Saturday, February 16, 2008

In Memoriam: Rumah Wahyu

Makkah, Senin, 24 Dzulqa‘dah 1428 H/3 Desember 2007 M. Di sore yang cerah hari itu, selepas melaksanakan shalat asar di Masjid Al-Haram, penulis bersama istri dan putri sulung penulis serta sejumlah jamaah Indonesia yang akan menunaikan ibadah haji di musim haji tahun itu meluangkan waktu untuk mengunjungi tempat kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tempat yang terletak di sebelah timur pelataran masjid itu kini disebut Maulid Al-Nabiy. Selepas keluar dari Pintu Raja ‘Abdul ‘Aziz, kami kemudian berjalan pelan mengitari Masjid Al-Haram, yang telah penuh dengan calon jamaah haji dari pelbagai negara dan bangsa. Selepas mengitari masjid dan mas‘â (tempat melaksanakan sa‘i) yang sedang diperluas, di sebelah timur pelataran masjid itu kami mendapatkan sebuah bangunan sederhana dan di atas bangunan tersebut terdapat billboard besar dengan tulisan “Maktabah Makkah Al-Mukarramah” (Perpustakaan Makkah Al-Mukarramah).

Sebelum perpustakaan itu (kala itu tanpa kegiatan) tegak, sejatinya di lokasi itu pernah berdiri sebuah masjid yang dibangun seorang perempuan rupawan nan berotak cemerlang yang tak lain adalah permaisuri Al-Mahdi, penguasa ke-3 Dinasti ‘Abbasiyyah di Irak, yang dikenal dengan nama Al-Khaizuran (yang secara harfiah berarti “bambu”, tanaman yang menurut orang-orang Arab melambangkan kecantikan dan keluwesan) binti ‘Atha’ Al-Khurasyiyyah. Masjid itu kini telah tiada karena diruntuhkan. Kemudian, pada 1370 H/1950 M, sebagai gantinya di lokasi yang sama dibangun sebuah perpustakaan oleh Syeikh ‘Abbas Qaththan.

Al-Khaizuran sendiri semula adalah seorang budak asal Yaman dengan nama asli Jurasy yang dibawa ke Makkah oleh seorang suku Arab Badui dan dijual di sana. Dari pasar budak itu, perjalanan hidupnya akhirnya mengantarkannya bertemu dengan Abu Ja‘far Al-Manshur, penguasa ke-2 Dinasti ‘Abbasiyyah. Selepas dimerdekakan sang khalifah, yang terpesona oleh kecantikan dan kecemerlangan otaknya, ia kemudian, pada 159/775 M, dinikahkan dengan putra sang khalifah, Muhammad, yang kelak menjadi penguasa ke-3 dinasti tersebut dengan gelar Al-Mahdi. Pasangan suami-istri ini dikarunia dua putra: Musa, yang setelah menjabat penguasa ke-4 Dinasti ‘Abbasiyyah (memerintah antara 169-170 H/785-786 M) bergelar Al-Hadi, dan Harun, yang setelah naik ke pentas kekuasaan sebagai penguasa ke-5 dinasti tersebut (memerintah antara 170-194 H/786-809 M) bergelar Al-Rasyid. Perempuan yang berpengetahuan luas tentang hukum Islam dan berpulang kepada Sang Pencipta pada 170 H/789 M ini terkenal dermawan dan dikenal pernah mendirikan Dar Al-Khaizuran di Makkah.

Ketika berada di dekat bangunan “Perpustakaan Makkah Al-Mukarramah” itu, tiba-tiba terbayangkan oleh penulis bagaimana resah dan gelisahnya ibunda Rasulullah Saw., Aminah binti Wahb, selama berbulan-bulan dengan penuh harap dan cemas menyambut kelahiran janin yang sedang dikandungnya di rumah itu. Dan tak lama selepas lahir pada hari Senin, 12 Rabi‘ Al-Awwal tahun Gajah atau 21 April 570 M., beliau sejatinya tidak lama berada di rumah kelahiran itu. Sebab, tak lama selepas itu beliau dibawa Halimah binti Abu Dzu’aib Al-Sa‘diyyah yang, menurut Dr. Syauqi Abu Khalil dalam karyanya Athlas Al-Sîrah Al-Nabawiyyah, bermukim di sekitar Hudaibiyyah (kini disebut Syumaisi, terletak sekitar 24 kilometer sebelah barat Kota Makkah ke arah Jeddah). Dengan kata lain, beliau tak lama menempati rumah itu selepas lahir. Beliau baru kembali menikmati rumah selepas pulang dari pengasuhan Halimah Al-Sa‘diyyah tersebut. Kala itu beliau berusia sekitar enam tahun. Dan, sekitar tiga tahun kemudian, selepas berpulangnya kakek tercinta beliau, ‘Abdul Muththalib bin Hasyim, beliau kemudian pindah ke rumah pamanda tercinta beliau, Abu Thalib bin ‘Abdul Muththalib, yang terletak di kaki Jabal Abi Qubais.

Walau tak lama menempati rumah kelahiran itu, rumah yang tak terbayangkan bagaimana kondisinya kala itu sejatinya menjadi saksi kelahiran Muhammad bin ‘Abdullah, seorang Rasul dan Nabi terakhir yang, menurut Michael H. Hart dalam karyanya The 100, a Ranking of the Most Influential Persons in History, “memainkan peranan yang jauh lebih penting dalam pengembangan Islam ketimbang peranan Nabi ‘Isa terhadap agama Nasrani.”

Kemudian, ketika penulis berdiri membelakangi gedung perpustakaan tersebut dan menghadap ke arah Masjid Al-Haram, pandangan penulis tanpa sadar tertuju ke arah Pintu Nabi (Bâb Al-Nabî) yang terletak di sebelah Pintu Al-Salam (Bâb Al-Salâm) yang sedang dipugar. Begitu pandangan terarah ke Pintu Nabi tersebut, entah kenapa tiba-tiba dalam benak penulis bergejolak kesadaran bahwa di situ pernah tegak sebuah rumah sangat besar perannya dalam sejarah Islam! Mengapa demikian? Ini karena rumah yang kini tiada sama sekali sisanya itu pernah menjadi saksi dalam waktu yang cukup lama, sekitar 28 tahun, kisah perjalanan hidup dan perjuangan Rasulullah Saw. Rumah itu tidak lain adalah rumah yang beliau tempati bersama istri teladan beliau, Khadijah binti Khuwailid. Sebelum menikah dengan beliau, seperti tercatat dalam torehan emas sejarah Islam, Khadijah menempati sebuah rumah yang terletak di lereng Jabal Khalifah (kini disebut Jabal Qal‘ah), di pintu masuk terowongan yang menghadap ke Pintu Raja ‘Abdul ‘Aziz. Rumah ini kemudian dihadiahkan kepada putri sulung mereka, Zainab binti Muhammad, ketika menikah dengan Abu Al-‘Ash bin Al-Rabi‘ bin ‘Abdul ‘Uzza.

Menurut Dr. Muhammad ‘Abduh Yamani, dalam karyanya Khadîjah binti Khuwailid, Sayyidah fi Qalb Al-Mushthafa Saw. di rumah yang sebelum dibeli Rasulullah Saw. milik Hakim bin Hizam bin Khuwailid itulah “Khadijah r.a. melahirkan semua putra-putri Nabi Saw. Di situ pulalah Khadijah berpulang. Dan, dari rumah ini pulalah Rasul Saw. bertolak untuk berhijrah.”

Mantan menteri penerangan Kerajaan Arab Saudi itu lebih lanjut menyatakan bahwa “rumah inilah yang memancarkan cahaya Islam dan memendari panji-panji kaum Muslim; rumah yang menjadi saksi laju gerakan risalah yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.; rumah tempat Jibril Al-Amin berulangkali mendatangi Thaha (Muhammad) Al-Amin dan menurunkan wahyu tujuh ayat Surah Al-Fatihah dan (beberapa ayat) Al-Quran; rumah yang beliau tinggali selama 13 tahun mengajak manusia menuju tauhîd (keesaan Tuhan) dan meninggalkan paganisme. Dari rumah inilah Rasul Saw. mendeklarasikan diri beliau kepada bangsa Quraisy dan seluruh umat manusia bahwa beliau adalah utusan Tuhan semesta alam; dari rumah inilah Rasul Saw. bangkit untuk menyampaikan risalah kepada bangsa Quraisy dan seluruh umat manusia. [...] Lebih dari sepertiga surah-surah Al-Quran turun di rumah ini.”

Tak terasa kepala penulis tiba-tiba menunduk sedih dengan hati yang perih, karena menyadari bahwa rumah yang disebut Rumah Wahyu (Dâr Al-Wahy) yang kemudian dijual ‘Aqil bin Abu Thalib kepada Mu‘awiyah bin Abu Sufyan selepas beliau berhijrah dan besar perannya dalam sejarah Islam itu kini tiada sama sekali bekasnya dan telah menjadi bagian dari pelataran timur Masjid Al-Haram. Rasulullah Saw. sendiri, sebelum menempati rumah yang dipandang sebagai bangunan termulia ketiga di Makkah (setelah Ka‘bah dan Masjid Al-Haram) itu, tinggal di rumah Abu Thalib bin ‘Abdul Muththalib yang terletak tidak jauh dari situ, di sebelah kanan rumah Rasul Saw. selepas menikah tersebut, di kaki Gunung Abu Qubais (kini di atasnya tegak sebuah bangunan megah milik Kerajaan Arab Saudi). Tentu dapat dibayangkan, dari ketiga rumah tersebut yang terletak tidak jauh dari Ka‘bah, Rasul Saw. sejak kecil dapat menyaksikan bagaimana perilaku sehari-hari kaum musyrik Makkah dan ketika mereka sedang beribadah di seputar Ka‘bah, antara lain ketika mereka mengadakan perayaan besar-besaran dan pemberian sesaji sebagai penghormatan terhadap Patung Buwanah yang sangat diagungkan oleh kaum musyrik Makkah dan ketika kaum perempuan sedang tawaf di seputar Ka‘bah tanpa busana. Karena itu, dapat dibayangkan pula bagaimana keresahan, kegelisahan, dan ketidaknyamanan beliau ketika menyaksikan, dengan mata beliau dari dekat, pelbagai perilaku kaum musyrik Makkah yang menyimpang dari ajaran-ajaran agama yang lurus yang diajarkan oleh nenek moyang mereka: Ibrahim a.s.

1 comment:

PT ISY KARIMA said...

* Pustaka Digital Al Kubro ini terilhami dari beberapa software program Pustaka atau Mausu’ah Digital yang kami dapatkan saat kami menunaikan Ibadah haji tahun 2006 yang lalu. Alhamdulillah kami berkesempatan mengkoleksi berbagai macam software tersebut, baik dalam bentuk CD, DVD ataupun eksternal Hardis. Dengan koleksi tersebut sesampainya ditanah air kami coba pelajari dan cermati, dan kesimpulannya, kami sangat berbahagia sekali karena kami telah mendapatkan gudang samudera ilmu yang amat berharga. Impian untuk memiliki perpustakaan lengkap tercapai sudah. Kami sempat mengkalkulasi jumlah kitab yang ada dalam software tersebut mencapai lebih dari 2500 judul yang terdiri lebih dari 20.000 jilid, Jika judul kitab dalam jumlah tersebut kita beli dalam versi cetaknya, kita butuh dana sekurang kurang 1 Milyar Rupiah.

* Berangkat dari yang tersebut diatas kami berkeinginan kuat kiranya software tersebut bisa di nikmati oleh kaum Muslimin Indonesia, akan tetapi yang menjadi kendala adalah factor bahasa yang tidak semua orang bisa bahasa Arab atau mereka yang bisa bahasa Arabpun belum tentu paham bahasa istilah computer dalam bahasa Arab. Akhirnya kendala tersebut bisa kami atasi dengan cara mengolah ulang interface software ke dalam bahasa Indonesia dan kadang kadang dicampur dengan bahasa Inggris karena tidak memungkinkan di Indonesiakan.



* Software program Pustaka ini dirancang dengan mode opensource sehingga sangat memungkinkan untuk dikembangkan pengguna menjadi pustaka pribadi yang dinamis dan variatif. Oleh karena itu dalam pola distribusi kami paketkan dengan training penggunaan yang insya Allah dengan cara tersebut pengguna bisa memanfaatkan software secara optimal dan maksimal.



* Bagi mereka yang sama sekali tidak paham bahasa Arab kami masukkan program instant translator yang sementara bisa dimanfaatkan dengan cara online link via google/translate. Insya Allah pada versi berikutnya akan kami usahakan secara offline dengan software khusus. Mohon doanya.