Thursday, July 17, 2014

‘ABDUL HALIM MAHMUD:
Syeikh Al-Azhar yang Berani Berkata Tidak kepada Penguasa

Selepas  dua hari yang lalu Anda “menikmati”  Kota Istanbul, kini mari sejenak kita berjalan-jalan sekitar 1,250 kilometer ke arah barat daya, ke Kairo, ibukota Mesir. Tentu, Anda tahu kota yang satu ini.

Ketika Anda melintasi Salah Salem Street dari arah Cairo International Airport, kemudian perjalanan Anda melintasi persimpangan antara Salah Salem Street dan Jawhar Al-Qa‘id Street, di kawasan Darasah, di sebelah kanan Anda akan terlihat sebuah bangunan megah di pojokan. Gedung itu tidak lain adalah markas besar Syeikh Al-Azhar (Idârah Al-Azhar Al-Syarîf) yang dalam bahasa Inggris disebut Grand Sheikh Al-Azhar. Nah, di gedung itulah sejatinya pelbagai persoalan keislaman dikaji dan dikelola. Baik di tingkat Mesir maupun Dunia Islam,

Jabatan Syeikh Al-Azhar tersebut sangat bergengsi. Ini karena pemegang jabatan tersebut membawahi sebuah lembaga yang disebut Al-Azhar Al-Syarif, sebuah lembaga pendidikan tertua di Dunia  Islam. Berbeda dengan Lembaga Al-Azhar Al-Syarif, yang telah berusia lebih dari seribu tahun, gelar “Syeikh Al-Azhar” yang diberikan kepada seseorang yang menjadi “panglima tertinggi” lembaga tersebut baru dipakai  pada 1101  H/1690  M.  Pemegang  pertama  jabatan  itu  adalah  Syeikh Muhammad  ‘Abdullah Al-Kharrasyi. Hingga tahun  1355  H/1936  M, jabatan Syeikh Al-Azhar dapat diwariskan. Kemudian, sejak 1366 H/1946 M,  keluar aturan  yang  membolehkan  pemegang  jabatan  itu  berasal   dari luar lingkungan Al-Azhar. Pengangkatan pemegang jabatan ini ditetapkan Kepala Negara Mesir. Dalam perjalanan sejarah jabatan  ini, sebagian besar para pemegangnya berasal dari Mazhab Syafi‘i.
Pemegang jabatan Syeikh Al-Azhar sendiri memimpin lima lembaga: Majelis Tinggi Al-Azhar,  Lembaga  Penelitian Islam, Biro Kebudayaan  dan  Missi Islam,  Universitas  Al-Azhar, dan Lembaga  Pendidikan  Dasar  dan Menengah. Majelis Tinggi Al-Azhar merupakan lembaga tertinggi yang menggariskan kebijaksanaan umum Al-Azhar. Majelis ini terdiri dari Syeikh  Al-Azhar (sebagai Ketua), Wakil Syeikh  Al-Azhar,  Rektor Universitas  Al-Azhar, para dekan berbagai fakultas di lingkungan Universitas Al-Azhar, empat  orang  dari Lembaga Penelitian Islam, seorang  wakil  dari berbagai  departemen  Mesir,  Kepala Biro  Kebudayaan  dan  Missi Islam, Direktur Pendidikan Dasar dan Menengah Al-Azhar, dan tiga pakar pendidikan tinggi.

Sejatinya, jabatan Syeikh  Al-Azhar merupakan jabatan umat, semacam kepausan di kalangan para pengikut Agama Kristen Katolik. Kurang lebih begitu, tetapi tidak sama persis. Ini karena di Dunia Islam yang beraliran Sunni tidak dikenal sistem seperti itu. Di sisi lain, jabatan itu merupakan jabatan independen dan otonom yang memiliki otoritas penuh tanpa campur tangan pemerintah. Tetapi, sejak Presiden Anwar Sadat berkuasa, pemerintah Mesir mulai berusaha menggoyang kedudukan Syeikh Al-Azhar, dengan tujuan supaya pemerintahan Mesir dapat  melakukan campur tangan di dalamnya. Ini karena sebenarnya jabatan  Syeikh Al-Azhar setara kedudukannya dengan jabatan Perdana Menteri. Namun, usaha yang dilakukan Presiden Anwar Sadat senantiasa kandas di tangan kewibawaan seorang Syeikh Al-Azhar yang kala itu dijabat Prof. Dr. Syeikh ‘Abdul Halim Mahmud.

Siapakah ulama kharismatik yang wajahnya memancarkan keteduhan dan kesejukan ini?
  
Syeikh Al-Azhar Mesir ke-40,  yang  juga terkenal  sebagai  seorang pemikir Muslim terkemuka  dan  penulis yang  produktif,  ini  lahir  di  Desa Abu Ahmad (sekarang disebut Desa  Salam),  Bilbis,   Provinsi Syarqiyah  pada Selasa, 29 Rabi‘ Al-Akhir 1328 H/10 Mei 1910 M. Ia dalam  lingkungan keluarga yang terkenal dermawan dan penghapal Al-Quran. Nama lengkapnya sejak lahir adalah ‘Abdul Halim bin Mahmud bin ‘Ali bin Ahmad. Selepas menimba  ilmu-ilmu  keislaman di tempat kelahirannya,  pada  1342 H/1923  M ia memasuki dunia pendidikan di  lingkungan  Al-Azhar: Perguruan  Awwaliyyah. Sembilan tahun  selepas  itu,  ia berhasil  meraih  gelar  al-‘âlimiyyah termuda sepanjang  sejarah  Al-Azhar,  dalam usia 22  tahun.  Lantas,  ia bertolak  ke  Paris, Perancis, untuk menimba ilmu  di  Universitas Sorbonne dengan biaya sendiri.

Ketika  anak keturunan ‘Ali bin Abu Thalib dari  garis  ayahandanya ini  sedang  meniti  pendidikan  di  Kota Cahaya tersebut,  Perang  Dunia   II berkecamuk dan menyelubungi negeri itu. Meski demikian, ia  tetap melanjutkan pendidikannya. Sehingga, akhirnya, gelar doktor dari universitas terkemuka di Paris tersebut, di bidang tasawuf, ia raih  pada 1359  H/1940  M di bawah bimbingan seorang  orientalis  terkemuka Perancis kala itu, Louis Massignon. Disertasinya tentang  seorang tokoh  sufi terkemuka pada masa pertengahan: Al-Harits bin  Asad Al-Muhasibi.   Dan,  karena  suasana  perang  kala  itu   sedang mencekam, ia terpaksa pulang ke negerinya dalam waktu yang  cukup lama, dengan melewati Tanjung Harapan, Afrika.

Setiba  di  Mesir,  ulama dan ilmuwan  yang  acap  menghadiri berbagai pertemuan Islam internasional ini diangkat menjadi  staf pengajar  di  bidang  ilmu  jiwa  di  Fakultas  Bahasa  Arab   di almamaternya. Pada 1371 H/1951 M tugasnya dipindahkan ke Fakultas Ushuluddin di universitas yang sama. Lantas, pada 1384 H/1964  M, ulama  yang  pernah menjadi penasihat  keagamaan  Presiden  Anwar Sadat ini diangkat menjadi Dekan Fakultas Ushuluddin. Pada tahun yang sama ia juga menjadi anggota Lembaga Riset Islam (Majma‘ Al-Buhuts Al-Islâmiyyah). Jabatan Menteri Wakaf Mesir dipegang ulama yang berpendapat bahwa “tasawuf  adalah jalan yang selamat, akomodatif, dan  konstruktif bagi  kehidupan dan kemajuan” ini pada 1390 H/1970  M.  Sedangkan jabatan tertinggi Al-Azhar, Syeikh Al-Azhar, menggantikan Muhammad Al-Fahham, diduduki ulama  yang juga menjabat dosen terbang di beberapa perguruan tinggi  seperti Universitas Zaitunah di Tunisia dan Universitas Islam di  Libya ini sejak 1393 H/1973 M.

Nah, baru selepas Prof. Dr. ‘Abdul Halim Mahmud berpulang di Kairo, pada Selasa, 14 Dzulqa‘dah 1398 H/17 Oktober 1978 M, mulailah tangan pemerintah Mesir masuk ke dalam otoritas Syeikh Al-Azhar. Di sisi lain, sejatinya jabatan Syeikh Al-Azhar bukan hanya milik ulama Mesir. Tetapi, jabatan tersebut merupakan milik Dunia Islam. Siapa pun ulama dan tokoh Dunia Islam, termasuk Anda, berhak menjadi Syeikh Al-Azhar. Bila terpilih tentunya. Meski begitu, selama ini baru sekali jabatan itu dipegang seorang ulama non-Mesir. Memang unik posisi Lembaga Al-Azhar dan jabatan sebagai Syeikh Al-Azhar!


Kewibawaan seperti halnya yang ada pada diri Prof. Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, tentu, tidak tumbuh bila tokoh yang satu ini tidak memiliki kepribadian yang kuat, jujur, amanah, merendah, berilmu, serta memiliki integritas yang senantiasa terjaga  baik. Sehingga, karena semua itu, kewibawaan ulama terkemuka yang satu ini tidak “tersedot” dalam kewibawaan seorang presiden yang juga memiliki kewibawaan yang juga kuat. Teladan yang indah!

No comments: