Friday, September 20, 2013

“RAPAT GELAP” DADAKAN DI WOLUWE, BRUSSELS:
Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (8)

Neng, di mana kita ini?” tanya saya kepada istri, ketika terbangun dari tidur selepas melaksanakan shalat Subuh pada Rabu, 4 September 2013. Kami, karena sangat mengantuk, memang melanjutkan “perjalanan tidur” kami setelah sebelumnya baru memejamkan mata sekitar pukul 02.30 dini hari.
“Lo, bukankah kita di rumahnya Mas Andi Yudha,” jawab istri. “Kenapa gitu?”
“Kok saya mendengar lagu-lagu Indonesia. Mendengar lagu-lagu merdu dan syahdu itu kok membuat saya kangen sama Tanah Air.”
“Itu kan lagu-lagunya Iwan Abdurahman. Saya suka dengan lagu-lagu dia. Mungkin, Mas Andi sudah bangun dan sedang menyetel lagu-lagu itu. Yuk, kita bangun.”

Segera, saya sadar, kalau kami sedang berada Saint-Pierre, Woluwe, Brussels, di rumah sahabat akrab kami, Mas Andi Yudha Asfandiyar, mantan CEO Penerbit Mizan, dan Mbak Sinta Rismayani, Atase Perindustrian Republik Indonesia untuk Brussels, Luxemburg, dan Uni Eropa. Rumah yang terletak di kawasan elite di Brussels itu terasa sepi sekali. Saat itu, Mbak Sinta Rismayani, istri Mas Andi, sedang bertugas di Polandia. Dari sana, Mbak Sinta akan melanjutkan perjalanannya menuju Rusia. Tugas sebagai seorang atase perindustrian untuk Uni Eropa membuatnya kerap melakukan perjalanan ke pelbagai negara di Benua Eropa. Sedangkan semua anak-anak mereka sedang menimba ilmu di Belanda. Dengan kata lain, saat itu Mas Andi sedang “ngejomblo” alias kesepian dalam kesendirian, hehehe.

Betapa bahagia kami, bersama Mas Toyibi dan istri, dapat berkunjung dan mendapatkan kehormatan dapat menginap di kawasan yang dalam bahasa Belanda disebut  Sint-Pieters-Woluwe itu. Kawasan itu merupakan salah satu dari sembilan semacam “kecamatan” (tentu saja di Belgia gak ada kecamatan) di ibu kota Belgia, Brussels. Kawasan elite yang sepi, bersih, tertata bagus, dan terkelola baik. Namun, kebanyakan para penghuni kawasan itu adalah para pensiunan dan orang-orang yang berusia lanjut. Apa akibatnya? “Jika musim dingin datang,” tutur Mas Andi kepada kami sebelum kami beristirahat pada malam ketika kami datang, “saya selalu was-was jika mendengar bunyi lonceng gereja yang ‘mengumumkan kematian seseorang’. Di musim dingin, lonceng gereja itu lebih kerap dibunyikan ketimbang di musim panas seperti saat ini, karena sebagian besar para penghuni kawasan ini adalah orang-orang yang berusia lanjut. Karena itu, di sini, kita jarang bertemu dengan anak-anak dan anak-anak muda.” Weleh, gak seperti di Baleendah, tempat tinggal kami: dari pagi hingga sore ramai dengan anak-anak.

Usai mandi, kami kemudian berkemas-kemas. Rencananya, kami berempat baru akan dijemput “Tim Eindhoven” sekitar pukul 12.30 siang, untuk “menikmati” Kota Brussels. Mereka akan bertemu dan rapat dulu dengan Dubes RI untuk Belgia, Luxemburg, dan Uni Eropa, Arif Havas Oegroseno. Kami sendiri, setelah berkemas-kemas, sambil menunggu jemputan empat jam kemudian, lantas turun ke lantai satu: ruang tamu. Aha, di situ Mas Andi ternyata sedang menyetel lagu-lagu Indonesia sambil menggambar entah apa. Yang jelas, di depannya bertebaran kertas-kerta yang penuh gambar-gambar hitam putih. Tidak lama kemudian, Mas Toyibi dan istri bergabung. Rasanya, kami saat itu berada di Bandung, bukan di Brussels, hehehe.

Melihat kami berempat sudah “siap tempur”, Mas Andi Yudha Asfandiyar pun menyilakan kami untuk menikmati breakfast, dengan hidangan roti-roti ala “londo”, juice, dan teh hangat. Asyik, lezat sekali roti-roti yang dihidangkan. Seperti halnya ketika kami berkunjung di rumah Mas Aji Purwanto pada malam sebelum itu, dan kemudian ke rumah Mas Latif Gau di Eindhoven, ternyata Mas Andi dan keluarga juga tidak memiliki asisten pembantu rumah tangga. Padahal, sebagai seorang atase, Mbak Sinta (istri Mas Andi) tentunya dapat jatah asisten rumah tangga. “Kami tidak memerlukan asisten pembantu rumah tangga kok,” jawab Mas Andi ketika ditanya mengapa di rumahnya sepi dan tanpa asisten pembantu rumah tangga. “Kami kan hanya berdua. Apalagi saya, atau istri, kan sering tidak berada di rumah. Apalagi, anak-anak tidak tinggal di sini.” Budaya yang bagus dan patut ditiru!

Setelah kami berlima duduk di seputar meja makan, eh “rapat gelap” yang dimulai di rumah Mas Aji Purwanto pun berlanjut. Jika dalam “rapat gelap” di rumah direktur perusahaan engineering itu lebih berkisar tentang bagaimana cara “menaklukkan Eropa”, meski  akhirnya menyenggol masalah “Jokowi for President”, sedangkan “rapat gelap” kami berlima berkisar seputar kreativitas. Tentu saja, perbincangan pagi itu berkaitan dengan  kreativitas untuk anak-anak. Dengan gaya, mimik, dan gerakan kedua tangannya yang khas, “dedengkot” Sanggar PicuPacu Kreativitas itu memaparkan pelbagai kegiatannya yang berkaitan dengan pembinaan kreativitas untuk anak-anak di Indonesia di pelbagai tempat di Tanah Air. Sampai pun selepas Mas Andi bermukim di Kota Brussels.

Meski “disidang”, hehehe, empat orang, Mas Andi dengan gayanya yang ekpresif mampu mempertahankan argumentasi-argumentasinya tentang kreativitas. Malah, ketika Mas Andi menuturkan perilaku seorang penulis yang terkenal dengan gaya nyelenehnya, PB, sebagai contoh salah satu bentuk kreativitas, Mas Toyibi sampai tertawa terbahak-bahak. Padahal, biasanya, dokter spesialis senior yang satu ini selalu tampil serius. Saya yakin, Mas Andi tahu, dirinya “disidang” karena ilmu dan pengalamannya tentang kreativitas untuk anak-anak sedang “dioperasi dan disedot”. Dan, Mas Andi pun tahu, kian banyak ilmu dan pengalamannya dia berikan, kian banyak pula ilmu dan pengalamannya yang dianugrahkan kepadanya. Bukan begitu, Mas Andi.

Tidak terasa, “rapat gelap” itu berlangsung hingga sekitar pukul 10.30. Ketika “rapat gelap” itu menjelang ditutup, “kera ngalam” yang lulusan Jurusan Desain Grafis, Institut Teknologi Bandung itu kemudian menuturkan, jika saat ini dia sedang “didaulat” menjadi Ketua Pelaksana pembangunan sebuah masjid yang diharapkan mampu menampung sekitar 1,000 jamaah di Kota Brussels. Alhamdulillah. Masjid tersebut, menurut pengurus Keluarga Pengajian Muslimin Indonesia yang satu ini, selain diharapkan dapat menjadi tempat ibadah untuk kaum Muslim dari Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei, juga diharapkan mampu menjadi tempat yang menjadi rahmat bagi semua orang. Tidak hanya bagi kaum Muslim saja, tapi juga bagi kaum non-Muslim. Dengan kata lain, setiap Muslim yang hadir di masjid itu merasa nyaman, krasan, dan membuat “orang-orang lain” pun merasa nyaman dan hormat dengan kehadiran mereka dan masjid itu. “Dana yang diperlukan sekitar 250,000,- euro,” tutur Mas Andi. “Saat ini, dana yang terkumpul baru sekitar 70,000,- euro.” Nah, jika Anda ingin ikut membangun “sebuah gedung indah dalam surga”, silakan kontak Mas Andi selaku Ketua Pelaksana pembangunan masjid di Brussels itu. Paling tidak, dengan doa, kiranya masjid yang menjadi rahmatan lil ‘alamin itu segera terealisasi, amin.

Ketika “rapat gelap” itu diakhiri, Mas Andi Yudha Asfandiyar kemudian bercerita, salah satu ilmu dan pengalaman yang dia dapatkan di Brussels adalah teknik melukis sekali gores tanpa henti. Salah satu karyanya, dengan teknik sekali gores tanpa henti, adalah karya lukisnya yang dia taruh di depan meja kerjanya. “Mas Andi ini orang hebat,” gumam saya dalam hati ketika melihat Mas Andi sedang mempraktikkan cara dia melukis sekali gores. “Selain bisa melukis, dia juga piawai mendongeng dan menjadi motivator ulung dalam menanamkan dalam kalangan orang tua tentang pentingnya  kreativitas untuk anak-anak. Kiranya Allah Swt. senantiasa melimpahkan kepadanya kesehatan dan kemampuan dalam merealisasikan cita-citanya, amin.”

Usai berbincang dan bertukar pikiran dengan Mas Andi Yudha Asfandiyar, kami berempat kemudian berjalan-jalan di seputar kompleks tempat kediaman Mas Andi dan keluarga, Saint Pierre-Woluwe. Saat itu, di kompleks yang “dihiasi” dengan sebuah gereja yang disebut “Eglise Sainte-Alix”, atau dalam bahasa Belanda disebut “Sint-Aleidiskerk”, itu sedang ada pasar kaget. Ternyata, di Brussels pun juga ada pasar kaget. Yang menarik, baik di pasar itu, maupun di seputar kompleks yang kami datangi, tidak banyak anak-anak muda. Apalagi anak-anak kecil yang berlari-lari ke sana ke mari. Kayaknya, Benua Eropa saat ini sedang defisit anak-anak kecil, hehehe.

Kemudian, sekitar pukul 12.30 waktu Brussels, satu mobil Audi Q7 dan satu mobil Toyota Highlander Hybrid datang ke rumah Mas Andi. Ternyata, Mas Adi Purwanto dan Mas Latif Gau yang datang. Mereka meminta kami berlima supaya segera bersiap menuju Kedutaan Besar Indonesia (KBRI) di Brussels, untuk menikmati makan siang bersama Bapak Dubes. Menerima kehormatan demikian, saya pun berkata kepada Mas Latif Gau, “Bagi saya, ini merupakan kramat gandul.”
“Apa itu kramat gandul?” tanya Mas Latif, yang sejak muda usia sudah bermukim di Belanda, kebingungan.
“Istilah ‘kramat gandul’ itu semula berkembang dalam kalangan pesantren saja. Mas Latif tentu tahu, ketika seorang kiai mendapatkan undangan, misalnya, biasanya dia didampingi seorang atau beberapa orang santrinya. Lantas, ketika mereka tiba di tempat perhelatan, tentu yang mendapatkan sajian lezat kan tidak hanya sang kiai saja, tapi juga santri atau para santrinya. Mas Latif tentu faham, andaikan si santri atau para santri itu tidak bersama kiai mereka, tentu mereka tidak akan kehormatan yang sama. Iya kan. Nah, dalam kasus ini, saya dapat kramat gandul dari ‘Tim Eindhoven’. Tanpa kehadiran ‘Tim Eindhoven’, tentu saya tidak akan mendapatkan undangan untuk makan siang bersama Bapak Dubes, hehehe.”
“Hahahaha, Pak Rofi’ bisa saja.”


Tidak lama kemudian, kami pun tiba di gedung KBRI Brussels dan kemudian menikmati makan siang di sebuah restoran di samping kanan gedung KBRI tersebut. Terima kasih Bapak Arif Havas Oegroseno, atas kehormatan yang diberikan kepada kami. (Bersambung: “MANNEKEN PIS PUN PERNAH MENGENAKAN BLANGKON DAN SURJAN: Perjalanan Santri Ndeso ke Belanda-Belgia (9). Kisah kluyuran ke pusat kota Brussels). 

No comments: