Tuesday, March 4, 2014

AKHIRNYA, IBRAHIM MENEMUKAN TUHAN SEMESTA ALAM

Selepas terjadinya “Peristiwa Banjir dan Badai Nuh”, dengan segera, masa demi masa pun berlalu. Kemudian, ketika masa telah memasuki sekitar 2.100 tahun sebelum Masehi, muncul seorang Nabi dan Rasul lain yang namanya disebut 40  kali  dalam Al-Quran. Nabi yang satu ini, dalam menebarkan risalah yang diembannya, juga mengalami perjuangan yang tidak kalah “seru” dengan perjuangan Nabi Nuh a.s. Malah, Rasul yang satu ini, dalam Al-Quran, digambarkan sebagai orang yang  menyerahkan  diri sepenuhnya  kepada Allah. Sehingga, perintah apa pun dia lakukan, meski hal itu bertentangan dengan pikiran dan perasaannya.

Kini, siapakah sejatinya Nabi Ibrahim a.s. ini?

“Garis keturunan Nabi Ibrahim a.s.,” jawab Ibn Katsir dalam sebuah karyanya berjudul Qashash Al-Anbiyâ’, “adalah sebagai berikut: Ibrahim bin Tarikh bin Nahur bin Sarugh bin Raghuh bin Faligh bin Ahr bin Syalih bin Arfghshand bin Sam bin Nuh. Dengan kata lain, Nabi Ibrahim a.s., menurut Ibn Katsir, adalah anak keturunan Nabi Nuh a.s. Wallâhu a‘lam.

Lain halnya dengan pendapat Dr. Shauqi Abu Khalil tentang nama ayahanda Nabi Ibrahim a.s. Menurut Dr. Shauqi Abu Khalil, nama ayahanda Nabi Ibrahim a.s. bukan Tarikh, tapi Azar. Tulis Dr. Shauqi Abu Khalil dalam karyanya di atas, Atlas of the Qur’an, tentang sang Nabi, “Lahir di kawasan Irak selatan, Nabi Ibrahim a.s. semula tinggal di Kota Ur, Chaldea. Ayahnya adalah Azar bin Nahûr, meski ada yang menyatakan bahwa Azar adalah pamannya. Kekaburan itu berpangkal dari kebiasaan memanggil paman seseorang (yaitu salah seorang saudara kandung lelaki ayah seseorang) dengan panggilan “ayah”. Azar adalah seorang warga Kutha, sebuah desa di pinggiran Kota Kufah.”

Nabi dan Rasul yang lahir di kawasan Babylonia ini, menurut Ibn Katsir dalam karyanya yang sama, adalah anak nomor dua dari dua bersaudara. Kedua saudaranya bernama Tahur dan Haran. Nah, Haran mempunyai seorang putra bernama Luth, yang kelak juga menjadi seorang Rasul sebagaimana Nabi Ibrahim a.s. Dengan kata lain, Nabi Luth a.s. adalah keponakan Nabi Ibrahim a.s.

Kini, marilah kita tinggalkan perbedaan pendapat tentang siapa jati diri ayahanda Nabi Ibrahim a.s.  Kini, mari kita simak kisah pencarian Ibrahim untuk menemukan Tuhan. Suatu pencarian yang kemudian benar-benar membuatnya kalbunya damai dan tenang.

Ketika masih muda usia, Ibrahim adalah seorang anak muda yang senantiasa gelisah. Dia senantiasa gelisah, karena menyaksikan pelbagai penyimpangan dan kesesatan yang berkembang dalam masyarakatnya. Kegelisahan itu kian lama kian membara. Sehingga, akhirnya, kegelisahannya itu memacunya untuk mencari Tuhan yang menurutnya selayaknya disembah. Lewat kegelisahan yang berangkat dari keraguan, namun tidak berhenti pada keraguan itu selamanya, Ibrahim akhirnya menemukan Tuhan kala itu dia sedang menyendiri di sebuah gunung. Kisah indah yang disajikan dalam Al-Quran itu, menurut Dr. Muhammad ‘Utsman Najati dalam sebuah karyanya berjudul Al-Qur’ân wa ‘Ilm Al-Nafs, sejatinya “merupakan contoh yang gamblang tentang langkah-langkah berpikir ilmiah dalam memecahkan suatu problem”. Benarkah demikian? Untuk membuktikan hal itu, kini, mari kita ikuti kisah pencarian Ibrahim tersebut.

Berkenaan dengan kisah pencarian tersebut, pertama-tama dalam Al-Quran dikemukakan dengan memikat kisah tentang keraguan Ibrahim yang diharapkan sang ayahanda, Azar, agar suatu saat menjadi pendeta: suatu saat dia bertanya kepada ayahandanya, perihal berhala yang disembahnya dan prosesnya menemukan Tuhan,

Dan (ingatlah) ketika waktu Ibrahim berkata kepada ayahnya, Azar, ‘Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sungguh, aku melihat kamu dan kaummu dalam kesesatan yang nyata.’ Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat sebuah bintang. (Lalu,) dia berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi, tatkala bintang itu tenggelam, dia (pun) berkata, ‘Saya tidak suka pada (sesuatu) yang tenggelam.’ Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit, dia (pun) berkata, ‘Inilah Tuhanku.’ Tetapi setelah bulan itu terbenam, Dia berkata, ‘Sungguh, jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaKu, pastilah aku termasuk orang yang sesat.’ Kemudian, tatkala dia melihat matahari terbit, dia (pun) berkata, ‘Inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar.’ Maka, tatkala matahari itu terbenam, dia (pun) berkata, ‘Wahai kaumku, sungguh aku berlepas diri dari apa yang kalian persekutukan. Sungguh, aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung pada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” (QS Al-An‘âm [6]: 74-79).

Dengan keraguan dan pencarian itu, akhirnya Ibrahim menyadari kelirunya penyembahan berhala seperti yang dilakukan kaumnya. Sebab, manusialah yang menciptakan berhala itu. Bagaimana manusia dapat menyembah sesuatu yang dibuatnya sendiri? Karena itu, Ibrahim menyanggah tindakan kaumnya yang demikian itu, “Kemudian Ibrahim berkata, ‘Apakah kalian menyembah patung-patung yang kalian pahat?’” (QS Al-Shaffât [37]: 95).

Apalagi, menurut Ibrahim, berhala sama sekali tidak memiliki kekuatan. Karena itu, patung-patung itu tidak layak diberi predikat ketuhanan. Sebab, Tuhan adalah Zat Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, Pengendali semesta alam, Pemberi karunia, dan Pemberi rezeki. Menyadari semua itu, protes Ibrahim pun kian lantang, “Karena itu, mengapakah kalian menyembah selain Allah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat sedikit pun dan tidak (pula) memberi mudharat kepada kalian? Duh, (celakalah) kalian dan apa yang kalian sembah selain Allah. Maka, apakah kalian tidak memahami?” (QS Al-Anbiyâ’ [21]: 66-67).

Kesadaran Ibrahim akan kelirunya penyembahan berhala dan ketidaklayakan berhala itu untuk disebut sebagai tuhan membangkitkan dalam dirinya problem yang mendesaknya dan menguasai pikirannya, “Siapakah Tuhan semesta alam ini?”

Nah, ketika Ibrahim merasakan “adanya problem” itu, dia pun merasakan adanya dorongan yang memaksanya memikirkan problem itu, dengan tujuan untuk mengetahui Tuhan dan Pencipta semesta alam ini. Timbulnya dorongan yang semacam itu ditopang oleh fitrahnya yang benar, jiwanya yang bening, dan akal budinya yang kuat. Tentu, juga, atas hidâyah dan karunia Allah Swt.

Selepas melintasi proses yang demikian, kisah pencarian Ibrahim kemudian beralih pada tahap pengamatan dan penghimpunan data dan informasi. Dia pun mulai mengamati pelbagai gejala alam. Baik di langit maupun di bumi. Harapannya: dia dapat memeroleh pengetahuan tentang Tuhan. Karena itu, kini, dia pun gemar memandang ke arah bintang, bulan, dan matahari. Proses pencariannya yang demikian itu ditampilkan dengan gamblang dalam ayat Al-Quran berikut, “Kami perlihatkan kepada Ibrahim, tanda-tanda keagungan (Kami yang terdapat) di langit dan di bumi. Dan, (Kami memperlihatkannya agar dia termasuk orang-orang yang yakin.” (QS Al-An‘âm [6] 75).

Selama dalam tahap pengamatan dan penghimpunan data dan informasi tentang pelbagai gejala alam tersebut, Ibrahim menyusun beberapa hipotesa. Ketika malam datang dan dia menyaksikan bintang-bintang gemerlap di langit yang kelam, dia membuat hipotesa bahwa bintang-bintang itulah tuhan. Namun, ketika tampak olehnya bintang-bintang itu tenggelam dan tidak tampak lagi, dia pun menyingkirkan hipotesa itu, karena hipotesa itu bukan merupakan hipotesa yang tepat. Sebab, jika bintang-bintang itu adalah tuhan, tentu bintang-bintang itu akan tetap dan tidak berubah: selalu ada dan tidak menghilang.

Kemudian, ketika tengah malam datang, Ibrahim pun menyaksikan bulan. Segera, dia pun membuat hipotesa baru bahwa bulan itulah tuhan. Namun, ketika dia menyaksikan bulan juga tenggelam, dia pun menyingkirkan hipotesa itu. Ini juga karena bulan tidak dapat diberi predikat ketuhanan. Lantas, ketika dia menyaksikan matahari dan pendar cahayanya memenuhi seluruh penjuru bumi, lagi lebih besar ketimbang bintang-bintang lainnya, dia pun membuat hipotesa lain dan menyatakan bahwa matahari itulah tuhan. Namun, lagi-lagi, ketika dia menyaksikan matahari juga tenggelam, dia pun menyingkirkan hipotesa terakhir itu. Sebab, matahari juga tidak layak diberi predikat ketuhanan.

Selepas semua hipotesa itu disingkirkannya, karena semuanya tidak layak diberi predikat ketuhanan, Ibrahim kemudian menyusun sebuah hipotesa baru: Tuhan adalah Zat yang menciptakan semua bintang, langit, bumi, dan semua makhluk yang ada di dalamnya. Ucap Ibrahim, “Sungguh, aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung pada agama yang benar. Dan, aku tidak termasuk orang-orang yang menyekutukan Tuhan.”

Tidak syak lagi, dalam membuat hipotesa terakhir itu, di mana akhirnya Ibrahim memeroleh hidâyah, dia berpikir dan menghimpun banyak pengamatan lainnya tentang pelbagai gejala semesta alam. Ternyata, dia tidak mendapatkan adanya sesuatu yang dapat menggugurkan hipotesa terakhirnya itu. Malah, dia mendapatkan, semua keindahan ciptaan Allah Swt. yang dia saksikan dan sistem yang sangat teratur dalam semesta alam membuktikan adanya Tuhan Yang Maha Perkasa, Maha Kuasa, dan Maha Bijaksana. Dialah yang menciptakan semesta alam itu. Juga, semua makhluk yang ada dalam sistem yang begitu teratur itu.

Kisah pencarian Ibrahim tersebut, yang dikemukakan secara terinci dalam Al-Quran tersebut, memberikan suatu pelajaran indah: betapa cermatnya Al-Quran dalam memaparkan langkah-langkah berpikir dalam memecahkan suatu problem. Di samping itu, dalam Kitab Suci itu juga dikemukakan, bila para nabi  sebelum Nabi Ibrahim a.s. mengajarkan kepada kaumnya agar menyembah Allah Tuhan kalian”, lain halnya dengan Nabi yang satu itu: dia mengajarkan, Tuhan  yang disembahnya  adalah Tuhan semesta alam. Dengan  kata  lain, Tuhan  yang menyertai manusia saat tidur atau  sadarnya,  sebelum dan  saat  keberadaannya di dunia, dan  setelah  kematiannya.  Dia mengajarkan demikian setelah menemukan   dan  membina  keyakinannya melalui pengalaman pribadi seperti dikemukakan di atas: setelah mengamati bintang, bulan, dan matahari, akhirnya ia berkesimpulan bahwa yang layak disembah bukanlah patung, tidak juga benda-benda, tapi Tuhan semesta alam.

No comments: