Sunday, July 6, 2014

RUSYDI HIFNI RASYID:
“Mutiara Terabaikan” yang Tetap Berkhidmat pada Dunia Ilmu

Tidak boleh tidak, untuk terjadinya kebangkitan ilmiah di suatu negara, harus ada iklim ilmiah dan pemikiran yang tepat bagi para ilmuwan. Sehingga, hal itu memungkinkan bagi mereka untuk berkarya dan memberikan sumbangsih.”
                                                                  (Rusydi Hifni Rasyid)

Bila Anda memasuki ruang kerja ilmuwan Muslim yang satu ini, di rumahnya yang sederhana di bagian selatan Kota Paris, Perancis, akan segera terasa bahwa Anda hidup bersama seorang ilmuwan. Ribuan buku, lama maupun baru, majalah-majalah, dan jurnal-jurnal ilmiah berserakan di ruang kerjanya. Makalah-makalah yang tidak terhitung jumlahnya bertumpuk di meja kerjanya. Sementara rak-rak yang memenuhi ruang kerja itu pun telah sarat dengan karya-karya dalam berbagai bahasa.

Hal itu tidak aneh. Sebab, di belakang ilmuwan yang satu ini membentang perjalanan panjang kiprahnya di dunia ilmu pengetahuan yang sarat dengan penelitian, pengkajian, dan perenungan. Lewat tangannya sendiri telah lahir puluhan karya tulis. Di antaranya suntingan dan terjemahan ke dalam bahasa Perancis karya matematika Syarafuddin Al-Thusi setebal sekitar seribu halaman. Tetapi, ia bukan hanya seorang penulis. Ia juga seorang peneliti yang pernah menjadi salah seorang Direktur Centre National de la Recherche Scientifique (CNRS), Paris, Perancis. Di negeri itu, untuk menjadi peneliti saja harus melintasi seleksi yang sangat ketat. Apalagi untuk menjadi seorang direktur sebuah lembaga riset bergengsi.

Siapakah ilmuwan yang satu ini?

Ilmuwan yang satu ini lahir di Kairo pada 1355 H/1936 M. Sedangkan perjalanannya ke Perancis bermula selepas ia merampungkan studi sarjananya pada 1375 H/1956 M. Kala itu, ia terpaksa melarikan diri dari “Tangan Besi” yang mencengkeram para ilmuwan dan pemikir  di negerinya. Langkah pertama mengantarkannya ke Perancis untuk mengambil program doktor di bidang filsafat ilmu. Setelah meraih gelar doktor di negara tersebut, ia kemudian bekerja sebagai asisten peneliti, di bidang filsafat ilmu, di Universitas Humboldt, Jerman. Dari Jerman, ia kemudian menapakkan kaki ke Amerika Serikat. Tidak lama berada di negara adikuasa tersebut, ia kemudian kembali ke Eropa dan bergabung dengan CNRS.

Selain bergabung dengan lembaga ilmiah bergengsi di Perancis tersebut, hingga akhirnya menjadi salah satu direktur di lembaga itu, ilmuwan yang pernah menjadi anggota Institute for Advanced Study (School of Historical Studies), Princeton, Amerika Serika ini juga menjadi guru besar di pelbagai universitas, antara lain Universitas Montreal, Kanada, Universitas Aleppo, Aleppo, Suriah, Universitas Kairo, Kairo, Mesir, Universitas Tokyo, Tokyo, Jepang, dan Scuola Normale Superiore, Pisa, Italia.

Selain itu, penerima pelbagai penghargaan ilmiah, antara lain Chevalier de la Légion d’Honneur, Médaille Alexandre Koyré, Medal of the Organisation of the Islamic Conference Research Centre for Islamic History, Art and Culture, Prix mondial du meilleur livre de recherche en Islamologie, Hadiah dan Medali dari Kuwait Foundation for the Advancement of Sciences, Médaille d’or Avicenne dari Unesco, dan Médaille de l’Institut du Monde Arabe ini juga menjadi anggota dan pengurus berbagai lembaga ilmiah dunia. Misalnya, sebagai anggota Akademi Bahasa Arab, Damaskus, Suriah, anggota Akademi Sains Negara-negara ke-3, Wakil Ketua Société Française d’Histoire des Sciences, Ketua Société d’Histoire des Sciences et de la Philosophie Arabes et Islamiques, Pemimpin Redaksi jurnal ilmiah Arabic Sciences and Philosophy, dan anggota sidang redaksi Revue de Synthèse, Historia Scientiarum, dan Revue d’Histoire des Mathématiques.

Di sisi lain, ilmuwan yang melakukan penelitian di bidang sejarah dan filsafat aljabar, teori klasik angka, optik geometrik dan optik fisik, konstruksi geometrik, telaah historis dan filosofis aplikasi matematik dalam ilmu sosial, dan pelbagai kajian sejarah sains dan filosofis ini juga seorang penulis yang produktif. Karya-karyanya, yang mencapai lebih dari 60 buku dan 100 makalah ilmiah, antara lain adalah Introduction à l’Histoire des Sciences,   Al-Bahir en Algèbre d’As-Samaw’al, Condorcet : Mathématique et Société, L’Art de l’Algèbre de Diophante, L’Œuvre algébrique d’al-Khayyam, Entre Arithmétique et Algèbre,  Recherches sur l’Histoire des Mathématiques Arabes, Diophante : Les Arithmétiques, Diophante : Les Arithmétiques, Essais d’Histoire des Mathématiques, Etudes sur Avicenne, Sharaf al-Din al-Tusi, Œuvres mathématiques. Algèbre et Géométrie au XIIe siècle,  Sharaf al-Din al-Tusi, Œuvres mathématiques. Algèbre et Géométrie au XIIe siècle,  Sciences à l’époque de la Révolution française. Recherches historiques, Mathématiques et Philosophie de l’Antiquité à l’Âge classique, Optique et Mathématiques : Recherches sur l’histoire de la pensée scientifique en arabe, Géométrie et Dioptrique au Xe siècle : Ibn Sahl, al-Quhi et Ibn al-Haytham, Les Mathématiques infinitésimales du IXe au XIe siècle,  Fondateurs et commentateurs : Banu Musa, Thabit ibn Qurra, Ibn Sinan, al-Khazin, al-Quhi, Ibn al-Samh, Ibn Hud, Œuvres philosophiques et scientifiques d’al-Kindi., Descartes et le Moyen Âge, Encyclopedia of the History of Arabic Scienc,  Œuvres philosophiques et scientifiques d’al-Kindi,   Omar Khayyam. The Mathematician, Ibrahim ibn Sinan. Logique et géométrie au Xe siècle, Les Mathématiques infinitésimales du IXe au XIe siècle, Recherche et enseignement des mathématiques au IXe siècle, Le recueil de propositions géométriques de Na‘îm ibn Mûsâ, Maïmonide, philosophe et savant (1138-1204), Œuvre mathématique d’al-Sijzî, Geometry and Dioptrics in Classical Islam, Philosophie des mathématiques et théorie de la connaissance, En histoire des sciences, Études philosophiques.

Mengapa pakar di bidang filsafat ilmu yang menaruh perhatian besar terhadap sejarah ilmu ini, utamanya fase zaman pertengahan ketika sumbangan kaum Muslim terhadap dunia ilmu demikian besar, sangat produktif? Hal itu karena setiap hari ia bekerja tidak kurang dari 15 jam. Atas jasa-jasa ilmiahnya tersebut, akhirnya, Prof. Dr. Rusydi Hifni Rasyid menerima Hadiah Internasional Raja Faisal tahun 1428 H/2007 M di bidang Kajian Keislaman.

Di sisi lain, perjalanan hidup ilmuwan yang satu ini memberikan suatu pelajaran indah: meski hidup sebagai ‘mutiara yang terabaikan oleh negerinya’ (brain-drainer), namun hal itu tidak menghalangi dirinya untuk berkhidmat pada dunia ilmu pengetahuan pada umumnya dan khazanah Islam pada khususnya. Malah, hidup di negeri orang kian memicu dan memacunya untuk berkhidmat dengan sebaik-baiknya di dunia yang digelutinya setiap hari : dunia ilmu pengetahuan. Teladan yang indah !


No comments: