Tuesday, July 22, 2014

ALI MAKSUM:
Kiai Terkemuka yang Piawai Bercerita dan Berwawasan Luas

Senyampang masih berada di lingkungan  Pondok Pesantren Krapyak, Yogyakarta, kini mari kita  bersilaturahmi sejenak dengan salah seorang kiai kondang yang pernah mengelola pesantren tersebut. Tentu tidak patut, ketika kita berkunjung ke sebuah pondok pesantren, sementara kita tidak sowan dan mengenal tokoh di tempat tersebut.

Setelah KH Munawwir berpulang, pengelolaan pesantren Al-Quran itu kemudian beralih ke tangan dua putranya, KHR Abdullah Afandi dan KHR Abdul Qadir, dan seorang menantunya, KH Ali Maksum. Pada periode itu, Pondok Pesantren Krapyak kian berkembang pesat. Kini, tidak hanya mencetak para hafizh Al-Quran semata, tapi juga mendidik para santri yang belajar dan menimba ilmu-ilmu keislaman lainnya. Selepas KH Abdul Qadir berpulang pada 1961, dan KH Abdullah Afandi menyusul tujuh tahun kemudian, akhirnya pimpinan pondok pesantren kemudian beralih tangan kepada KH Ali Maksum.

Ketika belum berpulang, dan ketika di bulan Ramadhan seperti saat ini, KH Ali Maksum, di luar kegiatan-kegiatannya yang lain, senantiasa memberikan bimbingan kepada para santrinya selepas shalat tarawih, lewat pengajian sebuah kitab hadis, Riyâdh Al-Shâlihîn, yang tebalnya nyaris 500 halaman. Pengajian khusus di bulan Ramadhan itu diberikan hingga sekitar pukul 12 malam. Pengajian yang  diberikan kiai kita ini senantiasa dihadiri ratusan santri. Pasalnya, pengajian itu begitu menarik dan sarat ilmu. Padahal, daras yang ia berikan merupakan daras kering: hadis-hadis Nabi Muhammad Saw. Tetapi, daras itu, di tangan beliau, berubah menjadi daras yang segar dan memikat. Dalam memberikan pengajian tersebut, ia senantiasa memberikan contoh-contoh yang hidup, segar, dan memikat. Juga, diselingi dengan cerita, anekdot, dan humor. Apalagi, ketika ia melihat para santri nyaris tidak kuasa menahan kantuk ketika tengah malam menjelang datang. Contohnya adalah cerita berikut:

“Suatu saat,” ucap kiai kita dengan suara baritonnya, yang meyakinkan para santrinya suatu ketika, ketika menuturkan sebuah cerita, “seorang kiai dari daerah pantai utara Jawa Tengah diajak seorang pengusaha ibukota provinsi itu jalan-jalan ke Hongkong: sebuah kota di sebuah negara di sebelah utara Indonesia. Sebelum berangkat, kiai tersebut “berpamitan” kepada seorang sahabatnya. Ketika mereka berdua bertemu, sang sahabat berpesan, bila kiai dari pantai utara Jawa Tengah itu telah sampai di Hongkong, diharap ia segera berkirim kabar.

Benar, ketika kiai dari pantai utara Jawa itu tiba di Hongkong, ia teringat pesan sahabatnya. Ia pun segera membeli selembar kartu pos bergambar. Kartu pos itu dimasukkan ke dalam sampul, disertai pesan tertulis, “Saya telah tiba di Hongkong. Kotanya secantik gambar ini.” Surat itu kemudian dikirimkan kepada sahabatnya. Ketika surat itu dibuka, betapa kaget sang sahabat melihat gambar yang terdapat pada kartu pos itu: duh, ternyata kartu pos yang menampilkan foto seorang bintang film Hongkong yang aduhai cantiknya dan mengenakan busana nan menantang. “Edan, sahabatku yang satu ini. Awas, balasanku,” gumamnya.

Sang sahabat yang menerima kartu itu, ternyata, tidak kurang akal. “Awas ya, balasan dariku,” gumamnya. Karena ingin melakukan revanche terhadap kiai dari pantai utara Jawa Tengah itu, segera sang sahabat itu pun mengambil sehelai kertas dan menulis sebagai berikut, “Ini ada titipan kartu pos dari sahabat kita yang sedang terbuai oleh keindahan Kota Hongkong!” Kemudian, kartu pos itu ia masukkan ke dalam amplop bersama surat darinya. Selanjutnya, amplop itu ia kirimkan kepada seorang kiai terkemuka di sebuah kota yang terletak beberapa puluh kilometer di sebelah timur Kota Surabaya, Pasuruan. Kiai yang satu itu terkenal sebagai kiai yang sufi. Mereka bertiga, memang, bersahabat sejak muda usia.

Menerima surat dan kartu pos yang “berhiaskan” bintang film dengan busana menantang tersebut, kiai dari Jawa Timur itu kemudian langsung memasukkan kartu pos itu ke dalam amplop disertai sepucuk surat singkat, “Terima kasih atas kiriman kartu posmu. Sayang, saya tidak memerlukan kartu pos itu!” Amplop itu kemudian dikirimkan kepada sahabatnya: kiai yang pertama, kiai dari pantai utara Jawa Tengah.

Betapa terkejut kiai dari pantai utara Jawa Tengah itu menerima amplop yang berisi surat dan kartu pos itu. Gumamnya, “Rasa-rasanya, aku tidak pernah mengirimi dia kartu pos ini.” Tetapi, selepas lama ia berpikir dan merenung, akhirnya ia tertawa sendiri dan berucap, “Senjata makan tuan. Kartu pos ini kan kartu pos yang kukirimkan ke Yogyakarta. Ali memang memang cerdas. Ha ha ha.”

Mendengar cerita tersebut, yang entah benar atau tidak, kantuk para santri pun sirna. Melihat hal itu, kiai kita pun melanjutkan pengajian kitab Riyâdh Al-Shâlihîn.

Itulah sekelumit kisah yang “mewarnai” pengajian segar dan memikat yang diberikan KH Ali Maksum, seorang kiai terkemuka yang juga seorang Guru Besar Ilmu Tafsir di sebuah institut Islam negeri di Yogyakarta. Kini, bagaimanakah kisah hidup kiai yang setiap Hari ‘Idul Fitri senantiasa disowani seorang muridnya, sampai pun ketika si murid menjabat Menteri Agama sekali pun, karena menghormati gurunya yang kiai itu?

Kiai terkemuka dengan sosok yang tinggi besar dan pancaran mata yang begitu  tajam ini lahir di sebuah kota pesisir  utara  perbatasan Jawa Tengah-Jawa Timur, Lasem, pada Selasa, 15 Rabi‘ Al-Akhir 1333 H/2 Maret 1915 M.  Ayahandanya,  Kiai  Haji Maksum, juga seorang kiai terpandang. Sedangkan sang ibunda, yang lebih terkenal  dengan sebutan “Simbah Nyai”, tidak lebih kecil  wibawa dan pengaruhnya dari sang ayahanda. Sebelum  menetap di Yogyakarta, perjalanan hidup Ali Maksum  muda dilaluinya  di  Pondok  Pesantren Tremas,  Pacitan,  Jawa  Timur, sebuah pondok pesantren yang kala itu terkenal sebagai salah satu tempat  penggemblengan  para calon kiai.  Kemudian,  sekitar 1357  H/1938 M, selepas menikah dengan Hasyimah, putri Kiai  Haji Mohammad Moenawwir, pendiri Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta, ia bertolak ke Makkah untuk belajar di sana. Perang Dunia  kedua memaksanya untuk pulang ke Tanah Air.

Sekembali dari  Tanah Suci, Ali Maksum menetap  Lasem,  untuk membina  pesantren yang didirikan sang ayahanda. Tetapi, kemudian  ia diminta  sang mertua untuk menetap di Yogyakarta, guna  membenahi Pondok  Pesantren  Krapyak. Tampaknya, ia pun  telah  dipersiapkan untuk  menggantikan sang mertua. Bila sang mertua lebih  terkenal sebagai  kiai yang pakar Tahfîzh Al-Quran, sedangkan sang menantu  terkenal sebagai  pakar  Tafsir Al-Quran. Tidak aneh bila  ia  akhirnya diangkat  sebagai guru besar bidang Tafsir Al-Quran di  Institut Agama Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Mantan  Rais  Am Syuriah Pengurus Besar Besar  Nahdlatul  Ulama (1401-1404  H/1981-1984  M)  yang terkenal  berwawasan  luas  ini berpulang di Yogyakarta pada Kamis, 8 Jumada Al-Ula  1410 H/7  Desember  1989 M dengan meninggalkan beberapa  karya  tulis. Antara  lain  Mîzân Al-‘Uqûl fî ‘Ilm  Al-Manthiq,  Al-Sharf  Al-Wâdhih, dan Hujjah Ahl Al-Sunnah wa Al-Jamâ‘ah.

Perjalanan hidup kiai kita ini memberikan suatu pelajaran indah: pengajaran suatu materi yang berat, di bidang apa pun, sejatinya dapat disajikan dengan mudah jika ditampilkan dengan segar dan memikat. Apalagi, jika disertai dengan penjelasan dengan wawasan yang luas, seperti halnya yang dilakukan KH Ali Maksum dalam setiap pengajian yang diberikan olehnya!


No comments: