Tuesday, March 25, 2014

USTADZ, APA RESEP DUA PUTRINYA BISA MASUK ITB?

Kemarin, ipar saya (adik istri) dan suaminya dari Tangerang berkunjung ke rumah kami. Setelah berbagi sapa dan bercerita tentang banyak hal, mereka kemudian mengemukakan cita-cita mereka: menyekolahkan putri kedua mereka di Institut Teknologi Bandung (ITB). Mereka tahu, kedua putri saya lulusan institut teknologi tersebut. Selepas bercerita demikian, ipar saya kemudian bertanya kepada saya, “Mas, bagaimana caranya supaya anak kami bisa masuk ITB?”

Sebuah pertanyaan singkat, tapi sulit menjawabnya. Apalagi, bagi saya yang seumur-umur tidak pernah mempelajari ilmu pasti dan teknologi, juga tidak pernah menikmati pendidikan umum secara formal.  Saya, sejak kecil (malah begitu lahir), hidup di lingkungan pesantren dan dididik kedua orang tuanya saya di lembaga keagamaan tradisional tersebut. Lagi pula, kedua putri saya, khususnya putri sulung saya, sebal ketika tahu saya bercerita tentang pendidikan mereka di instiut teknologi tersebut. Mungkin, mereka lebih suka dikenal sebagai putri seorang ayah ndeso yang lahir dan tumbuh di lingkungan pesantren tradisional.

Entah kenapa, tidak lama selepas mendengar pertanyaan ipar saya yang demikian, tiba-tiba benak saya “melayang-layang” jauh. Ya, “melayang-layang”  jauh ke Makkah dua tahun yang lalu.  Kala itu, seusai melaksanakan shalat Zhuhur di Masjid Al-Haram, saya dan sejumlah jamaah umrah menikmati makan siang di hotel tempat kami menginap. Beberapa di antara mereka adalah para guru besar Institut Teknologi Bandung dan Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Seperti biasanya, sambil menikmati hidangan yang disajikan, kami berbagi cerita tentang banyak hal, termasuk pendidikan anak-anak kami. Tiba-tiba, di tengah-tengah pembicaraan, Prof. Dr. Ir. MI, seorang guru besar di Jurusan Teknik Sipil ITB yang tahu bahwa kedua putri saya lulusan dari ITB, bertanya kepada saya, “Ustadz, apa resepnya kok kedua putri Ustadz bisa masuk ITB? Padahal, banyak di antara para sejawat saya, para dosen di ITB, yang putra-putri mereka gagal masuk ITB?”

“Duh, bagaimana ya menjawabnya,” gumam pelan bibir saya. Beberapa lama saya termenung, kesulitan dalam memberikan jawaban. Akhirnya, saya pun menjawab, “Bapak-bapak, dengan latar pendidikan formal yang pernah ditempuh, sejatinya lebih tahu daripada saya tentang hal tersebut. Bapak-bapak tentu sepakat dengan saya, untuk dapat memasuki sebuah perguruan tinggi terbaik tentu diperlukan persiapan jangka panjang. Dengan kata lain, kita harus sudah menyiapkan putra-putri kita sejak dini. Tanpa persiapan jangka panjang, tentu sulit bagi putra-putri kita untuk dapat ikut memasuki sebuah perguruan tinggi yang diperebutkan puluhan ribu calon mahasiswa.  Selain itu, bapak-bapak tentu seiring pendapat dengan saya, sejak dini anak-anak juga perlu diberi pemahaman, keberhasilan meraih cita-cita tidaklah mudah dan memerlukan dukungan mereka, yaitu kesadaran mereka untuk bersama orang tua meniti langkah-langkah menuju cita-cita yang dituju.”

Usai berucap demikian, sejenak saya menarik napas. Seakan, sebuah beban berat terlepaskan. Dan, tidak lama kemudian, saya kembali berucap, “Di samping itu semua, sejatinya ada hal-hal lain yang kerap kali dilupakan para orang tua dalam mengantarkan putra-putri mereka dalam menempuh pendidikan.”
“Apa itu, Ustadz?” tanya Prof. Dr. EA, seorang guru besar Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung. Penuh semangat.
“Sebagai Muslim,” lanjut saya hati-hati, karena tahu yang di hadapan saya adalah para pakar, “tentu kita perlu mengantarkan putra-putri kita, dalam menempuh pendidikan dan kehidupan, dengan doa dan pendekatan diri kepada Allah Swt. Sebenarnya, saya tidak pernah mendoakan kedua putri saya dengan sebuah doa khusus yang secara eksplisit mengharapkan kiranya Allah Swt. melempangkan jalan mereka dalam memasuki ITB. Ayah saya, seorang kiai, mengajarkan kepada saya sebuah doa yang indah, “Allahumma ij’alna wa azwajana wa auladana wa banatina wa dzurriyyatina min ahl al-‘ilm wa ahl al-khair, wala taj’alna wa azwajana wa auladana wa banatina wa dzurriyyati min ahl al-syarr wa ahl al-dhair (Ya Allah, Tuhan kami, jadikan kami, istri kami, anak-anak laki-laki dan perempuan kami, juga anak keturunan kami, termasuk orang-orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan dan suka berbuat kebaikan. Dan, jangan jadikanlah kami, istri kami, anak-anak laki-laki dan perempuan kami, juga anak keturunan kami, termasuk orang-orang yang suka bertindak kejahatan dan kesesatan).” Jadi, yang senantiasa saya doakan, kiranya Allah Swt. menjadikan kedua putri saya menjadi orang yang dikaruniai ilmu pengetahuan dan suka berbuat kebaikan. Masalah mereka akan diterima perguruan tinggi mana, Allah Swt. yang lebih tahu mana yang terbaik. Kami hanya berikhtiar. Berikhtiar tentu saja tidak saja secara lahiriah saja. Dalam hal ini, istri saya, untuk mengantarkan kedua putri kami dalam menempuh pendidikan mereka, senantiasa berpuasa Senin-Kamis. Demikian selintas jawaban yang dapat saya kemukakan.”
“Ustadz,” ucap Prof. Dr. Ir. MI, “saya sepakat, doa dan ‘laku prihatin’ orang tua sangat penting sekali dalam menopang keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Pengalaman saya, juga para sejawat saya di ITB, membuktikan demikian. Terima kasih, Ustadz, atas ‘taushiyah’nya hari ini.”

Selepas itu, kami pun asyik kembali membincangkan hal-hal lainnya, seraya menikmati hidangan siang itu.


No comments: