Wednesday, April 18, 2007

‘Umar! Engkaukah yang Membakar Perpustakaan Alexandria?

Usai mengunjungi Teater Romawi dan melaksanakan shalat Jumat di pinggir jalan (di Timur Tengah, ketika musim dingin, merupakan hal yang lazim shalat Jumat dilaksanakan di jalan-jalan), mobil yang dikendarai Mas Oyik segera bergerak pelan menuju Perpustakaan Alexandria. Hari di jam tangan saya kala itu masih menunjuk hari Jumat, 23 Maret 2007. Tidak lebih dari lima menit dari tempat shalat Jumat, kami pun berhenti di sebuah bangunan berbentuk silinder miring yang terletak di sisi jalan utama Kota Alexandria yang terletak di tepi Laut Tengah.

“Aneh!” demikian gumam saya begitu melihat bentuk bangunan perpustakaan yang diresmikan pada bulan Oktober 2002 itu dan berdiri di dekat situs semula Perpustakaan Alexandria lama yang didirikan pada awal abad ke-3 SM di masa pemerintahan Ptolemeus II dari Mesir setelah ayahnya mendirikan kuil Muses, Musaeum. Konon, perpustakaan ini memiliki 700.000 gulungan papirus. Sebagai perbandingan, pada abad ke-14 M, Perpustakaan Sorbonne, Paris, Perancis yang katanya memiliki koleksi terbesar di zamannya hanya memiliki 1700 buku. Para penguasa Mesir kala itu begitu bersemangat untuk memperbanyak koleksi mereka. Sampai-sampai mereka memerintahkan para prajurit untuk menggeledah setiap kapal yang masuk guna memperoleh naskah. Jika ada naskah yang ditemukan, mereka menyimpan yang asli dan mengembalikan salinannya. Dan, kala itu, perpustakaan ini menjadi “tempat kerja” sederat cendekiawan kelas dunia yang menghasilkan karya-karya besar di bidang geometri, trigonometri, astronomi, bahasa, kesusastraan, dan kedokteran.

Sementara bentuk bangunan Perpustakaan Alexandria baru, yang dirancang oleh Snøhetta, sebuah biro arsitektur Norwegia, dibagi secara diagonal dan berdiri dalam bentuk silinder yang ditusuk sebuah garis lurus. Garis lurus yang menusuk bentuk silinder perpustakaan tersebut tak lain adalah jembatan penyeberangan dari Universitas Alexandria ke selatan. Jembatan tersebut membentang di atas jalan dan menuju ke arah lantai dua perpustakaan dan terus ke plasa di sebelah utara gedung yang mengarah ke laut. Di sebelah barat jembatan tersebut, sebagian besar bangunan berbentuk silinder menukik hingga menciptakan ruang kosong yang merupakan pintu masuk utama perpustakaan. Sedangkan pintu masuk perpustakaan menghadap pintu depan sebuah gedung pertemuan tua, seakan menunjukkan penghormatan terhadap gedung tersebut. Di antara kedua gedung tersebut terdapat plasa yang dihias dengan jalanan batu. Di dalam plasa itu sendiri terdapat area yang sangat luas untuk planetarium.

Bangunan perpustakaan itu sendiri berbentuk silinder dipotong oleh sudut miring. Semua dinding miring tersebut menunjuk ke utara, ke arah laut. Sedangkan dinding yang menghadap selatan dari bagian silinder dihias dengan potongan batu granit yang merupakan pecahan batu yang sangat besar, bukan digergaji. Permukaannya tidak rata, dengan garis bentuk yang halus. Batu-batu granit tersebut ditulisi dengan simbol huruf dari seluruh dunia. Sinar matahari dan pantulan lampu di perbatasan air menghasilkan bentuk bayangan dinamis dari simbol-simbol tersebut, yang mengingatkan pada dinding tempat beribadah Mesir kuno. Dinding melengkung tebuat dari beton dengan sambungan vertikal terbuka, sementara dinding yang lurus dihias dengan batu hitam dari Zimbabwe.

Memandangi bangunan Perpustakaan Alexandria baru tersebut, saya beberapa lama tercenung dan termenung. Segera saya teringat, ketika masih sebagai mahasiswa di Yogyakarta pada tahun-tahun 1970-an, betapa saya pernah sangat benci kepada ‘Umar bin Al-Khaththab, khalifah kedua dalam sejarah Islam yang mertua Rasulullah Saw. Benci kepada ‘Umar bin Al-Khaththab? Ya, hal itu gara-gara sejumlah buku yang pernah saya baca (termasuk beberapa buku berbahasa Indonesia) menyatakan, ‘Umar bin Al-Khaththablah yang memerintahkan ‘Amr bin Al-‘Ash, ketika menundukkan Alexandria pada 21 H/640 M, membakar Perpustakaan Alexandria lama. Menurut saya ketika itu, tindakan ‘Umar tersebut benar-benar tidak termaafkan dan tidak beradab.

Namun, dengan bergulirnya waktu, saya tahu tuduhan terhadap ‘Umar bin Al-Khaththab tersebut merupakan tuduhan yang tidak berdasar sama sekali. Mengapa demikian? Ini karena Perpustakaan Alexandria lama tersebut telah sirna sewaktu Julius Caesar membakar sebagian kota itu pada tahun 47 M. Kemudian, ketika perpustakaan tersebut dibangun kembali dalam ukuran yang lebih kecil, perpustakaan itu pun lenyap akibat gempuran Kaisar Theodorus pada 389 M. Karena itu, ketika ‘Amr bin Al-‘Ash menaklukkan Alexandria pada 21 H/640 M, perpustakaan tersebut sudah tiada lagi puing-puingnya. Hal ini dikukuhkan oleh tiadanya catatan dari para sejarawan terpercaya pada masa itu tentang terjadinya pembakaran perpustakaan tersebut oleh ‘Amr. Demikian halnya para sejarawan Muslim yang sangat dapat dipercaya, seperti halnya Al-Ya‘qubi, Al-Baladzuri, Ibn ‘Abdul Hakam, Al-Thabari, Al-Kindi, Ibn Al-Atsir, Ibn Taghribirdi, dan Al-Sayuthi tidak pernah sama sekali mengemukakan masalah pembakaran perpustakaan tersebut. Secuil pun tidak pernah!

Tuduhan pertama terhadap ‘Umar bin Al-Khaththab, sebagai orang yang memerintahkan pembakaran Perpustakaan Alexandria lama, mencuat gara-gara tulisan tanpa acuan dan rujukan sama sekali yang dikemukakan oleh ‘Abdul Lathif Al-Baghdadi, seorang ahli astronomi dan dokter yang lahir pada 1162 M dan berpulang pada 1231 M di Baghdad. Menurut catatan ilmuwan yang sezaman dengan Maimonides serta pernah melakukan perjalanan lama ke Mosul, Damaskus, dan Mesir tersebut, di Kota Alexandria terdapat sejumlah pilar dan bidang kosong yang mengelilinginya. Menurutnya, di situlah Aristoteles mengajar murid-muridnya dan di situ pulalah Alexander The Great mendirikan perpustakaannya. Dan, di situ pulalah terdapat sebuah perpustakaan yang dibakar oleh ‘Amr bin Al-‘Ash atas perintah ‘Umar bin Al-Khaththab. Catatan itu kemudian di”blow-up” oleh seorang sejarawan pada masa itu, Abu Al-Faraj bin Al-‘Ibri. Berdasarkan catatan tanpa pijakan ilmiah kuat itulah “legenda pembakaran Perpustakaan Alexandria oleh ‘Umar bin Al-Khaththab” kemudian dikutip oleh Edward Gibbon dalam karyanya The Decline and Fall of the Roman Empire dan Rene Sedillot dalam karyanya The History of the World yang menyatakan bahwa “warisan kebudayaan Islam terhadap kebudayaan manusia adalah pembakaran perpustakaan dan penebangan hutan tanpa sejengkal tanah pun yang ditanami”. Kutipan yang sangat menyedihkan! Dari sinilah “virus pembakaran perpustakaan” tersebut tersebar ke pelbagai penjuru dunia. Padahal, ‘Umar bin Al-Khaththab tidak pernah sama sekali melakukan tindakan keji dan tak beradab tersebut!

“Mas, mau di sini terus?” tanya istri tercinta saya yang segera menyadarkan saya dari lamunan. “Gaklah!” jawab saya seraya mengajak Mas Oyik dan Mas Norman meneruskan perjalanan menikmati panorama Kota Alexandria yang cantik itu dan mengunjungi Masjid Abu Al-‘Abbas Al-Mursi!

3 comments:

priyatnadp said...

wah sempet kaget kirain beneran umar yang bakar..

ikeow said...

hai pakdeee!!!waktu itu aku pernah nonton film cleopatra yang versi elizabeth taylor, disitu diceritain kalau perpustakaan alexandria dibakar sama pasukannya julius caesar, dan cleopatranya marah-marah ke caesar...dasar bangsa biadab!!katanya...

kayanya penulis scenarionya film cleopatra itu lebih objektif ya daripada edward gibbon...hehehe

pustakawan2020 said...

assalamu'alaikum salam kenal...artikel ini sungguh menarik. Saya mohon izin utk kopas dan publis kembali di
http://pustakawan2020.multiply.com

terimakasih :)