Wednesday, July 18, 2012


INDONESIAN DIASPORA

“Saat ini, sebaiknya para pakar dan ilmuwan Indonesia di luar negeri tidak usah pulang kampung!” ucapnya berapi-api. “Malah, setiap kali saya bertemu dengan teman-teman yang sedang mengambil program s-3 di luar negeri, atau selepas mereka merampungkan program itu, saya selalu bilang kepada mereka, ‘Jangan pulang kampung! Taklukkan dunia, dengan ilmu kalian! Prestasi Anda di luar negeri akan mengangkat nama baik negeri kita! Mari kita bentuk Indonesian Diaspora yang bergengsi dan tangguh di luar negeri!”

Entah kenapa, mendengar ucapan mahasiswa program s-3 Universitas Delft, Belanda itu saya terlarut oleh gaya ucapannya yang meledak-ledak. Padahal, saya baru bertemu sekali dengannya: tadi sore. Program s-2 ia rampungkan di universitas yang sama. Sedangkan program s-1 ia rampungkan di Jurusan Geologi ITB. Saat ini, ia pulang ke kampung halaman untuk melepas rindu. Dan, bulan Desember nanti, insya Allah ia akan maju sidang doktoral di almamaternya di Belanda.

Begitu mendengar kata-kata ‘Indonesian diaspora’, saya pun segera teringat para sahabat saya yang kini menempati pelbagai kedudukan strategis di luar negeri. Dulu, saya termasuk orang yang suka ‘ngomporin’ mereka untuk pulang ke negeri tercinta. Namun, cara pandang saya yang demikian itu kini sudah berbalik seratus delapan puluh derajat. Kini, seperti halnya mahasiswa s-3 Universitas Delft itu, saya lebih suka memotivasi mereka untuk tidak pulang kampung. Mereka lebih baik meretas karier di luar negeri dan “MENAKLUKKAN DUNIA”.  Mengapa? Kita kini memerlukan jejaring yang kuat di luar negeri. Terutama jejaring para ilmuwan dan pakar. Sehingga, dengan demikian, Indonesia memiliki jaringan bergengsi di luar negeri. Dan, berdasarkan kajian-kajian tentang pelbagai diaspora di dunia, kontribusi ‘kaum diaspora’ terhadap negeri asal mereka demikian besar.

“Pak Rofi’! Anak-anak Indonesia sejatinya memiliki kemampuan ilmiah yang luar biasa. Apalagi yang sedang menimba ilmu di negeri itu. Itu sejatinya merupakan aset luar biasa yang kerap diabaikan negara kita!” ucapnya selanjutnya.

Entah kenapa, tadi sore, saya lebih suka menempatkan diri saya sebagai ‘murid’ yang sedang menyerap ilmu dan pengalaman anak muda yang bertubuh agak tambun dan asal Bandung itu. Senang sekali rasanya mendengarkan ‘pidato’nya yang berapi-api. Dan, ketika berpisah dengannya, entah kenapa ucapannya tentang ‘Indonesian Diaspora’ sulit lenyap dari benak saya. 

No comments: