaca catatan demikian itu, entah kenapa, hati saya menjadi tenteram dan tidak resah lagi.

Siapakah Imam Al-Syafii?

Pendiri Madzhab Syafi‘i dan pengasas ilmu usul fikih ini lahir pada 150 H/767 M lahir di Gaza, Palestina dengan nama lengkap Abu ‘Abdullah Muhammad bin Idris bin ‘Utsman bin Syafi‘ bin Al-Sa’ib bin ‘Ubaid bin ‘Abd Yazid bin Hisyam bin Al-Muththalib bin ‘Abd Manaf Al-Qurasyi Al-Muththalibi Al-Makki. Ibunya bernama Fathimah binti ‘Abdullah bin Al-Hasan bin Al-Husain bin ‘Ali bin Abu Thalib. Ketika anak itu berumur dua tahun, ayahnya meninggal dunia. Maka, ibunya membawanya ke ‘Asqalan, dan kemudian ke Makkah. Selepas agak besar, ia diantarkan sang ibu ke Masjid Al-Haram untuk menimba ilmu. Di sini, ia belajar kepada sejumlah ulama di Kota Suci itu kala itu, antara lain Isma‘il bin Qustanthin, Sa‘d bin Salim Al-Qaddah, Daud bin ‘Abdurrahman Al-‘Aththar, Muslim bin Khalid Al-Zanji dan Sufyan bin ‘Uyainah. Dengan segera ia berhasil menguasai berbagai ilmu yang diajarkan.

Lantas, ketika Imam Al-Syafi‘i berusia 20 tahun, ia meminta izin kepada sang ibu untuk belajar kepada Imam Malik bin Anas, pengasas Mazhab Maliki, di Madinah Al-Munawwarah. Ibunya mengizinkan. Berangkatlah ia ke Kota Nabi. Begitu bertemu dengan anak muda itu, sang Imam benar-benar terkesan dengan kepribadian, kecerdasan, dan perilakunya. Selain kepada sang guru, ia juga menimba ilmu kepada sejumlah ulama terkemuka di Kota Nabi kala itu. Antara lain ‘Abdullah bin Nafi‘, Muhammad bin Sa‘id, Ibrahim bin Abu Yahya Al-‘Ashami, dan ‘Abdul ‘Aziz bin Muhammad Al-Darudi.

Selepas tiga tahun menjadi murid Malik bin Anas, si anak muda meminta izin kepada gurunya untuk melanjutkan kelananya guna menguak lebih jauh dunia ilmu pengetahuan. Ia pun pergi ke Kufah, Persia, Syam, dan kembali ke Makkah. Lantas, selepas Malik bin Anas berpulang, ia melanjutkan kelananya ke Yaman. Dari negeri terakhir itu ia kemudian kembali ke Makkah lagi.

Perjalanan panjang berikutnya mengantarkannya menjadi imam besar yang dalam menetapkan hukum memadukan antara metode Hijaz dan metode Irak, yakni memadukan antara lahiriah teks-teks landasan hukum Islam dengan ratio. Selanjutnya, ia melakukan perjalanan ke Mesir, lewat Harran dan Syam. Ia tiba di Mesir pada Senin, 26 Syawwal 198 H/19 Juni 814 M. Dan, akhir perjalanan kelananya di dunia yang fana ini berakhir pada Jumat, 30 Rajab 204 H/20 Januari 820 M di Al-Qarafah Al-Shughra, Fusthath, Mesir.

Selain sebagai pengasas Madzhab Syafi‘i, tokoh yang menyatakan bahwa “perhiasan yang paling indah yang dipakai para ulama adalah kedamaian hati (qanâ‘ah), kepapaan, dan ridha” ini juga dipandang sebagai peletak batu pertama usul fikih. Sebab, para ahli fikih sebelumnya berijtihad tanpa mempunyai batas-batas yang jelas. Dengan karyanya berjudul Al-Risâlah, ia membuat batas dan tata aturan yang jelas dalam berijtihad. Di samping itu, ia meninggalkan sejumlah karya tulis selain Al-Risâlah. Antara lain adalah Al-Umm, sebuah karya di bidang fikih yang dihimpun Al-Bulqini (berpulang pada 805 H/1403 M), dan Al-Fiqh Al-Akbar fî Al-Tauhîd.

"Wahai Imam, andai engkau hadir di antara kami saat ini, mungkin kami dapat berpikir dan bersikap lebih bening dan jernih," gumam bibir saya ketika mendengar lantunan azan Shubuh tadi pagi dan mengakhiri "kluyuran" saya di dunia maya.