Saturday, July 5, 2014

APJ ABDUL  KALAM:
Ilmuwan Muslim ‘Nyentrik’ yang Bapak Bom Nuklir India

Dream is not what you see in sleep
Dream is the thing which does’nt let you sleep         
dan
One best book is equal to hundred friend
And, one good friend is equal to a library

Entah kenapa, ketika saya menemukan kata-kata indah tersebut, hati dan benak saya begitu membara untuk segera mencari sumbernya. “Oh, ternyata, kata-kata indah ini berasal dari seorang ilmuwan Muslim terkemuka asal India yang pernah menjadi orang nomor satu, alias presiden, negeri yang berpenduduk lebih dari satu miliar itu,” gumam bibir saya ketika tahu siapa pemilik kata-kata indah tersebut.

Kemudian, ketika me“melototi” foto-foto ilmuwan yang satu ini, entah kenapa saya begitu lama termenung dan terkesima. Tampilan ilmuwan yang satu ini benar-benar nyleneh dan nyentrik: rambutnya  berwarna keperak-perakan dan gondrong sampai ke pundak, pancaran keduanya matanya begitu hidup, tangan kanannya kadang mengepal ketika sedang memberikan sambutan,  senyumnya yang dihiasi gigi-gigi yang masih lengkap dan putih tampak begitu tulus, dan ke mana-mana senantiasa mengenakan sandal. Entah kenapa, melihat foto-foto ilmuwan yang mendapat sebutan Missile Man (Orang Rudal) ini, saya teringat Abu Hamid Al-Ghazali, seorang ulama raksasa yang terkenal dengan karya masterpiecenya Ihyâ’ ‘Ulûm Al-Dîn.

Baiklah, kini, bagaimana kisah hidup ilmuwan yang tampilannya nyleneh dan nyentrik ini?

Ternyata, ilmuwan Muslim terkemuka India  yang disebut  sebagai  Bapak Program Rudal India dan  populer  disebut Missile Man (Orang Rudal) ini presiden Muslim ke-3 dari 12  putra India yang pernah menduduki jabatan terhormat itu. Sang ilmuwan menduduki jabatan bergengsi itu selepas meraih 4.152  dari  4.785  suara yang ada di  parlemen. Jabatan bergengsi itu ia raih  pada  Kamis,  7 Jumada  Al-Awwal  1423 H/18 Juli 2002 M. Dua  presiden  Muslim India  lainnya adalah Dr. Zakir Husain dan Dr. Fakhruddin Ali Ahmed.

Putra   pasangan  suami-istri  Jainulabdeen  Marakayar,   seorang Muslim Tamil yang pemilik sejumlah perahu, dan Ashiamma (keturunan seorang Bahadur) serta bernama lengkap  Avul Pakir  Jainulabdeen Abdul Kalam ini lahir pada Kamis,  3  Jumada Al-Tsaniyyah 1350  H/15 Oktober  1931  M. Ia lahir  dalam lingkungan   sebuah  keluarga  kelas  menengah  di   Dhanushkodi, Rameshwaram, kota pelabuhan di ujung selatan anak benua India. Di kota pelabuhan itulah  akademisi  yang pemakan sayur-sayuran  (vegetarian)  ini mengawali  pendidikannya di sebuah sekolah desa: Sekolah “Samiyar”.

Murid  Prof.  Sponder, Prof. KAV Pandalai, Prof.  Narasingha,  dan Prof.  Vikram Sarabhai yang biasa muncul di hadapan publik  hanya dengan  mengenakan kemeja lengan pendek dan bersandal  ini  mulai meniti  karier  sebagai penjaja surat kabar. Ia  kemudian  meraih gelar  sarjana  di  bidang   teknik  penerbangan  dari  Madras Institute of Technology. Lantas, pada 1960-an, ia mulai bekerja pada Pusat Antariksa Vikram Sarabhai di Negara Bagian Kerala, tetangga Tamil Nadu dan menjadi salah seorang dari tiga tenaga insinyurnya  yang pertama. Kala itu, ia memainkan peran penting dalam perjalanan lembaga  itu untuk  menjadi  sebuah pusat riset antariksa  paling  bergengsi  di India. Lembaga ini berfungsi untuk  membantu pengembangan kendaraan peluncur satelit buatan dalam negeri yang pertama di India.

Dalam perjalanan hidupnya selanjutnya, tokoh  yang hidup membujang dan membiarkan rambut warna  peraknya tumbuh gondrong sampai ke pundak serta menjadikannya bagian  dari ciri  khasnya  ini  memainkan  peran  yang  amat  penting   dalam perencanaan dan pelaksanaan lima kali uji coba nuklir bawah tanah India pada 1419 H/1998 M. Tidak aneh jika akhirnya hal itu  menjadikannya seorang tokoh  peraih Bharat  Ratna  atau Bintang India,  tanda  penghargaan  tertinggi Pemerintah  India bagi warga sipil. Sumbangannya yang besar  pada program  ruang  angkasa India, termasuk program  satelit,  rudal, senjata  nuklir, dan proyek pesawat tempur ringan,  membuat  para  ilmuwan  India memberinya penghormatan  dengan  menyebutnya sebagai “Bapak Bom Nuklir India”.

Selepas tidak menjadi orang nomor satu India, ilmuwan yang menerima tidak kurang dari 40 gelar doctor honoris causa dari berbagai universitas di berbagai penjuru dunia ini tetap aktif di dunia ilmu pengetahuan yang ia tekuni. Meski sibuk, ilmuwan yang pada tahun ini, 2014, menerima penghargaan doctor of science dari Universitas Edinburg, Inggris ini masih sempat menyusun karya-karya tulis. Antara lain Developments in Fluid Mechanics and Space Technology, India 2020: A Vision for the New Millennium, Wings of Fire: An Autobiography, Ignited Minds: Unleashing the Power Within India, The Luminous Sparks, Mission India, Inspiring Thoughts, Indomitable, Envisioning an Empowered Nation, You Are Born To Blossom: Take My Journey Beyond, Turning Points: A journey through challenges, Target 3 Billion, My Journey: Transforming Dreams into Actions, A Manifesto for Change: A Sequel to India.

Perjalanan hidup ilmuwan yang nyentrik, cerdas, energik, inspirator, dan motivator piawai ini memberikan suatu pelajaran indah: jangan mudah terbuai oleh pencitraan dan tampilan yang ‘menyilaukan’ yang kerap memerdayakan. Dan, kini, mari kita simak sejenak pesan indah lain mantan presiden India ini, “If you fail, never give up because F.A.I.L. means ‘First Attempt In Learning’. End is not the end, in fact E.N.D means ‘Effort Never Dies’. And if you get No answer, remember N.O. means ‘Next Opportunity’. So, let’s be positive.

Pesan yang indah. Terima kasih, Prof. Dr. APJ Abdul Kalam!



No comments: