Thursday, February 19, 2009

Inikah Masjid Nabawi dan Kota Madinah Masa Depan?

“Duh, cantiknya!” 

Itulah ungkapan yang acap terucap dari orang-orang  yang pernah berziarah ke Madinah Al-Munawwarah dan menyaksikan Masjid Nabawi. Memang, dewasa ini, masjid yang kini memiliki luas sebesar Kota Nabi di masa Rasulullah Saw. itu tegak dengan indah dan eloknya serta menjadi landmark utama kota itu. 

Seperti diketahui, menurut torehan sejarah Islam, masjid yang pertama kali dibangun di  Kota Madinah, Arab Saudi  ini ketika pertama kali berdiri hanya memiliki  luas sekitar  4.200  hasta. Masjid yang pembangunannya  dimulai  pada Rabi' Al-Awwal  1 H/September 622 M ini didirikan di  atas  lahan yang  dibeli dari dua anak yatim, Sahl dan Suhail. Pada 7  H/628-629  M,  Nabi Muhammad Saw. memperluas masjid ini  menjadi  10.000 hasta.  Perluasan  selanjutnya pada 17 H/638  M,  yang  dilakukan Khalifah  ‘Umar  bin Al-Khaththab, membuat  masjid  ini  menjadi seluas 11.400 hasta. Pada 29 H/649 M masjid ini kembali diperluas untuk keempat kalinya oleh Khalifah ‘Utsman bin ‘Affan. Sehingga, luas masjid ini mendapat tambahan 496 meter persegi. 

Di tahun-tahun 88-91 H/706-709 M Al-Walid bin ‘Abdul Malik, penguasa   ke-6   Dinasti   Umawiyyah   di   Damaskus,    Suriah memerintahkan  perluasan  dan  pemugaran  masjid  ini,  di  bawah pengawasan  ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz, Gubernur Madinah kala  itu. Pada masa inilah masjid ini mulai dihiasi dengan mosaik, pualam, dan  emas. Kemudian pada 160 H/778 M, di masa pemerintahan  Al-Mahdi,  penguasa ke-3 Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak, sayap  utara masjid ini mengalami perluasan sampai 2.450 meter persegi.  Untuk perluasan ini terpaksa dilakukan penggusuran sejumlah rumah  para sahabat Nabi Saw. 

Akibat musibah kebakaran yang menimpa masjid ini pada 654 H/1256 M,  Sultan  Al-Zhahir  Baibars  I  Al-Bunduqdari  dari  Dinasti Mamluk  di  Mesir  (memerintah antara  659-676  M/1260-1277  M) memerintahkan  pemugaran  masjid  ini.  Musibah  serupa   menimpa dan terjadi lagi pada abad 9 H/15 M. Pemugaran kali ini dilakukan Sultan  Al-Asyraf  Saifudin Qa‘it Bay,  penguasa  Mesir  dari Dinasti  Mamluk Burji (memerintah antara 873-902 H/1468-1496  M). Di  samping dipugar, luas masjid ini ditambah 120 meter  persegi. Dan,  pada  1263  H/1846  M, masjid  ini  dipugar  dan  diperluas sebanyak 1293 meter persegi, atas perintah Sultan ‘Abdul Majid I, penguasa ke-32 Dinasti Usmaniyyah di Turki (memerintah  antara 1255-1278 H/1839-1861 M). 

Penguasa  dari  keluarga Sa‘ud juga tidak mau  ketinggalan  dalam ikut  memperluas dan memugar masjid ini. Pertama,  perluasan  dan pemugaran  yang  dilakukan  Raja  ‘Abdul ‘Aziz.  Selanjutnya, perluasan  dan  pemugaran yang dilakukan di  masa  pemerintahan Raja Fahd bin ‘Abdul ‘Aziz, dengan biaya sekitar 7 miliar dolar Amerika  Serikat,  membuat  Masjid Nabawi  yang  kini  dilengkapi dengan  10 menara dan 27 kubah yang bisa bergerak  membuka  dan menutup secara otomatis sehingga bisa dimanfaatkan untuk mengatur sirkulasi  udara alami ini menjadi seluas 165.000  meter  persegi dengan  kapasitas 257.000 jamaah. Dengan kata lain,  masjid  yang kini memiliki tujuh pintu gerbang utama yang dibuat dengan hiasan kaligrafi  yang diukir dari emas di Utara, Timur, dan  Barat,  di samping  dua  pintu gerbang di Selatan ini  menjadi  seluas  kota Madinah di zaman Nabi Muhammad Saw. 

Nah, bagaimanakah masa depan Masjid Nabawi dan Kota Madinah di masa depan? Menurut sebuah foto yang ditampilkan di website haramainrecordings.com, masa depan Masjid Nabawi dan Kota Madinah adalah seperti yang tampak di foto sebelah. Bagaimana komentar Anda? 

Mari Sekali Lagi Melihat Bagian Dalam Ka'bah!

Pembaca budiman, dalam blog ini (September 2007), penulis pernah menampilkan uraian dan foto (lihat foto di samping) perihal bagian dalam Ka’bah. Seperti penulis kemukakan dalam tulisan kala itu, Ka’bah adalah sebuah bangunan berbentuk kubus di tengah-tengah Masjid Al-Haram, Makkah. Seperti diketahui, Ka‘bah ini merupakan kiblat shalat kaum Muslim. Tinggi bangunan itu sendiri, yang kini selalu diselimuti permadani halus yang disebut kiswah, lebih kurang 12,9 meter dan panjang sisi-sisinya: antara Rukun Syami-Rukun Yamani: 11, 93 meter, antara Rukun Yamani-Hajar Aswad: 10, 13 meter, antara Hajar Aswad-Rukun Iraqi: 11, 58 meter, dan antara Rukun Iraqi-Rukun Syami: 10, 22 meter. Di dalam Al-Quran dikemukakan bahwa Ibrahim a.s. lah bersama putranya, Isma‘il a.s., yang membangun Ka‘bah atas perintah Allah. Seusai membangun Ka‘bah, Ibrahim a.s. lantas diperintahkan Allah menyeru ummat manusia untuk menunaikan ibadah haji, “Dan berserulah kepada manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, dan mengendarai unta kurus yang datang dari segenap penjuru yang jauh.” (QS Al-Hajj [22]: 26).

Di sisi lain, Ka‘bah sebagai bangunan, sepanjang perjalanan sejarahnya, telah mengalami sederet perbaikan dan pemugaran. Ka‘bah dalam bentuknya yang sekarang ini sejatinya merupakan hasil pemugaran pada masa pemerintahan Sultan Murad IV, seorang penguasa Dinasti Usmaniyyah dari Turki (memerintah antara 1033-1050 H/1623-1640 M). Pada 1040 H/1630 M Makkah dilanda banjir besar yang berakibat Masjid Al-Haram terendam dan dinding Ka‘bah ada yang runtuh. Maka, walikota kota suci itu kala itu, Syarif Mas‘ud bin Idris, dengan persetujuan Sultan Murad Khan, kemudian melakukan perbaikan atas Ka‘bah yang rusak itu.Ternyata, di bagian dalam Ka‘bah terdapat tiang penyangga utama yang terbuat dari kayu. Setiap tiang memiliki diameter 44 cm, dengan jarak antar tiang 2,35 m. Dari lurus pintu masuk, yang dijaga para pengawal itu, sejatinya terdapat mihrab. Di situlah Nabi Muhammad Saw. pernah melaksanakan shalat di dalam Ka‘bah. Setiap beliau berada di dalam Ka‘bah, menurut sebuah sumber, beliau senantiasa berjalan lurus dengan muka menghadap dinding, hingga pintu Ka‘bah berada di belakang punggung beliau, sampai jarak antara beliau dengan dinding Ka‘bah di depannya sekitar tiga kaki. Lalu, beliau shalat di situ. Namun, hal ini tidak berarti hanya di tempat itu sajalah yang boleh dijadikan tempat shalat. Sebab, bila Anda diizinkan Allah Swt. masuk ke dalam Ka‘bah, Anda boleh shalat di bagian manapun di dalam Ka‘bah kok. Selain itu, di sebelah kanan dalam Ka‘bah terdapat tangga menuju atap. Tangga tersebut mempunyai pintu. Nah, pintu itulah yang disebut “Pintu Tobat” (Bab Al-Taubah). Pintu Tobat dan Pintu Ka‘bah yang ada dewasa ini dilapisi emas murni. Struktur kerangka kedua pintu tersebut dibuat dari kayu setebal 10 cm, lalu dihiasi dengan ornamen-ornamen dari emas murni. Konon, emas yang dipakai melapisi kedua pintu itu lebih dari 280 kg. Ohoi, berat nian kedua pintu berlapis emas itu.

Semula, Ka‘bah yang dibangun Ibrahim a.s. tidak beratap. Atap baru dibuat ketika kaum Quraisy memugarnya. Dewasa ini, Ka‘bah memiliki dua atap: atap bawah dan atap atas. Permukaan atap atas dilapisi marmer putih dan dikelilingi pagar tembok, yang menyatu dengan dinding Ka‘bah, setinggi sekitar 80 cm. Di pagar tersebut terdapat kayu-kayu untuk mengikatkan tali kiswah. Di permukaan atap atas itu juga terdapat pintu yang tutupnya terbuat dari baja. Lewat pintu itulah para petugas naik ke atap atas ketika menyuci dan membersihkan Ka‘bah serta mengganti kiswah.

Nah, Anda ingin melihat lebih cermat bagian dalam Ka’bah? Silakan Anda buka alamat website berikut: haramainrecordings.com. Di alamat itu, Anda (lewat rekaman video dengan judul “Inside Ka’bah”) dapat menyaksikan rekaman video detail bagian dalam Ka’bah dan seorang syeikh sedang shalat di tempat Rasulullah Saw. shalat setiap kali beliau memasuki Ka’bah! Selamat melihat bagian dalam Ka’bah  sekali lagi! 

Friday, February 13, 2009

Surat Indah Seorang Ibu kepada Dua Putrinya

Tadi pagi, ketika istri penulis sedang dalam perjalanan ke Jakarta, dan kemudian bertolak menuju Hong Kong, untuk menghadiri  sebuah kongres medis selama beberapa hari di sana, penulis kemudian membereskan kertas-kertas bertebaran yang ada di dekat sebuah tas milik istri penulis yang lama tak dijamah. Ketika satu demi satu kertas-kertas itu penulis bereskan dan cermati, sebuah kertas berwarna pink dengan border merah indah segera memikat pandangan penulis. Oh, kertas itu ternyata sepucuk surat yang ditulis istri penulis, seorang dokter spesialis penyakit dalam, pada 27 Desember 2008.

Entah kenapa, istri penulis tidak pernah bercerita perihal surat itu. Padahal, begitu usai membaca surat itu, ternyata isi surat itu sangat indah, walau ringkas. Karena itu, dalam kesempatan kali ini, izinkanlah penulis menyajikan sepucuk surat yang ditujukan kepada dua putri penulis (Mona Luthfina, seorang sarjana Teknik Industri ITB dan kini bekerja di sebuah biro konsultan, dan Naila Fithria, seorang mahasiswa Teknik Informatika ITB), walau sejatinya surat itu hanya ditujukan kepada dua putri penulis:

Ananda Mona dan Naila tersayang.

Saat ini, Ibu baru saja selesai mengikuti sebuah training. Saat ini Ibu merasakan, betapa Ibu merasa banyak berdosa kepada kalian, karena kesibukan Ibu selama ini. Tapi, di sisa usia Ibu, Ibu akan berusaha mengejar dan memperbaiki kekurangan Ibu selama ini. Dari dulu, Ibu mencintai kalian apa adanya.

Bagi Ibu, saat-saat yang membahagiakan  adalah saat melihat Ananda dekat dengan Allah, menyayangi Ibu dan Bapak, memahami apa yang selalu Ibu lakukan, terutama untuk kepentingan orang banyak, dan memaafkan Ibu dengan segala kekurangan Ibu. Ibu kini akan bersabar, terutama kepada Naila, sampai Naila tumbuh lebih baik, terutama di hadapan Allah. Sedangkan saat-saat yang kadang Ibu sesalkan adalah saat kalian tak menjalankan perintah Allah dengan baik. Tapi, Ibu akan memaafkan dengan sepenuh hati bila kalian berbuat kesalahan atau tidak memahami kedua orang tua kalian. Ibu dan Bapak sangat mencintai kalian berdua.

Ibu berjanji, wahai Ananda tersayang, akan selalu memahami dan memperhatikan kalian berdua. Maafkan Ibu dan Bapak. Semoga kita berempat (Ibu, Bapak, Mona, dan Naila), kelak bisa berkumpul di surga. Amin.

Semoga Allah memberi rahmat dan ridha-Nya untuk kita

Peluk cium sayang,

Ummie Wasitoh

Khutbah Jumat Pertama Rasulullah Saw.

Entah kenapa, pagi ini, Jumat, 13 Februari 2009, ketika penulis sedang membantu istri tercinta yang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Hong Kong, untuk menghadiri sebuah kongres di bidang medis, tiba-tiba penulis tersadarkan jika hari ini adalah hari Jumat. Dan, tiba-tiba pula, entah kenapa pula, terbayangkan pula oleh penulis, Rasulullah Saw. sedang berkhutbah Jumat untuk pertama kalinya di Lembah Ranuna, Madinah. 

Bagaimanakah sejatinya kisah awal mula khutbah Jumat? 

Hari itu, Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal 1 H. Kala itu, terik matahari di musim panas di penggal terakhir (tanggal 23) bulan September 622 M tengah menyengat dengan ganasnya, Rasulullah Saw. dan sahabat tercinta beliau, Abu Bakar Al-Shiddiq, menapakkan kaki memasuki Desa Quba’. Kala itu, orang-orang yang menantikan kedatangan Rasulullah Saw. dengan harap-harap cemas itu telah kembali ke rumah masing-masing dengan rasa putus asa. Tak mungkin hari ini orang yang mereka nantikan kedatangannya itu tiba di Yatsrib. Tapi, tiba-tiba seorang Yahudi berteriak-teriak nyaring, “Wahai Bani Qa’ilah! Itu orang yang kalian nantikan kedatangannya telah tiba!” 

Semua orang menghambur dari rumah-rumah mereka. Rasulullah Saw. dan Abu Bakar Al-Shiddiq ternyata sedang duduk di bawah naungan sebatang pohon kurma. Orang-orang pun berkerumun di sekeliling beliau. Sebagian besar di antara mereka tak dapat membedakan mana Rasul Saw. dan mana Abu Bakar. Tapi, di saat bayangan pohon kurma bergeser, Abu Bakar memayungkan jubahnya di atas kepala beliau. Kini, tahulah mereka yang mana Nabi mereka. 

Di Desa Quba’ itu, Rasulullah Saw. kemudian beristirahat di rumah seorang lelaki lanjut usia yang selama itu dijadikan pangkalan oleh kaum Muslim Makkah yang baru tiba di Yatsrib, antara lain Hamzah bin ‘Abdul Muththalib dan Zaid bin Haritsah, yakni rumah Kultsum bin Hadm. Bani ‘Amr, kabilah Kultsum, adalah suku Aus. Sedangkan Abu Bakar Al-Shiddiq menuju rumah Khubaib bin Yasaf atau Kharijah bin Zaid (yang kemudian menjadi mertua Abu Bakar), seorang Khazraj di Sunh, sebuah desa yang agak dekat dengan Yatsrib. Selepas satu atau dua hari, ‘Ali bin Abu Thalib tiba dari Makkah, dan tinggal di rumah yang sama dengan Rasul Saw. Untuk mengembalikan semua barang yang dititipkan kepadanya bagi para pemiliknya, ia memerlukan waktu selama tiga hari. 

Rasulullah Saw. berdiam di Desa Quba’ selama empat hari, semenjak Senin hingga Kamis. Lalu, atas saran ‘Ammar bin Yasir, beliau membangun Masjid Quba’. Inilah masjid pertama dalam sejarah Islam, dan beliau sendirilah yang meletakkan batu pertama di kiblatnya, yang kemudian diikuti oleh Abu Bakar Al-Shiddiq, lalu diselesaikan beramai-ramai oleh para sahabat lainnya. 

Pada Jumat pagi, Rasulullah Saw. meninggalkan Quba’. Di siang hari, beliau dan para sahabat berhenti di Lembah Ranuna, di perkampungan Bani Salim bin ‘Auf dari suku Khazraj, untuk melaksanakan shalat Jumat untuk pertama kalinya. Sebelum melaksanakan shalat bersama sekitar seratus jamaah, seusai mengucapkan puji syukur ke hadirat Allah Swt., beliau berkhutbah, Amma ba‘du. Wahai kaum Muslim, hendaklah kalian berbuat kebajikan demi keselamatan diri kalian sendiri. Demi Allah, kalian tentu mengetahui, setiap orang di antara kalian pasti akan berpulang ke hadirat Allah dan meninggalkan domba-domba piaraannyya. Tuhan akan bertanya kepadanya, langsung tanpa perantara dan tiada tirai apa pun yang akan memisahkannya, ‘Apakah Utusan-Ku tak datang kepadamu untuk menyampaikan amanah-Ku? Bukankah kepadamu telah kuanugerahkan harta dan pelbagai nikmat?’Kebaikan apakah yang telah  engkau lakukan demi keselamatan dirimu sendiri?’ 

Orang yang ditanya itu akan menengok ke kanan dan ke kiri. Tapi, ia tak melihat sesuatu. Ia kemudian melihat ke depan dan yang tampak hanyalah neraka Jahannam. Karena itu, barang siapa mampu melindungi dirinya dari api neraka, walau hanya dengan sebutir buah kurma, lakukanlah! Bila tiada sesuatu apa pun yang dapat diberikan, cukuplah dengan ucapan yang baik. Sungguh, setiap kebaikan akan memperoleh balasan sepuluh hingga tujuh ratus kali lipat. Wassalamu‘alaikum wa ‘ala Rasulillah.” 

Sebuah khutbah sarat makna yang singkat, padat, dan sangat memikat! Inti khutbah itu ialah sejatinya manusia senantiasa kuasa berbuat kebaikan, dengan bersedekah dan memberi, walau ia seorang miskin. Beliau menyampaikan, seseorang kuasa menghindarkan diri dari neraka dan masuk surga walau hanya dengan sebutir buah kurma. Demikian halnya kata-kata yang baik pun juga dapat menghindarkan seseorang dari neraka dan masuk surga dalam timbangan Allah Swt. Dengan kata lain, kemampuan berbuat kebaikan dan memberi sejatinya terdapat pada diri setiap  orang. Bagaimana pun kondisinya

Tuesday, February 3, 2009

Baliho Pemilu dan Nasruddin Hoja

Minggu lalu, tepatnya pada 24-26 Januari 2009, ketika mengikuti acara family gathering yang diselenggarakan oleh Khalifah Tour, Bandung, di Pangandaran, penulis melihat baliho-baliho para calon anggota dewan perwakilan (baik pusat maupun daerah) bertebaran tanpa henti sepanjang jalan antara Bandung dan Pangandaran. Melihat baliho-baliho dengan aneka ragam janji, ucapan, dan kata-kata manis, entah mengapa sosok Nasruddin Hoja (lihat foto di samping: Nasruddin sedang naik keledai dengan menghadap ke belakang) yang hidup pada sepertiga terakhir abad ke-14 M dan sepertiga pertama abad ke-15 M (menurut pendapat terkuat) menggelayuti dan memenuhi benak penulis. Menurut kisah-kisah yang beredar, tokoh yang satu ini adalah seorang sufi jenaka yang kadang bertindak “kurang waras”.

Namun, menurut Dr Muhammad Rajab Al-Najjar, dalam karyanya Juha Al-‘Arabi, sosok Nasruddin Hoja sejatinya bukan sosok yang “kurang waras” atau sangat bego. Tapi, ia adalah sosok yang berusaha mendekati segala persoalan yang ia hadapi dari aspek-aspek yang paling dekat dengan kebenaran dan kenyataan. Karena itu, bagi orang-orang lain yang tidak menyukai kebenaran, sosok Nasruddin Hoja merupakan sosok yang kontradiktif. Selain itu, Nasruddin Hoja juga terkenal sebagai sosok yang suka “ceplas-ceplos” dalam mengungkapkan dirinya sendiri, tanpa memedulikan kerangka sosial yang acapkali memaksa orang-orang diam seribu bahasa dan mengemukakan segala sesuatu yang bergejolak dalam hati dan benak mereka lewat simbol-simbol. Perilakunya yang demikian seiring dengan contoh-contoh yang ia berikan. Sebab, ia senantiasa tunduk pada keinginannya di saat keinginan itu muncul. Filsafat hidupnya yang demikian itulah yang membuat ia tampak lebih kuat dibandingkan orang-orang lain. Malah, filsafat hidupnya itu pulalah yang membuat sosoknya seperti orang yang terbebaskan dari beban sosial atau “orang yang tak waras”.

Perlu dikemukakan, aspek sosial yang paling acap mendapat sindiran dan sentilan dari Nasruddin Hoja adalah kelalaian dan kebegoan masyarakat. Juga, sikap-sikap lain yang membuat mereka menerima pelbagai peristiwa dan kejadian dengan sikap pasrah sepenuhnya tanpa mau berpikir atau bersikap kritis. Malah, mereka kemudian bersikap membebek. Akibatnya, mereka pun menjadi bahan sindiran dan sentilan si Nasruddin. Karena itu, tak aneh jika sikap yang demikian itu acap diungkapkan dalam kisah-kisah jenakanya. Maksud dari kisah-kisah tersebut adalah untuk menyingkapkan kelalaian dan kebegoan yang menghinggapi sebagian anggota masyarakat, termasuk para penguasa, dan membukakan pikiran yang tertutup tentang pelbagai realitas kehidupan. Salah satunya adalah kisah berikut:

Hari itu Nasruddin Hoja sedang menghadap Timur Lenk. Penguasa yang  juga  dikenal  dengan  sebutan Shakhrisyabz ini lahir di Uzbekistan (terletak sekitar 75 kilometer  sebelah selatan  Samarkand) pada Selasa, 26 Sya'ban 736 H/9 April  1336 M,  dalam sebuah keluarga dari suku Barlas, sebuah  suku  berasal dari  Mongolia  yang telah memeluk Islam  dan  berbahasa  Turki. Sejak 771 H/1370 M, selepas naik ke pentas kekuasaan sebagai Raja Samarkand,  anak  keturunan  Jengis  Khan  ini  mulai   melakukan serangkaian  penaklukan panjang, sekitar 35 tahun  lamanya,  yang berlangsung  sampai ia meninggal dunia. Pertama-tama, dari  pusat kekuasaannya  di  Samarkand,  gerakannya  menembus  jantung  Asia Tengah, lalu menerobos Persia (781 H/1379 M) dan Irak.  Gerakan selanjutnya   menuju  Utara,  memasuki  Isfahan,  Shiraz,   dan mencapai  Moskow.  Ini  terjadi pada 797  H/1394  M.  Tiga  tahun kemudian  putra  Taragai ini menghajar  India  dengan  menguasai Delhi. Tidak  lama  kemudian  penguasa yang  terkenal  ganas,  tapi  juga pencinta ilmu, seni, dan budaya ini bergerak menuju Timur Tengah, menghajar Irak dan Suriah. Lantas, pada 804 H/1402 M ia,  dengan mengerahkan  20.000  serdadu dan pasukan  gajah,  terlibat  dalam peperangan  dengan  Sultan  Ildurum Bayazid  II,  yang  akhirnya berhasil  ia  tawan bersama istrinya yang  berasal  dari  Serbia, Maria  Despina.  Tiga  tahun  kemudian  penguasa  yang  mengagumi kecerdasan Ibn Khaldun, seorang sejarawan Muslim semasanya,  ini kembali   ke  markas  besarnya,  Samarkand.  Namun,   di   tengah perjalanan,  di Otrar, Syr-darya, sekitar 375  kilometer  sebelah utara  Samarkand,  ia  jatuh sakit  karena  demam  dan  berpulang menghadap  Sang  Maha  Pencipta pada Rabu, 18  Sya'ban  807  H/18 Februari 1405 M. Ia dimakamkan di pemakaman Gur Amir,  Samarkand. Penggantinya, secara berurutan, adalah kedua putranya: Miran Syah dan Syah Rukh.

Ketika Nasruddin Hoja sedang berada di majelis sang penguasa, seorang serdadu yang sedang mabuk karena menenggak minuman keras dibawa menghadap ke majelis. Akibat kelakuannya itu, Timur Lenk kemudian menjatuhkan hukuman cambuk delapan puluh kali atas diri si serdadu. Mendengar keputusan demikian, Nasruddin yang kala itu hadir di majelis sang penguasa, hanya tersenyum sinis. Sebab ia tahu, hukuman itu hanya dijatuhkan atas diri orang-orang kecil dan lemah saja. Melihat senyum sinis si Nasruddin, amarah Timur Lenk pun meledak. Ia kemudian memerintahkan kepada seorang serdadu, “Pukul lelaki brengsek itu dengan tongkat sebanyak lima ratus kali!”

Mendengar perintah Timur Lenk yang demikian, Nasruddin Hoja tak kuasa lagi menahan tawanya. Ia pun tertawa terpingkal-pingkal. Melihat kelakuan Nasruddin yang demikian, amarah Timur Lenk semakin membara. Penguasa itu kemudian memerintahkan, “Serdadu! Jatuhi lelaki keparat itu hukuman pukulan dengan tongkat sebanyak delapan ratus kali!”

Mendengar perintah sang penguasa, Nasruddin semakin tak kuasa menahan tawanya hingga meneteskan air mata. Karena tak kuasa lagi menahan amarahnya, Timur Lenk pun berdiri dan menghardik Nasruddin, “Hai pengkhianat hukum agama! Mengapa hukum agama yang kutegakkan engkau remehkan? Padahal kau tahu, aku ini seorang raja yang membuat gentar seluruh penghuni bumi!”

“Wahai Paduka,” jawab Nasruddin seraya tersenyum. “Saya memang tahu semua hal itu. Tapi, saya bingung, apakah Paduka tidak tahu hitungan, ataukah Paduka bukan manusia seperti kami. Mengucapkan perintah memang mudah. Tapi, melaksanakannya sulit. Wahai Paduka, siapakah yang kuat menanggung hukuman pukul dengan tongkat sebanyak delapan ratus kali?”

Kisah itu, yang dikemas dalam bentuk sindiran dan sentilan, sejatinya merupakan bentuk penentangan dan perlawanan terhadap penindasan dan kelaliman penguasa. Dan, entah mengapa, kisah itu seakan mengingatkan penulis agar dalam pemilu nanti tidak asal pilih dan tidak memilih para penguasa (siapa pun mereka, baik di lembaga eksekutif maupun legislatif) yang tidak berpihak kepada masyarakat luas.