Wednesday, November 13, 2013

ITAEWON: SEBUAH DISTRIK MENARIK DI KOTA SEOUL:
Perjalanan Santri Ndeso dan Keluarga ke Negeri Ginseng (2)

Let’s go Itaewon, Pakde, Bude, Bapak, Ibu, dan adik!”

Demikian perintah tour leader kami (alias Mona) selepas kami berenam beristirahat di “Operation Room One” (alias tempat kami menginap di Seodaemun) pada Selasa, 5 November 2013 yang lalu. Mengapa Itaewon yang dijadikan sebagai sasaran pertama ‘kluyuran’ kami?  

“Hari ini kan Tahun Baru Hijriah 1435 H. Karena di Itaewon terdapat Masjid Sentral Seoul, maka distrik itu merupakan tempat paling tepat menjadi tempat pertama yang kita kunjungi di Kota Seoul hari ini,” urai Mona.
“Naik apa kita ke sana? Pakai metro atau bus?” tanya saya.
“Kita manfaatkan saja bus gratis yang disediakan tempat menginap ini. Menghemat dana dan nyaman, hehehe,” jawab tour leader tidak resmi itu. “Di Itaewon, selain mengunjungi Masjid Sentral Seoul, kita akan makan siang di sana. Kali ini, kita makan di luar. Tampaknya, di antara kita ada yang kelaparan, karena naik pesawat terbang yang tidak menyajikan makanan kecuali dengan membeli, hehehe.”
“Saya sudah makan, lo. Beli di pesawat terbang,” sahut Pakde Min (kakak istri) sambil senyum-senyum. Tapi, Pakde tampaknya masih lapar, karena mungkin belum menikmati makan pagi di pesawat terbang.
“Selanjutnya, setelah itu, selama dalam perjalanan ini, kita akan menikmati masakan yang dibikin Bude Us dan Ibu,” urai Mona lebih lanjut. “Selain lebih hemat, juga kehalalannya lebih terjamin. Kemudian, setelah dari Itaewon, kita lihat nanti: apakah kita naik bus atau metro. Atau jika kuat, kita jalan kaki saja. Dari Itaewon, kita akan menuju tempat penginapan di Sejong-daero. Nanti sore, kita akan ke Gwanghamun Square. Oke?”
“Siap, komandan, ” sahut saya dalam hati, begitu mendengar uraian Mona tersebut, sambil menatap keluar jendela dan melihat lingkungan di seputar tempat menginap kami di Seodaemun.

Menaati perintah sang komandan perjalanan, segera kami berlima pun berkemas dan bersiap-siap untuk ‘menikmati’ Kota Seoul dengan metromini yang disediakan tempat menginap kami di Seodaemun. Kami berenam, setelah sampai di Kota Seoul, memang masih menyatu dan belum memisahkan diri di tempat penginapan masing-masing. Saya sendiri segera menyiapkan jaket, payung, dan air minum yang saya campur tablet vitamin C dosis tinggi (untuk menjaga ketahanan tubuh dalam menghadapi musim dingin) ke dalam “tas tempur” saya, alias tas punggung saya. Kemudian, ketika metromini yang akan kami naiki telah siap, kami pun segera naik metromini dengan rute: Hongje Subway Station-Limkwang Tower East-Seoul Subway Station-Itaewon-Ace Tower-YTN Tower-Namdaemun-Hongje Subway Station.  Kali ini, tujuan kami adalah Halte Itaewon.

Sepanjang perjalanan, menuju Itaewon, pandangan saya terarah ke pelbagai sudut Kota Seoul. “Enak juga jadi anak buah,” gumam saya dalam hati. “Tinggal ikut ke mana tour leader melangkah dan bebas menikmati perjalanan.” Ya, menjadi anak buah, dalam perjalanan, memang enak. Ke mana tour leader pergi, kita tinggal mengekor di belakangnya. Berbeda dengan perjalanan-perjalanan sebelumnya, yang menempatkan saya dalam posisi sebagai tour leader, kali ini kedudukan sebagai anak buah benar-benar saya nikmati. Karena itu, kali ini saya lebih banyak menempatkan diri sebagai fotografer dadakan. Apalagi setelah melihat tour leader, Mona, dan wakilnya, Naila, selalu siap dengan smartphone dan note mereka: untuk mengecek sampai di lokasi mana metromini yang kami naiki berada.

Kota Seoul saat itu, di musim gugur,  tampak begitu indah. Daun-daun yang sedang menguning  dan memerah membuat kota itu kian menawan. Sementara di sepanjang jalan, daun-daun tampak bertebaran dan berserakan di mana-mana, di antara cuatan gedung-gedung dengan aneka ragam gaya dan model. Tradisional maupun modern. Melihat pemandangan demikian, entah kenapa tiba-tiba dalam benak saya mencuat kenangan ketika masih muda dan sedang menimba ilmu di Kairo, Mesir pada awal 1980-an. Kenangan ketika malam, selepas belajar bahasa Perancis di Mounira sampai sekitar pukul sembilan malam, harus berjalan setengah berlari, untuk menghindari terpaan angin musim dingin sambil menikmati dan menghitung satu demi satu bangunan-bangunan  di jalan-jalan yang dilintasi.

Setelah menyusuri pelbagai sudut Kota Seoul selama sekitar 40 menit, metromini yang kami naiki pun berhenti di sebuah halte yang berada di depan sebuah Restoran McDonald. Suasana di Itaewon-ro itu, memang, agak berbeda dengan suasana di pelbagai penjuru lainnya Kota Seoul. Suasana ‘internasional’ lebih mewarnai distrik itu. Khususnya ‘nuansa’ Timur Tengah dan Asia Selatan.  Toko-toko di distrik ini, memang, lebih ‘warna-warni’ ketimbang di bagian-bagian lain Kota Seoul. Distrik ini sendiri,  semula, merupakan desa kecil yang menjadi tempat tinggal para pegawai pemerintahan dari Dinasti  Joseon. Kemudian, selepas Perang Dunia II, distrik itu menjadi “pangkalan” tentara Amerika Serikat. Dan, kini, distrik itu tetap mempertahankan ‘suasananya’ yang ‘warna-warni’. Tidak aneh, karena itu, jika di distrik ini pula banyak terdapat kaum Muslim lengkap dengan warung, resto, maupun toko yang mereka miliki. Juga, sebuah masjid besar yang kemudian disebut Masjid Sentral Seoul.

Meski tour leader dan wakilnya sudah membawa smartphone dan note, ternyata kami agak kesulitan mencari lokasi Masjid Sentral Seoul yang berlamat di 732-21 Hannam-dong, Yongsan-du, Seoul. Kemudian, ketika kami kebingungan dalam mencari alamat masjid tersebut, tiba-tiba muncul dua cewek cantik asal Libya. Lantas, ketika mereka berdua saya tanya, dengan bahasa Arab tentu saja, tentang alamat masjid tersebut, eh mereka malah begitu bersemangat mengantarkan kami menuju ke alamat tersebut. Melihat hal itu, Mona pun berucap, “Hebat juga Bapak. Dua cewek cantik kok mau-maunya ngantar kita hanya karena diajak ngomong bahasa Arab oleh Bapak, hehehe.”
“Lo, itulah kelebihan Bapak, hehehe,” canda saya.  “Asal Ibu gak cemburu saja.”

Kedua cewek cantik asal Libya itu mengantarkan kami hingga belokan menuju Usadan-ro. Sebelum berpisah, mereka saya minta untuk berfoto bersama kami. Eh, lagi-lagi kedua cewek itu dengan penuh semangat memenuhi permintaan kami. Selepas itu, kami pun berjalan pelan di sepanjang jalan itu. Oh, di jalan itu ternyata banyak saudara-saudara kita dari Malaysia yang sedang berbelanja di toko-toko yang bertebaran di sepanjang jalan itu. Memang, di distrik ini ada sebuah guest house Malaysia (lihat: http://malaysianguesthouseinseoul.blogspot.com/) dengan harga yang relatif terjangkau. Apalagi, di sekitar guest house itu dengan mudah terdapat pelbagai sajian dan masakan halal.  Guest house itu selalu penuh. Karena itu, untuk mendapatkan kamar di situ, kita perlu memesannya jauh hari.

Setelah menyusuri Usudan-ro 10 gil, yang menanjak seperti jalan-jalan kecil di Dago, Bandung, akhirnya sampailah kami di Masjid Sentral Seoul yang tegak di atas lahan seluas sekitar 5,000 meter persegi. Alhamdulillah, suatu kebahagiaan luar biasa terasakan dalam hati saya, karena dapat menikmati Tahun Baru Hijriah 1435 H di sebuah masjid nun jauh di sebuah negara non-Muslim. Kami pun shalat  Zhuhur dan ‘Ashar di masjid yang dilengkapi dengan sebuah madrasah untuk anak-anak: “Prince Sultan Islamic School”. Kalau tidak keliru, salah seorang ustadz di madrasah itu berasal dari Indonesia. Sayang, kami tidak bertemu dengannya.

Selepas dari berkunjung ke masjid yang terdiri dari tiga lantai itu, lapar karena dingin mulai menyapa perut kami. Kami pun segera menuju Murree Resto: Korea Muslim Food yang terletak di sebelah kiri masjid yang mulai diresmikan pada 21 Mei 1976 M itu, di Usadan-ro 10 gil. Resto itu milik seorang India Muslim yang beristrikan seorang Muslimah Korea. Resto ini cukup terkenal. Wow, lezat sekali msakan korea yang mereka sajikan. Utamanya kimbibab, buldogi, dan kimchi. Rasanya, bila kembali lagi ke Seoul, saya akan kembali ke resto itu, insya Allah.

Setelah lelah menikmati Distrik Itaewon, kami kemudian melanjutkan perjalanan menuju ke “Operation Room Two”, alias tempat penginapan kedua yang diinapi Mona, Pakde, dan Bude, dengan naik subway alias metro. Setelah beristirahat di sana, program kami sore hari itu menuju ke Gwanghamun Square dan menikmati King Sejong Museum. (Bersambung: “ANDAI DI BAWAH MONAS ADA MUSEUM SEPERTI INI: Perjalanan Santri Ndeso ke Negeri Ginseng (3)). 

Tuesday, November 12, 2013

MENUJU SEOUL:
Perjalanan Santri Ndeso dan Keluarga ke Negeri Ginseng (1)

Mas, anak-anak kok hanya sebentar ya di Baleendah,” keluh istri beberapa bulan yang lalu sambil  menikmati sarapan pagi. “Mereka hanya dua hari di sini. Kangen saya belum hilang, mereka sudah balik ke Jakarta.”
“Sekarang, anak-anak kan punya kegiatan sendiri-sendiri. “ jawab saya. “Mereka tidak leluasa lagi seperti dulu, ketika mereka masih kuliah. ”
“Bagaimana kalau kita “kluyuran” bersama mereka ke Seoul di bulan November nanti. Sehingga, kita dapat bersama mereka dalam waktu yang agak lama. Di samping agar tetap dapat menjaga silaturahmi dan “kluyuran”, biar mereka dapat menimba ilmu dan pengalaman dari orang-orang Korea. Satu minggu saya kira cukup,” sahut istri. “Di awal bulan itu, saya akan pergi ke sana, untuk mendalami penanganan para penderita diabetes. Anak-anak kan penggemar film Korea. Tapi, mereka harus bayar sendiri. Juga, mereka kita minta untuk menyusun rancangan perjalanan dengan dana sehemat mungkin.“
“Oke, setuju. Mereka kan sudah mulai terbiasa “kluyuran” dengan dana terbatas. Apalagi, kalau gak salah, saat itu kan tahun baru hjiriah. Jadi, anak-anak tidak cuti terlalu lama. Bagaimana jika mereka berdua kita angkat jadi tour organizer dan tour leader?”
“Bagus. Dalam perjalanan tersebut, kita jadi anak buah saja. Mereka berdua kan tahu sedikit bahasa Korea dan tentang negara itu.”

Begitu kami (saya dan istri) memberitahu mereka tentang rencana tersebut, dua putri kami (Mona dan Naila) pun dengan semangat menyambut tawaran itu, meski mereka berdua harus merogoh duit dari kocek mereka sendiri. Memang, mereka sejak lama mendambakan dapat “kluyuran” ke Negeri Ginseng. Segera, mereka pun mencari tiket pesawat terbang  ke Seoul dengan harga yang paling murah. Akhirnya, mereka mendapatkan tiket promo  Garuda Indonesia dengan rute Jakarta-Seoul, dengan harga sekitar lima juta untuk tiket pergi-pulang. Setelah kami mendapatkan tiket, seorang kakak dan istrinya ikut bergabung. Namun, karena tiket promo Garuda Indonesia sudah habis, mereka kemudian membeli tiket Air Asia, dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Seoul, dengan harga yang tidak banyak bedanya dan waktu yang  juga hampir bersamaan.

Lantas, beberapa hari sebelum berangkat, pada Senin, 4 November 2013 yang lalu, saya dan istri sudah menerima “itinerary”, alias panduan perjalanan, dari Mona. Lengkap sekali. Meski telah menerima panduan tersebut, saya tetap mempelajari secara cermat Kota Seoul: baik apakah tentang cuaca, transportasi, kultur, makanan, adat istiadat, jadwal shalat, dan lain-lain sebagainya di kota metropolitan itu.  Dari berbagai informasi yang saya dapatkan: kota yang dihuni sekitar 10 juta anak manusia itu, di bulan November, mulai menikmati musim gugur. Kisaran suhu udara di awal bulan itu antara 6-15 derajat celcius. Cuaca yang dingin bagi orang Indonesia yang terbiasa dengan cuaca sekitar 30 derajat celcius. Karena itu, berbeda dengan perjalanan ke Belanda beberapa bulan yang lalu, persiapan kami kali ini lebih lengkap lagi: ditambah dengan jaket, baju anti-dingin, payung, dan beberapa perlengkapan lainnya yang diperlukan untuk menghadapi cuaca yang tidak bersahabat. Apalagi, menurut perkiraan badan meterologi, pada saat kepulangan kami dari sana, cuaca akan turun drastis menjadi sekitar -1. Dingin kan. Tentu saja, apalagi buat orang Indonesia.

Setelah visa Korea Selatan di tangan, sesuai dengan jadwal perjalanan yang tertera di tiket, kakak dan istrinya berangkat lebih dahulu dengan Air Asia dari Bandara Soetta, dengan transit lebih dahulu di Kuala Lumpur. Sedangkan kami berempat berangkat dari bandara yang sama pada pukul 23.30, Senin, 4 November 2013, dengan Garuda Indonesia. Setelah urusan check-in rampung, tour leader kami (Mona: putri sulung kami), memerintahkan kepada kami, “Untuk urusan imigrasi, kita gak usah lewat petugas imigrasi.  Kita melewati ‘autogate’ saja.”
“‘Autogate’, apa itu?” tanya saya. Penuh tanda tanya.
“Urusan imigrasi kita urus sendiri,” jawab Mona. “Caranya: kita lapor dulu kepada petugas, untuk melaporkan data kita. Setelah paspor kita didata, kita dapat melintasi gerbang imigrasi yang tanpa petugas setiap kali mau pergi ke luar negeri. Enak dan gampang kan!”
“O, gitu,” sahut saya.
Ternyata, problem muncul ketika empat jari istri dipindai: gagal, gagal, dan gagal. “Ini mungkin karena Ibu jarang menyuci dan masak, hehehe,” goda Mona kepada ibunya. “Akibatnya, goresan tangan Ibu lembut sekali dan sulit dipindai. Mencuci dan masaklah Ibu, hehehe.”

Baru setelah dipindai berkali-kali, empat jari istri baru berhasil disidik. Dan, kemudian,pada pukul 23.10,  dengan mata yang mulai terkantuk-kantuk kami pun dipersilakan masuk ke dalam perut pesawat terbang Garuda Indonesia dengan no. penerbangan GA 878. Ohoi, nyaman juga pesawat terbang penerbangan yang pada 2012 meraih no. 1  “The World’s Best Regional Airline” dan pada 2013 ini menerima award “The World”s Best Economy Class”. “Hebat juga Garuda Indonesia,” gumam saya, dalam hati, seraya memasuki  perut pesawat Airbus 330 yang melayani rute Jakarta-Seoul. “Kini, Garuda Indonesia bukan lagi ‘garuda’ yang kerap dipandang dengan sebelah mata. Malah, tahun ini, untuk kelas ekonomi, Singapore Airlines pun harus mengakui keunggulan Garuda Indonesia.”

Perjalanan antara Jakarta-Seoul, sekitar 5,700 kilometer, lebih banyak kami lewati dengan memejamkan mata. Hal itu karena perjalanan kami berlangsung di tengah malam. Dan, setelah menempuh perjalanan sekitar 6 jam 20 menit, sampailah kami di Incheon (baca: incon) International Airport, sebuah bandara megah dan modern yang mengusung tagline, “More than an Airport, Beyond Expectation”. Gagah benar tagline itu. Dan, bandara itu memang megah, modern, dan memang ‘beyond expectation’: seluruh rangkaian proses turun dari pesawat, pemeriksaaan imigrasi, dan klaim bagasi berlangsung cepat dan dan tidak merepotkan. Dan, ketika kami melangkah menuju ‘Exit 5’, dari jauh kami melihat kakak dan istrinya juga sedang menuju ‘exit’ yang sama, setelah menempuh perjalanan dengan rute Jakarta-Kuala Lumpur-Seoul dengan pesawat terbang Air Asia dengan no. penerbangan AK 1389 dan D7506. Alhamdulillah.

Eh, begitu berada di ruang tunggu bagian luar, seorang warga Korea mendekati kami berenam. Tahu kami sedang menimbang-nimbang kendaraan yang paling tepat menuju Kota Seoul, antara jumbo taxi, bus, atau kereta api, orang itu menawarkan kami untuk naik mobil miliknya. Setelah menimbang-nimbang, apalagi tempat menginap kami terpisah lumayan jauh: saya, istri, dan Naila menginap di kawasan Seodaemun, dekat Stasiun Subway Hongje, sedangkan kakak, istri, dan Mona menginap di kawasan Jong-no, kami pun menerima tawaran orang itu. Apalagi, setelah dihitung, harga yang dia tawarkan lebih murah: 80,000,- won. Lebih murah ketimbang jika naik jumbo taxi yang mematok harga 90,000,- won. “Ternyata, di Incheon pun ada taksi gelap, hehehe,” gumam saya dalam hati. “Tidak hanya di Bandara Soetta saja.”


Setelah membeli T-Money, kartu untuk ‘kluyuran’ di seputar Kota Seoul, segera kami berenam pun naik mobil ‘Carnival’ orang Korea itu. Dan, setelah menempuh jarak sekitar satu jam, sampailah kami berenam di Kota Seoul (baca ‘soul’), disambut musim gugur yang begitu indah. Karena mengantuk dan kecapaian, sebelum ‘kluyuran’ di seputar Itaewon pada siang harinya, kami pun beristirahat.  (Bersambung: “ITAEWON: SEBUAH DISTRIK  MENARIK DI KOTA SEOUL”).

Wednesday, October 16, 2013

IBRAHIM: NABI YANG MEMOHON AGAR DIKARUNIAI HIKMAH

Wahai Ibrahim,” gumam bibir saya, kemarin pagi, ketika sedang menyimak khutbah ‘Idul Adha, “hari ini, entah berapa ribu kali namamu disebut. Di pelbagai penjuru dunia!”

Tidak lama kemudian, entah kenapa, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh sekali. Ya, jauh sekali, ke Al-Khalil (Hebron), Palestina. Tiba-tiba, yang muncul dalam benak saya adalah saat saya berada di depan makam Nabi yang dikaruniai Allah Swt., sesuai dengan permohonannya, hikmah yang luar biasa itu. Kala itu, bulan Maret 2013. Berada di Masjid Al-Khalil, selepas melintasi pemeriksaan ketat oleh polisi dan tentara Israel, sebersit kebahagiaan membuncah dalam kalbu saya. Bahagia, tentu saja, karena akhirnya saya dapat mengunjungi makam “Kekasih Allah”, meski saya sendiri tidak merasa yakin, apakah makam itu memang makam sang Nabi.

Ketika berdiri di depan makam sang Nabi, entah kenapa, tiba-tiba yang mencuat dalam benak saya justru doa indah yang pernah disampaikan sang Nabi kepada Tuhannya, “Ya Allah, Tuhanku, karuniakanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam kelompok orang-orang saleh. Jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian. Jadikanlah aku termasuk orang-orang yang memusakai surga yang penuh kenikmatan… Dan, janganlah Engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS Al-Syu‘arâ’ [26]: 83-89).

Betapa indah doa itu. Teringat doa indah itu, seraya berdiri di depan makam sang Nabi, saya pun menggumamkan kembali doa indah itu. Dan, kemarin pagi, entah kenapa, ketika mendengar nama sang Nabi, doa indah itu pun kembali saya sampaikan kepada Tuhan sang Nabi. Dengan sepenuh hati.

Siapakah sang Nabi pemilik doa indah itu?

Tentu, banyak di antara kita yang telah tahu, sang Nabi adalah seorang Rasul yang namanya disebut 40  kali  dalam Al-Quran. Dalam Kitab Suci itu juga digambarkan, sang Nabi adalah orang yang  menyerahkan  diri sepenuhnya  kepada Allah. Sehingga, perintah apa pun  ia  lakukan, meski  harus  bertentangan dengan pikiran  dan  perasaannya. Nabi yang satu ini sendiri hidup  sekitar 2,100 sebelum Masehi yang silam. Putra  Adzar  ini lahir  di  Ur, di kawasan Chaldea (kini masuk wilayah Irak). Selepas menerima  wahyu  dari Allah, orang pertama yang ia seru adalah ayahnya sendiri, seorang pemahat.  Tetapi,  sang ayah menolak  seruannya,  malah  kemudian mengusirnya.  Meski  diusir  sang  ayah,  ia  tetap  menyampaikan seruannya di kalangan bangsanya. Akibatnya, ia menerima  berbagai ancaman  dari  mereka.

Menghadapi ancaman demikian, sang Nabi lantas meninggalkan  negerinya,  disertai istri pertamanya: Sarah, menuju Palestina lewat Damaskus. Ketika  Rasul  yang  mendapat gelar Khalil Allah  ini  tiba  di Palestina,  negeri  tersebut sedang tertimpa  paceklik.  Ia  lalu melanjutkan  perjalanannya ke Mesir. Di negeri terakhir  ini  ia tinggal  tidak  lama, dan kemudian ia kembali lagi ke  Palestina.

Kala tiba di Palestina, usia sang Nabi dan istri pertamanya, Sarah, kian lanjut. Meski demikian, kerinduan mereka untuk memiliki anak keturunan tidak pernah sirna. Karena itu, akhirnya sang Nabi pun berdoa, “Sungguh, aku akan pergi menghadap kepada Tuhanku dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. (Kemudian dia berdoa), “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh.” Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.” (QS Al-Shaffât [37]: 99-101).

Ternyata, Allah Swt. mengabulkan doa sang Nabi. Lahirlah  putra pertamanya, Ismail,  lewat  istri  keduanya Hajar,  ketika sang Nabi berusia sekitar 68 tahun. Kehadiran sang putra pertama tersebut ternyata menimbulkan kecemburuan Sarah. Oleh karena itu, sang Nabi kemudian mengungsikan Hajar dan Isma‘il a.s. ke sebuah yang jauh dari Palestina, sebuah negeri yang terkenal kering kerontang.

Sebelum meninggalkan keduanya di negeri jauh yang kini dikenal sebagai Kota Makkah, sang Nabi pun memohon kepada Tuhannya, “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku dari menyembah berhala-berhala. Ya Tuhanku, Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Karena itu, barang siapa mengikutiku, sesungguhnya orang itu termasuk golonganku dan barang siapa mendurhakai aku, sesungguhnya Engkau Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Ya Tuhan kami, sungguh aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan Kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur. Ya Tuhan kami, sungguh Engkau mengetahui apa yang kami sembunyikan dan apa yang kami lahirkan; dan tidak ada sesuatu pun yang tersembunyi bagi Allah, baik yang ada di bumi maupun yang ada di langit. Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku di hari tua(ku) Isma‘il dan Ishaq. Sesungguhnya Tuhanku benar-benar Maha mendengar (memperkenankan) doa. Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat. Ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku. Ya Tuhan kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapakku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat).” (QS Ibrâhîm [14]: 35-41).

Berkat doa sang Nabi, kini negeri yang kering kerontang itu kini menjadi Kota Makkah yang diberkahi. Dan, menurut sebuah sumber, sang Nabi berpulang pada  usia 175 tahun dan dimakamkan di Gua Machepelah, Al-Khalil, Palestina, yang kini menjadi lokasi Masjid Al-Khalil yang saya kunjungi pada Maret (dan April) 2013 itu.


Friday, October 11, 2013

HIJAZ RAILWAY, MRT JAKARTA, DAN AMANAH

Entah kenapa, ketika kemarin sore saya membaca kabar “groundbreaking” proyek MRT Jakarta, benak saya justru “melayang-layang” ke Madinah, Arab Saudi. Selepas “berputar-putar” dan “melayang-layang” di sekitar Kota Suci itu, tiba-tiba benak saya menukik ke sebuah museum stasiun kereta api yang tegak di samping Masjid Al-‘Anbariyyah. Bila kita dari Masjid Nabawi menuju Masjid Dzulhulaifah, kita dapat menyaksikan museum itu, Museum Hijaz Railway, tegak di tengah perjalanan antara dua masjid itu.

Apa kaitan antara Hijaz Railway dan MRT Jakarta yang sedang mulai dibangun?

Jika kita tahu sejarah pembangunan Hijaz Railway, segera kita akan menyadari: rakyat dan masyarakat di mana pun sejatinya mudah digerakkan untuk membantu pembangunan suatu proyek yang bermanfaat bagi masyarakat. Apalagi, bila pembangunan itu dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dan amanah. Dalam situasi dan kondisi demikian, biasanya masyarakat mudah digerakkan untuk membangun pembangunan dan perampungan proyek tersebut. Sebagai contoh adalah proyek Hijaz Railway. Sejarah menorehkan, masyarakat begitu bersemangat membantu pembangunan proyek kereta api yang menghubungkan antara Madinah dan Damaskus itu. Sehingga, ketika proyek itu rampung, ternyata proyek itu tidak meninggalkan utang sama sekali. Malah, proyek itu untung besar: meninggalkan kelebihan dana sebesar 1.75 juta dolar Amerika Serikat. Dengan kata lain, Hijaz Railway adalah satu-satu proyek perkeretaapian di dunia yang telah lunas sebelum karcis pertama dijual!

Kini, mari sejenak kita kembali ke masa silam, untuk mengikuti dan “menguak” sejarah Hijaz Railway tersebut. Menurut catatan sejarah,  ide “si Unta Besi” (demikian sebutan yang diberikan orang-orang Badui kala kereta api itu masih berfungsi)  itu mulai timbul pada 1280 H/1864 M. Ide itu pertama kali dikemukakan seorang keturunan Jerman-Amerika, Dr. O. Zimple, selepas melihat jalur-jalur kereta api yang mulai dibangun di pelbagai penjuru dunia. Atas masukan seorang Izzet Pasya Al-Abed, ide itu kemudian direalisasikan atas perintah Sultan‘Abdul Hamid II, seorang penguasa dari Dinasti Usmaniyyah di Turki. Untuk itu, dibentuklah Hijaz Railway Commission, di bawah pimpinan Izzet Pasya Al-Abed.

Jelas, kala itu pembangunan Hijaz Railway itu merupakan tantangan yang berat. Baik dari segi pembiayaan maupun dari segi teknis. Biaya yang diperlukan untuk mewujudkan proyek itu sebesar 16 juta dolar Amerika Serikat. Sumbangan pertama diberikan sang sultan (sebesar 250.000 dolar Amerika Serikat), khedive Mesir kala itu, Syah Iran, para pegawai negeri dan angkatan bersenjata Turki kala itu. Melihat kemanfaatan jalur itu bagi jamaah umrah dan haji dari beberapa negara, kaum Muslim pun kemudian dengan penuh semangat ikut menyumbang pembangunan proyek itu. Tidak aneh manakala proyek itu rampung, ternyata proyek itu tidak meninggalkan utang sama sekali. Malah, proyek itu untung besar: meninggalkan kelebihan dana sebesar 1.75 juta dolar Amerika Serikat. Dengan kata lain, Hijaz Railway adalah satu-satu proyek perkeretaapian di dunia yang telah lunas sebelum karcis pertama dijual!

Pembangunan proyek Hijaz Railway yang dilaksanakan oleh sebuah tim internasional: 17 orang Turki, 12 orang Jerman, 5 orang Italia, 5 orang Perancis, 2 orang Austria, 1 orang Belgia, 1 orang Yunani, dan ditopang oleh 5.630 tentara Turki itu ternyata menghadapi pelbagai kendala sosial dan teknis. Para syaikh dan orang-orang yang merasa akan dirugikan dengan kehadiran “si Unta Besi” itu, merasa tidak senang dengan adanya proyek itu. Karena itu, mereka kerap mengganggu dan menghalangi proses pembangunan proyek itu.

Penolakan yang demikian itu dapat dimengerti. Karena dengan adanya jalur kereta api itu, membuat pendapatan dan penghasilan mereka sirna. Hal itu terbukti selepas proyek itu rampung. Jika sebelumnya, perjalanan antara Damaskus-Madinah memerlukan biaya paling sedikit 40 poundsterling, nah dengan dengan naik kereta api  itu biaya yang mereka keluarkan menurun tajam menjadi sekitar empat setengah poundsterling. Apalagi, lama perjalanan pun menjadi sangat pendek. Bila sebelumnya perjalanan antara Damaskus-Madinah, dengan naik unta, memerlukan masa sekitar dua bulan, dengan kehadiran kereta api itu masa perjalanan yang diperlukan tinggal menjadi 55 jam. Di sisi lain, tantangan dan hambatan teknis penyelesaian dan pelaksanaan proyek Hijaz Railway juga tidak ringan. Misalnya, hambatan geografis di Jordania selatan. Belum lagi masalah cuaca, air minum, air untuk lokomotif, jembatan, dan rel yang tertimbun pasir akibat “ulah” badai gurun pasir.

Semenjak Ahad, 17 Jumada Al-Awwal 1329 H/1 September 1901 M jalur Damaskus-Dir‘ah mulai dioperasikan. Tahun berikut, jalur Dar‘a-Al-Zarqa’ mulai dibuka. Tahun-tahun berikutnya jalur itu telah tersambung hingga Amman (1321 H/1903 M), Ma‘an (1322 H/1904 M), Tabuk (1324 H/1906 M), Mada’in Shalih (1325 H/1907 M), dan Madinah (1326 H/1908 M). Jalur yang ini sendiri memiliki 48 stasiun, dengan jarak rata-rata antara satu stasiun dengan stasiun berikut sekitar 11 kilometer. Yang menarik, rancang bangun stasiun-stasiun itu mirip benteng. Malah, pada setiap stasiun dilengkapi dengan sebuah sumur dan tempat perlindungan dari tembakan senjata dari luar stasiun.

Kereta api dari Damaskus pertama kali tiba di Madinah Al-Munawwarah pada Jumat, 14 Rajab 1325 H/23 Agustus 1908 M. Setahun kemudian, tepatnya pada Selasa, 4 Sya‘ban 1326 H/1 September 1908 M, proyek Hijaz Railway diresmikan. Semula, belum banyak jamaah umrah maupun haji yang berminat naik kereta api itu. Pada 1330 H/1912 M, misalnya, selama tahun itu, kereta api hanya mengangkut sekitar 30.000 jamaah. Tetapi, dua tahun kemudian, peminat kereta api itu naik luar biasa. Selama tahun itu, kereta api mengangkut tidak kurang dari 300.000 penumpang. Bagi penumpang non-Muslim, kecuali mereka yang mendapatkan izin khusus, hanya diperkenankan naik kereta api itu hingga Ma‘an saja.

Ternyata, kemudian, tidak hanya para jamaah umrah dan haji yang memanfaatkan kereta api itu. Malah, Angkatan bersenjata Turki pun memanfaatkan kereta api itu untuk mengangkat pasukan Turki dan perbekalan mereka. Akibatnya, ketika Perang Dunia I meletus dan Turki mendukung Jerman, Inggris memprovokasi orang-orang Badui dan orang-orang yang tak senang untuk melakukan sabotase atas Hijaz Railway, dengan menghancurkan 80 jembatan dari sekitar 2.000 jembatan yang membentang di jalur kereta api itu, 17 lokomotif, dan berpuluh-puluh kilometer rel di jalur itu. “Proyek sabotase” yang digalang Inggris itu di bawah pimpinan T.E. Lawrence yang lebih terkenal dengan sebutan Lawrence of Arabia. Akibatnya, selepas sekitar sepuluh tahun beroperasi, jalur kereta api itu pun menjadi mangkrak.

Pada awal 1357 H/1938 M muncul upaya untuk menghidupkan jalur Hijaz Railway itu yang kini hanya beroperasi antara Damaskus-Amman saja. Tapi, upaya itu kemudian meredup. Pada 1375 H/1955 M, Raja Ibn Saud juga berusaha menghidupkan jalur itu. Tetapi, lagi-lagi usaha itu tidak berhasil. Kemudian, pada 1386 H/1966 M, usaha itu mencuat kembali. Sayang, terjadinya Perang 6 Juni 1967 M, antara negara-negara Arab dan Israel, membuat upaya itu meredup. Usaha itu kian melemah selepas terbangunnya moda-moda transportasi lainnya: bus dan pesawat terbang. Meski demikian, kini  timbul kembali upaya untuk menghidupkan jalur kereta api itu. Misalnya, pameran foto-foto Hijaz Railway yang diadakan di Turki pada 1429 H/2008 M. Dalam pameran itu, ditampilkan 80 foto eksklusif Hijaz Railway yang dimiliki Sultan ‘Abdul Hamid II.

Sebuah pelajaran indah tertoreh lewat proyek Hijaz Railway: manakala suatu proyek dilaksanakan  penuh amanah, rakyat biasanya tidak akan segan-segan mengulurkan tangan untuk membantu terealisasikannya proyek tersebut. Semoga, Proyek MRT Jakarta juga dilaksanakan dengan sikap yang sama. Sehingga, tidak hanya satu jalur saja yang segera terbangun. Tetapi, dengan dukungan rakyat, pelbagai jalur segera pula terbangun. Kiranya demikian, amin. 

Wednesday, October 9, 2013

KITA TIDAK SENDIRIAN

Pak Rofi’, mohon doakan saya! Saya gak ingin gagal lagi, Pak. Tapi, masalahnya ada saja, gak selesai-selesai. Saya capek, Pak.”

Itulah bunyi sebuah pesan singkat dari seorang sahabat yang masuk ke telpon genggam saya, beberapa hari yang lalu. Gelisah, resah, dan tidak berdaya, malah, kadang, disertai amarah karena merasa semua orang menjauh, itulah suasana hati dan pikiran yang kerap menyergap diri kita kala kita sedang menghadapi suatu persoalan yang berat dan seakan tiada jalan keluar baginya. Malah, kadang, kita merasa tiada siapa pun yang menyertai dan mendampingi kita. Ketika kita dalam suasana hati yang demikian, mungkin ada baiknya kita menyimak sejenak keresahan, kegelisahan, dan rasa tidak berdaya yang pernah dialami Rasulullah Saw. menjelang beliau berhijrah ke Yatsrib yang kini disebut Madinah.

Kala itu, meerasa Makkah bukan tempat yang baik bagi perkembangan Islam, Rasulullah Saw. mulai berpikir untuk mencari lingkungan lain yang dapat menerima agama Islam tanpa penentang yang terlalu keras. Salah satu kabilah yang paling penting di Semenanjung Arab setelah kaum Quraisy adalah Bani Tsaqif di Thaif. Selain itu, mereka  juga memiliki hubungan kekerabatan yang dekat dengan kaum Quraisy. Beliau berpikir, barangkali dakwah Islam akan disambut dengan baik di kota yang menjadi pusat penyembahan berhala Al-Lat itu. Karena itu, di suatu hari di akhir bulan Syawwal tahun kesepuluh kenabian, sekitar sebulan selepas Khadijah wafat, beliau berangkat ke Thaif. Meski tidak seramai Makkah, Thaif terletak di daerah yang lebih subur dan berudara sejuk. Ketika mendekati kota yang terkenal dengan buah anggurnya yang manis itu, beliau harus melintasi kebun-kebun luas. Beberapa anggota Bani ‘Abd Syams dan Bani Hasyim memiliki tempat peristirahatan di sana.

Di  Thaif, Rasulullah Saw. menghubungi pemuka-pemuka Bani Tsaqif, yaitu putra-putra ‘Amr bin ‘Umair: ‘Abd Yalil, Mas‘ud, dan Habib, dan menyeru mereka agar memeluk Islam dan bersedia melindungi kaum Muslim dari musuh-musuh mereka. Selama sepuluh hari di sana, tidak seorang pun pemuka Bani Tsaqif yang terlewatkan oleh beliau. Tapi, hasilnya nihil. Para pemuka Thaif  mencemooh pernyataan beliau sebagai Nabi. Mereka mempertanyakan, jika beliau benar-benar seorang Nabi, mengapa Tuhan membiarkan Utusan-Nya mengemis dukungan dari kabilah-kabilah asing! Tiga bersaudara dari Bani Tsaqif itu tidak saja menolak risalah beliau. Tetapi, mereka juga menggerakkan masyarakat untuk menentang beliau.

Rasulullah Saw. pun pergi dengan diiringi hinaan dan anak-anak yang melempari beliau dengan batu. Kian lama kian banyak orang yang mengerubungi dan mencibir beliau. Akhirnya, beliau yang dalam keadaan terluka parah berlindung di dalam sebuah kebun milik ‘Utbah bin Rabi‘ah dan saudaranya, Syaibah, untuk menghindari kejaran orang-orang itu. Di tengah kesendirian, di bawah naungan pohon anggur, tanpa perlindungan dari sesamanya, beliau berpaling kepada Allah Swt. dan hanyut dalam doa yang berisi pengaduan:

Ya Allah, hanya kepada-Mu kuadukan kelemahan dan kekurangan diriku serta ketidakberdayaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Maha Penyayang di atas para penyayang, Engkau, Tuhanku, adalah Tuhan orang-orang yang lemah. Ke tangan siapakah Engkau menggiring diriku? Ke tangan orang-orang asing yang akan mencelakai diriku? Atau kepada musuh yang telah Engkau berikan kekuasaan atas urusanku? Aku tidak menyimpan rasa takut selama Engkau tidak murka kepadaku. Namun, dukungan-Mu dapat membukakan jalan yang lebih lapang dan cakrawala yang lebih luas untuk diriku. Aku mencari perlindungan di bawah sinar wajah-Mu, yang dapat memendari kekelaman dan menyelesaikan segala urusan di dunia dan di akhirat kelak, sehingga aku tidak mengundang amarah-Mu dan tidak tersentuh murka-Mu. Sungguh, tiada daya dan kekuatan apa pun selain atas perkenan-Mu.”

Ya, adakah tempat  mengadu yang lebih baik dan lebih layak dari Yang Maha Esa dan Pemberi Keyakinan? Tentang doa yang dipanjatkan Rasulullah Saw. yang dalam kondisi fisik dan psikis yang sangat tertekan itu, Tariq Ramadan, dalam karyanya In the Footsteps of the Prophet: Lessons from the Life of Muhammand, menulis, “Pertanyaan dalam doa beliau itu tidak mengisyaratkan keraguan terhadap risalah yang diembannya. Tetapi, hal itu dengan jelas menyuarakan ketidakberdayaan beliau sebagai manusia. Juga,  ketidaktahuan beliau akan maksud dan tujuan Allah. Di saat seperti itu, ketika jauh dari orang lain, dalam kebeningan iman dan keyakinannya kepada Yang Maha Penyayang, beliau benar-benar meletakkan diri sepenuhnya dalam genggaman Allah. Dalam hal ini, doa beliau mengungkap semua kepercayaan diri dan ketenangan jiwa yang beliau peroleh dari hubungan beliau dengan Yang Mahadekat. Doa yang sangat terkenal itu melukiskan kelemahan manusia dan kekuatan ruhaniah Rasulullah Saw. yang luar biasa. Dalam kesepian dan tanpa pertolongan, Nabi tahu beliau tidak sendirian.”

“Dalam kesepian dan tanpa pertolongan, Nabi tahu beliau tidak sendirian,” sejatinya merupakan ungkapan yang juga berlaku bagi kita. Dengan kata lain, pada saat dalam kondisi apa pun, termasuk dalam kondisi dan suasana hati yang paling menyedihkan sekali pun, sejatinya kita tidaklah sendirian: sejatinya Allah Swt. Yang Mahadekat senantiasa mendampingi kita. Hanya, kita saja yang kerap tidak menyadari kehadiran-Nya bersama kita!


Monday, October 7, 2013

JABATAN INI AKAN MEMBUAT SAYA BERDUSTA

Beberapa hari yang lalu, usai melaksanakan shalat Zhuhur, entah kenapa mata saya terasa berat sekali. Tidak lama kemudian, tanpa saya sadari sama sekali, saya terlempar jauh ke masa silam. Ya, jauh sekali, ke masa sekitar abad ke 2 H/8 M. Yang lebih mengherankan lagi, tiba-tiba saya seakan berada di Kufah, Irak. Jauh sekali. Berada di sebuah kota yang pertama kali dibangun kaum Muslim itu, saya pun kebingungan. Kebingungan saya kian membuncah setelah saya menyadari, ternyata saya tiba-tiba hidup di masa silam: tujuh abad yang lalu. Karena kebingungan, saya kemudian segera menuju Masjid Raya Kufah. Selepas melaksanakan shalat Tahiyyah Masjid di sana, eh saya melihat seseorang berusia lanjut berwajah tampan dengan “nuansa” Afghanistan dan memancarkan kewibawaan, sedang duduk tidak jauh dari mihrab masjid serta dikitari banyak orang.

Melihat sekilas penampilan orang itu, entah kenapa saya merasa, orang itu adalah seorang ulama besar. Menyadari hal yang demikian, saya kemudian segera mendekati mereka dan duduk di belakang mereka. Tidak lama duduk di situ, saya mendengar tokoh yang satu itu berucap pelan, “Saya akan menolak jabatan qâdhî (hakim) ini.”
“Bagaimana cara menolak tawaran itu, Tuan Guru,” tanya salah seorang di antara hadirin kala itu.
“Caranya sedang saya pikirkan,” jawab ulama yang dipanggil Tuan Guru itu, dengan nada suara yang sangat berwibawa. “Saya akan temui langsung penguasa itu di Baghdad. Saya tidak akan melarikan diri dari penguasa itu, seperti yang dilakukan saudaraku Sufyan Al-Tsauri. Juga, saya tidak akan pura-pura gila, seperti yang dilakukan saudaraku yang lain, Mis‘ar ibn Kidam. “
“Tuan Guru,” sergah salah seorang yang hadir kala itu, “sebaiknya jangan Anda lakukan ide itu. Lebih baik Anda menjauh ke negeri yang jauh. Sebab, penguasa kita saat ini tidak pernah mau mendengar ada orang yang menolak penawarannya. Bisa-bisa Tuan Guru dijatuhi hukuman berat.”
“Saya lebih baik dijatuhi hukuman daripada menjadi seorang pendusta, saudaraku,” jawab ulama yang dipanggil Tuan Guru itu.

Tidak lama kemudian, Tuan Guru itu menuju Baghdad. Penasaran dengan apa yang bakal terjadi, saya pun ikut dengan rombongan yang mengantarkan Tuan Guru itu menuju ibu kota Dinasti ‘Abbasiyyah kala itu. Setiba di kota itu, Tuan Guruyang senantiasa mengenakan busana terbaiknya ketika shalat itu kemudian menuju istana. Mengetahui kedatangan sang ulama, penguasa yang tinggal di istana itu pun menyambut kedatangannya dengan penuh kemegahan.

Kemudian, selepas berbagi sapa beberapa lama, Tuan Guru itu berucap dengan suara yang sangat berwibawa, “Amir Al-Mu’minin, kiranya Allah Swt. menganugerahkan kebijakan kepada Anda. Saya sudah menerima surat Anda yang berisi penawaran untuk menjabat hakim. Namun, sungguh, saya tidak kuasa menduduki jabatan itu.”
“Tuan Guru! Engkau harus bersedia menerima tawaran itu!” sergah sang penguasa.
“Wahai Amir Al-Mukminin,” jawab ulama yang kelak, ketika berpulang ke hadirat  Allah Swt., di usia tujuh puluh  tahun  pada 150  H/767 M, diantar ribuan anak manusia yang mencintainya  dan menghormatinya. “Saya bukan orang Arab. Para pemuka Arab tentu tidak akan menerima keputusan-keputusan yang akan saya tetapkan sebagai qâdhî. Karena itu, saya merasa bahwa saya tidak cocok dengan jabatan itu.”
“Tuan Guru!” sahut sang penguasa. “Jabatan itu tiada kaitannya dengan masalah keturunan. Tetapi, jabatan itu berkaitan dengan keahlian. Dan, engkau adalah seorang ulama terkemuka di masa ini!”
“Wahai Amir Al-Mukminin,” sahut sang ulama, dengan nada suara yang bijak. “Saya telah memutuskan, sepenuh hati, bahwa saya tidak kuasa menduduki jabatan itu. Jabatan itu akan menyebabkan saya menjadi seorang pendusta. Manakala saya menjadi seorang pendusta, tentu saya tidak pantas menduduki jabatan itu. Sedangkan jika saya menjadi orang yang jujur, saya telah menjelaskan kepada Anda, wahai Amir Al-Mukminin, saya tidak pantas menduduki jabatan itu.”

Mendengar penolakan demikian, amarah sang penguasa pun meledak. Ia pun memerintahkan agar ulama itu dihukum dera. Benar saja, ulama yang telah berusia lanjut itu pun dihukum dera hingga mencapai bilangan seratus tiga puluh cambukan. Saat itu, keluarlah ‘Abdurrahman ibn ‘Ali ibn ‘Abdullah ibn Al-‘Abbas ibn ‘Abdul Muththalib, pamanda sang penguasa, seraya berteriak kepada kemenakannya itu, “Wahai Amir Al-Mukminin! Engkau telah menghunus seratus ribu pedang yang mengancam jiwamu. Tokoh itu adalah seorang ulama kondang penduduk negeri bagian timur. Dia dihukum dengan cambuk tanpa dosa. Tidakkah engkau takut akan siksaan yang datang dari langit?”

Menerima sergahan keras demikian, sang penguasa pun memerintahkan seorang pejabat agar melepaskan Tuan Guru dari bui. Mendengar sergahan keras itu, saya pun terbangun dari mimpi. Ternyata, saya tidak sedang berada di Baghdad Darusalam. Tapi, saya sedang berada di Bandung. Dan, ternyata, apa yang saya alami tadi adalah mimpi belaka.


Wednesday, October 2, 2013

DAN, MUHAMMAD PUN MENJADI YATIM-PIATU

Entah kenapa, ketika membaca “gerakan” sebagian para jamaah haji dari Makkah menuju Madinah, tadi pagi, tiba-tiba yang muncul dalam benak saya justru kisah Nabi Muhammad Saw. ketika muda usia: ketika tiba-tiba dia menghadapi kenyataan yang sangat perih. Ya, sangat perih, karena ibundanya berpulang tidak lama selepas “menjenguk” makam ayahandanya, ‘Abdullah ibn ‘Abdul Muththalib. Membayangkan suasana hati Muhammad muda usia itu, tiba-tiba bibir saya bergumam, sangat pelan, “Wahai Muhammad, betapa berat derita yang engkau lintasi sejak engkau lahir.”

Menjadi yatim sejak lahir dan menjadi yatim-piatu ketika baru berusia sekitar 6 tahun, itulah “nasib” yang dialami Muhammad. Kini, mari kita simak kembali perjalanan hidup Muhammad ketika kehilangan ibundanya, Aminah binti Wahb.

Setelah sekitar lima tahun tinggal bersama keluarga Halimah Al-Sa‘diyyah, Muhammad tumbuh sehat dan berkembang pesat walau ia harus menjalani kehidupan orang Badui di alam  tandus nan keras dan sejauh memandang hanya terlihat hamparan pemandangan yang menyadarkan hati tentang kerapuhan manusia serta menggugah diri untuk merenung dan menyendiri. Selama masa kecil di lingkungan Bani Sa‘d ini tidak terjadi sesuatu yang layak dicatat sebagai peristiwa besar, kecuali suatu peristiwa yang di kemudian hari terkenal dengan nama “Peristiwa Pembedahan Dada”.

Tentang peristiwa pembedahan dada itu dituturkan, ketika Muhammad berusia empat tahun, dua malaikat membuka dadanya dan menyucikannya dengan salju. Ini berarti batinnya telah dimurnikan di usia muda oleh malaikat Allah Swt. Selepas itu, ia didudukkan di atas timbangan dan ditimbang terhadap orang-orang biasa. Berapa pun banyaknya orang yang ditambahkan di sisi lain timbangan tersebut, ternyata ia masih saja lebih berat. Ini berarti, dialah yang paling penting dalam pandangan Allah Swt. dan kelak ia akan membimbing umatnya ke jalan-Nya.

Selepas beberapa tahun tinggal di lingkungan gurun pasir nan kerontang, Muhammad kecil pun pulang ke Makkah untuk menjumpai ibundanya tercinta yang senantiasa sangat merindukannya. Juga, sang kakek yang senantiasa memandang cucunya yang yatim itu sebagai pengganti putranya yang telah berpulang. Tentu, ibundanya sangat bahagia menerima kembali putra tunggalnya itu.

Tidak lama selepas itu, sang ibunda mengajak putra tersayang itu, disertai Ummu Aiman, berangkat meninggalkan Makkah dan menempuh perjalanan sekitar empat ratus lima puluh kilometer ke Yatsrib, untuk mengenalkan putranya tersebut dengan kaum kerabat ibunda kakeknya, di samping berziarah ke makam ayahandanya, ‘Abdullah ibn ‘Abdul Muththalib, yang dimakamkan di sana.

Aminah binti Wahb bukannya tidak tahu betapa sulitnya perjalanan yang akan ditempuhnya itu: mengarungi padang pasir nan kerontang dengan pasir-pasirnya yang membatu. Juga, ia bukannya tidak tahu pelbagai kesulitan yang kerap dialami oleh mereka yang melintasi jantung padang pasir dengan lembah-lembahnya nan sunyi dan tanah tandusnya yang menggetarkan hati. Namun, kerinduannya untuk berkunjung ke Yatsrib dan berziarah ke makam suaminya sedemikian kuat, sehingga kuasa menundukkan pelbagai kesulitan yang sejatinya merupakan semacam siksaan. Ya, istri mana yang tidak ingin mengetahui dan mengunjungi makam sang suami tercinta yang tidak pernah dikunjunginya semenjak sang suami berpulang.

Setiba  mereka  di  Yatsrib, kepada  anak  itu diperlihatkan rumah tempat ayahandanya meninggal dulu serta tempat ia dikuburkan. Itu adalah yang pertama  kalinya Muhammad merasakan  sebagai  anak yatim. Dan, barang kali, ibundanya juga pernah menceritakan dengan panjang lebar perihal sang ayahanda tercinta,   yang   selepas beberapa  waktu  tinggal  bersama, kemudian meninggal dunia di tengah-tengah pamandanya dari  pihak ibu.  Selepas  berhijrah ke Kota Suci, Rasulullah  Saw. pernah menceritakan kepada para sahabat kisah perjalanannya yang pertama ke Yatsrib dengan  ibundanya itu. Kisah yang penuh cinta pada Yatsrib dan kisah yang penuh duka orang yang ditinggalkan keluarganya.

Sang ibunda dan putranya itu tinggal di Yatsrib, di lingkungan sanak kerabat, sekitar satu bulan. Di kota itu, Muhammad kecil sempat memanfaatkan waktunya untuk belajar berenang di kolam pemandian. Dan, ketika mereka dalam perjalanan pulang dari Yatsrib menuju Makkah, tiba-tiba badai kencang menghajar rombongan yang sedang di tengah perjalanan itu dengan suhu udara yang tinggi membakar, sehingga menyebabkan pasir-pasir di sekeliling mereka beterbangan laksana bunga api yang membara. Perjalanan jadinya terpaksa dihentikan selama beberapa hari, menanti redanya badai itu dan mengendap kembalinya pasir-pasir yang diterbangkannya. Tetapi, tidak lama kemudian Aminah merasa, daya tahan tubuh dan kondisi psikisnya runtuh serta tidak lagi kuasa lagi menghadapi beratnya perjalanan yang sangat meletihkan itu. Dan, ketika merasa perjalanan hidupnya di dunia yang fana ini akan usai, Bunga Quraisy yang masih muda usia itu pun mendoakan, dalam bentuk puisi, putranya yang ada di dekapannya:

Wahai putra seorang ayahanda yang telah tiada selamanya
Ayah yang selamat dari sembelihan karena pertolongan Yang Mahabijaksana
Ditebus dengan penyembelihan seratus unta
Wahai putraku, kiranya Allah memberkahimu, selamanya

Tidak lama kemudian Aminah binti Wahb berpulang di usia muda.  Dan, kemudian, Ummu Aiman membungkus tubuh yang telah terbaring membujur itu, menutup wajah yang telah lesu itu, dan memejamkan kedua mata yang telah padam itu. Sedangkan Muhammad kecil hanya kuasa mengikuti pelayannya yang berkulit hitam sangat legam itu dengan menundukkan kepala dan pasrah, menghadapi kenyataan tentang kematian ibundanya tercinta. Mereka kemudian membawa jenazah itu menuju Abwa’, untuk dikebumikan di tempat pembaringannya yang terakhir. Innâ lillâhi wa innâ ilaihi râji‘ûn!

Lengkaplah kini Muhammad sebagai anak yatim-piatu. Tanpa ayahanda dan ibunda yang membimbingnya dan mengasihinya. Muhammad kemudian dibawa  pulang  oleh  Ummu  Aiman,  yang kini menjadi “ibunda pengganti” yang senantiasa menyertai Muhammad  hingga berpulang di usia enam puluh tiga tahun kelak, ke  Makkah. Pulang menangis dengan hati yang pilu dan kini hidup sebatang kara.

Muhammad kecil, sebagai anak yatim, kian merasa kehilangan. Terasa olehnya hidup yang kian sunyi,  kian  kelam, dan kian perih.  Baru  beberapa hari   yang   lalu  ia  mendengar  dari  sang ibunda  keluhan  duka kehilangan ayahanda semasa ia masih dalam kandungan.  Kini,  ia melihat  sendiri  di hadapannya,  sang ibunda pergi untuk tidak kembali lagi, seperti ayahandanya dulu.  Tubuh  yang  masih  kecil  itu  kini mendapat cobaan dan ujian memikul beban hidup yang berat, sebagai yatim-piatu. Akibatnya, dampak kenangan sedih sebagai anak yatim-piatu itu menggores dalam sekali di jiwanya. Sehingga, belakangan Al-Quran menuturkan kondisinya itu berikut pelajaran-pelajaran ruhaniah yang terkait dengan pengalaman hidup di padang pasir, Bukankah Dia mendapati engkau sebagai anak yatim, lantas Dia melindungi? Dan Dia mendapati engkau tidak tahu jalan, lantas Ia memberi bimbingan? Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. Karena itu, janganlah engkau berlaku sewenang-wenang terhadap anak yatim, tidak menghardik orang yang minta-minta, dan  hendaklah engkau senantiasa bersyukur terhadap nikmat Tuhanmu. ” (QS Al-Dhuhâ [93]: 6-11).

Betapa getir kisah hidup Muhammad belia. Kala baru berusia sekitar enam tahun dia telah menjalani pengalaman getir tidak berayah, kemiskinan, kesendirian, dan kematian ibunda tercinta. Namun, di sepanjang perjalanan hidupnya dia senantiasa menemukan tanda-tanda takdir yang–melalui manusia dan lingkungan-menemani  dan mempermudah perkembangan dan pendidikan dirinya.


Saturday, September 21, 2013

MANNEKEN PIS PUN PERNAH MEMAKAI BLANGKON DAN SURJAN:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (9)

Waduh, ini sih “rapat gelap” ketiga namanya! Belum sehari semalam di Kota Brussels harus menghadapi tiga “rapat gelap”, hehehe.”

Itulah gumam pelan bibir saya ketika tiba di Kedutaan Besar Republik Indonesia di Brussels dan kemudian menghadiri jamuan makan siang bersama Pak Dubes Brussels di sebuah restoran yang terletak di Boulevard de la Woluwe.  Ternyata, lokasi restoran maupun gedung KBRI Brussels hanyalah sekitar sepuluh menit dari rumah Mas Andi Yudha Asfandiyar dan terletak di kampung yang sama.

Lantas, setelah duduk di kursi yang disediakan, dan melihat hadirin dan hadirat yang ada di situ, saya sudah memperkirakan, “rapat gelap” itu akan berlangsung lama. Namun, segera saya menyadari, pertemuan siang itu sangat penting dan positif, meski hasilnya mungkin baru dapat “dipanen” beberapa tahun kemudian. Lagi pula, selepas “mengintai” dan “mencermati” satu demi satu di antara hadirin dan hadirat yang ada di situ saat itu, juga isi perbincangan mereka, hati saya pun menjadi tenang: tidak jadi ‘kluyuran’ di seputar Kota Brussels pun tidak apa. Mereka semua  adalah orang-orang yang sedang berpikir keras, secara positif, demi negeri tercinta yang berada nun jauh di selatan. Mereka adalah orang-orang yang mencintai Indonesia tanpa mengharapkan imbalan apa pun dari negeri yang sedang mereka pikirkan nasib dan masa depannya. “Mungkin, para anggota dewan terhormat di Senayan pun tidak pernah berpikir sejauh yang sedang dipikirkan hadirin dan hadirat ini. Pernahkah para anggota dewan itu memikirkan, bagaimana cara menembus lebih jauh HTCE dan mendekati industri-industri canggih tingkat dunia, untuk kepentingan Indonesia, seperti yang sedang dipikirkan hadirin dan hadirat ini?” demikian protes hati saya saat itu.

Kemudian, ketika kian tahu tentang latar pendidikan hadirin dan hadirat saat itu, hati saya pun merasa “plong”. Dapat dikatakan, mereka semua berlatar pendidikan bagus dan memiliki “track record” bagus pula. Mereka semua berpendidikan pascasarjana, dengan latar belakang beragam: Institut Teknologi Bandung, Universitas Indonesia, TSM School, Belanda, Universitas Padjadjaran, Bandung, Universitas Toulouse, Perancis, dan Universitas Harvard, Amerika Serikat, di samping memiliki pengalaman kerja yang cukup bagus. Mereka berpandangan, “kini saatnya anak-anak Indonesia tampil di pelbagai industri canggih tingkat dunia. Betapa kerap kami, sebelum ini, dipandang sebelah mata. Namun, ternyata, kami dapat membuktikan, kami pun dapat menangani dan mengelola industri-industri canggih itu. Kini saatnya kami buktikan, anak-anak Indonesia pun mampu menangani industri-industri canggih. Di bidang apa pun.”

Setelah sekitar dua jam menikmati pelbagai hidangan, saya lihat Mas Andi Yudha Asfandiyar pamitan. Dia akan memimpin suatu kegiatan yang melibatkan anak-anak Indonesia di Kota Brussels. Dan, akhirnya, Pak Dubes pun menutup acara makan siang hari itu. Waktu, saat itu, telah menunjuk sekitar pukul 15.30. Kami pun segera pamitan kepada tuan rumah yang telah mengundang kami untuk menikmati makan siang. Meski hanya sebentar, dan sebelum kembali ke Eindhoven, dan kemudian balik ke Amsterdam, kami ingin menengok Grand-Place/Grote Markt dan Manneken Pis serta Menara Atomium.

Segera, dengan naik dua mobil, kami bertujuh bergerak menuju ke “jantung” Kota Brussels, Grand-Place de Bruxelles (dalam bahasa Perancis) atau Grote Markt  van Brussel (dalam bahasa Belanda), pusat Kota Brussels yang telah berusia lebih dari seribu tahun lebih. Kali ini, yang menjadi tour leader adalah sahabat kami yang seorang direktur perusahaan engineering di Brussels. Penunjuk jalan kami ini adalah seorang doktor di bidang penerbangan yang “warga” Brussels, Dr.Ing. Aji Purwanto. Dan, setelah menembus pelbagai jalan Kota Brussels, akhirnya kami tiba di jantung Kota Brussels.  Setelah Mas Aji Purwanto dan Mas Latif Gau memarkir mobil yang kami naiki, kami kemudian bergegas menuju “Alun-Alun” (kira-kira pas gak ya disebut demikian) Kota Brussels. “Alun-Alun” berbentuk persegi itu dikitari gedung-gedung indah yang bergaya gotik. Waktu yang terbatas membuat kami tidak lama di tempat itu.

Mas Aji Purwanto kemudian mengajak kami menyusuri Rue de l’Etuve. Setelah melintas perempatan Lombardstraat, akhirnya ketika tiba di perempatan berikut, di pojokan sebelah kiri kami ada sejumlah orang bule sedang mengitari pojokan itu. Ternyata, di situ terdapat sebuah patung berukuran kecil. Itulah Manneken Pis yang kondang di seantero dunia. Saya sendiri tidak habis pikir, kenapa patung anak kecil itu begitu terkenal. Ketika kami datang, patung yang dirancang Jerome Duquesnoy itu sedang mengenakan seragam tentara. Saya tidak tahu, seragam tentara mana yang dikenakannya saat itu. Kami kemudian berdiri di samping pagar yang membatasi sudut tempat si Manneken Pis berada.

Tidak lama kemudian, seorang laki-laki dengan mambawa tangga mendekati Manneken Pis. Segera, orang itu melukar seragam tentara yang dikenakan si Manneken Pis dan membuatnya telanjang. Alias tanpa baju apa pun, hehehe. Melihat hal itu, Mas Aji Purwanto berucap, “Manneken Pis ini juga pernah lo pakai blangkon dan surjan.”
“Yang bener saja?” kata Ibu Latifah (istri Mas Toyibi).
Bener kok, Mbak,” sahut saya. “Mbak gak melihat foto si Manneken Pis yang dipasang di ruang tamu Mas Andi? Di foto itu, patung itu memakai blangkon dan surjan lo.”

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terdengar bunyi, “cur, cur,cur”, eh baju saya dan Dik Harca pun basah. Ternyata, setelah si Manneken Pis yang telanjang pipis kencang dan pipisnya membasahi baju saya dan Dik Harca. “Sialan, itu mesti ulah bapak yang mengganti bajunya tadi,” gerutu Dik Harca. Ketika saya melihat si bapak itu, orang itu hanya senyum-senyum saja. Tampaknya, orang itu mencandai kami. Untung saja, pipis si Manneken Pis bukan pipis beneran, tapi air biasa, hehehe.  

Setelah puas “berkenalan” dengan Manneken Pis yang telanjang dan kedinginan, hehehe, kami kemudian “digiring” (kaya bebek saja, hehehe) menuju Galeries Royales St. Hubert. Itulah pusat pertokoan paling bergengsi di Belgia. Di situ, beberapa orang di antara kami membeli cokelat di Toko “Pierre Marcolini Haute Chocolaterie”. Saya dan istri, yang tidak tertarik dengan cokelat, kemudian berfoto saja. Itu saja.

Usai dari Galeries Royales St. Hubert, kami kemudian diajak menuju Menara Atomium, sebuah ikon Kota Brussels yang dirancang André Waterkeyn. Menara yang terletak di pinggir Kota Brussels itu, di kawasan Heysel Park, terdiri dari sembilan bola baja raksasa (berdiameter 18 meter) yang membentuk struktur inti sebuah kristal. Sembilan bola raksasa itu tegak dengan bertumpu pada satu bola utama yang dilengkapi tiga tiang penunjang. Menakjubkan, meski menara itu dibikin untuk menyambut Expo 1958.

Di dekat Menara Atomium itulah kami kemudian berpisah dengan Dr. Ing. Aji Purwanto. Kami berenam kemudian melanjutkan perjalanan menuju Eindhoven, Belanda. Dan, setiba di Eindhoven, betapa terasa nikmatnya ketika berada di rumah Mas Latif Gau, ketika kami mendapatkan hidangan soto kudus dan kolak yang disiapkan istri Mas Latif Gau, Mbak Lili. Matur suwun sanget, Mbak. Lantas, setelah shalat, kemudian kami segera menuju Stasiun Eindhoven Centraal. Di stasiun itulah kami berpisah dengan Dik Harca dan Mas Latif.

Kemudian, setiba di Stasiun Amsterdam Centraal pukul 22.30, saya dan istri pun berpisah dengan Mas Toyibi dan istri yang melanjutkan perjalanan menuju Schiphol International Airport. Dan, hari berikut, Kamis 5 September 2013, saya dan istri kembali ke Negeri Tercinta. Entah kenapa, ketika saya menapakkan kedua kaki ke dalam perut pesawat terbang KLM, yang kemudian membawa kami menuju Jakarta dengan masa tempuh 14 jam, sebuah lagu merdu yang dinyanyikan Said Efendi, Nun Jauh di Sana, terngiang-ngiang di telinga saya:

Nun jauh di sana            
Di lembah Tanah Airku
Melambai bunga sekuntum
Berseri mewangi menghiasi ibu

Nun jauh di sana
Di lembah tanah nan hijau
Tersenyum bunga pujaan
Membisiki hatiku mengapa di rantau

Air mataku titik berlinang
Dusunku terkenang-kenang
Hasratku ingin segera kembali pulang
Ke pangkuan ibundaku sayang

Terasa betapa kurindu
Akan bunga nan indah ayu
Hasratku ingin segera menjelma kupu
Terbang malam menjelang kasihku.


THE END

Friday, September 20, 2013

“RAPAT GELAP” DADAKAN DI WOLUWE, BRUSSELS:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (8)

Neng, di mana kita ini?” tanya saya kepada istri, ketika terbangun dari tidur selepas melaksanakan shalat Subuh pada Rabu, 4 September 2013. Kami, karena sangat mengantuk, memang melanjutkan “perjalanan tidur” kami setelah sebelumnya baru memejamkan mata sekitar pukul 02.30 dini hari.
“Lo, bukankah kita di rumahnya Mas Andi Yudha,” jawab istri. “Kenapa gitu?”
“Kok saya mendengar lagu-lagu Indonesia. Mendengar lagu-lagu merdu dan syahdu itu kok membuat saya kangen sama Tanah Air.”
“Itu kan lagu-lagunya Iwan Abdurahman. Saya suka dengan lagu-lagu dia. Mungkin, Mas Andi sudah bangun dan sedang menyetel lagu-lagu itu. Yuk, kita bangun.”

Segera, saya sadar, kalau kami sedang berada Saint-Pierre, Woluwe, Brussels, di rumah sahabat akrab kami, Mas Andi Yudha Asfandiyar, mantan CEO Penerbit Mizan, dan Mbak Sinta Rismayani, Atase Perindustrian Republik Indonesia untuk Brussels, Luxemburg, dan Uni Eropa. Rumah yang terletak di kawasan elite di Brussels itu terasa sepi sekali. Saat itu, Mbak Sinta Rismayani, istri Mas Andi, sedang bertugas di Polandia. Dari sana, Mbak Sinta akan melanjutkan perjalanannya menuju Rusia. Tugas sebagai seorang atase perindustrian untuk Uni Eropa membuatnya kerap melakukan perjalanan ke pelbagai negara di Benua Eropa. Sedangkan semua anak-anak mereka sedang menimba ilmu di Belanda. Dengan kata lain, saat itu Mas Andi sedang “ngejomblo” alias kesepian dalam kesendirian, hehehe.

Betapa bahagia kami, bersama Mas Toyibi dan istri, dapat berkunjung dan mendapatkan kehormatan dapat menginap di kawasan yang dalam bahasa Belanda disebut  Sint-Pieters-Woluwe itu. Kawasan itu merupakan salah satu dari sembilan semacam “kecamatan” (tentu saja di Belgia gak ada kecamatan) di ibu kota Belgia, Brussels. Kawasan elite yang sepi, bersih, tertata bagus, dan terkelola baik. Namun, kebanyakan para penghuni kawasan itu adalah para pensiunan dan orang-orang yang berusia lanjut. Apa akibatnya? “Jika musim dingin datang,” tutur Mas Andi kepada kami sebelum kami beristirahat pada malam ketika kami datang, “saya selalu was-was jika mendengar bunyi lonceng gereja yang ‘mengumumkan kematian seseorang’. Di musim dingin, lonceng gereja itu lebih kerap dibunyikan ketimbang di musim panas seperti saat ini, karena sebagian besar para penghuni kawasan ini adalah orang-orang yang berusia lanjut. Karena itu, di sini, kita jarang bertemu dengan anak-anak dan anak-anak muda.” Weleh, gak seperti di Baleendah, tempat tinggal kami: dari pagi hingga sore ramai dengan anak-anak.

Usai mandi, kami kemudian berkemas-kemas. Rencananya, kami berempat baru akan dijemput “Tim Eindhoven” sekitar pukul 12.30 siang, untuk “menikmati” Kota Brussels. Mereka akan bertemu dan rapat dulu dengan Dubes RI untuk Belgia, Luxemburg, dan Uni Eropa, Arif Havas Oegroseno. Kami sendiri, setelah berkemas-kemas, sambil menunggu jemputan empat jam kemudian, lantas turun ke lantai satu: ruang tamu. Aha, di situ Mas Andi ternyata sedang menyetel lagu-lagu Indonesia sambil menggambar entah apa. Yang jelas, di depannya bertebaran kertas-kerta yang penuh gambar-gambar hitam putih. Tidak lama kemudian, Mas Toyibi dan istri bergabung. Rasanya, kami saat itu berada di Bandung, bukan di Brussels, hehehe.

Melihat kami berempat sudah “siap tempur”, Mas Andi Yudha Asfandiyar pun menyilakan kami untuk menikmati breakfast, dengan hidangan roti-roti ala “londo”, juice, dan teh hangat. Asyik, lezat sekali roti-roti yang dihidangkan. Seperti halnya ketika kami berkunjung di rumah Mas Aji Purwanto pada malam sebelum itu, dan kemudian ke rumah Mas Latif Gau di Eindhoven, ternyata Mas Andi dan keluarga juga tidak memiliki asisten pembantu rumah tangga. Padahal, sebagai seorang atase, Mbak Sinta (istri Mas Andi) tentunya dapat jatah asisten rumah tangga. “Kami tidak memerlukan asisten pembantu rumah tangga kok,” jawab Mas Andi ketika ditanya mengapa di rumahnya sepi dan tanpa asisten pembantu rumah tangga. “Kami kan hanya berdua. Apalagi saya, atau istri, kan sering tidak berada di rumah. Apalagi, anak-anak tidak tinggal di sini.” Budaya yang bagus dan patut ditiru!

Setelah kami berlima duduk di seputar meja makan, eh “rapat gelap” yang dimulai di rumah Mas Aji Purwanto pun berlanjut. Jika dalam “rapat gelap” di rumah direktur perusahaan engineering itu lebih berkisar tentang bagaimana cara “menaklukkan Eropa”, meski  akhirnya menyenggol masalah “Jokowi for President”, sedangkan “rapat gelap” kami berlima berkisar seputar kreativitas. Tentu saja, perbincangan pagi itu berkaitan dengan  kreativitas untuk anak-anak. Dengan gaya, mimik, dan gerakan kedua tangannya yang khas, “dedengkot” Sanggar PicuPacu Kreativitas itu memaparkan pelbagai kegiatannya yang berkaitan dengan pembinaan kreativitas untuk anak-anak di Indonesia di pelbagai tempat di Tanah Air. Sampai pun selepas Mas Andi bermukim di Kota Brussels.

Meski “disidang”, hehehe, empat orang, Mas Andi dengan gayanya yang ekpresif mampu mempertahankan argumentasi-argumentasinya tentang kreativitas. Malah, ketika Mas Andi menuturkan perilaku seorang penulis yang terkenal dengan gaya nyelenehnya, PB, sebagai contoh salah satu bentuk kreativitas, Mas Toyibi sampai tertawa terbahak-bahak. Padahal, biasanya, dokter spesialis senior yang satu ini selalu tampil serius. Saya yakin, Mas Andi tahu, dirinya “disidang” karena ilmu dan pengalamannya tentang kreativitas untuk anak-anak sedang “dioperasi dan disedot”. Dan, Mas Andi pun tahu, kian banyak ilmu dan pengalamannya dia berikan, kian banyak pula ilmu dan pengalamannya yang dianugrahkan kepadanya. Bukan begitu, Mas Andi.

Tidak terasa, “rapat gelap” itu berlangsung hingga sekitar pukul 10.30. Ketika “rapat gelap” itu menjelang ditutup, “kera ngalam” yang lulusan Jurusan Desain Grafis, Institut Teknologi Bandung itu kemudian menuturkan, jika saat ini dia sedang “didaulat” menjadi Ketua Pelaksana pembangunan sebuah masjid yang diharapkan mampu menampung sekitar 1,000 jamaah di Kota Brussels. Alhamdulillah. Masjid tersebut, menurut pengurus Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia yang satu ini, selain diharapkan dapat menjadi tempat ibadah untuk kaum Muslim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei, juga diharapkan mampu menjadi tempat yang menjadi rahmat bagi semua orang. Tidak hanya bagi kaum Muslim saja, tapi juga bagi kaum non-Muslim. Dengan kata lain, setiap Muslim yang hadir di masjid itu merasa nyaman, krasan, dan membuat “orang-orang lain” pun merasa nyaman dan hormat dengan kehadiran mereka dan masjid itu. “Dana yang diperlukan sekitar 250,000,- euro,” tutur Mas Andi. “Saat ini, dana yang terkumpul baru sekitar 70,000,- euro.” Nah, jika Anda ingin ikut membangun “sebuah gedung indah dalam surga”, silakan kontak Mas Andi selaku Ketua Pelaksana pembangunan masjid di Brussels itu. Paling tidak, dengan doa, kiranya masjid yang menjadi rahmatan lil ‘alamin itu segera terealisasi, amin.

Ketika “rapat gelap” itu diakhiri, Mas Andi Yudha Asfandiyar kemudian bercerita, salah satu ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan di Brussels adalah teknik melukis sekali gores tanpa henti. Salah satu karyanya, dengan teknik sekali gores tanpa henti, adalah karya lukisnya yang dia taruh di depan meja kerjanya. “Mas Andi ini orang hebat,” gumam saya dalam hati ketika melihat Mas Andi sedang mempraktikkan cara dia melukis sekali gores. “Selain bisa melukis, dia juga piawai mendongeng dan menjadi motivator ulung dalam menanamkan dalam kalangan orang tua tentang pentingnya  kreativitas untuk anak-anak. Kiranya Allah Swt. senantiasa melimpahkan kepadanya kesehatan dan kemampuan dalam merealisasikan cita-citanya, amin.”

Usai berbincang dan bertukar pikiran dengan Mas Andi Yudha Asfandiyar, kami berempat kemudian berjalan-jalan di seputar kompleks tempat kediaman Mas Andi dan keluarga, Saint Pierre-Woluwe. Saat itu, di kompleks yang “dihiasi” dengan sebuah gereja yang disebut “Eglise Sainte-Alix”, atau dalam bahasa Belanda disebut “Sint-Aleidiskerk”, itu sedang ada pasar kaget. Ternyata, di Brussels pun juga ada pasar kaget. Yang menarik, baik di pasar itu, maupun di seputar kompleks yang kami datangi, tidak banyak anak-anak muda. Apalagi anak-anak kecil yang berlari-lari ke sana ke mari. Kayaknya, Benua Eropa saat ini sedang defisit anak-anak kecil, hehehe.

Kemudian, sekitar pukul 12.30 waktu Brussels, satu mobil Audi Q7 dan satu mobil Toyota Highlander Hybrid datang ke rumah Mas Andi. Ternyata, Mas Adi Purwanto dan Mas Latif Gau yang datang. Mereka meminta kami berlima supaya segera bersiap menuju Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Brussels, untuk menikmati makan siang bersama Bapak Dubes. Menerima kehormatan demikian, saya pun berkata kepada Mas Latif Gau, “Bagi saya, ini merupakan kramat gandul.”
“Apa itu kramat gandul?” tanya Mas Latif, yang sejak muda usia sudah bermukim di Belanda, kebingungan.
“Istilah ‘kramat gandul’ itu semula berkembang dalam kalangan pesantren saja. Mas Latif tentu tahu, ketika seorang kiai mendapatkan undangan, misalnya, biasanya dia didampingi seorang atau beberapa orang santrinya. Lantas, ketika mereka tiba di tempat perhelatan, tentu yang mendapatkan sajian lezat kan tidak hanya sang kiai saja, tapi juga santri atau para santrinya. Mas Latif tentu faham, andaikan si santri atau para santri itu tidak bersama kiai mereka, tentu mereka tidak akan kehormatan yang sama. Iya kan. Nah, dalam kasus ini, saya dapat kramat gandul dari ‘Tim Eindhoven’. Tanpa kehadiran ‘Tim Eindhoven’, tentu saya tidak akan mendapatkan undangan untuk makan siang bersama Bapak Dubes, hehehe.”
“Hahahaha, Pak Rofi’ bisa saja.”


Tidak lama kemudian, kami pun tiba di gedung KBRI Brussels dan kemudian menikmati makan siang di sebuah restoran di samping kanan gedung KBRI tersebut. Terima kasih Bapak Arif Havas Oegroseno, atas kehormatan yang diberikan kepada kami. (Bersambung: “MANNEKEN PIS PUN PERNAH MENGENAKAN BLANGKON DAN SURJAN: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (9). Kisah kluyuran ke pusat kota Brussels).