Sunday, September 6, 2015

KISAH SEORANG ADIK

Mbak, aku jatuh. Kakiku kayaknya mengalami fraktur. Bentuknya tidak karuan lagi.”

Demikian, ucap adik bungsu saya Jumat, 5 September yang lalu, sekitar pukul lima sore kepada istri lewat telpon genggam. Saya, yang berada di rumah dan belum lama kembali dari mengantar adik istri dan istrinya, yang juga habis dirawat, ke Bandara Husain Sastranegara, pun termenung dan kaget. Segera, saya dan istri pun “meluncur” dari rumah di Baleendah, Kabupaten Bandung, menuju Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS), Bandung.

Setiba di rumah sakit terbesar di Provinsi Jawa Barat itu, segera kami menuju ruang Instalasi Gawat Darurat. Ketika berada di ruang tersebut, kami lihat adik kami, seorang dokter spesialis saraf dan ahli akupunktur, terbaring di tempat tidur dikitari para dokter. “Kenapa kamu?” tanya istri kepada adik saya, L. “Saya tadi mau ke tempat praktek, Mbak.  Mungkin karena tergesa-gesa, ketika berada di depan rumah sakit, tiba-tiba saya terjatuh dan kayaknya tulang kaki saya patah,” jawab L dengan menahan sakit.

Melihat dia terbaring, entah kenapa benak saya tiba-tiba “melayang” dan teringat perjalanan hidupnya. Ketika dia baru berusia sekitar 2 tahun, dia terkena polio.  Dapat dikatakan, dia kala itu tidak mampu menggerakkan kedua kakinya. Namun, dengan penuh kesabaran, ibunda merawatnya dengan penuh ketelatenan dan perhatian selama bertahun-tahun. Ketika masuk Taman Kanak-Kanak dan Sekolah Dasar, tiap hari dia diantar dan dijemput dengan naik becak. Pelan, kondisi kedua kakinya membaik, meski kadang dia tiba-tiba dia terjatuh. Mungkin, karena kakinya saat itu sedang tidak kuat menyangga tubuhnya. Meski demikian, dia tidak pernah mengeluh.

Kemudian, selepas lulus dari sekolah menengah atas, di kampung kami, Blora, Jawa Tengah, dia diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran. “Alhamdulillah,” ucap syukur kami sekeluarga. Kami, tentu, merasa sangat bersyukur karena meski dia “dikaruniai” kondisi kedua kaki yang “kurang sehat”, dia diterima di perguruan tinggi yang bagus. Selama itu, dia pun kadang masih tiba-tiba terjatuh dengan sendirinya, karena kondisi kedua kakinya yang pernah terkena polio. Kemudian, apa yang dia putuskan setelah dia berhasil meraih brevet dokter umum?

“Mas dan Mbak,” ucapnya tidak lama setelah dia menjadi dokter kepada kami, kakak-kakaknya, “izinkan saya berangkat menuju Gumawang, Baturaja, Sumatera Selatan.”  Ketika kami tahu, ternyata dia ditempatkan di sebuah puskesmas di tempat terpencil dan jauh dari perkampungan, di tengah hutan, semula kami tidak tega melepasnya. Tapi, dia tetap teguh dengan keputusannya, meski kondisi kedua kakinya tetap tidak seratus persen pulih seperti sedia kala. Kami pun akhirnya melepas dia berangkat.  Selama beberapa tahun, dia pun melaksanakan tugasnya di tempat terpencil tersebut. Meski dikaruniai kaki yang kurang sehat, namun dia tetap bekerja dengan sepenuh hati untuk masyarakat. Karena itu, dia akhirnya mendapat penghargaan sebagai dokter teladan.

Usai melaksanakan tugas di medan yang berat, dia kemudian menempuh pendidikan dokter spesialis saraf di almamaternya. Kemudian, usai meraih brevet dokter spesialis saraf, dia lagi-lagi membuat keputusan yang membuat kami terkaget-kaget. Dia memilih ditempatkan di Aceh yang kala itu masih dilanda konflik. “Insya Allah tidak apa-apa kok. Saya kan bertugas untuk melayani masyarakat. Lagi pula, saya kan Muslimah,” ucapnya meyakinkan kami. Berangkatlah dia ke Aceh dan bertugas di sana selama sekitar dua tahun, meski kondisi kedua kakinya tetap tidak pulih seperti sedia kala. Usai bertugas di Aceh, dia pun ditempatkan sebagai staf pengajar di almamaternya.

Mengikuti jejak langkah seorang abangnya (almarhum) yang mengambil program s-2 di Enschede, Belanda, dia kemudian memperdalam ilmunya di Universitas Utrecht, Belanda. Selain itu, dia juga mengambil program s-2 di bidang akupunktur.  Usai mendalami ilmu di negeri orang, dia kemudian kembali ke almamaternya untuk mengabdikan dirinya bagi masyarakat.

Sebagai seorang dokter spesialis dan staf pengajar, dia selalu berusaha memberikan ilmu dan pengalaman terbaik yang dia miliki. Tanpa banyak kata. Namun, kondisi kedua kakinya tetap tak kunjung pulih dan akhirnya berakhir dengan terjadinya kejadian yang membuat kakinya mengalami fraktur.  “Mbak, semua pekerjaan alhamdulillah dapat saya laksanakan dengan baik dan tidak membuat saya risau. Yang membuat risau adalah kaki saya, kalau saya tiba-tiba mengalami seperti yang saya alami saat ini,” ucapnya pelan kepada istri ketika kami menjenguknya di Instalasi Gawat Darurat RSHS Jumat malam yang lalu.


Alhamdulillah, setelah dioperasi kemarin siang, kini dia sedang memasuki masa pemulihan. “Semoga Allah Swt. memulihkan kembali dari sakit  yang kau derita, Lel, dan kembali berkarya untuk masyarakat tanpa banyak kata seperti sebelumnya, amin,” gumam pelan bibir saya ketika berpamitan kepadanya tadi malam. 

No comments: