Friday, July 18, 2014

ZEWAIL:
Ilmuwan Muslim yang Penerima Hadiah Internasional Raja Faisal dan Hadiah Nobel

Selepas dari Kota Kairo, kini mari kita sejenak pergi ke sebuah kota yang terletak sekitar 225 kilometer di sebelah utara ibukota Mesir itu. Kota Alexandria, atau Iskandariah dalam bahasa Arab, itulah nama kota itu.

Mungkin, Anda pernah mengunjungi kota yang satu ini. Jika pernah ke sana, tidak salah jika Anda berpandangan bahwa kota yang satu ini  merupakan sebuah kota pantai indah yang membentang panjang sekitar 32 kilometer di tepi Laut Mediterania. Sebuah kota indah, memang. Namun, di balik keindahannya, sejatinya sejarahnya yang panjang juga “menyimpan” sejarah pergolakan pemikiran luar biasa yang kerap sarat duka. Kota yang terletak di tepi Laut Mediterania ini, menurut torehan sejarah, dibangun Alexander Agung. Tokoh yang berhasil menaklukkan tiga benua itu ingin mengabadikan namanya, pada 332 SM, pada sebuah megalopolis baru yang akan menjadi pusat pemerintahan kekaisaran yang ia bangun. Berdirilah kemudian Kota Alexandria.

Dewasa ini, jika Anda berada di jantung Kota Alexandria, yang di masa kuno juga disebut Ad Aegyptum (berarti “dekat Mesir”) dan telah berusia ribuan tahun serta pernah menjadi pusat budaya dunia, tentu Anda merasa seakan sedang berada di Eropa, ketika Anda sedang menikmati pemandangan indah sepanjang Sungai Danube di Vienna, Austria atau Sungai Seine di Paris, Perancis. Gaya arsitektur bangunan-bangunan kota di tepi Laut Mediterania ini memang banyak mengadaptasi gaya arsitektur bangunan-bangunan di Eropa.

Lantas, jika Anda berdiri di tepi Al-Geish Avenue, yang terdiri dari sepuluh jalur, di sisi kiri jalan dari arah Istana El-Montazah, di situ Anda akan melihat sebuah bangunan megah berbentuk silinder miring. Itulah gedung baru Perpustakaan Alexandria yang dirancang Snøhetta, sebuah biro arsitektur Norwegia. Nah, setelah “menikmati” Perpustakaan Alexandria baru tersebut, berjalan kakilah Anda ke arah Benteng Qait-Bey. Setelah melangkah beberapa saat, di sisi kiri Anda akan terlihat gedung Universitas Alexandria. Sekilas bangunan itu tidak menarik perhatian. Tentu saja, karena sebelumnya perhatian Anda telah “tersedot” oleh pesona Perpustakaan Alexandria baru. Tetapi, di universitas itulah salah seorang pemenang Hadiah Nobel di bidang kimia pernah menimba ilmu sebelum ia ber“kelana” ke Amerika Serikat. Ilmuwan itu tidak lain adalah Prof. Dr. Ahmed Hassan Zewail.

Barang kali Anda juga tahu, hingga dewasa ini ada tiga tokoh Mesir yang menerima Hadiah Nabel di bidang-bidang yang berbeda: Anwar Sadat (1398 H/1978 M) di bidang perdamaian, Naguib Mahfouzh (1408 H/1988 M) di bidang sastra, dan yang terakhir adalah Ahmed Hassan Zewail (1420 H/1999 M) di bidang kimia. Tokoh yang pertama dan kedua mungkin Anda  mengenal mereka. Sedangkan tokoh ketiga, kenalkah Anda? Baiklah, kini, bagaimanakah kisah hidup ringkas ilmuwan Muslim yang meraih Hadiah Nobel di bidang kimia itu?

Sejatinya, ilmuwan  Muslim  yang  pertama  kali menerima  Hadiah  Nobel di bidang kimia ini tidak lahir di sebuah kota besar seperti halnya Kota Alexandria. Tetapi, ia lahir  di  Damanhur, Mesir, (terletak di antara Alexandria dan Rosetta) sebuah kota kecil yang hanya berjarak sekitar 60 kilometer dari  kota yang pernah menjadi saksi kisah percintaan antara Cleopatra VII dan Marcus Antonius. Tokoh kita ini lahir pada  Selasa, 24 Rabi‘ Al-Awwal 1365 H/26 Februari   1946  M.  Selepas  merampungkan  pendidikan  tinggi   di Universitas Alexandria, Mesir, pada 1387 H/1967 M, putra seorang pegawai negeri  ini lantas meniti karier di lingkungan almamaternya sebagai mu‘îd, alias asisten dosen. Namun,  dorongan untuk  mengembangkan diri kemudian memacunya  untuk  meninggalkan negerinya,  untuk  menimba  ilmu di Amerika  Serikat, dua tahun kemudian.  Di  negeri adikuasa   tersebut,  putra pasangan suami-istri Hassan Ahmed Zewail dan Rauhiyyah Dar ini  berhasil  meraih  gelar   Ph.D   dari Universitas Pennsylvania pada 1393 H/1973 M tentang  spektroskopi pasangan-pasangan molekul.

Selepas  meraih  gelar  doktor,  pencinta berat lagu-lagu Umm Kultsum, seorang penyanyi legendaris (virtuoso) Mesir, ini (lagu-lagu yang senantiasa ia dengarkan hingga kini ketika benaknya sedang gelisah dalam menghadapi suatu problem ilmiah)  tidak  kembali  ke negerinya. Tetapi, ia mengajukan lamaran kerja ke lima posisi: tiga di Amerika Serikat, satu di Jerman, dan satu lagi di Belanda. 

Selepas diterima  di kelima posisi tersebut, Zewail kemudian memilih meniti karier  di lingkungan  Universitas  California, Berkeley,  Amerika  Serikat. Segera,  karier  ilmiahnya  berpendar cemerlang. Dua tahun kemudian, ia pindah ke California Institute of Technology  (Caltech) dan  akhirnya  ia  berhasil menjadi guru besar kimia Linus Pauling Chair dan Direktur National Science Foundation Laboratory for Molecular Sciences di perguruan  tinggi tersebut.  Di  sisi lain, berkat sederet karya  dan  penemuannya, penemu  femto  kedua  ini  berhasil  meraih  sederet  hadiah  dan penghargaan,  antara lain Robert A. Welch Prize  Award,  Benjamin Franklin  Medal, Leonardo Da Vinci Award of Excellences,  Rontgen Prize,  Paul Karrer Gold Medal, Bonner Chemiepreis, Medal of  the Royal Netherlands Academy of Arts and Sciences, Carl Zeiss Award, Hoechst  Award,  Alexander von Humbolt Award, Herbert  P.  Broida Prize, Linus Pauling Medal Award, E.O. Lawrence Award, Chemical Sciences Award, J. G. Kirkwood Medal, Peking University Medal, Pittsburgh Spectroscopy Award, First E. B. Wilson Award, Richard C. Tolman Medal Award,  William H. Nichols Medal Award, Merski Award,  Faye Robiner Award, Golden Plate Award, City of Pisa Medal,  Medal of “La Sapienza” (“Wisdom”), Médaille de l’Institut du Monde Arabe, G. M. Kosolapoff Award, Sir C. V. Raman Award,  Arab American Award, Medal of University of Buenos Aires, Medal of National University of Cordoba, Jubilee Medal of National Research Council of Egypt, 150th Anniversary Medal of the French Chemical Society, Gold Jubilee Medal (50th Anniversary) of Assiut University, Jabir Ibn Hayyan (“Geber”) Medal, MIT Lifetime Achievement Award,  700th Anniversary Medal, Universidad Complutense de Madrid, Othmer Gold Medal, Arab American of the Year Award, Pioneer in Photonics Award,  375th Anniversary Celebration Medal, G. Robert Oppenheimer Medal, Gilbert Newton Lewis Medal,  Sir Humphrey Davy Medal, Sven Berggren Prize, Medal of the University of Tunis, Mendel Medal of Villanova University,  dan World Harmony Award of University of California.

Penghargaan  demi  penghargaan  atas  karya-karya  suami  seorang dokter, Dema Zewail (putri seorang penerima Hadiah  Internasional Raja  Faisal  yang  dikenal Ahmad Hassan Zewail selepas  ia  menerima  hadiah tersebut pada 1989 M) dan ayah empat orang anak yang pakar laser dan  menetap  di San Marino, California  ini   berpuncak dengan   keberhasilannya  menerima   Hadiah  Internasional   Raja Faisal  di bidang sains tahun 1409 H/1989 M dan Hadiah  Nobel  di bidang kimia tahun 1420 H/1999 M. Mengapa Hadiah Nobel dipandang layak diberikan kepada ilmuwan Muslim yang kala itu menjabat guru besar di California Institute of Technology (Caltech) itu? Akademi Ilmu Pengetahuan Swedia berpandangan, Zewail “membuat terjadinya revolusi di bidang kimia (brought about a revolution in chemistry)”, sehingga memungkinkan para ilmuwan “melihat gerakan-gerakan atom-atom individual (to see the movements of individual atoms).” Sedangkan Komite Hadiah Nobel mengakui bahwa karya Zewal melempangkan jalan bagi para ilmuwan untuk “memahami dan memprediksi reaksi-reaksi (kimiawi) penting (to understand and predict important [chemical] reactions).”

Perjalanan hidup ilmuwan Muslim yang pemegang dwi-kewarganegaan  ini, Amerika Serikat dan Mesir, memberikan sebuah pelajaran indah: hadiah ilmiah paling bergengsi di dunia pun dapat diraih siapa pun dan dari manapun serta meski berasal dari desa tertinggal sekalipun. Ini seperti halnya yang dialami Prof. Dr. Ahmed H. Zewail, seorang ilmuwan Muslim penerima sekitar 40 gelar doctor honoris causa, dari berbagai universitas di berbagai penjuru dunia, dan kini menjadi anggota Majelis Penasihat di Bidang Sains dan Teknologi Presiden Obama, selain menjadi guru besar kimia dan fisika Linus Pauling Chair dan Direktur Physical Center for Ultrafast Science & Technology di Caltech!


No comments: