Thursday, February 4, 2010

Pertemuan Imajiner dengan Sinan Pasa


Pada malam hari kelima kunjungan kami (penulis dan istri) ke Istanbul pada tahun lalu, 2009 M, penulis dengan langkah-langkah pelan meninggalkan Hotel Yigitalp di Aksaray, tempat kami menginap, menuju Masjid Sehzade. Istri penulis saat itu tidak ikut serta. Saat itu, ia sedang menghadiri sebuah kongres medis di Musium Militer Turki di dekat Taksim Square. Maksud kedatangan penulis ke masjid itu adalah untuk melaksanakan shalat isya. Duh, ketika penulis tiba di masjid itu, ternyata semua pintu masjid telah tertutup. Rapat. Akhirnya, dengan menahan dingin malam hari Kota Istanbul di musim semi (sekitar 14 derajat Celcius), penulis pun melaksanakan shalat di pelataran luas masjid itu. Sendirian.

Seusai penulis melaksanakan shalat dan kemudian menikmati indahnya siluet Masjid Sehzade di malam hari, entah kenapa tiba-tiba dalam benak penulis muncul sosok Sinan Pasa di pelataran masjid itu. Kala itu, dalam benak penulis, maestro yang arsitek raksasa itu sedang berdiri tidak jauh dari penulis. Karena itu, penulis pun segera berdiri dan kemudian mendekati sosok berjenggot putih, bermata tajam, mengenakan serban tinggi serta berusia sekitar 85 tahun itu. Ketika penulis telah dekat dengan sosok itu, penulis pun menyapanya, “Assalamu‘alaikum…. Merhaba.”
“Wa‘alaikumussalam…,” jawab pelan sosok itu. “Merhaba, Memnun oldum!... Nasılsıniz?
“İyiyim, teşekkür ederim…”
“Türkçe konuşuyor musunuz?”
“Biraz…”
“Isminiz nedir…?”
“Ismim Ahmad Rofi’ Usmani…”
“Nerelisiniz?”
“Endonezya ‘dan geliyorum…”, jawab penulis terbata-bata, karena saat itu hanya sedikit sekali kosakata Turki yang penulis ketahui. Merasa tidak kuasa lagi meneruskan perbincangan dalam bahasa Turki, penulis pun berucap kepada Sinan dalam bahasa Indonesia, “Tuan, bukankah Anda adalah Sinan Pasa?”
“Benar, Ananda,” jawab sosok itu dengan nada suara yang sangat santun, seperti halnya nada suara kebanyakan orang-orang Turki, dan menjabat tangan penulis. “Memang, aku adalah Sinan. Selamat datang di Istanbul, Ananda.”

Betapa gembira hati penulis ketika tahu sosok itu adalah Sinan Pasa. Selepas berbagi sapa sejenak, kami kemudian duduk di sebuah tempat duduk yang terletak tidak jauh dari tempat wudhu indah berbentuk persegi delapan yang dibangun Sinan Pasa di pelataran Masjid Sehzade itu. Selepas itu, kami terlibat dalam perbincangan lama tentang sejarah Turki. Selain itu, Sinan Pasa juga menuturkan kisah hidupnya yang membentang panjang selama sekitar 98 tahun. Kemudian, seraya memandangi Masjid Sehzade, Sinan berucap pelan kepada penulis, “Ananda, tidak ingin tahukah engkau tentang kisah pendirian tiga masjid utama yang kurancang ini?”
“Tentu, Tuan Sinan Pasa. Setiap orang tentu ingin sekali mendengarkan kisah pendirian masjid ini. Apalagi langsung dari seorang maestro seperti halnya Tuan ini,” jawab penulis.
“Baiklah, Ananda,” jawab Sinan Pasa seraya menarik napas panjang, dan kedua matanya tampak menerawang jauh. “Aku merancang Masjid Sehzade ini atas perintah Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Aku yakin, engkau tentu mengetahui, siapa sultan yang satu itu. Masjid ini mulai dibangun pada 1547 M, ketika aku berusia 58 tahun. Seperti yang engkau saksikan saat ini di depanmu, masjid ini terdiri dari tiga bangunan utama : bangunan dalam, bangunan luar, dan pelataran di mana kita saat ini berada.”

“Kini, lihat puncak masjid,” tutur lebih lanjut Sinan Pasa. “Itu adalah kubah utama. Tinggi kubah itu mencapai sekitar 37 meter. Sedangkan garis tengahnya sepanjang 18.42 meter. Kemudian, lihatlah empat kubah yang lebih kecil ukurannya yang mengitari kubah utama. Setiap separuh dari empat kubah itu sengaja aku tempatkan di dinding kubah utama. Mengapa demikian? Hal itu aku lakukan agar masjid ini, bila dilihat dari dalam, akan tampak kian luas. Nah, untuk mengurangi kesan berat masjid ini, kubikin ruang-ruang di samping bangunan dalam itu. Masjid ini adalah masjid yang pertama kali kubangun. Alhamdulillah, dengan membangun masjid ini, kutemukan model rancangan masjid dengan kubah raksasa, atau ‘masjid dengan rancangan terpusat’. Perlu engkau ketahui, masjid ini merupakan ‘buah’ perjalananku ke pelbagai penjuru dunia. Ketika pembangunan masjid ini usai, betapa aku sangat bersyukur kepada Allah Swt. Inilah pengalaman pertamaku membangun sebuah masjid raksasa di masa itu.’”

Selepas berucap demikian, tokoh (yang wajahnya mengingatkan wajah beberapa sahabat penulis di Kairo, Mesir) yang hingga berusia 24 tahun memeluk agama Nasrani itu pun lama menekurkan kepalanya. Dan, tiba-tiba Sinan Pasa berpaling ke arah penulis dan bertanya pelan, “Apakah engkau sudah mengunjungi Masjid Sulaimaniyyah, Ananda?”
“Sudah, Tuan Sinan. Kenapa?”
“Ayo kita ke sana. Aku akan menceritakan kepadamu kisah pendirian Masjid Sulaimaniyyah.”

Kami pun, dengan langkah pelan, menembus malam Kota Istanbul yang kian dingin. Seraya melangkah pelan dan menikmati bangunan-bangunan lama dan indah di sepanjang jalan antara Masjid Sehzade dan Masjid Sulaimaniyyah, Sinan Pasa menuturkan tentang proses kreatifnya dalam merancang dan membangun tak kurang dari 441 bangunan arsitektur, termasuk Masjid Mehmet Pasa di Sophia, Bulgaria, Masjid Mustafa Pasa di Budapest, Masjid Tatar Khan di Rusia, Masjid Khusraw Pasa di Aleppo, dan Masjid Sultan Sulaiman di Damaskus, Suriah. Selain itu, ia juga menuturkan suatu rahasia yang tidak banyak diketahui banyak orang, mengapa Dinasti Usmaniyyah berhasil menjadi imperium yang sangat perkasa di masanya.

Selepas sekitar dua puluh menit berjalan menembus malam Kota Istanbul yang sangat indah, kami pun tiba di pelataran luas Masjid Sulaimaniyyah. Di sekitar pelataran itu ramai orang yang sedang menikmati suasana indah Masjid Sulaimaniyyah di kafe-kafe di sampingnya. Tampaknya, mereka tidak menyadari kehadiran kami yang kemudian duduk di kursi-kursi di kafe itu. Tak lama selepas menempatkan dirinya di kursi, penulis lihat Sinan Pasa lama menerawang lama Masjid Sulaimaniyyah yang berada di hadapannya. Tiba-tiba, penulis lihat air matanya menetes pelan dan kemudian membasahi kedua pipinya. Melihat hal itu, penulis pun bertanya pelan kepadanya, “Tuan Sinan, apakah Tuan dalam keadaan sakit?”

Mendengar pertanyaan penulis yang demikian, Sinan Pasa pun menarik napas panjang dan lama seraya menggeleng-gelengkan kepalanya. Dan, kemudian, ia berucap pelan, “Ananda, pesanku, hati-hatilah engkau ketika menerima dan memegang suatu amanah. Laksanakanlah amanah yang engkau terima dengan sebaik-baiknya. Walau demikian, tetaplah waspada dan hati-hati. Mengapa demikian? Karena walaubdengan senang hati menerima amanah untuk merancang dan membangun masjid ini, ternyata aku tetap terkena fitnah orang. Akibatnya, kepalaku nyaris dipancung Sultan Sulaiman Al-Qanuni.”
“Bagaimana kisah kejadian itu, Tuan Sinan?”
“Suatu hari, wahai Ananda, seseorang menyampaikan laporan palsu kepada Sultan Sulaiman Al-Qanuni bahwa aku lebih asyik dengan karya lain ketimbang merampungkan pembangunan Masjid Sulaimaniyyah,” jawab Sinan pelan. “Mendengar laporan demikian, amarah sang sultan pun membara. Ia pun segera menaiki kudanya dan mencari aku yang sedang berada di tempat kita saat ini. Begitu menemukan aku, ia pun mengancam aku agar segera merampungkan pembangunan masjid ini dan tidak menangani proyek lain. Jika tidak, ia mengancam akan memancung kepalaku. Aku pun kebingungan, mengapa sang sultan menuduh aku sedang melaksanakan proyek lain itu. Ini jelas fitnah yang sengaja ditaburkan oleh orang-orang yang tidak senang terhadap diriku yang terkenal sebagai pekerja keras yang sangat patuh kepada sang sultan. Dengan tubuh gemetar, karena ketakutan, aku pun menjelaskan kepada sang sultan bahwa aku tidak sedang menangani proyek lain. Alhamdulillah, sang sultan ternyata masih mempercayai aku. Selepas kejadian itu, aku pun memerintahkan para pekerja agar bekerja lebih keras. Akhirnya, masjid ini pun rampung tepat waktu.”

Mendengar penuturan Sinan Pasa yang demikian, penulis pun lama tercenung dan termenung: ternyata, orang sekaliber dan sebersih Sinan pun masih juga memiliki musuh. Kemudian, selepas Sinan maupun penulis “tenggelam” dalam perenungannya masing-masing, penulis pun memecah kesunyian yang terjadi di antara penulis dan Sinan dengan pertanya, “Tuan Sinan, bukankah Tuan tadi menyatakan akan menuturkan kisah pendirian Masjid Sulaimaniyyah?”
“Özür dilerim, Ananda,” sahut pelan Sinan. “Aku hampir lupa dengan tujuan kedatangan kita ke sini. Baiklah, kita kini beralih ke masalah tersebut. Masjid raksasa kedua yang kurancang ini mulai dibangun pada 1557 M. Dalam membangun masjid yang dipilih di atas sebuah bukit yang menjadi pusat Selat Bosphorus, sehingga masjid ini menjadi titik pusat yang sangat menarik perhatian dan pemandangan, aku memilih model kubah tengah dan dua kubah kecil. Kubah tengah, dari permukaan tanah, memiliki tinggi 53 meter. Dengan kata lain, masjid ini enam meter lebih tinggi dari Hagia Sophia. Selain itu, dalam membangun masjid, aku dayagunakan seluruh kemampuan arsitektural yang telah kukuasai saat itu. Demikian halnya, aku pun kala itu telah menaruh perhatian besar terhadap pelbagai faktor pengaruh suara, di samping sistem sirkulasi udara yang membuat udara di masjid ini bergerak cepat dan mudah. Coba Ananda masuk ke dalam masjid, tentu Ananda akan merasakan betapa nyaman udara di dalamnya.”

Usai bertutur demikian, Sinan Pasa kembali terdiam lama. Pandangannya terarah ke pelbagai penjuru masjid yang di malam itu dipendari lampu sorot dari pelbagai sudut. Dan, selepas itu, ia tiba-tiba bertanya kepada penulis, “Coba Ananda perhatikan, berapa jumlah menara masjid ini?”
“Empat menara, Tuan Sinan.”
“Nah, mengapa masjid ini kurancang dengan empat menara? Hal itu merupakan simbol bahwa Sultan Sulaiman Al-Qanuni adalah sultan ke-4 Dinasti Usmaniyyah. Coba Anda cermati menara-menara itu. Tinggi keempat menara itu tidak sama kan. Mengapa demikian? Dua menara yang dekat kubah kurancang lebih tinggi ketimbang dua menara lain yang jauh dari kubah. Ini kumaksudkan agar masjid ini tampak bagaikan bentuk piramid. Sehingga, membuat siluet-siluet indah masjid ini, yang juga berbentuk piramid, menimbulkan kesan yang sama di Selat Bosphorus. Malah, juga dari seluruh penjuru Istanbul. Ananda dapat membuktikannya besok: pergilah ke Eminonu dan naiklah ferry menuju Uskudar. Nah, ketika berada di atas ferry, arahkanlah pandangan Ananda ke masjid ini.”

Usai berucap demikian, entah kenapa Sinan Pasa lama memandangi penulis. Lantas, ucapnya, “Ananda sudah berkunjung ke Kota Edirne?”
“Efendim? Belum, Tuan Sinan. Kenapa?”
“Sayang,” ucap Sinan Pasa seraya menarik napas panjang. “Perlu Ananda ketahui, di Kota Edirne bisa engkau temukan sebuah masjid raksasa yang juga kurancang. Masjid yang diberi nama Masjid Salimiyyah itu sendiri mulai kubangun pada 1568 M atas permintaan Sultan Salim I, putra Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Lokasi masjid yang usai pembangunannya pada 1574 M ini sengaja kupilih di atas puncak sebuah bukit di kota itu. Dengan demikian, masjid itu terlihat dari seluruh penjuru kota.

Di samping atas permintaan Sultan Salim I, pembangunan masjid itu sejatinya sebagai jawabanku atas lecehan beberapa arsitek non-Muslim kala itu. Mereka menyatakan, di dunia Islam tidak mungkin ada satu pun bangunan raksasa sebesar Hagia Sophia. Lebih jauh mereka mengemukakan, di dunia Islam pembangunan masjid dengan kubah seperti kubah Hagia Sophia tidak akan terjadi. Ucapan mereka benar-benar sangat menyesakkan dadaku. Maka, dengan memohon pertolongan Allah Swt., kucurahkan seluruh pengetahuan dan kemampuanku untuk membangun masjid ini. Kemudian, dengan dorongan dari Sultan Salim I, alhamdulillah kemampuan itu berhasil kuhadirkan. Kubah masjid itu kurancang lebih tinggi enam kaki dan lebih dalam empat kaki ketimbang Hagia Sophia!”

Wajah Sinan Pasa tampak berpendar-pendar selepas berucap demikian. Dan, tak lama selepas itu ia berucap penuh semangat, “Ananda, berbeda dengan Masjid Sehzade dan Masjid Sulaimaniyyah, Masjid Salimiyyah kurancang hanya memiliki satu kubah raksasa dengan garis tengah 31.5 meter. Bukan hanya itu. Masjid ini kurancang dengan empat menara yang tinggi menjulang seakan menembus langit, setinggi 70.89 meter. Kala itu, pendirian menara-menara dengan ketingggian yang demikian itu merupakan terobosan luar biasa. Sebab, keempat menara itu, kala itu, dipandang sebagai menara-menara tertinggi di dunia saat itu. Lagi pula, berbeda dengan menara-menara lain yang telah ada saat itu, keempat menara itu kurancang dan kubangun berbentuk ramping tapi sangat tangguh dalam menghadapi hempasan angin. Masjid itu pun kurancang dengan disain interior yang sangat indah. Untuk penggarapan kaligrafinya kuserahkan kepada seorang kaligrafer tersohor kala itu, Hassan Kurrah Huseri!”

Usai bertutur demikian, Sinan Pasa kemudian berdiri dan meminta penulis kembali ke hotel, karena malam kian larut. Dan, ucapnya, “İyi geceler ve tatlı rüyalar, Ananda!“

Selepas mengucapkan terima kasih dan berpamitan kepada Sinan Pasa, penulis pun kembali ke hotel. Dan, sepanjang jalan, penuturannya yang penuh semangat itu membuat penulis teringat komentar seorang ahli sejarah arsitektur ternama, Ernst Diez, bahwa “keistimewaan lokasi, ukuran, tinggi, perpaduan, dan cahaya membuat Masjid Salimiyyah di Edirne dipandang sebagai salah satu khazanah arsitektur paling indah di dunia.”

Friday, January 22, 2010

Sinan Pasa, Sang Maestro


“Pak Rofi’, kita ke mana sekarang?” tanya Mas Budi Zaenal Muttaqin, seorang mahasiswa S-2 Jurusan Matematika, Universitas Marmara, Istanbul yang mengantarkan penulis dan istri pada hari ketiga perjalanan kami di Istanbul tahun lalu, 2009 M, selepas kami mengunjungi Masjid Sulaimaniyyah.
“Mas, kami ingin mengenal lebih jauh Istanbul. Tapi, kami ingin berjalan kaki. Bukan naik bus atau trem. Apalagi naik taksi.”
“Baik, Pak. Kalau begitu dari sini kita jalan kaki ke arah Eminonu, lewat labirin lorong-lorong di kota ini. Dari sana, kita menuju TCDD Sirkeci Gari…” jawab Mas Budi, sangat santun.
“Apa itu Sirkeci Gari?” sergah saya yang belum lagi mengenal banyak kata-kata Turki.
“Stasiun kereta api Sirkeci, Pak. Biasanya, di situ pada malam-malam tertentu digelar “Sufi Music Concert and Whirling Dervishes Ceremony” oleh kelompok sufi Istanbul. Kita bisa beli tiket dulu, jika Pak Rofi’ dan Ibu Ummie kepengin melihat konser itu.”
“Ya, saya pengin sekali melihat konser itu!” sahut istri penulis penuh semangat.

Maka, kami pun dengan langkah pelan meninggalkan Masjid Sulaimaniyyah. Tak jauh dari pintu masjid, Mas Budi kemudian memandu kami ke sebuah pintu bertuliskan “Sultan Suleyman Turbesi” yang ternyata berarti “Makam Sultan Sulaiman”. Oh, ternyata, di dalam komplek itulah Sultan Sulaiman Al-Qanuni, penguasa yang memerintahkan pendirian Masjid Sulaimaniyyah, dimakamkan. Di situ, saya melihat nisan-nisan yang menurut saya bentuknya aneh. Sebagian di antara nisan-nisan itu mengingatkan penulis pada nisan-nisan di Aceh. Beberapa lama kami menundukkan kepala, membacakan doa untuk sang sultan dan orang-orang yang dikebumikan di makam itu. Selepas itu, kami meninggalkan komplek itu, menuju ke arah Eminonu, dengan mengitari komplek Masjid Sulaimaniyyah. Seraya melangkah pelan, Mas Budi banyak menuturkan kisah Istanbul dan kisah dirinya sejak menimba ilmu di kota itu.
“Mas Budi, itu bangunan apa?” tanya penulis kepada Mas Budi Zaenal Muttaqin, ketika penulis melihat sebuah bangunan berbentuk persegi delapan dan di puncaknya terdapat kubah di sudut lorong ke arah Eminonu.
“Itu komplek makam Sinan, Pak,” jawab Mas Budi.
“Sinan…? Subhanallah, saya tidak pernah berpikir sama sekali kalau Sinan Pasa dimakamkan di sini. Mas, kita berhenti sebentar, ya. Saya ingin berdoa untuk seorang tokoh yang “pernah memberikan semangat” kepada saya agar suka “ngluyur” dan “klayaban” ke pelbagai penjuru dunia.”

Selepas berdoa di depan makam Sinan Pasa, entah kenapa, tiba-tiba kisah perjalanan hidup arsitek piawai itu menyeruak kuat dalam benak saya. Mengapa demikian? Ini karena perjalanan hidup dan karya arsitek yang satu ini sangat luar biasa. Tak aneh, tentang karya-karya arsitekturnya, bila seorang guru besar sejarah arsitektur Universitas Wina, Austria menyatakan bahwa “secara teknis karya-karya arsitektur Sinan jauh lebih cemerlang ketimbang karya-karya arsitektur Michelangelo”.

Bagaimanakah perjalanan hidup maestro yang satu ini?

Kayseri, Anatolia, itulah tempat kelahiran Sinan. Ketika lahir pada 1489 M, Sinan masih berada di lingkungan keluarga Nasrani. Kala itu, Dinasti Usmaniyyah Turki sedang berada di bawah pemerintahan Bayazid II, seorang sultan yang terkenal piawai di medan pertempuran. Ketika Salim II, putra Bayazid II, naik ke pentas kekuasaan dan hendak melancarkan serangan terhadap Persia, Sinan bergabung dengan pasukan Yeniceri, pasukan Turki yang direkrut dari kalangan warga non-Muslim. Selepas melintasi proses pencarian dan pemahaman yang cukup lama, baru ketika berusia 23 tahun Sinan menyatakan keislamannya. Tak lama selepas memeluk Islam, Sinan kemudian memasuki Akademi Militer Turki. Di akademi itu, ia mendapat bimbingan keras dari para pakar militer Turki yang juga terkenal sebagai para arsitek. Nah, di bawah bimbingan merekalah ia mulai berkenalan dengan dunia arsitektur.

Segera selepas merampungkan pendidikannya di Akademi Militer Turki, Sinan ikut dalam serentetan ekspedisi militer yang digelar Turki ke pelbagai kawasan dunia kala itu. Pada 1514 M, misalnya, ia ikut dalam penaklukan Tabriz, ibukota Dinasti Shafawiyyah yang menguasai Persia. Keikutsertaannya dalam ekspedisi itu membuatnya berkenalan dan akrab dengan karya-karya arsitektur Persia. Gerakan pasukan Turki selanjutnya ke Aleppo dan Damaskus memberikan kesempatan bagi Sinan muda yang haus ilmu dan pengalaman untuk mengenali karya-karya arsitektur Islam yang bercuatan di kedua kota itu. Kemudian, ketika pasukan Turki memasuki Kairo, Sinan berkesempatan mempelajari dan mencermati dengan mendalam karya-karya arsitektur Islam yang bertaburan di “Kota Seribu Menara” itu dan dibangun pada masa sebelum Mesir jatuh ke tangan Dinasti Usmaniyyah.

Ketika Sultan Salim I berpulang dan digantikan oleh Sultan Sulaiman Al-Qanuni, Sinan kembali ke negerinya. Namun, segera ia dikirim ke Eropa. Penaklukan Rhodes memberinya kesempatan luas untuk mengamati dan mempelajari karya-karya arsitektur Yunani yang banyak menghiasi kota itu. Budapest adalah kota Eropa selanjutnya yang banyak menarik perhatian calon arsitek besar itu. Di kota terakhir itu, ia acap mengunjungi gereja-gereja yang bertebaran di sana, untuk mempelajari gaya arsitektur gereja-geraja itu.

Baghdad menjadi kota berikutnya yang menarik perhatian Sinan. Kedatangannya ke kota yang kaya dengan khazanah arsitektur Islam itu terjadi pada 1534 M, ketika ia bergabung dalam pasukan Sultan Sulaiman Al-Qanuni yang menundukkan “mantan” pusat pemerintahan Dinasti Shafawiyyah. Dari Baghdad, ia kemudian mengikuti ekspedisi militer angkatan laut Turki di bawah pimpinan Khairuddin Barbarossa, seorang laksamana Turki ternama kala itu. Ekspedisi itu dimaksudkan untuk “memberikan pelajaran” atas kawasan sepanjang pantai Italia, tempat persembunyian Andre Doria, seorang laksamana Italia yang acap memimpin penyerangan terhadap Turki kala itu.

Rentetan perjalanan yang diikuti Sinan ke berbagai negara memberinya kesempatan menimba ilmu dan pengalaman yang luas. Namun, bakatnya sebagai arsitek belum tersalurkan. Baru pada 1534 M, ketika pasukan Turki hendak melancarkan kembali serangan terhadap Persia, bakat Sinan mulai memperoleh perhatian. Kala itu, panglima angkatan bersenjata Turki, Lutfi Pasa, memerintahkan Sinan untuk membikian kapal-kapal perang yang bisa bergerak cepat dan tangguh. Sebab, berbeda dengan ekpedisi-ekspedisi militer sebelumnya, Turki kali ini hendak melakukan “serangan kilat” lewat Danau Van. Tugas itu dilaksanakan dengan baik oleh Sinan.

Tidak lama selepas Sinan tiba kembali di Istanbul dari Iran, tokoh arsitek Turki kala itu, Ajm Ali, berpulang. Sinanlah yang diangkat sebagai penggantinya. Dengan demikian, ia menjadi orang pertama yang bertanggungjawab atas perancangan dan pembangunan Istanbul. Termasuk di antaranya jalan, saluran air, benteng, dan pemugaran gedung-gedung lama. Selain itu, ia juga diberi tanggung jawab mengawasi seluruh perancangan dan pembangunan kepentingan umum di seluruh kawasan yang berada di bawah kekuasaan Dinasti Usmaniyyah kala itu. Bukan hanya itu. Sinan juga diangkat sebagai pemimpin kelompok arsitek istana. Kelompok itu, antara lain, adalah Daud Aga (perancang Masjid Agung Istanbul), Mehmet Aga (perancang Masjid Sultan Ahmet yang dikenal sebagai Masjid Biru, di Istanbul), dan Kurrah Shaban Aga (perancang benteng di seputar Turki kala itu).

Lewat tangan Sinan, lahirlah kemudian deretan panjang karya-karya arsitekturnya: 84 masjid, 57 universitas, 35 istana, 52 tempat ibadah, 7 sekolah, 22 mausoleum, 6 lengkung air, 8 jembatan, 3 rumah sakit, 17 dapur, 20 rest area, 41 kamar mandi, dan 8 gudang. Lahirnya deretan panjang karya-karya itu tidak lepas dari usianya yang panjang: 98 tahun. Karena perjalanan hidupnya yang panjang itu, tak mengherankan bila ia merasakan pemerintahan lima sultan: Bayazid II, Salim I, Sulaiman Al-Qanuni, Salim II, dan Murad III. Tak mengherankan pula, bila ketika ia berpulang pada 1559 M, doa dan kesedihan panjang pun mengiringi perjalanan arsitek raksasa ini menuju alam abadi. Dan ketika ia berpulang, seorang sahabatnya, Mustafa Celebi, mengiringinya dengan catatan sebagai berikut:

Usai sudah perjalanan hidup guru kita ini
Arsitek raksasa di masa ini
Oh sobat-sobatku, tua dan muda
Bacakanlah Surah Al-Fatihah baginya.


(Tulisan ini dipersembahan untuk Mas Budi Zainal Muttaqin yang pada Ahad, 24 Januari 2010 ini akan melangsungkan pernikahannya di Jakarta)

Wednesday, January 20, 2010

"Istanbul! Istanbul! Istanbul!"


“Pak Rofi’,” ucap seorang seorang sahabat yang saat ini menjadi editor di sebuah perusahaan penerbitan, dua hari yang lalu, “insya Allah minggu depan saya akan pergi ke Istanbul, Turki. Dari Istanbul, kami akan meneruskan perjalanan ke Kairo, Mesir untuk menghadiri Cairo International Bookfair.”
“Istanbul! Istanbul! Istanbul!” gumam saya pelan, teringat keindahan kota yang terbelah di antara Benua Asia dan Benua Eropa itu.

Tak lama selepas mendengar penjelasan sahabat saya tentang rencana perjalanannya tersebut, segera “bayang-bayang” kota yang pernah bernama Constantinople itu pun melayang-layang dalam benak saya. Kenangan ketika tahun lalu mengunjungi Istanbul tahun lalu pun segera menyeruak: Dini hari itu (Selasa, 27 Rabi‘ Al-Akhir 1430 H/24 April 2009 M), selepas menempuh perjalanan sekitar tiga jam dari Madinah Al-Munawwarah, Arab Saudi (seusai melaksanakan ibadah umrah di Makkah Al-Mukarramah), pesawat Turkish Airlines yang kami (penulis dan istri) naiki pun mendarat dengan mulus di Ataturk International Airport. Jam di bandara modern yang terletak di Yesilpurt, suatu lokasi yang terletak sekitar 23 kilometer dari Sultan Ahmet Square, pusat pariwisata di Kota Istanbul, Turki saat itu menunjuk pukul setengah enam pagi. Karena pemeriksaan oleh petugas imigrasi lancar, demikian pula urusan bagasi, kami pun segera meninggalkan bandara baru dan megah (yang bentuknya mengikuti bentuk Masjid Biru, Istanbul) itu menuju Aksaray, Istanbul dengan naik taksi.

Perjalanan dari bandara menuju hotel tempat kami menginap pun berjalan lancar, karena hari masih pagi. Kabut tipis nan indah kala itu masih bertebaran di mana-mana. Tak lama selepas meninggalkan bandara, kami segera disambut pemandangan indah Laut Marmara, dengan pelbagai kapal yang sedang “berenang” dengan gagah dan tenangnya serta pelbagai bangunan indah di kanan dan kiri jalan nan mulus. Kota Istanbul pada pagi hari di puncak musim semi itu benar-benar tampak sangat indah dan bersih. Bunga-bunga tulip warna-warni di taman-taman sepanjang jalan sedang mekar begitu indah. Menikmati pelbagai sudut Kota Istanbul di pagi nan indah itu, entah mengapa, membuat penulis serasa sedang menikmati perjalanan pada 1422 H/2001 M di seputar Kota Frankfurt, Jerman.

Tak lama selepas tiba di hotel tempat kami menginap di Aksaray, dan selepas beristirahat beberapa lama, kami pun segera meninggalkan hotel untuk mengunjungi pelbagai sudut kota yang pernah bernama Constantinople itu. Diantar seorang sahabat, seorang mahasiswa Indonesia asal Semarang yang sedang menyelesaikan studinya di bidang sastra Turki di Universitas Marmara, Istanbul, pertama-tama kami naik bus menuju Taksim Square, alun-alun Kota Istanbul yang berada di benua Asia. Ini karena istri penulis akan melakukan heregistrasi kongres medis yang diselenggarakan di lingkungan Musium Militer Istanbul beberapa hari kemudian. Selepas urusan heregistrasi usai, tujuan utama kami hari itu adalah pergi ke Sultan Ahmet Square: kawasan yang kaya dengan pelbagai pusaka historis (historical heritages) yang terpelihara baik. Berbeda dengan Taksim Square yang berada di benua Asia, kawasan pariwisata di Kota Istanbul itu berada di benua Eropa.

Dari Taksim Square, dengan naik trem, kami kemudian menuju Kabatas dan kemudian menuju Eminonu, sebuah lokasi di tepi Selat Bosphorus. Selepas beberapa lama menikmati indahnya Selat Bosphorus di musim semi, dengan lautnya nan bersih dan pemandangannya nan indah, kami pun dengan berjalan kaki kemudian menuju Sultan Ahmet Square. Pemandangan sepanjang jalan antara Eminonu dan Sultan Ahmet Square benar-benar menarik perhatian penulis. Walau jalan sepanjang perjalanan penuh sesak dengan para turis, namun kebersihan kawasan sepanjang perjalanan tetap terpelihara dan suasana benar-benar nyaman. Tampaknya pemerintah daerah Kota Istanbul menyadari pentingnya pemeliharaan lingkungan pelbagai pusaka historis di kota itu, untuk menyukseskan program pariwisata yang mereka gelar. Pada hari itu, dan kemudian pada hari kedua, kami benar-benar “menikmati” pelbagai pusaka historis Kota Istanbul: Hippodrome, Masjid Biru, Tandon Air Basilika, Hagia Sophia, Istana Topkapi, Masjid Yeni, dan Istana Dolmabahce (sebuah istana peninggalan Dinasti Usmaniyyah yang terletak di tepi Selat Bosphorus yang sangat menawan). Di samping itu, kami juga berkesempatan menelusuri pelbagai penjuru sudut Kota Istanbul dengan trem dan metrobus yang nyaman.

Pada hari ketiga, dengan diantar seorang sahabat lain (seorang mahasiswa Indonesia asal Tasikmalaya yang sedang merampungkan program S-2 di Jurusan Matematika di Universitas Marmara), tujuan kami hari itu adalah mengunjungi dua masjid utama di Kota Istanbul. Pertama-tama kami mengunjungi Masjid Sehzade. Menurut catatan sejarah, masjid yang satu ini adalah salah satu puncak karya Sinan Pasya, seorang arsitek piawai Turki yang lahir di Anatolia pada 895 H/1489 M. Sang arsitek membangun masjid itu ketika berusia 58 tahun atas perintah Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Masjid tersebut terdiri dari tiga bagian utama: bangunan dalam, bangunan luar, dan pelataran. Bangunan dalam dihiasi dengan enam belas kubah dengan penyangga pilar-pilar pualam. Di bagian ini terdapat tempat wudhu berbentuk persegi delapan. Masjid yang satu ini juga dihiasi kubah utama yang tingginya mencapai 37 meter dengan garis tengah kubah utama ini 18,42 meter. Kubah utama itu dikitari empat kubah yang lebih kecil ukurannya. Setiap separuh dari kubah-kubah kecil tersebut menempati dinding kubah utama, sehingga memberi kesan masjid itu tampak kian luas.

Selepas puas menikmati kunjungan kami ke Masjid Sehzade, yang lokasinya berseberangan dengan lokasi Balaikota Istanbul, kami kemudian dengan berjalan kaki menuju lokasi masjid kedua, yaitu Masjid Sulaimaniyyah. Menurut catatan sejarah, masjid yang saat itu sedang dipugar merupakan salah satu masjid dari tiga masjid yang merupakan karya-karya puncak Sinan. Masjid tersebut ia rancang selepas ia merampungkan pembangunan Masjid Sehzade. Seperti halnya Masjid Sehzade, Masjid Sulaimaniyyah yang didirikan di lokasi yang sebelumnya merupakan istana juga dibangun atas permintaan Sultan Sulaiman Al-Qanuni. Karena itu, nama masjid itu pun diambil dari nama sang khalifah. Lokasi masjid yang dibangun pada 965 H/1557 M tersebut dipilih di atas sebuah bukit yang menjadi pusat Selat Bosphorus. Sehingga, dari selat itu, Masjid Sulaimaniyyah menjadi titik pusat yang sangat menarik perhatian dan pemandangan. Selain memiliki rancangan arsitektur yang sangat indah, lantai masjid itu dihampari pualam. Sedangkan dekorasi kaligrafi Arab sangat indah yang menghiasi masjid tersebut merupakan buah karya seorang kaligrafer ternama waktu itu, Hassan Effendi Celebi.

Betapa bahagia hati saya hari itu, karena akhirnya saya diberi kesempatan Allah Swt. untuk mengunjungi Masjid Sulaimaniyyah yang sejak lama saya dambakan untuk dapat saya datangi. Selain mengunjungi masjid itu, kami pun waktu itu berkesempatan mengunjungi makam Sinan Pasa yang berada di samping masjid yang satu itu, di samping juga mengunjugi beberapa tempat wisata yang menarik di seputar Kota Istanbul. Antara lain Masjid Yeni, makam seorang sahabat Nabi Saw., yaitu Abu Ayyub Al-Anshari (yang gugur ketika ikut serta dalam ekspedisi militer yang terdiri dari 39 kapal perang dalam upaya pertama kaum Muslim pada masa pemerintahan Mu‘awiyah bin Abu Sufyan, penguasa pertama Dinasti Umawiyyah di Damaskus, Suriah untuk menaklukkan kota itu pada 49 H/669 M), dan Taman Miniatur Turki. Dan, selepas menikmati dan mengunjungi pelbagai sudut Istanbul selama enam hari, kami kemudian kembali ke Indonesia dengan kenangan yang sulit kami lupakan tentang kota yang akhirnya berhasil direbut Muhammad II Al-Fatih dari tangan penguasa Romawi itu pada 857 H/1453 M.

Saturday, January 2, 2010

Gus Dur, Al-Bushiri, dan Kanjeng Nabi Saw.


Huwa al-habibu al-ladzi, turja syafa‘atuhu
Min kulli haulin min al-ahwali muqtahimi
---
Ya Rabbi bi al-Musthafa, balligh maqashidana
Waghfir lana ma madha, ya wasi‘ al-karami
---
Maulaya shalli wa sallim da’iman abada
‘Ala habibika khairi al-khalqi kullihimi

Dialah sang kekasih yang syafaatnya dinanti senantiasa
(Dalam menghadapi) segala derita dan petaka yang menerpa
---
Wahai Tuhan, demi Al-Musthafa (Muhammad Saw.)
Antarkanlah kami dalam menggapai cita-cita
Juga, ampunilah kami dari segala dosa
Wahai Yang Mahaluas dalam menganugerahkan karunia
---
Tuhan kami, shalawat dan salam kiranya tercurahkan senantiasa
Kepada kekasih-Mu yang tiada manusia mana pun kuasa menyetarainya


Ketika pertama kali mendengarkan madah Al-Burdah indah yang didendangkan Gus Dur (Allahu yarhamuh) di sebuah channel tivi tiga hari yang lalu, tak terasa tetes air mata menetes pelan dari kedua mata saya. Lama sekali saya tercenung dan termenung. Entah mengapa, mendengarkan madah nabawiyyah indah menyayat hati yang disenandungkan Gus Dur dengan sepenuh hati itu , yang terbayangkan oleh saya seakan Gus Dur sedang bersimpuh dan berdoa dengan sepenuh hati kepada Allah Swt. dengan tetes mata meleleh deras.

Madah indah yang disenandungkan Gus Dur itu sejatinya adalah penggalan dari madah Al-Burdah yang digubah Abu ‘Abdullah Syarafuddin Muhammad bin Sa‘id Al-Shanhaji Ad-Dalashi Al-Bushiri, seorang penyair yang wafat pada 681 H/1279 M di Mesir. Nah, madah dengan judul Al-Kawakib Al-Duriyah fi Madh Khair Al-Bariyyah itu sendiri sejatinya merupakan kasidah yang berisi pujian, kisah kelahiran, mi‘raj, perjuangan, dan doa bagi Nabi Muhammad Saw. Karya yang terdiri dari 162 bait dan telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa asing, antara lain ke dalam bahasa Latin (1175 H/1761 M), Inggris oleh J.W. Redhouse (1299 H/1881 M), Perancis oleh de Sacy (1238 H/1822), Italia oleh Giuseppe Gabrieli (1319 H/1901 M), dan Jerman oleh Vincenz von Rosenzweig-Schawanau (1240 H/1824 M), di samping berbagai bahasa di dunia Islam, lahir selepas melintasi proses yang menarik:

Suatu saat Al-Bushiri berhasrat sekali menggubah madah panjang untuk Rasul Saw. Ketika ia mulai menggubah karyanya itu, ia jatuh sakit dan kemudian kelumpuhan menimpa dirinya. Tapi, hal itu tidak menghalanginya untuk melanjutkan upayanya itu, seraya berdoa kiranya Allah Swt. menyembuhkan kelumpuhan yang menimpa dirinya. Kemudian, suatu peristiwa aneh menimpa dirinya. Selama berbulan-bulan ia merasakan bahwa sesuatu akan terjadi pada dirinya. Manakala makan, ia lebih suka menyendiri, untuk menantikan sesuatu yang bakal terjadi. Manakala tidur, ia suka mencari kamar yang terpencil dan kemudian menantikan sesuatu yang menggelitik perasaannya. Tapi, bukan kematian yang ia nanti-nantikan. Perasaannya mengatakan, seorang tamu agung bakal mengunjunginya. Tamu agung berasal dari sebuah negeri nun jauh dan membawa pesan khusus kepadanya. Kondisi ini membuat karyanya tidak kunjung rampung.

Dari manakah datangnya perasaan serupa itu? Al-Bushiri sendiri tidak mengetahuinya. Tapi, ia senantiasa merasa, ia harus menanti dalam keadaan bersih dan suci. Lahir dan batin. Lantas, pada suatu malam, dalam mimpi, datanglah sang tamu yang ia nanti-nantikan. Tutur Al-Bushiri tentang peristiwa ini, “Dalam mimpi itu aku bertemu dengan Nabi Saw. Beliau kemudian mengusap-usapkan tangan beliau di pinggangku dan menyerahkan sepotong baju (burdah) kepadaku. Dalam pertemuan itu, tiba-tiba aku berhasil merampungkan gubahanku. Aku pun mendendangkannya di hadapan beliau. Kemudian aku terbangun. Tiba-tiba aku berdiri dan mampu berjalan lagi. Gubahanku itu kemudian kunamakan dengan Al-Burdah.”

Mengapa hati saya sangat tergetar, sehingga tetes air mata pelan membasahi kedua pipi saya, ketika mendengarkan pertama kali Gus Dur menyenandungkan madah yang indah itu? Hal itu mengingatkan saya pertemuan pertama saya dengan Gus Dur ketika saya kembali ke tanah air selepas menimba ilmu di Mesir: di dini hari pada 23 Februari 1984, selepas dua hari berada di Jakarta, saya pun menemui Gus Dur di Ciganjur (dekat Gudang Peluru, Cilandak, bukan di Jl. Warung Sila). Gus Dur adalah tokoh pertama yang saya temui di Indonesia. Dalam pertemuan itu, saya membawakan sebuah buku menarik, karya Dr. Muhammad Jabir Al-Anshari, Tahawwulat Al-Fikr wa Al-Siyasah fi Al-Syarq Al-‘Arabi, 1930-1970 (diterbitkan oleh Al-Majlis Al-Wathani li Al-Tsaqafah wa Al-Funun wa Al-Adab pada 1980) yang telah saya terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia (satu kopi terjemahan karya itu saya serahkan kepada Gus Dur, satu kopi saya pinjamkan kepada Cak Dr. Amal Fathullah Zarkasyi yang kini menjadi seorang kiai yang memimpin Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur).

Begitu menerima buku dan terjemahan karya itu, lama Gus Dur membolak-balik “oleh-oleh” saya dari Mesir itu. Lantas, Gus Dur bertanya kepada saya, “Anda tentu telah membaca dan menelaaah karya ini. Apa kelebihan karya ini dibandingkan dengan karya Albert Hourani, Arabic Thought in the Liberal Age 1789-1939? Saya ingin pandangan Anda yang paling obyektif?”
“Gus,” jawab saya agak kebingungan, karena menerima pertanyaan yang tak terduga itu. “Dua karya itu memang merupakan dua karya menarik tentang cikal bakal pembaharuan Islam di Timur Tengah dan perkembangannya serta dan para tokoh-tokohnya. Tapi, menurut saya, dalam karya Dr. Muhammad Jabir Al-Anshari ada suatu tesis menarik yang tidak saya temukan dalam karya Albert Hourani maupun karya-karya lain tentang gerakan pembaharuan Islam di Timur Tengah…”
“Apa itu?” tanya Gus Dur. Penuh perhatian.
“Begini, Gus,” jawab saya. “Semua pembaharu Muslim terkemuka di Timur Tengah, seperti halnya Thaha Husain, Muhammad Husain Haikal, dan Al-‘Aqqad, akhirnya mengakhiri “pengembaraan” mereka, sebelum mereka berpulang, pada suatu titik yang mirip: mereka akhirnya kembali ke pemikiran moderat yang berada di tengah-tengah pelbagai arus pemikiran Islam yang sedang berkembang di kawasan itu. Menariknya, kembalinya mereka ke pemikiran moderat itu senantiasa mereka tandai dengan penulisan karya mereka tentang Rasulullah Saw. Hal itu seakan memberikan isyarat bahwa mereka kembali ke ‘lingkungan Rasul Saw.’”

Mendengar jawaban saya demikian, Gus Dur termangu lama. Dan, kemudian Gus Dur berucap pelan, “Saya pun akan demikian. Suatu ketika, sebelum berpulang, saya pun akan ‘mencari Kanjeng Nabi Saw.’ dahulu….”

Kemudian, kami pun terlibat dalam perbincangan panjang hingga menjelang jam delapan pagi. Karena itu, tiga hari yang lalu, ketika mendengarkan madah nabawiyyah menyayat hati yang didendangkan Gus Dur tersebut, saya teringat pertemuan saya dengannya pada 1984 itu, seraya bergumam pelan, “Gus, kiranya Kanjeng Nabi Saw. memberikan syafaatnya kepadamu…”

Monday, December 28, 2009

Bermimpi Bertemu Gus Dur dan Gus Mus di Kairo


Tadi pagi, 28 Desember 2009, tak lama setibanya kembali dari Semarang selama dua hari, untuk menghadiri acara pernikahan, saya pun membuka facebook. “Oh, menarik sekali foto ini,” gumam saya ketika melihat sebuah foto (lihat di samping) di sebuah alamat facebook yang menampilkan foto Gus Mus sedang mendampingi Gus Dur. Tanpa lama-lama mencermati foto itu, segera saya menyadari bahwa foto itu diambil di tempat kediaman Gus Mus di Desa Leteh, Rembang, Jawa Tengah. Mengapa demikian? Ini karena beberapa hari yang lalu Gus Mus mengabarkan (lewat facebook “Simbah Kakung”), bahwa saat itu Gus Dur sedang berkunjung ke pesantren Gus Mus, Raudhatut Tholibin. Yang menggembirakan, dalam kunjungan itu, Gus Dur berkenan menikmati hidangan yang disajikan. Padahal, selama beberapa lama sebelum itu Gus Dur sama sekali tidak berkenan menyantap apa pun.

Karena tubuh terasa lelah selepas semalam menempuh perjalanan dari Semarang, tak lama selepas membuka facebook itu saya tak kuasa menahan kantuk dan akhirnya saya pun tertidur pulas. Eh, ketika dalam tidur pula itu, saya bermimpi sedang berada di Kairo, Mesir. Anehnya, dalam mimpi itu saya masih muda usia dan tahun dalam mimpi itu menunjuk awal tahun 1981. Saat itu waktu menunjuk sekitar jam satu siang. Yang menarik, saat itu saya sedang keluar dari Masjid Al-Husain bin ‘Ali, tempat kepala putra ‘Ali bin Abu Thalib itu disemayamkan. Tak lama selepas menapakkan kaki dan menengok ke arah Khan Khalili, sebuah pasar tradisional kerajinan terkemuka di samping kanan masjid itu, tiba-tiba saya melihat melihat Gus Dur (yang tampak masih sehat dan bisa melihat) dan Gus Mus (yang belum banyak memiliki uban dan tampak ganteng) sedang duduk di sebuah kafe di samping pelataran masjid itu. Duh, betapa gembira hati saya melihat dua tokoh yang acap “membikin ulah” di pentas budaya Indonesia itu. Tanpa berpikir panjang, apalagi melihat mereka hanya berdua tanpa disertai “para punakawan”, saya pun segera berlari menuju ke arah mereka. Begitu dekat dengan mereka, terjadilah perbincangan sebagai berikut:

“Assalamu’alaikum Gus Dur dan Gus Mus…” ucap saya kepada Gus Dur dan Gus Mus yang sedang menikmati teh Mesir.
“Wa’alaikumussalam… “, jawab Gus Dur. “Anda kalau tak salah seorang mahasiswa Indonesia yang tinggal di Manial Raudah, ya ? Dua tahun yang lalu saya ketemu Anda. Bukankah Anda keponakan Maghfur?”
“Wa’alaikumussalam…” sahut Gus Mus. “Betul, Mas Dur. Dia keponakan Maghfur dari Cepu. Dia tinggal di sebuah flat dekat flat Mas Harun Zaini dan Mas Zabidi Ahmad, tempat kita menginap. Mas Dur, saya pernah ketemu dia, ketika saya menengok adik saya, Adib, di Pesantren Krapyak Yogyakarta. Dia pernah segotakan dengan adik saya. Ngapain Anda dari Masjid Al-Husain? Lagi cari inspirasi atau lagi menyepi ?”

Mendengar jawaban, komentar, dan pertanyaan para tokoh yang saya hormati itu saya sejenak kebingungan. Tak tahu harus menjawab apa. Tapi, tak lama kemudian, saya menjawab sekenanya, “Gus Dur dan Gus Mus…Benar saya tadi dari Masjid Al-Husain. Kalau dikatakan mencari inspirasi, mungkin juga benar. Saya sedang mencari inspirasi bagaimana agar tesis saya segera diterima oleh Majlis Al-A’la li Al-Jami’at. Terus terang, saya sudah gak tahu lagi, apa yang harus saya lakukan menghadapi birokrasi di negeri ini. Di satu sisi, saya merasa bersyukur dapat menimba ilmu di sini. Tapi, di sisi lain, birokrasi di negeri ini amat dan amat melelahkan. Dan, kalau dikatakan lagi menyepi, itu juga gak salah. Sebab, dengan bertafakkur di masjid itu, entah kenapa setiap kali keluar dari masjid itu saya mendapatkan energi baru : semangat Al-Husain bin ‘Ali yang tak mudah patah arang memberikan semangat bagi saya untuk tetap melanjutkan studi saya di sini…Mohon maaf, saya tidak bermaksud berkeluh kesah. ..Tentu Gus Dur dan Gus Mus lebih mafhum tentang birokrasi di negeri ini ketimbang saya.”
“Gitu saja repot !” sergah Gus Dur “Terus saja belajar dan pantang menyerah ! Dulu, ketika saya masih menimba di sini, bersama Mustofa ini, keadaannya jauh lebih payah dan parah. Anda tentu tahu, ketika saya sedang belajar di sini, negeri ini dalam keadaan perang. Bayangkan, saat itu untuk mendapatkan beras dan gula sulitnya bukan main. Semua serba antri dan barang-barang itu hanya ada di koperasi. Setiap malam, lampu-lampu harus diredupkan dan malah dipadamkan. Setiap kali sirene berbunyi, kami harus segera harus lari ke bunker-bunker di depan flat yang kami tinggali. Meski begitu, kami tidak pernah berhenti menimba ilmu. Gelar gak usah dijadikan patokan. Kalau gelar berhasil diraih, ya alhamdulillah. Kalau gelar gak teraih, ilmu sebanyak-banyaknya harus kita bawa pulang ke negeri kita. Apa gunanya dapat gelar doktor kalau ternyata kemampuannya memble. Bukan begitu “gaya” santri Kiai Ali Maksum dari Pondok Pesantren Krapyak (entah dari mana Gus Dur tahu bahwa saya pernah menimba ilmu di Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta) . Bayangkan, walau beliau hanya lulusan pesantren dan kemudian menimba di Makkah, tapi beliau kini menjadi seorang guru besar Tafsir Al-Qur’an yang disegani, walau beliau tanpa gelar sama sekali…Birokrasi di negeri ini jangan dijadikan alasan…Anda tahu maksud saya, kan?”
“Benar kata Mas Dur tadi…” sahut Gus Mus. “Kesulitan seyogianya tidak dijadikan alasan untuk tidak menimba ilmu sebaik-baiknya di negeri ini. Sebab, di sinilah sejatinya Anda bisa menimba ilmu-ilmu keislaman yang sangat kaya jika Anda tahu menyiasatinya. Khazanah ilmiah keislaman yang dimiliki negeri ini luar biasa kayanya… Baiklah, kayaknya Gus Dur saat ini sudah lapar. Ayo kita makan di math’am kawari ‘ (resto sup kaki kambing) di samping sebuah lorong di antara kedai-kedai di Khan Khalili itu. Dulu, math’am itu adalah langganan kami ketika kami lagi punya duit…Selepas itu, kita pergi ke Azbakiah, mencari buku-buku bekas yang gak ada di toko-toko buku…”

Kami pun kemudian menikmati makan siang di math‘am kawari ‘ itu.

Betapa saya bersyukur sekali siang itu, selain bisa bertemu dengan kedua tokoh itu tanpa direcoki oleh siapa pun, saya masih diajak menikmati kawari ‘ nan sangat lezat itu. Selepas menikmati kawari ‘, kami kemudian menikmati puding semolina, mahalabiyyah. Dan, tak lama selepas menikati sajian-sajian itu, Gus Mus tiba-tiba berucap kepada saya, “Kalau Anda gak keberatan, bisakah Anda hari ini mengantar kami jalan-jalan ke Azbakiah, kemudian menuju Musium Islam, Masjid Sayyidah Zainab, Makam Imam Syafi’i, Masjid Muhammad ‘Ali, toko-toko buku di seputar ‘Atabah, dan malam nanti kita langsung menuju markas Persatuan Pelajar Indonesia di Bab el-Louk. Bagaimana?”
“Sami‘na wa atha‘na, Gus Mus…” jawab saya, takzim.

Benar saja, tak lama selepas menikmati santap siang, kami dengan naik bus yang padat penumpang kemudian menuju Azbakiah. Naik bus yang demikian, Gus Dur dan Gus Mus senyum-senyum saja. Ketika telah berada di Azbakiah, di lokasi yang merupakan pusat buku-buku bekas itu Gus Dur dan Gus Mus menemukan sejumlah buku yang sangat berharga. Menurut mereka, kala mereka masih menjadi mahasiswa di Kairo mereka berdua sering berjam-jam memburu buku-buku berharga yang sudah tidak diterbitkan lagi dan selepas itu menonton film di sebuah gedung bioskop di Tal’at Harb St . Dan, dari Azbakiah, kami kemudian menuju ke arah Sayyidah Zainab dengan naik trem yang juga penuh dengan penumpang. Kami turun di halte dekat Musium Islam (yang kala itu masih menyatu dengan Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah).

Kemudian, selepas menikmati pelbagai khazanah Islam di Musium Islam, kami menuju Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah. Ketika berada di Perpustakaan Nasional Mesir itu, Gus Dur berpesan kepada saya, “Usahakan setiap minggu Anda kunjungi tempat-tempat historis di negeri ini. Mengapa demikian? Sedotlah semangat dan daya juang para tokoh terkemuka negeri ini. Saya misalnya, dulu, ketika berada di perpustakaan ini, selalu mencari di mana kursi yang biasa ditempati Thaha Husain, Mahmud Al-‘Aqqad, Ahmad Lutfi Al-Sayyid, atau Muhammad Husain Haikal. Dengan duduk di kursi-kursi itu, Anda akan bisa merasakan semangat belajar mereka dan mengapa mereka memilih lokasi itu. Cobalah, nanti Anda akan menemukan sendiri “sesuatu” yang luar biasa…”
“Baik, Gus Dur…” jawab saya, takzim.

Ketika Gus Dur sedang asyik melihat khazanah buku-buku yang ada di Dar Al-Kutub Al-Mishriyyah, tiba-tiba Gus Mus mendekati dan membisiki saya, “Tolong, camkan benar apa yang dikatakan Mas Dur tadi. Mas Dur bermaksud baik terhadap Anda. Pengalaman hidup Mas Dur kaya warna. Ambillah “mutiara-mutiara” kemilau yang ada pada dirinya, tapi dengan sikap kritis yang bijak. Saya sering tidak seiring pendapat dengannya. Tapi, saya tetap menghormatinya. Saya pun kadang-kadang berseberangan pandangan dengannya. Tapi, pandangan itu selalu saya sampaikan kepadanya dengan cara yang tidak membuat “gaya Jawa Timurannya” membara.”
“Gus Mus, kalau boleh tahu, bagaimana “gaya Jawa Timuran” Gus Dur?”
“Niatnya baik, tapi diungkapkan dengan seenaknya sendiri…” jawab Gus Mus seraya tersenyum.

Dari Musium Islam, kami kemudian menuju Masjid Sayyidah Zainab. Selepas itu, kami kemudian menuju ke Mesir Lama, untuk berziarah ke Makam Imam Syafi’i dan Imam Waki’. Lantas, menjelang magrib, kami telah tiba di Masjid Muhammad ‘Ali yang dilingkungi Benteng Shalahuddin Al-Ayyubi. Dan, ketika menjelang isya, kami telah tiba di sebuah flat di Bab el-Louk, sebuah flat yang menjadi markas besar Persatuan Pelajar Indonesia di Mesir yang terletak tidak jauh dari Midan Tahrir dan American University in Cairo. Di flat itu, tentu saja kedatangan Gus Dur dan Gus Mus disambut hangat oleh para mahasiswa Indonesia yang sedang menimba ilmu di Mesir.

Eh, keriuhan para mahasiswa Indonesia yang menyambut kedatangan Gus Dur dan Gus Mus itu ternyata membuat saya terjaga dari tidur yang sangat pulas. Dan, ternyata, semua kejadian yang saya alami tadi hanya mimpi belaka.