Tuesday, August 16, 2016

KITA HARUS PUNYA MIMPI

Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn, lahu Al-Fâtihah.”


Demikian, gumam pelan bibir saya ketika tahu kewafatan seorang ilmuwan  Muslim  yang  pertama  kali menerima  Hadiah  Nobel di bidang kimia, Prof. Dr. Ahmed H. Zewail, lewat berita di Al-Jazeera Online yang saya baca tadi pagi.

Memang, saya terlambat tahu, tentang kepulangan ilmuwan Muslim asal Mesir tersebut sekitar dua minggu yang lalu. Tepatnya, pada 2 Agustus 2016. Meski saya tidak banyak tahu banyak tentang dunia ilmiah yang digeluti ilmuwan yang satu ini, karena saya tidak pernah mendalami bidang sains dan teknologi, namun saya kerap teringat sambutan yang ia berikan di Pasadena, California, ketika memberikan sambutan di Caltech pada 10 Juni 2011, dengan judul “We Must Dream”. Dalam sambutan tersebut, ilmuwan tersebut antara lain mengemukakan,

“When I came to the United States in 1969, I was not dreaming of a Nobel Prize (or a Pulitzer prize), nor I was dreaming of acquiring a Bill Gates fortune. Armed with the excellent education I received in Egypt, I was simply on a quest for knowledge and a Ph.D. degree from a reputable institution in this land of opportunity. Incidentally, my English was so poor that at restaurants, I used to order “deserts” for desserts.

America was a magnet for many members of my generation because of its leadership in science and technology and its unique democratic values. The historic landing of Neil Armstrong on the moon in 1969 was enough to demonstrate America’s outlook on the new frontiers of knowledge. I was aware of Edison’s dictum, “Genius is one percent inspiration and ninety-nine percent perspiration”, and I took advantage of being in the right place at the right time -- of being in America and at Caltech.

In fact, it was Caltech’s ambiance and the country’s system of support that made it possible for a young assistant professor to carry out, with his team, research that in only ten years time would define a discipline that was recognized by the Nobel Prize in 1999.

People often ask me, how does one get a Nobel Prize, and what is the secret of success? (And incidentally, the same people had no interest in asking this question before I received the prize.) I believe it was passion for science that supplied the energy and it was optimism that made the almost-impossible, possible.

My dear graduates, success comes to the prepared mind. Success is not like rain that falls from the sky equally upon everyone. Success is what you reap when you sow with passion and optimism.

Siapakah Prof. Dr. Ahmed H. Zewail?

Tokoh yang satu  ini  lahir  di  Damanhur, Mesir, sebuah kota hanya sekitar 60 kilometer dari  Alexandria, pada  Selasa, 24 Rabi‘ Al-Awwal 1365 H/26 Februari   1946  M.  Selepas  merampungkan  pendikan  tinggi   di Universitas Alexandria, Mesir, putra seorang pegawai negeri  ini lantas meniti karier di lingkungan almamaternya. Namun,  dorongan untuk  mengembangkan diri kemudian memicunya  untuk  meninggalkan negerinya,  untuk  menimba  ilmu di Amerika  Serikat.  Di  negeri adikuasa   tersebut,  ia  berhasil  meraih  gelar   doktor   dari Universitas Pennsylvania pada 1393 H/1973 M tentang  spektroskopi pasangan-pasangan molekul.

Selepas  meraih  gelar  doktor,  Zewail  muda  tidak  kembali  ke negerinya  dan melamar ke lima posisi: tiga di  Amerika  Serikat, satu  di  Jerman,  dan  satu lagi  di  Belanda.  Tetapi,  selepas diterima  di kelima posisi tersebut, ia memilih meniti karier  di lingkungan  Universitas  California, Berkeley,  Amerika  Serikat. Segera  karier  ilmiahnya  berpendar  dan  akhirnya  ia  berhasil menjadi guru besar kimia Linus Pauling Chair di perguruan tinggi tersebut. 

Di  sisi lain, berkat sederet karya  dan  penemuannya, penemu  femto  kedua  ini  berhasil  meraih  sederet  hadiah  dan penghargaan,  antara lain Robert A. Welch Prize  Award,  Benjamin Franklin  Medal, Leonardo Da Vinci Award of Excellences,  Rontgen Prize,  Paul Karrer Gold Medal, Bonner Chemiepreis, Medal of  the Royal Netherlands Academy of Arts and Sceinces, Carl Zeiss Award, Hoechst  Award,  Alexander von Humbolt Award, Herbert  P.  Broida Prize, Linus Puling Medal, dan E.O. Lawrence Award.

Penghargaan  demi  penghargaan  atas  karya-karya  suami  seorang dokter, Dema Zewail (putri seorang penerima Hadiah  Internasional Raja  Faisal  yang  dikenal Ahmad Hassan Zewail selepas  ia  menerima  hadiah tersebut pada 1989 M ) dan ayah empat orang anak yang pakar laser dan  menetap  di San Marino, California  ini  akhirnya  berpuncak dengan   keberhasilannya  menerima   Hadiah  Internasional   Raja Faisal  di bidang sains tahun 1409 H/1989 M dan Hadiah Nobel di bidang kimia tahun 1420 H/1999 M.

Ilmuwan yang satu ini juga aktif dalam merumuskan kebijakan Amerika Serikat di bidang sains, teknologi, dan inovasi. Selain itu, ia juga menyusun sejumlah karya tulis, antara lain Advances in Laser Spectroscopy I, Advances in Laser Chemistry, Photochemistry and Photobiology, Ultrafast Phenomena VII, The Chemical Bond: Structure and Dynamics, Ultrafast Phenomena VIII, Ultrafast Phenomena IX,  Age of Science, Physical Biology: From Atoms to Medicine, 4D Electron Microscopy, Encyclopedia of Analytical Chemistry, dan Voyage Through Time.


“Selamat jalan, Profesor. Insya Allah, kami juga punya mimpi.”

Tuesday, August 9, 2016

BERGURU KEPADA YANG MUDA

Alhamdulillah, dua hari berturut-turut masih dikaruniai kesempatan Allah Swt. menimba ilmu dan pengalaman kepada anak-anak muda yang luar biasa.”

Demikian gumam pelan bibir saya selepas mengantarkan Mas Hadi Susanto, seorang pakar matematika muda Indonesia yang kini sedang berkarya di Universitas Essex, Inggris “kluyuran” di seputar Kota Bandung tadi malam. Tetapi, selama dua hari yang lalu, Ahad dan Senin, saya tidak hanya “berguru” kepada profesor muda asal Lumajang, Jawa Timur, dan jebolan Institut Teknologi Bandung (ITB) itu saja.

Ahad yang lalu, selepas shalat Shubuh, saya sudah siap-siap meninggalkan Baleendah. Kemudian, sekitar satu jam kemudian saya sudah duduk di depan sebuah super store di Jalan Junjunan Bandung. Sambil duduk, saya sempatkan mentadarrus Al-Quran satu juz. Kemudian, sekitar pukul tujuh pagi, sebuah shuttle bus Jakarta-Bandung berhenti tidak jauh dari tempat di mana saya sedang duduk. Tidak lama kemudian, turun seseorang dengan mengenakan kaos berlengan panjang dengan “memanggul” tas punggung dan jaket. Itulah tokoh yang sedang saya tunggu kedatangannya: Mas Lendo Novo, seorang penggagas dan perintis sekolah alam di Indonesia.

Selepas menikmati bubur ayam di jalan yang sama, saya kemudian membawa insinyur jebolan Teknik Perminyakan ITB itu menuju Baleendah. Sambil menyetir, saya pun berusaha menjadi “murid yang baik”: mendengarkan sebagian kisah hidup dan ide-ide sosok yang senantiasa memendekkan rambutnya seperti Yul Brynner, seorang aktor Amerika Serikat itu. 

“Pak Rofi’, kita harus belajar banyak pada Finlandia,” tutur Mas Lendo tentang sistem pendidikan dan keberhasilan negara yang terletak di bagian utara Eropa itu. “Negara itu kini menjadi negara terbaik dari sisi pendidikan di tingkat dunia. Amerika Serikat pun keok.” Usai berucap demikian, putra Sumatera Barat yang sekampung dengan Menteri ESDM ini menuturkan “perjuangannya” dalam mendirikan sekolah alam.

Setiba di rumah, dan selepas beristirahat beberapa lama, saya, istri, Mas Lendo, dan seorang insinyur geologi muda jebolan ITB kemudian meluncur ke sebuah bukit di Baleendah. Tidak lama kemudian datang seorang arsitek  beken yang juga dosen di ITB, Mas Bambang Setya Budi. Segera, mereka naik ke bukit, untuk mengkaji kelayakan bukit tersebut untuk dijadikan sebagai lokasi sekolah alam. Di atas bukit, telah menanti seorang profesor elektro yang juga jebolan ITB.

Usai “menikmati” bukit, ucap Mas Lendo kepada saya, “Saya setuju. Lokasi ini pas sekali untuk menjadi lokasi sekolah alam.” Dan, kemudian, kami semua menuju Pesantren Mini kami, untuk mendiskusikan rencana pendirian sekolah alam di bukit tersebut. Lewat masukan dari Mas Lendo dan Mas Bambang Setya Budi, saya dan istri kian siap dalam merencanakan sekolah alam tersebut yang juga akan kami jadikan pula sebagai Pesantren Mini kedua.

Kemudian, Senin kemarin, selepas melaksanakan shalat ‘Asar, saya kembali “meluncur” ke pusat kota Bandung. Kali ini, mobil yang saya kendarai menuju sebuah hotel milik ITB yang tegak tidak jauh dari kantor rektorat ITB. Selepas menanti sekitar setengah jam di hotel, muncullah seorang pakar matematika yang telah lama saya kenal. Seperti halnya Mas Lendo, penerima Ganesha Prize 2000 itu juga “memanggul” tas punggung dan jaket. “Kayaknya, jaket hitam itu pula yang “menyertai” Mas Hadi ketika bertemu dengan saya tahun lalu,” gumam pelan bibir saya sambil tersenyum.

Kehadiran profesor muda di bidang matematika itu dalam rangka memberikan penataran dan pengayaan di bidang matematika kepada para guru sekolah menengah. Kegiatan itu diselenggarakan oleh ITB. Yang musykil bagi saya, sebelum datang ke Bandung, peraih gelar doktor dari Universitas Twente, Belanda itu, entah kenapa memberitahu saya perihal kedatangannya kepada saya. Kenapa musykil? Tentu saja, seumur-umur saya ini tidak pernah belajar matematika dan sangat tidak memahami ilmu-ilmu ITB, kok ilmuwan muda Indonesia yang berprestasi luar biasa di luar negeri itu berkenan mengontak saya. “Melihat wajah muda ilmuwan-ilmuwan muda saja saya sangat senang. Apalagi, diberi kesempatan bertemu,” gumam bibir saya ketika menerima berita itu.

Usai melaksanakan shalat Maghrib, Mas Hadi Susanto saya ajak “kluyuran” di seputar Kota Bandung. Dengan cara saya, saya pun dapat “menggali” dan menimba ilmu dan pengalaman ilmuwan yang menulis buku berjudul Tuhan Pasti Ahli Matematika. Kemudian, seusai menikmati sate di sebuah warung terkenal yang tegak di sekitar Simpang Lima, suami seorang dokter jebolan Universitas Brawijaya itu saya antarkan kembali ke hotel, karena pagi hari ini Mas Hadi Susanto meneruskan “kluyuran”nya ke Surabaya.

“Alhamdulillah, negeri ini dikaruniai sederet anak muda yang berbakat dan berkeinginan memajukan negeri ini. Kapan pun dan di manapun mereka berada,” gumam bibir saya sambil menyetir mobil menuju Baleendah, Bandung. Tadi malam.



Thursday, July 28, 2016

KEDUDUKAN TINGGI INI MERUPAKAN MUSIBAH

Tadi malam, ketika sedang menonton tivi dan  melihat pelantikan sejumlah menteri baru, entah kenapa benak saya tiba-tiba “terlempar” ke Baghdad. Ya, ke sebuah kota yang  didirikan oleh seorang penguasa terkemuka Dinasti Abbasiyah, Abu Ja‘far Al-Manshur, dan kini menjadi ibukota Irak. Entah kenapa pula, yang “melayang-melayang” dalam benak saya tadi malam adalah kisah kegundahan seorang penguasa terkemuka lain dinasti tersebut, seorang penguasa yang kerap ditampilkan dalam kisah Alf Lailah wa Lailah (1001 Malam): Harun Al-Rasyid.
Kala itu, sang penguasa tersebut sedang menunaikan ibadah haji di Makkah. Entah kenapa, pada suatu malam, ketika berada di Kota Suci itu ia merasa sangat gelisah dan resah. Karena tidak kuat menahan kegelisahannya yang kian mendera, meski saat itu di tengah malam, sang penguasa kemudian memanggil Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus, seorang menteri utama Dinasti ‘Abbasiyyah kala itu.
Ketika menteri utama itu telah berada di hadapannya, Harun Al-Rasyid lantas berucap pelan sambil menahan kegelisahannya, “Al-Rabi‘! Malam ini, bawalah aku kepada seseorang yang kuasa menunjukkan kepadaku, siapakah sejatinya aku ini.”
“Ada keperluan apa, Amir Al-Mukminin?” tanya sang menteri utama.
“Entah mengapa, saat ini aku merasa jemu sekali dengan segala kebesaran dan kebanggaan yang telah kurengkuh dan kunikmati selama ini!”
Mendengar ucapan sang penguasa, Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus lantas membawa Harun Al-Rasyid ke rumah Sufyan bin ‘Uyainah. Tokoh terakhir itu adalah seorang ahli hadis dan tafsir Al-Quran di Kota Suci kala itu. Nama lengkapnya adalah Abu Muhammad Sufyan bin ‘Uyainah bin Maimun Al-Hilali Al-Kufi.
Mendengar seseorang mengetuk pintu, Sufyan bin ‘Uyainah menyahut, “Siapakah di luar?”
“Amir Al-Mukminin!” jawab Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus.
“Mengapakah Amir Al-Mukminin sudi menyusahkan diri? Mengapa tidak dikabarkan saja kepada saya. Sehingga, saya datang sendiri untuk menghadap?”
Mendengar ucapan tersebut, Harun Al-Rasyid pun berucap kepada sang menteri utama, “Al-Rabi‘! Dia bukan orang yang kucari. Dia pun menjilat seperti yang lain-lainnya.”
Ucapan itu, ternyata, didengar sang ulama Makkah itu. Karena itu, dia pun berucap kepada sang penguasa, “Bila demikian, wahai Amir Al-Mukminin, Al-Fudhail bin ‘Iyadh adalah orang yang engkau cari. Pergilah kepadanya.”
Usai berucap demikian, Sufyan bin ‘Uyainah kemudian membaca ayat Al-Quran, “Apakah orang-orang yang berbuat aniaya menyangka bahwa kami akan mempersamakan mereka dengan orang-orang yang beriman serta melakukan perbuatan-perbuatan salih?”
Harun Al-Rasyid pun menimpali, “Andai aku menginginkan nasihat yang baik, tentu ayat itu mencukupi bagiku.”
Mereka lantas menuju ke rumah Al-Fudhail bin ‘Iyadh, seorang ulama Makkah yang terkenal hidup sangat sederhana. Ketika mereka tiba di rumah Al-Fudhail, mereka lantas mengetuk pintu. Mendengar ketukan di pintu rumahnya, Al-Fudhail bertanya dari dalam, “Siapakah di luar?”
“Amir Al-Mukminin!” jawab Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus.
“Apa urusan dia dengan aku dan urusanku dengan dia?” teriak Al-Fudhail.
“Al-Fudhail! Bukankah merupakan kewajiban rakyat untuk mematuhi para pemegang kekuasaan?” sergah Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus.
“Janganlah kalian mengganggu aku!”
“Haruskah aku mendobrak pintu dengan kekuasaanku sendiri atau dengan perintah Amir Al-Mukminin?” sahut Abu Al-Fadhl Al-Rabi‘ bin Yunus.
“Tiada sesuatu pun yang disebut kekuasaan!” ucap Al-Fudhail. “Jika engkau dengan paksa mendobrak masuk, engkau tentu tahu apa yang harus engkau lakukan!”
Harun Al-Rasyid kemudian masuk ke dalam rumah Al-Fudhail bin ‘Iyadh. Begitu melihat sang penguasa, Al-Fudhail lantas meniup lentera di depannya hingga padam agar dia tidak dapat melihat wajah sang penguasa. Harun Al-Rasyid kemudian mengulurkan tangannya dan disambut tangan Al-Fudhail yang kemudian berucap, “Betapa lembut dan halus tangan ini! Kiranya tangan ini terhindar dari api neraka!”
“Tuan Guru! Berilah aku nasihat,” ucap Harun Al-Rasyid.
“Leluhurmu, pamanda Rasulullah Saw. (maksudnya Al-‘Abbas bin ‘Abdul Muththalib), pernah meminta kepada beliau agar dia dijadikan pemimpin bagi sebagian umat manusia. Apa jawaban beliau? Jawab beliau, ‘Paman, bukankah aku pernah mengangkat engkau untuk sesaat sebagai pemimpin dirimu sendiri?’ Dengan jawaban itu Rasulullah Saw. memaksudkan bahwa sesaat mematuhi Allah adalah lebih baik daripada seribu tahun dipatuhi umat manusia. Kemudian Rasulullah Saw. menambahkan, ‘Kepemimpinan akan menjadi sumber penyesalan di Hari Kebangkitan kelak.’”
“Tuan Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu,” pinta Harun Al-Rasyid.
“Ketika diangkat sebagai penguasa, ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz lantas memanggil Abu ‘Umar Salim bin ‘Abdullah bin ‘Umar bin Al-Khaththab, Abu Al-Miqdam Raja’ bin Haiwah bin Jarwal Al-Kindi, dan Abu Hamzah Muhammad bin Ka‘b bin Salim bin Asad Al-Qurazhi. Ucap ‘Umar kepada mereka, ‘Hatiku sangat gundah dengan musibah ini. Apakah yang harus kulakukan? Aku tahu, kedudukan tinggi ini merupakan musibah, walau orang-orang lain memandang kedudukan sebagai karunia.’ Sahut Abu Al-Miqdam Raja’ bin Haiwah, “Amir Al-Mukminin! Jika engkau ingin terlepas dari hukuman Allah di akhirat kelak, pandanglah setiap Muslim yang lanjut usia laksana ayahandamu sendiri, setiap Muslim yang muda usia laksana saudaramu sendiri, setiap Muslim yang masih kanak-kanak laksana putramu sendiri. Dan, perlakukanlah mereka sebagaimana seharusnya seseorang memperlakukan ayahanda, saudara, dan putranya.’”
“Tuan Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu,” pinta lagi Harun Al-Rasyid.
“Abu Al-Miqdam Raja’ bin Haiwah lebih lanjut berucap, ‘Wahai Amir Al-Mukminin! Anggaplah negeri yang engkau pimpin laksana rumahmu sendiri dan penduduknya laksana keluargamu sendiri. Jenguklah ayahandamu, hormatilah saudaramu, dan bersikap baiklah kepada putramu. Kusayangkan jika wajahmu yang tampan ini akan terbakar hangus di neraka. Takutlah kepada Allah dan taatilah perintah-perintah-Nya. Berhati-hatilah dan bersikaplah bijak, karena di hari kebangkitan kelak Allah akan meminta pertanggungjawabanmu seputar setiap Muslim yang engkau pimpin dan Dia akan memeriksa apakah engkau telah berlaku adil kepada setiap orang. Ingatlah, manakala ada seorang perempuan uzur yang tertidur dalam keadaan lapar, di hari kebangkitan kelak dia akan menarik pakaianmu dan memberikan kesaksian yang akan memberatkan dirimu!’”
“Tuan Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu!”
“Abu Hamzah Muhammad bin Ka‘b kemudian tampil memberikan nasihat,  “Amir Al-Mukminin! Engkau memiliki keberanian yang diwajibkan atas diri kita. Andai pada dirimu terdapat kekurangan dan kekhilafan, kita akan mengobatinya. Pegang teguhlah agama dan pikiran yang rasional, semua itu akan menopang dirimu dan menjadi kendali dirimu. Waspadalah terhadap orang yang mencintaimu karena ada pamrih terhadap dirimu. Karena manakala pamrih itu telah terpenuhi, cintanya akan sirna. Manakala engkau melakukan suatu kebaikan, peliharalah betul kebaikan itu. Dan, jadikanlah dunia sebagai tempatmu berpuasa dan akhirat sebagai tempatmu berbuka.’”
“Tuan Guru, lanjutkanlah nasihatmu itu!”
“Abu ‘Umar Salim bin ‘Abdullah kemudian tampil memberikan nasihat, ‘Amir Al-Mukminin! Buatlah rakyat rela dengan sesuatu yang dirimu rela terhadap sesuatu itu. Juga, buatlah mereka tidak menyukai sesuatu yang dirimu tidak menyukai sesuatu itu. Dengan demikian, engkau selamatkan mereka dan mereka menyelamatkan engkau.’”
Mendengar nasihat dan petuah demikian, Harun Al-Rasyid pun tidak kuasa menahan lelehan air matanya dan termenung lama. Dan, selepas itu, dia berpamitan kepada sang Tuan Guru itu.

“Entah apa yang saat ini sedang menggelegak dalam benak para menteri baru itu, ketika mereka bersumpah akan melaksanakan amanah yang dibacakan Presiden. Wallâhu a‘lam,” demikian gumam pelan bibir saya melihat prosesi sumpah yang dilakukan para menteri baru itu. 

Friday, July 22, 2016

IBU NYAI

Ya Allah, ampunilah, kasihilah, maafkkanlah, jadikanlah kuburnya berpendar, dan jadikanlah surga sebagai tempat yang abadi bagi Ibu Nyai Hajjah Siti Fatma. Juga, karuniakanlah kesabaran, kesehatan, dan kemampuan memelihara diri kepada Gus Mus, amin.”

Entah kenapa, doa yang demikian itu tiba-tiba menggerakkan dua bibir saya tadi pagi, ketika saya membaca di facebook Gus Mus bahwa beliau serta putri-putri dan putra beliau sedang menyiapkan sebuah buku kenangan berjudul “Ibuku Kekasihku”. Rencananya, buku tersebut akan diterbitkan pada hari ke-40 berpulangnya istri tercinta Gus Mus. Dan, usai berdoa, tiba-tiba benak saya pun “melayang-layang” dan kemudian kisah sederet ibu nyai (istri seorang kiai) bermunculan dalam benak saya.

Ternyata, menjadi seorang ibu nyai tidaklah mudah dan tidak pula ringan. Ketika seorang perempuan menyatakan siap untuk menikah dengan seorang “calon” dan seorang kiai, sejatinya ia telah “melontarkan dirinya” dalam sebuah medan perjalanan dan perjuangan hidup yang tidak ringan. Sebab, menjadi istri seorang kiai kerap kali harus siap hidup pas-pasan, siap setiap waktu ditinggal sang suami untuk melayani masyarakat, siap setiap waktu mendampingi dan berbagi dengan sang suami dalam menghadapi berbagai masalah keluarga, masyarakat, dan negara, dan juga siap sewaktu-waktu kehilangan sang suami tercinta dan lain-lain sebagainya.

Oleh karena itu, tidak setiap perempuan siap dan kuat menjadi seorang Ibu Nyai. Suatu saat, ada seorang calon dokter yang menikah dengan putra seorang kiai terkemuka yang memimpin pesantren besar di Jawa Timur. Perempuan yang putri seorang profesor terkemuka tersebut menikah dengan suaminya di luar negeri. Namun, apa yang terjadi kemudian ketika mereka berdua kembali ke Tanah Air? Perempuan yang kini menjadi seorang dokter tersebut kaget dengan kedudukannya sebagai seorang Ibu Nyai dan tidak tahan menjadi pendamping hidup yang tangguh suaminya sebagai seorang kiai muda. Akhirnya, perempuan itu memilih berpisah baik-baik dengan suaminya.

Di sisi lain, ketika seorang Ibu Nyai berpulang ke hadirat Allah Swt. lebih dahulu daripada suaminya, ternyata tidak setiap kiai tahan dalam menghadapi “goncangan” yang terjadi. Kiai juga seorang manusia: kadang merasakan sangat kesepian ketika istri tercintanya telah tiada. Malah, ada yang kelabakan: berbulan-bulan kebingungan seperti kisah Pak Habibie selepas Ibu Ainun berpulang. Akhirnya, atas persetujuan putra dan putrinya, kiai tersebut menikah kembali: mengikuti pendapat Imam Ahmad bin Hanbal yang mendorong para suami yang istrinya berpulang untuk segera menikah kembali, untuk menghindari hal-hal yang tidak terpuji.


“Mbak Ienas, Mbak Almas, dan putra-putri Gus Mus lainnya, dampingi dan kasihi Abah kalian ya. Abah tentu sangat kehilangan Ibu Hajjah Siti Fatma, meski Gus Mus tidak menampakkan kehilangan yang dalam tersebut,” demikian gumam bibir saya sambil merenungi lama “catatan-catatan pendek” yang disajikan Gus Mus dalam facebooknya, selepas beliau hidup tanpa bersama Ibu Hajjah Siti Fatma lagi di dunia yang fana ini. 

Monday, July 18, 2016

GUS, IKUTILAH JEJAK LANGKAH KAKEKMU...!

Ya Allah, karuniakanlah limpahan cinta dan kasih sayang-Mu kepada Mbah Maimun...”

Demikian gumam pelan bibir saya, ketika saya melihat foto Al-Mukarram K.H. Maimun Zubair (alias Mbah Maimun), seorang kiai sepuh asal Sarang, Rembang, Jawa Tengah, di facebook salah seorang sahabat tadi malam. Dan, entah kenapa, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” ke tahun 2007, ketika saya bertemu pertama kali dengan Mbah Maimun, dan hingga kini belum pernah bertemu kembali dengan beliau.

Kala itu, saya sedang mendampingi jamaah sebuah travel dari Bandung untuk melaksanakan ibadah haji. Ketika kami sedang mabît di Mina, saya lihat banyak jamaah dari berbagai maktab mendatangi sebuah tenda di belakang tenda tempat kami mabît. Ketika saya tahu bahwa mereka ternyata berusaha sowan kepada Mbah Maimun, saya pun ikut antri bersama mereka untuk sowan kepada beliau. Meski saya belum pernah bertemu sama sekali dengan beliau, tapi saya sedikit tahu tentang “jati diri” beliau. Dan, Mbah Maimun akrab dengan keluarga kami di Cepu, Jawa Tengah.

Kemudian, ketika antrian saya sampai di hadapan beliau, beliau pun saya peluk. Lama. Masih dalam pelukan saya, Mbah Maimun bertanya kepada saya dengan suara pelan, “Njenengan niku sinten. Kulo kok kadose kenal wajah njenengan. Anda itu siapa. Saya kok kayaknya kenal dengan wajah Anda.”
Mbah, kawulo Ahmad Rofi’ Usmani, saking Bandung. Mbah, saya Ahmad Rofi’ Usmani, dari Bandung.”
Saking Bandung kok saged boso Jawi. Dari Bandung kok bisa bahasa Jawa.”
Inggih, Mbah, asal kawulo saking Cepu, dados saged boso Jawi. Iya, Mbah, asal saya dari Cepu, karena itu saya bisa bahasa Jawa.”
O, saking Cepu. Pirso Mbah Yai Usman. O, dari Cepu. Tahu Mbah Kiai Usman?”
Inggih, Mbah, kawulo wayahipun. Iya, Mbah, saya cucunya.”

Begitu mendengar jawaban terakhir tersebut, Mbah Maimun ganti memeluk lama saya sambil mengelus-elus punggung saya. Kemudian, ucap beliau dengan suara pelan, “Masya Allah, njenengan niku wayahipun Mbah Yai Usman to. Pantesan, kok kawulo rasanipun sampun kenal dangu kaliyan njenengan. Njenengan pinarak wonten mriki mawon, nggih. Ngancani kawulo. Masya Allah, Anda itu cucunya Mbah Kiai Usman to. Pantesan, kok saya rasanya sudah kenal lama dengan Anda. Anda duduk di sini saja, ya. Menemani saya.”

Sebenarnya, saya ingin menolak permintaan Mbah Maimun. Tetapi, merasa tidak tepat menolak permintaan beliau, saya pun duduk di samping beliau. Akibatnya? Saya pun kecipratan kehormatan beliau sebagai kiai sepuh, alias saya dapat “kramat gantung”: orang-orang yang menghadap beliau pun mengambil tangan kanan saya dan menciumnya, selepas mereka mencium tangan beliau. Melihat hal yang demikian, bibir saya pun bergumam pelan, “Wah gawat. Aku ini bukan siapa-siapa, kok mendapat penghormatan demikian ini.”

Melihat orang-orang yang mau sowan kepada Mbah Maimun kian mengular panjang, akhirnya saya pun berpamitan dengan beliau. Semula, beliau tidak mengizinkan saya berlalu. Tetapi, dengan berbagai alasan, beliau akhirnya mengizinkan saya pamit. Sambil memeluk saya, beliau berucap, “Gus, kawulo ndongaaken, njenengan saged kados Mbah Yai Usman: saged ndamel pesantren ingkang manfaat kangge umat. Gus, saya doakan, Anda bisa seperti Mbah Kiai Usman: bisa mendirikan pesantren yang bermanfaat bagi umat.”

Deg, betapa hati dan pikiran saya bingung dan gelisah mendengar pesan Mbah Maimun yang demikian. Pertama, panggilan "gus" membuat saya merasa bahwa saya tidak layak mendapatkan panggilan demikian. Lagi pula, meski putra dan cucu seorang kiai, namun sejak muda saya lebih suka tidak dikenal sebagai keturunan kiai. Saya lebih suka disebut dengan panggilan “Rofi’” saja, tanpa imbuhan apapun. Kedua, kala itu, saya tidak tertarik untuk menekuni dunia pendidikan, apalagi mendirikan pesantren. Saya lebih suka jadi tukang kluyuran yang tidak dikenal orang.

Namun, apa yang terjadi kemudian? Mungkin, karena doa Mbah Maimun yang ikhlas dan “mandi”, entah kenapa setahun kemudian Allah Swt. membukakan hati saya dan istri saya untuk mulai merintis Pesantren Mini kami yang kini kian berkembang.

Matur nuwun, Mbah Maimun,” demikian gumam pelan bibir saya dini hari tadi, sambil memandangi Pesantren Mini kami yang kini kian banyak murid dan santrinya.